0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan11 halaman

Faktor Dismenore pada Remaja SMA Bandung

Studi ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan dismenore primer pada siswi SMA Pemuda Banjaran. Penelitian menggunakan desain survei melintang dengan sampel total 117 siswi. Hasilnya menunjukkan status gizi, riwayat keluarga, dan kebiasaan olahraga berhubungan dengan dismenore, sedangkan pola haid tidak. Disarankan siswi dengan gizi kurang meningkatkan asupan gizi dan olah

Diunggah oleh

Juan Krismana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan11 halaman

Faktor Dismenore pada Remaja SMA Bandung

Studi ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan dismenore primer pada siswi SMA Pemuda Banjaran. Penelitian menggunakan desain survei melintang dengan sampel total 117 siswi. Hasilnya menunjukkan status gizi, riwayat keluarga, dan kebiasaan olahraga berhubungan dengan dismenore, sedangkan pola haid tidak. Disarankan siswi dengan gizi kurang meningkatkan asupan gizi dan olah

Diunggah oleh

Juan Krismana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Keperawatan BSI, Vol. VIII No.

1 April 2020

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN


DENGAN DISMENORE PADA REMAJA
DI SMA PEMUDA BANJARAN
BANDUNG
Sri Hayati1, Selpy Agustin2, Maidartati3
1
Universitas Adhirajasa Reswara Sanjaya, nerssrihayati@[Link]
2
Universitas Adhirajasa Reswara Sanjaya, selpyagustin7302@[Link]
3
Universitas Adhirajasa Reswara Sanjaya, maidartati@[Link]

ABSTRAK
Dismenore merupakan suatu fenomena simptomatik pada saat menstruasi meliputi nyeri perut,
kram dan sakit punggung bawah. Dismenore dibagi menjadi 3 derajat yaitu ringan, sedang dan
berat. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan
kejadian dismenore primer di SMA Pemuda Banjaran. Teknik pengumpulan data
menggunakan desain korelasi dengan pendekatan Cross Sectional. Jumlah populasi sebanyak
117 siswi remaja . Teknik sampling yang digunakan yaitu Total Sampling dengan jumlah
responden 117 orang. Analisa univariat menggunakan rumus prosentase. Analisa bivariat untuk
mengetahui faktor yang berhubungan peneliti menggunakan Chi-Square untuk mengetahui
status nutrisi, pola menstruasi dan riwayat keluarga, sedangkan Spearmant Rank untuk
mengatahui hubungan pola menstruasi dengan kejadian dismenore primer. Hasil penelitian
menyatakan bahwa terdapat hubungan antara status nutirisi dengan kejadian dismenore primer
dengan nilai p-value 0,01, tidak terdapat hubungan antara pola menstruasi dengan kejadian
dismenore primer dengan nilain p-value 0,810 dan nilai korelasi 0,24, terdapat hubungan antara
riwayat keluarga dengan kejadian dismenore primer dengan nilai p-value 0,03 dan terdapat
hubungan antara riwayat kebiasaan olahraga dengan kejadian dismenore primer dengan nilai
p-value 0,03. Sehingga disimpulkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kejadian
dismenore primer antara lain status nutrisi, riwayat keluarga dan kebiasaan olahrga. Sedangkan
yang tidak berhubungan dengan kejadian dismenore primer yaitu pola menstruasi. Disarankan
kepada siswi SMA Pemuda Banjaran yang mengalami dismenore primer dengan status gizi
underwight agar merubah pola makan dengan teratur dengan asupan nutrisi yang seimbang dan
olahraga teratur.
Kata Kunci : Remaja, Menstruasi, Faktor-Faktor Dismenore.

ABSTRACT
Dysmenorrhea is a symptomatic phenomenon during menstruation including abdominal pain,
cramps and lower back pain. Dysmenorrhea is divided into 3 degrees, mild, moderate and
severe. The purpose to identify the factors associated with the primary dysmenorrhea in
Banjaran Pemuda High School. Data collection using correlation with Cross Sectional
approach. Total population of 117 teenage girls. The sampling technique used is total
sampling. Univariate analysis uses the percentage formula. Bivariate analysis used Chi-
Square to determine nutritional status, menstrual patterns and family history, while the
Spearmant Rank to determine the relationship of menstrual patterns with the primary
dysmenorrhea. The results of the study stated that there was a relationship between nutritional
status and the incidence of primary dysmenorrhea with a p-value of 0.01, there was no
relationship between menstrual patterns with the incidence of primary dysmenorrhea with a p-
value of 0.810 and a correlation value of 0.24, there was a relationship between family history

ISSN: 2338-7246, e-ISSN: 2528-2239 132


[Link]
Jurnal Keperawatan BSI, Vol. VIII No. 1 April 2020

with the incidence of primary dysmenorrhea with a p-value of 0.03 and there is a relationship
between the history of sports habits with the incidence of primary dysmenorrhea with a p-value
of 0.03. So it was concluded that factors related to the incidence of primary dysmenorrhea
include nutritional status, family history and exercise habits. While those not related to primary
dysmenorrhea are menstrual patterns. It is recommended to students of Banjaran Youth High
School who experience primary dysmenorrhea with underwight nutritional status in order to
change their eating patterns regularly with balanced nutrition intake and regular exercise.
Keywords: Teenagers, Menstruation, Dysmenorrhea Factors.

