0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan105 halaman

Evaluasi Antibiotik pada Gastroenteritis

Skripsi ini mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien gastroenteritis akut di RSUD Dr. Soeroto Kabupaten Ngawi tahun 2017. Tujuannya adalah mengetahui pola penggunaan antibiotik dan kesesuaian diagnosis pasien dengan pemberian antibiotik. Hasil evaluasi diharapkan dapat meningkatkan pemberian antibiotik sesuai standar praktik klinis dan pedoman terapi.

Diunggah oleh

Priska Febiola
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan105 halaman

Evaluasi Antibiotik pada Gastroenteritis

Skripsi ini mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien gastroenteritis akut di RSUD Dr. Soeroto Kabupaten Ngawi tahun 2017. Tujuannya adalah mengetahui pola penggunaan antibiotik dan kesesuaian diagnosis pasien dengan pemberian antibiotik. Hasil evaluasi diharapkan dapat meningkatkan pemberian antibiotik sesuai standar praktik klinis dan pedoman terapi.

Diunggah oleh

Priska Febiola
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN GASTROENTERITIS

AKUT DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD Dr. SOEROTO


KABUPATEN NGAWI TAHUN 2017

HALAMAN JUDUL

Oleh:
Rosandi Rio Pramudya
20144218A

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2018
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN GASTROENTERITIS
AKUT DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD Dr. SOEROTO
KABUPATEN NGAWI TAHUN 2017

SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mencapai derajat Sarjana Farmasi
([Link].) Program Studi SI-Farmasi pada Fakultas Farmasi
Universitas Setia Budi

Oleh :
Rosandi Rio Pramudya
20144218A

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2018

i
PENGESAHAN SKRIPSI
berjudul

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN GASTROENTERITIS


AKUT DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD Dr. SOEROTO
KABUPATEN NGAWI TAHUN 2017

Oleh :

Rosandi Rio Pramudya


20144218A

Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi


Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi
Pada tanggal : 05 Juli 2018

Mengetahui,
Fakultas Farmasi
Universitas Setia Budi
Dekan,

Prof. Dr. R.A. Oetari, SU., MM., [Link]., Apt

Pembimbing,

Dra. Pudiastuti R.S.P., MM., Apt

Pembimbing Pendamping,

Lukito Mindi Cahyo, SKG., [Link]

Penguji :
1. Samuel Budi Harsono, [Link]., Apt : ……………

2. Dra. Elina Endang S., [Link] : ……………

3. Nila Darmayanti L.,[Link]., Apt : ……………

4. Dra. Pudiastuti R.S.P., MM., Apt : ……………

ii
HALAMAN PERSEMBAHAN

“Manusia dapat dihancurkan, manusia dapat dimatikan tetapi manusia


tidak dapat dikalahkan selama manusia itu masih Setia kapada dirinya
sendiri atau ber SH pada dirinya sendiri”
~Persaudaraan Setia Hati Terate 1922~

“Yang penting bukan apakah kita menang atau kalah, Tuhan tidak
mewajibkan manusia untuk menang sehingga kalah pun bukan dosa, yang
penting adalah apakah seseorang berjuang atau tidak berjuang
~Emha Ainun Nadjib~

Teriring syukurku pada-Mu, kupersembahkan skripsi ini untuk:


 Allah SWT
Alhamdulllahirabbil’alamin terimakasih atas rahmat dan karunia mu dapat
menumbuhkan tekat untuk ku menyelesaikan tugas akhir ini...
 Keluarga kecil ku
Bapak ku tercinta SUYANTO, Ibu ku tersayang RUSMIATI dan Adik ku
tersayang IRWAN GUS LIEM ARIANTO yang telah memberikan banyak
semangat motivasi bagiku...

 Keluarga besar mbah Warsimin


Pakdhe, Budhe, Paklek, Bulek, Mas, Mbak dan Adik-adik yang juga selalu
membantu doa dan semangat untuk ku menyelesaikan tugas akhir ku ini...

 Keluarga besar mbah Suparti


Paklek, Bulek dan Adik-adik yang juga banyak memberikan semangat dan doa
untuk ku menyelesaikan belajar ku ini...

 Para sahabat

Teman-teman dalam grup pejantan tangguh yang sengat berfaedah, teman kos
Papi Trimo dan semua teman se-angkatan S1 Farmasi yang banyak memberikan
pengalaman berharga selama menempuh perkuliahan ini…

iii
PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil pekerjaan saya sendiri dan
tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di
suatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau
pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara
tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Apabila skripsi ini merupakan jiplakan dari penelitian atau karya ilmiah
atau skripsi orang lain, maka saya siap menerima sanksi, baik secara akademis
maupun hukum.

Surakarta, 5 Juli 2018

Rosandi Rio Pramudya

iv
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT atas semua berkat dan rahmat-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “EVALUASI
PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN GASTROENTERITIS
AKUT DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD Dr. SOEROTO
KABUPATEN NGAWI TAHUN 2017” ini guna memenuhi persyaratan untuk
mencapai derajat Sarjana Farmasi (S. Farm) pada Fakultas Farmasi Universitas
Setia Budi.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini penulis telah
banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dr. Ir. Djoni Tarigan, MBA selaku rektor Universitas Setia Budi, Surakarta.
2. Prof. Dr. R. A. Oetari, S.U., M.M., [Link]., Apt. selaku Dekan Fakultas
Farmasi Universitas Setia Budi, Surakarta.
3. Dra. Pudiastuti Rahayu S.P.,MM.,Apt selaku Pembimbing Utama yang telah
memberikan bimbingan dan pengarahan serta nasehat dalam penyusunan
skripsi ini.
4. Lukito Mindi Cahyo,.SKG.,[Link]. selaku Pembimbing Pendamping yang
telah memberikan bimbingan dan pengarahan serta nasehat dalam penyusunan
skripsi ini.
5. Yane Dila Keswara, [Link].,Apt selaku pembimbing akademik yang telah
membimbing selama menempuh studi di Fakultas Farmasi USB.
6. Tim penguji yang telah menyediakan waktu untuk menguji dan memberikan
masukan untuk penyempurnaan skripsi ini.
7. Para staf karyawan yang telah memberikan segala informasi-informasi yang
berkaitan berhubungan dengan perkuliahan di Universitas Setia Budi
Surakarta.
8. Direktur RSUD dr. Soeroto Ngawi yang telah memberikan ijin dalam
penelitian, seluruh staf rumah sakit khususnnya staf pengelola diklat dan

v
instalasi rekam medis yang telah memberikan ijin dalam penelitian dan
menerima keberadaan saya dengan baik.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.
Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat
dan perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang farmasi.

Surakarta, 5 Juli 2018

Penulis

vi
DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i

PENGESAHAN SKRIPSI ...................................................................................... ii

HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................ iii

PERNYATAAN..................................................................................................... iv

KATA PENGANTAR .............................................................................................v

DAFTAR ISI ......................................................................................................... vii

DAFTAR GAMBAR ...............................................................................................x

DAFTAR TABEL .................................................................................................. xi

DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xii

SINGKATAN ...................................................................................................... xiii

INTISARI............................................................................................................. xiv

ABSTRACT ...........................................................................................................xv

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1


A. Latar Belakang Masalah .................................................................. 1
B. Perumusan Masalah ......................................................................... 4
C. Tujuan Penelitian ............................................................................. 4
D. Kegunaan Penelitian ........................................................................ 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................6


A. Antibiotik......................................................................................... 6
1. Definisi Antibiotik .................................................................... 6
2. Penggolongan Mekanisme Kerja Antibiotik ............................ 7
2.1 Antibiotik dibagi menjadi 5 kelompok berdasarkan
mekanisme kerjanya, menurut Katzung (2004)
pembagian mekanisme kerja antibiotik antara lain : ....... 7
2.2 Berdasarkan spektrum kerjanya. ..................................... 8
3. Resistensi Antibiotik .............................................................. 10
3.1. Definisi. ......................................................................... 10
3.2. Penyebab Resistensi Antibiotik. ................................... 10

vii
3.3. Mekanisme Resistensi Antibiotik. ................................ 10
4. Antibiotik untuk Gastroenteritis Akut .................................... 11
4.1. Penisilin......................................................................... 12
4.2. Sefalosporin. ................................................................. 13
4.4. Metronidazole. .............................................................. 14
4.5. Kuinolon. ...................................................................... 14
5. Algoritma terapi Gastroenteritis Akut .................................... 15
B. Gastroenteritis Akut....................................................................... 15
1. Definisi ................................................................................... 15
2. Epidemiologi Gastroenteritis Akut ......................................... 16
3. Etiologi Gastroenteritis Akut.................................................. 17
4. Patofisiologi............................................................................ 18
5. Manifestasi klinik ................................................................... 20
5.1. Diare. ............................................................................. 21
5.2. Mual dan Muntah. ......................................................... 21
5.3. Nyeri Perut. ................................................................... 22
5.4. Demam. ......................................................................... 22
6. Diagnosis ................................................................................ 23
C. Penatalaksaaan Gastroenteritis Akut ............................................. 23
1. Rehidrasi ................................................................................. 23
2. Pengobatan Kausal ................................................................. 24
3. Pengobatan Sistemik .............................................................. 25
4. Pengendalian Dehidrasi .......................................................... 25
4.1 Diare tanpa dehidrasi. ................................................... 25
4.2 Dehidrasi ringan atau sedang. ....................................... 26
4.3 Diare dehidrasi berat. .................................................... 26
5. Probiotik ................................................................................. 26
6. Antibiotik................................................................................ 26
7. Zinc ......................................................................................... 28
8. ASI dan Makanan ................................................................... 28
D. Rumah Sakit .................................................................................. 28
1. Rumah Sakit ........................................................................... 28
2. Tugas Rumah Sakit ................................................................ 29
3. Fungsi Rumah Sakit ............................................................... 29
4. Rekam Medik ......................................................................... 30
5. Profil RSUD Dr. Soeroto Kabupaten Ngawi.......................... 31
E. Evaluasi Penggunaan Obat ............................................................ 31
1. Tepat Obat .............................................................................. 31
2. Tepat Dosis ............................................................................. 32
3. Tepat Rute .............................................................................. 32
4. Tepat Frekuensi ...................................................................... 32
F. Kerangka Pikir Penelitian .............................................................. 33
G. Landasan Teori .............................................................................. 34
H. Keterangan Empirik....................................................................... 35

BAB III METODE PENELITIAN.........................................................................36

viii
A. Populasi dan Sampel...................................................................... 36
1. Populasi .................................................................................. 36
2. Sampel .................................................................................... 36
B. Variabel Penelitian ........................................................................ 37
1. Klasifikasi Variabel Utama .................................................... 37
2. Definisi Operasional Variabel Penelitian ............................... 37
C. Alat dan Bahan .............................................................................. 38
1. Alat ......................................................................................... 38
2. Bahan ...................................................................................... 38
D. Jalannya Penelitian ........................................................................ 39
1. Skema jalannya penelitian ...................................................... 39
2. Tahap pengambilan data ......................................................... 40
3. Tahap pengolahan dan analisis data ....................................... 40
4. Waktu dan Tempat penelitian................................................. 41
E. Analisis Hasil................................................................................. 41

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .......................................42


