BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KONSEP TEORI PENYAKIT ASMA
Gambar 2.1 Anatomi Paru-paru
(Sumber : Chalik, 2016)
1. Anatomi Sistem Pernafasan
Sistem pernafasan berfungsi untuk mengalirkan udara ke paru-paru
Proses memasukkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida
(Kirnantoro dan Maryana, 2016). Sistem ini terdiri dari beberapa organ,
sebagai berikut :
a. Hidung
Hidung berfungsi menyesuaikan suhu udara yang masuk, menyaring
kotoran yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung dan sebagai indra
penciuman. (Kirnantoro dan Maryana, 2016).
b. Faring (tekak)
Faring merupakan persimpangan antara jalan nafas dan jalan
makanan. Terdapat epiglotis yang berfungsi untuk menutup laring
pada waktu menelan makanan (Nugroho dkk, 2016)
c. Laring (pangkal tenggorok)
Fungsi utama dari faring untuk pembentukan suara, namun dalam
sistem pernafasan berfungsi sebagai jalan udara (Tabrani, 2010)
d. Trakea (batang tenggorok)
Trakea merupakan lanjutan dari laring yang terdiri dari 16-20 cincin
yang terdiri dari tulang-tulang rawan berbentuk seperti kuku kuda
(huruf C). Sebelah dalam diliputi oleh sel bersilia yang berfungsi
untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama dengan
udara (Nugroho dkk, 2016).
e. Bronkus (cabang tenggorokan)
Bronkus merupakan percabangan dari trakea yang membentuk
bronkus sekunder, bronkus tersier, bronkus terminal dan bronkiolus
pernafasan mikroskopis (Kirnantoro dan Maryana, 2016).
f. Paru-paru
Merupakan alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung-
gelembung hawa (alveoli) yang berfungsi untuk tempat pertukaran
udara.
2. Pengertian Asma
Asma merupakan keadaan dimana saluran nafas mengalami
penyempitan dan terjadi peradangan yang disebabkan oleh berbagai
rangsangan, seperti serbuk sari, debu, bulu binatang, udara dingin, asap,
dan olahraga (Junaidi, 2011). Sedangakan menurut Nugroho dkk (2016)
asma adalah kondisi berupa peradangan kronik pada saluran nafas yang
menyebabkan hiperaktivitas bronus terhadap berbagai rangsangan yang
ditandai dengan gejala episodik berulang berupa mengi, batuk, sesak
nafas dan rasa berat di dada terutama saat malam atau dini hari. Pada
umumnya bersifat reversibel baik dengan atau tanpa pengobatan.
3. Etiologi Asma
Faktor penyebab dari asma menurut Nugroho dkk (2016) terdapat dua
faktor yaitu infeksi dan non infeksi :
a. Faktor infeksi misalnya disebabkan oleh virus, jamur, parasit, dan
bakteri
b. Faktor non infeksi dapat berupa alergi, iritan, perubahan cuaca,
kegiatan jasmani dan psikis
Faktor pencetus yang dapat menyebabkan asma menurut Nugroho dkk
(2016) :
a. Allergen
Allergen merupakan zat tertentu yang jika dihidup atau dimakan
dapat menimbulkan serangan asma. Misalnya debu rumah, tungau,
bulu binatang dan beberapa makanan laut.
b. Infeksi saluran pernafasan
Infeksi saluran pernafasan terutama disebabkan oleh virus. Salah
satunya adalah virus influenza
c. Olahraga atau kegiatan jasmani yang berat
Penderita asma bronkhial akan mengalami serangan asma jika
melakukan olahraga atau aktifitas fisik yang berlebihan.
d. Obat-obatan
Beberapa pasien dengan asma sensitive atau alergi terhadap obat
tertentu misalnya penisillin salisilat, beta blocker, kodein dan
sebagainya
e. Polusi udara
Pasien dengan asma sangat peka terhadap udara berdebu, asap
kendaran, asap rokok, serta bau yang tajam.
