PERANGKAP TIKUS OTOMATIS MENGGUNAKAN SENSOR
PROXIMITY BERBASIS ARDUINO UNO
(HARDWARE)
POYEK AKHIR
Diajukan untuk Memenuhi Persyarat Memperoleh Gelar diploma Tiga (DIII)
Pada Jurusan Teknik Elektro Prodi DIII Teknik Listrik
Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang
Oleh :
SHERLY MARTA
17064059/2017
PROGRAM STUDI D-III TEKNIK LISTRIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020
BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tikus merupakan hewan polinesia yang dapat melahirkan sepanjang
tahun tanpa mengenal musim. Jumlah keturunan yang dilahirkan tiga sampai
12 ekor per kelahiran. Untuk Pakan yang cukup tikus mampu melahirkan 16-
18 ekor. Pakan yang dibutuhkan bagi seekor tikus setiap harinya kurang lebih
10% dari bobot tubuhnya. Tikus sawah bobot tubuh rata-rata berkisar antara
70-300 gr dengan demikian pakan yang dibutuhkan berkisar antara 7–30 gr
per tikus (Priyambodo, 2003).
Dewasa ini petani banyak mengalami kendala dalam
mengembangkan usaha pertanian. Tikus merupakan hama utama tanaman
padi (Oryza sativa L) yang dapat menurunkan hasil produksi cukup tinggi.
Pada umumnya, tikus sawah (Rattus argentiventer) tinggal di pesawahan dan
sekitarnya, mempunyai kemampuan berkembangbiak sangat pesat. Secara
teoritis, satu pasang ekor tikus mampu berkembangbiak menjadi 1.270 ekor
per tahun. Walaupun keadaan ini jarang terjadi, tetapi hal ini menggambarkan,
betapa pesatnya populasi tikus dalam setahun (Harysaksono S, 2008).
Salah satu permasalahan yang ada dalam masyarakat adalah
keberadaan tikus yang ada disekitar lingkungan hidup manusia. Tikus
(Rattus-Rattus) merupakan hewan vertebrata yang sangat menganggu dan
membahayakan kehidupan manusia. Tubuh tikus memiliki banyak parasit
baik di dalam (endoparasit) maupun di luar (ektoparasit) tubuh tikus. Parasit
tersebut dapat menyebabkan penyakit yang bila dibiarkan mengakibatkan
kematian pada manusia seperti pes, salmonelosis, leptospirosis, murin typhus
dan penyakit lain (Ristiyanto, 2004)
Selain dari segi kesehatan, tikus juga mengakibatkan kerugian pada
segi ekonomi. Terutama pada petani karena tikus mengakibatkan kerusakan
mencapai 20% pada lahan pertanian. Hama tikus sulit dikendalikan karena
tikus memiliki kemampuan adaptasi dan mobilitas yang baik. Selain itu
adanya keberagaman komoditi pangan menciptakan lingkungan yang
menguntungkan bagi kehidupan tikus untuk berkembangbiak dengan pesat
(Tristiani, 1992). Oleh karena itu tikus dikatakan sebagai jenis hama
penggangu utama areal pertanian yang sulit dikendalikan. Pesatnya populasi
tikus serta bahayanya parasit dalam tubuh tikus bagi kesehatan manusia
membuat manusia itu sendiri mencoba berbagai usaha untuk meminimalisir
tikus di lingkungan hidup masyarakat khususnya di pesawahan.
Alat konvensional dalam membunuh tikus adalah dengan cara pestisida
(pesticides) dan racun tikus (rat poison). Racun tikus merupakan alat pengusir
hama tikus yang cukup berhasil karena banyak tikus yang mati setelah
diberikan umpan dengan racun. Cara kerja racun didalam tikus dengan
membekukan darah dalam tubuh tikus. Setelah darah tikus terhenti, racun tikus
mulai menyebabkan pendarahan dalam organ tikus hingga akhirnya tikus mati.
Racun tikus sangat mudah dan murah. Apalagi petani tidak perlu memasang
jebakan tikus dan memeriksa apakah tikus sudah benar-benar mati atau tidak.
Oleh karena itu racun tikus ini cukup populer dikalangan petani.
Harga yang murah, pengaplikasian yang mudah serta kemungkinan
peluang tikus mati besar, tidak sebanding dengan dampak fatal yang terjadi
karena penggunaan racun tikus. Racun tikus dapat merusak ekosistem hewan
lain. Pasalnya racun tikus membutuhkan waktu untuk mati total. Ketika racun
sudah merusak tubuh tikus, predator pemburu tikus seperti burung dan kucing
dapat tertular racun dari tikus tersebut. Selain membunuh hewan lain, tikus
juga dapat menjadi bumerang bagi diri sendiri atau bahkan orang lain.
Bangkai tikus yang mati dan belum ditemukan akan menyebarkan penyakit
bagi manusia itu sendiri.
Banyaknya alat tikus konvensional yang kurang efektif dan bahkan
malah menjadi bumerang bagi diri sendiri, memunculkan gagasan penulis
untuk menciptakan alat perangkap tikus otomatis. Alat ini diharapkan dapat
menangkap tikus dengan jumlah lebih dari satu dan ramah lingkungan.
Sehingga memiliki peluang untuk menggantikan alat perangkap tikus
konvensional terdahulu. Sama halnya dengan alat tikus konvensional
terdahulu, perangkap tikus otomtis berfungsi untuk mengurangi pesatnya
populasi tikus baik di dalam gudang penyimpanan makanan, di pemukiman
masyarakat, maupun di tempat - tempat lainnya khususnya di pesawahan
petani.
Cara kerja alat ini ialah ketika ada tikus yang masuk ke perangkap
melewati sensor proximity selanjutnya untuk membunuh tikus tersebut dengan
cara memberikan kejutan listrik (disetrum) dengan tegangan 220VAC
kemudian buzzer aktif sebagai alarm. Tegangan listrik yang cukup tinggi
membuat perangkap tikus otomatis memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi.
Penggunaan untuk jangka waktu yang lama kerena dapat dipakai berkali-kali
serta tidak mudah [Link] tidak perlu melakukan pengecekan pada
alat karena adanya buzzer yang berfungsi sebagai alarm pertanda tikus telah
masuk perangkap. Buzzer juga meminimalisir bau bangkai karena segera
setelah tikus mati dapat dibuang. Oleh karenanya perangkap tikus otomatis
lebih efektif dan aman digunakan dibandingkan alat konvensional terdahulu.
B. BATASAN MASALAH
1. Sumber tegangan yang digunakan adalah 12VDC dan 220VAC.
2. Kendali sistem menggunakan Arduino Uno.
3. Solar cell untuk mengatur pengisian baterai (accu) dan solar charger untuk
monitoring temperatur baterai (accu).
4. Inverter memiliki input tegangan DC 12V dan output tegangan AC 220V
dan buzzer 220VAC sebagai alarm.
5. Miniatur Perangkap Tikus
C. TUJUAN
1. Merancang dan membuat sebuah perangkap tikus otomatis menggunakan
sensor proximity berbasis Arduino Uno.
2. Mengetahui unjuk kerja rancangan perangkap tikus otomatis
menggunakan sensor proximityberbasis Arduino Uno
D. MANFAAT
Alat ini diharapkan dapat mempermudah masyarakat khususnya petani
menangkap tikus dengan jumlah lebih dari satu dan ramah lingkungan.
