Analisis Sifat Karbohidrat dalam Praktikum
Analisis Sifat Karbohidrat dalam Praktikum
ASISTEN PRAKTIKAN
utama, yaitu karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O). Susunan atom-atom
dan disimpan sebagai pati atau diubah menjadi selulosa yang merupakan kerangka
tumbuhan. Hewan juga dapat mensintesis sebagaian karbohidrat dari lemak dan
protein, tetapi jumlah terbesar karbohidrat yang terdapat didalam jaringan tubuh
asam-asam kuat dengan berbagai senyawa organik, sifat mereduksi dari gugus
karbonil dan sifat oksidasi dari gugusan hidroksil yang berdekatan. Reaksi dengan
asam-asam kuat seperti asam sulfat, hidroklorat dan fosfat pada karbohidrat
keberadaan karbohidrat dalam suatu senyawa digunakan beberapa uji seperti uji
larutan benedict.
3. mengetahui reaksi senyawa amilum dengan pereaksi larutan iodium dan reaksi
hidrolisis amilum.
(campuran larutan AgNO3 dan NH4OH berlebih), larutan Fehling dan larutan
bantuan HCl pekat dan NaOH serta reaksi-reaksi ini dipercepat dengan melakukan
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Karbohidrat
adalah karbohidrat. Salah satu perbedaan utama antara berbagai tipe karbohidrat
terbatas untuk menunjukkan zat yang terdiri atas polihdroksi aldehid dan keton
dan lemak. Karbohidrat yang mempunyai rumus empiris (CH2O)n ini juga
Dinamakan karbohidrat karena rasio hydrogen terhadap oksigen adalah 2:1 yang
sama dengan rasio pada air. Kata sakarida berarti gula dan nama gula mempunyai
akhiran -osa. Semua karbohidrat mengandung gugus fungsional hidroksi –OH
dialam dan banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan yang berwarna hijau melaui
atau senyawa turunan sebagai hasil hidroksi senyawa kompleks (misal gliko
terdapat dalam bentuk rantai terbuka dan bentuk cincin. Pada sel-sel binatang
(Siregar, 2014):
1. sumber energi
sebagian berada dalam sirkulasi darah sebagai glukosa untuk keperluan energi
segera dan sebagian lagi disimpan sebagai glikogen dalam hati dan otot dan
dan disakarida. Gula tidak mempunyai rasa manis yang sama. Fruktosa adalah
3. penghemat protein
tidak terpenuhi dan akhirnya fungsi protein sebagai zat pembangun akan
terkalahkan.
a. monosakarida
sangat banyak menurut jumlah atomnya seperti triose, pentose, hexose dan
fungsional utamnya (aldehid atau keton) dan berdasarkan jumlah atom karbon
gugus aldehid disebut aldosa dan yang mengandung gugus keton disebut ketosa
Monosakarida ada tiga jenis monosakarida yang mempunyai arti gizi yaitu
glukosa, fruktosa dan galaktosa. Glukosa dinamakan juga sebagai gula anggur
atau dektrosa, terdapat luas di alam dalam jumlah sedikit yaitu didalam sayur,
buah, sirup jagung, sari pohon dan bersamaan dengan fruktosa dalam madu.
Glukosa merupakan monosakarida yang terpenting, kadang-kadang glukosa
disebut sebagai gula darah (karena dijumpai di dalam darah) (Iswari dan
Yuniastuti, 2006).
