0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan16 halaman

Pemikiran Filsafat Ibnu Rusyd

Makalah ini membahas tentang Ibnu Rusyd dan pemikiran filsafatnya. Ibnu Rusyd adalah filsuf Islam terkemuka abad ke-12 yang berasal dari Andalusia. Ia dikenal sebagai komentator terbesar atas filsafat Aristoteles. Pemikirannya mempengaruhi perkembangan filsafat di Eropa. Ibnu Rusyd dikenal dengan kritiknya terhadap Al-Ghazali dan upayanya untuk mengharmokan antara agama dan

Diunggah oleh

muhammad baihaqi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan16 halaman

Pemikiran Filsafat Ibnu Rusyd

Makalah ini membahas tentang Ibnu Rusyd dan pemikiran filsafatnya. Ibnu Rusyd adalah filsuf Islam terkemuka abad ke-12 yang berasal dari Andalusia. Ia dikenal sebagai komentator terbesar atas filsafat Aristoteles. Pemikirannya mempengaruhi perkembangan filsafat di Eropa. Ibnu Rusyd dikenal dengan kritiknya terhadap Al-Ghazali dan upayanya untuk mengharmokan antara agama dan

Diunggah oleh

muhammad baihaqi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

IBNU RUSYD (MAKALAH FISAFAT ISLAM)

IBNU RUSYD

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dominasi pengaruh filsafat Yunani kian menimbulkan masalah dan tantangan


tersendiri terhadap eksistensi filsafat Islam. Secara internal munculnya
kritisisme dan bahkan tuduhan negatif oleh kalangan ulama orthodok terhadap
pemikiran filsafat dalam Islam. Secara eksternal ada sanggahan bahwa
sebenarnya filsafat Islam tidak ada, yang ada hanyalah umat Islam
memfilsafatkan filsafat Yunani agar sesuai dengan ajaran Islam. Persoalannya
adalah apakah benar filsafat telah menyelewengkan keyakinan Islam? Dengan
demikian, benarkah para filosof Muslim adalah ahli bid’ah dan kufr? Seperti
terlihat dalam tuduhan-tuduhan kaum orthodok. Karena itu persoalan ini
diangkat dalam makalah ini dengan tema sentralnya Ibnu Rusyd.

Persoalan ini sangat urgen untuk diselesaikan karena sudah menyangkut


persoalan sensitif keimanan dan karena ternyata ikhtilaf dalam metode
keilmuan untuk memahami ajaran agama sampai pada klaim-klaim kebenaran
tentang status agama seseorang.

Penyusunan makalah ini berawal dari tugas yang diberikan oleh Bpk. Rafiudin
selaku dosen pembimbing mata kuliah “Filsafat Umum” kepada kami. Dan
makalah ini akan kami jadikan sebagai bahan belajar kelompok atau diskusi.
Jadikanlah makalah ini sebagai penambah wawasan dalam peningakatan
kegiatan belajar.

B. Perumusan Masalah
Penjelasan tentang Ibnu Rusyid dan sejarahnya.

Ibnu Rusyid sebagai filosof.

Pengaruh pemikiran Ibnu Rusyid terhadap perkembangan filsafat.

C. Tujuan

Menambah wawasan tentang Ibnu rusyid dan kehidupannya sebagai filosof.

Memahami hasil pemikiran Ibnu Rusyid dan karya-karyanya

Sebagai bahan diskusi atau belajar kelompok.

D. Sistematika Penulisan

Bab I: Pendahuluan

Bab II: Ibnu Rusyid

Bab III: Penutup

BAB II

Ibnu Rusyd
A. Biografi Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan
pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk
mengabdi sebagai "Kadi" (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu Rusyd
dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang
mempengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan, termasuk pemikir
semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk
mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum.

Diantara para filosof Islam, Ibnu Rusyd adalah salah seorang yang paling
dikenal dunia Barat dan Timur. Nama lengkapnya Abu al-Walid Muhammad
ibnu Ahmad Ibnu Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ahmad ibnu rusyd, lahir di
Cordova, Andalus pada tahun 520 H/ 1126 M, sekitar 15 tahun setelah
wafatnya abu Hamid al-Ghazali. Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-
hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah seorang anak
yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak ilmu,
seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami
filsafat dari Abu Ja'far Harun dan Ibnu Baja.

Ia ditulis sebagai satu-satunya filsuf Islam yang tumbuh dan berkembang dalam
keluarga yang semuanya menjadi fuqaha’ dan hakim. Ayahnya dan kakeknya
menjadi hakim-hakim agung di Andalusia. Ibnu Rusyd sendiri menjabat hakim
di Sevilla dan Cordova pada saat terjadi hubungan politik yang penting antara
Andalusia dengan Marakasy, pada masa Khalifah al-Manshur. Hal itu
mencerminkan kecerdasan otak dan ghirah kepada ilmu pengetahuan dalam
keluarga ini sudah tumbuh sejak lama yang kemudian semakin sempurna pada
diri ibnu Rusyd. Karena itu, dengan modal dan kondisi ini ia dapat mewarisi
sepenunya intelektualitas keluarganya dan menguasai berbagai disiplin ilmu
yang ada pada masanya.

