0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
244 tayangan31 halaman

Analisis Hidrokuinon pada Krim Pemutih

Proposal ini membahas analisis kadar hidrokuinon pada krim pemutih wajah yang dijual di pasar Makassar dengan metode spektrofotometri UV-Vis untuk mengetahui apakah kadar hidrokuinon memenuhi standar keamanan BPOM. Penelitian ini diharapkan memberikan informasi keamanan produk kosmetik bagi masyarakat dan pengalaman belajar bagi mahasiswa.

Diunggah oleh

Kurnia Baso
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
244 tayangan31 halaman

Analisis Hidrokuinon pada Krim Pemutih

Proposal ini membahas analisis kadar hidrokuinon pada krim pemutih wajah yang dijual di pasar Makassar dengan metode spektrofotometri UV-Vis untuk mengetahui apakah kadar hidrokuinon memenuhi standar keamanan BPOM. Penelitian ini diharapkan memberikan informasi keamanan produk kosmetik bagi masyarakat dan pengalaman belajar bagi mahasiswa.

Diunggah oleh

Kurnia Baso
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL

ANALISIS HIDROKUINON PADA KRIM PEMUTIH WAJAH


YANG BEREDAR DI PASAR SENTRAL KOTA MAKASSAR
SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

KURNIA BASO
17 3145 401 020

PROGRAM STUDI D III FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020
BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Penggunaan produk kosmetik semakin berkembang di masyarakat

terutama produk pencerah yang bisa diganakan untuk menjaga penampilan

dan mempercantik penampilan tubuh seseorang. Produk pencerah ini

dipercaya konsumen dapat membuat penampilan tubuh seseorang tampak

putih dan cerah sehingga lebih percaya diri.

Sediaan pencerah kulit yang beredar di pasaran dalam bentuk larutan

paling disukai oleh konsumen karena mudah menyebar rata dipermukaan

kulit, tidak lengket, tidak meninggalkan bekas, dan lebih mudah dibersihkan.

Salah satu zat aktif yang paling banyak terkandung dalam larutan pencerah

kulit adalah hidrokuinon yang berfungsi untuk menyerap UV dan mengurangi

produksi melanin atau menghilangkan bercak-bercak hitam pada kulit

sehingga membuat kulit tampak lebih putih (Anonim, 2005 b)

Suatu produk kosmetika yang tidak memiliki nomor registrasi,

kemungkinan memiliki kandungan zat-zat yang tidak diizinkan pemakaiannya

atau memiliki kadar yang melebihi ketentuan, sehingga dapat menimbulkan

efek samping yang berbahaya. Bahkan ada juga produsen yang

mencantumkan nomor registrasi pada produk kosmetiknya, walaupun nomor

tersebut bukan nomor resmi dari BPOM. Hal yang perlu diperhatikan adalah

1
2

berkaitan dengan kandungan bahan-bahan pemutih berbahaya seperti

hidrokuinon dan merkuri yang terdapat pada produk kosmetik (BPOM RI,

2007).

Penggunaan hidrokuinon sebagai agen pencerah dapat dikategorikan

menjadi dua yaitu dua yaitu sebagai produk kosmetik dan sebagai obat. Dalam

produk kosmetika, kadar hidrokuinon < 2% biasanya dijual secara bebas di

pasaran. Sedangkan dalam produk obat, hidrokuinon dijual berdasarkan resep

dan pengawasan dari dokter karena kadar yang digunakan umumnya lebih

besar dibandingkan pada produk kosmetik. Daya kerja pemucatan

hidrokuinon sangat cepat dengan kadar tinggi tetapi dapat menimbulkan efek

samping yang tidak diinginkan, misalnya: kemerahan, rasa terbakar (panas),

gatal, dan iritasi kulit ringan pada wajah. Oleh karena itu penggunaan

hidrokuinon harus dibatasi kadarnya.

Krim yang mengandung hidrokuinon banyak digunakan untuk

menghilangkan bercak-bercak pada wajah (Ibrahim dkk, 2004). Penggunaan

hidrokuinon dalam jangka panjang dan dosis tinggi dapat menyebabkan

hiperpigmentasi terutama pada daerah kulit yang terkena sinar matahari

langsung dan dapat menimbulkan ochronosis (kulit berwarna kehitaman).

Krim yang mengandung hidrokuinon akan terakumulasi dalam kulit dan dapat

menyebabkan mutasi dan kerusakan DNA, sehingga kemungkinan pada

pemakaian jangka panjang bersifat karsinogenik (BPOM RI, 20)


3

Metode Analisa Hidrokuinon dapat dilakukan beberapa cara

kromatografi lapis tipis (KLT), kromatorafi cair kinerja tinggi (KCKT),

analisa volumetrik dengan titrasi redoks dan spektrofotometri UV-Vis.

