5.
1 Pengertian Integral
Setiap hari, tentulah kita melakukan aktivitas, seperti menghirup udara dan
melepaskan udara. Melepas udara merupakan operasi kebalikan (invers) dari
menghirup udara. Dalam matematika, kita juga mengenal operasi kebalikan
(invers), contohnya pengurangan dengan penjumlahan, perkalian dengan
pembagian, pemangkatan dengan penarikan akar, dan sebagainya. Pada subbab ini
kita akan mempelajari invers dari diferensial, yaitu integral. Kita telah
mempelajari arti diferensial atau turunan di kelas XI. Jika kita mempunyai f(x)
= x2 + 4, turunannya adalah f'(x) = 2x. Dari contoh fungsi tersebut, kita dapat
menentukan suatu fungsi yang turunannya f'(x) = 2x, yang disebut sebagai
antiturunan atau antidiferensial atau pengintegralan. Jadi, pengintegralan
merupakan operasi kebalikan dari pendiferensialan.
Misalnya diketahui f'(x) = 2x, fungsi ini merupakan turunan dari f(x) = x2 + 10,
f(x) = x2 – log 3, atau f(x) = x2 + 2 .
Terlihat fungsi-fungsi ini hanya berbeda konstantanya saja.
Secara umum, dapat dituliskan bahwa f(x) = x2 + c merupakan antiturunan
dari f'(x) = 2x, dengan c adalah bilangan real sembarang. Dari uraian di atas dapat
didefinisikan sebagai berikut. Fungsi F(x) disebut antiturunan dari f(x) pada suatu
domain jika [F(x)] = f(x).
5.2 Integral Tak Tentu
Misalkan diberikan fungsi-fungsi berikut.
y = x2 + 2x + 5
y = x2 + 2x – 2
Kedua fungsi itu memiliki turunan yang sama, yaitu = 2x + 2. Sekarang, tinjau
balik.
Misalkan diberikan 2x + 2. Jika dicari integralnya, akan diperoleh fungsi-fungsi
y = x2 + 2x + 5,
y = x2 + 2x – 2,
bahkan,
y = x2 + 2x + 10,
y = x2 + 2x – log 3, dan sebagainya.
Dengan demikian, fungsi yang memiliki turunan = 2x + 2 bukan saja dua
fungsi di atas, tetapi banyak sekali. Walaupun demikian, fungsi-fungsi itu hanya
berbeda dalam hal bilangan tetap saja (seperti 5, –2, 10, log 3, dan seterusnya).
Bilangan-bilangan ini dapat disimbolkan dengan c. Karena nilai c itulah hasil
integral ini disebut integral tak tentu.
5.2.1 Notasi Integral Tak Tentu
Perhatikan kembali definisi integral tak tentu di atas. Secara umum, jika
F(x) menyatakan fungsi dalam variabel x, dengan f(x) turunan dari F(x) dan c
konstanta bilangan real maka integral tak tentu dari f(x) dapat dituliskan dalam
bentuk :
ʃ f(x) dx=F(x)+c
dibaca ”integral fungsi f(x) ke x sama dengan F(x) + c”.
Keterangan:
ʃ f (x) dx = notasi integral tak tentu
F(x) + c = fungsi antiturunan
f(x) = fungsi yang diintegralkan (integran)
c = konstanta
dx = diferensial (turunan) dari x
5.2.2 Rumus Dasar Integral Tak Tentu
Pada subbab ini, akan dibahas integral fungsi aljabar saja. Oleh karena itu,
kalian harus ingat kembali turunan fungsi aljabar yang telah kalian pelajari di
kelas XI.
Pada pembahasan kalkulus diferensial atau turunan, diketahui bahwa turunan dari
c ke x adalah :
[+ c] = (n + 1) = (n + 1) xn .
Dengan mengalikan , untuk n ≠ –1 pada kedua ruas, diperoleh :
Jadi, [n + c] = (n+1) xn = xn ............................................... (1)
Jika persamaan (1) dituliskan dalam bentuk integral, kalian akan
memperoleh:ʃ xn dx = n+ c ; n ≠ –1
Bagaimana jika n = 0? Apa yang kalian peroleh? Tentu saja untuk n = 0,
persamaan di atas menjadi ʃ dx = x + c.
