0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan25 halaman

Perilaku Perawatan Diri Diabetes Melitus

Makalah ini membahas tentang perilaku perawatan diri pada penderita diabetes melitus dalam mengurangi resiko. Diabetes melitus merupakan masalah kesehatan besar di dunia yang jumlah penderitanya terus meningkat. Perilaku perawatan diri yang baik dapat membantu mengurangi resiko komplikasi pada penderita diabetes melitus.

Diunggah oleh

ivanaii
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan25 halaman

Perilaku Perawatan Diri Diabetes Melitus

Makalah ini membahas tentang perilaku perawatan diri pada penderita diabetes melitus dalam mengurangi resiko. Diabetes melitus merupakan masalah kesehatan besar di dunia yang jumlah penderitanya terus meningkat. Perilaku perawatan diri yang baik dapat membantu mengurangi resiko komplikasi pada penderita diabetes melitus.

Diunggah oleh

ivanaii
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

AASE7 Self Care Behaviour : Reducing Risk

OLEH

David Erikson Eduardo Tambunan

150100083

PEMBIMBING

[Link] Alona, MPH

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT /

ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS /

ILMU KEDOKTERAN PENCEGAHAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2020
MAKALAH

AASE7 Self Care Behaviour : Reducing Risk

OLEH

Davdi Erikson Eduardo Tambunan

150100083

PEMBIMBING

[Link] Alona, MPH

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT /

ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS /

ILMU KEDOKTERAN PENCEGAHAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2020
AASE7 Self Care Behaviour : Reducing Risk

OLEH

David Erikson Eduardo Tambunan

150100083

PEMBIMBING

[Link] Alona, MPH

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT /


ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS /
ILMU KEDOKTERAN PENCEGAHAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
LEMBAR PENGESAHAN

Judul : AASE7 Self Care Behaviour : Reducing Risk

Nama : David Erikson Edaurdo Tambunan


NIM : 150100083

Medan, Mei 2020


Pembimbing

[Link] Alona, MPH

NIP: 19670705271999032001

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan saduran ini dengan judul “Perilaku
Perawatan Diri pada Penderita Diabetes Melitus dalam Mengurangi Resiko”.
Tujuan penulisan saduran ini adalah untuk melengkapi persyaratan Program
Pendidikan Profesi Dokter (P3D) di Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat,
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyelesaian makalah ini, penulis penulis mengucapkan terima kasih
kepada dr. Ivana Alona, MPH atas kesediaan beliau meluangkan waktu dan pikiran
untuk membimbing, mendukung, dan memberikan masukan kepada penulis
sehingga penulis dapat menyelesaikan saduran ini dengan sebaik-baiknya. Penulis
juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang turut membantu dalam
menyelesaikan saduran ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan saduran ini masih belum sempurna. Untuk
itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sebagai masukan dalam
penulisan saduran selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat. Akhir kata penulis
mengucapkan terima kasih.

Medan, Mei 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI
Hal
LEMBAR PENGESAHAN ..............................................................................i
KATA PENGANTAR .......................................................................................ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................iii
DAFTAR TABEL .............................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR .........................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .....................................................................................1
1.2 Tujuan .................................................................................................2
1.3 Manfaat ................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................3
2.1 Diabetes Melitus ..................................................................................3
2.1.1 Definisi .........................................................................................3
2.1.2 Epidemiologi ................................................................................3
2.1.3 Faktor Risiko ................................................................................4
2.1.4 Patofisiologi .................................................................................6
2.1.5 Diagnosis......................................................................................9
2.1.6 Tatalaksana ..................................................................................10
2.1.7 Pencegahan ..................................................................................11
2.2 Perilaku self-care pada pasien diabetes melitus ..................................12

BAB III KESIMPULAN ...................................................................................17


DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................18

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Diagram Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 .........................9

Tabel 2. Nilai Tes Laboratorium Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 ...........10

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. The ominous octet, delapan organ yang berperan dalam patogenesis

hiperglikemia pada DM tipe 2 ..............................................................6

