Building Learning Commitment (BLC)
Building Learning Commitment (BLC) atau Membangun Komitmen Belajar merupakan
salah satu materi penunjang dalam setiap pelatihan yang diselenggarakan oleh Kementerian
Kesehatan. Walaupun BLC merupakan materi penunjang dalam sebuah pelatihan, tetapi
materi BLC sangat diperlukan dalam mengawali suatu proses pelatihan. Artinya, jika materi
BLC dapat diaplikasikan dengan baik oleh fasilitator/widyaiswara maka proses kegiatan
pelatihan dapat berjalan efektif dan mencapai tujuan pelatihan secara optimal.
Secara garis besar fasilitasi materi BLC melalui proses pembelajaran akan melalui beberapa
tahapan yang dimulai dari perkenalan; pencairan (ice breaking); kesepakatan dan harapan
yang ingin dicapai; norma kelas dalam pembelajaran; serta kontrol kolektif dalam
pelaksanaan norma kelas. Hasil belajar atau tujuan umum dari materi BLC adalah agar
peserta mampu berperilaku positif untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif
selama proses pelatihan.
Sedangkan indikator hasil belajar atau tujuan khusus dari pembelajaran materi BLC adalah
agar peserta dapat :
1. Saling mengenal diantara peserta pelatihan
2. Menyiapkan diri untuk belajar bersama secara aktif dalam suasana yang kondusif
3. Menyiapkan diri untuk belajar bersama secara aktif dalam suasana yang kondusif
4. Merumuskan kesepakatan norma kelas yang harus dianut oleh seluruh warga
pembelajar selama pelatihan berlangsung
5. Merumuskan kesepakatan bersama tentang kontrol kolektif dalam pelaksanaan norma
kelas selama pelatihan berlangsung
Sebelum memulai proses pembelajaran pada umumnya para peserta menunjukkan suasana
yang tidak cair dimana para peserta yang baru bertemu biasanya masih menjaga jarak dalam
suasana yang kurang akrab antar sesama peserta, karena kehadirannya dalam sebuah
pelatihan dengan kondisi dan sebab yang berbeda-beda.
Agar proses pembelajaran BLC sukses, sebaiknya seorang widyaiswara mempersiapkan
Rencana Pembelajaran/Satuan Acuan Pembelajaran materi BLC dengan baik sesuai jenis
pelatihan dan kriteria peserta. Hal ini dimaksudkan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai
sehingga dapat menjadikan suasana kelas hidup yang berbasis aktifitas peserta. Oleh karena
itu kita harus membangun rasa percaya diantara peserta. Dalam lingkungan peserta yang
saling percaya maka peserta akan lebih siap untuk berani mengambil resiko, berkontribusi
dan lebih menyenangi proses belajar yang akan membantu kelancaran pembelajaran
selanjutnya.
Untuk membangun komitmen belajar (BLC) antar kelompok peserta pada pelatihan, ada
beberapa tahapan yang dilalui, yaitu :
1. Forming
Pada tahap ini, kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota kelompok masih
cenderung untuk bekerja sendiri dan masih belum saling mengenal dan belum bisa saling
percaya. Waktu banyak dihabiskan untuk merencanakan, mengumpulkan informasi dan
mendekatkan diri satu sama lain.
2. Stormimg
Pada tahap ini kelompok sudah mulai mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas
yang mereka hadapi. Anggota kelompok saling terbuka dan mengeluarkan ide-ide dan
perspektif mereka masing-masing. Sehingga kemungkinan tejadinya konflik. Suasana mulai
memanas karena pendapat mulai ditanggapi.
3. Norming
Pada tahap ini sudah terdapat kesepakatan antara anggota kelompok. Kelompok mulai
menemukan kesesuaian dengan kesepakatan yang mereka buat mengenai aturan-aturan dan
nilai-nilai yang digunakan. Pada tahap ini, anggota kelompok mulai dapat mempercayai satu
sama lain seiring dengan melihat kontribusi penting masing-masing anggota untuk
[Link] mulai mereda karena adanya klarifikasi diikuti persamaan persepsi.
