BAB II
LANDASAN TEORI
A. Self Regulated Learning
1. Pengertian Self Regulated Learning
Teori dan penelitian mengenai self regulated learning mulai muncul
sejak pertengahan tahun 1980-an untuk memahami bagaimana seorang peserta
didik dapat mengendalikan proses belajarnya sendiri. Zimmerman (dalam
Schunk dan Zimmerman, 1998) menyatakan bahwa self regulated learning
bukanlah merupakan suatu kemampuan mental seperti halnya inteligensi atau
kemampuan akademis lainnya. Self regulated learning adalah kemampuan
seorang peserta didik mengarahkan dirinya sendiri dalam menghadapi situasi
akademis.
Self regulated learning adalah suatu proses ketika seorang peserta
didik berpartisipasi aktif dalam belajar secara metakognisi, motivasi, maupun
perilaku (Zimmerman dalam Cheng, 2011). Zumbrunn, Taddlock dan Roberts
(2011) menyatakan bahwa self regulated learning adalah suatu proses ketika
peserta didik mengendalikan pikiran, perilaku, dan emosinya untuk mencapai
kesuksesan di dalam proses belajar.
Berdasarkan definisi yang telah diuraikan di atas, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa self regulated learning bukanlah merupakan suatu
kemampuan mental seperti inteligensi atau kemampuan akademis melainkan
Universitas Sumatera Utara
suatu proses ketika seorang peserta didik berpartisipasi aktif dalam belajar
baik secara metakognisi, motivasi, maupun perilaku. Seorang peserta didik
yang memiliki self regulated learning yang baik akan mampu mengendalikan
pikiran, perilaku, dan emosinya untuk mencapai kesuksesan di dalam proses
belajar.
2. Strategi self regulated learning
Strategi self regulated learning adalah kompilasi dari perencanaan
yang digunakan oleh seorang peserta didik dalam mencapai tujuan belajar
(Cobb, 2003). Zimmerman (dalam Cheng, 2011) mengemukakan bahwa
strategi belajar dapat menggambarkan bagaimana self regulated learning yang
dimiliki oleh seorang pelajar. Srategi belajar dapat menggambarkan
bagaimana kemauan, motivasi dan metakognisi seorang pelajar yang
ditunjukkan dalam bentuk perilaku-perilaku yang nyata.
Zimmerman dan Martinez-Pons (dalam Purdie, Hattie dan Douglas,
1996) mengemukakan mengenai 10 strategi self regulated learning yaitu :
a. Evaluasi terhadap kemajuan tugas (self evaluating)
Merupakan inisiatif peserta didik dalam melakukan evaluasi terhadap
kualitas tugas dan kemajuan pekerjaannya. Peserta didik memutuskan
apakah hal-hal yang telah dipelajari mencapai tujuan yang ditentukan
sebelumnya. Peserta didik dalam hal ini melakukan self monitoring
terhadap proses belajarnya dengan menggunakan beberapa standar atau
tujuan yang dimiliki.
Universitas Sumatera Utara
b. Mengatur materi pelajaran (organizing and transforming)
Strategi organizing menandakan perilaku overt dan covert dari peserta
didik untuk mengatur materi yang dipelajari dengan tujuan meningkatkan
efektivitas proses belajar. Strategi transforming dilakukan dengan
mengubah materi pelajaran menjadi lebih sederhana dan mudah dipelajari
c. Membuat rencana dan tujuan belajar (goal setting and planning)
Strategi ini merupakan pengaturan peserta didik terhadap tujuan umum
dan tujuan khusus dari belajar dan perencanaan dalam urutan pengerjaan
tugas, bagaimana memanfaatkan waktu dan menyelesaikan kegiatan yang
berhubungan dengan tujuan tersebut. Perencanaan akan membantu peserta
didik untuk menemukan dan mengenali konflik dan krisis yang potensial
serta meminimalisir tugas-tugas yang mendesak. Perencanaan juga
memungkinkan peserta didik untuk fokus pada hal-hal yang penting dalam
perolehan kesuksesan jangka panjang. Untuk mendapatkan manfaat
sebesar mungkin dari perencanaan, maka perencanaan perlu ditinjau
kembali secara rutin.
d. Mencari informasi (seeking information)
Peserta didik berinisiatif mencari banyak informasi saat mengerjakan
tugas ataupun mempelajari suatu materi pelajaran. Peserta didik misalnya
berinisiatif meminjam buku di perpustakaan, mencari literatur di internet,
dan sebagainya.
Universitas Sumatera Utara
e. Mencatat hal penting
Strategi ini dilakukan dengan mencatat hal-hal penting yang berhubungan
dengan topik yang dipelajari, kemudian menyimpan hasil tes, tugas,
maupun catatan yang telah dikerjakan
f. Mengatur lingkungan belajar (environmental structuring)
Peserta didik berusaha memilih atau mengatur aspek lingkungan fisik
dengan cara tertentu sehingga membantu mereka untuk belajar lebih baik.
g. Konsekuensi setelah mengerjakan tugas (self consequences)
Strategi ini dilakukan dengan mengatur atau membayangkan reward atau
punishment yang didapatkan bila berhasil atau gagal dalam mengerjakan
tugas
h. Mengulang dan mengingat (rehearsing and memorizing)
Peserta didik berusaha mempelajari ulang materi pelajaran dan mengingat
bahan bacaan dengan perilaku yang overt dan covert
i. Mencari bantuan sosial (seek social assistance)
Bila menghadapi masalah dengan tugas yang sedang dikerjakan, peserta
didik dapat meminta bantuan teman sebaya (seek peer assistance),
meminta bantuan guru (seek teacher assistance) dengan bertanya kepada
guru di dalam maupun di luar jam belajar untuk dapat membantu
menyelesaikan tugas dengan baik. Peserta didik juga meminta bantuan
orang dewasa (seek adult assistance) yang berada di dalam dan di luar
Universitas Sumatera Utara
lingkungan belajar bila ada topik yang tak dimengerti. Orang dewasa yang
dimaksud dalam hal ini adalah orang yang lebih berpengalaman.
