0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
117 tayangan12 halaman

Proses dan Profil Nikel Laterit

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai nikel laterit, termasuk proses pembentukannya, faktor-faktor yang memengaruhinya, serta profil nikel laterit yang terdiri atas empat zona. Indonesia memiliki sumber daya nikel laterit terbesar kedua di dunia.

Diunggah oleh

Nur Alam Fajar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
117 tayangan12 halaman

Proses dan Profil Nikel Laterit

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai nikel laterit, termasuk proses pembentukannya, faktor-faktor yang memengaruhinya, serta profil nikel laterit yang terdiri atas empat zona. Indonesia memiliki sumber daya nikel laterit terbesar kedua di dunia.

Diunggah oleh

Nur Alam Fajar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Nikel Laterit

Nikel laterit merupakan material yang berasal dari regolith (lapisan yang
merupakan hasil pelapukan batuan yang menyelimuti suatu batuan dasar) yang
berasal dari batuan beku ultrabasa yang mengandung unsur Ni dan Co. Regolith
biasanya terbentuk melalui proses pelapukan fisik dan kimia yang intensif pada daerah
dengan iklim tropis-subtropis. Proses pembentukan endapan nikel laterit dimulai dari
pengendapan batuan induknya yaitu Peridotit yang memiliki komposisi berat nikel
berkisar antara 0,2% - 0,4% (Ptanata, 2009).
Dialam ada dua jenis bijih nikel, yaitu nikel sulfida dan nikel oksida yang lazim
disebut laterit. Pada umumnya nikel sulfida berada di belahan bumi subtropis
sedangkan laterit berada di khatulistiwa, dan jumlah sumber daya alam laterit lebih
besar dari pada nikel sulfida. Berdasarkan data yang dipublikasi 1988, Indonesia
menempati posisi nomor dua didunia untuk sumber daya nikel seperti yang
ditunjukkan pada gambar 2.1 tabel negara yang memiliki sumber daya nikel dibawah
ini (Lennon, 2014):

Gambar 2.1 tabel negara yang memiliki sumber daya nikel (Alcock, 1998)

Adapun lokasi sumber daya laterit di Indonesia berada di Kawasan Timur


Indonesia (KTI) terutama di Sulawesi Tenggara, Halmahera Maluku Utara, dan pulau

4
Gag kepulauan Waigeo Papua seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.2 dibawah ini
(Slamet, 1997):

Gambar 2.2 Sebaran Batuan Ultra Basa, Sumber Daya Laterit


Dan Cadangan Laterit (Slamet, 1997).

Menurut Badan Geologi DJMB (Direktorat Jenderal Mineral Batubara) 2013,


sumber daya laterit di Indonesia mencapai 3.565 juta ton bijih (lebih dari 3,5 milyar
ton) atau setara dengan 52,2 juta ton logam Ni. Sedangkan jumlah cadangan laterit
mencapai 1.168 juta ton bijih (lebih dari 1,1 milyar ton) atau setara dengan 22 juta ton
logam Ni. Berdasarkan hasile ksplorasi oleh BUMN PT Aneka Tambang diwilayah kerja
PT Aneka Tambang sampai 2012, jumlah saprolit (silikat) ± 361,3 (‘000 wmt) dan
limonit ± 464,0 (‘000 wmt). Berdasarkan data yang dipublikasi Januari 2015 oleh US
Geological Survey, secara global sumber daya alam nikel sekitar 60 % berupa laterit
(Lennon, 2015).
2.1.1 Proses pembentukan nikel laterit
Batuan induk bijih nikel adalah batuan peridotit. Menurut Vinogradov batuan
ultra basa rata-rata mempunyai kandungan nikel sebesar 0,2 %. Unsur nikel tersebut
terdapat dalam kisi-kisi kristal mineral olivin dan piroksin, sebagai hasil substitusi
terhadap atom Fe dan Mg. Proses terjadinya substitusi antara Ni, Fe dan Mg dapat
diterangkan karena radius ion dan muatan ion yang hampir bersamaan di antara
unsur-unsur tersebut. Proses serpentinisasi yang terjadi pada batuan peridotit akibat
pengaruh larutan hydrothermal, akan mengubah batuan peridotit menjadi batuan
serpentinit atau batuan serpentinit peroditit. Sedangkan proses kimia dan fisika dari

