0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan6 halaman

Pendekatan Pembelajaran Inquiry

Bab 2 membahas kajian teori dan kerangka berpikir mengenai pendekatan pembelajaran inquiry. Pembelajaran inquiry merupakan proses untuk memperoleh informasi melalui observasi dan eksperimen untuk menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah dengan berpikir kritis dan logis. Prinsipnya meliputi kegiatan observasi, mengajukan pertanyaan, mengumpulkan informasi, merencanakan penyelidikan, dan mengkomunikasikan hasil. Tujuann

Diunggah oleh

Diktra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan6 halaman

Pendekatan Pembelajaran Inquiry

Bab 2 membahas kajian teori dan kerangka berpikir mengenai pendekatan pembelajaran inquiry. Pembelajaran inquiry merupakan proses untuk memperoleh informasi melalui observasi dan eksperimen untuk menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah dengan berpikir kritis dan logis. Prinsipnya meliputi kegiatan observasi, mengajukan pertanyaan, mengumpulkan informasi, merencanakan penyelidikan, dan mengkomunikasikan hasil. Tujuann

Diunggah oleh

Diktra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teori


2.1.1 Hakikat Pendekatan Pembelajaran Inquiry
[Link] Pendekatan Pembelajaran
Guru di dalam kelas ialah menggunakan pendekatan pembelajaran sebab
kegiatan belajar mengajar pada hakekatnya adalah komunikasi, dalam proses
komunikasi ini guru berperan sebagai komunikator yang akan menyampaikan
pesan kepada siswa, agar pesan itu dapat diterima dengan baik oleh siswa, maka
perlu suatu metode pembelajaran yang tepat.
[Link] Pembelajaran Inquiry
Inquiry adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi
dengan melakukan observasi dan atau eksperimen untuk mencari jawaban atau
memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan
menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis (Schmidt, 2003). Inquiry
sebenarnya merupakan prosedur yang biasa di lakukan oleh ilmuan dan orang
dewasa yang memiliki motivasi tinggi dalam upaya memahami fenomena alam,
memperjelas pemahaman, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari
(Herbrank, 2000; Butnitz, 2003; Chiapetta dan Adams, 2004). Metode Inquiry
adalah metode yang mampu mengiring peserta didik untuk menyadari apa yang
telah didapatkan selama belajar. Inquiry menempatkan peserta didik sebagai
subyek belajar yang aktif (Mulyasa, 2003:234).
[Link] Prinsip Pembelajaran Inquiry
Pembelajaran berbasis Inquiry meliputi kegiatan observasi, mengajukan
pertanyaan, memeriksa buku – buku dan sumber – sumber lain untuk melihat
informasi yang ada, merencanakan penyelidikan, merangkum apa yang sudah
diketahui dalam bukti eksperimen, menggunakan alat untuk mengumpulkan,
menganalisis dan interpretasi data, mengajukan jawaban, penjelasan, prediksi,
serta mengkomunikasikan hasil (Menurut NRC, 1996).

7
[Link] Penerapan Pembelajaran Inquiry di dalam Proses Belajar.
Menurut Slameto (1995:2), belajar adalah “suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.” Selanjutnya Winkel (1996:53), berpendapat belajar adalah “suatu
aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi yang aktif dengan
lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan,
pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif
constant. Kemudian Hamalik (1983:2), mendefinisikan belajar adalah “suatu
pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-
cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.” Ada lagi yang
lebih khusus mengartikan bahwa belajar adalah menyerap pengetahuan. Belajar
adalah perubahan yang terjadi dalam tingkah laku manusia. Proses tersebut tidak
akan terjadi apabila tidak ada suatu yang mendorong pribadi yang bersangkutan.
Penerapan Strategi pembelajaran Inquiry sesuai dengan teori konstruktivisme.
Teori ini menyakinkan guru bahwa proses belajar merefleksikan pengalaman
siswa membangun pemahaman dirinya sendiri. Tiap siswa menghasilkan sendiri
“aturan” dan “model mental” yang digunakannya untuk membangun pengalaman
dan memperoleh pengetahuan. Belajar , karenanya merupakan proses penyesuaian
model mental siswa menyusun dan mengakomodasi pengalaman baru. Belajar
merupakan proses interaksi sosial (Wikipedia:2010).
Pengetahuan siswa dibangun dengan informasi yang diperoleh secara alami.
Proses belajar siswa merupakan bagian dari pengembangan pengalaman melalui
pertemuan mereka dengan guru dan rekan – rekan mereka, dan mengkaji apa yang
telah mereka pelajari dari sumber belajar yang terpercaya. Karena itu pula, ilmu
pengetahuan harus dibangun secara bertahap dan sedikit demi sedikit.
Pembelajaran berbasis inquiry adalah strategi mengajar yang
mengkombinasikan rasa ingin tahu siswa dan metode ilmiah. Inquiry dapat
dimulai dengan pertanyaan “Apa?” atau “Bagaimana?” untuk membangkitkan
rasa ingin tahu siswa terhadap suatu gejala alam atau pun sosial.
Berdasarkan konsep itu, maka dalam menerapkan strategi pembelajaran