j. Meninjau kembali catatan, tugas atau tes sebelumnya dan buku pelajaran
(review record)
Peserta didik dalam strategi ini meninjau kembali catatan pelajaran
sehingga tahu topik apa saja yang akan diuji. Selanjutnya peserta didik
meninjau kembali tugas atau tes sebelumnya (review test/work) yang
meliputi soal-soal ujian terdahulu tentang topik-topik tertentu, juga tugas-
tugas yang telah dikerjakan sebagai sumber informasi untuk belajar.
Peserta didik juga membaca ulang buku pelajaran (review text book) yang
merupakan sumber informasi yang dijadikan penunjang catatan sebagai
sarana belajar.
Berdasarkan uraian diatas, dapat dinyatakan bahwa strategi self
regulated learning terdiri atas 10 strategi, yaitu evaluasi terhadap kemajuan
tugas, mengatur materi pelajaran, membuat rencana dan tujuan belajar,
mencari informasi, mencatat hal penting, mengatur lingkungan belajar,
konsekuensi setelah mengerjakan tugas, mengulang dan mengingat, mencari
bantuan sosial, dan meninjau kembali catatan, tugas, atau tes sebelumnya dan
buku pelajaran.
3. Perkembangan self regulated learning
Schunk dan Zimmerman (1998) menyatakan bahwa self regulated
learning berkembang melalui dua pengaruh utama, yaitu pengaruh sosial dan
Universitas Sumatera Utara
pengaruh diri sendiri. Self regulated learning memiliki empat tingkat
perkembangan yaitu tingkat pengamatan, peniruan, kontrol diri, dan regulasi
diri.
Pada level pengamatan dan peniruan, self regulated learning peserta
didik berkembang melalui pengaruh sosial baik dari guru, orangtua, pelatih,
maupun teman sebaya. Selanjutnya pada level control diri dan regulasi diri,
peserta didik sudah mampu menerapkan strategi self regulated learning secara
mandiri.
Untuk keterangan yang lebih jelas mengenai perkembangan self
regulated learning, dapat dilihat pada tabel 1 berikut :
Tabel 2. Perkembangan Self Regulated Learning
Level Perkembangan Pengaruh Sosial Pengaruh Diri Sendiri
1. Pengamatan Modeling, instruksi
(Observational) verbal, umpan balik
2. Peniruan dari lingkungan,
(emulative) adanya pengawasan,
peer teaching,
cooperative
learning.
3. Kontrol diri (self Standar dari diri
controlled) sendiri, self
4. Pengaturan diri reinforcement, proses
(self regulated) self regulatory, self
efficacy
Sumber : Schunk dan Zimmerman (1998)
a. Level pengamatan (observational)
Level pengamatan merupakan suatu level awal dalam perkembangan self
regulated learning. Saat berada dalam level ini, seorang peserta didik
Universitas Sumatera Utara
melakukan pengamatan terhadap model (guru, orangtua, dsb) yang
menjelaskan bagaimana proses berpikir saat sedang mengerjakan tugas.
Peserta didik kemudian mempersepsikan adanya kesamaan dengan model
dan seolah-olah melakukan apa yang dilakukan model. Peserta didik
selanjutnya akan termotivasi untuk mengembangkan self regulated
learning.
b. Level peniruan (emulative)
Level peniruan (emulative) adalah ketika peserta didik menunjukkan
performansi yang hampir sama dengan model. Peserta didik biasanya
tidak langsung meniru model, namun berusaha menyamakan pola-pola
umum yang dilakukan oleh model. Level ini cukup penting, sebab seorang
peserta didik perlu melakukan strategi secara langsung agar strategi
tersebut masuk ke dalam skema berfikir mereka.
c. Level kontrol diri (self controlled)
Level kontrol diri adalah suatu fase dimana peserta didik sudah mampu
menggunakan sendiri strategi-strategi belajar ketika mengerjakan tugas.
Strategi yang digunakan peserta didik biasanya sudah terinternalisasi
meskipun masih dipengaruhi oleh standar performansi yang ditunjukkan
oleh model.
d. Level pengaturan diri (self regulated)
Level pengaturan diri adalah level terakhir, dimana peserta didik mulai
menggunakan strategi yang telah disesuaikan dengan situasi dan sudah
Universitas Sumatera Utara
pula termotivasi oleh tujuan tertentu dan memiliki self efficacy. Peserta
didik yang berada pada level ini sudah dapat menggunakan strategi-
strategi khusus dan mengadaptasinya untuk kondisi yang berbeda baik
dengan petunjuk model ataupun tanpa petunjuk model.
B. Terapi Realitas
1. Pengertian Terapi Realitas
Terapi realitas diperkenalkan oleh William Glasser pada tahun 1950-
an. Terapi realitas merupakan suatu pendekatan yang dikembangkan sebagai
reaksi melawan terapi konvensional. Terapi realitas adalah terapi yang bersifat
jangka pendek yang berfokus pada kondisi saat ini, menekankan pada
kekuatan pribadi, dan mendorong individu untuk mengembangkan tingkah
laku yang lebih realistik agar dapat mencapai kesuksesan (Corey, 2009).
