0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan29 halaman

Teori Self Regulated Learning

Bab II menjelaskan landasan teori self regulated learning yang terdiri dari pengertian, strategi, dan perkembangannya. Self regulated learning adalah proses ketika peserta didik mengendalikan pembelajarannya sendiri secara metakognitif, motivasi, dan perilaku untuk mencapai sukses. Terdapat 10 strategi self regulated learning dan empat tingkat perkembangannya, yaitu pengamatan, peniruan, kontrol diri, dan regulasi diri.

Diunggah oleh

Nisyha Annisa Anton
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan29 halaman

Teori Self Regulated Learning

Bab II menjelaskan landasan teori self regulated learning yang terdiri dari pengertian, strategi, dan perkembangannya. Self regulated learning adalah proses ketika peserta didik mengendalikan pembelajarannya sendiri secara metakognitif, motivasi, dan perilaku untuk mencapai sukses. Terdapat 10 strategi self regulated learning dan empat tingkat perkembangannya, yaitu pengamatan, peniruan, kontrol diri, dan regulasi diri.

Diunggah oleh

Nisyha Annisa Anton
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Self Regulated Learning

1. Pengertian Self Regulated Learning

Teori dan penelitian mengenai self regulated learning mulai muncul

sejak pertengahan tahun 1980-an untuk memahami bagaimana seorang peserta

didik dapat mengendalikan proses belajarnya sendiri. Zimmerman (dalam

Schunk dan Zimmerman, 1998) menyatakan bahwa self regulated learning

bukanlah merupakan suatu kemampuan mental seperti halnya inteligensi atau

kemampuan akademis lainnya. Self regulated learning adalah kemampuan

seorang peserta didik mengarahkan dirinya sendiri dalam menghadapi situasi

akademis.

Self regulated learning adalah suatu proses ketika seorang peserta

didik berpartisipasi aktif dalam belajar secara metakognisi, motivasi, maupun

perilaku (Zimmerman dalam Cheng, 2011). Zumbrunn, Taddlock dan Roberts

(2011) menyatakan bahwa self regulated learning adalah suatu proses ketika

peserta didik mengendalikan pikiran, perilaku, dan emosinya untuk mencapai

kesuksesan di dalam proses belajar.

Berdasarkan definisi yang telah diuraikan di atas, maka dapat diambil

kesimpulan bahwa self regulated learning bukanlah merupakan suatu

kemampuan mental seperti inteligensi atau kemampuan akademis melainkan

Universitas Sumatera Utara


suatu proses ketika seorang peserta didik berpartisipasi aktif dalam belajar

baik secara metakognisi, motivasi, maupun perilaku. Seorang peserta didik

yang memiliki self regulated learning yang baik akan mampu mengendalikan

pikiran, perilaku, dan emosinya untuk mencapai kesuksesan di dalam proses

belajar.

2. Strategi self regulated learning

Strategi self regulated learning adalah kompilasi dari perencanaan

yang digunakan oleh seorang peserta didik dalam mencapai tujuan belajar

(Cobb, 2003). Zimmerman (dalam Cheng, 2011) mengemukakan bahwa

strategi belajar dapat menggambarkan bagaimana self regulated learning yang

dimiliki oleh seorang pelajar. Srategi belajar dapat menggambarkan

bagaimana kemauan, motivasi dan metakognisi seorang pelajar yang

ditunjukkan dalam bentuk perilaku-perilaku yang nyata.

Zimmerman dan Martinez-Pons (dalam Purdie, Hattie dan Douglas,

1996) mengemukakan mengenai 10 strategi self regulated learning yaitu :

a. Evaluasi terhadap kemajuan tugas (self evaluating)

Merupakan inisiatif peserta didik dalam melakukan evaluasi terhadap

kualitas tugas dan kemajuan pekerjaannya. Peserta didik memutuskan

apakah hal-hal yang telah dipelajari mencapai tujuan yang ditentukan

sebelumnya. Peserta didik dalam hal ini melakukan self monitoring

terhadap proses belajarnya dengan menggunakan beberapa standar atau

tujuan yang dimiliki.

Universitas Sumatera Utara


b. Mengatur materi pelajaran (organizing and transforming)

Strategi organizing menandakan perilaku overt dan covert dari peserta

didik untuk mengatur materi yang dipelajari dengan tujuan meningkatkan

efektivitas proses belajar. Strategi transforming dilakukan dengan

mengubah materi pelajaran menjadi lebih sederhana dan mudah dipelajari

c. Membuat rencana dan tujuan belajar (goal setting and planning)

Strategi ini merupakan pengaturan peserta didik terhadap tujuan umum

dan tujuan khusus dari belajar dan perencanaan dalam urutan pengerjaan

tugas, bagaimana memanfaatkan waktu dan menyelesaikan kegiatan yang

berhubungan dengan tujuan tersebut. Perencanaan akan membantu peserta

didik untuk menemukan dan mengenali konflik dan krisis yang potensial

serta meminimalisir tugas-tugas yang mendesak. Perencanaan juga

memungkinkan peserta didik untuk fokus pada hal-hal yang penting dalam

perolehan kesuksesan jangka panjang. Untuk mendapatkan manfaat

sebesar mungkin dari perencanaan, maka perencanaan perlu ditinjau

kembali secara rutin.

d. Mencari informasi (seeking information)

Peserta didik berinisiatif mencari banyak informasi saat mengerjakan

tugas ataupun mempelajari suatu materi pelajaran. Peserta didik misalnya

berinisiatif meminjam buku di perpustakaan, mencari literatur di internet,

dan sebagainya.