4. Klasifikasi Asma
Klasifikasi berdasarkan derajat asma menurut NANDA (2013) dalam
GINA (Global Initiative for Asthma) dibagi menjadi empat, yaitu:
a. Intermiten
Gejala terjadi kurang dari 1 kali/ minggu dan serangan singkat
b. Persisten ringan
Gejala lebih dari 1 kali/ minggu namun kurang dari 1 kali/hari
c. Persisten sedang
Gejala timbul setiap hari dan memerlukan bronkodilator.
d. Persisten berat
Gejala yang timbul secara terus menerus dan serangan sering terjadi.
Klasifikasi berdasarkan tingkat asma menurut Tabrani (2010) dibagi menjadi
3 tingkat, yaitu :
a. Asma bronkiale
Asma bronkiale yaitu suatu bronkospasme yang bersifat reversibel
dengan latar belakang alergik
b. Status asmatikus merupakan salah satu bentuk kegawatan paru yang
disebabkan pleh bronkospasme yang persisten. Status asmatikus paling
umum disefinisikan sebagai asma ynag sukar disembuhkan dengan obat-
obatan yang konvensional
c. Asmatikus emergency (Kedaruratan asmatikus)
Asmatikus emergency merupakan asma yang dapat menyebabkan
kematian
Klasifikasi asma berdasarkan tipe menurut Nugroho dkk (2016) dibedakan
menjadi 3 yaitu :
a. Asma alergik
Asma yang disebabkan oleh alergen, misalnya debu, bulu binatang,
makanan.
b. Asma idiopatik atau non alergik
Asma yang tidak berhubungan dengan alergen spesifik, faktor resiko
disebabkan oleh emosi, aktivitas, latihan, dan lingkungan
c. Asma gabungan (mixed astma)
Asma yang paling umum mempunyai karakteristik dari bentuk alergik
maupun non alergik atau idiopatik
5. Patofisiologi Asma
Asma merupakan obstruksi jalan nafas yang bersifat reversibel.
Obstruksi yang menimbulkan penyempitan jalan nafas, pembengkakan
membran yang melapisi bronkhi. Selain itu, otot bronkhian dan kelenjar
mukosa membesar, sputum yang kental banyak dihasilkan sehingga
alveoli menjadi hiperinflasi, dengan banyak udara yang terperangkap
dalam jaringan paru. Mekanisme yang pasti tentang asma belum diketahui
secara pasti namun ada keterlibatan sistem imunologis dan sistem otonom
(Wijaya dan Yessie, 2013)
Ada beberapa individu dengan asma yang mempunyai respon imun
yang buruk terhadap lingkungan. Antibodi yang dihasilkan (IgE)
menyerang sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen
mengakibatkaan ikatan antigen dengan antibodi, menyebabkan pelepasan
produk sel-sel mast (mediator) seperti histamin, bradikimim, dan
prostagladin serta anafilaksis dari substansi yang bereaksi lambat (SRS-
A). Pelepasan mediator ini mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan
nafas yang menyebabkan bronkospasme, pembengkakan membran
mukosa dan pembentukan mukus yang banyak (Wijaya dan Yessie, 2013)
6. Manifestasi Klinis Asma
Menurut Smeltzer (2013) dan Nugroho (2016) manifestasi klinis asma
sebagai berikut :
a. Gejala asma paling umum adalah batuk, dispnea, mengi/ wheezing
b. Serangan asma paling sering terjadi pada pagi atau malam hari
c. Sesak nafas, nafas cuping hidung
d. Dada seperti tertekan, nyeri dada, takikardi
e. Kelelahan, lemah, gelisah, berkeringat
f. Anoreksia
g. Sianosis
7. Pemeriksaan Penunjang Asma
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan menurut Nugroho dkk
(2016) antara lain :
a. Pemeriksaan radiologi
1) Foto thorak
Pada foto thorak akan terlihat corakan paru yang meningkat,
hiperinflasi pada paru-paru.
