0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
390 tayangan71 halaman

Kesiapsiagaan Bencana Siswa SMK Bogor

Skripsi ini membahas hubungan pengetahuan dan self efficacy siswa SMK Bina Mandiri Bogor terhadap kesiapsiagaan bencana gempa bumi. Penelitian menggunakan metode survei terhadap 243 siswa untuk mengukur variabel penelitian. Hasilnya menunjukkan hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan self efficacy dengan kesiapsiagaan bencana.

Diunggah oleh

Aggita Cahyani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
390 tayangan71 halaman

Kesiapsiagaan Bencana Siswa SMK Bogor

Skripsi ini membahas hubungan pengetahuan dan self efficacy siswa SMK Bina Mandiri Bogor terhadap kesiapsiagaan bencana gempa bumi. Penelitian menggunakan metode survei terhadap 243 siswa untuk mengukur variabel penelitian. Hasilnya menunjukkan hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan self efficacy dengan kesiapsiagaan bencana.

Diunggah oleh

Aggita Cahyani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SELF EFFICACY DENGAN KESIAPSIAGAAN

BENCANA GEMPA BUMI PADA SISWA SMK BINA MANDIRI BOGOR

SKRIPSI

AGGITA CAHYANI
1610711027

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
2020

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SELF EFFICACY DENGAN KESIAPSIAGAAN


BENCANA GEMPA BUMI PADA SISWA SMK BINA MANDIRI BOGOR

SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan

AGGITA CAHYANI
1610711027
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
2020

LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi ini berjudul “Hubungan Antara Pengetahuan Dan Self Efficacy Dengan Kesiapsiagaan
Bencana Gempa Bumi Pada Siswa SMK Bina Mandiri Bogor” telah disetujui untuk diujikan pada
ujian sidang skripsi di hadapan tim penguji.

Jakarta, Juni 2020


Menyetujui,
Pembimbing Penelitian I Pembimbing Penelitian II

Desak Nyoman Sithi, SKP., MARS., Ph.D [Link] Widiastuti,[Link],[Link]

Mengetahui/Menyetujui,
Kepala Program Studi S1 Keperawatan
FIKES UPN Veteran Jakarta

Ns. Duma Lumban Tobing .,[Link]., [Link] J

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SELF EFFICACY DENGAN KESIAPSIAGAAN


BENCANA GEMPA BUMI PADA SISWA SMK BINA MANDIRI BOGOR

Aggita Cahyani

Abstrak

Indonesia termasuk negara yang berada di lintang pasifik Ring of Fire. Negara yang rawan
terhadap bencana, salah satunya gempa bumi. Salah satu kelompok yang cukup rentan
menjadi korban ketika terjadi gempa bumi adalah siswa yang berada di lingkungan sekolah.
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan self
efficacy dengan kesiapsiaagan bencana gempa bumi pada siswa SMK. Pada penelitian ini
merupakan penelitian kuantitatif dengan metode cross sectional design. Teknik pengambilan
sampel yang digunakan adalah simple random sampling dengan 243 responden. Pengambilan
data dilakukan dengan menyebar kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas
responden memiliki pengetahuan kurang baik (84,7%) dan tingkat self efficacy rendah (76,2%).
Hasil analisa bivariat menunjukkan adanya hubungan yang significant antara pengetahuan dan
self efficacy dengan kesiapsiagaan bencana dengan Pvalue = 0.000 (P < 0.05). Maka
kesimpulan dari penelitian ini bahwa semakin tinggi pengetahuan dan tingkat self efficacy
seseorang maka semakin tinggi pula kesiapsiagaan seseorang. Penulis berharap agar sekolah
mulai melakukan edukasi dan simulasi kebencanaan secara rutin, supaya siswa akan selalu
siap siaga ketika bencana datang.

Kata kunci : Gempa Bumi, Pengetahuan, Self Efficacy, Kesiapsiagaan Siswa

RELATIONSHIP BETWEEN KNOWLEDGE AND SELF EFFICACY WITH THE EARTHQUAKE


DISASTER PREPAREDNESS IN SMK BINA MANDIRI BOGOR

Aggita Cahyani

Abstract

Indonesia is a country that is in the Pacific latitude of the Ring of Fire. Countries that are prone
to disasters, one of which is the earthquake. One of the groups that is quite vulnerable to being
victims when an earthquake happens is students who are in the school environment. The
purpose of this study is to determine the relationship between knowledge and self efficacy with
earthquake disaster preparedness for vocational students. This research is a quantitative study
with cross sectional design method. The sampling technique used was simple random sampling
with 243 respondents. Data is collected by distributing questionnaires. The results showed the
majority of respondents had poor knowledge (84.7%) and low levels of self-efficacy (76.2%).
The results of the bivariate analysis showed a significant relationship between knowledge and
self efficacy with disaster preparedness with Pvalue = 0.000 (P <0.05). So the conclusion of this
study is that the higher the knowledge and level of self-efficacy, the higher the person's
preparedness. The writer hopes that the school will start to carry out education and disaster
simulation routinely, so that students will always be ready when disaster comes.

Key Word : Earthquakes, Knowledge, Self Efficacy, Student Preparedness


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat-Nya saya
dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Hubungan Antara Pengetahuan Dan
Self Efficacy Dengan Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi Pada Siswa SMK Bina Mandiri
Bogor” tujuan dilakukannya penyusunan skripsi ini adalah guna mendapatkan gelar Sarjana
Keperawatan di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
nikmat sehat selama proses penyusunan skripsi ini. Tak lupa terima kasih kepada kedua orang
tua saya Bapak Warseno dan Ibu Sri Sudarsi yang selalu mendukung peneliti dan tak henti
mendoakan kelancaran penyusunan skripsi ini. Kepada Ibu Desak Nyoman Sithi, SKP., MARS.,
Ph.D selaku dosen pembimbing yang selalu memberikan motivasi, masukan, dan meluangkan
waktunya untuk bimbingan skripsi ini. Ucapan terima kasih juga peneliti sampaikan kepada
Mayor (L) Ns. Rony Basirun Simatupang, [Link]., [Link](Han) selaku dosen penguji. Tidak lupa
peneliti ucapkan terima kasih kepada para sahabat Tamara C Lucas, Karlina, Ninda Anisya,
teman-teman Maliki Residence, One Tour’s Chingu Ghariza serta Nisrina, dan teman-teman
yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang selalu mendukung saya dan memberikan
masukan selama penulisan skripsi ini. Terima kasih juga kepada Super Junior, Wanna One,
serta Mas Pam (Pamungkas) untuk lagu-lagunya yang selalu menemani selama proses
penulisan skripsi ini dari awal hingga akhir.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, termasuk
dalam proses penelitian adanya perubahan metode penelitian yang akan dilakukan. Perubahan
dalam penelitin ini yaitu yang seharusnya akan dilakukannya edukasi dan simulasi bencana
gempa bumi, dirubah dengan hanya penyebaran kuesioner secara online. Hal ini disebabkan
karena adanya Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19), dimana pemerintah melakukan
himbauan untuk diberlakukannya Social Distancing (Pembatasan social) hingga Pembatasan
Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk beberapa daerah dan kota guna memutus rantai
penyebaran virus corona. Karena adanya hal tersebut, proses penelitian ini terkena dampaknya
yaitu tidak bisa melaksanakan intervensi edukasi dan simulasi secara langsung karena
pembelajaran disekolah dialihkan dengan daring yang dilakukan dari rumah. Karena itu peneliti
tidak ingin memberatkan siswa dengan mengikuti edukasi karena adnaya keterbatasan dalam
pelaksanaan intervensi secara online. Oleh karena itu penulis akan merima segala kritik dan
saran yang bersifat membangun dalam penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap
skripsi ini akan berguna dan bermanfaat untuk di masa yang akan datang bagi siapapun yang
membaca.

Jakarta, Juli 2020


Penulis

Aggita Cahyani

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ii
ABSTRAK iii
ABSTRACT iv
KATA PENGANTAR v
DAFTAR ISI vii
DAFTAR TABEL ix
DAFTAR SKEMA x
BAB I 1
I.1 Latar Belakang 1
I.2 Rumusan Masalah6
I.3 Pertanyaan Penelitian 8
I.4 Tujuan Penelitian 8
I.5 Manfaat Penelitian 9
I.6 Ruang Lingkup Penelitian 9

BAB II 11
II.1 Bencana Gempa Bumi 11
II.2 Kesiapsiagaan Bencana 19
II.3 Pengetahuan 23
II.4 Self Efficacy 27
II.5 Remaja 31
II.6 Krisis Remaja 36
II.7 Karakteristik Responden 38
II.8 Penelitian Terkait 39
II.9 Kerangka Teori 42

BAB III 43
III.1 Kerangka Konsep 43
III.2 Hipotesis Penelitian 44
III.3 Definisi Operasional 44
III.4 Desain Penelitian47
III.5 Tempat dan Waktu Penelitian 47
III.6 Populasi dan Sampel Penelitian 47
III.7 Metode Pengumpulan Data 50
III.8 Instrumen Penelitian 51
III.9 Etika Penelitian 52
III.10 Analisis dan Pengolahan Data 53
III.11 Etika Penelitian 59

BAB IV60
IV.1 Gambaran Sekolah SMK Bina Mandiri Bogor 60
IV.2 Analisa Hasil Penelitian 61
IV.3 Uji Normalitas 61
IV.4 Analisa Univariat 62
IV.5 Uji Bivariat 65
IV.6 Keterbatasan Penelitian 69

BAB V 71
V.1 Kesimpulan 71
V.2 Saran 72

DAFTAR PUSTAKA 73
RIWAYAT HIDUP 78
LAMPIRAN 79
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Skala Kekuatan Gempa Bumi Menurut C. F. Richter 16


Tabel 2 Skala Kekuatan Gempa Bumi Menurut Mercalli 17
Tabel 3 Penelitian Terkait 39
Tabel 4 Definisi Operasional 45
Tabel 5 Jumlah Sampel Perkelas 49
Tabel 6 Analisis Univariat 57
Tabel 7 Analisis Data58
Tabel 8 Uji Normalitas Data Hubungan Antara Pengetahuan Dan Self Efficacy Dengan
Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi Pada Siswa SMK Bina Mandiri Bogor 61
Tabel 9 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Siswa SMK Bina
Mandiri Bogor (n=221) 62
Tabel 10 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Siswa SMK
Bina Mandiri Bogor (n=221) 62
Tabel 11 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan Siswa SMK Bina Mandiri
Bogor (n=221) 63
Tabel 12 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Self Efficacy Siswa SMK Bina Mandiri
Bogor (n=221) 63
Tabel 13 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kesiapsiagaan Bencana Siswa
SMK Bina Mandiri Bogor (n=221) 64
Tabel 14 Analisis Hubungan Usia dengan Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi Pada Siswa
SMK Bina Mandiri Bogor (n=221) 65
Tabel 15 Analisis Hubungan Jenis Kelamin dengan Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi Pada
Siswa SMK Bina Mandiri Bogor (n=221) 66
Tabel 16 Analisis Hubungan Pengetahuan dengan Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi
Pada Siswa SMK Bina Mandiri Bogor (n=221) 67
Tabel 17 Analisis Hubungan Self Efficacy dengan Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi
Pada Siswa SMK Bina Mandiri Bogor (n=221) 68

DAFTAR SKEMA
Skema 1 Kerangka Teori 42
Skema 2 Kerangka Konsep 43

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang berada pada lintang pasifik Ring of Fire
sehingga menyebabkan Indonesia mempunyai tingkat kerawanan bencana alam yang tinggi
seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, dan bencana geologi lainnya (BNPB, 2019).
Bencana atau disaster menurut World Health Organization (WHO, 2002) adalah kejadian yang
mengganggu kondisi normal dalam komunitas atau lingkungan dan menyebabkan tingkat
penderitaan itu melebihi kapasitas penyesuaian.
Gempa bumi merupakan salah satu bencana yang bisa datang secara tiba-tiba dan tanpa
peringatan. WHO mendefinisikan gempa bumi sebagai guncangan keras yang terjadi secara
tiba-tiba yang disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik di sepanjang garis patahan di
kerak bumi. Gempa bumi dapat mengakibatkan goncangan tanah, tanah longsor, celah,
longsoran, kebakaran dan tsunami (“Earthquakes,” 2020).
Menurut data BNPB dalam 5 tahun belakangan sejak tahun 2015 - 2020 104 bencana gempa
bumi yang terjadi di Indonesia, dengan jumlah korban meninggal & hilang 683 orang, korban
luka-luka 3.324 orang, dan fasilitas pendidikan yang rusak ada sekitar 1.472 (BNPB, 2019).
Seringnya jumlah kejadian bencana alam di Indonesia khususnya gempa bumi, seyogyanya
memberikan pembelajaran kepada masyarakat Indonesia untuk lebih awas dan siap siaga
ketika terjadi bencana khususnya gempa bumi.
Selain Indonesia, Filipina juga termasuk dalam negara yang rawan terjadi gempa bumi karena
negara tersebut terletak di antara pertemuan lempeng Pasifik, lempeng Filipina, dan lempeng
Eurasia yang mana jika lempeng-lempeng tersebut
bergerak atau terjadi patahan akan menimbulkan gempa bumi. Seperti gempa yang terjadi pada
16 Oktober 2019, Filipina diguncang gempa dengan kekuatan 6,6 magnitudo yang
menyebabkan 210 orang luka dan 13 meninggal. OCHA menjabarkan jika banyak fasilitas
bangunan rusak, seperti 26.000 rumah, 400 sekolah, dan 60 fasilitas kesehatan. Dari 400
sekolah yang rusak terdapat 180.000 ruang kelas yang tidak dapat terpakai akibat kerusakan
tersebut (OCHA, 2019).
Di Indonesia sendiri telah beberapa kali terjadi gempa bumi dalam kurun waktu 5 tahun
belakangan ini, terdapat 1 kali gempa bumi terjadi di Kabupaten/Kota Bogor dengan kekuatan 4
magnitudo dengan kedalaman 5 km (Pratiwi, 2019). Kejadian gempa di Kab/Kota Bogor ini
menyebabkan 3.408 jiwa yang mengungsi, rumah rusak dengan keparahan sedang 220 rumah,
dan 1 fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan (Badan Nasional Penanggulangan
Bencana (BNPB), 2019).
Walaupun tidak terdapat korban jiwa, tetapi banyaknya fasilitas pendidikan yang rusak akibat
dari gempa bumi tersebut, kondisi ini membuktikan bahwa lingkungan sekolah merupakan
tempat yang rawan ketika terjadi bencana karena sekolah merupakan tempat yang terdapat
banyak populasi yang beraktifitas (Syarif, 2015).
Hal ini didukung karena sekolah termasuk bagunan yang terbuat dari material yang mudah
rusak jika terkena guncangan yang besar seperti gempa dengan skala richer yang tinggi atau
cukup besar, dan sekolah juga tipe bangunan bertingkat yang akan mengakibatkan kepanikan
saat terjadi gempa bumi. Kepanikan yang mungkin terjadi, jika saat gempa bumi bisa seperti
berlarian mendahului satu sama lain dan saling mendorong ketika di tangga, tentu saja hal ini
sangat tidak baik dan tidak efekif jika para murid belum atau bahkan tidak paham bagaimana
proses evakuasi yang baik dan benar saat terjadi bencana alam khususnya gempa bumi.
Seperti yang dijelaskan dalam Khoirunisa (2018) bahwa siswa di sekolah termasuk dalam
komunitas yang rentan jika dalam keadaan bencana. Hal ini di karenakan wawasan yang
kurang tentang bencana, yang menyebabkan kepanikan jika tidak mengetahui tindakan apa
yang harus dilakukan jika terjadi bencana gempa bumi. Oleh karena itu pendidikan tentang
bencana menjadi penting dan tidak bisa di anggap remeh, karena tingkat pengetahuan akan
mempengaruhi jumlah korban ketika terjadi bencana.
Pengetahuan merupakan salah satu kunci dalam kesiapsiagaan, karena pengetahuan yang
baik atau cukup akan mempengaruhi tindakan yang akan dipilih dalam situasi genting seperti
bencana (Kurniawati, 2017). Sama seperti yang dijelaskan dalam penelitiannya, Rizal (2019)
menyatakan bahwa anak-anak di sekolah sangat rentan menjadi korban saat terjadi bencana.
Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan yang di miliki anak sekolah serta tidak
mengetahui risiko apa saja yang berada di lingkungan sekolah tersebut (Pahleviannur, 2019).
Kurangnya pengetahuan, akan mempengaruhi tingkat kesiapan siswa dalam menghadapi
bencana maupun dalam hal bertindak.
Bandura (1994) dalam Manuntung (2015) menjelaskan bahwa self efficacy merupakan respon
diri tiap individu terhadap kemampuan dirinya terhadap suatu kejadian di lingkungannya
sebagai bentuk kontrol terhadap dirinya. Sedangkan sumber lain menyatakan jika self efficacy
ini berfungsi untuk mengembangkan motivasi untuk dirinya ketika berada di posisiya yang sulit
ataupun tidak sulit ketika ingin mencapai suatu hal (Husni dkk, 2016).
Self efficacy ini juga dibedakan dalam dua klasifikasi bagi tiap individu, self efficacy rendah dan
self efficacy tinggi. Bandura (1994) mengemukakan bahwa jika tiap individu tidak memiliki
keyakinan dan tidak percaya akan kemampuan dirinya itu disebut dengan self efficacy yang
rendah. Sebaliknya, jika individu memiliki tingkat self efficacy tinggi maka ia akan siap
menghadapi hal mendesak seperti bencana, ia juga percaya dengan kemampuan dirinya untuk
bisa bertahan (Flammer, 2015).
Dalam penelitian (Syarif, 2015) mengemukakan bahwa siswa yang memiliki tingkat self efficacy
cukup tinggi, adalah siswa yang pernah selamat dari gempa bumi dan tsunami di Aceh tahun
2004 silam. Hal ini disebabkan mereka mempunyai pengalaman menghadapi bencana dan
sering mendapat ceramah singkat dari para guru mereka untuk memotivasi, meyakinkan, dan
memberikan reward kepada siswanya.
Terkait hal tersebut, guru memiliki peran penting dalam kesiapsiagaan komunitas sekolah saat
terjadi bencana alam. Sebagaimana yang di jabarkan dalam LIPI–UNESCO/ISDR (2006)
dengan ilmu yang dimiliki, guru dapat mentransfer atau mengajarkan kepada para muridnya
tentang bagaimana melindungi diri ketika terjadi bencana alam yang tidak dapat diprediksi. Hal
ini dapat dilakukan dengan hal yang mudah dahulu, seperti mengetahui tanda-tanda jika terjadi
bencana, membuat sistem peringatan dini, menentukan jalur evakuasi, dan tempat evakuasi
yang jauh dari bangunan bertingkat.
Biarpun sudah digalakkan edukasi kesiapsiagaan bencana oleh BNPB, tetapi jumlah korban
masih terbilang cukup tinggi dengan intensitas gempa yang berbeda. Hal ini dapat dilihat dari
data DIBI (2020a) tahun 2015/2016 dengan intensitas gempa 41 kali gempa bumi, terdapat 106
orang meninggal & hilang, korban luka 1.046 orang, dan korban menderita sebanyak 126.715
jiwa. Lalu terjadi peningkatan jumlah korban pada tahun 2017/2018 sesuai data DIBI (2020b)
dengan 50 kali gempa bumi yang terjadi, terdapat 577 jiwa yang meninggal & hilang, 2.131
orang luka, dan 491.143 jiwa yang menderita, peningkatan jumlah korban ini bisa terjadi karena
jumlah intensitas gempa yang meningkat pula. Tetapi pada tahun 2018/2019 dengan intensitas
yang tidak beda jauh dengan tahun berikutnya, yaitu terjadi 40 kali gempa jumlah korban terjadi
penurunan tetapi tidak terjadi secara signifikan pada jumlah korban. Pada tahun 2019/2020
dengan jumlah gempa bumi yang terjadi sebanyak 13 kali yang hanya menimbulkan 147 korban
luka tanpa ada korban yang meninggal/hilang serta tidak terdapat korban menderita. Oleh
karena itu, biarpun sudah disosialisasikan tentang kesiapsiagaan bencana oleh BNPB, ternyata
masih banyak pula korban yang berjatuhan. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi harus sering
dilakukan agar tingkat pengetahuan masyarakat bisa lebih bak lagi, serta masyarakat sadar
tentang pentingnya edukasi, dan terbiasa sehingga tidak kaget maupun panik saat terjadi
bencana secara tiba-tiba.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan, saat terjadi gempa pada tahun
2019, siswa merasa panik dan langsung berlarian keluar kelas untuk segera ke tempat yang
lapang. Kepanikan yang terjadi menimbulkan beberapa siswa terjatuh di tangga saat
menyelamatkan diri, tetapi menurut data yang didapat tidak ada korban jiwa akibat gempa
tersebut. Setelah terjadi gempa bumi, pihak sekolah mengatakan bahwa tidak ada kerusakan
yang terjadi pada bangunan sekolah. Kepanikan pada siswa ini disebabkan karena siswa SMK
Bina Mandiri Bogor belum pernah mendapatkan sosialisasi tentang kesiapsiagaan bencana
sebelumnya, jadi para siswa masih banyak yang tidak tahu untuk melakukan evakuasi diri saat
terjadi bencana. Tanggapan murid tentang hal yang harus dilakukan saat terjadi gempa bumi
juga beragam, 2 dari 10 murid mengatakan jika terjadi gempa bumi maka harus berlindung di
kolong meja, baru mencari tempat yang aman setelah getaran mereda. Tetapi masih banyak
juga siswa yang belum paham, hal ini di dukung dengan 8 dari 10 siswa mengatakan jika
mereka akan langsung berlari keluar gedung dan mencari tempat aman seperti lapangan. Dari
jawaban yang telah didapatkan, ini menunjukkan bahwa siswa SMK Bina Mandiri Bogor masih
kurang edukasi tentang bencana khususnya gempa bumi.
Tetapi bukan hanya karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki siswa, peneliti juga tertarik
melakukan penelitian di SMK Bina Mandiri Bogor karena faktor kondisi lingkungan yang
terbilang cukup rawan saat terjadi gempa bumi. Hal ini dikarenakan bangunan sekolah yang
tidak hanya di satu tempat tetapi ada beberapa bangunan kelas yang berada di daerah yang
lebih rendah, jadi untuk turun ke bawah harus melewati tangga yang cukup terjal dan licin saat
hujan turun. Tentu saja hal tersebut akan membahayakan siswa serta guru dan akan
menimbukan kepanikan saat akan meyelamatkan diri jika sebelumnya belum pernah mendapat
edukasi bencana gempa bumi.
Jawa Barat termasuk daerah yang rawan bencana, terbukti dari data DIBI selama 5 tahun
terakhir di daerah Jawa Barat banyak kejadian bencana seperti 586 kali kejadian tanah longsor,
banjir 347 kali, gelombang pasang/abrasi 7 kali, puting beliung sebanyak 447 kali, kekirangan
39 kali, kebakaran hutan 22 kali, gempa bumi 9 kali, dan letusan gunung api 1 kali. Biarpun
jumlah kejadian gempa bumi sedikit, tetapi dampak yang diakibatkan cukup besar, dari 9 kali
kejadian dapat mengakibatkan korban luka-luka sebanyak 26 orang, korban menderita dan
mengungsi sebanyak 9.268 jiwa, serta merusak 96 fasilitas pendidikan (DIBI, 2020).
Disamping itu di Jawa Barat terdapat daerah yang mempunyai sumber gempa selain dari
gunung berapi dan lapisan lempeng bumi, yaitu Sesar Lembang yang terletak di daerah
Lembang, kawasan cekung Bandung. Sesar Lembang ini terbentuk dari ledakan gunung api
Sunda raksasa yang mana mengakibakan patahan-patahan aktif. Pada tahun 2003, terjadi
gempa bumi dengan kekuatan 3,3 skala richter yang bersumber dari sesar lembang dan
getarannya dapat dirasakan sampai beberapa kawasan Bandung. Beberapa peneliti
memprediksi jika adanya potensi di sesar lembang dengan kekuatan maksimum 6,8 magnitudo,
ini lebih besar dua kali lipat dibandingkan dengan gempa yang terjadi pada tahun 2003
(Daryono, 2017).
Kawasan Bandung ini termasuk daerah yang cukup dekat dengan daerah Bogor, jika terjadi
gempa bumi di kawasan sesar lembang dengan kekuatan yang telah diprediksi, tentu saja
daerah Bogor akan cukup merasakan guncangannya. Hal ini menguatkan peneliti untuk
memastikan apakah masyarakat Bogor khususnya para siswa, apakah mereka mampu untuk
melakukan evakuasi atau menyelamatkan diri saat terjadi gempa bumi.
Bencana datang tidak mengenal waktu dan tempat, bisa datang siang/malam, bisa saat sedang
di rumah, jalan, maupun sekolah. Walaupun tidak semua daerah masuk dalam daerah rawan
bencana, tetapi pengetahuan kesiapsiagaan bencana khususnya gempa bumi harus dimiliki
tiap individu baik muda ataupun tua. Kabupaten Bogor termasuk daerah yang memiliki potensi
terjadinya bencana khususnya gempa bumi. Maka dari itu peneliti ingin melihat apakah ada
hubungan antara pengetahuan dan self efficacy siswa SMK Bina Mandiri Bogor tentang
kesiapsiagaan bencana gempa bumi.