Tidak hanya seorang ilmuan terpandang, ia juga ikut ke medan perang


melawan Alphonse, raja Argon. Khalifah begitu menghormati Ibnu Rusyd
melebihi penghormatannya pada para pejabat daulah al-Muwahhidun dan
ulama-ulama yang ada masa itu. Walau pun demikian Ibnu Rusyd tetap
menjadi orang yang rendah hati, ia menampilkan diri secara arif selayaknya
seorang guru dalam memberi petunjuk dan pengajaran pada umat. Hubungan
dekat dengan Khalifah segera berakhir, setelah Khalifah menyingkirkannya dari
bahagian kekuasaan di Cordova dan buku-buku karyanya pernah diperintahkan
Khalifah untuk dimusnahkan kecuali yang berkaitan dengan ilmu-ilmu murni
saja. Ibnu Rusyd mengalami hidup pengasingan di Yasyanah. Tindakan Khalifah
ini menurut Nurcholish Madjid, hanya berdasarkan perhitungan politis, dimana
suasana tidak kondusif dimanfaatkan oleh para ulama konservatif dengan
kebencian dan kecemburuan yang terpendam terhadap kedudukan Ibnu Rusyd
yang tinggi.

Pengalaman pahit dan tragis yang dialami Ibnu Rusyd adalah seperti
pengalaman hidup yang dialami para pemikir kreatif dan inovatif terdahulu.
Namun kecintaannya kepada ilmu pengetahuan, membaca, menulis dan
bermuzakarah tidak pernah surut. Kecintaan pada ilmu pengetahuan
membentuk kepribadiannya sebagai seorang inklusif, toleran dan suka
memberi maaf. Sifat kepribadian ini menurut al-Aqqad menyebabkan ia (saat
menjadi hakim) selalu sulit dalam menjatuhkan eksekusi, dan jika eksekusi
harus dilakukan ia serahkan kepada para wakilnya.

Di dunia Barat ia disebut dengan Averrois, menurut Sirajuddin Zar, sebutan ini
sebenarnya lebih pantas untuk kakeknya. Karena sebutan ini adalah akibat
terjadinya metamorfose Yahudi-Spanyol-Latin. Kata Arab Ibnu oleh orang
Yahudi diucapkan seperti kata Ibrani Aben, sedangkan dalam standar Latin
Rusyd menjadi Rochd. Dengan demikian, nama Ibnu Rusyd menjadi Aben
Rochd, maka melalui asimilasi huruf-huruf konsonan dan penambahan sisipan
sehingga akhirnya menjadi Averrois. Dari Averrois ini muncul sebuah kelompok
pengikut Ibnu Rusyd dalam bidang filsafat yang menamakan diri Averroisme.
Dalam bidang ini, Ibnu Rusyd memang membuktikan diri sangat ahli dan
terhormat, penjelasan-penjelasannya tentang filsafat dan komentarnya
terhadap filsafat Aristoteles dinilai yang paling tepat dan tidak ada
tandingannya. Sebab itu ada yang menamakannya sebagai guru kedua (bukan
al-Farabi), setelah guru pertama Sang Filsuf atau Aristoteles.

Itu tidak berarti Ibnu Rusyd tidak memiliki pemikiran filsafat sendiri, dalam
penjelasan al-Ahwani, pandangan-pandangan pribadi Ibnu Rusyd yang
mencerminkan pandangan dan pahamnya sendiri terdapat dalam rumusan
kesimpulan setelah memberikan uraian dan komentas terhadap filsafat
Aristoteles. Ulasan dan Kesimpulan-kesimpulan tersebut terkadang lebih
panjang dari terjemahannya terhadap pemikiran Aristoteles sendiri.

Hidup terkucil demikian tidaklah lama (1 tahun) dialami Ibnu Rusyd, karena
Khalifah segera mencabut hukumannya dan posisinya direhabilitasi kembali.
Tidak lama menikmati semua itu, Ibnu Rusyd wafat pada 1198 M/ 595 H di
Marakesh dan usia 72 tahun menurut perhitungan Masehi dan 75 tahun
menurut perhitungan Hijrah.

