0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
340 tayangan21 halaman

Ontologi, Epistemologi, Aksiologi Keperawatan

Makalah ini membahas tiga konsep dasar dalam filsafat ilmu yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi beserta penerapannya dalam penelitian keperawatan. Ontologi adalah ilmu tentang hakikat yang ada, epistemologi membahas tentang pengetahuan, sedangkan aksiologi membahas nilai-nilai. Ketiga konsep ini penting diterapkan dalam penelitian keperawatan untuk mengetahui landasan ilmu dan nilai-nilai yang mendasari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
340 tayangan21 halaman

Ontologi, Epistemologi, Aksiologi Keperawatan

Makalah ini membahas tiga konsep dasar dalam filsafat ilmu yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi beserta penerapannya dalam penelitian keperawatan. Ontologi adalah ilmu tentang hakikat yang ada, epistemologi membahas tentang pengetahuan, sedangkan aksiologi membahas nilai-nilai. Ketiga konsep ini penting diterapkan dalam penelitian keperawatan untuk mengetahui landasan ilmu dan nilai-nilai yang mendasari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KONSEP ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AXIOLOGI DAN PENERAPANNYA

DALAM PENELITIAN KEPERAWATAN

Makalah dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Riset Keperawatan yang diampu oleh
Ibu Sugih Wijayati, [Link]., Ns., [Link]

Disusun Oleh :

Nama : Aska Fauzan Abrianto

NIM : P1337420617028

Kelas : 4A3 Reguler

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN SEMARANG


JURUSAN KEPERAWATAN SEMARANG
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2020

i
HALAMAN PENGESAHAN

Makalah dengan judul “Konsep Ontologi, Epistemologi, Axiologi Dan


Penerapannya Dalam Penelitian Keperawatan” telah disahkan dan disetujui pada :
Hari :
Tanggal :

Menyutujui
Dosen Pembimbing

Sugih Wijayati, [Link]., Ns., [Link]


NIP.

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat
dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Konsep
Ontologi, Epistemologi, Axiologi Dan Penerapannya Dalam Penelitian Keperawatan””.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini dapat diselesaikan berkat bimbingan
dan bantuan sejumlah pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:
Ibu Sugih Wijayati, [Link]., Ns., [Link] sebagai dosen mata kuliah Riset Keperawatan..

Penulis sangat menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang bersifat membangunakan sangat kami harapkan. Semoga makalah
ini dapat memberikan manfaat.

Semarang, 8 Agustus 2020


Penulis

Aska Fauzan Abrianto

iii
DAFTAR ISI

JUDUL......................................................................................................................i
LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................................ii
KATA PENGANTAR..............................................................................................iii
DAFTAR ISI.............................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1
A. Latar Belakang......................................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................................1
C. Tujuan....................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................3
A. Konsep Ontologi...................................................................................................3
B. Konsep Epistemologi.............................................................................................3
C. Konsep Axiologi....................................................................................................12
D. Penerapan Tiga Konsep Dalam Penelitian Keperawatan......................................12
BAB III PENUTUP..................................................................................................11
A. Simpulan................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................16

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan dan kemajuan peradaban manusia dewasa ini tidak
terlepas dari peran ilmu. Bahkan perubahan pola hidup manusia dari waktu ke
waktu sesungguhnya berjalan seiring dengan sejarah kemajuan dan
perkembangan ilmu. Tahap-tahap dalam konteks ini sebagai priodesasi
sejarah perkembangan ilmu; sejak dari zaman klasik, zaman pertengahan,
zaman modern dan zaman kontemporer.
Kemajuan ilmu dan teknologi dari masa ke masa ibarat mata rantai
yang tidak terputus satu sama lain. Hal-hal baru yang ditemukan suatu masa
menjadi unsur penting bagi penemuan-penemuan lainnya di masa berikutnya.
Satu hal yang tidak sulit untuk disepakati, bahwa hampir semua sisi
kehidupan manusia modern telah disentuh oleh berbagai efek perkembangan
ilmu dan teknologi, sektor ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan, sosial
dan budaya, komunikasi dan transportasi, pendidikan, seni, kesehatan, dan
lain-lain, semuanya membututuhkan dan mendapat sentuhan teknologi.
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial
maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat,
sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Pada
perkembangan selanjutnya, ilmu terbagi dalam beberapa disiplin, yang
membutuhkan pendekatan, sifat, objek, tujuan dan ukuran yang berbeda
antara disiplin ilmu yang satu dengan yang lainnya (Semiawan, 2005).
Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan
mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu
dengan segala segi dari kehidupan manusia (The Liang Gie, 2004).
Sedangkan menurut Lewis White Beck, filsafat ilmu bertujuan membahas dan
mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan
nilai dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan.

