BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tembaga (Cu) mempunyai sistim kristal kubik, secara fisik
berwarna kuning dan apabila dilihat dengan menggunakan mikroskop bijih
akan berwarna pink kecoklatan sampai [Link] tembaga terdapat
pada hampir 250 mineral, tetapi hanya sedikit saja yang komersial. Pada
endapan sulfida primer, kalkopirit (CuFeS2) adalah yang terbesar, diikuti
oleh kalkosit (Cu2S), bornit (Cu5FeS4), kovelit (CuS), dan enargit
(Cu3AsS4). Mineral tembaga utama dalam bentuk deposit oksida adalah
krisokola (CuSiO3.2HO), malasit (Cu2(OH)2CO3), dan azurite
(Cu3(OH)2(CO3)2). Deposit tembaga dapat diklasifikasikan dalam lima
tipe, yaitu: deposit porfiri, urat, dan replacement, deposit stratabound
dalam batuan sedimen, deposit masif pada batuan volkanik, deposit
tembaga nikel dalam intrusi/mafik, serta deposit nativ. Umumnya bijih
tembaga di Indonesia terbentuk secara magmatik. Pembentukan endapan
magmatic dapat berupa proses hidrotermal atau metasomatisme. Tembaga
digunakan dalam proses industry, Proses industrialisasi tidak dapat lepas
dari efek negatif yang ditimbulkan yaitu limbah industri. Limbah industri
jika tidak diolah dengan baik akan menimbulkan dampak yang kurang
menguntungkan bagi lingkungan sekitar sehingga dapat menimbulkan
masalah pencemaran lingkungan (Prawita dkk., 2008:29). Beberapa jenis
zat yang biasa terdapat dalam limbah industri adalah logam berat, dimana
logam berat banyak digunakan sebagai bahan baku maupun sebagai bahan
penolong dalam industri (Rochayatun dkk., 2006:35).Logam tembaga
digunakan secara luas dalam industri peralatan listrik. Kawat tembaga dan
paduan tembaga digunakan dalam pembuatan motor listrik, generator,
kabel transmisi, instalasi listrik rumah dan industri, kendaraan bermotor,
1
konduktor listrik, kabel dan tabung coaxial, tabung microwave, sakelar,
reaktifier transsistor, bidang telekomunikasi, dan bidang-bidang yang
membutuhkan sifat konduktivitas listrik dan panas yang tinggi, seperti
untuk pembuatan tabung-tabung dan klep di pabrik penyulingan.
Meskipun aluminium dapat digunakan untuk tegangan tinggi pada jaringan
transmisi, tetapi tembaga masih memegang peranan penting untuk jaringan
bawah tanah dan menguasai pasar kawat berukuran kecil, peralatan
industri yang berhubungan dengan larutan, industri konstruksi, pesawat
terbang dan kapal laut, atap, pipa ledeng, campuran kuningan dengan
perunggu, dekorasi rumah, mesin industri nonelektris, peralatan mesin,
pengatur temperatur ruangan, mesin-mesin pertanian. Potensi tembaga
terbesar yang dimiliki Indonesia terdapat di Papua. Potensi lainnya
menyebar di Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan.
2
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian tembaga (Cu) ?
2. Bagaimana senyawa kimia tembaga (Cu) ?
3. Bagaimana sifat dan kegunaan tembaga (Cu) ?
4. Bagaimana daur tembaga (Cu) di lingkungan dan tubuh manusia ?
5. Bagaimana bentuk – bentuk keracunan tembaga (Cu) ?
6. Bagaimana efek dari tembaga (Cu)?
7. Bagaimana cara pengobatan keracunan tembaga (Cu) ?
C. Tujuan Makalah
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Memberikan informasi dan pengetahuan kepada pembaca tentang
pengertian tembaga (Cu)
2. Memberikan informasi dan pengetahuan kepada pembaca tentang
senyawa kimia tembaga (Cu)
3. Memberikan informasi dan pengetahuan kepada pembaca tentang sifat
dan kegunaan tembaga (Cu)
4. Memberikan informasi dan pengetahuan kepada pembaca tentang daur
tembaga (Cu) di lingkungan dan tubuh manusia
5. Memberikan informasi dan pengetahuan kepada pembaca tentang
bentuk – bentuk keracunan tembaga (Cu).
