0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
313 tayangan20 halaman

"Fury: Malam Pertama yang Menggoda"

Cerita ini menceritakan tentang Jongin yang membeli seorang fury bernama Kyungsoo dari seorang ilmuwan. Kyungsoo memiliki sifat yang polos dan penasaran, yang membuat Jongin tertarik padanya. Di dapur rumah Jongin, Jongin menyentuh ekor Kyungsoo dan menimbulkan reaksi yang mengundang nafsu dari keduanya.

Diunggah oleh

Siti Rofikoh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
313 tayangan20 halaman

"Fury: Malam Pertama yang Menggoda"

Cerita ini menceritakan tentang Jongin yang membeli seorang fury bernama Kyungsoo dari seorang ilmuwan. Kyungsoo memiliki sifat yang polos dan penasaran, yang membuat Jongin tertarik padanya. Di dapur rumah Jongin, Jongin menyentuh ekor Kyungsoo dan menimbulkan reaksi yang mengundang nafsu dari keduanya.

Diunggah oleh

Siti Rofikoh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Chapter 1: First Night

Tittle :

"Fury"

Cast :

Do Kyungsoo

Kim Jongin

Type : Chaptered

Genre : Romance, drama, sci-fi

Rating : M

Alert : Smut, Lime, NC (No Children), GS (Gender Switch), Kyungsoo!Girl, Boy!Jongin, Hybrid!AU

.
.

"Bagaimana ? Kau suka ?"

Jongin menyeringai lebar saat mengamati gadis yang sekarang duduk di hadapannya. Seringaiannya kian
lebar begitu melihat gadis itu telanjang. Jongin sudah biasa mengonsumsi majalah porno dan film biru,
tapi, belum pernah ia menemukan gadis yang seperti itu.

Gadis berekor kelelawar itu punya wajah super imut. Alis tebal dan pipi tembamnya jadi nilai plus.
Apalagi matanya. Jongin benar-benar jatuh pada mata gadis itu. Matanya memancarkan kepolosan yang
begitu kuat, dan di saat yang bersamaan, mengantarkan gelombang panas bagi siapapun yang
ditatapnya. Gadis itu polos sekaligus sexy.

Tipe ideal Jongin langsung berubah begitu melihat barang yang ditawarkan padanya.

"Suka. Sangat suka," jawab Jongin atas pertanyaan laki-laki berkumis tebal yang sekarang duduk di
sebelahnya.

"Asal kau tahu, dia fury terbaikku," laki-laki berkumis tebal itu mencoba mengkonfrontasi.

"Benarkah ?"

Jongin benar-benar tidak sabar.

"Apa kau yakin dia pemuas nafsu nomor satu ?" pertanyaan Jongin membuat laki-laki berkumis tebal itu
tertawa.
"Tentu saja," laki-laki itu berdiri. "Lihat ini."

Jongin mengamati baik-baik ketika laki-laki berkumis tebal itu berpindah tempat. Fury itu kelihatan panik
dan ketakutan. Jongin jadi bertanya-tanya apakah laki-laki itu menggunakan kekerasan untuk
'menjinakkan' gadis itu.

Jongin membulatkan matanya saat Kevin, laki-laki berkumis tebal itu, menarik paksa ekor kelelawar
gadis itu. Secara mengejutkan, gurat wajah gadis itu berubah seratus delapan puluh derajat. Wajahnya
memerah, mulutnya terbuka, dan matanya terpejam. Tubuhnya menggeliat tak nyaman. Gadis itu
kelihatan menahan sesuatu. Sesuatu seperti.. nafsu ? Jongin makin yakin gadis itu sedang terangsang
saat mendengar suara lenguhan dan desahan pelan dari bibir tebalnya.

"Grab her tail, she will obey anything you order," jelas Kevin.

"Benarkah ?" Jongin masih kelihatan terkejut.

"Yes," Kevin melepaskan ekor gadis itu. "Anything."

Jongin menyeringai lebar.