Pada materi diferensial, kalian telah mengetahui jika y = F(x) + G(x) maka
turunannya adalah f(x) + g(x), dengan f(x) turunan dari F(x) dan g(x) turunan dari
G(x).
Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwaʃ [f(x)+g(x)] dx = ʃ f(x) dx
+ ʃ g(x) dx. Hal ini juga berlaku untuk operasi pengurangan. Dari uraian di atas,
kita dapat menuliskan rumus-rumus dasar integral tak tentu sebagai berikut.
1) ʃ a dx = ax + c
2) ʃa f (x) dx = a ʃf (x) dx
3) ʃ[ f (x) + g(x)] dx = ʃf (x) dx + ʃ g(x) dx
4) ʃ[ f (x) ʃ g(x)] dx = ʃ f (x) dx - ʃ g(x) dx
Contoh Soal Integral 1:
Tentukan hasil integral fungsi-fungsi berikut.
a. ʃ 5 dx
b. ʃ 4x5 dx
Pembahasan :
a. ʃ 5 dx = 5 ʃ dx = 5x + c
b. ʃ 4x5 dx = 4 ʃ x5 dx = x5 + 1 + c = x6 + c = x6 +c
Contoh Soal Integral 2:
Selesaikan setiap pengintegralan berikut.
a. ʃ x4 dx
b. ʃ (x + 3)2 dx
Penyelesaian :
a. ʃ x4 dx = ʃ x4 . x1/2 dx = ʃ dx = dx + c = + c
b. ʃ (x + 3)2 dx = ʃ (x2 + 6x + 9) dx = x3 + 3x2 + 9x + c
3. Menentukan Persamaan Kurva
Di kelas XI, kalian telah mempelajari gradien dan persamaan garis
singgung kurva di suatu titik. Jika y = f(x), gradien garis singgung kurva di
sembarang titik pada kurva adalah y' = f'(x). Oleh karena itu, jika gradien garis
singgungnya sudah diketahui maka persamaan kurvanya dapat ditentukan dengan
cara berikut.
y = ʃ f ' (x) dx = f(x) + c
Jika salah satu titik yang melalui kurva diketahui, nilai c dapat diketahui
sehingga persamaan kurvanya dapat ditentukan.
Contoh Soal 3 :
Diketahui turunan dari y = f(x) adalah = f '(x) = 2x + 3. Jika kurva y = f(x) melalui
titik (1, 6), tentukan persamaan kurva tersebut.
Jawaban :
Diketahui f '(x) = 2x + 3.
Dengan demikian, y = f(x) = ʃ (2x + 3) dx = x2 + 3x + c.
Kurva melalui titik (1, 6), berarti f(1) = 6 sehingga dapat kita tentukan nilai c,
yaitu 1 + 3 + c = 6 ↔ c = 2.
Jadi, persamaan kurva yang dimaksud adalah y = f(x) = x2 + 3x + 2.
Contoh Soal 4 :
Gradien garis singgung kurva di titik (x, y) adalah 2x – 7. Jika kurva
tersebut melalui titik (4, –2), tentukanlah persamaan kurvanya.
Penyelesaian :
Gradien garis singgung adalah f '(x)= 2x – 7 sehingga y = f(x) = ʃ (2x - 7) dx
= x2 – 7x + c.
Karena kurva melalui titik (4, –2) maka :
f(4) = –2 ↔ 42 – 7(4) + c = –2
↔ –12 + c = –2
↔ c = 10
Jadi, persamaan kurva tersebut adalah y = x2 – 7x + 10.
Contoh Soal 5 :
Biaya marginal suatu perusahaan ditunjukkan oleh MC = 4Q 2 – 3Q + 5,
dengan Q = banyak unit dan biaya tetap k = 3, k adalah konstanta integral.
Tentukan persamaan biaya total (C).
Pembahasan :
Fungsi biaya marginal MC = 4Q2 – 3Q + 5.