Sehingga memiliki peluang untuk menggantikan alat perangkap tikus
konvensional terdahulu. Sama halnya dengan alat tikus konvensional
terdahulu, automatic mousetrap berfungsi untuk mengurangi pesatnya
populasi tikus baik di dalam gudang penyimpanan makanan, di pemukiman
masyarakat, maupun di tempat - tempat lainnya khususnya di pesawahan
petani.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Tikus
1. Pengertian Tikus
Tikus adalah binatang yang termasuk dalam ordo rodentia, sub ordo
Myormorpha, family muridae. Family muridae ini merupakan family yang
dominan dari ordo rodentia karena mempunyai daya reproduksi yang
tinggi,
pemakan segala macam makanan (omnivorous) dan mudah beradaptasi
dengan lingkungan yang diciptakan manusia. Tikus adalah mamalia yang
termasuk dalam suku Muridae. Spesies tikus yang paling dikenal adalah
mencit (Mus spp.) serta tikus got (Rattus norvegicus) yang ditemukan
hampir di semua negara dan merupakan suatu organisme model yang
penting dalam biologi.
2. Jenis – Jenis Tikus
Gambar 1. Beberapa Jenis Rodentia (tikus dan mencit)
a. Tikus Rumah (Rattus tanezumi)
Tikus ini mempunyai panjang ujung kepala sampai ujung ekor 220
370 mm, ekor 101 -180 mm, kaki belakang 20-39 mm, ukuran telinga
13-
23 mm, sedangkan rumus mamae 2+3=10. Warna rambut badan atas
coklat tua dan rambut badan bawah (perut) coklat tua kelabu. Yang
terrnasuk dalam jenis tikus rumah (rattus rattus) yaitu tikus atap (roof
rat), tikus kapal (ship rat), dan black rat. Jika dilihat dari jarak
kedekatan hubungan antara aktifitas tikus dengan manusia, tikus rumah
merupakan jenis domestik, yaitu aktifitas dilakukan di dalam rumah
manusia atau disebut juga tikus komensal (comensal rodent) atau
synanthropic. Umur tikus rumah rata-rata satu tahun dan mencapai
dewasa siap kawin pada umur 2-3 bulan baik pada tikus jantan maupun
betina. Masa bunting selama 21-23 hari dan seekor tikus betina dapat
melahirkan 6-12 (rata-rata 8) ekor anak tikus. Setelah 2448 jam
melahirkan, tikus betina siap kawin lagi atau disebut post partum
oestrus.
Tikus rumah merupakan binatang arboreal dan pemanjat
ulung .Kemampuan memanjat tembok kasar dan turun dengan kepala
dibawab sangat lihai, dan bila jatuh dari ketinggian 5,5 meter tidak akan
menirnbulkan luka yang berarti bagi tikus. Makanan yang dibutuhkan
seekor tikus dalam sehari sebanyak 10- 15% dari berat badannya.
Perilaku makan tikus dengan memegang makanan dengan kedua kaki
depan, dan kebiasaan mencicipi makanan untuk menunggu reaksi
makanan tersebut dalam perutnya. Hal ini perlu diperhatikan apabila
kita memberantas tikus dengan racun. Tikus mempunyai kebiasaan
mencari makan dua kali sehari yaitu pada 1 -2 jam setelah matahari
tenggelam dan pada l-2 jam sebelum fajar.
b. Tikus Got (Rattus Norvegicus)
Tikus got ini mempunyai panjang ujung kepala sampai ekor
300-400 mm, panjang ekornya 170-230 mm, kaki belakang 42-47 mm,
telinga 18-22 mm dan mempunyai rumus mamae 3+3=12. Warna
rambut bagian atas coklat kelabu, rambut bagian perut kelabu. Tikus ini
banyak dijumpai diseluruh air/roil/got di daerah kota dan pasar.
c. Tikus Ladang (Rattus Exulans)
Tujuh tikus ladang mempunyai panjang ujung kepala sampai
ekor 139-365 mm, panjang ekor 108-147 mm, kaki belakang 24-35 mm
dan ukuran telinga 11-28 mm dan mempunyai rumus mamae 2+2=8.
Warna
rambut badan atas coklat kelabu rambut bagian perut putih kelabu. Jenis
tikus ini banyak terdapat di semak-semak dan kebun/ladang sayur-
sayuran dan pinggiran hutan dan kadang-kadang masuk ke rumah.
d. Tikus Sawah (Rattus Argentiveter)
Tikus sawah (Rattus Rattus Argentiventer) merupakan hama
yang dapat menimbulkan kerugian bagi tanaman pertanian, yang dapat
menyerang tanaman padi, jagung, kedelai, kacang tanah dan ubi-ubian.
Panjang tikus sawah dari ujung kepala sampai ujung ekor 270-370
mm,panjang ekor 130-192 mm dan panjang kaki belakang 32-39 mm,
telinga 18-21 mm sedangkan rumus mamae 3+3=12. Warna rambut
badan atas coklat muda berbintik-bintik putih, rambut bagian perut
putih atau coklat pucat.
Tikus jenis ini banyak ditemukan di sawah dan padang alang-
[Link] argentiventer (tikus sawah) adalah merupakan binatang
pengerat. Tanda karakteristik binatang pengerat ditentukan dari giginya.
Gigi seri berkembang sepasang dan membengkok, permukaan gigi
seperti pahat. Selain itu terdapat diastema (bagian lebar tidak bergigi
yang memisahkan gigi seri dengan geraham), serta tidak mempunyai
taring. Gigi lainnya berada di bagian pipi terdiri dari 1 geraham awal
(premolar) dan 3 geraham atau hanya tiga geraham (Priyambodo, 2003).
e. Tikus Wirok (Bandicota Indica)
Panjang dari tikus wirok ini dari ujung kepala sampai ekor 400-
580 mm, panjang ekornya 160-315 mm, kaki belakang 47-53 mm,
telinga 29-32 mm sedangkan rumus mamae 3+3=12. Warna rambut
badan atas dan rambut bagian perut coklat hitam, rambutnya agak
jarang dan rambut di pangkal ekor kaku seperti ijuk, jenis tikus ini
banyak dijumpai di daerah berawa, padang alang-alang dan kadang-
kadang di kebun sekitar rumah.
f. Mencit (Mus Musculus)
Mencit adalah binatang asli Asia, India, dan Eropa Barat.
Mencit
(Mus musculus) adalah anggota Muridae (tikus-tikusan) yang berukuran
kecil. Mencit mudah dijumpai di rumah-rumah dan dikenal sebagai
hewan pengganggu karena kebiasaannya menggigiti mebel dan barang-
barang kecil 8 lainnya, serta bersarang di sudut-sudut lemari. Mencit
percobaan (laboratorium) dikembangkan dari mencit, melalui proses
seleksi. Sekarang mencit juga dikembangkan sebagai hewan peliharaan.
Tikus ini mempunyai panjang ujung kepala sampai ekor kurang dari
175 mm, ekor 81 -108 mm, kaki belakang 12-18 mm, sedangkan telinga
812 mm, sedangkan rumus mamae 3+2=10. Warna rambut badan atas
dan bawah coklat kelabu.
