RIVAL LINO, ST, MT
[085269547036]
([Link]@[Link])
PEMAHAMAN
REAKSI KIMIA ANTARA BAHAN BAKAR, OKSIGEN DAN
SUMBER PANAS YANG DIIKUTI PENGELUARAN CAHAYA,
ASAP, TERJADINYA SECARA CEPAT DAN SEIMBANG.
PROSES MENJALARNYA API PADA PRODUK YANG
TERBAKAR DAN SIFATNYA TIDAK TERKENDALI.
PEMAHAMAN
OKSIGEN
PEMAHAMAN
OKSIGEN
CARA
OKSIGEN PENGURAIAN OKSIGEN
CARA ISOLASI CARA
PENDINGINAN
(COOLING)
Identifikasi
FENOMENA KEBAKARAN
Fully Development Fire
Flash 4 5
over
3 Decay
6
Growth DAPAT DISERTAI
2 LEDAKAN BERUNTUN,
Ignition GAS RACUN
7
1
ZAT PROSES ENERGY
Identifikasi
FENOMENA KEBAKARAN
Fully
Flash over
Development
Growth
Fire
4
5
3 Decay
Incipient PADAMKAN ! 6
CEPAT
2
TEPAT
AMAN
7
0 1
Ignition
6
MENGAPA KEBAKARAN WAJIB
DIKENDALIKAN?
Berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1970
Pasal 3 tentang syarat-syarat keselamatan kerja
ayat 1 huruf b,c dan d, maka kebakaran wajib
dilakukan pengendalian hingga tidak terjadi
kebakran ditempat kerja.
KLASIFIKASI KEBAKARAN
PENGERTIAN
KLASIFIKASI KEBAKARAN
PENGGOLONGAN KEBAKARAN BERDASARKAN JENIS BAHAN
BAKARNYA
MERUPAKAN PEDOMAN DALAM PENANGANAN BAHAYA
KEBAKARAN
AGAR MEMUDAHKAN DALAM USAHA PEMADAMAN KEBAKARAN
DENGAN EFEKTIF
PERKEMBANGAN KLASIFIKASI
1. DITEMUKANN MAKIN INTENSIFNYA PEMAKAIAN JENIS
BAHAN BAKAR YANG SIFATNYA BERBEDA DENGAN BAHAN
BAKAR LAIN.
2. DIKEMBANGKAN JENIS JENIS MEDIA PEMADAM BARU
YANG LEBIH TEPAT (EFEKTIF) BAGI SUATU JENIS BAHAN
BAKAR TERTENTU.
PERKEMBANGAN KLASIFIKASI KEBAKARAN
1. KLASIFIKASI SEBELUM TAHUN 1970
2. KLASIFIKASI SESUDAH TAHUN 1970 (KLASIFIKASI
EROPA)
3. KLASIFIKASI NFPA
4. KLASIFIKASI US COAST GUARD
1. KLASIFIKASI SEBELUM TAHUN 1970
KELAS A : BAHAN PADAT
KELAS B : BAHAN CAIR DAN PADAT LUNAK
KELAS C : LISTRIK
2. KLASIFIKASI SESUDAH TAHUN 1970
(KLASIFIKASI EROPA)
BERDASARKAN “KONVENSI INTERNATIONAL” OLEH
“KOMITE NORMALISASI EROPA” BULAN JUNI 1970.
KELAS A : BAHAN PADAT BIASA
KELAS B : BAHAN CAIR
KELAS C : BAHAN GAS
KELAS D : BAHAN LOGAM
3. KLASIFIKASI NFPA
KELAS A : BAHAN BAKAR BILA TERBAKAR
MENINGGALKAN ARANG DAN ABU
KELAS B : BAHAN BAKAR CAIR DAN GAS
YANG MUDAH TERBAKAR
KELAS C : KEBAKARAN LISTRIK
KELAS D : KEBAKARAN LOGAM
4. KLASIFIKASI US COAST GUARD
KELAS A : SISA PEMBAKARAN BERUPA ARANG DAN ABU (KAIN, KERTAS,
KAYU, PLASTIK)
KELAS B : CAIRAN DGN FP < 170 °F DAN TIDAK LARUT DALAM AIR
(BENSIN, BENZONE)
KELAS C : CAIRAN DGN FP < 170 °F DAN LARUT DALAM AIR (ACETON,
ETHANOL, DLL)
KELAS D : CAIRAN DGN FP ≥ 170 °F DAN TIDAK LARUT DALAM AIR
(MINYAK KELAPA, MINYAK IKAN PAUS, MINYAK BERAT)
KELAS E : CAIRAN DGN FP ≥ 170 °F DAN AKAN LARUT DALAM AIR
(GLYCERIN, ETHILEN, GLYCOL, DLL)
KELAS F : KEBAKARAN LOGAM (MISAL ALUMUNIUM)
KELAS G : KEBAKARAN LISTRIK
KLASIFIKASI PERMENAKER NO 04/MEN/1980
KELAS A : BAHAN PADAT KECUALI LOGAM (KERTAS,
KAYU, PLASTIK, DLL.)
KELAS B : BAHAN CAIR ATAU GAS MUDAH TERBAKAR
KLAS C : INSTALASI LISTRIK
KLAS D : BAHAN LOGAM
APAR
(ALAT PEMADAM API RINGAN)
ALAT PEMADAM API RINGAN
• DAPAT DIOPERASIKAN SATU
ORANG
• UNTUK PEMADAMAN MULA
KEBAKARAN
• SEBATAS VOLUME API KECIL
7/11/2020 18
PERATURAN
MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI
No : PER.04/MEN/1980
TENTANG
SYARAT-SYARAT PEMASANGAN DAN PEMELIHARAN
ALAT PEMADAM API RINGAN.
