0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
68 tayangan17 halaman

Kriteria Sehat Jiwa Lansia dan Penyuluhannya

Satuan acara penyuluhan ini membahas tentang kriteria kesehatan jiwa pada lansia, dengan tujuan agar lansia dapat menjaga kesehatan jiwa dengan baik dan tetap produktif. Penyuluhan ini diselenggarakan oleh mahasiswa keperawatan dan diikuti oleh masyarakat setempat, dengan materi yang disampaikan meliputi pengertian lansia, faktor yang mempengaruhi kesehatan jiwa lansia, dan cara menjaga ke

Diunggah oleh

Diana Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
68 tayangan17 halaman

Kriteria Sehat Jiwa Lansia dan Penyuluhannya

Satuan acara penyuluhan ini membahas tentang kriteria kesehatan jiwa pada lansia, dengan tujuan agar lansia dapat menjaga kesehatan jiwa dengan baik dan tetap produktif. Penyuluhan ini diselenggarakan oleh mahasiswa keperawatan dan diikuti oleh masyarakat setempat, dengan materi yang disampaikan meliputi pengertian lansia, faktor yang mempengaruhi kesehatan jiwa lansia, dan cara menjaga ke

Diunggah oleh

Diana Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

KRITERIA SEHAT JIWA PADA LANSIA

Dosen Pengampu : Ns. Joko Sri Pujianto [Link].


Mata Kuliah : Keperawatan Kesehatan Jiwa I

Disusun Oleh Kelompok 1 :


1. Abdul Arif F. (S18001)
2. Amelia Nur C. (S17161)
3. Anggita Meriana P. (S18004)
4. Della Silviani (S18011)
5. Diana Putri P. (S18013)
6. Dwi Lestari (S18015)
7. Enny Kusbandiyah (S18018)
8. Gleryn Viona (S18022)
9. Irfan Anshory (S18025)
10. Mia Azizah N.M (S18032)
11. Nita Wahyuningsih (S18036)
12. Retno Hapsari (S18041)
13. Tasya Ariska (S18048)
14. Wahyu Asal Tentrem. (S18051)

S18A
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KUSUMA HUSADA SURAKARTA
TAHUN AJARAN 2020/2021
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

KRITERIA SEHAT JIWA PADA LANSIA

Topik : Kesehatan Jiwa


Sub pokok bahasan : Kriteria Sehat Jiwa Pada Lansia
Sasaran : Masyarakat RT.01/RW IV Dsn. Sukoharjo
Hari, tanggal : Rabu, 16 September 2020
Waktu : 08.30-09.10 WIB
Tempat : Balai Dusun Sukoharjo
Penyuluh : Mahasiswa Universitas Kusuma Husada Surakarta

