Disusun Oleh:
Taufik Dwi Santoso
SMK BINA UTAMA KENAL
1
A. Kompetensi Dasar
3.3 Menerapkan cara perawatan sistem rem ABS
B. Tujuan Pembelajaran
1. Menerangkan prinsip kerja sistem rem ABS
2. Menyusun langkah perawatan sistem rem ABS sesuai SOP
3. Melakukan perawatan berkala sistem rem ABS
4. Memeriksa hasil perawatan berkala sistem rem ABS
C. Materi Pembelajaran
Garis besar sistem rem ABS
Komponen sistem rem ABS
Pemeriksaan dan perawatan sistem rem ABS
D. Pendahuluan
Seringkali kita melihat tayangan televisi yang memberitakan
kecelakaan yang kerap terjadi belakangan ini. Ada yang disebabkan oleh
kelalaian manusia, kondisi jalanan yang licin dan tidak memadai, dan lain
sebagainya. Terlebih pada kasus kondisi jalan yang licin dan kebiasaan
pengemudi yang menjalankan kendaraannya dengan kecepatan tinggi,
terdapat sebuah sistem pengereman yang dapat mengurangi resiko
kecelakaan yang disebabkan oleh hal tersebut. Nama dari sistem tersebut
adalah ABS yang merupakan akronim dari Anti-lock Braking System.
Anti-lock Braking System merupakan sistem pengereman pada kendaraan
agar tidak terjadi penguncian roda ketika terjadi pengereman
mendadak/keras. Sistem ini bekerja apabila pada mobil terjadi pengereman
keras sehingga salah sebagian atau semua roda berhenti sementara
kendaraan masih melaju, membuat kendaraan tidak terkendali sama sekali.
Ketika sensornya mendeteksi ada roda mengunci, ia akan memerintahkan
2
piston rem untuk mengendurkan tekanan, lalu mengeraskannya kembali
begitu roda berputar. Proses itu berlangsung sangat cepat, bisa mencapai
15 kali/detik. Efeknya adalah mobil tetap dapat dikendalikan dan jarak
pengereman makin efektif.
Pada saat kendaraan menurun, laju kendaraan akan bertambah cepat,
maka dari itu peran rem sangat dibutuhkan untuk memperlambat lajunya
kecepatan kendaraan, agar pengemudi dapat mengontrol kendaraan dengan
aman. Pada umumnya fungsi rem untuk memperlambat dan menghentikan
laju kendaraan tanpa memperhitungkan akibat saat pengemudi menginjak
pedal rem secara tibatiba yang dapat mengakibatkan kecelakaan. Pada saat
bersamaan roda kendaraan tiba-tiba akan mengancing. Misalnya di jalan
yang bersalju dan licin dibutuhkan pengereman yang maksimal, karena
pada kondisi jalan seperti ini kesetabilan arah kendaraan mudah hilang.
Oleh karena itu, kendaraan perlu dilengkapi sistem rem ABS agar dalam
menghentikan kendaraan pengemudi tidak harus memompa rem terlebih
dahulu. Tujuan penyempurnaan sistem rem ini adalah agar hasil
pengereman menjadi lebih stabil dan akurat melalui sistem ABS.
E. Uraian materi
1. Pengertian
Anti-Lock Brake System adalah sistem pengereman yang dikontrol
secara elektrolik. Sistem ini menggunakan suatu unit komputer actuator
yang gunanya untuk mengendalikan tekanan hidrolik yang menuju ke disc
brake caliper semua roda mobil tersebut. Tanpa ABS manakala
pengereman diterapkan dengan cukup kuat untuk mengunci roda mobil
akan meluncur tak terkendali sebab tidak ada daya tarik antara ban dan
permukaan jalan. Selagi roda sedang meluncur, pengendara hilang kendali
juga. Saat Anti-Lock Brake System mengerem, sistem menyediakan
keselamatan kepada pengendara yang lebih tinggi melalui pencegahan
3
roda dari penguncian. Anti-Lock Brake System dalam pemakaian sistem
pengereman normal tidak akan terpengaruh. Anti-lock Brake System
dirancang untuk mencegah terjadinya penguncian roda (wheel lockup) saat
pengereman mendadak di segala medan jalan.
