Nama : Febrialdi Loda Parando Subjek : Pengujian Lapangan
NIM : 1821132066 Standar : ASTM D-3441
Dosen : H. Muh. Idhil Maming, ST., MT. : SNI 2827:2008
: Ir. Silvether Tandi, [Link]., [Link]
: Hendra Aryadin
Asisten : Roby Samboja JOB : I
PEMERIKSAAN SONDIR
Abstrak
Salah satu cara untuk menafsirkan hasil penyelidikan tanah adalah dengan melakukan
pemeriksaan sondir. Dari hasil pemeriksaan ini dapat ditafsirkan kedalaman tanah dan daya
dukung tanah yang sangat berguna dalam perencanaan pondasi, baik itu pondasi tiang pancang
maupun pondasi kaison. Tahapan pelaksanaan sondir dimulai dengan setting awal berupa
penentuan titik sondir kemudian pemasangan sondir, penggalian dan penguncian (piston,
manometer). Yang kedua, menyetel konus, meliputi pemasangan konus, pemasangan traker,
kemudian penandaan per-20 cm. Yang ketiga, pembacaan sondir meliputi pemutaran engkol,
penekanan konus, pemutaran kembali kemudian penekanan stang dan pembacaan manometer.
Dan tahap akhir meliputi pengecekan tanah keras, penyambungan stang, pemutaran engkol,
pembacaan, kemudian pengulangan berulang sampai mencapai tanah keras. Metode yang
digunakan adalah AASHTO dan ASTM. Hambatan konus tertinggi diperoleh pada kedalaman
10,0 m, dengan nilai hambatan konis 70 kg/cm2.
1. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebelum melakukan pemancangan pada tanah tentunya sangatlah
diperlukan berbagai pemeriksaan untuk mengetahui karateristik tanah.
Salah satu pemeriksaan yang penting dilakukan adalah pemeriksaan
sondir. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui kekuatan tanah
(Strength of Soil) yang dapat digunakan sebagai pelengkap untuk
memberikan gambaran kondisi tanah dasar.
Perlawanan penetrasi konus adalah gaya perlawanan tanah
terhadap ujung konus yang dinyatakan dalam gaya persatuan luas.
Hambatan pelekat adalah gaya perlawanan geser terhadap selubung
bidang bikonus yang dinyatakan dalam gaya persatuan luas.
FEBRIALDI LODA PARANDO / 1821132066
B. Maksud dan Tujuan
Maksud Pengujian ini adalah untuk mengetahui penetrasi atau
perlawanan tanah terhadap tekanan konis dan hambatan pelekatnya.
Tujuan Pengujian sondir adalah untuk menentukan hubungan
antara hambatan konus (qc) dan hambatan pelekat (fs), serta untuk
mendapatkan kedalaman tanah keras dengan nilai qc>250 kg/cm2.
2. ALAT YANG DIGUNAKAN DAN PROSEDUR PENGUJIAN
A. Alat yang Digunakan
1. Mesin sondir ringan (kapasitas 2.5 ton).
2. Stang sondir.
3. Seperangkat pipa sondir lengkap dengan batang dalam yang sesuai
dengan kebutuhan dengan panjang masing-masing satu meter.
4. Manometer masing-masing 2 buah dengan kapasitas :
- Manometer yang pertama : 0 s/d 60 kg/cm2
- Manometer yang kedua : 0 s/d 250 kg/cm2
5. Dua buah paten konis dan bikonis.
6. Ambang penekan.
7. Dua buah angker (jangkar helikoidal) berbentuk spiral.
8. Alat-alat bantu seperti : kunci-kunci pipa, alat pembersih oli, minyak
hidrolik, dll
B. Prosedur Pengujian
a. Lokasi Pengujian dibersihkan terlebih dahulu.
b. Mesin sondir dipasang dan diatur agar vertikal ditempat yang akan
diperiksa dengan menggunakan angker yang dimasukkan ke dalam
tanah.
c. Minyak hidrolik harus diisi dalam keadaan bebas dari gelembung
udara.
d. Konis dan bikonis dipasang sesuai dengan kebutuhan pada ujung pipa
pertama.
