Faktor Dismenore pada Remaja SMA Bandung
Faktor Dismenore pada Remaja SMA Bandung
1 April 2020
ABSTRAK
Dismenore merupakan suatu fenomena simptomatik pada saat menstruasi meliputi nyeri perut,
kram dan sakit punggung bawah. Dismenore dibagi menjadi 3 derajat yaitu ringan, sedang dan
berat. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan
kejadian dismenore primer di SMA Pemuda Banjaran. Teknik pengumpulan data
menggunakan desain korelasi dengan pendekatan Cross Sectional. Jumlah populasi sebanyak
117 siswi remaja . Teknik sampling yang digunakan yaitu Total Sampling dengan jumlah
responden 117 orang. Analisa univariat menggunakan rumus prosentase. Analisa bivariat untuk
mengetahui faktor yang berhubungan peneliti menggunakan Chi-Square untuk mengetahui
status nutrisi, pola menstruasi dan riwayat keluarga, sedangkan Spearmant Rank untuk
mengatahui hubungan pola menstruasi dengan kejadian dismenore primer. Hasil penelitian
menyatakan bahwa terdapat hubungan antara status nutirisi dengan kejadian dismenore primer
dengan nilai p-value 0,01, tidak terdapat hubungan antara pola menstruasi dengan kejadian
dismenore primer dengan nilain p-value 0,810 dan nilai korelasi 0,24, terdapat hubungan antara
riwayat keluarga dengan kejadian dismenore primer dengan nilai p-value 0,03 dan terdapat
hubungan antara riwayat kebiasaan olahraga dengan kejadian dismenore primer dengan nilai
p-value 0,03. Sehingga disimpulkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kejadian
dismenore primer antara lain status nutrisi, riwayat keluarga dan kebiasaan olahrga. Sedangkan
yang tidak berhubungan dengan kejadian dismenore primer yaitu pola menstruasi. Disarankan
kepada siswi SMA Pemuda Banjaran yang mengalami dismenore primer dengan status gizi
underwight agar merubah pola makan dengan teratur dengan asupan nutrisi yang seimbang dan
olahraga teratur.
Kata Kunci : Remaja, Menstruasi, Faktor-Faktor Dismenore.
ABSTRACT
Dysmenorrhea is a symptomatic phenomenon during menstruation including abdominal pain,
cramps and lower back pain. Dysmenorrhea is divided into 3 degrees, mild, moderate and
severe. The purpose to identify the factors associated with the primary dysmenorrhea in
Banjaran Pemuda High School. Data collection using correlation with Cross Sectional
approach. Total population of 117 teenage girls. The sampling technique used is total
sampling. Univariate analysis uses the percentage formula. Bivariate analysis used Chi-
Square to determine nutritional status, menstrual patterns and family history, while the
Spearmant Rank to determine the relationship of menstrual patterns with the primary
dysmenorrhea. The results of the study stated that there was a relationship between nutritional
status and the incidence of primary dysmenorrhea with a p-value of 0.01, there was no
relationship between menstrual patterns with the incidence of primary dysmenorrhea with a p-
value of 0.810 and a correlation value of 0.24, there was a relationship between family history
with the incidence of primary dysmenorrhea with a p-value of 0.03 and there is a relationship
between the history of sports habits with the incidence of primary dysmenorrhea with a p-value
of 0.03. So it was concluded that factors related to the incidence of primary dysmenorrhea
include nutritional status, family history and exercise habits. While those not related to primary
dysmenorrhea are menstrual patterns. It is recommended to students of Banjaran Youth High
School who experience primary dysmenorrhea with underwight nutritional status in order to
change their eating patterns regularly with balanced nutrition intake and regular exercise.
Keywords: Teenagers, Menstruation, Dysmenorrhea Factors.
