0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan26 halaman

Minat Batik Surakarta untuk Gaun Cocktail

Teks tersebut membahas tentang minat penggunaan batik Surakarta untuk pembuatan gaun pesta cocktail di Surabaya. Teks menjelaskan latar belakang tentang perkembangan fungsi busana dan batik sebagai bahan tradisional Indonesia. Tujuan penelitian adalah mengetahui hasil dan minat masyarakat Surabaya terhadap penggunaan batik Surakarta untuk membuat gaun pesta cocktail.

Diunggah oleh

putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan26 halaman

Minat Batik Surakarta untuk Gaun Cocktail

Teks tersebut membahas tentang minat penggunaan batik Surakarta untuk pembuatan gaun pesta cocktail di Surabaya. Teks menjelaskan latar belakang tentang perkembangan fungsi busana dan batik sebagai bahan tradisional Indonesia. Tujuan penelitian adalah mengetahui hasil dan minat masyarakat Surabaya terhadap penggunaan batik Surakarta untuk membuat gaun pesta cocktail.

Diunggah oleh

putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

A. Judul : MINAT PENGGUNAAN BATIK SURAKARTA PADA


PEMBUATAN GAUN PESTA COCKTAIL DI SURABAYA
B. Latar Belakang
Busana adalah segala sesuatu yang dikenakan dari ujung kepala
hingga ujung kaki. Busana pada awalnya dikenakan untuk menutupi dan
melindungi tubuh, akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman
busana menjadi salah satu kebutuhan penting seseorang.
Busana mempunyai hubungan yang erat dengan manusia karena
menjadi salah satu kebutuhan utama. Sejak zaman dahulu, dalam
kehidupan sehari–hari manusia tidak bisa dipisahkan dari pemakaian
busana. Pakaian pada saat ini tidak lagi dibuat secara sederhana hanya
untuk sekedar menutupi tubuh, tetapi dibuat dengan menggunakan bahan
yang lebih bervariasi, dan desain yang lebih menarik (Soekarno, 2002:1).
Fungsi utama busana saat ini sudah berkembang. Busana bukan
lagi sekedar untuk menutupi dan melindungi tubuh, melainkan salah satu
kebutuhan penting untuk menunjukkan kepribadian maupun status sosial
seseorang. Beragamnya aktifitas manusia juga menjadi faktor lain
terciptanya beragam jenis dan model busana. Aktifitas seperti bekerja,
sekolah, rekreasi, pesta dan lain–lain mendorong manusia untuk selalu
berpenampilan secara maksimal disesuaikan dengan aktifitas itu sendiri.
Jenis dan model busana yang akan dikenakan untuk bekerja tentu akan
sangat berbeda dengan dengan busana yang akan dikenakan untuk sekolah
ataupun rekreasi, terlebih lagi untuk pesta. Busana pesta bisa dikatakan
jenis busana yang paling banyak variannya, karena garis–garis
rancangannya yang tergolong lebih bebas apabila dibandingkan dengan
jenis busana yang lain.
Busana pesta sendiri dikategorikan pesta pagi, siang, sore dan pesta
malam hari dengan berbagai perhelatannya. Masing–masing jenis busana
pesta, memiliki beberapa hal yang harus diperhatikan seperti model, warna
dan bahan. Seperti pada busana pesta malam hari yang pada umumnya
memiliki panjang minimal sebatas mata kaki dan terkesan lebih ekslusif.
2

Berbeda dengan busana pesta sore hari atau cocktail party yang panjang
gaunnya maksimal mencapai betis kaki. Ditinjau dari segi desain, gaun
pesta cocktail pada umumnya lebih sederhana apabila dibandingkan
dengan gaun pesta malam hari.
Meski demikian, seiring dengan berkembangnya dunia fashion,
tidak serta merta menggerus nilai tradisional khususnya di Indonesia,
terihat dari banyaknya masyarakat Indonesia yang hingga kini masih
berminat mengenakan busana yang terbuat dari bahan tradisional asli
Indonesia seperti batik, tenun, songket dan lain-lain. Bahan–bahan
tradisional tersebut merupakan ciri khas budaya Indonesia dan tidak
dimiliki oleh negara lain. Banyaknya minat masyarakat Indonesia terhadap
penggunaan bahan tradisional tersebut merupakan suatu nilai positif dari
masyarakat Indonesia yang meskipun zaman sudah berkembang tetapi
tidak melupakan budaya lokal.
Batik adalah salah satu contohnya. Batik adalah kain bergambar
yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan malam pada kain
itu kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu; kain batik
(Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,
1988:84).
Batik merupakan salah satu dari sekian banyak kain tradisional
yang ada di Indonesia. Jenis batik bermacam–macam sesuai dengan daerah
asalnya, seperti batik pesisiran, Pekalongan, Solo, Yogya, Madura,
Cirebon, Garut, dan Bengkulu (Indah Ari, 2008:4).
Batik yang merupakan salah satu identitas negara Indonesia kini
sudah mulai digemari oleh kalangan anak muda, tidak seperti dulu yang
selalu identik dengan kalangan orang tua. Bahan batik saat ini sudah
banyak dikombinasikan dengan busana jenis apapun sesuai selera para
desainer maupun produsen fashion.
Faktor tersebut yang mendorong para perancang dan produsen
fashion untuk lebih tertantang menciptakan busana yang tidak hanya
terkini tapi juga mengandung nilai budaya didalamnya. Salah satu
3