2) Foto sinus paranasalis
Diperlukan jika asma sulit terkontrol untuk melihat adanya sinusitis
b. Pemeriksaan darah
1) Hitung jenis leukosit akan terdapat eosinosifilia pada darah tepi
dan sekret hidung, bila tidak eosinofillia kemungkinan bukan
asma
2) Analisa gas darah
c. Uji faal paru/ Lung function test (LFT)
Dilakukan untuk menentukan derajat obstruksi, menilai hasil
pengobatan dan mengikuti perjalanan penyakit.
d. Uji kulit alergi dan imunologi
Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara goresan atau tusuk alergen
yang digunakan adalah alergen yang banyak ditemukan didaerahnya.
8. Komplikasi Asma
Menurut Nugroho (2016) apabila asma tidak ditangani dengan tepat dapat
menyebabkan berbagai komplikasi, sebagai berikut :
a. Pneumothorak
Pneumothorak adalah keadaan terkumpulnya udara di dalam rongga
pleura.
b. Atelektasis
Atelektasis adalah pengerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat
penyumbatan saluran nafas atau akibat dari pernafasan yang dangkal
c. Gagal nafas
Gagal nafad adalah ketidakmampuan sistem pernafan untuk
mempertahankan pemenuhan oksigen dalam tubuh.
d. Hipoksemia
Hipoksemia adalah rendahnya kadar oksigen dalam darah. Kadar
oksigen dalam darah berada di bawah normal, terlebih pada arteri.
Kadar normal oksigen sekitar 75-100 mmHg.
e. Emfisema
Emfisema adalah penyakit yang gejala utamanya adalah penyempitan
saluran nafas karena kantung udara di paru-paru menggelembung
secara berlebihan dan mengalami kerusakan yang luas.
9. Penatalaksanaan Asma
Penatalaksanaan asmab bertujuan untuk dapat mengontrol
manifestasi klinis dari penyakit untuk waktu yang lama, meninkatkan dan
mempertahankan kualitas hidup agar penderita asma dapat melakukan
aktivitas sehari-hari (Nugroho dkk, 2016). Pertolongan pertaman pada
penderita asma, sebagai berikut :
a. Jangan panik dan tenangkan diri penderita asma sampai rileks
b. Bawa penderita ke tempat yang nyaman dengan udara yang bersih
serta sirkulasinya baik.
c. Atur posisi duduk yang nyaman
d. Bantu penderita untuk menghidrup inhaler nya
e. Sarankan untuk bernafas dalam dan perlahan
f. Jika serangan asma berhenti dalam 5-10 menit, sarankan untuk
menghirup kembali 1 dosis inhaler
g. Jika inhaler tidak berfungsi dan serangan asma tidak berhenti dalam 5-
10 menit, segera bawa ke rumah sakit secepatnya
h. Jika penderita berhenti bernafas atau kehilangan kesadaran, periksa
pernafasan serta peredaran darahya. Dan lakukan resusitasi pada
penderita
Prosedur penatalaksanaan untuk mengatasi kegawatan dalam asma
menurut Tabrani (2010) dibagi menjadi :
a. Pemberian oksigen menggunakan kanula maupun masker dengan
kecepatan disesuaikan dengan tingkat intensitas asma. Biasanya
dibutuhkan 1-15 liter per menit tergantung PaO2
b. Pemberian bronkodilator
Obat yang digunakan untuk melebarkan saluran nafas misalnya
fenoterol, terbutalin, ventolin.
c. Monitoring kardiovaskuler yang meliputi nadi, tekanan darah,
elektrokardiografi dan monitoring jantung
d. Pemenuhan hidrasi melalui infus
10. Pencegahan Asma
Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2018) dan Nugroho
(2016) asma dapat dicegah dengan beberapa cara sebagai berikut :
a. Menghindari paparan asap rokok, debu, polusi udara, bau-bauan yang
dapat membuat iritasi seperti parfum, obat semprot serangga dan
deterjen
b. Menjaga kesehatan dengan cara makan makanan yang bergizi, minum
banyak, istirahat yang cukup, rekreaasi dan olahraga yang sesuai.