MC = dC / dQ = dengan kata lain dC = MC dQ
C = ʃ MC dQ
= ʃ (4Q2 – 3Q + 5) dQ
= 4/3 Q3 - 3/2 Q2 + 5Q + k
Oleh karena itu, C = 4/3 Q3 - 3/2 Q2 + 5Q + k
5.3 Integral Tertentu
5.3.1Pengertian Integral sebagai Luas Suatu Bidang Datar
Kalian pasti sudah pernah mempelajari perhitungan luas bangun datar.
Bangun datar apa saja yang sudah kalian kenal? Bangun datar yang kalian kenal
pasti merupakan bangun datar beraturan, misalnya segitiga, segi empat, lingkaran,
dan sebagainya.
Gambar 2. Bangun datar yang dibatasi kurva y = f(x), sumbu X, serta garis x = a
dan y = b.
Perhatikan Gambar 2. Apakah gambar daerah yang diarsir tersebut merupakan
bangun datar yang sudah kalian kenal?
Termasuk bangun apakah gambar daerah tersebut? Dapatkah kalian
menentukan luas bangun datar tersebut dengan rumus yang sudah kalian kenal?
Tentu saja tidak. Daerah atau bangun datar pada Gambar 2. merupakan bangun
datar yang dibatasi kurva y = f(x), sumbu X, serta garis x = a dan y = b. Untuk
memahami pengertian integral sebagai luas suatu bidang datar, perhatikan
Gambar 2. Daerah yang diarsir adalah suatu daerah yang dibatasi kurva y = f(x)
dan sumbu X dari a sampai b. Dimisalkan fungsi y = f(x) terdefinisi pada interval
tertutup [a, b]. Bagilah interval tertutup tersebut menjadi n buah subinterval yang
sama lebar sehingga terdapat n buah titik tengah, yaitu x1, x2, x3, ..., xn, dengan x1
= ½ (t0 + t1), x2 = ½ (t1 + t2), ..., xn = ½ (tn–1 + tn) (perhatikan Gambar 3).
Dimisalkan ujung paling kiri interval adalah t0 = a dan ujung paling kanan
adalah tn = b dengan a < t1 < t2 ... < tn–1 < b.
Gambar 3. Interval tertutup tersebut menjadi n buah subinterval yang sama lebar
sehingga terdapat n buah titik tengah.
Misalkan panjang tiap subinterval adalah ti – ti–1 = ∆x. Pada tiap
subinterval [ti–1, ti], tempatkan sebuah titik x (tidak harus di tengah, boleh sama
dengan titik ujungnya). Domain fungsi y = f(x) dibagi menjadi n buah subinterval
dengan alas ∆x dan tinggi f(xi) sehingga membentuk pias-pias persegi panjang.
Luas masing-masing persegi panjang adalah f(xi) ∆x. Jika semua luas persegi
panjang dijumlahkan maka diperoleh :
J = f(x1) ∆x + f(x2) ∆x + f(x3) ∆x + ... +f(xn) ∆x .
J = (f(x1) + f(x2) + f(x3) + ... + f(xn)) ∆x
J = f (xi) ∆x
dengan Σ merupakan notasi jumlah yang berurutan. J disebut dengan jumlahan
Riemann. Notasi ini pertama kali digunakan oleh Bernhard Riemann.
Gambar 4. Jumlahan Riemann itu mendekati luas daerah yang diarsir.
Jika banyak pias n mendekati tak berhingga (n → ∞), jumlahan Riemann itu
mendekati luas daerah dari Gambar 4. Oleh sebab itu, luas L dapat ditulis dalam
bentuk :
L = f (xi) ∆x ............................................. (1)Jika n → ∞ maka ∆x → 0.
Integral tertentu f dari a sampai b dinyatakan dengan f (x) dx dan oleh
Riemann nilainya didefinisikan sebagai :
f (x) dx = f (xi) ∆x ............................................. (2)
Dari definisi integral tertentu di atas dapat dikatakan f(x) dx menyatakan luas
daerah yang dibatasi oleh garis x = a, garis x = b, kurva y = f(x), dan sumbu X.
Gambar 5. luas daerah yang dibatasi oleh garis x = a, garis x = b, kurva y = f(x),
dan sumbu X.