B. Pemikiran Filsafat Ibnu Rusyd

1) Kritik Terhadap Al-Ghazali

Seperti disebut diatas, bahwa Ibnu Rusyd hidup dan melontarkan


pemikirannya beberapa puluh tahun setelah al-Ghazali wafat (w. 505 H/ 1111
M). Dimasa hidupnya, Al-Ghazali mendalami ilmu filsafat dan telah menulis
buku sebagai kesimpulan tentang kajiannya terhadap ajaran ilmu filsafat, yang
terkenal adalah bukunya tahafuth al-falasifah. Buku tersebut memang
ditujukan untuk membongkar dan serangan terhadap paham filsafat dan
membuktikan kekeliruan padanya dari ajaran agama, khususnya filsafat Al-
Farabi dan Ibnu Sina. Dalam kesimpulannya, al-Ghazali menetapkan 20 soal
sebagai bathil dan pada akhir bukunya tiga soal diantaranya adalah kafir,
sehingga dari sini ia mengkafirkan para filsuf. Tiga soal tersebut adalah:

Pendapat filsuf bahwa alam itu azali atau qadim (eternal in the past)

Pendapat filsuf bahwa Tuhan tidak mengetahui juz’iyat (hal-hal yang juz’i/
individual/ partikular).

Paham filsuf yang mengingkari adanya kebangkitan tubuh di hari akhirat.

Menurut Aziz Dahlan, itu berarti bahwa siapa saja yang menganut salah satu
dari tiga paham tersebut, menurut Al-Ghazali, jatuh ke dalam kekafiran.
Polarisasi dan kesimpulan ini mampu mempengaruhi pemahaman umat
sehingga menjadi sanggahan dan serangan tajam terhadap filsafat dan filsuf.
Hal demikian berimplikasi pada sikap negatif dan penolakan umat pada ilmu ini
yang akhirnya menutup pintu kajian terhadap ilmu-ilmu fisafat di dunia Islam.

Tetapi, tentu tidak mudah bagi orang memahami dialog-dialog dan bantahan-
bantangan yang di tulis Al-Ghazali dalam rangka memaparkan peliknya
argumen dan materi kajian para filsuf, menurut yang dipahaminya dan
argumen-argumen untuk menjatuhkan argumen para filsuf. Itu saja sudah
cukup bukti kehujjahan dan pengaruh keilmuan Al-Ghazali pada pemahaman
keagamaan umat saat itu. Begitu pula pelik dan resikonya memberi bantahan
dan sanggahan terhadap serangan Al-Ghazali tersebut, seperti dilakukan Ibnu
Rusyd.

Dalam pada itu, Ibnu Rusyd melakukan tiga upaya sekaligus yaitu membela
para filsuf yang dikafirkan Al-Ghazali, melakukan klarifikasi paham filsafat dan
menyanggah paham Al-Ghazali. Pembelaan terhadap para filsuf dilakukan
dengan merumuskan harmonisasi agama dan filsafat, klarifikasi paham filsafat
dilakukan dengan menguraikan maksud filsafat yang sebenarnya tentang soal-
soal yang dikafirkan dan sanggahan terhadap Al-Ghazali dengan mengelaborasi
“kesalahan” persepsinya. Semua itu dilakukan Ibnu Rusyd dengan berpikir
rasional dan menafsirkan agama pun secara rasional, namun ia tetap
berpegang pada sumber agama itu sendiri, yaitu al-Quran.

Harmonisasi agama dan filsafat

Memulai makalahnya, Ibnu Rusyd mengajukan pertanyaan-pertanyaan apakah


mempelajari filsafat dan manthiq (logika) diperbolehkan menurut syara’,
ataukah dilarang, ataukah diperintahkan –baik sebagai perintah anjuran
ataupun perintah wajib?. Menurut Ibnu Rusyd, kegiatan filsafat tidak lain
adalah mempelajari segala wujud dan merenungkannya sebagai bukti adanya
pencipta. Disisi lain, syara’ menurutnya telah memerintahkan dan mendorong
kita untuk mempelajari segala yang ada. Disini ia ingin mengatakan bahwa
menurut syara’, pengertian demikian menunjukkan bahwa mempelajari filsafat
itu adalah perintah wajib atau perintah anjuran.
Tetapi karena kegiatan mempelajari segala sesuatu adalah dengan akal (lihat
al-Hasyr: 2; al-A’raf: 185; al-An’am: 75; al-Ghasiyah:17; Ali-Imran:191), yang
berisi perintah tertulis untuk wajib dan pelakunya adalah terhormat. Disini kias
(perenungan dan penyimpulan sesuatu pengertian yang tidak diketahui dari
yang telah diketahui serta penarikan pengertian baru dari padanya) dilakukan,
menurut kias wajib melakukan penelitian tentang segala yang ada
menggunakan kias rasional. Artinya, syara’ menganjurkan dan memerintahkan
mencari metode yang paling sempurna dengan menggunakan cara analogi
yang paling sempurna pula, yang dinamakan burhan (demonstrasi). Sementara
metode burhan adalah metode filsafat. Maka menurut syara’ mempelajari
filsafat adalah perintah yang bersifat wajib.

