0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
65 tayangan17 halaman

Profil PT Musi Prima Coal di Sumsel

PT. Musi Prima Coal adalah perusahaan tambang batubara yang berdiri pada tahun 2009 di Sumatera Selatan dengan wilayah konsesi 4.443 hektar. Dokumen ini menjelaskan sejarah, lokasi, iklim, geologi wilayah konsesi perusahaan."

Diunggah oleh

adi wahyu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
65 tayangan17 halaman

Profil PT Musi Prima Coal di Sumsel

PT. Musi Prima Coal adalah perusahaan tambang batubara yang berdiri pada tahun 2009 di Sumatera Selatan dengan wilayah konsesi 4.443 hektar. Dokumen ini menjelaskan sejarah, lokasi, iklim, geologi wilayah konsesi perusahaan."

Diunggah oleh

adi wahyu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KEADAAN UMUM

2.1. Sejarah Perusahaan


PT. Musi Prima Coal merupakan pengolah usaha tambang batubara
berdiri pada tanggal 26 Agustus 2009 yang di pimpin oleh Anung Pajar
dan Wasito. PT. Musi Prima Coal berada di desa Gunung Raja,
Kecamatan Rambang Dangku, Kabupaten Muara Enim, Provinsi
Sumatera Selatan.
Tujuan mendirikan perusahaan tambang batubara adalah untuk
memasukan batubara ke pembangkit listrik tenaga uap. Tahap pertama
kegiatan penambangan yang di lakukan adalah tahap eksplorasi yang
mna di lakukan adalah penebangan hutan, pembersihan lahan,penggalian
dan pengambilan tanah awal. Lokasi daerah studi yang termasuk dalam
wilayah administrative Pemerintah Kecamatan Rambang Dangku,
Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan meliputi daerah
sekitar Desa Gunung Raja dan Rambang Dangku.
Wilayah Kuasa Penambangan (KP) Eksplorasi batubara PT. Musi
Prima Coalsesuai izin yang dimiliki melalui keputusan Bupati Muara Enim
no:309/kpts/tambn/2007 tanggal 23 Maret 2007 tentang pemberian izin
Kuasa Pertambangan (KP) Eksplorasi batubara kepada PT. Musi Prima
Coaldan kepututusan Bupati Muara Enim nomor:654/kpts/tamben/2007
tanggal 25 Juni 2007 tentang perubahan atas lampiran keputusan Bupati
Muara Enim nomor:309/kpts/tamben2007 tentang kuasa Pertambangan
(KP) Eksplorasi batubara kepada PT. Musi Prima Coalseluas 4.443 hektar
berdasarkan hasil interprestasi penyebaran batubara serta tingkat
kesulitan penambangan dan tata guna lahan dimana terdapat usaha
perkebunan, ladang rakyat, fasilitas produksi PT. Pertamina Asset 2 dan
Pemukiman yang cukup padat pada wilayah bagian selatan dari wilayah
Kuasa Penambangan (KP) Eksplorasi. Daerah prospek untuk di tambang

6 STIT Prabumulih
7

adalah sekitar desa Gunung Raja dan Desa Rambang Dangku seluas ±
800 hektar sebagai prioritas tahap pertama kegiatan eksplorasi batubara.

2.2. Lokasi Kesampaian Daerah


Lokasi Izin Usaha Pertambangan PT. MUSI PRIMA COAL (MPC)
tahap eksplorasi terletak di Desa Gunung Raja, Kecamatan Rambang
Dangku, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan dengan luas
area 4.443 hektar, setelah dilakukan eksplorasi rencananya akan
ditingkatkan menjadi Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi dengan
penyempitan wilayah menjadi 3.442 hektar.
Secara geografis lokasi IUP PT. MUSI PRIMA COAL (MPC) terletak
antara 104 0 6’ 42” – 1040 8’ 38” Bujur Timur dan antara -30 22’ 42”  -30
24’ 41” Lintang Selatan. Untuk mencapai lokasi IUP PT. MPC yang
terletak di Desa Gunung Raja, Kecamatan Rambang Dangku, Kabupaten
Muara Enim bisa ditempuh melalui jalur darat dengan jarak ± 100 km
dengan kondisi jalan aspal serta Kereta Api dari Palembang ke
Prabumulih. Sarana transportasi umum yang ada baik kendaraan bus
maupun travel dari Palembang ke Prabumulih sudah tersedia. Dari kota
Prabumulih ke lokasi tambang menggunakan akses jalan Pertamina dan
jalan trans Limau yang hanya bisa menggunakan kendaraan mobil ringan
dan kendaraan roda dua (motor) dengan jarak ± 15 – 20 km.
Secara rinci dan jelasnya wilayah IUP PT. Musi Prima Coal terletak
pada titik koordinat sebagaimana tercantum pada Tabel 2.2.