4. Performing
Pada tahap ini, kelompok dapat berfungsi dalam menyelesaikan pekerjaan atau tugas dengan
lancar dan efektif. Anggota kelompok saling tergantung satu sama lain dan mereka saling
respek dalam berkomunikasi. Suasana diliputi kerja sama sesuai dengan peran yang telah
disepakati.
Hasil akhir dari kegiatan BLC adalah diperolehnya kontrak belajar selama peserta
mengikut kegiatan pelatihan yang mereka ikuti. Dasar pemikiran perlunya kontrak belajar
dalam sebuah pelatihan adalah :
1. Pembentukan suasana dan kontrak belajar merupakan langkah awal dalam memulai
aktifitas pelatihan/belajar.
2. Peserta diajak untuk menyepakati hal-hal berkaitan dengan keseluruhan program
pelatihan mencakup acara pembukaan, perkenalan, pemetaan harapan, agenda
pelatihan, aturan main, dan pengorganisasian peserta.
3. Fasilitator menjelaskan latar belakang, tujuan, ruang lingkup dan urutan penyajian
materi, serta target pelatihan/pembelajaran.
4. Peserta perlu merumuskan dan menyepakati harapan, aturan main, dan gambaran diri
(self motivation).
5. Pada dasarnya kegiatan ini berupaya menggali kemampuan awal peserta sebelum
mengikuti proses pelatihan/pembelajaran.
6. Rancangan yang dikembangkan harus mengindikasikan kebutuhan dan harapan
peserta
7. Fasilitator/widyaiswara terlebih dahulu menawarkan hasil rancangannya kepada
peserta, kemudian menanyakan hal apa saja yang perlu dilengkapi dan menjadi
harapan setelah selesai mengikuti pelatihan.
8. Jika diperlukan fasilitator/widyaiswara dapat menambah, merubah, atau merevisi
sebagian dari rancangan yang telah disiapkan.
9. Memulai pelatihan sama halnya dengan memperkenalkan kepada peserta tentang
lingkungan yang baru dikenalnya.
10. Fasilitator/widyaiswara menyediakan mekanisme manajemen lingkungan melalui
pendekatan yang majemuk yang tidak hanya melihat pelatihan sebagai ruang belajar
yang berisi gudang pengalaman dan bahan pelajaran yang harus dikuasai, tetapi
melihat manajemen pelatihan dan memastikan proses pelatihan berjalan lancar serta
menyenangkan.
11. Penyiapan mental dan kondisi belajar untuk membantu peserta mempersiapkan diri
menjelang masa peralihan agar siap untuk mengikuti proses pelatihan dapat dibantu
melalui musik dengan karakteristik yang berbeda.
12. Secara emosional peserta diarahkan dalam situasi belajar agar siap mengadaptasikan
seluruh perhatian dan fokus terhadap apa yang akan dihadapi dan kesiapan menerima
materi pelatihan.
Belajar akan mempunyai arti mendalam apabila suasana belajar menyenangkan. Belajar
selayaknya menjadi peristiwa yang menyenangkan, menggembirakan tanpa ada rasa cemas
dan lelah karena suasana yang mencekam. Kelas sebagai salah satu kelompok sosial perlu
diciptakan suasana aman, pembelajarannya penuh percaya diri, dan antar peserta saling
mempercayai. Suasana seperti ini lebih memungkinkan pembelajar belajar secara lebih
efektif dan menyerap bahan ajar dengan baik. Pelatihan dengan suasana seperti ini akan
menghasilkan alumni yang ceria, ASN yang percaya diri, optimis, produktif, dan memperoleh
kepuasan batin yang memadai.
Pada intinya materi BLC sangat bermanfaat dalam menunjang proses pembelajaran dalam
sebuah pelatihan. BLC dilakukan untuk mencairkan suasana yang kaku antar peserta yang
awalnya belum saling mengenal, menyiapkan mereka agar dapat berkomunikasi, dan bertukar
pengalaman secara terbuka, menciptakan suasana belajar yang menggembirakan dan
menyenangkan, menetapkan nilai belajar yang disepakati bersama, membina kelompok yang
berfungsi efektif dan bertekad untuk menyukseskan proses pembelajaran yang berkualitas.