FEBRIALDI LODA PARANDO / 1821132066
e. Rangkaian pipa pertama dipasang beserta konis atau bikonis tersebut
(b) pada mesin sondir.
f. Pipa ditekan untuk memasukkan konis atau bikonis sampai ke
kedalaman tertentu, umumnya diambil 20 cm dan pada tiang sondir
diberi tanda tiap 20 cm (lihat tanda spidol), gunanya untuk
mengetahui dimana akan dilakukan pembacaan manometer.
g. Batang ditekan dengan engkol pemutar (dengan cara diputar),
sehingga patent konis/bikonus masuk kedalam tanah. Apabila
dipergunakan bikonis maka penetrasi ini akan menggerakkan ujung
konis kebawah sedalam 4 cm dan dibacalah manometer sebagai
perlawanan ujung. Dan bila digunakan konis maka pembacaan
manometer hanya dilakukan pada penekanan pertama (s).
Setelah mencapai kedalaman 20 cm (lihat tanda spidol), engkol
pemutar diputar sedikit dengan arah berlawanan. Treker ditarik ke
depan dalam posisi lubang.
h. Engkol pemutar diputar kembali sehingga stang dalam tertekan
kedalam tanah dengan kecepatan konstan. Stang dalam akan menekan
piston lalu akan menekan oli di dalamnya, tekanan yang terjadi akan
menekan manometer. Patent konus hanya akan mengukur tahanan
ujung konus (qc) sedangkan bikonus akan mengukur tahanan ujung
konus dan gesekan dinding terhadap tanah.
i. Stang ditekan, catat angka yang ditunjukkan oleh manometer teruskan
penekanan sampai jarum manometer bergerak untuk kedua kalinya.
j. Engkol pemutar diputar kembali berlawanan arah lalu posisi lubang
terpotong. Lakukan penekanan kembali sejarak 20 cm berikutnya dan
ulangi prosedur g dan h.
k. Setelah mencapai 1 meter, stang sondir perlu disambung. Naikkan
piston penekan supaya stang sondir berikutnya bisa disambungkan
dengan yang terdahulu. Gunakan kunci pipa untuk
mengencangkannya. Ulangi prosedur e s/d i.
FEBRIALDI LODA PARANDO / 1821132066
l. Setelah mencapai kedalaman tanah keras (tekanan konus lebih besar
dari 150 kg/cm2) Pengujian dihentikan. Stang sondir yang sudah
ditanam perlu dicabut kembali dengan cara sebagai berikut:
Putar engkol pemutar agar piston penekan terangkat.
Tarik treker pada posisi lubang penuh.
Pasang kop penarik.
Putar engkol pemutar sampai treker melewati kepala stang sondir.
Dorong treker pada posisi lubang terpotong. Putar engkol pemutar
sehingga stang sondir terangkat sampai stang sondir berikutnya
terlihat.
Tahan stang sondir bawah dengan kunci pipa agar rangkaian
bawahnya tidak jatuh.
Lepaskan stang sondir atas dengan kunci pipa yang lain.
Ulangi prosedur ini untuk stang sondir berikutnya.
Pengujian sondir telah selesai dilakukan.
Catatan:
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan Pengujian
sondir sebagai berikut:
Angker dipasang pada 2 titik sehingga kedudukannya vertikal
Pengisian minyak harus bebas gelembung udara
Rangkaian pipa pertama bersama konus/bikonus
Apabila memakai bikonus, penetrasi akan mendorong ujung konus
ke bawah sedalam 4 cm, pembacaan manometer akan
menggerakkan konus beserta selubungnya ke bawah dan
pembacaan manometer menunjukkan jumlah penetrasi konus dan
hambatan pelekat.
Stang sondir hanya menekan bikonus sampai kedalaman tertentu.
Stang dalam ditekan masuk 4 cm, ujung bikonus menembus lapisan
tanah.
FEBRIALDI LODA PARANDO / 1821132066
Tahanan konus diukur oleh manometer dengan perantara stang
dalam.
Stang ditekan terus, ujung bikonus dan dinding gesek bergerak
bersamaan.
