100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
509 tayangan15 halaman

Peran Perempuan dalam Kebidanan

Makalah ini membahas tentang hak-hak, peran dan status perempuan. Secara ringkas, dibahas mengenai pengertian hak-hak perempuan dan anak yang meliputi hak dasar yang dimiliki sejak lahir tanpa memandang gender, serta hak-hak khusus perempuan dalam bidang ketenagakerjaan dan kesehatan reproduksi sesuai konvensi CEDAW. Juga dibahas mengenai peran dan status perempuan dalam keluarga, masyarakat,

Diunggah oleh

Mega Sastrawati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
509 tayangan15 halaman

Peran Perempuan dalam Kebidanan

Makalah ini membahas tentang hak-hak, peran dan status perempuan. Secara ringkas, dibahas mengenai pengertian hak-hak perempuan dan anak yang meliputi hak dasar yang dimiliki sejak lahir tanpa memandang gender, serta hak-hak khusus perempuan dalam bidang ketenagakerjaan dan kesehatan reproduksi sesuai konvensi CEDAW. Juga dibahas mengenai peran dan status perempuan dalam keluarga, masyarakat,

Diunggah oleh

Mega Sastrawati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

“HAK-HAK, PERAN DAN STATUS PEREMPUAN”

Disusun oleh :

Mahasiswa Semester IB

Kelompok 4 :

Annisa Nabila (2040500212751129)


Elsya Nafisah (02020101001)
Mega Sastrawati (2040500212730053)

PROGAM STUDI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN


POLTEKKES KEMENKES MEDAN
TAHUN AKADEMIK 2020/2021
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup menyelesakan makalah
ini dengan baik. Shalawat beriring salam tak lupa pula kami junjungkan
kepada baginda tercinta yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah kita nantkan
syafa’atnya di akhirat nanti.

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat


akal sehat dan fisik yang telah diberikan-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan pembuatan makalah dari mata kuliah Asuhan Kebidanan
dengan judul “Hak-Hak, Peran dan Status Perempuan”.

Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna
dan masih banyak kekurangan serta kesalahan di dalamnya. Oleh karena itu,
penulis akan menerima kritik maupun saran dari pembaca makalah ini.
Semoga makalah ini dapat berguna untuk para pembaca dan semoga
makalah ini dapat lebih baik lagi untuk ke depannya. Dan apabila terdapat
banyak kesalahan dari makalah ini, maka penulis minta maaf yang sebesar-
besarnya. Terima kasih.

Medan, 28 Agustus 2020

Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita
(Convention on the Elimination of Discrimination Against Women/CEDAW)
adalah instrument internasional yang merupakan salah satu Konvensi Hak
Asasi Manusia. Melalui perjalanan panjang sejak dicetuskannya
Konferensi PBB sedunia tentang Perempuan I di Mexico City, perjuangan
kaum perempuan untuk mendapat perlakuan yang sama dengan kaum
laki-laki disahkan oleh PBB, pada tahun 1979.
Secara juridis (de jure) hak-hak perempuan di bidang ekonomi, sosial,
budaya, sipil dan politik yang menjadi substansi dari konvensi CEDAW,
telah diakui dunia internasional termasuk Indonesia yang telah meratifikasi
Konvensi tersebut pada tahun 1984 dan sekaligus berkewajiban untuk
melaksanakannya. Konvensi CEDAW diratifikasi Indonesia dengan UU
No.7 Tahun 1984, hal tersebut mengikat Indonesia untuk melaksanakan
perlakuan untuk tidak membeda-bedakan hak-hak perempuan dan laki-
laki di segala bidang kehidupan.
Hak-hak perempuan yang tersebar dalam berbagai peraturan
perundang-perundangan (Hukum Nasional) dapat digali melalui naskah
akademisnya (Academic Draft) sebagai pembentukan hukum yang
tumbuh dan berkembang, guna keadilan dan kepastian hukum untuk
mencapai kesetaraan dan keadilan gender, sesuai dengan hak asasi
manusia tanpa diskriminasi. Pemberdayaan perempuan adalah suatu
upaya kaum perempuan untuk dapat mengakses hak-hak mereka dalam
melaksanakan hak asasi manusia, menggunakan sumber daya alam dan
sekaligus dapat mengontrol jalannya pembangunan.
Selain itu, peran dan status perempuan dalam hal ini dapat terlihat
melalui keterlibatan perempuan itu sendiri dalam ikatan kesatuan pada
kelompok-kelompok sosial yang diikutinya dalam kehidupan masyarakat,
antara lain dalam kehidupan rumah tangga, keluarga, pembangunan, dan
sebagainya. Peranan dan status itu sebenarnya merupakan unsur atau
komponen yang tergabung dalam sistem social disamping unsur-unsur
yang lainnya, begitu pula peranan dan status perempuan itu sendiri dalam
suatu kelompok sosial pada kehidupan, karena dengan status dan
peranan perempuan tersebut dapat menentukan sifat dan tingkatan
kewajiban serta tanggung jawab di dalam kelompok dimana si perempuan
itu terlibat.
B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan hak-hak perempuan dan anak?


