0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
126 tayangan57 halaman

Analisis Sifat Karbohidrat dalam Praktikum

Laporan ini membahas hasil praktikum analisis sifat karbohidrat yang meliputi reaksi glukosa, sukrosa, dan amilum dengan berbagai pereaksi kimia untuk mengetahui sifat-sifatnya. Reaksi tersebut diantaranya adalah reaksi glukosa dengan larutan perak amoniak, larutan Fehling, dan larutan Benedict, reaksi sukrosa dengan larutan perak amoniak dan larutan Benedict, serta reaksi amilum dengan larut

Diunggah oleh

Irwan Jhon Domani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
126 tayangan57 halaman

Analisis Sifat Karbohidrat dalam Praktikum

Laporan ini membahas hasil praktikum analisis sifat karbohidrat yang meliputi reaksi glukosa, sukrosa, dan amilum dengan berbagai pereaksi kimia untuk mengetahui sifat-sifatnya. Reaksi tersebut diantaranya adalah reaksi glukosa dengan larutan perak amoniak, larutan Fehling, dan larutan Benedict, reaksi sukrosa dengan larutan perak amoniak dan larutan Benedict, serta reaksi amilum dengan larut

Diunggah oleh

Irwan Jhon Domani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Laporan Praktikum Kamis, 04 April 2019

Kimia Organik Dasar

ANALISIS SIFAT KARBOHDRAT

ZIA ASSYA’ ATUR ROHMA


H041181031

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK DASAR


DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
HASIL PPRAKTIKUM

ANALISIS SIFAT KARBOHDRAT

Disusun dan diajukan oleh

ZIA ASSYA’ ATUR ROHMA


H041181031

Laporan ini telah diperiksa dan disetujui oleh:

Makassar, 04 April 2019

ASISTEN PRAKTIKAN

NABEELA NURVITA ZIA ASSYA’ ATUR ROHMA


NIM : H31114512 NIM : H041181031
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karbohidrat adalah komponen bahan pangan yang tersusun oleh 3 unsur

utama, yaitu karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O). Susunan atom-atom

tersebut dan ikatannya membedakan karbohidrat satu dengan yang lainnya,

sehingga ada karbohidrat yang masuk kelompok struktur sederhana seperti

monosakarida dan disakarida dan dengan struktur kompleks atau polisakarida

seperti pati, glikogen, selulosa dan hemiselulosa (Kusbandari, 2015).

Karbohidrat tersebar luas di dalam tumbuhan dan hewan. Dalam

tumbuhan, glukosa di sintesis dari karbondioksida serta air melalui fotosintesis

dan disimpan sebagai pati atau diubah menjadi selulosa yang merupakan kerangka

tumbuhan. Hewan juga dapat mensintesis sebagaian karbohidrat dari lemak dan

protein, tetapi jumlah terbesar karbohidrat yang terdapat didalam jaringan tubuh

hewan berasal dari tumbuhan (Iswari dan Yuniastuti, 2006).

Analisis kualitatif karbohidrat umumnya didasarkan atas reaksi-reaksi

warna yang dipengaruhi oleh produk-produk hasil penguraian gula dalam

asam-asam kuat dengan berbagai senyawa organik, sifat mereduksi dari gugus

karbonil dan sifat oksidasi dari gugusan hidroksil yang berdekatan. Reaksi dengan

asam-asam kuat seperti asam sulfat, hidroklorat dan fosfat pada karbohidrat

menghasilkan pembentukan produk terurai yang berwarna. Untuk mengetahui

keberadaan karbohidrat dalam suatu senyawa digunakan beberapa uji seperti uji

Molisch, tollens, fehling, benedict, barfoed dan seliwanof (Kusbandari, 2006).

Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan praktikum analisis sifat karbohidrat

berdasarkan reaksi kimia.


1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan

1.2.1 Maksud Percobaan

Maksud dari percobaan ini adalah untuk mempelajari beberapa sifat

golongan karbohidrat berdasarkan reaksi kimia.

1.2.2 Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah:

1. mengetahui reaksi senyawa monosakarida dengan pereaksi perak amoniak,

larutan fehling dan larutan benedict.

2. mengetahui reaksi senyawa disakarida dengan pereaksi perak beramoniak dan

larutan benedict.

3. mengetahui reaksi senyawa amilum dengan pereaksi larutan iodium dan reaksi

hidrolisis amilum.

1.3 Prinsip Percobaan

Prinsip dari percobaan ini yaitu mempelajari karakteristik dan sifat-sifat

karbohidrat dengan cara mereaksikan glukosa dengan larutan perak beramoniak

(campuran larutan AgNO3 dan NH4OH berlebih), larutan Fehling dan larutan

Benedict, mereaksikan sukrosa dengan larutan perak beramoniak dan larutan

Benedict, mereaksikan amilum dengan larutan I2 dan hidrolisis amilum dengan

bantuan HCl pekat dan NaOH serta reaksi-reaksi ini dipercepat dengan melakukan

pemanasan pada reaktan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karbohidrat

Karbohidrat merupakan senyawa karbon, hidrogen dan oksigen yang

terdapat dalam alam. Banyak karbohidrat mempunyai rumus empiris CH 2O,

misalnya rumus molekul glukosa ialah C6H12O6. Karbohidrat sangat

beranekaragam sifatnya. Misalnya, sukrosa (gula pasir) dan kapas, semuanya

adalah karbohidrat. Salah satu perbedaan utama antara berbagai tipe karbohidrat

adalah ukuran molekulnya yang beragam (Fessenden dan Fessenden, 1997).

