RESUME PEDOMAN PENGGOLONGAN DIAGNOSA
GANGGUAN JIWA
Disusun :
Mohamad Fauzan
(P1337420617016)
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN
JURUSAN KEPERAWATAN SEMARANG
POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG
2019
RESUME PEDOMAN PENGGOLONGAN DIAGNOSA GANGGUAN JIWA
A. KONSEP GANGGUAN JIWA MENURUT PPDGJ
Psikiatri merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempelajari mengenai
emosi, persepsi, kognisi dan perilaku. Sedangkan gangguan jiwa adalah suatu
gangguan yang secara klinis bermakna dan menimbulkan disfungsi dalam pekerjaan.
Menurut arti dari PPDGJ III gangguan jiwa adalah pola perilaku atau psikologik yang
secara klinis bermakna dan secara khas berkaitan dengan gejala, penderitaan (distress)
serta hendaya (impairment) dalam fungsi psikososial.
Klasifikasi yang paling populer digunakan orang adalah klasifikasi gangguan
yang dikemukakan oleh American Psychiatric association (APA) pada tahun 1952
yang akhirnya pada tahun 1992 telah berhasil melahirkan Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorder IV (DSM-IV), setelah mengalami tiga kali revisi sejak
tahun 1979. Di Indonesia, pemerintah telah berhasil melahirkan klasifikasi gangguan
kejiwaan yang memuat gangguan kejiwaan yang disebut PPDGJ atau Pedoman
Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa, yang saat ini telah secara resmi digunakan
adalah PPDGJ dengan berbagai aksis yang membantu kita dalam melakukan
diagnosis.
Istilah yang digunakan adalah Gangguan Jiwa atau gangguan mental ( mental
disorder) tidak mengenal istilah penyakit jiwa ( mental illnes atau mental disease ).
Kriteria Gangguan jiwa :
• Adanya gejala klinis yang bermakna
– Sindrom atau pola perilaku
– Sindrom atau pola psikologi
• Gejala klinis menimbulkan distress ( rasa nyeri, tdk nyaman dll )
• Gejala klinis menimbulkan disability ( ketidakmampua dalam perawatan diri, dll )
PPDGJ menganut pendekatan ateoritik kecuali pada gangguan yang telah secara
jelas disepakati penyebabnya. Pengelompokan diagnosis gangguan jiwa berdasarkan
gambaran kliniknya. PPDGJ tidak menganggap gangguan jiwa adalah satu kesatuan
yang tegas dgn batas-batas yg jelas antara ggg jiw a tertentu dgn ggg jiwa lainya.
Anggapan salah : semua orang yang menderita gangguan jiwa yang sama akan serupa
dalam segala hal yang penting.
B. Tujuan PPDGJ
Bidang pelayanan kesehatan (service clinical use):
1. Kodefikasi penyakit/gangguan untuk statistik kesehatan
2. Keseragaman diagnosis klinis untuk tatalaksana terapi
Bidang pendidikan kedokteran (educational use)
1. Kesamaan konsep diagnosis gangguan jiwa untuk komunikasi akademik
Bidang penelitian kesehatan (research use)
1. Memberikan batasan dan kriteria oprasional diagnosis gangguan jiwa, yang
memungkinkan perbandingan data dan analisis ilmiah.
C. Perkembangan PPDGJ
1. PPDGJ I
Terbit tahun 1973
Nomor kode dan diagnosis mengacu pada ICD 8 ( International Clasification
of Desease -8 ) yang diterbitkan oleh WHO chapter V, nomor 290-315 (sitem
numerik)
Diagnosis : mono-aksial
2. PPDGJ II
Diterbitkan pada tahun 1983
Diagnosis multi aksial menurut DSM-III
Nomor kode dan diagnosis : mengacu pada ICD-9 ( sistem numerik )
Konsep klasifikasi dengan kelas diagnosis memakai kriteria diagnosis DSM
( The Diagnosis statistical manual of mental disorder)
3. PPDGJ III
Diterbitkan pada tahnun 1993
Diagnosis multi-aksial
Nomor kode dan diagnosis merujuk pada ICD-10
Konsep klasifikasi dengan hirarki blok memakai pedoman diagnoosis ICD-10
Pedoman Penggolongan Penyakit dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ-III) merujuk
pada standard dan system pengkodean dari International Classification of Disease (ICD-
10) dan system multiaksis dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders
(DSM-IV). Berikut sedikit dijelaskan sekilas tentang DSM yang dikeluarkan oleh
American Psychiatric Association (APA) dan ICD yang dikeluarkan oleh WHO.