"Aku ambil. Siapa namanya ?" Jongin mendekati calon fury pribadinya.

"Kyungsoo. Namanya Kyungsoo."

.
.

Jongin senang bukan main saat dalam perjalanan pulang. Setelah melakukan deal dengan ilmuwan
sinting yang dikenalnya melalui dark cyber market, Jongin membawa pulang fury-nya yang sekarang
sedang tertidur di jok belakang mobilnya dalam keadaan telanjang.

Jongin tak pernah tahu kalau tokoh mitos dalam anime-anime yang ditotonnya benar nyata. Fury adalah
iblis yang menggunakan keindahan tubuhnya untuk mengalihkan perhatian musuh. Dan Jongin suka
tubuh indah.

Jongin agak kurang yakin saat Kevin membuat fury. Tapi, setelah bertemu langsung dan melihat hasil
kerja ilmuwan itu, Jongin sangat puas.

"Kita sudah sampai," ucap Jongin saat mobilnya berhenti di depan rumahnya.

Kyungsoo masih tak bergerak. Matanya masih terpejam. Dengan jahil, Jongin mencoba apa yang
diajarkan Kevin beberapa jam lalu. Jongin meraih ekor dengan ujung anak panah milik Kyungsoo, dan
tidak butuh waktu lama, Kyungsoo mulai berekasi.

Kyungsoo menggeliat tak nyaman. Wajahnya mulai memerah. Rintihan putus asa mengalun merdu dari
bibir tebalnya. Tapi, matanya tak kunjung terbuka. Mungkin Kyungsoo terlalu lelah, hingga tak sanggup
meladeni rangsangan yang diterimanya.

"Kyungsoo-ya," Jongin menaik turunkan tangannya di ekor Kyungsoo. "Kau tidak mendengarku ?"
"Mhh~, ya," Kyungsoo membuka matanya perlahan dan Jongin bisa melihat kilatan nafsu yang begitu
besar. "Saya mendengarkan, Tuan."

Jongin tertawa.

"Jangan bicara formal," Jongin melepaskan ekor Kyungsoo. "Panggil aku Jongin."

"Iya," Kyungsoo merubah posisinya jadi duduk. Pipinya masih merah dan Jongin benar-benar jatuh pada
kepolosan Kyungsoo. "Jongin."

"Ayo masuk. Pakai ini," Jongin melepas sweater-nya untuk menutupi tubuh telanjang Kyungsoo.

"Ini rumahmu ?" tanya Kyungsoo sambil melihat keluar jendela mobil. Ekor kelelawarnya bergerak-gerak
tanda penasaran.

"Ya. Kenapa ?" Jongin memberikan sweater-nya pada Kyungsoo.

"Besar sekali."

Jongin terkekeh, senang karena menemukan hal lain dari fury ini. Kyungsoo apa adanya. Lagi-lagi Jongin
merubah tipe idelanya karena Kyungsoo.

"Yang penting cukup untuk kita berdua. Cepat pakai sweater-nya. You gonna catch cold if you weren't,"
ucap Jongin sambil membuka pintu mobil.
Jongin berjalan diikuti Kyungsoo. Lagi-lagi Jongin tersenyum begitu menyadari gadis fury itu hanya
memakai sweater-nya yang kebesaran. Kyungsoo terlalu menggemaskan. Entah untuk keberapa kalinya
Jongin merubah tipe idealnya dari cewek hot ke menggemaskan.

"Kamarku ada di lantai dua," ucap Jongin sambil menutup pintu setelah membiarkan Kyungsoo masuk.

"Kalau aku boleh bertanya.. aku tidur di mana ?" tanya Kyungsoo ragu-ragu.

"Tentu saja denganku," jawab Jongin santai.

Kyungsoo tak menjawab, tapi Jongin bisa melihat bagaimana kepala gadis itu menunduk dan pipi
putihnya ditaburi bubuk merah.

