TERAPI MAGNET
Makalah
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Keperawatan Komplementer yang dibimbing oleh
Bapak Agus Setyo Utomo, SST., [Link].
Oleh :
Kelompok 5 2B
Bayu Rama Wicaksana P17210183084
Ilma Amalia P17210183085
Novita Eka P17210183087
Rika Vivi Wahyuni P17210184096
Risma Handayani P17210184097
Laroza Arifianti Ramadhani P17210184109
Gaby Devana Suwandi P17210184117
Nurul Nur Wahyuni P17210183134
POLITEKNIK KESEHATAN MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
D3 KEPERAWATAN MALANG
April 2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan hidayah yang
telah diberikan-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Terapi Magnet” penulisan makalah ini disusun untuk memenuhi tugas
matakuliah Komplementer di Politeknik Kesehatan Malang.
Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu menyelesaikan makalah ini kepada:
1. Bapak Agus Setyo Utomo, SST., [Link]. selaku dosen pembimbing
matakuliah Komplementer.
2. Teman-teman yang telah memberi dukungan dalam pembuatan makalah.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan. Untuk itu kami tetap mengharap kritik dan saran yang bersifat
membangun demi peningkatan makalah ini.
Malang, 05 April 2020
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan terapi komplementer akhir-akhir ini menjadi sorotan banyak
negara. Pengobatan komplementer atau alternatif menjadi bagian penting dalam
pelayanan kesehatan di Amerika Serikat dan negara lainnya. Klien yang
menggunakan terapi komplemeter memiliki beberapa alasan. Salah satu alasannya
adalah filosofi holistik pada terapi komplementer, yaitu adanya harmoni dalam
diri dan promosi kesehatan dalam terapi komplementer. Alasan lainnya karena
klien ingin terlibat untuk pengambilan keputusan dalam pengobatan dan
peningkatan kualitas hidup dibandingkan sebelumnya. Beberapa klien sudah
melaporkan adanya reaksi efek samping dari pengobatan konvensional yang
diterima menyebabkan memilih terapi komplementer.
Salah satu terapi kompolementer yaitu terapi magnet. Terapi magnetik yang
ada di khalayak luas telah lama menjadi salah satu pilihan pengobatan di kalangan
masyarakat. Di berbagai tempat pelayanan kesehatan tidak sedikit klien
memimilih tentang terapi magnetik pada petugas kesehatan seperti dokter ataupun
perawat. Masyarakat mengajak dialog perawat untuk penggunaan terapi magnet.
Hal ini terjadi karena klien ingin mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan
pilihannya, sehingga apabila keinginan terpenuhi akan berdampak ada kepuasan
klien. Hal ini dapat menjadi peluang bagi perawat untuk berperan memberikan
terapi komplementer, utamanya terapi magnetik.
1.2 Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Secara umum bertujuan untuk mengaplikasikan konsep asuhan keperawatan
dalam terapi komplementer dengan medan magnet
1.2.2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari pembuatan makalah ini, yaitu :
a. Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian terapi magnet
b. Mahasiswa mampu menjelaskan macam-macam terapi magnet
c. Mahasiswa mampu menjelaskan factor yang mempengaruhi terapi ini
d. Mahasiswa mampu menjelaskan manfaat dari terapi magnet
e. Mahasiswa mampu menjelaskan cara menggunakan terapi magnet
1.3 Manfaat
1.3.1. Bagi pembaca
Memberikan pemahaman yang lebih terkait terapi komplementer dengan
magnet dalam berbagai macam bentuk benda.
1.3.2. Bagi mahasiswa
Untuk menambah wawasan atau ilmu mengenai asuhan keperawatan
dalam dalam terapi komplementer dengan medan magnet.
1.3.3. Bagi institusi
Mengetahui tingkat wawasan, pemahaman serta kualitas pengetahuan
mahasiswa dalam masalah kesehatan yaitu terapi menggunakan magnet
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
Menurut Wikipedia terapi magnet adalah praktik pengobatan
alternatif pseudoscientific yang melibatkan medan magnet statis lemah yang
dihasilkan oleh magnet permanen. Ini mirip dengan praktik pengobatan
alternatif terapi elektromagnetik , yang menggunakan medan magnet yang
dihasilkan oleh perangkat bertenaga [Link] mengklaim bahwa
menundukkan bagian tubuh tertentu dari medan listrik atau magnet yang lemah
memiliki efek kesehatan yang bermanfaat.