1
Pembahasan filsafat ilmu sangat penting karena akan mendorong
manusia untuk lebih kreatif dan inovatif. Filsafat ilmu memberikan spirit bagi
perkembangan dan kemajuan ilmu dan sekaligus nilai-nilai moral yang
terkandung pada setiap ilmu baik pada tataran ontologis, epistemologis
maupun aksiologi.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan beberapa permasalahan di atas, maka dapat diambil suatu
formulasi yang kemudian dirumuskan sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan konsep ontologi?
2. Apa yang dimaksud dengan konsep epistemologi?
3. Apa yang dimaksud dengan konsep aksiologi?
4. Bagaimana penerapan ketiga landasan tersebut dalam dunia
keperawatan?
C. Tujuan Penulisan 
Dari perumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan ini adalah :
1. Untuk mengetahui makna konsep ontologi
2. Untuk mengetahui makna konsep epistemologi
3. Untuk mengetahui makna konsep aksiologi
4. Untuk mengetahui penerapan ketiga konsep tersebut dalam dunia
keperawatan

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Ontologi
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan
berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang
bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat
ontologis yang terkenal diantaranya Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada
masanya, kebanyakan orang belum mampu membedakan antara penampakan
dengan kenyataan.
1. Pengertian Ontologi
a. Menurut Bahasa :
Ontologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu on / ontos = being
atau ada, dan logos = logic atau ilmu. Jadi, ontologi bisa diartikan :
The theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai
keberadaan), atau Ilmu tentang yang ada.
b. Pengertian menurut istilah :
Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada,
yang merupakan ultimate reality yang berbentuk jasmani / kongkret
maupun rohani / abstrak (Bakhtiar, 2004).
2. Term ontologi
Term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius
pada tahun1636 M untuk menamai teori tentang hakikat yang ada yang
bersifat metafisis. Dalam perkembangan selanjutnya Christian Wolf (1679
– 1754 M) membagi Metafisika menjadi 2 yaitu :
a. Metafisika Umum : Ontologi
Metafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi.
Jadi metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang
membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala
sesuatu yang ada.
b. Metafisika Khusus : Kosmologi, Psikologi, Teologi (Bakker, 1992).

3
3. Paham–paham dalam Ontologi
Dalam pemahaman ontologi dapat diketemukan pandangan-pandangan
pokok/aliran-aliran pemikiran antara lain: Monoisme, Dualisme,
Pluralisme, Nihilisme, dan Agnotisisme.
a. Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh
kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua, baik yang asal berupa
materi ataupun rohani. Paham ini kemudian terbagi kedalam 2 aliran :
1). Materialisme
Aliran materialisme ini menganggap bahwa sumber yang asal itu
adalah materi, bukan rohani. Aliran pemikiran ini dipelopori oleh
Bapak Filsafat yaitu Thales (624-546 SM). Dia berpendapat bahwa
sumber asal adalah air karena pentingnya bagi kehidupan. Aliran ini
sering juga disebut naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan
kenyataan dan satu-satunya fakta. Yang ada hanyalah materi/alam,
sedangkan jiwa /ruh tidak berdiri sendiri. Tokoh aliran ini adalah
Anaximander (585-525 SM). Dia berpendapat bahwa unsur asal itu
adalah udara dengan alasan bahwa udara merupakan sumber dari segala
kehidupan. Dari segi dimensinya paham ini sering dikaitkan dengan
teori Atomisme. Menurutnya semua materi tersusun dari sejumlah
bahan yang disebut unsur. Unsur-unsur itu bersifat tetap tak dapat
dirusakkan. Bagian-bagian yang terkecil dari itulah yang dinamakan
atom-atom. Tokoh aliran ini adalah Demokritos (460-370 SM). Ia
berpendapat bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang
banyak jumlahnya, tak dapat di hitung dan amat halus. Atom-atom
inilah yang merupkan asal kejadian alam.
2). Idealisme
Idealisme diambil dari kata idea, yaitu sesuatu yang hadir dalam
jiwa. Idelisme sebagai lawan materialisme, dinamakan juga
spiritualisme. Idealisme berarti serbacita, spiritualisme berarti serba ruh.
Aliran idealisme beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka

4
ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu
sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang.
Tokoh aliran ini diantaranya :
o Plato (428 -348 SM) dengan teori ide-nya. Menurutnya, tiap-tiap
yang ada dialam mesti ada idenya, yaitu konsep universal dari setiap
sesuatu.
o Aristoteles (384-322 SM), memberikan sifat keruhanian dengan
ajarannya yang menggambarkan alam ide itu sebagai sesuatu tenaga
yang berada dalam benda-benda itu sendiri dan menjalankan
pengaruhnya dari dalam benda itu.
o Pada Filsafat modern padangan ini mula-mula kelihatan pada George
Barkeley (1685-1753 M) yang menyatakan objek-objek fisis adalah
ide-ide.
o Kemudian Immanuel Kant (1724-1804 M), Fichte (1762-1814 M),
Hegel (1770-1831 M), dan Schelling (1775-1854 M).
b. Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari 2 macam hakikat
sebagai asal sumbernya yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani, benda
dan ruh, jasad dan spirit. Tokoh paham ini adalah Descartes (1596-1650
M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. Ia menamakan kedua
hakikat itu dengan istilah dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang
(kebendaan). Tokoh yang lain : Benedictus De spinoza (1632-1677 M),
dan Gitifried Wilhelm Von Leibniz (1646-1716 M).
c. Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan
kenyataan. Lebih jauh lagi paham ini menyatakan bahwa kenyataan
alam ini tersusun dari banyak unsur. Tokoh aliran ini pada masa Yunani
Kuno adalah Anaxagoras dan Empedocles yang menyatakan bahwa
substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri dari 4 unsur, yaitu tanah,
air, api, dan udara. Tokoh modern aliran ini adalah William James
(1842-1910 M) yang terkenal sebagai seorang psikolog dan filosof
Amerika. Dalam bukunya The Meaning of Truth, James

5
mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku
umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang
mengenal. Apa yang kita anggap benar sebelumnya dapat
dikoreksi/diubah oleh pengalaman berikutnya.
d. Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak
ada. Doktrin tentang nihilisme sudah ada semenjak zaman Yunani
Kuno, tokohnya yaitu Gorgias (483-360 SM) yang memberikan 3
proposisi tentang realitas yaitu: Pertama, tidak ada sesuatupun yang
eksis, Kedua, bila sesuatu itu ada ia tidak dapat diketahui, Ketiga,
sekalipun realitas itu dapat kita ketahui ia tidak akan dapat kita
beritahukan kepada orang lain. Tokoh modern aliran ini diantaranya:
Ivan Turgeniev (1862 M) dari Rusia dan Friedrich Nietzsche (1844-
1900 M), ia dilahirkan di Rocken di Prusia dari keluarga pendeta.
e. Agnotisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui
hakikat benda. Baik hakikat materi maupun ruhani. Kata Agnoticisme
berasal dari bahasa Greek yaitu Agnostos yang berarti unknown A
artinya not Gno artinya know. Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat
eksistensi dengan tokoh-tokohnya seperti: Soren Kierkegaar (1813-
1855 M), yang terkenal dengan julukan sebagai Bapak Filsafat
Eksistensialisme dan Martin Heidegger (1889-1976 M) seorang filosof
Jerman, serta Jean Paul Sartre (1905-1980 M), seorang filosof dan
sastrawan Prancis yang atheis (Bagus, 1996).
B. Konsep Epistimologi
Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan
tentang pengetahuan. Dalam pembahasan filsafat, epistemologi dikenal
sebagai sub sistem dari filsafat. Epistemologi adalah teori pengetahuan, yaitu
membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek
yang ingin dipikirkan.
Keterkaitan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi—seperti juga
lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--