Gambar 2. Diagram perilaku self-care dalam penanganan diabetes .................14

v
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hiperglikemia adalah suatu kondisi medik berupa peningkatan kadar


glukosa dalam darah melebihi batas normal. Hiperglikemia merupakan salah
satu tanda khas penyakit diabetes mellitus (DM), meskipun juga mungkin
didapatkan pada beberapa keadaan yang lain. 1
Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan yang
besar. Data dari studi global menunjukan bahwa jumlah penderita Diabetes
Melitus pada tahun 2011 telah mencapai 366 juta orang. Jika tidak ada tindakan
yang dilakukam, jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi 552 juta pada
tahun 2030. Diabetes mellitus telah menjadi penyebab dari 4,6 juta kematian.
Selain itu pengeluaran biaya kesehatan untuk Diabetes Mellitus telah mencapai
465 miliar USD. International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan
bahwa sebanyak 183 juta orang tidak menyadari bahwa mereka mengidap DM.
Sebesar 80% orang dengan DM tinggal di negara berpenghasilan rendah dan
menengah. Pada tahun 2006, terdapat lebih dari 50 juta orang yang menderita
DM di Asia Tenggara. Jumlah penderita DM terbesar berusia antara 40-59
tahun. 2
Seiring dengan pertambahan usia, lansia mengalami kemunduran fisik dan
mental yang menimbulkan banyak konsekuensi. Selain itu, kaum lansia juga
mengalami masalah khusus yang memerlukan perhatian antara lain lebih rentan
terhadap komplikasi makrovaskular maupun mikrovaskular dari DM dan
adanya sindrom geriatri. 3
1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk meningkatkan wawasan penulis dan pembaca tentang perilaku
perawatan diri dan tatalaksana diabetes melitus.
2. Untuk menerapkan teori yang telah didapatkan mengenai penyakit
metabolik, pada kasus ini penyakit diabetes melitus.

1
2

3. Untuk memenuhi persyaratan Kepaniteraan Klinik Program Pendidikan


Profesi Dokter di Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

1.3 Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat kepada penulis dan pembaca terutama
yang terlibat di bidang medis agar dapat memberikan edukasi agar pasien
dengan diabetes melitus dapat merawat dirinya dengan baik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diabetes Melitus


2.1.1 Definisi
Diabetes melitus adalalah gangguan metabolisme yang secara genetik dan
klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi
karbohidrat, jika telah berkembang penuh secara klinis maka diabetes mellitus
ditandai dengan hiperglikemia puasa dan postprandial, aterosklerosis dan penyakit
vaskular mikroangiopati. 4
Diabetes Melitus Tipe 2 merupakan penyakit hiperglikemi akibat
insensivitas sel terhadap insulin. Kadar insulin mungkin sedikitmenurun atau
berada dalam rentang normal. Karena insulin tetap dihasilkan oleh sel-sel beta
pankreas, maka diabetes mellitus tipe II dianggap sebagai non-insulin dependent
diabetes mellitus. 4
Diabetes Melitus Tipe 2 adalah penyakit gangguan metabolik yang di tandai
oleh kenaikan gula darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas
dan atau ganguan fungsi insulin (resistensi insulin) 4
2.1.2 Epidemiologi
WHO memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4
juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Laporan ini
menunjukkan adanya peningkatan jumlah penyandang DM sebanyak 2-3 kali lipat
pada tahun 2035. Sedangkan International Diabetes Federation (IDF) memprediksi
adanya kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 9,1 juta pada tahun 2014
menjadi 14,1 juta pada tahun 2035. 1
Laporan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 oleh
Departemen Kesehatan, menunjukkan bahwa rata-rata prevalensi DM di daerah
urban untuk usia di atas 15 tahun sebesar 5,7%. Prevalensi terkecil terdapat di
Propinsi Papua sebesar 1,7%, dan terbesar di Propinsi Maluku Utara dan
Kalimantan Barat yang mencapai 11,1%. Sedangkan prevalensi toleransi glukosa

