1.
Pengantar
Pembelajaran matematika telah mengalami perubahan mendasar dari pendekatan transfer
pengetahuan (trasfer of knowledge) ke dalam memori peserta didik, menjadi pembelajaran
dengan pendekatan yang mengarahkan peserta didik memanfaatkan pengetahuan yang telah
dimiliki (prior knowledge) atau pengetahuan yang telah ada dalam struktur kognitif peserta
didik, dalam melakukan asimilasi informasi baru, untuk membangun pemahaman sendiri.
Pembelajaran akan lebih bermakana apabila didasarkan pengetahuan dan pengalaman yang
dimiliki peserta didik bukan berdasarkan pengethauan yang dimiliki guru. Pembelajaran
dipandang sebagai suatu proses aktif dan interaktif untuk menghasilkan pemaknaan dan
pemahaman yang akan merubah knowledge, psikomotor, afektif, karakter,pandangan, peserta
didik. Rangkaian proses ini harus direalisasikan di dalam kelas dengan menerapkan beberapa
teknik, salah satu diantaranya adalah teknik pemecahan masalah (problem solving).
Banyak peserta didik yang mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah (problem solving)
terkait dengan penerapan konsep-konsep materi ajar dalam kehidupan, sehingga proses
pembelajaran yang berorientasi pada bagaimana memecahkan masalah juga mengalami kendala.
Pembelajaran matematika yang berorientasi pada jawaban akhir sebagai tujuan problem solving
menyebabkan kesulitan tersebut muncul. Oleh karena itu guru sebaiknya merubah paradigma
tersebut dengan menekankan pada bagaimana proses problem solving dilakukan peserta didik
dengan tidak menekankan pada tujuan akhir. Bagaimana proses problem solving sangat
mendasar dan penting. Melalui proses tersebut peserta didik akan belajar dan terbiasa berpikir
bagaimana meyelesaikan masalah yang ada.
Problem solving dalam pembelajaran matematika berbentuk masalah terkait penerapan konsep-
konsep bahan ajar yang dialami siswa dalam kehidupan. Problem solving diharapkan dapat
meningkatkan knowledge, afektif dan psikomotor peserta didik dalam belajar matematika.
Pengalaman belajar melalui problem solving dapat memberi gambaran tentang bagaimana minat
menjadi pendorong untuk menguasai pengetahuan yang layak dan menimbulkan keingintahuan,
kepercayaan diri dan keterbukaan pikiran bagi peserta didik. Tugas guru adalah membantu
mengembangkan kemampuan peserta didik agar knowledge, afektif dan psikomotor dapat
berkembang dengan baik sehingga mereka mampu menerapkan konsep-konsep matematika
dalam kehidupan sehari-hari melalui problem solving.
2. Pembahasan
o Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Problem solving adalah satu pengolahan kognitif penting yang terjadi selama proses
pembelajaran, dan mengacu pada usaha orang untuk mencapai tujuan karena mereka tidak
memiliki solusi otomatis dan banyak pakar toeri pembelajaran yang menganggap bahwa problem
solving adalah proses kunci dalam pembelajaran, khususnya pada matematika dan sains (Schunk,
2012:416). problem solving mengacu pada pemrosesan kognitif yang diarahkan untuk mencapai
suatu tujuan ketika peserta didik dihadapkan masalah yang pada awalnya belum diketahui
metode solusi pemecahannya secara langsung.
Munculnya masalah adalah ketika peserta didik memiliki tujuan tetapi tidak tahu bagaimana
mencapainya. Masalah dapat diklasifikasikan sebagai masalah rutin atau tidak rutin. Masalah
dalam bentuk penerapan konsep dalam kehidupan termasuk dalam masalah tidak rutin. Problem
solving adalah pendekatan yang dapat digunakan dalam menyelesaikan maslah tidak rutin.
Sehungga masalah tidak rutin berguna untuk: (1) mendorong peserta didik berpikir logis, (2)
memperkuat pemahaman tentang konsep, dan (3) mengembangkan strategi pemecahan masalah
yang dapat diterapkan pada situasi lain.