A. Latar Belakang
Kesehatan jiwa bagi manusia berarti terwujudnya keharmonisan fungsi jiwa dan
sanggup menghadapi problem, merasa bahagia dan mampu diri. Orang yang sehat jiwa
berarti mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain,
masyarakat, dan lingkungan. Manusia terdiri dari bio, psiko, sosial, dan spiritual yang
saling berinteraksi satu dengan yang lain dan saling mempengaruhi.
Sehat (health) adalah konsep yang tidak mudah diartikan sekalipun dapat kita
rasakan dan diamati keadaannya. Orang ‘gemuk’ dianggap sehat dan orang yang
mempunyai keluhan dianggap tidak sehat. Faktor subjektifitas dan kultural
mempengaruhi pemahaman dan pengertian orang terhadap konsep sehat. World Health
Organization (WHO) merumuskan sehat dalam arti kata yang luas, yaitu keadaan yang
sempurna baik fisik, mental maupun social, tidak hanya terbebas dari penyakit atau
kelemahan/cacat.
Terdapat tiga kemungkinan hubungan antara sakit secara fisik dan mental, pertama
orang yang mengalami sakit mental karena sakit fisiknya. Karena kondisi fisik tidak
sehat, sehingga tertekan dan menimbulkan gangguan mental. Kedua, sakit fisik yang
diderita itu sebenarnya gejala dari adanya gangguan mental. Ketiga, antara gangguan
mental dan fisik saling menopang, artinya orang menderita secara fisik menimbulkan
gangguan secara mental, dan gangguan mental turut memperparah sakit fisiknya.
Keperawatan kesehatan jiwa (mental health nursing) adalah bentuk pelayanan
profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, menerapkan teori
perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri sendiri secara terapeutik sebagai
kiatnya. Upaya keperawatan dalam pencegahan primer, sekunder dan tertier terhadap
klien dengan masalah psikososial dan spiritual serta gangguan kesehatan jiwa pada
semua tingkat perkembangan manusia dengan menggunakan pendekatan proses
keperawatan, termasuk hubungan terapeutik secara individu dan dalam koteks keluarga.
Pengalaman belajar ini akan berguna dalam memberikan pelayanan/asuhan keperawatan
jiwa dan integrasi keperawatan jiwa pada area keperawatan lainnya.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan diharapkan peserta dapat mengenal masalah
kesehatan jiwa pada lansia dan diharapkan lansia tidak mengalami stres pada masa
emptynest serta dapat melakukan aktifitas dengan mandiri.
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan tentang kriteria kesehatan jiwa lansia
ini,diharapkan peserta dapat:
a. Mengerti dan memahami tentang lansia.
b. Memahami dan mengerti mengenai faktor yang mempengaruhi kesehatan jiwa
lansia.
c. Memahami kesehatan jiwa yang sering muncul pada lansia.
d. Mengetahui dan memahami bagaiman sehat jiwa tumbuh dan berkembang
secara positif
e. Memahami hubungan emthynest dengan keadaan stress pada lansia.
f. Mengetahui bagaimana cara menjaga kesehatan jiwa pada lansia.

C. Pengorganisasian
1. Moderator : Irfan Anshory
2. Penyaji : Retno Hapsari, Wahyu Asal Tentrem
3. Fasilitator : Anggita, Gleryn, Abdul, Mia
4. Notulen : Della, Nita, Diana, Dwi
5. Operator : Dwi , Aji, Amelia, Abdul

D. Job Desc
1. Moderator
Moderator adalah pengatur dan pengarah jalannya diskusi dengan peserta lainnya.
Tugas seorang moderator adalah untuk mengatur dan memberi arahan kepada peserta
lainnya. Moderator juga bisa disebut sebagai pemimpin Diskusi.
2. Penyaji
Penyaji adalah menyaji hasil diskusi. Tugas seorang penyaji adalah menyajikan hasil
diskusi dari peserta dan memberitahukan kepada moderator agar moderator dapat
memberi arahan selanjutnya kepada peserta-peserta diskusinya.
3. Fasilitator
Fasilitator bertugas mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam proses
penyuluhan, mengambil absen dan membantu penyuluh untuk menjawab
pertanyaaan.
4. Notulen
Notulen memiliki beberapa fungsi yang penting terhadap kegiatan rapat tersebut
antara lain sebagai bukti telah di adakan penyuluh.
5. Operator
Operator memiliki fungsi untuk mengoperasikan computer yang digunakan saat
penyuluhan dan membagiakan leaflet.

E. Materi
1. Pengertian lansia.
2. Kriteria sehat jiwa
3. Faktor yang mempengaruhi kesehatan kejiwaan yang sering muncul pada
lansia.
4. Masalah kesehatan jiwa yang sering muncul pada lansia.
5. Hubungan masa emptynest dengan keadaan stress pada lansia.
6. Cara menjaga kesehatan jiwa lansia agar tetap mandiri dan produktif.