Naskah diterima: Januari 2020; Naskah direvisi: Februari 2020; Naskah diterbitkan: April
2020

PENDAHULUAN menilai nyeri dengan menggunakan skala


Masa remaja atau pubertas adalah usia 0-10 (Poter, P. A., & Perry, A. G, 2010).
antara 10-19 tahun dan merupakan Dismenore primer adalah nyeri haid yang
peralihan dari masa kanak-kanak menjadi dijumpai tanpa adanya kelainan pada alat-
dewasa. Peristiwa penting yang terjadi alat genital yang nyata, rasa nyeri timbul
pada gadis remaja adalah datangnya haid tidak lama sebelumnya atau bersama-sama
pertama yang dinamakan menarche dengan permulaan haid dan berlangsung
(Marmi, 2013). Masa remaja berlangsung untuk beberapa jam, walaupun pada
melalui 3 tahapan yang masing-masing beberapa kasus dapat berlangsung
ditandai dengan biologis, psikologis dan beberapa hari (Kusmiran, 2012).
sosial yaitu masa pra remaja 11-13 tahun Berbagai macam faktor telah dicoba
untuk wanita dan 12-14 tahun untuk pria, diidentifikasi untuk mengetahui faktor-
masa remaja awal 13-17 tahun untuk faktor risiko yang terkait dengan kejadian
wanita dan 14-17 tahun 6 bulan untuk pria, dismenore primer. Adapun yang termasuk
masa remaja akhir 17-21 tahun untuk di dalamnya ialah menarche pada usia lebih
wanita dan 17 tahun 6 bulan -22 tahun awal, lama menstruasi lebih dari normal,
untuk pria. Menurut Mansyur (2009) dan status gizi, stress, riwayat keluarga, dan
Manuaba (2009), menstruasi atau haid kebiasaan olahraga (Tjokronegoro, 2004
merupakan pelepasan dinding Rahim dalam Hanum & Nuriyanah, 2016). Namun
(endometrium) yang disertai dengan dari beberapa faktor tersebut terdapat
pendarahan dan terjadi setiap bulannya. penelitian yang menyatakan bahawa usia
Pada saat menstruasi, wanita kadang menarche dan stres sangat berhubungan
mengalami dismenore. Sifat dan tingkat erat dengan kejadian dismenore primer,
rasa nyeri bervariasi, mulai dari yang seperti halnya penelitian yang dilakukan
ringan hingga yang berat (Nugroho, oleh Sari dkk, (2015) berdasarkan uji
Bertalina & Marlina 2016). statistik yang diperoleh nilai p=0,6 dapat
disimpulkan bahwa terdapat hubungan
KAJIAN LITERATUR yang bermakna dengan korelasi sedang
Dismenore merupakan suatu fenomena antara tingkat stres dengan derajat
simptomatik pada saat menstruasi meliputi disemenore primer dan seperti contohnya
nyeri perut, kram dan sakit punggung penelitian yang dilakukan oleh Elvira
bawah (Kusmiran, 2012). Dismenore Aditiara, B., & Wahyuni, S. (2018) yang
dibagi menjadi 3 derajat yaitu ringan, menyatakan bahwa Ada hubungan antara
sedang dan berat (Manuaba, 2009). Untuk usia menarche dengan dismenore primer
mengetahui gambaran derajat nyeri saat dengan nilai (p=0,041).
menstruasi dapat diukur menggunakan Karena hal tersebut penulis tertarik untuk
salah satu penilaian yang dinamakan skala meneliti beberapa faktor tersebut antara
Numeric Rating Scale (NRS) klien dapat lain status gizi, pola menstruasi, kebiasaan