Problem solving tidak terjadi apabila peserta didik mempunyai kemampuan tinggi untuk
menyelesaikan masalah yang memungkinkan mereka secara otomatis dapat melakukan aktivitas
problem solving untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu tidak semua aktivitas pembelajaran
termasuk problem solving. Problem solving dapat dilakukan melalui beberapa cara misalnya:
trial-and-rror (ujia coba), pemahaman dan heuristika (Schunk, 2012:417).
Uji coba kadang-kadang tidak efektif, karean jika tidak berhasil maka hanya membuang-buang
waktu. Pemahaman sering menimbulkan kesadaran secara tiba-tiba dalam menemukan solusi.
Hasil penelitian Wallas (1921) dalam (schunk, 418) menemukan bahwa orang yang mampu
memecahkan masalah dengan hebat mempformulasikan model dengan empat tahap yaitu: (1)
persiapan, (2) inkubasi, (3) ilumunasi, dan (verifikasi). Tahap persiapan adalah waktu untuk
mempelajari masalah dan mengumpulkan informasi yang mungkin sesuai dengan solusi. Tahap
inkubasi adalah masa memikirkan masalah, dapat berbentuk pembatasan masalah untuk
sementara. Tahap iluminasi adalah masa perenungan apabila ada solusi yang mungkin muncul
secara tiba-tiba dalam kesadaran. Tahap verifikasi adalah masa untuk menguji solusi yang ada
untuk memastikan kebenarannya.
Heuristika adalah cara pemecahan masalah dengan menggunakan prinsip-prinsip yang biasanya
menghasilkan solusi. Prinsip mental Polya (1945/1957) termasuk di dalamnya (Shcunk,
2012:420) adalah: (1) memahami masalah, (2) merancang rencana, (3) menjalankan rencana, dan
melihat kembali. Bertanya “apa yang tidak diketahui”? dan “apa yang ditanya”? membantu
untuk mamahami masalah dan menampilkan informasi yang diberikan. Mencoba menemukan
hubungan antara data yang diketahui dengan data yang diketahui adalah bagian dari merancang
rencana. Menjalankan rencana dengan memecah masalah menjadi sub-sub tujuan sangat
bermanfaat karena memikirkan yang sama dan bagaimana menyelesaikannya, memeriksa setiap
kebenaran tahapan pelaksanaan. Memeriksa kembali untuk memastikan apakah sudah benar?.
Bentuk heuristika lain dikemukakan oleh Bransford dan Stein (1984) dalam Shcunk, 2012:421)
dikemal dengan IDEAL, yaitu: (1) Identify (mengidentifikasi) maslah, (2) Define
(mendefinisikan) dan menampilkan masalah, (3) Act (melaksanakan) strategi, dan (4) Look back
(melihat kemnbali) dan mengevaluasi pengaruh aktivitas Anda. Heuristika umum akan
bermanfaat jika dilakukan pada konten yang tidak dikenal dan akan menjadi tidak efektif pada
konten yang sudah diketahui karena kemapuan yang spesifik berimbang, akibatnya peserta didik
menggunakan pengetahuan prosedural yang ada. Fleksibilitas heuristika akan dapat dilihat dalam
hal bagaimana langkah-langkah itu dijalankan.
Implikasi hubungan antara problem solving dan pembelajaran menunjukkan bahwa peserta didik
dapat mempelajari heuristika dan strategi untuk menjadi pemecah masalah yang handal, Bruning,
et al,. (2004) dalam (Schunk, 2012:437). Untuk melatih kemampuan pemecahan masalah peserta
didik, Andre (1986) dalam (Schunk, 2012:438) memberikan sepuluh saran yang mewakili
produksi dalam memori, diambil dari teori dan hasil penelitian yaitu: (1) memberikan
reprensentasi metafora pada siswa, (2) Meminta siswa membuat pernyataan selama pemecahan
masalah, (3) menggunakan pertanyaan, (4) Berikan contoh, (5) koordinasikan ide, (6) gunakan
pembelajaran penemuan, (7) berikan deskripsi verbal, (8) ajarkan strategi belajar, (9) gunakan
kelompok kecil, dan (10) mempertahankan iklim psikologi positif.
