0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
435 tayangan29 halaman

Alat Fiksasi Radiografi Thorax Bayi

Perancangan alat fiksasi untuk pemeriksaan radiografi thorax AP supine pada bayi bertujuan mengurangi pergerakan bayi selama pemeriksaan sehingga hasilnya lebih optimal. Alat ini terbuat dari fiberglass dan balok kayu, dilengkapi sabuk pengikat untuk tangan, perut, dan kaki bayi.

Diunggah oleh

Imam Haenk
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
435 tayangan29 halaman

Alat Fiksasi Radiografi Thorax Bayi

Perancangan alat fiksasi untuk pemeriksaan radiografi thorax AP supine pada bayi bertujuan mengurangi pergerakan bayi selama pemeriksaan sehingga hasilnya lebih optimal. Alat ini terbuat dari fiberglass dan balok kayu, dilengkapi sabuk pengikat untuk tangan, perut, dan kaki bayi.

Diunggah oleh

Imam Haenk
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pemeriksaan Radiologi merupakan salah satu pemeriksaan

yang dapat digunakan sebagai penunjang dalam menegakkan

diangnosis penyakit karena dengan pemeriksaan ini diharapkan

gambaran yang dihasilkan mampu memberikan informasi yang jelas

terhadap kemungkinan adanya kelainan-kelainan yang terjadi pada

organ tubuh [Link] memberikan informasi tentang diagnosis

penyakit Sinar-X dapat menggambarkan organ yang berada dalam

tubuh kita.

Pada umumnya di rumah sakit dan di klinik-klinik, teknik

pemeriksaan radiografi thorax yang di gunakan adalah proyeksi

postero anterior (PA) erect dan proyeksi lateral erect apabila pasien

pasien yang akan di periksa koperatif (bisa bekerjasama). Tetapi pada

pasien non koooperatif (tidak bisa bekerja sama) pemeriksaan thorax

proyeksi yang di gunakan yaitu Antero Posterior (AP) supine. Salah

satu jenis non kooperatif adalah bayi.

Bayi adalah anak yang berada dibawah usia di atas 1 (satu)

tahun. Dalam pemeriksaan radiografi thorax proyeksi yang di gunakan

adalah antero posterior (AP) supine karena bayi adalah salah satu

pasien non kooperatif (tidak dapat bekerjasama) dan membutuhkan


2

orang lain seperti orang tua atau keluarga untuk memegangi kedua

tangan dan kaki pasien agar tidak ada pergerakan pada waktu di

lakukan eksposi oleh radiographer yang dapat mengganggu hasil

radiograf. Tetapi kenyataannya walaupun orang tua atau keluarga

sudah memegangi pasien bayi tersebut ,biasanya masih ada

pergerakan pada pasien atau ada bagian tubuh yang memegangi

pasien masuk dalam radiograf sehingga hasil radiograf kurang optimal

dalam menentukan suatu diagnosis dan harus di lakukan

pengulangan pemeriksaan radiografi thorax.

Oleh sebab itu dibutuhkan alat fiksasi khusus untuk

pemeriksaan thorax AP supine pada bayi sehingga dengan

tersedianya alat fiksasi tersebut diharapkan pemeriksaan thorax bayi

tidak memerlukan lagi bantuan orang tua atau keluarga pasien untuk

memegangi pasien dan tidak ada pergerakan pasien pada saat di

lakukan eksposi,sehingga hasil radiograf dapat optimal dalam

menegakkan diagnosis.

Berdasarkan pengalaman penulis selama praktek kerja

lapangan, belum ada rumah sakit khususnya di instalasi radiologi

yang menggunakan alat fiksasi pemeriksaan radiograf thorax antero

posterior (AP) supine pada bayi sehingga penulis tertarik untuk

merancang alat fiksasi pada pasien bayi sekaligus sebagai Karya

Tulis Ilmiah.
3

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana perancangan alat fiksasi pasien pada pemeriksaan

thorax AP supine pada bayi?

2. Seberapa besar manfaat penggunaan alat fiksasi pemeriksaan

radiografi thorax AP supine pada bayi?

C. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui perancangan alat fiksasi pemeriksaan radiografi

thorax AP supine pada bayi.

