Community Development
Community development atau pengembangan komunitas, khususnya komunitas lokal, merupakan suatu
konsep yang menjelaskan kepada tumbuhnya keberdayaan masyarakat oleh dan dari masyarakat itu
sendiri. Kemunculan konsep community development ini umumnya terkait atau dikaitkan oleh suatu
keadaan misalnya Proyek Pembangunan yang ada di daerah. Dengan demikian, kemunculan community
development lebih disemangati oleh paradigma pembangunan yang bersifat partisipatoris.
Pembangunan yang melibatkan peran warga masyarakat setempat. Keterlibatan masyarakat dalam
konteks pembangunan, didasarkan atas dua pengertian. Pertama, hakekat pembangunan pada dasarnya
bertujuan memperbaiki kualitas kehidupan. Ini artinya, pembangunan itu sendiri adalah untuk
kepentingan masyarakat. Sedang dalam arti khusus, proyek pembangunan yang dalam terminology tidak
untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat sekitar, misalnya pembangunan yang berskala nasional, maka
implikasi atas pembangunan dimaksud harus memberi nilai tambah bagi masyarakat sekitar. Dengan
kata lain, di mana ada pembangunan, di sana masyarakat sekitar juga harus memperoleh perbaikan
kehidupan seperti kesejahteraan hidup. Kedua, dengan diperolehnya kesejahteraan hidup maka
masyarakat diharapkan semakin berdaya. Dari sini lalu istilah community development, tidak terlepas
dari empowerment (keberdayaan).
Pengembangan masyarakat (Community Development) adalah kegiatan pengembangan atau
pembangunan masyarakat (komunitas) yang dilakukan secara sistematis, terencana dan diarahkan untuk
memperbesar akses masyarakat guna mencapai kondisi sosial, ekonomi, dan kualitas kehidupan yang
lebih baik apabila dibandingkan dengan kegiatan pengembangan sebelumnya (Budimanta, 2002).
Hakekatnya Community Development merupakan proses adaptasi sosial budaya yang dilakukan oleh
industri, pemerintah pusat dan daerah terhadap kehidupan masyarakat (Rudito, 2003). Tujuan dari
program Community Development sendiri adalah pemberdayaan masyarakat (Empowerment),
bagaimana anggota masyarakat dapat mengaktualisasikan diri mereka dalam pengelolaan lingkungan
yang ada di sekitarnya dan memenuhi kebutuhannya secara mandiri tanpa ketergantungan dengan
pihak-pihak perusahaan maupun pemerintah. Kegiatan Community Development dalam pelaksanannya
dikaitkan dengan kebijakan publik, tindakan pemerintah, kegiatan ekonomi, pengembangan situasi dan
bentuk-bentuk lain tidak hanya mempengaruhi orang-orang (masyarakat), tetapi juga dipengaruhi
masyarakat. Terutama dikaitkan dengan orang-orang sebagai stimulator proses tindakan sosial, sehingga
terjadi suatu perubahan dalam pertumbuhan kehidupan masyarakat dan ketergantungan diantara
keduanya, perusahaan dan komunitas sekitarnya.
Fokus dari kegiatan Community Development itu sendiri melibatkan unsur-unsur humanistik dalam
perubahan tersebut dan mengolah bagaimana jumlah perubahan dapat memberikan dampak dari
kegiatan Community Development yang dilaksanakan perusahaan secara tidak langsung berpengaruh
terhadap program lokal masyarakat, pengaruh tersebut antara lain :
Merangsang inisiatif lokal yang melibatkan orang-orang dalam proses perubahan sosial dan ekonomi
Membangun saluran komunikasi yang mempromosikan solidaritas
Meningkatkan aspek sosial, ekomnomi dan budaya dari warga komunitas
Pengaruh yang terjadi akibat kegiatan Community Development yang dilakukan perusahaan tidak hanya
berdampak kepada masyarakat atau lingkungan sekitar saja, namun bagi pemerintah sendiri kegiatan
Community Development dapat memberikan suatu kontribusi dan masukan kepada pemerintah sebagai
mitra kerja dengan pimpinan komunikasi dan warga untuk memecahkan masalah sosial (seperti
kesenjangan sosial ataupun konflik etnik yang dialami bangsa Indonesia saat ini). Kini program
Community Development menjadi suatu program yang sudah tidak asing lagi bagi kebanyakan
perusahaan-perusahaan, terutama perusahaan besar pemerintahpun sudah mensosialisasikannya
bahkan kini Community Development sudah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata oleh perusahaan-
perusahaan tersebut, karena Community Development kini sudah menjadi suatu kewajiban bagi
perusahaan untuk melaksanakannya. Secara umum Community Development adalah kegiatan
pengembangan masyarakat dengna dilakukan secara sistematis, terencana, dan diarahkan untuk
memperbesar akses masyarakat guna mencapai kondisi sosial, ekonomi, dan kualitas kehidupan yang
lebih baik apabila dibandingkan dengan kegiatan pembangunan sebelumnya (Budimanta dan Rudito,
2004:29).