5
udara, air serta pergantian panas dingin yang bekerja kontinyu, menyebabkan
disintegrasi dan dekomposisi pada batuan induk (Burger, 1996).
Pada pelapukan kimia khususnya, air tanah yang kaya akan CO 2 berasal dari
udara dan pembusukan tumbuh-tumbuhan menguraikan mineral-mineral yang tidak
stabil (olivin dan piroksin) pada batuan ultra basa, menghasilkan Mg, Fe, Ni yang larut.
Si cenderung membentuk koloid dari partikel-partikel silika yang sangat halus. Didalam
larutan, Fe teroksidasi dan mengendap sebagai ferri-hydroksida, akhirnya membentuk
mineral-mineral seperti geothit, limonit, dan hematit dekat permukaan. Bersama
mineral-mineral ini selalu ikut serta unsur cobalt dalam jumlah kecil (Burger, 1996).
Larutan yang mengandung Mg, Ni, dan Si terus menerus kebawah selama
larutannya bersifat asam, hingga pada suatu kondisi dimana suasana cukup netral
akibat adanya kontak dengan tanah dan batuan, maka ada kecenderungan untuk
membentuk endapan hydrosilikat. Nikel yang terkandung dalam rantai silikat atau
hydrosilikat dengan komposisi yang mungkin bervariasi tersebut akan mengendap
pada celah-celah atau rekahan-rekahan yang dikenal dengan urat-urat garnierit dan
krisopras. Sedangkan larutan residunya akan membentuk suatu senyawa yang disebut
saprolit yang berwarna coklat kuning kemerahan. Unsur-unsur lainnya seperti Ca dan
Mg yang terlarut sebagai bikarbonat akan terbawa kebawah sampai batas pelapukan
dan akan diendapkan sebagai dolomit, magnesit yang biasa mengisi celah-celah atau
rekahan-rekahan pada batuan induk. Dilapangan urat-urat ini dikenal sebagai batas
petunjuk antara zona pelapukan dengan zona batuan segar yang disebut dengan akar
pelapukan (root of weathering) (Burger, 1996).
2.1.2 Faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan bijih nikel laterit
Faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan bijih nikel laterit adalah
(Supriatna, 1980):
a. Batuan asal
Adanya batuan asal merupakan syarat utama untuk terbentuknya endapan
nikel laterit, macam batuan asalnya adalah batuan ultra basa. Dalam hal ini
pada batuan ultra basa tersebut terdapat elemen Ni yang paling banyak di
antara batuan lainnya, mempunyai mineral-mineral yang paling mudah lapuk
atau tidak stabil seperti olivin dan piroksin, mempunyai komponen-komponen
yang mudah larut dan memberikan lingkungan pengendapan yang baik untuk
nikel.

6
b. Iklim
Adanya pergantian musim kemarau dan musim penghujan dimana terjadi
kenaikan dan penurunan permukaan air tanah juga dapat menyebabkan
terjadinya proses pemisahan dan akumulasi unsur-unsur. Perbedaan
temperatur yang cukup besar akan membantu terjadinya pelapukan mekanis,
dimana akan terjadi rekahan-rekahan dalam batuan yang akan mempermudah
proses atau reaksi kimia pada batuan.
c. Reagen-reagen kimia dan vegetasi
Yang dimaksud dengan reagen-reagen kimia adalah unsur-unsur dan senyawa-
senyawa yang membantu mempercepat proses pelapukan. Air tanah yang
mengandung CO2 memegang peranan penting di dalam proses pelapukan
kimia. Asam-asam humus menyebabkan dekomposisi batuan dan dapat
mengubah pH larutan. Asam-asam humus ini erat kaitannya dengan vegetasi
daerah. Dalam hal ini vegetasi akan mengakibatkan penetrasi air dapat lebih
dalam dan lebih mudah dengan mengikuti jalur akar pohon-pohonan, akumulasi
air hujan akan lebih banyak, humus akan lebih tebal. Keadaan ini merupakan
suatu petunjuk, dimana hutannya lebat pada lingkungan yang baik akan
terdapat endapan nikel yang lebih tebal dengan kadar yang lebih tinggi. Selain
itu, vegetasi dapat berfungsi untuk menjaga hasil pelapukan terhadap erosi
mekanis.
d. Struktur
Struktur yang sangat dominan yang terdapat didaerah Polamaa ini adalah
struktur kekar (joint) dibandingkan terhadap struktur patahannya. Seperti
diketahui, batuan beku mempunyai porositas dan permeabilitas yang kecil
sekali sehingga penetrasi air sangat sulit, maka dengan adanya rekahan-
rekahan tersebut akan lebih memudahkan masuknya air dan berarti proses
pelapukan akan lebih intensif.
e. Topografi
Keadaan topografi setempat akan sangat memengaruhi sirkulasi air beserta
reagen-reagen lain. Untuk daerah yang landai, maka air akan bergerak
perlahan-lahan sehingga akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan
penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan.
Akumulasi andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai
kemiringan sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti

7
bentuk topografi. Pada daerah yang curam, secara teoretis, jumlah air yang
meluncur (run off) lebih banyak daripada air yang meresap ini dapat
menyebabkan pelapukan kurang intensif.
f. Waktu
Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang cukup intensif
karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi.
2.1.3 Profil nikel laterit
Profil nikel laterit keseluruhan terdiri dari 4 zona gradasi sebagai berikut
(Supriatna, 1980):
a. Iron capping
Iron capping merupakan bagian yang paling atas dari suatu penampang laterit.
Komposisinya adalah akar tumbuhan, humus, oksida besi dan sisa-sisa organik
lainnya. Warna khas adalah coklat tua kehitaman dan bersifat gembur. Kadar
nikelnya sangat rendah sehingga tidak diambil dalam penambangan. Ketebalan
lapisan tanah penutup rata-rata 0,3-6 m, berwarna merah tua merupakan
kumpulan massa goethite dan limonite. Iron capping mempunyai kadar besi
yang tinggi tapi kadar nikel yang rendah. Terkadang terdapat mineral-mineral
hematite, chromiferous.
b. Limonite layer
Limonite layer merupakan hasil pelapukan lanjut dari batuan beku ultrabasa.
Komposisinya meliputi oksida besi yang dominan, goetit, dan magnetit.
Ketebalan lapisan ini rata-rata 8–15 m. Dalam limonit dapat dijumpai adanya
akar tumbuhan, meskipun dalam persentase yang sangat kecil. Kemunculan
bongkah-bongkah batuan beku ultrabasa pada zona ini tidak dominan atau
hampir tidak ada, umumnya mineral-mineral di batuan beku basa-ultrabasa
telah terubah menjadi serpentin akibat hasil dari pelapukan yang belum tuntas.
fine grained, merah coklat atau kuning, lapisan kaya besi dari limonit soil
menyelimuti seluruh area. Lapisan ini tipis pada daerah yang terjal, dan sempat
hilang karena erosi. Sebagian dari nikel pada zona ini hadir di dalam mineral
manganese oxide, lithiophorite. Terkadang terdapat mineral talc, tremolite,
chromiferous, quartz, gibsite, maghemite.
c. Silika Boxwork
Putih-orange chert, quartz, mengisi sepanjang fractured dan sebagian
menggantikan zona terluar dari unserpentine fragmen peridotite, sebagian