Stang sondir ditekan kembali, ujung bikonus dan dinding gesek
bergabung lagi.
Bikonus siap melakukan penetrasi untuk pengukuran pada
kedalaman selanjutnya.
C. HASIL PERHITUNGAN
Hasil perhitungan dari pemeriksaan sondir dilampirkan dalam bentuk
tabel dan dalam bentuk grafik pembacaan sondir (terlampir).
D. INTERPRETASI PENGUJIAN
Pada kedalaman 0 – 0.8 m nilai hambatan konus qc pada kisaran 0 – 10
kg/cm2. Pada kedalaman 0.8 – 5,8 m nilai hambatan konus qc pada kisaran 15
– 80 kg/cm2. Nilai hambatan konus ≥ 250 kg/cm2 tidak dicapai pada pengujian
ini. Pengujian Sondir dapat dihentikan pada saat melewati hambatan konus ≥
250 kg/cm2 atau pada saat melewati kedalaman 20 m.
Nilai rasio hambatan fr bervariasi pada setiap kedalaman rasio terbesar
terletak pada kedalaman 0.20 m dengan persentase 0.25 % dan rasio hambatan
terkecil terletak pada kedalaman 3,8m 4,00m 4,60m dan 4,80 dengan
persentase 0.10%.
E. PEMBAHASAN
Penyelesaian rumus :
FEBRIALDI LODA PARANDO / 1821132066
a. Dimensi alat bikonus : - diameter ujung bikonus (Dc) cm
- diameter selimut geser (Dg) cm
- tinggi selimut geser (hg) cm
b. Hasil perhitungan : - tekanan konus (qc) kg/cm2.
- Jumlah hambatan (qc + f) kg/cm2.
c. Perhitungan
- Cek nilai hambatan konus dan jumlah hambatan
Hambatan konus di cek nilainya apakah qc = 150 dan jumlah hambatan
(qc + f) = 150. Apabila nilainya sama dengan 150, maka proses sondir
dihentikan dengan asumsi bahwa konus telah mencapai tanah keras.
- Hitung nilai hambatan pelekat (f)
Hambatan pelekat (f) = Jumlah hambatan (qc + f) – hambatan kunus (qc)
satuan yang digunakan adalah kg/cm2.
Penyelesaian :
Kedalaman 0 m =0–0 = 0 kg/cm2
Kedalaman 0,20 m = 10 – 5 = 5 kg/cm2
Kedalaman 0,40 m = 30 – 15 = 15 kg/cm2
Kedalaman 0,60 m = 35 – 15 = 20 kg/cm2
Kedalaman 0,80 m = 45 – 30 = 15 kg/cm2
Kedalaman 1,00 m = 55 – 35 = 20 kg/cm2
Kedalaman 1,20 m = 45– 35 = 10 kg/cm2
Kedalaman 1,40 m = 45– 35 = 10 kg/cm2
Kedalaman 1,60 m = 30 – 20 = 10 kg/cm2
Kedalaman 1,80 m = 30 – 25 = 5 kg/cm2
Kedalaman 2,00 m = 30 – 15 = 15 kg/cm2
Kedalaman 2,20 m = 30 – 15 = 15 kg/cm2
Kedalaman 2,40 m = 35 – 15 = 20 kg/cm2
Kedalaman 2,60 m = 25 – 15 = 10 kg/cm2
Kedalaman 2,80 m = 30 – 15 = 15 kg/cm2
Kedalaman 3,00 m = 30 – 20 = 10 kg/cm2
FEBRIALDI LODA PARANDO / 1821132066
Kedalaman 3,20 m = 35 – 30 = 5 kg/cm2
Kedalaman 3,40 m = 45 – 15 = 30 kg/cm2
Kedalaman 3,60 m = 30 – 15 = 15 kg/cm2
