0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
84 tayangan21 halaman

Teknik Restrain dalam Keperawatan Jiwa

Makalah ini membahas tentang teknik restrain dalam keperawatan jiwa. Definisi restrain adalah tindakan menggunakan tali untuk membatasi gerak pasien agar terhindar dari bahaya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan restrain antara lain indikasi, kontraindikasi, dan observasi berkala terhadap pasien. Jenis-jenis restrain meliputi fisik, lingkungan, dan kimia. Penggunaan restrain memiliki resiko seperti cedera jika

Diunggah oleh

Tuti Jalbin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
84 tayangan21 halaman

Teknik Restrain dalam Keperawatan Jiwa

Makalah ini membahas tentang teknik restrain dalam keperawatan jiwa. Definisi restrain adalah tindakan menggunakan tali untuk membatasi gerak pasien agar terhindar dari bahaya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan restrain antara lain indikasi, kontraindikasi, dan observasi berkala terhadap pasien. Jenis-jenis restrain meliputi fisik, lingkungan, dan kimia. Penggunaan restrain memiliki resiko seperti cedera jika

Diunggah oleh

Tuti Jalbin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH KEPERAWATAN JIWA

TEHNIK RESTRAIN

Disusun Oleh :

KELOMPOK 2B

Annisa Nurfadillah 19.04.031

Anugrah Cipta Dwijaya 19.04.032

Arwan Adi Putra 19.04.033

Astuti 19.04.034

Besse Maessy Aulia A 19.04.035

Cindy Indriyani 19.04.036

Darmawansyah 19.04.037

YAYASAN PERAWAT SULAWESI SELATAN

STIKES PANAKKUKANG MAKASSAR

PROGRAM STUDI NERS

2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Restraint (fisik) merupakan alternative terakhir intervensi jika
dengan intervensi verbal, chemical restraint mengalami kegagalan. Seklusi
merupakan bagian dari restraint fisik  yaitu dengan menempatkan klien di
sebuah ruangan tersendiri untuk membatasi ruang gerak dengan tujuan
meningkatkan keamanan dan kenyamanan klien.
Perawat perlu mengkaji apakah restraint di perlukan atau tidak.
Restrein seringkali dapat dihindari dengan persiapan pasien yang adekuat,
pengawasan orang tua atau staf terhadap pasien, dan proteksi adekuat
terhadap sisi yang rentan seperti alat infus. Perawat perlu
mempertimbangkan perkembangan pasien, status mental, ancaman
potensial pada diri sendiri atau orang lain dan keamannnya.
Terdapat beberapa laporan ilmiah mengenai kematian pasien
pasien yang disebabkan oleh penggunaan teknik pengendalian fisik
(restraint). Hubungan kematian pasien dengan gangguan psikologi yang
disebabkan penggunaan restraint adalah dimana ketika pengendalian fisik
(restrain) dilakukan, pasien pasien mengalami reaksi psikologis yang tidak
normal, yaitu seperti menigkatnya suhu tubuh, cardiac arrhythmia yang
kemudian dapat menyebabkan timbulnya positional asphyxia,
excited delirium, acute pulmonary edema, atau pneumonitis yang dapat
menyebabkan kematian pada pasien.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan beberapa
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah definisi dari restrain?
2. Bagimanakah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan
restrain?
3. Bagaimanakah jenis-jenis dari restrain
4. Bagaimanakah resiko penggunaan restrain pada pasien
C. Tujuan penulisan
Tujuan penulisan makalah ini berdasarkan rumusan masalah di atas
sebagai berikut:
1. Mengetahui definisi dari restrain
2. Mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan
restrain
3. Mengetahui jenis-jenis restrain
4. Mengetahui resiko penggunaan restrain pada pasien
D. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis penulisan ini dapat dimanfaatkan untuk meperluas
teori tentang konsep dasar tentang restrain dalam keperawatan jiwa.
2. Manfaat Praktis
Bagi Mahasiswa untuk membantu dalam pengembangan wawasan
tentang konsep dasar restrain dan membantu sebagai refrensi dalam
pembuatan tugas tentang konsep dasar restrain dalam keperawatan
jiwa
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Restrain
Restraint (dalam psikiatrik) secara umum mengacu pada suatu