Problem Solving dalam Pembelajaran Matematika
Pemecahan masalah (problem solving) dalam matematika adalah suatu proses kognitif yang
kompleks untuk mengatasi suatu masalah dan memerlukan sejumlah strategi dalam
menyelesaikannya (Surya, 2011). Melalui Problem solving dalam matematika peserta didik akan
memperoleh pengalaman dalam menyelesaikan masalah yang tidak rutin (tidak biasa) dengan
menggunakan pengetahuan yang telah ada dalam struktur kognitif mereka. Masalah matematika
tidak rutin yang dimaksud adalah masalah matematika yang terkait dengan penerapan konsep-
konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari. Penyelesaian masalah rutin memerlukan
tingkat pemikiran matematika yang tinggi. Sementara penyelesaian masalah rutin (biasa) hanya
mengikuti aturan (algoritma) dengan menghafal.
Pendekatan pembelajaran problem solving dalam matematika tidak hanya mengarahkan peserta
didik untuk mampu menyelsaikan masalah matematika rutin dengan proses pembelajaran yang
biasa, akan tetapi diharapkan agar mampu menyelesaikan masalah yang tidak rutin dengan
proses pembelajaran yang mendukung. Pendekatan problem solving ini dapat menjadi tempat
berlatih bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan menemukan pola,
mengenerasikan, dan komunikasi matematis, berpikir rasional, cermat, kritis, jujur, efektif dan
logis.
Kemampuan tersebut mendukung tercapainya tujuan kurikulum matematika sekolah yakni
perserta didik mampu menghadapi perkembangan dunia yang semakin tidak terbendung.
Pembelajaran dengan pendekatan problem solving merupakan strategi dalam proses
pembelajaran matematika yang sangat penting dan diperlukan oleh peserta didik dalam
menyelesaikan masalah matematika terkait dengan penerapan konsep-konsep matematika dalam
kehidupan sehari-hari.
Nampak bahwa fokus penting pembelajaran matamatika adalah pendekatan problem solving
sebagaimana yang terantum pada kurikulum mata pelajaran matematika jenjang SD/MI.
SMP/MTs SMA/MA dan SMK. Hal ini dapat dilihat dalam setiap Kompetensi Dasar (KD)
terdapat topik bahasan yang mengarahkan siswa untuk mampu menerapkan konsep-konsep
matematika dalam menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan konsep-
konsep matematika pada pemecahan masalah tentu memerlukan kemampuan berpikir matematis
yang tinggi.
Problem solving dalam pembelajaran matematika difokuskan pada pembelajaran topik
matematika melalui konteks problem solving dan lingkungan yang berorientasi pada kemampuan
peserta didik dan membantu guru membangun pemahaman mendalam tentang gagasan dan
proses matematika dengan melibatkan peserta didik dalam aktivitas matematika: menciptakan,
menduga, mengeksplorasi, menguji, dan verifikasi (Lester et al., 1994) Beberapa pendapat
tentang karakteristik spesifik dalam problem solving matematika antara lain:
Van Zoest et al., (1994), karekteristik problem solving adalah:
Interaksi antara siswa dengan siswa dan intersksi antara guru dan siswa.
Dialog matematika dan konsensus antara siswa.
Cobb et al., (1991), karekteristik problem solving adalah:
Guru memberikan informasi yang cukup untuk menetapkan latar belakang/tujuan dari
masalah, dan siswa mengklarifikasi, menafsirkan, dan mencoba untuk membangun satu
atau lebih proses solusi.
Guru menerima jawaban yang benar / salah dengan cara yang tidak evaluatif
Lester et al., (1994), karekteristik problem solving adalah:
Guru membimbing, melatih, mengajukan pertanyaan dan sharing yang mendalam dalam
proses pemecahan masalah
Guru mengetahui kapan tepat untuk melakukan intervensi, dan kapan harus melangkah
mundur dan membiarkan murid membuat jalan mereka sendiri.
Evan dan Lappin, (1994), karekteristik problem solving adalah:
Pendekatan pemecahan masalah dapat digunakan untuk mendorong siswa membuat
generalisasi tentang peraturan dan konsep, sebuah proses yang penting bagi matematika.