Pengukuran dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis memiliki kinerja

yang cepat dibandingkan dengan pengukuran hidrokuinon menggunakan

metode yang lain (Sarah, 2014).

Penelitian ini penting dilakukan karena dengan pengujian kadar

Hidrokuinon ataupun bahan kimia lainnya yang pada krim pemutih wajah

yang ada di lingkungan masyarakat ini, kita dapat mengetahui apakah krim

pemutih ini aman untuk kita gunakan dalam jangka panjang ataupun jangka

pendek walaupun hanya dalam skala laboratorium. Tingkat keamanan pada

krim pemutih ini akan kita ketahui dengan menentukan kadar Hidrokuinon

dalam krim pemutih wajah (kosmetik) yang telah diatur Badan POM sebagai

pusat pengawasan obat dan makanan.

B. RUMUSAN MASALAH

Apakah kadar hidrokuinon pada krim pemutih wajah yang beredar di

pasar sentral kota Makassar memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh

BPOM 2007 Nomor : HK [Link] sehingga aman untuk digunakan.


4

C. TUJUAN PENELITIAN

Analisis hidrokuinon pada krim pemutih wajah yang beredar di pasar

sentral kota Makassar memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh BPOM

2007 Nomor: HK [Link] sehingga aman untuk digunakan dengan

metode spektrofotometri UV-Vis.

D. MANFAAT PENELITIAN

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1) Mahasiswa

Mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dari melakukan penelitian

mengenai analisis hidrokuinon pada krim pemutih wajah yang beredar

di pasar sentral kota Makassar dengan metode spektrofotometri UV-

VIS.

2) Masyarakat

Dapat memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kadar

hidrokuinon yang layak digunakan dan memenuhi persyaratan yang

ditentukan BPOM

3) Institusi

Sebagai kepustakaan ilmiah untuk program studi D-III Farmasi

Universitas Megarezky Makassar


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kosmetik

1. Pengertian kosmetik

Isitilah kosmetik dan kosmetologi dikemukakan oleh beberapa

ahli. Menurut Jellinek, 1970 kosmetologi adalah ilmu pengetahuan yang

mempelajari hukum-hukum kimia, fisika, biologi maupun mikrobiologi

tentang pembuatan, penyimpanan dan penggunaan aplikasi kosmetik.

Menurut Mitsui 1997, kosmetologi adalah ilmu kosmetik, yang baru, yang

lebih mendalam dan lebih menyeluruh.

Menurut Wasittaatmaji tahun 1997, kosmetik adalah suatu bahan

untuk mempercantik diri, dahulu diramu dari bahan-bahan alami di sekitar

kehidupan manusia, tetapi sekarang dibuat manusia tidak hanya dari bahan

alami, melainkan dari bahan buatan untuk maksud meningkatkan

kecantikan

Berdasarkan SK MENKES No. 140/1991 kosmetika adalah

sediaan atau paduan bahan yang siap digunakan pada bagian luar badan

(epidermis, rambut, kuku, bibir, organ kelamin luar, gigi dan rongga

mulut) dengan tujuan untuk membersihkan, menambah daya tarik,

5
23

mengubah penampilan, melindungi supaya dalam keadaan baik,

memperbaiki bau badan, tetapi tidak dimaksud untuk mengobati atau

menyembuhkan (Dina Rahmawanti, 2019).

Pada dasarnya kosmetik berbeda dengan obat, dalam

perkembangan kosmetikasaat ini batasan antara kosmetika dan obat

menjadi kabur. Kosmetik adalah kosmetika yang didalamnya ditambah

bahan-bahan aktif tertentu sep erti zat-zat antibakteri atau jasad renik

lainnya, anti jerawat, anti gatal, anti prodak keringat, anti ketombe dan

lain-lain dengan tujuan profilaksis, desinfektan, terapi dan lain-lain (Dina

Rahmawanti, 2019).

Krim pemutih adalah salah satu jenis kosmetik yang mengandung

zat aktif yang dapat menekan atau menghambat pembentukan melanin

sehingga akan memberikan warna kulit yang lebih putih. Hidrokuinon

merupakan salah satu senyawa aktif yang sering ditambahkan dalam krim

pemutih. Hidrokuinon digunakan sebagai pemutih dan pencegahan

pigmentasi yang bekerja menghambat enzim tirosinase yang berperan

dalam penggelapan kulit. Krim yang mengandung hidrokuinon akan

terakumulasi dalam kulit dan dapat menyebabkan mutasi dan kerusakan ,

sehingga kemungkinan pada pemakaian jangka panjangbersifat

karsinogenik (Ibrahim dkk., 2004).


