0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan11 halaman

Prinsip Kerja Heat Exchanger

Heat exchanger adalah alat yang mentransfer energi panas antara dua atau lebih fluida dengan atau tanpa kontak langsung. Terdapat beberapa jenis heat exchanger berdasarkan proses transfer panasnya, seperti kontak tak langsung yang memisahkan fluida dengan dinding dan kontak langsung tanpa pemisah. Prinsip kerjanya melibatkan perpindahan panas melalui konduksi, konveksi, atau radiasi.

Diunggah oleh

Rifky Efendy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan11 halaman

Prinsip Kerja Heat Exchanger

Heat exchanger adalah alat yang mentransfer energi panas antara dua atau lebih fluida dengan atau tanpa kontak langsung. Terdapat beberapa jenis heat exchanger berdasarkan proses transfer panasnya, seperti kontak tak langsung yang memisahkan fluida dengan dinding dan kontak langsung tanpa pemisah. Prinsip kerjanya melibatkan perpindahan panas melalui konduksi, konveksi, atau radiasi.

Diunggah oleh

Rifky Efendy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pengertian ilmiah dari heat exchanger adalah sebuah alat yang berfungsi untuk mentransfer

energi panas (entalpi) antara dua atau lebih fluida, antara permukaan padat dengan fluida, atau
antara partikel padat dengan fluida, pada temperatur yang berbeda serta terjadi kontak termal.
Lebih lanjut, heat exchanger dapat pula berfungsi sebagai alat pembuang panas, alat sterilisasi,
pesteurisasi, pemisahan campuran, distilisasi (pemurnian, ekstraksi), pembentukan konsentrat,
kristalisasi, atau juga untuk mengontrol sebuah proses fluida.

Prinsip Kerja Heat Exchanger


1.      Prinsip dan Teori Dasar Perpindahan Panas
Panas adalah salah satu bentuk energi yang dapat dipindahkan dari suatu tempat ke tempat
lain, tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan sama sekali. Dalam suatu proses, panas
dapat mengakibatkan terjadinya kenaikan  suhu suatu zat dan atau perubahan tekanan, reaksi
kimia dan kelistrikan.
Proses terjadinya perpindahan panas dapat dilakukan secara langsung, yaitu fluida yang
panas akan bercampur secara langsung dengan fluida dingin tanpa adanya pemisah dan secara
tidak langsung, yaitu bila diantara fluida panas dan fluida dingin tidak berhubungan langsung
tetapi dipisahkan oleh sekat-sekat pemisah. Pada umumnya perpindahan panas dapat
berlangsung melalui 3 cara yaitu secara konduksi, konveksi, dan radiasi.

a.    Konduksi (hantaran)
Merupakan perpindahan panas antara molekul-molekul yang saling berdekatan antar yang
satu dengan yang lainnya dan tidak diikuti oleh perpindahan molekul-molekul tersebut secara
fisik. Molekul-molekul benda yang panas bergetar lebih cepat dibandingkan molekul-molekul
benda yang berada dalam keadaan dingin. Getaran-getaran yang cepat ini, tenaganya
dilimpahkan kepada molekul di sekelilingnya sehingga menyebabkan getaran yang lebih cepat
maka akan memberikan panas.
Panas dipindahan sebagai energi kinetik dari suatu molekul ke molekul lainnya, tanpa
molekul tersebut berpindah tempat. Cara ini nyata sekali pada zat padat.
Daya hantar panas konduksi (k) tiap zat berbeda-beda. Daya hantar tinggi
disebut  penghantar panas (konduktor panas) dan yang rendah adalah penyekat panas (isolator
panas ).
    Q  = k * A * (T1-T2) / X   
 A : luas bidang  perpindahan panas
 X : Panjang jalan  perpindahan panas(tebal)
 q  ; panas yang dipindahkan
b.   Konveksi (aliran/edaran)
Perpindahan panas dari suatu zat ke zat yang lain disertai dengan gerakan partikel atau zat
tersebut secara fisik.
Panas dipindahkan oleh molekul-molekul yang bergerak (mengalir). Oleh karena adanya
dorongan bergerak. Disini kecepatan gerakan (aliran) memegang peranan penting. Konveksi
hanya terjadi pada fluida
      Q  =  h * A * (T2 – T1) 
 h  = koefisien perpindahan panas suatu lapisan fluida.
Q  = panas yang dipindahkan
A  = luas perpindahan panas
Dalam melaksanakan operasi perpindahan panas, perlu diperhitungkan:
·           jumlah panas yang dipindahkan (q)
·           perbedaan suhu (T)
·           tahanan terhadap perpindahan panas (R).

