0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
39 tayangan11 halaman

Manajemen Nilai untuk Pemegang Saham

Dokumen tersebut membahas tentang pengelolaan dan strategi nilai perusahaan. Terdapat tiga langkah untuk menciptakan nilai bagi pemegang saham yaitu komitmen untuk misi peningkatan kekayaan pemegang saham, mengukur penciptaan nilai, dan menyesuaikan seluruh aspek manajemen dengan tujuan nilai pemegang saham. Nilai diciptakan jika tingkat pengembalian investasi melebihi tingkat pengembalian yang dipersyaratkan

Diunggah oleh

Abhimana Negara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
39 tayangan11 halaman

Manajemen Nilai untuk Pemegang Saham

Dokumen tersebut membahas tentang pengelolaan dan strategi nilai perusahaan. Terdapat tiga langkah untuk menciptakan nilai bagi pemegang saham yaitu komitmen untuk misi peningkatan kekayaan pemegang saham, mengukur penciptaan nilai, dan menyesuaikan seluruh aspek manajemen dengan tujuan nilai pemegang saham. Nilai diciptakan jika tingkat pengembalian investasi melebihi tingkat pengembalian yang dipersyaratkan

Diunggah oleh

Abhimana Negara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENGELOLAAN DAN STRATEGI NILAI PERUSAHAAN