bentuk tindakan menggunakan tali untuk mengekang atau membatasi
gerakan ekstremitas individu yang berperilaku di luar kendali yang
bertujuan memberikan keamanan fisik dan psikologis individu, (Stuart,
2001).
Tindakan restrain menurut College of Nurses of Ontario (CNO,
2009) menggunakan perangkat yaitu tindakan fisik, lingkungan atau kimia
yang merupakan cara untuk mengontrol perilaku atau aktivitas fisik
seseorang. Pengekangan fisik berupa meja, kursi dan tempat tidur yang
tidak bisa dibuka oleh klien. Pembatasan lingkungan adalah
mengendalikan gerakan atau mobilitas klien. Restrain kimia adalah
pembatasan perilaku atau gerakan tertentu yang dilakukan dengan cara
pemberian obat psikoaktif. Perangkat tindakan restrain ini berbeda dengan
penelitian yang dilakukan oleh (Levine & Cartner dalam Wai Tong, 2005)
di Rumah Sakit Jiwa Hongkong menemukan tindakan restrain melibatkan
perangkat yang dirancang untuk membatasi gerakan tubuh pasien, seperti
pemegang tungkai, keselamatan rompi, dan perban. Penggunaannya yang
merupakan intervensi keperawatan disarankan untuk mencegah cedera dan
mengurangi agitasi dan kekerasan, tetapi dapat memiliki merugikan efek
fisik dan psikososial pada kedua pasien dan perawat.
Secara umum, dalam psikiatrik restrain merupakan suatu bentuk
tindakan menggunakan tali untuk mengekang atau membatasi gerakan
ekstremitas individu yang berperilaku diluar kendali yang bertujuan untuk
memberikan keamanan fisik dan psikologis individu (Kandar dkk, 2013).
Saat melakukan restrain prosedur setiap rumah sakit harus memiliki
standarisai untuk kode etik dan legal. Restrain merupakan penerapan
langsung kekuatan fisik pada individu tanpa seijin dari individu tersebut
yang bertujuan untuk membatasi gerak dari pasien (Sulistiyowati, 2014).
Restrain biasanya digunakan untuk melindungi pasien dan orang lain saat
pengobatan dan terapi verbal tidak mencukupi serta mengendalikan pasien
berpotensi kekerasan.
Perawat perlu mengkaji apakah restraint di perlukan atau tidak.
Restrein seringkali dapat dihindari dengan persiapan pasien yang adekuat,
pengawasan orang tua atau staf terhadap pasien, dan proteksi adekuat
terhadap sisi yang rentan seperti alat infus. Perawat perlu
mempertimbangkan perkembangan pasien, status mental, ancaman
potensial pada diri sendiri atau orang lain dan keamannnya.
a. Indikasi Penggunaan Restrain
Penggunaan tekhnik pengendalian fisik (restrain) dapat siterapkan
dalam keadaan: Pasien yang membutuhkan diagnosa atau perawatan
dan tidak bisa menjadi kooperatif karena suatu keterbatasan misalnya :
pasien dibawah umur, pasien agresif atau aktif dan pasien yang
memiliki retardasi mental. Ketika keamanan pasien atau orang lain
yang terlibat dalam perawatan dapatterancam tanpa pengendalian fisik
(restraint). Sebagai bagian dari suatu perawatan ketika pasien dalam
pengaruh obat sedasi.
b. Kontraindikasi Pengunaan Restrain
Penggunaan teknik pengendalian fisik (restraint) tidak boleh
diterapkan dalam keadaan yaitu: Tidak bisa mendapatkan izin tertulis
dari orang tua pasien untuk melakspasienan prosedur kegiatan. Pasien
pasien kooperatif. Pasien pasien memiliki komplikasi kondisi fisik atau
mental Penggunaan teknik pengendalian fisik (restraint) pada pasien
dalam penatalaksanaanya harus memenuhi syarat-syarat yaitu sebagai
berikut: Penjelasan kepada pasien pasien mengapa pengendalian fisik
(restraint) dibutuhkandalam perawatan, dengan harapan memberikan
kesempatan kepada pasien untuk memahami bahwa perawatan yang
akan diberikan sesuai prosedur dan aman badi pasien maupun keluarga
yang bersangkutan. Memiliki izin verbal maupun izin tertulis dari
psikiater yang menjelaskan jenis teknik  pengendalian fisik yang boleh
digunakan kepada pasien pasien dan pentingnya teknik  pengendalian
fisik yang dapat digunakan terhadap pasien berdasarkan indikasi-
indikasi yang muncul. Adanya dokumen yang menjelaskan kepada
orang tua pasien pasien maupun pihak keluarga pasien yang
bersangkutan mengapa pengendalian fisik (restraint) dibutuhkan dalam
perawatan. Adanya penilaian berdasarkan pedoman rumah sakit dari
