0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
145 tayangan27 halaman

Kepatuhan Diet pada Diabetes Tipe II

Studi literatur ini membahas penerapan self manajemen (kepatuhan diet) pada pasien diabetes melitus tipe II. Tujuannya adalah menelaah literatur terkait pengaruh self manajemen berupa kepatuhan diet bagi pasien diabetes tipe II untuk mengendalikan kadar gula darah dan mencegah komplikasi penyakit. Studi ini diharapkan bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan tentang diet yang sesuai bagi pasien diabetes.

Diunggah oleh

Zairul Ashari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
145 tayangan27 halaman

Kepatuhan Diet pada Diabetes Tipe II

Studi literatur ini membahas penerapan self manajemen (kepatuhan diet) pada pasien diabetes melitus tipe II. Tujuannya adalah menelaah literatur terkait pengaruh self manajemen berupa kepatuhan diet bagi pasien diabetes tipe II untuk mengendalikan kadar gula darah dan mencegah komplikasi penyakit. Studi ini diharapkan bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan tentang diet yang sesuai bagi pasien diabetes.

Diunggah oleh

Zairul Ashari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STUDI LITERATUR PENERAPAN SELF MANAGEMENT

(KEPATUHAN DIET) PADA PASIEN

DIABETES MELITUS TIPE II

OLEH

WIWINK INDRIANI

NH0317035

KEMENTRIAN RISTEK DIKTI REPUBLIK INDONESIA

STIKES NANI HASANUDDIN MAKASSAR

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

2020
PROPOSAL

STUDI LITERATUR PENERAPAN SELF MANAJEMEN (KEPATUHAN

DIET) PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II

Studi Literatur ini disusun sebagai persyaratan menyelesaikan

Program Pendidikan Ahli Madya Keperawatan

Program studi DIII Keperawatan

STIKES Nani Hasanuddin

Makassar

WIWINK INDRIANI

NH0317035

KEMENTRIAN RISTEK DIKTI REPUBLIK INDONESIA

STIKES NANI HASANUDDIN MAKASSAR

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

2020
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.........................................................................................................i

DAFTAR TABEL.................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang...........................................................................................1
B. Rumusan Masalah......................................................................................2
C. Tujuan Penelitian.......................................................................................2
D. Manfaat Penelitian.....................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum
1. Pengertian Diabetes Melitus.................................................................4
2. Etiologi Diabetes Melitus.....................................................................5
3. Patofisiologi Diabetes Melitus..............................................................5
4. Klasifikasi Diabetes Melitus.................................................................7
5. Manifestasi klinis Diabetes Melitus......................................................8
6. Komplikasi Diabetes Melitus................................................................8
7. Penatalaksanaan Diabetes Melitus........................................................9
8. Pemeriksaan penunjang Diabetes Melitus............................................10
B. Tinjauan Khusus
1. Pengertian Self Manajemen..................................................................13
2. Pengertian Kepatuhan Diet...................................................................13
3. Diet diabetes melitus.............................................................................13
C. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian...........................................................................................14
2. Diagnosa Keperawatan........................................................................15
3. Intervensi.............................................................................................16

i
4. Implementasi.......................................................................................16
5. Evaluasi...............................................................................................17

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian..........................................................................................18
B. Focus Studi................................................................................................18
C. Data Sekunder............................................................................................18
D. Kriteria inklusi & eksklusi.........................................................................18
1. Inklusi..................................................................................................18
2. Eksklusi...............................................................................................18
E. Pengumpulan Data.....................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................20

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Kadar glukosa darah sewaktu................................................................7

Tabel 1.2 Kadar glukosa darah puasa....................................................................7