DSM-I telah selesai disusun pada tahun 1952 oleh APA(American Psychiatric
Association). Edisi kedua keluar pada tahun 1968, kemudaian disusul setelahnya edisi ke-
13 pada tahun 1980, yang akhirnya dilakukan revisi kembali pada tahun1987(DSM-III
R), dan pada tahun 1994 APA mengeluarkan lagi DSM-IV, yang akhirnya di revisi
kembali manjadi DSM-IV TR(text revision) pada tahun 2000. DSM-IV dan DSM-IV TR
dikeluarkan setelah melalui persetujuan dengan ICD-9 CM (clinical modification).
ICD sudah digunakan lebih lama, dan pada saat ini infrastruktur ICD telah
menginvestasikan dalam pengembangan sistem pengkodean komputer, “case-mix”, dan
sistem diagnosis. Dari sumber lain berbahasa Indonesia dikatakan “DSM-IV didesain
untuk mendampingi ICD-10, disusun pada tahun 1992. Pada waktu itu terdapat konsensus
yang kuat bahwa sistem diagnosis di USA harus sesuai dgn klasifikasi penyakit
internasional (ICD- 10) sedangkan ICD-10 merupakan sistem klasifikasi tertinggi yg
digunakan di Eropa & negara-negara lain dii dunia.
Klasifikasi yang paling populer digunakan orang adalah klasifikasi gangguan yang
dikemukakan oleh American Psychiatric association (APA) pada tahun 1952 yang
akhirnya pada tahun 1992 telah berhasil melahirkan Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorder IV (DSM-IV), setelah mengalami tiga kali revisi sejak tahun 1979. Di
Indonesia, pemerintah telah berhasil melahirkan klasifikasi gangguan kejiwaan yang
memuat gangguan kejiwaan yang disebut PPDGJ atau Pedoman Penggolongan
Diagnostik Gangguan Jiwa, yang saat ini telah secara resmi digunakan adalah PPDGJ.
D. URUTAN HIRARKI BLOK DIAGNOSIS
Pada beberapa jenis gangguan jiwa (misalnya: gangguan mental organik)
terdapat berbagai tanda dan gejala yang sangat luas. Pada bebrapa gangguan jiwa
lainya (seperti: gagguan cemas) hananya terdapat tanda dan gejala yang sangat
terbatas. Atas dasar ini dilakukan suatu urutan penyusunan blok-blok diagnosis yang
berdasarkan hierarki, dimana suatu gangguan yang terdapat dalam urutan hierarki
yang lebih tinggi, mungkin mempunyai ciri-ciri dari gagguan yang terletak dalam
hierarki lebih rendah, tetapi tidak sebaliknya. Terdapatnya hubungan hierarki ini
memungkinkan untuk penyajian diagnosis banding dari berbagai jenis gejala utama.
Suatu diagnosis, baru dapat dipastikan setelah kemungkinan kepastian
diagnosis/diagnosis banding dalam blok diatasnya dapat ditiadakan secara pasti.
Urutan hierarki blok diagnosis gangguan jiwa berdasarkan PPDGJ-III
I = Gangguan mental organik dan simtomatik (F00-F09).