pasien yang pernahmenjalankan pengendalian fisik (restraint) untuk
memastikan bahwa pengendalian fisik tersebut telah diaplikasikan
secara benar, serta memastikan integritas kulit dan status
neurovaskular pasien tetap dalam keadaan baik.
Perlu digunakan teknik pengendalian fisik (restraint) adalah karena
tenaga kesehatan harus mengutamakan kebutuhan kesehatan pasien, teknik
pengendalian tersebut dapat dilakspasienan dengan cara menjaga
keamanan pasien ataupun keluarga yang bersangkutan, mengontrol tingkat
agitasi dan agresi pasien, mengontrol perilaku pasien, serta menyediakan
dukungan fisik bagi pasien.
B. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Penggunaan Restrain
Pada kondisi gawat darurat, restrain/seklusi dapat dilakukan tanpa
order dokter. Sesegera mungkin (< 1jam) setelah melakukan restrain,
perawat melaporkan pada dokter untuk mendapatkan legalitas tindakan
baik secara verbal maupun tertulis.
Intervensi restrain dibatasi waktu yaitu: 4 jam untuk klien berusia
>18 tahun, 2 jam untuk usia 9-17 tahun, dan 1 jam untuk umur <9 tahun.
Evaluasi dilakukan 4 jam untuk klien >18tahun, 2 jam untuk pasien-pasien
dan usia 9-17 tahun. Waktu minimal reevaluasi oleh dokter adalah 8 jam
untuk usia >18 tahun dan 4 jam untuk usia <17 tahun. Selama restrain
klien di observasi tiap 10-15 menit, dengan fokus observasi: Tanda-tanda
cedera yang berhubungan dengan restrain : Nutrisi dan hidrasi sirkulasi
dan rentang gerak eksstremitas tanda penting kebersihan  dan eliminasi
status fisik dan psikologis kesiapan klien untuk dibebaskan dari restrain.
Alat restrain bukan tanpa resiko dan harus diperiksa dan di
dokumentasikan setiap 1-2 jam untuk memastikan bahwa alat tersebut
mencapai tujuan pemasangannya, bahwa alat tersebut dipasang dengan
benar dan bahwa alat tersebut tidak merusak sirkulasi, sensai, atau
integritas kulit.
Selekman dan Snyder (1997) merekomendasikan intervensi
keperawatan yang tepat untuk pasien yang direstrain adalah:
 Lepaskan dan pasang kembali restrain secara periodic.
 Lakukan tindakan untuk memberi rasa nyaman, gunakan pelukan
terapeutik bukan restrain mekanik.
 Lakukan latihan rentan gerak jika diperlukanTawarkan makanan,
minuman dan bantuan untuk eliminasi, beri pasien dot.
 Diskusikan kriteria pelepasan restrain .
 Berikan analgesik dan sedatif jika diinstruksikan atau di mintaHindari
kemarahan psikologik kepada pasien lain.
 Berikan distraksi (membaca buku) dan sentuhan pertahankan harga
diri pasien lakukan pengkajian keperawatan yang kontinu
dokumentasikan penggunaan restrain
Adapun langkah-langkah pelaksanaan pengekangan fisik (restrain)
pada klien gangguan jiwa, adalah sebagai berikut:
 Beri suasana yang menghargai dengan supervisi yang adekuat, karena
harga diri klien berkurang karena pengekangan.
 Siapkan jumlah staf yang cukup dengan alat pengekangan yang aman
dan nyaman.
 Tunjuk satu orang perawat sebagai ketua tim.
 Jelaskan tujuan, prosedur dan lamanya pada klien dan staf agar
dimengerti dan bukan hukuman.
 Jelaskan perilaku yang mengindikasikan pengelepasan pada klien dan
staf.
 Jangan mengikat pada pinggir tempat tidur, ikat dengan posisi
anatomis, ikatan tidak terjangkau oleh klien.
 Lakukan supervisi dengan tindakan terapeutik dan pemberian rasa
nyaman.
 Perawatan pada daerah pengikatan (Pantau kondisi kulit: warna,
temperatur, sensasi; Lakukan latihan gerak pada tungkai yang diikat
secara bergantian setiap 2 jam; Lakukan perubahan posisi tidur dan
periksa tanda-tanda vital setiap 2 jam)
 Bantu pemenuhan kebutuhan nutrisi, eliminaqsi, hidrasi dan
kebersihan diri.
 Libatkan dan latih klien untuk mengontrol perilaku sebelum ikatan
dibuka secara bertahap.
 Kurangi pengekangan secara bertahap, misalnya setelah ikatan dibuka
satu persatu secara bertahap, kemudian dilanjutkan dengan pembatasan
gerak kemudian kembali ke lingkungan semula.
 Dokumentasikan seluruh tindakan beserta respon klien
Sumber: Lilik Ma'rifatul Azizah (2011) Keperawatan Jiwa Aplikasi
Praktik Klinik. Yogyakarta: Graha Ilmu