STIT Prabumulih
8

TABEL 2.1. Koordinat Batas IUP Eksplorasi PT. MUSI PRIMA COAL
(MPC)

Koordinat geografis
Titik Bujur Timur Lintang Selatan
X (E asting) Y (Northing)
o
1 104 6’ 42” -3 o 22’ 42”

2 104o 7’ 49” -3 o 22’ 42”

3 104o 7’ 49” -3 o 23’ 04”

4 104o 8’ 13” -3 o 23’ 04”

5 104o 8’ 13” -3 o 23’ 23”

6 104o 8’ 38” -3 o 23’ 23”

7 104o 8’ 38” -3 o 23’ 39”

8 104o 8’ 33” -3 o 23’ 39”

9 104o 8’ 33” -3 o 24’ 41”

10 104o 7’ 13” -3 o 24’ 41”

11 104o 7’ 13” -3 o 23’ 55”

12 104o 6’ 42” -3 o 23’ 55”


Sumber : Perencanaan Jangka Panjang PT. Musi Prima Coal (2019)

STIT Prabumulih
9

Sumber : PT. Musi Prima Coal (MPC) (2019)


Gambar 2.1. Lokasi kesampaian PT. Musi Prima Coal (MPC)

2.3. Iklim dan Curah hujan


Di daerah rencana kegiatan penambangan PT. MPC, banyak
mengalir sungai dan cabang-cabangnya yang semuanya bermuara ke
Sungai Enim. Bila hujan terjadi air limpasan (surface run off), yaitu air
hujan yang mengalir ke arah lateral di permukaan tanah menuju ke tempat
yang lebih rendah menuju sungai dan anak-anak sungai. Sebagian lagi air
hujan masuk ke dalam tanah (infiltrasi).
Untuk wilayah tropis peranan iklim serta besarnya curah hujan yang
terjadi sangat besar karena akan mempengaruhi debit air baik berupa air
permukaan ataupun air tanah. Data curah hujan dapat dilihat pada
(Lampiran A)

2.4. Keadaan Geologi Regional dan Stratigrafi

STIT Prabumulih
10

Secara regional, daerah Gunung Raja dipengaruhi oleh sistem


penunjaman antara Lempeng Eurasia yang relatif diam dan Lempeng
India-Australia yang relatif bergerak ke Utara-Timur Laut. Efek penujaman
lempeng tersebut mempengaruhi keadaan batuan, morfologi, tektonik, dan
struktur geologi daerah penyelidikan dan sekitarnya yang berada di
Cekungan Sumatera Selatan Gambar 2.2. Menurut De Coster (1974),
Cekungan Sumatera Selatan telah mengalami tiga kali orogenesa, yakni
pada jaman Mesozoikum Tengah, Kapur Akhir – Tersier Awal, dan Plio-
Plistosen.
Setelah orogenesa terakhir (Plio-Plistosen) dihasilkan kondisi
struktur geologi regional seperti terlihat pada saat ini, yaitu :
1. Zona Sesar Semangko, merupakan hasil tumbukan antara Lempeng
Samudera Hindia dan Pulau Sumatera. Akibat dari tumbukan ini
menimbulkan gerak rotasi (right lateral) di antara keduanya.
2. Perlipatan dengan arah utama barat laut-tenggara yang terbentuk dari
hasil efek gaya kopel (pilinan) sesar Semangko.
3. Sesar-sesar yang berasosiasi dengan perlipatan dan sesar-sesar Pra-
Tersier yang mengalami peremajaan.
Stratigrafi regional Cekungan Sumatera Selatan menurut para
peneliti terdahulu dibagi atas beberapa formasi dan satuan batuan dari tua
sampai muda , yaitu :
1. Batuan Pra-Tersier; terdiri dari andesit, filit, kuarsit, batu gamping,
granit, dan granodiorit.
2. Formasi Lahat; diendapkan secara tidak selaras di atas batuan Pra-
Tersier pada kala Paleosen-Oligosen Awal di lingkungan darat.
Formasi ini tersusun dari tufa, aglomerat, breksi tufaan, andesit,
serpih, batulanau, batupasir dan batubara.
3. Formasi Talang Akar; terdiri dari batupasir berbutir kasar-sangat
halus, batu lanau dan batubara. Formasi ini diendapkan secara tidak
selaras di atas Formasi Lahat pada kala Oligosen Akhir-Miosen Awal
di lingkungan fluviatil sampai laut dangkal.