Naskah diterima: Januari 2020; Naskah direvisi: Februari 2020; Naskah diterbitkan: April
2020
hari sebanyak 108 orang. Hasil penelitian dengan cara mengkonsumsi makanan
ini berbeda dengan teori yang telah seimbang. Asupan gizi yang baik akan
dijelaskan sebelumnya. Perbedaan ini bisa mempengaruhi pembentukan hormon-
disebabkan oleh produksi hormon hormon yang terlibat dalam menstruasi
prostaglandin yang berbeda-beda pada yaitu hormon FSH (Follicle-Stimulating
setiap wanita. Peningkatan hormon Hormone), LH (Luteinizing Hormone),
prostaglandin menyebabkan kontraksi estrogen dan juga progesteron. Hormon
uterus yang tidak teratur dan tidak FSH, LH dan estrogen bersama-sama akan
terkoordinasi (Reeder dan Koniak, 2011 terlibat dalam siklus menstruasi, sedangkan
dalam Ammar, 2016). hormon progesteron mempengaruhi uterus
Hampir seluruhnya 65,0% sebanyak 78 yaitu dapat mengurangi kontraksi selama
siswi yang mempunyai riwayat dismenore siklus haid (Trimayasari dan Kuswandi,
primer pada keluarganya. Wiknjosastro 2014). Status gizi dikaji dari IMT
(2005) mengemukakan bahwa adanya seseorang dengan membagi berat badan
riwayat keluarga dan genetik berkaitan dengan tinggi badan dalam meter kuadrat.
dengan terjadinya dismenore primer yang Indeks massa tubuh yang berada dalam
berat. Peran keluarga dalam kategori underweight dan overweight dapat
memberikan edukasi atau pengetahuan berpengaruh pada fungsi reproduksi
terkait menstruasi sebagai upaya remaja. Prevalensi dimenore paling tinggi
preventif terhadap dismenore primer pada remaja perempuan dengan kategori
dapat memperkecil atau mencegah Indeks massa tubuh underweight (Abass
kejadian dismenore primer pada wanita. [Link], 2012). Hasil penelitian ini sejalan
Sebagian besar 74,2% sebanyak 89 siswi dengan teori tersebut bahwasannya remaja
berolahraga ≤30 menit dan ≤3x dalam satu dengan status gizi underwieght
minggu. Kejadian dismenore primer akan berhubungan dengan rentannya kejadian
meningkat dengan kurangnya aktifitas dismenore primer karena menurut Astuti
selama menstruasi dan kurangnya (2017), dismenore sebagian besar terjadi
olahraga, hal ini dapat menyebabkan pada remaja yang memiliki status nutrisi
sirkulasi darah dan oksigen menurun. underweight, hal ini terjadi disebabkan
Dampak pada uterus adalah aliran darah oleh kekurangan nutrisi dan zat besi
dan sirkulasi oksigen pun berkurang dan sehingga berpengaruh terhadap hormon
menyebabkan nyeri ( Medicastore, 2004). reproduksi pada remaja tersebut, sehingga
Hubungan Status Nutrisi dengan ketahanan terhadap nyeri menjadi
Kejadian Dismenore Primer berkurang.
Hasil peneltian ini menunjukan paling Hal ini sesuai dengan penelitian yang
banyak atau separuhnya siswi berstatus dilakukan oleh Anwar, C., & Rosdiana, E.
nutrisi underwight sebanyak (42,7%) 50 (2019) didapatkan hasil P = 0,002 (P =
siswi dengan dismenore primer. <0,05), artinya terdapat hubungan yang
Berdasarkan hasil analisis di peroleh nilai signifikan antara status nutrisi dengan
P value 0,01. Nilai ini lebih kecil dari taraf kejadian dismenore primer dengan data
signifikan 0,05, yang menunjukan adanya presentase sebagian besar (72,6%)
hubungan antara status nutrisi dengan sebanyak 53 sisiwi yang mengalami
kejadian dismenore primer. kejadian dismenore primer. Sedangkan
Menurut Pakaya (2014) menyatakan hampir sepenuhnya (42,0%) sebanyak 21
bahwa status gizi merupakan hal yang siswi berstatus gizi normal dan sebagian
penting dari kesehatan manusia. Status gizi besar (70,0%) sebanyak 21 siswi berstatus
manusia dapat mempengaruhi fungsi organ gizi overweight. Berbeda dengan penelitian
tubuh salah satunya adalah fungsi yang dilakukan oleh Astuti, A.P (2017) di
reproduksi. Remaja wanita perlu SMP 1 Muhammadiyah DIY didapatkan
mempertahankan status gizi yang baik hasil P = 0,08 (P=<0,05) dengan sebagian
besar (51%) sebanyak 40 siswi berstatus lebih terjadi pada kontraksi otot uterus
gizi normal. Sedangkan (11,5%) sebanyak yang berlebihan atau dapat dikatakan
9 orang siswi berstatus gizi underwight dan mereka sangat sensitif terhadap hormon ini
sebagian kecil (12,8%) sebanyak 10 siswi akibat endimentrium dalam fase sekresi
berstatus nutrisi overweight. memproduksi hormon prostaglandin.