c. Menjaga kebersihan lingkungan rumah. Sebaiknya rumah tidak
lembab, cukup ventilasi dan cahaya matahari. Sebaiknya alat-alat tidur
tidak terbuat dari kabu-kabu ( kapuk)
d. Jemur dan tepuk-tepuk kasur secara rutin
B. KONSEP DASAR GAWAT DARURAT
1. Pengerian Gawat Darurat
Gawat merupakan kondisi yang dapat mengancam nyawa, sedangakan
darurat adalah perlu suatu penanganan atau tindakan sesegera mungkin
untuk menghilangkan ancaman nyawa pasien (Musliha, 2010)
2. Triase
Triase merupakan cara untuk pemilihan penderita berdasarkan kebutuhan
terapi dan sumber daya yang tersedia. Terapi yang diberikan berdasarkan
keadaan airway, breathing dan circulation (Musliha, 2010). Sedangkan
menurut Team INTC (2014) triase merupakan proses memilah dan
menentukan korban sesuai dengan klasifikasinya.
3. Klasifikasi Triase
a. Klasifikasi Kegawatan Triase
1) Gawat Darurat (Prioritas 1 : P1) / merah
Menurut Wijaya (2010) gawat darurat merupakan keadaan
mengancam nyawa dan membutuhkan tindakan segera. Jika tidak
dapat menyebabkan kecacatan bahkan kematian. Kondisi gawat
darurat dapat disebabkan adanya gangguan pada jalan nafas,
pernafasan dan sirkulasi. Misalnya gangguan cardiacarrest,
penurunan kesadaran, henti jantung, perdarahan besar, henti
nafas, dan pasien yang tidak sadarkan diri.
2) Gawat Tidak Darurat atau Darurat Tidak Gawat (Prioritas 2 :P2) /
kuning
Keadaan dimana mengancam nyawa namun tidak diperlukan
tindakan dengan segera. Misalnya kanker serviks, pasien dengan
luka bakar grade II dan III kurang dari 25% , trauma thorak,
trauma bola mata dan laserasi luas.
3) Tidak Gawat Tidak Darurat (Prioritas 3 : P3)/ hijau
Keadaan dimana pasien tidak memerlukan tindakan gawat
darurat. Misalnya panu, flu, batuk pilek fraktur ringan disertai
perdarahan, benturan ringan, luka bakar ringan
4) Prioritas 0 / Hitam
Digunakan untuk pasien yang memiliki kemungkinan hidup
sangat kecil. Warna ini diberikan pada pasien yang mengalami
luka atau penyakit parah misalnya otak keluar, spinal injuri, dan
multiple injury.(Mardalena, 2016)
C. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ASMA
1. Pengkajian
a. Pengkajian Primer (primary survey)
Pengkajian primer adalah proses penilaian keadaan korban
gawat darurat menggunakan prioritas CAB-DE untuk menentukan
kondisi dan pertolongan yang dibutuhkan (INCT, 2014). Pada pasien
dengan asma pengkajian ini meliputi :
1) Airway / jalan nafas (+ cervical control)
Melakukan penilaian pada jalan nafas dilakukan bersamaan
dengan menstabilkan leher (Ulya dkk, 2017). Periksa adanya suara
nafas yang abnormal (stridor, gurgling, shoring).
2) Breathing (+ Ventilation)
Untuk menilai pernafasan perlu memperhatikan proses
respirasi spontan, kecepatan, kedalaman dan usaha melakukannya.
Perlu dilakuakan pemeriksaan dada untuk mengetahui penggunaan
otot bantu pernafasan dan gerak naik turunnya dinding dada secara
simetris saat bernafas (Ulya dkk, 2017).
Pada pasien dengan asma biasanya akan mengalami dipsnea
saat istirahat atau respon terhadap aktivitas yang dilakukan, nafas
dapat memburuk ketika pasien berbaring terlentang ditempat tidur,
kaji suara nafas apakah ada bunyi nafas mengi atau tidak, apakah
ada batuk yang berulang (Musliha, 2010).