6
membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang
lain, sebab ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan
dalam mekanisme pemikiran. Ketika kita membicarakan epistemologi, berarti
kita sedang menekankan bahasan tentang upaya, cara, atau langkah-langkah
untuk mendapatkan pengetahuan. Dari sini setidaknya didapatkan perbedan
yang cukup signifikan bahwa aktivitas berpikir dalam lingkup epistemologi
adalah aktivitas yang paling mampu mengembangkan kreativitas keilmuan
dibanding ontologi dan aksiologi.
1. Pengertian Epistemologi
Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli
yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya
epistemologi itu. Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of
knowledge). Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari kata
Yunani episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Epistemologi
dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula
atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan.
Pengertian lain, menyatakan bahwa epistemologi merupakan
pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah
sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat, jangkauan dan ruang
lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin
untuk ditangkap manuasia (William [Link] dan Mabel Lewis
Sahakian, 1965, dalam Jujun [Link], 2005).
Menurut Musa Asy’arie, epistemologi adalah cabang filsafat yang
membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah
usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran
yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. Sedangkan, [Link] Hadi
menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari
dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-
pengendaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan
mengenai pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan D.W Hamlyn
mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan
dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengendaian-

7
pengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai
penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.
Selanjutnya, pengertian epistemologi yang lebih jelas diungkapkan
Dagobert [Link]. Dia menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang
filsafat yang membahas sumber, struktur, metode-metode dan validitas
pengetahuan. Sementara itu, Azyumardi Azra menambahkan, bahwa
epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keaslian, pengertian,
struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan”..
2. Landasan Epistemologi
Kholil Yasin menyebut pengetahuan dengan sebutan pengetahuan
biasa (ordinary knowledge), sedangkan ilmu pengetahuan dengan istilah
pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). Hal ini sebenarnya hanya
sebutan lain. Disamping istilah pengetahuan dan pengetahuan biasa, juga
bisa disebut pengetahuan sehari-hari, atau pengalaman sehari-hari. Pada
bagian lain, disamping disebut ilmu pengetahuan dan pengetahuan ilmiah,
juga sering disebut ilmu dan sains. Sebutan-sebutan tersebut hanyalah
pengayaan istilah, sedangkan substansisnya relatif sama, kendatipun ada
juga yang menajamkan perbedaan, misalnya antar sains dengan ilmu
melalui pelacakan akar sejarah dari dua kata tersebut, sumber-sumbernya,
batas-batasanya, dan sebagainya.
Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud
pengetahuan menuju ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan
menjadi ilmu pengetahuan yang bergantung pada metode ilmiah, karena
metode ilmiah menjadi standar untuk menilai dan mengukur kelayakan
suatu ilmu pengetahuan. Sesuatu fenomena pengetahuan logis, tetapi tidak
empiris, juga tidak termasuk dalam ilmu pengetahuan, melaikan termasuk
wilayah filsafat. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua
pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara integratif.
3. Hubungan Epistemologi, Metode dan Metodologi
Lebih jauh lagi Peter [Link] mengemukakan, “metode merupakan
suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-
langkah yang sistematis”. Sedangkan metodologi merupakan suatu