F. Metode
1. Ceramah
2. Diskusi/ Tanya Jawab

G. Media
1. Leaflet
2. Power Point
H. Setting Tempat

Notulen, Fasilitator
Moderator

Peserta Peserta

Peserta Peserta

Peserta Peserta

Peserta Peserta

I. Kegiatan belajar mengajar


No Waktu Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta
1. 5 Menit Pembukaan :
 Memperkenalkan diri Mendengarkan
 Menjelaskan maksud keterangan moderator
dan tujuan

2. 20 Menit Pelaksanaan :
Menyampaikan materi Memperhatikan dan
penyuluhan Mendengarkan
keterangan penyaji

3. 10 Menit  Memberi kesempatan  Mengajukan


peserta untuk bertanya pertanyaan
 Mengevaluasi  Menjawab
pengetahuan peserta pertanyaan
dengan menanyakan
pada peserta tentang
materi yang telah
diberikan

4. 5 Menit Penutup :
 Kesimpulan  Mendengarkan
 Salam penutup  Menjawab salam

J. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi Penyuluhan
a. Apakah lansia mengerti dan memahami tentang lansia.
b. Apakah lansia memahami dan mengerti mengenai faktor yang mempengaruhi
kesehatan jiwa lansia.
c. Apakah lansia memahami kesehatan jiwa yang sering muncul pada lansia.
d. Apakah lansia mengetahui dan memahami bagaiman sehat jiwa tumbuh dan
berkembang secara positif
e. Apakah lansia memahami hubungan emthynest dengan keadaan stress pada
lansia.
f. Apakah lansia mengetahui bagaimana cara menjaga kesehatan jiwa pada lansia.

2.    Evaluasi Struktur
a.  Persiapan alat dan media dapat dipakai dengan baik
b.  Kontrak waktu dengan audien sesuai kesepakatan
c.  SAP  tentang Kesehatan Jiwa Lansia telah ada/siap
3.    Evaluasi Proses
a.  Penyuluhan berjalan lancar
b.  Audien mengikuti penyuluhan dari awal hingga akhir
c.  Audien kooperatif dan mampu bekerjaasama dengan perawat
d.  Media dan alat bantu selama penyuluhan dapat digunakan dengan baik
e.   Lingkungan selama penyuluha  sangat mendukung
4.    Evaluasi Hasil
a. Kognitif
Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan :
 Mengerti dan memahami tentang lansia.
 Memahami dan mengerti mengenai faktor yang mempengaruhi kesehatan jiwa
lansia.
 Memahami kesehatan jiwa yang sering muncul pada lansia.
 Mengetahui dan memahami bagaiman sehat jiwa tumbuh dan berkembang
secara positif
 Memahami hubungan emthynest dengan keadaan stress pada lansia.
 Mengetahui bagaimana cara menjaga kesehatan jiwa pada lansia.
b. Afektif
Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan lansia aka mengaplikasikan cara-cara
untuk menjaga kesehatan jiwanya.
MATERI

1. Pengertian Lansia
Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Menua
bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur-angsur
mengakibatkan perubahan kumulatif, merupakan proses menurunnya daya tahan
tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh, seperti didalam
Undang-Undang No 13 tahun 1998 yang isinya menyatakan bahwa pelaksanaan
pembangunan nasional yang bertujuan mewujudkan masyarakat adil dan makmur
berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945, telah menghasilkan
kondisi sosial masyarakat yang makin membaik dan usia harapan hidup makin
meningkat, sehingga jumlah lanjut usia makin bertambah. Banyak diantara lanjut
usia yang masih produktif dan mampu berperan aktif dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Upaya peningkatan kesejahteraan sosial
lanjut usia pada hakikatnya merupakan pelestarian nilai-nilai keagamaan dan
budaya bangsa.
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaaan yang terjadi di dalam
kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak
hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan
kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah
melalui tiga tahap kehidupan, yaitu anak, dewasa dan tua (Nugroho, 2006 dalam
Siti, 2016).