b. disakarida
yang terbentuk diantara karbon anomerik dari salah satu monosakarida dengan
Sukrosa dinamakan juga gula tebu atau gula bit. Gula pasir terdiri atas
99% sukrosa dibuat dari kedua macam bahan makanan tersebut melalui proses
penyulingan dan kristalisasi. Gula merah dibuat dari kelapa, tebu atau enau
didalam buah, sayuran dan madu. Bila dihidrolisis atau dicernakan, sukrosa pecah
menjadi satu unit glukosa dan fruktosa. Maltosa (gula malt) tidak terdapat bebas
dialam. Maltosa terbentuk pada setiap pemecahan pati. Bila dicernakan atau
c. polisakarida
bangunan, bahan makanan dan sebagai zat spesifik. Dua dari polisakarida yang
paling penting, yaitu pati dan selulosa, mengandung unit-unit yang berhubungan
dari monosakarida yang sama, yaitu glukosa. Dalam polisakarida pemecahan
Masing-masing molekul boleh berisi 300 sampai 5000 unit glukosa, rantai dengan
berurutan 1,4 dengan rantai rata-rata hanya 25-30 unit. Polisakarida terdapat
banyak dialam, yaitu pada sebagian besar tumbuhan. Amilum atau dalam bahasa
sehari-hari disebut pati terdapat pada umbi, daun, batang dan biji-bijian. Batang
pohon sagu mengandung pati yang setelah dikeluarkan dapat dijadikan bahan
makanan rakyat didaerah Maluku. Umbi yang terdapat pada ubi jalar atau akar
pada ketela pohon atau singkong mengandung pati yang cukup banyak, ketela
pohon selain dapat digunakan sebagai makanan dapat juga sumber karbohidrat
Benedict berisi larutan alkali yang mengandung kuprisulfat, natrium karbonat dan
natrium sitrat. Larutan alkali dari tembaga direduksi oleh gula yang mengandung
gugus aldehida atau keton bebas dengan membentuk kupro oksida berwarna.
Larutan Benedict mengandung kupri sulfat, natrium karbonat dan natrium sitrat.
isomerik. Pada suasana basa, reduksi ion Cu 2+ dari CuSO4 oleh gula pereduksi
berlangsung cepat dan membentuk Cu2O yang merupakan endapan merah bata.
Pereaksi Benedict terdiri atas larutan Cu2+ dalam suasana basa kuat
mereduksi, juga dapat direduksi oleh reduktor lain. Pereaksi fehling terdiri atas
dua larutan, yaitu larutan Fehling A adalah larutan CuSO 4 dalam air, sedangkan
larutan Fehling B adalah larutan garam Knatartrat dan NaOH dalam air. Kedua
macam larutan ini disimpan terpisah dan baru dicampur menjelang digunakan
untuk memeriksa suatu karbohidrat. Dalam pereaksi ion Cu+ + direduksi menjadi
ion Cu+ yang dalam suasana basa akan diendapkan sebagai Cu2O (Poedjiaji, 1994)
Uji tollens merupakan salah satu uji yang digunakan untuk membedakan
antara senyawa aldehid dan keton. Pereaksi tollens dibuat dengan mereksikan
larutan perak nitrat dengan larutan amonium hidroksida secara perlahan sehingga
karbon yang sama. Pereaksi tollens yang biasanya digunakan adalah larutan basa
dari perak nitrat, larutan ini jernih dan tidak berwarna. Pereaksi tollens sering
disebut sebagai perak amoniakal, merupakan campuran dari AgNO3 dan amonia
berlebihan. Gugus aktif pada pereaksi tollens adalah AgO2 yang bila tereduksi
Pati yang berikatan dengan iodin (I2) akan menghasilkan warna biru. Sifat
ini dapat digunakan untuk menganalisis adanya pati. Hal ini disebabkan oleh
struktur molekul pati yang bentuknya spiral, sehingga akan mengikat molekul
iodin dan terbentuklah warna biru. Percobaan uji iodium ini bertujuan untuk
memisahkan antara polisakarida, monosakarida dan disakarida. Iodium
biru pada iodium sedangkan glikogen dan tepung yang sudah dihidrolisis sebagian
(Zubaidah, 2013).