contohnya yaitu dengan merancang busana pesta dengan menggabungkan


antara garis rancangan yang masa kini dan pemilihan bahan tradisional.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mencoba meneliti
bagaimana minat masyarakat khususnya masyarakat Surabaya terhadap
penggunaan batik Surakarta dalam pembuatan gaun pesta cocktail tersebut.
C. Ruang Lingkup dan Pembatasan Masalah
Ruang lingkup yang perlu dibatasi dalam penelitian ini adalah
minat masyarakat Surabaya terhadap penggunaan batik Surakarta pada
pembuatan gaun pesta cocktail.
D. Pertanyaan/Fokus Penelitian
Pertanyaan atau fokus penelitian diperlukan untuk menentukan
solusi yang tepat terhadap suatu permasalahan di dalam penelitian.
Pertanyaan/fokus penelitian masalah yang akan dibahas pasa skripsi ini
adalah:
1. Bagaimana hasil jadi busana pesta cocktail dengan menggunakan batik
Surakarta sebagai variasinya?
2. Bagaimana minat masyarakat Surabaya terhadap penggunaan batik
Surakarta pada pembuatan gaun pesta cocktail?
E. Asumsi
Asumsi merupakan anggapan dasar yang kebenarannya sudah
diyakini sehingga perlu diajukan untuk melandasi kerangka berpikir
peneliti. Asumsi dalam penelitian ini yaitu:
1. Hasil jadi gaun pesta cocktail menggunakan batik Surakarta sebagai
variasinya adalah bagus.
2. Masyarakat Surabaya berminat terhadap penggunaan batik Surakarta
pada pembuatan gaun pesta cocktail.
4

F. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui permasalahan yang telah
disebutkan di atas, dalam hal ini penulis mempunyai tujuan penelitian
sebagai berikut:
1. Mendiskripsikan hasil jadi gaun pesta cocktail dengan menggunakan
batik Surakarta sebagai variasinya.
2. Mendiskripsikan minat masyarakat Surabaya terhadap penggunaan
batik Surakarta pada pembuatan gaun pesta cocktail.
G. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis,
lembaga maupun masyarakat yaitu sebagai berikut:
1. Sebagai masukan atau tambahan referensi dalam kegiatan perkuliahan
manajemen busana wanita mengenai pembuatan gaun pesta cocktail.
2. Sebagai salah satu sarana pengembangan diri dan sarana memperoleh
pengalaman dalam berpenampilan menggunakan batik bagi
masyarakat di kota Surabaya.
3. Sebagai masukan dan bahan pertimbangan bagi pelaku industri busana
dalam memproduksi gaun pesta cocktail yang modern dengan variasi
batik Surakarta.
H. Batasan Istilah
Batasan istilah diperlukan untuk menghindari kesimpangsiuran
dalam pembahasan nanti. Batasan istilah dalam penelitian adalah minat,
batik Surakarta, dan gaun pesta cocktail.
Minat merupakan sumber motivasi yang timbul karena adanya
daya tarik dari luar maupun dari dalam yang dapat mendorong orang untuk
melakukan kegiatan dan mengambil keputusan.
Batik Surakarta adalah jenis batik yang berasal dari sebuah kota
yang berada di Jawa Tengah yaitu Surakarta.
Gaun pesta cocktail adalah gaun perempuan yang elegan untuk
acara–acara semi formal di sore hari dengan detail sedikit lebih rumit dan
lebih indah dari busana yang dikenakan sehari–hari.
5