3) Circulation (+ Kontrol perdarahan)
Lakukan pengkajian adanya peningkatan tekanan darah,
frekuensi jantung, perhatikan warna kulit atau membran mukosa
terlihat normal/ sianosis (Musliha, 2010)
4) Disability / Status kesadaran (GCS dan tanda lateralisasi)
Tingkat kesadaran pasien dengan asma dapat dinilai dengan
menggunakan AVPU (Ulya dkk, 2017) :
A (Alert) : Sadar
V (Voice,) : Berespon terhadap suara/ verbal
P (Pain : Berespon terhadap nyeri
U (Unrespon : Tidak ada respon
5) Exposure and Environmental control (Pemaparan dan kontrol
lingkungan)
Exposure merupakan tindakan untuk mengetahui apakah ada tanda
jejas, perdarahan dengan cara membuka pakaian pasien. Dan
pasien harus dilindungi dari hipotermia dengan cara memberikan
selimut, sistem penghangat udara. (Ulya dkk, 2017)
b. Pengkajian Sekunder
Pada pemeriksaan sekunder dimulai dari kepala sampai kaki
(head to to), termasuk pemeiksaan tanda-tanda vital. Pengkajian
sekunder hanya dilakukan jika korban gawat darurat sudah dalam
keadaan stabil (Ulya dkk, 2017). Pemeriksaan ini meliputi :
1) Riwayat kesehatan sekarang
Menanyakan kondisi kesehatan yang dirasakan sekarang, keluhan
yang dirasakan pasien. Sejak kapan keluhan dirasakan.
2) Riwayat kesehatan yang lalu
Lakukan pengkajian riwayat kesehatan penyakit sebelumnya.
Mengkaji riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat/
lingkungan. Dapat berupa alergi debu, bulu binatang, atau
makanan.
Mengkaji riwayat pekerjaan pasien. Apakah setiap hari
berhubungan dengan zat alergen atau tidak (Musliha, 2010)
3) Riwayat kesehatan keluarga
Lakukan pengkajian apakah keluarga mempunyai riwayat penyakit
serupa sebelumnya.
4) Anamnese singkat (AMPLE) menurut Kartikawati (2011) :
a) A : Allergy
Apakah pasien mempunyai alergi makanan , minuman atau
obat-obatan
b) M : Medication
Obat apa yang diminum terakhir kali
c) P : Past illnes
Riwacat penyakit yang pernah diderita pasien
d) L : Last meal
Makanan yang dikonsumsi terakhir kali oleh pasien
e) E : Event of injury
Penyebab pasien sakit
5) Menilai tingkat kesadaran
Dalam penilaian kesadaran pasien dapat menggunakan Glasgow
Coma Scale (GCS) yang terdiri dari (INTC, 2014) :
Komponen Mata (Eyes/ E)
Membuka mata sontan (4)
Membuka mata dengan stimulus suara (3)
Membuka mata dengan stimulus nyeri (2)
Tidak dapat membuka mata (1)
Komponen Verbal (Suara/ V)
Orientasi baik (5)
Gelisah (4)
Kata tidak jelas (3)
Suara yang tidak jelas artinya (2)
Tidak ada suara (1)
Komponen Motorik (Reaksi motorik/ M)
Mengikuti Perintah (6)
Melokalisir nyeri (5)
Menghindari nyeri (4)
Reaksi fleksi (3)
Reaksi ekstensi (2)
Tidak ada reaksi (1)
6) Pemeriksaan head to toe
Menurut Ulya dkk (2017) pemerisaan head to toe meliputi :
a) Kepala dan wajah
Kaji pupil yang meliputi kesimetrisan, respon terhadap cahaya
b) Leher
Adakah defiasi pada trakea
c) Dada
Inspeksi : Melihat perkembangan dada kanan dan kiri
simetris atau tidak, periksa adanya penggunaan otot bantu
pernafasan Auskultasi : dengarkan bunyi jantung dan paru-
paru. Pada pasien dengan asma biasanya terdengar bunyi
tambahan seperti whezzing
Palpasi : fremitus kanan dan kiri sama atau tidak
Perkusi : terdengar bunyi sonor
d) Abdomen
Mengamati apakah ada memar atau tidak. Dengarkan suara
bising usus. Palpasi dengan lembut untuk mengetahui adanya
nyeri tekan.
e) Ekstremitas
Palpasi denyut nadi kedua tangan, kemudian bandingkan, catat
perbedaan warna, suhu tubuh dan pergerakan pasien.