Persamaan utama yg menghubungkan besaran – besaran diatas adalah::


  q = A * (T2 – T1) / R = U * A * (T2 – T1)   
q  = jumlah panas yang dipindahkan
R = tahanan terhadap perpindahan panas
U = 1/R = Koefisien  perpindahan panas keseluruhan, gabungan antara konduksi dan
konveksi (k.W / m2. C )
Harga U atau R tergantung pada :
·      Jenis zat (daya hantar)
·      Kecepatan aliran
·      Ada tidaknya kerak.

c.    Radiasi (pancaran)
Perpindahan panas  tanpa melalui media (tanpa melalui molekul). Suatu energi dapat
dihantarkan dari suatu tempat ke tempat lainnya (dari benda panas ke benda yang dingin) dengan
pancaran gelombang elektromagnetik dimana tenaga elektromagnetik ini akan berubah menjadi
panas jika terserap oleh benda yang lain.
Panas dipancarkan dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Perpindahan seperti ini tidak
memerlukan  zat antara/media.
     Q = σ . T4   
Q  = jumlah panas yang dipancarkan
T  = suhu mutlak
σ = tetapan Stefan – Boltzman, = 4,92 kkal / (jam. m2.K4 )

d.   Hubungan U dengan k dan h


                    1/U   = 1/ha + x/k  + 1/hb                  
Atau
                    R      = Ra   +  Rk  +  Rb                   

Adanya kotoran/endapan (kerak) akan memperbesar tahanan terhadap perpindahan panas


atau memperkecil U, sehingga persamaan menjadi:
                    1/U  = R = Ra + Rk + Rb + Rf           
Rf  : tahanan karena fouling (kotoran)

e.    Isolasi Panas
Mencegah kehilangan panas alat –alat, pipa-pipa steam/gas yang bersuhu tinggi ke
sekeliling yang suhunya lebih rendah, atau sebaliknya.
Untuk alat-alat dengan suhu rendah, isolasi mencegah masuknya panas karena suhu
sekitarnya yang lebih [Link] juga mencegah bahaya yang dapat timbul bila orang
menyentuh permukaan benda yang panas atau dingin sekali.

Bahan Isolasi:    - daya hantar panas rendah


                             - dapat menahan arus konveksi
                             - disesuaikan dengan suhu
Permukaan datar: makin tebal, makin sedikit panas yang hilang

f.     Perbedaan Suhu Rata-rata


Dalam perpindahan panas  perbedaan suhu mengendalikan laju pemindahan panas. Suhu
fluida dalam alat sering tidak tetap. Untuk perhitungan digunakan perbedaan suhu rata-rata.
               (T2 – t2) – (T1 –  t1)
      ∆T = --------------------------        
Ln (T2 - t2) / (T1 - t1)
Perbedaan suhu ini disebut perbedaan suhu rata-rata logaritma (log mean temperature
diffrence) disingkat LMTD
       Q = U * A *(Δ T) LMTD    
Pada Dasarnya prinsip kerja dari alat penukar kalor yaitu memindahkan panas dari dua
fluida padatemperatur berbeda di mana transfer panas dapat dilakukan secara langsung ataupun
tidak langsung.
a.         Secara kontak langsung
panas yang dipindahkan antara fluida panas dan dingin melalui permukaan kontak langsung
berarti tidak ada dinding antara kedua fluida. Transfer panas yang terjadi yaitu melalui interfase /
penghubung antara kedua fluida. Contoh : aliran steam pada kontak langsung yaitu 2 zat cair
yang immiscible (tidak dapat bercampur), gas-liquid, dan partikel padat-kombinasi fluida.

b.         Secara kontak tak langsung


Perpindahan panas terjadi antara fluida panas dandingin melalui dinding pemisah. Dalam
sistem ini, kedua fluida akan mengalir.