2. Kriteria Sehat Jiwa


Ada berbagai pendapat tentang jiwa yang sehat, yaitu karena tidak sakit, tidak
jatuh sakit akibat stressor, sesuai dengan kapasitasnya dan selaras dengan
lingkungan, dan mampu tumbuh berkembang secara positif (Notosoedirjo dan
Latipun, 2005).
a. Sehat jiwa karena tidak mengalami gangguan jiwa
Kalangan klinisi klasik menekankan bahwa orang yang sehat jiwa adalah
orang yang tahan terhadap sakit jiwa, dan terbebas dari gangguan jiwa.
Orang yang mengalami neurosa atau psikosa dianggap tidak sehat jiwa.
Vaillant, 1976 dalam Notosoedirjo, 2005 menyatakan bahwa sehat jiwa
itu “ as the presence of successful adjustment or the absence of
psychopatology (dysfunction in psychological, emotional, behavioral, and
social spheres) ”. Pengertian diatas bersifat dikotomis, bahwa orang itu
dalam keadaan sehat jika tidak ada sedikitpun gangguan psikis, dan sakit
jika ada gangguan. Dengan kata lain, sehat dan sakit itu bersifat nominal.
b. Sehat jiwa jika tidak sakit akibat adanya stressor
Clausen memberi batasan yang berbeda dengan klinisi klasik. Orang yang
sehat jiwa adalah orang yang dapat menahan diri untuk tidak jatuh akibat
stressor. Meskipun mengalami tekanan, orang tetap sehat. Pengertian ini
menekankan pada kemampuan individual merespon lingkungannya.
Setiap orang mempunyai kerentanan (susceptibility) yang berbeda
terhadap stressor karena factor genetic, proses belajar, dan budaya. Selain
itu terdapat perbedaan intensitas stressor yang diterima seseorang,
sehingga sangat sulit menilai apakah dia tahan terhadap stressor atau
tidak.
c. Sehat jiwa jika sejalan dengan kapasitasnya dan selaras dengan
lingkungan
Michael dan Kirk Patrick memandang bahwa individu yang sehat jiwa
jika terbebas dari gejala psikiatris dan berfungsi optimal dalam
lingkungan sosialnya. Seseorang yang sehat jiwanya jika sesuai dengan
kapsitas diri sendiri, dan dapat hidup selaras dengan lingkungannya.
3. Sehat jiwa karena tumbuh dan berkembang secara positif
Frank LK mengemukakan pengertian kesehatan jiwa lebih komprehensif. Orang
yang sehat jiwa mampu tumbuh, berkembang dan matang dalam hidupnya,
menerima tanggungjawab, menemukan penyesuaian dalam berpartisipasi
memelihara aturan social dan tindakan dalam budayanya.

Seseorang yang sehat mental menurut WHO mempunyai ciri sebagai berikut:
1. Menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan
2. Memperoleh kepuasan dari usahanya
3. Merasa lebih puas memberi daripada menerima
4. Saling tolong menolong dan saling memuaskan
5. Menerima kekecewaan untuk pelajaran yang akan datang
6. Mengarahkan rasa bermusuhan pada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif
7. Mempunyai kasih sayang.

Kriteria Sehat Jiwa menurut M. Jahoda:


1. Sikap positif terhadap diri
Menerima diri apa adanya, sadar diri, obyektif, dan merasa berarti.
2. Tumbuh, kembang dan aktualisasi
Berfungsi optimal dan adaptif
3. Integrasi
Keseimbangan antara ekspresi dan represi, ego yang kuat (Stress dan koping) dan
mampu menyeimbangkan konflik dan dorongan.
4. Otonomi
Tergantung dan mandiri seimbang, tanggung jawab terhadap diri sendiri,
menghargai otonomi oranglain, persepsi reality, mau berubah sesuai dengan
pengetahuan baru,empati dan menghargai sikap dan perasaan orang lain.
5. Environment Mastery
Mampu untuk sukses, adaptif terhadap lingkungan, dan dapat mengatasi kesepian,
agresi dan frustasi.