Universitas Sumatera Utara


e. Mencatat hal penting

Strategi ini dilakukan dengan mencatat hal-hal penting yang berhubungan

dengan topik yang dipelajari, kemudian menyimpan hasil tes, tugas,

maupun catatan yang telah dikerjakan

f. Mengatur lingkungan belajar (environmental structuring)

Peserta didik berusaha memilih atau mengatur aspek lingkungan fisik

dengan cara tertentu sehingga membantu mereka untuk belajar lebih baik.

g. Konsekuensi setelah mengerjakan tugas (self consequences)

Strategi ini dilakukan dengan mengatur atau membayangkan reward atau

punishment yang didapatkan bila berhasil atau gagal dalam mengerjakan

tugas

h. Mengulang dan mengingat (rehearsing and memorizing)

Peserta didik berusaha mempelajari ulang materi pelajaran dan mengingat

bahan bacaan dengan perilaku yang overt dan covert

i. Mencari bantuan sosial (seek social assistance)

Bila menghadapi masalah dengan tugas yang sedang dikerjakan, peserta

didik dapat meminta bantuan teman sebaya (seek peer assistance),

meminta bantuan guru (seek teacher assistance) dengan bertanya kepada

guru di dalam maupun di luar jam belajar untuk dapat membantu

menyelesaikan tugas dengan baik. Peserta didik juga meminta bantuan

orang dewasa (seek adult assistance) yang berada di dalam dan di luar

Universitas Sumatera Utara


lingkungan belajar bila ada topik yang tak dimengerti. Orang dewasa yang

dimaksud dalam hal ini adalah orang yang lebih berpengalaman.

j. Meninjau kembali catatan, tugas atau tes sebelumnya dan buku pelajaran

(review record)

Peserta didik dalam strategi ini meninjau kembali catatan pelajaran

sehingga tahu topik apa saja yang akan diuji. Selanjutnya peserta didik

meninjau kembali tugas atau tes sebelumnya (review test/work) yang

meliputi soal-soal ujian terdahulu tentang topik-topik tertentu, juga tugas-

tugas yang telah dikerjakan sebagai sumber informasi untuk belajar.

Peserta didik juga membaca ulang buku pelajaran (review text book) yang

merupakan sumber informasi yang dijadikan penunjang catatan sebagai

sarana belajar.

Berdasarkan uraian diatas, dapat dinyatakan bahwa strategi self

regulated learning terdiri atas 10 strategi, yaitu evaluasi terhadap kemajuan

tugas, mengatur materi pelajaran, membuat rencana dan tujuan belajar,

mencari informasi, mencatat hal penting, mengatur lingkungan belajar,

konsekuensi setelah mengerjakan tugas, mengulang dan mengingat, mencari

bantuan sosial, dan meninjau kembali catatan, tugas, atau tes sebelumnya dan

buku pelajaran.

3. Perkembangan self regulated learning

Schunk dan Zimmerman (1998) menyatakan bahwa self regulated

learning berkembang melalui dua pengaruh utama, yaitu pengaruh sosial dan

Universitas Sumatera Utara


pengaruh diri sendiri. Self regulated learning memiliki empat tingkat

perkembangan yaitu tingkat pengamatan, peniruan, kontrol diri, dan regulasi

diri.

Pada level pengamatan dan peniruan, self regulated learning peserta

didik berkembang melalui pengaruh sosial baik dari guru, orangtua, pelatih,

maupun teman sebaya. Selanjutnya pada level control diri dan regulasi diri,

peserta didik sudah mampu menerapkan strategi self regulated learning secara

mandiri.

Untuk keterangan yang lebih jelas mengenai perkembangan self

regulated learning, dapat dilihat pada tabel 1 berikut :

Tabel 2. Perkembangan Self Regulated Learning

Level Perkembangan Pengaruh Sosial Pengaruh Diri Sendiri


1. Pengamatan Modeling, instruksi
(Observational) verbal, umpan balik
2. Peniruan dari lingkungan,
(emulative) adanya pengawasan,
peer teaching,
cooperative
learning.
3. Kontrol diri (self Standar dari diri
controlled) sendiri, self
4. Pengaturan diri reinforcement, proses
(self regulated) self regulatory, self
efficacy
Sumber : Schunk dan Zimmerman (1998)

a. Level pengamatan (observational)

Level pengamatan merupakan suatu level awal dalam perkembangan self

regulated learning. Saat berada dalam level ini, seorang peserta didik

Universitas Sumatera Utara


melakukan pengamatan terhadap model (guru, orangtua, dsb) yang

menjelaskan bagaimana proses berpikir saat sedang mengerjakan tugas.

Peserta didik kemudian mempersepsikan adanya kesamaan dengan model

dan seolah-olah melakukan apa yang dilakukan model. Peserta didik

selanjutnya akan termotivasi untuk mengembangkan self regulated

learning.

b. Level peniruan (emulative)

Level peniruan (emulative) adalah ketika peserta didik menunjukkan

performansi yang hampir sama dengan model. Peserta didik biasanya

tidak langsung meniru model, namun berusaha menyamakan pola-pola

umum yang dilakukan oleh model. Level ini cukup penting, sebab seorang

peserta didik perlu melakukan strategi secara langsung agar strategi

tersebut masuk ke dalam skema berfikir mereka.

c. Level kontrol diri (self controlled)

Level kontrol diri adalah suatu fase dimana peserta didik sudah mampu

menggunakan sendiri strategi-strategi belajar ketika mengerjakan tugas.