2. Apa saja yang termasuk hak-hak perempuan dan anak?
3. Apa yang dimaksud dengan peran dan status perempuan dalam
kehidupan keluarga, masyarakat, Negara dan membangun
peradaban manusia?

C. Tujuan Penulisan

1. Supaya para penulis dan pembaca dapat mengetahui apa yang


dimaksud dengan hak-hak perempuan dana anak.
2. Supaya para penulis dan pembaca dapat mengetahui apa saja
yang termasuk hak-hak perempuan dan anak.
3. Supaya para penulis dan pembaca dapat mengetahui apa yang
dimaksud dengan peran dan status perempuan dalam kehidupan
keluarga, masyarakat, Negara dan membangun peradaban
manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hak-Hak Perempuan dan Anak

1. Pengertian hak-hak perempuan dan anak


Hak asasi manusia adalah hak dasar yang dimiliki oleh setiap
manusia sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa yang tidak dapat
diganggu gugat keberadaanya. Hak-hak tersebut telah dibawa sejak
lahir dan melekat pada diri manusia sebagai makhluk Tuhan. Istilah
hak asasi manusia di Indonesia, sering disejajarkan dengan istilah hak-
hak kodrat, hak dasar manusia.
Menurut Bahder Johan Nasution : pengertian hak asasi manusia
sering dipahami sebagai hak kodrati yang dibawa oleh manusia sejak
lahir ke dunia. Pemahaman terhadap hak asasi yang demikian itu
merupakan yang sangat umum dengan tanpa membedakan secara
akademik hak-hak yang dimaksud serta tanpa mempersoalkan asal
usul atau sumber diperolehnya hak tersebut. Pengertian hak asasi
manusia seperti pemahaman di atas memang tidak salah, namun
dengan pemahaman yang seperti itu merupakan pemahaman yang
sempit tentang hak asasi manusia. Untuk itu, perlu dipahami istilah-
istilah yang memberi pengertian secara tepat mengenai hak asasi
manusia.
Pengertian perempuan, perempuan merupakan makhluk lemah
lembut dan penuh kasih sayang karena perasaannya yang halus.
Secara umum sifat perempuan yaitu keindahan, kelembutan serta
rendah hati dan memelihara. Perbedaan secara anatomis dan fisiologis
menyebabkan perbedaan pada tingkah lakunya, dan timbul juga
perbedaan dalam hal kemampuan, selektif terhadap kegiatan-kegiatan
intensional yang bertujuan dan terarah dengan kodrat manusia.
Sedangkan pengertian anak, menurut Undang-Undang
Perlindungan Anak Nomor 23 tahun 2002 mendefinisikan anak adalah
seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun termasuk
anak yang masih dalam kandungan. Hak-hak anak merupakan bagian
integral dari HAM, berkaitan dengan peranan Negara, maka tiap
Negara mengembankan kewajiban yaitu melindungi (to protect),
memenuhi (to fulfill), dan menghormati (to respect) hak-hak anak.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa hak-hak perempuan dan anak
adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi,
dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan
Negara.
2. Hak-hak perempuan dan anak
a. Hak-hak perempuan
Perempuan sering kali termarjinalkan oleh konsepsi social
budaya di masyarakat yang cenderung patriarkis tanpa melihat hak.
Perlakuan diskriminatif kerap kali diterima perempuan Indonesia,
baik dalam kehidupan social maupun dunia profsional. Berikut 5
hak-hak utama perempuan yang dirangkum dari CEDAW, yang di
tanda tangani pada 1979 dalam konferensi yang diadakan Komisi
Kedudukan Perempuan PBB.
1) Hak dalam ketenagakerjaan
Setiap perempuan berhak untuk memiliki kesempatan
kerja yang sama dengan laki-laki. Hak pekerja perempuan
telah dijamin dalam konstitusi, undang-undang, dan beberapa
peraturan pelaksananya. Hak pekerja perempuan antara lain
perlindungan jam kerja, perlindungan dalam masa haid (cuti