Definisi Community Development diatas dapat disimpulkan bahwa sebuah perusahaan harus memiliki
visi, misi, sasaran, strategi, tahap implementasi dan koordinasi sebagai prioritas dari pelaksanaan
kegiatan agar program tersebut dapat berjalan dengan baik sesuai tujuannya. Program Community
Development merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dilaksanakan oleh perusahaan, dengan
tiga alasan penting yaitu :
Sebagai izin lokal dalam pengembangan hubungan dengan komuniti lokal
Untuk mengatur dan menciptakan strategi kehidupan melalui program Community Development
Sebagai cara untuk membantu pemenuhan sasaran usaha (perusahaan harus dapat mengidentifikasi
keutungan usaha potensial dari Community Development perusahaan) (Budimanta dan Rudita, 2004:30-
33).
Community development yang dimaknai sebagai pengembangan masyarakat terdiri dari dua konsep,
yaitu ‘pengembangan’ dan ‘masyarakat’. Secara singkat, ‘pengembangan atau pembangunan’
merupakan usaha bersama dan terencana untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia pada
umumnya. Bidang-bidang pembangunan biasanya meliputi berbagai sektor kehidupan, yaitu sektor
ekonomi, sektor pendidikan, kesehatan dan sosial budaya. Sedangkan pengertian ‘masyarakat’ menurut
pandangan Mayo (1998: 162) dapat diartikan dalam dua konsep, yaitu Masyarakat sebagai sebuah
‘tempat bersama’, yakni sebuah wilayah geografi yang sama. Sebagai contoh, sebuah rukun tetangga,
perumahan di daerah perkotaan atau sebuah kampung di wilayah pedesaan. Masyarakat sebagai
‘kepentingan bersama’, yakni kesamaan kepentingan berdasarkan kebudayaan dan identitas. Sebagai
contoh, kepentingan bersama pada masyarakat etnis minoritas atau kepentingan bersama berdasarkan
identifikasi kebutuhan tertentu seperti halnya pada kasus para orang tua yang memiliki anak dengan
kebutuhan khusus (anak cacat phisik) atau bekas para pengguna pelayanan kesehatan mental.
Pemberdayaan masyarakat yang berbasis masyarakat seringkali diartikan dengan pelayanan sosial gratis
dan swadaya yang biasanya muncul sebagai respons terhadap melebarnya kesenjangan antara
menurunnya jumlah pemberi pelayanan dengan meningkatnya jumlah orang yang membutuhkan
pelayanan. Pemberdayaan masyarakat juga diartikan sebagai pelayanan yang menggunakan
pendekatan-pendekatan yang lebih bernuansa pemberdayaan (empowerment) yang memperhatikan
keragaman pengguna dan pemberi pelayanan. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat dapat
diartikan sebagai metoda yang memungkinkan orang dapat meningkatkan kualitas hidupnya serta
mampu memperbesar pengaruh terhadap proses-proses yang mempengaruhi kehidupannya (AMA,
1993: 71).
Pemberdayaan masyarakat memiliki fokus terhadap upaya menolong anggota masyarakat yang memiliki
kesamaan minat untuk bekerja sama, mengidentifikasi kebutuhan bersama dan kemudian melakukan
kegiatan bersama untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pemberdayaan masyarakat seringkali
diimplementasikan dalam bentuk (a) proyek-proyek pembangunan yang memungkinkan anggota
masyarakat memperoleh dukungan dalam memenuhi kebutuhannya; atau melalui (b) kampanye dan
aksi sosial yang memungkinkan kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh pihak-pihak lain
yang bertanggungjawab (Payne, 1995: 165). Melengkapi definisi di atas, Dunham seorang pakar
community development (dalam Suharto, 1997: 99) merumuskan community development adalah
usaha-usaha yang terorganisasi yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat, dan
memberdayakan masyarakat untuk mampu bersatu dan mengarahkan diri sendiri. Pembangunan
masyarakat bekerja terutama melalui peningkatan dari organisasi-organisasi swadaya dan usaha-usaha
bersama dari individu-individu di dalam masyarakat, akan tetapi biasanya dengan bantuan teknis baik
dari pemerintah maupun organisasi-organisasi sukarela.