Glasser (dalam Latipun, 2008) mendasari pendekatan realitas dengan
pandangannya yaitu bahwa setiap manusia memiliki dua kebutuhan dasar
yaitu kebutuhan fisiologis dan psikologis. Kebutuhan fisiologis yang
dimaksud adalah sama dengan pandangan ahli lain, sedangkan kebutuhan
psikologis manusia yang mendasar ada dua macam, yaitu : (1) kebutuhan
dicintai dan mencintai, dan (2) kebutuhan akan penghargaan. Kedua
kebutuhan psikologis itu bila digabungkan menjadi satu kebutuhan yang
sangat utama yang disebut kebutuhan identitas (identity). Identitas merupakan
cara seseorang melihat dirinya sendiri sebagai manusia dalam hubungannya
dengan orang lain dan dunia luarnya. Setiap orang mengembangkan gambaran
Universitas Sumatera Utara
identitasnya (identity image) berdasarkan atas pemenuhan kebutuhan
psikologisnya. Individu yang berhasil menemukan kebutuhannya, yaitu
terpenuhinya kebutuhan cinta dan penghargaan akan mengembangkan
gambaran diri sebagai orang yang berhasil dan membentuk identitasnya
dengan success identity sebaliknya jika individu yang gagal menemukan
kebutuhannya, akan mengembangkan gambaran diri sebagai orang yang gagal
dan membentuk identitasnya dengan identitas kegagalan (failure identity).
Gambaran identitas ini dimiliki oleh setiap orang mulai dari usia lima tahun
hingga dewasa. Berdasarkan segenap pengalaman-pengalamannya, individu
akan memberikan gambaran terhadap dirinya sebagai orang yang berhasil atau
gagal. Terapi realitas dalam hal ini berperan untuk membantu individu dalam
mencapai success identity, dimana dalam terapi, terapis akan berfokus pada
perilaku individu saat ini. Namun, terapi realitas berbeda dengan pendekatan
behavioral yang berfokus pada stimulus respon. Terapi ini berpusat pada
person yang melihat perilaku dalam konteks fenomenologis.
Berdasarkan pandangan-pandangan diatas, dapat dinyatakan bahwa
terapi realitas adalah terapi yang bersifat jangka pendek. Terapis pada terapi
realitas menekankan pada kekuatan pribadi yang dimiliki oleh individu.
Terapi realitas berfokus pada perilaku individu saat ini dan membuka jalan
kepada individu untuk menampilkan perilaku yang dapat membawa individu
ke keberhasilan dan pada akhirnya memunculkan success identity di dalam
diri individu.
Universitas Sumatera Utara
2. Prosedur Terapi Realitas
Glasser dan Wubbolding (dalam Corey, 1996) menyebutkan bahwa
prosedur terapi realitas dapat dilakukan dengan langkah WDEP, yaitu wants,
direction and doing, evaluation, dan planning. Berikut ini adalah penjelasan
dari langkah WDEP :
1) Wants : Wants merupakan suatu tahapan dimana terapis melakukan
eksplorasi terhadap harapan, kebutuhan dan persepsi dari individu.
Terapis dapat bertanya, “Apa yang anda inginkan?”. Melalui pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan terapis, seorang individu diharapkan dapat
memahami apakah harapan-harapan mereka sejalan dengan kebutuhan
mereka saat ini. Terapis pada tahapan ini harus bersifat hangat dan
menerima sehingga memungkinkan konseli untuk menjabarkan setiap hal
yang ia inginkan baik dalam keluarga, pertemanan, ataupun pekerjaan.
Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan pada sesi ini adalah : “Jika
anda sudah menjadi sosok impian anda, bagaimanakah sosok itu?”
“Bagaimana reaksi keluarga anda jika keinginan mereka dan keinginan
anda sejalan?” “Apakah anda ingin berubah?” “Menurut anda, apa yang
membuat anda tidak dapat berubah?”
2) Direction and Doing : Terapis realitas menekankan pada perilaku saat ini
dan bukan pada masa lalu. Oleh karenanya, seorang terapis realitas
biasanya sering bertanya, “Apa yang anda lakukan saat ini?” Meskipun
suatu masalah bisa berakar dari pengalaman masa lalu, namun individu
Universitas Sumatera Utara
perlu belajar bagaimana cara berdamai dengan masa lalunya dan
menunjukkan perilaku yang lebih baik untuk mencapai keinginannya.
Kondisi masa lalu individu boleh saja didiskusikan apabila hal itu
memang dapat membantu individu menyusun perencanaan hidup yang
lebih baik.
Pada sesi ini, terapis mendiskusikan dengan individu mengenai apa saja
tujuan hidup mereka, apa yang akan mereka lakukan, dan kemana hidup
mereka akan berjalan dengan perilaku yang mereka tunjukkan saat ini.
Seorang terapis dapat bertanya, “Apa yang anda lihat pada diri anda saat
ini? Bagaimana masa depan anda?”.
3) Evaluation
Inti dari terapis realitas adalah untuk membantu individu mengevaluasi
perilakunya. Terapis dapat bertanya, “Apakah perilaku anda saat ini
cukup rasional untuk membawa anda ke keinginan anda? Apakah
perilaku anda dapat mewujudkan apa yang menjadi keinginan
anda?”.Terapis pada tahapan ini dapat mengkonfrontasi individu
mengenai konsekuensi dari perilakunya.