Pati terdiri dari campuran amilosa dan amilopektin. Amilosa reaksi dengan
iod, I2 menghasilkan kompleks biru hitam yang tajam, sedangkan amilopektin dan
iod membentuk kompleks merah ungu. Warna ditimbulkan oleh ikatan lemah
diantara molekul pati dan iod. Diperlukan molekul pati yang besar untuk
membentuk kompleks ini. Hasil hidrolisis parsial pada molekul pati antara lain
bereaksi dengan molekul iod karena struktur amilum pada larutan berbentuk
heliks yang berbentuk kumparan sehingga dapat diisi oleh molekul iod
didalamnya. Setelah dilakukan pemanasan, warna larutan menjadi bening . Hal ini
disebabkan karena adanya pemutusan ikatan iod dengan glukosa atau terjadi
penguraian ion (pelepasan iod dari amilum) karena adanya perubahan suhu yang
tinggi. Setelah didinginkan, larutan kembali berwarna biru. Hal ini menunjukkan
bahwa ikatan antara iod dan amilum berupa ikatan semu karena dapat putus saat
rantai amilum akan memanjang sehingga iod mudah terlepas, ketika didinginkan,
rantai pada amilum akan mengerut sehingga iod kembali terikat dengan amilum.
METODOLOGI PERCOBAAN
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi, rak tabung,
pipet tetes, gelas kimia, kaki tiga, kasa, gegep dan lampu spiritus.
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan perak nitrat
larutan Fehling A dan B, larutan benedict, larutan sukrosa 10%, larutan amilum
2%, larutan yodium (I2) 0,1 M, HCl pekat, NaOH 10%, HCl pekat dan akuades.
3.3.1 Monosakarida
larutan NH4OH 0,1 M ditambahkan sampai endapan yang terbentuk melarut lagi.
dikocok. Selanjutnya dimasukkan kedalam gelas kimia yang berisi air panas
yang berisi air panas (dipanaskan) selama 5 menit. Perubahan yang terjadi diamati
dan dicatat.
3.3.2 Disakarida
dimasukkan kedalam gelas kimia yang berisi air panas (dipanaskan) selama
b. Uji Benedict
kimia yang berisi air panas (dipanaskan) selama 5 menit. Perubahan yang terjadi
3.3.3 Polisakarida
selama beberapa menit, kemudian perubahan yang terjadi diamati dan dicatat.
b. Hidrolisisi Amilum
sebanyak 10 tetes HCl pekat. Selanjutnya tabung reaksi dipanaskan sampai larutan
mendidih. Beberapa tetes larutan NaOH 10% ditambahkan sampai larutan bersifat
basa. Sebanyak 3 mL larutan diambil dan dimasukkan kedalam tabung reaksi lain.
4.1.1 Monosakarida
3. Uji Benedict
4.1.2 Disakarida
4.1.3 Polisakarida
2. Hidrolisis Amilum
+ Benedict Biru
4.2 Reaksi
Monosakarida
O O
C H C H
OH C H OH C H
H C H H C H
H C OH H C OH
H C OH H C OH
CH2OH CH2OH
O O
C H C H
OH C H OH C H
H C H H C H
H C OH H C OH
H C OH H C OH
CH2OH CH2OH
C. Uji Benedict
O O
C H C H
OH C H OH C H
H C H H C H
H C OH H C OH
H C OH H C OH
CH2OH CH2OH
Diskarida
CH2OH
C O OHCH3 CH2OH
H
C
O
C C C OH H C + 2Ag(NH3)2OH C + 2Ag+ 4NH3
OH H
C C
OH C C O
H OH
H OH
B. Uji Benedict
CH2OH
C O CH2OH
H OHCH3
C
O
C
OH H C C OH H C + 2Cu(sitrat)22- C + Cu2O +
4(sitrat)2- + 4H+
O C C
OH C C
H OH
H OH
Polisakarida
A. Amilum + Yodium
CH2OH CH3OH
C O H _H C O H
H
O H
C C C H C
O H O
O O C O I2
C C
H OH H OH
CH2OH CH3OH
C O H H C O H
H
O H
C C C H C
O H O
O O C O I2
C C
H OH H OH
Biru
CH2OH CH3OH
C O H H C O H
H
O H
C C C H C
O H O
O O C O I2
C C
H OH H OH
CH2OH CH3OH
C O H H C O H
H
O H
C C C H C
O H O
O C C O C O I2
H OH H OH
Bening
CH2OH CH3OH
C O H H C O H
H
O H
C C C H C
O H O
O C C O C O I2
H OH H OH
Didinginkan
CH2OH CH3OH
C O H H C O H
H
O H
C C C H C
O H O
O C C O C O I2
H OH H OH
Biru
4.3 Pembahasan
tidaknya gula pereduksi. Gula pereduksi adalah semua gula yang memiliki
kemampuan untuk mereduksi dikarenakan adanya gugus aldehid atau keton bebas.