Proses Community Development
Community Development sebagai proses tingkat perpindahan dari suatu keadaan menjadi lebih baik.
Proses ini melibatkan perubahan kearah kemajuan dengan kriteria yang spesifik. Pendekatan secara
ilmiah melalui pencapaian sasaran dan tindakan yang jelas dari pimpinan dalam interaksi sosial.
Perubahan keadaan dimana satu atau dua orang atau beberapa orang dari golongan atas atau tanpa
komunitas lokal membuat suatu keputusan kekeadaaan dimana orang itu sendiri yang membuat
keputusan berkaitan dengan permasalahan umum; dari keadaan yang dimana tidak adanya kerjasama
antara masyarakat, dari keadaan dimana hanya beberapa orang yang turut berparisipasi kekeadaan
dimana banyak orang yang turut berpartisipasi; dari keadaan dimana semua ahli dan tokoh masyarakat
sebagian besar dari lingkungan mereka sendiri dan lain sebagainya. Sebagai proses Development berarti
kemampuan membangun dan Development berarti kemampuan masyarakat lokal untuk bekerjasama
dengan tujuan untuk memenuhi kepentingan bersama di lingkungan sekitar (Durham, 1960:3). Lima
tahap proses Community Development:
Membina hubungan baik dengan masyarakat
Memahami masalah yang terjadi di masyarakat
Menyeleksi masalah
Melaksanakan solusi
Meningkatkan hubungan yang telah terjalin (Fear, 1984)
Fungsi Community development
Untuk membantu komunitas mencapai tujuan pengembangan para professional membuat beberap tipe
Community Development berdasarkan fungsinya, mereka membutuhkan penilaian tingkah laku,
dorongan partisipasi para masyarakat, fasilitas pembuatan keputusan, identifikasi sumber informasi,
pendidikan, mengajukan pilihan-pilihan, menganalisis informasi, mengembangkan pimpinan,
merumuskan rencana, usaha mengarahkan organisasi dan pelaksanaan bantuan mencari solusi. Bennet
(1973) mengembangkan kesimpulan klarifikasi yang didasarkan pada lima prinsip fungsi Community
Development:
1. Penasihat (Process Consultant)
Peran Community Development sebagai pemberi nasihat, yang difokuskan pada bagaimana
memecahkan masalah, membuat keputusan, mengorganisir, membatu memperoleh kedudukan yang
lebih baik, dan sebagai alat bantu daripada sebagai fakta akibat tindakan kelompok.
2. Penasehat secara tekhnis (technical consultant)
Difokuskan pada pemberian informasi, mencari tahu masalah dan perspektif tujuan hubungan
komunitas dalam program perubahan yang spesifik.
3. Penyokong program (program advocate)
Peran penyokong yaitu menganalisis dan memutuskan alternatif apa yang terbaik untuk masyarakat dan
merekomendasikan alternatif yang spesifik sebagai solusi yang terbaik untuk masalah mereka.
Pengorganisir (organizer)
Staf Community Development membantu masyarakat mengorganisisr tindakannya, fokus sebagai
pengorganisir yaitu mengajak individu bersama-sama dalam kelompok yang kepentingannya sama,
sehingga mereka mempunyai hak bersuara mengenai unsur masyarakat
Penyedia sumber informasi (Resource Provider)
Peran Community Development yaitu mengidentifikasikan masyarakat yang memerlukan bantuan dari
luar dan menentukan cara-cara untuk memberikan perlindungan bagi masyarakat.