STIT Prabumulih
11

4. Formasi Baturaja; terdiri dari batugamping terumbu, serpih gampingan


dan napal. Formasi ini diendapkan secara selaras di atas Formasi
Talang Akar pada kala Miosen Awal di lingkungan litoral sampai
dengan neritik.
5. Formasi Gumai; terdiri dari serpih gampingan dan serpih lempungan.
Formasi ini diendapkan secara selaras di atas Formasi Baturaja pada
kala Miosen Awal-Miosen Tengah di lingkungan laut dalam.
6. Formasi Air Benakat; terdiri dari batupasir, diendapkan secara selaras
di atas Formasi Gumai pada kala Miosen Tengah-Miosen Akhir, di
lingkungan neritik sampai laut dangkal.
7. Formasi Muara Enim; terdiri dari batu pasir, batu lanau, batu lempung
dan batubara. Formasi ini diendapkan secara selaras di atas Formasi
Air Benakat pada kala Miosen di lingkungan paludal, delta dan bukan
laut.
8. Formasi Kasai; terdiri dari batu pasir tufaan dan tufa, terletak selaras
di atas Formasi Muara Enim, diendapkan di lingkungan darat pada
kala Pliosen Akhir-Plistosen Awal.
9. Endapan Kuarter; terdiri dari hasil rombakan batuan yang lebih tua,
berukuran kerakal, kerikil, pasir, lanau dan lempung, diendapkan
secara tidak selaras di atas Formasi Kasai.

STIT Prabumulih
12

Sp ruyt (1956) Koe soe m od inoto Te a m She ll


De Coster ( 1974)
(1976) (1978)
UMUR SUB DIVISI STRATIGRAFI FORMATION FORMASI FORMASI

KUARTER Qua rte rna ry se d im e nts

UPPER
PLIOSEN KASAI TUFF FM PALEMBANG FM KASAI FM KASAI
(KAF)

MUARA Blue Gre e n Ag g .b FM


FM

(PAG)
ENIM Mb r MUARA ENIM
(PAG)
MUARA
SAND (MEM b ) ( MP.b )
ENIM
MIDDLE
Ang g .a

GROUP
GROUP

( MP.a )
COAL FM Brow n PALEMBANG
MIOSEN ( MEF) Mb r
ATAS ( MEM .a )

PALEMBANG
PALEMBANG

AIR BENAKAT
LOWER FM AIR BANAKAT
SAND & CLAY FM FM AIR BANAKAT
PALEMBANG
( ABF)

MIOSEN TELISA FM
TENGAH GUMAI SHALE FM FM GUMAI FM GUMAI
( GUF)

BATURAJA LST FM
TELISA GROUP (TEG)

A
LIS
TE Lst
FM BATUBARA FM BATUBARA
MIOSEN (BRF)
BAWAH
TALANG Tra nsitiona l Ang g tra nsi- Ang g tra nsi-
TELISA GROUP (TEG)

AKAT a MBR FM tiona l FM tiona l


SHALE (TRM) (TRM) ( TRM)
TALANG TALANG
TALANG
AKAR FM
SAND STONE AKAR Ang g AKAR Ang g
OLIGOSEN FM Gritsa nd Gritsa nd Gritsa nd
DAN (TAF) MBR (GRM) (GRM)
LEBIH TUA

BENAKAT
LAHAT tuff BRECCIA MBR
ANGG
LEMATANG
EOSEN FM BENAKAT
FM
(PALEOSEN) (LAF) FM LAHAT FM LAHAT
"g e nt w a sh"

PRE TERSIER PRE - TERTIARY PRE - TERTIARY BASEMENT BASEMENT


BASEMENT BASEMENT PRA- TERSIER PRA-TERSIER

Sumber : PT. Musi Prima Coal (2019)