haid), perlindungan selama hamil dan melahirkan, termasuk
ketika pekerja perempuan mengalami keguguran (cuti hamil
dan melahirkan), pemberian lokasi menyusui (hak menyusui /
memerah ASI), hak kompetensi kerja, hak pemeriksaan selama
masa kehamilan dan pasca melahirkan.
Sampai saat ini belum semua hak pekerja perempuan
dapat dipenuhi, baik yang disebabkan oleh faktor internal
maupun faktor eksternal. Faktor internal tampak pada masih
rendahnya pengetahuan dan pemahaman pekerja perempuan
mengenai hak yang dimilikinya. Sementara faktor eksternal
tampak pada adanya budaya patriarki, marginalisasi dalam
pekerjaan, adanya steoreotype kepada perempuan, dan
kurangnya sosialisasi.
2) Hak dalam bidang kesehatan
Perempuan berhak untuk mendapatkan kesempatan
bebas dari kematian pada saat melahirkan, dan hak tersebut
harus diupayakan oleh Negara. Negara juga berkewajiban
menjamin diperolehnya pelayanan kesehatan, khususnya
pelayanan KB, kehamilan, persalinan, dan pasca persalinan.
Perlindungan terhadap hak reproduksi perempuan telah diatur
baik oleh hokum internasional maupun nasional. Hokum
internasional CEDAW menyatakan perempuan mempunyai hak
untuk perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja,
termasuk perlindungan fungsi reproduksi.
Hak kesehatan perempuan tersebar dalam berbagai
aspek kehidupan perempuan, seperti yang tercantum dalam
International Planned Parenthood Federation (IPPF) 1996 yaitu
tentang hak reproduksi, antara lain :
 Setiap perempuan mempunyai hak untuk bebas dari
risiko kematian karena kehamilan.
 Setiap individu berhak untuk menikmati dan mengatur
kehidupan seksual dan reproduksinya dan tak
seorang pun dapat dipaksa hamil, menjalani sterilisasi
dan aborsi.
 Setiap individu mempunyai hak untuk bebas dari
segala bentuk diskriminasi termasuk kehidupan
seksual dan reproduksinya.
 Setiap perempuan mempunyai hak untuk menentukan
sendiri pilihan reproduksinya.
 setiap individu mempunyai hak untuk mendesak
pemerintah agar memprioritaskan kebijakan yang
berkaitan dengan hak-hak kesehatan seksual dan
reproduksi.
Perlindungan akan hak kesehatan reproduksi perempuan
merupakan bentuk jaminan atas perlindungan bagi generasi
mendatang., dengan kata lain hak atas kesehatan reproduksi
perempuan adalah hak generasi mendatang sehingga
perlindungannya harus berada pada tingkat prioritas yang
diutamakan penjaminan oleh hukum.
3) Hak yang sama dalam pendidikan
Seperti salah satu poin perjuangan R.A. Kartini, setiap
perempuan berhak mendapatkan kesempatan mengikuti
pendidikan, dari tingkat dasar hingga universitas. Harus ada
pemikiran stereotip mengenai peranan laki-laki dan perempuan
dalam segala tingkatan dan bentuk pendidiksn, termasuk
kesempatan yang sama untuk mendapatkan beasiswa.
Pentingnya melek aksara bagi perempuan sehingga
memerlukan komitmen semua pihak, pemerintah nasional,
provinsi, dan kabupaten / kota, organisasi kemasyarakatan,
organisasi perempuan dan swasta serta semua lapisan
masyarakat untuk meningkatkan keaksaraan perempuan dalam
rangka pengembangan kualitas SDM Indonesia.
Berkembangnya zaman dan waktu seperti saat ini,
bahwa hak perempuan khususnya dalam mendapatkan
pendidikan dan pengajaran justru tidak banyak bahkan tidak
semua perempuan mendapatkan haknya itu. Terdapat banyak
faktor yang menyebabkan perempuan tidak mendapatkan
haknya, ada yang memang tidak mau atau mungkin tidak
adanya biaya dan masih banyak factor social lainnya. Padahal
warga Negara khususnya warga negara Indonesia berhak
untuk dapat pendidikan dan pengajaran guna untuk
kepentingan dirinya serta kepentingan bersama.