Menurut Ibnu Rusyd, karena syari’at ini benar dan ia menyeru untuk
mempelajari sesuatu kearah yang benar, maka pembahasan burhani tidak akan
membawa pertentangan dengan apa yang diajarkan oleh syara’. Kebenaran
tidak akan berlawanan dengan kebenaran yang lain, melainkan mencocoki dan
menjadi saksi atasnya. Maka jika dari penjelasan burhani tidak disebutkan
syari’at, berarti tidak ada pertentangan. Kalau syara’ menyebutkannya, jika
berseuaian maka tidak ada persoalan. Tetapi jika berselisih maka harus
dilakukan takwil (interpretasi) yang mungkin sehingga sesuai dengan pendapat
akal.

Qadimnya alam

Tentang qadimnya alam atau dalam bahasa filsafat azalinya alam, menurut
Ibnu Rusyd itu hanya perselisihan mengenai penamaan saja. Sebab kita
bersepakat tentang adanya tiga wujud yaitu; pertama, wujud yang terjadi dari
sesuatu selain dirinya, dan oleh sesuatu yang lain serta dari sesuatu bahan
tertentu dan wujud ini didahului oleh waktu. Inilah wujud benda-benda seperti
air, tanah dst. Kedua, lawannya adalah wujud yang adanya tidak berasal dari,
maupun disebabkan oleh sesuatu yang lain serta tidak pula didahului oleh
waktu. Inilah wujud al-Qadim. Baik yang pertama dan kedua tidak ada
perbedaan antara umat, perbedaan itu pada wujud ketiga yaitu, wujud yang
tidak terjadi berasal dari sesuatu serta tidak pula didahului oleh waktu, tetapi
terwujud oleh sesuatu, yakni oleh al-Qadim. Inilah alam keseluruhan,
perselisihan disini berkenaan dengan waktu yang lalu dan wujud yang lalu.
Plato berpendapat waktu dan wujud yang lalu adalah terbatas. Aristoteles
sebaliknya berpendapat bahwa waktu dan wujud yang lalu tidak terbatas,
sama halnya dengan waktu dan wujud mendatang. Wujud ini memiliki segi
persamaan dengan wujud muhdats dan wujud al-Qadim. Maka mereka yang
terkesan dengan persamaan wujud qadim akan menamakannya qadim pula,
begitu pun mereka yang terkesan dengan wujud muhdats akan menamakan
muhdats pula.

Makna – makna diatas menurut Ibnu Rusyd tidak bertentangan dengan al-
Quran, sebab tidak ada perselisihan dalam menempatkan bahwa Allah adalah
pencipta alam keseluruhan ini. Jadi menurut filsuf, qadimnya alam tidak sama
dengan qadimnya Allah, tetapi yang mereka maksudkan adalah yang ada
berubah menjadi ada dalam bentuk lain. Karena penciptaan dari tiada
(al-‘adam), adalah mustahil dan tidak mungkin terjadi. Dari tidak ada tidak bisa
terjadi sesutau, oleh karena itu materi asal alam ini mesti kadim. Memperkuat
pandangan ini, Ibnu Rusyd mengutip penjelasan al-Quran, surat Hud ayat 7,
yang makna lahiriah ayat mengatakan bahwa terdapat wujud sebelum wujud
ini, yaitu singgasana dan air. Begitu pula dikaitkan dengan bentuk wujud ini
yang berupa bilangan gerak falak (Ibrahim: 48). Maka disini Ibnu Rusyd
membuktikan paham qadim-nya alam tidak bertentangan dengan ajaran al-
Quran. Dalam hal ini kaum teolog yang menyatakan alam diciptakan Tuhan
dari tiada, justeru tidak mempunyai dasar pijakan dalam ajaran al-Quran.

Gambaran kebangkitan di akhirat

Menurut Ibnu Rusyd, filsuf mengakui tentang adanya kebangkitan di akhirat,


tetapi mereka berbeda interpretasi mengenai bentuknya. Ada yang
mengatakan bahwa yang akan dibangkitkan hanya rohani saja dan ada yang
mengatakan jasmani dan rohani. Namun yang pasti, kehidupan di akhirat tidak
sama dengan kehidupan didunia ini. Jadi para filsuf tidak berpendapat seperti
yang dituduhkan Al-Ghazali bahwa filsuf hanya berpaham bahwa kebangkitan
hanya bersifat rohani.
Sebaliknya, menurut Ibnu Rusyd justeru Al-Ghazali sendiri tidak konsisten,
dalam tahafuth al-falasifah dikatakan bahwa tidak ada ulama yang
berpendapat bahwa kebangkitan di akhirat hanya bersifat rohani semata. Akan
tetapi dalam bukunya yang lain, Al-Ghazali mengatakan bahwa kaum sufi
berpendapat yang akan terjadi di akhirat adalah kebangkitan rohani.