=Gangguan mental dan prilaku akibat zat psikoaktif (F10-F19)
Ciri khas: etiologi organik/fisik jelas, primer/skunder
II = Skizoprenia, gangguan skizopital dan gangguan waham (F20-F29)
Ciri khas: gejala psikotik, etiologi organik tidak jelas
III = Gangguan suasana perasaan [mood/afektif] (F30-F39)
Ciri khas: gejala gangguan afek (psikotik dan non psikotik)
IV = Gangguan neurotik, gangguan stomatoform dan gangguan stres
(F40-F48)
Ciri khas: gejala non psikotik, etiologi non organik
V = Sindrom prilaku yang berhubungan dengan gangguan fisiologis dan
faktor fisik (F50-F59)
Ciri khas: gejala disfungsi biologis, etiologi non organik
VI = Gangguan kepribadian dan prilaku masa dewasa (F60-F69)
Ciri khas: gejala prilaku, etiologi non organik
VII = Retardasi mental (F70-F79)
Ciri khas: gejala perkembangan IQ, onset masa kanak
VIII = Gangguan perkembangan psikologis (F80-F89)
Ciri khas: gejala perkembangan khusus, onset masa kanak
IX = Gangguan prilaku dan emosional dengan onset masa kanak dan
remaja (F90-F98)
Ciri khas: gejala prilaku/emosional, onset masa kanak
X = Kondisi lain yang menjadi fokus perhatian klinis (Kode Z)
Ciri khas: tidak tergolong gagguan jiwa
E. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Aksis I: Gangguan Klinis, kondisi lain yang menjadi fokus perhatian klinis
Gangguan klinis merupakan pola perilaku abnormal (gangguan mental)
yang meenyebabkan hendaya fungsi dan perasaan tertekan pada individu.
Kondisi lain yang mungkin menjadi fokus perhatian: masalah lain yang
menjadi fokus diagnosis atau pandangan tapi bukan gangguan mental,
seperti problem akademik, pekerjaan atau sosial, faktor psikologi yang
mempengaruhi kondisi medis. Berikut ini merupakan ringkasan dari PPDGJ
III yang dikutip dari Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa yang diedit
[Link] Maslim:
1. F00-F09: Gangguan Mental Organik (termasuk Gangguan
Mental Simtomatik)
Gangguan Mental Organik adalah gangguan mental yang berkaitan dengan
penyakit/gangguan sistemik atau otak. Gangguan mental simtomatik adalah
pengaruh terhadap otak merupakan akibat sekunder penyakit/gangguuan
sistemik di luar otak.
– Gangguan fungsi kongnitif
– Gangguan sensorium – kesadaran, perhatian
– Sindrom dengan manifestasi yang menonjol dalam bidang persepsi
(halusinasi), isi pikir (waham), mood dan emosi F00 Demensia pada
penyakit alzeimer
2. F10 – F19 : Gangguan Mental dan Perilaku (Zat Psikoaktif)
3. F20 -F29 : Schizophernia, Schizotipal dan gangguan waham
4. F30 – F39 : Gangguan Suasana Perasaan (Mood dan Afektif)
5. F40 – F 49 : Gangguan Nefrotik, Somatoform, Gangguan terkait stress
6. F50-F59 : Sindroma perilaku (gangguan fisiologis)
Aksis II: Gangguan Kepribadian, Retardasi Mental
Gangguan kepribadian mencakup pola perilaku maladaptif yang sangat kaku
dan biasanya merusak hubungan antar pribadi dan adaptasi sosial. Gangguan
kepribadian, seperti gangguan kepribadian paranoid, gangguan kepribadian
skizoid, gangguan kepribadian skizotipal, gangguan kepribadian antisosial, dll.
1. F60 Gangguan Kepribadian khas
Kondisi klinis bermakna dan pola perilaku cenderung menetap, dan
merupakan ekspresi pola hidup yang khas dari seseorang dan cara
berhubungan dengan diri sendiri maupun orang lain. Beberapa kondisi dan
pola perilaku tersebut berkembang sejak dini dari masa pertumbuhan dan
perkembangan dirinya sebagai hasil interaksi faktor- faktor konstitusi dan
pengalaman hidup, sedangkan lainnya didapat pada masa kehidupan
selanjutnya.
2. F70-F79 Retardasi Mental
Keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama
ditandai oleh terjadinya hendaya ketrampilan selama masa perkembangan,
sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh. Dapat
terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik lainsehingga
perilaku adaptif selalu ada
Aksis III: Kondisi Medik Umum
Kondisi medis umum dan kondisi medis yang mugkin penting bagi pemahaman
atau penyembuhan atau penanganan gangguan mental individu. Meliputi kondisi
klinis yang diduga menjadi penyebab atau bukan penyebab gangguan yang
dialami individu.