Rumusan Masalah
Gempa bumi bisa terjadi kapan saja tanpa adanya tanda yang dapat diprediksi. Walaupun
angka kejadian bencana gempa bumi sedikit, tetapi dampak yang ditimbulkan cukup besar.
Seperti yang terjadi dalam 5 tahun terakhir terdapat 104 kali gempa bumi dengan jumlah korban
meninggal dan hilang 689 orang, korban luka 3.324 orang, dan 1.472 fasilitas pendidikan yang
rusak. Banyaknya fasilitas pendidikan yang rusak tentu saja berpengaruh pada kerentanan
siswa yang ada di sekolah ketika terjadi gempa bumi. Tingkat kesiapsiagaan siswa didukung
dengan cukupnya pengetahuan bencana yang mereka miliki.
Di daerah Bogor sendiri dalam 5 tahun terakhir, terjadi 110 kali tanah longsor, sedangkan
gempa bumi hanya terjadi 1 kali. Namun demikian, jika dilihat dari dampak kerusakan yang
ditimbulkan tidak jauh berbeda dengan gempa bumi. Pada saat terjadi tanah longsor,
banyaknya warga yang mengungsi sebanyak 1.695 jiwa dan kerusakan rumah warga sebanyak
381 rumah. Sedangkan saat gempa terdapat 3.408 jiwa yang mengungsi dan 805 rumah rusak.
Selain itu, saat proses menyelamatkan diri pun gempa bumi lebih singkat dibanding dengan
tanah longsor. Saat terjadi gempa, banyak bangunan sekolah yang konstriksinya tidak kuat,
langsung mengalami kerusakan dan menimbulkan banyak korban jiwa. Hal tesebut terjadi
karena banyak individu yang tidak siap dan tidak ada kesempatan untuk menyelamatkan diri.
Sedangkan jika terjadi tanah longsor, masih banyak waktu untuk menyelamatkan diri dari
reruntuhan tersebut. Terkait kondisi diatas, peneliti tertarik untuk mengambil tema gempa bumi
dibandingkan tanah longsor, karena walaupun jarang terjadi tetapi gempa bumi ini cukup
bahaya apalagi di lingkungan sekolah yang mana tempat banyaknya individu berakivitas.
Sebagaimana dikemukakan dalam penelitian (Syarif, 2015) bahwa siswa SD di Aceh memiliki
tingkat pengetahuan bencana lebih tinggi dibandingkan siswa SMP-SMA. Berbeda dengan
siswa SMA/SMK di Bogor yang mana daerah Bogor, walaupun daerah Bogor juga termasuk
daerah rawan bencana, tetapi siswa di Bogor belum mendapatkan sosialisasi yang memadai
tentang bencana. Hal ini dikuatkan dengan hasil studi pendahuluan yang telah peneliti lakukan
terhadap 10 siswa. Hasil studi pendahuluan tersebut menunjukkan bahwa 8 dari 10 siswa SMK
tersebut memiliki tingkat pengetahuan dasar tentang gempa bumi masih kurang.
Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk menggali lebih dalam, mengapa tingkat pengetahuan
siswa di Bogor masih dalam kategori kurang, dengan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

Pertanyaan Penelitian
Bagaimana gambaran karakteristik responden (jenis kelamin dan usia) pada siswa SMK
Bina Mandiri Bogor?
Bagaimana gambaran tingkat pengetahuan siswa SMK Bina Mandiri Bogor tentang
kesiapsiagaan bencana gempa bumi?
Bagaimana gambaran self efficacy siswa SMK Bina Mandiri Bogor tentang
kesiapsiagaan bencana gempa bumi?
Apakah ada hubungan antara karakteristik responden dengan kesiapsiagaan bencana
gempa bumi pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor?
Apakah ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kesiapsiagaan bencana
gempa bumi pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor?
Apakah ada hubungan antara self efficacy dengan kesiapsiagaan bencana gempa bumi
pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor?

Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Tujuan pada penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan self efficacy
dengan kesiapsiagaan bencana gempa bumi pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor.
Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:
Gambaran karakteristik (jenis kelamin dan usia) pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor
Gambaran tingkat pengetahuan siswa SMK Bina Mandiri Bogor tentang kesiapsiagaan
bencana gempa bumi?
Gambaran self efficacy siswa SMK Bina Mandiri Bogor tentang kesiapsiagaan bencana
gempa bumi?
Mengidentifikasi hubungan antara karakteristik responden dengan kesiapsiagaan
bencana gempa bumi pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor?
Mengidentifikasi hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kesiapsiagaan bencana
gempa bumi pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor?
Mengidentifikasi hubungan antara self efficacy dengan kesiapsiagaan bencana gempa
bumi pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor?

Manfaat Penelitian
Bagi Siswa SMK Bina Mandiri Bogor
Untuk menginformasikan siswa apakah tingkat pengetahuan dan self efficacy mereka apakah
sudah cukup baik atau belum dalam kesiapsiagaan bencana gempa bumi.
Bagi Sekolah SMK Bina Mandiri Bogor
Untuk memberikan informasi tentang tingkat pengetahuan siswa mengenai kesiapsiagaan
bencana dan dapat dijadikan rekomendasi bagi sekolah untuk rutin dilakukannya edukasi dan
simulasi atau pelatihan bencana di lingkungan sekolah.
Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan dan pengalaman penelitian secara langsung, serta dapat
menerapkan ilmu yang sudah didapat selama masa perkuliahan untuk di sebarkan lebih luas
melalui penelitian ini.
Bagi UPN Veteran Jakarta
Sebagai kampus bela negara, UPN Veteran Jakarta khususnya Fakultas Kesehatan diharapkan
hasil dari penelitian ini bisa menjadi sumber acuan untuk dilakukannya edukasi dan pelatihan
tentang kebencanaan di daerah yang khususnya rawan bencana dan di tempat yang rawan
menimbulkan banyak korban.
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan jenis asisiatif
kuantitatif dengan metode cross sectional design. Penelitian ini dilakukan guna mengetahui
hubungan antara pengetahuan dan self efficacy dengan kesiapsiagaan bencana gempa bumi
pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-Juni 2020.
Responden penelitian ini yaitu siswa kelas 10 dan kelas 11 dengan jumlah responden 221
siswa. pengambilan sampel ini dilakukan dengan simple random sampling dan proses
pengambilan data dilakukan dengan penebaran kuesioner yang dilakukan secara online melalui
WhatsApp.

TINJAUAN PUSTAKA

Bencana Gempa Bumi


Definisi Bencana dan Gempa Bumi
Bencana adalah kejadian yang menghambat kondisi normal dalam komunitas atau lingkungan
dan menyebabkan tingkat penderitaan itu melebihi kapasitas penyesuaian (WHO, 2002).
Menurut UU 24 Tahun 2007 mengartikan jika bencana adalah peristiwa atau kejadian
mengancam nyawa yang biasa disebabkan oleh faktor alam, faktor non-alam, maupun faktor
manusia yang menimbulkan korban jiwa dan menimbulkan kerusakan, seperti kerusakan
lingkungan, kerusakan harta benda, bahkan dampak psikologis seseorang (Indonesia, 2007).
Lambas (2009) dalam Dien, dkk (2015) menjelaskan bahwa bencana merupakan gangguan
yang serius dalam keseharian masyarakat yang menyebabkan kerugian pada kehidupan
sehari-hari seperti ekonomi, lingkungan, bahkan dapat melampaui batas kemampuan
masyarakat itu sendiri.
Jadi jika disimpulkan dari beberapa sumber yang sudah dijelaskan diatas, bencana adalah
kejadian yang dapat mengganggu kehidupan sehari-hari yang dapat mengancam nyawa
seseorang yang disebabkan karena beberapa faktor, yaitu ada faktor alam, faktor non-alam,
dan faktor lingkungan yang bahkan dapat melampaui batas kemampuan seseorang yang
berdampak pada pisokologis masyarakat itu sendiri.
Gempa bumi adalah guncangan yang disebabkan karena berbagai faktor, yaitu ada dari faktor
tumbukan lempeng bumi, patahan lempeng bumi, aktifnya gunung berapi, atau bisa juga karena
runtuhnya bangunan yang cukup tinggi (BNPB, 2019). Gempa bumi juga diartikan dengan
getaran atau guncangan yang berasal dari aktifitas di dalam bumi, yang biasanya di akibatkan
dari pergeseran lempeng bumi dan aktivitas magma (Widyawati & Muttaqin, 2010). Cred (2015)
dalam Simandalahi, dkk (2019) mengatakan jika gempa bumi adalah termasuk bencana paling
tinggi yang menimbulkan korban dibandingkan bencana lainnya.
Jadi dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik garis besar jika bencana gempa bumi
merupakan bencana alam yang terjadi karena adanya aktivitas di dalam bumi seperti
pergeseran lempeng bumi, gunung meletus, dan lain sebagainya, yang biasnaya di tandai
dengan adanya guncangan di permukaan bumi mulai dari guncangan ringan sampai guncangan
yang kencang, dan gempa bumi ini termasuk bencana yang banyak menimbulkan korban
dibanding bencana lainnya.

Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Gempa Bumi


Para ahli menyebutkan jika gempa bumi terjadi karena adanya peristiwa alam yang
menyebabkan getaran pada bumi. Getaran pada gempa bumi ini kebanyakan disebabkan
karena adanya retakan atau pergeseran lempeng bumi. Pergeseran lempeng atau lapisan bumi
ini dibagi menjadi 2, yaitu epirogenetik dan orogenetik. Epirogentik ini jenis pergeseran yang
terjadi secara lambat dan tidak menimbulkan retakan pada bumi. Berbanding terbalik dengan
epirogenetik, pergeseran orogenetik ini terjadi dengan cepat dan menimbulkan retakan dan
patahan pada kulit atau permukaan bumi. Pergeseran orogenetik ini termasuk dalam getaran
tektonik atau getaran yang berasal dari dalam bumi. Selain dari dalam bumi, gempa juga dapat
terjadi karena adanya letusan gunung berapi (Elfiati, 2017). Untuk lebih jelasnya akan di
jelaskan tentang jenis-jenis gempa bumi

Jenis-Jenis Gempa Bumi


Mungkin kita sering mendengar jika gempa bumi biasanya disebabkan karena gunung meletus,
ada juga yang menyebutkan karena gerakan lempeng bumi. Dari pernyataan tersebut bisa di
simpulkan bahwa gempa bumi memiliki berbagai jenis, dan jenis gempa bumi ini dibedakan
melalui penyebabnya. Berikut penjelasan tentang jenis gempa bumi menurut (Fitriani,
Suparman, Rahman, & Zaki, 2017) :
Gempa Bumi Vulkanik (Gunung Api)
Gempa bumi vulkanik ini disebabkan karena adanya aktivitas vulkanisme yang mana
disebabkan karena adanya aktivitas magma, dan menyebabkan erupsi gunung berapi. Gempa
bumi vulkanik ini termasuk gempa yang tidak besar dan biasanya getaran tanah hanya dirasa
disekitar lereng gunung atau di sekitar kaki gunung tersebut.
Gempa Bumi Tektonik
Gempa bumi tektonik, gempa ini termasuk dalam jenis gempa yang sangat kuat dan tentu saja
memiliki dampak yang cukup besar. Gempa tektonik ini disebabkan karena adanya pergeseran
lempeng-lempeng tektonik dengan kekuatan kecil bahkan besar. Berdasarkan teori Plate
(lempeng bumi), bumi terdiri dari beberapa lapisan batuan. Dimana jika adanya pelepasan
tenaga karena pergeseran lempeng tektonik yang ditarik lalu dilepas secara tiba-tiba, maka
lapisan tersebut akan hanyut dan mengapung lalu pecah dan akibatnya pecahan lapisan
tersebut akan bertabrakan antara 1 dengan yang lainnya. Dan hal inilah yang menyebabkan
terjadinya gempa bumi tektonik. Dampak dari gempa tektonik ini banyak menimbulkan
kerusakan, seperti gedung bangunan, sekolah, pasar, dll. Dan karena kuatnya gempa ini,
getarannya bisa dirasakan ke berbagai penjuru bumi sesuai dengan pola pertemuan lempeng
bumi tersebut.
Gempa Bumi Tumbukan
Ada jenis gempa yang cukup jarang terjadi, yaitu gempa bumi tumbukan. Gempa ini jarang
terjadi karena gempa ini disebabkan oleh jatuhnya benda langit seperti meteor, asteroid, dll.
Gempa Bumi Runtuhan
Gempa bumi runtuhan juga gempa yang jarang dirasakan, apalagi di daerah perkotaan. Hal ini
di karenakan gempa runtuhan ini berasal dari runtuhan material bumi yang biasanya terdapat di
daerah kapur atau pertambangan. Jadi, ketika ada material yang runtuh, getaran akan
dirasakan sisekitar tempat kejadian itu saja.
Gempa Bumi Buatan
Ternyata ada juga gempa bumi yang bersifat buatan atau tidak alami. Gempa bumi buatan ini
biasanya karena adanya aktivitas manusia yang menimbulkan getaran bumi. Aktivitas yang
biasanya menimbulkan gempa bumi buatan adalah pelepasan dinamit, nuklir, ataupun palu
yang dipukul ke bumi, ini biasanya ditemukan saat ada pembangunan gedung atau infrastruktur
lainnya.

Gempa Bumi Berdasarkan Kedalaman Hiposentrumnya


Besar kecilnya gempa bumi itu tergantung pada jarak pusat gempa dengan pemukaan bumi
(episentrum). Selain jarak, kedalaman pusat gempa (hiposentrum) juga mempengaruhi
kekuatan gempa yang akan dirasakan. Jika jarak hiposentrum jauh dari permukaan bumi maka
getaran yag dirasakan akan kecil, dan sebaliknya jika jarak hiposentrum dekat dengan
episentrum atau permukaan bumi maka getaran akan sangat terasa (Elfiati, 2017).
Gempa Bumi Dalam
Dengan letak hiposentrum (pusat gempa) di kedalam 300 kilometer di bawah permukaan bumi,
gempa bumi ini termasuk kategori tidak cukup berbahaya.
Gempa Bumi Menengah
Jika sebelumnya gempa bumi dalam memiliki jarak yang jauh dari permukaan bumi, maka ada
jenis kedalaman gempa bumi yang cukup dangkal dari permukaan bumi, yaitu gempa bumi
menengah. Disebut menengah karena jarak hiposentrum (pusat gempa) berada pada 60-300
kilometer di bawah permukaan bumi. Maka jika terjadi gempa bumi dengan kedalam
menengah, getarannya bisa dirasa hingga ke permukaan bumi dan biasnaya akan mulai
menimbulkan kerusakan ringan.
Gempa Bumi Dangkal
Gempa bumi dangkal merupakan kedalam gempa yang cukup bahaya dan akan sangat terasa
getarannya. Hal ini di karenakan letak hiposentrum (pusat gempa) sangat dekat dengan
permukaan bumi yaitu dengan jarak kurang dari 60 km di bawah permukaan bumi. Dan karena
getaran yang sangat terasa, menyebabkan kerusakan yang semakin parah.

