TERAPI MODALITAS PADA KEPERAWATAN KOMUNITAS
Dosen Pengampu : Zulfikar Muhamad, [Link], Ns, [Link]
Disusun Oleh:
KELOMPOK 4
An Nisa Nur Fitriana (1720004)
Eka Maulita (1720009)
Igor Wibya Bintang P. (1720015)
Neti Anggita Wijaya (1720023)
Oktaviani Mutiara H. (1720024)
Avivatus Sholikhah (1720034)
Fera Yunita (1720039)
M. Adib Purnomo (1720046)
Nina Norma Yunita (1720047)
Pavitra Cahyani (1720051)
Puput Ratna Sari (1720054)
Slamet Bahrul A. (1720062)
Vigih Krisdian A. (1720064)
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN
2020
TERAPI MODALITAS PADA KEPERAWATAN KOMUNITAS
A. PENGERTIAN TERAPI MODALITAS (Secara Umum)
Keperawatan Modalitas merupakan keyakinan bahwa individu adalah pusat
penyembuhan mereka sendiri. Terapi modalitas yaitu suatu terapi yang dilakukan dengan
cara melakukan berbagai pendekatan penanganan pada klien. Terapi modalitas adalah
dimana perawat mendasarkan potensi yang dimiliki klien (modal-modality) sebagai titik
tolak terapi atau penyembuhan. Dapat juga didefinisikan terapi modalitas adalah suatu
pendekatan penanganan klien yang bertujuan untuk mengubah prilaku klien maladaptifnya
menjadi prilaku yang adaptif. Perawat harus mempunyai kemampuan atau kompetensi
yang lebih, dari sekedar merawat, yaitu pelayanan keperawatan alternatif-komplementer
(Mayer, 1971; CNPS, 2004; Nova, 2005).
B. TUJUAN TERAPI MODALITAS (Secara Umum)
Tujuan dari dilaksanakanya terapi modalitas dalam keperawatan adalah :
1. Menimbulkan kesadaran terhadap salah satu perilaku pasien.
2. Mengurangi gejala gangguan jiwa.
3. Memperlambat kemunduran.
4. Membantu adaptasi terhadap situasi sekarang.
5. Membantu keluarga dan orang-orang yang berarti.
6. Mempengaruhi keterampilan merawat diri sendiri.
7. Meningkatkan aktivitas.
8. Meningkatkan kemandirian.
C. INDIKASI TERAPI MODALITAS (Secara Umum)
Terapi keluarga akan sangat bermanfaat jika digunakanpada kasus yang tepat.
Indikasi terapi keluarga menurut Walrond Skinner adalah : Gejala yang timbul merupakan
ekspresi disfungsi dari sistem keluarga. Gejala yang timbul lebih menyebabkan beberapa
perubahan dalam hubungan anggota keluarganya dapat merupakan masalah secara
individual kesulitan berpisah.
Terapi keluarga yang berorientasi psikomaktika menyatakan bahwa terapi keluarga
akan berguna pada keluarga-keluarga dapat fungsi yang didasari oleh paranoid skizoid,
hubungan yang part object keluarga ego goundaries dan terlalu banyak memkai denial
projeksi a Saverely Disorganized Family dan keadaan sosial ekonomi yang buruk.
D. KONTRA INDIKASI TERAPI MODALITAS (Secara Umum)
Tertawa adalah terapi yang sangat ringan dan tidak membatasi usia, walaupun
begitu, terapi ini dilarang untuk dilakukan oleh mereka yang mempunyai beberapa jenis
penyakit dan problem. Pelarangan melakukan tawa ini dikarenakan dikawatirkan berakibat
buruk pada penyakitnya.