6. Memberikan informasi dan pengetahuan kepada pembaca tentang efek
dari tembaga (Cu).
3
7. Memberikan informasi dan pengetahuan kepada pembaca tentang cara
pengobatan keracunan tembaga (Cu)
D. Manfaat Makalah
Pada umumnya makalah ini dibuat untuk memberikan manfaat sebagai bahan
pembelajaran kepada kita dan memberikan wawasan mengenai mata kuliah
Toksikologi Lingkungan.
E. Metode Penulisan
Metode yang digunakan yaitu metode pustaka, karena sumber yang penulis
dapat berasal dari buku dan internet.
F. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Makalah
D. Manfaat Makalah
E. Metode penulisan
F. Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. Pembahasan
BAB III PENUTUP
A. Simpulan
B. Saran
BAGIAN PENUTUP
Daftar Pustaka
4
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN TEMBAGA
Tembaga adalah logam merah-muda yang lunak, dapat ditempa, dan
diliat. Tembaga (Cu) merupakan salah satu logam berat yang dapat
ditemukan pada lingkungan perairan maupun dalam sedimen (Anazawa et
al., 2004) Ia melebur pada 1038 . Karena potensial electrode standarnya
positif (+0,34 V untuk pasangan Cu/Cu2+),ia tak larut daalm asam klorida
dan asam sulfat encer, meskipun dengan adanya oksigen ia bisa terlarut
sedikit. Dalam table periodik unsur – unsur kimia, tembaga menempati
posisi dengan nomor atom (NA)29 dan mempunyai bobot atau berat atom
(BA)63,546. Unsur tembaga di alam, dapat ditemukan dalam bentuk
logam bebas, akan tetapi lebih banyak ditemukan dalam bentuk
persenyawaan atau sebagai senyawa padat dalam bentuk mineral. Selain
itu, tembaga (Cu) juga terdapat dalam makanan. Sumber utama tembaga
adalah tiram, kerang, kacang-kacangan, sereal, dan coklat. Air juga
mengandung tembaga dan jumlahnya bergantung pada jenis pipa yang
digunakan sebagai sumber air.
5
B. SENYAWA TEMBAGA
Dalam badan perairan laut, tembaga dapat ditemukan dalam bentuk
persenyawaan ion seperti CuCO3-, CuOH+. Pada batuan mineral atau
lapisan tanah, tembaga dapat ditemukan dalam bentuk – bentuk seperti :
1. Chalcocote (Cu2S)
2. Covellite (CuS)
3. Chalcopyrite (CuFeS2)
4. Bornite (Cu5FeS4)
5. Enargite [Cu3(AsSb)S4]
Tembaga di alam memiliki tingkat oksidasi +1 dan +2. Tembaga dengan
bilangan oksidasi +2 merupakan tembaga yang sering ditemukan
sedangkan tembaga dengan bilangan oksidasi +1 jarang ditemukan,
karena senyawaan tembaga ini hanya stabil jika dalam bentuk senyawa
kompleks. Selain dua keadaan oksidasi tersebut dikenal pula tembaga
dengan bilangan oksidasi +3 tetapi jarang digunakan, misalnya K 3CuF6.
Beberapa senyawaan yang dibentuk oleh tembaga seperti yang tertera
pada Tabel.
Tembaga(II) Nama Tembaga(I) Nama
CuO tembaga(II) oksida Cu2O tembaga(I)
oksida
Cu(OH)2 tembaga(II) hidroksida
tembaga(I)
CuCl2 tembaga(II) klorida CuCl
klorida
CuF2 tembaga(II) fluorida CuI
tembaga(I)
CuS tembaga(II) sulfida iodida
CuSO4.5H2O tembaga(II) sulfat
pentahidrat atau vitriol
6
Cu(NO3)2.3H2O biru
tembaga(II) nitrat trihidrat
C. SIFAT DAN KEGUNAAN TEMBAGA
1. Sifat tembaga (Cu)
a. Sifat fisika
1) Tembaga merupakan logam yang berwarna kuning
kemerahan seperti emas kuning.