C. Jenis-Jenis Restrain
Pengendalian fisik (physical restraint) dengan
menggunakan alat pengendalian fisik dengan menggunakan alat
merupakan bentuk pengendalian dengan menggunakan bantuan alat bantu
untuk menahan gerakan tubuh dan kepala pasien maupu nmenahan
gerakan rahang dan mulut pasien.
a) Alat bantu untuk menahan gerakan tubuh dan kepala pasien
1. Sheet and ties
Penggunaan selimut untuk membungkus tubuh pasien supaya tidak
bergerak dengan cara melingkarkan selimut ke seluruh tubuh
pasien dan menahan selimutnya dengan perekat atau mengikatnya
dengan tali.
2. Restraint Jaket
Restraint jaket digunakan pada pasien dengan tali diikat dibelakang
tempat tidur sehingga pasien tidak dapat membukanya. Pita
panjang diikatkan ke bagian bawah tempat tidur, menjaga pasien
tetap di dalam tempat tidur. Restrain jaket berguna sebagai alat
mempertahankan pasien pada posisi horizontal yang diinginkan.
3. Papoose board  
Papoose board merupakan alat yang biasa digunakan untuk
menahan gerak pasien saat melakukan perawatan gigi. Cara
penggunaannya adalah pasien ditidurkan dalam  posisi terlentang
di atas papan datar dan bagian atas tubuh, tengah tubuh dan kaki
pasien diikat dengan menggunakan tali kain yang besar.
Pengendalian dengan menggunakan papoose board dapat
diaplikasikan dengan cepat untuk mencegah pasien berontak dan
menolak perawatan. Tujuan utama dari penggunaan alat ini adalah
untuk menjaga supaya pasien pasien tidak terluka saat
mendapatkan perawatan.
4. Restraint Mumi atau Bedong
Selimut atau kain dibentangkan diatas tempat tidur dengan salah
satu ujungnya dilipat ke tengah. Pasien diletakkan di atas selimut
tersebut dengan bahu berada di lipatan dan kaki ke arah sudut yang
berlawanan. Lengan kanan pasien lurus kebawah rapat dengan
tubuh, sisi kanan selimut ditarik ke tengah melintasi bahu kanan
pasien dan dada diselipkan dibawah sisi tubuh bagian kiri. Lengan
kiri pasien diletakkan lurus rapat dengan tubuh pasien, dan sisi kiri
selimut dikencangkan melintang bahu dan dada dikunci dibawah
tubuh pasien bagian kanan. Sudut bagian bawah dilipat dan ditarik
kearah tubuh dan diselipkan atau dikencangkan dengan
pinpengaman.
5. Restraint Lengan dan Kaki
Restraint pada lengan dan kaki kadang-kadang digunakan untuk
mengimobilisasi satu atau lebih ekstremitas guna pengobatan atau
prosedur, atau untuk memfasilitasi penyembuhan. Beberapa alat
restraint yang da di pasaran atau yang tersedia, termasuk restraint
pergelangan tangan atau kaki sekali pakai, atau dapat dibuat dari
pita kasa, kain muslin, atau tali stockinette tipis. Jika restraint jenis
ini di gunakan, ukurannya harus sesuai dengan tubuh pasien. Harus
dilapisi bantalan untuk mencegah tekanan yang tidak semestinya,
konstriksi, atau cidera jaringan. Pengamatan ekstremitas harus
sering dilakukan untuk memeriksa adanya tanda-tanda iritasi dan
atau gangguan sirkulasi. Ujung restraint tidak boleh diikat ke
penghalang tempat tidur, karena jika penghalang tersebut
