STUDI KLASIFIKASI DAN ESTIMASI SUMBERDAYA
BATUBARA MENGGUNAKAN METODE GEOSTATSTIK
SEAM W100 PT ADARO INDONESIA
(Studi Kasus: Pit Wara 1 PT Adaro Indonesia, Kabupaten Tabalong, Kalimantan
Selatan)
PROPOSAL TUGAS AKHIR
OLEH
ZULFIKAR
D621 15 507
DEPARTEMEN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
GOWA
2019
1
PERMOHONAN TUGAS AKHIR
STUDI KLASIFIKASI DAN ESTIMASI SUMBERDAYA
BATUBARA SEAM W100 PT ADARO INDONESIA
DEPARTEMEN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK - UNIVERSITAS HASANUDDIN
Nama : Zulfikar
NIM : D621 15 507
Usulan Judul : “Studi Klasifikasi dan Estimasi Sumberdaya Batubara Seam
W100 PT Adaro Indonesia”
Gowa, 09 Mei 2019
Mahasiswa Bersangkutan
Zulfikar
D621 15 507
Mengetahui, Menyetujui,
Ketua Program Studi Kepala Laboratorium
Teknik Pertambangan Eksplorasi Mineral
Dr. Eng. Purwanto, ST., MT. Dr. Ir. Irzal Nur, MT.
NIP. 19711128 200501 1 002 NIP. 19660409 199703 1 002
2
I. Judul Penelitian
“Studi Klasifikasi dan Estimasi Sumberdaya Batubara Menggunakan Metode
Geostatistik Seam W100 PT Adaro Indonesia”
II. Latar Belakang
Batubara merupakan batuan mampu bakar yang terbentuk jutaan tahun yang
lalu. Batuan ini terdiri atas sisa-sisa tumbuhan purba yang mengalami proses
metamorfosis akibat proses biokimia dan geokimia. Jika proses biokimia mengubah
sisa tanaman menjadi gambut, maka proses geokimia yang terjadi setelah penimbunan
mengubah gambut menjadi lignit atau batubara berperingkat rendah. Proses geokimia
seterusnya akan mengubah lignit sampai menjadi batubara berperingkat tinggi, yakni
antrasit (Orem and Finkelman, 2014).
Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) pada tanggal 27 sampai
29 Agustus 2018 melakukan rekonsiliasi minerba dalam rangka meningkatkan kualitas
dan kuantitas data neraca minerba melalui Pusat Sumberdaya Mineral Batubara dan
Panas Bumi (PSDMBP) Badan Geologi bekerja sama dengan Direktorat Jenderal
Minerba dan Tim Koordinasi dan Supervisi (Korsup) sektor minerba KPK di Yogyakarta.
Salah satu hasilnya adalah peningkatan total sumberdaya dan cadangan batubara
nasional. Sumberdaya batubara yang semula berjumlah 125 miliar ton dan cadangan
berjumlah 25 miliar ton di tahun 2017, menjadi sekitar 166 miliar ton sumberdaya dan
37 miliar ton cadangan yang akan bertahan hingga sekitar 76 tahun ke depan
(Kementerian ESDM RI, 2018).
Sumberdaya batubara adalah bagian dari endapan batubara yang diharapkan
dapat dimanfaatkan. Sumberdaya batubara ini dibagi dalam kelas-kelas sumberdaya
berdasarkan tingkat keyakinan geologi yang ditentukan secara kualitatif oleh kondisi
3
geologi/tingkat kompleksitas dan secara kuantitatif oleh jarak titik informasi.
Sumberdaya ini dapat meningkat menjadi cadangan apabila telah dilakukan kajian
kelayakan, dan dinyatakan layak (SNI, 2011).
Penelitian evaluasi sumberdaya ini dilakukan pada seam W100 di Pit Wara 1 PT
Adaro Indonesia, kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Perhitungan sumberdaya
batubara pada seam ini menggunakan metode geostatistik yang dibantu dengan
software Geo Goal untuk menghasilkan boundary yang akan digunakan untuk estimasi
sumberdaya pada software Minescape. Kelas-kelas sumberdaya batubara berdasarkan
klasifikasi sumberdaya batubara menurut SNI (2011), serta belum dilakukannya
evaluasi sumberdaya batubara pada seam ini, maka penelitian ini perlu dilakukan
dalam mengestimasi dan mengklalisifikasikan sumberdaya batubara yang terdapat
pada seam W100 Pit Wara 1 PT. Adaro Indonesia.
