Stabilitas diartikan bahwa obat (bahan obat, sediaan obat), disimpan dalam kondisi
penyimpanan dan pengangkutannya tidak menunjukkan perubahan sama sekali atau berubah
dalam batas-batas yang diperoleh (Voigt. 1995 : 607).
Stabilitas obat adalah kemampuan obat atau produk untuk mempertahankan sifat dan
katakteristiknya agar sama dengan yang dimilikinya pada saat dibuat atau diproduksi. Identitas,
kekuatan, kualitas, dan kemurnian dalam batasan yang ditetapkan sepanjang periode
penyimpanan dan penggunaan (Joshita. 2008: 4).
Stabilitas sediaan farmasi tergantung pada profil sifat fisika dan kimia pada sediaan yang
dibuat (termasuk eksipien dan sistem kemasan yang digunakan untuk formulasi sediaan) dan
fraksi lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan cahaya (Joshita. 2008: 5).
Beberapa jenis perubahan stabilitas obat atau produk farmasi yang diperlakukan untuk
dipertimbangkan adalah perubahan fisika, kimia, dan mikrobiologi. Stabilitas fisika meliputi
penampilan, konsistensi, warna, aroma, rasa, kekerasan, kerapuhan, kelarutan, pengendapan,
perubahan berat, adanya uap, bentuk, dan ukuran partikel (Jenkins. 1957: 73).
Stabilitas kimia meliputi degradasi formulasi obat, kehilangan potensi (bahan aktif),
kehilangan bahan-bahan tambahan (pengawet, antioksidan, dan lainnya). Stabilitas
mikrobiologi meliputi perkembangbiakan mikroorganisme pada sediaan non steril, sterilisasi,
dan perubahan fektivitas pengawet (Jenkins. 1957: 73).
Adapun efek-efek tidak diinginkan yang potensial dari ketidakstabilan produk farmasi yaitu
hilangnya zat aktif, naiknya konsentrasi zat aktif, bahan obat berubah, hilangnya keseragaman
kandungan, menurunnya status mikrobiologi, hilangnya kekedapan kemasan, modifikasi faktor
hubungan fungsional, serta faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan cahaya (Joshita.
2008 : 8).
Kestabilan suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam membuat formulasi
suatu sediaan farmasi. Hal ini penting mengingat suatu sediaan biasanya diproduksi dalam
jumlah besar dan memerlukan waktu yang lama untuk sampai ke tangan pasien yang
membutuhkan. Obat yang disimpan dalam jangka waktu lama dapat mengalami penguraian
dan mengakibatkan dosis yang diterima pasien berkurang. Adanya hasil uraian zat tersebut
bersifat toksik sehingga dapat membahayakan jiwa pasien. Oleh karena itu, perlu diketahui
faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan sutau zat sehingga dapat dipilih pembuatan
sediaan yang tepat sehingga kestabilan obat terjaga (Ansel. 1989).
Sejumlah besar zat kemoterapi modern ini adalah asam lemah atau basa lemah. kelarutan
zat-zat ini dapat dengan mudah atau nyata dipengaruhi oleh pH lingkungan. Melalui pemakaian
hukum aksi massa, kelarutan obat – obat asam – asam lemah maupun basa – basa lemah dapat
diramalkan, sebagai fungsi pH, dengan derajat ketetapan yang besar. Dalam memilih pH
lingkungan untuk kelarutan yang memadai ada beberapa faktor yang lainnya yang perlu
diperhatikan, pH memenuhi persyratan kelarutan tidak harus bertentangan dengan
persyaratan produk lain. Jika pH kritis untuk menjaga kelarutan obat , sistem tersebut harus
dapar dalam kisaran pH yang diinginkan, dapar harus aman secara biologis, mempunyai sedikit
atau tidak mempunyai efek merusak terhadap stabilitas produk akhir (Lachman. 1994 : 1523).