Pengetahuan Tuhan

Menurut Ibnu Rusyd, para filsuf tidak mempersoalkan apakah Tuhan


mengetahui hal-hal yang bersifat juz’I yang terdapat dialam semesta ini atau
tidak mengetahuinya. Persoalannya adalah bagaimana Tuhan mengetahui yang
juz’a tersebut. Cara Tuhan berbeda mengetahu yang juz’iyat dengan cara
manusia mengetahuinya, pengetahuan manusia kepada juz’iyat merupakan
efek dari objek yang telah diketahui, yang tercipta bersamaan dengan
terciptanya objek tersebut serta berubah bersama perubahannya. Sedangkan
pengetahuan Tuhan merupakan kebalikannya, pengetahuan-Nya merupakan
sebab bagi obyek yang diketahui-Nya. Artinya, karena pengetahuan Tuhan
bersifat qadim yakni semenjak azali Tuhan mengetahui yang juz’I tersebut,
bahkan sejak sebelum yang juz’I berwujud seperti wujud saat ini.

Lebih dari itu, sebenarnya bukan hanya yang juz’i, tetapi juga yang kulliyat
Tuhan tidak mengetahuinya seperti pengetahuan manusia. Kulliyat adalah juga
efek dari sifat wujud ini, sedangkan pengetahuan Tuhan adalah kebalikan dari
itu. Maka secara burhani, ilmu Tuhan sesungguhnya mengatasi kualifikasi yang
kulliyat dan juz’iyat tersebut, sebab Tuhan yang mengadakannya.

Kesalahan Al-Ghazali

Jadi, pengkafiran Al-Ghazali atas kedua failasuf tidaklah definitif. Karena dalam
bukunya “At-Tafriqah” bahwa mengkafirkan orang lain karena telah melanggar
ijma’ hanya mengandung sifat tentatif belaka. Tapi ijma’ tidak mungkin terjadi
dalam persoalan seperti ini, persoalan demikian sangat pelik dan sepenuhnya
bergantung pada kemampuan kias rasional dan kemampuan burhani
seseorang yang hanya bisa dilakukan oleh kaum rashikhun fi ‘ilm. Karena
demikian keadaannya, maka mustahil terjadi ijma’ yang meyeluruh dalam
bidang takwil. Maka penilaian yang tepat adalah bahwa orang-orang berselisih
pendapat dalam persoalan yang pelik tersebut berhak mendapat pahala jika
mereka benar, tetapi bisa dimaafkan jika mereka salah.

Kesalahan yang bisa dimaafkan demikian hanyalah kesalahan yang tidak


disengaja yang dilakukan kaum yang dikaruniai pengetahuan khusus
mengetahui takwil ketika mereka mempelajari persoalan-persoalan rumit yang
diperintah syara’ untuk mempelajarinya. Adapun kesalahan oleh orang-orang
selain kelompok ini, adalah dosa. Maka bagi kaum burhani ini melakukan
takwil terhadap ajaran-ajaran yang memberi petunjuk untuk itu harus
dilakukan, sebaliknya umat kebanyakan hanya diperintah mengambil makna
lahir ayat, jika tidak akan menyebabkan kekafiran pada masing-masing mereka.
Oleh sebab itu, larangan Al-Ghazali – terhadap semua orang – dalam
melakukan kias rasional seperti dilakukan para filsuf dan filsafat mereka tidak
tepat, karena bertentangan ajaran al-Quran.

2) Pengaruhnya di Eropa

Pengkafiran al-Ghazali ini membuat orang di dunia Islam bagian timur dengan
Baghdad sebagai pusat pemikiran menjauhi falsafat. Apalagi di samping
pengkafiran itu al-Ghazali mengeluarkan pendapat bahwa jalan sebenarnya
untuk mencapai hakikat bukanlah filsafat tetapi tasawuf, bahwa bukanlah
akal tetapi al-dzauq dan ma'rifat sufilah yang membawa orang kepada
kebenaran yang meyakinkan. Sebaliknya, di dunia Islam bagian Barat yaitu di
Andalus atau Spanyol Islam pemikiran filsafat masih berkembang sesudah
serangan al-Ghazali tersebut. Maka secara berangsur, kekayaan khazanah
ilmu pengetahuan dan filsafat di wilayah timur beralih ke wilayah barat. Hal itu
terlihat dengan banyaknya buku-buku ilmu dan filsafat yang beredar di wilayah
barat, terutama di Andalusia dan Sisilia, sebagai maha karya kaum Muslimin di
timur dan barat.