Abraham Maslow mengkriteriakan seseorang yang sehat jiwa memiliki persepsi


yang akurat terhadap realitas, serta menerima diri sendiri, oranglain, dan
lingkungan. Bersikap spontan, sederhana dan wajar (Rasmun, 2001). Manifestasi
jiwa yang sehat menurut Maslow dan Mittlement, 1963; Notosoedirjo, 2005, jika
seseorang mampu self-actualization sebagai puncak kebutuhan dari teori hierarki
kebutuhan. Secara lengkap criteria sehat jiwa menurut Maslow sebagai berikut:
1. Adequate feeling of security
Rasa aman yang memadai dalam hubungannya dengan pekerjaan, social, dan
keluarganya.
2. Adequate self-evaluation
Kemampuan menilai diri sendiri yang cukup mencakup harga diri yang
memadai, memiliki perasaan berguna, yaitu perasaan yang tidak diganggu rasa
bersalah berlebihan, dan mampu mengenal beberapa hal secara social dan
personal dapat diterima oleh masyarakat.
3. Adequate spontanity and emotionality
Memiliki spontanitas dan perasaan yang cukup dengan orang lain dengan
membentuk ikatan emosional secara kuat, seperti persahabatan dan cinta,
kemampuan memberi ekspresi yang cukup pada ketidaksukaan tanpa
kehilangan control, kemampuan memahami dan membagi rasa kepada
oranglain, kemampuan menyenangi diri sendiri dan tertawa.
4. Efficient contact with reality
Mempunyai kontak yang efisien dengan realitas yang mencakup tiga aspek
yaitu dunia fisik, social, dan internal atau diri sendiri. Hal ini ditandai dengan
tiadanya fantasi yang berlebihan, mempunyai pandangan yang realities dan
luas terhadap dunia, disertai kemampuan menghadapi kesulitan hidup sehari-
hari, dan kemampuan untuk berubah jika situasi eksternal tidak dapat
dimodifikasi.
5. Adequate bodily desire and ability to gratify them
Keinginan jasmani yang cukup dan kemampuan untuk memuaskan, yang
ditandai dengan sikap yang sehat terhadap fungsi jasmani, kemampuan
memperoleh kenikmatan kebahagiaan dari dunia fisik seperti makan, tidur,
pulih kembali dari kelelahan. Kehidupan seksual yang wajar tanpa rasa takut
dan konflik, kemampuan bekerja, dan tidak adanya kebutuhan yang
berlebihan.
6. Adequate self-knowledge
Mempunyai pengetahuan diri yang cukup tentag motif, keinginan, tujuan,
ambisi, hambatan, kompensasi, pembelaan, perasaan rendah diri, dan
sebagainya. Penilaian diri yang realities terhadap kelebihan dan kekurangan
diri.
7. Integration and concistency of personality
Memiliki kepribadian yang utuh dan konsisten seperti cukup baik
perkembangan, kepandaian berminat dalam beberapa aktifitas, memiliki moral
dan kata hati yang tidak terlalu berbeda dengan kelompok, mampu
berkonsentrasi, dan tidak adanya konfli konflik besar dalam kepribadiannya.
8. Adequate life goal
Memiliki tujuan hidup yang sesuai dan dapat dicapai, mempunyai usaha yang
cukup dan tekun mencapai tujuan, serta tujuan itu bersifat baik untuk diri
sendiri dan masyarakat.
9. Ability to learn from experience
Kemampuan untuk belajar dari pengalaman yang berkaitan tidak hanya
dengan pengetahuan dan ketrampilan saja, tetapi juga elastisitas dan kemauan
untuk menerima segala sesuatu yang menyenangkan maupun menyakitkan.
10. Ability to satisfaction the requirements of the group
Kemampuan memuaskan tuntutan dari kelompok dengan cara individu tidak
terlalu menyerupai anggota kelompok lain yang dianggap lebih penting,
terinformasi dan menerima cara yang berlaku dalam kelompok, berkemauan
dan dapat menghambat dorongan yang dilarang oleh kelompok, dapat
menunjukkan usaha yang mendasar yang diharapkan oleh kelompok, seperti
ambisi, ketepatan, persahabatan, rasa tanggungjawab, kesetiaan dan
sebagainya.
11. Adequate emancipation from the group or culture
Mempunyai emansipasi yang memadai dari kelompok atau budaya, seperti
menganggap sesuatu itu baik dan yang lain jelek, bergantung dari pandangan
kelompok, tidak ada kebutuhan untuk membujuk, mendorong, atau
menyetujui kelompok, dan memiliki toleransi terhadap perbedaan budaya.

Keadaan sehat atau sakit jiwa dapat dinilai dari keefektifan fungsi perilaku, yaitu:
1. Bagaimana prestasi kerja yang ditampilkan, baik prosesnya maupun hasil.
2. Bagaimana hubungan interpersonal di lingkungan individu berada.
3. Bagaimana individu menggunakan waktu senggangnya. Individu yang sehat
jiwa dapat menggunakan waktunya untuk hal-hal yang produktif dan positif bagi
dirinya dan lingkungannya.