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit kronis yang ditandai
dengan peningkatan kadar glukosa darah (atau gula darah) yang dapat
menyebabkan kerusakan serius pada jantung, pembuluh darah, mata, ginjal,
dan saraf. Yang paling umum terjadi adalah diabetes mellitus tipe 2 dan
biasanya terjadi pada orang dewasa ketika tubuh resisten terhadap insulin atau
tidak cukup menghasilkan insulin. Diabetes tipe 1 atau diabetes yang
tergantung pada insulin, adalah suatu kondisi dimana pancreas memproduksi
sedikit atau tidak ada insulin dengan sendirinya. (WHO, 2018)
Menurut (IDF diabetes atlas, 2019) diperkirakan 463 juta orang menderita
diabetes dan dua pertiga dari penderita diabetes tinggal didaerah perkotaan
dan tiga dari empat diantaranya berusia kerja. Dikutip dari (IDF diabetes
atlas indonesia, 2019) orang dengan diabetes mellitus sebanyak 10,6 juta dan
orang dengan diabetes yang tidak terdiagnosis sebanyak 7,8 juta jiwa. Dengan
kasus yang paling banyak terjadi adalah diabetes mellitus tipe 2 dapat
dikatakan bahwa hal ini terjadi karena kurangnya penerapan self management
dalam menjaga pola hidup sehat dalam hal ini kepatuhan diet penderita
diabetes mellitus. Pada penderita diabetes mellitus sangat diperlukan
pemantauan pemahaman perilaku pola hidup dalam melakukan self
management diantaranya kepatuhan diet. Kondisi kadar gula darah yang
tinggi dapat mengakibatkan komplikasi bahkan sampai kematian.
Ketidakmampuan pasien dalam melaksanakan perawatan mandiri dapat
menurunkan kualitas hidup. Salah satu penatalaksanaan dasar dari diabetes
mellitus adalah diet.

1
Dikutip dalam (Diah Krisnatuti, 2014) pengendalian kadar gula darah dan
meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes mellitus dapat dilakukan
dengan pengaturan menu makanan atau diet. Diabetes mellitus bersifat
degeneratif artinya penyekit ini disebabkan oleh penurunan fungsi tubuh
sehingga tidak dapat disembuhkan. Upaya penyembuhan dilakukan untuk
mencegah munculnya penyakit. Dengan penerapan self manajemen
(kepatuhan diet) dalam pengaturan makanan dan mempertimbangkan jumlah
kalori dan gizi yang dibutuhkan dapat membantu tercapainya tujuan
penerapan diet sehat penderita diabetes mellitus.
Dari beberapa data diatas, maka penulis berencana untuk melakukan studi
literatur terkait penerapan self-management (kepatuhan diet) pada pasien
diabetes mellitus tipe II. Pada studi literature ini sasarannya adalah pada
penderita diabetes mellitus tipe 2 dimana penderita penyakit ini banyak
diakibatkan salah satunya dari obesitas sehingga perlunya pemahaman tentang
bagaimana manajemen self (kepatuhan diet) pada pasien DM tipe 2 tersebut.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa rumusan
masalah dari penelitian studi literature ini yaitu “bagaimanakah pengaruh self
manajemen (kepatuhan diet) pada pasien diabetes mellitus tipe II?”
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari literatur review ini adalah untuk menelaah literatur, artikel,
atau dokumen terkait dengan penerapan self manajemen (kepatuhan diet) pada
penderita diabetes mellitus tipe II sehingga dapat diketahui diet yang
sepatutnya diterapkan pada penderita diabetes mellitus.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
a. Bagi ilmu keperawatan

2
Hasil studi literatur ini dapat digunakan untuk menentukan
penelitian yang dapat dilakukan selanjutnya terkait dengan self
manajemen (kepatuhan diet) pada penderita diabetes mellitus.

b. Bagi peneliti
Hasil dari studi literatur ini dapat menjadi pengalaman yang sangat
berharga bagi peneliti dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang
diperoleh dan sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan
pendidikan pada jurusan DIII Keperawatan Stikes Nani Hasanuddin
Makassar.
2. Manfaat praktis bagi masyarakat
Hasil dari studi leteratur ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam
memenuhi kebutuhan untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan
terkait penerapan self manajemen dalam hal ini kepatuhan diet pada
penderita diabetes mellitus tipe II.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum
1. Definisi Diabetes Melitus
Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu kelompok penyakit metabolik
yang memiliki karakteristik seperti hiperglikemia yang terjadi karena
kelainan sekresi insulin dan kerja insulin atau keduanya. (Chris Tanto,
2014)
Diabetes Mellitus merupakan gangguan metabolisme yang ditandai
dengan hiperglikemia yang berhubungan dengan abnormalitas metabolism
karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi
insulin atau penurunan sensitivitas insulin atau keduanya dan
menyebabkan komplikasi kronis mikrovaskular, makrovaskular dan
neuropati. (Amin Huda Nurarif, 2016)
Menurut (Marewa, 2015) kencing manis atau diabetes mellitus (DM)
adalah penyakit metabolisme yang ditandai dengan meningkatnya kadar
gula darah (glukosa) seseorang di dalam tubuh yang tinggi melebihi batas
normal (hyperglycemia). Kadar gula yang tinggi dikeluarkan melalui air
seni (urine), air seni mengandung gula atau manis sehingga disebut
sebagai penyakit kencing manis. Kencing manis (diabetes mellitus) pada
akhirnya bisa menimbulkan komplikasi baik akut maupun kronis.
Diabetes mellitus berasal dari kata “diabetes” yang artinya “mengalir
terus” dan “mellitus” yang memiliki arti “manis” disebut diabetes karena