ISSN: 2338-7246, e-ISSN: 2528-2239 133


[Link]
Jurnal Keperawatan BSI, Vol. VIII No. 1 April 2020

olahraga dan riwayat keluarga. Karena hal METODE PENELITIAN


tersebut penulis tertarik untuk meneliti Metode penelitian yang digunakan untuk
beberapa faktor tersebut antara lain status mencari atau mengumpulkan data pada
gizi, pola menstruasi, kebiasaan olahraga penelitian ini penulis menggunakan desain
dan riwayat keluarga. Hal tersebut penelitian korelasi dengan pendekatan
didukung oleh penelitian yang dilakukan cross sectional. Metode survey cross
Beddu, Mukarramah & Lestahulu (2015) sectional merupakan jenis survey yang
yang dilakukan pada 79 responden mengamati sebuah objek penelitian, baik
menyatakan bahwa ada hubungan yang satu maupun beberapa variabel pada suatu
bermakna antara status gizi dengan masa yang sama.
disemenore primer dengan nilai p-value Populasi dalam penelitian ini adalah semua
0,004. Tetapi berbeda dengan penelitian siswi kelas X, XI dan XII SMA Pemuda
yang dilakukan Utari (2016) yang yang mengalami dismenore primer, yaitu
dilakukan pada 49 responden yang sebanyak 117 orang siswi. Teknik sampel
menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang digunakan pada penelitian ini
yang signifikan dan 23 korelasi antara menggunakan teknik total sampling, total
status gizi dengan kejadian dismenore sampling adalah teknik pengambilan
primer dengan nilai p-value 0,097. Adapun sampel dimana jumlah sampel sama
Hasil penelitian Sophia (2013), yang dengan populasi (Sugiyono, 2007).
dilakukan di SMK Negeri 10 Medan, Analisa data yang diguhnakan adalah Chi-
menunjukkan bahwa ada hubungan antara Square dan Spearmant Rank juga
kejadian dismenore primer dengan lama menggunakan komputerisasi data SPSS 25.
menstruasi (p=0,03/0,046). Berbeda
dengan hasil penelitian Sirait dkk (2014), PEMBAHASAN
yang dilakukan di SMA Negeri 2 Medan, Berikut hasil dan pembahasan pada
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan penelitian ini yang dijelaskan dalam
antara lama menstruasi dengan kejadian bentuk tabel.
dismenore primer (p=0,116). Sejalan Tabel 1 Karakteristik Responden
dengan penelitian yang dilakukan oleh Karakterist Katego Frekuen Perse
Shinta O. Sirait dkk, (2014) diperoleh nilai ik ri si n
p=0,001 yang berarti terdapat hubungan Responden
yang bermakna antara riwayat dismenore Pra 30 25,0
pada keluarga dengan kejadian dismenore Remaj %
primer. Berbeda dengan penelitian yang Usia a
dilakukan oleh Pundati dkk tahun 2018 14 87
tidak ada hubungan antara riwayat keluarga Tahun 72,5
dengan kejadian dismenore primer dengan %
nilai p value 0,184. Berdasarkan hasil Total Remaj
penelitian yang dilakukan oleh Sari, A.P Responden a Awal
2017 bahwa terdapat hubungan yang 15-16 100
signifikan antara kebiasan olahraga dengan Tahun %
kejadian dismenore primer dengan nilai
0,01 berbeda dengan penelitian yang 117
dilakukan oleh Sari A.P, 2016 bahwa tidak
ada hubungan antara kebiasaan olahraga Tabel 1 menunjukkan seluruh responden
dengan kejadian dismenore primer dengan (100%) berada pada usia remaja awal (15-
nilai p value 0,998. 16 tahun)

ISSN: 2338-7246, e-ISSN: 2528-2239 134


[Link]
Jurnal Keperawatan BSI, Vol. VIII No. 1 April 2020

Tabel 2 Gambaran Kejadian Dismenore Riwayat Kebiasaan Olahraga


Primer Kriteria Frekuensi Persen
Ya 28 23,3%
Kejadian Persen
Dismenore Frekuensi Tidak 89 74,2%
Primer
Total 117 100%
Ringan 24 Responden
Sedang 20,0%
40 Berdasarkan tabel 3 hampir separuhnya
Berat 33,3% (41,7%) sebanyak 50 siswi berstatus nutrisi
53 underweight, hampir seluruhnya (92,3%)
44,2% responden dengan pola menstruasi normal
4-7 hari, Hampir seluruhnya (65,0%)
Total sebanyak 78 siswi yang mempunyai
Responden 117 riwayat dismenore primer pada
100% keluarganya dan sebagian besar (74,2%)
Tabel 2 menunjukan hampir separuhnya sebanyak 89 siswi berolahraga ≤30 menit
44,2% sebanyak 53 siswi dengan dan ≤3x dalam satu minggu.
dismenore primer berat. Berdasarkan penjelasan pada Tabel 2
Analisa Univariat menunjukan hampir separuhnya 44,2%
Tabel 3 Gambaran Faktor-faktor yang sebanyak 53 siswi dengan dismenore
berhubungan dengan kejadian dismenore primer berat. Berbeda dengan penelitian
primer. yang dilakukan oleh Fajaryati, N (2012) di
Status Nutrisi SMP N 2 Mirit Kebumen menyatakan
Kriteria Frekuensi Persen bahwa sebagiab besar 52,5% sebanyak 32
Underweight 50 42,7% siswi dengan dismenore primer sedang.
Normal 37 31,8% Perbedaan ini karena menurut hasil dari
Overweight 30 25,6% penelitian tersebut menyatakan bahwa
Total 117 100% siswi di sekolah tersebut sering melakukan
Responden olahraga rutin, sedangkat pada penelitian
Pola Menstruasi ini sebagian besar 52,1% tidak rutin
Kriteria Frekuensi Persen berolahraga. Kejadian dismenore primer
Normal 4-7 108 90,0% akan meningkat dengan kurangnya
hari aktifitas selama menstruasi dan kurangnya
olahraga, hal ini dapat menyebabkan
Tidak 9 7,5% sirkulasi darah dan oksigen menurun.
normal ≥ 7 Dampak pada uterus adalah aliran darah
hari dan sirkulasi oksigen pun berkurang dan
menyebabkan nyeri ( Medicastore, 2004).
Total 117 100% Berdasarkan tabel di atas menunjukan
Responden hampir separuhnya 41,7% sebanyak 50
Riwayat Dismenore pada Keluarga siswi berstatus nutrisi underweight.
Kriteria Frekuensi Persen Menurut Abass (2012) menyatakan bahwa
Ya 78 65,0% status gizi merupakan hal yang penting dari
kesehatan manusia. Status gizi manusia
Tidak 39 32,5% dapat mempengaruhi fungsi organ tubuh
salah satunya adalah fungsi reproduksi.
Total 117 100% Hampir seluruhnya 92,3% sebanyak 108
Responden siswi dengan pola menstruasi normal 4-7