Perhatikan bahwa substitusi (1) dan (2) menghasilkan :
L = f (x) dx ........................................................... (3)
Sekarang kita misalkan ʃ f (x) dx = F(x) + c. Luas L di atas merupakan fungsi dari
x dengan x ϵ [a, b] berbentuk :
L(x) = f (x) dx = F(x) + c
Jika nilai t ada pada interval [a, b], yaitu {x | a ≤ x ≤ b} kita dapat mendefinisikan
luas L sebagai fungsi dari t berbentuk :
L(t) = f (x) dx = F(t) + c
Akibat dari pemisalan di atas, akan diperoleh :
L(a) = f (x) dx = F(a) + c = 0.
Sebab luas daerah dari x = a hingga x = a berbentuk ruas garis sehingga luasnya
sama dengan nol. Karena L(a) = 0 maka diperoleh :
F(a) + c = 0 atau c = –F(a) ..................... (4)
Akibat lain dari pemisalan itu, akan diperoleh
L(b) = f (x) dx = F(b) + c ................... (5)
Hasil substitusi dari persamaan (4) ke (5), diperoleh :
L(b) = f (x) dx = F(b) – F(a)
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa jika L adalah luas daerah
yang dibatasi oleh kurva y = f(x), sumbu X, garis x = a dan garis x = b maka :
L = f (x) dx = F(b) – F(a)
5.3.1 Pengertian Integral Tertentu
Kalian tahu bahwa :
f (x) dx = F(b) – F(a)
menyatakan luas daerah yang dibatasi oleh kurva y = f(x), sumbu X, garis x = a,
dan garis x = b.
Misalkan f kontinu pada interval tertutup [a, b] atau a ≤ x ≤ b.
Jika F suatu fungsi sedemikian rupa sehingga F'(x) = f(x) untuk semua x pada [a,
b], berlaku :
f (x) dx = = F(b) – F(a)
F(x) adalah antiturunan dari f(x) pada a ≤ x ≤ b.
Menggambar Daerah yang Dibatasi oleh Kurva
Tentu kalian masih ingat bagaimana menggambar grafik fungsi linear, fungsi
kuadrat, maupun fungsi trigonometri. Grafik fungsi-fungsi tersebut banyak
dibahas di sini, berkaitan dengan pencarian luas daerah yang batasi oleh kurva.
Bagaimana cara menggambarkan daerah itu? Misalkan kita akan menggambar
daerah yang dibatasi oleh kurva f(x) = x dari x = 0 sampai x = 2, sumbu X, dan
garis x = 2. Langkah pertama adalah menggambar grafik f(x) = x.
Kemudian, tarik garis batasnya, yaitu dari x = 0 sampai x = 2 hingga
memotong kurva. Arsir daerah yang berada di bawah kurva f(x) = x dari x = 0
sampai x = 2 dan di atas sumbu X. Hasilnya tampak seperti gambar di bawah ini.
Gambar 6. Menggambar Daerah yang Dibatasi oleh Kurva.
Bagaimana jika daerah yang akan digambar dibatasi oleh dua kurva? Pada
dasarnya sama dengan cara di atas. Misalkan kita akan menggambar daerah yang
dibatasi oleh grafik f(x) = x dan g(x) = 2x dari x = 0 sampai x = 2 dan garis x = 2.
Terlebih dahulu, kita gambar f(x) = x dan g(x) = 2x pada bidang koordinat. Tarik
garis batasnya, yaitu x = 0 dan x = 2 hingga memotong kedua grafik. Kemudian,
arsir daerah yang dibatasi oleh grafik itu dari x = 0 sampai x = 2. Hasilnya tampak
seperti gambar di samping.
Cobalah kalian gambar daerah yang dibatasi oleh kurva-kurva berikut.
1. f(x) = x2 dan sumbu X
2. f(x) = x2 dan g(x) = x
3. f(x) = x2 dan g(x) = x3
Contoh Soal 7 :
Tentukan integral tertentu untuk menghitung luas daerah yang diarsir pada
gambar-gambar berikut.
Gambar 7. Menghitung luas daerah yang diarsir menggunakan integral tertentu.