Strategi yang digunakan peserta didik biasanya sudah terinternalisasi

meskipun masih dipengaruhi oleh standar performansi yang ditunjukkan

oleh model.

d. Level pengaturan diri (self regulated)

Level pengaturan diri adalah level terakhir, dimana peserta didik mulai

menggunakan strategi yang telah disesuaikan dengan situasi dan sudah

Universitas Sumatera Utara


pula termotivasi oleh tujuan tertentu dan memiliki self efficacy. Peserta

didik yang berada pada level ini sudah dapat menggunakan strategi-

strategi khusus dan mengadaptasinya untuk kondisi yang berbeda baik

dengan petunjuk model ataupun tanpa petunjuk model.

B. Terapi Realitas

1. Pengertian Terapi Realitas

Terapi realitas diperkenalkan oleh William Glasser pada tahun 1950-

an. Terapi realitas merupakan suatu pendekatan yang dikembangkan sebagai

reaksi melawan terapi konvensional. Terapi realitas adalah terapi yang bersifat

jangka pendek yang berfokus pada kondisi saat ini, menekankan pada

kekuatan pribadi, dan mendorong individu untuk mengembangkan tingkah

laku yang lebih realistik agar dapat mencapai kesuksesan (Corey, 2009).

Glasser (dalam Latipun, 2008) mendasari pendekatan realitas dengan

pandangannya yaitu bahwa setiap manusia memiliki dua kebutuhan dasar

yaitu kebutuhan fisiologis dan psikologis. Kebutuhan fisiologis yang

dimaksud adalah sama dengan pandangan ahli lain, sedangkan kebutuhan

psikologis manusia yang mendasar ada dua macam, yaitu : (1) kebutuhan

dicintai dan mencintai, dan (2) kebutuhan akan penghargaan. Kedua

kebutuhan psikologis itu bila digabungkan menjadi satu kebutuhan yang

sangat utama yang disebut kebutuhan identitas (identity). Identitas merupakan

cara seseorang melihat dirinya sendiri sebagai manusia dalam hubungannya

dengan orang lain dan dunia luarnya. Setiap orang mengembangkan gambaran

Universitas Sumatera Utara


identitasnya (identity image) berdasarkan atas pemenuhan kebutuhan

psikologisnya. Individu yang berhasil menemukan kebutuhannya, yaitu

terpenuhinya kebutuhan cinta dan penghargaan akan mengembangkan

gambaran diri sebagai orang yang berhasil dan membentuk identitasnya

dengan success identity sebaliknya jika individu yang gagal menemukan

kebutuhannya, akan mengembangkan gambaran diri sebagai orang yang gagal

dan membentuk identitasnya dengan identitas kegagalan (failure identity).

Gambaran identitas ini dimiliki oleh setiap orang mulai dari usia lima tahun

hingga dewasa. Berdasarkan segenap pengalaman-pengalamannya, individu

akan memberikan gambaran terhadap dirinya sebagai orang yang berhasil atau

gagal. Terapi realitas dalam hal ini berperan untuk membantu individu dalam

mencapai success identity, dimana dalam terapi, terapis akan berfokus pada

perilaku individu saat ini. Namun, terapi realitas berbeda dengan pendekatan

behavioral yang berfokus pada stimulus respon. Terapi ini berpusat pada

person yang melihat perilaku dalam konteks fenomenologis.

Berdasarkan pandangan-pandangan diatas, dapat dinyatakan bahwa

terapi realitas adalah terapi yang bersifat jangka pendek. Terapis pada terapi

realitas menekankan pada kekuatan pribadi yang dimiliki oleh individu.

Terapi realitas berfokus pada perilaku individu saat ini dan membuka jalan

kepada individu untuk menampilkan perilaku yang dapat membawa individu

ke keberhasilan dan pada akhirnya memunculkan success identity di dalam

diri individu.

Universitas Sumatera Utara


2. Prosedur Terapi Realitas

Glasser dan Wubbolding (dalam Corey, 1996) menyebutkan bahwa

prosedur terapi realitas dapat dilakukan dengan langkah WDEP, yaitu wants,

direction and doing, evaluation, dan planning. Berikut ini adalah penjelasan

dari langkah WDEP :

1) Wants : Wants merupakan suatu tahapan dimana terapis melakukan

eksplorasi terhadap harapan, kebutuhan dan persepsi dari individu.

Terapis dapat bertanya, “Apa yang anda inginkan?”. Melalui pertanyaan-

pertanyaan yang diajukan terapis, seorang individu diharapkan dapat

memahami apakah harapan-harapan mereka sejalan dengan kebutuhan

mereka saat ini. Terapis pada tahapan ini harus bersifat hangat dan

menerima sehingga memungkinkan konseli untuk menjabarkan setiap hal

yang ia inginkan baik dalam keluarga, pertemanan, ataupun pekerjaan.

Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan pada sesi ini adalah : “Jika

anda sudah menjadi sosok impian anda, bagaimanakah sosok itu?”

“Bagaimana reaksi keluarga anda jika keinginan mereka dan keinginan

anda sejalan?” “Apakah anda ingin berubah?” “Menurut anda, apa yang

membuat anda tidak dapat berubah?”

2) Direction and Doing : Terapis realitas menekankan pada perilaku saat ini

dan bukan pada masa lalu. Oleh karenanya, seorang terapis realitas

biasanya sering bertanya, “Apa yang anda lakukan saat ini?” Meskipun

suatu masalah bisa berakar dari pengalaman masa lalu, namun individu

Universitas Sumatera Utara


perlu belajar bagaimana cara berdamai dengan masa lalunya dan

menunjukkan perilaku yang lebih baik untuk mencapai keinginannya.

Kondisi masa lalu individu boleh saja didiskusikan apabila hal itu

memang dapat membantu individu menyusun perencanaan hidup yang

lebih baik.

Pada sesi ini, terapis mendiskusikan dengan individu mengenai apa saja

tujuan hidup mereka, apa yang akan mereka lakukan, dan kemana hidup

mereka akan berjalan dengan perilaku yang mereka tunjukkan saat ini.

