Perilaku Perawatan Diri Diabetes Melitus
Perilaku Perawatan Diri Diabetes Melitus
OLEH
150100083
PEMBIMBING
FAKULTAS KEDOKTERAN
MEDAN
2020
MAKALAH
OLEH
150100083
PEMBIMBING
FAKULTAS KEDOKTERAN
MEDAN
2020
AASE7 Self Care Behaviour : Reducing Risk
OLEH
150100083
PEMBIMBING
NIP: 19670705271999032001
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan saduran ini dengan judul “Perilaku
Perawatan Diri pada Penderita Diabetes Melitus dalam Mengurangi Resiko”.
Tujuan penulisan saduran ini adalah untuk melengkapi persyaratan Program
Pendidikan Profesi Dokter (P3D) di Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat,
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyelesaian makalah ini, penulis penulis mengucapkan terima kasih
kepada dr. Ivana Alona, MPH atas kesediaan beliau meluangkan waktu dan pikiran
untuk membimbing, mendukung, dan memberikan masukan kepada penulis
sehingga penulis dapat menyelesaikan saduran ini dengan sebaik-baiknya. Penulis
juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang turut membantu dalam
menyelesaikan saduran ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan saduran ini masih belum sempurna. Untuk
itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sebagai masukan dalam
penulisan saduran selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat. Akhir kata penulis
mengucapkan terima kasih.
Penulis
ii
DAFTAR ISI
Hal
LEMBAR PENGESAHAN ..............................................................................i
KATA PENGANTAR .......................................................................................ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................iii
DAFTAR TABEL .............................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR .........................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .....................................................................................1
1.2 Tujuan .................................................................................................2
1.3 Manfaat ................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................3
2.1 Diabetes Melitus ..................................................................................3
2.1.1 Definisi .........................................................................................3
2.1.2 Epidemiologi ................................................................................3
2.1.3 Faktor Risiko ................................................................................4
2.1.4 Patofisiologi .................................................................................6
2.1.5 Diagnosis......................................................................................9
2.1.6 Tatalaksana ..................................................................................10
2.1.7 Pencegahan ..................................................................................11
2.2 Perilaku self-care pada pasien diabetes melitus ..................................12
iii
DAFTAR TABEL
Tabel 2. Nilai Tes Laboratorium Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 ...........10
iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. The ominous octet, delapan organ yang berperan dalam patogenesis
v
BAB I
PENDAHULUAN
1
2
1.3 Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat kepada penulis dan pembaca terutama
yang terlibat di bidang medis agar dapat memberikan edukasi agar pasien
dengan diabetes melitus dapat merawat dirinya dengan baik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
3
4
terganggu (TGT), berkisar antara 4,0% di Propinsi Jambi sampai 21,8% di Propinsi
Papua Barat dengan rerata sebesar 10.2%. 5
2.1.3 Faktor Risiko
Peningkatan jumlah penderita DM yang sebagian besar DM tipe 2, berkaitan
dengan beberapa faktor yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah, faktor risiko
yang dapat diubah dan faktor lain. Menurut American Diabetes Association (ADA)
bahwa DM berkaitan dengan faktor risiko yang tidak dapat diubah meliputiriwayat
keluarga dengan DM (first degree relative), umur ≥45 tahun, etnik, riwayat
melahirkan bayi dengan berat badan lahir bayi > 4000gram atau riwayat pernah
menderita DM gestasional dan riwayat lahir dengan beratbadan rendah (<2,5 kg).
Faktor risiko yang dapatdiubah meliputi obesitas berdasarkan IMT ≥25kg/m2 atau
lingkar perut ≥80 cm pada wanita dan ≥90 cm pada laki-laki, kurangnya aktivitas
fisik, hipertensi, dislipidemi dan diet tidak sehat. 4
Faktor lain yang terkait dengan risiko diabetes adalah penderita polycystic
ovarysindrome (PCOS), penderita sindrom metabolikmemiliki riwatyat toleransi
glukosa terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT) sebelumnya,
memiliki riwayat penyakit kardiovaskuler seperti stroke, PJK, atau peripheral
rrterial Diseases (PAD), konsumsi alkohol,faktor stres, kebiasaan merokok, jenis
kelamin,konsumsi kopi dan kafein. 4
1. Obesitas
Terdapat korelasi bermakna antara obesitas dengan kadar glukosa
darah, pada derajat kegemukan dengan IMT > 23 dapat
menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah menjadi 200mg%.
2. Hipertensi
Peningkatan tekanan darah pada hipertensi berhubungan erat dengan
tidak tepatnya penyimpanan garam dan air, atau meningkatnya
tekanan dari dalam tubuh pada sirkulasi pembuluh darah perifer.
3. Riwayat Keluarga
Seorang yang menderita Diabetes Mellitus diduga mempunyai gen
diabetes. Diduga bahwa bakat diabetes merupakan gen resesif.