1.1 Penciptaan dan Penurunan Nilai Perusahaan
Banyak perusahaan yang dalam kegiatan operasinya berhasil menciptakan nilai untuk
pemegang sahamnya tetapi banyak juga yang merusak nilai pemegang sahamnya.
1.2 Tujuan Perusahaan untuk Memaksimalkan Kekayaan Pemegang Saham
Manaier keuangan di perusahaan membuat keputusan untuk kepentingan pemegang saham.
Pemegang saham membeli saham perusahaan untuk memperoleh keuntungan yaitu dividen
dan capital gain.
1. Oleh karena itu tujuan perusahaan adalah memaksimalkan kekayaan pemegang saham
dengan cara memaksimalkan harga saham perusahaan.
2. Pemegang saham adalah pemilik sisa (residual owner) di perusahaan. Mereka akan
memperoleh sesuatu dari perusahaan dalam urutan akhir setelah pegawai, pemasok,
dan kreditur sehingga apabila kekayaan pemegang saham meningkat berarti kekayaan
pihak lainnya dalam perusahaan juga meningkat.
1.3 Tiga Langkah dalam Menentukan Nilai Perusahaan
Terdapat tiga langkah dalam menciptakan nilai untuk pemegang saham, yaitu:
1. Menciptakan kesadaran dan komitmen yang murni untuk sebuah misi yang akan
meningkatkan kekayaan pemegang saham di seluruh organisasi.
2. Menetapkan metode dan teknik yang akan digunakan untuk mengukur apakah nilai
telah diciptakan pada setiap tingkatan dalam organisasi.
3. Meyakinkan bahwa dalam setiap aspek dari manajemen telah sesuai dengan tujuan
nilai pemegang saham, dari manajemen sumber daya manusia sampai dengan
penelitian dan pengembangan, dari penetapan target sampai dengan alokasi sumber
daya.
1.4 Manajemen Berbasis Laba
Terdapat empat alasan mengapa laba dapat memberikan gambaran yang tidak tetap dalam
mengukur penciptaan nilai, yaitu:
1. Angka-angka dalam laporan keuangan dapat terdistorsi dan dimanipulasi.
Dalam menyusun laporan keuangan, akuntan harus membuat judgement dan memilih
basis atau metode akuntansi yang akan digunakan. Pemilihan metode akuntansi yang
berbeda akan menghasilkan angka laba yang berbeda-beda. Akuntan sering memilih
metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba yang diperoleh perusahaan tanpa
adanya dampak ekonomi kepada perusahaan dari peningkatan laba tersebut.
2. Pelaksanaan investasi sebuah proyek jangka panjang tidak memasukkan semua unsur
yang menjadi pertimbangan dalam memutuskan sebuah investasi layak dijalankan
atau tidak.
Misalnya perusahaan memiliki 2 proyek yaitu A dan B yang memberikan laba bersih
yang sama selama 3 tahun pelaksanaan proyek. Sepintas kedua proyek tersebut
memberikan laba yang sama sehingga proyek A atau B yang dijalankan hasilnya sama
untuk perusahaan. Proyek A membutuhkan pengeluaran awal yang lebih rendah
dibandingkan dengan B sehingga perusahaan harusnya memilih proyek A
dibandingkan dengan B.
3. Nilai waktu dan uang (time value) tidak dimasukkan dalam perhitungan investasi.
Terdapat kemungkinan bahwa pertumbuhan dalam laba justru akan menurunkan nilai
perusahaan apabila tingkat pengembalian yang diperoleh dari melaksanakan sebuah
proyek Iebih kecil dari tingkat pengembalian yang dipersyaratkan untuk proyek
tersebut. Kondisi ini akan membuat harga saham perusahaan turun sehingga
menurunkan kekayaan pemegang saham.
4. Risiko tidak dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan keuangan
a. Terlalu terfokus kepada pertumbuhan laba membuat manajemen perusahaan gagal
dalam mempertimbangkan risiko. Kenaikan laba akan meningkatkan risiko yang
mengakibatkan kenaikan pada tingkat diskonto.
b. Berikut ini adalah tabel yang menyajikan dua strategi yaitu S dan T
Starategi S Strategi T
Laba Probabilita Laba Probabilita
-100.000 0,10 80.000 0,10
0 0,20 90.000 0,15
100.000 0,40 100.000 0,50
200.000 0,20 110.000 0,15
300.000 0,10 120.000 0,10
Hasil yang 100.000 100 000
diharapkan
Investor akan Iebih menyukai strategi T karena meskipun memiliki hasil yang sama
dengan strategi S tetapi risikonva lebih kecil dari S karena labanya terdistribusi secara
merata di setiap angka probabilita. Meskipun kedua strategi menghasilkan laba yang
sama tetapi risikonya berbeda.
1.5 Bagaimana Bisnis Menciptakan Nilai
Nilai diciptakan apabila investasi menghasilkan tingkat pengembalian aktual yang Iebih besar
dibandingkan tingkat pengembalian yang dipersyaratkan (required rate of return) atas
investasi tersebut. Nilai pemegang saham dipengaruhi oleh empat faktor berikut ini:
1. Tingkat Pengembalian yang dipersyaratkan
2. Tingkat Pengembalian Aktual
3. Periode Waktu Investasi
4. Nilai Investasi
Selisih antara faktor ke-3 dan ke-2 dalam gambar menciptakan performance spread.
Performance spread diukur dalam persentase di atas atau di bawah tingkat pengembalian
yang dipersyaratkan yang diharapkan oleh pihak yang menyediakan pendanaan bagi
perusahaan yaitu kreditor dan pemegang saham.
Contoh:
Tingkat pengembalian yang dipersyaratkan FT ABC adalah 14%. Nilai investasi sebuah
proyek adalah $[Link]. Tingkat pengembalian [Link] sebesar 17%.
Penciptaan nilai tahunan = Investasi x (tingkat pengembalian aktual - tingkat pengembalian
yang dipersyaratkan)
Penciptaan nilai tahunan = $1.000.000 (17% - 14%) = $30.000.
1.6 Pendahuluan - Aplikasi Prinsip Nilai ;
1.7 Tujuan Perusahaan
Dalam manajemen nilai, memaksimalkan penjualan, pangsa pasar, kepuasan karyawan,
pelayanan pelanggan yang baik, dan lain-lain bukanlah tujuan dari perusahaan. (Tujuan dari
perusahaan adalah memaksimalkan arus kas yang didiskontokan ke pemegang saham.
1.8 Manajemen Unit Bisnis Stratejik
Unit bisnis stratejik (strategic, business unit/SBU) adalah unit bisnis dalam entitas korporat
yang berbeda dengan SBU lainnya karena SBU tersebut melayani pasar yang jelas, dan
manajemen dapat melaksanakan perencanaan stratejik terkait dengan produk dan pasar.
Perusahaan besar seringkali memiliki sejumlah SBU yang masing-masing memerlukan
strategi khusus.
Strategi berarti memilih produk atau pasar apa yang akan dimasuki atau keluar dari dan
bagaimana menjamin posisi bersaing yang baik di produk atau pasar yang ada.
Analisis stratejik memiliki tiga bagian:
1. Penilaian stratejik dimana lingkungan eksternal dan sumber daya serta kemampuan
internal dianalisa untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi penciptaan nilai
organisasi.
2. Pilihan stratejik dimana strategi yang dipilih dikembangkan dan dievaluasikan.
3. Penerapan stratejik dimana kegiatan yang harus dilaksanakan seperti perubahan
struktur organisasi, sistem, motivasi, dan komitmen.
1.9 Tiga Tingkatan Strategi dalam Perusahaan
1. Strategi tingkat korporat memiliki pertanyaan, "apakah bisnis perusahaan?". Strategi
tingkat korporat mempengaruhi organisasi secara keseluruhan, gabungan unit bisnis, dan lini
produk yang membentuk korporat. Tindakan stratejik pada tingkatan ini terkait dengan
akuisisi bisnis baru; penambahan atau divestasi unit bisnis, pabrik, atau lini produk; dan joint
venture dengan perusahaan lain. Strategi tingkat korporat memiliki pertanyaan-pertanyaan
berikut ini:
a. Di pasar manakah perusahaan bersaing saat ini?
b. Di pasar manakah perusahaan akan bersaing di masa depan?
c. Bagaimana kepemilikan bisnis oleh perusahaan menjamin daya saing perusahaan saat
ini dan di masa depan?
2. Pertanyaan, "bagaimana kita bersaing?" adalah perhatian dari strategi tingkat bisnis.
a. Strategi tingkat bisnis mempengaruhi setiap unit bisnis atau lini produk.
b. Strategi tingkat bisnis fokus kepada bagaimana unit bisnis bersaing di dalam
industrinya untuk pelanggan.
c. Keputusan stratejik pada tingkat bisnis meliputi jumlah iklan, arahan dan tingkat
penelitian dan pengembangan, perubahan produk, pengembangan produk baru,
peralatan dan fasilitas, serta ekspansi atau kontraksi lini produk.
Pertanyaan, "bagaimana kita mendukung strategi bersaing tingkat bisnis?" adalah
perhatian dari strategi tingkat fungsional.
Strategi tingkat fungsional mempengaruhi departemen dalam unit bisnis. Strategi
fungsional melibatkan semua fungsi utama, termasuk keuangan, R&D, pemasaran, dan
manufaktur.