"Baiklah," Jongin mengangkat tangan. "Sebenarnya ada kamar lain di lantai satu. Hanya saja masih
kotor. Beri aku waktu untuk membersihkannya besok pagi. Kau bisa tidur denganku malam ini."

Kyungsoo mengangguk, lalu memunggungi Jongin. Gadis berekor kelelawar itu berjalan mengelilingi
ruang tamu rumah Jongin sambil sesekali berhenti, mengamati foto-foto yang tertempel di dinding
rumah Jongin.

Bibir Jongin melengkung ke atas saat mengamati gerak-gerik Kyungsoo. Hal lain yang Jongin sukai dari
Kyungsoo adalah rambut hitam ikalnya. Panjangnya sepinggang dan begitu cocok dengan tubuh kurus
Kyungsoo.

Jongin memijat pelipisnya sambil tersenyum. Jongin rasa, ia mulai gila. Jongin membeli seekor fury dari
ilmuwan sinting di internet untuk memuaskan nafsunya yang selalu membludak kapan saja. Seharusnya
sekarang Jongin sudah membuat Kyungsoo mengangkang di bawahnya dan mendesah hebat, bukan
malah mengamati tingkah polos gadis itu.

Jongin tahu lama-lama ia bisa gila.


"Woah," Kyungsoo kembali bersuara saat berdiri di depan pintu masuk dapur rumah Jongin.

"Ada apa ?" sedikit penasaran dengan apa yang membuat Kyungsoo bereaksi, Jongin mendekati pintu
masuk dapur.

"You had an amazing kitchen set!" ucap Kyungsoo sambil bertepuk tangan. "Ya ampun."

Lagi-lagi Jongin terkekeh karena tingkah Kyungsoo.

"Aku ingin melihat-lihat. Boleh ?" tanya Kyungsoo sambil tersenyum lebar.

Dada Jongin menghangat saat melihat bibir Kyungsoo yang membentuk hati ketika tersenyum. Gadis ini
membuat Jongin agak lupa cara bernafas.

"Tentu," Jongin mendorong bahu Kyungsoo pelan. "Tentu saja."

"Terima kasih."

Kyungsoo masuk ke dapur dan mulai melhat-lihat. Yang paling menarik perhatian Kyungsoo adalah
kompor elektrik dan cerobong yang berada di tengah dapur Jongin. Satu set penggorengan juga. Satu set
piring putih juga. Oh, Kyungsoo suka seluruh isi dapur Jongin.

"Kau suka memasak ?" tanya Jongin sambil menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu dapur.

"Ya," Kyungsoo berhenti bergerak. "Dulu."


Jongin bisa melihat bagaimana ekor Kyungsoo bergerak turun. Mungkinkah Kyungsoo punya kenangan
buruk soal masak ?

"Kau bisa masak sepuasnya di sini," Jongin berusaha menebus kesalahannya karena menyinggung topik
sensitif. "Aku tidak keberatan."

"Terima kasih," Kyungsoo mengangkat wajahnya, lalu tersenyum pada Jongin. "Apa kau punya susu ?
Yoghurt ?"

"Di kulkas," timpal Jongin.

Kyungsoo membuka pintu kulkas dan mulai mencari apa yang diinginkannya. Ekornya bergerak-gerak
senang dan demi apapun, Jongin belum pernah melihat sesuatu yang lebih menggairahkan dari
Kyungsoo dengan ekor kelelawarnya sedang menungging di depan kulkas.

Paha mulusnya terekspos bebas. Kulit putihnya terlihat sangat kontras dengan sweater biru tua milik
Jongin, yang sedang membungkus, ehm, pantat bulat milik Kyungsoo. Jongin bisa merasakan sesuatu di
antara pahanya mulai mengeras.

Setan di tubuh Jongin kembali.

"Aku rasa kau sudah kehabisan stok," ucap Kyungsoo. Suaranya teredam suara mesin kulkas.

"Benarkah ?" Jongin berjalan mendekati Kyungsoo yang masih menungging, seolah menggoda Jongin
dengan ekornya.