Kunci Jawaban :
a. Gambar 7 (a) merupakan grafik garis lurus yang melalui titik (0, 3) dan (3, 0)
maka persamaan garisnya adalah x + y = 3 atau y = 3 – x. Untuk batas kiri adalah
sumbu Y, berarti x = 0 dan batas kanan adalah x = 3. Jadi, luas daerahnya dapat
dinyatakan dengan (3 - x) dx
b. Gambar 7 (b) merupakan suatu daerah yang dibatasi oleh sumbu X dan kurva y
= f(x). Karena kurva memotong sumbu X di titik (0, 0) dan (6, 0) maka y = 6x
– x2. Untuk batas kiri adalah garis x = 2 dan batas kanan adalah x = 4. Jadi, luas
daerahnya dapat dinyatakan dengan (6x - x2) dx.
5.4 Pengintegralan dengan Substitusi
Salah satu cara untuk menyelesaikan hitung integral adalah dengan
substitusi. Beberapa bentuk integral yang dapat diselesaikan dengan melakukan
substitusi tertentu ke dalam fungsi yang diintegralkan, misalnya bentuk undu.
Bagaimana cara menyelesaikannya? Untuk itu, perhatikan uraian berikut.
Pada pembahasan sebelumnya, diperoleh xn = +c. Oleh karena itu, untuk
menyelesaikan integral bentuk (f(x))n dx maka kita dapat menggunakan substitusi
u = f(x) sehingga integral tersebut berbentuk undu. Dengan demikian,
diperoleh undu = n + c. Oleh karena itu, dapat dituliskan sebagai berikut.
(f(x))n d(f(x)) = undu = n + c dengan u = f(x) dan n ≠ –1. Contoh Soal 14 :
Tentukan hasil integral berikut.
a. ʃ (2x + 6)(x2 + 6x + 3)7 dx
b. ʃ (x2 - 8x + 1)(x - 4)dx
Pembahasan :
a. ʃ (2x + 6)(x2 + 6x + 3)7 dx = ʃ (x2 + 6x + 3)7 (2x + 6) dx
Cara 1:
Misalkan u = x2 + 6x + 3 ↔ du/dx = 2x + 6
↔ du = (2x + 6) dx. Oleh karena itu,
ʃ (x2 + 6x + 3)7 (2x + 6) dx= ʃ u7 du
= 1/8 u8 + c
= 1/8 (x2 + 6x + 3)8 + c
Cara 2:
ʃ (2x + 6)(x2 + 6x + 3)7 dx = ʃ (x2 + 6x +3)7 d (x2 + 6x + 3)
= 1/8 (x2 + 6x + 3)8 + c
b. ʃ (x2 - 8x + 1)(x - 4) dx
Cara 1:
Misalkan u = x2 – 8x + 1.
du/dx = 2x – 8 ↔ 1/2 du = (x – 4) dx
Oleh karena itu,
ʃ (x2 - 8x + 1)(x - 4)dx = u. ½ du = ½ ʃ u du = ½ (1/2 u2) + c = ¼ u2 + c = ¼ (x2 –
8x + 1)2 + c
Cara 2:
ʃ (x2 - 8x + 1)(x - 4)dx
= ʃ (x2 - 8x + 1) ½ d (x2 - 8x + 1)
= ½ ʃ (x2 - 8x + 1) d(x2 - 8x + 1)
= ½ (1/2 (x2 – 8x + 1)2) + c
= ½ (x2 – 8x + 1)2 + c
Tentukan integral berikut.
a. ʃ x dx
b. ʃ dx
Jawab:
a. ʃ x dx
Misalkan u = x2 – 1 ↔ du = 2x dx sehingga x dx = ½ du
ʃ x dx = ʃ ½ du = 1/2 ʃ du
b. ʃ dx
Misalkan u = 2x3 + 1 ↔ du = 6x2 dx sehingga 3x2 dx = ½ du
Bagaimana jika integral yang akan ditentukan adalah integral tertentu? Caranya
sama saja dengan integral tak tentu. Hanya, yang perlu diperhatikan adalah batas
integrasinya. Batas integrasi dapat digunakan variabel sebelum substitusi maupun
variabel substitusi
E. Integral Parsial
Kadang-kadang, bentuk integral ʃ u dv, dengan u dan v merupakan fungsi-
fungsi dalam variabel x, sangat sulit dikerjakan, sedangkan ʃ v du lebih mudah
dikerjakan. Jika kita menjumpai bentuk seperti itu maka kita perlu mengetahui
hubungan antara kedua integral tersebut untuk memperoleh penyelesaian ʃ u dv.