4) Planning and Commitment : Ketika individu sudah dapat menentukan apa
yang mereka inginkan dan siap untuk diajak mengeksplorasi bentuk-
bentuk perilaku yang dapat membawa mereka ke tujuan yang mereka
inginkan, maka sudah waktunya terapis mengajak individu membuat
rencana aksi. Wubbolding (dalam Corey, 1996) mengemukakan bahwa
Universitas Sumatera Utara
dalam membuat perencanaan perilaku, ada beberapa hal yang harus
diperhatikan yaitu :
a. Pembuatan rencana perilaku harus memperhatikan kapasitas motivasi
dan kemampuan dari setiap individu. Seorang konselor yang terlatih
dapat membantu individu untuk membuat perencanaan yang
memuaskan kehidupannya. Konselor misalnya dapat bertanya kepada
individu, “rencana seperti apa yang harus anda buat agar anda lebih
puas dengan hidup anda?”
b. Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang sederhana dan mudah
dimengerti. Perencanaan perilaku harus bersifat spesifik, konkrit,
dapat diukur, dan harus fleksibel atau dapat diubah-ubah ketika
individu sudah memahami perilaku apa yang sebenarnya ingin diubah.
c. Perencanaan yang dibuat haruslah berdasarkan pada persetujuan
individu.
d. Konselor harus mendorong individu untuk membuat perencanaannya
sendiri
e. Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang bersifat repetitif dan
dilakukan setiap hari
f. Perencanaan harus dilakukan sesegera mungkin
g. Perencanaan yang baik meliputi aktivitas yang bersifat process
centered, misalnya : individu dapat memiliki rencana untuk melamar
Universitas Sumatera Utara
pekerjaan, menulis surat untuk teman, masuk klub yoga, makan
makanan bergizi, dan berlibur
h. Sebelum individu melakukan perencanaan, ada baiknya jika individu
diminta untuk mengevaluasi perencanaan yang dibuat, apakah
perencanaan tersebut sudah realistis.
i. Untuk memastikan bahwa individu akan melaksanakan rencana yang
sudah dibuat, maka individu harus membuat pernyataan secara tertulis.
Pelaksanaan terapi realitas pada penelitian ini akan diselenggarakan secara
berkelompok. American Psychological Association (APA) dalam situsnya
([Link]) menuliskan bahwa terapi kelompok adalah terapi yang melibatkan
satu atau dua orang terapis yang membawakan terapi untuk satu kelompok yang
terdiri dari 5 hingga 15 orang individu yang memiliki permasalahan yang sama. Spitz
dan Spitz (1999) menyebutkan bahwa terapi kelompok adalah terapi yang dibawakan
oleh seorang profesional untuk sekelompok orang yang memiliki keinginan untuk
menyelesaikan permasalahannya secara bersama-sama. Anggota kelompok adalah
orang-orang yang memiliki permasalahan psikologis yang sama dan membutuhkan
psikoterapi untuk menyelesaikan permasalahannya.
American Psychological Association (APA) dalam situsnya ([Link])
menuliskan bahwa terapi kelompok menawarkan keuntungan yang tidak didapatkan
dalam terapi individual, yaitu adanya dukungan dari individu-individu yang senasib
sehingga setiap anggota kelompok dapat menyadari bahwa ia bukan satu-satunya
orang yang mengalami masalah. Selain itu, terapi kelompok juga memungkinkan
Universitas Sumatera Utara
anggota kelompok belajar dari pengalaman anggota kelompok lain yang berhasil
mengatasi masalahnya dengan strategi tertentu.
Berdasarkan prosedur terapi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa terapi
realitas secara garis besar melalui empat tahapan yang disebut WDEP (wants,
direction and doing, evaluation, dan planning and commitment). Saat memasuki
tahapan planning and commitment, seorang terapi juga harus memperhatikan 9 hal (a
- i) yang dikemukakan oleh Wubbolding (dalam Corey, 1996) agar individu dapat
membuat suatu perencanaan yang relistis, spesifik, mudah dimengerti, dan dapat
segera dilaksanakan. Adapun pelaksanaan terapi realitas yang akan diselenggarakan
secara berkelompok dapat diartikan sebagai bentuk terapi realitas yang dibawakan
oleh satu, dua, atau beberapa terapis. Anggota kelompok yang mengikuti terapi
realitas berjumlah antara 5 – 15 orang, memiliki permasalahan psikologis yang sama,
membutuhkan psikoterapi, dan bersedia mengikuti terapi kelompok (menyelesaikan
permasalahannya bersama-sama dengan orang lain).
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan terapi
Lynch (2012) mengemukakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi
keberhasilan dari suatu terapi, yaitu :
a. Kedekatan antara terapis dan individu
Kedekatan antara terapis dengan individu merupakan hal
yang penting untuk meraih kesuksesan di dalam terapi. Terapis
harus mampu menunjukkan beberapa karakteristik yang mampu
meningkatkan rapport dalam terapi seperti tertarik pada masalah
Universitas Sumatera Utara
individu, tenang, hangat, dan penuh penghargaan terhadap
individu.