"Iya. Aku tidak menemukan susu ataupun yo-ahhh!~"


Kyungsoo mendesah saat secara tiba-tiba Jongin menggenggam ekornya. Lutut Kyungsoo melemas dan
tubuhnya ambruk ke bawah.

"Ini salahku. Aku lupa membeli susu lagi," ucap Jongin sambil merendahkan tubuhnya agar sejajar
dengan Kyungsoo. "Tapi aku bisa membelikanmu besok, kalau kau mau."

Kyungsoo tak menjawab. Tubuhnya lemas bukan main. Sentuhan Jongin di ekor sensitifnya begitu
nikmat. Seluruh darah di tubuh Kyungsoo seolah berpacu ke kelaminnya. Kyungsoo hampir menangis
karenanya.

"Ngomong-ngomong, aku juga ingin susu darimu," gurat wajah Jongin sudah berubah seratus delapan
puluh derajat. Kilatan nafsu tergambar jelas di matanya. Jongin yang biasanya sudah kembali.

"Jongin-" Kyungsoo bersusah payah untuk bicara. "Aku-ngghhh!"

Jongin mengurut ekor Kyungsoo secara perlahan dan gadis fury itu mulai kehilangan kendali. Tubuhnya
panas dan sesuatu di dalam tubuhnya butuh dipuaskan.

"Jongin-mmhh, ku mohon," Kyungsoo kedengaran frustasi.

"Apa ?" Jongin berusaha memancing Kyungsoo.

"Aku-," Kyungsoo meremas pinggiran kabin kulkas. "Aku membutuhkanmu."

Jongin menyeringai.

"Cari sendiri kebutuhanmu."


Jadi, Kyungsoo berbalik dan mendorong Jongin, hingga punggung laki-laki tampan berkulit gelap itu
bertemu dengan kaki meja kompor elektrik.

Dengan kesetanan Kyungsoo mencium bibir Jongin, memaksa lidahnya masuk dan berusaha
memenangkan 'pertempuran'. Tangan Kyungsoo bergerak liar, mengelus dada Jongin secara acak.
Ditambah tangan Jongin yang masih setia mengurut ekornya, Kyungsoo benar-benar hilang kendali.

Jongin tersenyum di antara ciuman mereka. Benar kata Kevin, Kyungsoo will obey anything.

"Ke kamar," ucap Jongin sambil melepas ciuman mereka.

Jongin menggendong Kyungsoo menuju lantai dua, menuju kamarnya. Fantasi liar Jongin mulai
mengembara saat menaiki tangga. Jongin membayangkan gaya apa saja yang bakal dipakainya nanti,
atau dimana saja ia bakal bercinta, atau dimana letak sweet-spot Kyungsoo. Jongin sudah tidak sabar.

Kyungsoo sendiri masih jadi peliharaan yang taat pada tuannya. Kyungsoo masih asyik dengan bibir tebal
Jongin yang begitu menyenangkan saat bertemu dengan bibir tebalnya sendiri. Tubuhnya panas bukan
main dan Kyungsoo tahu betul bagian kewanitaannya sudah basah.

Setelah menutup pintu, Jongin menurunkan Kyungsoo dan mendorongnya ke dinding. Jongin mulai
membalas ciuman Kyungsoo dan dalam hitungan detik, Jongin sudah mengambil kepemimpinan. Bahkan
Kyungsoo yang memulai ciuman ini mulai kewalahan.

Bulu kuduk Kyungsoo meremang saat tangan kiri Jongin mulai merambat turun menuju pinggangnya,
lalu tanpa ragu merayap ke belakang dan meremas pantat bulat Kyungsoo.

Kyungsoo terkejut. Kakinya bergerak tak nyaman dan tanpa sengaja, paha kiri Kyungsoo menyentuh
selangkangan Jongin, membuat sesuatu yang bersarang di sana semakin gila. Jongin terdiam, begitu juga
Kyungsoo.
"Mulai menggodaku ?" bisik Jongin dengan suara berat disertai seringaiannya.