Terapi magnet merupakan pengobatan nonmedis dengan memanfaatkan
medan magnet secara aman dan tanpa efek samping untuk mempercepat proses
penyembuhan dengan cara menyeimbangkan dan mengembalikan arus
elektromagnetik yang ada di dalam sel-sel darah manusia. Saat aliran energi
dalam tubuh abnormal, kulit disekeliling titik akupoint biasanya menjadi perih
dan nyeri jika tersentuh. Dengan terapi magnet syaraf di sekitar titik akupoint
distimulasi energi elektromagnetik, sehingga rasa perih dan nyeri berkurang.
Aliran magnetik dalam tubuh kita secara alami dibentuk oleh sirkulasi aliran ion
listrik dalam sel dan transmisi listrik dari syaraf sampai membran sel. Terapi ini
juga merupakan metode yang aman, yang menggunakan medan magnet untuk
tujuan terapi.
2.2 Macam – Macam
Terapi magnet melibatkan penerapan medan magnet lemah magnet
permanen ke tubuh, untuk manfaat kesehatan yang diakui. Efek berbeda
ditugaskan untuk orientasi magnet yang berbeda. Produk termasuk gelang dan
perhiasan magnetis; tali magnet untuk pergelangan tangan, pergelangan kaki,
lutut, dan punggung; sol sepatu; kasur; selimut magnetik (selimut dengan magnet
diikat ke dalam bahan); krim magnetik; suplemen magnetik; plester / tambalan
dan air yang telah "dimagnetisasi". Aplikasi biasanya dilakukan oleh pasien.
Penggunaan magnet dan perangkat listrik untuk menghasilkan medan
magnet yang terkontrol telah terbukti menjadi salah satu cara yang paling efektif
untuk mendiagnosis penyakit. Misalnya :
1. Elektroensefalogram (EEG)
Salah satu tes yang dilakukan untuk mengukur aktivitas kelistrikan dari
otak untuk mendeteksi adanya kelainan dari otak. Tindakan ini
menggunakan sensor khusus yaitu elektroda yang dipasang di kepala dan
dihubungkan melalui kabel menuju komputer.
2. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
pemeriksaan dengan teknik pengambilan gambar detail organ dari
berbagai sudut yang menggunakan medan magnet dan gelombang radio.
MRI aman digunakan untuk ibu hamil dan anak. Metode ini dapat
menghasilkan gambar organ yang lebih jelas, termasuk untuk pemeriksaan
tumor.
3. CT (computed tomography) Scan
prosedur yang menggabungkan serangkaian gambar X-ray yang diambil
dari berbagai sisi di sekitar tubuh seseorang. Pemeriksaan ini
menggunakan komputer untuk membuat gambar cross-sectional tulang,
pembuluh darah, dan jaringan lunak yang ada di dalam tubuh orang
tersebut. Prosedur ini menunjukkan gambar yang lebih detail daripada X-
ray biasa.
2.3 Faktor Yang Mempengaruhi Terapi Magnet
Baru-baru ini ilmuwan telah menemukan bahwa medan magnet eksternal
dapat mempengaruhi fungsi tubuh dengan cara baik positif maupun negatif, dan
pengamatan ini telah menyebabkan perkembangan terapi medan magnet.
Penggunaan magnet dan perangkat listrik untuk menghasilkan medan magnet
yang dikontrol memiliki aplikasi medis dan telah terbukti menjadi salah satu cara
yang paling efektif yang tersedia untuk mendiagnosa penyakit manusia.
Magnet dan perangkat terapi elektromagnetik sekarang digunakan untuk
meredakan gejala dan penyakit degeneratif terbalik, menghilangkan rasa sakit,
memfasilitasi penyembuhan patah tulang, mengatasi pengaruh dari stres, dan
mengatasi pembalikan kanker. Magnet banyak digunakan di Eropa dan sekarang
menjadi lebih diterima di Amerika Serikat. Para peneliti telah mencatat bahwa
energi magnetik positif dan negatif memiliki efek yang berbeda pada sistem
biologis hewan dan manusia - medan magnet negatif memiliki efek yang
menguntungkan, sedangkan medan magnet positif memiliki efek stres. Mereka
telah menemukan bahwa magnet dapat digunakan dalam pengobatan artritis,
kanker, glaukoma, infertilitas, mental dan gangguan emosional, dan penyakit
lainnya.