Gambar 2.2. Stratigrafi Regional Cekungan Sumatera Selatan

Urutan stratigrafi regional dan hubungan antar lapisan batubara di


Cekungan Sumatera Selatan dalam bentuk penampang geologi dapat
dilihat pada 2.3

STIT Prabumulih
13

AIR MESUJI SOUTH EAST ENIM PENDOPO NORTHERN


AREA PROSPECT AREA PROSPECT PROSPECT
KA KASAI

KA KA KA UNIT NAMES
OF MAP
Niru
Enim Niru KA
Jelawatan U. Jelawatan
L. Jelawatan
Kebon Kebon Babat,
Benakat Babat

MUARA ENIM COAL FORMATION ME


Kebon N4
Kebon

Benuang

U. Mangus Burung N3

L. Mangus U. Mangus
U. Suban
L. Mangus Mangus Mangus
L. Suban
U. Suban Suban Suban
L. Suban Petai N2
U. Petai Petai
L. Petai
N1
Merapi

Keladi Merapi Kladi AB


AB
Keladi
Keladi AB
AB AB
AB

Sumber : PT. Musi Prima Coal (2019)


Gambar 2.3. Penampang Stratigrafi Regional dan Hubungan Antar
Lapisan Batubara di Cekungan Sumatera Selatan.

Litologi yang di daerah penambangan PT Muara Prima Coal, terdiri


dari tiga lapisan batubara, yaitu Manggus, Suban, dan Petai.
1. Lapisan Tanah Penutup
Lapisan dicirikan dengan adanya gravel pasir, lanau, dan lempung.
Lapisan ditemukan lapisan batubara gantung (hanging coal) dengan
ketebalan 0,3-3 meter.
2. Lapisan Batubara A1
Lapisan batubara ini memiliki lapisan pengotor sebanyak 2-3 lapis dan
bagian “base” kadang-kadang dijumpai lensa-lensa batu lanau dan
pita pengotor dengan ketebalan 2-15 cm. Ketebalan lapisan Batubara
A1 ini adalah 7,3 meter.

STIT Prabumulih
14

3. Lapisan Interburden A1 – A2
Lapisan ini terdiri dari batu lempung, bentonit dan batu pasir tufaan
dengan ketebalan berkisar antara 4,0 meter.
4. Lapisan Batubara A2
Lapisan ini dicirikan oleh adanya lapisan silikan di bagian atas 20-40
cm dan ketebalannya berkisar 9,8 m
5. Lapisan Interburden A2 – B
Lapisan ini terdiri dari batu lanau, lempung dan batu pasir, dikenal
dengan nama Suban Marker Seam. Ketebalan lapisan ini berkisar 18
meter.
6. Lapisan Batubara B1
Lapisan Batubara B biasanya tedapat dua sampai tiga lapisan
pengotor yaitu lapisan lempung. Ketebalan lapisan ini berkisar 12,7
meter.
7. Lapisan Interburden B1-B2
Lapisan ini terdiri dari lempungan. Ketebalannya berkisar 3 meter.
8. Lapisan Batubara B2
Lapisan Batubara dangan pengotor lempung dan dijumpai lensa lensa
batu lanau dengan ketebalan batubara berkisar 4,5 m
9. Lapisan Interburden B2-C
Lapisan ini terdiri dari batu pasir dengan ketebalannya berkisar 38
meter.
10. Lapisan Batubara C/C1
Lapisan ini merupakan lapisan yang umumnya sedikit memiliki lapisan
pengotor seperti siltstone. Ketebalan berkisar 5,1 meter.
11. Lapisan pengotor C/C1 – C2
Lapisan Interburden antara lapisan C/C1 dengan C2 yang memiliki
pengotor seperti claystone dan siltstone dengan ketebalan 3,5 Meter.
12. Lapisan Batubara C/C1 – C2
Lapisan ini bersebelahan dengan pengotornya dengan tebal lapisan
batubara berkisar 11,3 meter.

STIT Prabumulih
15

13. Lapisan Batubara C2


Lapisan ini memiliki sedikit pengotor seperti clay dan siltstone
berbentuk lensa-lensa. Ketebalan lapisan C2 yaitu 6,2 meter.

2.5. Keadaan Endapan Batubara


Lapisan batubara yang dijumpai di lapangan teridiri dari 6 (enam)
lapisan (seam), ciri dari batubara ini yaitu memperlihatkan kilap yang
kusam, berwarna hitam kecoklatan, masih nampak adanya jejak-jejak akar
pohon, warna gores coklat, tidak keras. Tebal dari seam ini antara 0,03 m
hingga 18,11 m.