Seorang terapis dapat bertanya, “Apa yang anda lihat pada diri anda saat

ini? Bagaimana masa depan anda?”.

3) Evaluation

Inti dari terapis realitas adalah untuk membantu individu mengevaluasi

perilakunya. Terapis dapat bertanya, “Apakah perilaku anda saat ini

cukup rasional untuk membawa anda ke keinginan anda? Apakah

perilaku anda dapat mewujudkan apa yang menjadi keinginan

anda?”.Terapis pada tahapan ini dapat mengkonfrontasi individu

mengenai konsekuensi dari perilakunya.

4) Planning and Commitment : Ketika individu sudah dapat menentukan apa

yang mereka inginkan dan siap untuk diajak mengeksplorasi bentuk-

bentuk perilaku yang dapat membawa mereka ke tujuan yang mereka

inginkan, maka sudah waktunya terapis mengajak individu membuat

rencana aksi. Wubbolding (dalam Corey, 1996) mengemukakan bahwa

Universitas Sumatera Utara


dalam membuat perencanaan perilaku, ada beberapa hal yang harus

diperhatikan yaitu :

a. Pembuatan rencana perilaku harus memperhatikan kapasitas motivasi

dan kemampuan dari setiap individu. Seorang konselor yang terlatih

dapat membantu individu untuk membuat perencanaan yang

memuaskan kehidupannya. Konselor misalnya dapat bertanya kepada

individu, “rencana seperti apa yang harus anda buat agar anda lebih

puas dengan hidup anda?”

b. Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang sederhana dan mudah

dimengerti. Perencanaan perilaku harus bersifat spesifik, konkrit,

dapat diukur, dan harus fleksibel atau dapat diubah-ubah ketika

individu sudah memahami perilaku apa yang sebenarnya ingin diubah.

c. Perencanaan yang dibuat haruslah berdasarkan pada persetujuan

individu.

d. Konselor harus mendorong individu untuk membuat perencanaannya

sendiri

e. Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang bersifat repetitif dan

dilakukan setiap hari

f. Perencanaan harus dilakukan sesegera mungkin

g. Perencanaan yang baik meliputi aktivitas yang bersifat process

centered, misalnya : individu dapat memiliki rencana untuk melamar

Universitas Sumatera Utara


pekerjaan, menulis surat untuk teman, masuk klub yoga, makan

makanan bergizi, dan berlibur

h. Sebelum individu melakukan perencanaan, ada baiknya jika individu

diminta untuk mengevaluasi perencanaan yang dibuat, apakah

perencanaan tersebut sudah realistis.

i. Untuk memastikan bahwa individu akan melaksanakan rencana yang

sudah dibuat, maka individu harus membuat pernyataan secara tertulis.

Pelaksanaan terapi realitas pada penelitian ini akan diselenggarakan secara

berkelompok. American Psychological Association (APA) dalam situsnya

([Link]) menuliskan bahwa terapi kelompok adalah terapi yang melibatkan

satu atau dua orang terapis yang membawakan terapi untuk satu kelompok yang

terdiri dari 5 hingga 15 orang individu yang memiliki permasalahan yang sama. Spitz

dan Spitz (1999) menyebutkan bahwa terapi kelompok adalah terapi yang dibawakan

oleh seorang profesional untuk sekelompok orang yang memiliki keinginan untuk

menyelesaikan permasalahannya secara bersama-sama. Anggota kelompok adalah

orang-orang yang memiliki permasalahan psikologis yang sama dan membutuhkan

psikoterapi untuk menyelesaikan permasalahannya.

American Psychological Association (APA) dalam situsnya ([Link])

menuliskan bahwa terapi kelompok menawarkan keuntungan yang tidak didapatkan

dalam terapi individual, yaitu adanya dukungan dari individu-individu yang senasib

sehingga setiap anggota kelompok dapat menyadari bahwa ia bukan satu-satunya

orang yang mengalami masalah. Selain itu, terapi kelompok juga memungkinkan

Universitas Sumatera Utara


anggota kelompok belajar dari pengalaman anggota kelompok lain yang berhasil

mengatasi masalahnya dengan strategi tertentu.

Berdasarkan prosedur terapi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa terapi

realitas secara garis besar melalui empat tahapan yang disebut WDEP (wants,

direction and doing, evaluation, dan planning and commitment). Saat memasuki

tahapan planning and commitment, seorang terapi juga harus memperhatikan 9 hal (a

- i) yang dikemukakan oleh Wubbolding (dalam Corey, 1996) agar individu dapat

membuat suatu perencanaan yang relistis, spesifik, mudah dimengerti, dan dapat

segera dilaksanakan. Adapun pelaksanaan terapi realitas yang akan diselenggarakan

secara berkelompok dapat diartikan sebagai bentuk terapi realitas yang dibawakan

oleh satu, dua, atau beberapa terapis. Anggota kelompok yang mengikuti terapi

realitas berjumlah antara 5 – 15 orang, memiliki permasalahan psikologis yang sama,

membutuhkan psikoterapi, dan bersedia mengikuti terapi kelompok (menyelesaikan

permasalahannya bersama-sama dengan orang lain).

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan terapi

Lynch (2012) mengemukakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi

keberhasilan dari suatu terapi, yaitu :

a. Kedekatan antara terapis dan individu

Kedekatan antara terapis dengan individu merupakan hal

yang penting untuk meraih kesuksesan di dalam terapi. Terapis

harus mampu menunjukkan beberapa karakteristik yang mampu

meningkatkan rapport dalam terapi seperti tertarik pada masalah

Universitas Sumatera Utara


individu, tenang, hangat, dan penuh penghargaan terhadap

individu.