3. Siklus Hidup Tikus
Tikus berkembang biak dengan sangat cepat, tikus menjadi dewasa
dalam arti dapat kawin mulai umur 3 bulan, masa bunting tikus betina
sangat singkat, kira-kira 3 minggu. Jumlah anak yang dihasilkan setiap
kelahiran berkisar antara 4 – 12 ekor (rata-rata 6 ekor) tergantung dari jenis
dan keadaan makanan di lapangan. Dan setelah 2-3 hari setelah melahirkan
tikus-tikus tersebut sudah siap kawin lagi.
Gambar 2. Siklus Hidup Tikus
4. Penyakit yang disebabkan oleh tikus
Tikus berperan sebagai tuan rumah perantara untuk beberpa jenis
penyakit yang dikenal Rodent Borne Disease. Penyakit-penyakit yang
tergolong Rodent Borne Disease adalah :
a. Leptospirosis
Leptospirosis merupakan infeksi akut disebabkan oleh bakteri
leptospira berbentuk spiral yang menyerang mamalia dan dapat hidup
di air tawar selama lebih kurang 1 bulan. Tetapi dalam air laut, selokan
dan air kemih yang tidak diencerkan akan cepat mati. Bakteri ini dapat
menyerang siapapun yang memiliki kontak dengan berbagai benda
maupun hewan lain yang mengalami infeksi leptospirosis. Bakteri ini
masuk ke dalam tubuh manusia melalui selaput lendir (mukosa) mata,
hidung, kulit yang lecet atau atau makanan yang terkontaminasi oleh
urin hewan terinfeksi leptospira. Masa inkubasi selama 4 - 19 hari.
b. Plague/Penyakit Pes/Sampar/La Peste
Pes atau sampar atau plague atau la peste merupakan penyakit
zoonosis yang timbul pada hewan pengerat dan dapat ditularkan pada
manusia. Penyakit tikus ini menular dan dapat mewabah. Penyebaran
penyakit plague/pes. Plague, disebut juga penyakit pes, adalah infeksi
yang disebabkan bakteri Yersinia pestis (Y. pestis) dan ditularkan oleh
kutu tikus (flea), Xenopsylla cheopis
c. Salmonellisis
Salmonellisis merupakan penyaklit yang disebabkan bakteri
salmonella yang dapat menginfeksi hewan dan juga manusia. Tikus
yang terinfeksi bakteri ini akan dapat menyebabkan kematian pada
manusia dan salmonellisis dapat tersebardengan melalui kontaminasi
feses. Gejalanya antara lain adalah gastroenteritis, diare, mual, muntah
dan juga demam yang diikuti oleh dehidrasi.
d. Murine typhus
Murine typhus adalah penyakit yang disebabkan oleh Rickettsian
typhi atau R. mooseri yang dapat ditularkan melalui gigitan pinjal
tikus. Gejalanya antara lain adalah kedinginan, sakit kepala, demam,
prostration dan nyeri di seluruh tubuh. Ada juga bintil-bintil merah
yang timbul di hari kelima hingga keenam.
e. Rat-Bit Fever atau demam gigitan tikus
Rat-bit fever (RBF) adalah penyakit sistemik yang disebabkan
oleh bakteri Moniliformis Streptobacillus yang dapat diperoleh melalui
gigitan atau goresan dari binatang pengerat atau menelan makanan atau
air yang terkontaminasi dengan kotoran tikus dan biasanya dialami
anak- penyakit ini memiliki masa inkubasi selama 1 hingga 22 hari.
Gejala-gejala yang nyeri punggung dan sendi.
f. Sindrom hantavirus paru (PS)
Hantavirus sindrom paru (HPS) adalah penyakit mematikan yang
ditularkan oleh tikus yang terinfeksi melalui urin, kotoran, atau air liur.
Manusia bisa terkena penyakit ini ketika mereka menghirup virus
aerosol. HPS pertama kali diakui pada tahun 1993 dan sejak itu telah
diidentifikasi di seluruh Amerika Serikat. Meskipun jarang, HPS
berpotensi mematikan. Rodent control di dalam dan sekitar rumah tetap
menjadi strategi utama untuk mencegah infeksi hantavirus. maka gejala
yang dapat diamati adalah diare, muntah, mual, dan kram perut.
g. Rabies
Rabies merupakan penyakit yang menyerang sistem syaraf pusat
dan memiliki gejala khas yaitu penderita jadi takut terhadap air dan
karena inilah rabies juga sering disebut hidrofobia. Tikus menyebarkan
penyakit ini melalui gigitan. Gejala awal dari rabies tidaklah jelas,
umumnya pasien merasa gelisah dan tidak nyaman. Gejala lanjut yang
dapat diidentifikasi antara lain adalah rasa gatal di area sekitar luka,
panas dan juga nyeri yang lalu bisa saja diikuti dengan sakit kepala,
kesulitan menelan, demam dan juga kejang.
5. Peran Tikus Dalam Ekosistem
Tikus merupakan hama yang sulit di kendalikan dan membawa
parasit yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Namun dibalik
kerugiannya tikus juga mengambil peran penting dalam ekosistem karena
merupakan konsumen 1 pada rantai makanan. Tikus berperan dan
berfungsi sebagai penyebar biji beberapa bekas makanan. Bentuk gigi tikus
yang menonjol didepan sebanyak 2 buah mengharuskan tikus untuk
memakan biji-bijian supaya gigi tersebut bisa selalu terasah. Perbanyakan
dan penyerbukan diri secara alami diatur pula dengan bantuan hewan
penyerbuk atau penyebar biji melalui inang perantara. Tujuan pemencaran
biji adalah untuk mengurangi resiko kepunahan.
Gambar 3 Rantai Makanan Tikus
Gambar diatas menunjukkan rantai makanan pada tikus sebagai
konsumen tingkat 1. Padi dimakan oleh tikus, kemudian tikus dimakan
oleh ular, ular dimakan oleh burung elang. Setelah beberapa waktu
burung elang mati, bangkainya membusuk dan bercampur dengan
tanah membentuk humus. Humus sangat dibutuhkan tumbuhan,
terutama rumput. Begitulah seterusnya sehingga proses ini berjalan
dari waktu ke waktu.
Rantai makanan di atas memperlihatkan bahwa tikus juga
berperan sebagai konsumen tingkat I dalam rantai makanan yang
artinya hewan yang memakan produsen dan berada pada tropik paling
rendah dalam rantai makanan. Konsumen tingkat I dalam ekosistem,
berperan sebagai hewan mangsa bagi predator atau konsumen
diatasnya. Secara tidak langsung, hal ini sangat penting untuk menjaga
kestabilan ekosistem yang ada didalam hutan (rantai makanan). Jadi
bisa dibayangkan jika didalam suatu ekosistem (hutan) tidak ada
konsumen
tingkat I seperti tikus, pasti beberapa predator seperti ular, akan sering
turun ke desa untuk memakan hewan peliharaan warga desa.