Pathway asma
Faktor Pencetus Alergen, stres, cuaca
Konsentrasi oksigen dalam darah menurun
Penurunan curah jantung
Membentuk antibodi IgE abnormal dalam jumlah besar yang melekat pada sel mast
Hipoksemia
Risiko Intoleransi aktivitas
Suplai darah dan oksigen ke jantung berkurangKelemahan dan keletihan
Menyebabkan sel mengeluarkan histamin, bradikardin
Edema lokal pada dinding bronkhiolus kecil, sekresi mukus kental Penurunan cardiac output Tekanan darah menurun
Ansietas
Hiperkapnea
/ gelisah
Penyempitan pada bronkus pada tahap ekspirasi dan inspirasi
Tekanan partiall oksigen dialveoli menurun
Penyempitan jalan nafas
Mukus berlebih, batuk, wheezing, sesak nafas Peningkatan kerja otot
Ketidakefektifa pernafasan
n bersihan jalan
Sumber : Modifikasi Musliha (2010) nafas
dan Nanda NIC-NOC (2013) Ketidakefektifan pola nafas
2. Diagnosis
Diagnosa keperawatan merupakan penilaian klinis tentang respon
manusia terhadap gangguan kesehatan dari individu, keluarga, kelompok
atau komunitas (NANDA, 2015) Diagnosa keperawatan yang muncul
pada pasien asma menurut Musliha (2010) dan Nanda NIC-NOC (2013)
sebagai berikut
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan mukus
berlebihan
b. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot
pernafasan
c. Risiko toleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan
antara suplai kebutuhan oksigen
d. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan frekuensi
jantung
e. Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian
3. Rencana Keperawatan
Diagnosa keperawatan ynag telah ditetapakan digunakan untuk mengidentifikasi hasil yang diharapkan dan untuk merencanakan
tindakan keperawatan yang spesifik secara berurutan (NANDA, 2015)
Tabel 2.1 Perencanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan asma menurut NANDA NIC-NOC 2015-2017
No Diagnosa Keperawatan Tujuan Tindakan Keperawatan Rencana Keperawatan
1 Ketidakefektifan bersihan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen jalan nafas
jalan nafas berhubungan selama 1 x 2 jam diharapkan Status 1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan
dengan mukus berlebihan pernafasan: Kepatenan jalan nafas ventilasi
tercapai dengan kriteria hasil : 2. Buang secret dengan memotivasi pasien untuk
- Frekuensi pernafasan (4) melakukan batuk atau menyedot lendir
- Irama pernafasan (4) 3. Ajarkan pasien menggunakan inhaler sesuai
- Kedalaman inspirasi (4) resep, sebagaimana mestinya
- Kemampuan untuk mengeluarkan 4. Kelola nebulizer ultrasonik, sebagaimana
seckret (4) mestinya
5. Posisikan untuk meringankan sesak nafas
Keterangan 6. Monitor status pernafasan dan oksigenasi,
1: Deviasi berat dari kisaran normal sebagaimana mestinya
2: Defiasi yang cukup Cukup berat dari
kisaran normal
3: Deviasi sedang dari kisaran normal
4 : Deviasi ringan dari kisaran normal
5 : Tidak ada deviasi dari kisaran normal
2 Ketidakefektifan pola Setelah dilakukan tindakan keperawatan Terapi Oksigen
nafas berhubungan dengan selama 1 x 2 jam diharapkan status 1. Berikan oksiegen tambahan sesuai yang
keletihan otot pernafasan pernafasan tercapai dengan kriteria hasil diperintahkan
: 2. Monitor aliran oksigen
- Frekuensi pernafasan (4) 3. Monitor peralatan oksigen tersebut tidak
- Irama pernafasan (4) menggamggu usaha pasien untuk bernafas