4
penderitanya selalu minum dalam jumlah yang banyak (polidipsia),
kemudian mengalir terus berupa urine. Disebut “mellitus” karena urine
penderita penyakit ini mengandung gula (glukosa). Kadar glukosa orang
sehat waktu puasa sekitar 80-100mg/dL dan dibawah 140 mg/dL pada dua
jam sesudah makan. (Diah Krisnatuti, 2014)
2. Etiologi Diabetes Melitus
a. Diabetes tipe I
Diabetes tipe I yaitu diabetes yang bergantung dengan insulin dan
ditandai dengan penghancuran sel-sel beta pankreas yang disebabkan
oleh :
1) Faktor genetik penderita tidak mewarisi diabetes tipe itu sendiri,
tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik
kearah terjadinya diabetes tipe I.
2) Faktor imunologi (autoimun)
3) Faktor lingkungan : virus atau toksin tertentu dapat memicu proses
autoimun yang menimbulkan estruksi sel beta.
b. DM tipe II
Disebebkan oleh kegagalan relative sel beta dan resistensi insulin.
Faktor resiko yang berhubungan dengan proses terjadinya diabetes tipe
II yaitu diantaranya karena faktor usia, obesitas, riwayat kesehatan dan
keluarga.
Hasil pemeriksaan glukosa darah 2 jam pasca pembedahan dibagi
menjadi 3 yaitu :
1) <140 mg/dL  normal
2) 140-<200mg/dL  toleransi glukosa terganggu
3) ≥200 mg/dL  diabetes. (Amin Huda Nurarif, 2016)
3. Patofisiologi Diabetes Melitus

5
Diabetes mellitus tipe II (DMT2) merupakan kondisi multifaktorial.
Sebagian besar pasien DMT2 adalah pasien obesitas atau dengan
komponen lemak visceral yang menonjol. Keadaan ini berhubungan
dengan resistensi insulin (RI). Resistensi insulin terjadi beberapa decade
sebelumkejadian DMT2. Secara fisiologis, tubuh dapat mengatasi
resistensi insulin yang terjadi dengan meningkatkan jumlah sekresi insulin
sehingga hiperglikemia tidak terjadi. Resistensi insulin bertahap dan
perlahan menyebabkan hiperglikemia yang awalnya tidak menimbulkan
gejala klasik diabetes.
Pada suatu saat, gabungan antara defek sekresi insulin dan resistensi
insulin menyebabkan terjadinya hiperglikemia. Periode dimana tubuh
masih dapat mempertahankan kadar glukosa darah dalam batas normal
(bukan DM, tidak termasuk dalam kriteria diagnosis diabetes mellitus
maupun prediabetes) disebut stadium normoglikemia, sedangkan periode
dimana telah terjadi peningkatan kadar glukosa darah disebut stadium
hiperglikemia. Stadium hiperglikemia dapat dibedakan menjadi
prediabetes dan diabetes melius. Stadium prediabetes meliputi toleransi
glukosa terganggu (TGT) dan glukosa darah puasa terganggu (GDPT),
yang akan dibahas lebih lanjut pada bagian diagnosis.
Saat diabetes mellitus terdiagnosis, diperkirakan pasien tersebut sudah
mengalami kehilangan 50% massa sel beta pngkreas, sehingga terjadi
ketidakseimbangan antara sekresi insulin dan resistensi insulinitu.
Diabetes mellitus khususnya dalam hal ini hiperglikemia merupakan
bagian sindrom metabolic/sindrom resistensi insulin. Sindrom metabolik
merupakan sekumpulan kelainan metabolik yang mengarah kepada resiko
penyakit kardiovaskuler dan diabetes.
Secara klinis resistensi insulin dikenal dengan ditemukannya beberapa
parameter klinis yang dikenal dengan sindrom metabolik. Adanya sindrom