4) Hak dalam perkawinan dan keluarga


Perempuan punya hak untuk memilih suaminya secara
bebas, dan tidak boleh ada perkawinan paksa. Perkawinan
yang dilakukan haruslah berdasarkan persetujuan dari kedua
belah pihak dalam keluarga, perempuan juga memiliki hak dan
tanggung jawab yang sama, baik sebagai orang tua terhadap
anaknya, maupun pasangan suami istri.
Posisi perempuan disini sebenarnya hanya dibedakan
fungsinya saja dari laki-laki, dan bukan direndahkan martabat
dan derajatnya. Perbedaan tersebut sesungguhnya tidaklah
menjadi masalah sepanjang tidak timbulnya ketidak adilan
gender yang termanisfestasikan dalam 5 bentuk seperti yang
ditulis oleh Mansour Fakih, yaitu :
 Marginalisasi atau proses pemikiran ekonomi.
 Subordinasi atau anggapan tidak penting dalam
pengambilan keputusan.
 Stereotype dan diskriminasi atau pelabelan negatif.
 Kekerasan dalam rumah tangga.
 Double burden (beban ganda) yang harus dipikul oleh
isteri dalam rumah tangga.
Karena hal tersebut sangat bertentangan dengan prinsip
egaliter (persamaan) dalam ajaran Islam, bahwa Allah SWT
menciptakan laki-laki dan perempuan pada dasarnya
mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam mengelola
bakat dan kemampuannya. Oleh karena itu, suami istri
mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 1974 Tentang
Perkawinan.
5) Hak dalam kehidupan publik dan poltik
Dalam kehidupan publik dan politik, setiap perempuan
berhak untuk memilih dan dipilih. Setelah berhasil terpilih lewat
proses demokratis, perempuan juga harus mendapatkan
kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam perumusan
kebijakan pemerintah hingga implementasinya.
Dengan dilibatkannya perempuan dalam bidang politik
maka dalam setiap pengambilan kebijakan senantiasa
menghadirkan sensitifitas gender. Sehingga praktek-praktek
diskriminasi terhadap perempuan baik yang bersifat structural
maupun kultural dapat ditiadakan.
b. Hak-hak anak
Anak merupakan tunas, potensi dan generasi muda penerus
cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan
mempunyai cirri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan
eksistensi bangsa dan Negara pada masa depan. Hak anak
diumumkan oleh PBB pada tahun 1954, dan baru tahun 1989
disahkan sebagai Konvensi Hak-hak Anak Pemerintah Indonesia
sendiri, melalui Keputusan Presiden No.36/1990 tanggal 28
Agustus 1990. Berikut adalah hak-hak anak menurut Konvensi Hak
Anak PBB.
1) Hak untuk bermain
Lewat bermain, anak belajar tentang dunia di sekitarnya.
Selain itu, bermain juga memiliki banyak manfaat positif untuk
anak terutama bila dilakukan bersama orang tua.