Aspek Legal Keperawatan
Aspek Legal Keperawatan adalah Aspek aturan Keperawatan dalam memberikan
asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawabnya pada berbagai
tatanan pelayanan, termasuk hak dan kewajibannya.
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian
integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan
ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat baik sehat maupun
sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.
Perawat sebagai profesi dan bagian integral dari pelayanan kesehatan tidak saja
membutuhkan kesabaran. Kemampuannya untuk ikut mengatasi masalah-masalah
kesehatan tentu harus juga bisa diandalkan.
Untuk mewujudkan keperawatan sebagai profesi yang utuh, ada beberapa syarat yang
harus dipenuhi. Setiap perawat harus mempunyai ”body of knowledge” yang spesifik,
memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui praktik keprofesian yang didasari
motivasi altruistik, mempunyai standar kompetensi dan kode etik
profesi. Para praktisi dipersiapkan melalui pendidikan khusus pada jenjang
pendidikan tinggi.
International Council of Nurses (ICN) mengeluarkan kerangka kerja kompetensi bagi
perawat yang mencakup tiga bidang, yaitu bidang Professional, Ethical and Legal
Practice, bidang Care Provision and Management dan bidang Professional
Development
Budi Sampurna, Pakar Hukum Kesehatan dari Universitas di Indonesia,
mengemukakan bahwa setiap profesi pada dasarnya memiliki tiga syarat utama, yaitu
kompetensi yang diperoleh melalui pelatihan yang ekstensif, komponen intelektual
yang bermakna dalam melakukan tugasnya, dan memberikan pelayanan yang penting
kepada masyarakat.
Sikap yang terlihat pada profesionalisme adalah profesional yang bertanggung jawab
dalam arti sikap dan pelaku yang akuntabel kepada masyarakat, baik masyarakat
profesi maupun masyarakat luas. Beberapa ciri profesionalisme tersebut merupakan
ciri profesi itu sendiri, seperti kompetensi dan kewenangan yang selalu sesuai dengan
tempat dan waktu, sikap yang etis sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh
profesinya dan khusus untuk profesi kesehatan ditambah dengan sikap altruis (rela
berkorban). Kemampuan atau kompetensi, diperoleh seorang profesional dari
pendidikan atau pelatihannya, sedangkan kewenangan diperoleh dari penguasa atau
pemegang otoritas di bidang tersebut melalui pemberian izin.
Aspek legal Keperawatan meliputi Kewenangan berkaitan dengan izin melaksanakan
praktik profesi. Kewenangan memiliki dua aspek, yakni kewenangan material dan
kewenangan formal. Kewenangan material diperoleh sejak seseorang memiliki
kompetensi dan kemudian teregistrasi (registered nurse) yang disebut Surat Ijin
Perawat atau SIP.
Aspek legal Keperawatan pada kewenangan formalnya adalah izin yang memberikan
kewenangan kepada penerimanya untuk melakukan praktik profesi perawat yaitu
Surat Ijin Kerja (SIK) bila bekerja di dalam suatu institusi dan Surat Ijin Praktik
Perawat (SIPP) bila bekerja secara perorangan atau berkelompok.
Kewenangan itu, hanya diberikan kepada mereka yang memiliki kemampuan. Namun,
memiliki kemampuan tidak berarti memiliki kewenangan. Seperti juga kemampuan
yang didapat secara berjenjang, kewenangan yang diberikan juga berjenjang.
Kompetensi dalam keperawatan berarti kemampuan khusus perawat dalam bidang
tertentu yang memiliki tingkat minimal yang harus dilampaui.
Dalam profesi kesehatan hanya kewenangan yang bersifat umum saja yang diatur oleh
Departemen Kesehatan sebagai penguasa segala keprofesian di bidang kesehatan dan
kedokteran. Sementara itu, kewenangan yang bersifat khusus dalam arti tindakan
kedokteran atau kesehatan tertentu diserahkan kepada profesi masing-masing.