Anti-lock Braking System pertama kali dikembangkan oleh French
Automobile pada tahun 1929, yang mana ABS pada saat itu digunakan
sebagai sistem pengereman yang terdapat pada aircraft. Kemudian sekitar
tahun 1958 oleh Road Research Laboratory, ABS diujicobakan pada
sebuah kendaraan bermotor. Eksperimen terbuat memberikan hasil yang
cukup memuaskan, dengan adanya ABS resiko kecelakaan dapat dikurangi
karena sistem pengereman yang terdapat di dalamnya dapat mengatasi
permasalahan yang kerap terjadi pada kendaraan bermotor, yaitu
terjadinya penguncian roda pada saat dilakukan pengereman. Walaupun
hasilnya cukup memuaskan, sistem pengereman yang telah dijelaskan di
atas masih merupakan sistem pengereman yang tradisional. Baru pada
tahun 1971, Chrysler bersama dengan Bendix Corporation, membuat
sebuah sistem pengereman yang telah berfungsi seperti sebagaimana
mestinya dan jauh lebih reliable dibandingan dengan ABS tradisional.
Anti-lock Brake System dirancang untuk mencegah terjadinya
penguncian roda (wheel lockup) saat pengeman mendadak di segala
medan jalan. Hasil saat pengeraman adalah:
1. Kendaraan tetap stabil
2. Arah kemudi stabil (Vehicle Stability)
3. Mengerem lebih cepat (jarak pengereman lebih dekat, kecuali jalan
tanah, bersalju)
4. Penguasaan kontrol kendaraan menjadi maksimal (tinggat
kestabilan)
4
2. Diagram Blok dan Komponen Penyusun ABS
Adapun diagram blok pada ABS (Anti-lock Braking System) bisa
dilihat pada gambar berikut
Sedangkan untuk komponen penyusunnya sesuai dengan gambar di atas adalah
ABS control module
Modul kontrol ABS adalah modul kontrol yang
membandingkan informasi kecepatan roda dengan kecepatan roda yang
lain yang didapat dari sensor. Ketika roda hampir terkuci, tekanan rem
dikurangi sehingga putaran roda menjauh dari keadaan terkunci.
Apabila putaran roda terlalu cepat, tekanan rem dapat dinaikkan untuk
mengurangi kecepatannya. Ketika kecepatan antar roda hampir sama,
modul kontrol akan mangaktifkan mode pressure hold of operation.
Solenoid valve assembly
5
Merupakan valve yang memiliki 3 mode dalam
pengoperasiannya yaitu,
1. Increase Pressure, Selama mode pressure increase minyak rem
dapat masuk melewati kedua solenoid sehingga sampai ke Caliper.
2. Hold Pressure Steady, Selama mode Pressure Hold kedua solenoid
tertutup sehingga tidak ada jalur pergerakan minyak rem.
3. Decrease Pressure, Selama mode Pressure Vent solenoid pada jalur
pedal rem tertutup. Dan solenoid ventilasi terbuka, sehingga
minyak masuk ke dalam suatu rungan (accumulator chamber)
Sensor kecepatan (roda)
Untuk mengetahui bagaimana keadaan roda , maka digunakan
sensor kecepatan pada roda. Sensor yang digunakan seperti enkoder.
Wiring, dan tanda status ABS
Terdapat dua tanda yang dapat digunakan untuk mengetahui
status dari ABS tersebut, antara lain :
1. Lampu peringatan ABS
Bila ECU mendeteksi adanya malfungsi pada ABS atau
pada sistem bantu rem, lampu ini menyala untuk memberi
peringatan kepada pengemudi.
2. Lampu peringatan sistem rem
Bila lampu ini menyala bersama-sama dengan lampu peringatan
ABS, lampu ini akan memberi peringatan kepada pengemudi bahwa ada
malfungsi pada sistem ABS dan EBD.
Sensor deselerasi (Hanya pada beberapa model.)
Sensor deselerasi merasakan tingkat deselerasi kendaraan dan
mengirimkan signal ke ECU Skid Control. ECU menentukan kondisi
permukaan roda yang sebenarnya menggunakan signal ini dan
mengambil ukuran kontrol yang sesuai.
6
3. Prinsip Kerja
Antilock-Braking System (ABS) berfungsi untuk mencegah rem
mengunci (locking) pada saat pengereman mendadak yang dapat
mengakibatkan roda tergelincir (slip). Pada saat pengereman, roda akan
slip apabila berdeselerasi/berhenti lebih cepat dari kendaraan. ABS
merupakan closed-loop control system yang bekerja dengan cara
mengatur tekanan hidrolik rem pada roda. Pada roda dipasang wheel-
speed sensor untuk memonitor putaran roda. Sensor ini secara terus-
menerus mengirimkan informasi putaran roda ke ABS control module
(controller) yang berfungsi mengontrol mekanisme hidrolik unit
(actuator). Hidrolik unit merupakan suatu mekanisme hidrolik yang di
dalamnya terdapat flow-control valve/solenoid valve, pompa, reservoir,
yang berfungsi mengatur tekanan hidrolik rem pada setiap roda.