A. Pengambilan Data .......................................................................... 42
B. Demografi Pasien .......................................................................... 43
1. Distribusi pasien berdasarkan umur dan jenis kelamin .......... 43
2. Distribusi Pasien Berdasarkan Gejala atau Keluhan Pasien ... 44
3. Distribusi Pasien Berdasarkan Lama Rawat .......................... 46
C. Rute Pemberian Antibiotik Pasien Gastroenteritis Akut ............... 47
D. Gambaran Penggunaan Antibiotik ................................................ 48
E. Kesesuaian Antibiotik dengan Daftar Obat Esensial Nasional
(DOEN) dan Formularium Nasional (FORNAS) ......................... 49
F. Evaluasi Penggunaan Obat ............................................................ 50
1. Tepat Obat .............................................................................. 50
2. Tepat Dosis ............................................................................. 53
3. Tepat Rute .............................................................................. 56
4. Tepat Frekuensi ...................................................................... 57
G. Keterbatasan Penelitian ................................................................. 57

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................59


A. Kesimpulan .................................................................................... 59
B. Saran .............................................................................................. 59

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................61

LAMPIRAN ...........................................................................................................65

ix
DAFTAR GAMBAR
Halaman

Gambar 1 Algoritma terapi Gastroenteritis akut ................................................... 15

Gambar 2. Skema kerangka peneliti ..................................................................... 33

x
DAFTAR TABEL
Halaman

Tabel 1. Antibiotik yang untuk Gastroentrititis akut ............................................ 12


Tabel 2. Etiologi Gastroenteritis ........................................................................... 17
Tabel 3. Karakteristik Gastroenteritis yang disebabkan oleh virus dan bakteri .... 17
Tabel 4. Klasifikasi episode diare ......................................................................... 20
Tabel 5. Jalur dari gejala utama penyebaran gastroenteritis akut ......................... 20
Tabel 6. Gambaran klinis infeksi patogen............................................................. 21
Tabel 7. Komponen Cairan Rehidrasi Oral (CRO) ............................................... 24
Tabel 8. Antibiotik empiris pada diare infeksi akut .............................................. 27
Tabel 9. Antibiotik Secara Empiris Pada Gastroenteritis untuk Dewasa .............. 27
Tabel 10. Distribusi jenis kelamin dan usia pasien gastroenteritis akut di Instalasi
Rawat Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi Tahun 2017 ............................ 43
Tabel 11. Distribusi gejala/keluhan penyakit gastroenteritis akut di Instalasi Rawat
Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi Tahun 2017 ....................................... 45
Tabel 12. Diskripsi lama perawatan pasien gastroenteritis akut di Instalasi Rawat
Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi Tahun 2017 ....................................... 47
Tabel 13. Rute Pemberian antibiotik pada pasien gastroenteritis akut di Instalasi
Rawat Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi Tahun 2017 ............................ 47
Tabel 14. Antibiotik yang digunakan pada pasien gastroenteritis akut di Instalasi
Rawat Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi Tahun 2017 ............................ 48
Tabel 15. Kesesuaian antibiotik yang digunakan dengan Daftar Obat Esensial
Nasional (DOEN) dan Formularium Nasional (FORNAS) .................................. 50
Tabel 16. Data evaluasi tepat obat pasien gastroenteritis akut Rawat Inap RSUD
dr. Soeroto Kabupaten Ngawi tahun 2017 ............................................................ 51
Tabel 17. Data evaluasi ketepatan dosis pemberian antibiotik pada pasien
gastroenteritis akut di Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi
tahun 2017. ........................................................................................................... 54

xi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman

Lampiran 1. Surat ijin pengambilan data .............................................................. 67


Lampiran 2. Kelaikan Etik .................................................................................... 68
Lampiran [Link] rekomendasi untuk melihat PPK .............................................. 69
Lampiran 4. Surat rekomendasi selesai penelitian ................................................ 70
Lampiran 5. Surat keterangan selesai penelitian ................................................... 71
Lampiran 6. Perhitungan persentase penelitian .................................................... 72
Lampiran 7. Data pasien gastroenteritis akut di instalasi Rawat Inap RSUD dr.
Soeroto Ngawi Tahun 2017 .................................................................................. 75
Lampiran 8. Data penggunaan antibiotik pasien gastroenteritis akut di instalasi
Rawat Inap RSUD dr. Soeroto Ngawi Tahun 2017 .............................................. 78
Lampiran 9. Data Perhitungan Dosis Pasien Gastroenteristik Akut RSUD dr.
Soeroto Ngawi Tahun 2017 .................................................................................. 85

xii
SINGKATAN

WHO : World Health Organisation


WGO : World Gastroenterology Organisation
KLB : Kejadian Luar Biasa
JKN : Jaminan Kesehatan Nasional
SJSN : Sistem Jaminan Sosial Nasional
GEA : Gastroenteritis Akut
RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah
DE : Demam
DI : Diare
MM : Mual Muntah
LL : Lemah Lesu
BB : Berat Badan
BPJS : Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
PBI : Penerima Bantuan Iuran

KIS : Kartu Indonesia Sehat

FSIPD : Formulariun Spesialistik Ilmu Penyakit Dalam

PIONAS : Pusat Informasi Obat Nasional

PPK : Panduan Praktik Klinis

FORNAS : Formularium Nasional

xiii
INTISARI

PRAMUDYA, R.R., 2018, EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK


PADA PASIEN GASTROENTERITIS AKUT DI INSTALASI RAWAT
INAP RSUD Dr. SOEROTO KABUPATEN NGAWI TAHUN 2017,
SKRIPSI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SETIA BUDI,
SURAKARTA.

Gastroenteritis merupakan inflamasi disebabkan oleh infeksi bakteri, virus,


dan parasit yang patogen pada daerah lambung, usus kecil, dan usus besar.
Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk memberantas infeksi mikroba,
membunuh dan menghambat perkembangan bakteri. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui kesesuaian penggunaan antibiotik pada pasien gastroenteritis
akut di Instalasi Rawat Inap di RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi Tahun 2017.
Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental. Pengumpulan data
secara retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Teknik sampling yang
digunakan adalah purposive sampling. Diperoleh data sebanyak 74 sampel yang
memenuhi kriteria inklusi yaitu pasien pediatri hingga produktif gastroenteritis
akut di Instalasi Rawat Inap periode Januari – Desember 2017, mendapatkan
terapi antibiotik, tanpa penyakit komplikasi dan memiliki data rekam medik yang
lengkap.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis antibiotik yang digunakan
adalah Seftriakson (35,13%), Siprofloksasin (28,38%), Sefotaksim (20,27%),
Metronidazole (12,16%), Levofloksasin (4,05%) dan Tetrasiklin (4,05%).
Evaluasi penggunaan antibiotik diketahui tepat Obat (100%), tepat Dosis
(92,21%), tepat Rute (100%) dan tepat Frekuensi (100%).

Kata kunci : gastroenteritis akut, penggunaan antibiotik, evaluasi antibiotik

xiv
ABSTRACT

PRAMUDYA, R.R, 2018, THE EVALUATION OF ANTIBIOTICS IN


PATIENT ACUTE GASTROENTERITIS IN PATIENT DR. SOEROTO
NGAWI DISTRICT HOSPITAL IN 2017, THESIS FACULTY OF
PHARMACY, SETIA BUDI UNIVERSITY, SURAKARTA.

Gastroenteritis is an inflammation caused by bacteria, viruses, and


pathogens parasite in the area of stomach, small intestine and colon. Antibiotics
that are used to attack microbal infection and kill or ihibit the growth of bacteria.
This research aim to know the appopriate usage of antibiotics the acute
gastroenteritis patients in Inpatient Installation at dr. Soeroto Ngawi District
Hospital 2017.
This is non experimental research. The research used retospective
sampling to collected the data the analysed by using descriptive analysis. The
sampling technique was purposive sampling. They were 74 samples that full fill
the inclusion criteria, the criteria were pediatric and productive ages, acute
gastroenteritis Inpatient on January untill Desember 2017, received antibiotics
therapy without concomitant desease and having data of medical records.
The result of this research showed that the type of antibiotics used are
Ceftriaxon (35,15%), Ciprofloxacin (28,38%), Cefotaxim (20,27%),
Metronidazole (12,16%), Levofloxacin (4,05%) and Tetracycline (4,05%). The
Evaluation of appropriate usage of antibiotics are know for correct medications
(100%), appropriate dosage (92,21%), appropriate route (100%) dan appropriate
frequency (100%).

Keyword : Acute gastroenteritis, Antibiotics use, Evaluasi of Antibiotics

xv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Antibiotik merupakan obat yang sangat penting dan dipakai untuk
memberantas berbagai penyakit infeksi. Antibiotik adalah suatu jenis obat yang
dihasilkan oleh mikroorganisme yang dapat menghambat pertumbuhan atau dapat
membunuh mikroorganisme lain (Katzung 2007).
Penggunaan antibiotik yang kurang tepat dapat menimbulkan efek
samping yang merugikan dan dapat menyebabkan terjadinya resistensi bakteri.
Meningkatnya jumlah bakteri yang resisten terhadap antibiotik menjadi masalah
kesehatan yang sangat besar. Penggunaan antibiotik secara berlebihan disebut-
sebut sebagai penyebab munculnya bakteri super yang resisten bahkan terhadap
antibiotik yang paling kuat sekalipun (Katzung 2007).
Penggunaan antibiotik yang tidak rasional merupakan salah satu penyebab
timbulnya resistensi. Dampak lain dari pemakaian antibiotik secara irasional yaitu
toksisitas dan efek samping yang meningkat, serta biaya pengobatan yang juga
meningkat. Penggunaan antibiotik yang rasional diharapkan dapat memberikan
dampak positif, antara lain mengurangi morbiditas, mortalitas, kerugian ekonomi,
dan mengurangi kejadian resistensi bakteri terhadap antibiotik (Febiana 2012).
Di negara yang sudah maju 13-37% dari seluruh penderita yang dirawat di
rumah sakit mendapatkan antibiotik baik secara tunggal atau kombinasi,
sedangkan di negara berkembang 30-80% penderita yang dirawat di rumah sakit
mendapatkan antibiotik dan penggunaan antibiotik yang tidak rasional sangat
banyak dijumpai baik di negara maju maupun berkembang. Hasil penelitian dari
studi Antimicrobial Resistence in Indonesia (AMRIN study) tahun 2000 – 2004
menunjukan bahwa terapi antibiotik diberikan tanpa indikasi di RSUP dr. Kariadi
Semarang sebanyak 20-53% dan antibiotik profilaksis tanpa indikasi sebanyak 43
– 81% (AMRIN 2005).
Gastroenteritis merupakan peradangan pada lambung, usus kecil, dan usus
besar dengan berbagai kondisi patologis dari saluran gastrointestinal dengan