Satu bagian terpenting dari heat exchanger adalah permukaan kontak panas. Pada permukaan
inilah terjadi perpindahan panas dari satu zat ke zat yang lain. Semakin luas bidang kontak total
yang dimiliki oleh heat exchanger tersebut, maka akan semakin tinggi nilai efisiensi perpindahan
panasnya. Pada kondisi tertentu, ada satu komponen tambahan yang dapat digunakan untuk
meningkatkan luas total bidang kontak perpindahan panas ini. Komponen tersebut adalah sirip.
Macam-macam Heat Exchanger

Heat exchanger dapat diklasifikasikan menjadi berbagai jenis berdasarkan beberapa aspek.


Secara ringkas macam-macam heat exchanger dapat digambarkan menjadi bagan di atas. Untuk
lebih jelasnya akan kita bahas satu per satu macam-macam heat exchanger tersebut.

A. Macam-macam Heat Exchanger Berdasarkan Proses Transfer Panas


1. Heat Exchanger Tipe Kontak Tak Langsung
Heat exchanger tipe ini melibatkan fluida-fluida yang saling bertukar panas dengan adanya
lapisan dinding yang memisahkan fluida-fluida tersebut. Sehingga pada heat
exchanger jenis ini tidak akan terjadi kontak secara langsung antara fluida-fluida yang
terlibat. Heat exchanger jenis ini masih dibagi menjadi beberapa jenis lagi, yaitu:
o Heat Exchanger Tipe Direct-Transfer
Pada heat exchanger tipe ini, fluida-fluida kerja mengalir secara terus-menerus dan
saling bertukar panas dari fluida panas ke fluida yang lebih dingin dengan melewati
dinding pemisah. Yang membedakan heat exchanger tipe ini dengan tipe kontak tak
langsung
lainnya adalah aliran fluida-fluida kerja yang terus-menerus mengalir tanpa terhenti
sama sekali. Heat exchanger tipe ini sering disebut juga dengan heat exchanger
recuperator.
o Storage Type Exchanger
Heat exchanger tipe ini memindahkan panas dari fluida panas ke fluida dingin
secaraintermittent (bertahap) melalui dinding pemisah. Sehingga pada jenis ini, aliran
fluida tidak secara terus-menerus terjadi, ada proses penyimpanan sesaat sehingga
energi panas lebih lama tersimpan di dinding-dinding pemisah antara fluida-fluida
tersebut. Tipe ini biasa pula disebut dengan regenerative heat exchanger.
o Fluidized-Bed Heat Exchanger
Heat exchanger tipe ini menggunakan sebuah komponen solid yang berfungsi sebagai
penyimpan panas yang berasal dari fluida panas yang melewatinya. Fluida panas yang
melewati bagian ini akan sedikit terhalang alirannya sehingga kecepatan aliran fluida
panas ini akan menurun, dan panas yang terkandung di dalamnya dapat lebih efisien
diserap oleh padatan tersebut. Selanjutnya fluida dingin mengalir melalui saluran pipa-
pipa yang dialirkan melewati padatan penyimpan panas tersebut, dan secara bertahap
panas yang terkandung di dalamnya ditransfer ke fluida dingin.
Fluidized-Bed Heat Exchanger