Kedekatan antara terapis dan individu biasanya dapat
dibentuk dalam waktu yang cukup cepat yaitu 2-4 sesi atau
bahkan 10 menit saja, tergantung dari bagaimana pembawaan
terapis saat pertama kali bertemu dengan individu.
b. Motivasi Subjek
Motivasi individu dalam mengikuti terapi adalah kunci utama
yang menentukan keberhasilan dari suatu terapi. Motivasi subjek
dapat terlihat dari kehadiran subjek dalam seluruh sesi terapi dan
kemampuan subjek untuk selalu bersikap kooperatif.
c. Kemampuan subjek mempelajari perilaku baru
Subjek yang berhasil meraih kesuksesan adalah subjek yang
merasa kondisinya lebih baik setelah mengikuti terapi. Hal ini
ditunjukkan dengan kesediaan dan kemampuan subjek untuk
mempelajari perilaku baru seperti meningkatnya rasa percaya diri,
ataupun berkurangnya simptom-simptom yang sebelumnya
dimiliki.
C. Mahasiswa Universitas Sumatera Utara
Keputusan Rektor Universitas Sumatera Utara Nomor 1023/J05/SK/PP/2005
tentang Peraturan Akademik Program Sarjana (S1) Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
(Universitas Sumatera Utara, 2012) menyebutkan bahwa mahasiswa USU adalah
peserta didik yang terdaftar secara sah pada salah satu program akademik, profesi,
dan vokasi Universitas. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Biro
Akademik USU, untuk menjadi peserta didik yang terdaftar secara sah di program
akademik S-1 (sarjana) USU adalah dengan lulus dari salah satu jalur seleksi
masuk mahasiswa USU, yaitu (1) jalur undangan adalah penerimaan dengan cara
membandingkan nilai-nilai yang diperoleh para calon mahasiswa saat SMA untuk
mendapatkan mahasiswa dengan prestasi akademik terbaik, dan juga diberikan
seleksi tertulis yaitu tes kompetensi bidang ilmu yang dilakukan oleh USU, (2)
jalur Bidik Misi adalah suatu jalur khusus bagi mahasiswa kurang mampu,
dimana seleksi penerimaan pada jalur ini ditentukan oleh rekomendasi dari
sekolah dan dinas pendidikan, (3) Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi
Negeri (SNMPTN) adalah penerimaan mahasiswa yang dilakukan dengan seleksi
melalui ujian tertulis yang diselenggarakan secara nasional, dan (4) jalur mandiri
adalah penerimaan mahasiswa yang dilakukan dengan seleksi melalui ujian
tertulis yang diselenggarakan oleh USU.
Berdasarkan uraian diatas, dapat dinyatakan bahwa mahasiswa USU adalah
peserta didik yang terdaftar secara sah pada salah satu program akademik, profesi,
dan vokasi Universitas. Peserta didik yang terdaftar secara sah di program
akademik (S-1) USU adalah mahasiswa yang dinyatakan lulus seleksi dari salah
satu jalur masuk USU yaitu jalur undangan, Bidik Misi, SNMPTN, dan jalur
mandiri
Universitas Sumatera Utara
D. Underachiever
1. Pengertian Underachiever
Underachiever adalah sebutan untuk peserta didik yang mengalami
underachievement, yaitu suatu kondisi dimana angka prestasi seorang pelajar
berada jauh di bawah yang diperkirakan (perkiraan dapat dilakukan dengan
pengukuran menggunakan prediktor atau alat tertentu) (Thorndike dalam
Smith, 2005). Reis dan McCoach (dalam McCoach dan Siegle, 2003)
menyebuktkan bahwa underachiever adalah suatu kondisi dimana peserta
didik menunjukkan adanya perbedaan antara prestasi yang diharapkan atau
expected achievement (diukur melalui tes akademis terstandar atau
pemeriksaan intelektual) dengan prestasi aktualnya (diukur melalui evaluasi
guru atau kesesuaian tingkatan kelas / school grade).
Penegakan kondisi underachiever dapat dilakukan dengan beberapa cara,
seperti menggunakan suatu prediktor atau alat tertentu (McCoach dan Siegle,
2003), tes akademis terstandar, maupun pemeriksaan intelektual (Reis dan
McCoach dalam McCoach dan Siegle, 2003) yang kemudian dibandingkan
dengan prestasi aktual yang saat ini dimiliki oleh siswa. Penegakan kondisi
underachiever dengan menggunakan prediktor, alat tertentu ataupun tes
akademis terstandar dilakukan dengan merancang suatu alat yang dapat
memprediksi kemampuan seorang siswa. Universitas Sumatera Utara,
misalnya memprediksi kemampuan mahasiswanya dengan memberlakukan
sistem seleksi untuk setiap calon mahasiswa yang mendaftar untuk menjadi
Universitas Sumatera Utara
mahasiswa USU. Sistem seleksi dapat dilakukan dengan beberapa cara, baik
melalui evaluasi hasil studi selama duduk di bangku SMA maupun mengikuti
ujian tertulis. Latar belakang penerimaan mahasiswa melalui jalur seleksi
adalah agar perguruan tinggi negeri dapat memperoleh mahasiswa yang
berprestasi akademik tinggi dan diprediksi dapat berhasil menyelesaikan studi
di perguruan tinggi berdasarkan prestasi akademik. Apabila seorang
mahasiswa yang masuk ke USU melalui jalur seleksi yang telah ditentukan
dan kemudian tidak berhasil memperoleh prestasi akademik yang memuaskan,
maka mahasiswa tersebut dikategorikan sebagai mahasiswa underachiever.
Cara penegakan kondisi underachiever yang kedua adalah dengan melakukan
pemeriksaan intelektual. Galagher (dalam Coil, 1999) menyebutkan bahwa
siswa underachiever adalah siswa yang memiliki kesenjangan antara nilai
akademisnya dengan skor tes inteligensinya. Kowitz (dalam Coil, 1999)
menyebutkan bahwa underachiever adalah siswa yang prestasinya berada di
bawah level statistik yang diprediksi untuk siswa yang memiliki IQ sama
dengan siswa tersebut. Apabila seorang mahasiswa memiliki prestasi
akademis yang tidak sesuai/senjang dengan prediksi prestasinya berdasarkan
IQ yang dimiliki, maka mahasiswa tersebut dikategorikan sebagai mahasiswa
underachiever.