Gempa Bumi Berdasarkan Gelombang dan Getaran


Gelombang Primer
Gelombang primer disebut juga sebagai gelombang melingkar (longitudinal), yang mana
gelombang atau getarannya yang berasal dari hiposentrum merambat di lapisan bumi dengan
kecepatan sekitar 7-14 km/detik.
Gelombang Sekunder
Gelombang sekunder atau biasa kenal gelombang naik turun (transversal). Gelomang sekunder
mempunyai sifat yang sama dengan gelombang primer, yaitu sama-sama merambat. Tetapi hal
yang membedakan adalah kecepatannya, gelombang sekunder memiliki kecepatan yang lebih
rendah yaitu 4-7 km/detik. Dan gelombang ini tidak bisa merambat melalui lapisan cair.
Gelombang Panjang
Berbeda dengan dua gelombang sebelumnya, gelombang panjang ini berasal dari episentrum
yang mana getaran gelombang ini merambat di permukaan bumi. Dengan kecepatan antara 3-4
km/detik gelombang panjang dapat menimbulkan kerusakan yang parah di permukaan bumi jika
dibandingkan dengan gelombang lainnya.

Dampak Terjadinya Gempa Bumi


Biarpun jarang terjadi, tetapi gempa bumi menimbulkan dampak yang cukup besar, seperti
rusaknya bangunan perkantoran, sekolah, rumah, bahkan rumah sakit. Juga fasilitas umum
seperti jembatan yang putus, jalanan retak, dll. Tidak hanya rusaknya bangunan dan fasilitas
umum, saat terjadi gempa juga bisa menimbulkan bibit penyakit. Hal ini dapat terjadi karena
ketika di pengungsian terlalu banyak orang dan minim fasilitas yang layak untuk kebutuhan
dasar yang mana dapat memunculkan bibit penyakit ketika menggunakan fasilitas yang
terbatas secara bergantian dan tidak merawat kebersihan dengan baik (Fatma, 2017). Selain
itu, dampak yang dapat terjadi jika gempa bumi dengan kekuatan besar akan mengakibatkan
tsunami.

Skala Kekuatan Gempa Bumi


Setiap terjadi gempa bumi baik getarannya yang dapat dirasa maupun tidak dapat dirasakan,
akan selalu terekam oleh seismograf. Kekuatan gempa bumi biasanya diukur dengan skala
Richter, yang mana kekuatan gempa di ukur sesuai besarnya dengan magnitude-nya atau
getaran gempa itu sendiri. Skala richter ini disusun oleh C. F. Richter tahun 1935, dengan
dimulainya dari angka 0 sampai 8 yang menandakan jika semakin kecil getaran maka semakin
kecil nilai magnitude, dan sebaliknya jika getaran atau kekuatan gempa semakin kuat atau
besar maka akan semakin besar pula nilai magnitude.
Tabel 1
Skala Kekuatan Gempa Bumi Menurut C. F. Richter
Magnitude Klasifikasi Secara Umum
2,0 – 3,4
3,5 – 4,2
4,3 – 4,5
4,8 – 5,4
5,5 – 6,1
6,2 – 6,9
7,0 – 7,3

7,4 – 7,9
> 8,0 Tidak dapat dirasakan manusia, terekam oleh seismogram
Dirasakan sebagian orang saja
Getaran mulai dirasakan banyak orang
Getaran dirasakan semua orang
Terdapat bagunan kecil rusak
Banyak bangunan rusak
Kerusakan lebih besar, bangunan runtuh, rel kereta api bengkok
Kerusakan sangat hebat
Kerusakan total, termasuk dalam bencana besar

Besarnya intensitas gempa bumi dapat diukur guna melihat seberapa besar pengaruh gempa
bumi terhadap kerusakan yang terjadi pada bangunan, sarana prasarana, bahkan manusia.
Pengukuran intensitas gempa biasanya menggunakan skala MMI (Modifited Mercalli Intensity)
yang disusun oleh Mercalli pada tahun 1931. Berikut tabel skala MMI untuk mengukur intensitas
gempa bumi.

Tabel 2
Skala Kekuatan Gempa Bumi Menurut Mercalli
No. Intesitas Klasifikasi Secara Umum
1. I Tidak terasa, hanya beberapa orang yang dapat merasakan karena peka
terhadap getaran
2. II Dirasakan saat sedang istirahat atau tiduran di lantai atau berada di lantai
bertingkat
3. III Dirasakan di dalam ruangan, benda yang di gantung berayun, tidak sadar jika
terjadi gempa
4. IV Orang di dalam ruangan dapat merasakan getaran tapi tidak dengan orang yang
berada di luar. Pintu dan jendela bergetar, dinding berbunyi retakan
5. V Dapat dirasa oleh semua orang baik di dalam ruangan maupun luar ruangan.
Barang kecil mulai berjatuhan
6. VI Dirasakan oleh semua orang. Benda di dinding berjatuhan. Barang pecah belah
rusak atau pecah dengan sendirinya. Pohon bergerak kencang
7. VII Dirasakan semua orang dan mulai susah untuk berdiri. Lantai dan jalanan hancur
8. VIII Getaran terasa kuat dan orang-orang panik berhamburan keluar bangunan.
Banyak bangunan rusak
9. IX Getaran sangat kuat. Rel kereta api bengkok, bangunan bertingkat rusak

Tips Saat Terjadi Gempa Bumi


Di dalam Rumah
Guncangan yang dirasa akan terasa sesaat, maka selama guncangan masih berlangsung
jangan panik dan coba selamatkan diri dan keluarga untuk berlindung. Berlindunglah di bawah
meja agar terhindar dari jatuhan benda-benda yang membahayakan. Jika tidak ada meja,
lindungilah kepala anda menggunakan bantal atau helm. Matikan dan cabut aliran listrik, dan
jika sedang memasak langsung matikan kompor untuk mencegah terjadinya kebakaran. Keluar
dari rumah jika guncangan sudah mulai mereda.
Di Sekolah
Ketika merasakan guncangan diharapkan untuk tidak panik dan segera berlindung di bawah
meja serta gunakan tas atau buku untuk melindungi kepala, pastikan meja untuk berlindung
kuat dan kokoh untuk melindungi diri saat ada runtuhan bangunan. Keluar kelas jika gempa
sudah reda, keluar kelas di awali dengan yang jauh dari pintu dan berkumpul di titik evakuasi
atau lapangan dan menjauh dari gedung atau bangunan bertingkat.
Di Luar Rumah
Jika berada di rumah dan berada di daerah gedung perkantoran, pergi menjauh dari gedung
dan lindungi kepala dengan tangan, tas, atau barang di sekitar yang mampu melindungi kepala
dari bahaya seperti runtuhan atau pecahan kaca gedung.
Di dalam Mall, Bioskop atau Basement
Tidak panik adalah kunci utama agar selamat dari bahaya, tetap ikuti instruksi dari petugas
sekitar dan tetap tenang.
Di Lift
Saat berada di lift dan merasakan guncangan seperti gempa bumi, pencet semua tombol dan
keluarlah saat lift sudah berhenti. Keluar dan perhatikan keadaan sekitar apakah aman atau
tidak, jika aman keluar secara teratur. Turun melalui tangga darurat dan tetap teratur dengan
tidak saling dorong satu sama lain, utamakan kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil,
lansia, dan penyandang disabilitas.
Di Kereta
Supaya tidak terjatuh berpeganganlah pada pegangan yang tergantung atau pada tiang yang
terdekat. Dan selalu ikuti instruksi masinis dan petugas yang ada untuk tetap tenang dan tidak
bertindak gegabah.
Di dalam Mobil
Saat ada guncangan di permukaan tanah, mobil akan mulai hilang kendali. Jika sudah hilang
kendali pinggirkan mobil secara perlahan ke sisi kiri dan jauhi persimpangan. Ikuti instruksi
petugas jika ada atau dengarkan radio untuk mengetahui informasi lebih lanjut.
Di Gunung atau Pantai
Saat disekitar gunung, gempa bumi dapat menyebabkan longsor dari gunung tersebut, segera
cari tempat aman untuk berlindung. Selain itu gempa bumi juga dapat menimbulkan potensi
tsunami, maka dari itu jika sedang berada di pesisir pantai dan melihat tanda-tanda akan terjadi
tsunami seperti patai yang tiba-tiba surut, cepatlah menjauh dari pantai dan pergi ke daerah
dataran tinggi.

Kesiapsiagaan Bencana
Definisi Kesiapsiagaan Bencana
Kesiapsiagaan adalah berbagai kegiatan untuk mencegah jika terjadi bencana melalui
organisasi dengan tepat dan berdaya guna (Indonesia, 2007). Kesiapsiagaan bencana ialah
kegiatan antisipasi terhadap bencana secara benar dan tepat melalui organisasi yang
bersangkutan dengan kebencanaan (BNPB, 2019). Kesiapsiagaan bencana juga diartikan
sebagai bahan rujukan pada kegiatan sebelum terjadinya bencana, yang bertujuan
meningkatkan tingkat kesiapan atau meningkatkan kemampuan individu untuk merespons
bencana. Ini berkaitan dengan peningkatan kapasit as sebelum terjadinya bencana sehingga
dapat meminimalkan dampak buruk dari bencana tersebut (Gakii Ngondi, 2017).
Jadi kesiapsiagaan bencana ialah suatu kegiatan yang dilakukan pada pengorganisasian guna
mengantisipasi bila terjadi bencana, yang dilakukan dengan benar dan tepat.
Tujuan Kesiapsiagaan
Gregg dalam Damayanti (2015) menjelaskan bahwa tindakan untuk meminimalkan efek
samping bahaya dengan tindakan pencegahan yang efektif, efisien, tepat waktu, saat tanggap
darurat dan bentuan saat bencana adalah tujuan dari kesiapsigaan bencana.

Upaya Kesiapsiagaan Bencana


BNPB telah menjabarkan beberapa poin untuk upaya kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi
bencana. berikut upaya-upaya yang perlu diterapkan menurut BNPB dalam (BNPB, 2019) :
Memahami bahaya apa saja yang ada di lingkungan sekitar
Mengetahui tentang sistem peringatan dini saat terjadi becana serta tahu titik mana
yang di jadikan tempat evakuasi dan pengungsian
Dapat berfikir cepat untuk memahami kondisi sekitar secara cepat dan bertindak mandiri
untuk melindungi diri
Membiasakan diri berlatih bersama keluarga untuk mengantisipasi datangnya bencana
Mengikuti latihan mitigasi guna mnegurangi dampak dari bencana
Mengikuti pelatihan mengenai kebencanaan

Rencana Kesiapsiagaan
Rencana kesiapsiagaan sangat diperlukan dalam menghadapi bencana yang datang secara
tiba-tiba, dengan adanya bencana maka saat terjadi bencana tidak lagi bingung untuk apa yang
harus dilakukan, apa yang harus dibawa dan tidak panik. Oleh karena itu di dalam keluarga
harus mempunyai rencana darurat, seperti mengetahui ancaman di sekitar rumah, mengetahui
titik kumpul yang pastinya jauh dari daerah rawan bencana, setiap keluarga mempunyai nomer
penting darurat seperti pemadam kebakaran, ambulans, BNPB, polisi dan nomer darurat
lainnya, serta dapat memprioritaskan kelompok rentan yang ada dalam keluarga tersebut
seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia.
Selain rencana darurat, setiap rumah dihimbau untuk mempunyai atau menyiapkan Tas Siaga
Bencana. Tas Siaga Bencana (TSB) ini sangat bermanfaat jika sewaktu-waktu terjadi bencana,
karena tas ini berisi barang berharga seperti surat-surat penting dan barang kebutuhn dasar
untuk 3 hari kedepan.
Rencana yang terakhir adalah selalu mencari tahu dan memperhatikan informasi dari berbagai
sumber tentang bencana yang terjadi, karena dengan informasi yang cukup akan sangat
membantu ketika dalam keadaan sulit.

Faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan bencana


Faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan bencana menurut Muhammad dan Abdul dalam
(Rofifah, 2019) adalah sebagai berikut :
Pendapatan
Pendapatan yang dimaksud disini mempengaruhi siap tidaknya menghadapai bencana. Jika
individu yang mempunyai pendapatan lebih tinggi ia akan lebih siap dalam menghadapi
bencana, berbanding terbalik dengan yang memiliki pendapatan rendah yang kesiapan
terhadap bencana tidak sebaik pendapatan tinggi.
Ras
Salah satu faktor yang membuat individu tidak siap mengahadapi bencana ialah individu
dengan ras minoritas. Hal ini karena ras minoritas yang berada di lingkungan yang minoritas
menyebabkan kurangnya informasi.
Jenis kelamin
Wanita lebih rentan terhadap bencana, ini di karenakan wanita lebih mudah panik ketika terjadi
bencana.
Kepemilikan property
Kepemilikan properti ini bisa dihubungkan dengan pendapatan. Karena kepemilikan properti ini
dipengaruhi oleh kepemilikan property seperti rumah atau bangunan yang biasanya jika orang
yang menyewa properti.
Usia
Dalam konteks usia, yang paling rentan dalam kelompok ini adalah lansia.
Pendidikan
Individu dengan pendidikan lebih tinggi akan lebih siap dalam menghadapi bencana dibanding
dengan yang memiliki pendidikan yang lebih rendah.
Pengalaman
Pengalaman merupakan pembelajaran yang paling baik, karena jika individu yang mempunyai
pengalaman terhadap bencana pasti sudah pernah merasakan dan tahu apa saja yang baiknya
harus dilakukan.

Kesiapsiagaan Individu
Dalam kajiannya LIPI–UNESCO/ISDR (2006) menjabarkan jika kesiapsiagaan individu dan
rumah tangga dikelompokkan menjadi beberapa indikator, yaitu ada pengetahuan dan sikap,
perencanaan kedaruratan, warning system, dan mobilisasi sumber daya. Untuk lebih jelasnya
akan disampaikan sebagai berikut:
Pengetahuan dan Sikap
Pengetahuan dan sikap ini adalah pondasi awal dalam mengantisipasi bencana, karena jika
pengetahuan tinggi diharapkan individu untuk lebih siap dan siaga dalam menghadapi bencana.
Rencana Tanggap Darurat
Kesiapan individu dalam menghadapi bencana gempa bumi tentu saja mempunyai elemen
penting yang harus disiapkan, salah satunya adalah rencana tanggap darurat. Oleh karena itu
individu harus paham betul jalur evakuasi di lingkungan sekitarnya seperti letak titik evakuasi di
rumah maupun sekolah.
Sistem Peringatan
Hal penting lainnya dalam kesiapsiagaan ini adalah sistem peringatan (warning system). Sistem
peringatan ini dapat disampaikan secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat
sehigga masyarakat dapat langsung mengetahui dan bersiap untuk menyelamatkan diri. Sistem
peringatan ini juga diharapkan untuk sampai kepada masyarakat dalam waktu yang cepat saat
terjadinya bencana.
Mobilitas Sumber Daya
Bentuk mobilisasi sumber daya ini adalah seperti mengikuti pelatihan, seminar, atau pertemuan
yang membahas tentang kesiapsiagaan bencana. Sehingga dengan mengikuti pelatihan atau
seminar tersebut, individu akan bisa untuk memberikan pelajaran kepada masyarakat tentang
kesiapsiagaan bencana.

Pengetahuan
Definisi
Ilmu pengetahuan menurut Undang-Undang No 11 Tahun 2019 adalah informasi yang dicari,
disusun, dan dikembangkan dengan sistematis menggunakan metode ilmiah untuk
menerangkan atau membuktikan gejala yang ada di alam ataupun masyarakat sesuai dengan
keyakinan Kepada Tuhan Yang Maha Esa (Indonesia, 2019).
Menurut Notoatmodjo, pengetahuan merupakan dari tahu, yang mana berasal dari pengindraan
manusia seperti indra penglihatan, penciuman, pendengaran, dan lainnya terhadap suatu objek.
Saat pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan, intensitas perhatian dan persepsi
terhadap objek sangat mempengaruhi (Soekirdjo Notoatmodjo, 2012).
Jadi dari beberapa sumber di atas, bisa disimpulkan jika pengetahuan ialah sebuah informasi
atau objek yang di terima oleh berbagai indera tubuh yang mana nanti informasi tersebut akan
di cari dan di susun secara sistematis untuk dapat dijelaskan dan menghasilkan persepsi
terhadap seuatu objek atau informasi tersebut.

Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan biasanya diindikasikan dari tinggi atau rendahnya tingkat pendidikan individu
tersebut, sehingga mempengaruhi respon individu. Ternyata tidak semua yang memiliki tingkat
pendidikan lebih tinggi mempunyai tingkat pengetahuan yang lebih luas juga. Pernyataan ini
diperkuat dalam (Kurniawati, 2017) bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa pada kebencanaan
masuk dalam kategori pengetahuan kurang dengan hasil presentase (74,4%). Sedangkan
dalam penelitian (Nur Faizah R, 2016) siswa SMP dalam kategori sangat siap terdapat (88,7%).
Hal ini membuktikan jika pendidikan yang lebih tinggi belum tentu mempunyai pengetahuan
yang lebih tinggi dalam kesiapsiagaan bencana. Notoatmodjo dalam (Wawan & Dewi, 2010)
mengatakan jika ada beberapa tingkatan dalam domain kognitif, yaitu:
Tahu (know)
Tahu disini mempunyai arti sebagai mengingat sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya dan
dapat mengingat apa yang telah dipelajarinya tersebut secara spesifik seperti apa yang telah
diterima.
Memahami (comprehension)
Kalau memahami ini sedikit berbeda dari Know, karena memahami ini tidak hanya mengingat
tapi dapat menjelaskan dan menjabarkan objek dengan baik dan benar. Individu yang
memahami akan mudah untuk menyimpulkan secara ringkas atas apa yang sudah dijelaskan
sebelumnya.
Aplikasi (application)
Aplikasi ini dimana jika terjadi sesuatu, individu dapat melakukan suatu tindakan sesuai yang
ada di teori sebelumnya, ini biasanya di sebut dengan pengaplikasian teori.
Analisis (analysis)
Analisis diartikan untuk menjabarkan suatu materi ke dalam beberapa komponen, tetapi masih
saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya.
Sintesis (synthesis)
Sintesis ini adalah semacam kemampuan untuk menggabungkan satu materi atau formulasi
dengan materi yang lainnya.
Evaluasi (evaluation)
Evaluasi biasanya dilakukan diakhir yang bertujuan untuk meringkas suatu materi. Dan
ringkasan ini berdasarkan dengan kriteria yang sudah ada sebelumnya atau kriteria yang
ditentukan sendiri.

Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan


Dalam Wawan & Dewi (2010), Notoatmodjo menjabarkan bahwa pengetahuan dipengaruhi oleh
beberapa faktor, faktor-faktornya sebagai berikut :
Faktor Internal
Pendidikan
Pendidikan merupakan tempat yang memiliki peran penting dan bagus untuk melakukan
pengajaran tentang kesiapsiagaan bencana melalui tenaga pengajar yang sudah mendapatkan
pelatihan terkait bencana. Tingkat sekolah ataupun univeritas yang termasuk dalam pendidikan
formal mungkin mempunyai waktu yang cukup panjang atau lama untuk dilakukannya pelajaran
dan pelatihan kesiapsiagaan bencana. Tetapi tidak hanya melalui pendidikan formal pelajar bisa
mendapatkan ilmu tentang kebencanaan, tapi bisa juga dari pendidikan non-formal seperti
komunitas atau lembaga-lemabga yang memiliki sangkut paut dengan kebencanaan yang mana
nanti akan ada pendidikan dan pelatihannya. Dan biasanya individu yang memiliki tingkat
pendidikan yang lebih tinggi akan memiliki tingkat kesiapan dan pengetahuan yang lebih baik
dibanding di bawahnya. Hal ini karena informasi yang didapat akan lebih banyak dan lebih luas
lagi jika individu memiliki tingkat pendidikan yang tinggi.
Pekerjaan
Pekerjaan menurut Thomas ialah kegiatan yang perlu dilakukan guna memenuhi kehidupannya
beserta keluarga. Pekerjaan ini bukanlah kegiatan yang menyenangkan, tetapi guna mencari
nafkah yang kadang banyak tantangan di dalamnya.
Umur
Bertambahnya usia bukan berarti berkurangnya pengetahuan. Bertambahnya usia itu
menandakan bertambah pula pengalaman yang didapat, begitu juga dengan ilmu yang semakin
bertambah karena adanya peningkatan pola pikir dan daya tangkap.
Faktor Eksternal
Lingkungan
Tidak hanya dengan tercukupnya fasilitas, tetapi faktor lingkungan juga mempengaruhi proses
pembelajaran, karena proses pembelajaran akan berjalan dengan lancar dan baik jika
lingkungan belajar terasa nyaman.
Sosial Budaya
Sosial budaya tiap individu berbeda-beda. Jika individu berada di lingkungan sosial budaya
yang baik, maka hal tersebut akan meningkatkan pengetahuan dengan cara berpikir yang
sesuai dengan ilmu di lingkungan tersebut. Lalu status ekonomi ini berpengaruh karena
ketersediaan atau kecukupan fasilias yang dimiliki ini mempermudah proses pembelajaran jika
di manfaatkan dengan baik.

