Profil PT Musi Prima Coal di Sumsel
Profil PT Musi Prima Coal di Sumsel
KEADAAN UMUM
6 STIT Prabumulih
7
adalah sekitar desa Gunung Raja dan Desa Rambang Dangku seluas ±
800 hektar sebagai prioritas tahap pertama kegiatan eksplorasi batubara.
STIT Prabumulih
8
TABEL 2.1. Koordinat Batas IUP Eksplorasi PT. MUSI PRIMA COAL
(MPC)
Koordinat geografis
Titik Bujur Timur Lintang Selatan
X (E asting) Y (Northing)
o
1 104 6’ 42” -3 o 22’ 42”
STIT Prabumulih
9
STIT Prabumulih
10
STIT Prabumulih
11
STIT Prabumulih
12
UPPER
PLIOSEN KASAI TUFF FM PALEMBANG FM KASAI FM KASAI
(KAF)
(PAG)
ENIM Mb r MUARA ENIM
(PAG)
MUARA
SAND (MEM b ) ( MP.b )
ENIM
MIDDLE
Ang g .a
GROUP
GROUP
( MP.a )
COAL FM Brow n PALEMBANG
MIOSEN ( MEF) Mb r
ATAS ( MEM .a )
PALEMBANG
PALEMBANG
AIR BENAKAT
LOWER FM AIR BANAKAT
SAND & CLAY FM FM AIR BANAKAT
PALEMBANG
( ABF)
MIOSEN TELISA FM
TENGAH GUMAI SHALE FM FM GUMAI FM GUMAI
( GUF)
BATURAJA LST FM
TELISA GROUP (TEG)
A
LIS
TE Lst
FM BATUBARA FM BATUBARA
MIOSEN (BRF)
BAWAH
TALANG Tra nsitiona l Ang g tra nsi- Ang g tra nsi-
TELISA GROUP (TEG)
BENAKAT
LAHAT tuff BRECCIA MBR
ANGG
LEMATANG
EOSEN FM BENAKAT
FM
(PALEOSEN) (LAF) FM LAHAT FM LAHAT
"g e nt w a sh"
STIT Prabumulih
13
KA KA KA UNIT NAMES
OF MAP
Niru
Enim Niru KA
Jelawatan U. Jelawatan
L. Jelawatan
Kebon Kebon Babat,
Benakat Babat
Benuang
U. Mangus Burung N3
L. Mangus U. Mangus
U. Suban
L. Mangus Mangus Mangus
L. Suban
U. Suban Suban Suban
L. Suban Petai N2
U. Petai Petai
L. Petai
N1
Merapi
STIT Prabumulih
14
3. Lapisan Interburden A1 – A2
Lapisan ini terdiri dari batu lempung, bentonit dan batu pasir tufaan
dengan ketebalan berkisar antara 4,0 meter.
4. Lapisan Batubara A2
Lapisan ini dicirikan oleh adanya lapisan silikan di bagian atas 20-40
cm dan ketebalannya berkisar 9,8 m
5. Lapisan Interburden A2 – B
Lapisan ini terdiri dari batu lanau, lempung dan batu pasir, dikenal
dengan nama Suban Marker Seam. Ketebalan lapisan ini berkisar 18
meter.
6. Lapisan Batubara B1
Lapisan Batubara B biasanya tedapat dua sampai tiga lapisan
pengotor yaitu lapisan lempung. Ketebalan lapisan ini berkisar 12,7
meter.
7. Lapisan Interburden B1-B2
Lapisan ini terdiri dari lempungan. Ketebalannya berkisar 3 meter.
8. Lapisan Batubara B2
Lapisan Batubara dangan pengotor lempung dan dijumpai lensa lensa
batu lanau dengan ketebalan batubara berkisar 4,5 m
9. Lapisan Interburden B2-C
Lapisan ini terdiri dari batu pasir dengan ketebalannya berkisar 38
meter.
10. Lapisan Batubara C/C1
Lapisan ini merupakan lapisan yang umumnya sedikit memiliki lapisan
pengotor seperti siltstone. Ketebalan berkisar 5,1 meter.
11. Lapisan pengotor C/C1 – C2
Lapisan Interburden antara lapisan C/C1 dengan C2 yang memiliki
pengotor seperti claystone dan siltstone dengan ketebalan 3,5 Meter.
12. Lapisan Batubara C/C1 – C2
Lapisan ini bersebelahan dengan pengotornya dengan tebal lapisan
batubara berkisar 11,3 meter.
STIT Prabumulih
15
STIT Prabumulih
16
2. Cadangan Batubara.
Perhitungan cadangan batubara PT. MPC didasarkan kepada
batasan-batasan sebagai berikut :
a. Perhitungan cadangan dilakukan dengan membuat garis lintasan
cross section dengan jarak teratur. Garis lintasan tersebut
memotong strike batubara.
b. Selanjutnya dibuat penampang (cross section) dari setiap lintasan.
c. Kemiringan lereng tambang kontinyu sampai batas kedalaman
perhittungan.
d. Tebal lapisan batubara yang diperhitungkan berdasarkan data dari
lubang bor.
e. Dari setiap cross section dilakukan perhitungan luas batubara dan
luas tanah penutup. Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan
metode prisma terpancung baik untuk perhitungan cadangan
batubara maupun volume tanah penutupnya (overburden).
f. Dengan kriteria tersebut di atas, didapatkan hasil perhitungan
cadangan batubara terbesar 6.681.818 ton, striping ratio1 : 5,52.
Berat jenis batubara 1,3 ton/m3.
STIT Prabumulih
17
STIT Prabumulih
18
4. Penambangan Batubara
Berdasarkan pertimbangan faktor teknis seperti goelogi batubara
yang mancakup keadaan lapisan batubara (strike, dip dan ketebalan),
kondisi lapisan tanah penutup (overburden dan interburden) serta
pertimbangan ekonomis seperti besarnya sumber daya batubara yang
relatif besar, maka pada rencana penambangan batubara akan dipilih
adalah Sistem Tambang Terbuka (surface mining) yang secara lebih
spesifik adalah open pit mining dangan metode inpit dumping.
Kriteria yang menjadi pertimbangan dalam perencanaan
tambang di antaranya adalah sebagai berikut :
a. Penyebaran batubara yang merata.
STIT Prabumulih
19
STIT Prabumulih
20
STIT Prabumulih
21
STIT Prabumulih
22
Disposal area untuk tanah penutup yang berupa lumpur (material lunak)
dan untuk tanah penutup yang berupa batu pasir, sebagian akan di-
dumping pada area lumpur sebagai pencampur agar tidak terlalu cair
dan dibawa ke disposal area. Sedangkan Batubara dari front
penambangan diangkut ke stockpile. Pengangkutan pada tahap ini
menempuh jarak kurang lebih 12 km.
7. Tahap Pasca Operasi Penambangan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap pasca operasi penambangan
adalah kegiatan reklamasi lahan bekas penambangan dan lahan bekas
[Link] lahan bekas penambangan dan lahan bekas
penimbunan dilakukan dengan menanami kembali jenjang dengan
tanaman yang dapat beradaptasi dengan kondisi setempat.
STIT Prabumulih