8
pengkajian dalam mempelajari peraturan dalam metode tersebut. Secara
sederhana dapat dikatakan, bahwa metodologi adalah ilmu tentang metode
atau ilmu yang mempelajari prosedur atau cara-cara mengetahui sesuatu.
Jika metode merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu, maka
metodologilah yang mengkerangkai secara konseptual prosedur tersebut.
Implikasinya, dalam metodologi dapat ditemukan upaya membahas
permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan metode.
Metodologi membahas konsep teoritik dari berbagai metode,
kelemahan dan kelebihannya dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan
pemilihan metode yang digunakan, sedangkan metode penelitian
mengemukakan secara teknis metode-metode yang digunakan dalam
penelitian. Penggunaan metode penelitian tanpa memahami metode
logisnya mengakibatkan seseorang buta terhadap filsafat ilmu yang
dianutnya. Banyak peneliti pemula yang tidak bisa membedakan
paradigma penelitian ketika dia mengadakan penelitian kuantitatif dan
kualitatif. Padahal mestinya dia harus benar-benar memahami, bahwa
penelitian kuantitatif menggunakan paradigma positivisme, sehingga
ditentukan oleh sebab akibat (mengikuti paham determinsime, sesuatu
yang ditentukan oleh yang lain), sedangkan penelitian kualitatif
menggunakan paradigma naturalisme (fenomenologis). Dengan demikian,
metodologi juga menyentuh bahasan tantang aspek filosofis yang menjadi
pijakan penerapan suatu metode. Aspek filosofis yang menjadi pijakan
metode tersebut terdapat dalam wilayah epistemologi.
Oleh karena itu, dapat dijelaskan urutan-urutan secara struktural-
teoritis antara epistemologi, metodologi dan metode sebagai berikut: Dari
epistemologi, dilanjutkan dengan merinci pada metodologi, yang biasanya
terfokus pada metode atau tehnik. Epistemologi itu sendiri adalah sub
sistem dari filsafat, maka metode sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari
filsafat. Filsafat mencakup bahasan epistemologi, epistemologi mencakup
bahasan metodologis, dan dari metodologi itulah akhirnya diperoleh
metode. Jadi, metode merupakan perwujudan dari metodologi, sedangkan

9
metodologi merupakan salah satu aspek yang tercakup dalam
epistemologi. Adapun epistemologi merupakan bagian dari filsafat.
4. Hakikat Epsitemologi
Epistemologi berusaha memberi definisi ilmu pengetahuan,
membedakan cabang-cabangnya yang pokok, mengidentifikasikan
sumber-sumbernya dan menetapkan batas-batasnya. “Apa yang bisa kita
ketahui dan bagaimana kita mengetahui” adalah masalah-masalah sentral
epistemologi, tetapi masalah-masalah ini bukanlah semata-mata masalah-
masalah filsafat. Pandangan yang lebih ekstrim lagi menurut Kelompok
Wina, bidang epistemologi bukanlah lapangan filsafat, melainkan
termasuk dalam kajian psikologi. Sebab epistemologi itu berkenaan
dengan pekerjaan pikiran manusia, the workings of human mind.
Tampaknya Kelompok Wina melihat sepintas terhadap cara kerja ilmiah
dalam epistemologi yang memang berkaitan dengan pekerjaan pikiran
manusia. Cara pandang demikian akan berimplikasi secara luas dalam
menghilangkan spesifikasi-spesifikasi keilmuan. Tidak ada satu pun aspek
filsafat yang tidak berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia, karena
filsafat mengedepankan upaya pendayagunaan pikiran. Kemudian jika
diingat, bahwa filsafat adalah landasan dalam menumbuhkan disiplin ilmu,
maka seluruh disiplin ilmu selalu berhubungan dengan pekerjaan pikiran
manusia, terutama pada saat proses aplikasi metode deduktif yang penuh
penjelasan dari hasil pemikiran yang dapat diterima akal sehat. Ini berarti
tidak ada disiplin ilmu lain, kecuali psikologi, padahal realitasnya banyak
sekali.
Oleh karena itu, epistemologi lebih berkaitan dengan filsafat,
walaupun objeknya tidak merupakan ilmu yang empirik, justru karena
epistemologi menjadi ilmu dan filsafat sebagai objek penyelidikannya.
Dalam epistemologi terdapat upaya-upaya untuk mendapatkan
pengetahuan dan mengembangkannya. Aktivitas-aktivitas ini ditempuh
melalui perenungan-perenungan secara filosofis dan analitis.
Epistemologi ini juga bisa menentukan cara dan arah berpikir
manusia. Seseorang yang senantiasa condong menjelaskan sesuatu dengan