Aksis IV: Masalah Psikososial dan Lingkunga
– Masalah dengan “primary support group” (keluarga)
– Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial
– Masalah Pendidikan
– Masalah pekerjaan
– Masalah perumahan
– Masalah ekonomi
– Masalah akses ke pelayanan kesehatan
– Maslah berkaitan interaksi dengan hukum/kriminal Masalah psikososial dan
lingkungan lain
Aksis V: Penilaian Fungsi secara Global (Global Assesment of Functioning
(GAF) Scale)
Assessment fungsi secara global mencakup assessment menyeluruh tentang
fungsi psikologis sosial dan pekerjaan klien. Digunakan juga untuk
mengindikasikan taraf keberfungsian tertinggi yang mungkin dicapai selama
beberapa bulan pada tahun sebelumnya.
Catatan :
Antara aksis I, II dan III tidak selalu ada hubungan etiologik atau patogenesisi
Hubungan antara aksis I, II, III dan aksis IV dapat timbal balik saling
mempengaruhi
F. Perbadingan Penggolongan Diagnostik
No PPDGJ-I PPDGJ-II PPDG-III
I 290 - 294 290 – 294 F00 - F09
Psikosa organik Gg. Mental organic Gg. Mental organik
(psikotik-nonpsikotik)
(termasuk gg. Mental
simtomatik)
F10 - F29
Gg. Mental dan
perilaku akibat zat
psikoaktif.
II 295 - 299 295 - 299 F20 - F29
Psikosa fungsional G.g psikotik lainnya Skizofrenia,
Gg. Skizopital dan
Gg. Waham
F30 – F39
Gg. Suasana Perasaan
(“mood” / afektif)
III 300 – 309 300 – 316 F40 – F48
Neurosa, Gg. Neurotik, Gg. Neurotik
Gg. Kepribadian, Gg. Kepribadian Gg. Somatoform Dan
Gg. Jiwa nonpsikosa Dan gg. Mental non Gg. Terkait stres
psikotik lainnya.
317 F50 – F59
307. 19 – 307. 92
Kondisi yang terkait Sindrom Perilaku
pada Kebudayaan Penomena dan
Berhubungan Dengan
Setempat Sindrom yang
Gg. Fisiologis dan
Berkaitan
Faktor fisik
Dengan faktor
F60 – F69
Sosial budaya di
Gg. Kepribadian
Indonesia.
Dan perilaku
Masa dewasa.
IV 310 – 315 317 – 319 F70 – F79
Retardasi mental Retardasi mental Retardasi mental
V 308 307, 309, 312, 313, F80 – F89
Gg. Tingkah laku 314, 315, dll. Gg. Perkembangan
Masa anak dan Gg. Yang biasanya Psikologis
Remaja Mulai nampak F90 – F98
Dalam masa bayi, Gg. Perilaku dan
Kanak, atau Emosional Dengan
onset Biasanya pada
Remaja
Masa kanak dan
Remaja.
KO 316 dan 138 Kondisi yang tidak Kondisi lain Yang
DE menjadi fokus
Kegagalan Tercantum sebagai
perhatiannya Klinis.
V
Penyesuaian sosial Gangguan jiwa, Tetapi
menjadi Pusat perhatian
Tanpa gg. Psikiatrik
Atau terapi.
Yang nyata.
DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1983), Pedoman Penggolongan
Diagnosis Gangguan Jiwa, Direktorat Kesehatan Jiwa, Jakarta
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1993), Pedoman Penggolongan
Diagnosis Gangguan Jiwa, Direktorat Kesehatan Jiwa ,Jakarta
3. Departemen Kesehatan. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Pedoman
penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia III. Jakarta: Departemen
Kesehatan; [Link] Kedokteran, Jakarta.
4. Hawari Dadang, dr (2001), Pendekatan Holistik pada Gangguan Jiwa Skizofrenia,
5. Hurlock, Elisabeth, (1998), Psikologi Perkembangan, Jakarta, Erlangga
6. Kelliat Budi Anna, Dr, (1998), Peranan Keluarga dalam Perawatan Klien
Gangguan Jiwa, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
7. Maslim, Rusdi (2001) Buku saku diagnosis gangguan jiwa PPDGJ-III. PT Nuh
Jaya. Jakarta