1
2

manifestasi diare, dengan atau tanpa disertai muntah, serta ketidaknyamanan


abdomen. Diare atau gastroenteritis (GE) adalah peningkatan frekuensi dan
penurunan konsistensi pengeluaran tinja dibandingkan individu dengan keadaan
usus besar yang normal (Dipiro et al 2008). Gastroenteritis Akut (GEA) diartikan
sebagai buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah
cair (setengah padat) dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari
biasanya berlangsung kurang dari 7 hari terjadi secara mendadak (Soebagyo
2008).
Penyakit gastroenteritis dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, dan
parasit. Beberapa bakteri penyebab penyakit ini antara lain bakteri Escherichia
coli, Salmonella, Shigella, Vibrio, Clostridia perfringens, dan Staphylococcus
(Suharyono 2007). Pada penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, obat yang
paling banyak digunakan adalah antibiotik. Berbagai studi menemukan bahwa
sekitar 40-62% antibiotik digunakan secara tidak tepat (Kemenkes 2011).
Gastroenteritis merupakan penyakit urutan pertama yang menyebabkan
pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia pada tahun 2008. Kejadian Luar
Biasa (KLB) diare juga masih sering terjadi. Tahun 2010 terjadi KLB diare di 33
kecamatan dengan jumlah penderita 4204 dengan kematian 73 orang. Survei
morbiditas yang dilakukan dari tahun 2000-2010 cenderung mengalami kenaikan.
Kejadian Luar Biasa (KLB) juga masih sering terjadi, pada tahun 2009 terjadi
KLB di 15 Provinsi (NAD, Sumatera Barat, Sumatra Utara, Riau, Jawa Barat,
Jawa Tengah, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tengara Timur, Kalimantan
Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Papua Barat dan
Papua) dengan jumlah kasus 5.756 orang, dengan kematian 100 orang (Kemenkes
2011).
Berdasarkan penelitian sebelumnya :
1. Mufidah (2013) dengan judul “Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Penyakit
Gastroenteritis Pasien Rawat Inap Rumah Sakit X Tahun 2013” menunjukkan
bahwa antibiotik Seftriakson golongan sefalosporin generasi ketiga yang
paling banyak digunakan sebesar 44%. Hal serupa juga dikemukakan
berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
3

2. Widya (2012) dengan metode deskriptif retrospektif yang berjudul Evaluasi


Penggunaan Antibiotik Untuk Penyakit Diare Pada Pasien Pediatri Rawat Inap
Di RSUD “X” Tahun 2011 menunjukkan penggunaan obat antibiotik untuk
pasien diare sudah sesuai dengan Pediatric Dosage Handbook, British
National Formulary dan Infectius Diseases Society of America Guideline.
Data yang diperoleh menunjukkan bahwa jenis antibiotik yang digunakan
adalah Ampisilin (25%), Sefotaksim (71%), dan Seftriakson (4%). Evaluasi
ketepatan penggunaan antibiotik diketahui tepat pasien 100%, dan tepat dosis
(34%).
Studi awal yang peneliti lakukan di RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi
dari laporan rekam medik termasuk dalam deretan 10 penyakit terbesar dan
menempati 9 besar di antara penyakit Post Term, Gagal Ginjal Kronik stage V,
kala I lama, Ketuban Pecah Dini, Stroke, Scizoprenia Paranoid, Kala II Lama
Dan Thalasemia. Studi awal yang dilakukan pada 6 bulan terakhir sebelum
penyusunan proposal penelitian ini terhitung dari bulan Januari hingga Juni 2017
bahwa kasus gastroenteritis akut mencapai 106 kasus dimana berdasarkan jenis
kelamin laki-laki sebanyak 67 dan perempuan sebanyak 39 pasien yang
terdiagnosa gastroenteritis.
Pemberian terapi gastroenteritis akut dengan antibiotik yang tidak sesuai
dengan standar terapi, sehingga kemungkinan besar tumbuhnya kasus-kasus
tentang efek buruk penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan standar terapi
dapat terjadi (Edwin 2006).
Penelitian tentang penggunaan antibiotika pada pasien rawat inap dengan
kasus gastroenteritis akut di RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi belum pernah
dilakukan, oleh karena itu dilakukan penelitian untuk mengetahui antibiotik apa
yang paling banyak digunakan untuk terapi Gastroenteritis Akut dan
kesesuaiannya berdasarkan pedoman terapi yang ada. Pada penelitian ini
menggunakan Guideline yaitu dengan Panduan Praktik Klinis (PPK) tata laksana
kasus penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Ngawi, World Gastroenterology
Organisation practice guideline: Acute diarrhea (2012) dan Panduan Praktik
Klinis (PPK) bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (2014), oleh
4

karena itu peneliti ingin menganalisis sejauh mana kesesuaian dalam rangka
penatalaksanaan pada kasus tersebut. Data diambil dari pencatatan rekam medik
pasien gastroenteritis akut di Instalasi Rawat Inap yang datanya diolah dan
diregistrasikan di Unit Penunjang Rekam Medik.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan yang telah diuraikan pada latar belakang penelitian dapat
dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Jenis antibiotik yang digunakan untuk pengobatan Gastroenteritis Akut di
Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi tahun 2017?
2. Antibiotik apa yang paling banyak digunakan untuk pengobatan
Gastroenteritis Akut di Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten
Ngawi tahun 2017?
3. Bagaimana kesesuaian penggunaan antibiotik pasien Gastroenteritis Akut
berdasarkan pedoman terapi Panduan Praktik Klinis (PPK) tata laksana kasus
penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Ngawi, World Gastroenterology
Organisation practice guideline: Acute diarrhea (2012) dan Panduan Praktik
Klinis (PPK) bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (2014) di
Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi Tahun 2017,
apakah sudah memenuhi kriteria tepat obat, tepat dosis, tepat rute dan tepat
frekuensi?

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Jenis antibiotik yang digunakan untuk pengobatan Gastroenteritis Akut di
Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi tahun 2017.
2. Gambaran antibiotik yang paling banyak digunakan untuk pengobatan pada
pasien Gastroenteritis Akut di Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Soeroto
Kabupaten Ngawi Tahun 2017.
5

3. Kesesuaian penggunaan antibiotik pada penyakit gastroenteritis akut


berdasarkan pedoman terapi Panduan Praktik Klinis (PPK) tata laksana kasus
penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Ngawi, World Gastroenterology
Organisation practice guideline: Acute diarrhea (2012) dan Panduan Praktik
Klinis (PPK) bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (2014) di
Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi Tahun 2017 sudah
memenuhi kreiteria tepat obat, tepat dosis, tepat rute dan tepat frekuensi.
D. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini dapat berguna bagi:
1. Bagi rumah sakit
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi
pemerintah daerah khususnya bagi RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi,
berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas penggunaan antibiotik
gastroenteritis akut yang sesuai pedoman atau referensi yang lazim
digunakan.
2. Bidang ilmu pengetahuan
Penelitian ini dapat menjadi sumber informasi tambahan di bidang ilmu
kefarmasian, khususnya pada bidang farmasi sosial.
3. Bagi peneliti
Digunakan untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan
penggunaan antibiotik pada pasien Gastroenteritis Akut dan dapat
mengembangkan kemampuan peneliti dalam melakukan penelitian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Antibiotik
1. Definisi Antibiotik
Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi
yang dapat menghambat atau membasmi mikroba jenis lain. Antibiotik juga dapat
dibuat secara sintesis (BPOM 2008).
Antibiotik sebagai penghambat atau pembasmi bakteri, diklasifikasikan
berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu : menghambat sintesis atau merusak
dinding sel bakteri, seperti Beta-laktamase (Penisilin, Sefalosporin, Monobaktam,
Karbapenem, Inhibitor Beta-Laktamase), basitrasin dan Vankomisin.
Memodifikasi atau menghambat sintesis protein, misalnya Aminoglikosid,
Kloramfenikol, Tetrasiklin, Makrolida (Eritromisin, Azitromisin, Kloritromisin),
Klindamisin, Mupirosin Dan Spektinomisin. Menghambat enzim-enzim esensial
dalam metabolisme folat, misalnya Trimetoprim dan Sulfonamide. Mempengaruhi
sintesis atau metabolism asam nukleat, misalnya Kuinolon (Kemenkes 2011).
Kemampuan bakteri untuk menetralisir dan melemahkan daya kerja
antibiotik dapat terjadi dengan beberapa cara yaitu merusak antibiotik dengan
enzim yang diproduksi, mengubah reseptor titik tangkap antibiotik, mengubah
fisika kimia target sasaran antibiotik pada sel bakteri, antibiotik tidak dapat
menembus dinding sel, akibat perubahan sifat dinding sel bakteri dan antibiotik
masuk ke dalam sel bakteri, namun segera dikeluarkan dari dalam sel melalui
transport aktif ke luar sel (Kemenkes 2011).
Resistensi antibiotik makin meningkat terutama pada antibiotik esensial
lini pertama, yang relative murah harganya. Keadaan ini dinilai sangat
membahayakan, karena pada akhirnya dunia kesehatan akan kehilangan antibiotik
yang masih peka dan potensial untuk memerangi penyakit-penyakit infeksi yang
baru muncul (emerging) maupun muncul kembali (reemerging). Penyebabnya
karena penggunaan antibiotik yang tidak rasional, baik oleh tenaga kesehatan
maupun penderita (Depkes 2011).

6
7

Peningkatan kejadian resistensi bakteri terhadap antibiotik bisa terjadi


dengan 2 cara, yang pertama yaitu mekanisme Selection Preassure, jika bakteri
resisten tersebut berbiak secara duplikasi setiap 20-30 menit (untuk bakteri yang
berbiak cepat), maka dalam 1-2 hari, seorang tersebut dipenuhi oleh bakteri
resisten. Jika seorang terinfeksi oleh bakteri yang resisten maka upaya
penanganan infeksi dengan antibiotik semakin sulit. Kemudian yang kedua yaitu
penyebaran resistensi kebakteri yang non-resisten melalui plasmid. Hal ini dapat
disebarkan antar kuman sekelompok maupun dari satu orang lain (Kemenkes
2011).
Ada dua strategi pencegahan peningkatan bakteri resisten : untuk Selection
Preassure dapat diatasi melalui penggunaan antibiotik secara bijak (prudent use of
antibiotics), untuk penyebaran bakteri resisten melalui plasmid dapat diatasi
dengan meningkatkan ketaatan terhadap prinsip-prinsip kewaspadaan standart
(universal precaution) (Kemenkes 2011).
2. Penggolongan Mekanisme Kerja Antibiotik
2.1 Antibiotik dibagi menjadi 5 kelompok berdasarkan mekanisme
kerjanya, menurut Katzung (2004) pembagian mekanisme kerja antibiotik
antara lain :
1. Antibiotik yang menghambat metabolisme sel mikroba. Antibiotik yang
termasuk dalam kelompok ini adalah Sulfonamida, Trimetoprim, Asam
Paminosalisilat (PAS) dan Sulfon. Dengan mekanisme ini diperoleh efek
bakteriostatik.
2. Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel mikroba. Antibiotik yang
termasuk dalam kelompok ini adalah Penisilin, Sefalosporin, Basitrasin,
Vankomisin, dan Sikloserin. Dengan mekanisme kerja ini tekanan osmotik
dalam sel kuman lebih tinggi dari pada di luar sel maka kerusakan dinding sel
kuman akan menyebabkan terjadinya lisis, yang merupakan dasar efek
bakterisidal pada kuman yang peka.
3. Antibiotik yang mengganggu keutuhan membran isi sel mikroba. Antibiotik
yang termasuk dalam kelompok ini adalah polimiksin, golongan polien serta
berbagai antibiotik kemoterapeutik, misalnya antiseptik surface active agents.
8

