0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
534 tayangan5 halaman

Tanggung Jawab Suami dalam Keluarga

[Ringkasan] Dokumen tersebut membahas tentang panggilan hidup berkeluarga, dasar perkawinan dalam tradisi Katolik, tantangan dan peluang membangun keluarga, panggilan hidup membiara, dan panggilan karya. Secara ringkas, dokumen tersebut menjelaskan bahwa keluarga merupakan pusat iman yang hidup tempat pertama iman Kristus diwartakan, sedangkan panggilan hidup lainnya seperti membiara dan karya bertuju

Diunggah oleh

Dominikus Natanael
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
534 tayangan5 halaman

Tanggung Jawab Suami dalam Keluarga

[Ringkasan] Dokumen tersebut membahas tentang panggilan hidup berkeluarga, dasar perkawinan dalam tradisi Katolik, tantangan dan peluang membangun keluarga, panggilan hidup membiara, dan panggilan karya. Secara ringkas, dokumen tersebut menjelaskan bahwa keluarga merupakan pusat iman yang hidup tempat pertama iman Kristus diwartakan, sedangkan panggilan hidup lainnya seperti membiara dan karya bertuju

Diunggah oleh

Dominikus Natanael
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

A. Panggilan Hidup Berkeluarga.

 Arti.
Tradisional : ikatan laki dan perempuan dan keluarga besar.
Yuridis : perjanjian laki dan perempuan untuk hidup
bersama.
Sosiologis : persekutuan hidup laki dan perempuan yang
memiliki bentuk, tujuan hubungan khusus antar aggotanya.
Antropologis : persekutuan cinta,ia ada dan berkembang
atas dasar cinta
 Tujuan : UNION / kebahagiaan dan kesejahteraan pasutri
&PROCREATION kesejahteraan anak
 Sifat perkawinan. Monogami dan tak terceraikan. Sakramen.
Matius 5 : 31 -32 : perceraian.
Matius 19:1-6 : perceraian.
Markus 10 : 2-12 : perceraian.

B. Dasar Perkawinan dalam Tradisi Katolik.


 Kanon 1055: perjanjian,persekutuan hidup, kesejahteraan.
 KGK 1656 &1666 : keluarga merupakan pusat iman yang hidup,
tempat pertama iman Kristus diwartakan dan sekolah tentang
doa, kebajikan dan cinta kasih Kristen.
 Gs 48 : lembaga tetap dalam lingkungan masyarakat.
 Gs 3a : orang tua sebagai pendidik pertama dan utama
anaknya.
 Gs 52a : sekolah kemanusiaan yang mengarah pada
masa depan anaknya kelak.

Dasar Negara.
UU Perkawinan no : 1 Tahun 1974 pasal 1 perkawinan adalah
ikatan lahir batin pasutri dengan tujuan bahagia kekal
berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa.
Tanggung jawab

2) Tugas dan tanggung jawab seorang suami/bapak


a) Suami Sebagai Kepala Keluarga
Sebagai kepala keluarga suami harus bisa memberi nafkah lahir-batin kepada
istri dan keluarganya. Mencari nafkah adalah salah satu tugas pokok seorang
suami, sedapatnya tidak terlalu dibebankan kepada isteri dan anak-anak.
Untuk menjamin nafkah ini sang suami hendaknya berusaha memiliki
pekerjaan.

b) Suami Sebagai Partner Istri


Perkawinan modern menuntut pola hidup partnership. Suami hendaknya
menjadi mitra dari istrinya. Pada masa sekarang ini banyak wanita yang
menjadi wanita karier. Kalau istri adalah wanita karier, maka perlulah suami
menjadi pendamping, penyokong dan pemberi semangat baginya. Dalam
kehidupan rumah tangga istri pasti mempunyai banyak tugas dan pekerjaan.
Janganlah membiarkan dia sendiri yang melakukannya, hanya karena sudah
mempunyai pembagian tugas yang jelas dalam rumah tangga. Banyak istri
yang merasa tertekan, merasa tidak diperhatikan lagi, karena apa saja yang
dibuatnya tak pernah masuk dalam wilayah perhatian suaminya.

c) Suami Sebagai Pendidik


Orang sering berpikir dan melemparkan tugas mendidik anak-anak pada
istri/ibu, padahal anak-anak tetap memerlukan sosok ayah dalam
pertumbuhan diri dan pribadi mereka. Sosok ayah tak tergantikan.