8
inquiry guru harus melibatkan siswa untuk melakukan penyelidikan, penelitian,
atau investigasi yang dapat membangun pemahaman mereka sendiri. Siswa
melakukan langkah kegiatan belajar aktif dan menerapkan ketrampilan berpikir
kritis yang dipadukan dengan metode ilmiah.
[Link] Langkah Pembelajaran Inquiry
Secara umum proses otak secara pembelajaran dengan menggunakan strategi
dapat mengikuti langkah – langkah sebagai berikut :
1. Orientasi
Orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran
yang responsif. Pada langkah ini guru mengkondisikan agar siswa siap
melaksanakan proses pembelajaran. Guru merangsang dan mengajak siswa untuk
berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang sangat
penting. Keberhasilan strategi ini sangat tergantung pada kemauan siswa untuk
beraktivitas untuk menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah,
tanpa kemauan dan kemampuan itu tak mungkin proses pembelajaran akan
berjalan dengan lancar. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah :
1) Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai
oleh siswa.
2) Menjelaskan pokok – pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk
mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah – langkah inquiry serta
tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan – merumuskan
masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.
3) Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam
rangka memberikan motivasi belajar siswa.
2. Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu
persoalan yang mengandung teka – teki. Persoalan yang disajikan adalah
persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka – teki itu.
Dikatakan teka – teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan
masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban
yang tepat. Proses mencari

9
jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi inquiry, oleh sebab itu melalui
proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai
upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.
3. Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang
dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Perkiraan
sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi untuk memiliki landasan
berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional
dan logis. Kemampuan berpikir logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh
kedalaman wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman. Dengan demikian,
setiap individu yang kurang mempunyai wawasan akan sulit mengembangkan
hipotesis yang rasional dan logis.
4. Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan
untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran inquiry,
mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam
pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan
motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan
kemampuan menggunakan potensi berpikirnya. Karena itu, tugas dan peran guru
dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan – pertanyaan yang dapat
mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan. Sering
terjadi kemacetan berinquiry adalah manakala siswa tidak apresiatif terhadap
pokok permasalahan. Tidak apresiatif itu biasanya ditunjukkan oleh gejala –
gejala ketidakgairahan dalam belajar. Manakala guru menemukan gejala – gejala
semacam ini, maka guru hendaknya secara terus – menerus memberikan dorongan
kepada siswa untuk belajar melalui penyuguhan bebagai jenis pertanyaan secara
merata kepada seluruh siswa sehingga mereka terangsang untuk berpikir.
5. Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima
sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data.
Dalam menguji hipotesis yang terpenting adalah mencari tingkat keyakinan siswa

10
atas jawaban yang diberikan. Di samping itu, menguji hipotesis juga berarti
mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang
diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh
data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang
diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan
merupakan gong-nya dalam proses pembelajaran. Sering terjadi, karena
banyaknya data yang diperoleh menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak
fokus pada masalah yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai
kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data
nama yang relevan.

2.2 Kerangka Berpikir


Pembelajaran Bahasa Inggris adalah suatu proses dari upaya manusia untuk
memahami berbagai komunikasi dengan Bahasa Internasional, Bahasa Inggris
dapat pula dipandang sebagai fakta yang menyebabkan sikap dan pandangan yang
mitologis menjadi sudut pandang dan cara berkomunikasi dengan sesama. Mata
pelajaran Bahasa Inggris juga untuk menanamkan dan mengembangkan
pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai
dan menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Dengan menggunakan model
pembelajaran Inquiry ini siswa memperoleh dan mendapatkan informasi dengan
melakukan observasi dan eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan
masalah sendiri. Maka pengetahuan siswa dibangun dengan informasi yang
diperoleh secara alami. Penggunaan model Inquiry diharapkan siswa dapat
berpikir secara divergen. Siswa dapat melatih kemampuan berpikirnya, berpikir
kritis, melatih keterampilan dan kreativitasnya. Sehingga dapat menambah
pengetahuan siswa untuk belajar, dimana yang diharapkan dapat meningkatkan
hasil belajar siswa.

11
2.3 Hipotesis Tindakan
Hipotesis adalah pendapat yang kebenarannya masih rendah atau kadar
kebenarannya masih belum meyakinkan atau jawaban sementara dari masalah
yang masih memerlukan penelitian (Sutrisno Hadi, 1976). Dalam bahasa yang
berbeda Arikunto mengartikan hipotesis sebagai suatu jawaban sementara
terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul
(Suharsimi Arikunto, 1993:64).
Berdasarkan landasan teori dan kerangka teori dapat disimpulkan sementara
“Bahwa penerapan pendekatan pembelajaran inquiry dapat meningkatkan hasil
belajar Bahasa Inggris materi pokok Expressions of Stating Intention and Plan
siswa kelas X IPA 5 semester I SMAN 8 Tangerang tahun pelajaran 2014/2015”.

12

Anda mungkin juga menyukai