Perbedaan ini dilihat dari hasil yang Prostaglandin terbentuk dari asam lemak
dikemukakan oleh peneliti yaitu jumlah tak jenuh yang disintesis oleh seluruh sel
responden yang lebih sedikit dibandingkan yang ada dalam tubuh. Hal ini
jumlah responden pada penelitian ini yaitu menyebabkan kontraksi otot polos yang
78 responden dengan rmaja SMP. Di DIY akhirnya menimbulkan rasa nyeri (Bobak,
secara nasional pada remaja umur 13-15 2005). Menurut hasil penelitian yang
tahun, prevalensi kurus 11,1% terdiri dari dilakukan oleh Sophia, F (2013) yang
3,3 persen sangat kurus dan 7,8 persen menyebutkan bahwa semakin lama
kurus. Sedangkan prevalensi gemuk menstruasi terjadi, maka semakin sering
sebesar 10,8 persen, terdiri dari 8,3 persen uterus berkontraksi dan akibatnya semakin
gemuk dan 2,5 persen sangat gemuk banyak pula hormon prostaglandin yang
(obesitas). Dan sebelum dilakukannnya dikeluarkan. Akibat hormon prostaglandin
penelitian oleh peneliti, peneliti yang berlebihan maka timbul rasa nyeri
mendapatkan data dari sekolah bahwa pada saat menstruasi.
Remaja puteri di SMP Muhammadiyah I Hasil ini sejalan dengan penelitian yang
Yoyakarta mayoritas memiliki IMT normal dialakukan oleh Novia dan Puspitasari
67% dan 33% mengalami masalah berat (2006), bahwa tidak terdapat hubungan
badan (gemuk 15%, kurus 13%, obesitas yang signifikan antara pola menstruasi
4% dan sangat kurus 1%). dengan kejadian dismenore primer dan
Hubungan pola menstruasi dengan masih mengalami dismenore primer
kejadian dismenore perimer. dengan nilai P-value 0,962 dengan
Hasil penelitian menunjukan paling banyak presentase sebagian besar (65,9%) siswi
atau hampir seluruhnya siswi dengan pola dengan pola menstruasi normal. Hasil
menstruasi normal yaitu (92,3%) sebanyak penelitian ini berbeda dengan penelitian
108 orang dan masih mengalami dismenore Sophia, F (2013) pada Siswi SMK Negeri
primer. Berdasarkan hasil analisis dengan 10 di Medan yang menunjukkan bahwa
menggunakan SPSS diperoleh nilai responden yang mengalami dismenore
p=0,081 (P=>0,05) dengan nilai korelasi primer terbanyak yaitu mereka yang
0,24 yang berarti hubungan sangat lemah mengalami lama menstruasi > 7 hari
dan tidak ada hubungan yang signifikan (87,2%) dengan nilai p-value sebesar 0,046
antara pola menstruasi dengan kejadian sehingga disimpulkan bahwa ada
dismenore primer. hubungan antara lama menstruasi dengan
Menstruasi yang lama pada seorang wanita kejadian dismenore primer. Dalam
meningkatkan produksi hormon penelitian ini juga menyebutkan bahwa
prostaglandin sehingga berlebih yang lama menstruasi > 7 hari memiliki
akhirnya menimbulkan nyeri ketika kemungkinan 1,2 kali lebih besar
menstruasi. Berlebihnya produksi mengalami dismenore dibandingkan siswi
prostaglandin disebabkan kontraksi otot yang lama menstruasinya ≤ 7 hari.
uterus yang berlebihan selama menstruasi Hasil penelitian ini berbeda dengan teori
(Marlina R, Rosalina & Purwaningsih, yang telah dijelaskan sebelumnya.
2013). Lama menstruasi dapat disebabkan Perbedaan ini bisa disebabkan oleh
oleh faktor psikologis, biasanya berkaitan produksi hormon prostaglandin yang
dengan tingkat emosional remaja putri berbeda-beda pada setiap wanita.
yang labil ketika baru mengalami Peningkatan hormon prostaglandin
menstruasi. Sementara secara fisiologi menyebabkan kontraksi uterus yang tidak
teratur dan tidak terkoordinasi (Reeder dan Peran keluarga dalam memberikan
Koniak, 2011 dalam Ammar, 2016). edukasi atau pengetahuan terkait
Hal ini dikarenakan perbedaan lokasi menstruasi sebagai upaya preventif
penelitian. Lokasi penelitian Sophia, F terhadap dismenore primer dapat
(2013) adalah di Medan, sedangkan lokasi memperkecil atau mencegah kejadian
penelitian sekarang adalah di Kabupaten dismenore primer pada wanita.