ISSN: 2338-7246, e-ISSN: 2528-2239 135


[Link]
Jurnal Keperawatan BSI, Vol. VIII No. 1 April 2020

hari sebanyak 108 orang. Hasil penelitian dengan cara mengkonsumsi makanan
ini berbeda dengan teori yang telah seimbang. Asupan gizi yang baik akan
dijelaskan sebelumnya. Perbedaan ini bisa mempengaruhi pembentukan hormon-
disebabkan oleh produksi hormon hormon yang terlibat dalam menstruasi
prostaglandin yang berbeda-beda pada yaitu hormon FSH (Follicle-Stimulating
setiap wanita. Peningkatan hormon Hormone), LH (Luteinizing Hormone),
prostaglandin menyebabkan kontraksi estrogen dan juga progesteron. Hormon
uterus yang tidak teratur dan tidak FSH, LH dan estrogen bersama-sama akan
terkoordinasi (Reeder dan Koniak, 2011 terlibat dalam siklus menstruasi, sedangkan
dalam Ammar, 2016). hormon progesteron mempengaruhi uterus
Hampir seluruhnya 65,0% sebanyak 78 yaitu dapat mengurangi kontraksi selama
siswi yang mempunyai riwayat dismenore siklus haid (Trimayasari dan Kuswandi,
primer pada keluarganya. Wiknjosastro 2014). Status gizi dikaji dari IMT
(2005) mengemukakan bahwa adanya seseorang dengan membagi berat badan
riwayat keluarga dan genetik berkaitan dengan tinggi badan dalam meter kuadrat.
dengan terjadinya dismenore primer yang Indeks massa tubuh yang berada dalam
berat. Peran keluarga dalam kategori underweight dan overweight dapat
memberikan edukasi atau pengetahuan berpengaruh pada fungsi reproduksi
terkait menstruasi sebagai upaya remaja. Prevalensi dimenore paling tinggi
preventif terhadap dismenore primer pada remaja perempuan dengan kategori
dapat memperkecil atau mencegah Indeks massa tubuh underweight (Abass
kejadian dismenore primer pada wanita. [Link], 2012). Hasil penelitian ini sejalan
Sebagian besar 74,2% sebanyak 89 siswi dengan teori tersebut bahwasannya remaja
berolahraga ≤30 menit dan ≤3x dalam satu dengan status gizi underwieght
minggu. Kejadian dismenore primer akan berhubungan dengan rentannya kejadian
meningkat dengan kurangnya aktifitas dismenore primer karena menurut Astuti
selama menstruasi dan kurangnya (2017), dismenore sebagian besar terjadi
olahraga, hal ini dapat menyebabkan pada remaja yang memiliki status nutrisi
sirkulasi darah dan oksigen menurun. underweight, hal ini terjadi disebabkan
Dampak pada uterus adalah aliran darah oleh kekurangan nutrisi dan zat besi
dan sirkulasi oksigen pun berkurang dan sehingga berpengaruh terhadap hormon
menyebabkan nyeri ( Medicastore, 2004). reproduksi pada remaja tersebut, sehingga
Hubungan Status Nutrisi dengan ketahanan terhadap nyeri menjadi
Kejadian Dismenore Primer berkurang.
Hasil peneltian ini menunjukan paling Hal ini sesuai dengan penelitian yang
banyak atau separuhnya siswi berstatus dilakukan oleh Anwar, C., & Rosdiana, E.
nutrisi underwight sebanyak (42,7%) 50 (2019) didapatkan hasil P = 0,002 (P =
siswi dengan dismenore primer. <0,05), artinya terdapat hubungan yang
Berdasarkan hasil analisis di peroleh nilai signifikan antara status nutrisi dengan
P value 0,01. Nilai ini lebih kecil dari taraf kejadian dismenore primer dengan data
signifikan 0,05, yang menunjukan adanya presentase sebagian besar (72,6%)
hubungan antara status nutrisi dengan sebanyak 53 sisiwi yang mengalami
kejadian dismenore primer. kejadian dismenore primer. Sedangkan
Menurut Pakaya (2014) menyatakan hampir sepenuhnya (42,0%) sebanyak 21
bahwa status gizi merupakan hal yang siswi berstatus gizi normal dan sebagian
penting dari kesehatan manusia. Status gizi besar (70,0%) sebanyak 21 siswi berstatus
manusia dapat mempengaruhi fungsi organ gizi overweight. Berbeda dengan penelitian
tubuh salah satunya adalah fungsi yang dilakukan oleh Astuti, A.P (2017) di
reproduksi. Remaja wanita perlu SMP 1 Muhammadiyah DIY didapatkan
mempertahankan status gizi yang baik hasil P = 0,08 (P=<0,05) dengan sebagian