4.   Factor yang Memengaruhi Kesehatan Jiwa pada Lansia


a. Penurunan Kondisi Fisik
Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya
kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya
tenaga berkurang, enerji menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok,
tulang makin rapuh, dsb.
b. Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual
Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering
kali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti : Gangguan jantung,
gangguan metabolisme, misal diabetes millitus, vaginitis, baru selesai
operasi : misalnya prostatektomi, kekurangan gizi, karena pencernaan kurang
sempurna atau nafsu makan sangat kurang, penggunaan obat-obat tertentu,
seperti antihipertensi, golongan steroid, tranquilizer.
 
c. Perubahan Aspek Psikososial
Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan
fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses
belajar,persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga
menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara
fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan
dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat
bahwa lansia menjadi kurang cekatan.

d. Perubahan yang Berkaitan Dengan Pekerjaan


Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan
ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan
hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena
pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan,
peran, kegiatan, status dan harga diri.

e. Perubahan Dalam Peran Sosial di Masyarakat


Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan
sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada
lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk , pendengaran sangat berkurang,
penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering
menimbulkan keterasingan.

5. Masalah Kesehatan Kejiwaan yang Sering muncul pada lansia


a. Demensia
Demensia adalah suatu gangguan intelektual/daya ingat yang umumnya
progresif dan ireversibel. Biasanya ini sering terjadi pada orang yang berusia >
65 tahun. Di Indonesia sering menganggap bahwa demensia ini merupakan
gejala yang normal pada setiap orang tua. Namun kenyataan bahwa suatu
anggapan atau persepsi yang salah bahwa setiap orang tua mengalami
gangguan atau penurunan daya ingat adalah suatu proses yang normal saja.
Anggapan ini harus dihilangkan dari pandangan masyarakat kita yang salah.

b. Depresi
Gangguan depresi merupakan hal yang terpenting dalam problem
lansia. Usia bukan merupakan faktor untuk menjadi depresi tetapi
suatu keadaan penyakit medis kronis dan masalah-masalah yang
dihadapi lansia yang membuat mereka depresi. Gejala depresi pada
lansia dengan orang dewasa muda berbeda dimana pada lansia
terdapat keluhan somatik. Gejala depresi pada lansia, yaitu:
1.) Kehilangan minat
2.) Berkurangnya energi (mudah lelah)
3.) Konsentrasi dan perhatian berkurang
4.) Kurang percaya diri
5.) Sering merasa bersalah
6.) Pesimis
7.) Ide bunuh diri
8.) Gangguan pada tidur
9.) Gangguan nafsu makan
c. Stress
Stres adalah gangguan mental yang dihadapi seseorang akibat adanya
tekanan. Tekanan ini muncul dari kegagalan individu dalam memenuhi
kebutuhan atau keinginannya. Tekanan ini bisa berasal dari dalam diri, atau
dari luar. Stres tidak selalu buruk, walaupun biasanya dibahas dalam konteks
negatif, karena stres memiliki nilai positif ketika menjadi peluang saat
menawarkan potensi hasil. Sebagai contoh, banyak profesional memandang
tekanan berupa beban kerja yang berat dan tenggat waktu yang mepet sebagai
tantangan positif yang menaikkan mutu pekerjaan mereka dan kepuasan yang
mereka dapatkan dari pekerjaan mereka.