Dewasa ini, kita sering mendengar keluhan dari masyarakat yang tinggal di sekitar proyek-proyek
pembangunan. Baik pembangunan yang didirikan oleh pemerintah maupun oleh pihak swasta. Keluhan
yang berujung kepada semakin menurunnya kualitas kehidupan penduduk maupun lingkungan oleh
dampak pembangunan itu sendiri. Keluhan seperti pencemaran, maupun oleh karena tidak adanya akses
bagi penduduk sekitar untuk terlibat dalam bekerja atau terhadap pekerjaan selama proses persiapan,
maupun setelah operasional. Munculnya berbagai demo penduduk sekitar, biasanya adalah akibat dari
persoalan-persoalan seperti itu. Itulah wajah dibalik pembangunan yang tidak dirancang dengan baik,
yang kurang memperdulikan keterlibatan masyarakat sekitar. Munculnya berbagai keluhan dan ekspresi
kekecewaan masyarakat demikian, menumbuhkan kesadaran baru bagi pihak-pihak yang terkait dengan
pembangunan (stakeholder) untuk memikirkan ulang bagaimana memberi ruang kehidupan yang lebih
baik bagi terutama masyarakat sekitar. Kesadaran pihak-pihak terkait untuk melakukan serangkaian
kegiatan yang diberi istilah community development, yang sering disingkat dengan comdev atau cd.
Pemberdayaan Komunitas
Konsep berdaya atau keberdayaan (powered) itu sendiri, dalam kehidupan social memiliki tiga dimensi
pemaknaan. Pertama, pemaknaan dari internal komunitas itu sendiri sebagai kelompok sasaran. Kedua,
pemaknaan dari pihak yang terlibat di dalam perencanaan pemberdayaan (empowerment), dan ketiga,
pemaknaan yang berasal dari suatu kesepakatan dari berbagai pihak yang terlibat atau melibatkan diri
ke dalamnya. Jadi sifat dan ukuran keberdayaan itu adalah relatif. Namun demikian, kata kunci dari apa
yang disebut pemberdayaan (empowerment) adalah terjadinya perubahan kualitas kehidupan
masyarakat ke arah yang lebih baik secara terencana dan berkelanjutan. Pemaknaan “berdaya” dari
internal komunitas merupakan pemaknaan yang bercorak kolektif dan terukur dalam kelaziman yang
bercorak social. Hal yang kurang lebih sama dengan konsep “welfare” (sejahtera) pada masing-masing
komunitas, akan menunjukkan perbedaan-perbedaan. Welfare yang berarti sejahtera atau cukup, tidak
semata-mata terukur oleh kemampuan rumahtangga mengkonsumsi sejumlah makanan dengan menu
gizi sesuai kebutuhan fisikalnya, tetapi juga perasaan nyaman dan terhormat dalam konteks social.
Dengan demikian, konsep berdaya secara langsung maupun tidak langsung terkait dalam lingkup
individu, rumahtangga, dan lingkungan sosial. Pemaknaan seperti itu menjelaskan bahwa tuntutan
hidup, aktivitas kerja, dan kepuasan hidup masyarakat dipengaruhi oleh pandangan-pandangan dan
cara-cara bagaimana masyarakat itu memberi nilai terhadap hakekat kerja dan hakekat hidup itu sendiri.
Jika kerja dimaknai sebagai kegiatan yang berakibat kepada diperolehnya pendapatan atau hasil sesuai
dengan tujuan yang hendak diperoleh, misalnya untuk memenuhi kebutuhan makan, maka ukuran
keberhasilan dan ukuran kepuasan dalam bekerja tidak akan bergeser jauh dari pemaknaan itu sendiri.
Pemaknaan kerja semacam ini tentu jauh dari konsep ideal dan menjadi alasan penurunan kualitas
hidup seirama dengan semakin menanjaknya usia. Itulah sebabnya, dalam pemberdayaan harus terjadi
pengubahan kebiasaan atau perilaku. Perubahan kebiasaan itu harus didasari oleh perubahan
paradigma, yakni bagaimana mengukur standar kualitas hidup yang relatif ideal. Mengubah perilaku
kendati untuk alasan memberdayakan kelompok masyarakat sasaran, tidak bisa serta merta mengubah
pendirian dan perilaku yang ukuran-ukurannya secara social budaya berbeda. Boleh jadi karena terlalu
bersemangatnya seorang peneliti atau pihak luar memperkenalkan pengetahuan-pengetahuan baru
sebagaimana yang tercantum dalam textbook yang dipelajari. Akan tetapi, jika pihak luar itu tanpa mau
memahami kebiasaan kelompok sasaran, bisa diramalkan tidak akan mendapat respons secara positif.