Kerusakan membran sel menyebabkan keluarnya berbagai komponen penting


dari dalam sel mikroba yaitu protein, asam nukleat, nukleotida. Mekanisme
kerja ini termasuk memiliki efek bakterisidal.
4. Antibiotik yang menghambat sintesa protein sel mikroba. Antibiotik yang
termasuk dalam kelompok ini adalah golongan Aminoglikosida, Makrolida,
Linkomisin, Tetrasiklin, dan Kloramfenikol. Antibiotik yang termasuk pada
golongan ini bekerja menghambat sintesis protein bakteri dengan menghambat
dan mengganggu ribosom. Hal ini mencegah penambahan asam amino ke
peptida yang sedang terbentuk. Dengan mekanisme kerja ini diperoleh efek
bakteriostatik.
5. Antibiotik yang menghambat sintesis asam nukleat sel mikroba. Antibiotik
yang termasuk dalam golongan ini adalah Rifampisin dan golongan
Kuinolon. Kuinolon menyekat sintesis DNA bakteri dengan menghambat
topoisomerase II (DNA girase) dan topoisomerase IV bakteri. Inhibisi DNA
girase mencegah relaksasi DNA superkoiled positif yang diperlukan untuk
transkripsi dan replikasi normal. Inhibisi topoisomerase IV mengganggu
pemisahan kromosom DNA pasca replikasi ke dalam masing-masing sel anak
selama pembelahan sel, dengan demikian antibiotik golongan ini termasuk
bakterisidal.
2.2 Berdasarkan spektrum kerjanya. Antibiotik memiliki dua spektrum
kerja, antara lain :
1. Antibiotika spektrum luas (broad spectrum): Contohnya seperti Tetrasiklin dan
Sefalosporin efektif terhadap organisme baik Gram positif maupun Gram
negatif. Antibiotik berspektrum luas sering sekali dipakai untuk mengobati
penyakit infeksi yang menyerang belum diidentifikasi dengan pembiakan dan
sensitivitas (Febiana 2012). Contoh antiotik lain dalam kelompok ini adalah
Kloramfenikol, Sulfonamide, Rampisilin dan turunannya, memiliki spektrum
kerja lebih luas yang meliputi banyak bakteri Gram negatif, antara lain
[Link], [Link] dan [Link] (Tan & Rahardja 2007).
2. Antiotika spektrum sempit (narrow spectrum): golongan ini terutama efektif
untuk melawan 1 jenis organisme. Contohnya Penisilin dan Eritromisin
9

dipakai untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri Gram positif.
Karena antibiotik berspektrum sempit bersifat selektif, maka obat-obat ini
lebih aktif dalam melawan organisme tunggal tersebut dari pada antibiotik
berspektrum luas (Febiana 2012). Antibiotik golongan ini hanya aktif terhadap
beberapa jenis bakteri. Termasuk antibiotik narrow spectrum adalah
Penisilin, Polimiksin B, Streptomisin, Bleomisin, dan Basitrasin (Katzung
2004). Contoh lainnya adalah klindamisin, Kanamisin, hanya bekerja terhadap
bakteri Gram positif. Sedangkan Steptomisin dan Gentamisin hanya bekerja
terhadap bakteri Gram negatif. Selain itu penisilin G dan turunannya bersifat
bakterisid terhadap bakteri Gram positif (khususnya koki) dan hanya beberapa
bakteri Gram negatif (Tan & Rahardja 2007).
Prinsip penggunaan antibiotik bijak menurut Kemenkes (2011) antara lain:
1. Penggunaan antibiotik bijak yaitu penggunaan antibiotik dengan spektrum
sempit, pada indikasi yang ketat dengan dosis yang adekuat interval dan lama
pemberian yang tepat.
2. Kebijakan penggunaan antibiotik (antibiotic policy) ditandai dengan
pembatasan penggunaan antibiotik dan mengutamakan penggunaan antibiotik
lini pertama.
3. Pembatasan penggunaan antibiotik dapat dilakukan dengan menerapkan
pedoman penggunaan antibiotik, penerapan penggunaan antibiotik terbatasi
secara terbatas (restricted), dan penerapan kewenangan dalam penggunaan
antibiotik tertentu (reserved antibiotic).
4. Indikasi ketat penggunaan antibiotik dimulai dengan menegakan diagnosis
penyakit infeksi, menggunakan informasi klinis dan hasil pemeriksaan
laboratorium seperti mikrobiologi, serologi, dan penunjang lainnya. Antibotik
tidak diberikan pada penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus atau
penyakit yang dapat sembuh sendiri (self-limited).
Pemilihan jenis antibiotik harus berdasarkan pada informasi tentang
spektrum bakteri penyebab infeksi dan pola kepekaan bakteri terhadap antibiotik.
Hasil pemeriksaan mikrobiologi atau perkiraan kuman penyebab, infeksi, profil
10

farmakokinetik dan farmakodinamik antibiotik, mempertimbangkan keadaan


klinis pasien serta ketersediaan obat (Kemenkes 2011).

3. Resistensi Antibiotik
3.1. Definisi. Resistensi antimikrobial merupakan resistensi
mikroorganisme terhadap obat antimikroba yang sebelumnya sensitif. Organisme
yang resisten (termasuk bakteri, virus, dan beberapa parasit) mampu menahan
serangan obat antimikroba, seperti antibiotik, antivirus, dan lainnya, sehingga
standar pengobatan menjadi tidak efektif dan infeksi tetap persisten dan mungkin
menyebar (Goodman & Gillman 2007).
Resistensi antibiotik merupakan konsekuensi dari penggunaan antibiotik
yang salah, dan perkembangan dari suatu mikroorganisme itu sendiri, bisa jadi
karena adanya mutasi atau gen resistensi yang didapat (WHO 2012).
3.2. Penyebab Resistensi Antibiotik. Menurut WHO (2012),
ketidaktepatan serta ketidakrasionalan penggunaan antibiotik merupakan
penyebab paling utama menyebarnya mikroorganisme resisten. Contohnya, pada
pasien yang tidak mengkonsumsi antibiotik yang telah diresepkan oleh dokternya,
atau ketika kualitas antibiotik yang diberikan buruk.
3.3. Mekanisme Resistensi Antibiotik. Agar efektif, antibiotik harus
mencapai target dalam bentuk aktif, mengikat target, dan melakukan fungsinya
sesuai dengan mekanisme kerja antibiotik tersebut. Resistensi bakteri terhadap
agen antimikroba disebabkan oleh tiga mekanisme umum, yaitu: obat tidak
mencapai target, obat tidak aktif, atau target tempat antibiotik bekerja diubah
(Beuke 2011).
3.3.1. Kegagalan obat untuk mencapai target. Membran luar bakteri
Gram negatif adalah penghalang yang dapat menghalangi molekul polar besar
untuk masuk ke dalam sel bakteri. Molekul polar kecil, termasuk seperti
kebanyakan antimikroba, masuk ke dalam sel melalui saluran protein yang disebut
porin. Ketiadaan, mutasi, atau kehilangan porin dapat memperlambat masuknya
obat ke dalam sel atau sama sekali mencegah obat untuk masuk ke dalam sel,
yang secara efektif mengurangi konsentrasi obat di situs aktif obat (Beuke 2011).
11

3.3.2. Inaktivasi obat. Resistensi bakteri terhadap Aminoglikosida dan


antibiotik Beta-laktam. Biasanya hasil dari produksi enzim yang memodifikasi
atau merusak antibiotik. Variasi dari mekanisme ini adalah kegagalan bakteri
untuk mengaktifkan prodrug yang secara umum merupakan hal yang mendasari
resistensi [Link] terhadap isoniazid (Beuke 2011).
3.3.3. Perubahan target kerja antibiotik. Hal ini mencakup mutasi dari
target alami (misalnya, resistensi fluorokuinolon), modifikasi dari target kerja
(misalnya, perlindungan ribosom dari Makrolida dan Tetrasiklin), atau akuisisi
bentuk resisten dari target yang rentan (misalnya, resistensi stapilokokus terhadap
Metisilin yang disebabkan oleh produksi varian Peniccilin binding protein yang
berafinitas lemah) (Beuke 2011).
3.3.4. Konsekuensi akibat resistensi antibiotik. Konsekuensi yang
ditimbulkan akibat adanya resistensi antibiotik yang paling utama adalah
peningkatan jumlah bakteri yang mengalami resistensi terhadap pengobatan lini
pertama. Konsekuensi ini akan semakin memberat. Dari konsekuensi tersebut,
maka akibatnya adalah penyakit pasien akan lebih memanjang, sehingga risiko
komplikasi dan kematian juga akan meningkat (Beuke 2011).
Penggunaan terapi antibiotik harus sesuai dengan aturan yang jelas, yaitu:
menemukan diagnosa klinis yaitu infeksi mikrob, mendapatkan bahan
pemeriksaan laboratorium, menemukan diagnosa mikrobiologis, dan mengubah
pengobatan (Pratiwi 2011).
4. Antibiotik untuk Gastroenteritis Akut
Antibiotik sangat efektif untuk memusnahkan kuman, mengurangi diare
dan mempersingkat lamanya keluhan yang timbul akibat diare. Antimikroba
adalah drug of choice untuk pengobatan lini pertama untuk terapi pada pasien
dengan diagnose diare atau gastroenteritis pada masyarakat apabila parasit
patogen telah diketahui (Tan dan Raharja 2007).
Penyebab ketidakberhasilan terapi antibiotika antara lain mikroorganisme
penyebab infeksi resisten terhadap antibiotika yang digunakan, diagnosa salah.
Pilihan antibiotika benar, tetapi dosis dan rute pemberiannya salah. Antibiotika
12

tidak bisa mencapai tempat infeksi. Pasien tidak mematuhi pengobatan (Prayitno
dan Juwono 2003).
Pemberian terapi antibiotik untuk penyakit diare akut atau gastroenteritis
akut yang disebebkan karena infeksi dapat dilihat pada pedoman terapi atau
guideline World Gastroenterology Organisation practice guideline : Acute
diarhea (2012).
Tabel 1. Antibiotik yang digunakan untuk Gastroentrititis akut
Penyebab Antibiotik Pilihan Alternatif
Cholerae Doxycyclin Azitromycin
Dewasa : 300 mg sekali sehari Dewasa : 1 g sebagai dosis tunggal,
Anak : 2 mg /kg (tidak sekali sehari
direkomendasikan) Anak : 20 mg/kg sebagai dosis tunggal
atau Ciprofloxacin
Dewasa 500 mg 2x sehari selama 2, atau
3 hari
Anak : 15 mg/kg 2x sehari selama 2 atau
3 hari
Shigella Ciprofloxacin : Pivmesilinam
dysentry Dewasa : 500 mg 2x sehari selam Anak : 20 mg/kg 4x sehari selama 5 hari
3 hari atau 2 g sekali sehari Dewasa : 400 mg 4x sehari selam 5 hari
Ceftriaxone
Anak : 50 – 100 mg/kg sekali sehari
selama 2-5 hari.
Dewasa : 2-4 g sekali sehari
Giardiasis & Metronidazole
Amoebiasis Dewasa : 750 mg 3 kali sehari
selam 5 hari, 250 mg 3x sehari
Anak : 10 mg/kg 3x sehari, 50 mg/
kg selam 5 hari (10 hari pada kasus
berat)
Campylobacter Azitromycin Ciprofloxacin
Dewasa : 500 mg sekali sehari Dewasa : 500 mg sekali sehari selam 3
selama 3 hari hari
Anak : 30 mg/kg sekali sehari
Sumber : WGO (2012).
4.1. Penisilin. Penisilin menghambat mukopeptida yang diperlukan untuk
sintesis dinding sel mikroba. Terhadap mikroba yang sensitif, penisilin akan
menghasilkan efek bakterisid pada mikroba yang sedang aktif membelah.
Mikroba dalam keadaan metabolime tidak aktif (tidak membelah) yang disebut
juga sebagai persisten, praktis tidak dipengaruhi oleh penisilin, kalupun ada
pengaruhnya hanya bakteriostatik. Kelompok antibiotik ini terdiri dari Ampisilin,
Amoksilin, Pivmesilinam, Penisilin G, Benzyl penisilin (UNSRI 2009).
13