10
bertolak dari teori yang bersifat umum menuju detail-detailnya, berarti dia
menggunakan pendekatan deduktif. Sebaliknya, ada yang cenderung
bertolak dari gejala-gejala yang sama, baruk ditarik kesimpulan secara
umum, berarti dia menggunakan pendekatan induktif. Adakalanya
seseorang selalu mengarahkan pemikirannya ke masa depan yang masih
jauh, ada yang hanya berpikir berdasarkan pertimbangan jangka pendek
sekarang dan ada pula seseorang yang berpikir dengan kencenderungan
melihat ke belakang, yaitu masa lampau yang telah dilalui. Pola-pola
berpikir ini akan berimplikasi terhadap corak sikap seseorang. Kita
terkadang menemukan seseorang beraktivitas dengan serba strategis, sebab
jangkauan berpikirnya adalah masa depan. Tetapi terkadang kita jumpai
seseorang dalam melakukan sesuatu sesungguhnya sia-sia, karena
jangkauan berpikirnya yang amat pendek, jika dilihat dari kepentingan
jangka panjang, maka tindakannya itu justru merugikan.
5. Pengaruh Epistemologi
Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia.
Suatu peradaban, sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya.
Epistemologi mengatur semua aspek studi manusia, dari filsafat dan ilmu
murni sampai ilmu sosial. Epistemologi dari masyarakatlah yang
memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh, ilmu-ilmu mereka itu—
suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari ilmu-ilmu—
dipandang dari keyakinan, kepercayaan dan sistem nilai mereka.
Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. Wujud
sains dan teknologi yang maju disuatu negara, karena didukung oleh
penguasaan dan bahkan pengembangan epistemologi. Tidak ada bangsa
yang pandai merekayasa fenomena alam, sehingga kemajuan sains dan
teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi. Epistemologi
menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam merekayasa
pengembangan-pengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang
bermanfaat bagi kehidupan manusia. Demikian halnya yang terjadi pada
teknologi. Meskipun teknologi sebagai penerapan sains, tetapi jika dilacak

11
lebih jauh lagi ternyata teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan
pengembangan epistemologi.
Epistemologi senantiasa mendorong manusia untuk selalu berfikir
dan berkreasi menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru. Semua
bentuk teknologi yang canggih adalah hasil pemikiran-pemikiran secara
epistemologis, yaitu pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang
bagaimana cara mewujudkan sesuatu, perangkat-perangkat apa yang harus
disediakan untuk mewujudkan sesuatu itu, dan sebagainya.
C. Konsep Aksiologi
1. Pengertian Aksiologi
Menurut Kamus Filsafat, Aksiologi Berasal dari bahasa Yunani Axios
(layak, pantas) dan Logos (Ilmu). Jadi aksiologi merupakan cabang filsafat
yang mempelajari nilai. Jujun [Link] mengartikan aksiologi
sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang
diperoleh.
Aksiologi berkaitan dengan kegunaan dari suatu ilmu, hakekat ilmu
sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang didapat dan berguna untuk kita
dalam menjelaskan, meramalkan dan menganalisa gejala-gejala alam.
(Cece Rakhmat, 2010). Dari pendapat diatas dapat dikatakan bahwa
Aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang
sebenarnya dari pengetahuan.
D. Penerapan Konsep Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi dalam Filsafat
Ilmu Keperawatan
Pengembangan ilmu pengetahuan tidak terlepas dari pemahaman
tentang filsafat ilmu. Filsafat ilmu merupakan telaat kefilsafatan yang ingin
menjawab pertanyaan mengenai hakekat ilmu yang ditinjau dari tiga aspek
yaitu aspek ontologi (apa yang ingin diketahui), epistemologi (bagaimana
memperoloh pengetahuan), dan aksiologi (untuk apa pengetahuan itu).
Filsafat ilmu dijadikan sebagai landasan dalam perkembangan ilmu
pengetahuan sehingga tidak menyimpang dari kaidah discipline ilmu
pengetahuan.