2.5.1. Karakteristik Endapan Batubara.


Dari keenam seam batubara yang terdapat dalam areal Izin Usaha
Pertambangan PT. MPC, semuanya dianggap layak untuk ditambang,
karena keenam lapisan (seam) batubara ini di beberapa tempat
memperlihatkan ketebalan antara 0,03 – 18,11 meter.

2.5.2. Sumber daya dan Cadangan Batubara.


1. Sumber daya batubara.
Dari data eksplorasi yang didasarkan pada hasil pengeboran
diperoleh sumber daya batubara di wilayah IUP PT. MPC sebesar
20.090.911,08 ton, seperti pada Tabel 2.3 berikut :

STIT Prabumulih
16

Tabel 2.2. Sumber daya Batubara PT. MPC


Sumber daya
Seam Total (ton)
Terukur (ton) Terunjuk (ton) Tereka (ton)
Seam
1.569.306 3.138.612 4.707.917 9.415.835
GT 1
Seam
2.447.207 4.894.415 7.341.622 14.683.244
GT 2
Seam
1.145.450 2.290.899 3.436.349 6.872.698
GT 3
Seam
1.519.856 3.039.711 4.559.567 9.119.134
GT 4
Total 6.681.819 13.363.637 20.045.445 40.090.911
Sumber : PT. Musi Prima Coal (MPC) (2019)

2. Cadangan Batubara.
Perhitungan cadangan batubara PT. MPC didasarkan kepada
batasan-batasan sebagai berikut :
a. Perhitungan cadangan dilakukan dengan membuat garis lintasan
cross section dengan jarak teratur. Garis lintasan tersebut
memotong strike batubara.
b. Selanjutnya dibuat penampang (cross section) dari setiap lintasan.
c. Kemiringan lereng tambang kontinyu sampai batas kedalaman
perhittungan.
d. Tebal lapisan batubara yang diperhitungkan berdasarkan data dari
lubang bor.
e. Dari setiap cross section dilakukan perhitungan luas batubara dan
luas tanah penutup. Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan
metode prisma terpancung baik untuk perhitungan cadangan
batubara maupun volume tanah penutupnya (overburden).
f. Dengan kriteria tersebut di atas, didapatkan hasil perhitungan
cadangan batubara terbesar 6.681.818 ton, striping ratio1 : 5,52.
Berat jenis batubara 1,3 ton/m3.

2.6. Tahap Operasi Penambangan.

STIT Prabumulih
17

Kegiatan pada tahap operasi penambangan adalah pembersihan


lahan (land clearing), pengolahan tanah pucuk (top soil management),
pengupasan tanah penutup (overburden removal), penambangan dan
pengangkutan batubara (coal mining and coal hauling).
1. Pembersihan Lahan
Pembersihan lahan dilakukan dengan buldozer D9R kapasitas
blade 11,7 m3, yang dilengkapi dengan sling (wirerope) untuk
menumbangkan pohon berdiameter kecil. Untuk pepohonan
berdiameter sedang sampai besar dipergunakan mesin gergaji
(chainsaw).

2. Pengelolaan Tanah Pucuk/Zona Pengakaran.


Kegiatan selanjutnya adalah pengupasan tanah pucuk atau zona
pengakaran (top soil) yang mengandung hara, sehingga tanah pucuk
tersebut harus dilakukan pengelolaan khusus yang baik sehingga
tidak hilang terbawa aliran air hujan dan tingkat kesuburannya tidak
menurun.
Kegiatan pengupasan tanah pucuk tersebut merupakan bagian
dari Pengelolaan Tanah Pucuk. Selain pengupasan kegiatan lainnya
adalah pengumpulan, pengangkutan ke lokasi khusus, perlindungan
tanah pucuk dan penyebaran pada saat akan dilakukan revegetasi.
Pengupasan tanah pucuk ini juga menggunakan buldozer D9R
kapasitas blade 11,7 m3 sebagai alat galinya, kemudian dengan wheel
loader Excavator PC 513 OB kapasitas 3,6 m 3 tanah pucuk dimuatkan
ke atas dump truck IVECO kapasitas angkut 30 ton. Selanjutnya tanah
pucuk diangkut dan ditimbun pada tempat khusus.
Supaya timbunan tanah pucuk tidak tererosi pada saat hujan,
timbunan tanah pucuk ditanami cover croops dan di sekelilingnya
dibuat saluran pengelak untuk mencegah timbunan tererosi.
Kemudian apabila sudah ada lahan yang siap untuk ditanami, terlebih
dahulu tanah pucuk ditebarkan secara merata. Tanah pucuk ini