2.4 Manfaat Terapi Magnet
Dampak positif yang ditimbulkan dari terapi ini tentu saja meningkatkan
kesehatan tubuh, seperti menstabilkan sirkulasi kardiovaskuler, menjaga fungsi
metabolisme, menjaga stamina dan kekebalan tubuh, mengurangi gejala depresi,
dan mampu mengatasi stress, ayan, susah tidur, gangguan ginjal dan hati, serta
beberapa penyakit lainnyaseperti :
a. Merangsang kinerja fungsi saraf otonom.
b. Mengurangi rasa sakit dan peradangan.
c. Membantu memperlancar aliran darah
d. Melancarkan distribusi oksigen ke setiap jaringan tubuh.
e. Melenturkan saraf-saraf dan otot-otot tubuh
2.5 Cara Menggunakan Terapi Magnet
POLTEKKES KEMENKES
No. Dokumen :
MALANG
STANDAR OPERASIONAL No. Revisi :
PROSEDUR 00
Tanggal Terbit :
TERAPI MAGNETIK
Halaman :
PENGERTIA Terapi magnet merupakan pengobatan nonmedis dengan
N
memanfaatkan medan magnet secara aman dan tanpa efek
samping untuk mempercepat proses penyembuhan dengan
cara menyeimbangkan dan mengembalikan arus
elektromagnetik yang ada di dalam sel-sel darah manusia.
TUJUAN 1. untuk memperbaiki ketidakseimbangan yang tidaksehat
dalam tubuh
2. menstabilkan sirkulasi kardiovaskuler
3. menjaga fungsi metabolisme
4. menjaga stamina dan kekebalan tubuh,
5. mengurangi gejala depresi, dan mampu
6. mengatasi stress dan beberapa penyakit lainnya
INDIKASI 1. trauma (distorsi, fraktur).
2. Arthritis
3. Nyeri Kronik
4. Pasien dengan penyakit syaraf (stroke, vertigo)
KONTRAIN 1. Bagi pengguna pacemaker, defibrilator, pompainsulin atau
DIKASI
peralatan elektronik medis lainnya
2. Wanita yang sedang mengandung
3. Perdarahan
4. Fraktur dengan Pen
EFEK 1. Merasa hangat atau panas
SAMPING
2. Gatal
3. Sakit kepala
4. Sering buang air besar maupun kecil
5. Merasa tidak enak di seluruh tubuh yang disebabkan
karena sirkulasi di dalam tubuh sedang diperbaiki
PERSIAPAN 1) Menjelaskan tujuan terapi magnet
PASIEN
2) Menyebutkan prosedur tindakan
3) Pasien dalam posisi duduk dengan tengadah pada kursi
atau tidur terlentang
4) Pasang sampiran atau tutup pintu
5) Mempersilahkan keluarga pasien untuk menunggu diluar
PERSIAPAN 1) Magnet
ALAT
2) Sarung tangan
3) Bengkok
PELAKSAN Cara Bekerja :
AAN
1) Mencuci tangan, jika perlu gunakan sarung tangan.
2) Persilahkan pasien untuk membuka pakaian jika
diperlukan.
3) Oleskan minyak pada bagian yang akan diterapi.
4) Tempelkan magnet pada bagian tubuh yang akan diterapi.
5) Setelah ±30 menit, lepaskan magnet, kemudian bersihkan
bagian yang diterapi.
6) Bereskan alat
7) Buka sarung tangan, kemudian cuci tangan.
TERMINASI 1) Evaluasi perasaan pasien
2) Evaluasi reaksi terapi
3) Dokumentasikan prosedur dan hasil tindakan
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1. Durasi penggunaaan terapi magnet dalam tubuh, usahakan pemakaiannya 20-
30 menit perhari dlam 10 hari
BAB III
GAMBARAN MASALAH
3.1. Kasus
Tn.H usia 70 tahun seorang artis yang sudah menyelami dunia hiburan sejak
lama. Kegiatan sehari-harinya yaitu syuting film. Akhir-akhir ini Tn.H
mengalami sulit buang air besar, nyeri daerah perut, dan ada darah dalam tinja.
Tn.H curiga mengidap suatu penyakit yang tidak biasa. Maka dengan berat hatu
Tn.H harus undur diri dari dunia hiburan dan memutuskan untuk pamit karena
ingin fokus pengobatan. Atas kondisinya itu, Tn.H memutuskan untuk
memeriksakannya ke dokter. Setelah di endoskopi ternyata ada dua tumor yang
menghalangi usus dan dokter menyatakan Tn.H menderita kanker usus.