2) Mudah ditempa (liat) dan bersifat elastis sehingga
mudah dibentuk menjadi pipa, lembaran tipis, dan
kawat.
3) Konduktor panas dan listrik yang baik, kedua setelah
perak.
4) Titik leleh : 1083 dan titik didih 2301 .
b. Sifat kimia
1) Tembaga merupakan unsur yang relatif tidak reaktif
sehingga tahan terhadap korosi. Pada udara yang
lembab permukaan tembaga ditutupi oleh suatu lapisan
yang berwarna hijau yang menarik dari tembaga
karbonat basa, CuOH2CO3.
2) Pada kondisi yang istimewa, yakni pada suhu sekitar
300 tembaga dapat bereaksi dengan oksigen
membentuk CuO yang berwarna hitam. Sedangkan
pada suhu yang lebih tinggi, yakni sekitar 1000 akan
7
terbentuk tembaga (I) oksida (Cu2O) yang berwarna
merah.
3) Logam Cu dan beberapa bentuk persenyawaan, seperti
CuO3, Cu(OH)2, dan Cu(CN)2, tidak dapat larut dalam
air dingin atau air panas tetapi dapat dilarutkan dengan
asam.
4) Logam Cu itu sendiri dapat dilarutkan dalam senyawa
asam sulfat (H2SO4) panas dalam larutan basa NH4OH.
2. Kegunaan tembaga (Cu)
a. Dalam bidang industri
1) Sebagai bahan untuk kabel listrik dan kumparan
dinamo.
2) Sebagai bahan penahan untuk bangunan dan beberapa
bagian dari kapal.
3) Serbuk tembaga digunakan sebagai katalisator untuk
mengoksidasi methanol menjadi metanal.
4) Digunakan untuk menambah kekuatan dan kekerasan
mata uang dan perkakas – perkakas yang terbuat dari
emas dan perak.
5) Dalam industri, tembaga banyak digunakan dalam
industri cat, industri fungisida serta dapat digunakan
sebagai katalis, baterai elektroda, sebagai pencegah
pertumbuhan lumut, turunan senyawa – senyawa
karbonat banyak digunakan sebagai pigmen dan
pewarna kuningan.
b. Dalam tubuh
1) Penting dalam pembentukan Hb dan eritrosit.
2) Tembaga adalah komponen dari berbagai enzim yang
diperlukan untuk menghasilkan energy, anti oksidasi,
dan sintesa hormone adrenalin serta untuk
pembentukan jaringan ikat.
8
3) Membantu absorbs unsur Fe.
4) Memelihara fungsi sistem syaraf.
5) Sintesis substansi hormon.
D. DAUR SIKLUS TEMBAGA
1. Cu (tembaga) dalam tubuh mikroorganisme
Sebagai logam berat, Cu (tembaga) berbeda dengan logam-logam berat
lainnya seperti Hg, Cd, dan Cr. Logam berat Cu digolongkan kedalam
logam berat esensial, yang artinya meskipun Cu merupakan logam berat
beracun, unsur logam ini sangat dibutuhkan tubuh meski dalam jumlah
yang sedikit. Karena itu, Cu juga termasuk kedalam logam-logam esensial
bagi manusia, seperti besi (Fe). Toksisitas yang dimiliki oleh Cu baru
akan bekerja dan memperlihatkan pengaruhnya bila logam ini telah masuk
ke dalam tubuh organisme dalam jumlah besar atau melebihi nilai
organisme terkait.
Selain manusia, organisme hidup lainnya juga akan berbalik menjadi
bahan racun untuk manusia bila masuk dalam jumlah berlebihan sangat
membutuhkan Cu untuk kehidupannya. Mulai dari tumbuh-tumbuhan
sampai pada hewan darat ataupun biota perairan. Misalnya, kerang.