Berdasarkan uraian definisi diatas, dapat dinyatakan bahwa
underachiever adalah suatu kondisi dimana suatu kondisi dimana angka
prestasi seorang pelajar berada jauh di bawah yang diperkirakan (perkiraan
Universitas Sumatera Utara
dapat dilakukan dengan pengukuran menggunakan prediktor atau alat
tertentu).
2. Faktor-faktor yang Menyebabkan terjadinya Underachiever
Dowdall dan Colangelo, 1982; Reis dan Mc Coach, 2000; dan Whitmore,
1980 (dalam McCoach dan Siegle, 2003) mengemukakan ada beberapa hal
yang mengakibatkan terjadinya underachiever yaitu academic self perception
yang rendah, sikap negatif terhadap sekolah, sikap negatif terhadap guru dan
kelas, motivasi dan self regulation yang rendah, serta rendahnya goal
valuation. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada uraian berikut ini :
a. Persepsi diri dalam Hal Akademis (Academic Self Perception)
Siswa mengembangkan kepercayaan dirinya dengan berbagai cara.
Siswa yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap
kemampuan yang mereka miliki biasanya lebih antusias dalam
mengikuti berbagai aktivitas. Persepsi seorang peserta didik mengenai
kemampuan yang dimiliki akan menentukan jenis kegiatan apa yang
dipilih, dan sejauh mana keuletan mereka dalam menjalankan aktivitas
tersebut.
Konsep diri akademis meliputi gambarana mengenai evaluasi seorang
peserta didik terhadap kemampuan akademisnya (Byrne. 1996; Hattie,
1992; dalam McCoach dan Siegle, 2003). Seorang peserta didik
biasanya membandingkan kemampuan yang mereka miliki dengan
teman sekelasnya. Ketika seorang peserta melihat bahwa dirinya
Universitas Sumatera Utara
memiliki kemampuan yang setara atau diatas teman-temannya, maka ia
akan mengembangkan konsep diri yang tinggi. Konsep diri akademis
merupakan prediktor yang signifikan dalam menentukan prestasi
akademis seorang pelajar. Penelitian menunjukkan bahwa prestasi
akademis dapat diprediksi hanya dengan melihat konsep diri akademis
saja (Lyon dalam McCoach dan Siegle, 2003). Seorang pelajar
underachiever biasanya memiliki konsep diri akademis yang rendah
(Bruns, 1992; Diaz, 1998; Dowdall dan Colangelo, 1982; Ford, 1996;
Supplee, 1990; Whitmore, 1980; dalam McCoach dan Siegle, 2003),
oleh karenanya mereka mendapatkan prestasi akademis yang juga
rendah.
b. Sikap terhadap sekolah
Sikap terhadap sekolah meliputi ketertarikan dan perasaan seorang
pelajar terhadap sekolahnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
pelajar underachiever memiliki sikap yang negatif terhadap sekolah
(Bruns, 1992; Diaz, 1998; Ford, 1996; Frankel, 1965; Mandel dan
Marcus, 1988; McCall, Evahn, dan Kratzer, 1992; Rimm, 1995 dalam
McCoach dan Siegle, 2003). Penelitian juga menunjukkan bahwa siswa
yang berprestasi baik biasanya memiliki ketertarikan terhadap belajar
(Weiner dalam McCoach dan Siegle, 2003).
c. Sikap terhadap Guru dan Kelas
Universitas Sumatera Utara
Ketertarikan siswa terhadap sekolah berhubungan dengan penggunaan
strategi self-regulatory dan motivasi yang dimiliki (Scheifele, 1991;
Wigfield, 1994 dalam McCoach dan Siegle, 2003). Kepribadian guru
dan kemampuan guru mengatur kelas dapat mempengaruhi prestasi
siswa (Peters, Grager-Loidl, dan Supplee dalam McCoach dan Siegle,
2003). Pelajar dengan kondisi underachieber biasanya memiliki
masalah dengan figur otoritas seperti guru dan personel sekolah
(Mandel dan Marcus 1988; McCall dkk, 1992; dalam McCoach dan
Siegle, 2003) dan para pelajar ini biasanya mengembangkan sikap
bermusuhan terhadap figur otoritas termasuk guru (Mandel dan Marcus
dalam McCoach dan Siegle, 2003). Oleh karena itu, McCoach dan
Siegle (2003) menyimpulkan bahwa sikap pelajar terhadap guru dan
kelas berhubungan positif dengan prestasi akademis.
d. Motivasi dan Pengaturan Diri (Self Regulation)
Self regulation memiliki kedudukan yang penting dalam prestasi
akademis siswa. Self regulation adalah kemampuan seseorang
mengarahkan pikiran, perasaan, dan perilakunya untuk meraih tujuan
secara sistematis (Zimmerman dalam McCoach dan Siegle, 2003). Self
regulation merupakan prediktor yang signifikan untuk menentukan
prestasi akademis, dan penggunaan strategi self regulation akan
membantu siswa untuk dapat berprestasi di sekolah. Sayangnya, peserta
didik yang mengalami underachiever biasanya kurang termotivasi dan
Universitas Sumatera Utara
tidak memiliki self regulation yang baik. Seorang underachiever bisa
saja memiliki pengetahuan mengenai strategi self regulation, namun
tidak melakukan usaha untuk menerapkan strategi tersebut.
e. Penghargaan terhadap Tujuan (Goal Valuation)
Penghargaan seorang siswa terhadap tujuan belajarnya merupakan hal
penting untuk membentuk motivasi dan academic self regulation. Saat
seorang pelajar menghargai tujuannya dalam bersekolah, maka mereka
akan menunjukkan keterlibatan yang lebih baik dan menunjukkan
usaha lebih dalam belajar, kemudian dengan sendirinya mereka akan
meraih prestasi akademis yang baik (Pintrich dan de Groot; Wigfield,
1994 dalam McCoach dan Siegle, 2003).