I. Landasan Teori
1. Kajian Pustaka
Penelitian memiliki tujuan untuk menemukan prinsip–prinsip
umum atau menafsirkan tingkah laku yang dapat digunakan untuk
menerangkan dan mengendalikan kejadian–kejadian dalam lingkup
pendidikan. Berdasarkan hal tersebut, maka penyusunan penelitian
dibutuhkan sumber–sumber pengetahuan yang sesuai dengan bidang
yang menjadi obyek penelitian. Peneliti harus mampu menemukan,
dan menggunakan kepustakaan dalam bidangnya dengan benar,
dengan melakukan kajian pustaka yang sesuai dengan bidang peneliti.
Studi kepustakaan atau studi literatur, selain untuk mencari
sumber data sekunder yang akan mendukung penelitian, juga
diperlukan untuk mengetahui sampai dimana ilmu pengetahuan yang
berhubungan dengan penelitian telah berkembang (Nazir, 2005:93).
Menurut Nyoman Kutha Ratna (dalam Prastowo, 2012:80)
mengungkapkan bahwa kajian pustaka adalah seluruh bahan bacaan
yang mungkin pernah dibaca dan dianalisis, baik yang sudah
dipublikasikan maupun sebagai koleksi pribadi. Kajian pustaka adalah
bahan–bahan bacaan yang secara khusus berkaitan dengan obyek
penelitian.
Menurut Pohan (dalam Prastowo, 2012:81) mengungkapkan
bahwa kegiatan penyusunan kajian pustaka bertujuan mengumpulkan
data dan informasi ilmiah, berupa teori–teori, metode atau pendekatan
yang telah berkembang dan telah didokumentasikan dalam bentuk
buku, jurnal, naskah, catatan, rekaman, sejarah, dokumen–dokumen,
dan lain–lain yang terdapat di perpustakaan. Kajian ini dilakukan
dengan tujuan menghindarkan terjadinya pengulangan dan peniruan.
Menurut Nyoman Kutha Ratna (dalam Prastowo, 2012:81)
mengungkapkan bahwa pertimbangan perlu disusunnya kajian pustaka
dalam suatu rancangan penelitian didasari oleh kenyataan bahwa setiap
obyek kultural merupakan gejala multidimensi sehingga dapat
6

dianalisis lebih dari satu kali secara berbeda–beda, baik oleh orang
yang sama maupun berbeda.
Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
kajian pustaka adalah bahan–bahan bacaan yang berkaitan dengan
obyek penelitian yang pernah dibuat dan didokumentasikan serta
digunakan menganalisis suatu obyek penelitian.
a. Pengertian minat
Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan
pada suatu hal atau aktifitas tanpa ada yang menyuruh. Minat pada
dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri
sendiri dengan sesuatu diluar diri. Minat merupakan ssesuatu yang
pribadi yang berhubungan dengan sikap, minat dan sikap
merupakan dasar bagi sesorang dalam hal pengambilan keputusan
(Ngalim Purwanto, 2003:140).
Minat dapat timbul karena daya tarik dari luar dan juga
dari dalam diri sanubari (M. Dalyono, 2009:56).
Minat merupakan sumber motivasi yang mendorong
orang untuk melakukan kegiatan yang mereka inginkan bila
mereka bebas memilih (Hurlock, 1992:144).
Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat
ditarik kesimpulan bahwa minat merupakan sumber motivasi yang
timbul karena adanya daya tarik dari luar maupun dari dalam yang
dapat mendorong orang untuk melakukan kegiatan dan mengambil
keputusan.
Kaitannya dalam penelitian ini, peneliti mencoba
mendeskripsikan seberapa besar minat masyarakat Surabaya
terhadap penggunaan batik Surakarta dalam pembuatan gaun pesta
cocktail. Penggunaan batik Surakarta dalam pembuatan gaun pesta
cocktail merupakan daya tarik yang dimaksud dalam penelitian ini,
dimana dapat menimbulkan motivasi yang mampu mendorong
7

masyarakat Surabaya untuk menggunakan gaun pesta cocktail


menggunakan batik Surakarta sebagai variasinya.
b. Batik Surakarta
1) Pengertian batik
Batik adalah kain bergambar yang pembuatannya secara
khusus dengan menuliskan malam pada kain itu kemudian
pengolahannya diproses dengan cara tertentu (Tim Penyusun
Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1988:84).
Kata batik berasal dari bahasa Jawa yaitu ‘amba’ dan
‘tik’ atau ‘nitik’ yang berarti menggambar atau menandai.
Berdasarkan catatan sejarah, batik berasal dari kerajaan
Majapahit. Motif awalnya berupa corak lukisan binatang dan
tanaman, lama kelamaan, motif batik menjadi motif abstrak
yang menyerupai awan, relief candi, wayang dan lain–lain.
Selain itu, dikenal juga batik pagi–sore, yaitu batik yang
memiliki dau desain dalam satu lembar kain (Tiara Pelangi,
2008:4).
Batik merupakan hasil karya tradisional yang memiliki
nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya
Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-
perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan
dalam membatik sebagai mata pencaharian. Pekerjaan
membatik di masa lalu adalah pekerjaan eksklusif kaum
perempuan (Tiara Pelangi, 2008:10).
Dahulu menggunaan batik dibatasi hanya untuk
keperluan adat [Link] dan warna pun tidak sembarang
digunakan. Sampai saat ini, motif dan warna masih menjadi
acuan untuk keperluan apa batik itu dipakai.
8