ISSN: 2338-7246, e-ISSN: 2528-2239 136


[Link]
Jurnal Keperawatan BSI, Vol. VIII No. 1 April 2020

besar (51%) sebanyak 40 siswi berstatus lebih terjadi pada kontraksi otot uterus
gizi normal. Sedangkan (11,5%) sebanyak yang berlebihan atau dapat dikatakan
9 orang siswi berstatus gizi underwight dan mereka sangat sensitif terhadap hormon ini
sebagian kecil (12,8%) sebanyak 10 siswi akibat endimentrium dalam fase sekresi
berstatus nutrisi overweight. memproduksi hormon prostaglandin.
Perbedaan ini dilihat dari hasil yang Prostaglandin terbentuk dari asam lemak
dikemukakan oleh peneliti yaitu jumlah tak jenuh yang disintesis oleh seluruh sel
responden yang lebih sedikit dibandingkan yang ada dalam tubuh. Hal ini
jumlah responden pada penelitian ini yaitu menyebabkan kontraksi otot polos yang
78 responden dengan rmaja SMP. Di DIY akhirnya menimbulkan rasa nyeri (Bobak,
secara nasional pada remaja umur 13-15 2005). Menurut hasil penelitian yang
tahun, prevalensi kurus 11,1% terdiri dari dilakukan oleh Sophia, F (2013) yang
3,3 persen sangat kurus dan 7,8 persen menyebutkan bahwa semakin lama
kurus. Sedangkan prevalensi gemuk menstruasi terjadi, maka semakin sering
sebesar 10,8 persen, terdiri dari 8,3 persen uterus berkontraksi dan akibatnya semakin
gemuk dan 2,5 persen sangat gemuk banyak pula hormon prostaglandin yang
(obesitas). Dan sebelum dilakukannnya dikeluarkan. Akibat hormon prostaglandin
penelitian oleh peneliti, peneliti yang berlebihan maka timbul rasa nyeri
mendapatkan data dari sekolah bahwa pada saat menstruasi.
Remaja puteri di SMP Muhammadiyah I Hasil ini sejalan dengan penelitian yang
Yoyakarta mayoritas memiliki IMT normal dialakukan oleh Novia dan Puspitasari
67% dan 33% mengalami masalah berat (2006), bahwa tidak terdapat hubungan
badan (gemuk 15%, kurus 13%, obesitas yang signifikan antara pola menstruasi
4% dan sangat kurus 1%). dengan kejadian dismenore primer dan
Hubungan pola menstruasi dengan masih mengalami dismenore primer
kejadian dismenore perimer. dengan nilai P-value 0,962 dengan
Hasil penelitian menunjukan paling banyak presentase sebagian besar (65,9%) siswi
atau hampir seluruhnya siswi dengan pola dengan pola menstruasi normal. Hasil
menstruasi normal yaitu (92,3%) sebanyak penelitian ini berbeda dengan penelitian
108 orang dan masih mengalami dismenore Sophia, F (2013) pada Siswi SMK Negeri
primer. Berdasarkan hasil analisis dengan 10 di Medan yang menunjukkan bahwa
menggunakan SPSS diperoleh nilai responden yang mengalami dismenore
p=0,081 (P=>0,05) dengan nilai korelasi primer terbanyak yaitu mereka yang
0,24 yang berarti hubungan sangat lemah mengalami lama menstruasi > 7 hari
dan tidak ada hubungan yang signifikan (87,2%) dengan nilai p-value sebesar 0,046
antara pola menstruasi dengan kejadian sehingga disimpulkan bahwa ada
dismenore primer. hubungan antara lama menstruasi dengan
Menstruasi yang lama pada seorang wanita kejadian dismenore primer. Dalam
meningkatkan produksi hormon penelitian ini juga menyebutkan bahwa
prostaglandin sehingga berlebih yang lama menstruasi > 7 hari memiliki
akhirnya menimbulkan nyeri ketika kemungkinan 1,2 kali lebih besar
menstruasi. Berlebihnya produksi mengalami dismenore dibandingkan siswi
prostaglandin disebabkan kontraksi otot yang lama menstruasinya ≤ 7 hari.
uterus yang berlebihan selama menstruasi Hasil penelitian ini berbeda dengan teori
(Marlina R, Rosalina & Purwaningsih, yang telah dijelaskan sebelumnya.
2013). Lama menstruasi dapat disebabkan Perbedaan ini bisa disebabkan oleh
oleh faktor psikologis, biasanya berkaitan produksi hormon prostaglandin yang
dengan tingkat emosional remaja putri berbeda-beda pada setiap wanita.
yang labil ketika baru mengalami Peningkatan hormon prostaglandin
menstruasi. Sementara secara fisiologi menyebabkan kontraksi uterus yang tidak