12
Pemahaman tentang sudut pandang filsafat ilmu harus diaplikasikan
dalam keperawatan sebagai landasan untuk pengembangan ilmu keperawatan
dan praktik keperawatan. Berikut aplikasi tiga sudut pandang filsafat ilmu
dalam ilmu keperawatan.
1. Ontologi dalam Ilmu Keperawatan
Ontologi dapat diartikan sebagai suatu studi yang membahas sesuatu
yang ada. Ontologi menjawab pertanyaan tentang apa yang ingin diketahui
atau objek yang menjadi pusat studi dari suatu discipline ilmu. Ontologi
dalam ilmu keperawatan merupakan objek yang menjadi pusat telaah ilmu
keperawatan.
Untuk memahami aspek ontologi ilmu keperawatan perlu dipahami
tentang postulat, asumsi, dan prinsip yang diyakini dalam keperawatan.
Postulat yang diajukan dalam keperawatan adalah bahwa manusia yang
tidak dapat berfungsi secara sempurna dalam kaitan dengan kondisi
kesehatan dan proses penyembuhan mempunyai seperangkat kebutuhan.
Asumsi yang diajukan bahwa manusia tidak dapat berfungsi secara
sempurna dalam kaitan dengan kondisi kesehatan dan proses
penyembuhan adalah makhluk biopsikososial dan spiritual. Berdasarkan
postulat dan asumsi ini dikembangkan prinsip yaitu bantuan yang efektif
bagi individu yang tidak dapat berfungsi secara sempurna dalam kaitan
dengan kondisi kesehatan dan proses penyembuhan adalah bantuan dengan
pendekatan biopsikososial dan spiritual secara holistik dan optimal.
Berdasarkan pemahaman tentang postulat, asumsi dan prinsif
tersebut, maka bidang garapan dan fenomena yang menjadi objek studi
keperawatan adalah penyimpangan dan tidak terpenuhinya kebutuhan
dasar manusia (biopsikososial dan spiritual). Keperawatan juga
mempelajari manusia sebagai makhluk biopsikososial dan spiritual, respon
yang dapat ditimbulkan ketika tidak dapat berfungsi secara sempurna serta
bantuan dengan pendekatan biopsikososial dan spiritual yang holistik
untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Pengembangan ilmu dalam struktur ilmu keperawatan harus
berlandaskan aspek ontologi di atas. Hal inilah yang membedakan

13
discipline ilmu keperawatan dengan discipline ilmu lainnya. Meskipun
objek material yang menjadi sasaran penyelidikan sama, namun dalam
perkembangan struktur ilmu pengetahuan selanjutnya akan berbeda,
karena sudut pandang ontologi yang berbeda. Misalnya ilmu kedokteran
memfokuskan pada gangguan fungsi organ tubuh dan upaya penyembuhan
penyakit, sedangkan ilmu keperawatan secara ontologi memfokuskan pada
pemahaman manusia sebagai makhluk biopsikososial dan spiritual yang
memerlukan bantuan ketika tidak dapat berfungsi secara sempurna.
Bantuan diberikan dengan pendekatan yang holistik (pelayanan
keperawatan) untuk pemenuhan kebutuhan dasar.
Dengan demikian manfaat ontologi bagi ilmu keperawatan adalah :
a. Memberikan arah dalam pengembangan struktur ilmu keperawatan
sehingga dapat membedakan discipline ilmu keperawatan dengan
discipline ilmu lainnya. Teori-teori keperawatan dikembangkan
berdasarkan sudut pandang ontologi keperawatan.
b. Memberikan panduan dalam menyusun ilmu keperawatan yang
integral, komprehensif dan koheren. Ilmu keperawatan dalam hal ini
mengkaji masalah-masalah spesifik dalam keperawatan yang
akhirnya dapat diperoleh gambaran komprehensif dan koheren
tentang objek telaahnya.
2. Epistemologi dalam Ilmu Keperawatan
Epistemologi merupakan sudut pandang tentang bagaimana metode
atau prosedur yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan.
Epistemologi menjadi dasar pijakan dalam memberikan legetimasi suatu
ilmu pengetahuan untuk diakui sebagai discipline ilmu dan menentukan
keabsahan discipline ilmu tertentu. Berdasarkan hal ini maka epistemologi
berperan penting dalam memberikan kerangka acuan dalam
pengembangan ilmu pengetahuan. Landasan epistemologi ilmu
menyangkut cara berpikir keilmuan berkenaan dengan kriteria tertentu
agar sampai pada kebenaran ilmiah. Dalam hal ini epistemologi ilmu
membahas tentang suatu proses berpikir ilmiah. Aspek metodologi yang
penting dalam pengembangan pengetahuan adalah metodologi keilmuan.