Aldehid dapat teroksidasi langsung melalui reaksi redoks. Gugus keton tidak
dapat teroksidasi secara langsung, tetapi harus diubah menjadi aldehid dengan
untuk memberikan suasana basa pada larutan, karena reaksi hanya bisa
berlangsung dalam suasana basa. Pemanasan juga dilakukan agar reaksi berjalan
lebih cepat. Pada percobaan ini, glukosa memberi hasil positif terhadap uji
Tollens dengan menghasilkan cermin perak pada dinding tabung reaksi. Hal ini
berarti glukosa merupakan jenis gula pereduksi. Hasil yang diperoleh ini sudah
sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa glukosa merupakan gula pereduksi.
Sama seperti uji Tollens, uji Fehling juga bertujuan untuk memperlihatkan
ada atau tidaknya gula pereduksi. Pereaksi ini dapat direduksi oleh karbohidrat
yang memiliki sifat mereduksi. Pereaksi Fehling terdiri dari dua larutan yaitu
Fehling A dan Fehling B. larutan Fehling A adalah CuSO4 dalam air, sedangkan
Fehling B merupakan larutan jernih dari kalium natrium tartat encer dan basa
kuat. Dalam pereaksi ini Ion Cu2+ direduksi menjadi Ion Cu+ yang dalam suasana
kemudian direduksi oleh glukosa menjadi endapan Cu2O yang berwarna merah
bata. Pada percobaan ini, glukosa memberikan hasil positif terhadap uji Fehling
dengan menghasilkan endapan merah bata. Hal ini berarti glukosa merupakan
jenis gula pereduksi. Hasil yang diperoleh ini sudah sesuai dengan teori yang
Uji Benedict merupakan uji umum untuk karbohidrat yang memiliki gugus
aldehid atau keton bebas. Pereaksi Benedict adalah modifikasi dari pereaksi
Fehling, yang merupakan campuran 17,3 gram kupri sulfat, 173 gram natrium
sitrat dan 100 gram natrium karbonat dalam 100 gram air. Pemanasan karbohidrat
pereduksi dengan pereaksi Benedict akan terjadi perubahan warna dari biru
menjadi hijau. Pada uji Benidict dihasilkan beberapa warna seperti merah, hijau
dan orange. Pada percobaan ini, Benedict memberi hasil positif terhadap uji
Pada percobaan ini, sukrosa memberi hasil positif terhadap uji Tollens
dimana pada reaksi sukrosa dengan reagen Tollens menghasilkan cermin perak,
yang berarti sukrosa merupakan gula pereduksi. Sama halnya seperti glukosa,
pada reaksi sukrosa pereaksi ini menunjukkan perubahan yang sama sebab pada
dasarnya sukrosa jika dihidrolisis menghasilkan glukosa dan fruktosa. Hanya saja,
pada reaksi sukrosa dengan larutan Benedict menghasilkan endapan putih dan
berwarna purih keruh. Tetapi yang berperan penting dalam reaksi kimianya karena
Pada percobaan ini, sukrosa memberi hasil negatif terhadap uji Benedict
dimana pada reaksi sukrosa dengan reagen benedict menghasilkan endapan hijau
yang berarti sukrosa merupakan bukan gula pereduksi. Namun pada dasarnya