Karbohidrat didefinisikan secara umum sebagai senyawa dengan rumus

molekul Cn(H2O)n. kata karbohidrat umumnya digunakan dalam pengertiian lebih

terbatas untuk menunjukkan zat yang terdiri atas polihdroksi aldehid dan keton

serta turunannnya (Pine, 1988).

Karbohidrat merupakan sumber kalori utama bagi manusia selain protein

dan lemak. Karbohidrat yang mempunyai rumus empiris (CH2O)n ini juga

mempunyai peranan penting dalam menentukan karakteristik bahan makanan,

misalnya rasa, warna, tekstur dan sebagainya. Sedangkan dalam tubuh,

karbohidrat berguna untuk mencegah timbulnya pemecahan protein tubuh yang

berlebihan, kehilangan mineral dan berguna untuk membantu metabolisme lemak

dan protein (Risnoyatiningsih, 2008).

Karbohidrat hanya mengandung karbon, hidrogen dan oksigen.

Dinamakan karbohidrat karena rasio hydrogen terhadap oksigen adalah 2:1 yang

sama dengan rasio pada air. Kata sakarida berarti gula dan nama gula mempunyai
akhiran -osa. Semua karbohidrat mengandung gugus fungsional hidroksi –OH

yang termasuk kelompok alkohol. Dulu karbohidrat disebut gula alkohol

(James, dkk., 2008).

Karbohidrat merupakan makromolekul yang paling banyak ditemukan

dialam dan banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan yang berwarna hijau melaui

proses yang disebut dengan fotosintesis dengan menggunakan bantuan energi

matahari. Pengubahan energi matahari menjadi energi kimia dalam biomolekul

menjadikan karbohidrat sebagai sumber utama energi metabolit untuk organisme

hidup (Sunarya dan Setiabudi, 2009).

Karbohidrat adalah turunan aldehid atau keton dari alkohol polihidroksi

atau senyawa turunan sebagai hasil hidroksi senyawa kompleks (misal gliko

protein dan gliko lipid). Monosakarida merupakan gula sederhana. Monosakarida

terdapat dalam bentuk rantai terbuka dan bentuk cincin. Pada sel-sel binatang

karbohidrat mempunyai peranan spesifik yang penting misalnya ribosa sebagai

penyusun nukleoprotein sel, galaktosa sebagai penyusun lipid-lipid tertentu dan

laktosa sebagai komponen air susu (Girinda, 1986).

Karbohidrat didalam tubuh memiliki beberapa fungsi sebagai berikut

(Siregar, 2014):

1. sumber energi

Satu gram karbohidrat menghasilkan 4 kalori. Karbohidrat di dalam tubuh

sebagian berada dalam sirkulasi darah sebagai glukosa untuk keperluan energi

segera dan sebagian lagi disimpan sebagai glikogen dalam hati dan otot dan

sebagian diubah menjadi lemak untuk kemudian disimpan sebagai cadangan

energi dalam jaringan lemak.


2. pemberi rasa manis pada makanan.

Karbohidrat memberi rasa manis pada makanan, khususnya monosakarida

dan disakarida. Gula tidak mempunyai rasa manis yang sama. Fruktosa adalah

gula paling manis.

3. penghemat protein

Protein akan digunakan sebagai sumber energi, jika kebutuhan karbohidrat

tidak terpenuhi dan akhirnya fungsi protein sebagai zat pembangun akan

terkalahkan.

4. pengatur metabolisme lemak

Karbohidrat mencegah terjadinya oksidasi lemak yang tidak sempurna.

2.2 Penggolongan Karbohidrat

a. monosakarida

Monosakarida (sering disebut gula sederhana) adalah satuan karbohidrat

yang paling sederhana. Golongan monosakarida tidak dapat terhidrolisis menjadi

molekul karbohidrat yang lebih kecil. Monosakarida mempunyai golongan yang

sangat banyak menurut jumlah atomnya seperti triose, pentose, hexose dan

seterusnya. Monosakarida juga dapat digolongkan berdasarkan gugusan

fungsional utamnya (aldehid atau keton) dan berdasarkan jumlah atom karbon

dalam rantai karbon. untuk suatu monosakarida yang didalamnya mengandung

gugus aldehid disebut aldosa dan yang mengandung gugus keton disebut ketosa

(Ouellette dan Rawn, 1998).