Pivmesilinam memiliki aktivitas terhadap bakteri Gram-negatif seperti


Eschericia Colli, Clebsiella, Enterobacter, dan Shalmonella. Pivmesilinan
dihidrolisis menjadi Mesilinam yang merupakan zat aktifnya (BPOM 2008).
Pivmesilinam yang direkomendasikan untuk terapi Gastroenteritis Akut akibat
Shigella untuk anak-anak sebesar 20 mg/kg 4x sehari selama 5 hari, sedangkan
untuk dewasa dosis yang direkomendasikan sebesar 400 mg 4x sehari selama 5
hari (WGO 2012). Efek samping penisilin antara lain hipersensitivitas, ruam
kulit, mual, muntah, dispepsia, menurunkan kadar kreatinin dalam darah dan
seluruh tubuh (Katzung 2004).
4.2. Sefalosporin. Seftriakson, merupakan golongan Sefalosporin
generasi ke 3 yang memiliki aktivitas terhadap kuman Gram-Negatif lebih kuat
dan lebih luas dibanding generasi kedua. Seftriakson memiliki waktu paruh yang
lebih panjang sehingga dapat diberikan satu kali sehari (BPOM 2008). Seftriakson
yang direkomendasikan untuk terapi Shigella pada anak-anak sebesar 50-
100mg/kg sekali sehari IM selama 2-5 hari, sedangkan untuk dewasa sebesar 2
sampai 4 gram sebagai dosis tunggal. Efek samping golongan sefalosporin antara
lain reaksi alergi, mual, muntah, ruam, demam, sindrome stevens johnson reaksi
anafilaksis (WGO 2012).
4.3. Makrolida. Makrolida merupakan antibiotik yang mempunyai kerja
antibakteri melalui pengikatan sub unit 50 S ribosom bakteri dan mengganggu
sintesis protein. Kelompok antibiotik ini terdiri dari Eritromisin dengan derivatnya
Klaritomisin, Roksitromisin, Azitromisin, dan Diritromisin (UNSRI 2009).
Azitromisin merupakan makrolida yang aktivitasnya terhadap bakteri
Gram positif sedikit lebih lemah dibandingkan Eritromisin, tetapi lebih aktif
terhadap Gram negatif. Kadar plasma Azitromisin sangat rendah, tapi kadarnya
dalam jaringan memungkinkan obat ini diberikan dalam dosis satu kali sehari
(BPOM 2008).
Azitromisin direkomendasikan sebagai terapi akibat infeksi
Campylobakteriosis, pengobatan Campylobakteriosis juga bersifat “self-limiting”
dan sembuh sendiri dalam 5-7 hari. Namun hanya pada kasus yang parah atau
berlangsung lama, ataupun pada anak-anak kecil dan orang tua dapat diberikan
14

Azitromisin dengan dosis adalah 250 mg atau 500 mg sekali sehari selama 3-5
hari. Dosis Azitromisin yang direkomendasikan Gastroenteritis Akut akibat
infeksi kolera dosis untuk anak-anak dapat berkisar (tergantung pada berat badan)
20 mg/kg sekali sehari, untuk dewasa sebesar 1 gram sekali sehari. Sedangkan
dosis Azitromisin untuk infeksi akibat Campylobacter untuk dewasa sebesar 500
mg sekali sehari selam 3 hari, sedangkan untuk anak dosis Azitromisin sebagai
dosis tunggal sebesar 30 mg/kg sekali sehari (WGO 2012). Efek samping antara
lain anoreksia, dispepsia, konstipasi, pusing, sakit kepala, mengantuk, lidah
berwarna pucat, gagal ginjal akut.
4.4. Metronidazole. Metronidazol merupakan antimikroba yang
memiliki kerja sebagai bakterisid yang menyebabkan pengurangan pembentukan
toksin bakteri. Aktif pada pemberian oral dan obat ini dapat berpenetrasi baik
pada jaringan dan ke abses (UNSRI 2009). Metronidazol yang direkomendasikan
untuk Amoebiasis pada anak sebesar 10mg/kgBB 3x sehari selama 5 hari dan
dewasa sebesar 750 mg 3x sehari selama 5 hari (atau 10 hari pada kasus berat).
Sedangkan dosis metronidazol yang direkomendasikan untuk Giardiasis pada
anak sebesar 5mg/kg 3x sehari selama 5 hari, dan dewasa sebesar 250 mg 3x
sehari selama 5 hari (WGO 2008).
4.5. Kuinolon. Kuinolon mempunyai daya antibakteri yang lebih kuat
dan spektrum antibakteri yang lebih lebar sehingga dapat digunakan untuk infeksi
sistemik dan dapat diberikan peroral. Kuinolon bersifat bakterisidal dan bekerja
dengan menghambat DNA Girase yang merupakan enzim yang bertanggung
jawab untuk supercoiling DNA pada proses replikasi mikroba. Kelompok
antibiotik ini terdiri dari Ciprofloksasin, Ofloksasin, Levofloksasin, dan
Moksifloksasin (UNSRI 2009).
Siprofloksasin merupakan antibiotik yang aktif terhadap Gram-Positif dan
Gram-Negatif. Siprofloksasin terutama aktif pada bakteri Gram negatif termasuk
Salmonella, Shigella, Champhilobacter. Siprofloksasin hanya memiliki aktifitas
yang sedang terhadap bakteri Gram-Positif (BPOM 2008). Dosis dewasa yang
direkomendasikan sebesar 500 mg dua kali sehari selama 3 hari. Sedangkan
untuk infeksi akibat Champylobacter untuk dewasa sebesar 500 mg sekali sehari
15

selama 3 hari (WGO 2012). Efek samping antara lain takikardi, udem, kemerahan,
berkeringat, gangguan dalam bergerak, hiperglikemia, nyeri (Katzung 2004).

5. Algoritma terapi Gastroenteritis Akut

Diare akut Non infeksius


Infeksius

Penilaian : Mengidentifikasi dan


Riwayat pejalan menangani gejala
Demam lebih dari 390 C Paparan makanan
Dehidrasi berat nyeri Riwayat kontak
perut hebat Konsumsi obat Tidak
Hematokezia atau disentri Penyakit penyerta
Tenesmus
Immunocompromised Hidrasi
Mengobati gejala
Penyakit menetap Follow up dalam 48 – 72 jam
atau memburuk
Ya

Penyakit sembuh
Tidak membutuhkan
Leukosit tinja, Kultur tinja, Kultur darah, evaluasi lebih lanjut
Pemeriksaan tinja untuk telur parasit, C.
diffcile toxin, Pertimbangan sigmoidoskopi

Pertimbangan pemberian antibiotik


yang spesifik terhadap bakteri

Gambar 1 Algoritma terapi Gastroenteritis akut (Trier 2012)

B. Gastroenteritis Akut
1. Definisi
Gastroenteritis merupakan peradangan pada lambung, usus kecil, dan usus
besar dengan berbagai kondisi patologis dari saluran gastrointestinal (Muttaqin &
Sari 2011). Infeksi gastroenteritis pada usus, keparahan dapat berkisar dari
gangguan perut ringan selama sehari atau dua hari dengan diare ringan, sedang
sampai berat dan muntah-muntah selama beberapa hari atau lebih lama.
Gastroenteritis adalah inflamasi yang disebabkan oleh bermacam-macam bakteri,
16

virus, dan parasit yang patogen pada daerah lambung dan intestinal
(Devrajani et al 2009).
Berdasarkan penyebabnya, gastroenteritis diklasifikasikan menjadi 2, yaitu
diare infeksi mikroorganisme (jasad renik) seperti bakteri, virus, dan parasit ; serta
diare non infeksi seperti faktor psikologis karena ketakutan atau kecemasan.
Bakteri yang sering menimbulkan diare infeksi atau gastroenteritis adalah
Shigella, Vibrio cholerae, Salmonella (non thypoid), Campylobacter jejuni, serta
[Link], Clostridium difficile (WGO European 2014).
Diare dalam gastroenteritis adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja
berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih
banyak dari biasanya lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam (Ciesla 2003). Diare
dianggap sebagai mekanisme pertahanan tubuh untuk mengekskresikan
mikroorganisme keluar tubuh. Diare akut yang menimbulkan dehidrasi sedang
sampai berat. Terapi simptomatik juga diperlukan untuk menghentikan diare atau
mengurangi volume feses, karena diare dengan buang air besar berulang kali
merupakan suatu keadaan yang mengganggu aktifitas sehari hari (Zein et al 2004).
2. Epidemiologi Gastroenteritis Akut
Beberapa faktor epidemiologi dipandang penting untuk pasien
gastroenetritis akut yang disebabkan oleh infeksi. Makanan atau minuman
terkontaminasi, penggunaan antibiotik, merupakan petunjuk penting dalam
mengidentifikasi pasien beresiko tinggi untuk diare infeksi (Zein et al 2004).
Berdasarkan data Word Health Organization (WHO) ada 2 milyar kasus
diare infeksi pada orang dewasa di seluruh dunia setiap tahun. Di Amerika
Serikat, insiden kasus gastroenteritis akut mencapai 200 juta hingga 300 juta
kasus per tahun. Satu studi data mortalitas nasional melaporkan lebih dari 28.000
kematian akibat diare karena infeksi atau gastroenteritis dalam waktu 9 tahun,
51% kematian terjadi pada lanjut usia. Selain itu gastroenteritis masih merupakan
penyebab kamatian anak di seluruh dunia, meskipun tatalaksana sudah maju (Zein
et al 2004).
Mekanisme transmisi patogen gastroenteritis akut dari orang ke orang
melalui rute fekal oral atau makanan dan air yang terkontaminasi. Faktor yang
17

meningkatkan kerentanan terjadinya infeksi yaitu: usia muda, defisiensi imun,


measles, malnutrisi, berkunjung ke daerah endemik, kurangnya pemberian ASI,
terpapar dengan sanitasi yang jelek, tingkat pendidikan ibu dan pengasuh anak
(Behman et al 2004).