3
4

terganggu (TGT), berkisar antara 4,0% di Propinsi Jambi sampai 21,8% di Propinsi
Papua Barat dengan rerata sebesar 10.2%. 5
2.1.3 Faktor Risiko
Peningkatan jumlah penderita DM yang sebagian besar DM tipe 2, berkaitan
dengan beberapa faktor yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah, faktor risiko
yang dapat diubah dan faktor lain. Menurut American Diabetes Association (ADA)
bahwa DM berkaitan dengan faktor risiko yang tidak dapat diubah meliputiriwayat
keluarga dengan DM (first degree relative), umur ≥45 tahun, etnik, riwayat
melahirkan bayi dengan berat badan lahir bayi > 4000gram atau riwayat pernah
menderita DM gestasional dan riwayat lahir dengan beratbadan rendah (<2,5 kg).
Faktor risiko yang dapatdiubah meliputi obesitas berdasarkan IMT ≥25kg/m2 atau
lingkar perut ≥80 cm pada wanita dan ≥90 cm pada laki-laki, kurangnya aktivitas
fisik, hipertensi, dislipidemi dan diet tidak sehat. 4
Faktor lain yang terkait dengan risiko diabetes adalah penderita polycystic
ovarysindrome (PCOS), penderita sindrom metabolikmemiliki riwatyat toleransi
glukosa terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT) sebelumnya,
memiliki riwayat penyakit kardiovaskuler seperti stroke, PJK, atau peripheral
rrterial Diseases (PAD), konsumsi alkohol,faktor stres, kebiasaan merokok, jenis
kelamin,konsumsi kopi dan kafein. 4
1. Obesitas
Terdapat korelasi bermakna antara obesitas dengan kadar glukosa
darah, pada derajat kegemukan dengan IMT > 23 dapat
menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah menjadi 200mg%.
2. Hipertensi
Peningkatan tekanan darah pada hipertensi berhubungan erat dengan
tidak tepatnya penyimpanan garam dan air, atau meningkatnya
tekanan dari dalam tubuh pada sirkulasi pembuluh darah perifer.
3. Riwayat Keluarga
Seorang yang menderita Diabetes Mellitus diduga mempunyai gen
diabetes. Diduga bahwa bakat diabetes merupakan gen resesif.
5

Hanya orang yang bersifat homozigot dengan gen resesif tersebut


yang menderita Diabetes Mellitus.
4. Dislipidemia
Adalah keadaan yang ditandai dengan kenaikan kadar lemak darah
(Trigliserida > 250 mg/dl). Terdapat hubungan antara kenaikan
plasma insulin dengan rendahnya HDL (< 35 mg/dl) sering didapat
pada pasien Diabetes.
5. Umur
Berdasarkan penelitian, usia yang terbanyak terkena Diabetes
Melitus adalah > 45 tahun.
6. Riwayat persalinan
Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat atau berat badan
bayi > 4000gram.
7. Faktor Genetik
DM tipe 2 berasal dari interaksi genetis dan berbagai faktor mental
Penyakit ini sudah lama dianggap berhubungan dengan agregasi
familial. Risiko emperis dalam hal terjadinya DM tipe 2 akan
meningkat dua sampai enam kali lipat jika orang tua atau saudara
kandung mengalami penyakit ini.
8. Alkohol dan rokok
Perubahan-perubahan dalam gaya hidup berhubungan dengan
peningkatan frekuensi DM tipe 2. Walaupun kebanyakan
peningkatan ini dihubungkan dengan peningkatan obesitas dan
pengurangan ketidak aktifan fisik, faktor-faktor lain yang
berhubungan dengan perubahan dari lingkungan tradisional
kelingkungan kebarat- baratan yang meliputi perubahan-perubahan
dalam konsumsi alkohol dan rokok, juga berperan dalam
peningkatan DM tipe 2. Alkohol akan menganggu metabolisme gula
darah terutama pada penderita DM, sehingga akan mempersulit
regulasi gula darah dan meningkatkan tekanan darah. Seseorang
akan meningkat tekanan darah apabila mengkonsumsi etil alkohol
6