6
metabolik menunjukkan resiko diabetes mellitus dan penyakit
kardiovaskuler yang tinggi pada individu tersebut.
Sindrom metabolik menurut national cholesterol education program
adult treatment panel III (NCEP ATP III) ditegakkan dengan adanya
minimal tiga dari kriteria berikut:
a. Lingkar pinggang ≥90cm untuk laki-laki atau ≥80cm untuk perempuan
(ras asia selain jepang)
b. Trigliserida plasma ≥150 mg/dL atau sedang mengkonsumsi obat
penurun kolesterol (kriteria asia pasifik).
c. HDL plasma <40 mg/dL pada laki-laki atau <50 mg/dL pada
perempuan.
d. Tekanan darah ≥130/85 mmHg atau sedang mengkonsumsi obat
antihipertensi.
e. Glukosa darah puasa ≥100 mg/dL
American heart association (AHA) menambahkan adanya pengobatan
untuk hipertensi (walaupun tekanan darah sudah terkontrol) atau
pengobatan terhadap hiperglikemia (walaupun glukosa darah sudah
terkontrol) kedalam kriteria untuk hipertensi dan hiperglikemia di atas.
(Chris Tanto, 2014)
4. Klasifikasi Diabetes Melitus
a. Klasifikasi klinis
1) Diabetes mellitus (DM)
a) Diabetes mellitus tipe I : IDDM
Diabetes mellitus tipe I ini disebabkan oleh destruksi sel
beta pulau Langerhans akibat proses outoimun.
b) Diabetes mellitus tipe II : NIDDM
Diabetes mellitus tipe II ini disebabkan oleh kegagalan
relative sel beta dan resistensi insulin. Resistensi insulin adalah

7
turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan
glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi
glukosa oleh hati seperti tipe II dengan obesitas dan tipe II tanpa
obesitas.
2) Gangguan toleransi glukosa
3) Diabetes kehamilan.
b. Klasifikasi resiko statistic
1) Sebelumnya pernah menderita kelainan toleransi glukosa
2) Berpotensi menderita kelainan glukosa. (Amin Huda Nurarif, 2016)
5. Manifestasi Klinis Diabetes Melitus
Manifestasi klinis diabetes mellitus dikaitkan dengan konsekuensi
metabolic defisiensi insulin.
a. Kadar glukosa puasa tidak normal.
b. Hiperglikemia berat berakibat glukosuria yang akan menjadi dieresis
osmotic yang meningkatkan pengeluaran urine (poliuria) dan timbul
rasa haus (polidipsia).
c. Lelah dan mengantuk
d. Rasa lapar yang semakin besar (polifagia)
e. BB (berat badan) berkurang
f. Gejala lain yang biasanya dikeluhkan adalah kesemutan, gatal, mata
kabur, impotensi, peruritas vulva. (Amin Huda Nurarif, 2016)
6. Komplikasi Diabetes Melitus
Komplikasi dari diabetes mellitus dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian
diantaranya sebagai berikut :
a. Makroangiopati
1) Penyakit jantung koroner
2) Penyakit arteri perifer
3) Penyakit serebrovaskular

8
4) Kaki diabetes
b. Mikroangiopati
1) Retinopati diabetik
2) Nefropati diabetic
3) Disfungsi ereksi
c. Neuropati
Neuropati perifer
Neuropati otonom. (Chris Tanto, 2014)

7. Pemeriksaan Penunjang Diabetes Melitus


a. Kadar glukosa darah
1) Kadar glukosa darah sewaktu (mg/dL)

Kadar glukosa darah DM Belum pasti DM


sewaktu
Plasma Vena >200 100-200
Darah Kapiler >200 80-100
Tabel 1.1 (kadar glukosa darah sewaktu)
2) Kadar glukosa darah puasa (mg/dL)

Kadar glukosa darah DM Belum pasti DM


sewaktu
Plasma Vena >120 110-120
Darah Kapiler >110 90-110
Tabel 1.2 (kadar glukosa darah puasa)
b. Kriteria diagnostik oleh WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya
dua kali pemeriksaan :
1) Glukosa plasma sewaktu >200mg/dL (11,1 mmol/L).
2) Glukosa plasma puasa >140 mg/dL (7,8 mmol/L).