1 10 Target dan Motivasi


Perusahaan harus memiliki tipe-tipe target penciptaan nilai yang berbeda-beda untuk setiap
tingkatan dalam organisasi.
1. Untuk Direksi seharusnya hanya memperhatikan kinerja perusahaan secara
keseluruhan dari perspektif pemegang saham seperti total shareholder return, wealth
added index, market value added, dan market to book ratio.
2. Ketika target diturunkan ke tingkat yang lebih rendah dari Direksi, penetapan target
dan penghargaan harus dikaitkan agar dapat meningkatkan motivasi karyawan untuk
mencapai target.
BAB II
PERHITUNGAN PENCIPTAAN NILAI
2.1 Pengukuran Nilai dengan Penggunaan Arus Kas
Nilai dari investasi adalah penjumlahan seluruh arus kas yang telah didiskonto (net
present value). Prinsip tersebut diterapkan untuk menilai kelayakan sebuah proyek baru.
1. Jika proyek baru tersebut menghasilkan tingkat pengembalian yang lebih besar
daripada yang dipersyaratkan oleh penyedia modal (kreditor dan pemegang saham)
maka proyek tersebut apabila dilaksanakan akan meningkatkan nilai perusahaan yang
akhirnya akan meningkatkan kekayaan pemegang saham.
2. Proyek yang net present value (selisih antara arus kas di masa depan yang
didiskontokan dikurang dengan nilai investasi awal) positif akan meningkatkan nilai
perusahaan.
2.1.1 Nilai Perusahaan
( Nilai perusahaan = nilai sekarang dari free cash flow dari kegiatan operasi + nilai
aset nnn operating.}
2.1.2 Shareholder Value from Operation* and Total Shareholder Value
- Shareholder value from operations = nilai sekarang dari free cashflow dari kegiatan operasi
- total utang.
2.2 Analisis Nilai Pemegang Saham \
Alfred Rappaport telah mengembangkan Rappaport shareholder value analysis yang
mengasumsikan perubahan yang relatif tenang dalam beberapa elemen arus kas dari satu
tahun ke tahun berikutnya karena elemen-elemen tersebut terkait dengan tingkat penjualan.
Berikut ini adalah figur yang menjelaskan tujuh faktor yang menentukan nilai.
Tingkat pertumbuhan penjualan
Marjin laba operasi
tariff pajak
Investasi aset tetap
Investasi modal kerja
Periode perencanaan
Tingkat pengembalian yang diharapkan