14
Aplikasi epistemologi dalam ilmu keperawatan tergambar dari
pengembangan struktur ilmu keperawatan mulai dari falsafah
keperawatan, paradigma, model konseptual keperawatan, teori
keperawatan dan teori middle range keperawatan. Saat ini pengembangan
ilmu keperawatan dilaksanakan dengan metode ilmiah melalui berbagai
penelitian keperawatan.
3. Aksiologi dalam Ilmu Keperawatan
Landasan aksiologi dalam pengembangan ilmu pengetahuan
merupakan sudut pandang tentang tujuan dan nilai suatu pengetahuan.
Landasan ini dijadikan strategi untuk mengantisipasi perkembangan
kehidupan manusia yang negatif sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi
tetap berjalan pada jalur kemanusiaan.
Aksiologi dalam ilmu keperawatan memberikan batasan
pengembangan ilmu keperawatan sehingga tetap berjalan dalam kodrat
manusia dan meningkatkan kemaslahatan umat manusia. Pemahaman
tentang aksiologi dalam keperawatan bertujuan :
a. Memberikan arah dalam proses keilmuan dan perkembangan teori
keperawatan sehingga berbagai penelitian keperawatan dapat
dilakukan secara etis, tidak mengubah kodrat dan tidak merendahkan
martabat manusia.
b. Memberikan arah dalam praktik keperawatan sehingga dapat
memberikan pelayanan dengan nilai yang luhur dan dapat
meningkatkan derajat kesehatan manusia.

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setiap jenis pengetahuan selalu mempunyai ciri-ciri yang spesifik
mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi)
pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan; ontologi
ilmu terkait dengan epistemologi ilmu, epistemologi ilmu terkait dengan
aksiologi ilmu dan seterusnya. Kalau kita ingin membicarakan epistemologi
ilmu, maka hal ini harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi ilmu. Secara
detail, tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi
dan aksiologi. Apalagi bahasan yang didasarkan model berpikir sistemik,
justru ketiganya harus senantiasa dikaitkan.
Keterkaitan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi—seperti juga
lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--
membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang
lain, sebab ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan
dalam mekanisme pemikiran.
Demikian juga, setiap jenis pengetahuan selalu mempunyai ciri-ciri
yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk
apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling
berkaitan; ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu, epistemologi ilmu
terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. Pembahasan mengenai
epistemologi harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi. Secara jelas,
tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan
aksiologi. Dalam membahas dimensi kajian filsafat ilmu didasarkan model
berpikir sistemik, sehingga harus senantiasa dikaitkan.

DAFTAR PUSTAKA

16
A b d u l l a h , A m i n . 2005. D e s a i n P e n g e m b a n g a n A k a d e m i k I A I N
M e n u j u U I N S u n a n Kalijaga dari Pendekatan Pola Dikotonomis-
Akademik ke Arah Integratif-Interdisciplinary dalam Zainal Abidin
Bagir, [Link],I n t e g r a s i I l m u d a n  Agama Interpretasi dan Aksi.
Bandung: Mizan.

Asy’ari, H. M dkk. [Link]. Yogyakarta: RSFI.

Azra,  Azyumardi. 1993. Tradisionalisme Nasr: Eksposisi dan Refleksi. Ulumul


Qur”an, no. 4, vol. IV.

Bagus Lorens. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Bakhtiar , Amsal. 2006. Filsafat Ilmu. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.

Bakker, Anton.1992. Ontologi Metafisika Umum. Yogyakarta: Pustaka Kanisius

Dharma, KK. Metodologi Penelitian Keperawatan : Panduan Melaksanakan dan


Menerapkan Hasil Penelitian.

D.W. Hamlyn. History of Epistemology. in Pauld Edwards, editor in chief, The


Encyclopedia of Philosophy, vol. 3 (New York and London, Macmillan
Publishing Co., 1972) hal. 8-38.

Gruber, T. [Link]. Springer-Verlag. ISBN 978-0-387-49616-0.

Hadi, P. Hardono. 1994. Epistemologi: Filsafat Pengetahuan. Yogyakarta:


Penerbit Kanisius.

H o n e r , S t a n l e y M . d a n H u n t , T h o m a s C . 1987. M e t o d e d a l a m
M e n c a r i Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Gramedia,

Jalaluddin dan Abdullah Idi. 1997. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Gaya Media
Pratama.

17

Anda mungkin juga menyukai