ABS belum bekerja pada kondisi pengereman normal. Pada
pengereman mendadak dimana roda akan berdeselerasi dengan cepat,
sesaat sebelum locking ABS control module akan mengirimkan sinyal
ke solenoid valve untuk menutup aliran oli dari master cylinder. Dalam
kondisi ini tekanan hidrolik di rem menjadi konstan. Apabila roda
masih cenderung untuk locking, control module segera memerintahkan
solenoid valve untuk mengurangi tekanan hidrolik rem dengan
membuka aliran oli ke arah reservoir. Selanjutnya oli akan dipompa
kembali menuju master cylinder. Selama pompa ini bekerja, pedal rem
akan sedikit bergerak naik turun. Beberapa kendaraan juga dilengkapi
dengan ABS yang dapat menaikkan tekanan hidrolik rem.
7
Untuk melakukan hal ini, ABS didesain untuk mengoptimalkan
kinerja rem dengan menggunakan slip ratio 10-30% apapun kondisi
jalannya, pada saat yang sama juga menjaga gaya belok setinggi
mungkin untuk mempertahankan stabilitas arah pengemudian
1. Pada jalan licin, permukaan jalan mempunyai koefisien gesek rendah
(µ), sehingga jarak pengereman bertambah bila dibandingkan dengan
pengereman pada permukaan jalan mempunyai nilai µ tinggi, meski
saat itu ABS diaktifkan. Oleh karena itu dikurangi kecepatan bila
berjalan di atas permukaan jalan basah.
2. Pada jalan kasar, atau pada jalan berbatu atau jalan dengan salju
baru, kerja ABS akan menyebabkan jarak henti lebih panjang
dibandingkan dengan kendaraan yang tidak dilengkapi dengan ABS.
Kesimpulannya, prinsip utama dari sistem ABS adalah
mengontrol kecepatan putaran roda dengan cara mengontrol tekanan
pada jalur sistem pengereman. Dengan demikian dicapai kondisi
dimana roda sedang tepat sebelum terkunci, yang mana akan
menghasilkan pengereman yang paling efektif.
Ditinjau dari sistem kontrolnya, sistem kontrol traksi merupakan
sistem yang mampu mempertahankan ratio slip diantara ban dan
permukaan jalan dengan cara mengontrol peralatan-peralatan guna
memberikan perlawanan percepatan terhadap perubahan kondisi
permukaan jalan. Peralatan itu tersebut, yaitu:
a. Kontrol Torsi Engine, berfungsi mempertahankan kondisi steady
state plant.
b. Kontrol Torsi Pengereman, mencegah keberadaan torsi dengan
memberikan gaya gesek yang berbeda di antara kedua roda
penggerak.
8
Sistem kontrol traksi direncanakan untuk mencegah roda
melintir dengan gaya akseleratif yang tinggi, dan pemasarannya telah
mulai dilakukan sejak tahun 1987. Kraf (1990), Rittmanssberger
(1998), Kiyotaka (1991), menyatakan bahwa antiskid controller
mengatur roda slip dengan torsi pengereman, biasanya pada keempat
rodanya. W Shields Neeley (1994), menyatakan bahwa peren canaan
kontrol slip dengan NeuFuz dapat dilakukan untuk sistem kontrol traksi
dan sistem ABS.
Armin Czinczel (1991) dalam penelitiannya menyatakan bahwa
kebutuhan akan sistem kontrol traksi untuk kendaraan FWD merupakan
optimisasi traksi. Oleh karena itu sistem torsi pengereman sangat
diperlukan. Tatsuhiko Abe (1996) melakukan penelitian sistem kontrol
traksi dengan HTCS (Hybrid Traction Control System) yang
menawarkan kinerja dalam hal memperbaiki TCS dengan EIB (Engine
Inertia Brake).
Komponen-Komponen Kontrol Traksi tersebut meliputi :
1. Wheel Speed sensor, sensor yang memberikan informasi kepada
ABS untuk ditindak lanjuti.