"T-tidak," Kyungsoo menyadari kesalahannya. Buru-buru Kyungsoo menurunkan tangannya yang


melingkar dengan manis di leher Jongin.

"Kau tahu," Jongin kembali menyentuh ekor Kyungsoo. Tidak usah ditanya lagi bagaimana reaksi gadis
itu. "Kalau sudah mulai, aku susah berhenti."

Jongin menarik Kyungsoo dan mendorong tubuh gadis yang lebih pendek darinya itu ke kasur. Jongin
melepas pakaiannya terburu-buru. Beberapa kali ia mengumpat kasar karena sabuknya begitu sulit di
lepas, sedangkan Kyungsoo hanya bisa terbaring di kasur karena lemas bukan main. Nafas dan
tenaganya habis karena balasan ciuman Jongin.

Kyungsoo memekik saat lagi-lagi Jongin menggenggam ekornya.

"Kau ingin berhenti ?" tanya Jongin sambil meremas ekor Kyungsoo.

"J-jongin-ahhh," Kyungsoo tak kuasa menjawab.

"Apa, sayang ?" Jongin mulai menciumi tengkuk Kyungsoo dari belakang.

"Jangan berhenti," pinta Kyungsoo sambil meremas seprai kasur Kyungsoo.

"Tentu saja."

Jongin melepas ekor Kyungsoo, lalu mengangkat Kyungsoo pada pangkuannya.


"Kau tahu, aku terbiasa dengan dada besar," ucap Jongin sambil mengelus payudara Kyungsoo dari luar
sweater-nya.

Kyungsoo menunduk dalam.

"Dan punyamu lumayan," Jongin mulai meremas payudara Kyungsoo dan gadis itu merintih keenakan
sambil memejamkan matanya.

Kyungsoo kembali memekik saat Jongin menariknya untuk berbaring. Kyungsoo bisa merasakan Jongin
mulai menggesekkan kejantanannya pada milik Kyungsoo yang juga tak tertutupi apapun. Baik Kyungsoo
dan Jongin sama-sama memajamkan mata karena keenakan.

"Aku ingin kau memakan penisku," Jongin mulai berbicara kotor. "Sekarang."

Kyungsoo agak ragu, tapi, setelah Jongin kembali meremas ekornya, Kyungsoo menuruti perintah laki-
laki berkulit gelap itu.

Kyungsoo mengangkat tubuhnya, lalu berbalik menghadap kejantanan Jongin yang lumayan besar dan,
ehm, belum terlalu bangun. Kyungsoo menelan ludahnya kasar begitu menyadari kalau Jongin bisa saja
seorang penggemar seks kelas kakap.

Tangan Kyungsoo bergerak menyentuh batang kemaluan Jongin yang langsung bereaksi. Kyungsoo mulai
menaik turunkan tangannya pada kemaluan Jongin dengan tempo pelan. Jongin mulai melenguh-lenguh
nikmat dan membuat Kyungsoo terdorong untuk mengocok lebih cepat.

Kyungsoo hampir menjerit saat merasakan sesuatu yang basah menempel di kewanitaannya secara tiba-
tiba. Ditambah lagi, benda itu bergerak-gerak di antara celah kewanitaannya, mengirimkan rangsangan
menyenangkan ke seluruh tubuh Kyungsoo. Lidah Jongin bekerja dengan baik.
Kyungsoo benar-benar menjerit saat Jongin mulai melibatkan bibirnya untuk menggarap kewanitaannya.
Jongin begitu lihai, apalagi dalam memainkan klitoris. Kyungsoo mendesah penuh ekstasi dan tak
sanggup harus menggambarkannya seperti apalagi. Jadi, Kyungsoo memilih untuk menyumpal mulutnya
sendiri dengan, ehm, batang kemaluan Jongin.