2) Hak untuk mendapatkan pendidikan


Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak.
Bila ada keluarga yang tidak mampu dari segi ekonomi untuk
menyekolahkan anak, jangan khawatir. Sebab pemerintah
melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak bertanggung jawab memberikan bantuan
atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khsus bagi anak dari
keluarga yang tidak mampu, anak terlantar, dan ank yang
tinggal ditempat terpencil.

3) Hak untuk mendapatkan perlindungan


Baik anak laki-laki dan perempuan berhak dilindungi dari
berbagai macam kekerasan, baik itu kekerasan fisik, verbal,
psikis, maupun perlakuan yang bisa merugikan atau
membahayakan anak.

4) Hak untuk mendapatkan rekreasi


Seorang anak berhak mendapatkan rekreasi agar bisa
tumbuh bahagia. Rekreasi ke tempat wisata yang cocok untuk
anak, misalnya ke kebun binatang, pantai atau museum. Selain
refreshing, ini bisa berguna juga untuk menjadi pengetahuaan
buat anak.

5) Hak untuk mendapatkan makanan


Untuk dapat berkembang dan tumbuh, anak
membutuhkan makanan dengan kualitas gizi yang baik. Pada 6
bulan awal kehidupannya bayi berhak mendapatkan ASI
eksklusif yang dilanjutkan dengan MPASI dan makanan
keluarga sehat.

6) Hak untuk mendapatkan akses kesehatan


Semua anak berhak mendapatkan jaminan kesehatan
yang layak tanpa memandang status social. Jaminan
kesehatan tersebut mencakup imunisasi, makanan yang sehat,
akses Pos Layanan Terpadu (Posyandu), pemeriksaan gigi
setiap 6 bulan, termasuk pelayanan kesehatan reproduksi yang
ramah remaja.

7) Hak untuk mendapatkan nama (Identitas)


Setiap anak brerhak mempunyai nama dan tercatat
dalam dokumen Negara. Hak ini erat kaitannya dengan hak
berikutnya.

8) Hak untuk mendapatkan status kebangsaan


Setiap anak berhak untuk diakui kewarganegaraanya
oleh suatu banga secara resmi melalui penerbitan dokumen
kewarganegaraan, meliputi akta kelahiran dan kartu identitas.
Dokumen-dokumen tersebut sangat penting untuk menjamin
hak-hak anak lainnya.

9) Hak untuk berperan dalam pembangunan


Setiap generasi penerus bangsa berkesempatan untuk
berpatisipasi dalam pembangunan. Anak yang mengenyam
bangku pendidikan tentu akan tumbuh jadi pribadi yang
berkualitas dan memiliki peran penting untuk memajukan
Indonesia.

10)Hak untuk mendapatkan kesamaan


Setiap anak, apapun jenis kelaminnya, suku budayanya,
agama, berkebutuhan khusus atau tidak, miskin atau kaya,
berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh,
berkembang dan mendapatkan hak-hak yang sudah
disebutkan diatas.