Monosakarida ada tiga jenis monosakarida yang mempunyai arti gizi yaitu

glukosa, fruktosa dan galaktosa. Glukosa dinamakan juga sebagai gula anggur

atau dektrosa, terdapat luas di alam dalam jumlah sedikit yaitu didalam sayur,

buah, sirup jagung, sari pohon dan bersamaan dengan fruktosa dalam madu.
Glukosa merupakan monosakarida yang terpenting, kadang-kadang glukosa

disebut sebagai gula darah (karena dijumpai di dalam darah) (Iswari dan

Yuniastuti, 2006).

b. disakarida

Disakarida merupakan karbohidrat yang jika dihidrolisis menghasilkan

2 molekul monosakarida yang sama atau berlainan, misalnya sukrosa, maltosa,

laktosa dan sellobiosa. Kedua monosakarida bergabung dengan ikatan glikosida

yang terbentuk diantara karbon anomerik dari salah satu monosakarida dengan

gugus hidroksil dari monosakarida lain (Iswari dan Yuniastuti, 2006).

Sukrosa dinamakan juga gula tebu atau gula bit. Gula pasir terdiri atas

99% sukrosa dibuat dari kedua macam bahan makanan tersebut melalui proses

penyulingan dan kristalisasi. Gula merah dibuat dari kelapa, tebu atau enau

melalui proses penyulingan tidak sempurna. Sukrosa juga banyak terdapat

didalam buah, sayuran dan madu. Bila dihidrolisis atau dicernakan, sukrosa pecah

menjadi satu unit glukosa dan fruktosa. Maltosa (gula malt) tidak terdapat bebas

dialam. Maltosa terbentuk pada setiap pemecahan pati. Bila dicernakan atau

dihidrolisis, maltosa pecah menjadi dua unit glukosa (Siregar, 2014).

c. polisakarida

Polisakarida adalah senyawa yang terdiri dari banyak satuan

monosakarida yang disatukan dalam ikatan glukosida. Hidrolisis yang lengkap

akan mengubah suatu senyawa polisakarida menjadi monosakarida tetapi

membutuhkan waktu yang sangat lama dalam proses pembentukannya.

Polisakarida memenuhi tiga maksud dalam kehidupan yaitu sebagai bahan

bangunan, bahan makanan dan sebagai zat spesifik. Dua dari polisakarida yang

paling penting, yaitu pati dan selulosa, mengandung unit-unit yang berhubungan
dari monosakarida yang sama, yaitu glukosa. Dalam polisakarida pemecahan

senyawa dapat dilakukan dengan pemecahan antara amilosa dan amilopektin

(Ouellette dan Rawn, 1998).

Amilosa terdiri dari 20% glukosa dengan rantai yang berkelanjutan

dengan 1,4 glikosida, Sedangkan amilopektin adalah rantai yang bercabang.

Masing-masing molekul boleh berisi 300 sampai 5000 unit glukosa, rantai dengan

berurutan 1,4 dengan rantai rata-rata hanya 25-30 unit. Polisakarida terdapat

banyak dialam, yaitu pada sebagian besar tumbuhan. Amilum atau dalam bahasa

sehari-hari disebut pati terdapat pada umbi, daun, batang dan biji-bijian. Batang

pohon sagu mengandung pati yang setelah dikeluarkan dapat dijadikan bahan

makanan rakyat didaerah Maluku. Umbi yang terdapat pada ubi jalar atau akar

pada ketela pohon atau singkong mengandung pati yang cukup banyak, ketela

pohon selain dapat digunakan sebagai makanan dapat juga sumber karbohidrat

(Mahalle dan Shiris, 2012).

2.3 Uji Benedict

Uji Benedict digunakan untuk mengetahui kandungan gula pereduksi. Uji

Benedict berisi larutan alkali yang mengandung kuprisulfat, natrium karbonat dan

natrium sitrat. Larutan alkali dari tembaga direduksi oleh gula yang mengandung

gugus aldehida atau keton bebas dengan membentuk kupro oksida berwarna.

Larutan Benedict mengandung kupri sulfat, natrium karbonat dan natrium sitrat.

Uji Benedict dilakukan pada suasana basa yang menyebabkan transformasi

isomerik. Pada suasana basa, reduksi ion Cu 2+ dari CuSO4 oleh gula pereduksi

berlangsung cepat dan membentuk Cu2O yang merupakan endapan merah bata.

Pereaksi Benedict terdiri atas larutan Cu2+ dalam suasana basa kuat

(Nurjannah, dkk., 2017).


2.4 Uji Fehling

Pereaksi fehling dapat mereduksi selain karbohidrat yang mempunyai sifat

mereduksi, juga dapat direduksi oleh reduktor lain. Pereaksi fehling terdiri atas

dua larutan, yaitu larutan Fehling A adalah larutan CuSO 4 dalam air, sedangkan

larutan Fehling B adalah larutan garam Knatartrat dan NaOH dalam air. Kedua

macam larutan ini disimpan terpisah dan baru dicampur menjelang digunakan

untuk memeriksa suatu karbohidrat. Dalam pereaksi ion Cu+ + direduksi menjadi

ion Cu+ yang dalam suasana basa akan diendapkan sebagai Cu2O (Poedjiaji, 1994)

2.5 Uji Tollens

Uji tollens merupakan salah satu uji yang digunakan untuk membedakan

antara senyawa aldehid dan keton. Pereaksi tollens dibuat dengan mereksikan

larutan perak nitrat dengan larutan amonium hidroksida secara perlahan sehingga

endapan yang mula-mula terbentuk larut. Aldehid lebih mudah dioksidasi

dibanding keton. Oksidasi aldehid menghasilkan asam dengan jumlah atom

karbon yang sama. Pereaksi tollens yang biasanya digunakan adalah larutan basa

dari perak nitrat, larutan ini jernih dan tidak berwarna. Pereaksi tollens sering

disebut sebagai perak amoniakal, merupakan campuran dari AgNO3 dan amonia

berlebihan. Gugus aktif pada pereaksi tollens adalah AgO2 yang bila tereduksi

akan menghasilkan endapan perak (Febrianti dan sari, 2016).