Kyungsoo bisa merasakan tubuh Jongin menegang begitu kemaluannya masuk ke dalam mulut
Kyungsoo. Reaksinya begitu cepat sampai Jongin secara tidak sengaja menggigit klitoris Kyungsoo. Lagi-
lagi Kyungsoo mendesah keras karena kenikmatan yang diberi Jongin. Dan untungnya, kelamin Jongin
masih jadi peredam suara yang baik.

Tenggorokan Kyungsoo yang bergetar lagi-lagi memberi dampak langsung untuk kelamin Jongin. Dan
laki-laki penggemar seks itu kembali menggigit klitoris Kyungsoo.

Terus seperti itu sampai Kyungsoo dan Jongin mengeluarkan cairan mereka.

"Mhhh, Jongin. Sudah," Kyungsoo mengangkat tubuhnya, namun, Jongin masih asyik memuluti
kewanitaan Kyungsoo. "Ahhhn~"

Jongin berhenti memuluti kewanitaan Kyungsoo, lalu mendorong gadis itu untuk berbaring. Jongin
merendahkan tubuhnya dan menarik paksa sweater yang Kyungsoo kenakan ke bawah, melewati bahu
Kyungsoo hingga payudara bulat itu melompat keluar dari sarangnya.

Jongin mengamati payudara Kyungsoo dengan tatapan tak terbaca. Kyungsoo yang mulai tak sabar
(Jongin masih menggenggam ekornya sejak tadi membuat Kyungsoo hilang kendali) berniat menggoda
Jongin. Jadi, Kyungsoo mulai meremas payudaranya sendiri sambil memasang wajah keenakan.

"Kau-ngghhh-tak ingin mencobanya ?" tanya Kyungsoo susah payah.

"Tentu saja," Jongin menyingkirkan tangan Kyungsoo. "Ini milikku."


Jongin menciumi payudara kiri Kyungsoo sementara tangannya meremas payudara kanan. Kyungsoo
mendesah keras karena tangan Jongin meremas dada Kyungsoo sambil menggenggam ekornya.
Sensasinya luar biasa saat dadanya diremas, ekornya juga, dan dada juga ekornya bergesekkan. Jongin
terlampau ahli.

Jongin juga meninggalkan banyak tanda di dada dan leher Kyungsoo, menunjukkan kalau Kyungsoo
mutlak miliknya.

"Aku tak tahan lagi," ucap Jongin sambil melepaskan kulumannya pada dada Kyungsoo.

Kyungsoo hanya bisa pasrah saat Jongin melebarkan pahanya dan mulai menggesekkan kelamin mereka.
Kyungsoo menggeram sambil meremas seprai Jongin yang sudah benar-benar berantakkan.

"Aku masuk."

Jongin mulai mendorong kelaminnya yang besar-keras-panjang. Kyungsoo mengerutkan dahinya karena
sakit luar biasa yang mendera kewanitaannya. Tubuhnya serasa terbelah dua. Tapi, tangan Jongin yang
masih setia mengurut ekor Kyungsoo mengirimkan rangsangan nikmat. Kyungsoo jadi bingung
membedakannya.

Jongin menggeram saat kelaminnya sudah masuk secara keseluruhan. Kyungsoo menjepitnya dengan
kuat dan Jongin hampir gila. Jongin bisa merasakan lututnya melemas dan ia bisa klimaks dalam sekali
genjot.

Dari sekian banyak wanita yang pernah ditidurinya, Jongin belum pernah seperti ini. Jongin selalu bisa
membuat dirinya terlihat berwibawa dan jantan. Jongin belum pernah dibuat lemas hanya karena
'jepitan pertama'. Kyungsoo benar-benar hebat.

"Kau perawan ?" tanya Jongin saat melihat darah mulai menetes dari kewanitaan Kyungsoo.
"Iya," jawab Kyungsoo pelan sambil memejamkan mata.