diturunkan akan mengganggu ekstremitas yang sering disertai
sentakan tiba-tiba yang dapat menciderai pasien.
6. Restraint siku
Adalah tindakan mencegah pasien menekuk siku atau meraih
kepala atau wajah. Kadang-kadang penting dilakukan pada pasien
setelah bedah bibir atau agar pasien tidak menggaruk pada kulit
yang terganggu. Bentuk restraint siku paling banyak digunakan,
terdiri dari seutas kain muslin yang cukup panjang untuk mengikat
tepat dari bawah aksila sampai ke pergelangan tangan dengan
sejumlah kantong vertikal tempat dimasukkannya depresor lidah.
Restraint di lingkarkan di seputar lengan dan direkatkan dengan
plester atau pin.
7. Pedi-wrap 
Pedi-wrap merupakan sejenis perban kain yang dilingkarkan pada
leher sampai pergelangan kaki pasien pasien untuk menstabilkan
tubuh pasien serta menahan gerakan tubuh pasien. Pedi-wrap
mempunyai berbagai variasi ukuran sesuai dengan kebutuhan. Alat
bantu untuk menahan gerakan mulut dan rahang pasien
8. Molt Mouth Prop
Molt mouth prop merupakan salah satu alat yang paling penting
dalam melakukan perawatan gigi. Alat ini biasanya digunakan
dalam anestesi umum untuk mencegah supaya mulut tidak tertutup
saat perawatan dilakukan. Alat ini juga sangat cocok dalam
penanganan pasien yang tidak bisa membuka mulut dalam jangka
waktu lama karena suatu keterbatasan. Penggunaan molt
mouth prop  harus memperhatikan posisi  rahang pasien saat pasien
membuka mulutnya, supaya tidak terjadi dislokasi
temporomandibular. Sebagai tambahan, dokter gigi harus
memindahkan molt mouth prop dari mulut pasien setiap sepuluh
hingga lima belas menit agar rahang dan mulut pasien
dapat beristirahat.
9. Molt Mouth Gags
Molt mouth gags juga merupakan salah satu alat bantu yang dapat
digunakan untuk menahan mulut pasien.
10. Tongue Blades
Tongue blades merupakan alat bantu yang digunakan untuk
menahan lidah pasien supaya tidak mengganggu proses perawatan
b) Pengendalian fisik (physical restraint)  tanpa bantuan alat
Pengendalian fisik tanpa bantuan alat merupakan bentuk pengendalian
fisik tanpa menggunakan bantuan alat, pengendalian bentuk ini
merupakan bentuk pengendalian yang menggunakan bantuan perawat
maupun bantuan orang tua atau pihak keluarga pasien. Pengendalian
fisik dengan bantuan tenaga kesehatan pengendalian fisik dengan
menggunakan bantuan tenaga kesehatan merupakan
bentuk  pengendalian fisik dimana diperlukan tenaga kesehatan,
misalnya perawat untuk menahan gerakan pasien pasien dengan cara
memegang kepala, lengan, tangan ataupun kaki pasien pasien.
Pengendalian fisik dengan bantuan orang tua pasien pengendalian fisik
dengan bantuan orang tua sebenarnya sama dengan pengendalian fisik
dengan bantuan tim medis (tenaga kesehatan). Hanya saja peran
perawat digantikan oleh orang tua pasien pasien. Cara pengendalian
dengan menggunakan bantuan orang tua lebih disukai pasien apabila
dibandingkan dengan menggunakan bantuan tim medis, sebab pasien
lebih merasa aman apabila dekat dengan orang tuanya.