8
mengawetkan struktur dan tekstur dari batuan asal. Terkadang terdapat
mineral opal, magnesite. Akumulasi dari garnierite-pimelite di dalam boxwork
mungkin berasal dari nikel ore yang kaya silika. Zona boxwork jarang terdapat
pada bedrock yang serpentinized.
d. Saprolite
Zona ini merupakan zona pengayaan unsur Ni. Komposisinya berupa oksida
besi, serpentin sekitar <0,4% kuarsa magnetit dan tekstur batuan asal yang
masih terlihat. Ketebalan lapisan ini berkisar 5–18 m. Kemunculan bongkah-
bongkah sangat sering dan pada rekahan-rekahan batuan asal dijumpai
magnesit, serpentin, krisopras dan garnierit. Bongkah batuan asal yang muncul
pada umumnya memiliki kadar SiO2 dan MgO yang tinggi serta Ni dan Fe yang
rendah. Campuran dari sisa-sisa batuan, butiran halus limonite, saprolitic rims,
vein dari endapan garnierite, nickeliferous quartz, mangan dan pada beberapa
kasus terdapat silika boxwork, bentukan dari suatu zona transisi dari limonite
ke bedrock. Terkadang terdapat mineral quartz yang mengisi rekahan, mineral-
mineral primer yang terlapukkan, chlorite. Garnierite di lapangan biasanya
diidentifikasi sebagai kolloidal talc dengan lebih atau kurang nickeliferous
serpentin. Struktur dan tekstur batuan asal masih terlihat.
e. Bedrock
Bagian terbawah dari profil laterit, tersusun atas bongkah yang lebih besar dari
75 cm dan blok peridotit (batuan dasar) dan secara umum sudah tidak
mengandung mineral ekonomis (kadar logam sudah mendekati atau sama
dengan batuan dasar). Batuan dasar merupakan batuan asal dari nikel laterit
yang umumnya merupakan batuan beku ultrabasa yaitu harzburgit dan dunit
yang pada rekahannya telah terisi oleh oksida besi 5-10%, garnierit minor dan
silika>35%. Permeabilitas batuan dasar meningkat sebanding dengan intensitas
serpentinisasi. Zona ini terfrakturisasi kuat, kadang membuka, terisi oleh
mineral garnierite dan silika. Frakturisasi ini diperkirakan menjadi penyebab
adanya root zone yaitu zona high grade Ni, akan tetapi posisinya tersembunyi.

2.2 Estimasi Sumber Daya

Estimasi sumberdaya berperan penting dalam menentukan kuantitas dan


kualitas dari suatu endapan. Sebab dari hasil estimasi yang baik dan akurat yang

9
sesuai dengan keberadaannya di lapangan dapat menentukan investasi yang akan
ditanam oleh investor sebagai penanaman modal dalam usaha penambangan, cara
penambangan yang akan dilakukan, bahkan dalam memperkirakan waktu yang akan
dibutuhkan oleh perusahaan dalam melakukan usaha penambangannya. Sehingga
dapat menekan jumlah cost serta memberikan keuntungan bagi perusahaan itu sendiri
dalam proses penambangan selanjutnya (Bankes, 2003).
Estimasi sumber daya dan sebaran kadar mineralisasi bahan galian perlu
dilakukan pada setiap tahapan eksplorasi. Hal ini sangat penting karena diperlukan
untuk bahan evaluasi apakah kegiataan eksplorasi tersebut akan dilanjutkan pada
kegiatan tahap berikutnya atau tidak. Informasi mengenai kondisi geologi, model
sebaran mineralisasi dan taksiran sumber daya yang diperoleh pada tahap prospeksi
akan digunakan untuk merancang pola lokasi titik bor, jarak spasi dan jumlah titik bor
yang akan dilakukan pada tahap eksplorasi pendahuluan, demikian selanjurnya hasil
ekplorasi pada tahap pendahuluan akan digunakan untuk merancang kegiatan pada
tahap eksplorasi rinci. Pada akhirnya hasil permodelan dan perhitungan sumber daya
pada tahap eksplorasi rinci akan digunakan untuk mengevaluasi apakah sebuah
kegiatan penambangan layak atau tidak untuk dilakukan (Bankes, 2003).
Sebelum melakukan perhitungan sumberdaya, terlebih dahulu harus
mengetahui parameter-parameter penting yang akan digunakan dalam estimasi
sehingga estimasi yang dilakukan akan lebih akurat hasilnya. Adapun
parameterparameter penting yang digunakan dalam estimasi diantaranya yaitu
densitas material. Densitas material sangat berperan penting dalam melakukan
estimasi, hal ini disebabkan karena densitas material adalah suatu parameter yang
digunakan untuk mendapatkan angka tonase dari suatu cadangan yang didapatkan
dari hasil kali volume dengan densitas material itu sendiri (Bankes, 2003).
Telah dikenal beberapa metode perhitungan sumberdaya bahan galian
diantaranya (Bankes, 2003):
1. Metode cross section
2. Metode NNP (Neighborhood Nearest Point)
Metode neighborhood nearest point memperhitungkan nilai di suatu blok
didasari oleh nilai titik yang paling dekat dengan blok tersebut.
3. Metode IDW (Inverse Distance Weighting)