memang tidak tapi karena pengaruh pamansan maka akan terhidrolisis. Hal ini
sesuai dengan teori yang menyatakan sukrosa tidak memiliki gugus aldehid
maupun gugus keton bebas sehingga tidak bisa mereduksi ion Ion Ag 2+ menjadi
kandungan amilum yang merupakan salah satu bentuk dari polisakarida. Amilum
apabila polisakarida ini (amilum) ditetesi Iod, maka molekul yodium akan
dipanaskan, Iod bias terlepas akibatnya larutan akan menjadi bening. Pada
percobaan ini, tidak terjadi sama sekali perubahan warna. Hal ini tidak sesuai
dengan teori. Kekeliruan ini dikarenakan larutan iodium yng sudah rusak dan
endapan putih, setelah dipanaskan warna larutan berubah dari putih keruh menjadi
NaOH, larutan tetap bening dan tidak terdapat endapan. Saat larutan tersebut
ditambahkan dengan Benedict, larutan berubah warna menjadi biru dan terdapat
warna hijau disekitarnya. Amilum yang dihidrolisis dengan HCl pekat akan
basa pada larutan, karena reaksi hanya bisa berlangsung dalam suasana basa.
reagen benedict dan membentuk endapan merah bata. Jadi yang bereaksi dengan
Pada percobaan yang dilakukan tidak sesuai dengan teori karena setelah
dipanaskan larutan tetap berwarna biru dan terdapat warna hijaun. Hal ini
disebabkan karena larutan yang dipanaskan tidak sampai mendidih atau kurang
5.1 Kesimpulan
mempunyai rumus umum Cn(H2O)m. Pada uji kelarutan, sifat kimia dapat diuji
dengan fehling dan akan terbentuk endapan merah bata maka kabohidrat
5.2 Saran
dan memastikan semua alat dan bahan-bahan percobaan telah tersedia dan siap
lagi sebaiknya diganti agar hasil yang diperoleh pun benar sesuai dengan teori
yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Febrianti, D. R. dan Sari, R. M., 2016, Analisis Kualitatif Formalin pada Ikan
Tongkol yang Dijual di Pasar Lama Banjarmasin, Jurnal Pharmascience,
3(2): 66-68.
Fessenden, R.J., dan Fessenden, J.S., 1997, Kimia Organik Edisi Ketiga, Jilid 2,
Erlangga, Jakarta.
Iswari, R. S. dan Yuniastuti, A., 2006, Biokimia, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Kusbandari, A., 2015, Analisis Kualitatif Sakarida dalam Tepung dan Pati Umbi
Ganyong, Jurnal Pharmaciana, 1(1): 35-42.
Mahalle, R. dan Shirish, P. Desmukh., 2012, Synthesis of some Paracetyalated
N-Galactopyranosyl,1,2,4- Dithiazolidines, Internasional Journal Of
Carbohydrate Research, 1(1): 1-3.
A. Monosakarida
1 mL larutan glukosa 10 %
— Dikocok
1 mL larutan glukosa 10 %
selama 1 menit.
1 mL larutan glukosa 10 %
Benedict.
selama 5 menit.
— Didinginkan
B. Disakarida
1 mL larutan sukrosa 10 %
— Dikocok
1 mL larutan sukrosa 10 %
Benedict.
selama 5 menit.
— Didinginkan
C. Polisakarida
3 mL larutan amilum 2 %
5 mL larutan amilum
basa.
reaksi lain.
A. Monosakarida
3. Uji Benedict
B. Disakarida
2. Uji Benedict
C. Polisakarida