23

Krim yang mengandung hidrokuinon banyak digunakan untuk

menghilangkan bercak-bercak pada wajah (Ibrahim dkk, 2004).

Penggunaan hidrokuinon dalam jangka panjang dan dosis tinggi dapat

menyebabkan hiperpigmentasi terutama pada daerah kulit yang terkena

sinar matahari langsung dan dapat menimbulkan ochronosis (kulit

berwarna kehitaman). Krim yang mengandung hidrokuinon akan

terakumulasi dalam kulit dan dapat menyebabkan mutasi dan kerusakan

DNA, sehingga kemungkinan pada pemakaian jangka panjang bersifat

karsinogenik (BPOM RI, 2008).

Metode analisis hidrokuinon dapat dilakukan dengan beberapa

cara. Secara umum metode analisis hidrokuinon terdiri dari Titrasi Redoks

(Departemen Kesehatan RI, 1995), Misellar Electrokinetic

Chromatography (Jangseokim dan Youngseong Kim, 2005), Capillary

Electrochromatography (Desinderio, 2000), Kromatografi Lapis Tipis

(KLT) (BPOM RI, 2011), Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)

(BPOM RI, 2011), dan Spektofotometri UV (Aryani dkk, 2010).

Pengukuran dengan metode Spektrofotometri UV tergolong mudah

dengan kinerja yang cepat jika dibanding dengan pengukuran dengan

menggunakan metode lain. Selain itu senyawa yang akan dianalisis

memiliki kromofor pada strukturnya sehingga memenuhi syarat untuk

dapat dianalisis menggunakan metode spektrofotometri. Berdasarkan hal


23

tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hidrokuinon

dalam sampel krim pemutih wajah yang beredar di pasar sentral kota

Makassar.

2. Penggolongan kosmetik

Penggolongan Kosmetika dalam surat edaran BPOM No.

HK.[Link].16.84 Tahun 2016 :

1. Sediaan bayi, misalnya baby oil, baby lotion, baby cream, dan sediaan

bayi lainnya.

2. Sediaan perawatan kulit, misalnya masker, masker mata.

3. Sediaan rias wajah, misalnya dasar make-up, alas bedak.

4. Sediaan mandi, misalnya sabun mandi dan sabun mandi antiseptik

5. Sediaan wangi-wangian, misalnya pewangi badan, parfum, dan eu de

parfum.

6. Sediaan rambut, misalnya depilatori

7. Sediaan kebersihan badan, misalnya penyegar kulit, krim malam, krim

siang, dan pelembab.

8. Sediaan cukur, misalnya sediaan cukur dan sediaan pasca cukur.

9. Sediaan rias mata, misalnya pensil alis, bayangan mata, eye liner,

maskara, dan sediaan rias mata lainnya.

10. Sediaan hygine mulut, misalnya pasta gigi, mouth washes dan

penyegar mulut
23

11. Sediaan kuku, misalnya nail dryer dan pewarna kuku.

12. Sediaan tabir surya

13. Sediaan menggelapkan kulit, misalnya sediaaan untuk menggelapkan

kulit tanpa berjemur.

3. Krim pemutih

Krim didefinisikan sebagai “cairan kental atau emulsi setengah padat

baik bertipe air dalam minyak atau minyak dalam air”. Krim biasanya

digunakan sebagai emolien atau pemakaian obat pada kulit. Krim pemutih

merupakan campuran bahan kimia dan atau bahan lainnya dengan khasiat bisa

memutihkan kulit atau memucatkan noda hitam (coklat) pada kulit

(Anggraeni, 2014). Berdasarkan cara penggunaannya produk pemutih kulit

dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu:

a. Skin Bleaching

Skin Bleaching Adalah pemutih yang mengandung bahan aktif yang

kuat, yang berfungsi memudarkan noda-noda hitam, tidak digunakan

secara merata pada kulit dan tidak digunakan pada siang hari.

b. Skin lightening

Skin lightening adalah produk perawatan kulit yang digunakan dengan

tujuan fagar kulit pemakai tampak lebih putih, cerah dan bercahaya.

Produk lightening kategori ini dapat digunakan secara merata pada

seluruh permukaan kulit (Anggraeni, 2014).