10
Metode IDW merupakan suatu cara penaksiran yang telah memperhitungkan
adanya hubungan letak ruang (jarak), merupakan kombinasi linear atau harga
rata-rata tertimbang dari titik-titik data yang ada di sekitarnya.
4. Metode geostatistik kriging.
Metode kriging dianggap paling baik dalam hal ketepatan penaksirannya.
Metode ini sudah memasukkan aspek spasial atau posisi dari titik referensi yang
akan digunakan untuk menaksir suatu titik tertentu. Proses kriging akan
memberikan nilai pengestimasi kadar blok berdasarkan kadar-kadar sampel
yang telah dikoreksi.
2.2.1 Klasifikasi sumberdaya mineral dan cadangan
Klasifikasi sumberdaya mineral dan cadangan berdasarkan 2 kriteria yaitu (SNI
13-4726, 1998):
a. Tingkat keyakinan geologi
Tingkat keyakinan geologi ditentukan oleh 4 tahap eksplorasi, yaitu survai
tinjau, prospeksi, eksplorasi umum dan eksplorasi rinci. Dari ke-4 tahap
tersebut, menunjukkan makin rincinya penyelidikan, sehingga tingkat keyakinan
geologinya makin tinggi dan tingkat kesalahannya makin rendah.
b. Pengkajian layak tambang
Pengkajian layak tambang meliputi faktor-faktor ekonomi, penambangan,
pemasaran, lingkungan, sosial, dan hukum/perundang-undangan. Untuk
endapan mineral bijih, metalurgi juga merupakan faktor pengkajian layak
tambang. Pengkajian layak tambang akan menentukan apakah sumberdaya
mineral akan berubah menjadi cadangan atau tidak. Berdasarkan pengkajian
ini, bagian sumberdaya mineral yang layak tambang berubah statusnya
menjadi cadangan sedangkan yang belum layak tambang tetap menjadi
sumberdaya mineral.
2.2.2 Hasil penaksiran dan perhitungan sumberdaya
Hasil penaksiran dan perhitungan sumberdaya akan mempunyai tingkat
kepercayaan yang berbeda-beda. Tingkat kepercayan suatu hasil perhitungan dan
penaksiran cadangan sangat tergantung pada (Syafrizal, 2009):
a. Kebenaran dan kelengkapan pengetahuan dalam memahami dan mempelajari
data badan bijih. Hasil penaksiran seseorang yang telah paham tentang kaidah
penaksiran dan genesa mineral bijih akan lebih meyakinkan dibandingkan hasil
penaksiran seseorang yang hanya bertindak sebagai operator.

11
b. Kerapatan data (grid density) dapat dipercaya sebagai data dasar. Data dengan
pengambilan sampel dengan jarak dekat lebih meyakinkan daripada data
dengan jarak yang jauh.
c. Dalam menentukan asumsi dan pendekatan variabel interpresi dilakukan secara
bertanggung jawab baik dari aspek ilmiah maupun aspek teknis.
2.2.3 Tahapan estimasi sumber daya
Adapun tahapan yang dilakukan dalam estimasi sumberdaya adalah sebagai
berikut (Bankes, 2003):
a. Database
Pembuatan database berfungsi untuk membuat suatu bentuk sistem database
dari data pemboran (drilling), sekaligus mempermudah dalam mengelola input
data, update data, proses data, ouput data dan layout nya untuk mengetahui
potensi bahan galian tersebut. Pembuatan database digunakan untuk
mengoreksi pengelompokkan serta kebenaran data eksplorasi yang akan
menghasilkan penyebaran titik bor yang merupakan data dasar dalam
melakukan estimasi sumberdaya. Perancangan sistem estimasi sumberdaya
harus melihat parameter yang telah ditentukan sebagai unit kontrol dalam
melakukan perhitungan maupun standarisasi basis (database) data bor.
b. Block model
Model blok merupakan bentuk atau media untuk menampilkan data-data yang
dihasilkan dari geotechnical database dengan tujuan dapat mengetahui hasil,
nilai atau model yang akan dibuat nantinya untuk menaksir besar sumberdaya
dari kadar yang telah ditentukan sesuai dengan COG dari perusahaan sebagai
acuan dalam estimasi sumberdaya berdasarkan penyebaran titik bor. Sebaran
titik bor yang telah diperoleh dari pengolahan database dan telah dilakukan
proses klasifikasi kadar, dimana kadar tersebut dikelompokkan berdasarkan tipe
bijih (lapisan) yang sesuai dengan klasifikasi yang telah ditetapkan pada setiap
titik bor agar mendapatkan hasil yang akurat.