2.6 Uji Iodium

Pati yang berikatan dengan iodin (I2) akan menghasilkan warna biru. Sifat

ini dapat digunakan untuk menganalisis adanya pati. Hal ini disebabkan oleh

struktur molekul pati yang bentuknya spiral, sehingga akan mengikat molekul

iodin dan terbentuklah warna biru. Percobaan uji iodium ini bertujuan untuk
memisahkan antara polisakarida, monosakarida dan disakarida. Iodium

memberikan warna kompleks dengan polisakarida. Amilum memberikan warna

biru pada iodium sedangkan glikogen dan tepung yang sudah dihidrolisis sebagian

(eritrodekstrin) memberikan warna merah sampai coklat dengan iodium

(Zubaidah, 2013).

Pati terdiri dari campuran amilosa dan amilopektin. Amilosa reaksi dengan

iod, I2 menghasilkan kompleks biru hitam yang tajam, sedangkan amilopektin dan

iod membentuk kompleks merah ungu. Warna ditimbulkan oleh ikatan lemah

diantara molekul pati dan iod. Diperlukan molekul pati yang besar untuk

membentuk kompleks ini. Hasil hidrolisis parsial pada molekul pati antara lain

dekstrin, tidak menjalani reaksi ini (Zubaidah, 2013).

Kondensasi iodin dengan karbohidrat pada uji iodin, monosakarida dapat

menghasilkan warna yang khas (Fassenden dan Fassenden, 1997). Amilum

bereaksi dengan molekul iod karena struktur amilum pada larutan berbentuk

heliks yang berbentuk kumparan sehingga dapat diisi oleh molekul iod

didalamnya. Setelah dilakukan pemanasan, warna larutan menjadi bening . Hal ini

disebabkan karena adanya pemutusan ikatan iod dengan glukosa atau terjadi

penguraian ion (pelepasan iod dari amilum) karena adanya perubahan suhu yang

tinggi. Setelah didinginkan, larutan kembali berwarna biru. Hal ini menunjukkan

bahwa ikatan antara iod dan amilum berupa ikatan semu karena dapat putus saat

dipanaskan dan terbentuk kembali pada saat didinginkan. Apabila dipanaskan

rantai amilum akan memanjang sehingga iod mudah terlepas, ketika didinginkan,

rantai pada amilum akan mengerut sehingga iod kembali terikat dengan amilum.

Percobaan uji iodium ini bertujuan untuk memisahkan antara polisakarida,

monosakarida dan disakarida. (Sari, dkk., 2014).


BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan Percobaan

3.1.1 Alat Percobaan

Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi, rak tabung,

pipet tetes, gelas kimia, kaki tiga, kasa, gegep dan lampu spiritus.

3.1.2 Bahan Percobaan

Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan perak nitrat

(AgNO3) 0,1 M, larutan amonium hidroksida NH4OH 1 M, larutan glukosa 10%,

larutan Fehling A dan B, larutan benedict, larutan sukrosa 10%, larutan amilum

2%, larutan yodium (I2) 0,1 M, HCl pekat, NaOH 10%, HCl pekat dan akuades.

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Monosakarida

a. Reaksi Glukosa dengan Larutan Perak Beramoniak

Tabung reaksi diisi dengan 2 mL larutan AgNO3 0,1 M. Selanjutnya

larutan NH4OH 0,1 M ditambahkan sampai endapan yang terbentuk melarut lagi.

selanjutnya 1 mL larutan glukosa 10% ditambahkan ke dalam tabung reaksi dan

dikocok. Tabung reaksi dipanaskan selama beberapa menit. Perubahan yang

terjadi diamati dan dicatat.

b. Reaksi Glukosa dengan Larutan Fehling

Tabung reaksi diisi dengan 1 mL larutan fehling A dan 1 mL larutan

fehling B kemudian dikocok, 1 mL larutan glukosa 10% ditambahkan dan

dikocok. Selanjutnya dimasukkan kedalam gelas kimia yang berisi air panas

(dipanaskan) selama 1 menit. Perubahan yang terjadi diamati dan dicatat.


c. Uji Benedict

Tabung reaksi diisi dengan 2 mL larutan Benedict. 1 mL larutan glukosa

10% ditambahkan. Kemudian tabung reaksi dimasukkan kedalam gelas kimia

yang berisi air panas (dipanaskan) selama 5 menit. Perubahan yang terjadi diamati

dan dicatat.