Dinamis dan semaraknya perkembangan ilmu pengetahuan ditangan umat


Islam di Andalusia dan Sisilia akhirnya menarik minat orang-orang dari
kalangan Yahudi dan Kristen untuk menuntut ilmu ke wilayah itu dan
melakukan penerjemahan-penerjemahan atas seluruh karya-karya Aristoteles,
seperti yang dilakukan St. Thomas Aquinas dengan meminta rekannya, William
Moerbeke untuk melakukan penerjemahan tersebut. Setelah penerjemahan
tersebut, tampak bahwa Ibnu Rusyd tidak melakukan kesalahan dalam intisari
filsafat. Oleh kalangan Yahudi dan Nasrani, mereka mengenal Ibnu Rusyd
sebagai sang pemberi penjelasan atau komentator filsafat Aristoteles. Dante
dalam syairnya Divine Comedy, mengatakan Ibnu Rusyd sebagai komentator
terbesar terhadap filsafat Aristoteles dimasanya.

Aziz Dahlan menjelaskan para pelopor lain dalam mempelajari filsafat tidak
hanya dari kalangan intelektual tetapi juga dari kalangan agamawan Kristen,
seperti Paus Silvester II (999-1003 M). Begitu pun setelah Toledo jatuh
ketangan Alphonse (451 H/ 1058 M), dewan penerjemahan (kitab-kitab
berbahasa Arab ke bahasa Latin) didirikan oleh Raymund (1130-1150 M),
Uskup Kepala di Toledo dan dewan ini dipimpin oleh Dominikus Gundisalvus.
Pengakajian yang tidak kalah bergairah bahkan mendapat dukungan kuat dari
Kaisar Frederik II (1212-1250 M), seperti di wilayah-wilayah Italia Selatan
Palermo, Sisilia, dan Napoli. Di pusat-pusat pengkajian ini, karya-karya Ibnu
Rusyd mendapat apresiasi yang luar biasa tinggi, hal itu terlihat dari banyaknya
fasilitas yang diberikan Kaisar kepada Michael Scot (1175-1234 M) untuk
menyalin dan menterjemahkan karya-karya Ibnu Rusyd, sedangkan Hermanus
Allemanus (pada masa 1240-1260 M) menterjemahkan karya-karya al-Farabi.

Disamping kelompok pengidola, ternyata paham filsafat Ibnu Rusyd juga


mendapat penolakan bangsa Eropa yang datang dari kalangan gereja, seperti
Keuskupan Paris “mengharamkan” kajian-kajian terhadap buku-buku Ibnu
Rusyd di berbagai perguruan tinggi pada abad ke-13. Fakta-fakta diatas
terkesan berlawanan, tetapi sebenarnya disanalah kekuatan pengaruh filsafat
Ibnu Rusyd yang tidak habis dan henti-hentinya dibahas bangsa Eropa, secara
sembunyi-sembunyi sekalipun. Karena itu sekali pun para Rahib dilarang
mempelajari hal-hal yang berbau duniawi tetapi mereka tetap mengkaji dan
mendiskusikan Ibnu Rusyd.

3) Averroisme
Ditangan Ibnu Rusyd, filsafat menjadi demikian menantang dan menarik minat
banyak orang untuk mendalaminya. Paham rasional yang dikembangkannya
menjadi titik terang bagi bangsa Eropa untuk meneropong persoalan
peradaban dan keagamaan mereka. Kias rasional, takwil dan pengetahuan
burhani merupakan bentuk tertinggi dalam pemikiran Muslim yang menjadikan
peradaban Muslim unggul dan maju adalah tantangan secara diametreal bagi
paham keagamaan Kristen yang terbelakang karena tertutup, otoriter dan
dogmatis.

Seperti ditulis diatas, disini para agamawan Kristen bersikap “munafik” karena
secara resmi melarang, tetapi mempelajarinta secara diam-diam dalam gereja
mereka. Karena itu larangan Gereja tidak mempan menghalangi kaum
intelektual untuk terus mengembangkan paham filsafat, terutama paham Ibnu
Rusyd di Eropa. Dari sini muncullah sekelompok intelektual yang bersemangat
menjadikan Ibnu Rusyd sebagai guru pertama (al-mua’allim al-awwal). Mereka
ini dipimpin Hermanus Allemanus (pada masa 1240-1260 M) mendirikan aliran
Averroisme. Penamaan Averroisme sebagai pengikut Ibnu Rusyd, menurut
Sirajuddin Zar (seperti disebut sebelumnya) adalah kurang tepat, lebih
tepatnya dinisbahkan pada kakek Ibnu Rusyd sendiri.