Agar rantai makanan dapat terus berjalan, maka jumlah
produsen harus lebih banyak daripada jumlah konsumen kesatu,
konsumen kesatu lebih banyak daripada konsumen kedua, dan
begitulah seterusnya. Pengurai adalah makhluk hidup yang
menguraikan kembali zat-zat yang semula terdapat dalam tubuh hewan
dan tumbuhan yang telah mati. Hasil kerja pengurai dapat membantu
proses penyuburan tanah. Contoh pengurai adalah bakteri dan
[Link] hayati menjadi bagian yang sangat penting
dalam konservasi dan keseimbangan ekosistem. Keseimbangan
ekosistem telah diatur secara alami melalui mekanisme rangkaian
penyediaan dan keseimbangan jaring pakan yang sederhana. Beberapa
jenis tikus yang biasa ditemukan pada habitat
hutan sekunder, seperti Maxomys surifer dan Maxomys rajah dapat
dijadikan indikator (pencirian habitat) untuk menggambarkan kondisi
hutan yang masih cukup stabil.
B. Perangkap Tikus
Banyak alat yang dapat dirancang untuk menangkap tikus. Secara umum,
perangkap tikus dapat dibedakan menjadi dua:
1. Perangkap tikus hidup (tidak mematikan)
Contoh perangkap tikus hidup adalah jerat kurung dan perangkap corong.
2. Alat perangkap tikus mematikan
Contoh perangkap tikus mematikan adalah jerat jepit dan umpan
racun.
Hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan alat perangkap adalah
mengenai umpan yang diberikan. Kadang-kadang tikus jeli terhadap
umpan-umpan yang dipasang, sehingga tikus jera terhadap suatu umpan
atau hafal terhadap jebakan. Oleh karena itu, diperlukan variasi umpan dan
jebakan yang tidak muda dihafal tikus. Umpan tikus yang sering dipakai
misalnya ubi-ubian, bkelapa, jagung dan padi.
Cara pemasangan perangkap ini harus ditempat-tempat yang
disukai atau yang biasa dilewati oleh tikus, misalnya lorong-lorong, parit-
parit kecil, dan pinggir-pinggir galangan. Mengingat tikus merupakan
binatang malam, maka sebaiknya alat perangkap dipasang pada malam
hari. Alat perangkap tikus ada yang bersifat manual.
Alat perangkap ini berbentuk kotak yang terbuat dari akrilik.
Umpan berupa potongan daging atau wortel diletakkan pada pengait.
Pengait ini terhubung dengan pintu perangkap, jadi ketika ada tikus yang
menarik umpan pada pengait, maka pintu perangkap akan langsung
tertutup. (Kusnaedi, 1999).
C. Arduino Uno R3
Arduino Uno merupakan sebuah board minimum sistem
mikrokontroler yang bersifat open source. Didalam rangkaian board Arduino
terdapat mikrokontroler AVR seri ATMega 328 yang merupakan produk dari
Atmel. Arduino memiliki kelebihan tersendiri dibanding board mikrokontroler
yang lain selain bersifat open source, Arduino juga mempunyai bahasa
pemrogramanya sendiri yang berupa bahasa C. Selain itu dalam board Arduino
25 sendiri sudah terdapat loader yang berupa USB sehingga memudahkan
ketika memprogram mikrokontroler di dalam Arduino. Sedangkan pada
kebanyakan board mikrokontroler yang lain yang masih membutuhkan
rangkaian loader terpisah untuk memasukkan program ketika memprogram
mikrokontroler. Port USB tersebut selain untuk loader ketika memprogram,
bisa juga difungsikan sebagai port komunikasi serial.
Sifat open source Arduino juga banyak memberikan keuntungan
tersendiri untuk dalam menggunakan board ini, karena dengan sifat open
source komponen yang dipakai tidak hanya tergantung pada satu merek,
namun memungkinkan dapat bisa 11 memakai semua komponen yang ada
dipasaran. Bahasa pemrograman Arduino merupakan bahasa C yang sudah
disederhanakan syntax bahasa pemrogramannya sehingga mempermudah
dalam mempelajari dan mendalami mikrokontroler.
Gambar 4. Arduino Uno ATMega328
Tabel 1. Spesifikasi Arduino Uno
Microcontroller ATmega328P
Operating Voltage 5V
Input Voltage 7-12 V
(recommended)
Input Voltage (limit) 14 (of which 6 provide PWM output)
Digital I/O Pins 6
PWM I/O Pins 6
Analaog Input Pins 20 mA
DC Current per I/O Pin 50 mA
DC Current for 3.3V Pin 32 KB (ATmega328P) of which 0.5 KB
used by bootloader
Flash Memory 2 KB (ATmega328P)
SRAM 1 KB (ATmega328P)
EEPROM 16 MHz
Clock Speed 16 MHz
Length 68.6 mm
Width 23.4
Weight 25 g
1. Pemrograman Board Arduino
Pemrograman board Arduino dilakukan dengan menggunakan
Arduino Software (IDE). Chip ATmega328 yang terdapat pada Arduino
Uno R3 telah diisi program awal yang sering disebut bootloader.
Bootloader tersebut yang bertugas untuk memudahkan untuk melakukan
pemrograman lebih sederhana menggunakan Arduino Software, tanpa
harus menggunakan tambahan hardware lain. Cukup hubungkan Arduino
dengan kabel USB ke PC atau Mac/Linux. Jalankan software Arduino
Software (IDE), untuk memrogram chip ATmega328. Pengguna
mikrokontroller yang sudah lebih mahir, dapat tidak menggunakan
bootloader dan melakukan pemrograman langsung via header ICSP (In
Circuit Serial Programming) dengan menggunakan Arduino ISP.
Arduino UNO R3 dilengkapi dengan chip ATmega16U2 yang telah
diprogram sebagai converter USB to Serial. Firmware ATmega16U2 di
load oleh DFU bootloader, dan untuk merubahnya dapat menggunakan
software Atmel Flip (Windows) atau DFU programmer (Mac OSX dan
Linux), atau menggunakan header ISP dengan menggunakan hardware
external programmer.
2. Power Supply
Mengingat kondisi peletakan perangkap tikus otomatis jauh dari
sumber listrik rumahan, maka power supply menggunakan sinar matahari
(solar cell), di samping aman juga praktis bisa dipindahkan sesuai kebutuhan.
Energi listrik dari solar cell mengeluarkan tegangan 12 vdc, kemudian
disimpan dan dirubah menjadi 220 vac yang digunakan untuk penyertum
(trap), sedangkan power supply 12 vdc digunakan untuk power supply Board
Arduino UNO.
Board Arduino UNO dapat ditenagai dengan power yang diperoleh
dari koneksi kabel USB, atau via power supply exsternal. Pilihan power yang
digunakan akan dilakukan secara otomatis external power supply dapat
diperoleh dari adaptor AC-DC untuk power supply baterai melalui jack DC
yang tersedia, atau menghubungkan langsung GND dan pin Vin yang ada di
board. Board dapat beroperasi dengan power dari external power supply yang
memiliki tegangan antara 6V hingga 20V. Tegangan power supply kurang
dari 7V, pin 5V tidak akan memberikan nilai 5V, yang mungkin akan
membuat rangkaian bekerja dengan tidak sempurna jika diberi tegangan lebih
dari 12V, regulator tegangan dapat over heat bisa merusak PCB. Tegangan
yang direkomendasikan adalah 7V hingga 12V.