Cara Memperoleh Pengetahuan


Notoatmodjo dalam Wawan & Dewi (2010) disebutkan cara memperoleh pengetahuan, sebagai
berikut:
Cara Kuno
Cara coba salah (Trial and Error)
Cara coba salah ini sudah ada sejak belum adanya peradaban. Caranya adalah dengan
mencoba memecahkan suatu masalah dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada, jika
belum berhasil maka akan terus di coba sampai masalah tersebut terpecahkan.
Cara kekuasaan atau otoritas
Pegetahuan yang didapat melalui cara ini yaitu bersumber dari pemimpin dari masyarakat
tersebut baik formal atau informal, ahli agama, pemerintahan dan lain-lain. Dan cara ini adalah
cara yang mengambil pengetahuan secara mentah tanpa mencari tahu kebenaran dan fakta
yang sesungguhnya.
Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi adalah sumber pengetahuan yang cukup bagus karena dengan adanya
pengalaman, pemecahan masalah akan lebih mudah dengan cara mengulang kembali masalah
yag telah di alami.
Cara Modern
Di awali dengan Francis Bacon yang kemudia di kembangkan oleh Deodold Van Daven, untuk
mendapatkan pengetahuan bisa melalui metode ilmiah atau biasa disebut metode penelitian.
Hingga akhirnya metode ini dikenal sebagai penelitian ilmiah.

Kriteria Tingkat Pengetahuan


Arikunto dalam Wawan & Dewi (2010) berpendapat jika pengetahuan dapat diketahui dan
diintepretasikan dengan skala dengan kualitatif, sebagai berikut:
Baik : rentang presentase 76% - 100%
Cukup : rentang presentase 56% - 75%
Kurang : rentang presentase > 56%

Self Efficacy
Definisi
Dalam teori Bandura, self efficacy diartikan tentang bagaimana individu percaya dengan
kemampuan yang dimilikinya untuk mencapai tujuan (Bandura, 1994). Self efficacy merupakan
respon diri terhadap suatu kejadian dalam lingkungannya dalam bentuk keyakinan terhadap
kemampuannya untuk melakukan suatu bentuk kontrol terhadap diri sendiri menurut Bandura
dalam (Manuntung, 2015).
Tapi self efficacy bukan hanya saat individu diposisi sulit dan tertekan, tetapi juga bisa untuk
mengembangkan motivasi dan terkadang untuk mencapai keinginan, hal ini menurut Baron
dalam (Husni, dkk, 2016).
Self efficacy ialah kemampuan individu terhadap tindakan yang akan dilakukan individu saat
mengatasi situasi dalam hidupnya, dan individu ini akan melihat kemampuan atau kepercayaan
dirinya terhadap kemampuannya dalam melakukan sesuatu.
.
Sumber – Sumber Self efficacy
Bandura (1997) dalam Mahmudi & Suroso (2014) mengungkapkan bahwa self efficacy
dikembangkan tiap individu dengan empat sumber sebagai dasar terbentuknya self efficacy.
Sumber-sumber tersebut ialah:
Hasil yang telah dicapai
Dengan adanya bukti menunjukkan bahwa sumber ini yang paling efektif untuk meningkatkan
kemampuan individu.
Pengalaman vikarius/seolah mengalami sendiri
Sumber ini didapat dari seseorang yang dijadikan poros. Ketika poros tersebut mencapai suatu
hal yang baik, maka efikasi diri individu akan naik. Tetapi efikasi diri akan turun jika individu
melihat seseorang yang dijadikan poros tersebut mempunyai kemampuan yang kiranya sama
dengan individu tersebut.
Persuasi social
Persuasi ini mempunyai dampak yang cukup berpengaruh bagi sebagian individu. Jika individu
mempercayai persuasi dari orang lain, maka hal tersebut dapat menurunkan efikasi diri dari
individu tersebut.
Keadaan emosi/fisik
Efikasi diri dapat dipengaruhi dari kegiatan yang sedang dilakukan individu. Jika individu
individu sedang dalam emosi yang tidak bagus seprti stress, cemas, takut, maka hal itu akan
menurunkan efikasi diri. Akan tetapi efikasi diri juga dapat meningkat saat emosi meningkat
tetapi dalam batas wajar.

Aspek Self Efficacy


Aspek-aspek self efficacy menurut Bandura (1994), yaitu:
Level / Magnitude
Pada aspek level, hal ini berkaitan dengan saat individu dihadapkan dengan berbagai tugas
dengan tingkat kesulitan berbeda. Maka individu akan mengerjakan atau melakukan sesuai
kapasitas dirinya, bisa saja hanya sebatas tugas yang mudah, sedang, bahkan mungkin bisa
melampaui batas yang lain dengan mengerjakan yang sulit. Semua ini dilakukan sesuai dengan
batas kemampuan tiap masing-masing individu.
Generality
Generalisasi ini berhubungan dengan tingkah laku individu yang merasa yakin dengan
kemampuan yang dimilikinya. Individu ini akan merasa yakin dengan dirinya saat di situasi yang
bervariasi.
Strength
Strength atau kekuatan ini mengacu pada keyakinan atau penghargaan individu mengenai
kemampuan dirinya. Jika keyakinan individu tersebut lemah, maka akan mudah goyah dan tidak
akan siap dan kuat untuk menghadapi masalah yang di hadapi, menyerah di awal. Sebaliknya,
jika keyakinan individu kuat maka individu tersebut akan siap dan bertahan dalam usahanya,
tidak menyerah.

Faktor yang Mempengaruhi Self Efficacy


Bandura (1994) menjabarkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi self efficacy, berikut
faktor-faktornya:
Budaya
Pada proses pengaturan diri, nilai dan kepercayaan tiap individu berpengaruh dalam konteks
budaya. Hal ini karena budaya menjadi sumber penilaian self efficacy dan menjadi konsekuensi
akan self efficacy tiap individu.
Jenis kelamin
Self efficacy antara laki-laki dan perempuan tidaklah sama. Menurut Bandura jika wanita
memiliki efikasi diri lebih baik dibandingkan dengan laki-laki dalam mengelola perannya. Karena
wanita dapat membagi perannya sebagai ibu rumah tangga dan juga sebagai wanita karir.
Sikap dan tugas yang dihadapi
Dalam faktor ini dapat dilihat penilaian individu terhadap kemampuan dirinya. Jika tantangan
yang dihadapi maka individu akan semakin rendah menilai kemampuannya, hal ini karena
individu mengganggap dirinya kurang mampu menghadapi tugas tersebut. Berbanding terbalik
jika individu mendapatkan tugas yang mudah maka individu tersebut akan semakin tinggi
menilai kemampuan dirinya, ini karena individu merasa bisa dan mudah saat mengerjarakan
tugas tersebut.
Intensif eksternal
Bandura menyatakan bahwa intensif juga termasuk dalam faktor yang mempengaruhi self
efficacy yaitu competent contingen incentive yang dapat diartikan intensif yang diberikan orang
lain untuk merefleksikan keberhasilan orang lain.
Status dan peran individu dalam lingkungan
Status dan peran ternyata juga mempengaruhi self efficacy individu. Jika berada pada status
yang tinggi maka kontrol pada self efficacy lebih besar, yang menandakan individu pada status
ini cukup bebas dalam melakukan apapun tanpa harus di control oleh orang lain. Sebaliknya
jika berada pada status yang rendah, maka kebebasan dalam self efficacy lebih sulit.
Informasi tentang kemampuan diri
Tidak hanya status yang terjadi kesenjangan, tapi informasi tentang kemampuan diri juga
memiliki kesenjangan antara yang rendah dan yang tinggi. Jika memiliki self efficacy rendah,
individu akan mendapat informasi negative tentang dirinya. Lalu jika individu memiliki self
efficacy tinggi, maka ia akan mendapat informasi postif akan dirinya.

Klasifikasi Self Efficacy


Permana, et al., (2014) dalam Ropiah (2019) menjelaskan bahwa terdapat dua klasifikasi yang
membedakan self efficacy tiap individu, diantaranya ialah:
Self Efficacy Rendah
Self efficacy rendah yang dimaksud disini adalah individu yang tidak percaya pada
kemampuannya seperti dengan cara tidak mengerjakan tugas, akan merasa mendapat
ancaman ketika ada tugas yang menurutnya sulit, dan tidak berfikir.
Self Efficacy Tinggi
Individu dengan self efficacy tinggi ini tipe yang tidak mudah menyerah, selalu yakin pada
kemampuan yang dimiliki dirinya, suka hal-hal yang baru, dan akan selalu mengerjakan tugas
bahkan yang susah sekalipun.

Pengaruh Self Efficacy


Menurut Bandura dalam Manuntung (2015), self efficacy mempunyai dampak dalam kehidupan
seseorang. Maka dari itu adanya pengaruh dalam self efficacy pada tiap individu, sebagai
berikut:
Kognitif
Penetapan tujuan pribadi dipengaruhi oleh bagaimana individu menilai kemampuan dirinya.
Semakin kuat self efficacy yang dirasakan, semakin tinggi tantangan pencapaian yang
ditetapkan seseorang untuk dirinya sendiri sendiri maka semakin kuat komitmen mereka pada
tujuan yang ingin dicapai.
Motivasional
Self efficacy membantu individu menciptakan kepercayaan tentang apa yang bisa dilakukan
indivdu dalam bentuk motivasi. Bentuk motivasi yang diciptakan ialah menetapkan target yang
dirancang untuk masa depan mereka sendiri agar lebih berharga.
Afektif
Self efficacy bisa mengatur emosi tiap orang. Saat seseorang memiliki self efficacy rendah
maka ia akan rentang dengan depresi. Karena jika semakin tinggi self efficacy seseorang maka
tingkat stress dan kecemasan akan menurun.
Seleksi
Self efficacy ini dapat membentuk tindakan seseorang untuk melakukan kegiatan yang lebih
menantang atau beda dari yang lain dengan proses kognitif yang baik atau sebuah motivasi
yang positif.

Remaja
Definisi
Masa remaja adalah periode di mana seseorang menjadi matang secara fisik dan psikologis
dan memperoleh jati diri mereka (Berman, Snyder, & Frandsen, 2016).
Rentang usia remaja menurut WHO adalah 10-19 tahun, sedangkan menurut PerMenKes
nomer 25 tahun 2014 bahwa remaja masuk dalam umut 10-18 tahun, dan berbeda lagi menurut
BKKBN yang menyatakan bahwa remaja berada pada rentang usia 10-24 tahun dan belum
menikah. Dengan banyaknya perbedaan rentang usia remaja, jadi belum bisa dipastikan remaja
berada pada rentang usia yang mana dengan tepat. Walaupun belum bisa dipastikan dengan
tepat, pada tahap perkembangan ini dimana remaja mulai lepas dari tahap anak-anak dan akan
masuk ke tahap berikutnya yaitu masa dewasa. Oleh karena itu pada tahap remaja ini, tiap
individu sudah mulai mempunyai tanggung jawabnya sendiri (Kusumaryani, 2017).

Karakteristik Perkembangan Remaja


Perkembangan fisik
Pada teori Kozier dalam Berman et al., (2016) dijelaskan selama masa pubertas, pertumbuhan
fisik akan lebih cepat dibandingkan saat masih kanak-kanak yang tergolong lambat. Tahap
perkembangan ini bisa disebut dengan perkembangan remaja pada masa subur, hal ini diikuti
dengan perubahan fisik yang terjadi secara drastis. Perubahan fisik ini atau selama masa
pubertas ini biasa dialami oleh laki-laki pada usia antara 12 sampai 16 tahun, sedangkan pada
wanita terjadi lebih awal yaitu pada rentang usia 10 sampai 14 tahun. Karena hal inilah banyak
anak perempuan yang lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki pada awal masa pubertas,
karena masa pertumbuhan wanita yang lebih awal dibandingkan dengan laki-laki.
Pertumbuhan Fisik
Pada pertumbuhan fisik, yang sangat terlihat yaitu pada bagian muskuloskeletal, yang mana
terjadi pertumbuhan tulang dan tinggi badan akan sangat kentara pertumbuhannya.
Pertumbuhan fisik ini juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti faktor keturunan, nutrisi,
perawatan medis, lingkungan fisik, dan emosial, ukuran keluarga, serta budaya.
Perubahan Glandular atau Kelenjar
Terjadi peningkatan kerja pada kelenajar ekrin dan aprokin yang mana menjadi berfungsi
secara penuh selama masa pubertas. Kelenjar ekrin yang dapat ditemukan pada sebagian
besar tubuh untuk menghasilkan keringat. Sedangkan kelenjar aprokin yang menyebar pada
daerah aksila, kulit kepala, genital, area tubuh lainnya yang banyak memiliki folikel rambut.
Keringat aprokin ini dilepaskan jika ada respon rangsangan emosi. Selain kelenjar ekrin dan
aprokin, kelenjar sebaceous juga menjadi aktif di bawah pengaruh androgen pria dan wanita.
Kelenjar ini sangat aktif di area wajah, leher, bahu, punggung atas, serta dada, dan kelenjar
inilah yang menyebabkan timbulnya jerawat.
Karakeristik Seksual
Selama masa pubertas, karakteristik seksual primer dan sekunder muncul secara bersamaan.
Pertumbuhan karakteristik seksual primer adalah organ yang diperlukan untuk bereproduksi
seperti testis, penis, ovarium, vagina, dan rahim. Sedangkan pertumbuhan karakteristik seksual
sekunder adalah yang tidak berkaitan langsung atas reproduksi, seperti munculnya rambut
kemaluan, pertumbuhan payudara, dan perubahan suara.
Tanda-tanda yang terjadi pada laki-laki adalah tumbuhnya rambut pada daerah kemaluan,
pembesaran skrotum, dan perubahan suara yang menjadi lebih berat. Perubahan yang terjadi
pada wanita adalah tumbuhnya rambut pada daerah kemlauan, pembesaran payudara, dan
biasanya selama 1 setangah tahun sampai 2 tahun periode menstruasi sangat sedikit dan tidak
teratur.
Perkembangan Psikososial
Menurut Erikson, perkembangan psikososial pada remaja adalah pembentukkan idenitas dalam
diri remaja tersebut. Dalam pembentukan identitas ini ada bahaya yang dapat mengganggu
remaja yaitu kebingungan peran. Erikson mengatakan jika saat terjadi krisis identitas ini remaja
akan saling membantu dengan membuat kelompok kecil atau perkumpulan remaja yang
biasanya hal ini terjadi pada saat SMP atau SMA.
Identitas individu
Pada tahap ini, remaja akan mengulang tahap perkembangan sebelumnya seperti
mengembangkan kepercayaan terhadap diri sendiri maupun orang lain untuk mereka beri
kepercayaan. Perkembangan ini juga merujuk untuk mendapat otonomi mereka sendiri, bisa
bebas memilik apa yang mereka inginkan.
Indentitas kelompok
Memiliki kelompok dalam kehidupan social merupakan hal yang sangat lumrah pada kehidupan
remaja, terlebih remaja awal. Remaja perlu membangun konsep diri yang dapat diterima, baik
kekuatan ataupun kelemahan pribadi. Dalam membangun konsep diri, banyak remaja yang
kesulitan untuk membangun citra diri yang positif dan dapat diterima oleh banyak orang. Karena
hal inilah remaja dapat diterima ataupun ditolak dalam kelompok. Bagi remaja yang dapat
diterima dan disayangi dalam kelompok maupun keluarga akan mempunyai kepercayaan diri
dan merasa pantas akan dirinya. Berbeda dengan remaja dengan cacat fisik atau penyakit akan
rentan pada penolakan dari kelompok ataupun teman sebaya.
Identitas peran seksual
Membangun identitas seksual dan memperjelas orientasi seksual seseorang terjadi pada akhir
masa remaja. Remaja akan mengeksplorasi gambar, fantasi, ide, dan peran seksual. Lalu
bereksperimen pada pakaian, bahasa, gaya bicara, dan interaksi social seperti kencan,
kegiatan remaja, dan lain sebagainya. Pada masa remaja juga, mereka akan mulai mencari role
model atau kiblat yang dapat sangat mempengaruhi remaja dalam berfikir dan berperilaku
seperti orang tua, actor, atau penyanyi idola yang mereka kagumi.
Identitas dalam keluarga
Pada usia 15 tahun, banyak remaja yang mulai menghabiskan waktunya bersama teman
sebaya mereka dibandingkan dengan orang tua atau dengan keluarganya. Karena pada masa
remaja awal, mereka akan mencari kebebasan tanpa kekangan dari orang tua yang tidak
sesuai dengan kemauan dirinya. Karena hal ini pula tidak jarang terjadi perselisihan dalam
keluarga karena adanya kesenjangan generasi antara anak dan orang tua. Kesenjangan ini
terjadi karena perbedaan persepsi antara remaja dan orang tua. Biarpun begitu, sebenarnya
remaja masih membutuhkan bimbingan dari orang tua tetapi dengan cara yang membuat
mereka nyaman.
Perkembangan kognitif
Menurut Piaget dalam perkembangan kognitif, kemampuan kognitif akan matang selama masa
remaja. Peran utama dalam tahap ini adalah bahwa orang dapat berpikir di luar logika dan di
luar realita, karena remaja sangat imajinatif dan idealis. Saat orang lain mungkin menganggap
sesuatu yang tidak ada tapi mereka akan mencoba eksplorasi untuk mencari tahu dan
menemukannya. Ketika melakukan hal tersebut mereka membutuhkan logika,
pengorganisasian, dan konsistensi. Saat tahap remaja, mereka akan lebih luas untuk menerima
informasi dari beraneka macam sumber. Dengan informasi tersebut pula, remaja dapat
menyerap dan menggunakan dengan baik. Dari ilmu yang dimilikinya, remaja akan mulai
terbiasa dan mulai bisa menentukan bidang yang ia sukai dan mulai merencanakan untuk masa
depannya.
Perkembangan moral
Menurut Kohlberg, biasanya remaja muda berada pada tingkat perkembangan moral yang
konvensional. Mereka menerima dan mengikuti aturan hukum yang berlaku dan memeriksa nilai
dan standar moral yang mereka miliki. Remaja juga memilah nilai-nilai moral yang telah
diberikan oleh orang tua mereka, jika ada yang tidak sesuai akan mereka tinggalkan, mereka
akan mengambil sesuai dengan apa yang menurut mereka benar. Berbeda lagi saat sudah
masuk tahap post-konvensional, remaja akan mulai mempertanyakan aturan dan hukum yang
berlaku dengan kenyataan yang ada, bahkan tidak sesuai dengan pendapat pribadi. Dari sini
remaja akan mulai mempertimbangkan hukum secara rasional.
Perkembangan spiritual
Pada tahap ini, fokus remaja menjadi lebih sering pada hal-hal interpersonal, seperti jika ibadah
mereka akan memilih beribadah sendiri di kamar. Menurut Fowler, remaja atau dewasa muda
ini masuk dalam tahap perkembangan spiritual-konvensional sintesis. Dimana mereka mulai
menemukan berbagai kepercayaan, perbedaan pendapat, serta perilaku mengenai agama.
Risiko kesehatan
Remaja banyak menghadapi risiko kesehatan terlebih yang berhubungan dengan perilaku
kesehatan. Psikologis dan emosional remaja juga mulai rawan bermasalah ketika individu tidak
kuat menghadapi masalah yang dihadapinya. Menurut Masi & Liboni (2011) dalam (Berman et
al., 2016), skizofrenia dapat muncul pada usia 13 tahun dengan prevalensi 0,5 % pada remaja
usia 13 sampai 17 tahun. Saat tinggal di asrama, remaja juga memiliki tingka risiko yang tinggi
untuk penyakit menular seperti campak, pneumonia meningitis, hepatitis, dan penyakit meular
lainnya.