lebih dari 60ml/hari yang setara dengan 100 ml wiski, 240 ml wine
atau 720 ml.
2.1.4 Patogenesis
Resistensi insulin pada otot dan liver serta kegagalan sel beta pankreas telah
dikenal sebagai patofisiologi kerusakan sentral dari DM tipe-2 Belakangan
diketahui bahwa kegagalan sel beta terjadi lebih dini dan lebih berat daripada yang
diperkirakan sebelumnya. Selain otot, liver dan sel beta, organ lain seperti: jaringan
lemak (meningkatnya lipolisis), gastrointestinal (defisiensi incretin), sel alpha
pancreas (hiperglukagonemia), ginjal (peningkatan absorpsi glukosa), dan otak
(resistensi insulin), kesemuanya ikut berperan dalam menimbulkan terjadinya
gangguan toleransi glukosa pada DM tipe-2. Delapan organ penting dalam
gangguan toleransi glukosa ini (ominous octet) penting dipahami karena dasar
patofisiologi ini memberikan konsep tentang: 1
• Pengobatan harus ditujukan guna memperbaiki gangguan patogenesis,
bukan hanya untuk menurunkan HbA1c saja
• Pengobatan kombinasi yang diperlukan harus didasari atas kinerja obat
pada gangguan multipel dari patofisiologi DM tipe 2.
• Pengobatan harus dimulai sedini mungkin untuk mencegah atau
memperlambat progresivitas kegagalan sel beta yang sudah terjadi pada
penyandang gangguan toleransi glukosa.

Gambar 2.1. The ominous octet, delapan organ yang berperan dalam patogenesis
hiperglikemia pada DM tipe 2 6
7

Secara garis besar patogenesis DM tipe-2 disebabkan oleh delapan hal (omnious
octet) berikut : 1
1. Kegagalan sel beta pancreas:
Pada saat diagnosis DM tipe-2 ditegakkan, fungsi sel beta sudah
sangat berkurang. Obat anti diabetik yang bekerja melalui jalur ini
adalah sulfonilurea, meglitinid, GLP-1 agonis dan DPP-4 inhibitor.
2. Liver:
Pada penderita DM tipe-2 terjadi resistensi insulin yang berat dan
memicu gluconeogenesis sehingga produksi glukosa dalam keadaan
basal oleh liver (HGP=hepatic glucose production) meningkat. Obat
yang bekerja melalui jalur ini adalah metformin, yang menekan
proses gluconeogenesis.
3. Otot:
Pada penderita DM tipe-2 didapatkan gangguan kinerja insulin yang
multiple di intramioselular, akibat gangguan fosforilasi tirosin
sehingga timbul gangguan transport glukosa dalam sel otot,
penurunan sintesis glikogen, dan penurunan oksidasi glukosa. Obat
yang bekerja di jalur ini adalah metformin, dan tiazolidindion.
4. Sel lemak:
Sel lemak yang resisten terhadap efek antilipolisis dari insulin,
menyebabkan peningkatan proses lipolysis dan kadar asam lemak
bebas (FFA=Free Fatty Acid) dalam plasma. Penigkatan FFA akan
merangsang proses glukoneogenesis, dan mencetuskan resistensi
insulin di liver dan otot. FFA juga akan mengganggu sekresi insulin.
Gangguan yang disebabkan oleh FFA ini disebut sebagai
lipotoxocity. Obat yang bekerja dijalur ini adalah tiazolidindion.
5. Usus:
Glukosa yang ditelan memicu respon insulin jauh lebih besar
dibanding kalau diberikan secara intravena. Efek yang dikenal
sebagai efek incretin ini diperankan oleh 2 hormon GLP-1
(glucagon-like polypeptide-1) dan GIP (glucose-dependent
8

insulinotrophic polypeptide atau disebut juga gastric inhibitory


polypeptide). Pada penderita DM tipe-2 didapatkan defisiensi GLP-
1 dan resisten terhadap GIP. Disamping hal tersebut incretin segera
dipecah oleh keberadaan ensim DPP-4, sehingga hanya bekerja
dalam beberapa menit. Obat yang bekerja menghambat kinerja DPP-
4 adalah kelompok DPP-4 inhibitor. Saluran pencernaan juga
mempunyai peran dalam penyerapan karbohidrat melalui kinerja
ensim alfa-glukosidase yang memecah polisakarida menjadi
monosakarida yang kemudian diserap oleh usus dan berakibat
meningkatkan glukosa darah setelah makan. Obat yang bekerja
untuk menghambat kinerja ensim alfa-glukosidase adalah akarbosa.
6. Sel Alpha Pancreas:
Sel-α pancreas merupakan organ ke-6 yang berperan dalam
hiperglikemia dan sudah diketahui sejak 1970. Sel-α berfungsi
dalam sintesis glukagon yang dalam keadaan puasa kadarnya di
dalam plasma akan meningkat. Peningkatan ini menyebabkan HGP
dalam keadaan basal meningkat secara signifikan dibanding
individu yang normal. Obat yang menghambat sekresi glucagon atau
menghambat reseptor glukagon meliputi GLP-1 agonis, DPP-4
inhibitor dan amylin.
7. Ginjal:
Ginjal merupakan organ yang diketahui berperan dalam
pathogenesis DM tipe-2. Ginjal memfiltrasi sekitar 163 gram
glukosa sehari. Sembilan puluh persen dari glukosa terfiltrasi ini
akan diserap kembali melalui peran SGLT-2 (Sodium Glucose co-
Transporter) pada bagian convulated tubulus proksimal. Sedang
10% sisanya akan di absorbsi melalui peran SGLT-1 pada tubulus
desenden dan asenden, sehingga akhirnya tidak ada glukosa dalam
urine. Pada penderita DM terjadi peningkatan ekspresi gen SGLT-
2. Obat yang menghambat kinerja SGLT-2 ini akan menghambat
penyerapan kembali glukosa di tubulus ginjal sehingga glukosa akan
9