- Kedalaman inspirasi (4) 4. Monitor kerusakan kulit akibat adanya gesekan
- Suara auskultasi nafas (4) perangakat oksiegen
- Saturasi oksigen (4) 5. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan lain
mengenai oksigen tambahan selama kegiatan
Keterangan atau tidur
1: Deviasi berat dari kisaran normal
2: Defiasi yang cukup Cukup berat dari
kisaran normal
3: Deviasi sedang dari kisaran normal
4 : Deviasi ringan dari kisaran normal
5 : Tidak ada deviasi dari kisaran normal
3 Risiko intoleransi aktifitas Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen asma
berhubungan dengan selama 1 x 2 jam diharapkan toleransi 1. Ajarkan teknik yang tpat untuk menggunakan
ketidakseimbangan antara aktivitas tercapai dengan kriteria hasil : pengobatan dan alat (misalnya : inhaler,
suplai kebutuhan oksigen - Frekuensi pernafasan saat beraktifitas nebulizer)
(4) 2. Identifikasi pemicu yang diketahui dan reaksi
- Kemudahan bernafas saat beraktifitas yang biasanya terjadi
(4)
- Frekuensi nadi saat beraktifitas (4) 3. Ajarkan pasien untuk mengidentifikasi dan
menghindari pemicu, sebisa mungkin
Keterangan : 4. Bantu untuk mengenal tanda dan gejala
1 : Sangat terganggu sebelum terjadi reaksi asma dan implementasi
2 : Banyak terganggu dari respon tindakan yang tepat
3 : Cukup terganggu
4 : Sedikit terganggu
5 : Tidak terganggu
4 Penurunan curah jantung Setelah dilakukan tindakan keperawatan Monitor pernafasan
berhubungan dengan selama 1 x 2 jam diharapkan status 1. Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan
perubahan frekuensi sirkulasi tercapai dengan kriteria hasil : kesulitan bernafas
jantung - Tekanan nadi (4) 2. Monitor suara nafas tambahan seperti ngorok
- Saturasi oksigen (4) atau mengi
- Capillary refill (4) 3. Monitor pola nafas (takipnea, bradipnea,
- Tekanan darah sistol (4) hiperventilasi)
- Tekanan darah diastol (4) 4. Monitor saturasi oksigen
5. Monitor keluhan sesak nafas pasien termasuk
Keterangan kegiatan yang meningkatakan atau
1: Deviasi berat dari kisaran normal memperburuk sesak nafas
2: Defiasi yang cukup cukup berat dari 6. Berikan bantuan terapi nafas bila diperlukan (
kisaran normal misalnya nebulizer)
3: Deviasi sedang dari kisaran normal
4 : Deviasi ringan dari kisaran normal
5 : Tidak ada deviasi dari kisaran normal
5 Ansietas berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Pengurangan kecemasan
dengan ancaman kematian selama 1 x 2 jam diharapkan tingkat
kecemasan tercapai dengan kriteria 1. Gunakan pendekatan yang tenang dan
hasil: meyakinkan
- Serangan panik (4) 2. Berada disisi klien untuk meningkatkan rasa
- Perasaan gelisah (4) aman dan mengurangi ketakutan
- Berkeringat dingin (4) 3. Identifikasi pada saat terjadi perubahan tingkat
kecemasan
Keterangan 4. Kaji untuk tanda verbal dan non verbal
1 : Berat 5. Instruksikan klien untuk menggunakan teknik
2 : Cukup berat relaksasi
3 : Sedang
4 : Ringan
5 : Tidak ada
4. Implementasi
Implementasi adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan berdasarkan
rencana keperawatan yang telah disusun. Tindakan yang dilakukan
mencakup monitoring pasien terhadap perubahan atau peningkatan,
perawatan langsung yang diberikan kepada pasien, tindakan kolaborasi
atau pendidikan kesehatan (Riasmini, 2017)
5. Evaluasi
Evaluasi yang didasarkan pada kriteria tiap kategori kegawatan dilakukan