Berikut beberapa pin power pada Arduino Uno :
a. GND. Adalah ground atau negatif.
b. Vin. Adalah pin yang digunakan untuk memberikan power langsung ke
board Arduino dengan rentang tegangan yang disarankan 7V - 12V.
c. Pin 5V. Adalah pin output dimana pada pin tersebut mengalir tegangan 5V
yang telah melalui regulator.
d. 3V3. Adalah pin output dimana pada pin tersebut disediakan tegangan
3.3V yang telah melalui regulator.
e. IOREF. Adalah pin yang menyediakan referensi tegangan
mikrokontroller. Biasanya digunakan pada board shield untuk memperoleh
tegangan yang sesuai, apakah 5V atau 3.3V.
3. Memori
Chip ATmega328 pada Arduino Uno R3 memiliki memori 32 KB,
dengan 0.5 KB dari memori tersebut telah digunakan untuk bootloader.
Jumlah SRAM 2 KB, dan EEPROM 1KB, yang dapat dibaca-tulis dengan
menggunakan EEPROM library saat melakukan pemrograman.
4. Input dan Output (I/O)
Arduino Uno memiliki 14 buah digital pin yang dapat digunakan
sebagai input atau output, dengan menggunakan fungsi pin Mode, digital
Write, dan digital Read. Pin-pin tersebut bekerja pada tegangan 5V, dan
setiap pin dapat menyediakan atau menerima arus 20mA, dan memiliki
tahanan pull-up sekitar 20-50k ohm (secara default dalam posisi
disconnect). Nilai maksimum adalah 40mA, yang sebisa mungkin dihindari
untuk menghindari kerusakan chip mikrokontroller. Beberapa pin memiliki
fungsi khusus :
a. Serial, terdiri dari 2 pin : pin 0 (RX) dan pin 1 (TX) yang digunakan
untuk menerima (RX) dan mengirim (TX) data serial.
b. External Interrups, yaitu pin 2 dan pin 3. Kedua pin tersebut dapat
digunakan untuk mengaktifkan interrups. Gunakan fungsi attach
Interrupt.
c. PWM: Pin 3, 5, 6, 9, 10, dan 11 menyediakan output PWM 8-bit
dengan menggunakan fungsi analog Write.
d. SPI : Pin 10 (SS), 11 (MOSI), 12 (MISO), dan 13 (SCK) mendukung
komunikasi SPI dengan menggunakan SPI Library.
e. LED : Pin 13 terhubung built-in led yang dikendalikan oleh digital pin
no 13.
f. TWI : Pin A4 (SDA) dan pin A5 (SCL) yang mendukungnkomunikasi
TWI dengan menggunakan Wire Library.
Arduino UNO memiliki 6 buah input analog, yang diberi tanda dengan
A0, A1, A2, A3, A4, A5. Masing-masing pin analog tersebut memiliki resolusi
10 bits (jadi bisa memiliki 1024 nilai). Secara default, pinpin tersebut diukur
dari ground ke 5V, namun bisa juga menggunakan pin AREF dengan
menggunakan fungsi analog Reference. Beberapa input lainnya pada board ini
adalah :
a. AREF. Sebagai referensi tegangan untuk input analog.
b. Reset. Hubungkan ke LOW untuk melakukan reset terhadap
mikrokontroller. Sama dengan penggunaan tombol reset yang tersedia.
5. Komunikasi
Arduino Uno R3 memiliki beberapa fasilitas untuk berkomunikasi
dengan komputer, berkomunikasi dengan Arduino lainnya, atau dengan
mikrokontroller lain nya. Chip Atmega328 menyediakan komunikasi serial
UART TTL (5V) yang tersedia pada pin 0 (RX) dan pin 1 (TX). Chip
ATmega16U2 yang terdapat pada board berfungsi menterjemahkan bentuk
komunikasi ini melalui USB dan akan tampil sebagai Virtual Port di
komputer. Firmware 16U2 menggunakan driver USB standar sehingga
tidak membutuhkan driver tambahan.
Pada Arduino Software (IDE) terdapat monitor serial yang
memudahkan data untuk dikirim menuju Arduino atau keluar dari
Arduino.
Led TX dan RX akan menyala berkedip-kedip ketika ada data yang
ditransmisikan melalui chip USB to Serial via kabel USB ke komputer
untuk menggunakan komunikasi serial dari digital pin, gunakan Software
Serial library.
Chip ATmega328 juga mendukung komunikasi I2C (TWI) dan
SPI.
Di dalam Arduino Software (IDE) sudah termasuk Wire Library untuk
memudahkan anda menggunakan bus I2C untuk menggunakan komunikasi
SPI, gunakan SPI library.
6. Reset Otomatis (software)
Arduino Uno telah dilengkapi dengan auto reset yang dikendalikan
oleh software pada komputer yang terkoneksi. Salah satu jalur flow
control
(DTR) dari ATmega16U2 pada Arduino Uno R3 terhubung dengan jalur
reset pada ATmega328 melalui sebuah kapasitor 100nF. Ketika jalur
tersebut diberi nilai LOW, mikrokontroller akan di reset dengan demikian
proses upload akan jauh lebih mudah.
D. Sensor Proximity
Proximity Switch atau Sensor Proximity adalah alat pendeteksi ada
atau tidak sebuah obyek tanpa melakukan kontak fisik dengan obyek tersebut.
Karakteristik dari sensor ini adalah mendeteksi obyek benda dengan jarak
yang cukup dekat, berkisar antara 1 mm sampai beberapa centi meter saja
sesuai tipe sensor yang digunakan. Sensor ini mempunyai tegangan kerja
antara 10 – 30 Vdc dan ada pula yang menggunakan tegangan 100 – 200
VAC.
Hampir semua mesin produksi sekarang ini menggunakan sensor jenis
ini, sebab selain praktis sensor ini termasuk sensor yang tahan terhadap
benturan ataupun goncangan, selain itu mudah pada saat melakukan perawatan
ataupun perbaikan dan penggantian.
Gambar 5. Sensor Proximity
E. Module Relay 2 Channel
Module Relay 2 channel adalah sebuah saklar magnet, dimana
berfungsi untuk memutus atau mengubah satu atau lebih kontak. Relay berisi
kumparan elektromagnet dengan inti magnet besi lunak, dimana jika diberi
arus maka akan menghasilkan medan magnet. Arus yang digunakan pada
rangkaian adalah arus DC, berikut ini gambar relay module 2 channel:
Gambar 6. Module Relay 2 Channel
Adapun spesifikasi dari module relay 2 channel, sebagai berikut :
a. System power supply positive.
b. IN1 - IN2 : relay control ports.
c. Active low, relay signal input voltage range : 0 - 5V.
d. Relay Maksimum Output : DC 30V/10A , AC 250V/10A.
e. Energisation status indicator light, release status LED is off.
f. Relay of quality, SPDT. A common terminal, a normally open, one
normally.
g. VCC is the system power, JD_VCC for the relay power. Default hair 5V
relay, plug the jumper cap to.
h. Dimensions: 50.6mm x 38.8mm x 19.3mm.
F. Solar Cell
Panel surya (solar cell) adalah alat yang terdiri dari sel yang mengubah
cahaya matahari menjadi energi listrik. Disebut surya atau matahari atau “sol”
karena matahari merupakan sumber cahaya terkuat yang dapat dimanfaatkan.
Panel surya sering kali disebut sel photovoltaic, photovoltaic dapat diartikan
sebagai “cahaya listrik”. Sel surya bergantung pada efek photovoltaic untuk
menyerap energi.