B. Hidrokuinon
23

1. Struktur dan sifat hidrokuinon

Hidrokuinon atau 1,4 benzendiol adalah senyawa organik aromatik

dengan tipe fenol yang mempunyai rumus kimia C6H6O2, dan memiliki

dua gugus hidroksil (-OH) yang berikatan dengan cincin aromatic atau

benzene pada posisi para (Wenninger et al., 2000).

Gambar 1. Struktur Hidrokuinon

Hidrokuinon mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih

dari 100,5% CHO, dihitung terhadap zat anhidrat. Hidrokuinon

merupakan substansi/zat kristal berbentuk jarum halus, putih, mudah

menjadi gelap jika terpapar cahaya dan udara (Anonim, 1995).

Hidrokuinon mudah larut dalam air (1 dalam 17 bagian air), dalam etanol

(1 dalam 4 bagian etanol), dalam kloroform (1 dalam 51 bagian

kloroform), dan dalam eter (1 dalam 16,5 bagian eter) (Anonim, 1995).

Konsentrasi hidrokuinon > 2 % dalam krim termasuk golongan

obat keras yang hanya dapat digunakan berdasarkan resep dokter (BPOM

RI, 2007). Oleh karena itu, penggunaan hidrokuinon dalam kosmetika

dengan konsentrasi yang tinggi telah dilarang penggunaanya (Amponsah,


23

2010). Hasil investigasi dan pengujian laboratorium Badan Pengawas

Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM) tahun 2006 dan 2007

terhadap kosmetika yang beredar, ditemukan beberapa bahan yang

dilarang digunakan dalam kosmetika. Salah satu bahan diantaranya adalah

hidrokuinon dengan konsentrasi > 2 % (BPOM RI, 2007).

2. Penggunaan dan mekanisme kerja hidrokuinon

Hidrokuinon yang digunakan sebagai agen pencerah atau

depigmentasi untuk memutihkan kulit dan menghilangkan kulit yang

dalam kondisi hiperpigmentasi seperti melasma, bercak-bercak lentigines.

Karena mampu mengelupas kulit bagian luar dan menghambat

pembentukan melanin pada kulit (Anonim, 2006a). Melanin adalah

pigmen pada kulit yang memberikan warna gelap atau coklat (Anonim,

2010b). Penggunaannya membutuhkan beberapa minggu sebelum muncul

suatu efek, tapi depigmentasi terjadi setelah 2-6 bulan. Aplikasi

hidrokuinon harus dihentikan jika tidak ada peningkatan setelah

melindungi 2 bulan perawatan. Hidrokuinon harus digunakan dua hari

sekali hanya untuk kulit dari sinar matahari dan mengurangi depigmentasi

(Anonim, 1999). Selain itu, kegunaan hidrokuinon adalah sebagai

antioksidan dalam fotografi (pencucian film) untuk mereduksi ion perak

menjadi logam perak halida, sebagai penghambat polimerisasi, sebagai


23

bahan dasar herbisida, kaet antioksidan, dan bahan pewama rambut

(Wennıngner et al., 2000).

Hidrokuinon sendiri merupakan zat aktif yang paling banyak

digunakan dalam sediaan pencerah wajah. Hal ini dikarenakan efektivitas

kerja dari hidrokuinon yaitu dapat menginaktivasi enzim tirosinase

melalui penghambatan reaksi oksidasi enzimatik dari tirosin ke 3,4-

dihidroksifenilalanin (Wilkinson et al., 1982). Enzim tirosinase ini

merupakan enzim utama dalam pembentukan melanin, sehingga jika

kerjanya dihambat maka jumlah pigmen melanin pemberi warna gelap

atau cokelat kulitpun menjadi berkurang kulit lebih putih. Hidrokuinon

bekerja menghalangi pengeluaran melanin oleh enzim tirosinase pada

melanosit yang terletak di lapisan epidermis kulit, mendegradasi

melonosom pada kulit, menembus lapisan kulit, dan menyebabkan

penebalan pada lapisan kolagen. Produksi melanin oleh enzim tirosinase

pada melanosit ini biasanya diaktifasi oleh sinar matahari, hormonal,

penyakit, obat, alergi dan iritasi yang akhirnya membuat kulit menjadi

berflek, berwarna tak merata dan lebih gelap dari sebelumnya

(Daniel,2010).

3. Efek samping hidrokuinon

Menurut Dr. Retno Iswari Tranggono, [Link], ahli kulit sekaligus

ketua Himpunan Ilmuan Kosmetika Indonesia (HIKI) penggunaan


23

Hidrokuinon dalam kosmetika dapat merusak kulit. Saat pertama

menggunakan krim pemutih, hasilnya memang memuaskan. Kulitnya

yang semula agak gelap berubah menjadi terang. Namun, lama-kelamaan

kulit akan terasa panas dan memerah. Pemakaian Hidrokuinon dalam

kosmetik dapat membuat kulit malah kusam dan timbul bercak-bercak

hitam, ini karena tidak semua melanosit hancur oleh Hidrokuinon. Sisa-

sisa melanosit yang tidak hancur akan membentuk pertahanan hingga

kebal terhadap Hidrokuinon (Tranggono dan Latifah, 2014).