9
3) Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah
mengkonsumsi 75gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) >200
mg/dL).
c. Tes laboratorium diabetes mellitus (DM)
Jenis tes pada pasien diabetes mellitus (DM) dapat berupa tes
saring, tes diagnostik, tes pementauan terapi dan tes untuk mendeteksi
komplikasi.
d. Tes saring
Tes saring pada pasien diabetes mellitus (DM) yaitu seperti GDP,
GDS dan tes glukosa urine yang terbagi menjadi 2 yaitu tes
konvensional (metode reduksi/benedict) dan tes carik celup (metode
glucose oxidase/hexokinase).
e. Tes diagnostik
Tes diagnostik pada pasien dengan diabetes mellitus (DM) diantaranya
adalah : GDP, GDS, GD2PP (glukosa darah 2 jam post prandial)
glukosa jam ke-2 TTGO.
f. Tes monitoring terapi
Tes monitoring terapi diabetes mellitus (DM) yang dapat dilakukan
ialah :
1) GDP : plasma vena, darah kapiler
2) G2d PP : plasma vena
3) A1c : darah vena, darah kapiler.
g. Tes untuk mendeteksi komplikasi
1) Mokroalbuminuria : urin
2) Ureum, kreatinin, asam urat
3) Kolesterol total : plasma vena (puasa)
4) Kolesterol LDL : plasma vena (puasa)
5) Kolesterol HDL : plasma vena (puasa)
6) Trigliserida : plasma vena (puasa). (Amin Huda Nurarif, 2016)

10
8. Penatalaksanaan Diabetes Melitus
a. Evaluasi medis terarah
Meliputi riwayat penyakit, pemeriksaan fisis, evaluasi
laoratoris/penunjang lain (GDP dan GD 2PP, HbA1c, profil lipid pada
keadaan puasa, kreatinin serum, albuminuria, keton, sedimen, dan
protein urine, EKG, rontgen dada, serta rujukan apabila diperlukan
(mata, gizi, perawatan kaki, psikolog, dan konsultasi lain).
b. evaluasi medis berkala/pemantauan
Diantaranya pemeriksaan GDP, GD 2PP, HbA1c, setiap 6 bulan,
dan pemeriksaan fisis serta penunjang lainnya.
c. Pilar penatalaksanaan diabetes mellitus
1) Edukasi
Edukasi mengenai pengertian diabetes mellitus (DM), promosi
perilaku hidup sehat, pemantauan glukosa darah mandiri, serta
tanda dan gejala hipoglikemiabeserta cara mengatasinya perlu
dipahami oleh pasien.
2) Terapi nutrisi medis (TNM)
TNM merupakan aspek penting dari penatalaksanaan diabetes
mellitus secara menyeluruh, yang membutuhkan keterlibatan
multidisiplin (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan, pasien serta
keluarga pasien). Prinsip pengaturan diet pada penyandang diabetes
mellitus adalah menu seimbang sesuai kebutuhan kalori dan zat gizi
masing-masing pasien, serta perlu ditekankan pentingnya
keteraturan jadwal, jenis dan jumlah makanan.
Kebutuhan kalori dilakukan dengan memperhitungkan kalori
basal. Kebutuhan kalori ini besarnya 25 (perempuan) dan 30 kalori
(laki-laki)/kgBB [Link] atau dikurangi tergantung dari
beberapa faktor seperti jenis kelamin, umur, aktivitas, berat badan,