ISSN: 2338-7246, e-ISSN: 2528-2239 137


[Link]
Jurnal Keperawatan BSI, Vol. VIII No. 1 April 2020

teratur dan tidak terkoordinasi (Reeder dan Peran keluarga dalam memberikan
Koniak, 2011 dalam Ammar, 2016). edukasi atau pengetahuan terkait
Hal ini dikarenakan perbedaan lokasi menstruasi sebagai upaya preventif
penelitian. Lokasi penelitian Sophia, F terhadap dismenore primer dapat
(2013) adalah di Medan, sedangkan lokasi memperkecil atau mencegah kejadian
penelitian sekarang adalah di Kabupaten dismenore primer pada wanita.
Bandung. Sebagaimana yang diketahui Hasil penelitian ini sejalan dengan
bahwa perbedaan lokasi penelitian juga penelitian yang dilakukan oleh Ade,
akan mempengaruhi hasil penelitian. S.,Sarwinarti dan Purwati, P. (2019)
Medan merupakan kota metropolitan dan menyatakan bahwa responden yang
merupakan kota terbesar ketiga di mempunyai riwayat keluarga dengan
Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. dismenore primer lebih banyak mengalami
Sehingga pergaulan remaja dan pola hidup dismenore ringan yaitu 34 responden
remajapun juga akan berbeda dengan (45.9%) dibandingkan kategori yang lain.
daerah yang sedang berkembang. Terdapat hubungan antara riwayat keluarga
Kabupaten Bandung merupakan kota dengan kejadian dismenore primer
tradisional dengan berbagai ragam budaya (p=0,000) dengan kekuatan hubungan
dan tingkat sosial ekonomi yang berbeda- kategori kuat (r=0,592). Koefisien korelasi
beda. Permasalahan kesehatan sangat (r) bertanda positif berarti adanya riwayat
dipengaruhi oleh tingkat sosial ekonomi dismenore primer dalam keluarga
masyarakat ( Sari, 2017) meningkatkan kejadian dismenore primer
Hubungan riwayat keluarga dengan pada remaja. Berbeda dengan penelitian
kejadian dismenore primer. yang dilakukan oleh Pundati dkk (2018)
Hasil ini menunjukan paling banyak atau menunjukkan tidak adanya hubungan
hampir sepenuhnya (66,7%) sebanyak 78 antara riwayat keluarga dengan kejadian
siswi yang mengalai dismenore primer dismenore primer pada remaja dengan nilai
denganmemiliki riwayat dismenore primer p=value 0,184.
pada keluarganya. Hasil analisis statistik Perbedaan hasil yang dilakukan oleh Tia
dengan menggunakan uji chi-square Martha Pundati dkk (2018) yaitu 50,8%
diperoleh nilai p-value 0,01 yang berarti responden yang memiliki riwayat dengan
terdapat hubungan anatara riwayat melakukan olahraga rutin. Responden yang
keluarga dengan kejadian dismenore diambil dalam penelitian tersebut lebih
primer. sedikit yaitu 85 responden.
Wanita yang memiliki riwayat dismenore Hubungan kebiasaan olahraga dengan
primer pada keluarganya memiliki kejadian dismenore primer
prevalensi yang lebih besar untuk Berdasarkan hasil penelitian yang
terjadinya dismenore primer. Beberapa didapatkan bahwa paling banyak atau
peneliti memperkirakan anak dari ibu yang hampir seluruhnya 76,1% sebanyak 89
memiliki masalah menstruasi juga siswi yang memiliki riwayat dismenore
mengalami menstruasi yang tidak primer pada keluarganya. Hasil analisis
menyenangkan, ini merupakan alasan yang statistik dengan menggunakan perhitungan
dapat dihubungkan terhadap tingkah laku uji chi-square dieproleh nilai p-value 0,03
yang dipelajari dari ibu. Alasan riwayat yang berarti terdapat hubungan yang
keluarga merupakan faktor resiko signifikan antara kebiasaan olahraga
dismenore primer mungkin dihubungkan dengan kejadian dismenore primer.
dengan kondisi seperti endometriosis Olahraga adalah kegiatan yang mudah
(Ozerdogan, 2009). Wiknjosastro (2005) dilakukan tetapi banyak yang
mengemukakan bahwa adanya riwayat mengabaikannya, padahal olahraga
keluarga dan genetik berkaitan dengan merupakan sumber kesehatan bagi seluruh
terjadinya dismenore primer yang berat. tubuh (Fajaryati.N, 2012). Aktivitas fisik

ISSN: 2338-7246, e-ISSN: 2528-2239 138


[Link]
Jurnal Keperawatan BSI, Vol. VIII No. 1 April 2020

atau olahraga adalah melakukan dismenore primer dengan nilai p=value


pergerakan anggota tubuh yang 0,998 dengan presentase sebagian besar
menyebabkan pengeluaran tenaga yang (51,7%) 44 responden rutin berolahraga
sangat penting bagi pemeliharaan sedangkan hampir sepenuhnya (43,8%)
kesehatan fisik, mental dan sebanyak 41 responden tidak rutin
mempertahankan kualitas hidup agar tetap berolahraga.
sehat dan bugar sepanjang hari (Fajaryati. Perbedaan ini dilihat karena sebagian besar
N, 2012). Senam Aerobik merupakan suatu 51,7% siswi melakukan olahraga rutin dan
aktivitas yang terus menerus yang perilaku keluarga dirumah melakukan
sekaligus memadukan beberapa gerakan olahraga rutin dirumah sedangkan hasil
yang akan menguatkan jantung, peredaran panelitian ini didapatkan sebagian besar
darah dan membakar lemak. Tubuh 52,1% siswi tidak rutin berolahraga.
menjadi lebih mudah menyalurkan oksigen
yang dibutuhkan yang berarti cadangan PENUTUP
energi atau tenaga dan vitalitas lebih besar Simpulan
(Haryanti,S.R.,Kurniawati, D, 2007). Dari hasil penelitian dan pembahasan
Kejadian dismenore primer akan terhadap 117 sampel penelitian diperoleh
meningkat dengan kurangnya aktifitas kesimpulan :
selama menstruasi dan kurangnya 1. Distribusi frequensi dismenore primer
olahraga, hal ini dapat menyebabkan pada remaja siswi SMA Pemuda
sirkulasi darah dan oksigen menurun. Banjaran adalah hampir separuhnya
Dampak pada uterus adalah aliran darah nyeri berat (7-9)45,3%.
dan sirkulasi oksigen pun berkurang dan 2. Terdapat hubungan yang signifikan
menyebabkan nyeri ( Medicastore, 2004). antara status nutrisi dengan kejadian
Wanita yang melakukan olahraga secara dismenore primer dengan nilai p-value
teratur setidaknya 30-60 menit setiap 3-5x 0,01.
per minggu dapat mencegah terjadinya 3. Tidak terdapat hubungan yang
dismenore primer. Setiap wanita dapat signifikan antara pola menstruasi
sekedar berjalan-jalan santai, jogging dengan kejadian dismenore primer
ringan, berenang, senam maupun dengan nilai p-value 0,362.
bersepeda sesuai dengan kondisi masing- 4. Terdapat hubungan yang signifikan
masing (Manuaba, 2010). Sejalan dengan antara riwayat keluarga dengan
penelitian yang dialakukan oleh Anisa, kejadian dismenore primer dengan
M.V. (2015) menyatakan responden nilai p-value 0,01.
dengan kebiasaan olahraga kurang aktif 5. Terdapat hubungan yang signifikan
lebih banyak mengalami dismenore ringan antara riwayat kebiasaan olahraga
yaitu 42 responden (56.8%) dibandingkan dengan kejadian dismenore primer
ketegori yang lain. Terdapat hubungan dengan nilai p-value 0,03.
antara kebiasaan olahraga dengan kejadian Saran
dismenore primer (p=0,003) dengan 1. Untuk Siswi Remaja
kekuatan hubungan kategori cukup (r=- Pola Nutrisi
0,326). Koefisien korelasi (r) bertanda Disarankan kepada siswi SMA
negatif berarti kebiasaan olahraga yang Pemuda Banjaran yang mengalami
kurang aktif meningkatkan kejadian dismenore primer dengan status gizi
dismenore primer pada santri putri Pondok underwight agar merubah pola makan
Pesantren Al-Imdad Yogyakarta. Berbeda dengan teratur dengan asupan nutrisi
dengan penelitian yang dilakukan oleh yang seimbang.
Pundati dkk (2016) menyatakan bahwa Kegiatan Olahraga
menunjukkan tidak adanya hubungan Disarankan kepada siswi SMA
antara kebiasaan olahraga dengan kejadian Pemuda Banjaran untuk melakukan