Gambar 7. Skema Solar Cell
Gambar 7 merupakan ilustrasi cara kerja sel surya dengan prinsip p-n
junction, pada umumnya solar cell merupakan sebuah hamparan semi
konduktor yang dapat menyerap photon dari sinar matahari dan mengubahnya
menjadi listrik. Sel surya tersebut dari potongan silicon yang sangat kecil
dengan dilapisi bahan kimia khusus untuk membentuk dasar dari sel surya. Sel
surya pada umumnya memiliki ketebalan minimum 0.3 mm yang terbuat dari
irisan bahan semikonduktor dengan kutub positif dan negatif. Pada sel surya
terdapat sambungan (function) antara dua lapisan tipis yang terbuat dari bahan
semikonduktor yang masing-masing yang diketahui sebagai semikonduktor
jenis “P” (Positif) dan semikonduktor jenis “N” (Negatif). Silicon jenis P
merupakan lapisan permukaan yang dibuat sangat tipis supaya cahaya
matahari dapat menembus langsung mencapai junction. Bagian P ini diberi
lapisan nikel yang berbentuk cincin, sebagai terminal keluaran positif.
Dibawah bagian P terdapat bagian jenis N yang dilapisi dengan nikel juga
sebagaiterminal keluaran negatif.
Dalam perancangan panel surya terdiri dari bagian-bagian yang
memiliki
fungsi masing-masing hingga dapat menghasilkan energi listrik, berikut
penjelasan terkait bagian-bagian yang terdapat pada panel surya:
a. Substrat (Metal Backin g)
Substrat merupakan bagian yang memiliki fungsi sebagai penopang
seluruh bagian komponen yang ada pada sel surya. Substrat sebaiknya
memiliki tingkat konduktifitas listrik yang baik karena juga berfungsi
sebagai terminal positif sel surya, bahan yang biasa digunakan material
metal atau logam seperti alumunium atau molybdenum.
b. Material semikonduktor
Material atau bagian inti pada sel surya ialah semikonduktor, biasanya
memiliki tebal beberapa ratus micrometer untuk sel surya silicon atau
generasi pertama dan 1-3 mikrometer untuk sel surya dengan lapisan tipis.
Semikonduktor berfungsi menyerap cahya dari sinar matahari.
c. Kontak metal (Contact Grid)
Kontak Metal atau contact grid merupakan lapisan yang melapisi
material semikonduktor fungsinya sebagai kontak negative pada sel surya.
Penempatan posisi solar cell adalah hal wajib dan penting diperhatikan,
karena dampaknya akan berpengaruh pada intensitas penyerapan sinar
matahari. “Arah yang umum dan sangat disarankan adalah panel surya tidak
mengarah pada saat matahari terbit atau tenggelam. Jadi arah pemasangan
solar cell yang baik adalah utara-selatan atau selatan-utara” (Maulana,
2016). Karena bilamana dipasang ke arah matahari terbit, maka pada jam
tertentu intensitas cahaya matahari tidak lagi terserap akibat arah panel
bagian belakang yang menutup datangnya sinar matahari. Begitu pula
sebaliknya bila arah panel surya dihadapkan kearah terbenamnya matahari.
Disaat pagi panel tidak akan menerima sinar matahari, dan baru mulai ketika
posisi matahari tegak diatas solar cell hingga kemudian terbenam.
Kemajuan teknologi panel surya semakin berkembang pesat seiring dengan
berjalannya waktu. Secara umum saat ini terdapat 4 jenis panel surya
sebagai berikut:
a. Monocrystalline
Panel surya yang terbuat dari sel surya jenis Monocrystalline
pada
gambar 10 merupakan panel yang memiliki efisiensi paling tinggi
diantara
panel surya jenis-jenis yang lain. Panel jenis ini menghasilkan daya
listrik
persatuan luas yang akurat, pada umumnya dengan proses pertumbuhan
kristal yang disebut sebagai Czochaakski Process, Kristal dengan
kualitas
tinggi. Selain itu jenis ini merupakan jenis yang tahan terhadap kondisi
alam yang ekstrim misalnya di Laut Utara, namun apabila pencahayaan
kurang atau kondisi langit berawan efisiennya menurun drastis. Efisiensi
yang dihasilkan panel surya jenis Monocrystalline dapat mencapai 15%.
b. Polycrystalline
Jenis polycrystalline Merupakan panel surya yang memiliki luas
permukaan yang lebih lebar dibandingkan dengan monocristalline.
Polycrystalline ini difabrikasi dengan proses pengecoran sehingga
susunan kristalnya acak. Penampilan polycrystalline ini hampir mirip
dengan monocristalline, namun efisiensi dan harganya lebih rendah.
Efisien yang dihasilkan adalah sekitar 13%-16%, bentuknya persegi, dan
jenis ini paling sering dipakai karena harganya yang terjangkau seperti
pada gambar 10.
Gambar 8. Panel Surya Polycrystalline
c. Semikristal
Jenis sel surya ini difabrikasi dengan proses pengecoran
(costing). Sel surya semikristal memiliki dengan permukaan batas
Kristal yang sejajar dengan arah aliran listrik yang ditimbulkan oleh
pasangan muatan positif dan negative. Panel surya yang dari sel surya
semikristal menghasilkan efisiensi konversi energi sekitar 11%. Dengan
demikian lebih rendah dibandingkan dengan panel surya poly dan
monocristalline.
d. Amorf
Panel surya jenis amorf juga biasa disebut juga dengan panel
surya
thin film pada gambar 12. Panel surya ini dapat difabrikasi secara
otomatis
dan dapat dipasang pada permukaan yang flexible misalnya pada
permukaan tidak datar seperti plastic. Bahan bakar amorf ini tidak
tergolong mahal tetapi permukaan yang diperlukaan per watt daya yang
dihasilkan lebih besar daripada panel surya jenis monocristalline atau
polycrystalline. Walau panel surya ini memiliki keunggulan bisa
dipasang fleksibel, namun dalam efisiensinya masih tergolong rendah
yaitu 5%.
Gambar 9. Panel Surya Amorf
Selain mempertimbangkan jenis panel surya yang akan digunakan,
juga perlu diperhatikan kapasitas panel surya yang akan digunakan sesuai
dengan kebutuhan. Satuan besar energi yang dihasilkan oleh panel surya
adalah WP atau wattpeak. automatic mousetrap (perangkap tikus otomatis)
menggunakan sensor proximity berbasis arduino uno ini menggunakan PV
dengan kapasitas 10 WP dan jenis PV polyxhrystalline.
G. Solar Charge Controller
Gambar 10. Solar Charge Controller
Solar charger control atau SCC pada gambar 10 merupakan salah satu
perangkat penting dalam rangkaian system pembangkit listrik tenaga
[Link] solar charger controller mengontrol kondisi baterai agar terhindar
dari over charging dan over voltage, selain itu mengatur arus dari baterai agar
tidak full discharging dan overload. Solar Charger Controller terdiri dari satu
input (2 terminal) yang terhubung dengan akumulator, dan satu output (2
terminal) yang terhubung dengan beban. Arus listrik DC yang berasal dari
baterai tidak mungkin masuk ke panel surya karena ada diode protection yang
hanya dapat dilewati oleh listrik searah dari panel surya ke akumulator.