2. Seberapa besar manfaat penggunaan alat fiksasi pemeriksaan

radiografi thorax AP supine pada bayi

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi institusi

Untuk menambah bahan referensi diperpustakaan sebagai

suatu karya tulis ilmiah yang memuat tentang bagaimana cara

pembuatan alat fiksasi pemeriksaan thorax AP supine pada pasien

bayi bagi penulis,radiographer dan calon radiographer

2. Bagi Peneliti

Untuk menambah wawasan dan mengasah kreatifitas

sebagai calon radiografer dalam menghasilkan suatu karya alat

yang dapat membatu di dalam pemeriksaan.


4

3. Bagi Rumah Sakit

Dapat bermanfaat sebagai literatur untuk membuat alat

fiksasi pemeriksaan thorax AP supine pada bayi , yang kemudian

alat bantu ini dapat di gunakan di rumah sakit tersebut.


5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teknik Pemeriksaan Thorax Proyeksi Antero Posterior (AP) pada

Bayi

Teknik pemeriksaan thorax dengan proyeksi Antero Posterior

(AP) sering digunakan pada pasien-pasien yang non kooperatif ( tidak

bisa bekerja sama) bayi adalah salah satu jenis pasien yang non

kooperatif sehingga dalam pemeriksaan thorax diperlukan teknik

pemeriksaan thorax proyeksi antero posterior (AP). Teknik

pemeriksaan thorax proyeksi AP supine yaitu :

Posisi Pasien : Pasien di baringkan diatas meja pemeriksaan

Posisi objek : 1. Diletakkan marker R atau L di atas kaset. Mid

sagital plane sejajar dengan pertengahan

kaset.

2. Pastikan dada dan kepala tegak lurus, pinggul

dan bahu sejajar.

3. Kepala di ganjal sandbag agar tidak berotasi.

4. Letakkan bantalan busa di bawah bahu untuk

menghindari proyeksi lordotik dan untuk

mengangkat bahu dan mencegah superposisi

dengan apex paru.


6

5. Jika pasien harus di pegang,posisikan tangan

pasien di samping kepala dan difleksikan.

6. Kaki lurus dengan diganjal dibagian lutut.

Eksposi pada saat pasien inspirasi penuh, jika

pasien menangis perhatikan pernapasannya.

Focus film distance (FFD) : 150-180 cm

Central right (CR) : Vertikal tegak lurus bidang film

Center point (CP) : Thoracal VI (enam) atau selevel axilla

Kriteria gambaran foto thorax yang baik dengan proyeksi AP supine

Yaitu :

a. Pada inspirasi penuh tampak iga ke 8-9

b. Paru-paru tidak berotasi

c. Tampak gambaran trachea dan vertebrae sampai CV thoracal 12

atau CV lumbal 1

d. Tampak rongga diagfragma

e. Tampak gambaran jantung

f. Tampak sinus costophrenicus dan sinus cardiophrenicus

g. Tampak clavicula dan scapula


7

Gambar 2.1. Posisi AP Supine


(Staffan Sandstrom, 2003 : HAL)

Gambar 2.2. Posisi AP Supine


(Staffan Sandstrom, 2003 : HAL)
B. Alat Fiksasi Radiografi
8

Alat fiksasi radiografi adalah alat-alat bantu dalam

pemeriksaan radiografi yang berguna untuk memberi rasa nyaman

pada pasien sehingga memudahkan untuk di lakukan pemeriksaan

radiografi dan mendapatkan radiograf yang optimal. Salah satu alat

pemeriksaan yang di gunakan untuk membantu pemeriksaan

radiografi yaitu: alat fiksasi radiografi thorax AP supine pada bayi.

Alat pemeriksaan radiografi thorax AP supine pada bayi

adalah alat bantu pemeriksaan thorax dengan proyeksi Antero

Posterior (AP) supine yang khusus digunakan pada bayi . Alat fiksasi

ini berupa meja pemeriksaan kecil yang terbuat dri fiberglass pada

bagian atas nya yang berfungsi sebagai alas atau tempat pasien di

baringkan dan pada bagian samping fiberglass diberikan beberapa

sabuk pengikat yang terdapat dibagian atas, tengah dan bawah

digunakan sebagai pengikat bagian tubuh pasien yaitu kedua tangan

pasien, bagian perut pasien dan kedua kaki pasien untuk menjaga

pergerakan dan tidak menutupi bagian anatomi thorax.