Bandung. Sebagaimana yang diketahui Hasil penelitian ini sejalan dengan
bahwa perbedaan lokasi penelitian juga penelitian yang dilakukan oleh Ade,
akan mempengaruhi hasil penelitian. S.,Sarwinarti dan Purwati, P. (2019)
Medan merupakan kota metropolitan dan menyatakan bahwa responden yang
merupakan kota terbesar ketiga di mempunyai riwayat keluarga dengan
Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. dismenore primer lebih banyak mengalami
Sehingga pergaulan remaja dan pola hidup dismenore ringan yaitu 34 responden
remajapun juga akan berbeda dengan (45.9%) dibandingkan kategori yang lain.
daerah yang sedang berkembang. Terdapat hubungan antara riwayat keluarga
Kabupaten Bandung merupakan kota dengan kejadian dismenore primer
tradisional dengan berbagai ragam budaya (p=0,000) dengan kekuatan hubungan
dan tingkat sosial ekonomi yang berbeda- kategori kuat (r=0,592). Koefisien korelasi
beda. Permasalahan kesehatan sangat (r) bertanda positif berarti adanya riwayat
dipengaruhi oleh tingkat sosial ekonomi dismenore primer dalam keluarga
masyarakat ( Sari, 2017) meningkatkan kejadian dismenore primer
Hubungan riwayat keluarga dengan pada remaja. Berbeda dengan penelitian
kejadian dismenore primer. yang dilakukan oleh Pundati dkk (2018)
Hasil ini menunjukan paling banyak atau menunjukkan tidak adanya hubungan
hampir sepenuhnya (66,7%) sebanyak 78 antara riwayat keluarga dengan kejadian
siswi yang mengalai dismenore primer dismenore primer pada remaja dengan nilai
denganmemiliki riwayat dismenore primer p=value 0,184.
pada keluarganya. Hasil analisis statistik Perbedaan hasil yang dilakukan oleh Tia
dengan menggunakan uji chi-square Martha Pundati dkk (2018) yaitu 50,8%
diperoleh nilai p-value 0,01 yang berarti responden yang memiliki riwayat dengan
terdapat hubungan anatara riwayat melakukan olahraga rutin. Responden yang
keluarga dengan kejadian dismenore diambil dalam penelitian tersebut lebih
primer. sedikit yaitu 85 responden.
Wanita yang memiliki riwayat dismenore Hubungan kebiasaan olahraga dengan
primer pada keluarganya memiliki kejadian dismenore primer
prevalensi yang lebih besar untuk Berdasarkan hasil penelitian yang
terjadinya dismenore primer. Beberapa didapatkan bahwa paling banyak atau
peneliti memperkirakan anak dari ibu yang hampir seluruhnya 76,1% sebanyak 89
memiliki masalah menstruasi juga siswi yang memiliki riwayat dismenore
mengalami menstruasi yang tidak primer pada keluarganya. Hasil analisis
menyenangkan, ini merupakan alasan yang statistik dengan menggunakan perhitungan
dapat dihubungkan terhadap tingkah laku uji chi-square dieproleh nilai p-value 0,03
yang dipelajari dari ibu. Alasan riwayat yang berarti terdapat hubungan yang
keluarga merupakan faktor resiko signifikan antara kebiasaan olahraga
dismenore primer mungkin dihubungkan dengan kejadian dismenore primer.
dengan kondisi seperti endometriosis Olahraga adalah kegiatan yang mudah
(Ozerdogan, 2009). Wiknjosastro (2005) dilakukan tetapi banyak yang
mengemukakan bahwa adanya riwayat mengabaikannya, padahal olahraga
keluarga dan genetik berkaitan dengan merupakan sumber kesehatan bagi seluruh
terjadinya dismenore primer yang berat. tubuh (Fajaryati.N, 2012). Aktivitas fisik
BIODATA PENULIS
1
Sri Hayati Merupakan Dosen Fakultas
Ilmu Keperawatan di Universitas
Adhirajasa Reswara Sanjaya.
2
Selpy Agustin Merupakan Mahasiswa
Alumni Fakultas Ilmu
Keperawatan di Universitas
Adhirajasa Reswara Sanjaya.
3
Midartati Merupakan Dosen Fakultas
Ilmu Keperawatan di Universitas
Adhirajasa Reswara Sanjaya