Terdapat 2 jenis SCC maximum power point tracking (MPPT) dan width
modulation (PWM).
Solar Charger Controller jenis maximum power point tracking (MPPT)
dilihat dari kualitas pengisian daya baterai MPPT ini memiliki keunggulan
dibandingkan PWM, SCC, MPPT mampu mendeteksi daya yang dihasilkan
oleh PV walaupun kecil. Sedangkan tegangan kerja PWM hanya mampu
menyesuaikan dengan tegangan kerja baterai. Ketika tegangan yang
dihasilkansolar panel dibawah tegangan kerja, secara otomatis sistem tidak
melakukan pengisian baterai. Jenis SCC PWM menurut kapasitas PV dibawah
200Wp, lain dengan jenis MPPT justru lebih baik digunakan untuk kapasitas
PV diatas 200Wp. Hal ini dikarenakan, jenis SCC MPPT ini bergantung pada
total produksi daya.
H. Akumulator
Akumulator atau Aki biasa disebut juga baterai merupakan komponen
yang memiliki fungsi untuk menyimpan energy listrik. Akumulator ini
diberikan tenaga listrik berasal dari dinamo arus searah. Didalam akumulator
tenaga (energi listrik) ini mengerjakan proses-proses kimia, sehingga dapat
dikatakan bahwa tenaga listrik dari luar diubah menjadi tenaga kimia didalam
akumulator dan kemudian tersimpan di dalamnya (Suryatmo, 2014). Baterai
pada sistem photovoltaic (PV) mempunyai peranan sangat penting dan tidak
dapat digantikan oleh sistem yang lain. Teknologi terkini, telah diciptakan
baterai untuk menyimpan energi listrik yang dihasilkan oleh panel surya agar
dapat disalurkan lagi ke beban listrik pemakain. Secara relatif baterai adalah
piranti yang mahal dalam sistem photovoltaic. Umur baterai tergantung pada
jenisnya, bagaimana baterai tersebut diperlakukan, dan temperatur baterai.
Selanjutnya baterai sangat peka terhadap pengisian berlebih (overcharging) dan
pengosongan berlebih (too deep discharging). Pada umumnya pembangkit
listrik tenaga surya aktif beroperasi pada siang hari, sehingga pada saat malam
hari sel surya tidak dapat menghasilkan listrik. Dengan adanya akumulator
inilah energi yang dihasilkan oleh sel surya dapat disimpan. Akumulator yang
digunakan untuk sistem pembangkit listrik tenaga surya mempunyai fungsi
ganda. Pada suatu sisi akumulator memilki fungsi sebagai penyimpan energi,
sedangkan disisi lain baterai berfungsi sebagai catu daya beban. Dalam
penggunaanpun baterai atau akumulator dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis
yaitu primer dan sekunder.
a. Primer
Akumulator atau baterai primer hanya digunakan dalam satu kali
pemakaian saja. Pada waktu baterai dipakai, material dari salah satu
elektroda
menjadi larut dalam elektrolik dan tidak dapat dikembalikan dalam keadaan
semula. Jenis baterai primer ini biasa kita gunakan untuk lampu atau radio.
b. Sekunder
Akumulator atau baterai sekunder ini lain dengan baterai primer,
dimana baterai dapat dipakai dan diisi berulangkali. Baterai jenis seperti ini
biasa kita jumpai misalnya pada aki motor, dan tentunya pada proyek akhir
ini juga menggunakan baterai jenis sekunder. Satuan dalam baterai yang
perlu diperhatikan AH yang merupakan singkatan dari Ampere Hour yaitu
jumlah
arus yang bisa dikeluarkan dalam satuan jam.
Gambar 11. Bentuk Fisik Akumulator Sekunder
I. Inverter
Inverter adalah rangkaian electronika catu daya yang berfiungsi untuk
mengubah arus listrik searah atau DC (Direct Current) menjadi arus listrik
bolak balik atau AC (Alternating Current). Fungsi inverter ini untuk mengatur
kecepatan electro motor AC dengan cara merubah frekuensi outputnya (satuan
hertz).
Gambar 12. Inverter
Kebanyakan inverter digunakan di industri-industri untuk menggerakkan
electro motor, di mana electro motor tersebut dapat di atur kecepataputarannya
dari rpm ke putaran maksimal. Aplikasi motor yang mengunakan inverteuntuk
mesin atau conveyor yang kecepatannya tidak selalu sama
(adjustable).Komponen Inverter ini terdiri dari:
1. Thyristor
Merupakan saklar elektronik yang dilengkapi dengan electroda
kendali, di dalamnya ada tiga komponen antara lain Anoda (A), Katoda (K)
dan Gate (G). Arus mengalir dari Anoda ke Katoda bila Vak positif dan
arus mengalir arus [Link] Vak positif arus tetap mengalir meskipun
arus gate sama dengan nol.
2. Transistor
Transistor ini terdiri dari Basis, Emitor dan kolektor, alat
pengendalian komutasi dilakukan dengan arus base (Ib) . Transistor ini
sebagai pengendali inverter ini.
Gambar 13. Transistor
3. Mosfet
Mosfet mempunyai 3 terminal yaitu Source (S), Drain (D) dan
Gate (G). Karakter sama dengan transistor tetapi lebih tahan terhadap
gangguan. Perbedaanya pada transistor alat pengendalian komutasi
dilakukan dengan arus base (Ib). Apabila kecepatan tinggi Mosfet ini
cocok dan lebih baik.
4. GTO
GTO merupakan komponen terbaru, di mana di dalam GTO ini
sudah ada Thyristor dan Trasistor atau sifat-sifat thyristor dan transistor
sudah dimiliki oleh GTO.
Berikut tabel perbandingan daya thyristor, transistor, mosfet dan GTO
Tabel 2. Perbandingan daya thyristor, transistor, mosfet dan GTO
Terkait alat yang dibuat pada perangkap tikus otomatis ini, inverter
digunakan untuk mengubah arus listrik dari sumber arus battery 12 vdc
menjadi 220 vac yang digunakan untuk menyetrum / menyengat tikus.
J. Buzzer
Buzzer adalah sebuah komponen elektronika yang berfungsi untuk
mengubah getaran listrik menjadi getaran suara. Pada dasarnya prinsip kerja
buzzer hampir sama dengan loud speaker, jadi buzzer juga terdiri dari
kumparan
yang terpasang pada diafragma dan kemudian kumparan tersebut dialiri arus
sehingga menjadi elektromagnet, kumparan tadi akan tertarik ke dalam atau
keluar, tergantung dari arah arus dan polaritas magnetnya, karena kumparan
dipasang pada diafragma maka setiap gerakan kumparan akan menggerakkan
diafragma secara bolak-balik sehingga membuat udara bergetar yang akan
menghasilkan suara. Buzzer biasa digunakan sebagai indikator bahwa proses
telah selesai atau terjadi suatu kesalahan pada sebuah alat (alarm).