Kedekatan antara terapis dan individu biasanya dapat

dibentuk dalam waktu yang cukup cepat yaitu 2-4 sesi atau

bahkan 10 menit saja, tergantung dari bagaimana pembawaan

terapis saat pertama kali bertemu dengan individu.

b. Motivasi Subjek

Motivasi individu dalam mengikuti terapi adalah kunci utama

yang menentukan keberhasilan dari suatu terapi. Motivasi subjek

dapat terlihat dari kehadiran subjek dalam seluruh sesi terapi dan

kemampuan subjek untuk selalu bersikap kooperatif.

c. Kemampuan subjek mempelajari perilaku baru

Subjek yang berhasil meraih kesuksesan adalah subjek yang

merasa kondisinya lebih baik setelah mengikuti terapi. Hal ini

ditunjukkan dengan kesediaan dan kemampuan subjek untuk

mempelajari perilaku baru seperti meningkatnya rasa percaya diri,

ataupun berkurangnya simptom-simptom yang sebelumnya

dimiliki.

C. Mahasiswa Universitas Sumatera Utara

Keputusan Rektor Universitas Sumatera Utara Nomor 1023/J05/SK/PP/2005

tentang Peraturan Akademik Program Sarjana (S1) Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara


(Universitas Sumatera Utara, 2012) menyebutkan bahwa mahasiswa USU adalah

peserta didik yang terdaftar secara sah pada salah satu program akademik, profesi,

dan vokasi Universitas. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Biro

Akademik USU, untuk menjadi peserta didik yang terdaftar secara sah di program

akademik S-1 (sarjana) USU adalah dengan lulus dari salah satu jalur seleksi

masuk mahasiswa USU, yaitu (1) jalur undangan adalah penerimaan dengan cara

membandingkan nilai-nilai yang diperoleh para calon mahasiswa saat SMA untuk

mendapatkan mahasiswa dengan prestasi akademik terbaik, dan juga diberikan

seleksi tertulis yaitu tes kompetensi bidang ilmu yang dilakukan oleh USU, (2)

jalur Bidik Misi adalah suatu jalur khusus bagi mahasiswa kurang mampu,

dimana seleksi penerimaan pada jalur ini ditentukan oleh rekomendasi dari

sekolah dan dinas pendidikan, (3) Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi

Negeri (SNMPTN) adalah penerimaan mahasiswa yang dilakukan dengan seleksi

melalui ujian tertulis yang diselenggarakan secara nasional, dan (4) jalur mandiri

adalah penerimaan mahasiswa yang dilakukan dengan seleksi melalui ujian

tertulis yang diselenggarakan oleh USU.

Berdasarkan uraian diatas, dapat dinyatakan bahwa mahasiswa USU adalah

peserta didik yang terdaftar secara sah pada salah satu program akademik, profesi,

dan vokasi Universitas. Peserta didik yang terdaftar secara sah di program

akademik (S-1) USU adalah mahasiswa yang dinyatakan lulus seleksi dari salah

satu jalur masuk USU yaitu jalur undangan, Bidik Misi, SNMPTN, dan jalur

mandiri

Universitas Sumatera Utara


D. Underachiever

1. Pengertian Underachiever

Underachiever adalah sebutan untuk peserta didik yang mengalami

underachievement, yaitu suatu kondisi dimana angka prestasi seorang pelajar

berada jauh di bawah yang diperkirakan (perkiraan dapat dilakukan dengan

pengukuran menggunakan prediktor atau alat tertentu) (Thorndike dalam

Smith, 2005). Reis dan McCoach (dalam McCoach dan Siegle, 2003)

menyebuktkan bahwa underachiever adalah suatu kondisi dimana peserta

didik menunjukkan adanya perbedaan antara prestasi yang diharapkan atau

expected achievement (diukur melalui tes akademis terstandar atau

pemeriksaan intelektual) dengan prestasi aktualnya (diukur melalui evaluasi

guru atau kesesuaian tingkatan kelas / school grade).

Penegakan kondisi underachiever dapat dilakukan dengan beberapa cara,

seperti menggunakan suatu prediktor atau alat tertentu (McCoach dan Siegle,

2003), tes akademis terstandar, maupun pemeriksaan intelektual (Reis dan

McCoach dalam McCoach dan Siegle, 2003) yang kemudian dibandingkan

dengan prestasi aktual yang saat ini dimiliki oleh siswa. Penegakan kondisi

underachiever dengan menggunakan prediktor, alat tertentu ataupun tes

akademis terstandar dilakukan dengan merancang suatu alat yang dapat

memprediksi kemampuan seorang siswa. Universitas Sumatera Utara,

misalnya memprediksi kemampuan mahasiswanya dengan memberlakukan

sistem seleksi untuk setiap calon mahasiswa yang mendaftar untuk menjadi

Universitas Sumatera Utara


mahasiswa USU. Sistem seleksi dapat dilakukan dengan beberapa cara, baik

melalui evaluasi hasil studi selama duduk di bangku SMA maupun mengikuti

ujian tertulis. Latar belakang penerimaan mahasiswa melalui jalur seleksi

adalah agar perguruan tinggi negeri dapat memperoleh mahasiswa yang

berprestasi akademik tinggi dan diprediksi dapat berhasil menyelesaikan studi

di perguruan tinggi berdasarkan prestasi akademik. Apabila seorang

mahasiswa yang masuk ke USU melalui jalur seleksi yang telah ditentukan

dan kemudian tidak berhasil memperoleh prestasi akademik yang memuaskan,

maka mahasiswa tersebut dikategorikan sebagai mahasiswa underachiever.