3. Etiologi Gastroenteritis Akut


Bakteri yang paling umum menyebabkan gastroenteritis adalah jenis
Salmonella, Campylobacter, Shigella dan Yersinia. Vibrio cholera tetap menjadi
penyebab utama diare, terutama pada daerah dengan kebersihan yang terganggu.
Giardia lamblia adalah infeksi dari protozoa paling umum yang menyebabkan
gastroenteritis, meskipun cenderung dikaitkan dengan lebih banyak diare yang
menetap. Hal ini menunjukkan peningkatan bahwa sanitasi tidak akan
menurunkan prevelensi penyakit pada infeksi virus tetapi dpat membantu dalam
pencegahan parasite dan infeksi bakteri. Penyebab Gasreoenteritis yang paling
sering adalah bakteri atau virus. Organisme penyebab yang sering di temui
termasuk diantaranya Campylobacter, [Link], Rotavirus, Shigella, Salmonella dan
Giardia Lamblia (Shulman et al 2001).
Tabel 2. Etiologi Gastroenteritis
Virus Bakteri Protozoa
Rotavirus 1-3 Salmonella Giardia lamblia
Agen serupa Norwalk Shigella Entamoeba histolityca
Adenovirus Enteric [Link] Cryptosporidium
Calicivirus Vibrio cholera
Vibrio lainnya
Campylobacter fetus
Yersinia enterocolitica
Sumber : Shulman et al (2001)

Tabel 3. Karakteristik Gastroenteritis yang disebabkan oleh virus dan bakteri


Gambaran Gastroenteritis Virus Gastroenteritis Bakteri
Situasi Insiden setara di Negara yang Lebih sering pada situasi hygiene dan
sedang berkembang dan Negara sanitasi yang rendah
maju
Dosis infeksi Rendah (10-100 partikel virus untuk Tinggi (>105 bakteri) untuk E. Coli,
kebanyakan virus Salmonella, Vibrio, medium (102-105
bakteri) untuk Campylobacter jejuni
rendah (10-100 bakteri) untuk Shigella
Musim Di daerah beriklim sedang biasanya Lebih sering pada musim panas atau
musim dingin; di daerah musim hujan, terutama di Negara yang sedang
tropis sepanjang waktu berkembang dengan prevelensi penyakit
18

Gambaran Gastroenteritis Virus Gastroenteritis Bakteri


yang tinggi
Masa tunas 1-3 hari umumnya; dapat lebih Biasanya 1-7 hari (mis. Campylobacter,
singkat untuk norovirus E. coli, Shigella, Salmonella); beberapa
jam untuk bakteri penghasil toksin (mis.
Staphylococcus aureus, bacillus cereus)
Reservoir Terutama manusia Bergantung pada spesies manusia (mis.
Shigella, Salmonella), hewan (mis.
Campylobacter, Salmonella, [Link]) dan
air (mis. Vibrio)
Demam Sering pada rotavirus dan norovirus; Sering pada bakteri penyebab diare
jarang pada virus lain inflamatorik (mis. Salmonella, Shigella)
Muntah Menonjol dan mungkin merupakan Sering pada bakteri penyebab toksin jadi
satu-satunya gejala, khususnya pada : kurang mencolok pada diare akibat
anak bakteri lain
Diare Sering; umumnya tidak berdarah Mencolok dan sering mengandung darah
pada bakteri yang menyebabkan diare
peradangan
Durasi 1-3 hari untuk norovirus dan 1-2 hari untuk bakteri penghasil toksin
sapovirus; 2-8 hari untuk virus lain jadi; 2-8 hari untuk kebanyakan diare
lainnya
Diagnosis Dalam praktek klinik, diagnosis Pemeriksaan feses untuk leukosit dan
biasanya secara eksklusi. Tersedia darah berguna dalam diagnosis banding.
immunoassay enzim komersial untuk Biakan specimen tinja, kadang di
mendeteksi rotavirus dan medium khusus, dapat
adenovirus, tetapi identifikasi virus mengidentifikasikan beberapa patogen.
lain terbatas pada riset dan Metode molekular bermanfaat dalam
laboratorium kesehatan masyarakat penelitian epidemiologi tetapi tidak
secara rutin dilakukan di laboratorium
Terapi Terapi suportif untuk Terapi hidrasi suportif sudah memadai
mempertahankan hidrasi dan nutrisi bagi kebanyakan pasien. Antibiotik
yang adekuat. Antibiotik dan dianjurkan dianjurkan untuk pasien
antimotalitas dikontraindikasikan dengan disentri akibat Shigella atau
Vibrio Cholerae dan untuk sebagian
pasien dengan kolitis Clostridium
difficile
Sumber : Parashar dan Glass (2013)

4. Patofisiologi
Gastroenteritis akut diklasifikasikan secara klinis dan patofisiologis
menjadi diare non inflamasi dan diare inflamasi. Diare inflamasi disebabkan
invasi bakteri dan sitotoksin dikolon dengan manifestasi sindroma disentri dengan
diare yang disertai lendir dan darah (Zein et al 2004).
Kondisi peradangan pada gastrointestinal disebabkan oleh infeksi dengan
melakukan invasi pada mukosa, memproduksi enterotoksin atau memproduksi
sitotoksin. Mekanisme tersebut menghasilkan peningkatan sekresi cairan dan
menurunkan absorbsi cairan sehingga akan terjadi dehidrasi dan hilangnya nutrisi
atau elektrolit (Muttaqin dan Sari 2011).
19

Pada diare non inflamasi, diare di sebabkan oleh enterotoksin yang


mengakibatkan diare cair dengan volume yang besar tanpa lendir dan darah.
Mekanisme terjadinya gastroenteritis akut maupun kronik dapat dibagi menjadi
kelompok osmotik, sekretorik, eksudatif dan gangguan motilitas.
Diare osmotik terjadi bila ada bahan yang tidak diserap meningkatkan
osmolaritas dalam lumen yang menarik air dari plasma sehingga terjadi diare,
contohnya adalah malabsorbsi karbohidrat akibat defisiensi lactase atau akibat
garam magnesium.
Diare sekretorik bila terjadi gangguan transport elektrolit baik absorbsi
yang berkurang ataupun sekresi yang meningkat. Hal ini dapat terjadi akibat
toksin yang dikeluarkan bakteri misalnya toksin kolera atau pengaruh garam
empedu, asam lemak rantai pendek, atau laksatif non osmotik. Beberapa hormon
intestinal seperti gastrin Vasoactive Intestinal Polypeptide (VIP) juga dapat
menyebabkan diare sekretorik atau akibat garam magnesium.
Diare eksudatif, inflamasi akan mengakibatkan kerusakan mukosa baik
usus halus maupun usus besar. Inflamasi dan eksudasi dapat terjadi akibat infeksi
bakteri atau bersifat non infeksi Gluten Sensitive Enteropathy, Inflammatory
Bowel Disease (IBD) atau akibat radiasi (Zein et al 2004).
Kelompok lain adalah akibat gangguan motilitas yang mengakibatkan
waktu transit usus menjadi lebih cepat hal ini terjadi pada keadaan tirotoksikosis,
sindrom iritasi usus atau diabetes mellitus. Diare dapat terjadi akibat lebih dari
satu mekanisme. Pada infeksi bakteri paling tidak ada dua mekanisme yang
bekerja meningkatkan sekresi usus dan absorbs di usus. Infeksi bakteri
menyebabkan inflamasi dan mengeluarkan toksin yang menyebabkan diare.
Infeksi bakteri yang infasif mengakibatkan perdarahan atau adanya leukosit dalam
feses atau akibat garam magnesium (Zein et al 2004).
Menurut Suharyono (2008), sebagai akibat diare (baik akut maupun
kronik) akan terjadi :
a. Kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang menyebabkan
dehidrasi, asidosis metabolic dan hipoglikemia.
20

b. Gangguan sirkulasi darah berupa renjatan (syok) hipovolemik. Akibatnya


perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat,
dapat mengakibatkan perdarahan dalam otak, kesadaran menurun dan bila
tidak segera ditolong dapat meninggal.
c. Gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya cairan berlebihan karena diare
dan muntah, sehingga terjadi penurunan berat badan dalam waktu yang
singkat.
Tabel 4. Klasifikasi episode diare
Jenis diare Tanda diare
Diare akut Ditandai dengan frekuensi keluarnya tinja 3 kali atau lebih selama 24
jam
Disentri Diare perdarahan, disertai darah dan mukosa
Diare persisten Episode diare berlangsung lebih dari 14 hari
Sumber : WGO (2008)
5. Manifestasi klinik
Infeksi merupakan penyebab utama diare akut atau gastroenteritis akut,
baik oleh bakteri, parasit maupun virus. Penderita gastroenteritis akut sering
mengeluh flatulen, malaise, nyeri lambung, diikuti berat badan turun, anoreksia
dan lemah (Priyanto 2009).
Pada diare hebat yang sering kali disertai muntah, mengakibatkan tubuh
kekeringan (dehidrasi), kekurangan kalium (hypokalemia), dan ada kalanya
asidosis (darah menjadi asam) yang tidak jarang berakhir dengan syok dan
kematian. Gejala pertama dari dehidrasi adalah perasaan haus, mulut dan bibir
kering, kulit menjadi keriput, berkurang air seni, menurunnya berat badan serta
gelisah. Kekurangan kalium (hypokalemia) dapat mempengaruhi system
neuromuskuler dengan gejala mengantuk, lemah otot dan sesak nafas.
Tabel 5. Jalur dari gejala utama penyebaran gastroenteritis akut
Tanda dan Gejala Kriteria
Panas Secara umum berhubungan dengan patogen yang invasif
Tinja yang berdarah Invasif dan sitotoksin yang dihasilkan oleh patogen terinfeksi EHEC
dengan disertai adanya leukosit pada tinja tidak berhubungan dengan
agen viral dan Enterotoxin bakteri.
Muntah Sering terjadi pada viral diare disebabkan oleh toksin bakteri
Sumber : WGO (2008).

Infeksi bakteri paling tidak ada dua mekanisme yang bekerja


meningkatkan sekresi usus dan penurunan absorbsi di usus. Infeksi bakteri
21

menyebabkan inflamasi dan mengeluarkan toksin yang menyebabkan terjadinya


diare infeksi atau gastroenteritis. Infeksi bakteri yang invasif mengakibatkan
perdarahan atau adanya leukosit dalam feses atau akibat garam magnesium.
Mekanisme gastroenteritis terjadi akibat bakteri Enteropatogen meliputi
penempelan bakteri pada sel epitel dengan atau tanpa kerusakan mukosa, invasi
mukosa, dan produksi enterotoksin atau sitotoksin. Satu bakteri dapat
menggunakan satu atau lebih mekanisme tersebut untuk dapat mengatasi
pertahanan mukosa usus. (Zein et al 2004).
Tabel 6. Gambaran klinis infeksi patogen.
Gambaran klinik
Tinja
Nyeri Peradangan Mual, Tinja
Patogen Demam positif
abdomen tinja muntah berdarah
heme
Shigella ++ ++ ++ ++ +/- +
Salmonella ++ ++ ++ + +/- +
Camphilobacter ++ ++ ++ + +/- +
Yersinia ++ ++ ++ + + +
Norovirus ++ ++ + ++ - +
Vibrio +/- +/- +/- +/- +/- +/-
Cyclospora +/- +/- - + - -
Cryptosporidium +/- +/- + + - -
Giardia ++ - - + - -
Entamoeba + + +/- +/- ++ +/-
Histolytica
Clostridium Difficile + + - - + +
Shiga toxin producing
Escherichia coli ++ 0 + + ++ ++
Including (0157;H7)
Keterangan : Kunci : ++ , Umum : +, terjadi : +/-, Variabel : -, Tidak Umum : 0, attikal / sering
tidak hadir. Sumber : WGO (2012).
5.1. Diare. Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja
berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih
banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml dalam 24 jam. Pada kasus
gastroenteritis, diare secara umum terjadi karena adanya peningkatan sekresi air
dan elektrolit (Simadibrata et al 2009).
5.2. Mual dan Muntah. Muntah diartikan sebagai adanya pengeluaran
paksa dari isi lambung melalui mulut. Pusat muntah mengontrol dan
mengiantegrasikan terjadinya muntah. Lokasinya terletak pada formasio
retikularis lateral medulla oblongata yang berdekatan dengan pusat-pusat lain
22