11
dll. Perhitungan berat badan ideal (BBI) dilakukan dengan rumus
broca yang dimodifikasi yaitu :
a) BBI = 90% x (tinggi badan dalam cm – 100) x 1 kg.
b) Bagi pria dengan tinggi badan <160 cm dan perempuan <150
cm, rumus dimodifikasi menjadi BBI = (tinggi badan dalam cm
– 100) x 1 kg.
c) BB normal : BBI ± 10% gemuk >BBI + 10%.
Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari :
a) Karbohidrat : 45-65% total asupan energy (karbohidrat
nonolahan berserat tinggi, dibagi dalam 3x makan/hari).
b) Lemak : 20-25% kebutuhan kalori (batasi lemak jenuh dan lemak
trans, seperti daging berlemak dan whole milk , konsumsi
kolesterol <200 mg/hari).
c) Protein : 10-20% total asupan energy (seafood, daging tanpa
lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak, kacang-
kacangan, tahu dan tempe).
d) Natrium : <3g atau 1 sdt garam dapur (pada hipertensi natrium
dibatasi 2,4g).
e) Serat : ±25g/hari (kacang-kacangan, buah dan sayuran serta
karbohidrat tinggi serat).
f) Pemanis alternatif: tetap perlu diperhitungkan kandungan
kalorinya sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.
3) Aktivitas fisik
Kegiatan jasmani yang dianjurkan adalah intensitas sedang (50-
70% denyut nadi maksimal) minimal 150 menit/minggu atau
aerobik 75 menit/minggu. Aktivitas dibagi dalam 3 hari per minggu
dan tidak ada dua hari berturutan tanpa aktivitas fisik. Jika tidak ada
kontraindikasi, pasien DMT2 diedukasi melakukan latihan
resistensi sekurangnya 2x/minggu. Untuk penyandang diabetes

12
mellitus dengan penyakit dengan penyakit kardiovaskuler, latihan
jasmani dimulai dengan intensitas rendah dan durasi singkat lalu
secara perlahan ditingkatkan. Aktivitas fisik sehari-hari juga
dilakukan, misalnya berjalan kaki ke tempat kerja menggunakan
tangga (tidak menggunakan elefator).
4) Terapi farmakologis
Terapi farmakologi dengan insulin diindikasikan pada orang
dengan :
a) Diabetes mellitus tipe I
b) Penurunan berat badan yang cepat
c) Hiperglikemia disertai ketosis
d) Ketosidosis diabetik
e) Hiperglikemia hyperosmolar non ketotik. (Chris Tanto, 2014)
B. Tinjauan Khusus
1. Pengertian management self
Menurut Carlton et al,2017 dikutip (Fkep et al., 2019) self
management merupakan perilaku individu untuk meningkatkan kualitas
hidup dan mencegah terjadinya komplikasi penyakit yang dilakukan
secara mandiri. Perilaku self management pasien diabetes mellitus yang
dapat dilakukan diantaranya adalah mengatur pola makan sehat atau diet
sehat, melakukan olahraga atau latihan fisik serta pemantauan kadar gula
darah secara berkala dengan menggunakan obat/insulin dan penggunaan
pelayanan kesehatan.
2. Pengertian kepatuhan diet
Kepatuhan diet merupakan upaya yang sangat penting dalam
pengendalian kadar glukosa darah, kolesterol, dan trigliserida mendekati
normal sehingga dapat mencegah komplikasi kronik, seperti ulkus kaki
diabetes. Kepatuhan diet penderita diabetes mellitus mempunyai fungsi

13
yang sangat penting yaitu mempertahankan berat badan normal,
menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolic, menurunkan kadar
glukosa darah, memperbaiki profil lipid, meningkatkan sensitifitas
reseptor insulin dan memperbaiki system koagulasi darah. (Supriyadi,
2017)
3. Diet diabetes mellitus
Dalam mengelola diabetes dengan diet penting untuk mengetahui jenis
karbohidrat apa dan berapa banyak yang perlu untuk dimakan. Dikutip
dari (ADA, 2020) makan terlalu banyak karbohidrat dapat meningkatkan
kadar glukosa darah dimana pada saat tubuh tidak memiliki cukup insulin
untuk membantu menyebarkan glukosa ke dalam sel-sel tubuh. Terdapat 3
jenis utama karbohidrat dalam makanan seperti pati, gula dan serat
diantaranya sebagai berikut :
a. Makanan tinggi pati termasuk sayuran bertepung seperti kacang
polong, jagung, dan kentang serta biji-bijian seperti gandum dan beras.
b. Adapun gula, terbagi atas 2 jenis yaitu gula alami seperti yang ada
pada susu dan buah serta gula yang ditambahkan misalnya makanan
olahan seperti buah kaleng, sirup dan kue.
c. Dan untuk serat berasal dari makanan nabati seperti kacang-kacangan,
buah dan sayuran terutama yang memiliki kulit yang dapat dimakan.
C. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan dasar utama dari proses keperawatan itu
sendiri. Menurut (heather herdman, 2018) pengkajian mencakup
pengumpulan informasi subjektif dan objektif (missal: tanda vital,
wawancara pasien/keluarga, pemeriksaan fisik) dan peninjauan informasi
riwayat pasien yang diberikan oleh pasien/keluarga, atau ditemukan dalam
rekam medik.