ISSN: 2338-7246, e-ISSN: 2528-2239 139


[Link]
Jurnal Keperawatan BSI, Vol. VIII No. 1 April 2020

olahraga rutin minimal 3-5x selama 30- 2015. Journal of Healthcare


60 menit dalam satu minggu seperti Technology and Medicine, 2(2),
lari, joging, bersepeda, berenang dan 144-153.
olahraga lainnya, karena kejadian Astuti. A.P. (2017). Hubungan Indeks
dismenore primer akan meningkat Massa Tubuh (IMT) dengan
dengan kurangnya aktifitas selama Dismenore pada Remaja. Jurnal
menstruasi dan kurangnya olahraga, Kebidanan. Volume 09. Nomor 02.
hal ini dapat menyebabkan sirkulasi Beddu ,S., Mukarramah, S., & Lestahulu,
darah dan oksigen menurun. Dampak V. (2015). Hubungan Status Gizi dan
pada uterus adalah aliran darah dan Usia Menarche dengan Dismenore
sirkulasi oksigen pun berkurang dan Primer pada Remaja [Link]
menyebabkan nyeri. : The Southeast Asia Journal of
2. Tempat Penelitian Midwifery, 1(1), 16-21.
Disarankan kepada pihak sekolah Bobak (2005) buku ajaran keperawatan
untuk bekerja sama dengan instansi maternitas edisi empat. Jakarta :
kesehatan untuk memberikan EGC
penyuluhan kepada siswi, agar pada Elvira Aditiara, B., & Wahyuni, S.
saat diru mah siswi bisa (2018). Hubungan Antara Usia
menginformasikan kembali kepada Menarche Dengan Dysmenorrhea
keluarganya dirumah khususnya Primer (Doctoral dissertation,
bagaimana cara mengurangi nyeri Universitas Muhammadiyah
nyeri dismenore primer. Surakarta).
3. Peneliti Lain Ammar, U. R. (2016). Faktor Risiko
Lanjutan untuk meneliti faktor-faktor Dismenore Primer Pada Wanita Usia
yang behubungan dengan kejadian Subur Di Kelurahan Ploso
dismenore primer yang lebih dominan Kecamatan Tambaksari Surabaya.
atau berpengaruh. Jurnal Berkala Epidemiologi, Vol. 4,
No. 1 , 37– 49
REFERENSI Bobak (2005) buku ajaran keperawatan
Abass, M.Q. (2012) Evaluation of Serum maternitas edisi empat. Jakarta :
Magnesium, Hemoglobin and EGC
Body Mass Index in Fajaryati, N. (2012). Hubungan Kebiasaan
Dismenoreric Women in Tikrit Olahraga dengan Dismenore
City/Iraq. Tikrit: Tikrit Journal of Primer Remaja Putri di SMPN 2
Pure Science 17 (4) 2012. Mirit Kebumen. Jurnal
Ade, S., Sarwinarti., Purwati, Y. (2019). Komunikasi Kesehatan. Edisi 4.
Faktor-faktor yang Berhubungan Volume 3. No.01.
dengan Kejadian Dismenore Hanum SMF, dan Nuriyanah T. E., (2016),
Primer di Pondok Pesantren Al- Dismenore dan Olahraga pada
Imdad Yogyakarta. Remaja di SMK Muhammadiyah
Anisa, M. V. (2015). The effect of 1 Taman. Jurnal Unimus. 1: 337-
exercises on primary 343.
dysmenorrhea. Jurnal Haryanti, S.R., Kurniawatai. D. (2017).
Majority, 4(2). Hubungan Frekuensi Olah Raga
Aerobik dengan Kejadian
Anwar, C., & Rosdiana, E. (2019). Hubungan Dismenore Primer pada Remaja
Indeks Masa Tubuh dan Usia [Link] Profesi. Volume 14.
Menarche dengan Kejadian Nomr 2.
Dismenorea pada Remaja Putri di Kusmiran, E. (2012). Kesehatan
SMA Negeri 1 Samudera tahun Reproduksi Remaja Dan Wanita,

ISSN: 2338-7246, e-ISSN: 2528-2239 140


[Link]
Jurnal Keperawatan BSI, Vol. VIII No. 1 April 2020

cetakan kedua, Salemba Medika, Gynaecology and Obstetrics.