5
lebih dari 60ml/hari yang setara dengan 100 ml wiski, 240 ml wine
atau 720 ml.
2.1.4 Patogenesis
Resistensi insulin pada otot dan liver serta kegagalan sel beta pankreas telah
dikenal sebagai patofisiologi kerusakan sentral dari DM tipe-2 Belakangan
diketahui bahwa kegagalan sel beta terjadi lebih dini dan lebih berat daripada yang
diperkirakan sebelumnya. Selain otot, liver dan sel beta, organ lain seperti: jaringan
lemak (meningkatnya lipolisis), gastrointestinal (defisiensi incretin), sel alpha
pancreas (hiperglukagonemia), ginjal (peningkatan absorpsi glukosa), dan otak
(resistensi insulin), kesemuanya ikut berperan dalam menimbulkan terjadinya
gangguan toleransi glukosa pada DM tipe-2. Delapan organ penting dalam
gangguan toleransi glukosa ini (ominous octet) penting dipahami karena dasar
patofisiologi ini memberikan konsep tentang: 1
• Pengobatan harus ditujukan guna memperbaiki gangguan patogenesis,
bukan hanya untuk menurunkan HbA1c saja
• Pengobatan kombinasi yang diperlukan harus didasari atas kinerja obat
pada gangguan multipel dari patofisiologi DM tipe 2.
• Pengobatan harus dimulai sedini mungkin untuk mencegah atau
memperlambat progresivitas kegagalan sel beta yang sudah terjadi pada
penyandang gangguan toleransi glukosa.
Gambar 2.1. The ominous octet, delapan organ yang berperan dalam patogenesis
hiperglikemia pada DM tipe 2 6
7
Secara garis besar patogenesis DM tipe-2 disebabkan oleh delapan hal (omnious
octet) berikut : 1
1. Kegagalan sel beta pancreas:
Pada saat diagnosis DM tipe-2 ditegakkan, fungsi sel beta sudah
sangat berkurang. Obat anti diabetik yang bekerja melalui jalur ini
adalah sulfonilurea, meglitinid, GLP-1 agonis dan DPP-4 inhibitor.
2. Liver:
Pada penderita DM tipe-2 terjadi resistensi insulin yang berat dan
memicu gluconeogenesis sehingga produksi glukosa dalam keadaan
basal oleh liver (HGP=hepatic glucose production) meningkat. Obat
yang bekerja melalui jalur ini adalah metformin, yang menekan
proses gluconeogenesis.
3. Otot:
Pada penderita DM tipe-2 didapatkan gangguan kinerja insulin yang
multiple di intramioselular, akibat gangguan fosforilasi tirosin
sehingga timbul gangguan transport glukosa dalam sel otot,
penurunan sintesis glikogen, dan penurunan oksidasi glukosa. Obat
yang bekerja di jalur ini adalah metformin, dan tiazolidindion.
4. Sel lemak:
Sel lemak yang resisten terhadap efek antilipolisis dari insulin,
menyebabkan peningkatan proses lipolysis dan kadar asam lemak
bebas (FFA=Free Fatty Acid) dalam plasma. Penigkatan FFA akan
merangsang proses glukoneogenesis, dan mencetuskan resistensi
insulin di liver dan otot. FFA juga akan mengganggu sekresi insulin.
Gangguan yang disebabkan oleh FFA ini disebut sebagai
lipotoxocity. Obat yang bekerja dijalur ini adalah tiazolidindion.
5. Usus:
Glukosa yang ditelan memicu respon insulin jauh lebih besar
dibanding kalau diberikan secara intravena. Efek yang dikenal
sebagai efek incretin ini diperankan oleh 2 hormon GLP-1
(glucagon-like polypeptide-1) dan GIP (glucose-dependent
8
dikeluarkan lewat urine. Obat yang bekerja di jalur ini adalah SGLT-
2 inhibitor. Dapaglifozin adalah salah satu contoh obatnya.
8. Otak:
Insulin merupakan penekan nafsu makan yang kuat. Pada individu
yang obese baik yang DM maupun non-DM, didapatkan
hiperinsulinemia yang merupakan mekanisme kompensasi dari
resistensi insulin. Pada golongan ini asupan makanan justru
meningkat akibat adanya resistensi insulin yang juga terjadi di otak.
Obat yang bekerja di jalur Ini adalah GLP-1 agonis, amylin dan
bromokriptin.
2.1.5 Diagnosis
Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah.
Pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara
enzimatik dengan bahan plasma darah vena. Pemantauan hasil pengobatan dapat
dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan
glukometer. Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria. 1
Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang DM. Kecurigaan
adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan seperti: 1
• Keluhan klasik DM: poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan
berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
• Keluhan lain: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan
disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita.
Pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥ 126mg/dl. Puasa adalah kondisi tidak adanya
asupan kalori selama minimal 8 jam.
Atau
Pemeriksaan glukosa plasma ≥ 200mg/dl 2 jam setelah tes toleransi glukosa oral
dengan beban glukosa 75gram.
Atau
Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu ≥200mg/dl dengan gejala klasik
Atau
Pemeriksaan HbA1c ≥6,5% dengan menggunakan metode yang terstandarisasi oleh
National Glycohaemoglobin Standarization Project (NGSP).
10
Contoh perilaku ini adalah membuat perubahan gaya hidup positif, berpartisipasi
dalam pencegahan diabetes tipe 2 atau program edukasi swadaya manajemen dan
diabetes, mendapatkan tidur yang cukup, dan mendapatkan vaksin dan
pemeriksaan kesehatan yang direkomendasikan. Mengurangi risiko berarti Anda
perlu mengakui bahwa tindakan pencegahan yang Anda lakukan sekarang akan
memberi Anda manfaat bertahun-tahun dari sekarang dan bahwa Anda memiliki
kekuatan untuk mengubah hasil kesehatan Anda.
15
Spesialis perawatan dan pendidikan diabetes Anda dapat membantu Anda dengan
perencanaan dan penjadwalan pemeriksaan kesehatan yang direkomendasikan.
Tugas ini bisa menjadi kurang berat ketika Anda membaginya menjadi tugas yang
lebih kecil dan dapat dilakukan. Buatlah daftar tugas dan keputusan, kemudian
kerjakan satu per satu sampai Anda menyelesaikan daftar. Berikut adalah contoh
daftar tugas untuk mendapatkan ujian mata tahunan
• Temukan cakupan asuransi dan biaya untuk pemeriksaan mata.
• Identifikasi penyedia mata di jaringan Anda dan pilih satu.
• Panggil dan jadwalkan janji temu.
• Buat pengaturan untuk memberikan waktu untuk janji temu.
• Berpartisipasi aktif dalam penunjukan
Memastikan Anda mendapatkan pemeriksaan kesehatan yang direkomendasikan
dan mengikuti rencana perawatan Anda adalah langkah positif yang dapat Anda
ambil untuk mengurangi risiko komplikasi. Mengambil peran aktif dalam menjaga
jantung, ginjal, dan mata Anda senormal mungkin membantu Anda mencapai
kualitas hidup yang Anda inginkan. Bertindak lebih awal sehingga Anda bisa tetap
sehat dalam jangka panjang! Seorang spesialis perawatan diabetes dan pendidikan
dapat menjadi sumber yang bagus untuk membantu Anda memahami cara
mengurangi risiko Anda. Minta penyedia Anda untuk merujuk anda
BAB III
KESIMPULAN
16
17
DAFTAR PUSTAKA
1. Soelistijo, AS., Novida, H., Rudijanto, A., Soewondo, P., Suastika, K.,
Manaf, A., et al. 2015, “Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes
Melitus Tipe 2 di Indonesia Tahun 2015”, Jakarta: PB PERKENI
2. Trisnawati, SK., Setyorogo, S. 2013, “Faktor Risiko Kejadian Diabetes
Melitus Tipe 2 di Puskesmas Kecamatan Cengkareng Jakarta Barat Tahun
2012”, Jurnal Ilmiah Kesehatan, vol. 5, no. 1, pp. 6-11
3. Kurniawan, I. 2010, “Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Usia Lanjut”, Majalah
Kedokteran Indonesia, vol. 60, no. 12, pp. 576-584
4. Fatimah, RN. 2015, “Diabetes Melitus Tipe 2”, Jurnal J Majority, vol. 4,
no.5, pp. 93-101
5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008, “Riset Kesehatan Dasar
Nasional 2007”
6. DeFronzo, RA. 2009, “From the Triumvirate to the Omnious Octet: A New
Paradigm for the Treatment of Type 2 Diabetes Mellitus”, Diabetes, vol. 58,
no. 4, pp. 773-795
7. Setiati, S., Alwi, I., Sudoyo AW., Simadibrata, M., Setiyohadi, B., Syam,
AF. 2014, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi Keenam, Jakarta: Interna
Publishing
8. Putri, DSR., Yudianto, K., Kurniawan, T. 2013, “Perilaku Self-Management
Pasien Diabetes Melitus (DM)”, Jurnal Keperawatan Padjadjaran, vol. 1,
no. 1, pp. 30-38
9. American Association of Diabetes Educators. 2020, “An Effective Model
of Diabetes Care and Education”, The Diabetes Educator, vol. 46, no. 2, pp.
139-160
10. Association of Diabetes Care and Education Specialists. 2020, “AADE7
Self-care Behaviors: Taking Medications”, pp. 1-2