Kedalaman 3,80 m = 40 – 25 = 15 kg/cm2
Kedalaman 4,00 m = 40 – 35 = 5 kg/cm2
Kedalaman 4,20 m = 45 – 30 = 15 kg/cm2
Kedalaman 4,40 m = 45 – 35 = 10 kg/cm2
Kedalaman 4,60 m = 45 – 35 = 10 kg/cm2
Kedalaman 4,80 m = 45 – 40 = 5 kg/cm2
Kedalaman 5,00 m = 50 – 40 = 10 kg/cm2
Kedalaman 5,20 m = 45 – 40 = 5 kg/cm2
Kedalaman 5,40 m = 50 – 45 = 5 kg/cm2
Kedalaman 5,60 m = 60 – 45 = 15 kg/cm2
Kedalaman 5,80 m = 60 – 50 = 10 kg/cm2
Kedalaman 6,00 m = 45 – 35 = 10 kg/cm2
Kedalaman 6,20 m = 50 – 35 = 15 kg/cm2
Kedalaman 6,40 m = 45 – 40 = 5 kg/cm2
Kedalaman 6,60 m = 50 – 40 = 10 kg/cm2
Kedalaman 6,80 m = 50 – 45 = 5 kg/cm2
Kedalaman 7,00 m = 60 – 45 = 15 kg/cm2
Kedalaman 7,20 m = 55 – 45 = 10 kg/cm2
Kedalaman 7,40 m = 55 – 50 = 5 kg/cm2
Kedalaman 7,60 m = 60 – 55 = 5 kg/cm2
Kedalaman 7,80 m = 65 – 55 = 10 kg/cm2
Kedalaman 8,00 m = 40 – 35 = 5 kg/cm2
Kedalaman 8,20 m = 45 – 35 = 10 kg/cm2
Kedalaman 8,40 m = 45 – 35 = 10 kg/cm2
Kedalaman 8,60 m = 50 – 40 = 10 kg/cm2
Kedalaman 8,80 m = 50 – 45 = 5 kg/cm2
Kedalaman 9,00 m = 50 – 35 = 15 kg/cm2
Kedalaman 9,20 m = 55 – 35 = 20 kg/cm2
FEBRIALDI LODA PARANDO / 1821132066
Kedalaman 9,40 m = 55 – 50 = 5 kg/cm2
Kedalaman 9,60 m = 60 – 50 = 10 kg/cm2
Kedalaman 9,80 m = 65 – 55 = 10 kg/cm2
Kedalaman 10,0 m = 70 – 55 = 15 kg/cm2
- Tentukan nilai unit hambatan pelekat (fs) tiap 20 cm.
Unit tambahan per 20 cm (fs/20cm) = f : 2, satuan yang digunakan
kg/cm2.
Penyelesaian :
Kedalaman 0 m = 0 : 20 = 0 kg/cm2
Kedalaman 0,20 m = 5 : 20 = 0.25 kg/cm2
Kedalaman 0,40 m = 15 : 20 = 0.25 kg/cm2
Kedalaman 0,60 m = 20 : 20 = 0.5 kg/cm2
Kedalaman 0,80 m = 15 : 20 = 0.25 kg/cm2
Kedalaman 1,00 m = 5 : 20 = 0.25 kg/cm2
Kedalaman 1,20 m = 5 : 20 = 0.25 kg/cm2
Kedalaman 1,40 m = 10 : 20 = 0.5 kg/cm2
Kedalaman 1,60 m = 5 : 20 = 0.25 kg/cm2
Kedalaman 1,80 m = 5 : 20 = 0.25 kg/cm2
Kedalaman 2,00 m = 5 : 20 = 0.25 kg/cm2
Kedalaman 2,20 m = 10 : 20 = 0.5 kg/cm2
Kedalaman 2,40 m = 20 : 20 = 1 kg/cm2
Kedalaman 2,60 m = 15 : 20 = 0.75 kg/cm2
Kedalaman 2,80 m = 20 : 20 = 1 kg/cm2
Kedalaman 3,00 m = 20 : 20 = 1 kg/cm2
Kedalaman 3,20 m = 20 : 20 = 1 kg/cm2
Kedalaman 3,40 m = 20 : 20 = 1 kg/cm2
Kedalaman 3,60 m = 35 : 20 = 1.75 kg/cm2
Kedalaman 3,80 m = 40 : 20 = 2 kg/cm2
Kedalaman 4,00 m = 55 : 20 = 2.75 kg/cm2
Kedalaman 4,20 m = 50 : 20 = 2.5 kg/cm2
FEBRIALDI LODA PARANDO / 1821132066
Kedalaman 4,40 m = 45 : 20 = 2 kg/cm