Mereka yang dilarang untuk melakukan terapi humor ini adalah (Simanungkalit &
Pasaribu, 2007: 24):
Kontra Indikasi Tertawa, yaitu :
1. Penderita penyakit wasir
Berbahaya karena otot di sekitar pinggul dan perut mendapat tekanan lebih berat
sehingga dikhawatirkan memperparah penyakit wasir
2. Penderita penyakit hernia
Hal ini dapat memperparah penyakit hernia karena membutuhkan kerja keras otot
dan kemungkinan isi perut akan menonjol di sekitar saluran selangkangan.
3. Penderita penyakit jantung
Memacu denyut jantung bekerja lebih cepat, sehingga dikhawatirkan berakibat fatal.
4. Penderita sesak nafas
Mengganggu pernapasan
5. Baru selesai melakukan operasi
Jahitan opersinya akan terlepas, apalagi yang melakukan operasi besar atau perus
6. Sedang hamil
Mengakibatkan kontraksi dan bisa terjadi keguguran.
7. Peranakan turun
Menurunkan tali ligamen yang menopang peranakan menjadi lemah.
8. Penyakit TBC
Bibit-bibit penyakitnya akan menular kepada orang lain sekitarnya
9. Penyakit flu
Bibit flu akan menyebar dan penderita flu sebaiknya istirahat saja.
10. Penyakit pilek
Akan menularkan bibi-bibit virusnya kepada orang lain.
11. Komplikasi mata (gloukoma)
Akan meningkatkan tekanan pada bola mata karena bendungan aliran cairan mata
melalui terusan Schlemm dalam pembuluh balik semakin meningkat,
mencekungnya pupil saraf mata, dan bisa berakibat pada kebutaan.
E. CONTOH TERAPI MODALITAS
Contoh Terapi Modalitas yang digunakan yaitu Terapi Senam tertawa
Tertawa adalah kemampuan yang hanya dimiliki manusia yang merupakan
ekspresi kebahagian dan bisa dilakukan tanpa syarat dan sama khasiatnnya dengan
meditasi sehingga sering disebut yoga tawa. Terapi tertawa atau yoga tawa adalah terapi
yang diyakini mampu membangkitkan semangat hidup, sekalipun dalam kondisi stres
(Kataria, 2004). Tertawa merupakan ekspresi emosional atau jiwa yang dinilai melalui raut
wajah dan bunyi-bunyian tertentu. Secara fisiologis tertawa dibagi menjadi dua yaitu satu
set gerakan dan produk suara (Muhammad, 2011). Tertawa adalah kegiatan yang sehat dan
memberi oksigen tambahan bagi sel dan jaringan. Perasaan dan perilaku murung dapat
menyebabkan pengurangan oksigen dalam darah sehingga menimbulkan depresi,
kecemasan, dan kemarahan (Plutchik, 2002).
Terapi tawa adalah terapi dengan menggunakan tawa. Terapi tawa dapat membantu
seseorang untuk menyelesaikan masalah fisik maupun mental. Penggunaan tawa dalam
terapi ini akan menghasilkan pereda stres dan rasa [Link] menunjukan
kebahagiaan tidak hanya terletak pada pikiran, tetapi terkandung dalam otot-otot dan
hormon. Tindakan menggerakkan otot-otot wajah membentuk ekspresi yang berkaitan
dengan kesukacitaan dapat memberikan efek positif yang berdampak pada sistem saraf
pusat (Dumbro, 2012).
Terapi tertawa adalah suatu terapi untuk mencapai kegembiraan didalam hati yang
dikeluarkan melalui mulut dalam bentuk suara tawa, senyuman yang menghias wajah,
suara hati yang lepas dan bergembira, peredaran darah yanglancar sehingga bisa mencegah
penyakit, memelihara kesehatan, sertamenghilangkan stres (Robinson, Dahl dan O’Neal
dalam Setyoadi & Kushariyadi, 2011). Hipotesis fisiologis juga menyatakan bahwa
tertawa melepaskan hormon endorfin kedalam sirkulasi sehingga tubuh menjadi lebih
nyaman dan rileks. Hormon endorfin disebut juga sebagai morfin tubuh yang
menimbulkan efek sensasi nyaman dan sehat (Setyoadi & Kushariyadi, 2011).