Heat Exchanger Tipe Kontak Langsung


Suatu alat yang di dalamnya terjadi perpindahan panas antara satu atau lebih fluida dengan
diikuti dengan terjadinya pencampuran sejumlah massa dari fluida-fluida tersebut disebut
dengan heat exchanger tipe kontak langsung. Perpindahan panas yang diikuti percampuran
fluida-fluida tersebut, biasanya diikuti dengan terjadinya perubahan fase dari salah satu atau
labih fluida kerja tersebut. Terjadinya perubahan fase tersebut menunjukkan terjadinya
perpindahan energi panas yang cukup besar. Perubahan fase tersebut juga meningkatkan
kecepatan perpindahan panas yang terjadi. Macam-macam dari heat exchanger tipe ini antara
lain adalah:
 Immiscible Fluid Exchangers
Heat exchanger tipe ini melibatkan dua fluida dari jenis berbeda untuk dicampurkan
sehingga terjadi perpindahan panas yang diinginkan. Proses yang terjadi kadang tidak akan
mempengaruhi fase dari fluida, namun bisa juga diikuti dengan proses kondensasi maupun
evaporasi. Salah satu penggunaan heat exchanger ini adalah pada sebuah alat pembangkit
listrik tenaga surya berikut.
Penggunaan Immiscible Fluid Exchangers
Pada Sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Gas-Liquid Exchanger
Pada tipe ini, ada dua fluida kerja dengan fase yang berbeda yakni cair dan gas. Namun
umumnya kedua fluida kerja tersebut adalah air dan udara. Salah satu aplikasi yang paling umum
dari heat exchanger tipe ini adalah pada cooling tower tipe basah. Cooling tower biasa
dipergunakan pada pembangkit-pembangkit listrik tenaga uap yang terletak jauh dari sumber air.
Udara bekerja sebagai media pendingin, sedangkan air bekerja sebagai media yang didinginkan.
Air disemprotkan ke dalam cooling tower sehingga terjadi percampuran antara keduanya diikuti
dengan perpindahan panas. Sebagian air akan terkondensasi lagi sehingga terkumpul pada sisi
bawah cooling tower, sedangkan sebagian yang lain akan menguap dan ikut terbawa udara ke
atmosfer.
Wet Cooling Tower Termasuk ke Dalam Heat Exchanger Tipe Direct-Contact
 Liquid-Vapour Exchanger
Perpindahan panas yang terjadi antara dua fluida berbeda fase yakni uap air dengan air, yang
juga diikuti dengan pencampuran sejumlah massa antara keduanya, termasuk ke dalam heat
exchangertipe kontak langsung. Heat exchanger tipe ini dapat berfungsi untuk menurunkan
temperatur uap air dengan jalan menyemprotkan sejumlah air ke dalam aliran uap air tersebut
(pada boiler proses ini biasa disebut dengan desuperheater spray; baca artikel berikut), atau juga
berfungsi untuk meningkatkan temperatur air dengan mencampurkan uap air ke sebuah aliran air
(proses ini terjadi pada bagian deaerator pada siklus pembangkit listrik tenaga uap).
B. Macam-macam Heat Exchanger Berdasarkan Jumlah Fluida Kerja
Sebagaan besar proses perpindahan panas antar fluida, melibatkan hanya dua jenis fluida yang
berbeda. Semisal air dengan air, uap dengan air, uap dengan air laut, dan lain sebagainya. Namun
ada pula heat exchanger yang melibatkan lebih dari dua fluida kerja yang berbeda jenis.
Umumnya heat exchanger jenis ini digunakan pada proses-proses kimiawi, seperti pada contoh
sistem di bawah ini yaitu proses penghilangan kandungan nitrogen dari bahan baku gas alam.
Pada sistem ini dihasilkan gas alam dengan kandungan nitrogen yang lebih rendah sehingga
penggunaan gas alam tersebut pada kebutuhan porses pembakaran selanjutnya dapat lebih
efisien.
Proses Pengolahan Gas Alam Melibatkan Multi Fluid Heat Exchanger

C. Macam-macam Heat Exchanger Berdasarkan Bidang Kotak Perpindahan Panas


Pengklasifikasian heat exchanger selanjutnya adalah berdasarkan luas bidang kontak terjadinya
perpindahan panas antar fluida. Parameter yang digunakan dalam pengklasifikasian ini adalah
sebuah satuan besar luas permukaan bidang kontak di setiap volume heat exchanger. Semakin
luas permukaan bidang kontak perpindahan panas per satuan volume, maka akan semakin besar
efisiensi perpindahan panas yang didapatkan. Namun hal tersebut harus juga memperhatikan
jenis fluida kerja yang digunakan. Semakin besar kandungan partikel di dalam fluida tersebut,
maka semakin rendah juga kebutuhan luas permukaan bidang kontak perpindahan panas
pada heat exchanger. Pengklasifikasian heat exchanger berdasarkan hal ini antara lain
adalah Compact Heat Exchangerdengan luas bidang kontak di atas 700 m2/m3; Laminar Flow
Heat Exchanger dengan luas bidang permukaan di atas 3000 m2/m3; serta Micro Heat
Exchanger dengan luas bidang kontak di atas 15000 m2/m3. Untuk lebih jelasnya mari kita
perhatikan gambar di bawah ini.
Klasifikasi Heat Exchanger Berdasarkan Luas Permukaan Perpindahan Panas

Anda mungkin juga menyukai