Aspek Legal keperawatan tidak terlepas dari Undang-Undang dan Peraturan tentang
praktek Keperawatan,
Fungsi Hukum dalm Praktik Perawat (Aspek Legal Keperawatan)
Memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan mana yang sesuai
dengan hukum
Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi lain
Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan keperawatan mandiri
Membantu mempertahankan standard praktik keperawatan dengan meletakkan posisi
perawat memiliki akuntabilitas dibawah hukum.
Pasal krusial dalam Kepmenkes 1239/2001 Tentang Praktik Keperawatan
Melakukan asuhan keperawatan meliputi Pengkajian, penetapan diagnosa
keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan dan evaluasi.
Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan atas permintaan tertulis dokter
Dalam melaksanakan kewenangan perawat berkewajiban :
§ Menghormati hak pasien
§ Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani
§ Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku
§ Memberikan informasi
§ Meminta persetujuan tindakan yang dilakukan
§ Melakukan catatan perawatan dengan baik
Aspek Legal Keperawatan pada kewenangan formalnya adalah izin yang memberikan
kewenangan kepada penerimanya untuk melakukan praktik profesi perawat yaitu
Surat Ijin Kerja (SIK) bila bekerja di dalam suatu institusi dan Surat Ijin Praktik
Perawat (SIPP) bila bekerja secara perorangan atau berkelompok.
Aspek legal keperawatan meliputi :
Memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan mana yang sesuai
dengan hukum
Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi lain
Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan keperawatan mandiri
Membantu mempertahankan standard praktik keperawatan dengan meletakkan posisi
perawat memiliki akuntabilitas dibawah hukum.
Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa seseorang , perawat berwenang
melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangan yang ditujukan untuk
penyelamatan jiwa.
Perawat yang menjalankan praktik perorangan harus mencantumkan SIPP di ruang
praktiknya
Perawat yang memiliki SIPP dapat melakukan asuhan dalam bentuk kunjungan rumah
Persyaratan praktik perorangan sekurang-kurangnya memenuhi :
§ Tempat praktik memenuhi syarat
§ Memiliki perlengkapan peralatan dan administrasi termasuk formulir /buku
kunjungan, catatan tindakan dan formulir rujukan
Larangan
Perawat dilarang menjalankan praktik selain yang tercantum dalam izin dan
melakukan perbuatan yang bertentangan dengan standar profesi
Bagi perawat yang memberikan pertolongan dalam keadaan darurat atau menjalankan
tugas didaerah terpencil yang tidak ada tenaga kesehatan lain, dikecualikan dari
larangan ini
Kepala dinas atau organisasi profesi dapat memberikan peringatan lisan atau tertulis
kepada perawat yang melakukan pelanggaran
Peringatan tertulis diberikan paling banyak 3 kali, apabila tidak diindahkan SIK dan
SIPP dapat dicabut.
Sebelum SIK atau SIPP di cabut kepala dinas kesehatan terlebih dahulu mendengar
pertimbangan dari MDTK atau MP2EM
Sanksi pada Aspek Legal Keperawatan
Pelanggaran ringan , pencabutan izin selama-lamanya 3 bulan
Pelanggaran sedang , pencabutan izin selama-lamanya 6 bulan
Pelanggaran berat, pencabutan izin selama-lamanya 1 tahun
Penetapan pelanggaran didasarkan pada motif pelanggaran serta situasi setempat
Hak dan Kewajiban Perawat pada Aspek Legal Keperawatan
Aspek Legal Keperawatan juga meliputu Kewajiban dan hak Perawat :
Kewajiban: pada Aspek Legal Keperawatan
Wajib memiliki : SIP, SIK, SIPP
Menghormati hak pasien
Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani
Menyimpan rahasia pasien sesuai dengan peraturan perundang-undangan
Wajib memberikan informasi kepada pasien sesuai dengan kewenangan
Meminta persetujuan setiap tindakan yg akan dilakukan perawat sesuai dgn kondisi
pasien baik secara tertulis maupun lisan
Mencatat semua tindakan keperawatan secara akurat sesuai peraturan dan SOP yang
berlaku
Memakai standar profesi dan kode etik perawat Indonesia dalam melaksanakan
praktik
Meningkatkan pengetahuan berdasarkan IPTEK
Melakukan pertolongan darurat yang mengancam jiwa sesuai dengan kewenangan
Melaksanakan program pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat
Mentaati semua peraturan perundang-undangan
Menjaga hubungan kerja yang baik antara sesama perawat maupun dgn anggota tim
kesehatan lainnya.