Sebagai alas dan penahan dari fiberglass digunakan kayu

balok di sisi kiri dan kanan. Adapun laci kaset terbuat dari fiber glass

yang fungsi nya untuk tempat kaset.


9

C. Kerangka Pikir

Perancangan
Alat Fiksasi

Thorax Pasien Bahan

Penggunaan Alat
10

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, rancangan

penelitian yang digunakan penulis adalah metode eksperimen. Yaitu

penulis melakukan perancangan alat fiksasi pasien pada pemeriksaan

radiografi thorax AP supine pada bayi dan melakukan percobaan atau

pengaplikasikan secara langsung pada bayi.

B. Lokasi Dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitan

Perancangan alat fiksasi pasien pada pemeriksaan thorax

AP supine pada bayi di tempat kediaman penulis,sedangkan

pengaplikasian alat di laksanakan di Radiologi Rumah Sakit

Bhayangkara.

2. Waktu Penelitian

Pembuatan alat fiksasi pemeriksaan radiografi thorax AP

supine pada bayi ini di laksanakan bulan juli 2016.


11

C. Bahan Dan Alat Penelitian

Bahan dan alat yang dipergunakan dalam percobaan ini adalah:

1. Bahan

a. Satu Lembar fiberglass

b. Balok

c. Lem fiberglas

d. Spoon atau gabus

e. Kain dan perekat

2. Alat

a. Satu buah penggaris

b. Satu buah gergaji ukir

c. Bor tangan listrik

d. Sekrup

e. Spidol

Pengertian Bahan dan Alat yang di Gunakan:

1) Fiberglass

Kaca serat (fiberglass) atau sering sering

diterjemahkan menjadi serat gelas adalah kaca cair yang

ditarik menjadi serat tipis dengan garis tengah sekitar 0,005

mm-0,01 mm. Serat ini dapat dipintal menjadi benang atau di

tenun menjadi kain, yang kemudian diresapi dengan resin

sehingga menjadi bahan yang kuat dan tahan korosi untuk

untuk digunakan sebagai badan mobil dan bangunan kapal. Dia


12

digunakan sebagai agen penguat untuk banyak produk plastic

material komposit yang di hasilkan dikenal sebagai plastik

diperkuat gelas (glass-reinforced plastic, GRP) atau epoxy

diperkuat glass-fiber (GRE), disebut “fiberglass” dalam

penggunaan umum nya.

Gambar 3.1: fiberglass (kaca serat)

2) Kayu balok

Kayu balok adalah penopang atau alat penyangga

alat fiksasi yang akan di buat. Yang berfungsi sebagai

penyangga fiber glass

Gambar
3.2: kayu balok
13

3) Lem Fox

Lem fox adalah lem putih yang bisa digunakan untuk

penempelan kayu, kertas,koraltex,texture dan bisa juga untuk

plamur tembok.

Gambar3.3: lem fox

4) Spon atau Gabus

Spon atau gabus adalah sejenis bahan lunak yang

ringan dan terapung dalam air yang biasanya dipakai sebagai

alat fiksasi kepala dalam pemeriksaan radiologi

Gambar 3.4: spon atau gabus


14

5) Kain dan Perekat

Adalah benang yang di rajut sehingga terbentuk

sebuah lembaran dan perekat yaitu sebagai bahan yang

mampu menyambungkan atau menyatukan kedua permukaan

benda yang terpisah sehinggga mempunyai kekuatan yang

memadai saat dikenai beban tertentu.

Gambar 3.5: kain dan perekat

6) Penggaris

Penggaris adalah sebuah pengukur dan alat bantu

gambar untuk menggambar garis lurus

Gambar 3.6: penggaris


15

7) Gergaji Ukir

Gergaji adalah sebuah alat yang dapat digunakan

untuk memotong atau menggeregaji kayu,kaca akrelik,

fiberglass dan besi dalam bentuk apa saja mulai dari bentuk

kurva yang melengkung – lengkung hingga yang lurus-lurus

Gambar 3.7: gergaji ukir

8) Bor tangan listrik

Bor adalah alat bantu yang digunakan untuk

melobangi kayu guna memasang paku sekrup.