III. Rumusan Masalah
Hasil perolehan yang lebih akurat dalam kegiatan penambangan, dibutuhkan
suatu metode estimasi sumberdaya yang baik. Berdasarkan hal tersebut, maka batasan
masalah dalam penelitian ini yakni bagaimana menentukan kelas-kelas sumberdaya
batubara berdasarkan klasifikasi sumberdaya menurut SNI (2011), dan estimasi
sumberdaya batubara untuk seam W100 pit Wara 1 PT Adaro Inodensia.
IV. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di
atas yaitu untuk mengetahui kelas sumberdaya batubara berdasarkan klasifikasi hasil
SNI (2011), dan tonase sumberdaya batubara seam W100 Pit Wara 1 dengan
menggunakan metode geostatistik.
4
V. Kegunaan Penelitian
Keguanaan dari penelitian ini dari segi akademik, diharapkan dapat digunakan
sebagai bahan pembelajaran/referensi dalam menambah wawasan mengenai metode
estimasi sumberdaya batubara menggunakan geostatistik. Sedangkan bagi
perusahaan, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam membuat perhitungan sumberdaya batubara menggunakan
metode geostatistik.
VI. Tinjauan Pustaka
VI.1 Sumberdaya Batubara
Batubara merupakan batuan sedimen yang secara kimia dan fisika adalah
heterogen yang mengandung unsur-unsur karbon, hydrogen serta oksigen sebagai
komponen unsur utama dan belerang serta nitrogen sebagai unsur tambahan (Elliot,
1981). Batubara adalah batuan sedimen (padatan) yang dapat terbakar, terbentuk dari
sisa tumbuhan yang terhumifikasi, berwarna coklat sampai hitam yang selanjutnya
terkena proses fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun sehingga
mengakibatkan pengkayaan kandungan karbonnya. Secara garis besar, batubara
terdiri dari zat organik, air dan bahan mineral (Anggayana, 2002).
Batubara berasal dari tumbuhan yang telah mati dan tertimbun dalam
cekungan yang berisi air dalam waktu yang sangat lama, mencapai jutaan tahun.
Inilah yang membedakan batubara dengan minyak bumi karena minyak bumi berasal
dari hewani. Dalam proses pembentukan batubara, banyak faktor yang
mempengaruhinya. Sebagai contoh, besarnya temperatur dan tekanan terhadap
tumbuhan mati akan mempengaruhi kondisi lapisan batubara yang terbentuk,
termasuk pengayaan kandungan karbon di dalam batubara. Timbunan material ini
5
kemudian mengalami proses penggambutan dan pembatubaraan sehingga menjadi
batubara. Batubara secara geologi termasuk golongan batuan sedimen organoklastik
(Arif, 2014).
Sumberdaya batubara (coal resources) merupakan bagian dari endapan
batubara dalam bentuk dan kuantitas tertentu serta mempunyai prospek beralasan
yang memungkinkan untuk ditambang secara ekonomis. Lokasi, kualitas, kuantitas
karakteristik geologi dan kemenerusan dari lapisan batubara yang telah diketahui,
diperkirakan atau diinterpretasikan dari bukti geologi tertentu. Sumberdaya batubara
dibagi sesuai dengan tingkat kepercayaan geologi ke dalam kategori tereka, tertunjuk,
dan terukur (SNI, 2011).
Tabel 1. Jarak titik informasi menurut kondisi geologi (SNI, 2011)
Kondisi Sumberdaya
Kriteria
Tereka Tertunjuk Terukur
Geologi
1000 < x ≤
Sederhana Jarak titik Informasi (m) 500 < x ≤ 1000 x ≤ 500
1500
Moderat Jarak titik Informasi (m) 500 < x ≤ 1000 250 < x ≤ 500 x ≤ 250
Kompleks Jarak titik Informasi (m) 200 < x ≤ 400 100 < x ≤ 200 x ≤ 100
Sumberdaya batubara dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori
berdasarkan tingkat keyakinan geologinya, antara lain (SNI, 2011):
1. Sumberdaya Batubara Tereka (Inferred)
Sumberdaya batubara tereka, jumlah dan distribusi titik-titik pengamatan, yang
mungkin ditunjang oleh data interpretatif, hendaknya dapat memberikan pemahaman
yang cukup tentang kondisi geologi untuk memperkirakan kemenerusan lapisan-lapisan
batubara yang terletak diantara titik-titik pengamatan. Mereka hendaknya juga
memenuhi suatu estimasi dari kisaran ketebalan dan kualitas yang dibuat untuk level
keyakinan yang rendah (yaitu tidak cukup untuk proses perencanaan tambang).