Jongin mencelos. Jongin kira Kyungsoo seorang pro, atau paling tidak Kevin pernah menidurinya. Selain
Kyungsoo adalah fury terbaik milik Kevin, Kyungsoo juga terlihat ketakutan saat melihat orang yang
menciptakannya. Jongin kira Kevin sudah membobol Kyungsoo secara gila-gilaan. Ternyata Jongin salah
tangkap.

Jongin jadi bertanya-tanya, bagaimana bisa Kevin tidak terangsang saat menggenggam ekor Kyungsoo
dan melihat ekspresi bernafsu gadis itu ?

Sedangkan Kyungsoo mulai bingung karena Jongin masih belum melakukan apapun. Cowok bermabut
cokelat gelap itu kelihatan sedang berfikir keras. Jadi, Kyungsoo mengambil inisiatif untuk menggerakan
pinggulnya dan mencari kenikmatan sendiri.

"Hei, kau menggodaku," ucap Jongin sambil terkekeh.

"Tidak, mhhh," Kyungsoo menautkan alisnya, terlihat sedang meresapi seberapa besar Jongin. "Kau
malah asyik sendiri."

"Maafkan aku," Jongin melumat bibir Kyungsoo singkat. "Aku akan meneruskan."

Jongin mulai menggerakkan pinggulnya naik turun, berlainan arah dengan gerakan Kyungsoo. Jongin
menggeram puas karena Kyungsoo terus menjepit kejantanannya, sementara Kyungsoo sudah benar-
benar tidak bisa mengendalikan desahan dari bibir berbentuk hatinya.

"Ahhhh, Jongin, mmhhh," Kyungsoo meremas lengan Jongin karena keenakan.

"Ap-ha, sayang ?" Jongin berusaha menanggapi.


Kyungsoo melingkarkan lengannya di leher Jongin, lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Jongin.

"Bergeraklah lebih cepat," bisik Kyungsoo dengan suara seraknya.

Dan demi apapun, Jongin belum pernah mendengar suara yang lebih sexy dari suara Kyungsoo.

Jongin mulai meningkatkan kecepatan genjotannya sementara Kyungsoo mendesah lebih keras. Apalagi
setelah Jongin menusuknya di beberapa tempat berbeda dan menemukan sweet-spot-nya, suara
Kyungsoo hampir habis.

"Di sana, Jongin!" Kyungsoo memejamkan matanya saat Jongin menumbuk sweet-spot-nya dengan
brutal.

"Ouh, yeah," Jongin mendongak keenakan karena Kyungsoo menjepitnya kian keras.

"Terus!"

Jongin makin menggila. Hentakannya mulai berubah kasar sampai tubuh Kyungsoo tersentak-sentak ke
atas. Kyungsoo yang tak sanggup menerima terlalu banyak menarik leher Jongin dan kembali
mempertemukan bibir tebal mereka, berusaha menyampaikan kalau Jongin bekerja dengan sangat baik.

Jongin menggeram saat dirasa klimaksnya sudah dekat. Kyungsoo juga merasakan hal yang sama. Jadi,
Jongin semakin bergerak dengan gila sementara Kyungsoo mendesah makin keras.

"J-jongin. Aku sampai," bisik Kyungsoo saat klimaksnya hampir datang.

"Aku juga. Mmhh! Kumohon, kita lakukan bersama," suara Jongin terdengar sangat frustasi di antara
gerakannya yang makin liar.
Jongin dan Kyungsoo sama-sama menggila, dan setelah beberapa genjotan dalam, mereka sampai
dibarengi desahan panjang yang memenuhi kamar itu.

Jongin ambruk menindih tubuh Kyungsoo. Sebenarnya Jongin masih sanggup membuat Kyungsoo
mendesah sampai besok pagi. Hanya saja, Jongin mengurungkan niatnya begitu mengingat ini baru kali
pertama Kyungsoo bercinta. Jongin tak ingin menimbulkan trauma pada fury-nya itu.

"Hei," Jongin menepuk pipi Kyungsoo yang sedang memejamkan matanya. "Jangan tidur dulu."