Selain itu penggunaan Hidrokuinon pada kadar yang berlebih juga

dapat menyebabkan :

a. Kanker Darah (Leukemia) yang bersifat mutagenik.

b. Kanker sel hati (Hepatocelluler Adenoma)

c. Kekurangnya daya tahan kulit terhadap sinar ultraviolet.

d. Kerusakan ginjal

e. Penyakit okronosis.

f. Kelainan pigmen

Penggunaan Hidrokuinon dalam jangka waktu yang lama

menyebabkan zat ini terserap dalam darah dan menumpuk hingga sel

berubah menjadi kanker (Tranggono dan Latifah, 2014).


23

C. Spektrofotometri UV-Vis

1. Deskripsi umum

Ultraviolet jauh memiliki rentang panjang gelombang ± 10 –

200 nm, sedangkan ultraviolet dekat memiliki rentang panjang

gelombang ± 200-400 nm. Cahaya UV tidak bisa dilihat oleh manusia,

namun beberapa hewan, termasuk burung, reptil dan serangga seperti

lebah dapat melihat sinar pada panjang gelombang UV. (Tuti

Suhartati, 2017)

Interaksi senyawa organik dengan sinar ultraviolet dan sinar

tampak, dapat digunakan untuk menentukan struktur molekul senyawa

organik. Bagian dari molekul yang paling cepat bereaksi dengan sinar

tersebut adalah elektron-elektron ikatan dan elektron-elektron

nonikatan (elektron bebas). Sinar ultralembayung dan sinar tampak

merupakan energi, yang bila mengenai elektron-elektron tersebut,

maka elektron akan tereksitasi dari keadaan dasar ke tingkat energi

yang lebih tinggi, eksitasi elektron-elektron ini, direkam dalam bentuk

spektrum yang dinyatakan sebagai panjang gelombang dan absorbansi,

sesuai dengan jenis elektron-elektron yang terdapat dalam molekul

yang dianalisis. Makin mudah elektron-elektron bereksitasi makin

besar panjang gelombang yang diabsorbsi, makin banyak elektron


23

yang bereksitasi makin tinggi absorban. Pada spektrofotometri UV-Vis

ada beberapa istilah yang digunakan terkait dengan molekul, yaitu

kromofor, auksokrom, efek batokromik atau pergeseran merah, efek

hipokromik atau pergeseran biru, hipsokromik, dan hipokromik.

Kromofor adalah molekul atau bagian molekul yang mengabsorbsi

sinar dengan kuat di daerah UV-Vis, misalnya heksana, aseton,

asetilen, benzena, karbonil, karbondioksida, karbonmonooksida, gas

nitrogen. Auksokrom adalah gugus fungsi yang mengandung pasangan

elektron bebas berikatan kovalen tunggal, yang terikat pada kromofor

yang mengintensifkan absorbsi sinar UV-Vis pada kromofor tersebut,

baik panjang gelombang maupun intensitasnya, misalnya gugus

hidroksi, amina, halida, alkoksi. (Tuti Suhartati, 2017)

2. Analisis kuantitatif dengan spektrofotometer vesibel

Dalam aspek kuantitatif, (larutan sampel) dan intensitas sinar

radiasi yang diteruskan diukur besarnya. Radiasi yang diserap oleh

cuplikan ditentukan dengan menmbandingkan intensitas sinar yang

diteruskan bila spesies penyerap yang tidak ada dengan intensitas sinar

radiasi yang diteruskan bila penyerap ada. Intensitas sinar yang

diteruskan bila tidak ada spesies penyerap merupakan intensitas sinar

yang masuk dikurangi dengan yang hilang oleh lain (Sastrohamidjojo,

1991).
23

3. Prinsip kerja spektrofotometri

Spektrofotometri UV didasari pada interaksi sampel dengan

sinar UV Sumber sinar UV dapat diperoleh dari lampu deuterium.

Deuterium merupakan isotop hidrogen yang stabil yang terdapat

berlimpah di lauf dan daratan. Inti atom deuterium mempunyai yang

memiliki panjang gelombang 190-380 nm. satu proton dan satu

neutron, sementara hidrogen hanya memiliki satu proton dan tidak

memiliki neutron. Karena sinar UV tidak dapat dilihat oleh mata

manusia, maka senyawa yang dapat menyerap sinar ini terkadang

merupakan senyawa yang tidak memiliki warna. (Muhammad Nazar,

2018)

Gambar 2. Prinsip Kerja Spektrofotometer

Uv-Vis
23

Spektrofotometet UV-Vis memiliki beberapa komponen

penyusun. komponen-komponen pokok dari spektrofotometer

meliputi:

1. Sumber tenaga radiasi yang stabil Sumber tenaga radiasi terdiri

dari benda yang tereksitasi hingga ke tingkat yang lebih tinggi

oleh sumber listrik tinggi atau oleh pemanasan listrik. Sumber

radiasi yang ideal untuk pengukuran serapan harus menghasilkan

spektrum kontinu dengan intensitas yang seragam pada

keseluruhan kisatan panjang gelombang yang sedang dipelajari.

2. Monokromator Dalam spektrofotometer, radiasi yang

polikromatik ini harus diubah menjadi radiasi monokromatik. Ada

dua jenis alat yang digunakan untuk mengurai radiasi polikromatik

yaitu penyaring atau monokromator. Penyaring dibuat dari benda

khusus yang hanya meneruskan radiasi pada daerah panjang

gelombang tertentu dan menyerap radiasi dari panjang gelombang

yang lain. Monokromator merupakan serangkaian alat optik yang

menguraikan radiasi polikromatik menjadi jalur-jalur yang

efektif/panjang gelombang-gelombang dan memisahkan panjang

gelombang-gelombang tersebut menjadi jalur-jalur yang sangat

sempit.

3. Tempat cuplikan Cuplikan yang akan dipelajari pada daerah

ultraviolet atau terlihat yang biasanya berupa gas atau larutan


23

ditempatkan dalam sel atau cuvet. Untuk daerah ultraviolet

digunakan quartz atau sel dari silika yang dilebur, sedangkan

untuk daerah terlihat digunakan gelas biasa atau quarts. Sel yang

digunakan untuk cuplikan yang berupa gas mempunyai panjang

gelombang lintasan 0,1 hingga 100 nm, sedangkan sel untuk

larutan mempunyai panjang lintasan tertentu dari 1 hingga 10 cm.

Sebelum sel dipakai harus dibersihkan dengan air, atau jika

dikehendaki dapat dicuci dengan geterjen atau asam nitrat panas

4. Detektor Setiap detektor menyerap tenaga foton yang

mengenainya dan mengubah tenaga tersebut untuk dapat diukur

secara kuantitaf seperti sebagai arus listrik atau perubahan-

perubahan panas. Kebanyakan detektor menghasilkan sinyal listrik

yang dapat mengaktifkan meter atau pencatat. Setiap pencatat

harus menghasilakn sinyal yang secara kuantitatif berkaitan

dengan tenaga cahaya yang mengenainya (Sastrohamidjojo, 1991).

Spektrofotometri ini merupakan gabungan antara

spektrofotometri UV dan Visible. Menggunakan dua buah sumber

cahaya berbeda, sumber cahaya UV dan sumber cahaya visible.

Meskipun untuk alat yang lebih canggih sudah menggunakan hanya

satu sumber sinar sebagai sumber UV dan Vis, yaitu photodiode yang

dilengkapi dengan monokromator (Muhammad Nazar, 2018).


23

Gambar 3. Spektrofotometer Uv-Vis

Spektrofotometri, UV-Vis paling banyak tersedia dan paling

populer digunakan karena metode ini dapat digunakan baik untuk

sampel berwarna juga untuk sampel tak berwarna. Spektroskopi

ultraviolet-visible atau spektrofotometri (UV-Vis ultraviolet-visible

atau UV/Vis) melibatkan spektroskopi dari foton dalam daerah UV-

terlihat. Ini berarti menggunakan cahaya tampak, uv dekat dan IR

dekat. Penyerapan dalam rentang visibel secara langsung

mempengaruhi warna bahan kimia yang terlibat (Muhammad Nazar,

2018).
23

D. Karangka Teori

Kosmetik

Penggolongan kosmetik Krim pemutih

Hidrokuinon

Spektrofotometri Uv-Vis

E. Hipotesis

Krim pemutih wajah merek “X” yang dijual di pasar sentral kota

Makassar menggandung zat berbahaya Hidrokuinon.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Metode penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium untuk

mengetahui kadar hidrokuinon yang terkadung dalam sediaan krim yang beredar

di pasar sentral kota Makassar secara spektrofotometri UV-Vis

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian akan dilakukan di laboratorium Kimia farmasi, Fakultas

Farmasi Universitas Megarezky Makassar, penelitian akan dimulai pada bulan

Juni - Juli 2020.

C. Alat Dan Bahan

1) Alat

Adapun alat-alat yang akan digunakan pada penelitian ini adalah neraca

analitik, spatula, labu ukur 100 ml, labu ukur 10 ml, labu ukur 50 ml, kertas

saring, corong, pipet tetes, beaker gelas, batang pengaduk, gelas ukur 10 ml,

pipet volume dan Spektrofotometer UV-Vis.

2) Bahan

Bahan-bahan akan yang digunakan pada penelitian ini adalah baku

hidrokuinon, krim pemutih wajah, teofilin, akuades, etanol (C 2H5OH) 96%,

ferri klorida (FeCl3) 1%, metanol (CH3OH).

20
21

D. Prosedur Kerja

1. Identifikasi Kualitatif Hidrokuinon Dengan Reaksi Warna

Sampel krim ditimbang sebanyak 0,1 gram, dilarutkan dengan etanol

96% sebanyak 5 ml sampai larut kemudian ditambahkan 4 tetes FeCl3 1%

sehingga diperoleh endapan kuning keperakan. (Lantanida Journal, 2018)

2. Pembuatan Larutan Baku Hidrokuinon

Ditimbang hidrokuinon sebanyak 5 mg dan dilarutkan dalam 2 ml

metanol. Larutan tersebut dipindah ke dalam labu ukur 100 ml dan

ditambahkan metanol sampai tanda batas 100 ml, dikocok larutan sampai

homogen, hingga diperoleh konsentrasi baku hidrokuinon 50 ppm dalam

metanol. (Lantanida Journal, 2018)

3. Penentuan Panjang Gelombang

Maksimum Dipipet 2,8 ml dari larutan baku 50 ppm dan dimasukkan

dalam labu ukur 10 ml. Kemudian diencerkan dengan larutan metanol sampai

tanda batas dan dikocok hingga didapat hidrokuinon dengan konsentrasi 14

ppm. Larutan 14 ppm diukur pada panjang gelombang 200-400 nm.

(Prabawati, dkk., 2012).

4. Pembuatan Kurva Standar

Dipipet larutan baku 50 ppm sebanyak 0,4, 0,8, 1,2, 1,6, 2,0 ml.

Dimasukkan masing-masing ke dalam gelas ukur 10 ml, ditambahkan dengan

larutan methanol sampai tanda lalu dikocok hingga homogen. Didapatkan


22

larutan dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8, 10 ppm, kemudian diukur pada

panjang gelombang maksimum yang didapatkan pada pengukuran panjang

gelombang sebelumnya dan methanol sebagai blanko. (Miller dan Miller,

2010).

5. Pengujian Sampel

Ditimbang 25 mg sampel krim pemutih, kemudian dimasukkan ke

dalam labu ukur 50 ml dan ditambahkan methanol sampai tanda batas,

selanjutnya dilakukan pengocokan dan disaring. Larutan sampel kemudian

diambil 4 ml dan ditambahkan masing-masing 3 ml larutan teofilin kosentrasi

10 µg/ml dan larutan hidrokuinon konsentrasi 14 µg/ml. kemudian dikocok

hingga homogen. Selanjutnya sampel yang akan diuji dimasukkan kedalam

kuvet dan dilihat spektrum serapan yang terbentuk pada panjang gelombang

200 – 400 nm. Kemudian dibandingkan dengan spektrum yang dibentuk oleh

larutan standar hidrokuinon dan larutan standar teofilin. Diukur pada panjang

gelombang maksimum yang didapatkan pada pengukuran panjang gelombang

sebelumnya (Sastrohamidjojo, 2001).

6. Identifikasi dan Penetapan Kadar

Pengambilan sampel dilakukan secara random di pasar sentral kota

makassar, untuk uji kualitatif dan kuantitatif ditimbang masing – masing

sampel krim pemutih wajah yang mengandung hidrokuinon sebanyak 25 mg

dan disuspensikan dengan methanol 50 ml, kemudian dikocok sampai

homogen. Dipipet 3 ml dan dimasukkan kedalam kuvet kemudian diukur


25

menggunakan Spektrofotometri UV-Vis dengan panjang gelombang

maksimum. Uji kualitatif, dilihat spektrum yang terbentuk menyerupai

spektrum yang ditunjukkan pada larutan baku hidrokuinon. Uji kuantitatif,

diukur absorbansi dari analit uji yang teridentifikasi pada uji kualitatif dengan

panjang gelombang maksimum yang kemudian dihitung konsentrasinya

berdasarkan persamaan regresi yang didapatkan pada penentuan kurva

standar (Gandjar dan Rohman, 2007).


DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim, S., Damayanti, S., dan Riani, Y., 2004, Penetapan dan Keseksamaan
Metode Kalorimetri Menggunakan Pereaksi Floroglusin Untuk Penetapan
Kadar Hidrokuinon dalam Krim Pemucat, Acta Pharmaceutica Indonesia,
Vol. 29 (1).

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2008, Bahan Tambahan
Kosmetik, Naturakos, Vol. 3 (9).

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2007, Public


Warning/Peringatan Nomor KH.00.01.432.6081 Tentang Kosmetik
mengandung Bahan Berbahaya dan Zat Warna Yang Dilarang, Jakarta

Abdul Rohman. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sastrohamidjojo, Hardjono. 2001. Spektroskopi. Yogyakarta: Liberty.

Dachriyanus. (2004). Analisis Struktur Senyawa Organik Secara Spektroskopi.


Cetakan I. Padang: Andalas University Press.

Anonim, 2006, Cermat Memilih Pemutih Kulit, http//dickana.b;[Link]/beuty/ ,


diakses pada tanggal 13 april 2020.

Anonym, 1995, farmakope Indonesia, edisi IV , Depertemen Kesehatan, R.I, Jakarta.

Daniel, 2010, merkuri dan hidrokuinon,


[Link] Diakses 13 april 2020.

Suhartati Tati, 2017. Dasar-dasar spektrofotometri UV-Vis dan spektrofotometri


massa untuk penentuan struktur senyawa organic , Bandar lampung.

Tranggono, R. I., dan F. Latifah. 2014. Buku Pegangan Dasar Kosmetokologi.


Jakarta: Gramedia.

24
27

Lily Soepatdiman. 1986. ”Efek Samping Kometika dan Penatalaksanaannya”


(Cermin Dunia Kedokteran). J. Kedokteran. Jakarta: Pusat Penelitian dan
Pengembangan PT. Kalbe Farma. No.41

Policarpio, Bernardita. 2009. “Skin lightening and Depigmenting Agent”.


[Link] of Dermatology Colombia

Pudjaatmaka A Hadyana. 2002. Kamus Kimia. Jakarta: Buku Kedokteran EGC

Rostamailis. 2005. Penggunaan Kosmetik Dasar Kecantikan & Berbusana Yang


Serasi, Jakarta: Rineka Cipta

Sarjono O, Santoso. 1986. ”Aspek Farmakologi Beberapa obat yang Mempengaruhi


Kecantikan” (Cermin Dunia Kedokteran). Jakarta: Pusat Penelitian dan
Pengembangan PT. Kalbe Farma

Sastrohamidjojo, Harjono. 1991. Spektroskopi. Yogyakarta: Liberty

Simon fraser University. Extraction and Identification. J. Departmen of Chemistry


Tim Reality. 2008. Kamus Terbaru Bahasa Indonesia I. Surabaya: Reality
Publisher

Wahyuriyadi. 2008. Perbedaan Spektrometri dan Spektrofotometri.


[Link]
dan [Link].
LAMPIRAN

Skema Kerja

Larutan baku hidrokuinon

Hidrkoinon ditimbang

5 mg

Dilarutkan

2 ml methanol
 Penetapan panjang
gelombang
Dipindahlan ke labu ukur  Pembuatan kurva
standar
100 ml + methanol sampai

batas 100 ml

Dikocok ad homogen

Konsentrasi baku hidrokuinon

50 ppm dalam metanol

26
27

Analisis kualitatif & Kuantitatif

Analisis kualitatif Analisis kuantitatif

Ditimbang sampel 25 mg
Krim ditimbang 0,1 gram

Dilarutkan

Etanol 96% 5 ml + 4 Pengujian sampel Penetapan kadar

tetes FeCl3 1%
Masuk ke dalam labu ukur Di suspensikan methanol
50 ml + metanol 50 ml kocok ad homogen
Endapan kuning keperakan

Dilakukan pengocokan 3 ml masuk kedalam


kemudian disaring kuvet

Larutan sampel di ambil 4


ml + 3 ml teofilin
konsentrasi 10µg/ml &
hidrokuinon 14µgml.

Di kocok ad
homogen

Dibandungkan spectrum yang Sampel masuk ke kuvet


dibentuk oleh larutan standar spectrum sarapan panjang
hidrokuinon dan teofilin gelombang 200-400 nm.
27
27

Anda mungkin juga menyukai