Karena itu doktrin yang diajarkan dalam studi-studi kemasyarakatan (antropologi) dalam kaitannya
dengan upaya pemberdayaan ialah: mempertanyakan kebiasaan dalam hal memandang dan bertindak,
apa makna dan fungsi dari kebiasaan dan pilihan tindakan, lalu dicoba dikaitkan dengan faktor-faktor
lain yang relevan.
Dari karena alasan itu, maka konsep berdaya dalam kerangka pemberdayaan, perlu dicarikan titik temu
(kesepakatan kultural) antara kelompok sasaran dengan peneliti atau penggagas pembangunan.
Kesepakatan kultural demikian merupakan suatu strategi bagaimana memperbaiki kualitas hidup
masyarakat sasaran tanpa meninggalkan kebudayaan mereka, sebagai mana pendapat DeLisi (1990: 4)
yang dikutip oleh Paul Bate (1994: 17): “Good strategy only equals success when we possess an
appropriate culture”. Pemberdayaan masyarakat berdasarkan pada kesepakatan cultural dapat
ditempuh dengan proses-proses, (meminjam dunia kedokteran) yaitu: prognosis, diagnosis, dan terapi.
Prognosis adalah suatu tahapan awal untuk dapat merasakan (berbagai keluhan), keinginan (idealisasi;
harapan), hambatan atau kendala, serta jalan keluar (solusi) yang dipilih dan dijalankan. Proses demikian
– dalam praktiknya – adalah suatu kegiatan penelitian awal yang tujuannya memahami secara baik: apa
yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan masyarakat sasaran sesuai dengan focus kajian dimaksud.
Informasi awal dari penelitian baik secara kuantitatif maupun kualitatif, ditindaklanjuti dengan
pengecekan kembali hasil analisis sementara. Benarkah demikian kejadian atau faktanya? Mengapa
faktanya menunjukkan kondisi seperti itu, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi? Proses rechecking
demikian ini merupakan perwujudan dari apa yang disebut diagnosis. Untuk melakukan diagnosis, bisa
ditempuh dengan kegiatan focus group discussion (FGD). Dengan demikian, fungsi FGD yang utama
ialah: (a) rechecking terhadap hasil analisis awal; dan (b) mengelaborasi pengetahuan atau informasi
dimaksud sehingga ditemukan pengertian yang lebih baik.
Untuk memperoleh dua hal tersebut, substansi dan model dari pelaksanaan FGD dapat diarahkan
kepada bagaimana kelompok sasaran yang diwakili oleh peserta FGD untuk secara bersama-sama
melakukan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, and treatment). Strength alias kekuatan
adalah potensi yang ada dan yang bisa dikembangkan; Weakness (keluhan, kelemahan, kebiasaan
perilaku yang dianggap merugikan); Opportunity (jalan keluar yang bisa diambil untuk memperbaiki
keadaan); dan treatment (ancaman persaingan dan masa depan dari kegiatan usaha). Melakukan FGD
dengan memanfaatkan strategi SWOT demikian, merupakan pemberdayaan dari sudut kognisi dan
kesadaran. Melibatkan bersama warga (kelompok sasaran) untuk memikirkan secara bersama persoalan
mereka sendiri (yaitu dengan strategi SWOT) merupakan salah bentuk pendidikan andragogi (pendidikan
orang dewasa). Tahap ketiga ialah memberikan therapitis. Konsep terapi di sini, mengacu kepada tiga
hal penting. Pertama, peneliti memberikan sejumlah alternative penyelesaian (solusi), atau dalam istilah
kedokteran, memberikan resep-obat. Kedua, peneliti menjelaskan kandungan, implikasi, dan cara-cara
bagaimana obat (alternatif solusi) itu mereka peroleh dan konsumsi menurut takaran kebutuhan. Ketiga,
kelompok sasaran secara mandiri (menjadi) tahu kapan harus mengkonsumsi “supplement gizi”, tahu
dan dapat memperoleh supplement tersebut seperti modal usaha dan fasilitas yang dibutuhkan, dan
terbukanya pasar. Untuk membantu kelompok sasaran mampu berbuat menurut resep yang kita
tawarkan, dibutuhkan pemandu yang bijak. Pemandu yang bijak itulah desain atau model
pemberdayaan yang dirumuskan dari bawah (lapangan).