Saat tertawa bukan hanya hormon endorfin saja yang keluar tetapi banyak hormon
positif yang muncul. Keluarnya hormon positif yaitu hormon yang keluar yang diproduksi
oleh tubuh ketika merasa bahagia, ceria dan gembira seperti hormon beta-endorfin dan
endomorfin. Hormon ini akan menyebabkan lancarnya peredaran darah dalam tubuh
sehingga fungsi kerja organ berjalan dengan normal (Setyoadi & Kushariyadi, 2011).
F. TEKNIK PELAKSANAAN TERAPI MODALITAS
Masing-masing sesi dalam terapi adalah kombinasi antara latihan pernapasan,
peregangan dan berbagai teknik tawa stimulus. Satu sesi tawa memakan waktu antara 20 –
30 menit. Sedangkan satu putaran tawa memakan waktu antara 30 – 40 detik (Firmanto,
2006).
1. Langkah Pertama
Pamanasan dengan tepuk tangan serentak semua peserta, sambil mengucapkan “Ho
ho ho… Ha ha ha… “Tepuk tangan di sini sangat bermanfaat bagi peserta karena
saraf-saraf di telapak tangan akan ikut terangsang sehingga menciptakan rasa aman
dan meningkatkan energi dalam tubuh.
2. Langkah Kedua
Pernapasan dilakukan seperti pernapasan biasa yang dilakukan semua cabang-
cabang olahraga pada awal latihan yaitu : melakukan pernapasan dengan mengambil
napas melalui hidung, lalu napas ditahan selama 15 detik dengan pernapasan perut.
Kemudian keluarkan perlahan-lahan melalui mulut. Hal ini dilakukan lima kali
berturut-turut.
3. Langkah Ketiga
Memutar engsel bahu ke depan dan kearah belakang. Kemudian menganggukan
kepala ke bawah sampai dagu hamper menyentuh dada, lalu mendongakkan kepala
ke atas belakang. Lalu menoleh ke kiri dan ke kanan. Lakukan secara perlahan.
Tidak dianjurkan untuk melakukan gerakan memutar leher, karena bisa terjadi cidera
pada otot leher. Peregangan dilakukan dengan memutar pinggang kearah kanan
kemudian ditahan beberapa saat, lalu kembali ke posisi semula. Peregangan ini juga
dapat dilakukan dengan otot-otot bagian tubuh lainnya. Semua gerakan ini dilakukan
masing-masing lima kali.
4. Langkah Keempat
Tawa bersemangat. Tutor memberikan aba-aba untuk memulai tawa, “1, 2, 3….
Semua orang tertawa serempak. Jangan ada yang tertawa lebih dulu atau
belakangan, harus kompak seperti nyanyian koor”. Dalam tawa ini tangan diangkat
ke atas beberapa saat lalu diturunkan dan diangkat kembali, sedangkan kepala agak
mendonggak ke belakang. Melakukan tawa ini harus bersemangat. Jika tawa
bersemangat akan berakhir maka sang tutor mengeluarkan kata, ho ho ho….. ha ha
ha….. beberapa kali sambal bertepuk tangan.
5. Langkah Kelima
Tawa sapaan. Tutor memberikan aba-aba agar peserta tawa tertawa dengan suara-
suara sambal mendekat dan bertegur sapa satu sama lainnya. Dalam melakukan sesi
ini mata peserta diharapkan saling memandang satu sama lain. Peserta dianjurkan
menyapa sambal tertawa pelan. Cara menyapa ini sesuai dengan kebiasaan masing-
masing. Setelah itu peserta menarik napas secara pelan dan dalam.