Kedalaman 4,60 m = 50 : 20 = 2.5 kg/cm2
Kedalaman 4,80 m = 40 : 20 = 2 kg/cm2
Kedalaman 5,00 m = 40: 20 = 2 kg/cm2
Kedalaman 5,20 m = 40 : 20 = 2 kg/cm2
Kedalaman 5,40 m = 30 : 20 = 1.5 kg/cm2
Kedalaman 5,60 m = 35 : 20 = 1.75 kg/cm2
Kedalaman 5,80 m = 35 : 20 = 1.75 kg/cm2
Kedalaman 6,00 m = 35 : 20 = 1.75kg/cm2
Kedalaman 6,20 m = 15 : 20 = 0.5 kg/cm2
Kedalaman 6,40 m = 5 : 20 = 0.5 kg/cm2
Kedalaman 6,60 m = 10 : 20 = 1 kg/cm2
Kedalaman 6,80 m = 5 : 20 = 1.5 kg/cm2
Kedalaman 7,00 m = 15 : 20 = 2.25 kg/cm2
Kedalaman 7,20 m = 10 : 20 = 0.5 kg/cm2
Kedalaman 7,40 m = 5 : 20 = 0.5 kg/cm2
Kedalaman 7,60 m = 5 : 20 = 2.25 kg/cm2
Kedalaman 7,80 m = 10 : 20 = 0.5 kg/cm2
Kedalaman 8,00 m = 5 : 20 = 0.25 kg/cm2
Kedalaman 8,20 m = 10 : 20 = 0.5 kg/cm2
Kedalaman 8,40 m = 10 : 20 = 0.5 kg/cm2
Kedalaman 8,60 m = 10 : 20 = 0.5 kg/cm2
Kedalaman 8,80 m = 5 : 20 = 0.25 kg/cm2
Kedalaman 9,00 m = 15 : 20 = 0.75 kg/cm2
Kedalaman 9,20 m = 20 : 20 = 1 kg/cm2
Kedalaman 9,40 m = 5 : 20 = 0.25 kg/cm2
Kedalaman 9,60 m = 10 : 20 = 0.5 kg/cm2
Kedalaman 9,80 m = 10 : 20 = 0.5 kg/cm2
Kedalaman 10,00 m = 15 : 20 = 0.75 kg/cm2
- Akumulasi/total nilai hambatan pelekat (Tf)
FEBRIALDI LODA PARANDO / 1821132066
Total hambatan pelekat (Tf) = Total hambatan pelekat sebelumnya +
hambatan pelekat per 20 cm.
Penyelesaian :
Kedalaman 0 m =0+0 = 0 kg/cm2
Kedalaman 0,20 m = 0 + 0.5 = 0.5 kg/cm2
Kedalaman 0,40 m = 0.5 + 0.5 = 1 kg/cm2
Kedalaman 0,60 m = 1 + 1 = 2 kg/cm2
Kedalaman 0,80 m = 2 + 0.5 = 2.5 kg/cm2
Kedalaman 1,00 m = 2.5 + 0.5 = 3 kg/cm2
Kedalaman 1,20 m = 3 + 0.5 = 3.5 kg/cm2
Kedalaman 1,40 m = 3.5 +1 = 4.5 kg/cm2
Kedalaman 1,60 m = 4.5 +0.5 = 5 kg/cm2
Kedalaman 1,80 m = 5 + 0.5 = 5.5 kg/cm2
Kedalaman 2,00 m = 5.5 +0.5 = 6 kg/cm2
Kedalaman 2,20 m = 6 + 0.5 = 7 kg/cm2
Kedalaman 2,40 m = 7 + 2 = 9 kg/cm2
Kedalaman 2,60 m = 9 + 1.5 = 10.5 kg/cm2
Kedalaman 2,80 m = 10.5 + 2 = 12.5 kg/cm2
Kedalaman 3,00 m = 12.5 + 2 = 14.5 kg/cm2
Kedalaman 3,20 m = 14.5 +2 = 16.5 kg/cm2
Kedalaman 3,40 m = 16.5 + 2 = 18.5 kg/cm2
Kedalaman 3,60 m = 18.5 + 3.5 = 22 kg/cm2
Kedalaman 3,80 m = 22 + 5 = 26 kg/cm2
Kedalaman 4,00 m = 26 + 5.5 = 31.5 kg/cm2
Kedalaman 4,20 m = 31.6 + 5 = 36.5 kg/cm2
Kedalaman 4,40 m = 36.5 + 3.5 = 41 kg/cm2
Kedalaman 4,60 m = 41 + 5 = 46 kg/cm2
Kedalaman 4,80 m = 46 + 4 = 50 kg/cm2
Kedalaman 5,00 m = 50 + 4 = 54 kg/cm2
Kedalaman 5,20 m = 54 +2 = 58 kg/cm2