E. Mahasiswa Underachiever di Universitas Sumatera Utara
Keputusan Rektor Universitas Sumatera Utara Nomor 1023/J05/SK/PP/2005
tentang Peraturan Akademik Program Sarjana (S1) Universitas Sumatera Utara
(Universitas Sumatera Utara, 2012) menyebutkan bahwa mahasiswa USU adalah
peserta didik yang terdaftar secara sah pada salah satu program akademik, profesi,
dan vokasi Universitas. Peserta didik yang terdaftar secara sah di program
akademik (S-1) USU adalah mahasiswa yang dinyatakan lulus seleksi dari salah
satu jalur masuk USU yaitu jalur undangan, Bidik Misi, SNMPTN, dan jalur
mandiri.
Universitas Sumatera Utara
Memberikan kategori underachiever pada mahasiswa USU didasarkan pada
Keputusan Rektor Universitas Sumatera Utara Nomor 1023/J05/SK/2005 tentang
Peraturan Akademik Program Sarjana S-1 Universitas Sumatera Utara
(Universitas Sumatera Utara, 2012) yang menyebutkan bahwa salah satu hal yang
menyebabkan putus studi pada mahasiswa USU yang terdaftar di program sarjana
adalah karena pada evaluasi akhir semester II, IV, VI, dan VIII tidak dapat
mengumpulkan SKS yang lulus masing-masing sekurang-kurangnya 22 SKS, 45
SKS, 72 SKS, dan 96 SKS dengan bobot nilai sekurang-kurangnya C. Adanya
sistem seleksi yang diberlakukan untuk setiap calon mahasiswa USU
menunjukkan bahwa setiap mahasiswa telah melewati persaingan ketat untuk
menjadi mahasiswa USU, dan juga dianggap telah memenuhi kriteria tertentu
sehingga dianggap layak dan mampu untuk mengikuti pendidikan di USU. Oleh
karena itu, mahasiswa yang tidak berhasil mengumpulkan beban SKS yang telah
ditentukan pada setiap semester dapat dinyatakan memiliki suatu permasalahan
sehingga tidak dapat meraih prestasi sesuai dengan yang telah diprediksi saat
lulus seleksi. Thorndike dalam Smith (2005) menyebutkan bahwa angka prestasi
seorang pelajar yang berada jauh dibawah angka yang diperkirakan (perkiraan
dilakukan dengan pengukuran menggunakan prediktor atau alat tertentu) disebut
dengan kondisi underachievement.
Berdasarkan uraian diatas dapat dinyatakan bahwa untuk program sarjana,
mahasiswa underachiever di Universitas Sumatera Utara adalah mahasiswa yang
secara sah terdaftar sebagai peserta didik di program akademik S-1 USU dan pada
Universitas Sumatera Utara
evaluasi akhir semester II, IV, VI, dan VIII tidak dapat mengumpulkan SKS yang
lulus masing-masing sekurang-kurangnya 22 SKS, 45 SKS, 72 SKS, dan 96 SKS
dengan bobot nilai sekurang-kurangnya C.
F. Efektivitas Terapi Realitas untuk Meningkatkan Self Regulated Learning
pada Mahasiswa Underachiever di Universitas Sumatera Utara
Salah satu penyebab putus studi pada mahasiswa USU adalah
ketidakmampuan mahasiswa dalam mengumpulkan jumlah SKS yang sesuai
dengan yang telah ditentukan pada saat evaluasi akhir semester II, IV, VI, dan
VIII. Ketidakmampuan mengumpulkan jumlah SKS yang sesuai berkaitan
dengan ketidakmampuan mahasiswa dalam meraih nilai yang memadai,
dimana nilai rendah yang diperoleh mahasiswa untuk setiap SKS akan
berdampak pada rendahnya angka indeks prestasi (IP) yang diperoleh, dan
semakin rendah IP yang diperoleh maka semakin rendah pula beban SKS yang
diizinkan untuk diambil pada semester berikutnya.
Putus studi akibat ketidakmampuan mahasiswa dalam memperoleh nilai
yang memadai dan perolehan IP yang rendah tentu merupakan hal yang sangat
disayangkan mengingat proses penerimaan mahasiswa USU yang dilakukan
dengan cukup ketat. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Biro
Akademik USU, seluruh mahasiswa USU masuk melalui jalur seleksi yang
ketat, baik melalui jalur seleksi tertulis (seperti pada jalur SNMPTN dan
mandiri) maupun melalui seleksi berdasarkan prestasi akademik terbaik
Universitas Sumatera Utara
semasa SMA (seperti pada jalur undangan dan Bidik Misi). Mahasiswa yang
telah melewati jalur seleksi adalah mahasiswa yang diprediksi dapat
memperoleh prestasi akademik baik pada saat duduk di bangku kuliah. Oleh
karena itu, mahasiswa yang prestasi akademiknya tidak baik (terlihat dari
indeks prestasi yang tidak memuaskan (IP < 2.0) dan tidak mampu
mengumpulkan jumlah SKS sesuai dengan yang telah ditentukan) dapat
dinyatakan memiliki angka prestasi yang berada jauh dibawah yang diprediksi.