Krisis Remaja
Definisi
Menurut Erikson dalam Hidayah & Huriat (2016) identitas adalah masa sulit yang dialami
remaja. Identitas diri ialah dimana individu menyadari dirinya sendiri melalui observasi dan
penilaian terhadap dirinya sendiri, hingga mengetahui dirinya berbeda dengan orang lain.
Sedangkan masa remaja adalah transfigurasi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa
yang disertai dengan perubahan fisik, kognitif, dan psikososial.
Jadi dapat disimpulkan, jika krisis identitas diri adalah keadaan yang dialami saat berada di
tahap perkembangan remaja, dimana remaja mulai mencari identitas diri, seperti “siapa aku?”
atau “akan menjadi apa aku kedepannya?”.

Pembentukkan Identitas
Sebenarnya indentitas sudah di bangun sejak kecil, tetapi setelah masuk masa remaja, individu
mulai sulit untuk membuat keputusan terhadap masalah penting yang menyangkut dirinya. Eric
Erikson berpendapat jika krisis remaja ini ada kaitannya dengan krisis psikososial yang dialami
dengan hubungan social yang mendasari krisis tersebut. Ia juga percaya jika anak berkembang
secara social akan memiliki dampak pada perkembangan kepribadian individu tersebut.
Perkembangan psikososial terdiri dari 8 tahapan, yang menurut Erikson dalam Hidayah & Huriat
(2016) individu harus melewati tahap demi tahap sebelum lanjut ke tahap selanjutnya.
Basic Trust vs Mistrust (1 tahun pertama)
Pada tahap ini adalah awal mula bayi untuk membangun kepercayaan dengan lingkungan
sekitar melalui ibunya.
Autonomy vs Shame and Doubt ( usia 2 tahun)
Di tahap ini anak mulai mencoba mandiri dan mendapatkan keadilan.
Inisiative vs Guilt (3-5 tahun)
Anak pada usia ini sudah mulai mempunyai inisiatif, mulai melakukan kontrol, dan mencoba
untuk menumbuhkan ketergantungan pada orang lain.

Industry vs Inferiority (6 tahun – pubertas)


Di tahap ini anak mulai produktif dan rasa ingin tahu akan dunia luar meningkat. Jika tahap ini
gagal, anak akan merasa rendah diri dan ragu untuk menghadapi tahap berikutnya.
Identity vs Roleconfution (remaja)
Disinilah remaja mulai memperhatikan penampilan dirinya dan memikirkan bagaimana orang
lain memandang diriya. Pada tahap ini pula dimana remaja mulai mencari identitas dirinya untuk
sekarang dan masa depan.
Intimacy vs Isolation (dewasa muda)
Tahap ini individu mulai mencoaba untuk memulai komtimen degan orang lain dalam suatu
hubungan, dan membangun kepercayaan serta berbagi dalam hubungan. Jika pada tahap ini
tidak berhasil, individu akan merasa terisolasi dan merasa sendirian di dunia ini.
Generativity vs Stagnation (usia pertengahan)
Mulai mengemban tanggung jawab, mereka baru akan merasakan kemandirian dan dapat
memenuhi kebutuhannya sendiri, dan mulai memikirkan kehidupan generasi selanjutnya
dengan kata lain adalah anak.
Integrity vs Despair ( usia tua)
Pada tahap terakhir ini, mereka mulai reka ulang apa yang telah dilakukannya di masa muda
dan apa manfaat yang didapat. Dan mereka juga sudah mulai mempersiapkan kematian secara
terhormat.

Penyebab Krisis Remaja


Penyebab dari krisis identitas biasanya disebabkan karena merasa dirinya selalu diatur
sehingga tidak bisa leluasa melakukan apa yang mereka inginkan. Selanjutnya mengejar
penghargaan dari lingkungan, pola pikir dari lingkungan bisa mempengaruhi seseorang, jadi
individu tersebut merasa gagal bila tidak sejalan dngan apa yang orang lain pikirkan. Agar tidak
gagal, akhirya individu tersebut hanya mengejar pengakuan dari orang lain tanpa memikirkan
apakah ia telah menemukan identitas dirinya. Yang terakhir adalah pendangan yang sempit dan
terbatas.

Cara Individu dengan Identitas Diri yang Positif


Mengenal diri sendiri sebagai organisme yang utuh dan berbeda dengan orang lain
Dapat menerima jenis kelaminnya sendiri
Memandang dirinya dari berbagai aspek sebagai suatu keserasian
Mampu melihat diri sendiri sama dengan penilaian masyarakat
Menyadari hubungan dari masa yang lalu, sekarang, dan yang akan datang
Mempunyai tujuan yang bernilai untuk dicapai

Karakteristik Responden
Jenis Kelamin
Jenis kelamin dibedakan menjadi 2, yaitu laki-laki dan perempuan yang sudah ada sejak lahir
ke dunia. Dalam penelitian akan dilihat apakah ada pengaruh jenis kelamin dengan
kesiapsiagaan bencana.

Usia
Menurut Ilfa (2010) dalam (Santika, 2015) usia adalah rentang hidup yang di ukur dengan
tahun, dikatakan dewasa awal usia 18-40, dewasa madya atau dewasa tengah 41-60 tahun,
dan dewa lanjut > 60 tahun. Dalam penelitian ini akan di lihat apakah ada pengaruh usia
dengan kesiapsiagaan bencana.

Penelitian Terkait Tabel 3. Penelitian Terkait


No. Judul, Nama Peneliti, Dan Tahun Metode Hasil Penelitian
1. Hubungan pengetahuan dengan kesiapsiagaan bencana gempa bumi pada siswa
Taman Pendidikan Al-Qur’an Al-Khair Kabupaten Bonebolango (Rusiyah, 2017).
Model penelitian [Link] data melalui studi pustaka, observasi, keusioner,
wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) tingkat
pengetahuan siswa di dominasi dengan kategori tinggi. 2) tingkat kesiapsiagaan masuk kategori
siap. 3) terdapat hubungan positif antara pengetahuan dengan kesiapsiagaan bencana gempa
bumi.
2. Tingkat pengetahuan siswa kelas x SMK muhammadiyah 02 wedi kabupaten klaten
dalam mitigasi bencana gempa bumi (Oktaviantika, 2016).
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan perhitungan sampel
menggunakan simple random sampling. Sedangkan untuk pengambilan sampel mitigasi non
structural dengan snowball sampling. Pengumpulan data dengan wawancara dan angket.
Hasil menunjukkan bahwa siswa kelas X SMK Muhmmadiyah 02 Wedi pada tingkat
pengetahuan yaitu termasuk dalam cukup.
3. Hubungan tingkat pengetahuan bencana dengan kesiapsiagaan masyarakat di
kecamatan wonogiri dalam menghadapi bencana gempa bumi (Fauzi, Hidayati, Subagyo,
Sukini, & Latif, 2017).
Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan pengambilan sampel
menggunakan random sampling method. Lalu pengambilan data melalui kusioner. Di
dapatkan hasil jiak tingkat pengetahuan masyarakat berada di kategori sedang, tingkat
kesiapsiagaan masuk kategori rendah. Maka hubungan tingkat pengetahuan dengan
kesiapsiagaan bencana dalam penelitian ini asuk dalam kategori sedang.
4. Knowledge, attitude and practice (KAP) of earthquake preparedness amongst the elderly
in risk areas chiang rai, thailand (Songlar, La-or, Chomchoe, & Khunthason, 2018).
Pada penelitian ini menggunakan cross sectional study, dengan kuesioner sebagai teknik
pengambilan data. Hasil dari penelitian ini di dapat bahwa tingkat pengetahuan dan sikap
masyarakat cukup bagus, tetapi untuk praktiknya masih kurang walaupun mereka berada di
wilayah rentan bencana.
5. Hubungan self efficacy dengan kesiapsiagaan bencana gempa bumi dan tsunami pada
siswa sekolah menengah atas negeri 2 dan 6 banda aceh (Syarif, 2015).
Design yang digunakan adalah deskriptif kolerasi dengan cross sectional study. Dengan
pengambilan sampel memalui hitungan simple random sampling, dan dengan penyebaran
kuesoner untuk pengambilan data. Dari hasil yang didapat ialah rata-rata self efficacy siswa ±
6,42 dan rata-rata kesiapsiagaan bencana yaitu ± 16,24. Maka kesimpulannya adalah pengaruh
self efficacy lebih besar terhadap kesiapsiagaan bencana di banding faktor lain yang tidak
diteliti.
6. Self efficacy dalam kesiapsiagaan bencana gempa bumi SMP m boarding school
prambanan dan SMP m 21 gantiwarno (Dwijayanti, Fitriani, Pamungkas, & Noor, 2020).
Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan pengambilan sampel
degan cara purposive sampling. Lalu dilakukan penyebaran kuesioner untuk pengambilan data.
Hasil dari penelitian ini yaitu: 1) tingkat pengetahuan pada SMP M Boarding School lebih tinggi
dengan 98% dan SMP M 21 Gantiwarno sebesar 95%, 2) pengalaman gempa bumi pada siswa
SMP M Boarding School 71% dan SMP M 21 Gantiwarno 31%, 3) tindakan terkait gempa bumi
pada siswa SMP M Boarding School 98% dan SMP M 21 Gantiwarno 49%, 4) persepsi tentang
gempa bumi pada siswa SMP M Boarding School 98% dan SMP M 21 Gantiwarno 94%.
7. Disability and disaster: the role of self-efficacy in emergency preparedness (Marceron &
Rohrbeck, 2018).
Pada penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional.
Pengambilan data dengan kuesioner online Hasil yang di dapat adalah semakin besar tingkat
self efficacy maka semakin tinggi kesiapsiagaan orang dengan cacat fisik dalam menghadapi
ancaman bencana.

Kerangka Teori
Berdasarkan tinjauan pustaka diatas, maka dapat dijabarkan kerangka teori seperti di bawah ini
:
Skema 1 Kerangka Teori

METODE PENELITIAN

Kerangka Konsep
Kerangka konsep ialah gabungan dari teori-teori yang telah di cari untuk mendukung penelitian.
Maka dari teori tersebut akan menghasilkan variabel, yang mana variabel ini akan menentukan
hubungan antara variabel-varibel untuk membentuk suatu kerangka konsep (Heryana, 2019).
Berdasarkan tinjauan pustaka pada bab II, maka faktor-faktor yang akan dijabarkan dalam
penelitian ini ada 2 variable, yaitu dependen (terikat) dan independen (bebas). Dharma (2015)
menjelaskan jika variabel bebas (variable independent) adalah varibel sebab dimana
keberadaan varibel ini membawa pengaruh atau perubahan pada variabel lainnya. Jika
variabel independent membawa perubahan, maka variabel terikat (variable dependent) adalah
variabel akibat, yang mana akan berubah jika terjadi perubahan pada varibael independent.
Dalam penelitian ini yang termasuk dalam variabel independen adalah pengetahuan dan self
efficacy, sedangkan variabel dependen adalah kesiapsiagaan bencana, dengan variabel
pemicu adalah karakteristik responden terdiri dari jenis kelamin dan usia pada siswa SMK Bina
Mandiri Bogor. Berikut penjabaran kerangka konsep dalam penelitian ini :
Skema 2 Kerangka Konsep (Dharma, 2011).

Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan dugaan atau pendapat-pedapat yang asih lemah dan harus dicari tahu
dulu kebenarannya, apakah hasilnya menerima atau menolak hipotesa (Heryana, 2019).
Hipotesis penelitian ini dengan judul pengaruh edukasi bencana pada siswa SMK Bina Mandiri
Bogor terhadap kesiapsiagaan bencana gempa bumi, sebagai berikut :
Ho : Tidak adanya hubungan antara pengetahuan dan self efficacy dengan
kesiapsiagaan bencana gempa bumi pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor.
Ha : Adanya hubungan antara pengetahuan dan self efficacy dengan kesiapsiagaan
bencana gempa bumi pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor.

Definisi Operasional
Definisi operasional adalah bukan sekedar menjelaskan arti dari varibel, tapi juga mengukur
variabel menggunakan instrument atau alat ukur (Heryana, 2019). Definisi operasional pada
pengaruh edukasi bencana pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor terhadap kesiapsiagaan
bencana gempa bumi, sebagai berikut :

Tabel 4
Definisi Operasional
No. Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur
1. Kesiapsiagaan bencana Penerapan kesiapsiaagan dalam mengahadapi bencana di
kehidupan sehari-hari, termasuk pada siswa SMK Bina Mandiri apabila terjadi bencana.
Kuesioner Dikelompokan menjadi:
Siap siaga, jika score ≥ median yaitu 62
Kurang siap siaga, jika < median yaitu 62 Ordinal
2. Pengetahuan Pengindraan dari suatu objek atau informasi yang akan di telaah dan
akan menghasilkan pengetahuan. Kuesioner Dikelompokan menjadi:
Pengetahuan baik, jika score ≥ median yaitu 53
Pengetahuan kurang, jika < median yaitu 53 Ordinal
3. Self Efficacy Kemampuan individu dalam mengatasi situasi yang akan menguji apakah
individu tersebut mampu mengatasinya atau tidak. Khususnya pada penelitian ini objeknya
adalah siswa, apakah siswa dapat mengatasi masalah yang dihadapi seperti bencana.
Kuesioner Dikelompokan menjadi:
Self efficacy tinggi, jika score ≥ mean yaitu 45,24
Self efficacy rendah, jika < mean yaitu 45,24 Ordinal
4. Jenis Kelamin Jenis kelamin merupakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan
yang didapat secara biologis sedari lahir. Kuesioner Dikelompokan menjadi:
Laki-laki
Perempuan Nominal
5. Usia Usia (Umur) adalah lama waktu hidup atau ada (sejak dilahirkan atau diadakan).
Pada penelitian ini usia yang terlibat adalah [Link] Usia responden :
> 15 tahun
≤ 15 tahun Ordinal

Desain Penelitian
Jenis penelitian ini termasuk penelitian asosiatif kuantitatif. Menurut Dharma (2013) penelitian
asosiatif adalah jenis penelitian yan mana akan mencari suatu hubungan dari beberap variabel
(variabel independen dan vaiabel dependen). Metode yang akan digunakan adalah cross
sectional design yaitu penelitian yang hanya dilakukan dalam satu waktu pada beberapa
variabel yang di teliti.
Penelitian ini dilakukan kepada satu kelompok siswa/i dari SMK Bina Mandiri Bogor khususnya
kelas 10 dan kelas 11. Mengingat terjadinya force majeure berupa Pandemi Covid-19, yang
mengharuskan semua masyarakat melakukan social distancing (menjaga jarak) dan tetap
tinggal dirumah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Oleh karena itu maka
penelitian melakukan penyebaran kuesioner secara online, yaitu melalui media WhatsApp
Group yang berisi siswa yang termasuk dalam hitungan sampel.

Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian akan dilakukan di SMK Bina Mandiri Bogor yang berlokasi di Jalan Raya Kedung
Halang – Pemda Km 3, Pangkalan III Bogor, Kec. Sukaraja, Bogor, Jawa Barat kode pos
16710. Waktu penelitian sekitar bulan Februari – Juni 2020.

Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi Peneltian
Populasi adalah suatu kelompok atau objek yang memiliki kriteria yang sama dan sesuai
dengan kriteria peneliti (Heryana, 2019). Pada penelitian ini populasi yang diambil adalah
seluruh siswa kelas 10 dan kelas 11 SMK Bina Mandiri Bogor dengan jumlah 494 siswa.

Sampel Penelitian
Menurut Brink (2009) dalam Heryana (2019), sampel adalah bagian atau pecahan dari
keseluruhan jumlah populasi yang mana akan dipilih untuk diikut sertakan dalam penelitian.
Jenis pengambilan sampel yang akan digunakan adalah simple random sampling yaitu metode
yang diambil secara acak sederhana tanpa adanya karakteristik tertentu. Sampel penelitian ini
adalah siswa kelas 10 dan 11 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, sebagai berikut :
Kriteria Inklusi
Dalam penelitian ini yang termasuk dalam kriteria inklusi, yaitu :
Responden adalah siswa aktif kelas 10 dan kelas 11 SMK Bina Mandiri Bogor tahun
ajaran 2019/2020.
Bersedia mengikuti rangkaian penelitian dan mengisi kuesioner online melalui google
form.
Responden yang sedang sehat dan tidak berhalangan untuk mengikuti proses
penelitian.
Kriteria Eksklusi
Dalam penelitian ini yang termasuk dalam kriteria eksklusi, yaitu :
Siswa yang bukan kelas 10 & 11 SMK Bina Mandiri Bogor tahun ajaran 2019/2020.
Responden yang menolak untuk mengikuti rangkaian penelitian dan menolak mengisi
kuesioner online melalui google form.
Responden yang sedang sakit atau sedang berhalangan untuk mengikuti proses
penelitian.
Perhitungan Sampel
Perhitungan sampel ini diambil dari jumlah paling sedikit atau minimal yang bisa gunakan
peneliti sebagai pengumpulan data. Untuk menghitung jumlah sampel, peneliti menggunakan
rumus Slovin sebagai berikut :
n=N/(N(d^2 )+1)
Keterangan :
n = ukuran sampel
N = populasi
d = taraf nyata atau batas kesalahan
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan tingkat kesalahan sebesar 5% yaitu 0,05 dengan
jumlah populasi 494 siswa maka jika dihitung akan mendapatkan hasil sebagai berikut :
n=494/(494 (〖0,05〗^2 )+1)
n = 494/2,235=221,02
n=221
n=N ×10%
n=221 ×10%=22
n=221+22
n=243
Setelah di hitung dengan rumus Slovin peneliti mendapatkan jumlah responden yang akan
digunakan sebanyak 221 siswa dan di tambahkan dengan 10% margin error untuk
mengantisipasi apabila terjadi ketidaklengkapan dalam pengisian kuesioner sebanyak 22 siswa.
Jumlah sampel yang diambil seluruhnya sebanyak 243 siswa. Jumlah tersebut diambil dari tiap
kelas dengan metode Statified Sampling, sebagai berikut:
Tabel 5
Jumlah Sampel Perkelas Pada Siswa SMK Bina Mandiri Bogor
Kelas Sampel Jumlah
X TKJ = 48 48/494 x 243 24
X MM = 48 48/494 x 243 24
X OTKP 1 = 39 39/494 x 243 19
X OTKP 2 = 41 41/494 x 243 20
X OTKP 3 = 44 44/494 x 243 21
X OTKP 4 = 41 41/494 x 243 20
XI TKJ = 27 27/494 x 243 13
XI MM = 42 42/494 x 243 21
XI OTKP 1 = 44 44/494 x 243 22
XI OTKP 2 = 39 39/494 x 243 19
XI OTKP 3 = 38 38/494 x 243 19
XI OTKP 4 = 43 43/494 x 243 21
Jumlah = 494 243

Teknik pengambilan sampel ini dilakukan dengan simple random sampling, dimana peneliti
akan memilih responden secara acak menggunakan kocokan absen kelas.

Metode Pengumpulan Data


Pada penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan adalah jenis data primer dan
sekunder. Data apa saja yang termasuk dalam data primer dan sekunder akan dijelaskan
sebagai berikut:
Data Primer, data primer ini didapatkan dari kuesioner yang berisi karakteristik siswa
(nama siswa dengan inisial, kode inisial, kelas, jenis kelamin, umur) dan pengetahuan siswa
tentang kesiapsiagaan bencana.
Data Sekunder, data ini diperoleh dari arsip sekolah seperti jumlah siswa, profil sekolah,
kegiatan dari luar yang dilakukan di sekolah, dan sarana prasaran di sekolah.
Prosedur pengambilan data :
Tahap Persiapan
Mencari tahu apakah lokasi sekolah SMK Bina Mandiri Bogor termasuk dalam daerah rawan
gempa bumi, mengetahui karakteristik responden, mengumpulkan data-data yang diperlukan
untuk penelitian, dan menyusun rencana penelitian seperti membuat perizinan, menyusun
proposal, dan membuat jadwal untuk penelitian secara online karena adanya force majeure.
Tahap Pelaksanaan
Proses penelitian dimulai dengan menjelaskan tentang penelitian yang akan dilaksanakan
secara singkat serta tahapan-tahapan yang akan dilakukan selama proses penelitian
berlangsung, menjelaskan proses pengisian kuesioner, serta tidak lupa untuk membuat
persetujuan peserta untuk ikut dalam penelitian. Persetujuan ini dilakukan dengan memberikan
lembar pernyataan persetujuan (informed consent) serta lembar kuesioner. Setelah responden
menandatangani dan mengisi kuesioner (pre-test), peneliti akan mengumpulkan kuesioner. Lalu
dilakukan intervensi dengan cara simulasi gempa bumi dan mengisi kuesioner (post-test),
responden akan mendapatkan cinderamata berupa sticker bencana.
Tahap Akhir
Setelah dilakukan pre-test dan post-test, data yang didapat akan masuk ke tahap editing,
coding, dan entry data. Selanjutnya akan dilakukan analisis data menggunakan program SPSS
for windows.

