Perlakuan Panas dan Permukaan
“Tempering (Metalurgi)”
Dosen Pengajar: Prof. Dr. Ir. Wahyono Suprapto, [Link].
Disusun oleh :
Muhammad Raihan Zulvikar 195060201111039
Muhammad Syafa Adana 195060201111040
Azriel Shah Pahlevi 195062001111041
M. Rifki Khadafi 195060207111029
Kevano Danendra 195060207111030
Latar Belakang
Perlakuan panas hardening dapat meningkatkan kekerasan (hardness) dan kegetasan
(brittleness)
sehingga baja tersebut belum cocok untuk digunakan, maka baja tersebut perlu diberi perlakuan
panas
tempering. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh proses perlakuan panas
tempering dan
normalizing terhadap kekerasan dan ketangguhan baja pegas daun. Penelitian ini
menggunakan
metode eksperimen, dengan menggunakan bahan baja karbon sedang yang mengandung kadar
karbon
0,38-0,45 % C, yaitu baja pegas daun SUP 9. Dimulai dengan membuat spesimen sesuai
dengan
standar alat pengujian kekerasan dan pengujian impact. Dengan pengambilan 3 kelompok
spesimen,penelitian
yang telah dilakukan maka didapat nilai rata-rata kekerasan baja pegas tanpa perlakuan s
ketangguhan
spesimen control 1,24 N/m dapat disimpulkan bahwa proses tempering dapat
meningkatkan nilai
kekerasan dan ketangguhan pada baja pegas daun, bila dibandingkan dengan spesimen control.
Baja merupakan istilah yang digunakan untuk material yang memiliki komposisi utama
besi dan karbon serta material bawaan lainnya. Akibat komposisi karbon yang berbeda-beda
karakter dominan baja juga berbeda-beda ada baja yang sifat nya keras tetapi ulet atau
sebaliknya. Menurut komposisinya campuran karbon pada baja ada yang disebut baja karbon
rendah, baja karbon sedang, dan baja karbon tinggi yang tingkat kekerasanya sebanding dengan
komposisi karbon pada baja tersebut.
Macam-macam klasifikasi baja karbon antara lain:
Low Carbon Steel
Baja karbon rendah, memiliki kandungan karbon kurang dari 0,25 %, memiliki tingkat
kekerasan rendah dan mampu bentuk yang tinggi.
Medium Carbon Steel
Baja karbon menengah, memiliki kandungan karbon lebih tinggi dari baja karbon rendah
antara 0,25-0,60 %, memiliki tingkat kekerasan yang tinggi dan mampu bentuk yang
rendah
High Carbon Steel
Baja karbon tinggi, memiliki kandungan karbon di atas 0,60 %.
Perlakuan panas hardening dapat meningkatkan kekerasan (hardness), kegetasan
(brittleness) dan sangat mungkin terdapat tegangan sisa sehingga baja tersebut belum cocok
untuk digunakan atau untuk melakukan proses selanjutnya, maka baja tersebut perlu diberi
perlakuan panas tempering.
Pengertian Tempering
Tempering yaitu proses pemanasan logam setelah dikeraskan (hardening atau
normalizing) pada temperatur dibawah suhu eutectoid (suhu kritis), yang dilanjutkan dengan
proses pendinginan. Baja yang telah dikeraskan bersifat rapuh dan tidak cocok untuk digunakan,
melalui proses tempering kekerasan maka kerapuhan dapat diturunkan sampai memenuhi
persyaratan penggunaan. Kekerasan turun, kekuatan tarik akan turun pula sedang keuletan dan
ketangguhan baja akan meningkat. Adapun hal – hal yang perlu diperhatikan pada
proses tempering adalah temperatur tempering, waktu tempering, laju pendinginan, dan
komposisi baja yang akan ditempering.
Meskipun proses ini menghasilkan baja yang lebih lunak, proses ini berbeda dengan
proses anil (annealing) karena sifat-sifat fisis dapat dikendalikan dengan cermat.
Tujuan
Tujuan dari tempering sendiri adalah menghilangkan tegangan sisa setelah proses
quenching, hardening, pengelasan dan permesinan guna menambah sifat yang diinginkan dan
yang sebelumnya tidak ada karena proses hardening dan quenching yaitu keuletan. Tempering
juga dapat meningkatkan toughness dan ukuran butir dalam matriks.
Berikut klasifikasi perlakuan panas pada logam :
Proses tempering sangat bergantung pada temperatur temper, ditinjau dari aspek capaian
kekerasannya temperatur temper dibagi menjadi 3 kelompok sebagai berikut :
Temperatur temper tahap I
Dilakukan pada temperatur 80 – 200oC. pada tahap ini terjadi transformasi fasa martensit
menjadi martensit temper dan karbida epsilon (Fe2,4C), dan jika terdapat austenit sisa maka
austenit sisa tersebut akan bertransformasi menjadi martensit.
Temperatur temper tahap II
Dilakukan pada temperatur 200 – 400oC. pada tahap ini terjadi transformasi martensit menjadi
α + Fe3C, dan jika masih terdapat austenit sisa maka akan bertransformasi juga menjadi α +
Fe3C. α + Fe3C disini memiliki bentuk sementit yang lamellar (serpih).
Temperatur temper tahap III
Dilakukan pada temperatur 400 – 600oC, pada tahap ini transformasi yang terjadi adalah seperti
pada temperatur temper tahap II, hanya saja pada α + Fe 3C yang terbentuk memiliki bentuk
sementit yang globular (bulat).
Macam Tempering
1. Martempering
Martempering adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pendinginan terputus dari
suhu austenitisasi paduan, cor, perkakas, dan baja tahan karat tertentu. Tujuannya adalah untuk
menunda pendinginan tepat di atas transformasi martensit untuk waktu yang lama untuk
menyamakan suhu di seluruh bagian. Ini akan meminimalkan distorsi, retak, dan tegangan sisa.
Istilah martempering agak menyesatkan dan lebih baik digambarkan sebagai marquenching.
Mikrostruktur setelah martempering pada dasarnya adalah martensit primer yang tidak rusak dan
rapuh.
Langkah-langkah dalam martempering :
Pendinginan dari suhu austenitisasi ke dalam media fluida panas (minyak panas, garam
cair, logam cair, atau hamparan partikel terfluidisasi) pada suhu yang biasanya di atas
kisaran martensit start (titik Ms).
Ditahan dalam media pendinginan hingga suhu di seluruh baja secara substansial
seragam.
Pendinginan (biasanya di udara) dengan kecepatan sedang untuk mencegah perbedaan
besar suhu antara bagian luar dan tengah bagian.
2. Austempering
Autempering adalah transformasi isotermal dari paduan besi pada suhu di bawah formasi perlit
dan di atas formasi martensit. Austempering dari baja menawarkan beberapa keuntungan
potensial:
Peningkatan keuletan, ketangguhan, dan kekuatan pada kekerasan yang diberikan (Tabel 1).
Mengurangi distorsi, yang mengurangi waktu pengerjaan mesin selanjutnya, pemindahan
stok, pemilahan, inspeksi, dan skrap.
Siklus waktu keseluruhan terpendek untuk melalui-mengeras dalam kisaran kekerasan dari
35 hingga 55 HRC, dengan penghematan energi dan modal.
Steel dilakukan proses austempering dengan cara:
Dipanaskan pada suhu dalam kisaran austenitisasi, biasanya 790 hingga 915 ° C (1450
hingga 1675 ° F).
Didinginkan dalam media pendingin yang dijaga pada suhu konstan, biasanya dalam
kisaran 260 hingga 400 ° C (500 hingga 750 ° F ).
Suhu ditahan hingga menjadi bainit dalam proses ini.
Didinginkan hingga suhu kamar.
Note: Untuk didapatkan austempering yang sebenarnya, logam harus didinginkan dari suhu
austenitisasi ke suhu rendaman austempering cukup cepat sehingga tidak ada transformasi
austenit terjadi selama pendinginan, dan kemudian ditahan pada suhu media pendingin cukup
lama untuk memastikan transformasi austenit menjadi bainit yang lengkap.
Perbedaan mikrostruktur Quench and tempered - Martempered and tempered
-Austempered
Daftar Pustaka:
Lawrence H. van Vlack. 1980. “Elements of Materials Science and Engineering, 4th edition”.
USA : Addison-Wesley Publishing Company.
ASM Handbook Committee. 1991. “ASM Handbook Heat Treating Vol.4”. USA : ASM
internasional.
Karl Erik-Thelning. 1967. “Steel and it’s Heat Treatment”. Sweden: Mastinaktiebolaget
Karlebo.