2.3 Estimasi Sumber Daya Metode IDW

Estimasi sumber daya dengan metode IDW, didasarkan pada pada estimasi titik
dan tidak bergantung pada ukuran blok serta hanya memperhatikan jarak dan belum
memperhatikan efek pengelompokkan data. Sehingga data dengan jarak yang sama

12
namun mempunyai pola sebaran yang berbeda masih akan memberikan hasil yang
sama (NCGIA, 2007).
Metode Inverse Distance Weighting (IDW) adalah salah satu dari metode
penaksiran dengan pendekatan blok model yang sederhana dengan
mempertimbangkan titik disekitarnya. Asumsi dari metode ini adalah nilai interpolasi
akan lebih mirip pada data sampel yang dekat daripada yang lebih jauh. Bobot
(weight) akan berubah secara linier sesuai dengan jaraknya dengan data sampel.
Bobot ini tidak akan dipengaruhi oleh letak dari data sampel. Metode ini biasanya
digunakan dalam industri pertambangan karena mudah untuk digunakan. Pemilihan
nilai pada power sangat mempengaruhi hasil interpolasi. Nilai power yang tinggi akan
memberikan hasil seperti menggunakan interpolasi nearestneighbor dimana nilai yang
didapatkan merupakan nilai dari data point terdekat (NCGIA, 2007).
Secara garis besar metode ini adalah sebagai berikut (Latif, 2008):
1. Suatu cara penaksiran dimana harga rata-rata titik yang ditaksir merupakan
kombinasi linear atau harg rata-rata terbobot ( weight average) dari datadata
lubang bor disekitar titik tersebut. Data di dekat titik yang ditaksir memperoleh
bobot yang lebih besar, sedangkan data yang jauh dari titik yang ditaksir
bobotnya lebih kecil. Bobot ini berbanding terbalik dengan jarak data dari titik
yang ditaksir.
2. Pilihan dari pangkat yang digunakan (ID1, ID2, ID3, …) berpengaruh terhadap
hasil taksiran. Semakin tinggi pangkat yang digunakan, hasilnya akan semakin
mendekati hasil yang lebih baik.
2.3.1 Kelebihan dan kekurangan metode IDW
Kelebihan dan kekurangan dari metode IDW ini adalah (Pramono,2008):
a. Kelebihan metode IDW
kelebihan dari metode IDW ini adalah karakteristik interpolasi dapat dikontrol
dengan membatasi titik-titik masukan yang digunakan dalam proses interpolasi.
Titik-titik yang terletak jauh dari titik sampel dan yang diperkirakan memiliki
korelasi spasial yang kecil atau bahkan tidak memiliki korelasi spasial dapat
dihapus dari perhitungan. Titik-titik yang digunakan dapat ditentukan secara
langsung, atau ditentukan berdasarkan jarak yang ingin diinterpolasi
b. Kekurangan metode IDW
Kekurangan dari metode IDW ini adalah nilai hasil interpolasi terbatas pada
nilai yang ada pada data sampel. Pengaruh dari data sampel terhadap hasil

13
interpolasi disebut sebagi isotropik. Dengan kata lain, karena metode ini
menggunakan rata-rata dari data sampel sehingga nilainya tidak bisa lebih kecil
dari minimum atau lebih besar dari dari data sampel. Jadi, puncak bukit atau
lembah terdalam tidak dapat ditampilkan dari hasil interpolasi model ini. Untuk
mendapatkan hasil yang baik, sampel data yang digunakan harus rapat yang
berhubungan dengan variasi lokal. Jika sampelnya agak jarang dan tidak
merata, hasilnya kemungkinan besar tidak sesuai dengan yang diinginkan.