2. ECU (Electronic Control Unit) Input amplifier IC menerima sinyal
dari wheel speed sensor, sinyal frekuensi tersebut memberi perintah
tentang kecepatan roda penggerak. Microcontrollernya akan
memproses sinyal-sinyal percepatan dan kecepatan roda penggerak.
Data-data ini akhirnya akan menyiapkan basis perhitungan dalam
menentukan nilai akhir yang dibutuhkan untuk kendali slip.
3. Hydraulic Unit
4. Electronic throttle control actuator
5. Simplified throttle control actuator
6. Fuel injection dan ignition control (Pengurangan tekanan pompa
mesin secara perlahan-lahan).
9
Semua komponen tersebut terletak pada bagian-bagian mobil
dan terpasang dengan cukup kuat untuk menghindari terjadinya
copotnya soket penghubung antar sensor.
4. Macam-Macam Sitem ABS
a. 4-SENSOR 4-CHANNEL
Jenis ABS ini mempunyai empat wheel sensor dan 4 hydraulic
control channel dan masing-masing mengontrol secara tersendiri.
Sistem ini mempunyai tingkat keamanan dan jarak pemberhentian yang
lebih pendek di berbagai macam kondisi jalan. Namun apabila
permukaan jalannya licin, besar gaya rem antara kanan dan kiri yang
tidak rata akan mengakibatkan terjadi gerakan Yawing pada bodi
kendaraan sehingga bisa mengurangi kestabilan. Karena itulah,
kebanyakan mobil yang dilengkapi dengan tipe 4 channel ABS
memasukkan satu select low logic pada roda belakang agar mobil tetap
stabil, di berbagai macam kondisi jalan.
b. 4-SENSOR 3-CHANNEL
Dipakai untuk mobil FF (Front engine Front driving),
kebanyakan berat kendaraan terpusat di roda depan dan berat titik
tengah kendaraan saat direm juga berpindah ke depan hampir 70%,
gaya pengereman ini dikontol oleh roda depan. Artinya adalah
kebanyakan tenaga pengereman dibangkitkan oleh roda depan, sehingga
agar ABS bisa efektif, maka diperlukan pengaturan tersendiri
(independent control) pada roda depan. Namun demikian, roda
belakang yang gaya pengeremannya lebih sedikit, juga sangat penting
untuk memastikan kendaraan aman saat dilakukan pengereman.
Karena itulah apabila saat ABS roda belakang bekerja di
permukaan jalan yang licin, maka independent control pada roda
belakang mengatur agar gaya pengereman roda2 belakang tidak merata
10
sehingga mobil mengalami yawing. Untuk menhindari gerakan yawing
ini dan untuk menjaga agar mobil tetap aman saat ABS bekerja di
berbagai kondisi jalan, maka tekanan rem roda belakang diatur
berdasarkan kecenderungan roda mana yang mengalami lock-up.
Konsep pengaturan ini dikenal dengan ‘Select-low control’.
c. 3-SENSOR 3-CHANNEL
Mobil yang dilengkapi dengan H-brake line system mempunyai
sistem kontrol ABS jenis ini. 2 channel untuk roda depan dan satunya
lagi untuk roda belakang. Roda belakang dikontrol bersama dengan
select low control logic. Untuk X-brake line system, diperlukan 2
channels (2 brake port di dalam unit ABS) untuk mengatur roda
belakang dikarenakan masing-masing roda belakang mempunyai jalur
rem yang berbeda.
5. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari penjelasan mengenai ABS (Anti-lock
braking System) ialah :
1. ABS (Anti-lock Braking System) menjadi solusi yang tepat dalam
upaya pengurangan tingkat kecelakaan yang sering terjadi pada
kendaraan bermotor terutama pada kendaraan bermotor yang sedang
melaju dengan kecepatan tinggi dimana kondisi jalannya licin atau
bersalju.
2. Komponen yang digunakan pada ABS adalah modul control ABS,
solenoid valve, sensor kecepatan, dan tanda untuk status ABS.
3. Konfigurasi yang terdapat pada ABS terdiri dari 3 bagian tergantung
dari jumlah dan peletakan sensor yang digunakan, yaitu 1 channel, 3
channel, dan 4 channel.
11
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, mengenal ABS system rem anti terkunci, [Link]
[Link]/2012/05/mengenal-abs-sistem-rem-anti-
[Link], diakses tanggal 29 november 2012
Mitiqo, Panji, Rem ABS (Anti-Lock Braking Sistem),
[Link]
braking-sistem/, diakses tanggal 29 November 2012
12
13