Munculnya gerakan dan aliran Averroisme ini sejatinya adalah lompatan besar
dalam pemikiran dan semangat keilmuan bangsa Eropa, khususnya dalam
bidang ilmu pengetahuan dan filsafat. Sebab sebelumnya Eropa kosong dari
dari ilmu pengetahuan, berfikir sempit dan tidak menghargai akal. Bagi mereka
satu-satunya sumber kebenaran hanyalah Gereja Kristen. Seperti diketahui
bahwa Gereja Katolik Roma sudah menancapkan dominasinya selama 11 abad
di Eropa (abad ke-5 - abad ke-16 M) dan sukses dalam menyatukan Eropa
didalam kerajaan Gereja Katolik– ditandai dengan supremasi gereja secara
absolut diatas negara. Dalam situasi itu kehidupan masyarakat Barat
sepenuhnya dalam kontrol dan dogma gereja Katolik Roma, sehingga tidak ada
kemerdekaan dan keselamatan diluar gereja.

Menurut Sirajuddin Zar, kendatipun Averroisme ini namanya dibangsakan


kepada Ibnu Rusyd, namun ajaran keduanya terdapat perbedaan yang
mendasar. Hal itu disebabkan oleh latar belakang agama yang berbeda. Kalau
Ibnu Rusyd mengembangkan paham rasional dalam bingkai ajaran Islam,
sebaliknya Averroisme hanya mengambil dasar-dasar rasional saja dengan
meninggalkan keyakinan keagamaan mereka. Lebih jelasnya Sirajuddin Zar
menulis demikian.

“Ibnu Rusyd dilatarbelakangi oleh ajaran Islam yang rasional dan dinamis. Di
dalam Islam terdapat ajaran yang bersifat dogmatis (qath’I al-dalalah) amat
sedikit jumlahnya. Adapun yang terbanyak ialah ajaran Islam yang bersifat
zhanni al-dalalah. Ia datang hanya dalam bentuk prinsip-prinsip pokok, karena
itu untuk mengoperasionalkannya diserahkan pada otak manusia setempat
dimana ia hidup…berbeda dengan Islam, agama Kristen semua ajarannya
bersifat dogmatis sehingga tidak bisa didamaikan antara ajarannya dengan
filsafat. Atas dasar inilah ketika Averroisme mengembangkan pemikiran
rasional Ibnu Rusyd di Eropa, yang atara agama dan filsafat dapat
direkonsiliasikan, mendapat kesulitan.”

Dari kutipan diatas dapat dipahami bahwa dalam Islam, demikian juga paham
filsafat Ibnu Rusyd tidak ada kebenaran ganda, karena dari penjelasan
sebelumnya jika terjadi ketidak sesuaian penemuan kebanaran akal dengan
kebenaran wahyu, maka dilakukan proses takwil. Sehingga akhirnya hanya ada
satu kebenaran, yaitu kesatuan kebenaran agama dan filsafat. Sebaliknya bagi
bangsa Eropa terdapat kebenaran ganda(double truth), karena tidak mungkin
mendamaikan kebenaran akal dan kebenaran agama. Jadi konsep kebenaran
ganda yang dikembangkan Averroisme merupakan bentuk penyimpangan dari
paham Ibnu Rusyd.

C. Karya-Karya Ibnu Rusyid

Bidayat Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih)

Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran)

Fasl Al-Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat Wa Asy-Syari’at (filsafat dalam Islam dan


menolak segala paham yang bertentangan dengan filsafat)
Pemikiran Ibnu Rusyd terlihat ketika terjadi polemik antara ia dengan Hujjatul
Islam Imam Al-Ghazali. Ketidaksepakatan Al-Ghazali terhadap pemikiran
filsafat Ibnu Rusyd (hingga mengkafirkan) yang dituangkan dalam bentuk
tulisan berjudul “tahafut al-tahafut" (kerancuan dari kerancuan). Menurut
penilaian Ibnu Rusyd, Al-Ghazali telah mengisi bukunya tahafut falasifah
dengan pikiran-pikiran sufistik, dan kata-katanya tidak sampai pada tingkat
keyakinan serta tidak mencerminkan hasil pemahaman terhadap filsafat itu
sendiri.

Pembicaraan Al-Ghazali terhadap pikiran-pikiran filusof-filusof dengan cara


demikian, tidak pantas baginya, sebab tidak lepas dari dua hal. Pertama, ia
sebenarnya memahami pemikiran-pemikiran tersebut, tetapi tidak disebutkan
disini secara benar-benar dan ini adalah perbuatan orang-orang buruk. Kedua,
ia memang tidak memahami secara benar-benar, dan dengan demikian maka
ia membicarakan sesuatu yang tidak dikuasainya, dan ini adalah perbuatan
orang-orang bodoh.