Gambar 14. Buzzer
BAB III
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT
A. Block Diagram
Adapapun perencanaan block diagram Perancangan sistem Perangkap
Tikus Otomatis Menggunakan Sensor Proximity Berbasis Arduino
diperlihatkan pada gambar dibawah ini :
Perangkap
Tikus
Arduino
Sensor Sinyal Tegangan
Tikus Sinyal uno Relay
Proximity Output 220 VAC
Input
Buzzer
AC
DC
Sember Pengisi Penyimpan Inverter Power
Energi Battery Energi Suply (12 vdc ke 24
Listrik (Charger 12 Listrik (Accu vdc dan 220 vdc)
(Solar Cell) vdc) 12 vdc)
Gambar 15. Blog Diagram Sistem Keseluruhan
Berdasarkan block diagram pada gambar 15 di atas, terdapat beberapa
komponen,adapun fungsi dari masing-masing komponen adalah sebagai berikut :
1. Arduino Uno
Pada bagian proses, alat ini membutuhkan komponen yang dapat
mengola data dari masukan yang akan dikirim ke bagian keluaran. Pada
bagian proses Arduino uno digunakan sebagai pengendali utama yang akan
melakukan pemrosesan data dan keputusan pengendali sistem data.
Arduino uno dipilih sebagai pengendali utama karena memiliki 14 buah
pin digital yang dapat digunakan untuk jalur input maupun output yang
sifatnya dapat di program ulang (Programable).
2. Sensor Proximity
Sensor Proximity yang diguanakan adalah jenis inductive (sensing
dengan metal), dengan fungsi untuk mendeteksi adanya tikus yang masuk
ke dalam perangkap. Jarak sesifitas anatar sensor ke metal 1 – 10 mm.
3. Module Relay 2 Channel
Module Relay 2 Channel dengan fungsi untuk menghubungkan
tegangan tinggi perangkap tegangan tinggi, yang akan mengaktifkan dan
mengnon-aktifkan arus tegangan tinggi.
4. Buzzer 220VAC
Buzzer mengeluarkan suara ketika tegangan tinggi aktif (tikus
terperangkap), hal ini untuk mengetahui bahwa ada tikus yang
terperangkap.
5. Solar Cell
Solar Cell digunakan sebagai sumber daya energy, solar cell yang
digunakan meiliki daya produksi 10wp (Watt peak adalah satuan daya
produksi tertinggi yang dapat dihasilakan oleh panel surya per satuan
waktu) sudah dapat memenuhi kebutuhan sumber daya.
6. Solar Charger
Charger (Pengisi accu), sebagai jembatan menuju energy listrik 12
volt dc menuju battery (accu) untuk disimpan atau alat pengisian ke
battery.
7. Battery (accu)
Battery (accu) berfungsi untuk menyimpan energy listrik 12 volt dc
dan juga berfungsi sebagai stabilizer, supaya tegangan penuh dan stabil,
berfungsi sebagai power supply untuk power supply sensor, blok proses
(Arduino Uno), coil relay dan buzzer.
8. Inverter 360 watt
Inverter berfungsi untuk mengubah energi listrik 12 volt dc ke 220
volt ac power supply 220 volt ac untuk tegangan tinggi penyetrum
(perangkap tegangan tinggi 220 volt ac) dengan fungsi untuk menyetrum
dan membunuh tikus yang telah terperangkap.
9. Besi Penyentrum
Besi penyetrum (perangkap tegangan tinggi 220 volt ac) dengan
fungsi untuk menyetrum dan membunuh tikus yang telah terperangkap.
B. Prinsip Kerja Alat
Cara kerja alat ini ialah ketika ada tikus yang masuk ke perangkap
melewati sensor proximity selanjutnya untuk membunuh tikus tersebut dengan
cara memberikan kejutan listrik (disetrum) dengan tegangan 220VAC
kemudian buzzer aktif sebagai alarm. Kemudian tidak perlu melakukan
Blok Masukan
Tikus
Sensor Proximity
Inductive
pengecekan pada alat karena adanya buzzer yang berfungsi sebagai alarm
pertanda tikus telah masuk perangkap. Buzzer juga meminimalisir bau bangkai
karena segera setelah tikus mati dapat [Link] dasar sistem kerja alat
ini sebgai berikut :
Blok Proses Blok Keluaran
Relay
2 Channel
Mikrokontroller
Arduino Penyetrum 220VAC
Buzzer
220VAC
Gambar 16. Konsep Dasar Sistem Kerja alat
Penjelasannya sebagai berikut :
1. Blok Masukan atau Input
Pada bagian ini sensor proximity sebagai masukan untuk mengendalikan
sistem perangkap tikus otomatis. Sinyal yang diterima oleh sensor akan
diproses melalui inputan akan dikirim ke arduino untuk diproses selanjutnya.
2. Blok Proses atau Proses
Masukan dari sensor tadi selanjutnya diproses oleh arduino untuk
pengendalian sesuai dengan program. Arduino akan mengirim data ke control
relay untuk mengaktifkan tegangan 220 vac untuk menyengat / menyetrum
tikus dan mengaktifkan buzzer.
3. Blok Keluaran atau Output
Pada bagian keluaran ini adalah control relay tegangan 220 vac untuk
untuk menyetrum tikus dan buzzer suara sebagai peringatan bahwa ada tikus
yang terperangkap atau kena setrum.
C. Perancangan Desain Alat
1. Peranacangan Rangkaian Elektronika
Gambar 17. Skematik Rangkaian Elektronika
Gambar 20 merupakan gambar rangkaian secara keseluruhan yang berupa
konfigurasi komponen terhadap arduino uno. Pada pin A0 disambungkan ke
sensor proximity. Pin 2,3 disambungkan ke input relay. Pin buzzer
disambungkan ke output relay dan plat tegangan 220V. Pin solar cell
disambungkan ke solar charger. Pin solar charger disambungkan ke baterai
(accu). Pin baterai (accu) disambungkan ke inverter kemudian dipecahkan
tegangan AC dan DC.
2. Rancangan Mekanaik
a. Rancangan Frame Alat
Frame yang digunakan sebagai tempat peletakan alat dan seluruh
komponen pendukung akan menggunakan bahan besi yang didesain
sedemikian rupa, alasan pemilihan bahan besi adalah karena agar daya
tahan penompang lebih kuat. Oleh sebab itu digunakan besi sebagai
bahan utama pembuatan frame.
Frame ini berupa besi yang disusun sedemikian rupa sehingga
semua komponen pada alat ini bisa diletakan pada posisinya. Pada
proyek ini penulis mendesain frame yang memiliki tujuan sebagai
tempat untuk meletakan solar cell, solar charger control, accu, alat
perangkap tikus otomatis.
Gambar 18. Frame Alat
b. Perancangan Perangkap Tikus
Solar Cell
Accu
Solar Charger
Inverter
Box Control
Perangkap tikus
Gamabr 19. Desain Perangkap Tikus
Alat pada perancangan proses perangkap tikus otomatis ini box nya
dibuat menggunakan bahan utama akrilik dirancang berbentuk box dengan
ukuran 380 mm x 250 mm x 25 mm dan tinggi penyangga 700 mm, alat ini
menggunakan mikrokontroler yang bekerja pada tegangan 5-12 Volt DC,
pada alat ini terdapat saklar On/Off untuk menghidupkan dan mematikan
alat, terdapat sensor untuk mengaktifkan tegangan tinggi terdapat saklar
untuk menghidupkan dan mematikan icharger, terdapat saklar untuk
On/Off dan terdapat plat aluminium untuk menyetrum tikus.