"Maafkan aku, Jongin," Kyungsoo membuka matanya. "Aku-sudah-sangat-lelah."

Kyungsoo memang kelihatan lelah bukan main. Wajahnya yang memerah sempurna dan keringat yang
membasahi seluruh wajahnya mengatakan kalau Kyungsoo butuh istirahat sekarang. Jongin mengernyit
bingung. Mereka hanya satu ronde tapi Kyungsoo kelihatan sangat lelah seolah habis melakukannya
semalaman penuh.

"Kau kelihatan sangat lelah," ucap Jongin sambil melemparkan tubuhnya ke samping Kyungsoo.

"Ya, sangat," timpal Kyungsoo sambil membenarkan letak sweater-nya (sweater yang Jongin pinjamkan
padanya). "Aku ingin tidur."

Kyungsoo kedengaran merengek dan Jongin ingin mencubit pipi gadis itu.

"Bukan," Jongin menyibak poni Kyungsoo. "Kau kelihatan sangat lelah. Kita hanya main satu ronde dan
kau seolah melakukannya semalaman penuh."

Kyungsoo mengamati langit-langit kamar Jongin, lalu memiringkan tubuhnya menghadap si pemilik
kamar.
"Karena kau terus menggenggam ekorku selama kita melakukannya," ucap Kyungsoo dengan mata sayu.

"Maksudmu ?" Jongin tak mengerti.

"Ya. Aku harus bekerja dua kali saat kau menyentuh ekorku. Pertama, mengikuti perintahmu. Kedua,"
Kyungsoo memotong kalimatnya. Pipinya memerah lagi. "-terangsang."

Kyungsoo berdeham.

"Kau memeganginya sepanjang waktu. Jadi aku harus bekerja dua kali sepanjang waktu. Mungkin itu
yang membuatku terlihat lelah," Kyungsoo menatap mata Jongin sebagai penutup penjelasan.

Jongin tak punya ide soal apa yang dijelaskan Kyungsoo. Tapi, ia benar-benar ingin tahu lebih lanjut.

"Apa kau lahir dengan ekormu ?" tanya Jongin.

Kyungsoo menggeleng.

"Tidak."

Jongin tersedak ludahnya sendiri. Jadi, Kyungsoo bukan benar-benar fury dan ekornya bukan ekor asli.
Lalu Kyungsoo itu apa ?

"Aku sama sepertimu," seolah Kyungsoo membaca pikiran Jongin. "Aku juga manusia."

"Lalu, darimana kau mendapatkan ekor itu ?" Jongin makin penasaran.
Kyungsoo diam, kelihatan ragu untuk berkata-kata. Kyungsoo kelihatan takut salah bicara dan membuka
sesuatu yang besar. Tapi, pada akhirnya, Kyungsoo menjawab pertanyaan Jongin.

"Kevin. Dari Dokter Kevin," jawab Kyungsoo.

Suasana berubah ketika Jongin melihat air mulai menggenang di kantung mata Kyungsoo. Jongin benar-
benar tidak tega untuk meminta penjelasan lebih lanjut. Tapi, rasa penasarannya begitu tinggi sampai
Jongin tidak bisa menahannya lagi. Jongin butuh jawaban sekarang.

"Dia menculikmu ?"

Kyungsoo mengangguk.

"Apa saja yang dilakukannya padamu ?"

Mendadak Jongin merasa kasihan pada Kyungsoo.

"Aku.. tak terlalu ingat," Kyungsoo membalik tubuhnya memunggungi Jongin. "Aku ingin tidur. Selamat
malam."

Jongin menghela nafas panjang. Ia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk mencari jawaban. Masih ada
besok, besok, dan besoknya lagi. Lagipula, Kyungsoo tak akan kemana-mana. Kyungsoo miliknya
sekarang.

Setelah menarik selimut untuk mereka berdua, Jongin mengecup kepala Kyungsoo.

"Selamat malam. Mimpi indah."


.

TBC

Anda mungkin juga menyukai