D. Resiko Penggunaan Restraint pada Pasien


Terdapat beberapa laporan ilmiah mengenai kematian pasien
pasien yang disebabkan oleh penggunaan teknik pengendalian fisik
(restraint). Hubungan kematian pasien dengan gangguan psikologi yang
disebabkan penggunaan restraint adalah dimana ketika pengendalian fisik
(restrain) dilakukan, pasien pasien mengalami reaksi psikologis yang tidak
normal, yaitu seperti menigkatnya suhu tubuh, cardiac arrhythmia yang
kemudian dapat menyebabkan timbulnya positional asphyxia,
excited delirium, acute pulmonary edema, atau pneumonitis yang dapat
menyebabkan kematian pada pasien.
E. Resiko Penggunaan Restraint pada Pasien
Terdapat beberapa laporan ilmiah mengenai kematian pasien
pasien yang disebabkan oleh penggunaan teknik pengendalian fisik
(restraint). Hubungan kematian pasien dengan gangguan psikologi yang
disebabkan penggunaan restraint adalah dimana ketika pengendalian fisik
(restrain) dilakukan, pasien pasien mengalami reaksi psikologis yang tidak
normal, yaitu seperti menigkatnya suhu tubuh, cardiac arrhythmia yang
kemudian dapat menyebabkan timbulnya positional asphyxia,
excited delirium, acute pulmonary edema, atau pneumonitis yang dapat
menyebabkan kematian pada pasien.
F. Peranan Pemerintah Dalam Menangani ODGJ
1. Mencapai masyarakat Indonesia yang bebas dari tindakan
pemasungan terhadap orang dengan gangguan jiwa, melalui:
 Terselenggaranya perlindungan HAM bagi orang dengan gangguan
jiwa. Tercapainya.
 Peningkatan pengetahuan dari seluruh pemangku kepentingan di
bidang kesehatan jiwa.
 Terselenggaranya pelayanan kesehatan jiwa yang bekualitas di
setiap tingkat layananmasyarakat.
 Tersedianya skema pembiayaan yang memadai untuk semua
bentuk upaya kesehatan jiwa di tingkat pusat maupun daerah.
 Tercapainya kerjasama dan koordinasi lintas sektor di bidang
upaya kesehatan jiwa.
 Terselenggaranya sistem monitoring dan evaluasi di bidang upaya
kesehatan jiwa
2. Penangulangan Pemasungan
 menyediakan fasilitas rehabilitasi ODGJ serta
 menyediakan anggaran dalam penanganan ODGJ
 menyediakan obat-obatan yang diperlukan dalam pencegahan
kekambuhan bagi ODGJ.
 meningkatkan upaya promotif bagi masyarakat dalam hal
kesehatan jiwa agar masyarakat mengetahui masalah kesehatan
jiwa, dilakukannya berbagai upaya untuk mencegah dan
menangani masalah kesehatan jiwa, menghargai dan melindungi
ODGJ, serta memberdayakan ODGJ.
BAB III

ROLE PLAY

Kasus : Seorang Pasien begitu impulsiv memukul orang,sehingga keluarga


membawanya ke RSJ, sesampainya di RSJ pasien mengamuk membabi buta dan
hendak memukul orang – orang di sekitarnya karena merasa tidak gila.

Pasien : Kenapa aku dibawa kesini mak? (Sembari membaca tulisan


bertuliskan RSJ) Rumah Sakit Jiwa , Aku kan nggak gila mak?
Emak : Sudah nurut saja, biar kamu itu sembuh.
Pasien : Mamak pikir aku gila ya mak?
Emak : Mak cuma pengen kamu ketemu dokter atau perawat sebentar

Sesampainya di UGD, seorang perawat yang melihat kedatangan mereka langsung


memepersilahkan mereka duduk

Tahap pre interaksi

 Perawat 1: Assalamualaikum, Mari Silahkan duduk


 Emak :(Sembari memegangi tangan pasien keluarga menjelaskan maksud
kedatangannya) Begini bu, anak saya ini sejak 1bulan yang lalu
mengalami putus cinta dan sejak itu juga, anak saya jadi sering ngamuk
dan memukul orang sampai meresahkan warga, jadi pak RT menyarankan
saya untuk membawanya kesini, kadang-kadang dia suka mukul-mukul
kepala sendiri
 Perawat 1 : Perkenalkan, nama saya perawat fitri Nama mas siapa?
(Mengulurkan tangan dengan memberi senyum)
 Pasien : Andi(menjawab sinis)
 Perawat 1: Ada apa di rumah?? Apa yang membuat bang Andi marah dan
sering memukul orang?
 Pasien : Lha aku kan cuma membela diri, (menoleh pada keluarga) sudah
aku mau pulang mak, aku gak mau disini. (Berusaha berlalu)
 Emak : Heh, kamu mau kemana?
 Pasien : Pulang!!!! (dengan nada tinggi dan melotot, sambil memukul
ibunya) Melihat itu perawat pun mulai menyiapkan alat restrain
 Perawat 1: sus, tolong siapkan alat-alat restain. Panggil perawat lainnya
juga.

Tahap Orientasi

 Perawat 1: Mas, Ibu (pada keluarga) saya akan melakukan pengamanan


kepada mas Andi, dengan cara menggunakan baju ini, tangan mas sumanto
akan terikat kebelakang agar mas sumanto tidak memukul orang lagi.
Ketika nanti mas sudah tidak memukul orang lagi maka akan saya lepas.
Cara ini tidak menyakitkan dan aman.
 Pasien : Enggak!!!!!! Awas saya hajar kalian semua!!!!!
Perawatpun mulai memegangi pasien, agar pasien tidak kabur. Sesegera perawat
lain beserta satpam datang untuk memeberikan bantuan.