Sumberdaya batubara tereka boleh diestimasi dengan menggunakan data yang
6
diperoleh dari titik-titik pengamatan dengan spasi hingga 1,5 km. Kecenderungan
dalam ketebalan dan kualitas batubara hendaknya tidak diekstrapolasi secara tidak
beralasan di luar lini terakhir dari titik-titik pengamatan.
2. Sumberdaya Batubara Tertunjuk (Indicated)
Sumberdaya batubara tertunjuk jumlah dan distribusi serta keterpaduan dari
titik-titik pengamatan, yang mungkin ditunjang oleh data interpretatif, cukup untuk
memberikan suatu estimasi yang realistis tentang ketebalan batubara rata-rata, daerah
pelamparan, kisaran kedalaman, kualitas dan kuantitas batubara insitu. Mereka
memberikan level keyakinan dari endapan batubara yang cukup untuk membuat
rencana tambang dan perolehan pencucian batubara dan kualitas produk batubara
yang akan dihasilkan. Sumberdaya batubara tertunjuk boleh diestimasi dengan
menggunakan data yang diperoleh dari titik-titik pengamatan dengan spasi kurang dari
1 km, tapi jarak tersebut boleh diperpanjang bila ada justifikasi teknis, misalnya jika
ditunjang oleh analisis geostatistik. Kecenderungan dalam ketebalan dan kualitas
batubara hendaknya tidak diekstrapolasi melebihi setengah dari jarak spasi titik-titik
pengamatan.
3. Sumberdaya Batubara Terukur (Measured)
Sumberdaya batubara terukur, jumlah dan distribusi serta keterpaduan dari
titik-titik pengamatan, yang mungkin ditunjang oleh data interpretatif, cukup untuk
memberikan estimasi yang dapat diandalkan tentang ketebalan batubara rata-rata,
daerah pelamparan, kisaran kedalaman, kualitas dan kuantitas batubara insitu. Hal
tersebut memberikan level keyakinan dari endapan batubara yang cukup untuk
membuat rencana tambang rinci dan menentukan biaya-biaya penambangan dan
benefisiasi, estimasi perolehan pencucian batubara dan spesifikasi dari produk
batubara yang dapat dijual. Sumberdaya batubara terukur boleh diestimasi dengan
menggunakan data yang diperoleh dari titik-titik pengamatan dengan spasi seperti
7
yang tercantum pada tabel 2, tapi jarak tersebut boleh diperpanjang bila ada justifikasi
teknis, misalnya jika ditunjang oleh analisis geostatistik. Kecenderungan dalam
ketebalan dan kualitas batubara hendaknya tidak diekstrapolasi melebihi setengah dari
jarak spasi titik-titik pengamatan.
Sumberdaya Batubara Cadangan Batubara
(Coal Recources) (Coal Reserves)
Gambar 1. Hubungan antara hasil eksplorasi, sumberdaya batubara dan cadangan
batubara (SNI, 2011)
VI.2 Geostatistik
6.3 Ordinary Kriging
Ordinary kriging merupakan pendugaan suatu nilai variabel pada titik tertentu
dilakukan dengan cara mengamati data yang sejenis pada suatu daerah. Pada setiap
titik yang tidak diketahui nilainya, maka akan diestimasi dengan menggunakan
kombinasi linier terboboti (weighted linier combination). Bobot dalam metode ordinary
kriging ini dipengaruhi oleh model variogram, sehingga ketetapan pada pemilihan
8
model variogram akan memberikan estimasi yang baik pada metode kriging (Isaaks,
[Link]., 1989).
Ordinary kriging memiliki asumsi khas untuk penerapan pengamatan yang
cukup untuk mengestimasi variogram, dimana ordinary kriging berhubungan dengn
prediksi spasial dengan dua asumsi, yaitu asumsi model dan asumsi prediksi (Cressie,
1993).
1. Asumsi model
2. Asumsi prediksi
Di mana :
e (s) : nilai error pada Z (s)
n : banyaknya data sampel yang digunakan untuk estimasi
Karena koefisien dari hasil penjumlhan prediksi linear adalah 1 dan memiliki
syarat tak bias maka E (Ź (u) = μ = E (Z (u)) = Z (u), untuk setiap μ € R dan area Z
(u) merupakan suatu konstanta maka E (Z (u)) = Z (u).
6.4 Variogram dan Semivariogram
Terdapat suatu perangkat dasar dari geostatistik untuk visualisasi pemodelan
dan eksploitasi autokorelasi spasial dari variabel teregonisasi yang biasa dikenal
sebagai semivariogram. Sedangkan semivariogram adalah setengah dari variogram,
dengan simbolγ. Sesuai dengan namanya, variogram adalah ukuran dari variansi.