Instrumen Penelitian
Instrument atau alat yang digunakan dalam proses pengambilan data pada penelitian ini adalah
lembar kuesioner. Kuesioner ini guna mendapatkan data karakteristik siswa dan pengetahuan
siswa tentang kesiapsiagaan bencana gempa bumi. Kuesioner ini terdiri dari 4 macam
kuesioner, akan dijelaskan di bawah:
Kuesioner A
Kuesioner bagian ini berisi tentang karakteristik responden, seperti nama, usia, dan jenis
kelamin.
Kuesioner B
Kuesioner ini berisi tentang pengetahuan bencana gempa bumi yang memiliki 12 pertanyaan,
dengan satu pertanyaan negative yaitu nomor 3.
Kuesioner C
Kuesioner ini berisi tentang self efficacy baku menurut Schwarzer, R., & Jerusalem, M. (1995)
yang telah dimodifikasi menjadi self efficacy terhadap bencana gempa bumi yang terdiri dari 11
pertanyaan. Pada kuesioner ini juga terdapat pertanyaan negative, yaitu pada nomor 6.
Kuesioner D
Kuesioner ini berisi tentang kesiapsiagaan bencana yang terdiri dari 15 pertanyaan. Terdapat 3
pertanyaan negative, yaitu pada nomor 4, 12, dan 14.

Pertanyaan dalam kuesioner ini nanti akan dijawab dengan skala likert, dimana responden akan
menjawab dengan 5 komponen yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Ragu-ragu (RG), Tidak
Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Untuk pada pertanyaan postif dan negative
memiliki nilai yang berbeda. Pada pertanyaan positif poinnya adalah SS (5 poin), S (4 poin), RG
(3 poin), TS (2 poin), dan STS (1 poin). Sedangkan untuk pertanyaan negative poin yang
diberikan adalah SS (1 poin), S (2 poin), RG (3 poin), TS (4 poin), dan STS (5 poin).

Etika Penelitian
Etika merupakan hal yang penting saat melakukan penelitian , khususnya di bidang
keperawatan karena peneliti berhubungan langsung dengan masyarakat. Etika penelitian
mempunyai beberapa karakteristik yang harus ditetapkan. Berikut penjelasan tentang
karkteristik etika penelitian , sebagai berikut :
Anonymity
Anonymity merupakan etika untuk memberikan jaminan kerahasiaan responden pada lembar
kuesioner. Jadi peneliti hanya meminta responden untuk memberikan inisial sebagai tanda.
Beneficience (kemanfaatan)
Penelitian ini tidak hanya bermanfaat bagi peneliti, tetapi juga bermanfaat untuk para siswa dan
sekolah. Nilai yang bermanfaat untuk responden adalah responden jadi tahu pentingnya
edukasi dalam kesiapsiagaan bencana. Sedangkan manfaat bagi sekolah, pihak sekolah jadi
tahu tingkat kesiapan bencana pada murid di sekolahnya apakah baik atau kurang.
Non-maleficence (bukan kejahatan)
Dalam penelitian ini responden hanya mengisi lembar kuesioner yang diberikan tanpa harus
melakukan apapun jika tidak diinstruksikn oleh penelti dan responden juga tidak menerima
perlakuan yang mengandung unsur membahayakan diri.

Confidentiality (kerahasiaan)
Dalam confidentiality atau kerahasiaan ini, peneliti menjamin kerahasiaan responden responden
atas data-data yang terdapat dalam penelitian ini dana hanya keompok data tertentu saja yang
dijabarkan pada hasil penelitian.
Veracity (kejujuran)
Sebelum melakukan penelitian, tentu saja peneliti akan menjelaskan tujuan dan manfaat
penelitian secara jujur tanpa ada yang ditutupi. Dan juga peneliti menjelaskan kepada
responden bahwa responden berhak untuk memilih untuk berpartisipasi dalam penelitian ini
atau tidak. Responden juga di harapkan untuk menjawab secara jujur dan benar.
Justice (keadilan)
Keadilan disini diartikan dengan peneliti memperlakukan reponden dengan sama tanpa ada
perlakuan yang berbeda antara responden yang satu dengan yang lainnya, dan hal ini berlaku
selama sebelum dan sesudah penelitian dilaksanakan.

Analisis dan Pengolahan Data


Uji Validitas
Validitas menurut Notoatmodjo adalah indeks untuk melihat apakah alat ukur yang digunakan
benar-benar mengukur dengan benar atau tidak. Sama halnya kuesioner yang berguna sebagai
alat ukur harus di uji apakah valid atau tidak. Uji validitas dilakukan dengan menyebarkan
kuesioner pada siswa kelas 10 dan kelas 11 di lokasi berbeda dengan karakteristik yang sama
yaitu di SMK Kosgoro di Bogor dengan jumlah sampel minimal 30 orang. Pengambilan sampel
untuk validitas ini berdasarkan dengan jumlah sampel minimal dari yang dijelaskan oleh
Notoatmodjo bahwa untuk mendekati nilai normal dalam pengukuran, maka lebih baik
menggunakan jumlah responden paling sedikit 30 orang (Soekidjo Notoatmodjo, 2012).
Untuk melakukan pengukuran uji validitas dan reabilitas ini akan menggunakan teknik korelasi
product moment dengan rumus:
rxy=(n∑▒〖xy-(∑▒〖x)(∑▒〖y)〗〗〗)/(√{(n∑▒〖x2-(∑▒〖x)2)-(n∑▒〖y2-(∑▒〖y)2)}〗〗〗〗)
Keterangan:
rxy : koefisien validitas item yang dicari
n : jumlah responden
x : skor yang diperoleh subjek dalam setiap item
y : skor yang diperoleh subjek dalam setiap item
x : jumlah skor dalam variabel x
y : jumlah skor dalam variabel y
x2 : jumlah kuadrat masing-masing skor x
y2 : jumlah kuadrat masing-masing skor y
xy : jumlah perkalian variabel x y
Harga rxy menunjukkan indeks korelasi antara dua variabel yang dihubungkan. Setiap nilai
korelasi mengandung tiga makna, yaitu :
Instrument valid, jika nilai r hitung ≥ r tabel
Instrument tidak valid, jika nilai r hitung < r tabel

Setelah dilakukan uji validitas di SMK Kosgoro pada siswa kelas 10 dan kelas 11 dengan total
30 responden, terdapat beberapa soal yang tidak valid atau r hitung < r tabel. Untuk item
pertanyaan pengetahuan terdapat 12 soal yang diuji, namun terdapat 3 item yang tidak valid
yaitu pertanyaan No. 7, 11, dan 12. Oleh karena itu penulis mencoba untuk memodifikasi
bahasa pada pertanyaan agar lebih mudah untuk di mengerti (Lampiran 9).
Untuk item self efficacy terdapat 11 soal yang diuji tetapi terdapat 2 item yang tidak valid yaitu
pertanyaan No. 3 dan 7. Pertanyaan No. 3 dan 7 dimodifikasi karena pertanyaan yang penting
dan tidak bisa diwakilkan dengan pertanyaan lainnya (Lampiran 10).
Item terakhir yaitu kesiapsiagaan, terdapat 15 soal yang diuji tetapi 3 item yang tidak valid yaitu
pertanyaan No. 2, 6, dan 13. Pada pertanyaan nomor 2 saya tidak melakukan modifikasi karena
menurut saya jawabannya sudah sesuai dengan yang diharapkan, untuk nomor 6 dimodofikasi
dengan bahasa yang lebih ringan. Dan untuk nomor 13 dihapus karena bisa diwakilkan dengan
pertanyaan lain (Lampiran 11).
Uji Reabilitas
Uji reabilitas adalah untuk melihat keabsahan suatu alat pengukur dapat dipercaya dan
konsisten bila dilakukan pengukuran berulang (Soekidjo Notoatmodjo, 2012). Uji reabilitas
dilakukan di lokasi berbeda pada siswa kelas 10 dan kelas 11 dengan karakteristik yang sama
yaitu SMK Kosgoro.
Penelitian umumnya adalah perbandingan antara nilai r hitung diwakili dengan nilai Alpha
dengan r tabel pada standar yang digunakan dalam menentukan reliable atau tidaknya suatu
instrumen taraf kepercayaan 95% atau tingkat signifikan 0,05. Berikut ini rumus uji Cronbach’s
alpha :

α=[k/(k-1)][1-(∑σb²)/σt²]

Keterangan :
A : cronbach’s alpha
𝜎b2 : varian dari pertanyaan
𝜎2total : varian dari skor
k : banyaknya pertanyaan
Uji reabilitas ini menggunakan nilai Cronbach’s Alpha dan ketentuan uji untuk reabilitas adalah :
Bila nilai Cronbach’s Alpha ≥ 0,6 , maka kuesioner reliable.
Bila nilai Cronbach’s Alpha < 0,6 , maka kuesioner tidak reliable.

Hasil uji reliabilitas pada penelitian ini didapatkan nilai Cronbach’s Alpha pada pengetahuan
sebesar 0,758, self efficacy sebesar 0,746, dan kesiapsiagaan 0,746 artinya ketiga item sudah
reliable (Lampiran 12).
Pengolahan Data
Setelah mendapat data dari penyebaran kuesioner tahap selanjutnya adalah pengolahan data.
Pengolahan data adalah proses penghitungan untuk mendapatkan tujuan dari penelitian ini,
dengan langkah pengolahan data dalam (Rinaldi & Mujianto, 2017), sebagai berikut :
Editing
Proses editing yaitu pengecekan pada lembar kuesioner apakah data yang didapat sudah
benar. Jika data yang di dapat belum benar atau belum lengkap, maka kuesoner tersebut akan
di keluarkan (drop out).
Coding
Coding ini berisi tentang merubah data yang sebelumnya huruf diubah menjadi bentuk angka
atau numerik. Hal ini bertujuan supaya mempermudah saat dilakukan analisa data.
Processing
Processing dlakukan jika semua data sudah benar dan sudah di koding, barulah databisa di
analisa. Proses analisa ini biasanya dilakukan dengan memsakkuan data melalui Ms. Excel lalu
di analisa dengan program SPSS for windows.
Cleaning
Cleaning atau pembersihan ini dilakukan saat pengecekan apakah pada saat memasukkan
data untuk di analisis ada data yang salah, maka dari itu di lakukan cleaning untuk menghindari
kesalahan data.

Metode Pengolahan Data


Setelah memsasukkan pengolahan data maka selanjutnya analisa data guna mendapatkan
hasil dari penelitian yang dilakukan. Proses analisa data ini menggunakan program SPSS for
windows dengan menggunakan analisis univariat dan bivariate.
Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk menjabarkan variabel secara sederhana yang mana nanti
akan menggambarkan frekuensi dari data tersebut (Rinaldi & Mujianto, 2017). Pada penetilian
ini variabel yang diukur adalah hubungan antara pengetahuan dan self efficacy dengan tingkat
kesiapsiagaan bencana pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor.
Rumus yang digunakan:
p=f/N+100%

Keterangan:
P : Presentase (%)
f : Frekuensi / jumlah jawaban
N : jumlah sampel / jumlah skor maksimal
Tabel 6
Analisis Univariat
Variabel Subvariabel Jenis Data Cara Analisis
Karakteristik
Usia
Jenis kelamin Ordinal
Nominal Frekuensi Dan Proposi Frekuensi Dan Proposi
Independen Pengetahuan
Self Efficacy Ordinal
OrdinalFrekuensi Dan Proposi
Frekuensi Dan Proposi
Dependen Kesiapsiagaan Bencana Nominal Frekuensi Dan Proposi

Analisis Bivariat
Analisis bivariat adalah analisis yang melihat apakah variabel dalam penelitian memiliki
pengaruh satu dengan yang lain atau tidak. Untuk melihat variabel-variabel ini memiliki
pengaruh atau tidak, peneliti menggunakan uji korelasi person karena tujuan dari penelitian ini
adalah untuk melihat apakah ada hubungan antara pengetahuan dan self efficacy dengan
kesiapsiagaan bencana pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor.
Tabel 7
Analisis Data
No Variabel Independent/ Confonding Variabel dependen Analisa Data
1 Pengetahuan (Ordinal) Kesiapsiagaan bencana (Ordinal) Chi - Square
2 Self Efficacy (Ordinal) Chi - Square
3 Jenis Kelamin (Nominal) Chi - Square
4 Usia (Ordinal) Chi - Square

Uji Chi Square dapat digunakan untuk membandingkan frekuensi yang diamati dengan
frekuensi yang diharapkan. Sabri & Hastono (2018) menyebutkan bahwa rumus dari Uji Chi
Square sebagai berikut :
x²=Σ ((O-E)²)/E
Keterangan :
x² = Chi Square
O = observed (frekuensi yang diamati)
E = expected (yang diharapkan)

Mean
Mean berperan untuk mencari nilai rata-rata dari skor total keseluruhan jawaban yang diberikan
oleh responden, yang tersusun dalam distribusi data. Menghitung nilai rata-rata (mean),
menurut (Sabri & Hastono, 2018) digunakan rumus sebagai berikut :
X= (x1+x2+x3+⋯Xn)/n
Keterangan :
X = Jumlah rata-rata
x1 + x2 + x3 + … xn = Jumlah keseluruhan nilai sampel
n = Jumlah Sampel

Median
Median adalah nilai yang berada pada observasi di tengah, jika data sudah disuun. Rumus
media untuk data bergolong adalah sebagai berikut:
(n+1)/2
Keterangan :
n : banyaknya data/jumlah sampel

Odd Ratio (OR)


Odds Ratio adalah suatu perbandingan yang dilihat dari peluang kejadian setelah ada paparan
faktor risiko dengan peluang kejadian itu dalam situasi kontrol atau referensi.
Nilai yang lihat jika nilai OR < 1 maka paparan dari variabel risiko mengurangi risiko peristiwa.
Untuk nilai OR > 1 adalah risiko meningkat secara. Sedangkan untuk nilai OR 1 berarti tidak
terdapat oeningkatan atau penurunan risiko. Signifikansi statistik dari OR dinyatakan bersama
dengan OR dan 95% CI-nya. Jika 95% CI untuk OR termasuk 1,00, oR tidak signifikan secara
statistik (Andrade, 2015).

Etika Penelitian
Penelitian ini berjudul “Hubungan Antara Pengetahuan Dan Self Efficacy Dengan
Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi Pada Siswa SMK Bina Mandiri Bogor” telah
mendapatkan persetujuan dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Universitas Pembangunan
Nasional Veteran Jakarta berupa Ethical Approval atau persetujuan etik dengan nomor
B/2468/VI/2020/KEPK serta mendapatkan izin dari Kepala Sekolah SMK Bina Mandiri Bogor
berupa surat balasan dan perizinan penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Sekolah SMK Bina Mandiri Bogor


SMK Bina Mandiri Bogor adalah sekolah yang terletak di Kedung Halang Jl. Raya Pemda
[Link] 3, Pangkalan III Bogor, Kec. Sukaraja, Bogor, Jawa Barat 16710. Sekolah menengah
kejuruan ini sudah berdiri da beroperasi sejak tahun 2008 yang sekarang dipimpim oleh Bapak
Mantri Karno Diharjo, [Link] selaku kepala sekolah SMK Bina Mandiri. Pada tahun 2011 sekolah
ini sudah berstatus sebagai sekolah SMK swasta dengan akreditasi A.
Saat awal beroperasi, SMK Bina Mandiri Bogor hanya memiliki satu program keahlian, yaitu
Administrasi Perkantoran (AP) atau sekarang dikenal dengan Otomatisasi dan Tata Kelola
Perkantoran (OTKP). Seiring berjalannya waktu dengan bertambahnya jumlah dan minat siswa
yang mendaftar, maka SMK Bina Mandiri Bogor menambah jurusan program keahlian yaitu
Program Keahlian Multimedia (MM) dan Teknik Komputer (TKJ). SMK Bina Mandiri Bogor,
dengan jumlah keseluruhan murid yaitu sebanyak 711 murid. Sekolah ini juga memiliki
beberapa fasilitas, seperti ruang kelas dari kelas 10 ampai kelas 12 total ada 18 kelas, ada juga
4 lab seperti lab Komputer, lab untuk TKJ, dll yang pastinya dapat menunjang kebutuhan murid.
Selain itu ada juga ruang lainnya yang terdapat pada sekolah ini, terdapat ruang kepala
sekolah, ruang guru, ruang TU, mushollah, kantin, toilet, lahan parkir, dan pos security. Proses
pembelajaran disekolah ini yaitu dimulai dari hari Senin-Jumat, dengan waktu belajar dari pukul
06.45 WIB sampai pukul 15.45 WIB. Untuk peraturan disekolah ini juga cukup tertib yaitu bagi
tamu diharapkan lapor terlebih dahulu di pos security dengan menunjukkan identitas atau
menunjukkan undangan serta menyebutkan keperluan tamu.

Analisa Hasil Penelitian


Hasil penelitian ini akan disajikan secara sistematis, mulai dari uji normalitas, dilanjutkan
dengan uji univariat untuk melihat frekuensi dari karakteristik, varibel independen, dan variabel
dependen. Hasil analisa selanjutnya ialah uji bivariat untuk melihat apakah ada hubungan dari
karateristik dengan variabel dependen, maupun hubungan variabel independen dengan variabel
dependen.

Uji Normalitas
Uji normalitas adalah uji yang dilakukan guna melihat apakah data dalam penelitian termasuk
dalam kategori normal atau tidak. Hasil dari uji normalitas ini menentukan hasil ukur sebuah
variabel yang nantinya akan menggunakan nilai mean atau median sesuai dengan hasil yang
telah di uji.

Tabel 8 Uji Normalitas Data Hubungan Antara Pengetahuan Dan Self Efficacy Dengan
Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi Pada Siswa SMK Bina Mandiri Bogor
No Variabel Skewess Standar Error Hasil
1 Pengetahuan -.561 .164 -3.42538
2 Self Efficacy -.081 .164 -0.49751
3 Kesiapsiagaan -.541 .164 -3.30582
Sumber: Data Peneliti, 2020.

Dari hasil tabel 8 diatas, didapatkan hasil dari variabel Pengetahuan -3.42538 dan variabel
Kesiapsiagaan -3.30582 hal ini menunjukkan data tidak berditribusi normal karena tidak
memuhi syarat parameter -2 sampai dengan 2, maka menghitung nilai tengah menggunakan
median. Sedangkan untuk variabel Self Efficacy hasil yang didapat adalah -0.49751, maka pada
varibel ini didapatkan hasil distribusinya normal karena jika dilihat dengan parameter -2 sampai
dengan 2, maka mean akan digunakan untuk menghitung nilai tengah.
Analisa Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk menjabarkan variabel secara sederhana yang mana nanti
akan menggambarkan frekuensi dari data tersebut (Rinaldi & Mujianto, 2017). Analisa univariat
pada penelitian ini meliputi usia, jenis kelamin, pengetahuan, self efficacy, dan kesiapsiagaan
bencana pada siswa kelas 10 dan kelas 11 SMK Bina Mandiri Bogor (n=221).

Tabel 9 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Siswa SMK Bina
Mandiri Bogor (n=221)
Karakteristik Sub Karakteristik Frekuensi Presentase (%)
Usia ≤ 15
> 15 56
165 25.3
74.7
Total 221 100
Sumber: Data Peneliti, 2020.

Berdasarkan hasil dari tabel 9 menunjukkan bahwa dari 221 responden yang diteliti lebih
banyak responden dengan usia > 15 tahun sebanyak 165 siswa (74.7%), sedangkan responden
dengan usia ≤ 15 tahun terdapat 56 siswa (56). Dari hasil didapatkan bahwa responden dengan
usia > 15 tahun lebih banyak dari responden usia ≤ 15 tahun, hal ini disebabkan karena ada
beberapa responden yang dari kelas 10 masuk dalam kategori usia > 15 tahun yaitu 16 tahun.