3.2. Pembahasan
Mengetahui hal tersebut Tn.H enggan untuk di operasi dan memutuskan
untuk melakukan terapi yaitu terapi magnet. Adapun terapi yang dijalani oleh
Tn.H adalah terapi medan magnet yang digunakan untuk terapi nyeri dan
percepatan penyembuhan jaringan atau sel yang rusak. Terpai magnet ini
dilakukan dua kali sehari selama masing-masing 1 jam. Dilakukan jam 5 pagi
sesi pertama dan sesi kedua jam 5 sore. Dengan cara rebahan diatas kasur
magnet, dengan posisi kaki tidak boleh rapat agar terbuka supaya dapat aliran
magnetnya. Bagian dada perut juga terkena magnet. Selain menggunakan kasur
magnet, Tn.H juga menggunakan terapi infrared kearah usus besarnya. Bahkan
Tn.H juga menempel magnet dibagian perut dan bagian belakang tubuhnya. Tn.H
sengaja memesan kasur magnet ini dari keponakannya yang merupaka ahli fisika
karena peletakan magnet tidak asal-asalan, diperhitungkan dengan fisikanya.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Terapi komplementer (complementary therapies) adalah semua terapi yang
digunakan sebagai tambahan untuk terapi konvensional yang direkomendasikan
oleh penyelenggaraan pelayanan kesehatan individu. Terapi komplementer berarti
pelengkap bagi terapi konvensional yang ada dan telah terbukti bermanfaat. Salah
satunya yaitu terapi magnet yang telah banyak hadir dipasaran dengan kisaran
harga menengah keatas. Konsep manajemen pemasaran dan promosi yang bagus
telah membuai masyarakat luas untuk turut menjadi customer setia barang-barang
bertajuk alat kesehatan dengan komponen utama yaitu magnet. Telah banyak
insan yang percaya dan telah mengetahui bukti dari khasiat terapi magnet itu
sendiri. Namun dikembalikan lagi bahwa terapi magnet merupakan terapi
komplementer, yaitu hanya bersifat pelengkap bagi terapi konvensional yang ada.
Tidak menjadikan terapi magnet menjadi terapi utama dalam penyembuhan suatu
penyakit yang dialami klien pada [Link] perlu diperhatikan bahwa
penggunaan terapi magnet dalam jangka panjang sangat tidak dianjurkan. Karena
dalam pemakaian alat magnetik harus memperhatikan durasinya. Beberapa
pengguna terapi magnet ini banyak yang salah mempersepsikan dengan memakai
alat terapi ini terus-menerus. Medan magnet membuat metabolisme tubuh menjadi
cepat dimana tubuh juga butuh istirahat. Kalau digunakan tanpa istirahat,
mempunyai dampak yang tidak baik yaiu bisa merusak organ dalam tubuh. Jadi
dalam penggunaannya memang diharuskan ada konsultasi atau pendampingan
dari tenaga kesehatan, agar efek samping bisa diminimalisir dan arah
penyembuhan bisa lebih tepat.
4.2 Saran
Penulis saat ini masih terus belajar dan menunggu kritik yang membangun
dari pembaca, baik civitas akademika maupun khalayak publik demi
kesempurnaan pembuatan paper dengan topik terapi komplementer (terapi
magnetik). Penulis juga memberikan saran kepada masyarakat luas, baik yang
belum menggunakan baik yang sudah menggunakan benda-benda berbau magnet
dengan tujuan kesehatan, harus tetap diketahui indikasi dan kontraindikasinya.
Tidak semua masyarakat bisa memakai alat kesehatan berbahan magnet. Harus
benar-benar diperhatikan efek yang ditimbulkan meski dibawah sadar. Dalam
terapi komplementer harus diingat kembali bahwa terapi ini merupakan terapi
pelengkap saja. Kesembuhan klien juga tidak melulu hadir karena pemakaian
magnet dalam keseharian. Tetapi lebih kepada sugesti/kepercayaan dan
pendekatan diri kepada sang Pencipta dalam setiap panjatan doanya.
Diperbolehkan menggunakan alat terapi magnetik, namun tetap mengikuti
prosedur penyembuhan konvensional dari tenaga kesehatan dalam proses
penyembuhan suatu penyakit.
DAFTAR PUSTAKA
Hendrajaya,[Link]/.../Buku
%20Kecerdasan%20Magnetik/Kecerdasan% [07 April 2020]
Hendrajaya, L. 2005. Magnetisasi Tubuh Manusia dalam Latihan Pernafasan dan
[Link]/.../Buku%20Kecerdasan
%20Magnetik/Kecerdasan%[07 April 2020]
Luneto, C. 2009. Kegunaan Magnet dalam Kehidupan Sehari-Hari.
[Link]/berita-91-kegunaan-magnet-dalam-kehidupan-
seharihari [07 April 2020]
Wikipedia:[Link]://[Link]/translate?
u=[Link]
t=[Link] pada 07 April 2020