Dalam mengestimasi arus kas di masa depan, Rappaport mengasumsikan tingkat


pertumbuhan penjualan yang konstan adalah:
1. Marjin laba operasi yang konstan.
2. Keuntungan dalam model ini adalah keuntungan sebelum beban bunga dan pajak.
3. Tarif pajak adalah persentase dari laba operasi dan diasumsikan kontan.
4. Aset tetap dan modal kerja nilainya terkait dengan kenaikan pada penjualan.
Contoh: Jika penjualan tahun ini sebesar SI.900.000 dan diharapkan akan bertumbuh sebesar
12% per tahun, marjin laba operasi sebesar 9%, tarif pajak 31%, kenaikan pada aset tetap
adalah 1496 dari peru-bahan penjualan, dan kenaikan modal kerja sebesar 10% dari kenaikan
penjualan maka arus kas tahun depan adalah:
Penjualan tahun depan
Penjualan tahun ini x (1 + pertumbuhan) - 1.000.000 x 1,12
1.120.000
Laba operasi
Penjualan x marjin laba operasi
= 1.120.000 x 0,09
100.800
Pajak
Laba operasi x tarif pajak
= 100.800 x 0,31
31.:
Kenaikan pada aset tetap
Kenaikan penjualan x kenaikan aset tetap = 120.000 x 0,14
16.800
Kenaikan pada modal .kerja
Kenaikan penjualan x kenaikan modal kerja = 120.000 x 0,1
Operating free cash flow
12.000 40.752
Menggunakan Analisis Nilai Pemegang Saham [Link] Meniiai Ferusahaan Secara
Keseluruhan.
Nilai perusahan adalah penjumlahan antara utang dan ekuitas.
Komponen utang dalam perhitungan nilai perusahaan adalah nilai pasar dari utang jangka
panjang ditambah dengan nilai pasar dari saham preferen.
& Rappaports corporate value:
Nilai sekarang
dari arus
kas operasi
dalam periode
perencajiaan

Nilai sekarang
dari arus
kas operasi
setelah periode
perencanaan
Nilai saat ini sekuritas yang
diperdagangkan dan investasi
jangka panjang
•-•--•< -- -
Ikatan Akuntan Indonesia

2.3 Economic Profit


Laba ekonomi (juga sering disebut dengan residual income) memiliki keuntungan
dibandingkan dengan analisis nilai pemegang saham karena laba ekonomi menggunakan
sistem pelaporan akuntansi perusahaan yang terfokus kepada keuntungan bukan arus kas
Manajer lebih mudah memahami dan menerima angka laba dibandingkan dengan informasi
arus kas.
Laba ekonomi; adalah total pendapatan perusahaan dikurangi biaya ekonomi perusahaan.
Termasuk dalam biaya ekonomi adalah biaya eksplisit dan biaya implicit.
Biaya eksplisit adalah pengeluaran aktual perusahaan kepada pihak yang lain sebagai imbalan
atas sumber daya yang digunakan untuk kegiatan perusahaan.
Biaya implisit adalah opportunity cost yang muncul karena aset perusahaan tidak digunakan
untuk penggunaan terbaiknya. Tidak ada arus kas keluar dari perusahaan atas biaya implisit. ;
Contoh:
PT ABC memperoleh proyek yang akan menghasilkan laba bersih (accounting profit) sebesar
Rp 50 miliar. Proyek tersebut akan berlangsung selama 1 tahun. Proyek tersebut
menggunakan pabrik yang dapat disewakan kepada pihak ketiga dan memberikan pendapatan
sewa sebesar Rp20 miliar.
Biaya implisit dalam contoh ini adalah pendapatan sewa yang seharusnya dapat diterima jika
perusahaan tidak menggunakan bangunan tersebut untuk mengerjakan proyek yang diterima.
Laba akuntansi = Rp50 miliar
Laba ekonomi = Rp50 miliar - Rp20 miliar
Laba ekonomi = Rp30 miliar
2.3.1 Pendekatan Entitas dalam Menghitung Laba Ekonomi.
Laba ekonomi =
/ Laba operas!
sebelum bunga \ dan setelah \ pajak
\
investasi x WACC
\
Contoh:
PT ABC memiliki Weighted Average Cost Of Capital (WACC) sebesar 12% dan memiliki
total aset sebesar $1.000.000. Laba operasi sebelum bunga dan setelah pajak adalah $180.000
setahun. Berapakah laba ekonomi PT ABC?
Laba ekonomi PT ABC = $180.000 - (12% x $1.000.000)
= $60.000.