2) Teknik pembuatan batik


Ragam hias atau corak batik dibuat dengan dua macam
teknik, yaitu tulis dan cap. Pembuatan batik dengan teknik tulis
menggunakan canting dan malam sebagai bahan perintang
warna. Malam adalah zat padat yang diproduksi secara alami,
baik dari hewan maupun tumbuhan. Unsurnya tidak jauh beda
dengan lilin yang banyak ditemukan di pasaran. Malam
berfungsi untuk menutup kain sesuai motif agar tidak terkena
warna.
Selain dengan teknik tulis, dalam membatik dikenal
juga dengan teknik printing atau cap. Perbedaan batik tulis
dengan batik cap adalah dari proses pembuatan dan dan lama
pengerjaannya. Teknik tulis menggunakan tangan dalam
pembuatan motifnya. Pengerjaannya lebih lama dibandingkan
dengan batik printing atau batik cap yang menggunakan alat
bantu cap atau mesin (Tiara Pelangi, 2008:10).
3) Jenis batik menurut daerah asal
Batik menurut daerah asalnya terdiri dari berbagai jenis
diantaranya batik Pesisiran, Pekalongan, Surakarta, Yogya,
Madura, Cirebon, Garut, dan Bengkulu. Masing–masing daerah
memiliki ciri khas tersendiri (Tiara Pelangi, 2008:4).
Jenis batik yang digunakan sebagai variasi dalam
pembuatan gaun pesta cocktail dalam penelitian ini yaitu batik
Surakarta.
Surakarta adalah nama sebuah kota yang berada di
Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. ([Link]
com/roko/awal-mula-solo-surakarta55110090813311783cbc6e
af).
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa batik Surakarta adalah jenis batik yang
berasal dari sebuah kota yang berada di Jawa Tengah yaitu
9

Surakarta. Batik Surakarta termasuk ke dalam batik keraton


selain dari Batik Yogya yang juga memiliki ciri dan khas
tersendiri. Namun begitu Batik Solo dan Yogya dikenal dengan
batik Vorstenlanden yang memiliki arti wilayah-wilayah
kerajaan.
4) Karakteristik batik Surakarta
Kekhasan batik Surakarta ada pada motifnya yang
mengikuti komposisi bunga dan geometris yang didominasi
warna hitam, coklat, merah dan biru. Sebagian motif batik
Surakarta pada masa lampau, hanya boleh digunakan oleh para
bangsawan yang dinamakan motif larangan, seperti motif
parang rusak klithik, parang rusak gendheh, dan parang rusak
barong.
Ditinjau sisi Motif, batik Surakarta memiliki beragam
motif yang menjadi ciri khasnya atau yang sangat terkenal,
beberapa di antaranya adalah Parang Kusumo, Sidoasih,
Truntum, Kawung dan Sekar Jagat. Sebetulnya masih banyak
motif dari kain batik Solo lainnya yang memiliki nilai sejarah
dan menginspirasi perkembangan batik modern (Tiara Pelangi
2008:6).
Beberapa motif batik hanya dipakai untuk acara
tertentu, seperti pernikahan. Misalnya batik sidomukti
dikenakan oleh mempelai, sedangkan batik bermotif truntum
dipakai oleh orang tua pengantin. Pemakaian batik bermotif
tertentu ini memiliki arti dan makna tersendiri. Penamaan batik
sidomukti misalnya, diambil dari kata “sido” yang berarti
menjadi dan “mukti” yang artinya berkecuupan. Makna
pemakaian batik sidomukti adalah pengharapan agar kehidupan
mempelai nantinya bahagia dan berkecukupan (Tiara Pelangi,
2008:6).
10

Berikut ini adalah beberapa contoh batik Surakarta:

Gambar 1. Contoh batik Surakarta motif Sidomukti

Gambar 2. Contoh batik Surakarta motif Truntum

Gambar 3. Contoh batik Surakarta motif Kawung


11

c. Gaun Pesta Cocktail


1) Pengertian gaun
Gaun merupakan baju wanita model Eropa (Tim
Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,
1988:296).
Secara lebih spesifik gaun dapat diartikan sebagai
pakaian yang berbentuk satu potong bagian blus disambung
dengan bagian rok ([Link]
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa gaun adalah baju wanita yang berbentuk
satu potong bagian blus disambung dengan bagian rok.
2) Pengertian dan jenis busana pesta
Busana pesta adalah busana yang dikenakan pada
kesempatan pesta (Enny Zuhni Khayati, 1998:3).
Busana pesta dikategorikan pesta pagi, siang, sore, dan
pesta malam hari dengan berbagai perhelatannya. Misalnya
pesta ulang tahun, pesta perkawinan, pesta gala yang semuanya
mempunyai ciri khas dalam penampilannya. Pada pesta pagi
dan siang hari, desain busana dapat dibuat lebih berwarna dan
beragam bentuknya dengan kesan yang lebih santai dan
[Link] untuk busana pesta malam hari minimal panjang
pada mata kaki. Sedangkan untuk pesta sore hari atau biasanya
disebut cocktail party mempunyai ciri panjang gaun maksimal
pada betis kaki dan berkesan semi formal (Sanny Poespo,
2003:6).
Berdasarkan pengertian tersebut, maka busana pesta
sore hari dapat juga disebut dengan busana pesta cocktail.
Cocktail itu sendiri pertama kali muncul di Amerika Serikat.
Sewaktu alkohol dilarang keras, dan pesta–pesta dengan
minuman keras pun dipindah ke tempat yang lebih private,
seperti rumah dan bar–bar dengan sajian alkohol dan alunan
12

musik jazz. Agar lebih sesuai dengan pesta tersebut, ide pun
bermunculan untuk menciptakan pakaian elegan yang tidak
terlalu formal dengan detail sedikit lebih rumit dan lebih indah
dari pakaian yang dikenakan sehari–hari (Pinky Hendarto,
2008:1).
Busana cocktail adalah pakaian atau gaun perempuan
yang elegan untuk acara–acara semi formal dengan detail
sedikit lebih rumit dan lebih indah dari busana yang dikenakan
sehari – hari (Pinky Hendarto, 2008:3).
Berdasarkan pengertian dari beberapa sumber diatas,
maka dapat disimpulkan bahwa gaun pesta cocktail adalah
gaun perempuan yang elegan untuk acara–acara semi formal di
sore hari dengan detail sedikit lebih rumit dan lebih indah dari
busana yang dikenakan sehari–hari.
Berikut ini adalah beberapa contoh gaun pesta cocktail:

Gambar 4. Beberapa contoh gaun pesta cocktail


13

3) Ciri–ciri busana pesta


Menurut Prapti karomah dan Sicilia Sawitri (1998:9–
10), ciri–ciri busana pesta antara lain :
a. Diproduksi secara terbatas.
b. Membutuhkan waktu dalam pengerjaan yang sedikit lama.
c. Dibuat tidak mutlak atas dasar pesanan dapat juga sebagai
koleksi dengan tujuan promosi.
d. Dikerjakan oleh beberapa ahli, misalnya designer, ahli pola,
ahli jahit, ahli gambar, dan ahli tekstil.
e. Terbuka tetapi dapat pula berbentuk busana kerja.
f. Biaya pembuatan biasanya lebih tinggi daripada pembuatan
busana biasa karena biasanya busana pesta.
4) Bahan dan warna busana pesta
Memilih bahan (tekstil) disesuaikan dengan bentuk
pakaian model dan warna kulit serta jatuhnya bahan (Prapti
Karomah dan Sicilia Sawitri, 1986:54).
bahan yang digunakan untuk busana pesta antara lain
beledu, kain renda, lame, sutera, dan sebagainya. Busana pesta
yang digunakan pada umumnya adalah bahan yang berkilau,
bahan tembus terang, mewah dan mahal setelah dibuat (Sri
Widarwati, 1993).
Berikut ini adalah beberapa contoh bahan busana pesta:

Gambar 5. Contoh bahan berkilau yaitu satin


14

Gambar 6. Contoh kain renda atau lace

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan


bahan busana pesta adalah warna. Warna adalah kesan yang
diperoleh dari cahaya yang dipantulkan benda–benda yang
dikenainya (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa, 1990:1008).
Pemilihan bahan busana pesta cocktail sebaiknya
bertekstur agak lembut dengan warna bahan yang cerah atau
warna yang agak gelap dan tidak mencolok (Enny Zuhni
Khayati, 1998).
15

Berikut ini adalah contoh bahan busana pesta cocktail :

Gambar 8. Bahan satin duchess

Eksperimen dalam penelitian ini menggunakan bahan


batik Surakarta sebagai variasi dalam pembuatan gaun pesta
cocktail. Berikut ini adalah beberapa contoh gaun pesta cocktail
menggunakan batik Surakarta sebagai variasinya:
16