Tabel 10 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Siswa SMK
Bina Mandiri Bogor (n=221)
Karakteristik Sub Karakteristik Frekuensi Presentase (%)
Jenis Kelamin Laki-laki
Perempuan 90
131 40.7
59.3
Total 221 100
Sumber: Data Peneliti, 2020.

Pada tabel 10 yaitu untuk karakteristik jenis kelamin didapatkan hasil bahwa siswa perempuan
lebih mendominasi dengan jumlah 131 responden, sedangkan siswa laki-laki terdapat 90
responden dari 221 responden. Peneliti berpendapat alasan lebih banyak responden wanita
dikarenakan jurusan yang terdapat di SMK Bina Mandiri Bogor ini lebih banyak diminati oleh
siswa perempuan, contohnya adalah jurusan OTKP atau Administrasi Perkantoran karena di
tiap tingkatan kelas masing-masing terdapat 4 kelas OTKP itu sendiri. Oleh karena itu,
dipastikan bahwa jumlah siswa perempuan lebih banyak dibandingkan dengan siswa laki-laki.
Tabel 11 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan Siswa SMK Bina Mandiri
Bogor (n=221)
Karakteristik Sub Karakteristik Frekuensi Presentase (%)
Pengetahuan Baik
Kurang Baik 110
111 49.8
50.2
Total 221 100
Sumber: Data Peneliti, 2020.

Pada tabel 11 didapatkan hasil yang cukup seimbang. Dari 221 responden, siswa dengan
pengetahuan baik terdapat 110 responden, sedangkan 111 responden memiliki pengetahuan
yang kurang baik. Banyaknya responden dengan pengetahuan kurang baik karena sebelumnya
belum pernah ada sosialisasi ataupun edukasi tentang kebencanaan gempa bumi yang
dilakukan di sekolah. Hal ini diperkuat dengan hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan
peneliti sebelumya, pengetahuan kesiapsiagaan bencana gempa bumi 8 dari 10 siswa masih
cenderung kurang. Hal ini sejalan dengan penelitian Simandalahi et al. (2019) bahwa tingkat
pengetahuan siswa kelas 3 dan kelas 4 SDN 12 naras 1 kota Pariaman, sebelum dilakukan
edukasi bencana gempa bumi yaitu 4,4 % dan meningkat menjadi 6,9 % setelah dilakukan
edukasi tentang kebencaan gempa bumi dengan P-value 0,1. Dari hasil penelitian tersebut
peneliti berasumsi bahwa pengetahuan akan lebih tinggi/baik jika dilakukan edukasi atau
simulasi kebencanaan secara rutin.

Tabel 12 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Self Efficacy Siswa SMK Bina Mandiri
Bogor (n=221)
Karakteristik Sub Karakteristik Frekuensi Presentase (%)
Self Efficacy Tinggi
Rendah 95
126 43
57
Total 221 100
Sumber: Data Peneliti, 2020.

Berdasarkan tabel 12 diatas diperoleh hasil bahwa dari 221 responden, tingkat Self Efficacy
siswa masih rendah sebanyak 126 responden, sedangkan tingkat Self Efficacy tinggi sebanyak
95 responden. Banyaknya responden yang masuk dalam kategori self efficacy rendah karena
masih kurangnya keyakinan diri tiap individu untuk bertindak dengan baik dan benar saat terjadi
bencana. Hal ini diperkuat dari hasil studi pendahuluan jika masih banyak siswa yang
mengatakan akan langsung lari jika terjadi gempa bumi tanpa berlindung di kolong meja terlebih
dahulu. Hal ini tidak sejalan dengan hasil penelitian dari Syarif (2015) yang mana siswa SMAN
2 dan SMAN 6 Banda Aceh memiliki tingkat self efficacy yang tinggi.

Tabel 13 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kesiapsiagaan Bencana Siswa SMK


Bina Mandiri Bogor (n=221)
Karakteristik Sub Karakteristik Frekuensi Presentase (%)
Kesiapsiagaan Bencana Siap Siaga
Kurang Siap Siaga 102
119 46.2
53.8
Total 221 100
Sumber: Data Peneliti, 2020.

Berdasarkan data pada tabel 13 bahwa terkait kesiapasiagaan siswa terhadap bencana, terlihat
bahwa dari 221 responden yang berpatisipasi dalam penelitian ini sebanyak 102 responden
yang siap siaga, dan 119 responden lainnya masih kurang siap siaga jika terjadi bencana. Hal
ini dapat didukung informasi dari SMK Bina Mandiri Bogor sendiri bahwa mereka belum ada
edukasi ataupun pelatihan tentang bencana khusunya gempa bumi. Kesiapsiagaan itu sendiri
menurut (BNPB, 2019) ialah kegiatan mengantisipasi terjadinyanya bencana dengan benar dan
tepat melalui sumber yang berkaitan dengan kebencanaan. Kegiatan antisipasi yang bisa
dilakukan yaitu contohnya dengan mengetahui bahaya di lingkungan sekitar dan mengikuti
pendidikan atau pelatihan kebencanaan. Maka dari itu, karena dari pihak sekolah mengatakan
belum pernah ada pendidikan atau pelatian tentang kebencanaan gempa bumi, maka masih
banyak siswa yang kurang siap siaga.

Uji Bivariat
Analisis bivariat dibawah ini bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel independen
dengan dependen. Pada penelitian ini akan melihat apakah ada hubungan antara usia, jenis
kelamin, pengetahuan, dan tingkat self efficacy dengan kesiapsiagaan bencana pada siswa
SMK Bina Mandiri Bogor.

Tabel 14 Analisis Hubungan Antara Usia dengan Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi Pada
Siswa SMK Bina Mandiri Bogor (n=221)
Usia Kesiapsiagaan Total P Value OR
(95% CI)
Siap Siaga Kurang Siap Siaga
≤ 15 37 (66.1%) 19 (33.9%) 56 (100%) 0.001 2.996 (1.587 – 5.655)

> 15 65 (39.4%) 100 (60.6%) 165 (100%)


Total 102 (46.2%) 119 (53.8%) 221 (100%)
Sumber: Data Peneliti, 2020.

Berdasarkan hasil tabel 14 didapatkan hasil bahwa dari 221 responden yang berpartisipasi
dalam penelitian ini sebanyak 56 responden yang berusia ≤ 15 tahun, 66.1% masuk kategori
siap siaga dan 33.9% masuk kategori kurang siap siaga. Sedangkan dari 165 responden yang
berusia > 15 tahun, 39.4% masuk keteori sipa siaga dan 60.6% masuk ketegori kurang siap
siaga.
Hasil analisa uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% menghasilkan nilai p value =
0.001 (p < 0,05) sehingga dapat diartikan bahwa adanya hubungan yang significant antara usia
dengan kesipasiagaan bencana gempa bumi pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor. Dari hasil
analisa juga ditemukan bahwa nilai OR = 2.996 yang bermakna bahwa responden berusia > 15
tahun lebih berisiko 2,9 kali lebih tinggi kurang siap siaga dibandingkan dengan responden usia
≤ 15 tahun.
Menurut Ali dan Asrori (2011) dalam AISYA (2016) menjelaskan bahwa remaja tengah (15-18
tahun) sudah dianggap bisa untuk memikul bebannya sendiri dengan mulainya berbagai
tuntutan baik dari orang tua ataupun dari masyarakat yang mana akan membuat remaja itu
sendiri merasa terbebani. Karena banyaknya tekanan dan nilai yang mereka terima datang
secara bersamaan, akhinya remaja pada fase ini mulai membuat nilai-nilai yang menurut
mereka benar. Maka jika dari teori tersebut, remaja dengan usia > 15 tahun akan merasa
mempunyai beban yang lebih besar dan akan menentukan pilihannya sesuai dengan apa yang
mereka anggap benar.
Hal ini berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan Nur Faizah R (2016), dimana hasil
menunjukkan bahwa siswa kelas 9 memiliki nilai kesiapsiagaan yang lebih tinggi di bandingkan
dengan kelas 7 dan 8. Peneliti berasumsi bahwa harusnya semakin tinggi usia maka semakin
tinggi pula individu untuk siap siaga.

Tabel 15 Analisis Hubungan Antara Jenis Kelamin dengan Kesiapsiagaan Bencana Gempa
Bumi Pada Siswa SMK Bina Mandiri Bogor (n=221)
Jenis Kelamin Kesiapsiagaan Total P Value OR
(95% CI)
Siap Siaga Kurang Siap Siaga
Laki-laki 48 (53.3%) 42 (46.7%) 90 (100%) 0.102 1.630 (0.949 – 2.799)

Perempuan 54 (41.2%) 77 (58.8%) 131 (100%)


Total 102 (46.2%) 119 (53.8%) 221 (100%)
Sumber: Data Peneliti, 2020.

Berdasarkan hasil tabel 15 bahwa dari 221 responden lebih banyak responden dengan jenis
kelamin perempuan dengan hasil terbanyak masuk dalam kategori kurang baik yaitu 77
responden (58.8%). Sedangkan responden laki-laki dengan jumlah paling banyak 48 responden
(53.3%) masuk dalam kategori siap siaga. Setelah dilakuakn analisa uji Chi-Square dengan
tingkat kepercayaan 95% peneliti mendapat hasil p value = 0.102 (p < 0,05), jadi bisa
disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan
kesiapsiagaan bencana gempa bumi pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor. Hasil analisa
ditemukan juga nilai OR = 1.630 yang artinya bahwa responden bahwa baik siswa laki-laki
maupun peremouan sama-sama memiliki resiko sebesar 1.630 kali untuk kurang siap siaga.
Muhammad dan Abdul dalam (Rofifah, 2019) menyebutkan bahwa salah satu faktor yang
mempengaruhi kesiapsiagaan adalah jenis kelamin, yaitu disebutkan jika wanita lebih rentan
jika terjadi bencana dbandingkan laki-laki karena lebih mudah panik. Jadi hal ini dikuatkan
dengan hasil diatas yang menunjukkan bahwa lebih banyak responden perempuan yang kurang
siap siaga dibandingkan dengan laki-laki.
Hal ini sejalan dengan penelitian Rofifah (2019) tentang hubungan pengetahuan dengan
kesiapsiagaan bencana pada mahasiswa keperawatan Universitas Diponegoro yang 90,7%
respondennya adalah perempuan. Menurut Kemenkes RI (2017) jika angka harapan hidup
perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki, maka dari itu lebih banyak populasi perempuan
dibanding laki-laki. Peneliti berasumsi bahwa hal ini berkaitan dengan banyaknya responden
wanita dibanding dengan laki-laki. Sama seperti penelitian

Tabel 16 Analisis Hubungan Pengetahuan dengan Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi Pada
Siswa SMK Bina Mandiri Bogor (n=221)
Pengetahuan Kesiapsiagaan Total P Value OR
(95% CI)
Siap Siaga Kurang Siap Siaga
Baik 85 (77.3%) 25 (22.7%) 110 (100%) 0.000 18.800 (9.501 – 37.199)

Kurang Baik 17 (15.3%) 94 (84.7 %) 111 (100%)


Total 102 (46.2%) 119 (53.8%) 221 (100%)
Sumber: Data Peneliti, 2020.

Berdasarkan hasil tabel 16 dari 221 responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini,
sebanyak 110 responden yang memiliki pengetahuan baik, 77.3% masuk kategori siap siaga
dan 22.7% masuk ketegori kurang siap siaga. Sedangkan dari 111 responden yang memiliki
pengetahuan kurang baik, 15.3% masuk kategori siap siaga dan 53.8% masuk kategori kurang
siap siaga.
Untuk hasil uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% menghasilkan nilai p value = 0.000
(p < 0,05) yang artinya ada hubungan yang significant antara pengetahuan dengan
kesiapsiagaan bencana gempa bumi pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor. Selain itu,
didapatkan juga hasil analisa nilai OR = 18.800 yang bermakna bahwa responden dengan
pengetahuan kurang baik berisiko 18,8 kali lebih tinggi kurang siap siaga dibandingkan dengan
responden yang memiliki pengetahuan baik.
Hasil penelitian ini masih sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Oktaviantika (2016)
bahwa didapatkan hasil siswa kelas X SMK Muhammadiyah 02 Wedi berada dalam kategori
cukup. Dalam penelitiannya Oktaviantika juga menyebutkan, bahwa karena kurangnya
sosialisasi tentang bencana gempa bumi di sekolah maka pengetahuan siswa mengenai
kesiapsiagaan bencana gema bumi masih kurang.
Tetapi hal ini berbanding terbalik dengan hasil dari penelitian Rusiyah (2017) yang menjadikan
murid TK sebagai responden penelitian yang mana hasilnya sebanyak 11 responden (68,8%)
pengetahuan siswa terhadap gempa bumi masuk dalam kategori yang tinggi atau sudah baik.
Sama halnya dengan penelitian Budimanto dkk (2017) bahwa hasilnya pengetahuan
mahasiswa keperawatan Poltekes Banda Aceh masuk dalam kategori baik sebanyak 23
responden (63,9%).

Tabel 17 Analisis Hubungan Self Efficacy dengan Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi Pada
Siswa SMK Bina Mandiri Bogor (n=221)
Self Efficacy Kesiapsiagaan Total P Value OR
(95% CI)
Siap Siaga Kurang Siap Siaga
Tinggi 72 (75.8%) 23 (24.2%) 95 (100%) 0.000 10.017 (5.371 – 18.682)
Rendah 30 (23.8%) 96 (76.2%) 126 (100%)
Total 102 (46.2%) 119 (53.8%) 221 (100%)
Sumber: Data Peneliti, 2020.

Berdasarkan hasil tabel 17 dari 221 responden, yang berpartisipasi dalam penelitian ini, dari 95
responden yang memiliki self efficacy tinggi sebanyak 72 responden (75.8%) masuk dalam
kategori siap siaga dan 23 responden (24.2%) kurang siap siaga. Sedangkan untuk responden
dengan tingkat self efficacy rendah terdapat 96 responden (76.2%) yang masih kurang siap
siaga. Didapatkan hasil uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% peneliti mendapat
hasil p value = 0.000 (p < 0,05), sehingga ada hubungan antara self efficacy dengan
kesiapsiagaan bencana gempa bumi pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor. Dari hasil analisis
didapatkan juga hasil OR = 10.017 hasil ini bermakna bahwa responden dengan tingkat self
efficacy rendah lebih beresiko 10 kali lebih kurang siap siaga dibandingkan dengan responden
dengan tingkat self efficacy yang tinggi. Dalam teorinya Bandura (1994) mengartikan bahwa self
efficacy adalah bagaimana individu percaya dengan kemampuan yang dimiliki diirnya untuk
melakukan suatu tujuan. Bandura juga menyebutkan jika salah satu faktor yang mempengaruhi
self efficacy tiap individu yaitu informasi tentang kemampuan diri. Maksud dari informasi tentang
kemampuan diri adalah dimana jika individu memiliki informasi negative tentang dirinya maka ia
masuk dalam tingkat self efficacy rendah, sebaliknya jika individu memiliki informasi yang positif
maka ia masuk dalam kategori self efficacy tinggi.
Hasil ini sejalan dengan penelitian Syarif (2015) menunjukkan bahwa adanya hubungan yg kuat
antara self efficacy dengan kesiapsiagaan bencana dengan p value = 0.000 (p < 0,05). Tetapi
hasil ini berbanding terbalik dengan hasil penelitian yang di lakukan A & Sudaryono (2013)
dalam jurnal Syarif (2015) bahwa hasilnya 53 responden (48.6%) masuk kategori self efficacy
yang rendah.

Keterbatasan Penelitian
Dalam proses penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan, yaitu:
Pemahaman responden mengenai tingkat pengetahuan dan self efficacy yang mereka
miliki tentang kesiapsiagaan bencana gempa bumi ketika berada di sekolah maupun di luar
sekolah.
Karena adanya pandemic Covid-19, adanya perubahan proses atau alur penelitian yang
harusnya dilakukan secara langsung dan melakukan simulasi gempa bumi di sekolah jadi
diubah dengan penyebaran kuesioner secara online.
Karena penyebaran kuesioner online yaitu melalui media WhatsApp, banyak responden
yang susah untuk mengakses kuesioner karena keterbatasan kuota.
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahsan yang telah dilakukan pada siswa kelas 10 dan kelas 11 SMK
Bina Mandiri Bogor yang mana sudah dijabarkan di bab sebelumya, maka diperoleh kesimpulan
sebagai berikut:
Adanya hubungan antara usia dengan kesiapsiagaan bencana gempa bumi pada siswa
SMK Bina Mandiri Bogor dengan mayoritas responden sebagian besar berusia > 15 tahun 165
siswa (74.7%). Sedangkan untuk
Tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kesiapsiagaan
bencana gempa bumi pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor dengan mayoritas responden
berjenis kelamin perempuan 131 siswa (59.3%).
Adanya hubungan antara pengetahuan dengan kesiapsiagaan bencana gempa bumi
pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor dengan P-value 0.000 (p > 0,05). Hasil analisa ditemukan
nilai OR = 18.800, jadi dapat diartikan bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik lebih
berisiko 18,8 kali lebih tinggi untuk siap siaga dibandingkan dengan responden yang memilki
pengetahuan kurang baik.
Adanya hubungan antara self efficacy dengan kesiapsiagaan bencana gempa bumi
pada siswa SMK Bina Mandiri Bogor dengan P-value 0.000 (p > 0,05). Didapatkan juga hasil
analisan untuk nilai OR = 10.017 yang bermakna jika responden dengan tingkat self efficacy
rendah mempunyai risiko 10 kali lebih kurang siap siaga dibandingkan dengan responden yang
memiliki tingkat self efficacy tinggi.

Saran
Dari penelitian yang telah dilakukan, ada beberapa saran yang dapat angkat yaitu:
Bagi siswa SMK Bina Mandiri Bogor, dengan diadakannya penelitian ini diharapkan para
siswa bisa lebih hati-hati dengan lingkungan sekitar baik di sekolah ataupun di luar sekolah.
Selain itu diharapkan siswa untuk lebih aktif lagi menambah wawasannya tentang
kebencanaan, karena kita tidak dapat memprediksi kapan bencana akan datang jadi lebih baik
mempersiapkan diri dengan wawasan yang baik. Ketika memiliki wawasan yang cukup baik dan
terjadi bencana siswa jadi tahu apa yang harus dilakukan saat menyelamatkan diri sendiri
ataupun menyelamatkan orang lain disekitarnya.
Bagi sekolah SMK Bina Mandiri Bogor, diharapkan pihak sekolah untuk mengadakan
sosialisasi atau simulasi tentang kebencanaan di sekolah. Sosialisasi ini bisa dilakukan secara
mandiri yaitu dilakukan oleh para guru ataupun bisa juga untuk bekerjasama dengan lembaga
atau badan pemerintah yang bersangkutan dengan kebencanaan, contohnya seperti
BNPB/BPBD. Dengan diadakannya sosialisasi dan simulasi secara rutin, maka ketika
sewaktu-waktu terjadi bencana para siswa sudah siap siaga karena sudah mempunyai bekal
pengetahuan yang cukup.
Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan untuk lebih mengembangkan lagi terkait
varibalenya yaitu pengetahuan dan self efficacy. Karena pada tingkat self efficacy masih cukup
jarang dan sulit dipahami bagi responden tingkat SMA.