14
a. Anamnesis
Anamnesis merupakan kumpulan informasi subyektif yang
diperoleh dari apa yang dipaparkan oleh klien terkait dengan masalah
kesehatan yang menyebabkan pasien melakukan kunjungan ke
pelayanan kesehatan. Anamnesis diperoleh dari komunikasi aktif
antara perawat dan pasien atau keluarga pasien. Anamnesis yang baik
untuk seorang dewasa mencakupi keluhan utama, informasi mengenai
kelainan yang dialami sekarang, riwayat penyakit terdahulu, riwayat
keluarga, dan informasi mengenai keadaan setiap system tubuh pasien.
(Niman, 2013)

b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik merupakan bagian dari proses assessment yang
dilakukan oleh perawat untuk mendapatkan informasi mengenai
gambaran lengkap tentang fungsi fisiologis tubuh. Pemeriksaan fisik
dengan memperoleh data yang komprehensif mengenai klien
dilakukan pada semua tatanan layanan kesehatan baik klinik,
puskesmas maupun rumah sakit. Pemeriksaan yang
mengkombinasikan antara pemeriksaan kesehatan dan psikososial
akan menjadi suatu bentuk data dasar dapat dipakai untuk membuat
keputusan langsung tentang klien. (Niman, 2013)
c. Pemeriksaan diagnostic
Menurut Levett-Jones et al,2010 dikutip dalam (heather herdman,
2018) dasar dari diagnosis adalah penalaran klinis dimana penalaran
klinis ini mencakup penggunaan penilaian klinis untuk memutuskan
apa yang salah dengan pasien, dan pembuat keputusan klinis untuk
memutuskan apa yang perlu dilakukan. Penilaian klinis adalah

15
interpretasi atau kesimpulan tentang kebutuhan pasien, kekhawatiran
atau masalah kesehatan dan/atau keputusan untuk mengambil tindakan
atau tidak. sebagai contoh pasien dapat memberikan informasi yang
jelas diawal pengkajian kepada perawat dalam menemukan masalah
utama atau focus diagnostic sehingga perawat dapat mengidentifikasi
melalui data yang telah dikumpulkan dan dapat mempermudah dalam
langkah selanjutnya untuk menentukan diagnosis keperawatan.
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosis keperawatan adalah suatu penilaian klinis mengenai respon
klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang didalamnya
baik yang berlangsung actual maupun potensial. Diagnosis keperawatan
bertujuan untuk mengidentifikasi resspon klien individu, keluarga maupun
komunitas terhadap situasi yang berkaitan dengan kesehatan. (Tim Pokja
SDKI DPP PPNI, 2017)
3. Intervensi
Intervensi keperawatan adalah suatu tindakan atau treatment yang
dilakukan oleh perawat yang didasari oleh pengetahuan dan penilaian
klinis untuk mencapai luaran (outcome) yang diharapkan. (Tim Pokja
SIKI DPP PPNI, 2018)
Contoh masalah yang lazim muncul pada pasien diabetes mellitus
adalah :
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan
keseimbangan insulin, makanan dan aktivitas jasmani.
2. Kerusakan integritas jaringan b.d nekrosis kerusakan jaringan
(nekrosis luka gangrene).
3. Retensi urine b.d inkomplit pengosongan kandung kemih, sfingter kuat
dan poliuri. (Amin Huda Nurarif, 2016)
4. Implementasi