Cara penegakan kondisi underachiever yang kedua adalah dengan melakukan

pemeriksaan intelektual. Galagher (dalam Coil, 1999) menyebutkan bahwa

siswa underachiever adalah siswa yang memiliki kesenjangan antara nilai

akademisnya dengan skor tes inteligensinya. Kowitz (dalam Coil, 1999)

menyebutkan bahwa underachiever adalah siswa yang prestasinya berada di

bawah level statistik yang diprediksi untuk siswa yang memiliki IQ sama

dengan siswa tersebut. Apabila seorang mahasiswa memiliki prestasi

akademis yang tidak sesuai/senjang dengan prediksi prestasinya berdasarkan

IQ yang dimiliki, maka mahasiswa tersebut dikategorikan sebagai mahasiswa

underachiever.

Berdasarkan uraian definisi diatas, dapat dinyatakan bahwa

underachiever adalah suatu kondisi dimana suatu kondisi dimana angka

prestasi seorang pelajar berada jauh di bawah yang diperkirakan (perkiraan

Universitas Sumatera Utara


dapat dilakukan dengan pengukuran menggunakan prediktor atau alat

tertentu).

2. Faktor-faktor yang Menyebabkan terjadinya Underachiever

Dowdall dan Colangelo, 1982; Reis dan Mc Coach, 2000; dan Whitmore,

1980 (dalam McCoach dan Siegle, 2003) mengemukakan ada beberapa hal

yang mengakibatkan terjadinya underachiever yaitu academic self perception

yang rendah, sikap negatif terhadap sekolah, sikap negatif terhadap guru dan

kelas, motivasi dan self regulation yang rendah, serta rendahnya goal

valuation. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada uraian berikut ini :

a. Persepsi diri dalam Hal Akademis (Academic Self Perception)

Siswa mengembangkan kepercayaan dirinya dengan berbagai cara.

Siswa yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap

kemampuan yang mereka miliki biasanya lebih antusias dalam

mengikuti berbagai aktivitas. Persepsi seorang peserta didik mengenai

kemampuan yang dimiliki akan menentukan jenis kegiatan apa yang

dipilih, dan sejauh mana keuletan mereka dalam menjalankan aktivitas

tersebut.

Konsep diri akademis meliputi gambarana mengenai evaluasi seorang

peserta didik terhadap kemampuan akademisnya (Byrne. 1996; Hattie,

1992; dalam McCoach dan Siegle, 2003). Seorang peserta didik

biasanya membandingkan kemampuan yang mereka miliki dengan

teman sekelasnya. Ketika seorang peserta melihat bahwa dirinya

Universitas Sumatera Utara


memiliki kemampuan yang setara atau diatas teman-temannya, maka ia

akan mengembangkan konsep diri yang tinggi. Konsep diri akademis

merupakan prediktor yang signifikan dalam menentukan prestasi

akademis seorang pelajar. Penelitian menunjukkan bahwa prestasi

akademis dapat diprediksi hanya dengan melihat konsep diri akademis

saja (Lyon dalam McCoach dan Siegle, 2003). Seorang pelajar

underachiever biasanya memiliki konsep diri akademis yang rendah

(Bruns, 1992; Diaz, 1998; Dowdall dan Colangelo, 1982; Ford, 1996;

Supplee, 1990; Whitmore, 1980; dalam McCoach dan Siegle, 2003),

oleh karenanya mereka mendapatkan prestasi akademis yang juga

rendah.

b. Sikap terhadap sekolah

Sikap terhadap sekolah meliputi ketertarikan dan perasaan seorang

pelajar terhadap sekolahnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa

pelajar underachiever memiliki sikap yang negatif terhadap sekolah

(Bruns, 1992; Diaz, 1998; Ford, 1996; Frankel, 1965; Mandel dan

Marcus, 1988; McCall, Evahn, dan Kratzer, 1992; Rimm, 1995 dalam

McCoach dan Siegle, 2003). Penelitian juga menunjukkan bahwa siswa

yang berprestasi baik biasanya memiliki ketertarikan terhadap belajar

(Weiner dalam McCoach dan Siegle, 2003).

c. Sikap terhadap Guru dan Kelas

Universitas Sumatera Utara


Ketertarikan siswa terhadap sekolah berhubungan dengan penggunaan

strategi self-regulatory dan motivasi yang dimiliki (Scheifele, 1991;

Wigfield, 1994 dalam McCoach dan Siegle, 2003). Kepribadian guru

dan kemampuan guru mengatur kelas dapat mempengaruhi prestasi

siswa (Peters, Grager-Loidl, dan Supplee dalam McCoach dan Siegle,

2003). Pelajar dengan kondisi underachieber biasanya memiliki

masalah dengan figur otoritas seperti guru dan personel sekolah

(Mandel dan Marcus 1988; McCall dkk, 1992; dalam McCoach dan

Siegle, 2003) dan para pelajar ini biasanya mengembangkan sikap

bermusuhan terhadap figur otoritas termasuk guru (Mandel dan Marcus

dalam McCoach dan Siegle, 2003). Oleh karena itu, McCoach dan

Siegle (2003) menyimpulkan bahwa sikap pelajar terhadap guru dan

kelas berhubungan positif dengan prestasi akademis.

d. Motivasi dan Pengaturan Diri (Self Regulation)