dikeluarkan lewat urine. Obat yang bekerja di jalur ini adalah SGLT-
2 inhibitor. Dapaglifozin adalah salah satu contoh obatnya.
8. Otak:
Insulin merupakan penekan nafsu makan yang kuat. Pada individu
yang obese baik yang DM maupun non-DM, didapatkan
hiperinsulinemia yang merupakan mekanisme kompensasi dari
resistensi insulin. Pada golongan ini asupan makanan justru
meningkat akibat adanya resistensi insulin yang juga terjadi di otak.
Obat yang bekerja di jalur Ini adalah GLP-1 agonis, amylin dan
bromokriptin.
2.1.5 Diagnosis
Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah.
Pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara
enzimatik dengan bahan plasma darah vena. Pemantauan hasil pengobatan dapat
dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan
glukometer. Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria. 1
Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang DM. Kecurigaan
adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan seperti: 1
• Keluhan klasik DM: poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan
berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
• Keluhan lain: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan
disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita.
Pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥ 126mg/dl. Puasa adalah kondisi tidak adanya
asupan kalori selama minimal 8 jam.
Atau
Pemeriksaan glukosa plasma ≥ 200mg/dl 2 jam setelah tes toleransi glukosa oral
dengan beban glukosa 75gram.
Atau
Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu ≥200mg/dl dengan gejala klasik
Atau
Pemeriksaan HbA1c ≥6,5% dengan menggunakan metode yang terstandarisasi oleh
National Glycohaemoglobin Standarization Project (NGSP).
10

Tabel 2.1. Diagram Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 1

Hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria normal atau kriteria DM


digolongkan ke dalam kelompok prediabetes yang meliputi: toleransi glukosa
terganggu (TGT) dan glukosa darah puasa terganggu (GDPT): 1

• Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT): Hasil pemeriksaan glukosa


plasma puasa antara 100-125 mg/dl dan pemeriksaan TTGO glukosa
plasma 2-jam <140 mg/dl;
• Toleransi Glukosa Terganggu (TGT): Hasil pemeriksaan glukosa
plasma 2 -jam setelah TTGO antara 140-199 mg/dl dan glukosa
plasma puasa <100 mg/dl
• Bersama-sama didapatkan GDPT dan TGT
• Diagnosis prediabetes dapat juga ditegakkan berdasarkan hasil
pemeriksaan HbA1c yang menunjukkan angka 5,7-6,4%.
HbA1c(%) Glukosa darah Glukosa plasma 2
puasa (mg/dl) jam post TTGO
Diabetes ≥6,5 ≥126 ≥200
Prediabetes 5,7-6,4 100-125 140-199
Normal <5,7 <100 <140
Tabel 2.2. Nilai tes laboratorium untuk pasien diabetes melitus.1
2.1.6 Tatalaksana
Penatalaksanaan DM dimulai dengan menerapkan pola hidup sehat (terapi
nutrisi medis dan aktivitas fisik) bersamaan dengan intervensi farmakologis dengan
obat anti hiperglikemia secara oral dan/atau suntikan. Obat anti hiperglikemia oral
dapat diberikan sebagai terapi tunggal atau kombinasi. Pada keadaan emergensi
dengan dekompensasi metabolik berat, misalnya: ketoasidosis, stres berat, berat
badan yang menurun dengan cepat, atau adanya ketonuria, harus segera dirujuk ke
Pelayanan Kesehatan Sekunder atau Tersier. 1
a. Edukasi
Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perlu selalu dilakukan sebagai
bagian dari upaya pencegahan dan merupakan bagian yang sangat penting
dari pengelolaan DM secara holistik
11