STIT Prabumulih
18

merupakan media tanam yang memungkinkan tumbuhan yang


ditanam dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

3. Pengupasan Tanah Penutup/Batuan Penutup.


Dalam tahapan pengupasan tanah penutup meliputi kegiatan
pemberaian (loosening), penggalian dan pemuatan (digging and
loading), pengangkutan (hauling), dan penimbunan (dumping).
Pemberaian dilakukan dengan menggunakan kombinasi Ripping
dan Dozing. Alat yang dipakai untuk ripping dan dozing adalah
buldozer D9R. Setelah tanah digemburkan kegiatan selanjutnya
adalah penggalian dengan menggunakan excavator PC 513 OB.
Tanah penutup kemudian dimuatkan ke atas dump truck untuk
diangkut ke lokasi penimbunan tanah yang pada awal-awal kegiatan
ditimbun di luar daerah penambangan. Namun untuk tahun ketiga
atau keempat, galian tanah penutup dari front langsung ditimbun ke
area penggalian/bukaan tambang in pit dumping (in pit dumping
searah dengan kemajuan penggalian penambangan). Perataan
timbunan dan pengaturan bentuk permukaan timbunan dilakukan
dengan buldozer.

4. Penambangan Batubara
Berdasarkan pertimbangan faktor teknis seperti goelogi batubara
yang mancakup keadaan lapisan batubara (strike, dip dan ketebalan),
kondisi lapisan tanah penutup (overburden dan interburden) serta
pertimbangan ekonomis seperti besarnya sumber daya batubara yang
relatif besar, maka pada rencana penambangan batubara akan dipilih
adalah Sistem Tambang Terbuka (surface mining) yang secara lebih
spesifik adalah open pit mining dangan metode inpit dumping.
Kriteria yang menjadi pertimbangan dalam perencanaan
tambang di antaranya adalah sebagai berikut :
a. Penyebaran batubara yang merata.

STIT Prabumulih
19

b. Faktor struktur geologi.


c. Faktor geoteknik.
d. Faktor topografi dan morfologi.
e. Faktor hidrologi.
f. Nisbah pengupasan yang diinginkan 5,52 :1 yang dianggap masih
menguntungkan.
g. Data asumsi yang digunakan :
1) Waktu kerja.
2) Sifat fisik material.
3) Efisiensi dan evailabity alat.
Dalam pelaksanaan penambangan batubara akan menggunakan
alat tambang utama excavator PC 750 LME kapasitas 4,4 m3 sebagai
alat gali dan muat serta alat angkut dump truck FM 12 kapasitas
angkut 26 ton. Jenis excavator yang dipilih adalah backhole dan jenis
dump truck yang akan digunakan adalah articulated dump truck yang
dapat mengatasi jalanan yang lembek dab becek.
Untuk menjaga agar lapisan batubara yang digali tidak terjadi
pengotoran dari lapisan overburden maupun interburden, maka
langkah-langkah yang akan dilakukan adalah :
a. Pengupasan tanah penutup (overburden dan interburden) dengan
buldozer D9R sampai batas  10 cm di atas lapisan batubara dan
pengupasan sisa tanah penutup tersebut dikupas dengan
menggunakan “backhoe” PC 513 OB atau PC 750 LME, yang
dilengkapi dengan “cutting edge” grader.
b. Penggalian dan pemuatan batubara ke atas “dump truck” setara
Scania 113 HL dengan menggunakan “backhoe” setara Komatsu
PC 750 baik untuk lapisan yang tebal dan bersih maupun untuk
lapisan batubara tipis dan banyak pengotor.
c. Operasi penggalian batubara dilakukan pada pagi sampai sore
hari (pukul 07.00 s.d 17.00) agar operator mudah membedakan
pengupasan tanah penutup atau penggalian batubaranya.

STIT Prabumulih
20

d. Dalam kegiatan operasi tanah penutup dan penggalian lapisan


batubara ditempatkan pengawas yang memandu operator
“buldozer” dan operator “backhoe”.