2.4 Blok Model

Model blok merupakan bentuk atau media untuk menampilkan data-data yang
dihasilkan dari geotechnical database dengan tujuan dapat mengetahui hasil, nilai atau
model yang akan dibuat nantinya untuk menaksir besar sumberdaya dari kadar yang
telah ditentukan sesuai dengan COG dari perusahaan sebagai acuan dalam estimasi
sumberdaya berdasarkan penyebaran titik bor. Sebaran titik bor yang telah diperoleh
dari pengolahan database dan telah dilakukan proses klasifikasi kadar, dimana kadar
tersebut dikelompokkan berdasarkan tipe bijih (lapisan) yang sesuai dengan klasifikasi
yang telah ditetapkan pada setiap titik bor agar mendapatkan hasil yang akurat
(Bankes, 2003).
Block model adalah suatu matrik block (atau disebut juga cell) dari dimensi x,
y, z, yang akan menampilkan volume deposit kepada yang diinginkan. Setiap block
menentukan bagian ruang tiga dimensi tertentu. Biasanya block berbentuk empat
persegi panjang, juga dapat berbentuk jajaran genjang. Setiap block diidentifikasi
dengan sebuah nomor indeks dan koordinat centroid. Setiap block juga ditetapkan
untuk menyimpan hasil pengujian kadar logam atau value-value kualitas yang
diperlukan, dan informasi geologi dan spatial lainnya untuk tiap hal penting yang
terdapat dalam deposit (Bankes, 2003).
Penaksiran cadangan menghasilkan suatu taksiran. Model cadangan yang
dibuat merupakan pendekatan dari kenyataan dan berdasarkan informasi yang dimiliki,
serta masih mengandung ketidakpastian. Suatu taksiran cadangan harus
mencerminkan secara tepat kondisi geologis dan karakter/sifat mineralisasi, serta
sesuai dengan tujuan evaluasi (Adisoma, 2001).
Suatu model cadangan bijih yang akan digunakan untuk perancangan tambang
harus konsisten dengan metode penambangan dan teknik perencanaan tambang yang

14
akan diterapkan. Taksiran yang baik harus didasarkan pada data faktual yang diolah
secara obyektif. Keputusan dipakai atau tidaknya suatu data penaksiran harus diambil
dengan pedoman yang jelas dan konsisten. Pembobotan data yang berbeda harus
dilakukan dengan dasar yang kuat. Metode penaksiran yang digunakan harus
memberikan hasil yang dapat diujiulang atau verifikasi (Adisoma, 2001).
Tahapan pertama setelah penaksiran cadangan selesai dilakukan adalah
memeriksa taksiran kadar blok yaitu menggunakan data pemboran (komposit atau
assay) yang ada di sekitarnya. Setelah penambangan dimulai, taksiran kadar dari
model cadangan harus dicek ulang dengan kadar dan tonase hasil penambangan yang
sesungguhnya. Penaksiran cadangan ini penting karena memberikan taksiran kuantitas
(tonase) dan kualitas (kadar) cadangan bijih, memberikan perkiraan bentuk tiga
dimensi cadangan bijih dan distribusi ruang dari kadarnya, memberikan jumlah
cadangan untuk menentukan umur tambang, serta sebagai batas-batas kegiatan
penambangan yang dibuat berdasarkan taksiran cadangan (Adisoma, 2001).
Dalam perhitungan sumber daya, diperlukan data diantaranya yaitu (Pramono,
2008):
a. Data geology
Data geology berisi informasi lithology pada tiap titik bor.
b. Data assay
Data assay yang berisi informasi mengenai kadar pada tiap-tiap interval
kedalaman tertentu sesuai dengan analisis kadar yang dilakukan.
c. Data collar
Data collar merupakan data koordinat serta elevasi titik bor. Data collar berisi
informasi mengenai total depth, dip, azimuth.
d. Data survey
Data survey berisi data posisi/koordinat lubang bor berupa northing, easting
dan elevasi.

15

Anda mungkin juga menyukai