3.3.2 Disakarida

a. Reaksi Sukrosa dengan Larutan Perak Beramoniak

Tabung reaksi diisi dengan 2 mL larutan AgNO3 0,1 M. Kemudian

NH4OH ditambahkan sampai endapan yang terbentuk melarut kembali. Sebanyak

1 mL larutan sukrosa 10% ditambahkan dan dikocok. Selanjutnya tabung reaksi

dimasukkan kedalam gelas kimia yang berisi air panas (dipanaskan) selama

beberapa menit. Perubahan yang terjadi diamati dan dicatat.

b. Uji Benedict

Tabung reaksi diisi dengan 2 mL larutan Benedict. Sebanyak 1 mL larutan

sukrosa 10% ditambahkan. Kemudian tabung reaksi dimasukkan kedalam gelas

kimia yang berisi air panas (dipanaskan) selama 5 menit. Perubahan yang terjadi

diamati dan dicatat.

3.3.3 Polisakarida

a. Reaksi Amilum dengan Yodium

Tabung reaksi diisi dengan 3 mL larutan amilum 2%. Kemudian 5 tetes

larutan yodium 0,1 M ditambahkan dan dikocok. Tabung reaksi dipanaskan

selama beberapa menit, kemudian perubahan yang terjadi diamati dan dicatat.

b. Hidrolisisi Amilum

Tabung reaksi diisi dengan 5 mL larutan amilum. Kemudian ditambahkan

sebanyak 10 tetes HCl pekat. Selanjutnya tabung reaksi dipanaskan sampai larutan
mendidih. Beberapa tetes larutan NaOH 10% ditambahkan sampai larutan bersifat

basa. Sebanyak 3 mL larutan diambil dan dimasukkan kedalam tabung reaksi lain.

Selanjutnya larutan benedict ditambahkan. Tabung reaksi dipanaskan diatas air

mendidih selama 5 menit. Perubahan yang terjadi diamati dan dicatat.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Monosakarida

1. Reaksi Glukosa dengan Larutan Perak Beramoniak

Zat-Zat Yang Direaksikan Warna Endapan/Larutan

AgNO3 + Sedikit NH4OH Tidak Berwarna

AgNO3 + Kelebihan NH4OH Sedikit Keruh

AgNO3 + NH4OH + glukosa Hitam Pekat

2. Reaksi Glukosa dengan Larutan Fehling

Zat-Zat Yang Direaksikan Warna Endapan/Larutan

Fehling A + Fehling B Biru/Coklat

Fehling + glukosa Tidak Berwarna

3. Uji Benedict

Zat-Zat Yang Direaksikan Warna Endapan/Larutan

Benedict + glukosa Hitam Pekat

4.1.2 Disakarida

1. Reaksi Sukrosa dengan Larutan Perak Beramoniak

Zat-Zat Yang Direaksikan Warna Endapan/Larutan

Larutan Perak Beramoniak + Sukrosa Hitam Keruh


2. Uji Benedict

Zat-Zat Yang Direaksikan Warna Endapan/Larutan

Benedict + Biru Pekat

4.1.3 Polisakarida

1. Reaksi Amilum dengan Yodium

Zat-Zat Yang Direaksikan Warna Endapan/Larutan

Larutan amilum Tidak Berwarna

Amilum + I2 Biru Tua Pekat

Amilum + I2 + Pemanasan Hijau Tua Pekat

Setelah didinginkan Biru Tua Pekat

2. Hidrolisis Amilum

Zat-Zat Yang Direaksikan Warna Endapan/Larutan

Larutan amilum Tidak Berwarna

Amilum + HCl panas Tidak Berwarna

Amilum + HCl + NaOH Tidak Berwarna

+ Benedict Biru
4.2 Reaksi

Monosakarida

A. Glukosa + Perak Beramoniak

AgNO3 + NH4OH AgOH + NH4NO3

AgOH + 2NH4OH Ag(NH3)2OH + 2H2O

O O

C H C H

H C OH + 2Ag(NH3)2OH H C OH + 2Ag + 4NH3 + H2O

OH C H OH C H

H C H H C H

H C OH H C OH

H C OH H C OH

CH2OH CH2OH

B. Reaksi Glukosa + Fehling

O O

C H C H

H C OH + 2CU2+ + 5OH- + 2H2O H C OH + 2CO2 + H2O

OH C H OH C H

H C H H C H

H C OH H C OH

H C OH H C OH

CH2OH CH2OH
C. Uji Benedict

O O

C H C H

H C OH + 2CU(OH)2 + 2H2O H C OH + 2CO2 + H2O

OH C H OH C H

H C H H C H

H C OH H C OH

H C OH H C OH

CH2OH CH2OH

Diskarida

A. Reaksi Sukrosa + AgNO3

AgNO3 + NH4OH AgOH + NH4NO3

AgOH + 2NH4OH Ag(NH3)2OH + 2H2O

CH2OH

C O OHCH3 CH2OH
H
C
O
C C C OH H C + 2Ag(NH3)2OH C + 2Ag+ 4NH3
OH H
C C
OH C C O

H OH
H OH

B. Uji Benedict
CH2OH

C O CH2OH
H OHCH3
C
O
C
OH H C C OH H C + 2Cu(sitrat)22- C + Cu2O +
4(sitrat)2- + 4H+
O C C
OH C C