minimal setiap satu jam, kecuali pada pasien dengan kondisi urgen
menjadi setiap 15 menit (Musliha, 2010). Evaluasi ini meliputi :
a. Evaluasi proses
Mengulang kembali langkah-langkah yang berhubungan dengan
proses triase, misalnya respons time, ketepatan dan kelengkapan
dokumentasi serta menuliskan prosedur
b. Evaluasi hasil
Dengan cara mengulang pengkajian pada pasien, ketepatan dalam
keputusan triase, dan keputusan pasien. Evaluasi hasil digunakan
untuk melihat keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Chalik, Raimundus.2016. Anatomi Fisiologi Manusia. Diunduh pada 10 Februari
2020 pukul 23.14 WIB di [Link]
content/uploads/2017/08/Anatomi-dan-Fisiologi-Manusia-
[Link]
Global Status Report on Noncommunicable Diseases 2010, World Health
Organization, Italy : 2011
INCT, Team. 2014. Basic Trauuma Cardiac Life Suport (BTCLS)
In [Link] : [Link] Seto
Junaidi, Iskandar. 2011. Pedoman Pertolongan Pertama yang Harus Dilakukan
Saat Gawat & Darurat Medis. Yogyakarta : Penerbit ANDI
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2019. INFODATIN Pusat Data dan
Informasi Kementrian Kesehatan RI Penderita Asma di Indonesia.
[Link]
[Link], diunduh tanggal 06 Februari 2020 pukul 06.47 WIB
Kartikawati, Dewi. 2011. Dasar-dasar Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta :
Salemba Medika
Kirantoro dan Maryana 2016. Anatomi Fisiologi. Yogyakarta : Pustaka Baru
PressMardela, Ida. 2016. Asuhan Keperawatan Gawat [Link]
: Pustaka Baru Press
Mardalena, Ida. 2016. Asuhan Keperawatan Gawat [Link] : Pustaka
Baru Press
Musliha. 2010. Keperawatan Gawat [Link] : Nuha Medika
NANDA. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-2017 Edisi
10
editor T Heather Herdman, Shigemi Kamitsuru. Jakarta : EGC
Nugroho,Taufan. Bunga Tamara Putri. Dara Kirana Putri. 2016. Teori
Asuhan
Keperawatan Gawat Darurat. Yogyakarta : Nuha Medika
Nursing Outcome Classification (NOC) edition [Link] Singapore Pte Ltd
Nursing Interventions Classification (NIC) edition 5.2016. Elsevier Singapore Pte
Ltd
Riasmini, Ni Made dkk. 2017. Panduan Asuhan Keperawatan Individu,
Keluarga, Kelompok dan Komunitas dengan Modifikasi NANDA, ICNP,
dan NIC di Puskesmas dan Masyarakat. Jakarta : Universitas Indonesia
Riset Kesehatan Dasar [RISKESDAS].2018. Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan, Departemen Kesehatan, Republik Indonesia. diunduh pada
tanggal 27 Januari 2019 pukul 14.40 WIB di 2018
[Link]
[Link]
Somantri, Irman. (2012). Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan
Sistem Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika.
Smeltzer, Susan C. 2013. Keperawatan Medikal - Bedah Brunner & Suddarth Edisi
12. Jakarta : EGC
Tabrani. 2010. Ilmu Penyakit Paru. Jakarta : Trans Info Media
The Global Asthma Report 2018. Global Asthma Repot, New Zealand. 2019
Tim Riskesdas 2018. 2019. Laporan Nasional RISKESDAS 2018. Jakarta :
Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (LPB)
diunduh pada tanggal 10 Februari 2020 di
[Link]
8/Laporan_Nasional_RKD2018_FINAL.pdf
Ulya, Ikhda dkk. 2017. Buku Ajar Keperawatan Gawat Darurat pada Kasus
Trauma. Jakarta : Salemba Medika
Wijaya, S. 2010. Konsep Dasar Keperawatan Gawat Darurat. Denpasar : PSIK
FK
Wijaya, Andra Saferi dan Yessie Mariza Putri. 2013. Keperawatan Medikal Bedah
(Keperawatan Dewasa). Yogyakarta : Nuha Medika