Proses laju merupakan hal dasar yang perlu diperhatikan bagi setiap orang yang berkaitan
dengan bidang kefarmasian, mulai dari pengusaha obat sampai ke pasien. Pengusaha obat harus
dengan jelas menunjukkan bahwa bentuk obat atau sediaan yang dihasilkannya cukup stabil
sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama dimana obat tidak berubah
menjadi zat tidak berkhasiat atau racun. Ahli farmasi harus mengetahui ketidakstabilan
potensial obat yang dibuatnya. Dokter dan penderita harus diyakinkan bahwa obat yang
digunakannya akan sampai pada tempat pengobatan dalam konsentrasi yang cukup untuk
mencapai efek pengobatan yang diinginkan (Martin. 1993 724).
Beberapa prinsip dan proses laju yang berkaitan dimaksudkan dalam rantai peristiwa ini
(Martin. 1993 : 724) :
1. Kestabilan dan tak tercakup proses laju umumnya adalah suatu yang menyebabkan
ketidak aktifan obat melalui penguraian obat, atau melalui hilangnya khasiat obat
karena perubahan bentuk fisik dan kimia yang kurang diinginkan dari obat tersebut.
2. Disolusi, disini yang diperhatikan terutama kecepatan berubahnya obat dalam bentuk
sediaan padat menjadi bentuk larutan molekular.
3. Proses absorbsi, distribusi, dan eliminasi beberapa proses berkaitan dengan laju
absorbsi obat ke dalam tubuh, laju distribusi obat dalam tubuh dan laju pengeluaran
obat setelah proses distribusi dengan berbagai faktor, seperti metabolisme,
penyimpanan dalam organ tubuh lemak, dan melalui jalur-jalur penglepasan.
4. Kerja obat pada tingkat molekular obat dapat dibuat dalam bentuk yang tepat dengan
menganggap timbulnya respon dari obat merupakan suatu proses laju.
Ada beberapa pendekatan untuk kestabilan dari preparat-preparat farmasi yang mengandung
obat-obat yang cenderung mengurai dengan [Link] paling nyata adalah reduksi
atau eliminasi air dari sistem [Link] bentuk-bentuk sediaan padat yang mengandung
obat-obat labil air harus dilindungi dari kelembaban atmosfer. Ini dapat dibantu dengan
menggunakan suatu penyalut pelindung tahan air menyelimuti tablet atau dengan menutup dan
menjaga obat dalam wadah tertutup kuat (Ansel. 1989 : 157).
Pada masa lalu banyak perusahaan farmasi mengadakan evaluasi mengenai kestabilan
sediaan farmasi dengan pengamatan selama atau lebih, sesuai dengan waktu normal yang
diperlukan dalam penyimpanan dan dalam [Link] seperti itu memakan waktu dan
tidak [Link] yang dipercepat pada temperatur tinggi juga banyak dilakukan oleh
banyak perusahaan, tetapi kriterianya sering merupakan kriteria buatan yang tidak didasarkan
pada prinsip-prinsip dasar kinetik. Contohnya, beberapa perusahaan menggunakan aturan
bahwa penyimpanan cairan pada 37ºC mempercepat penguraian 2 kali lajunya pada temperatur
normal, sementara perusahaan lain mengandaikan bahwa kondisi tersebut mempercepat
penguraian dengan 20 x laju normal. Telah dibuktikan bahwa koefisien temperatur buatan dan
kestabilan tidak dapat diterapkan pada sediaan-sediaan cair dan sediaan farmasi yang lain.
Perkiraan waktu penyimpanan harus diikuti dengan analisis yang dirancang secara hati-hati
untuk bermacam-macam bahan dalam tiap produk jika hasilnya cukup berarti (Martin. 1993:
811).
I. ALAT DAN BAHAN
1.1 Alat
1. Beaker glass 100ml
2. Erlenmeyer 100ml
3. Labu ukur 100ml
4. Gelas ukur 10ml
5. Pipet ukur dan ball statif
6. Batang pengaduk
7. Beaker glass 500ml
8. Penjepit kayu
9. Thermometer
10. Penangas elektrik
11. Aluminium foil
12. Sendok tanduk
13. Timbangan analitik
1.2 Bahan
1. Vitamin C IPI 10 tablet
2. Aquadest