2.3.2 Manfaat Laba Ekonomi


Fokus kepada laba ekonomi bukan kepada laba yang dihasilkan oleh sistem akuntansi
memiliki keunggulan karena manajemen harus benar-benar mengamati nilai investasi
perusahaan secara hati-ha-ti. Laba akuntansi yang besar tidak selalu menghasilkan laba
ekonomi yang positif apabila perusahaan berinvestasi pada aset yang tidak meningkatkan
penjualan perusahaan.
Fokus kepada laba ekonomi telah membantu manajemen dalam mengurangi aset-aset yang
tidak produktif seperti nilai bahan baku yang terlalu tinggi atau aset tetap yang menganggur.
1. Laba ekonomi dapat digunakan untuk mengevaluasi opsi stratejik yang menghasilkan
tingkat pengembalian untuk sejumlah periode tertentu.
2. Laba ekonomi memiliki kelebihan dibandingkan dengan analisis nilai pemegang saham
karena laba ekonomi dapat digunakan untuk melihat kinerja perusahaan relatif terhadap aset
yang digunakan setiap tahunnya.
2.3.3 Kesulitan dengan Laba Ekonomi
1. Laporan posisi keuangan tidak mencerminkan modal yang diinvestasikan perusahaan
(invested capital^)
a. Laporan posisi keuangan tidak melaporkan aset pada nilai sekarang dari arus kas yang
dihasilkan oleh aset tersebut di masa depan.
b. Aset dalam posisi keuangan dilaporkan pada harga perolehannya dikurangi dengan
penyusutan dan amortisasi.
c. Laporan posisi keuangan biasanya menilai aset lebih rendah dibandingkan dengan nilai
wajarnya sehingga laba ekonomi menjadi lebih tinggi, dari kondisi yang sebenarnya.
2. Adanya tindakan manipulasi
Laporan keuangan berisikan angka-angka yang sudah dimanipulasi untuk mencapai target
keuntungan yang telah ditetapkan sebelumnya {earning management dan creative
accounting}. Perusahaan dapat saja memperoleh angka laba ekonomi yang positif dan angka
NPV negatif secara bersamaan. Laba ekonomi yang digunakan sebagai alat untuk
mengevaluasi kinerja manajemen dapat membuat manajemen terfokus kepada laba ekonomi
yang tinggi pada jangka pendek meskipun dalam jangka panjang proyek-proyek yang
dijalankan perusahaan memiliki angka NPV yang negatif.
3. Kesulitan dalam mengalokasikan pendapatan, biaya, dan modal ke unit bisnis, produk, atau
pelanggan.

2.4 Economic Value Added


Salah satu alat untuk mengevaluasi kinerja perusahaan atau divisi adalah Economic Value
Added (EVA)/EVA adalah laba operasi setelah pajak dikurangi dengan total biaya modal (cost
of capital) tahunan, Jika EVA lebih besar dari nol berarti perusahaan telah menciptakan nilai
atau kekayaan untuk pemegang saham, sebaliknya jika EVA negatif perusahaan merusak
nilai perusahaan.
Berikut adalah Formula EVA:
Laba operasi x (1 - tarif pajak) - (Weighted Average Cost of Capital x (total aset -
liabilitas lancar)
Contoh:
Berikut ini adalah data-data untuk menghitung EVA PT EFG untuk tahun 2012.
Laba operasi Total Aset Liabilitas WACC Tarif Pajak
Lancar
Rp 150 milyar Rp 1 trilyun Rp 200 milyar 12% 25%
EVA - Laba operasi x (1 tarif pajak) - (Weighted Average Cost Of Capital x (total aset -
liabilitas lancar)
EVA = Rpl6.5 milyar.
EVA PT EFG di tahun 2012 lebih besar dari nol sehingga perusahaan mampu menciptakan
kekayaan
untuk pemegang sahamnya.
2.5 Cash Flow Return On Investment (CFROI)
CFROI memperlihatkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas yang
berkelanjutan dibandingkan dengan kas yang diinvestasikan di perusahaan), Selisih antara
CFROI dengan biaya modal (cost of capital) merefleksikan potensi penciptaan nilai
perusahaan (semakin tinggi selisihnya, semakin tinggi potensinya). Perubahan dalam CFROI
setiap tahunnya dapat digunakan sebagai indikator kinerja perusahaan.
Formula CFROI adalah sebagai berikut:
Laba operasi x (1 - tarif pajak) + beban penyusutan + beban noncash lainnya Modal
yang diinvestasikan

Anda mungkin juga menyukai