Jakarta, Indonesia. Vol. 107 No. 1 Juli (2009).
Mansyur. (2009). Psikologi Ibu dan Anak Pakaya, (2014). Hubungan Faktor Resiko
Kebidanan. Jakarta : Salemba dengan Kejadian Dismenore
Medika Primer pada Siswi Kelas VIII
Manuaba, IBG. (2009). Ilmu Kebidanan SMPN 6 Gorontalo Tahun
Penyakit Kandungan Dan (2013). Universitas Negeri
Keluarga Gorontalo
Manuaba, I. A. C., Manuaba, I. B. G. F., Poter, P. A., & Perry, A. G. (2010).
Manuaba, I. B. G. (2010). Buku Fundamental keperawatan
Ajar Penuntun Kuliah konsep, proses dan praktek (Alih
Ginekologi. Jakarta: Trans Info bahasa: R. Komalasari) (edisi 4).
Media. Jakarta: EGC.
Marlina. R., Rosalina., Puwaningsih.P. Pundati dkk. (2018). Faktor-faktor yang
(2013). Pengaruh Senam Berhubungan dengan Kejadian
Dismenore Terhadar Penurunan Dismenore pada Mahasiswa
Dismenore pada Remaja Putri di Semester VIII Universitas
Desa Sidoharjo Kecamatan Pati. Jendral Soedirman Purwokerto.
Jurnal Keperawatan Maternitas Jurnal Kesehatan Masyarakat.
Persatuan Perawat Nasional Volume 8. No. 1. Halaman 40-48
Indonesia. Volume 1. Nomor 2. Sari, D., Nurdin, A. E., & Defrin, D.
Marmi. (2013). Kesehatan (2015). Hubungan Stres dengan
[Link] : Kejadian Dismenore Primer pada
Pustaka Pelajar Mahasiswi Pendidikan Dokter
Medicastore. (2004). Quercetin. Fakultas Kedokteran Universitas
[Link]. 24 Andalas. Jurnal Kesehatan
Oktober 2008. Andalas, 4(2).
Novia & Puspitasari N. (2006). Faktor Sari, A. P. (2017). Faktor–Faktor yang
Resiko yang Mempengaruhi Berhubungan dengan Kejadian
Kejadian Dismenore Primer. The Dismenorea pada Siswi SMK
Indonesian Journal Of Public Swasta Istiqlal Deli Tua
Health Vol 4 No 6 : 96-104 Kabupaten Deli Serdang
Nugroho, A., Bertalina, B., & Marlina, M. Sirait, D. S. O. (2014). Faktor–Faktor yang
(2016). Hubungan Antara Berhubungan dengan Kejadian
Asupan Zat Gizi Dan Status Gizi Dismenore pada Siswi SMA
Dengan Kejadian Menarche Dini Negeri 2 Medan Tahun
Pada Siswi Sd Negeri 2 Di Kota 2014. Gizi, Kesehatan
Bandar Lampung. Jurnal Reproduksi dan
Kesehatan, 6 (1). Epidemiologi, 1(4).
Ozerdogan, Nebahat., Sayiner, Deniz., Sophia, F. (2013). Faktor-faktor yang
Ayranci, Unal., Unsal, Ayramci Berhubungan dengan Dismenore
dan Giray, Sevgi. (2009). Pada Siswi SMK Negeri 10
Prevalence and Predictors of Medan Tahun 2013. Skripsi.
Dysmenorrhea Among Students Universitas Sumatera Utara.
at A University in Turkey. Sugiyono. (2007). Metode Penelitian
International Journal of Pendidikan Pendekatan
Gynaecology and Obstetrics: The Kuantitatif, kualitatif, dan R&D.
Official Organ of The Bandung: Alfabeta
International Federation of Trimayasari, D & Kuswandi, K (2014).
Hubungan Usia Menarche dan

ISSN: 2338-7246, e-ISSN: 2528-2239 141


[Link]
Jurnal Keperawatan BSI, Vol. VIII No. 1 April 2020

Status Gizi Siswi SMP Kelas 2


dengan Kejadian Dismenore.
Jurnal Obstetrika Scientia.
Volume 2. Nomor 2.
Wiknjosastro, H. (2005). Ilmu
[Link] Bina
Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Jakarta.

BIODATA PENULIS
1
Sri Hayati Merupakan Dosen Fakultas
Ilmu Keperawatan di Universitas
Adhirajasa Reswara Sanjaya.
2
Selpy Agustin Merupakan Mahasiswa
Alumni Fakultas Ilmu
Keperawatan di Universitas
Adhirajasa Reswara Sanjaya.
3
Midartati Merupakan Dosen Fakultas
Ilmu Keperawatan di Universitas
Adhirajasa Reswara Sanjaya

ISSN: 2338-7246, e-ISSN: 2528-2239 142


[Link]

Anda mungkin juga menyukai