Kerang membutuhkan jumlah Cu yang tinggi untuk kehidupannya. Biota
tersebut membutuhkan Cu untuk cairan tubuhnya. Disamping itu, kerang
juga mempunyai toleransi yang sangat tinggi terhadap akumulasi Cu
dalam tubuhnya.
Setiap studi toksikologi yang pernah dilakukan terhadap penderita
keracunan Cu, hampir semuanya meninjau metabolisme Cu yang masuk
kedalam tubuh secara oral. Dari studi-studi yang dilakukan di Amerika,
disimpulkan bahwa orang-orang Amerika baik secara sengaja ataupun
tidak sengaja telah mengkonsumsi makanan dan minuman yang
mengandung Cu sebesar 2-5 mg setiap harinya. Dari jumlah yang
terkonsumsi itu, hampir semuanya dikeluarkan kembali bersama feces.
9
Penyerapan Cu ke dalam darah dapat terjadi pada kondisi asam yang
terdapat dalam lambung. Pada saat proses penyerapan bahan makanan
yang telah diolah pada lambung oleh darah. Sehingga Cu yang ada turut
diserap oleh darah. Dalam darah, Cu terdapat dalam 2 bentuk ionisasi,
yaitu Cu+dan Cu++. Apabila jumlah Cu dalam kedua bentuk itu yang
terserap berada dalam jumlah normal, maka sekitar 93% dari serum Cu
berada dalam seruloplasma dan 7% lainnya berada dalam fraksi – fraksi
albumin dan asam amino. Serum Cu albumin ditransfortasikan ke dalam
jaringan-jaringan tubuh. Cu juga berikatan dengan sel darah merah
sebagai eritrocuprein, yaitu sekitar 60% eritrosit-Cu, sedangkan sisanya
merupakan fraksi-fraksi yang labil. Darah selanjutnya akan membawa Cu
ke dalam hati. Dari hati, Cu dikirimkan ke dalam kandung empedu. Dari
empedu, Cu dikeluarkan kembali ke usus untuk selanjutnya dibuang
melalui feces.
2. Cu dalam lingkungan
Tembaga masuk kedalam tatanan lingkungan perairan dapat berasal dari
peristiwa-peristiwa alamiah dan sebagai efek samping dari aktivitas yang
dilakukan oleh manusia.
Secara alamiah, Cu masuk kedalam badan perairan sebagai akibat dari
erosi atau pengikisan batuan mineral dan melalui persenyawaan Cu di
atmosfir yang dibawa turun oleh air hujan. Secara singkat daur tembaga di
lingkungan adalah sebagai berikut :
Kandungan tembaga yang terdapat dalam bebatuan terkikis oleh air hujan.
Air hujan ini memecah kandungan tembaga dalam bebatuan dan
melarutkan ion tembaga tersebut dalam air. Air yang mengandung
tembaga terus mengalir ke sungai, ke sumber-sumber air, dan meresap ke
dalam tanah. Didalam tanah yang mengandung tembaga, unsur hara
tersebut akan diserap oleh akar tanaman dalam bentuk kation Cu 2+ melalui
suatu proses aktif. Dengan adanya kandungan tembaga ini akan
membantu tumbuhan dalam pembentukan [Link] tumbuhan
yang mengandung tembaga ini dimakan oleh consumer sehingga tembaga
10
berpindah ke hewan. Tumbuhan dan hewan mati, feses dan urinnya akan
terurai menjadi Cu2+. Oleh bakteri, tembaga tersebut akan diubah menjadi
tembaga yang dapat diserap oleh tumbuhan. Dan seperti ini akan terus
berulang.
Aktivitas manusia seperti buangan industri, pertambangan Cu, industry
galangan kapal dan bermacam-macam aktivitas pelabuhan lainnya
merupakan salah satu jalur yang mempercepat terjadinya peningkatan
kelarutan Cu dalam badan-badan perairan. Masukan sebagai efek samping
dari aktivitas manusia ini, lebih ditentukan oleh bentuk dan tingkat
aktivitas yang dilakukan. Proses daur ulang yang terjadi dalam sistem
tatanan lingkungan perairan yang merupakan efek dari aktivitas biota
perairan juga sangat berpengaruh terhadap peningkatan Cu dalam badan
perairan.