Kedalaman 5,40 m = 58 + 2 = 61 kg/cm2
FEBRIALDI LODA PARANDO / 1821132066
Kedalaman 5,60 m = 61 + 3.5 = 64.5 kg/cm2
Kedalaman 5,80 m = 64.5 + 3.5 = 68 kg/cm2
Kedalaman 6,00 m = 68 + 3.5 = 71.5 kg/cm2
Kedalaman 6,20 m = 71.5 + 1 = 72.5 kg/cm2
Kedalaman 6,40 m = 72.5 + 1 = 73.5 kg/cm2
Kedalaman 6,60 m = 73.5 + 2 = 75.5 kg/cm2
Kedalaman 6,80 m = 75.5 + 3 = 78.5 kg/cm2
Kedalaman 7,00 m = 78.5 + 4.5 = 83 kg/cm2
Kedalaman 7,20 m = 78.5 + 4.5 = 85.5 kg/cm2
Kedalaman 7,40 m = 78.5 + 4.5 = 83 kg/cm2
Kedalaman 7,60 m = 78.5 + 4.5 = 83 kg/cm2
Kedalaman 7,80 m = 78.5 + 4.5 = 83 kg/cm2
Kedalaman 8,00 m = 78.5 + 4.5 = 83 kg/cm2
Kedalaman 8,20 m = 78.5 + 4.5 = 83 kg/cm2
Kedalaman 8,40 m = 78.5 + 4.5 = 83 kg/cm2
Kedalaman 8,60 m = 78.5 + 4.5 = 83 kg/cm2
Kedalaman 8,80 m = 78.5 + 4.5 = 83 kg/cm2
Kedalaman 9,00 m = 78.5 + 4.5 = 83 kg/cm2
Kedalaman 9,20 m = 78.5 + 4.5 = 83 kg/cm2
Kedalaman 9,40 m = 78.5 + 4.5 = 83 kg/cm2
Kedalaman 9,60 m = 78.5 + 4.5 = 83 kg/cm2
Kedalaman 9,80 m = 78.5 + 4.5 = 83 kg/cm2
Kedalaman 10,00 m = 78.5 + 4.5 = 83 kg/cm2
- Hambatan rasio (Fr)
Hambatan rasio (Fr) = unit hambatan pelekat (Fs):Hambatan konis (qc)
Penyelesaian :
Kedalaman 0 m =0:0 = 0 kg/cm2
Kedalaman 0,20 m = 0.25 : 0 = 0 kg/cm2
Kedalaman 0,40 m = 0.25 : 5 = 0.05 kg/cm2
Kedalaman 0,60 m = 0.5 : 5 = 0.10 kg/cm2
FEBRIALDI LODA PARANDO / 1821132066
Kedalaman 0,80 m = 0.25 : 5 = 0.05 kg/cm2
Kedalaman 1,00 m = 0.25 : 5 = 0.05 kg/cm2
Kedalaman 1,20 m = 0.25 : 5 = 0.05 kg/cm2
Kedalaman 1,40 m = 0.5 : 20 = 0.05 kg/cm2
Kedalaman 1,60 m = 0.25 : 15 = 0.02 kg/cm2
Kedalaman 1,80 m = 0.25 : 20 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 2,00 m = 0.25 : 20 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 2,20 m = 0.5 : 20 = 0.03 kg/cm2
Kedalaman 2,40 m = 1 : 20 = 0.05 kg/cm2
Kedalaman 2,60 m = 0.75 : 20 = 0.04 kg/cm2
Kedalaman 2,80 m = 1 : 20 = 0.05 kg/cm2
Kedalaman 3,00 m = 1 : 25 = 0.04 kg/cm2
Kedalaman 3,20 m = 1 : 20 = 0.05 kg/cm2
Kedalaman 3,40 m = 1 : 20 = 0.05 kg/cm2
Kedalaman 3,60 m = 1.75 : 35 = 0.05 kg/cm2
Kedalaman 3,80 m = 2 : 40 = 0.07 kg/cm2
Kedalaman 4,00 m = 2.75 : 40 = 0.07 kg/cm2
Kedalaman 4,20 m = 2.5 : 40 = 0.06 kg/cm2
Kedalaman 4,40 m = 2.25 : 60 = 0.04 kg/cm
Kedalaman 4,60 m = 2.5 : 55 = 0.05 kg/cm2
Kedalaman 4,80 m = 2 : 70 = 0.03 kg/cm2
Kedalaman 5,00 m = 2 : 70 = 0.03 kg/cm2
Kedalaman 5,20 m = 2 : 90 = 0.02 kg/cm2
Kedalaman 5,40 m = 1.5 : 100 = 0.02 kg/cm2