6. Langkah Keenam
Tawa penghargaan. Peserta membuat lingkaran kecil dengan menghubungkan ujung
jari telunjuk dengan ujung ibu jari. Kemudian tangan digerakkan ke depan dan
kebelakang sekaligus memandang anggota lainnya dengan melayangkan tawa yang
manis sehingga seperti memberikan penghargaan kepada yang dituju. Kemudian
bersama-sama tutor mengucapkan, ho ho ho….. ha ha ha….. sekaligus bertepuk
tangan. Setelah melakukan tawa ini kembali menarik napas secara pelan dan dalam
agar kembali tenang.
7. Langkah Ketujuh
Tawa satu meter. Tangan kiri dijulurkan ke samping tegak lurus dengan badan,
sementara tangan kanan melakukan gerakan seperti melepaskan anak panah, lalu
tangan di Tarik ke belakang seperti menarik anak panah dan dilakukan dalam tiga
gerakan pendek, seraya mengucapkan ae…… ae……. aeee…… lalu tertawa lepas
seraya merentangkan kedua tangan dan kepala agak mendonggak serta tertawa dari
perut. Gerakan seperti ini dilakukan kearah kiri lalu kearah kanan. Ulangi hal serupa
antara 2 hingga 4 kali. Setelah selesai kembali menarik napas secara pelan dan
dalam.
8. Langkah Kedelapan
Tawa milk shake. Peserta seolah-olah memegang dua gelas berisi susu, yang satu di
tangan kiri dan satu di tangan kanan. Saat tutor memberikan instruksi lalu susu
dituang dari gelas yang satu ke gelas yang satunya sambal mengucapkan Aeee….
dan kembali dituang ke gelas yang awal sambal mengucapkan aeee…. setelah
selesai melakukan gerakan itu, para anggota klub tertawa sambil melakukan gerakan
seperti minum susu. Hal serupa dilakukan sebanyak empat kali, lalu bertepuk tangan
seraya mengucapkan, ho ho ho…. ha ha ha…. Kembali lakukan Tarik nafas pelan
dan dalam.
9. Langkah Kesembilan
Tawa hening tanpa suara. Harus dilakukan hati-hati, sebab tawa ini tidak bisa
dilakukan dengan tenaga berlebihan, dapat berbahaya jika beban di dalam perut
mendapat tekanan secara berlebihan. Perasaan lebih banyak berperan dari pada
penggunaan tenaga berlebihan. Pada tawa ini mulut di buka selebar-lebarnya seolah-
olah tertawa lepas tetapi tanpa mengeluarkan suara, sekaligus saling memandang
satu sama lainnya dan membuat berbagai gerakan dengan telapak tangan serta
menggerak-gerakkan kepala dengan mimic-mimic lucu. Dalam melakukan tawa
hening ini otot-otot perut bergerak cepat seperti melakukan gerak tawa lepas.
Kemudian kembali menarik napas pelan dan dalam.
10. Langkah Kesepuluh
Tawa bersenandung dengan bibir tertutup. Ini adalah gerakan tawa yang harus hati-
hati dilakukan sebab tertawa tanpa suara, sekaligus mengatupkan mulut yang
dipaksakan akan berdampak buruk karena menambah tekanan yang tidak baik dalam
rongga perut. Dalam pelaksanaan gerak ini pserta dianjurkan bersenandung
hmmmmm……. dengan mulut tetap tertutup, sehingga akan terasa bergema di
dalam kepala. Dalam melakukan senandung ini diharapkan semua peserta saling
berpandangan dan saling membuat gerakan-gerakan yang lucu sehingga memacu
peserta lain semakin tertawa. Kemudian kembali menarik napa dalam dan pelan.
11. Langkah Kesebelas
Tawa ayunan. Peserta berada dalam formsi melingkar dan harus mendengar aba-aba
tutor. Kemudian peserta mundur dua meter sambil tertawa, untuk memperbesar
lingkaran dan kembali maju sekaligus mengeluarkan ucapan, ae ae aeeeeeeee…..
seluruh peserta menangkat tangan dan serempak tertawa lepas dan pada saat yang
sama semua bertemu di tengah-tengah dan melambaikan tangan masingmasing.