b. Terapi Nutrisi Medis


TNM merupakan bagian penting dari penatalaksanaan DMT2 secara
komprehensif. Kunci keberhasilannya adalah keterlibatan secara
menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan yang lain
serta pasien dan keluarganya). Guna mencapai sasaran terapi TNM
sebaiknya diberikan sesuai dengan kebutuhan setiap penyandang DM.
Prinsip pengaturan makan pada penyandang DM hampir sama dengan
anjuran makan untuk masyarakat umum, yaitu makanan yang seimbang dan
sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu.
Penyandang DM perlu diberikan penekanan mengenai pentingnya
keteraturan jadwal makan, jenis dan jumlah kandungan kalori, terutama
pada mereka yang menggunakan obat yang meningkatkan sekresi insulin
atau terapi insulin itu sendiri.
c. Jasmani
Latihan jasmani merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DMT2
apabila tidak disertai adanya nefropati. Kegiatan jasmani sehari-hari dan
latihan jasmani dilakukan secara secara teratur sebanyak 3-5 kali perminggu
selama sekitar 30-45 menit, dengan total 150 menit perminggu. Jeda antar
latihan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut
d. Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan makan dan
latihan jasmani (gaya hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari obat oral
dan bentuk suntikan.
2.1.7 Pencegahan
Mengingat jumlah pasien yang membengkak dan tingginya biaya perawatan
pasien diabetes yang terutama disebabkan oleh komplikasinya, maka upaya terbaik
adalah pencegahan. Menurut WHO tahun 1994, upaya pencegahan pada diabetes
meliputi tiga tahap yaitu: 7
• Pencegahan primer
12

Semua aktivitas yang ditujukan untuk mencegah timbulnya hiperglikemia


pada individu yang berisiko untuk menjadi diabetes atau pada populasi
umum.
• Pencegahan sekunder
Menemukan pengidap DM sedini mungkin misalnya dengan tes screening,
terutama pada populasi risiko tinggi. Dengan demikian, pasien diabetes
yang sebelumnya tidak terdiagnosis dapat terjaring, hingga demikian dapat
dilakukan pencegahan terhadap komplikasi, ataupun jika sudah ada
komplikasi bisa reversible.
• Pencegahan tersier
Semua upaya untuk mencegah komplikasi atau kecacatan akibat
komplikasi. (IPD UI)
2.2 Perilaku self-care pada pasien diabetes melitus
Penyakit DM dikenal dengan sebutan “lifelong disease” karena penyakit
tersebut tidak dapat disembuhkan. Penderita penyakit diabetes bukan berarti tidak
dapat hidup normal dalam kesehariannya. Penderita diabetes juga dapat hidup
normal dengan mengendalikan risiko terjadinya komplikasi akibat DM. 8
Tujuan utama pengelolaan DM adalah mengatur kadar glukosa dalam batas
normal guna mengurangi gejala dan mencegah komplikasi DM. Arifin (2011)
mengatakan bahwa hal yang mendasar dalam pengelolaan DM, terutama DM tipe
2 adalah perubahan pola hidup, meliputi pola makan yang baik dan olahraga
teratur.8
Kemampuan individu dalam mengelola kehidupan sehari-hari, mengendalikan
serta mengurangi dampak penyakit yang dideritanya dikenal dengan self-
management. Menurut Konsensus Pengendalian dan Pencegahan DM Tipe 2 di
Indonesia tahun 2011, perilaku sehat yang merepresentasikan self-management
pada pasien DM antara lain mengikuti pola makan sehat, meningkatkan kegiatan
jasmani, menggunakan obat DM dan obat-obat pada keadaan khusus secara aman
dan teratur, melakukan pemantauan kadar gula darah serta melakukan perawatan
kaki secara berkala.8
13