Problem solving adalah komponen penting dalam pendidikan matematika karena berperan
sebagai media (kendaraan) untuk mencapai nilai matematika pada aspek: fungsional, logis dan
estetis yang dapat dicapai di tingkat sekolah. Matematika adalah disiplin ilmu yang esensial
karena mempunyai peran praktis bagi individu dan masyarakat. Aspek matematika tersebut dapat
dikembangkan melalui pendekatan Problem solving. Mengembangkan keterampilan yang
diperlukan peserta didik untuk memecahkanmasalah dapat dilakukan dengan memberikan
sebuah masalah yang dapat memberi motivasi dibandingkan dengan mengajarkan keterampilan
tanpa konteks. Motivasi tersebut memberikan nilai khusus problem solving sebagai wadah untuk
mempelajari konsep dan keterampilan baru atau penguatan keterampilan yang telah diperoleh
(Stanic dan Kilpatrick, 1989, NCTM, 1989). Selanjutnya NCTM, (1980) merekomendasikan
bahwa problem solving menjadi fokus pembelajaran matematika karena, mencakup bagian
penting dalam kehidupan sehari-hari. Problem solving harus mencakup semua aspek
pembelajaran matematika untuk memberi pengalaman tentang kekuatan matematika kepada
peserta didik dalam upaya membangun, mengevaluasi dan memperbaiki teori mereka sendiri
tentang matematika dan teori orang lain.
Nampaknya pemdekatan problem solving berkontribusi pada penggunaan praktis matematika
antara lain; (1) membantu mengembangkan fasilitas agar mudah beradaptas, (2) membantu
untuk pindah ke lingkungan kerja baru, dan (3) mempersiapkan peserta didik menjadi pelajar
adaptif yang baik, untuk bekerja dengan efektif ketika tuntutan tugas berubah. Dengan demikian,
maka tidaklah berlebihan apabila ada ungkapan bahwa kemampuan keterampilan problem
solving adalah jantungnya matematika karena dapat digunakan pada berbagai situasi yang tidak
biasa.
Melalui pendekatan problem solving ini pula peserta didik dapat memilih proses deduksi logis
algoritma jika situasi memerlukan, dan kadang-kadang perlu mengembangkan aturan mereka
sendiri apabila situasi algoritma tidak dapat langsung diterapkan, sehingga problem solving dapat
dikembangkan sebagai keterampilan berharga dalam diri peserta didik, bukan hanya sebagai alat
untuk menemukan jawaban yang benar. Penekanan pendekatan problem sovling penting sebagai
alat untuk mengembangkan aspek pemikiran logis matematika, dan mendorong individu untuk
mendapatkan pengetahuan baru, karena matematika standar, dengan penekanan pada perolehan
pengetahuan, tidak selalu memenuhi kebutuhan. Selain itu teknik problem sovling dianggap
sangat penting sebagai bentuk estetika karena memungkinkan peserta didik untuk mengalami
berbagai emosi dalam tahap-tahap proses menemukan solusi masalah.
NTCM (1980 dan 1989) merekomendasikan agar kurikulum matematika disusun berorientasi
pada pemecahan masalah, dengan fokus sebagai berikut:
Mengembangkan keterampilan dan kemampuan untuk menerapkan keterampilan ini ke
situasi yang tidak biasa.
Mengumpulkan, mengorganisir, menafsirkan dan mengkomunikasikan informasi.
Merumuskan pertanyaan kunci, menganalisis dan mengkonseptualisasikan masalah,
menentukan masalah dan sasaran, menemukan pola dan persamaan, mencari data yang
sesuai, bereksperimen, mentransfer keterampilan dan strategi ke situasi baru.
Mengembangkan rasa ingin tahu, kepercayaan diri dan keterbukaan pikiran.
Problem solving dalam pembelajaran bertujuan untuk : (1) mendorong peserta didik untuk
memperbaiki dan membangun proses kognitif mereka sendiri, dan (2) mengembangkan
pengetahuan peserta didik, dan (3) mengembangkan pemahaman kapan waktu yang tepat untuk
menggunakan strategi tertentu, dan (4) membuat peserta didik lebih bertanggung jawab atas
pembelajaran mereka sendiri daripada membiarkan mereka merasa bahwa algoritma yang
mereka gunakan adalah penemuan beberapa ahli dan tidak dipahami. Terkait dengan tujuan
tersebut peserta didik terlibat secara aktif dalam problem solving dengan merumuskan dan
memecahkan masalah mereka sendiri, dan juga menulis ulang masalah dengan kata-kata mereka
sendiri dalam rangka untuk memudahkan pemahaman. Penting untuk dicatat bahwa melalui
teknik problem solving peserta didik mendapat dorongan terkait dengan proses yang sedang
mereka lakukan sebagau upaya untuk memperbaiki pemahaman, menemukan wawasan baru
tentang masalah dan mengkomunikasikan gagasan mereka.