Gambar 7. Contoh gaun pesta cocktail


Menggunakan variasi batik Surakarta

2. Kajian Penelitian Terdahulu


Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah Elie
Susilowati (2014) dengan judul Penggunaan Batik Madura Pada
Pembuatan Kebaya Modifikasi Ditinjau dari Keserasian dan Minat
Remaja Putri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
bagaimanakah penggunaan batik Madura pada pembuatan kebaya
modifikasi ditinjau dari keserasian dan minat remaja putri serta untuk
mengetahui adakah keistimewaan dan minat dari hasil jadi kebaya
tersebut.
Serangkaian eksperimen dilakukan pada penelitian ini dengan
membuat kebaya modifikasi dengan menggunakan batik Madura
sebagai variasinya. Berdasarkan hasil analisis data hasil pendapat
responden, penelitian ini menyimpulkan bahwa:
17

1. Hasil jadi kebaya dengan menggunakan batik Madura sebagai


variasinya hasilnya bagus. Jumlah responden yang setuju
menunjukkan banyaknya konsumen yang menyukai hasil jadi
kebaya modifikasi ini menyatakan bagus dan memuaskan.
2. Minat remaja putri terhadap penggunaan batik Madura pada
pembuatan kebaya modifikasi adalah sangat diminati karena sesuai
dengan hasil angket yang telah diisi menunjukkan prosentase yang
sangat tinggi yaitu sebesar 49%.
3. Kerangka Konseptual

Minat masyarakat Surabaya

Penerapan batik Surakarta


pada gaun pesta cocktail

Metode eksperimen, angket,


observasi, dokumentasi, dan wawancara

Populasi: masyarakat Surabaya `


Sampel: 20 orang responden mahasiswa
Tata Busana di Surabaya yang telah menempuh mata kuliah
Manajemen Busana Wanita.

Penelitian deskriptif kualitatif

Simpulan
18

J. Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Penelitian khususnya dalam ilmu pengetahuan empirik pada
uraiannya bertujuan untuk menemukan, mengembangakan atau
menguji suatu pengetahuan (Sutrisno Hadi, 2004:3).
Menemukan berarti berusaha mendapatkan sesuatu untuk
mengisi kekosongan. Mengembangkan berarti memperluas dan
mengali lebih dalam apa yang sudah ada, sedangkan menguji
dilakukan jika apa yang sudah ada masih atau menjadi diragukan
kebenarannya. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka dalam
penelitian harus ditetapkan metode-metode yang akan dipergunakan
dalam melakuakan suatu penelitian.
Sebagian besar penelitian merupakan penerapan pendekatan
ilmiah terhadap pengkajian suatu masalah. Tujuannya untuk
memperoleh, menemukan jawaban terhadap persoalan yang signifikan
melalui penerapan prosedur ilmiah.
Semua penelitian kegiatan pencarian, penyelidikan dan
percobaan secara ilmiah dalam suatu bidang tertentu untuk
menemukan fakta-fakta atau prinsip-prinsip baru yang bertujuan untuk
mendapatkan pengertian baru dan menaikkan tingkat ilmu serta
teknologi (Margono, 2006:1).
Penulis dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian
kualitatif dengan pendekatan deskriptif.
Menurut Bogdan dan Tailor (dalam Basrowi dan Suwandi,
2008:21) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif adalah prosedur
penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata–kata tertulis
atau lisan dari orang dan perilaku yang dapat diamati.
19

2. Data dan Sumber Data


Informasi atau data dapat dibedakan berdasarkan sumbernya
(Marzuki, 2005:59).
Dua macam data tersebut adalah:
a. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari
sumbernya, diamati dan dicatat untuk pertama kalinya. Data
tersebut menjadi data sekunder kalau dipergunakan orang yang
tidak berhubungan langsung dengan penelitian yang bersangkutan.
Data primer dalam penelitian ini diperoleh secara langsung
yang didapat dari pendapat 20 responden mahasiswa Universitas
PGRI Adi Buana Surabaya jurusan Tata Busana yang telah
mengikuti mata kuliah manajemen busana wanita yang mewakili
untuk memberi data eksperimen.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang bukan diusahakan sendiri
pengumpulannya oleh peneliti, misalnya diambil dari Biro
Statistik, dokumen–dokumen perusahaan atau organisasi, surat
kabar dan majalah, ataupun publikasi lainnya (Marzuki, 2005:60)
Data sekunder dalam penelitian ini didapatkan penulis
dengan hanya mengutip informasi dari buku–buku, majalah–
majalah dan situs–situs internet yang mendukung jalannya
penelitian ini.
Salah satu kelemahan dari data sekunder yaitu kesulitan
menemukan data yang sama persis dengan keperluan proyek
penelitian dan karena itu, perlu disusun kembali sesuai dengan
kepentingan masalah yang dihadapinya (Marzuki, 2005:60).
Sumber data yang dimaksudkan dengan judul penelitian
disini berupa hasil jadi gaun pesta cocktail dengan penerapan batik
Surakarta.
3. Teknik Pengumpulan Data
20

Metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh


data yang akurat dan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dalam
penelitian ini adalah metode eksperimen, metode dokumentasi metode
angket dan metode wawancara.
a. Metode eksperimen
Metode eksperimen adalah metode dengan mengadakan
kegiatan percobaan untuk melihat sesuatu hasil (Winarno
Surakhmad, 2004:149).
Eksperimen yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
mengadakan kegiatan percobaan untuk melihat hasil dari
penerapan batik Surakarta pada gaun pesta cocktail. Persiapan
perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil eksperimen yang baik.
Persiapan tersebut diantaranya:
1) Bahan
a) Kain batik Surakarta
b) Kain polos untuk kombinasi batik
c) Ritsleting jepang
d) Benang jahit
e) Ornamen untuk hiasan
2) Alat
a) Mesin jahit
b) Gunting kain
c) Gunting benang
d) Metlin
e) Pendedel
3) Langkah kerja
a) Desain busana
b) Analisa desain
c) Pengambilan ukuran
d) Pembuatan pola
e) Pecah pola
21

f) Pemotongan bahan
g) Proses menjahit
h) Menghias busana dan penyelesaian
b. Metode angket
Angket atau quisioner adalah alat penelitian berupa daftar
pertanyaan yang didistribusikan melalui pos atau diisi, dan
dikembalikan atau dapat juga dijawab dibawah pengawasan
peneliti (S. Nasution, 2003:128).
Penulis dalam penelitian ini menggunakan metode angket
dalam pengumpulan data. Metode angket atau quisioner adalah
surat daftar yang berisikan rangkaian pertanyaan mengenai suatu
masalah atau bidang yang akan diteliti (Cholid Narbuko dan H.
Abu Achmadi, 2002:76).
Penulis dalam penelitian ini menggunakan metode angket
dalam pengumpulan data berupa pendapat responden mengenai
hasil jadi dan minat terhadap penggunaan batik Surakarta pada
pembuatan gaun pesta cocktail
Menurut Cholid Narbuko (2002:77) mengemukakan tujuan
dari angket yaitu:
a. Memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian.
b. Memperoleh informasi mengenai suatu masalah secara
serentak.
22

Kisi – kisi Instrumen Angket


No Indikator Penilaian Nomor Soal
.
1 Desain atau model gaun pesta cocktail 1–2
2 Perpaduan bahan yang dikenakan pada
3–4
gaun pesta cocktail
3 Jatuhnya gaun pada badan 5
4 Penggunaan hiasan pada gaun 6–7
5 Hasil keseluruhan atau hasil akhir dari
8
penampilan gaun pesta cocktail

c. Metode Observasi (Pengamatan)


Observasi merupakan suatu metode pengumpulan data
dengan cara mengamati perilaku dan lingkungan (sosial atau
material) individu yang sedang diamati (Anwar Sutoyo, 2012:85–
86).
Gibson, R. L dan Mitchell, M. H (dalam Anwar Sutoyo,
2012:86) mengungkapkan bahwa observasi sebagai teknik yang
bisa dimanfaatkan untuk memilah–milah derajat dalam membuat
konklusi tentang orang lain, meskipun diakui bahwa penggunaan
observasi juga perlu dilengkapi dengan metode lain dalam
penilaian manusia.
Observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan
perilaku manusia, proses kerja, gejala–gejala alam dan bila
responden yang diamati tidak terlalu besar.
Observasi dalam penelitian ini dilakukan dengan
mengamati secara langsung tahap–tahap pengerjaan pembuatan
gaun pesta cocktail mulai dari tahap mendesain, pembuatan pola,
memotong bahan, proses menjahit sampai dengan penyelesaian
atau finishing.