Tahap berikutnya, peserta kembali pada posisi semula, dan melanjutkan gerakan
maju ke tengah dan mengeluarkan ucapak, Aee…. Oooo… Ee-Uu…. dan sekaligus
tertawa lepas dan serupa dilakukan bisa sampai empat kali. Setelah selesai kembali
menarik napas dalam dan pelan
12. Langkah Keduabelas
Tawa singa. Ini merupakan tawa yang sangat bermanfaat buat otot-otot wajah, lidah,
dan memperkuat kerongkongan serta memperbaiki saluran dan kelenjar tiroid
sekaligus peserta dapat menghilangkan rasa malu dan takut. Dalam gerakan ini
mulut dibuka lebar-lebar dan lidah dijulurkan ke luar semaksimal mungkin, mata
dibuka lebar seperti melotot, seolah-olah seperti singa mau mencakar mangsanya.
Pada saat itulah peserta tertawa dari perut. Setelah selesai lakukan kembali gerakan
menarik napas secara dalam dan pelan.
13. Langkah Ketigabelas
Tawa ponsel. Peserta dibagi dalam dua kelompok yang saling berhadapan dan
masing-masing seolah-olah memegang handphone. Tutor meminta peserta saling
menyeberang sambil memegang handphone. Pada saat itulah peserta tertawa sambil
saling berpandangan dan setelah itu kembali lagi ke posisi semula. Setelah selesai
Tarik napas dalam dan pelan.
14. Langkah Keempatbelas
Tawa bantahan. Anggota kelompok dibagi dalam dua bagian yang bersaing dengan
dibatasi jarak. Biasanya mereka dibagi dengan kelompok pria dan wanita. Dalam
kelompok itu mereka saling berpandangan sekaligus tertawa dan saling menuding
dengan jari telunjuk kepada kelompok yang dihadapannya. Gerakan ini sangat
menarik para peserta karena mereka akan bisa tertawa lepas. Setelah selesai Tarik
napas dalam dan pelan agar kembali segar dan tenang.
15. Langkah Kelimabelas
Tawa memaafkan. Peserta klub memegang cuping telinga masing-masing sekaligus
menyilangkan lengan dan berlutut diikuti dengan tawa. Muatan dari tawa ini adalah
saling memaafkan jika ada perselisihan. Setelah selesai Tarik napas dalam dan
pelan.
16. Langkah Keenambelas
Tawa bertahap. Di sini tutor menginstruksikan agar peserta mendekatinya. Tutor
mengajak peserta untuk tersenyum kemudian secara bertahap menjadi tertawa
ringan, berlanjut menjadi tawa sedang dan terakhir menjadi tertawa lepas penuh
semangat. Tawa ini dilakukan selama satu menit. Setelah selesai tarik napas dalam
pelan.
17. Langkah Ketujuhbelas
Tawa dari hati ke hati. Tawa ini merupakan sesi terakhir dari tahapan terapi. Semua
peserta terapi saling berpegangan tangan sambil berdekatan sekaligus bersama-sama
tertawa dengan saling bertatapan dengan perasaan lega. Peserta juga bisa saling
bersalaman atau berpelukan sehingga terjalin rasa keakraban yang mendalam
DAFTAR PUSTAKA
Direja, Ade Herman S. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Nuha
Medika.
Keliat, Budi Anna dkk, 2014-2015. Keperawatan Jiwa, Terapi Aktivitas Kelompok.
Jakarta: EGC.
Muhith, Abdul. 2015. Pendidikan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta.
Prabowo, 2017. Asuhan Keperawatan Jiwa. Semarang : Universitas Diponegoro
Sulfiana J,Ahmad R.(2018). Terapi Tawa Terhadap Penurunan Tingkat Stres Akademik
Pada Mahasiswa Strata 1. Jurnal Psikologi .Talenta .4 (1), 80-89