H OH
H OH
Polisakarida

A. Amilum + Yodium

CH2OH CH3OH

C O H _H C O H
H
O H
C C C H C
O H O

O O C O I2
C C

H OH H OH

CH2OH CH3OH

C O H H C O H
H
O H
C C C H C
O H O

O O C O I2
C C

H OH H OH

Biru

CH2OH CH3OH

C O H H C O H
H
O H
C C C H C
O H O

O O C O I2
C C

H OH H OH
CH2OH CH3OH

C O H H C O H
H
O H
C C C H C
O H O

O C C O C O I2

H OH H OH

Bening

CH2OH CH3OH

C O H H C O H
H
O H
C C C H C
O H O

O C C O C O I2

H OH H OH

Didinginkan

CH2OH CH3OH

C O H H C O H
H
O H
C C C H C
O H O

O C C O C O I2

H OH H OH

Biru
4.3 Pembahasan

Uji Tollens (Perak Beramoniak) bertujuan untuk mengidentifikasi ada atau

tidaknya gula pereduksi. Gula pereduksi adalah semua gula yang memiliki

kemampuan untuk mereduksi dikarenakan adanya gugus aldehid atau keton bebas.

Aldehid dapat teroksidasi langsung melalui reaksi redoks. Gugus keton tidak

dapat teroksidasi secara langsung, tetapi harus diubah menjadi aldehid dengan

perpindahan tautomerik yang memindahkan gugus karbonil kebagian akhir rantai.

Gula non-pereduksi dicirikan dengan tidak adanya struktur rantai terbuka,

sehingga tidak rentan terhadap proses oksidasi reduksi.

Pada percobaan ini, sebelum pereaksi Tollens direaksikan dengan glukosa

terlebih dahulu ditambahkan dengan NH4OH. Penambahan NH4OH ini bertujuan

untuk memberikan suasana basa pada larutan, karena reaksi hanya bisa

berlangsung dalam suasana basa. Pemanasan juga dilakukan agar reaksi berjalan

lebih cepat. Pada percobaan ini, glukosa memberi hasil positif terhadap uji

Tollens dengan menghasilkan cermin perak pada dinding tabung reaksi. Hal ini

berarti glukosa merupakan jenis gula pereduksi. Hasil yang diperoleh ini sudah

sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa glukosa merupakan gula pereduksi.

Sama seperti uji Tollens, uji Fehling juga bertujuan untuk memperlihatkan

ada atau tidaknya gula pereduksi. Pereaksi ini dapat direduksi oleh karbohidrat

yang memiliki sifat mereduksi. Pereaksi Fehling terdiri dari dua larutan yaitu

Fehling A dan Fehling B. larutan Fehling A adalah CuSO4 dalam air, sedangkan

Fehling B merupakan larutan jernih dari kalium natrium tartat encer dan basa

kuat. Dalam pereaksi ini Ion Cu2+ direduksi menjadi Ion Cu+ yang dalam suasana

basa akan diendapkan menjadi Cu2O (kupro oksida).

Pada percobaan ini, dilakukan pencampuran Fehling A (CuSO4) dan

Fehling B (kalium natrium tartat dan NaOH) yang menghasilkan Cu(OH)2.


Larutan Fehling ini kemudian direaksikan dengan glukosa yang dibantu dengan

memberikan pemanasan. Selanjutnya Cu(OH)2 dari campuran fehling A dan B ini

kemudan diubah menjadi CuO dengan melakukan pemanasan, senyawa CuO

kemudian direduksi oleh glukosa menjadi endapan Cu2O yang berwarna merah

bata. Pada percobaan ini, glukosa memberikan hasil positif terhadap uji Fehling

dengan menghasilkan endapan merah bata. Hal ini berarti glukosa merupakan

jenis gula pereduksi. Hasil yang diperoleh ini sudah sesuai dengan teori yang

menyatakan bahwa glukosa merupakan gula pereduksi.

Uji Benedict merupakan uji umum untuk karbohidrat yang memiliki gugus

aldehid atau keton bebas. Pereaksi Benedict adalah modifikasi dari pereaksi

Fehling, yang merupakan campuran 17,3 gram kupri sulfat, 173 gram natrium

sitrat dan 100 gram natrium karbonat dalam 100 gram air. Pemanasan karbohidrat

pereduksi dengan pereaksi Benedict akan terjadi perubahan warna dari biru

menjadi hijau. Pada uji Benidict dihasilkan beberapa warna seperti merah, hijau

dan orange. Pada percobaan ini, Benedict memberi hasil positif terhadap uji

Benedict dengan menghasilkan warna hijau.