Gambar 3.8: bor tangan listrik


16

9) Sekrup

Adalah sebuah benda yang terbuat dari besi yang

berbentuk bulat kecil dan memiliki beberapa bagian yang

berbentuk berbeda yakni bagian atas berbentuk pipih bagian

tengah berulir dan bagian bawah berbentuk runcing

Gambar 3.9 : sekrup

10) Spidol.

Spidol adalah salah satu alat tulis yang berfungsi untuk

menulis,menggaris maupun menggambar.

Gambar 3.10: spidol


17

D. Populasi dan sampel

1. Populasi

Populasi adalah pasien pasien yang melakukan

pemeriksaan radiografi thorax AP supine di instalasi radiologi

Rumah Sakit Bhayangkara Makassar

2. Sampel penelitian

Dari semua pasien Pasien yang melakukan pemeriksaan

radiografi thorax AP supine di instalasi Radiologi Rumah sakit

Bhayangkara Makassar selama bulan mei 2016 diambil 2 (dua)

pasien sebagai sampel dari penelitian ini.

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang di

lakukan penulis adalah :

a. Observasi

Observasi adalah suatu cara pengumpulan data

dengan pengamatan langsung dari pencatatan secara

sistematis terhadap obyek yang akan di teliti. Observasi di

lakukan oleh peneliti pada saat pengaplikasian alat fiksasi

pemeriksaan radiografi AP supine pada bayi di Rumah Sakit

Bhayangkara Makassar.

b. Wawancara

Wawancara di lakukan dengan radiographer yang

bertugas di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar mengenai


18

keefektifan penggunaan alat fiksasi pemeriksaan radiografi

thorax AP supine pada bayi

c. Kuesioner

Penulis membuat kuesioner tentang kefektifan alat

fiksasi pemeriksaan radiografi pemeriksaan thorax AP supine

pada bayi yang sebagai responden adalah radiographer yang

bertugas di Rumah sakit Bhayangkara Makassar

E. Alur Penelitian
Persiapan Alat dan Bahan

Perancangan Alat

Pemeriksaan Radiografi
Thorax Bayi

Aplikasi Alat

Hasil
19

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

Setelah dilakukan kajian perbandingan terhadap rancangan alat

fiksasi dan pengaruhnya pada efektifitas pekerjaan radiografer dalam

melakukan pencitraan Radiografi Thorax Proyeksi AP Supine Pada

Bayi hasilnya adalah sebagai berikut :

1. Hasil rancangan bangun pembuatan alat fiksasi pada

pemeriksaan Thorax AP Supine Pada bayi

Gambar 4.1 Alat fiksasi pada pemeriksaan Thorax AP Supine pada bayi
(Tampak depan)
20

Gambar 4.2 Alat fiksasi pada pemeriksaan Thorax AP Supine pada bayi
(Tampak atas)

Gambar 4.3 Alat fiksasi pada pemeriksaan Thorax AP Supine pada bayi
(Tampak samping)
21

Gambar 4.4 Alat fiksasi pada pemeriksaan Thorax AP Supine pada bayi
(Penyangga badan pasien)

Gambar 4.5 Perekat kain


22

B. PEMBAHASAN

1. Mekanisme pembuatan rancang bangun alat fiksasi pada

pemeriksaan thorax Ap supine pada bayi.

a) Pembuatan sketsa gambar rancang bangun alat fiksasi pada

pemeriksaan thorax Ap supine pada bayi.

b) Pemilihan bahan dan ukuran bahan yang sesuai antara :

1) Fiberglass

2) Kayu balok

3) Perekat

4) Sekrup

c) Pengukuran,pemotongan dan pembentukan alat

1) Penulis membuat pola gambar menggunakan spidol di

fiberglass sesuai bentuk alat fiksasi yang akan di buat.

2) Setelah itu fiberglass di potong menggunakan gergaji ukir

sesuai pola sketsa yang di [Link] dengan balok

kayu

3) Setelah di potong balok kayu digunakan sebagai

penyangga kiri dan kanan dan yang merekatkan kayu balok

dan fiber adalah sekrup.

2. Cara kerja alat

a. Pasien diletakkan di atas alat fiksasi yang telah dibuat.

b. Lalu kaki dan tangan pasien di ikat menggunakan perekat.