3) Tugas dan tanggung jawab seorang istri/ibu


a) Istri sebagai hati dalam keluarga
Suami adalah kepala keluarga, maka isteri adalah ibu keluarga yang
berperan sebagai hati dalam keluarga. Sebagai hati, istri menciptakan
suasana kasih sayang, ketenteraman, keindahan, dan keharmonisan dalam
keluarga.
b) Istri sebagai mitra dari suami
Sebagai mitra, istri dapat membantu suami dalam tugas dan kariernya.
Bantuan yang dimaksudkan di sini, seperti memberi sumbang saran dan
dukungan moril hal yang pertama lebih bersifat rasional dan yang kedua
lebih bersifat afektif. Dukungan moril yang bersifat afektif lebih berarti bagi
suami.
c) Istri sebagai pendidik
Istri/Ibu merupakan pendidik yang pertama dan utama dari anak-anaknya.
Hal ini berarti bahwa ibu adalah pendidik ulung. Ada ungkapan bahwa “Surga
berada di bawah telapak kaki ibu” artinya adalah kita tidak boleh berani
terhadap orang tua terutama sekali kepada ibu kita.

4) Kewajiban Anak-anak Terhadap Orang Tua


Kewajiban-kewajiban anak terhadap orang tuanya tidak statis dan tidak
selalu sama, melainkan dipengaruhi baik oleh perkembangan maupun oleh
situasi dan kondisi. Semakin hari, anak hendaknya semakin mandiri. Orang
tua makin lama makin tua membutuhkan [Link] hal dasar
yang menjadi kewajiban anak terhadap orangtua adalah: mengasihi
orangtua, bersikap dan berperilaku penuh syukur, serta bersikap dan
berperilaku hormat kepada orangtua.
5) Membina hubungan kakak-adik
Dalam keluarga masih ada saudara-saudara (kakak-adik) yang mempunyai
hubungan timbal balik sebagai anggota-anggota satu keluarga. Hubungan ini
memang bervariasi sesuai dengan masyarakat setempat.
Dalam mengembangkan keluarga sebagai persekutuan pribadi-pribadi,
hubungan kakak-adik sebagai anggota-anggota keluarga inti sangat penting.
Hal-hal yang perlu dikembangkan dalam hubungan kakak-adik adalah: kasih
persaudaraan, saling membantu dan saling menghargai. Pengalaman hidup
bersama dan proses-proses awal dari sosialisasi untuk hidup bersama
berlangsung dalam keluarga di mana terdapat lebih dari satu anak (bdk.
Katekismus Gereja Katolik no. 2219).
Kakak-adik tak hanya dididik oleh orang tua, melainkan juga secara tidak
langsung saling mendidik. Dengan bertengkar dan berdamai kembali mereka
belajar dan berlatih mengolah konflik yang termasuk unsur hidup bersama
(bdk. Katekismus Gereja Katolik no. 2219).

C. Tantangan dan Peluang membangun Keluarga.


Tantangan :
 Komunikasi.(diskusi,dialog,bahasa tubuh ) eksternal dominasi
ortu
 Ekonomi. ( gaya hidup )
 Hubungan [Link] kawin cerai /perselingkuhan

Peluang :

Ikut serta dalam memelihara karya ciptaan Allah. Kejadian Kejadian


1 : 26

D. Panggilan Hidup Membiara.


 Arti : hidup menyatu dengan Kristus dalam 3 nasehat Injil
kemiskinan,ketaatan dan keperawanan.
 Dasar LG 42 : mengikuti jejak Yesus Kristus/ Meniru Kristus

LG 44. : meneladan hidup Kristus.