Pada percobaan ini, sukrosa memberi hasil positif terhadap uji Tollens

dimana pada reaksi sukrosa dengan reagen Tollens menghasilkan cermin perak,

yang berarti sukrosa merupakan gula pereduksi. Sama halnya seperti glukosa,

pada reaksi sukrosa pereaksi ini menunjukkan perubahan yang sama sebab pada

dasarnya sukrosa jika dihidrolisis menghasilkan glukosa dan fruktosa. Hanya saja,

pada reaksi sukrosa dengan larutan Benedict menghasilkan endapan putih dan

berwarna purih keruh. Tetapi yang berperan penting dalam reaksi kimianya karena

mengandung gugus aldehida yang dapat dioksidasi.

Pada percobaan ini, sukrosa memberi hasil negatif terhadap uji Benedict

dimana pada reaksi sukrosa dengan reagen benedict menghasilkan endapan hijau
yang berarti sukrosa merupakan bukan gula pereduksi. Namun pada dasarnya

memang tidak tapi karena pengaruh pamansan maka akan terhidrolisis. Hal ini

sesuai dengan teori yang menyatakan sukrosa tidak memiliki gugus aldehid

maupun gugus keton bebas sehingga tidak bisa mereduksi ion Ion Ag 2+ menjadi

Ion Ag+ sehingga sukrosa bukan merupakan gula pereduksi.

Uji yodium pada praktikum ini bertujuan untuk mengetahui adanya

kandungan amilum yang merupakan salah satu bentuk dari polisakarida. Amilum

termasuk polisakarida. Polisakarida memiliki struktur yang spiral (menutup) yang

apabila polisakarida ini (amilum) ditetesi Iod, maka molekul yodium akan

terperangkap di dalamnya. Akibatnya larutan ini akan berwarna biru. Ketika

dipanaskan, Iod bias terlepas akibatnya larutan akan menjadi bening. Pada

percobaan ini, tidak terjadi sama sekali perubahan warna. Hal ini tidak sesuai

dengan teori. Kekeliruan ini dikarenakan larutan iodium yng sudah rusak dan

warna sebenarnya yang ada adalah cokelat.

Pada reaksi hidrolisis amilum, amilum dihidrolisis dengan asam (HCl)

larutan mengalami perubahan dari tidak memiliki endapan menjadi memiliki

endapan putih, setelah dipanaskan warna larutan berubah dari putih keruh menjadi

bening namun tetap terdapat endapan putih, kemudian ditambahkan dengan

NaOH, larutan tetap bening dan tidak terdapat endapan. Saat larutan tersebut

ditambahkan dengan Benedict, larutan berubah warna menjadi biru dan terdapat

warna hijau disekitarnya. Amilum yang dihidrolisis dengan HCl pekat akan

terurai menjadi disakarida (maltosa) yang dengan hidrolisis lanjutan menghasilkan

monosakarida (glukosa). Proses hidrolisis bisa terjadi karena selama dipanaskan,

HCl memutuskan ikatan polisakarida menjadi molekul-molekul yang lebih kecil

atau senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Molekul-molekul kecil tersebut

antara lain adalah glukosa yang merupakan monomer dari amium. Kemudian


ditambahkan NaOH. Penambahan NaOH ini bertujuan untuk memberikan suasana

basa pada larutan, karena reaksi hanya bisa berlangsung dalam suasana basa.

Selanjutnya, hasil hidrolisis amilum tersebut (glukosa) kemudian bereaksi dengan

reagen benedict dan membentuk endapan merah bata. Jadi yang bereaksi dengan

Benedict ialah glukosa bukan amilum.

Pada percobaan yang dilakukan tidak sesuai dengan teori karena setelah

dipanaskan larutan tetap berwarna biru dan terdapat warna hijaun. Hal ini

disebabkan karena larutan yang dipanaskan tidak sampai mendidih atau kurang

lama saat memanaskan larutan sedangkan, polisakarida membutuhkan waktu yang

sangat lama untuk sampai terhidrolisis menjadi monosakarida.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari percobaan ini adalah sebagai berikut:

1. karbohidrat merupakan polihidroksi keton atau polihidral aldehid yang

mempunyai rumus umum Cn(H2O)m. Pada uji kelarutan, sifat kimia dapat diuji

dengan fehling dan akan terbentuk endapan merah bata maka kabohidrat

memiliki sifat pereduksi.

2. pada monosakarida, glukosa bersifat positif dengan pereaksi fehling dan

benedict menghasilkan endapan merah bata dan menghasilkan endapan cermin

perak dengan pereaksi AgNO3.

3. pada disakarida, sukrosa bereaksi membentuk endapan merah bata dengan

pereaksi benedict yang menandakan karbohidrat bersifat pereduksi.

5.2 Saran

5.2.1 Saran untuk percobaan

Sebaiknya sebelum melakukan percobaan ini kita harus memperhatikan

dan memastikan semua alat dan bahan-bahan percobaan telah tersedia dan siap

untuk digunakan agar dapat mengefisiensikan waktu sehingga percobaan berjalan

dengan lancar dan selesai tepat waktu.