Self-management perlu dipahami sebagai sebuah proses yang tidak hanya


berkembang dari waktu ke waktu, tetetapi juga berkembang dalam kaitannya
dengan jenis pengalaman penyakit seseorang dan masalah spesifik tentang
kesehatan mereka. Self-management memungkinkan pasien untuk
mengembangkan keterampilan dalam memecahkan masalah, meningkatkan
keyakinan diri (self-efficacy) dan mendukung aplikasi pengetahuan dalam
kehidupan nyata. Adanya keterampilan memecahkan masalah pada penyakit DM,
memungkinkan pasien untuk membuat suatu keputusan tentang pengelolaan yang
terbaik untuk dirinya. Pengelolaan diri tersebut sangat berpengaruh terhadap proses
dan hasil pengelolaan penyakit DM. 8
Kemajuan dalam dukungan edukasi dan manajemen diri pada pasien diabetes
(DSMES) menekankan efek dari beban emosional diabetes pada aspek metabolisme
dan kualitas hidup. Health Coping (adaptasi kesehatan) harus dimulai sebelum
edukasi dapat dilaksanakan, perilaku ini terletak di pusat untuk melambangkan
signifikansinya dalam manajemen diri pasien diabetes secara berkelanjutan. Cincin
bagian dalam berisi Healthy eating (makan makanan sehat), being active (aktif),
dan taking medications (konsumsi obat-obatan). Tiga perilaku ini seringkali
berfungsi sebagai dasar untuk rencana perawatan pasien karena tiga hal ini meliputi
apa hal yang harus dilakukan setiap hari secara rutin oleh penderita diabetes.
Lingkaran berikutnya, Monitoring (pemantauan), melingkari 4 perilaku perawatan
diri di atas. Dengan mengumpulkan data yang dipersonalisasi, pemantauan
membantu mengubah beberapa komponen diabetes yang tidak terlihat menjadi
komponen yang dapat dipahami. Edukasi yang baik dapat meningkatkan
kemampuan pasien untuk mengolah informasi yang didapat dari proses pemantauan
agar dapat mendorong perubahan perilaku. Sama pentingnya, bagian cincin terluar
terdiri dari perilaku risk reduction (minimalisir risiko) dan problem solving
(pemecahan masalah), yang dapat memengaruhi motivasi, penentuan tujuan
pengobatan, dan kemampuan untuk realisasi tujuan menjadi tindakan nyata. 9
14

Gambar 2.2 Diagram perilaku self-care dalam penanganan diabetes 9

2.3. Reducing Risk

Mengurangi risiko berarti melakukan perilaku yang meminimalkan atau mencegah


komplikasi dan hasil negatif dari pradiabetes dan diabetes.

Contoh perilaku ini adalah membuat perubahan gaya hidup positif, berpartisipasi
dalam pencegahan diabetes tipe 2 atau program edukasi swadaya manajemen dan
diabetes, mendapatkan tidur yang cukup, dan mendapatkan vaksin dan
pemeriksaan kesehatan yang direkomendasikan. Mengurangi risiko berarti Anda
perlu mengakui bahwa tindakan pencegahan yang Anda lakukan sekarang akan
memberi Anda manfaat bertahun-tahun dari sekarang dan bahwa Anda memiliki
kekuatan untuk mengubah hasil kesehatan Anda.
15

EMPAT WAKTU KRITIS UNTUK BERTEMU SPESIALIS PERAWATAN DAN EDUKASI


DIABETES
• Ketika anda pertama kali didiagnosis dengan diabetes
• Ketika anda mengalami perubahan yang mempengaruhi manajemen diri
anda seperti kesulitan finansial atau emosional
• Sekurang-kurangnya sekali dalam setahun
• Ketika anda memiliki perubahan dalam penyedia anda, asuransi atau situasi
kehidupan