d. Metode dokumentasi
23

Metode dokumentasi adalah pengambilan data yang


diperoleh melalui dokumen–dokumen (Husaini Usman dan
Purmono Setiady Akbar, 2004:73).
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya–karya
monumental dari seseorang (Sugiyono, 2009:329).
Dokumen yang ditunjukkan dalam penelitian ini adalah
berupa foto yang berkaitan dengan proses pembuatan dan hasil jadi
gaun pesta cocktail.
e. Metode wawancara
Pengumpulan data dalam penelitian ini juga menggunakan
metode wawancara. Wawancara adalah percakapan yang dilakukan
oleh dua pihak yaitu pewawancara dan yang diwawancarai dengan
maksud dan tujuan tertentu (L. J. Moleong, 2001;135).
Wawancara dalam penelitian ini dilakukan terhadap
beberapa narasumber seperti penjahit setempat dan masyarakat
pengguna batik di Surabaya.
4. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data adalah teknik yang digunakan untuk
menyempitkan dan membatasi penemuan- penemuan sehingga menjadi
suatu data yang teratur serta tersusun dan lebih berarti (Marzuki,
2002:83).
Maksud dari pernyataan di atas adalah bahwa temuan yang
didapat dari hasil pengumpulan data bukanlah merupakan jawaban
akhir dari penelitian. Temuan data tersebut harus diolah dan dianalisis
lebih lanjut dengan atau menggunakan cara tertentu untuk
mendapatkan kesimpulan akhir.
Data yang dianalisa dalam penelitian ini adalah data hasil
angket yang berisikan pendapat 20 orang responden mahasiswa
jurusan tata busana yang telah mengikuti mata kuliah manajemen
24

busana wanita mengenai penerapan batik Surakarta pada pembuatan


gaun pesta cocktail.
5. Keabsahan Data
Penulis dalam penelitian ini menggunakan analisis data secara
deskriptif untuk menganalisis tentang hasil jadi gaun pesta cocktail
yang diperoleh melalui eksperimen yang meliputi desain, keserasian
bahan, jatuhnya gaun pada badan, penggunaan hiasan dan hasil jadi
keseluruhan pada pembuatan gaun pesta cocktail menggunakan batik
Surakarta.
Temuan data hasil eksperimen, angket, observasi maupun
wawancara yang telah diperoleh dan dianalisa kemudian disajikan
secara deskriptif atau dalam bentuk kata-kata.
K. Jadwal Penelitian
Juli Agustus
No Uraian
1 2 3 4 1 2 3 4
1 Judul proposal skripsi 
2 Matrik penelitian 
3 Proposal skripsi 

L. Daftar Pustaka
1. Pustaka Utama (buku teks)
Basrowi dan Suwandi. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta:
Rineka Cipta.

Dalyono, M. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Enny Zuhny Khayati. 1998. Teknik Pembuatan Busana III.


Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.

Hurlock. E. B. 1992. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan


Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Hendarto, Pinky. 2011. Busana Pesta : Tampil Lebih Menarik Dengan


Cocktail Style. Surabaya: Tiara Aksa.

Hadi, Sutrisno. 2004. Metodology Reasearch Jilid 3. Yogyakarta:


Andy Affset.
25

Karomah, Prapti dan Sicillia Sawitri. 1998. Pengetahuan Busana.


Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.

Margono. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka


Cipta.

Marzuki. 2005. Metodologi Riset Panduan Penelitian Bidang Bisnis


dan Sosial, Edisi [Link]: Ekosiana.

Moelong, L. J. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja


Rosda Karya.

Narbuko, Cholid dan H. Abu Achmadi. 2002. Metode Penelitian.


Jakarta: Bumi Aksara

Nasution, S. 2003. Metode Penelitian Naturalustik Kualitatif.


Bandung: Tarsito

Nazir, M. 2005. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia.

Pelangi, Tiara. 2008. Batik Trendy. Surabaya: Tiara Aksa.

Poespo, Sanny. 2003. Gaya Busana Pesta. Yogyakarta: Kanisius.

Prastowo, A. 2012. Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif


Rancangan Penelitian. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Purwanto, M. Ngalim. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT.


Remaja Rosda Karya.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.


Bandung: Alfabeta.

Sutoyo, Anwar. 2012. Pemahaman Individu: Observasi, Cheklist dan


Sisiometri. Semarang : CV. Widya Karya.

Surakhmad, Winarno. 2004. Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar


Metode Teknik. Bandung: Tarsito.

Soekarno. 2002. Membuat Pola Busana Tingkat Dasar. Yogyakarta :


PT Gramedia Pustaka Utama.

Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa [Link] Besar


Bahasa [Link]: Balai Pustaka.

Usman, Husaini dan Purnomo Setiady Akbar.2004. Metode Penelitian


Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.
26

Widarwati, Sri. 1993. Desain Busana 1. Yogyakarta: Institut Keguruan


dan Ilmu Pendidikan.

2. Internet
Azizah, Julak. 2011. Macam – Macam Busana Wanita.
([Link] .info/slide/1942470) diakses pada tanggal
23 Juli 2015 pukul 09.28

Jati, Patria. 2012. Awal Mula Solo ( Surakarta).


([Link] .com/roko/awal-mula-solo-
surakarta_55110090813311783cbcea f) diakses pada tanggal
22 Juli 2015 pada pukul 21.24

Anda mungkin juga menyukai