Hak-Hak Perawat pada Aspek Legal Keperawatan
Hak perlindungan wanita.
Hak mengendalikan praktik keperawatan sesuai yang diatur oleh hukum.
Hak mendapat upah yang layak.
Hak bekerja di lingkungan yang baik
Hak terhadap pengembangan profesional.
Hak menyusun standar praktik dan pendidikan keperawatan.
Masalah Aspek legal Keperawatan yang perlu diperhatikan dan harus dihindarinya
adalah:
Kelalaian
Seorang perawat bersalah karena kelalaian jika mencederai pasien dengan cara tidak
melakukan pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan ataupun tidak melakukan tugas
dengan hati-hati sehingga mengakibatkan pasien jatuh dan cedera.
Pencurian
Mengambil sesuatu yang bukan milik anda membuat anda bersalah karena mencuri.
Jika anda tertangkap, anda akan dihukum. Mengambil barang yang tidak berharga
sekalipun dapat dianggap sebagai pencurian.
Fitnah
Jika anda membuat pernyataan palsu tentang seseorang dan merugikan orang tersebut,
anda bersalah karena melakukan fitnah. Hal ini benar jika anda menyatakan secara
verbal atau tertulis.
False imprisonment
Menahan tindakan seseorang tanpa otorisasi yang tepat merupakan pelanggaran
hukum atau false imprisonment. Menggunakan restrein fisik atau bahkan mengancam
akan melakukannya agar pasien mau bekerja sama bisa juga termasuk dalam false
imprisonment. Penyokong dan restrein harus digunakan sesuai dengan perintah
dokter.
Penyerangan dan pemukulan
Penyerangan artinya dengan sengaja berusahan untuk menyentuh tubuh orang lain
atau bahkan mengancam untuk melakukannya. Pemukulan berarti secara nyata
menyentuh orang lain tanpa [Link] yang kita berikan selalu atas ijin pasien
atau informed consent. Ini berarti pasien harus mengetahui dan menyetujui apa yang
kita rencanakan dan kita lakukan.
Pelanggaran privasi
Pasien mempunyai hak atas kerahasiaan dirinya dan urusan pribadinya. Pelanggaran
terhadap kerahasiaan adalah pelanggaran privasi dan itu adalah tindakan yang
melawan hukum.
Penganiayaan
Menganiaya pasien melanggar prinsip-prinsip etik dan membuat anda terikat secara
hukum untuk menanggung tuntutan hukum. Standar etik meminta perawat untuk tidak
melakukan sesuatu yang membahayakan pasien.
Setiap orang dapat dianiaya, tetapi hanya orang tua dan anak-anaklah yang paling
rentan. Biasanya, pemberi layanan atau keluargalah yang bertanggung jawab terhadap
penganiayaan ini. Mungkin sulit dimengerti mengapa seseorang menganiaya ornag
lain yang lemah atau rapuh, tetapi hal ini terjadi. Beberapa orang merasa puas bisa
mengendalikan orang lain. Tetapi hampir semua penganiayaan berawal dari perasaan
frustasi dan kelelahan dan sebagai seorang perawat perlu menjaga keamanan dan
keselamatan pasiennya.
Sebagai seorang perawat yang profesional, harus memperhatikan Aspek Legal
Keperawatan agar tidak keluar dari rambu-rambu aturan dari profesi keperawatan.
demikian artikel aspek legal keperawatan ini untuk dijadikan tambahan informasi
masalah seputar Aspek Legal Keperawatan,semoga bermanfaat