DAFTAR PUSTAKA

A, F. H., & Sudaryono, D. (2013). Perbedaan Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Ditinjau dari
Tingkat Self-Efficacy pada Anak Usia Sekolah Dasar di Daerah Dampak Bencana Gunung
Kelud. 2(01), 1–7.
AISYA, M. (2016). HUBUNGAN GAYA HIDUP DENGAN KEJADIAN MENARCHE DI SMA
NEGERI 1 DRIYOREJO KABUPATEN GRESIK.
Andrade, C. (2015). Understanding relative risk, odds ratio, and related terms: As simple as it
can get. Journal of Clinical Psychiatry, 76(7), e857–e861. [Link]
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2019). Data Informasi Bencana Indonesia
(DIBI) Bencana Menurut Jenisnya di Indonesia Tahun 2015/2019. Retrieved from
[Link]
Bandura, A. (1994). Encyclopedia of mental health (Vol. 4). Academic Press.
Berman, A., Snyder, S. J., & Frandsen, G. (2016). Fundamentals of Nursing Concepts, Process,
and Practice 10th Ed by Kozier & Erb.
BNPB. (2017). Bencana Alam Di Indonesia Tahun 2017 S/D 2018. DIBI. Retrieved from
[Link]
BNPB. (2019). Buku Saku Siaga Bencana BNPB. [Link]
BNPB. (2020). Bencana Alam Di Indonesia Tahun 2015 S/D 2016. DIBI. Retrieved from
[Link]
Budimanto, Mudatsir, & Tahlil, T. (2017). Hubungan Pengetahuan , Sikap Bencana Dan
Keterampilan Basic Life Support Dengan Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi Pada
Mahasiswa Keperawatan Poltekkes Banda Aceh. Ilmu Kebencanaan, 4(2), 53–58.
Damayanti, H. N. (2015). KAJIAN KESIAPSIAGAAN INDIVIDU DAN RUMAH TANGGA DALAM
MENGHADAPI BENCANA TSUNAMI DI KECAMATAN GRABAG KABUPATEN PURWOREJO.
Daryono. (2017). Penjelasan BMKG Terkait Hasil Kajian Sesar Lembang yang Berpotensi
Memicu Gempa Berkekuatan M=6.8. Retrieved March 5, 2020, from BMKG website:
[Link]
potensi-memicu-gempa-berkekuatan-m6-8&lang=ID&tag=press-release
Data Peneliti. (2020).
Dharma, kelana kusuma. (2011). Metedologi Penelitian Keperawatan.
DIBI. (2020). Bencana Alam Propinsi (Jawa Barat) Tahun 2011 S/D 2018. Retrieved from
[Link]
Dien, R., Kumaat, L., & Malara, R. (2015). Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Terhadap
Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Gempa Bumi Pada Siswa Smp Kristen Kakaskasen Kota
Tomohon. Jurnal Keperawatan UNSRAT, 3(2).
Dwijayanti, R., Fitriani, D., Pamungkas, B., & Noor, I. (2020). Self Efficacy Dalam Kesiapsiagaan
Gempa Bumi SMP M Boarding School Prambanan dan SMP M 21 Gantiwarno. 5(1), 46–55.
Earthquakes. (2020). Retrieved from World Health Organization (WHO) website:
[Link]
Elfiati, W. (2017). Bencana Gempa Bumi (1st ed.). Menara Mega Perkasa.
Fatma, D. (2017). 10 Jenis- jenis Gempa Bumi. Retrieved from [Link] website:
[Link]
Fauzi, A. R., Hidayati, A., Subagyo, D. O., Sukini, & Latif, N. (2017). HUBUNGAN TINGKAT
PENGETAHUAN BENCANA DENGAN KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT DI KECAMATAN
WONOGIRI DALAM MENGHADAPI BENCANA GEMPA BUMI. 319–330.
Fitriani, R. S., Suparman, O., Rahman, T., & Zaki, M. (2017). Mitigasi Gempa Bumi. In 2.
Flammer, A. (2015). Self-Efficacy. International Encyclopedia of the Social & Behavioral
Sciences: Second Edition, 4(1994), 504–508.
[Link]
Gakii Ngondi, S. C. (2017). FACTORS INFLUENCING PREPAREDNESS FOR DISASTER
RISK MANAGEMENT WITHIN THE CONSTRUCTION INDUSTRY IN NAIROBI COUNTY ,
KENYA A Research Project Report Submitted in Partial Fulfillment of the and Management ,
University of Nairobi. 1–93.
Heryana, A. (2019). Buku Ajar Metodologi Penelitian pada Kesehatan Masyarakat. In Bahan
Ajar Keperawatan Gigi (Vol. 91).
Hidayah, N., & Huriat. (2016). KRISIS IDENTITAS DIRI PADA REMAJA “IDENTITY CRISIS OF
ADOLESCENCES.” Sulesana, 10(1), 49–62.
Husni, R. N., Rozali, Y. A., Psikologi, F., & Esa, U. (2016). PENGARUH SELF EFFICACY
TERHADAP RESILIENSI PADA ANGGOTA KORP SUKARELA - PALANG MERAH
INDONESIA DI JAKARTA BARAT DALAM PENANGGULANGAN.
Indonesia, P. (2007). Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan
Bencana.
Indonesia, P. (2019). Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi. 1–30.
Kemenkes RI. (2017). Analisis Lansia di Indonesia. Pusat Data Dan Informasi Kementerian
Kesehatan RI, 1–2. Retrieved from [Link]/[Link]?file=download/.../infodatin
lansia [Link]%0A
Khoirunisa, N. (2018). Disaster knowledge of student for disaster preparedness. (May 2016).
Kurniawati, D. (2017). PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI.
Kusumaryani, M. (2017). Brief notes : Prioritaskan kesehatan reproduksi remaja untuk
menikmati bonus demografi. Lembaga Demografi FEB UI, 1–6. Retrieved from
[Link]
LIPI–UNESCO/ISDR. (2006). Kajian Kesiapsiagaan Masyarakat DALAM MENGANTISIPASI
BENCANA GEMPA BUMI & TSUNAMI.
Mahmudi, M. H., & Suroso, S. (2014). Efikasi Diri, Dukungan Sosial dan Penyesuaian Diri
Dalam Belajar. Persona:Jurnal Psikologi Indonesia, 3(02), 183–194.
[Link]
Manuntung, A. (2015). Pengaruh Cognitive Behavioral Therapy (CBT) terhadap Self Efficacy
dan Self Care Behavior pada Pasien Hipertensi. Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran Dan
Kesehatan, 15(1), 40–51. Retrieved from
[Link]
Marceron, J. E., & Rohrbeck, C. A. (2018). Disability and disasters : the role of self-efficacy in
emergency preparedness preparedness. Psychology, Health & Medicine, 00(00), 1–11.
[Link]
Notoatmodjo, Soekidjo. (2012). Metedologi Penelitian (2nd ed.).
[Link]
Notoatmodjo, Soekirdjo. (2012). Promosi Kesehatan. [Link]
Nur Faizah R. (2016). KESIAPSIAGAAN BENCANA GEMPA BUMI PADA SISWA SMP SIAGA
BENCANA DI KABUPATEN BANTUL (SMP NEGERI 2 IMOGIRI).
OCHA. (2019). Flash update no. 3 Philippines: Davao del Sur 6.9-magnitude earthquake. (3),
3546.
Oktaviantika, D. A. (2016). TINGKAT PENGETAHUAN SISWA KELAS X SMK
MUHAMMADIYAH 02 WEDI KABUPATEN KLATEN DALAM MITIGASI BENCANA GEMPA
BUMI. 111(September), 35–37.
Pahleviannur, M. R. (2019). Edukasi Sadar Bencana Melalui Sosialisasi Kebencanaan Sebagai
Upaya Peningkatan Pengetahuan Siswa Terhadap Mitigasi Bencana. Jurnal Pendidikan Ilmu
Sosial, 29(1), 49–55. [Link]
Pratiwi, D. (2019). BMKG: Getaran Gempa Bogor Sudah Terjadi 76 Kali Sejak 10 Agustus
2019. Liputan6. Com. Retrieved from
[Link]
-sejak-10-agustus-2019
Rinaldi, sony faisal, & Mujianto, B. (2017). Metedologi Penelitian dan Statistik.
Rofifah, R. (2019). Hubungan antara pengetahuan dengan kesiapsiagaan bencana pada
mahasiswa keperawatan universitas diponegoro. Departemen Ilmu Keperawatan Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang, 2019.
Ropiah, S. (2019). HUBUNGAN SELF-EFFICACY DENGAN IDE BUNUH DIRI PADA PASIEN
KANKER PAYUDARA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) CENGKARENG.
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Retrieved from
[Link]
Rusiyah. (2017). Hubungan Pengetahuan dengan Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi pada
Siswa Taman Pendidikan Al-Qur’an Al-Khair Kabupaten Bonebolango. Jurnal Swarnabhumi,
2(1), 1–6. Retrieved from
[Link]
Sabri, L., & Hastono, sutanto priyono. (2018). Statistik Kesehatan. Depok: RajaGravindo
Persada.
Santika, I. G. P. N. A. (2015). HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DAN UMUR
TERHADAP DAYA TAHAN UMUM (KARDIOVASKULER) MAHASISWA PUTRA SEMESTER II
KELAS A FAKULTAS PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN IKIP PGRI BALI TAHUN
2014. Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi, 1.
Simandalahi, T., Alwi, N. P., Sari, I. K., & Prawata, A. H. M. (2019). EDUKASI KESIAPSIAGAAN
BENCANA GEMPA BUMI MELALUI PENDIDIKAN KESEHATAN.
Songlar, T., La-or, N. P. P., Chomchoe, C., & Khunthason, S. (2018). Knowledge , attitude and
practice ( KAP ) of earthquake preparedness amongst the elderly in risk areas.
[Link]
Syarif, H. (2015). Hubungan Self Efficacy Dengan Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi Dan
Tsunami Pada Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Dan 6 Banda Aceh. Idea Nursing
Journal, VI(2), 53–61.
Wawan, & Dewi. (2010). Teori & Pengukuran Pengetahuan, Sikap dan Sikap Manusia.
WHO. (2002). DISASTERS &amp; EMERGENCIES DEFINITIONS. WHO/EHA Training
Package, (March), 1–26. Retrieved from [Link]
Widyawati, S., & Muttaqin, Z. (2010). PEDOMAN KESIAPSIAGAAN MENGHADAPI GEMPA
BUMI —Buku Saku. Retrieved from [Link]

RIWAYAT HIDUP

Nama : Aggita Cahyani


Tempat/Tanggal Lahir: Jakarta, 24 Agustus 1998
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Kewarganegaraan : Indonesia
Alamat : Jl. Raya Pemda Sukahati No. 105 RT:01/RW:02 Kel. Sukahati, Kec. Cibinong, Kab.
Bogor.
No. Telp : 0895338297447
Email : aggita2498@[Link]
Nama Orang Tua
Ayah : Warseno
Ibu : Sri Sudarsi
PENDIDIKAN FORMAL
2004 – 2010 : SDN Menteng 02 Pagi Jakarta Pusat
2010 – 2013 : SMPN 280 Jakarta Pusat
2013 – 2016 : SMA Citra Nusa Cibinong
2016 – Sekarang : Universitas Pembangunan Nasional Veteran
Jakarta
PENGALAMAN ORGANISASI
R. E. MARTHADINATA UPN VETERAN JAKARTA

LAMPIRAN
Lampiran 1
Surat Permohonan Ijin Studi Pendahuluan dan Penelitian Kepala Sekolah SMK Bina Mandiri
Bogor

Lampiran 2
Surat Permohonan Ijin Validasi Kepala Sekolah SMK Kosgoro Bogor

Lampiran 3
Surat Permohonan Kode Etik (Ethical Clerance)

Lampiran 4
Persetujuan Kode Etik (Ethical Clerance)

Lampiran 5
Surat Balasan Ijin Validasi SMK Kosgoro

Lampiran 6
Surat Keterangan Penelitian di SMK Bina Mandiri Bogor
Lampiran 7
Lembar Penjelasan Sebelum Persetujuan

PERSETUJUAN KEIKUTSERTAAN DALAM PENELITIAN


(INFORMED CONSENT)
“Hubungan Antara Pengetahuan Dan Self Efficacy Dengan Kesiapsiagaan Bencana Gempa
Bumi Pada Siswa SMK Bina Mandiri Bogor”
Perkenalkan saya Aggita Cahyani mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan UPN Veteran Jakarta
Program Studi S1 Keperawatan. Saat ini saya sedang melakukan penelitian yang berjudul
“Hubungan Antara Pengetahuan Dan Self Efficacy Dengan Kesiapsiagaan Bencana Gempa
Bumi Pada Siswa SMK Bina Mandiri Bogor”sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
sarjana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pengetahuan
dan self efficacy dengan kesiapsiagaan bencana gempa bumi pada siswa SMK Bina Mandiri
Bogor.
Manfaat dari mengikuti penelitian ini adalah saudara/i dapat mengetahui apakah pengetahuan
dan tingkat self efficacy siswa SMK Bina Mandiri sudah baik pada kesiapsiagaan bencana
gempa bumi. Prosedur penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti akan
menyebarkan kuesioner melalui Google Form yang akan diberikan melalui media WhatsApp.
Segala bentuk informasi yang saudara/i berikan akan disimpan oleh peneliti, dijaga
kerahasiaannya, dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian saja. Partisipasi saudara/i
dalam penelitian ini bersifat bebas, saudara/i berhak untuk memilih bersedia untuk menjadi
responden atau menolak tanpa dikenakan sanksi apapun.

Lampiran 8
Lembar Persetujuan Responden
LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN
(INFORM CONSENT)

Saya yang bertanda tangan dibawah ini


Nama (Inisial) :
Kelas :
Nomor Absen :

Telah menerima dan mengerti penjelasan mengenai penelitian yang berjudul “Hubungan Antara
Pengetahuan dan Self Efficacy Dengan Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi Pada Siswa
SMK Bina Mandiri Bogor” dengan ini saya menyatakan bahwa saya setuju dan bersedia
menjadi responden dalam penelitian ini.

Demikian persetujuan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan dari pihak
manapun.

..................., Mei 2020

Lampiran 9
Kuesioner Penelitian

KUISIONER KRAKTERISTIK

KARAKTERISTIK RESPONDEN
Nama :..................................................

Usia : 1. ≥15 tahun


(Lingkari salah satu)
< 15 tahun

Jenis kelamin : 1. Laki-Laki


Perempuan
(Lanjutan)

KUISIONER PENGETAHUAN BENCANA GEMPA BUMI

PENGETAHUAN BENCANA GEMPA BUMI

SS : Sangat Setuju
S : Setuju
RG : Ragu-Ragu

TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju

NO PERTANYAAN SS S RG TS STS
1. Bencana adalah peristiwa mengancam nyawa
2. Bencana dibagi menjadi 3 yaitu: bencana alam, bencana non-alam, dan bencana sosial

3. Gempa termasuk bencana non alam


4. Gedung sekolah dengan konstruksi yang kurang baik, beresiko runtuh saat terjadi
gempa bumi
5. Gempa bumi tektonik disebabkan oleh adanya pergeseran lempeng-lempeng bumi

6. Gempa dengan kekuatan di atas 6 skala richter akan merusak gedung sekolah ini

7. Gempa yang getarannya dekat dengan permukaan bumi atau permukaan tanah akan
menyebabkan guncangan yang besar dan kerusakan yang parah
8. Salah satu dampak dari gempa bumi dapat menyebabkan tsunami

9. Jika ada gempa disekolah tindakan yang harus dilakukan adalah melindungi kepala,
masuk kolong meja, jauhi kaca, dan keluar ke tempat terbuka
10. Anak-anak, ibu hamil, lansia, dan peyandang disabilitas adalah kelompok rentan yang
harus dilindungi pada saat terjadi bencana
11. Saat di dalam kelas/ruangan, orang yang jauh dari pintu memiliki resiko lebih tinggi
dibandingkan dengan yang berada di dekat pintu saat menyelamatkan diri ketika terjadi gempa

12. Apabila terjadi gempa, sedangkan saya ada di tempat yang tinggi seperti pegunungan,
saya harus melihat keadaan sekitar apakah aman atau tidak dan harus tetap berhati-hati

(Lanjutan)

KUISIONER SELF EFFICACY

SELF EFFICACY

SS : Sangat Setuju
S : Setuju
RG : Ragu-Ragu
TS : Tidak Setuju
STS: Sangat Tidak Setuju

NO PERTANYAAN SS S TS STS
1 Saya dapat melindungi diri jika terjadi bencana
2 Saya berusaha mencari cara untuk melindungi diri dari bencana gempa, jika ada
halangan
3 Jika terjadi gempa saya akan menyelamatkan diri mengikuti jalur evakuasi dan arahan
dari petugas maupun guru jika di sekolah
4 Saya berusaha mempelajari jalur evakuasi yang ada di sekolah, jadi saya tidak akan
bingung jika terjadi gempa bumi
5 Dengan kemampuan saya, saya akan membantu mengingatkan teman-teman yang lain
untuk tetap tenang dan berpindah ke tanah lapang saat terjadi gempa bumi

6 Sampai saat ini saya belum pernah lihat ada jalur evakuasi di sekolah

7 Saya dapat terlindungi dari bencana gempa bumi jika saya mengerahkan upaya untuk
melindungi diri
8 Saya akan tetap tenang walaupun terjadi gempa bumi, karena saya yakin saya mampu
memecahkan masalah yang saya hadapi
9 ketika terjadi gempa bumi saya tidak panik dan tetap berhati-hati saat berjalan di tangga

10 Saya dapat memikirkan solusi dari masalah yang saya hadapi, meskipun saya sedang
berada di situasi genting
11 Saya mampu menangani masalah yang saya hadapi, termasuk ketika bencana gempa
terjadi
(Lanjutan)

KUISIONER KESIAPSIAGAAN BENCANA

KESIAPSIAGAAN BENCANA

SS : Sangat Setuju
S : Setuju
RG : Ragu-Ragu
TS : Tidak Setuju
STS: Sangat Tidak Setuju

NO PERTANYAAN SS S RG TS STS
1 Edukasi tentang bencana penting untuk pedoman bila terjadi bencana

2 Pada saat terjadi bencana, sebaiknya menggunakan tangga darurat saat keluar dari
gedung bertingkat
3 Kesiapsiagaan bencana berguna untuk mencegah timbulnya korban jiwa

4 Saya tidak peduli dengan keadan sekitar lingkungan saya apakah rawan terjadi bencana
atau tidak
5 Mengikuti pelatihan/simulasi bencana penting buat saya
6 Saya akan berlindung di kolong meja dan berjalan keluar ruangan dan menuju titik
kumpul atau lapangan saat gempa sudah mereda
7 Apabila gempa terjadi di sekolah, maka saya akan berjalan mengikuti jalur evakuasi
menuju titik kumpul
8 Setelah di titik kumpul, akan dilakukanlah perhitungan oleh petugas, masing-masing
orang harus mengingat teman sebangkunya apakah sudah lengkap atau belum

9 Pengalaman membuat kita menjadi lebih siap menghadapi bencana


10 Setiap orang harus bersikap cepat dan tanggap ketika terjadi bencana

11 Perlu menyiapkan tas siaga bencana yang berisi surat penting, uang, peluit, senter,
charger, obat P3K, peralatan mandi, pakaian ganti, masker, air mineral, makanan tahan lama

12 Saya berfikir tidak perlu berlari ke tanah lapang saat terjadi gempa bumi

13 Saya tidak akan berlari ke titik evakuasi saat terjadi bencana

14 Perlu menyimpan nomor kontak penting seperti Polisi, BNPB, Damkar, Ambulans, dll

Lampiran 10
Hasil Uji Validitas
Hasil Uji Validitas Item : Pengetahuan

Lampiran 11
Hasil Uji Validitas

Hasil Uji Validitas Item : Self Efficacy


Lampiran 12
Hasil Uji Validitas

Hasil Uji Validitas Item : Kesiapsiagaan

Lampiran 13
Hasil Uji Reabilitas

Hasil Uji Reabilitas Item : Pengetahaun

Hasil Uji Reabilitas Item : Self Efficacy

Hasil Uji Reabilitas Item : Kesiapsiagaan

Lampiran 14
Hasil Uji Normalitas

Hasil Uji Normalitas


Nilai Mean / Median
Statistics
Pengetahuan Self Efficacy Kesiapsiagaan
N Valid 221 221 221
Missing 0 0 0
Mean 53.30 45.24 61.83
Median 53.00 44.00 62.00

Lampiran 15
Hasil Uji Univariat

Hasil Uji Univariat Kategori Usia

Hasil Uji Univariat Kategori Jenis Kelamin

Hasil Uji Univariat Kategori Pengetahuan

Hasil Uji Univariat Kategori Self Efficacy

Hasil Uji Univariat Kategori Self Efficacy


Lampiran 16
Hasil Uji Bivariat

Hasil Uji Bivariat Hubungan Usia Dengan Kesiapsiagaan Bencana


(Lanjutan)
Hasil Uji Bivariat Hubungan Jenis Kelamin Dengan Kesiapsiagaan Bencana
(Lanjutan)

Hasil Uji Bivariat Hubungan Pengetahuan Dengan Kesiapsiagaan Bencana

(Lanjutan)

Hasil Uji Bivariat Hubungan Self Efficacy Dengan Kesiapsiagaan Bencana

Anda mungkin juga menyukai