Misalnya y = uv dengan y = y(x), u = u(x), dan v = v(x) merupakan fungsi
diferensiabel. Jika fungsi y diturunkan maka diperoleh :
↔ dy = u dv + v du
↔ d(uv) = u dv + v du. Jika kedua ruas persamaan di atas diintegralkan maka
diperoleh :
ʃ d(uv) = ʃ u dv + ʃ v du
ʃ uv = ʃ u dv + ʃ v du
Dengan demikian, diperoleh suatu rumus sebagai berikut.
ʃ u dv = uv – ʃ v du
Dari rumus di atas terlihat bahwa integral dipisah menjadi 2 bagian, yaitu
u dan dv (yang mengandung dx) sehingga disebut sebagai integral parsial. Untuk
menggunakan rumus integral parsial, perlu diperhatikan bahwa bagian yang
dipilih sebagai dv harus dapat diintegralkan dan ʃ v du harus lebih sederhana
(lebih mudah dikerjakan) daripada ʃ u dv . Berdasarkan rumus integral parsial
maka integral tersebut dibagi menjadi dua bagian, yaitu u dan dv. Untuk
menentukan bagian u dan dv ada beberapa kemungkinan sehingga harus dipilih
yang paling tepat sesuai dengan kaidah di atas. Kemungkinan yang dapat terjadi
untuk memilih u dan dv adalah sebagai berikut.
a. Misalkan u = x dan dv = dx. Oleh karena itu, du = dx dan v = x
sehingga : ʃ x dx = x (x) - ʃ x ( ) dx
Dari integral di atas terlihat bahwa bentuk tersebut sulit untuk ditentukan
penyelesaiannya. Oleh karena itu, untuk pemisalan u dan dv di atas ditolak.
b. Misalkan u = dv = x dx.
Dengan demikian, diperoleh du = dx dan v = ʃ x dx = ½ x2.
Dari bentuk integral di atas maka terlihat bahwa bentuk tersebut juga sulit
ditentukan penyelesaiannya. Jadi, untuk pemisalan u dan dv di atas ditolak.
c. Misalkan u = x dan dv = dx
Untuk u = x ↔ du = dx
Untuk dv = dx ↔ ʃ dv = ʃ dx ↔ v = 2/3
Oleh karena itu,
Gmrr
5.4Penggunaan Integral Tertentu
Pada pembahasan sebelumnya, kita telah mempelajari teori-teori yang
berhubungan dengan integral tertentu. Sekarang kita akan mempelajari beberapa
penggunaan integral tertentu, yaitu untuk menentukan luas suatu daerah dan
volume benda putar jika suatu daerah diputar mengelilingi sumbu tertentu.
1. Luas Daerah yang Dibatasi oleh Kurva y = f(x), Sumbu X, Garis x = a,
dan Garis x = b
a. Untuk f(x) ≥ 0 pada Interval a ≤ x ≤ b
Misalkan L adalah luas daerah pada bidang Cartesius yang dibatasi oleh
kurva y = f(x), sumbu X, garis x = a dan garis x = b seperti gambar di bawah ini.
Luas daerah L ditentukan oleh rumus berikut.
L = f (x) dx
Contoh Soal 19 :
Suatu daerah dibatasi oleh kurva y = x – 1, x = 1, x = 3, dan sumbu
X. Lukislah kurva tersebut dan arsir daerah yang dimaksud, kemudian tentukan
luasnya.
Jawaban :
Kurva daerah yang dimaksud seperti Gambar 11.
Gmr
[Link]
tentu-tertentu-pengertian-substitusi-parsial-penggunaan-pembahasan-fungsi-
[Link]