Kondisi ini dikenal dengan sebutan underachiever, sebagaimana yang
dikemukakan oleh Whitmore (1985) underachiever adalah suatu kondisi
dimana prestasi akademis seorang peserta didik berada di bawah prediksi
prestasi akademisnya.
Peneliti telah melakukan preliminary research terhadap tiga orang
mahasiswa underachiever di USU yang mengalami hambatan dalam meraih
prestasi yang memadai. Kesimpulannya, mahasiswa underachiever di USU
yang dilibatkan dalam preliminary research ternyata tidak mampu mengatur
dirinya sendiri dalam menghadapi situasi akademis, yang dalam dunia
pendidikan dikenal dengan istilah self regulated learning yaitu sebuah konsep
mengenai bagaimana seorang peserta didik menjadi regulator atau pengatur
bagi belajarnya sendiri (Zimmerman dan Martinez-Ponz dalam Schunk dan
Zimmerman, 1998)
Maharani dan Rachmawati (2008) mengemukakan bahwa mahasiswa yang
tidak memiliki pengaturan diri yang baik dalam belajar (self regulated
Universitas Sumatera Utara
learning) jika tidak segera diantisipasi maka dapat menghambat proses studi
yang dilakukan. Bahkan jika mahasiswa tidak dapat memenuhi ketentuan nilai
yang ditetapkan oleh perguruan tinggi, mahasiswa tersebut terpaksa drop out.
Oleh karena itu, penelitian ini bermasud untuk memberikan intervensi berupa
terapi realitas (Glasser dalam Corey, 2009) guna meningkatkan self regulated
learning pada mahasiswa underachiever.
Pelaksanaan terapi realitas dalam penelitian ini disusun berdasarkan
prosedur terapi realitas yang dikemukakan oleh Glasser dan Wubbolding
(dalam Corey, 1996) yaitu WDEP. WDEP adalah singkatan dari wants,
direction and doing, evaluation, dan planning and commitment. WDEP
merupakan suatu prosedur sistematis dan terpadu, dimana terapis akan
membawakan terapi yang dimulai dari wants dan diakhiri dengan planning and
commitment. Pada penelitian ini, prosedur WDEP dimulai dari tahapan wants,
dimana terapis akan mengeksplorasi seluruh keinginan individu dalam bidang
akademis, baik keinginannya terhadap perolehan prestasi, dosen, teman,
maupun hal lainnya yang berkaitan dengan akademis. Tahapan selanjutnya
adalah direction and doing dimana terapis akan mengeksplorasi bagaimana
gambaran self regulated learning individu selama ini. Evaluation adalah satu
kegiatan dimana terapis akan membantu individu untuk memahami adanya
keinginan dan perilaku yang tidak realistis, dimana self regulated learning
individu termasuk rendah sehingga tidak dapat mewujudkan keinginannya
dalam bidang akademis, dan terakhir adalah planning and commitment yaitu
Universitas Sumatera Utara
suatu kegiatan dimana individu diarahkan untuk membuat rencana aksi yang
berisikan perilaku baru dan jadwal pelaksanaan strategi self regulated learning
yang perlu dilakukan individu untuk mewujudkan keinginannya dalam bidang
akademis.
Universitas Sumatera Utara
Bagan 1. Paradigma Penelitian
Hasil preliminary research terhadap mahasiswa underachiever di USU menemukan bahwa
mereka memiliki self regulated learning yang rendah.
Dilakukan upaya meningkatkan self regulated learning dengan memberikan terapi realitas
yang efektivitasnya diukur melalui studi pretest-posttest control group design
Kelompok Kontrol : 5 orang Kelompok Eksperimen : 5 orang
Pretest : Pretest :
Pengukuran skor self regulated Pengukuran skor self regulated Langkah terapi realitas (WDEP):
learning sebelum perlakuan learning sebelum perlakuan W : eksplorasi harapan Strategi Self Regulated
mahasiswa dalam bidang Learning
akademis 1. Evaluasi terhadap
Tidak mendapatkan perlakuan Mendapatkan perlakuan : terapi kemajuan tugas
realitas 2. Mengatur materi
D : identifikasi perilaku pelajaran
belajar mahasiswa saat ini 3. Membuat rencana dan
Posttest : Posttest : tujuan belajar
Pengukuran skor self regulated Pengukuran skor self regulated 4. Mencari informasi
learning setelah perlakuan learning setelah perlakuan E : Evaluasi terhadap 5. Mencatat hal penting
kesesuaian antara harapan 6. Mengatur lingkungan
dengan perilaku mahasiswa belajar
7. Konsekuensi setelah
mengerjakan tugas
8. Mengulang dan
Analisa hasil posttest untuk melihat apakah ada P : Pembentukan perilaku mengingat
perbedaan skor self regulated learning pada belajar baru dengan 9. Mencari bantuan sosial
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berpedoman pada 10 strategi 10. Meninjau kembali
self regulated learning catatan, tugas, tes
sebelumnya, & buku
catatan
Universitas Sumatera Utara
G. Hipotesis Penelitian
Hipotesis pada penelitian ini adalah terapi realitas efektif meningkatkan
self regulated learning pada Mahasiswa Underachiever
Universitas Sumatera Utara