23

c. Adapun di samping kiri dan kanan pasien di letakkan alat

penyangga yg terbuat dari fiber

d. Kaset berada di bawah pasien dan di bawah alat

3. Uji Kinerja Alat

a. Uji kinerja alat di lakukan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit

Bhayangkara Makassar

b. Uji kinerja alat di lakukan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit

Bhayangkara Makassar. Uji kinerja secara langsung

menggunakan pasien bayi yang ada dan awalnya tanpa

menggunakan alat fiksasi yang di buat untuk melihat

perbandingan nya.

c. Tahapan saat pengujian di lakukan di Radiologi Rumah Sakit

Bhayangkara Makassar.

1. Menghidupkan pesawat Sinar-X

2. Memanggil pasien yang telah di register

3. Pasien berbaring di atas meja pemeriksaan,tangan pasien

dan kaki di pegang oleh orang tua pasien agar pasien

tidak bergerak.

4. Kemudian kaset di masukkan kedalam bucky

5. Pengambilan foto dokumentasi tanpa menggunakan alat

fiksasi dan yang menggunakan alat fiksasi yang akan di

teliti menggunakan kamera.


24

Gambar 4.6 Memposisikan pasien tanpa menggunakan alat fiksasi.

Gambar 4.7 Hasil radoografi (Tanpa menggunakan alat)


25

Gambar 4.8 Memposisikan pasien menggunakan alat

Gambar 4.7 Hasil radoografi (Menggunakan alat)


26

Berdasarkan hasil uji fungsi alat fiksasi pada pasien balita

yang dilakukan di rs bhayangkara makassar telah berfungsi

dengan baik dan telah di gunakan pada pemeriksaan

khususnya foto thorax AP supine pada pasien bayi...

Pengaplikasian alat fiksasi tersebut terhadap pasien bayi

semua menyatakan merasa aman dengan adanya alat fiksasi

tersebut dan 6 orang radiografer yang telah di wawancarai

menggunakan lembar kuisioner menyatakan bahwa

penggunaan alat fiksasi tersebut sangat membantu dalam


27

proses pemeriksaan serta mengurangi paparan radiasi

terhadap keluarga pasien.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian pembuatan alat fiksasi,qusioner dan

wawancara beberapa radiografer maka di dapatkan kesimpulan

sebagai berikut:

1. Alat fiksasi tersebut sangat bermanfaat karena tergolong mudah

dalam proses pengaturan objek atau pasien bayi dalam

pemeriksaan foto thorax AP bayi

2. Pengaplikasikan alat fiksasi tersebut dapat mengurangi pergerakan

objek, dan tidak perlu lagi keluarga pasien memegang tangan dan

kaki untuk mengurangi pergerakan pasien dan radiasi hambur tidak

mengenai keluarga pasien lagi dan lebih memudahkan radiografer

untuk melakukan pemeriksaan

B. SARAN

Adapun saran dari penulis tentang pembuatan alat fiksasi adalah

sebagai berikut:

1. Sebaiknya alat tersebut mengunakan spon tipis di permukaan

alat,untuk membuat nyaman pasien.


28

2. Sebaiknya alat ini juga di buat lekukan yang pas untuk pasien bayi

agar pergerakan objek sudah tidak ada

3. Sebaiknya alat ini dapat di perbanyak dan di pakai di rumah sakit

atupun klinik
29

INTISARI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara membuat alat fiksasi

pada pemeriksaan Thorax AP Supine Pada Bayi, dan mengetahui

bagaimana kinerja dari alat fiksasi ini. Penelitian ini dilakukan di Rumah

Sakit Bhayangkara pada bulan Meii-Agustus 2016

Rancang bangun alat fiksasi pada pemeriksaan Thorax AP Supine

Pada Bayi merupakan eksperimen dalam pembuatan alat radiologi alat

bantu pemeriksaan adalah alat bantu pemeriksaan radiografi dengan

tujuan fiksasi. Fiksasi adalah cara yang di gunakan untuk mengurangi

pergerakan objek. Menambah kenyamanan pasien dan mempermudah

pekerjaan radiografer

Hasil pengaplikasian alat tersebut yang dilakukan dengan cara

memberikan lembar kusioner pada Radiografer dan dokter di instalasi

radiologi Rumah Sakit Bhayangkara makassar dan hasilnya sangat

memuaskan

Anda mungkin juga menyukai