5. Produksi Batubara dan Umur Tambang.


Besaran produksi dan batuan penutup yang relatif konstan
dengan ratio pengupasan rata-rata 1 : 5,52 sepanjang umur tambang
10 tahun PT. MPC akan memproduksi batubara sebanyak 6.681.818
ton. Besaran tingkat produksi batubara, tanah penutup setiap tahun
direncanakan seperti Tabel 2.4 berikut :

Tabel 2.3 Rencana Produksi


Tahun Luas Batubara (ton) Tanah Penutup SR
(Bcm)
1 8,13 360.000 1.976.400 5,49
2 13,39 550.000 3.025.000 5,50
3 16,27 650.000 3.581.500 5,51
4 18,26 750.000 4.140.000 5,52
5 18,26 750.000 4.140.000 5,52
6 18,26 750.000 4.147.500 5,52
7 18,26 750.000 4.147.500 5,52
8 18,26 750.000 4.140.000 5,52
9 18,26 750.000 4.140.000 5,52
10 15,14 621.818 3.426.222 5,51
Total 162,4 6.681.819 36.864.122 5,52
9
Sumber : PT. Musi Prima Coal (MPC) (2019)
2.7. Kegiatan Penambangan
Kegiatan penambangan di PT. Musi Prima Coal menggunakan
kombinasi Excavator dan Truck. Pada proses penambangan baik kegiatan
pemberaian (ripping) material, penggalian dan pemuatan (digging and
hauling) material, maupun pengangkutan (hauling) material semuanya
dilakukan denganmenggunakan alat-alat mekanis. Adapun aktivitas
penambangan di Banko Barat dapat dilihat sebagai berikut ini:
1. Pembersihan lahan (land clearing)

STIT Prabumulih
21

Land clearing adalah kegiatan pembersihan front kerja dari tumbuh-


tumbuhan baik itu semak belukar, pepohonan, maupun tanaman yang
dapat mengganggu proses penambangan atau mengganggu alat-alat
mekanis yang bekerja pada lokasi penambangan. Kegiatan land
clearing dilakukan menggunakan alat mekanis berupa bulldozer.
2. Perintisan (pioneering)
Perintisan merupakan kegiatan lanjutan dari land clearing berupa
pembuatan jalan angkut dan meratakan front kerja agar alat-alat
mekanis leluasa beroperasi. Alat mekanis yang digunakan adalah
bulldozer caterpillar D9R dan bulldozer caterpillar D8R atau dapat pula
menggunakan bulldozer caterpillar D7G.
3. Pembongkaran (loosening)
Pembongkaran merupakan proses pemberaian lapisan tanah penutup
dan juga lapisan batubara sehingga alat gali-muat lebih mudah untuk
melakukan kegiatan loading. Proses pembongkaran dilakukan dengan
cara me-ripping lapisan tanah penutup atau lapisan batubara tersebut
dengan menggunakan bulldozer Caterpillar D8R Penggalian (digging)
dan pemuatan (Loading).
4. Pemuatan
Kegiatan penggalian dan pemuatan lapisan tanah Penutup dilakukan
dengan menggunakan hydraulic excavator. Kegiatan penggalian dan
pemuatan batubara dilakukan dengan menggunakan muat Excavator
Wheel Loader 98 OG kapasitas bucket 7 m3.
5. Pengangkutan (hauling)
Kegiatan ini adalah proses pemindahan lapisan tanah penutup maupun
batubara dari loading point menuju disposal area (untuk overburden)
dan stockpile (untuk batubara). Pengangkutan dilakukan dengan
menggunakan dump truck Hino, kapasitas angkut 8 ton.
6. Penimbunan (dumping)
Kegiatan penimbunan merupakan kegiatan untuk meletakkan tanah
penutup atau batubara ke area penimbunan yang telah ditetapkan.

STIT Prabumulih
22

Disposal area untuk tanah penutup yang berupa lumpur (material lunak)
dan untuk tanah penutup yang berupa batu pasir, sebagian akan di-
dumping pada area lumpur sebagai pencampur agar tidak terlalu cair
dan dibawa ke disposal area. Sedangkan Batubara dari front
penambangan diangkut ke stockpile. Pengangkutan pada tahap ini
menempuh jarak kurang lebih 12 km.
7. Tahap Pasca Operasi Penambangan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap pasca operasi penambangan
adalah kegiatan reklamasi lahan bekas penambangan dan lahan bekas
[Link] lahan bekas penambangan dan lahan bekas
penimbunan dilakukan dengan menanami kembali jenjang dengan
tanaman yang dapat beradaptasi dengan kondisi setempat.

STIT Prabumulih

Anda mungkin juga menyukai