d. Hubungan Syndrome Emptynest Dengan Stress Pada Lansia


Istilah Empty Nest Syndrome, secara harfiah dapat diartikan sindrom
sarang kosong (empty = kosong, nest = sarang). Sindrom sarang kosong
adalah suatu istilah yang menggambarkan kondisi psikologi dan emosi yang
dialami wanita dalam suatu waktu karena ditinggalkan oleh anak-anaknya atau
karena anaknya menikah.
Sindrom sarang kosong mengacu pada merasa tekanan, kesedihan, dan
atau duka cita yang dialami oleh orang tua setelah anak-anaknya
meninggalkan rumah setelah dewasa atau berumah tangga. Hal ini dapat
terjadi ketika anak- anaknya pergi karena kuliah atau menikah. Setiap orang
tidak ingin mengalaminya. Tetapi hal ini mungkin saja terjadi. Semua orang
pasti merasakan kesedihan ketika kehilangan seseorang yang sangat mereka
cintai dan hal ini juga terjadi pada orang tua. Sindrom sarang kosong ini lebih
banyak dirasakan oleh wanita karena sebagian waktu mereka dihabiskan di
rumah dan selalu berinteraksi dengan anak-anak. Namun ini tidak berarti
bahwa pria benar-benar kebal terhadap sindrom sarang kosong. Pria dapat
mengalami perasaan yang sama dan merasakan kerugian mengenai
keberangkatan anak-anak mereka.
Kondisi ini bisa lebih buruk jika bersamaan dengan menopause,
pensiun atau kematianpasangan . Sindroma sarang kosong adalah suatu
keadaan yang menimpa kaum ibu pada saat anaknya meninggalkan rumah
karena belajar di kota lain atau ke luar negeri. Juga dapat terjadi ketika
anaknya menikah dan tidak tinggal serumah lagi. Keadaan ini menyebabkan
ada perasaan tidak diperlukan lagi peranan sebagai ibu seperti waktu
sebelumnya. Sindrom sarang kosong mengacu pada kesedihan yang banyak
terjadi pada orang tua ketika anak-anak mereka tidak tinggal lagi bersama
dalam satu rumah. Kondisi ini secara khas terjadi pada wanita. Sindrom sarang
kosong berbeda dengan kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai.
Kesedihan pada sindrom sarang kosong sering tidak dikenali, sebab seorang
anak orang dewasa pindah dari rumah dilihat sebagai peristiwa yang normal.
Keadaan ini dianggap normal, bila berlangsung hanya satu minggu setelah
kepergian anaknya. Yang perlu mendapat perhatian bila keadaan ini
berlangsung lama sampai menimbulkan stress dan bahkan sampai depresi

6. Cara Menjaga Kesehatan Jiwa Lansia Agar Tetap Mandiri Dan Produktif.
a. Mendekatkan diri pada Tuhan dengan banyak beribadah.
b. Dialogkan apa yang menjadi masalah dan perhatian dengan orang terdekat
agar selalu mendapat dukungan dan tidak merasa sendirian.
c. Jangan sungkan untuk meminta pertolongan fisik dan mental pada keluarga
atau tenaga kesehatan.
d. Berani membuat rencana kehidupan untuk mengasah perasaan dan
membangkitkan semangat hidup.
e. Peduli terhadap sesama agar kehidupan sosial lebih erat merasa dekat dengan
orang-orang di sekitar. Jalin silaturahmi dengan keluarga jauh atau teman baik
melalui telepon atau bertemu langsung.
f. Membiasakan diri untuk aktif dan cukup istirahat.
g. Biasakan diri untuk mengonsumsi makanan sehat dan banyak minum air
mineral.
h. Lakukan hal yang membuat kita senang.
i. Bersantai dan milikilah waktu luang yang dapat dinikmati sendirian atau
bersama keluarga.
DAFTAR PUSTAKA

Belawati, Martha. (2011). Sindrom Sarang Kosong. [Online]. Tersedia :


[Link]
sarang-kosong/. Diakses pada tanggal 14 September 2020.

Fitriannie, siti. (2016). Modul Kuliah Psikologi. Sumedang : Akper Pemkab


Sumedang.

Kholifah, Siti Nur. 2016. Keperawatan Gerontik. Jakarta : Pusdik SDM


Kesehatan.

Menjaga kesehatan jiwa teteap baik pada masa lansia. [Online]. Tersedia :
[Link] Diakses pada tanggal 14 September
2020.

Rahman, syahnur. (2016). Faktor-Faktor Yang Mendasari Stres Pada Lansia.


[Online]. Tersedia :
[Link] Diakses
pada tanggal 14 September 2020.

Anda mungkin juga menyukai