E. BENTUK – BENTUK KERACUNAN TEMBAGA
Bentuk tembaga yang paling beracun adalah debu-debu Cu yang
dapat mengakibatkan kematian pada dosis 3,5 mg/kg. Garam-garam
khlorida dan sulfat dalam bentuk terhidrasi yang sebelumnya diduga
mempunyai daya racun paling tinggi, ternyata memiliki daya racun yang
lebih rendah dari debu – debu Cu. Pada manusia, efek keracunan utama
yang ditimbulkan akibat terpapar oleh debu atau uap logam Cu adalah
terjadinya gangguan pada jalur pernapasan sebelah atas. Efek keracunan
yang ditimbulkan akibat terpapar oleh debu atau uap Cu tersebut adalah
terjadinya kerusakan atropik pada selaput lendir yang berhubungan
dengan hidung. Kerusakan itu, merupakan akibat dari gabungan sifat
iritatif yang dimiliki oleh debu atau uap Cu.
Sesuai dengan sifatnya sebagai logam berat beracun, Cu dapat
mengakibatkan keracunan akut dan kronis. Terjadinya keracunan akut dan
kronis ini ditentukan oleh besar dosis yang masuk dan kemampuan
organisme untuk menetralisir dosis tersebut.
11
1. Keracunan akut
Gejala – gejala yang dapat dideteksi sebagai akibat keracunan akut
tersebut adalah :
a. Adanya rasa logam pada pernapasan penderita.
b. Adanya rasa terbakar pada epigastrum dan muntah yang
terjadi secara berulang – ulang.
2. Keracunan kronis
Pada manusia, keracunan Cu secara kronis dapat dilihat dengan
timbulnya penyakit Wilson dan [Link] dari penyakit Wilson ini
adalah terjadi hepatic cirrhosis, kerusakan pada otak, dan demyelinas,
serta terjadinya penurunan kerja ginjal dan pengendapan Cu dalam
kornea mata. Penyakit Kinsky dapat diketahui dengan terbentuknya
rambut yang kaku dan berwarna kemerahan pada penderita.
Sementara pada hewan seperti kerang, bila didalam tubuhnya telah
terakumulasi dalam jumlah tinggi, maka bagian otot tubuhnya akan
memperlihatkan warna kehijauan. Hal ini dapat menjadi petunjuk
apakah kerang tersebut masih bisa dikonsumsi manusia atau tidak.
F. EFEK TEMBAGA
1. Kekurangan tembaga
Kekurangan tembaga jarang terjadi pada orang sehat. Paling sering
terjadi pada bayi-bayi prematur atau bayi-bayi yang sedang dalam
masa penyembuhan dari malnutrisi yang berat. Orang-orang yang
menerima makanan secara intravena (parental) dalam waktu lama juga
memiliki resiko menderita kekurangan tembaga.
Gejala orang yang kekurangan tembaga, diantaranya adalah :
a. Terjadi pendarahan berupa titik kecil di kulit dan aneurisma
arterial.
b. Penurunan jumlah sel darah merah (anemia) dan sel darah
putih ( leukopenia).
c. Penurunan jumlah kalsium dalam tulang
12
d. Kadar tembaga rendah dalam darah
e. rambut yang sangat kusut.
f. keterbelakangan mental.
g. kegagalan sintesa enzim yang memerlukan tembaga.
2. Kelebihan tembaga
Tembaga yang tidak berkaitan dengan protein merupakan zat racun.
Mengkonsumsi sejumlah kecil tembaga yang tidak berkaitan dengan
protein dapat menyebabkan mual dan muntah.