B. Peran dan Status Perempuan dalam Kehidupan Keluarga, Masyarakat,


Negara, dan Membangun Peradaban Manusia

1. Pengertian peran dan status perempuan


Peran merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status).
Apabila seseorang yang melakukan hak dan kewajibannya sesuai
dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu peran. Dalam
Kamus bahasa Indonesia juga dijelaskan peran adalah tindakan yang
dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa (KBBI, 2007:3). Peran
dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan
bersifat stabil.
Status adalah keadaan atau kedudukan orang atau badan dan
sebagainya dalam hubungannya dengan masyarakat. Adapun
kedudukan perempuan yaitu perempuan sebagai individu, sebagai
anggota keluarga dan sebagai masyarakat.
Peran dan status perempuan dalam hal ini dapat terlihat melalui
keterlibatan perempuan itu sendiri dalam ikatan kesatuan pada
kelompok-kelompok social yang diikutinya dalam kehidupan
masyarakat, antara lain dalam kehidupan keluarga, masyarakat,
Negara, pembangunan dan sebagainya. Peranan dan status itu
sebenarnya merupakan unsur atau komponen yang tergabung dalam
sistem sosial disamping unsur-unsur yang lainnya, begitu pula peranan
dan status perempuan itu sendiri dalam suatu kelompok sosial pada
kehidupan ini, karena dengan status dan peranan perempuan tersebut
dapat menentukan sifat dan tingkatan kewajiban serta tanggung jawab
didalam kelompok dimana perempuan itu terlibat.
a. Peran perempuan dalam keluarga
Sebagaimana kita ketahui, keluarga itu sendiri dapat dilihat
dalam arti kata yang sempit yaitu sebagai keluarga inti (exstended
family) yang merupakan kelompok social terkecil dari masyarakat,
yang terbentuk berdasarkan pernikahan dan terdiri dari seorang
ayah (suami), ibu (istri), dan anak-anak yang didalamnya dilandasi
oleh cinta dan kasih saying di antara anggotanya. Keluarga inti
sebagai kelompok primer yang terkait oleh hubungan intim
mempunyai fungsi-fungsi utama sebagai berikut :