16
Implementasi merupakan tahap proses keperawatan dimana perawat
memberikan intervensi keperawatan langsung dan tidak langsung terhadap
klien. Tujuan dari tahap pelaksanaan proses keperawatan adalah
melakukan pertukaran informasi yang relevan dengan perawatan
kesehatan yang berkelanjutan dari klien. (Sutejo, 2016)
Contoh intervensi yang dilakukan pada pasien diabetes mellitus :
1. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan
nutrisi yang dibutuhkan pasien.
2. Yakinkan diet yang dilakukan mengandung tinggi serat untuk
mencegah konstipasi.
3. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi. (Amin Huda Nurarif,
2016)

5. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan
dengan cara melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana
keperawatan tercapai atau tidak. (Sutejo, 2016)

17
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian dalam bentuk studi literatur.
Yaitu sebuah pencarian literatur dengan cara menelaah literature,
artikel/jurnal, atau dokumen terkait judul yang diangkat baik dalam skala
nasional maupun internasional.
B. Fokus Studi
Fokus studi yang dilakukan adalah fokus pada studi literature terkait
dengan judul yang diangat.
C. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan yang berhubungan
dengan penelitian terkait judul yang diangkat. Dalam penelitian ini yang

18
menjadi sumber data sekunder adalah literature, artikel, jurnal serta situs di
internet yang berkenaan dengan penelitian yang dilakukan.
D. Kriteria inklusi & eksklusi
1. Inklusi
a. Dipublikasikan pada jurnal terakreditasi
b. Artikel yang dipublikasikan pada periode 2018-2020
c. Sampel representative.
2. Eksklusi
a. Artikel sampel yang tidak dimasukkan kedalam penelitian
b. Artikel literature review.
E. Pengunmpulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan database dari
google scholar yang dibuat melalui studi pustaka dengan cara melakukan
penelusuran hasil publikasi ilmiah dengan rentang tahun 2018-2020. Selain
dalam penelusuran hasil publikasi ilmiah, cara lain yang dapat dilakukan yaitu
dengan penelusuran pada buku terkait dengan penerapan self manajemen
(kepatuhan diet) pada pasien diabetes mellitus tipe 2. Hasil penelusuran
tersebut kemudian dapat dianalisis dan disimpulkan.

19
DAFTAR PUSTAKA

ADA. (2020). Eating doesn’t have to be boring. It’s all about finding the right
balance that works for you. AMERICAN DIABETES ASSOCIATION.
[Link]

Amin Huda Nurarif, H. K. (2016). Asuhan Keperawatan Praktis Berdasarkan


penerapan diagnosa Nanda, NIC, NOC dalam berbagai kasus. Mediaction.

Chris Tanto, D. (2014). Kapita Selekta kedokteran essentials of medicine edisi IV.
Media Aesculapius.

Diah Krisnatuti, D. (2014). Diet Sehat untuk Penderita Diabetes Mellitus. Penebar
Swadaya Group.

Fkep, J. I. M., Iv, V., Najwa, C., Zuqni, A., & Bahri, T. S. (2019). PADA PASIEN

20
DIABETES MELITUS TIPE II SELF MANAGEMENT AND BLOOD GLUCOSE
RANDOM penting dalam diagnosis diabetes melitus , glukosa darah sewaktu
pada pasien. IV(1).

heather herdman, S. kamitsuru. (2018). NANDA-I diagnosis keperawatan definisi dan


klasifikasi 2018-2020. Penerbit buku kedokteran EGC.

IDF diabetes atlas. (2019). International Diabetes Federation.


[Link]
[Link]

IDF diabetes atlas indonesia. (2019). International Diabetes Federation.


[Link]

Marewa, L. W. (2015). Kencing Manis (Diabetes Mellitus) di Sulawesi Selatan.


Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Niman, S. (2013). pengkajian kesehatan untuk perawat anamnesis, pemeriksaan


tanda vital dan pemeriksaan fisik. CV. Trans Info Media.

Supriyadi. (2017). Penerapan Skrining Kaki Diabetes Melitus. deepublish.

Sutejo. (2016). Keperawatan kesehatan jiwa prinsip dan praktek asuhan


keperawatan jiwa. pustaka baru press.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
definisi dan indikator diagnostik. Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
definisi dan tindakan keperawatan. Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia.

WHO. (2018). World Health Organization. [Link]

21
topics/diabetes#tab=tab_1

22

Anda mungkin juga menyukai