yang meregulasi pernafasan, vasomotor, dan fungsi otonom lain. Pusat-pusat ini
juga memiliki peranan dalam terjadinya muntah (Hasler 2012).
Muntah dikoordinasi oleh batang otak dan dipengaruhi oleh respon dari
usus, faring, dan dinding torakoabdominal. Mekanisme yang mendasari mual itu
sendiri belum sepenuhnya diketahui, tetapi diduga terdapat peranan korteks
serebri karena mual itu sendiri membutuhkan keadaan persepsi sadar (Hasler
2012).
5.3. Nyeri Perut. Banyak penderita yang mengeluhkan sakit perut. Rasa
sakit perut banyak jenisnya. Hal yang perlu ditanyakan adalah apakah nyeri perut
yang timbul ada hubungannya dengan makanan, apakah timbulnya terus menerus,
adakah penjalaran ke tempat lain, bagaimana sifat nyerinya dan lain-lain. Lokasi
dan kualitas nyeri perut dari berbagai organ akan berbeda, misalnya pada lambung
dan duodenum akan timbul nyeri yang berhubungan dengan makanan dan
berpusat pada garis tengah epigastrium atau pada usus halus akan timbul nyeri di
sekitar umbilikus yang mungkin sapat menjalar ke punggung bagian tengah bila
rangsangannya sampai berat. Bila pada usus besar maka nyeri yang timbul
disebabkan kelainan pada kolon jarang bertempat di perut bawah (Hadi 2002).
5.4. Demam. Demam adalah peninggian suhu tubuh dari variasi suhu
normal sehari-hari yang berhubungan dengan peningkatan titik patokan suhu (set
point) di hipotalamus. Temperatur tubuh dikontrol oleh hipotalamus. Neuron-
neuron baik di preoptik anterior hipotalamus dan Posterior hipotalamus menerima
dua jenis sinyal, satu dari saraf perifer yang mengirim informasi dari reseptor
hangat atau dingin di kulit dan yang lain dari temperatur darah. Kedua sinyal ini
diintegrasikan oleh termoregulatory centre di hipotalamus yang mempertahankan
temperatur normal. Pada lingkungan dengan suhu tubuh netral, metabolic rate
manusia menghasilkan panas yang lebih banyak dari kebutuhan kita untuk
mempertahankan suhu inti yaitu dalam batas 36,5 - 37,5ºC
(Dinarello dan Porat 2012).
Pusat pengaturan suhu terletak di bagian anterior hipotalamus. Ketika
vascular bed yang mengelilingi hipotalamus terekspos pirogen eksogen tertentu
(bakteri) atau pirogen endogen, zat metabolik asam arakidonat dilepaskan dari
sel-sel endotel jaringan pembuluh darah ini (Prewitt 2005).
23

6. Diagnosis
Pemeriksaan laboratorium pasien tersangka gastroenteritis akut dimulai
dari pemeriksaan feses adanya leukosit, kotoran biasanya tidak mengandung
leukosit, jika ada itu dianggap penanda inflamasi kolon baik infeksi maupun non
infeksi. Karena netrofil akan berubah, sampel harus diperiksa sesegera mungkin.
Sensitifitas leukosit feses terhadap inflamasi patogen (Salmonella, Shigella,
Champilobacter) yang dideteksi dengan kultur feses bervariasi dari 45%-95%
tergantung dari jenis patogennya (Zein et al 2004).
Pasien dengan diare berat, demam nyeri abdomen atau kehilangan cairan
harus di periksa kimia darah, natrium, kalium, klorida, ureum, kreatinin, analisa
gas darah dan pemeriksaan darah lengkap. Pemeriksaan radiologis seperti
sigmoidoskopi, kolonoskopi dan lainnya biasanya tidak membantu untuk evaluasi
diare akut infeksi (Zein et al 2004).
Untuk mendiagnosis pasien gastroenteritis akut diperlukan pemeriksaan
yang sistemik dan cermat. Kepada pasien perlu ditanyakan riwayat penyakit, latar
belakang dan lingkungan pasien, riwayat pemeriksaan obat terutama antibiotik,
riwayat perjalanan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pendekatan
umum gastroenteritis akut baik diagnosis dan terapeutik (Zein et al 2004).

C. Penatalaksaaan Gastroenteritis Akut


Secara garis besar pengobatan gastroenteritis akut dikategorikan ke dalam
beberapa jemis, yaitu pengobatan simtomatik, pengobatan kausal dan pengobatan
cairan. Dalam upaya pengobatan pada penderita gastroenteritis akut terapi yang
diberikan adalah sebagai berikut :
1. Rehidrasi
Terapi rehidrasi oral (TRO) adalah pemberian terapi melalui mulut untuk
mencegah atau mengatasi dehidrasi yang disebabkan karena Gastroentritis Akut.
TRO adalah standar untuk manajemen efikasi dan keefektifan biaya pada
gastroenteritis akut, juga pada negara berkembang (WGO 2008).
Cairan Rehidrasi Oral (CRO) atau ORS (oral rehydration solution) adalah
cairan pengembangan dari TRO (terapi rehidrasi oral). Untuk lebih efektif, CRO
24

(Cairan Rehidrasi Oral) atau ORS (oral rehydration solution) dengan osmolaritas
yang lebih rendah (dengan pengurangan konsentrasi dari sodium dan glukosa,
berkaitan dengan pengurangan muntah, pengurangan tinja, dan pengurangan
kebutuhan untuk infus intravena dibandingkan dengan standar (CRO) telah
dikembangkan untuk penggunaan secara umum. Untuk Hipotonis WGO-CRO
juga merekomendasikan untuk terapi pada dewasa dan anak-anak dengan kolera
(WGO 2008).
Tabel 7. Komponen Cairan Rehidrasi Oral (CRO)
Jenis Larutan Mmol/L
Sodium 75
Klorida 65
Glukosa 75
Kalium 20
Sitrat 10
Total osmolaritas 245
Sumber : WGO (2008)
Bagian paling penting dalam pengobatan gastroenteritis akut adalah
mencegah, mengobati dehidrasi dan kehilangan garam. Untuk terapi rehidrasi
dilakukan dengan pemberian Cairan Rehidrasi Oral (CRO) atau ORS (oral
rehydration solution) (Tan & Raharja 2007).
2. Pengobatan Kausal
Pengobatan yang diberikan setelah mengetahui penyebab yang pasti. Jika
kausa diare adalah penyaki parenteral, maka diberikan antibiotik. Jika tidak
terdapat infeksi parenteral, obat antibiotik baru boleh diberikan jika pada
pemeriksaan laboratirium ditemukan bakteri patogen (Suraatmaja 2007).
Penyakit gastroenteritis akut umumnya bersifat self-limiting atau ringan
dan tanpa komplikasi, sehingga pada umunya tidak diperlukan antibiotik. Hanya
pada infeksi oleh bakteri tertentu perlu diberikan suatu obat kemoterapi yang
bersifat mempenetrasi baik ke dalam jaringan yaitu dengan antibiotik seperti
Amoksisilin, Tetrasiklin dan Fluorokinolon (Tan dan Raharja 2007).
Terapi diare akut yang tidak disebabkan oleh infeksi (tidak ada peran
simtom sistemik) adalah diberikan terapi simtomatik seperti terapi rehidrasi,
pemberian loperamid atau absorben dan diet. Sedangkan diare yang disebebkan
oleh bakteri (timbul panas dan simtom sistemik), maka diberikan obat antibiotik
yang sesuai. Antibiotik digunakan hanya jika diare disebabkan oleh infeksi.
25

Karena kebanyakan diare bukan karena infeksi atau non spesifikasi yang akan
sembuh dengan sendirinya (Priyanto 2009).
3. Pengobatan Sistemik
Obat-obat yang bersifat antimotilitik tidak dianjurkan pada diare karena
infeksi atau gastroenteritis dengan sindroma disentri yang disertai demam.
Beberapa golongan obat yang bersifat simptomatik pada diare akut diberikan
pertimbangan klinis yang matang terhadap cost-effektive. Kontroversial seputar
obat simptomatik tetap ada, meskipun uji klinis telah banyak dilakukan dengan
hasil yang beragam pula, tergantung jenis diarenya dan terapi kombinasi yang
diberikan. Pada prinsipnya,obat simtomatik bekerja dengan mengurangi volume
feses dan frekuensi diare ataupun menyerap air (Wingate et al 2001).
Pengobatan simptom dapat diklasifikasikan antara lain :
a. Obat antidiare, Antispasmodik atau opium (papaverin, ekstrak beladona,
loperamid, kodein) hanya berkhasiat untuk menghentikan.
b. Adsorben, contohnya seperti kaolin, pektin, arang aktif (activate charcoal),
bismuth subbikarbonnat.
c. Stimulan, misal contohnya seperti adrenalin, dan niketamid.
d. Antiemetik, contohnya seperti klorpromazin untuk mencegah muntah juga
mengurangi sekresi dan kehilangan cairan.
e. Antipiretika, contohnya seperti asetosal dan aspirin dalam dosis rendah (25
mg/tahun/kali) ternyata berguna untuk menurunkan panas sebagai akibat
dehidrasi atau panas karena infeksi dan mengurangi sekresi cairan yang keluar
bersama tinja.
4. Pengendalian Dehidrasi
4.1 Diare tanpa dehidrasi. Tanda diare tanpa dehidrasi, bila terdapat 2
tanda di bawah ini atau lebih yaitu : keadaan umum : baik, mata: normal, rasa
haus : normal, minum : biasa, turgor kulit : kembali cepat.
Dosis oralit bagi penderita diare tanpa dehidrasi sebagai berikut : Umur
kurang 1 tahun : ⁄ sampai ⁄ gelas setiap kali anak mencret, umur 1 sampai 4
tahun : ⁄ sampai 1 gelas setiap kali anak mencret, umur diatas 5 tahun : 1
sampai 1 ⁄ gelas setiap kali anak mencret (Kemenkes 2011).
26

4.2 Dehidrasi ringan atau sedang. Diare dengan dehidrasi ringan atau
sedang, bila terdapat 2 tanda di bawah ini atau lebih : keadaan umum: gelisah,
rewel, mata : cekung, rasa haus : haus, ingin minum banyak, turgor kulit : kembali
lambat. dosis oralit yang diberikan dalam tiga jam pertama 75 ml/kg BB dan
selanjutnya diteruskan dengan pemberian oralit seperti diare tanpa dehidrasi
(Kemenkes 2011).
4.3 Diare dehidrasi berat. Diare dehidrasi berat, bila terdapat 2 tanda di
bawah ini atau lebih : keadaan umum : lesu, lunglai, atau tidak sadar, mata :
cekung, rasa haus : tidak bisa minum atau malas minum, turgor kulit : kembali
sangat lambat dengan durasi (lebih dari 2 detik (kemenkes 2011).
5. Probiotik
Kelompok probiotik terdiri dari Lactobacillus dan Bifidobacteria atau
Saccharomyces boulardi, bila meningkat jumlahnya di saluran cerna akan
memiliki efek positif karena berkomptisi untuk nutrisi dan reseptor saluran cerna.
Untuk mengurangi atau menghilangkan diare harus diberikan dalam jumlah
adekuat (Farthing et al 2013).
6. Antibiotik
Antibiotik yang digunakan pada Gastroenteritis Akut menurut Panduan
Praktik Klinis (PPK) Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer edisi
revisi tahun 2014, antara lain:
1. Golongan kuinolon yaitu Siprofloksasin 2 x 500 mg/hari selama 5-7 hari.
2. Trimetroprim/Sulfametoksazol 160/800 2x 1 tablet/hari.
3. Metronidazol dapat digunakan dengan dosis 3x500 mg/ hari selama 7 hari.
4. Bila diketahui etiologi dari diare akut, terapi disesuaikan dengan etiologi.
Menurut Panduan Praktik Klinis (PPK) tata laksana kasus penyakit dalam
RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi Jawa Timur 2017 untuk kasus diare akut
menggunakan antibiotik :
a. Tetrasiklin 4x500mg/hari selama 3hari
b. Ciprofloksasin 2x500mg/hari per oral dan 2x200-400mg/hari parenteral
selama 3-5hari
c. Bila curiga shigelosis diberikan ampicilin 4x1g selama 5hari
27