Self regulation memiliki kedudukan yang penting dalam prestasi

akademis siswa. Self regulation adalah kemampuan seseorang

mengarahkan pikiran, perasaan, dan perilakunya untuk meraih tujuan

secara sistematis (Zimmerman dalam McCoach dan Siegle, 2003). Self

regulation merupakan prediktor yang signifikan untuk menentukan

prestasi akademis, dan penggunaan strategi self regulation akan

membantu siswa untuk dapat berprestasi di sekolah. Sayangnya, peserta

didik yang mengalami underachiever biasanya kurang termotivasi dan

Universitas Sumatera Utara


tidak memiliki self regulation yang baik. Seorang underachiever bisa

saja memiliki pengetahuan mengenai strategi self regulation, namun

tidak melakukan usaha untuk menerapkan strategi tersebut.

e. Penghargaan terhadap Tujuan (Goal Valuation)

Penghargaan seorang siswa terhadap tujuan belajarnya merupakan hal

penting untuk membentuk motivasi dan academic self regulation. Saat

seorang pelajar menghargai tujuannya dalam bersekolah, maka mereka

akan menunjukkan keterlibatan yang lebih baik dan menunjukkan

usaha lebih dalam belajar, kemudian dengan sendirinya mereka akan

meraih prestasi akademis yang baik (Pintrich dan de Groot; Wigfield,

1994 dalam McCoach dan Siegle, 2003).

E. Mahasiswa Underachiever di Universitas Sumatera Utara

Keputusan Rektor Universitas Sumatera Utara Nomor 1023/J05/SK/PP/2005

tentang Peraturan Akademik Program Sarjana (S1) Universitas Sumatera Utara

(Universitas Sumatera Utara, 2012) menyebutkan bahwa mahasiswa USU adalah

peserta didik yang terdaftar secara sah pada salah satu program akademik, profesi,

dan vokasi Universitas. Peserta didik yang terdaftar secara sah di program

akademik (S-1) USU adalah mahasiswa yang dinyatakan lulus seleksi dari salah

satu jalur masuk USU yaitu jalur undangan, Bidik Misi, SNMPTN, dan jalur

mandiri.

Universitas Sumatera Utara


Memberikan kategori underachiever pada mahasiswa USU didasarkan pada

Keputusan Rektor Universitas Sumatera Utara Nomor 1023/J05/SK/2005 tentang

Peraturan Akademik Program Sarjana S-1 Universitas Sumatera Utara

(Universitas Sumatera Utara, 2012) yang menyebutkan bahwa salah satu hal yang

menyebabkan putus studi pada mahasiswa USU yang terdaftar di program sarjana

adalah karena pada evaluasi akhir semester II, IV, VI, dan VIII tidak dapat

mengumpulkan SKS yang lulus masing-masing sekurang-kurangnya 22 SKS, 45

SKS, 72 SKS, dan 96 SKS dengan bobot nilai sekurang-kurangnya C. Adanya

sistem seleksi yang diberlakukan untuk setiap calon mahasiswa USU

menunjukkan bahwa setiap mahasiswa telah melewati persaingan ketat untuk

menjadi mahasiswa USU, dan juga dianggap telah memenuhi kriteria tertentu

sehingga dianggap layak dan mampu untuk mengikuti pendidikan di USU. Oleh

karena itu, mahasiswa yang tidak berhasil mengumpulkan beban SKS yang telah

ditentukan pada setiap semester dapat dinyatakan memiliki suatu permasalahan

sehingga tidak dapat meraih prestasi sesuai dengan yang telah diprediksi saat

lulus seleksi. Thorndike dalam Smith (2005) menyebutkan bahwa angka prestasi

seorang pelajar yang berada jauh dibawah angka yang diperkirakan (perkiraan

dilakukan dengan pengukuran menggunakan prediktor atau alat tertentu) disebut

dengan kondisi underachievement.

Berdasarkan uraian diatas dapat dinyatakan bahwa untuk program sarjana,

mahasiswa underachiever di Universitas Sumatera Utara adalah mahasiswa yang

secara sah terdaftar sebagai peserta didik di program akademik S-1 USU dan pada

Universitas Sumatera Utara


evaluasi akhir semester II, IV, VI, dan VIII tidak dapat mengumpulkan SKS yang

lulus masing-masing sekurang-kurangnya 22 SKS, 45 SKS, 72 SKS, dan 96 SKS

dengan bobot nilai sekurang-kurangnya C.

F. Efektivitas Terapi Realitas untuk Meningkatkan Self Regulated Learning

pada Mahasiswa Underachiever di Universitas Sumatera Utara

Salah satu penyebab putus studi pada mahasiswa USU adalah

ketidakmampuan mahasiswa dalam mengumpulkan jumlah SKS yang sesuai

dengan yang telah ditentukan pada saat evaluasi akhir semester II, IV, VI, dan

VIII. Ketidakmampuan mengumpulkan jumlah SKS yang sesuai berkaitan

dengan ketidakmampuan mahasiswa dalam meraih nilai yang memadai,

dimana nilai rendah yang diperoleh mahasiswa untuk setiap SKS akan

berdampak pada rendahnya angka indeks prestasi (IP) yang diperoleh, dan

semakin rendah IP yang diperoleh maka semakin rendah pula beban SKS yang

diizinkan untuk diambil pada semester berikutnya.

Putus studi akibat ketidakmampuan mahasiswa dalam memperoleh nilai

yang memadai dan perolehan IP yang rendah tentu merupakan hal yang sangat

disayangkan mengingat proses penerimaan mahasiswa USU yang dilakukan

dengan cukup ketat. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Biro

Akademik USU, seluruh mahasiswa USU masuk melalui jalur seleksi yang

ketat, baik melalui jalur seleksi tertulis (seperti pada jalur SNMPTN dan

mandiri) maupun melalui seleksi berdasarkan prestasi akademik terbaik

Universitas Sumatera Utara


semasa SMA (seperti pada jalur undangan dan Bidik Misi). Mahasiswa yang

telah melewati jalur seleksi adalah mahasiswa yang diprediksi dapat

memperoleh prestasi akademik baik pada saat duduk di bangku kuliah. Oleh

karena itu, mahasiswa yang prestasi akademiknya tidak baik (terlihat dari

indeks prestasi yang tidak memuaskan (IP < 2.0) dan tidak mampu

mengumpulkan jumlah SKS sesuai dengan yang telah ditentukan) dapat

dinyatakan memiliki angka prestasi yang berada jauh dibawah yang diprediksi.