Kedalaman 6,60 m = 1.75 : 110 = 0.02 kg/cm2
Kedalaman 5,80 m = 1.75 : 130 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 6,00 m = 1.75 : 130 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 6,20 m = 0.5 : 155 = 0.00 kg/cm2
Kedalaman 6,40 m = 0.5 : 160 = 0.00 kg/cm
Kedalaman 6,60 m = 1 : 170 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 6,80 m = 1.5 : 170 = 0.01 kg/cm2
FEBRIALDI LODA PARANDO / 1821132066
Kedalaman 7,00 m = 2.25 : 170 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 7,20 m = 2.25 : 170 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 7,40 m = 2.25 : 170 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 7,60 m = 2.25 : 170 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 7,80 m = 2.25 : 170 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 8,00 m = 2.25 : 170 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 8,20 m = 2.25 : 170 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 8,40 m = 2.25 : 170 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 8,60 m = 2.25 : 170 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 8,80 m = 2.25 : 170 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 9,00 m = 2.25 : 170 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 9,20 m = 2.25 : 170 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 9,40 m = 2.25 : 170 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 9,60 m = 2.25 : 170 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 9,80 m = 2.25 : 170 = 0.01 kg/cm2
Kedalaman 10,00 m = 2.25 : 170 = 0.01 kg/cm2
d. Dibuat grafik yang menyatakan
- Hambatan konis dengan kedalaman yang dipakai
- Total hambatan pelekat dengan kedalaman yang dipakai
- Rasio hambatan dengan kedalaman yang dipakai.
6. KESIMPULAN
Dengan melihat hasil grafik CPT dapat disimpulkan :
Hambatan konus tertinggi diperoleh pada kedalaman 10,00 m, dengan nilai
hambatan konus 70 kg/cm².
7. REFERENSI
1. Braja M. Das. (1995). Mekanika Tanah, jilid I, Erlangga. Surabaya
2. L.D. Wesley. (1977). Mekanika tanah, Cetakan ke VI, Badan
Penerbit Pekerjaan Umum, Jakarta.
FEBRIALDI LODA PARANDO / 1821132066
3. Josep E. Bowles (1984),Sifat – sifat fisis dan Geoteknis Tanah,
Edisi Kedua, Penerbit Erlangga, Jakarta.
8. LAMPIRAN
- Tabel Pengolahan data
- Grafik hasil perhitungan
- Gambar Alat
- Foto pelaksanaan.
FEBRIALDI LODA PARANDO / 1821132066