Variogram digunakan untuk menentukan jarak dimana nilai-nilai data pengamatan
menjadi tidak saling tergantung atau tidak ada korelasinya. Simbol dari variogram
adalah 2γ. Semivariogram ini digunakan untuk mengukur korelasi spasial berupa
variansi eror pada lokasi u dan lokasi u + h (Cerries, 1993).
9
1. Variogram dan semivariogram eksperimental
Variogram eksperimental adalah variogram yang diperoleh dari data yang
diamati atau data hasil pengukuran. variogram didefiniskan sebagai berikut (Cerries,
1993) :
2γ (h) = v (Z (u) – Z (u = h))
Karena pada stationeritas terdapat sifat E [Z (u = h)], sehingga
2γ (h) = E ][ (u) – Z (u = h)]2
Dari rumus di atas diperoleh rumus praktis dari semivariogram eksperimental
ditaksirkan sebagai berikut:
1 2
γ ( h )= ∑ [ Z ( x i )−Z (x i+ h) ]
2 N (h)
2. Variogram dan semivariogram teoritis
Variogram teoritis mempunyai bentuk kurva yang peling mendekati variogram
eksperimental, sehingga untuk keperluan analisis lebih lanjut variogram eksperimental
harus diganti dengan variogram teoritis. Terdapat beberapa jenis variogram teoritis
yang sering digunakan yaitu :
a. Model bola (Spherical model)
Bentuk variogram ini dirumuskan sebagai berikut:
γ ( h )=¿ danuntuk h> a
Di mana :
h : jarak lokasi antar contoh
C : sill, yaitu variogram untuk jarak pada saat besarnya konstan (tetap), niia
ini sama dengan nilai variansi data
α : range, yaitu jarak pada saat nilai variogram mencapai sill
b. Model eksponensial (Exponential model)
10
Pada model eksponensial terjadi peningkatan dalam semivariogram yang
sangat curam dan mencapai sill secara asimtotik, dirumuskan sebagai berikut:
[
γ ( h )=C 1−e ( −ha )]
c. Model Gauss (Gaussian model)
2
[ ( )]
γ ( h )=C 1−e
−h
a
VII Metode Penelitian
Kegiatan Penelitian diawali dengan kajian literatur yang relevan dengan bidang
penelitian yang dilakukan seperti kajian klasifikasi sumberdaya batubara, metode
geostatistik, maupun studi penelitian terdahulu, hingga didapatkan hasil kelas-kelas
dan tonase sumberdaya batubara untuk seam W100 pit wara 1 PT Adaro Indonesia
sesuai dengan diagram alir berikut.
11
Gambar 2. Diagram alir penelitian
VIII Jadwal Kegiatan Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan April-juni 2019. Jadwal penelitian
terlampir pada Tabel 1.
Tabel 2. Jadwal Kegiatan Penelitian
Waktu Kegiatan (Tahun 2019)
No. Aktivitas April Mei Juni
3 4 5 1 2 3 4 5 1 2
1 Persiapan
2 Studi Literatur
3 Pengambilan Data
3 Pengolahan Data
4 Penyusunan Laporan
5 Seminar Hasil
IX Daftar Pustaka
Anggayana, K., 2002. Genesa Batubara. Departemen Teknik Pertambangan. Institut
Teknologi Bandung. Bandung.
Arif, I. 2014. Batubara Indonesia. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Bohling G. 2005. Introduction To Geostatistics and Variogram Analysis . Kansas Geology
Survey.
Cressie, N. A. C., 1993. Statistics For Spatial Data. New York: John Wiley and Sons,
Inc.
Isaaks, E. H. and Srivastava, R. M., 1989. Applied Geostatistics. New York: Oxford
University Press.
Kementerian ESDM RI. 2018. Rekonsiliasi Data, Sumber Daya Batubara Indonesia Kini
166 Miliar Ton, Cadangan 37 Miliar Ton. [Link]
center/arsip-berita/rekonsiliasi-data-sumber-daya-batubara-indonesia-kini-166-
miliar-ton-cadangan-37-miliar-ton. Diakses pada tanggal 10 Februari 2019.
12
Orem, W. H. and Finkelman, R. B. (2014) “Coal formation and geochemistry,” in
Treatise on Geochemistry. 2nd ed. Elsevier, pp. 207–232. doi: 10.1016/B978-0-
08-095975-7.00708-7.
SNI. 5015-2011. Pedoman pelaporan, sumberdaya, dan cadangan batubara . Jakarta.
13