5.2.2 Saran untuk laboratorium

Sebaiknya bahan-bahan dalam laboratorium yang sudah tidak bisa dipakai

lagi sebaiknya diganti agar hasil yang diperoleh pun benar sesuai dengan teori

yang ada.
DAFTAR PUSTAKA

Febrianti, D. R. dan Sari, R. M., 2016, Analisis Kualitatif Formalin pada Ikan
Tongkol yang Dijual di Pasar Lama Banjarmasin, Jurnal Pharmascience,
3(2): 66-68.
Fessenden, R.J., dan Fessenden, J.S., 1997, Kimia Organik Edisi Ketiga, Jilid 2,
Erlangga, Jakarta.
Iswari, R. S. dan Yuniastuti, A., 2006, Biokimia, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Kusbandari, A., 2015, Analisis Kualitatif Sakarida dalam Tepung dan Pati Umbi
Ganyong, Jurnal Pharmaciana, 1(1): 35-42.
Mahalle, R. dan Shirish, P. Desmukh., 2012, Synthesis of some Paracetyalated
N-Galactopyranosyl,1,2,4- Dithiazolidines, Internasional Journal Of
Carbohydrate Research, 1(1): 1-3.

Nurjannah, L. Suryani. Achmadi, S. S. dan Azhari, A., 2017, Produksi Asam


Laktat Oleh Lactobacillus delbrueckii subs. bulgaricus dengan Sumber
Karbon Tetes Tebu, Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia,
1(1): 4.
Ouellette, R. J. dan Rawn, J. D., 1998, Principles of Organic Chemistry, a Brief
Introduction, Boston.

Poedjiaji, A. Dan Supriyanti, F. M. T., 1994, Dasar-Dasar Biokimia, Universitas


Indonesia, Jakarta.

Sari, L. V. Yanti, A. R. dan Boedijono, E. P., 2014, Karakteristik Amilum Buah


Sukun (Articapus altilis) dan ji Aktivitas Antioksidan Secara In-Vitro,
Jurnal Majoring Nutrition Science, 2(1): 3-4.
Siregar, N. S., 2014, Karbohidrat, Jurnal Ilmu Keolahragaan,13(2): 38-44.
Lampiran 1. Bagan Kerja

A. Monosakarida

1. Reaksi Glukosa dengan Larutan Perak Beramoniak

1 mL larutan glukosa 10 %

— Dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 2 mL larutan

AgNO3 0,1 M dan larutan NH4OH 0,1 M berlebih.

— Dikocok

— Dimasukkan kedalam gelas kimia yang berisi air panas.

— Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.


Hasil

2. Reaksi Glukosa dengan Larutan Fehling

1 mL larutan glukosa 10 %

— Dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 1 mL larutan

fehling A dan 1 mL larutan fehling B

— Dimasukkan ke dalam gelas kimia yang berisi air panas (penangas)

selama 1 menit.

— Diamati perubahan yang terjadi.


Hasil
3. Uji Benedict

1 mL larutan glukosa 10 %

— Dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 2 mL larutan

Benedict.

— Dimasukkan ke dalam gelas kimia yang berisi air panas (penangas)

selama 5 menit.

— Diamati perubahan yang terjadi.

— Didinginkan

— Diamati kembali perubahan yang terjadi.


Hasil

B. Disakarida

1. Reaksi Sukrosa dengan Larutan Perak Beramoniak

1 mL larutan sukrosa 10 %

— Dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 2 mL larutan

AgNO3 0,1 M dan larutan NH4OH 0,1 M berlebih.

— Dikocok

— Dimasukkan kedalam gelas kimia yang berisi air panas

— Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.


Hasil
2. Uji Benedict

1 mL larutan sukrosa 10 %

— Dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 2 mL larutan

Benedict.

— Dimasukkan ke dalam gelas kimia yang berisi air panas (penangas)

selama 5 menit.

— Diamati perubahan yang terjadi.

— Didinginkan

— Diamati kembali perubahan yang terjadi.


Hasil

C. Polisakarida

1. Reaksi Amilum dengan Yodium

3 mL larutan amilum 2 %

— Dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang bersih dan kering.

— Ditambahkan 5 tetes larutan yodium 0,1 M dan dikocok.

— Diamati perubahan yang terjadi.

— Dipanaskan selama beberapa menit.

— Diamati perubahan yag terjadi.

— Didinginkan dan diamati perubahan yang terjadi.


Hasil
2. Hidrolisis Amilum

5 mL larutan amilum

— Dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang bersih dan kering.

— Ditambahkan 10 tetes HCl pekat.

— Dipanaskan sampai larutan mendidih.

— Ditambahkan beberapa tetes larutan NaOH sampai larutan bersifat

basa.

— Diambil larutan sebanyak 3 mL dan dimasukkan kedalam tabung

reaksi lain.

— Ditambahkan larutan benedict.

— Dipanaskan di atas air mendidih selama 5 menit.

— Diamati perubahan yang terjadi.


Hasil
LAMPIRAN 2. Dokumentasi Percobaan

A. Monosakarida

1. Reaksi Glukosa dengan Larutan Perak Beramoniak

2. Reaksi Glukosa dengan Larutan Fehling

3. Uji Benedict
B. Disakarida

1. Reaksi Sukrosa dengan Larutan Perak Beramoniak

2. Uji Benedict

C. Polisakarida

1. Reaksi Amilum dengan Yodium


2. Hidrolisis Amilum

Anda mungkin juga menyukai