Penerapan Problem Solving dalam pembelajaran Matematika
Pembelajaran melalui problem solving tentu dimulai dengan sebuah masalah. Peserta didik
belajar dan memahami aspek penting dari konsep atau ide dengan mengeksplorasi situasi
masalah. Masalah yang digunakan cenderung lebih terbuka dan memungkinkan beberapa
jawaban yang benar dan beberapa pendekatan solusi. Dalam mengajar melalui pemecahan
masalah, masalah tidak hanya berokus pada rangsangan untuk belajar siswa, tapi juga berfungsi
untuk eksplorasi matematika. Siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran dengan
mengeksplorasi dan menemukan strategi solusi mereka sendiri, karena eksplorasi masalah
merupakan komponen penting dalam pengajaran melalui pemecahan masalah.
Dibawah ini beberapa contoh penerapan problem solving dalam pembelajaran matematika;
1. Susunlah bilangan – bilangan 1 sampai dengan 9 kedalam tiap daerah persegi pada gambar
dibawah ini sehingga jumlah tiap baris, kolom dan diagonal utama nya adalah sama
Penyelesaian : Memahami masalah : Apa yang perlu dilakukan adalah kita harus menempatkan
tiap bilangan 1, 2, 3 .... 9 dalam tiap daerah persegi ( tiap bilangan hanya di gunakan satu kali ),
sedemikian sehingga jumlah bilangan –bilangan pada tiap baris, kolom dan diagonal utamanya
adalah sama.
Merencanakan Penyelesaian Masalah : Jika kita sudah tau jumlah untuk tiap baris, kolom dan
diagonal utamanya, maka pekerjaan kita akan lebih mudah. Dengan demikian yang menjadi
tujuan bagian dari penyelesaian keseluruhan adalah bagaimana menentukan jumlah yang
diinginkan tersebut. Jumlah 9 bilangan 1 + 2 + 3 + .... + 9 sama dengan tiga kali jumlah dari satu
kolom atau baris. Akibatnya, jumlah untuk satu baris atau kolom adalah sepertiga dari jumlah
keseluruhan atau 45/3 = 15. Dengan kata lain jumlah untuk masing-masing baris, kolom atau
diagonal utama adalah 15. Langkah selanjutnya adalah bahwa kita harus menentukan kombinasi
tiga bilangan sedemikian hingga jumlahnya 15.
Menyelesaikan Masalah : Jumlah 15 dapat diperoleh melalui kombinasi jumlah tiga bilangan
seperti berikut ini
9+5+1
9+4+2
8+6+1
8+5+2
8+4+3
7+6+2
7+5+3
6+5+4
Jika kita perhatikan banyaknya kemunculan untuk tiap angka, ternyata tidaklah sama. Misalnya 1
hanya muncul dua kali, sedangkan 2 muncul tiga kali. Frekuensi kemunculan tiap angka dapata
terlihat dalam tabel dibawah ini :
Dengan melihat frekuensi kemunculan tiap angka pada tabel tersebut, maka selanjutnya
penempatan untuk tiap angka akan dengan mudah dilakukan. Sebagai contoh 5 pasti harus
ditempatkan ditengah. Sedangkan 2, 4, 6, dan 8 harus menempati daerah pojok. Dengan
demikian, salah satu penyelesaian akhirnya adalah sebagai berikut :
Pengecekan Kembali : Kita lihat bahwa 5 adalah satu – satunya bilangan di antara sembilan
bilangan yang diberikan yang dapat ditempatkan di tengah. Akan tetapi bilangan yang bisa
ditempatkan di daerah pojok bisa beberapa pilihan. Jadi, penyelesaian yang diberikan diatas
salah satu kemungkinan dari beberapa kemungkinan yang ada. Cara lain untuk meihat bahwa 5
harus ditempatkan ditengah dapat dilakukan melalui ilustrasi berikut :