Kaul-kaul dalam Hidup Membiara


1) Kaul kemiskinan
Memiliki harta benda adalah hak setiap orang. Dengan mengucapkan dan
menghayati kaul kemiskinan, orang yang hidup membiara melepaskan
hak untuk memiliki harta benda tersebut. Ia hendak menjadi seperti
Kristus: dengan sukarela melepaskan haknya untuk memiliki harta benda.
Untuk dapat menghayati kaul kemiskinan dengan baik, diperlukan sikap
batin rela menjadi miskin seperti yang dituntut oleh Yesus dari murid-
murid-Nya (Luk 10: 1-12; lihat juga Mat 10: 5-15). Sikap batin ini perlu
diungkapkan dalam bentuk nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Berkaitan dengan pengungkapan atau perwujudan kaul kemiskinan,ada
dua aspek yang bisa ditemukan, yaitu aspek asketis (gaya hidup yang
sederhana) dan aspek apostolis. Orang yang mengucapkan kaul
kemiskinan rela menyumbangkan bukan hanya harta bendanya demi
kerasulan, melainkan juga tenaga, waktu, keahlian, dan keterampilan;
bahkan segala kemampuan dan seluruh kehidupan.
2). Kaul ketaatan
Kemerdekaan atau kebebasan adalah milik manusia yang sangat
berharga. Segala usaha akan dilakukan orang untuk memperjuangkan dan
mempertahankan kemerdekaannya. Dengan kaul ketaatan, orang
memutuskan untuk taat seperti Kristus (Yoh 14: 23-24; Flp 2: 7-8),
melepaskan kemerdekaannya, dan taat kepada pembesar (meletakkan
kehendaknya di bawah kehendak pembesar) demi Kerajaan Allah.
Ketaatan religius adalah ketaatan yang diarahkan kepada kehendakA llah.
Ketaatan kepada pembesar merupakan konkretisasi ketaatan kepada
Allah. Maka itu, baik pembesar maupun anggota biasa perlu bersama-
sama mencari dan berorientasi kepada kehendak [Link] kaul
ketaatan pun dapat dibedakan aspek asketis dan aspek apostolis. Dari
aspek asketis, ketaatan religius dimengerti sebagai kepatuhan kepada
pembesar, terutama guru rohani. Sementara, dari aspek apostolis
ketaatan religius berarti kerelaan untuk membaktikan diri kepada hidup
dan terutama kerasulan bersama.
3). Kaul keperawanan
Hidup berkeluarga adalah hak setiap orang. Dengan mengucapkan dan
menghayati kaul keperawanan, orang yang hidup membiara melepaskan
haknya untuk hidup berkeluarga demi Kerajaan Allah.
Melalui hidup selibat ia mengungkapkan kesediaan untuk mengikuti dan
meneladani Kristus sepenuhnya serta membaktikan diri secara total demi
terlaksananya Kerajaan Allah. Dengan kaul keperawanan, sikap
penyerahan diri seorang Kristen dinyatakan dalam seluruh hidup dan
setiap segi. Inti kaul keperawanan bukanlah ”tidak kawin”, melainkan
penyerahan secara menyeluruh kepada Kristus, yang dinyatakan dengan
meninggalkan segala-galanya demi Kristus dan terus-menerus berusaha
mengarahkan diri kepada Kristus terutama melalui hidup doa. Secara
singkat, ketiga kaul itu dapat dikatakan sebagai suatu sikap radikal untuk
mencintai Bapa (keperawanan), pasrah kepada kehendak Bapa
(ketaatan), serta bergantung dan berharap hanya kepada Bapa.

E. Panggilan Karya

2 hal yang perlu diingat dalam kerja :


- Kerja memerlukan pemikiran secara sadar perlu diarahkan ke tujuan
tertentu, dan oleh karenanya merupakan keistimewaan makhluk
yang berakal budi.
- Setiap pekerjaan yang halal sama mulia dan [Link]
bekerja manusia memanusiaakan dirinya.
Kitab Suci
Keja 1 : 1 -2 :3 Allah bekerja
Yoh 5 : 17 : Allah bekerja sampai hari ini
Kel 23 : 12 : Allah bekerja. Manusia harus meneladan Allah bekerja.
Kel 20 : 10 : Memerlukan istirahat
Dasar Ajaran Gereja :
 LE 25 : manusia memiliki tanggung jawab membangun dunia
lebih baik.
 LE 3 : pekerjaan menentukan manusia untuk membuat hidup
lebih manusiawi.
 CA 31: kesadaran manusia mengolah sumber daya alamnya.

Anda mungkin juga menyukai