Cakupan :
• Klasifikasi Kebakaran
• Jenis media dan aplikasinya
• Cara Pemasangan,
• Cara Pemeriksaan
• Cara Pengujian
• Pemeliharaan
7/11/2020 19
KLASIFIKASI KEBAKARAN
PERMENAKER No. 04/MEN/1980
(Pasal 2)
KLAS “A”
Kebakaran bahan padat kecuali logam
KLAS “B”
Kebakaran bahan cair dan gas
KLAS “C”
Kebakaran pada aparat listrik yang bertegangan
KLAS “D” D
Kebakaran logam
7/11/2020 20
PEMASANGAN
Pasal 4
(1) Setiap satu atau kelompok alat pemadam api ringan harus
ditempatkan pada posisi yang mudah dilihat dengan jelas, mudah
dicapai dan diambil serta dilengkapi dengan pemberian tanda
pemasangan.
(2) Pemberian tanda pemasangan tersebut ayat (1) harus sesuai dengan
lampiran I.
(3) Tinggi pemberian tanda pemasangan tersebut ayat (1) adalah 125
cm dari dasar lantai tepat diatas satu atau kelompok alat pemadam
api ringan bersangkutan.
(4) Pemasangan dan penempatan alat pemadam api ringan harus
sesuai dengan jenis dan penggolongan kebakaran seperti tersebut
dalam lampiran 2.
(5) Penempatan tersebut ayat (1) antara alat pemadam api yang satu
dengan lainnya atau kelompok satu dengan lainnya tidak boleh
melebihi 15 meter, kecuali ditetapkan lain oleh pegawai pengawas
atau ahli keselamatan Kerja.
(6) Semua tabung alat pemadam api ringan sebaiknya berwarna merah.
7/11/2020 21
Syarat APAR
• Dilarang memasang Apar berlubang atau cacat karena
karat
• Ditempatkan/digantung dgn konstruksi yang kuat
• ditempatkan dalam lemari atau box yang tidak dikunci
• Lemari dikunci dg kaca aman (safety glass) tebal max.
2mm lebar disesuaikan dg besar apar, mudah
dikeluarkan.
• Ditempatkan pada ketinggian 1.2 m dari lantai
• Diatas lantai min. 15 cm
• suhu ruangan tidak boleh lebih 49oC atau -44 oC kecuali
dibuat khusus.
• APAR di alam terbuka gunakan tutup pengaman.
DASAR HUKUM
PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA RI
NO. PER-02/MEN/1983
TENTANG
INSTALASI ALARM KEBAKARAN OTOMATIK
Ruang lingkup
- Perencanaan
- Pemasangan,
- Pemeriksaan
- Pengujian
- Pemeliharaan
INSTRUKSI MENTERI TENAGA KERJA
NO. Ins.11/M/BW/1997
Pengawasan Khusus Tentang Kebakaran
Dimana instruksi menteri ini dibuat guna
pelaksanaan pemeriksaan dan pengujian sistem
proteksi kebakaran (Alarm, Hydrant, springkler
dan jalur evakuasi).
KEPMENAKER No Kep 186/Men/1999
UNIT PENANGGULANGAN KEBAKARAN
(1) Pengurus atau pengusaha wajib mencegah, mengurangi dan
memadamkan kebakaran, latihan penanggulanggan kebakaran di tempat
kerja.
(2) Kewajiban mencegah, megurangi dan memadamkan kebakaran di tempat
kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. Pengendalian setiap bentuk energi;
b. Penyediaan sarana deteksi, alarm, pemadam kebakaran dan sarana
evakuasi;
c. Pengendalian penyebaran asap, panas dan gas;
d. Pembentukan unit penanggulangan kebakaran di tempat kerja;
e. Penyelenggaraan latihan dan gladi penanggulangan kebakaran secara
berkala;
f. Memiliki buku rencana penanggulangan keadaan darurat kebakaran,
bagi tempat kerja yang mempekerjakan lebih dari 50 (lima puluh)
orang tenaga kerja dan atau tempat kerja yang berpotensi bahaya
kebakaran sedang dan berat.
• Pembentukan unit penanggulangan kebakaran sebagaimana
dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) dengan memperhatikan
jumlah tenaga kerja dan atau klasifikasi tingkat potensi
bahaya kebakaran.
• Klasifikasi tingkat resiko
a. Klasifikasi tingkat risiko bahaya kebakaran ringan;
b. Klasifikasi tingkat risiko bahaya kebakaran ringan sedang I;
c. Klasifikasi tingkat risiko bahaya kebakaran ringan sedang II;
d. Klasifikasi tingkat risiko bahaya kebakaran ringan sedang III
dan;
e. Klasifikasi tingkat risiko bahaya kebakaran berat.
• Unit penanggulangan kebakaran sebagaimana
dimaksud dalam pasal 3 terdiri dari:
a. Petugas peran kebakaran;
b. Regu penanggulangan kebakaran;
c. Koordinator unit penanggulangan
kabakaran;
d. Ahli K3 spesialis penaggulangan kebakaran
sebagai penaggungjawab teknis.
TERIMA KASIH