 Perawat 2 : Untuk ibu mari ikut saya ke ruang perawat


 Perawat 2 dan keluarga berjalan menuju ruang perawat
 Perawat 2 : Ibu, perawat 1 tadi sudah menjelaskan tindakan yang akan
kami lakukan untuk mengamankan mas andi, bila ibu setuju tindakan itu
dilakukan silahkan ibu tanda tangan di lembar Inform Consent ini
 Emak : Iya saya setuju saja yang penting anak saya sembuh
 Perawat 2 : Baik ibu, kalau begitu kami akan melakukan tindakan restrain
untuk anak ibu
Disisi lain pasien meraung-raung dengan agresif.
 Pasien : “Aku nggak gila, kalian semua yang gila”, (terus meraung)
 Satpam : boleh saya ikut bantu sus?
 Perawat 1 : iya silahkan
Perawat lain beserta satpam mulai melakukan tahap restain kepada pasien
Tahap Kerja

 Memulai kegiatan dengan cara yang baik


 Memilih alat restrain yang tepat
 Memasang restrain pada klien dg cepat dan tepat
 Pegang pundak pasien dan tangan yang agresif, berjalan dibelakang pasien
dan tetap waspada
 Buka baju dalam posisi "menyerbu"
 Pakaikan baju dengan cepat
 Handle tangan pasien ke belakang, seperti orang diborgol.
 Mengamankan restrain dari jangkauan pasien
 Menyediakan keamanan dan kenyamanan sesuai kebutuhan
 Merubah posisi setiap 60 nenit
 Melakukan pemeriksaan tanda vital tiap 60 menit
 Memeriksa bagian tubuh yang direstrain
 Kolaborasi dengan dokter dengan memberikan obat anti cemas
 Setelelah pasien dapat dikendalikan, restain dilepas
 Evaluasi : catat TTV, selalu mencatat alasan restain, Memperhatikan
respon pasien terhadap terapi saat dalam restain.

Tahap Terminasi

 Perawat 1: Mas andi, ibu. ini merupakan metode restrain, ini metode kami
sebagai tenaga kesehatan untuk menenangkan mas sumanto agar mas
sumanto tidak memukul orang lagi. Jadi mas andi terutama ibu tidak perlu
khawatir.
 Emak : oh iya ya,
 Perawat 2: Nanti restrain ini akan dilepas, apabila mas andi tidak memukul
orang lagi. (Berbicara dengan andi)
 Perawat 2: Bu, sejenak saya akan mengajak ibu untuk melengkapi data –
data mas andi yang belum tuntas [Link] bu mari saya antar,
 Perawat 3: assalamualaikum, mari bu silakan duduk.
 Emak : iya...
 Perawat 3 : tadi saya liat pada anamnesenya dikatakan kalo mas andi ini
sering ngamuk sendiri sampei meresakan warga, setelah mengamuk,
apakah ms sumanto merasa bersalah/ merendahkan diri?
 Emak : iya sus, anak saya itu kalau habis mengamuk,suka merendahkan
dirinya sendiri. Kadang dia bilang gini “aku tidak berguna, aku gak bisa
bahagiain pacarku dll”. Ya pokoknya dia suka ngomong2 seperti itu
sendiri sus.
 Perawat 3: selain itu apakah dia suka berhalusinasi?
 Emak : oh tidak sus, dia hanya ngamuk2, menyendiri, merasa dirinya tidak
berguna.
 Perawat 3: hmmmm, iya uda bu. Kami sarankan anak ibu berada disini
dulu untuk menjalani perawatan sampai anak ibu sembuh. Gimana bu?
Apakah Ibu bersedia?
 Emak : terimakasih sus, sudah membantu menangani anak saya.
 Perwat 2: Iya bu, karena itu memang tugas kami, terima kasih juga atas
kepercayaan ibu pada kami.