Menurut Ibnu Rusyd, kedua kemungkinan tersebut sebenarnya tidak terdapat


dalam diri Al-Ghazali. Akan tetapi “kuda balab kadang-kadang terantuk”
demikian kata pepatah. Dan bagi Al-Ghazali, terantuknya itu ialah karena ia
menulis buku tahafut-nya tersebut. Boleh jadi penulisannya itu dilakukan
karena melayani selera massa dan [Link] hebat keduanya
misalnya dalam masalah kebangkitan kembali manusia setelah meninggal.

Menurut Ibnu Rusyd, pembangkitan yang dimaksud kaum filsuf adalah


pembangkitan Ruhiyah bukan Jasmaniyah. Pandangan ini berakar dari filsafat
mereka tentang jiwa. Bagi Ibnu Rusyd dan juga filsuf lainnya, yang bagi
manusia adalah jiwanya. Kebahagiaan dan ketenangan hakiki adalah
kebahagiaan jiwa. Sedangkan menurut Al-Ghazali, kebangkitan kembali
manusia tak hanya secara ruh, tapi juga Jasmaniyah. Ibnu Rusyd juga
mengajarkan bagaimana cara membangun rules of dialogue , dalam kaitannya
memahami orang lain di luar kita.

Teori ini didasarkan pada tiga prinsip epistemologi. Pertama, keharusan untuk
memahami yang lain dalam sistem referensinya sendiri. Dalam kasus ini,
terlihat dari penerapan metode aksimotik dalam menafsirkan diskursus
filosofis ilmu-ilmu Yunani. Prinsip kedua, dalam kaitan relasi kita dengan Barat,
adalah prinsip menciptakan kembali hubungan yang subur antara dua kutub
dengan mengedepankan hak untuk berbeda. Ibnu Rusyd membela pendapat
yang mengatakan bahwa tidak ada kontradiksi antara kebenaran agama dan
filsafat, tetapi terjadi harmoni diantara keduanya. Harmoni yang dimaksud
tidak harus sama dan identik. Karena itu hak untuk berbeda harus dihargai.

Prinsip ketiga, mengembangkan sikap toleransi. Ibnu Rusyd menolak cara-cara


Al-Ghazali menguliti filosuf tidak dengan tujuan mencari kebenaran, tetapi
untuk mempertanyakan tesis-tesis mereka. Dan prilaku ini menurut Ibnu Rusyd
tidak layak dilakukan oleh orang terpelajar, karena tujuan orang terpelajar
adalah hanya untuk mencari kebenaran bukan menyebarkan keragu-raguan.

BAB III
Penutup

Kesimpulan

Jika mau menilai dengan jujur, maka usaha pendamaian agama dan filsafat
yang dilakukan Ibnu Rusyd melebihi upaya yang dilakukan para filosof Muslim
seperti al_kindi, al-Farabi dan lain-lain. Dalam rumusannya terlihat, perpaduan
utuh kebenaran agama dan filsafat dengan argumentasi yang kokoh dan
sepenuhnya berangkat dari ajaran agama Islam. Dengan keunggulan itu, Ibnu
Rusyd mampu mematahkan “serangan” Al-Ghazali dengan cara yang lebih
tajam dan jelas.

Maka dari itu terlihat sikap tegas, jujur, terbuka dan penguasaan serta
kedalaman ilmu pengetahuan pada diri Ibnu rusyd. Dari sikap dan
pandangannya demikian pula kemudian Ibnu Rusyd terlihat seorang filsuf Islam
yang paling dekat pandangan keagamaannya dengan golongan orthodoks. Dan
dari riwayat hidupnya diketahui bahwa diantara filsuf Islam, tidak ada yang
menyamainya dalam keahliannya dalam bidang figh Islam.

Saran

Tentunya makalah ini banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena
itu, penulis sangat mengharapkan kririk dan sarannya dari berbagai pihak
manapun. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan
pembaca pada umumnya. Dan mudah-mudahan dapat dijadikan referensi
untuk menambah khasanah keilmuan kita. Amin…

DAFTAR PUSTAKA

· Shaikh, M. Saeed. 1994. Studies in Muslim Philosophy. Delhi: Adam


Publisher.

· Al-Aqqad, Abbas Mahmud. 2003. Ibnu Ruysd: Sang Filsuf, Mistikus, Fakih,
dan Dokter. Yogyakarta: Qirtas.

· Madjid, Nurcholish. 1994. Khazanah Intelektual Islam. Jakarta: Bulan


Bintang.

· Zar, Sirajuddin. 2004. Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatny. Jakarta: Raja
Grafimdo Persada.

· Al-Ahwani, Ahmad Fuad. 1997. Filsafat Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus.

· Dahlan, Abdul Aziz. 1999. Pemikiran Falsafi dalam Islam. Padang: IAIN IB
Press.

· Zar, Sirajuddin. 1999. Filsafat Islam I. Padang: IAIN Press.

Anda mungkin juga menyukai