Spesialis perawatan dan pendidikan diabetes Anda dapat membantu Anda dengan
perencanaan dan penjadwalan pemeriksaan kesehatan yang direkomendasikan.
Tugas ini bisa menjadi kurang berat ketika Anda membaginya menjadi tugas yang
lebih kecil dan dapat dilakukan. Buatlah daftar tugas dan keputusan, kemudian
kerjakan satu per satu sampai Anda menyelesaikan daftar. Berikut adalah contoh
daftar tugas untuk mendapatkan ujian mata tahunan
• Temukan cakupan asuransi dan biaya untuk pemeriksaan mata.
• Identifikasi penyedia mata di jaringan Anda dan pilih satu.
• Panggil dan jadwalkan janji temu.
• Buat pengaturan untuk memberikan waktu untuk janji temu.
• Berpartisipasi aktif dalam penunjukan
Memastikan Anda mendapatkan pemeriksaan kesehatan yang direkomendasikan
dan mengikuti rencana perawatan Anda adalah langkah positif yang dapat Anda
ambil untuk mengurangi risiko komplikasi. Mengambil peran aktif dalam menjaga
jantung, ginjal, dan mata Anda senormal mungkin membantu Anda mencapai
kualitas hidup yang Anda inginkan. Bertindak lebih awal sehingga Anda bisa tetap
sehat dalam jangka panjang! Seorang spesialis perawatan diabetes dan pendidikan
dapat menjadi sumber yang bagus untuk membantu Anda memahami cara
mengurangi risiko Anda. Minta penyedia Anda untuk merujuk anda
BAB III

KESIMPULAN

Diabetes melitus adalalah gangguan metabolisme yang secara genetik dan


klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi
karbohidrat, jika telah berkembang penuh secara klinis maka diabetes mellitus
ditandai dengan hiperglikemia puasa dan postprandial, aterosklerosis dan penyakit
vaskular mikroangiopati.
WHO memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4
juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Laporan ini
menunjukkan adanya peningkatan jumlah penyandang DM sebanyak 2-3 kali lipat
pada tahun 2035. Sedangkan International Diabetes Federation (IDF) memprediksi
adanya kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 9,1 juta pada tahun 2014
menjadi 14,1 juta pada tahun 2035.
Memastikan Anda mendapatkan pemeriksaan kesehatan yang
direkomendasikan dan mengikuti rencana perawatan Anda adalah langkah positif
yang dapat Anda ambil untuk mengurangi risiko komplikasi. Mengambil peran
aktif dalam menjaga jantung, ginjal, dan mata Anda senormal mungkin membantu
Anda mencapai kualitas hidup yang Anda inginkan. Bertindak lebih awal sehingga
Anda bisa tetap sehat dalam jangka panjang! Seorang spesialis perawatan diabetes
dan pendidikan dapat menjadi sumber yang bagus untuk membantu Anda
memahami cara mengurangi risiko Anda
.

16
17

DAFTAR PUSTAKA

1. Soelistijo, AS., Novida, H., Rudijanto, A., Soewondo, P., Suastika, K.,
Manaf, A., et al. 2015, “Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes
Melitus Tipe 2 di Indonesia Tahun 2015”, Jakarta: PB PERKENI
2. Trisnawati, SK., Setyorogo, S. 2013, “Faktor Risiko Kejadian Diabetes
Melitus Tipe 2 di Puskesmas Kecamatan Cengkareng Jakarta Barat Tahun
2012”, Jurnal Ilmiah Kesehatan, vol. 5, no. 1, pp. 6-11
3. Kurniawan, I. 2010, “Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Usia Lanjut”, Majalah
Kedokteran Indonesia, vol. 60, no. 12, pp. 576-584
4. Fatimah, RN. 2015, “Diabetes Melitus Tipe 2”, Jurnal J Majority, vol. 4,
no.5, pp. 93-101
5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008, “Riset Kesehatan Dasar
Nasional 2007”
6. DeFronzo, RA. 2009, “From the Triumvirate to the Omnious Octet: A New
Paradigm for the Treatment of Type 2 Diabetes Mellitus”, Diabetes, vol. 58,
no. 4, pp. 773-795
7. Setiati, S., Alwi, I., Sudoyo AW., Simadibrata, M., Setiyohadi, B., Syam,
AF. 2014, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi Keenam, Jakarta: Interna
Publishing
8. Putri, DSR., Yudianto, K., Kurniawan, T. 2013, “Perilaku Self-Management
Pasien Diabetes Melitus (DM)”, Jurnal Keperawatan Padjadjaran, vol. 1,
no. 1, pp. 30-38
9. American Association of Diabetes Educators. 2020, “An Effective Model
of Diabetes Care and Education”, The Diabetes Educator, vol. 46, no. 2, pp.
139-160
10. Association of Diabetes Care and Education Specialists. 2020, “AADE7
Self-care Behaviors: Taking Medications”, pp. 1-2

Anda mungkin juga menyukai