Kondisi ini dikenal dengan sebutan underachiever, sebagaimana yang

dikemukakan oleh Whitmore (1985) underachiever adalah suatu kondisi

dimana prestasi akademis seorang peserta didik berada di bawah prediksi

prestasi akademisnya.

Peneliti telah melakukan preliminary research terhadap tiga orang

mahasiswa underachiever di USU yang mengalami hambatan dalam meraih

prestasi yang memadai. Kesimpulannya, mahasiswa underachiever di USU

yang dilibatkan dalam preliminary research ternyata tidak mampu mengatur

dirinya sendiri dalam menghadapi situasi akademis, yang dalam dunia

pendidikan dikenal dengan istilah self regulated learning yaitu sebuah konsep

mengenai bagaimana seorang peserta didik menjadi regulator atau pengatur

bagi belajarnya sendiri (Zimmerman dan Martinez-Ponz dalam Schunk dan

Zimmerman, 1998)

Maharani dan Rachmawati (2008) mengemukakan bahwa mahasiswa yang

tidak memiliki pengaturan diri yang baik dalam belajar (self regulated

Universitas Sumatera Utara


learning) jika tidak segera diantisipasi maka dapat menghambat proses studi

yang dilakukan. Bahkan jika mahasiswa tidak dapat memenuhi ketentuan nilai

yang ditetapkan oleh perguruan tinggi, mahasiswa tersebut terpaksa drop out.

Oleh karena itu, penelitian ini bermasud untuk memberikan intervensi berupa

terapi realitas (Glasser dalam Corey, 2009) guna meningkatkan self regulated

learning pada mahasiswa underachiever.

Pelaksanaan terapi realitas dalam penelitian ini disusun berdasarkan

prosedur terapi realitas yang dikemukakan oleh Glasser dan Wubbolding

(dalam Corey, 1996) yaitu WDEP. WDEP adalah singkatan dari wants,

direction and doing, evaluation, dan planning and commitment. WDEP

merupakan suatu prosedur sistematis dan terpadu, dimana terapis akan

membawakan terapi yang dimulai dari wants dan diakhiri dengan planning and

commitment. Pada penelitian ini, prosedur WDEP dimulai dari tahapan wants,

dimana terapis akan mengeksplorasi seluruh keinginan individu dalam bidang

akademis, baik keinginannya terhadap perolehan prestasi, dosen, teman,

maupun hal lainnya yang berkaitan dengan akademis. Tahapan selanjutnya

adalah direction and doing dimana terapis akan mengeksplorasi bagaimana

gambaran self regulated learning individu selama ini. Evaluation adalah satu

kegiatan dimana terapis akan membantu individu untuk memahami adanya

keinginan dan perilaku yang tidak realistis, dimana self regulated learning

individu termasuk rendah sehingga tidak dapat mewujudkan keinginannya

dalam bidang akademis, dan terakhir adalah planning and commitment yaitu

Universitas Sumatera Utara


suatu kegiatan dimana individu diarahkan untuk membuat rencana aksi yang

berisikan perilaku baru dan jadwal pelaksanaan strategi self regulated learning

yang perlu dilakukan individu untuk mewujudkan keinginannya dalam bidang

akademis.

Universitas Sumatera Utara


Bagan 1. Paradigma Penelitian

Hasil preliminary research terhadap mahasiswa underachiever di USU menemukan bahwa


mereka memiliki self regulated learning yang rendah.

Dilakukan upaya meningkatkan self regulated learning dengan memberikan terapi realitas
yang efektivitasnya diukur melalui studi pretest-posttest control group design

Kelompok Kontrol : 5 orang Kelompok Eksperimen : 5 orang

Pretest : Pretest :
Pengukuran skor self regulated Pengukuran skor self regulated Langkah terapi realitas (WDEP):
learning sebelum perlakuan learning sebelum perlakuan  W : eksplorasi harapan Strategi Self Regulated
mahasiswa dalam bidang Learning
akademis 1. Evaluasi terhadap
Tidak mendapatkan perlakuan Mendapatkan perlakuan : terapi kemajuan tugas
realitas 2. Mengatur materi
 D : identifikasi perilaku pelajaran
belajar mahasiswa saat ini 3. Membuat rencana dan
Posttest : Posttest : tujuan belajar
Pengukuran skor self regulated Pengukuran skor self regulated 4. Mencari informasi
learning setelah perlakuan learning setelah perlakuan  E : Evaluasi terhadap 5. Mencatat hal penting
kesesuaian antara harapan 6. Mengatur lingkungan
dengan perilaku mahasiswa belajar
7. Konsekuensi setelah
mengerjakan tugas
8. Mengulang dan
Analisa hasil posttest untuk melihat apakah ada  P : Pembentukan perilaku mengingat
perbedaan skor self regulated learning pada belajar baru dengan 9. Mencari bantuan sosial
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berpedoman pada 10 strategi 10. Meninjau kembali
self regulated learning catatan, tugas, tes
sebelumnya, & buku
catatan

Universitas Sumatera Utara


G. Hipotesis Penelitian

Hipotesis pada penelitian ini adalah terapi realitas efektif meningkatkan

self regulated learning pada Mahasiswa Underachiever

Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai