GROUP WORK
Pengertian Pekerjaan Sosial Kelompok
Social Group Work sebagai suatu pelayanan kepada kelompok dimana tujuan utamanya untuk
membantu anggota kelompok memperbaiki penyesuaian sosial mereka (social adjusment), dan
tujuan keduanya untuk membantu kelompok mencapa tujuan-tujuan yang disepakati oleh
masyarakat. (The National Association of Social Work, 1947).
Robert W. Klenk dan Robert M. Ryan (1974) lebih ringkas dalam mengartikan Social Group
Work sebagai salah satu metoda pekerjaan sosial untuk memperbaiki dan meningkatkan fungsi
sosial individu melalui pengalaman–pengalaman dalam kelompok yang disusun secara sadar dan
bertujuan.
HB Trecker (1972) berpendapat bahwa Social Group Work adalah suatu metoda dimana individu-
individu yang terikat dalam dalam suatu kelompok dibantu oleh pekerja sosial, dibimbing mengikuti
kegiatan kelompok, sehingga individu-individu tersebut dapat bergaul dengan sesama anggota
kelompok secara baik, dan dapat mengambil manfaat dari pengalaman-pengalaman pergaulan
sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan untuk mencapai kemajuan atau perkembangan pribadi,
kelompok dan masyarakat.
Ciri-ciri Kelompok sebagai Sasaran Pekerjaan Sosial Kelompok
Ciri-ciri kelompok yang dibimbing atau dibina oleh pekerja sosial kelompok adalah :
1. Kelompok kecil (small group) bukan organisasi, apalagi masyarakat. Kelompok kecil biasanya
berukuran lima sampai tujuh orang, atau enam sampai delapan orang.
2. Kelompok Sosial (social group), bukan kelompok statistik (kelompok menurut jenis kelamin,
usia, dan lain-lain) dan bukan pula kumpulan (kerumunan).
3. Kelompok yang terorganisasi (organized group), bukan kelompok yang terorganisasi
(unorganized group). Maksudnya adalah setelah kelompok dibentuk, kemudian diorganisasikan.
4. Kelompok yang sengaja dibentuk (invontulary group), bukan kelompok yang terbentuk secara
alamiah (voluntary group). Artinya keluarga dan kelompok sebaya bukan sasaran pekerjaan sosial
kelompok.
Tujuan Pekerjaan Sosial dengan Kelompok
Rex A. Skidmore dan Milton E. Thackeray (1991) merumuskan tujuan Pekerjaan Sosial dengan
kelompok sebagai berikut :
1. Membantu anggota-anggota kelompok untuk belajar berpartisipasi secara aktif didalam
kehidupan kelompok sebagai pengalaman untuk menyumbangkan perasaan bertanggungjawab
sebagai warga negara yang aktif dan untuk meningkatkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial.
2. Meningkatkan kemampuan anggota-anggota kelompok, mewujudkan potensi-potensi
individual dan memperkaya mutu kehidupan anggota.
3. Memberi kesempatan bagi pertumbuhan secara wajar dan perluasan kemampuan anggota-
anggota kelompok untuk melaksanakan fungsi sosialnya secara efektif.
4. Mencegah terjadinya masalah-masalah sosial dari anggota kelompok.
5. Memberikan pelayanan-pelayanan atau pengalaman-pengalaman yang bersifat korektif
(penyembuhan) bagi anggota-anggota kelompok yang mengalami masalah.
Tipe-Tipe Kelompok dalam Pekerjaan Sosial dengan Kelompok
Tipe-tipe kelompok yang dapat dijadikan alternatif pemecahan masalah dalam pekerjaan
sosial dengan kelompok antara lain :
1. Social Conversation (Kelompok Percakapan Sosial)
Bertujuan untuk menguji dan menentukan seberapa dalam suatu hubungan dapat dikembangkan
diantara orang-orang yang belum saling mengenal dengan baik.
2. Recreation Groups (Kelompok-kelompok Rekreasi)
Tujuan kelompok ini adalah kegiatan-kegiatan yang memberikan kesenangan. Kegiatan-kegiatanya
sering bersifat spontan, tidak harus ada pemimpin, tempat dan pealatan tidak perlu banyak,
akomodasi bersifat paraktis.
3. Recreation Skill Groups (Kelompok-kelompok Rekreasi Keterampilan)
Tujuan kelompok ini adalah untuk meningkatkan keterampilan dan memberikan kesenangan.
Kelompok ini memerlukan penasehat, pelatih dan instruktur, serta lebih berreorientasi pada aturan
permanan.
4. Educational Groups (Kelompok Pendidikan)
Fokus kelompok ini adalah untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan mempelajari keterampilan-
keterampilan yang lebih kompleks.
5. Problem Solving Decission Making (Kelompok Pemecahan Masalah dan Pengambilan
Keputusan)
Dalam kelompok ini pihak pemberi dan penerima pelayanan-pelayanan sosial dapat secara bersama-
sama terlibat dalam kegiatan. Penerima pelayanan yang masih potensial dapat membentuk
kelompok untuk menemukan pendekatan-pendekatan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan
masyarakat.
6. Self Help Groups (Kelompok Bantu Diri)
Adalah suatu kelompok kecil yang tersusun untuk saling membantu dan untuk mencapai tujuan
khusus serta bersifat sukarela (Katz dan Bender).
a. Kelompok yang berfokus perhatian pada pemecahan masalah.
b. Kelompok yang berfokus pada advokasi sosial.
c. Kelompok yang berfokus untuk menciptakan pola hidup alternatif.
d. Kelompok orang-orang yang merasa dirinya tersisih.
e. Kelompok gabungan dari masalah-masalah di atas.
7. Socialization Groups (Kelompok Sosialisasi)
Tujuan kelompok ini adalah untuk mengembangkan atau mengubah sikap-sikap dan perilaku-
perilaku anggota kelompok agar lebih dapat diterima secara sosial. Fokus lainnya adalah
pengembangan keterampilan sosial, meningkatkan kepercayaan diri, dan merencanakan masa
depan.
8. Therapeutic Groups (Kelompok Penyembuhan)
Umumnya kelompok ini terdiri dari orang-orang yang memiliki masalah emosional yang berat.
Pemimpin kelompok ini memerlukan keterampilan/keahlian dalam persepsi, pengetahuan tentang
perilaku manusia, dinamika kelompok, kemampuan melakukan konseling kelompok, dan mampu
menggunakan kelompok untuk mengubah perilaku.
9. Sensitivity Groups (Kelompok Melatih Kepekaan)
Tujuan dari kelompok ini adalah memperbaiki masalah kesadaran antar pribadi. Inti kegiatan
kelompok ini adalah melakukan percakapan yang mendalam dan jujur tentang alasan berperilaku
dalam kelompok. Encounter Group memiliki intensitas pertemuan lebih tinggi karena sering
melakukan pertemuan selama beberapa jam dalam beberapa hari. Untuk mencapai perubahan
biasanya menggunakan tahap-tahap sebagai berikut : 1. Unfreezing (pencairan),
2. Change (perubahan), [Link] (pembekuan kembali)
Tahap Pra Kelompok
Salah satu tugas pekerja sosial sebelum membentuk kelompok adalah mengkonseptualisasikan
tujuan-tujuan kelompok yang erat kaitannya dengan komposisi kelompok. Sehingga pekerja sosial
harus selektif dalam memilih anggota kelompok.
a. Mengkonseptualisasikan tujuan kelompok adalah menentukan alasan khusus yang mendasari
terbentuknya kelompok. Tujuan kelompok sangat dipengaruhi oleh persepsi antara pekerja sosial
dengan anggota kelompok, misal tentang jumlah atau komposisi kelompok, program kelompok,
intervensi pekerja sosial, jumlah pertemuan yang dierencanakan serta pemilihan pekerja sosial
kelompok.
b. Assessment kebutuhan kelompok adalah salah satu cara dalam menentukan tujuan kelompok
dapat terbentuk dengan baik. Kebutuhannya seperti ketertarikan menjadi anggota kelompok,
bidang/materi yang ingin dibahas dalam kelompok, pengalaman menjadi anggota kelompok, dan
pola perilku dalam kelompok yang pernah diikuti [Link] yang biasa dihadapi adalah
sedikitnya anggota yang menunjukkan minat dalam kelompok meskipun tujuan kelompok telah
terbentuk. Yang menjadi tugas pekerja sosial dalam menyatukan kebutuhan setiap orang untuk
menjadi kebutuhan kelompok.
c. Komposisi Kelompok
1. Tujuan dan Komposisi kelompok
Cara-cara menentukan komposisi kelompok agar dapat menentukan tujuan dengan maksimal
adalah:
[Link] perilaku anomie
b. menampilkan peranan
[Link] kontrol social
d. menampilkan peran alternatif
2. Etnik dan Gender
Prinsip umum yang harus diingat adalah komposisi dalam kelompok tidak boleh terdapat anggota
yang memiliki etnik atau jenis kelamin yang minoritas (harus seimbang).
3. Kohesivitas dan Komposisi kelompok
Kohesivitas kelompok yaitu menjaga keberadaan kelompok dengan hadir dalam setiap pertemuan,
turut serta dalam kegiatan, dan dapat melaksanakan tugas-tugasnya.
Pekerja sosial harus menyadari bahwa tiap-taiap anggota kelompok memiliki cara yang berberda
dalam mengatasi masalah.
4. Penyimpangan dan komposisi kelompok
Salah satu cara untuk meminimalisir penyimpangan yang dilakukan oleh anggota kelompok karena
komposisi kelompok adalah berusaha untuk mendaftarkan anggota lainnya yang memiliki kesamaan
dengan orang tersebut atau yang berada di tengah-tengah kemudian menciptakan persatuan dari
beberapa karakteristik anggota.
5. Program Kegiatan dan Komposisi Kelompok
Dalam berbagai situasi kelompok, aktivitas utama yang digunakan adalah diskusi kelompok, dan
pendekatan verbal serta kognitif yang dimaksudkan utuk penyembuhan
6. Seleksi calon anggota kelompok
Dua tahap seleksi calon anggota kelompok yaitu:
· Dengan melihat bahwa pengalaman kelompok merupakan hal yang tepat bagi semua anggota.
· Menyusun kelompok yang anggotanya cocok untuk dimasukkan ke dalam satu kelompok yang
sudah direncanakan.
d. Mempersiapkan kelompok
Tugas dari pekerja sosial adalah memilih calon anggota kelompok, menentukan ukuran, opotimal
kelompok, dan menyiapkan tempat bagi kegiatan-kegiatan kelompok dan menentukan tipe
kelompok.
Memulai Suatu kelompok
a. Proses pembentukan kelompok
Pada pertemuan awal kelompok, khususnya pada saat para anggota kelompok belum saling
mengenal satu sama lain, hanya sedikit saling pertukaran pribadi, reaksi-reaksi intim maupun
berbagi berbagai pengalaman. Disini lebih nampak bahwa para anggota berinteraksi satu sama lain
di dalam cara-cara yang berdasarkan atribut-atribut atau pengalaman-pengalaman yang sangat
dangkal. Biasanya para anggota akan berkomentar tentang berbagai kesamaan dan perbedaan
tempat dimana dia tinggal, dan mereka akan berbicara khususnya dengan orang-orang yang
mempunyai kesamaan di dalam hal dan minat tertentu.
b. Keputusan-keputusan tentang tujuan kelompok
Penentuan tujuan kelompok adalah hal yang sederhana jika kelompok terbentuk berkenaan dengan
issue yang sangat khusus. Anggota-anggota dalam keadaan ini memasuki kelompok untuk
mempelajari keterampilan-keterampilan sosial khusus atau teknik-teknik berdisiplin. Namun
sebaliknya, apabila anggota-anggota mempunyai alasan tambahan lainnya, alternatif atau bahkan
alasan-alasan tersembunyi untuk bergabung dengan kelompok bisa menjadi salah satu penghambat
penentuan tujuan kelompok.
c. Assesmen di dalam kelompok
Anggota-anggota kelompok akan menemukan perlunya berbagai macam informasi. Aktivitas
tersebut sangat membantu dalam penentuan tujuan kelompok secara rinci sebagaimana anggota-
anggota kelompok menyusun masalah yang menjadi perhatian mereka secara individual maupun
kelompok.
Assesmen tentang masalah-masalah perilaku individual anggota terbentuk dari kelompok yang telah
dirancang untuk mencapai tujuan treatmen individual yang khusus, anggota kelompok akan
mencapai data berkenaan dengan sebab-sebab maupun solusi-solusi terhadap masalah-masalah
perilaku individual.
Pekerja sosial dapat menggunakan atau menggerakkan anggota-anggota kelompok didalam proses
assesmen dalam beberapa cara. Pertama, para anggota dapat dilatih untuk saling berpartisipasi
didalam assesmen dari setiap anggota. Kedua, menunjukkan secara langsung bahwa perilaku antar
pribadi anggota di dalam kelompok (seperti partisipasi dalam assesmen tersebut), tidak tersedia
melalui cara membantu individual. Para anggota berkemungkinan untuk saling bertanya satu sama
lain dan bertukar informasi tentang masalah mereka. Karena ada beberapa kesamaan antar anggota,
maka anggota lain akan mudah memaham situasi masalah yang dihadapi dibandingka dengan
pekerja sosial.
Dua contoh kerangka kerja yang berhasil diajarkan kepada para anggota kelompok treatmen adalah
assesmen tingkah laku dan analisis transaksional. Satu bentuk assesmen perilaku yang dapat
diterapkan mencakup apa yang dijelaskan kepada anggota bahwa perilaku disebabkan antesedennya
dan konsekuensi-konsekuensinya.
2 ( dua ) tipe anteseden dan konsekuensi adalah overt dan convert. Overt adalah anteseden dan
konsekuensi yang terjadi didalam lingkungan. Sedangkan Convertterjadi didalam pikiran dan
perasaan individual.
Penggunaan kelompok untuk tujuan assesmen dapat ditingkatkan dengan menggunakan cara:
Pertama, metode bermain peran dimana anggota dapat memerankan peran sesuai situasi
lingkungan di dalam kelompok. Sedangkan anggota yang lain dapat mengamati atau berkomentar
dengan menggunakan berbagai data yang tersedia.
Kedua, menggunakan berbagai aktivitas. Melalui berbagai media para anggota dapat
mengekspresikan perasaan dan memperlihatkan respon terhadap berbagi situasi.
Ketiga, cara yang terakhir adalah “fishbowl”, anggota dituntut untuk memberikan umpan balik
terhadap kelompok lain. Cara ini bermanfaat bagi anggota agar dapat memahami berbagai perilaku.
d. Penentuan Norma
Salah satu usaha pekerja sosial adalah berusaha menanamkan norma yang berasal dari nilai-nilai
pekerjaan sosial di dalam kelompok, yakni norma yang spesifik yang menunjukkan tentang
bagaimana berperilaku di antara anggota. Glassman dan Kates menggambarkan secara mendasar
deskripsi tentang norma tersebut.
1. Penetapan nilai dan norma yang berkaitan dengan harga diri dengan membuat pernyataan
tentang berharganya kontribusi setiap anggota terhadap pekerjaan dan arah kelompok. Pekerja
sosial juga harus menjelaskan fakta latar belakang dan budaya anggota-anggota kelompok yang
berbeda-beda.
2. Penetapan nilai dan norma tentang tanggungjawab yang harus dilaksanakan anggota terhadap
anggota [Link] sosial membantu dengan menggali perasaan-perasaan mereka dan
memadukan dengan kriteria kepedulian.
3. Nilai berikutnya adalah hak untuk diterima apa adanya (tanpa syarat). Maka dari itu hak untuk
terdapat didalam berbagai pengalaman adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Definisi tentang
keanggotaan harus berdasarkan pada kebutuhan-kebutuhan individual dan tidak semata-mata
berdasarkan batas-batas secara stereotype.
4. Nilai yang ditetapkan atas determinasi diri mempunyai beberapa implikasi terhadap norma-
norma kelompok. Norma-norma ini berkaitan dengan issue determinasi dari kelompok sebagai
keseluruhan. Pekerja sosial akan membantu kelompok menguji kekuatan issue yang bersangkutpaut
dengan bagaimana keputusan-keputusan dibuat di dalam kelompok yang merusak kelompok itu
sendiri dan individu-individu anggotanya.
5. Glassman dan Kates yang menyatakan nilai bahwa “pekerja sosial bertanggung jawab terhadap
kelompok”. Norma ini diimplementasikan melalui cara memperkuat anggota untuk mengajukan
pertanyaan tentang tindakan pekerja sosial pada intervensi yang teratur (periodik).
6. Sejumlah nilai lainnya adalah hak untuk bebas berbicara dan berekspresi, percaya bahwa
perbedaan memperkaya pengetahuan, kebebasan memilih berkenaan dengan pengaruh perubahan.
e. Reaksi emosional dalam pembentukan kelompok
Masalah emosional yang muncul dalam permulaan kelompok adalah konflik antara tertarik terhadap
kelompok dengan kecemasan tentang kelompok yang dialami secara bersamaan.
f. Relasi pekerja sosial dengan anggota kelompok
Perasaan anggota kelompok menempatkan pekerja sosial pada posisi sentral, karena anggapan
mereka tetang keahlian dan tanggung jawab pekerja sosial terhadap kelompok.
g. Relasi antar anggota kelompok
Perasaan anggota satu sama lain terutama yang positif merupakan alasan utama anggota kelompok
untuk kembali pada kelompoknya. Struktur kelompok selama pembentukan.
h. Struktur kelompok selama pembuatan
Tugas pekerja sosial adalah memungkinkan kelompok untuk memiliki jenis strukturyang kondusif
yang berisi pola-pola relasi antar anggota.
i. Tujuan-tujuan individu dalam kelompok
Kejelasan tujuan mendatangkan tindakan untuk mencapai tujuan dan kejelasan maksud tindakan
membantu menjamin perumusannya.
j. Kontrak Group Work
Kesepakatan yang tidak seformal seperti tipe tertulis dan verbal, tetapi diakui secara operatif oleh
para anggota kelompok dan pekerja sosial.
k. Masalah-masalah dalam fase awal kelompok
Setiap anggota baru dalam kelompok pasti merasa saling curiga dan was-was terhadap anggota yang
lain karena masih belum mengenal satu sama lain. Dengan situasi seperti itu, sangat berpotensi
munculnya masalah. Maka pekerja sosial bertugas untuk menyatukan fikiran dan keyakinan setiap
anggota kelompok dengan program-program yang mampu membuat setiap anggota menjadi merasa
lebih nyaman. Maka dari itu sebagai pekerja sosial harus rileks dan tenang dalam bekerja saat
menangani kelompok yang baru saja dibentuk.
Mengakhiri kelompok
Di dalam kelompok yang sudah mulai erat kebersamaan antar anggota, sangat sulit untuk
mengakhirinya. Biasanya anggota kelompok meminta untuk memperpanjang pertemuan. Namun
waktu yang telah ditentukan merupakan salah satu bagian yang sangat mempengaruhi keefektifan
dan keberhasilan dari tujuan awal dibentuknya kelompok. Pekerja sosial bertugas mengurangi
perasaan sedih dan kekecewaan anggota-anggota kelompok karena kegiatan dalam kelompok telah
berakhir. Hal itu dapat digunakan pekerja sosial sebagai alat untuk memotivasi anggota kelompok
agar selalu berusaha untuk hidup lebih baik dari yang sebelumnya.
Tugas-tugas pekerja sosial yakni :
1. Mengevaluasi kelompok didalam hubungannya dengan pencapaian tujuan.
2. Memahami dan mengatasi perasaan-perasaan anggota kelompok tentang terminasi.
3. Memelihara perubahan-perubahan berarti yang dihasilkan dari pengalaman kelompok.
4. Menggunakan keterampilan-keterampilan, sikap-sikap dan pengetahuan yang diperoleh
melalui kelompok di dalam berbagai keadaan.
5. Mencari dan menggunakan pelayanan baru apabila memadai.