Selanjutnya perawat mulai melakukan tindakan dokumentasi mencacat tindakan


yang telah dilakukan pasien dan mencatat respon pasien

1 bulan kemudian.. andi mulai bisa mengendalikan dirinya sendiri, dia sudah bisa
berinteraksi normal dengan orang lain dan juga sudah tidak mengamuk seperti
dulu lagi. Wajahnya sangat cerah, terlihat dari wajahnya yang sudah terlepas dari
keterpurukan.
 Perawat 2 : bagaimana andi...apakah anda sudah merasa lebih baik..?
(sambil tersenyum)
 Pasien : ya sus, sekarang saya sudah semangat lagi.
 Perawat 2 : syukurlah, kalau begitu. Kemungkinan besar mas sumanto bisa
pulang..
 Pasien : alhamdulillah,,,,,
 Perawat 2 : ya sudah...saya tinggal dulu ya..saya akan koordinasikan sama
petugas kesehatan lainnya. Anda silahkan tunggu

Kemudian Perawat 2 koordinasi dengan petugas kesehatan lainnya. Akhirnya


semua memutuskan untuk memulangkan andi karena keadaannya sudah normal.
Salah satu perawat menelpon keluarga pasien,

 Perawat 1 : halo, assalamu’alaikum...


 Bapak : iya wa’alaikumsalam.. ini siapa?
 Perawat 2 : kami dari RSJ lawang pak...kami memberitahukan
bahwasannya anak bapak andi sekarang sudah sembuh..keluarga anda bisa
membawanya pulang.
 Bapak : alhamdulillah...beneran bu!
 Perawat 2 : iya bapak...selamat ya...
 Bapak : terimakasih bu atas pemberitahuannya...assalamu’alaikum
 Perawat : wa’alaikumsalam

Dengan girang bapak berteriak menuju emak.

 Bapak : emak...!!!!!!
 Emak : ada apa pak teriak teriak...
 Bapak : anak kita buk...! andi sudah sembuh...
 Emak : alhamdulillah..ayo pak...kita jemput anak kita sekarang...
 Bapak dan emak akhirnya bergegas menuju rumah sakit jiwa. Kemudian
menuju kamar andi.
 Emak : andi anakku....ya allah nak....alhamdulillah kamu sudah sembuh
sekarang..
 Pasien : iya buk..bapak....(memeluk bapaknya)
 Bapak : alhamdulillah andi...kamu akhirnya sembuh juga ...

Akhirnya andi dibawa pulang oleh keluarganya setelah berpamitan dengan


perawat perawat.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Restraint (dalam psikiatrik) secara umum mengacu pada suatu
bentuk tindakan menggunakan tali untuk mengekang atau membatasi
gerakan ekstremitas individu yang berperilaku di luar kendali yang
bertujuan memberikan keamanan fisik dan psikologis individu.
Perawat perlu mengkaji apakah restraint di perlukan atau tidak.
Restrein seringkali dapat dihindari dengan persiapan pasien yang adekuat,
pengawasan orang tua atau staf terhadap pasien, dan proteksi adekuat
terhadap sisi yang rentan seperti alat infus. Perawat perlu
mempertimbangkan perkembangan pasien, status mental, ancaman
potensial pada diri sendiri atau orang lain dan keamannnya.
Pengendalian fisik (physical restraint) dengan menggunakan alat
pengendalian fisik dengan menggunakan alat merupakan bentuk
pengendalian dengan menggunakan bantuan alat bantu untuk menahan
gerakan tubuh dan kepala pasien maupu nmenahan gerakan rahang dan
mulut pasien. Alat bantu untuk menahan gerakan tubuh dan kepala pasien
meliputi Sheet and ties, Restraint Jaket, Papoose board  , Restraint Mumi
atau Bedong, Restraint Lengan dan Kaki, Restraint siku, Pedi-wrap , Molt
Mouth Prop, Molt Mouth Gags, Tongue Blades serta pengendalian fisik
(physical restraint)  tanpa bantuan alat.
B. Saran
Dari makalah yang berjudul restrain diharapkan pembaca dapat
memahami lebih dalam tentang restrain sehingga dapat menerapkan
lansung saat melakukan praktik keperawatan jiwa serta mengetahui fungsi
dari restrain sehingga dapat digunakan tepat sasaran.
DAFTAR PUSTAKA
Kaplan, H.I., Sadock, B.J., dan Grebb, J.A. (2000). Synopsis of Psychiatry. New
York : Williams and Wilkins
Stuart, G.W. dan Laraia, M.T. (2001). Principles and Practice of Psychiatric
Nursing. (Ed ke-7). St. Louis: Mosby, Inc.
Gail Wiscarz Stuart dan Sandra J. Sundeen (1998). Keperawatan Jiwa : buku
saku. Edisi 3. Jakarta : EGC
[Link]
diakses pada tanggal 1 september 2018 pukul 10.00 wita

Anda mungkin juga menyukai