Gejala orang yang kelebihan tembaga ,diantaranya adalah :
a. Mengalami kerusakan ginjal.
b. Menghambat pembentukan air kemih.
c. Menyebabkan anemia karena pecahnya sel-sel darah merah
(hemolisis).
d. Penyakit Wilson(yang ditandai dengan gejala sakit perut, sakit
kepala, perubahan suara).
e. Sirosis.
f. Pengumpulan tembaga dalam kornea mata yang menyebabkan
terjadinya cincin emas atau emas kehijauan.
g. Menyebabkan kerusakan otak berupa tremor, sakit kepala, sulit
berbicara, hilangnya Koordinasi, psikosa.
G. CARA MENGOBATI DAMPAK KERACUNAN TEMBAGA
Pengobatan keracunan Cu yang paling efektif untuk pengobatan
toksisitas Cu ialah kelator penisilin. Kelator ini juga sangat baik untuk
pengobatan beberapa penyakit seperti Wilson diseases dan beberapa
penyakit lain termasuk radang sendi Rhematoid arthritis.
13
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Jadi tembaga merupakan logam merah-muda, yang lunak, dapat ditempa, dan liat
dan itu juga merupakn sifat dari tembaga. Cu (tembaga) berbeda dengan logam-
logam berat lainnya seperti Hg, Cd, dan Cr. Logam berat Cu digolongkan
kedalam logam berat esensial, yang artinya meskipun Cu merupakan logam berat
beracun, unsur logam ini sangat dibutuhkan tubuh meski dalam jumlah yang
sedikit. Karena itu, Cu juga termasuk kedalam logam-logam esensial bagi
manusia, seperti besi (Fe). Toksisitas yang dimiliki oleh Cu baru akan bekerja dan
memperlihatkan pengaruhnya bila logam ini telah masuk ke dalam tubuh
organisme dalam jumlah besar atau melebihi nilai organisme terkait.
Saran
14
Tembaga merupakan elemen yang sangat penting didalam tubuh apabila
dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit jadi tembaga itu harus dipertahankan
jumlahnya agar tidak menjadi racun dalam tubuh kita.
15
DAFTAR PUSTAKA
Anazawa, K., Kaida, Y., Shinomura, Y. Tomiyasu,T., and Sakamoto, H. 2004. Heavy-
Metal Distribution in River Waters and Sediments Around a”Firefly Village”,
Shihoku, Japan: Application of Multivariate Analysis. Analytical Sciences,
Januari Vol. 20: 79-84.
Asaanniin, Attibabul. Mineral. [Link]
Tembaga-Cu. Diakses tanggal 25 Nov 2017.
Cahyani, Agung. Tembaga Lengkap. [Link]
lengkap. Diakses tanggal 25 Nov 2017
Darmono. (2006). Lingkunga Hidup dan Pencemaran. Universitas Indonesia. UI-Press.
Dewi,[Link]://[Link]/cindra_dewi/d/57
745594-Mekanisme-Toksisitas-Logam-Berat. 30 Maret 2012.
Menasda, Iqbal. 2010. Tembaga. [Link]
Diakses tanggal 25 Nov 2017.
Prawita, A., Murnitasari, D & Darmawati, A. April 2008. Kandungan Logam Berat Timbal
(Pb), Kadmium (Cd) dan Tembaga (Cu) dalam Air Kali Wonokromo. Majalah
Farmasi Airlangga, 6 (1): 29-31
Petrucci, H. (1989). Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Jakarta: Erlangga.
Rachman, Arif. 2008. Mekanisme Toksisitas Logam Berat. [Link]
[Link]/2008_06_01_archive.html. Diakses tanggal 25 Nov 2017
Rochayatun, E., Kaisupy, M.T. & Rozak, A. 2006 .Distribusi Logam Berat Dalam Air
dan Sedimen di Perairan Muara Sungai Cisadene. Jurnal Makara Sains, (Online),
10 (1): 35-40, ([Link] diakses 25 November 2017.
Seran, Emel. 2010. Tembaga: Tambang, Sifat, dan Kegunaan.
[Link]
kegunaan/. Diakses tanggal 25 Nov 2017
16