 Pemberian afeksi, dukungan dan persahabatan


 Memproduksi dan membesarkan anak
 Meneruskan norma-norma kebudayaan, agama, dan
moral pada yang muda
 Mengembangkan kepribadian
 Membagi dan melaksanakan tugas-tugas di dalam
keluarga maupun di luarnya.
Mulai dari fungsi pertama sampai terakhir dilakukan oleh
perempuan sebagai ibu rumah tangga terhadap anak-anaknya
semenjak anak itu lahir sampai masuk sekolah dan sampai
dewasa. Seorang perempuan sebagai ibu rumah tangga
merupakan guru yang yang pertama dan yang paling utama bagi
seorang anak. Ini semua dikarenakan seorang ibulah yang paling
banyak mempunyai kesempatan untuk membentuk kepribadian dan
kemampuan anaknya.
Seorang ibu dalam hal membimbing terhadap tingkah laku
anak mereka dengan berbagai cara misalnya saja menerima,
menyetujui, melarang, membenarkan dan menolak sebagainya
terhadap tingkah laku anak mereka. Pemberian nilai tingkah laku
yang seperti ini maka terbentuklah dalam anak tentang norma-
norma dan nilai sosial dengan berbagai jenis dan tingkatannya
yang secara sosiologis mencakup cara, kebiasaan, tata kelakuan,
adat istiadat. Dengan demikian terbentuklah hati nurani anak
kemudian akan mengarahkan ke tingkah laku selanjutnya dalam
kehidupan bermasyarakat.
Peran perempuan dalam keluarga selain berkontribusi
penting dalam proses pembentukan kepribadian dan mental anak,
ia juga bertugas melaksanakan fungsinya yang berkaitan dengan
status istri bagi suaminya. Hidup seorang perempuan yang telah
berkeluarga disamping perannya sebagai istri, ibu dan pengurus
rumah tangga juga berperan sebagai anggota keluarga tingkat RT,
anggota keluarga arisan dan sebagainya.
b. Peran perempuan dalam masyarakat
Peranan sosial dalam mengembangkan masyarakat
merupakan hal yang sangat penting. Menurut Merton mengenai
teori peran, yaitu perilaku seseorang pemimpin yang menyesuaikan
perannya dalam suatu kelompok. Jika peran di pegang oleh
seseorang yang bertanggung jawab, adil, dan jujur maka
keberhasilan kelompok tersebut dapat dilihat dari
kepemimpinannya.
Adapun peran perempuan dalam mengembangkan
masyarakat, ada 2 makna dasar yang menjadi fokus, yaitu :
 Meningkatkan kemampuan masyarakat agar mencapai
kemampuan yang diharapkan melalui program
pengembangan dan pembangunan.
 Meningkatkan kewenangan masyarakat dalam
mengambil keputusan untuk membangun masyarakat
yang mandiri.
Gerakan perempuan dalam menjalankan perannya di tengah
masyarakat bisa kita lihat dalam perjuangan Indonesia mencapai
kemerdekaannya dan bisa kita lihat pada sosok Tjut Nyak Dien,
Tjut Mutia, atau Martha Kristina Tiahahu, dan dalam mengisi awal-
awal kemerdekaan melalui pendidikan bagi perempuan bisa dilihat
pada sosok Nyai ahmad Dahlan atau Rasuna Said.
c. Peran perempuan dalam peradaban manusia
Perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam
meningkatkan peradaban manusia. Itu bisa dilihat dengan peran-
peran perempuan yang tidak hanya pada lingkungan keluarga saja.
Pada umumnya perempuan sebagai ibu rumah tangga di seluruh
dunia melakukan berbagai macam tugas yang memiliki satu
kesamaan mata rantai rumah dengan penghuninya. Mereka
merawat anak, memenuhi suplai pangan keluarga baik dari ladang
keluarga atau pasar swalayan setempat.
Peran dan status perempuan dalam peradaban manusia
dapat tercermin dalam keterlibatan perempuan itu sendiri pada
berbagai aspek kehidupan yang antara lain mencakup kehidupan
dibidang rumah tangga dimana ia akan mengurus segala keperluan
anak dan suaminya, pembangunan masyarakat dan Negara,
keluarga inti maupun keluarga dalam arti luas.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Hak-hak perempuan yang dilegtimasi baik secara nasional maupun
Internasional dalam berbagai aturan sebagai suatu pelaksanaan
sangat dibutuhkan, untuk menuju suatu kondisi yang adil dan setara
antara laki-laki dan perempuan. Namun di satu sisi hak-hak
perempuan sulit untuk diaplikasikan, dan di sisi lain pemikiran-
pemikiran/doktrin terhadap hak-hak tersebut yang sudah sangat
kompilasi yang berguna sebagai referensi bagi kalangan penegak
hukum. Hak-hak perempuan dan anak yang merupakan hak asasi
manusia telah disepakati untuk dijunjung tinggi harkat dan
martabatnya.
2. Keterlibatan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan sosial
tersebut akan membawa konsekuensi bahwa perempuan itu
merupakan salah satu unsure yang tergabung dalam satu kesatuan
dan menunjukkan adanya saling ketergantungan dengan unsure-
unsur yang lainnya. Status dengan peranan sangat erat kaitannya.
Peranan seseorang dilakukan sebesar atau sesuai dengan hak dan
kewajibannya yang diatur dalam status. Pelaksanaan hak dan
kewajiban tersebut di dasarkan pada norma-norma sosial yang di
anggap sebagai pengawal perilakuan individu-individu agar sesuai
dengan status yang dimiliki.

B. Saran
1. Bidang ketenagakerjaan yang isunya sangat marak terutama
migrant workers, adalah bidang yang penting untuk dikompilasi
dalam suatu Kompendium, karena hak-hak perempuan yang
bekerja pada gilirannya sangat mudah untuk dieksploitasi.
Eksploitasi dapat berupa fisik, non fisik bahkan ekploitasi seks,
yang saat ini modus operasinya sangat luas dengan “Perdagangan
Manusia” yang korban terbanyaknya perempuan dan anak.

2. Kita harus sadar untuk dapat memberikan pengakuan dan


penghargaan atas peran, kerja serta tanggung jawab perempuan di
dalam sebuah keluarga, baik menyangkut pekerjaan di dalam
maupun di luar rumah, karena seberapapun besar kecil wujud dari
pekerjaan, atau nilai ekonomi yang dihasilkannya itu, kita harus
senantiasa untuk menghargainya itu.

Anda mungkin juga menyukai