d. Bila curiga amoebiasis diberikan metronidazol 4x500mg/hari selama 7hari


e. Bila penyebabnya jamur diberikan antijamur
Antibiotika hanya bermanfaat pada penderita diare dengan darah
(sebagaian besar karena Shigellosis), dan kolera. Sedangkan obat anti protozoa
digunakan bila terbukti diare disebabkan oleh parasit (Amoeba, Giardiasis)
(Kemenkes 2011).
Tabel 8. Antibiotik empiris pada diare infeksi akut
Organisme Lini pertama Lini kedua
Campylobacter, Ciprofloxacin 500 mg oral 2 Salmonella atau Shigella
Shigella atau kali sehari, 3-5 hari Ceftriaxone 1 gram IM/IV sehari,
Salmonella Sp TMP-SMX DS oral 2 kali sehari, 3
hari, Campylobacter sp Azitromycin
500 mg oral 2 kali sehari.
Eritromycin 500 mg oral 2 kali
sehari, 5 hari.
Vibrio Cholera Tetracycline 500 mg oral 4 Resistensi tetracycline Ciprofloxacin
kali sehari, 3 hari 1 gram oral 1 kali
Doxycycline 300 mg oral, Eritromycin 250 mg oral 4 kali
dosis tunggal sehari, 3 hari.
Diare Perjalanan Ciprofloxacin 500 mg 2 kali TMP-SMX DS oral 2 kali sehari, 3
sehari hari
Clostridium difficult Metronidazole 250-500 mg 4x Vancomycine 125 mg 4 kali sehari,
sehari, 7-14 hari, oral atau IV 7-14 lhari
Sumber : Farthing et al (2013).

Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada


gastroenteritis akut, karena 40% kasus gastroenteritis akut sembuh kurang dari 3
hari tanpa pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik di indikasikan pada: pasien
dengan gejala dan tanda diare infeksi seperti demam, feses berdarah, leukosit pada
feses, mengurangi ekskresi dan kontaminasi lingkungan, persisten atau
penyelamatan jiwa pada gastroenteritis akut dan pasien immunocompromised.
Pemberian antibiotik secara empiris dapat dilakukan terapi antibiotik spesifik
diberikan berdasarkan kultur dan resistensi bakteri pada pasien (Ciesla 2003).
Tabel 9. Antibiotik Secara Empiris Pada Gastroenteritis untuk Dewasa
Indikasi Pemberian Antibiotik Pilihan Antibiotik
Demam (suhu oral 38,50C), tinja Kuinolon 3 – 5 hari
berdarah, leukosit, laktoferin, Kotrimoksazole 3-5 hari
hemoccult, sindrom disentri
Shigellosis Kuinolon 3 – 5 hari
Kotrimoksazole 3-5 hari
Intestinal Salmonellosis Kloramfenikol/kotromoksazole/kuinolon selama7 hari
Campylobacteriosis Eritromisin selama 5 hari
EPEC Terapi sebagai Febrile Dysentry
28

Indikasi Pemberian Antibiotik Pilihan Antibiotik


ATEC Terapi sebagai traveler’s diarrhea
EIEC Terapi sebagai Shigellosis
EHEC Peranan Antibiotik belum jelas
Vibrio non kolera Terapi sebagai Febrile Dysentry
Aeromonas Diare Terapi sebagai Febrile Dysentry
Yersiniosis Umumnya dapat diterapi sebagai Febrile Dysentry.
Pada kasus berat : Seftriakson IV 1 g/6 jam selama 5
hari.
Giardiasis Metronidazole 4 x 250 mg selama 7 hari.
Atau Tinidazole 2 g single dose atau Quinacine 3x100
mg selama 7 hari.
Ingtestinas Amebiasis Metronidazole 3 x 750 mg 5 – 10 hari + pengobatan
kista untuk mencegah relaps : Diiodohydroxyquin 3 x
650 mg 10 hari atau Paramomycin 3 x 500 mg 10 hari
atau diloxanide foroate 3x 500 mg 10 hari
Cryptosporidiosis Untuk kasus berat atau immunocompromised :
Paramomycin 3 x 500 mg selama 7 hari
Isosporiosi Kotrimoxazole 2 x 160/800 selama 7 hari
Sumber : Wingate et al (200I).
7. Zinc
Zinc dapat menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Syntase)
dimana ekskresi enzim ini meningkat selama diare dan mengakibatkan
hipersekresi epitel usus. Zinc juga berperan dalam epitelisasi dinding usus yang
mengalami kerusakan morfologi dan fungsi selama kejadian diare. Dosis
pemberian Zinc pada balita : Umur < 6 bulan : ⁄ tablet (10 mg) / hari selama 10
hari. Umur > 6 bulan : 1 tablet (20 mg) / hari selama 10 hari (Kemenkes 2011).
8. ASI dan Makanan
Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada
penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah
berkurangnya berat badan. Anak yang masih minum ASI harus sering diberi ASI.
Anak yang minum susu formula juga diberikan lebih sering dari biasanya. Anak
usia 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah mendapatkan makanan pada
harus diberikan makanan yang mudah dicerna dan diberikan sedikit lebih sedikit
dan lebih sering. Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra diteruskan
selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat badan (Kemenkes 2011).

D. Rumah Sakit
1. Rumah Sakit
29

Berdasarkan ketentuan umum dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia Nomor : 983/Menkes/SK/XI/1992 tentang Pedoman
Organisasi Rumah Sakit Umum. Pengertian Rumah Sakit yang memberikan
pelayanan kesehatan bersifat dasar, spesialistik, dan sub spesialistik. Rumah Sakit
adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan,
dan gawat darurat (Menkes, No 340/Menkes/Per/III/2010).
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang
optimal bagi masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pendekatan
pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif),
penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif), yang
dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Konsep
kesatuan upaya kesehatan ini menjadi pedoman dan pegangan bagi semua fasilitas
kesehatan di Indonesia termasuk rumah sakit (Depkes 2004).
2. Tugas Rumah Sakit
Pada umumnya tugas Rumah Sakit adalah menyediakan keperluan untuk
pemeliharaan dan pemulihan kesehatan. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor :983/Menkes/SK/XI/1992, tugas Rumah Sakit Umum
adalah melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna
dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemeliharaan yang dilaksanakan
secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta
melaksanakan rujukan (Siregar dan Amalia 2003).
3. Fungsi Rumah Sakit
Guna melaksanakan tugasnya, Rumah Sakit mempunyai berbagai fungsi
yaitu : pelayanan medik, pelayanan penunjang medik dan non medik, pelayanan
asuhan dan keperawatan, pelayanan rujukan, pendidikan dan pelatihan, penelitian
dan pengembangan, pelayanan administrasi umum dan keuangan. Sehubungan
dengan fungsi dasar ini Rumah Sakit melakukan pendidikan terutama bagi
mahasiswa farmasi, kedokteran, perawat, dan personal lainnya
(Siregar dan Amalia 2003).
30

4. Rekam Medik
Rekam Medik adalah sejarah ringkas, jelas dan akurat dari kehidupan dan
kesakitan penderita, ditulis dari sudut pandang medik, definisi rekam medik
menurut Surat Keputusan Direktur Jendral Pelayanan Medik adalah berkas yang
berisikan catatan dan dokumen tentang identitas, anamnesis, pemeriksaan,
diagnosis, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang diberikan kepada
seorang penderita selama dirawat di rumah sakit, baik rawat jalan maupun rawat
inap. Setiap rumah sakit di persyaratkan mengadakan dan memelihara rekam
medik yang memadai dari setiap penderita,, baik untuk penderita rawat tinggal
maupun penderita rawat jalan. Rekam medik harus secara akurat
didokumentasikan, segera tersedia, dapat digunakan, mudah ditelusuri kembali
dan lengkap informasinya (Siregar dan Amalia 2003).
Rekam medik di anggap bersifat informatif bila memuat informasi antara
lain karakteristik atau demografi penderita (identitas, usia, jenis kelamin,
pekerjaan dan sebagainya). Tanggal kunjungan, tanggal rawat atau selesai rawat,
penyakit dan pengobatan sebelumnya. Catatan anamnesis, gejala klinis yang
diobservasi, hasil pemeriksaan penunjang medik (laboratorium, EKG, radiologi
dan sebagainya), pemeriksaan fisik (tekanan darah, denyut nadi, suhu dan
sebagainya). Catatan penatalaksanaan penderita, tindakan terapi obat (nama obat,
regimen dosis), tindakan terapi non obat (Siregar dan Amalia 2003).
Fungsi rekam medik antara lain bermanfaat untuk dokumen bagi penderita
yang memuat riwayat perjalanan penyakit, terapi obat, maupun non obat dan
semua seluk beluknya. Sarana komunikasi antara petugas kesehatan yang terlibat
dalam pelayanan atau perawatan penderita. Sumber informasi untuk kelanjutan
pelayanan atau perawatan yang sering masuk ke rumah sakit yang bersangkutan.
Penyedia data bagi kepentingan hukum dalam kasus-kasus tertentu. Kegunaan
data rekaman medis: digunakan sebagai dasar perencanaan dan berkelanjutan
perawatan penderita, merupakan suatu sarana kominikasi antar dokter dan setiap
tenaga yang berkontribusi pada perawatan penderita, melengkapi bukti dokumen
31

terjadinya atau penyebab kesakitan penderita dan penanganan atau pengobatan


selama tiap tinggal di rumah sakit, digunakan sebagai dasar untuk kaji ulang studi
dan evaluasi perawatan yang diberikan penderita, membantu perlindungan
kepentingan hukum penderita, rumah sakit, dan praktisi yang bertanggung jawab,
menyediakan data untuk digunakan dalam penelitian dan pendidikan, sebagai
dasar perhitungan biaya dengan menggunakan data dalam rekaman medik, bagian
keuangan menetapkan besarnya biaya pengobatan seorang penderita yang
mendapat peawatan pengobatan (Siregar & Amalia 2003).
5. Profil RSUD Dr. Soeroto Kabupaten Ngawi
Sejarah singkat RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi, Badan Layanan
Umum Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soeroto Ngawi merupakan Rumah Sakit
milik Pemerintah kabupaten Ngawi, saat ini masih dalam status tipe C, sesuai
dengan SK KepMenKes RI Nomor HK.02.03/I/1007?2013 tentang Penempatan
Kelas Rumah Sakit. Secara fisik luas lahan yang dimiliki 51.410 m2 dan sampai
akhir tahun 2014 berupa bangunan seluas 18.665,39 m2. Sejarah berdirinya RSUD
dr. Soeroto Ngawi dimulai sejak jaman penjajahan belanda pada tahun 1915
sebagai balai pengobatan, kemudian sekitar tahun 1944 direhabilitasi menjadi
sebuah rumah sakit, nama dr. Soeroto diambil dari nama seorang dokter saat itu
yang dinilai sangat merakyat, namun tegas dalam disiplin maupun menentang
pemerintah Belanda. Pada tahun 2003 secara resmi nama dokter soeroto disahkan
sebagai nama Rumah Sakit Umum saat bersamaan dengan Hari Kesehatan
Nasional, kemudian terhitung mulai tanggal 1 Januari 2011 Rumah Sakit Umum
Daerah dr, Soeroto oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Ngawi Secara resmi
diubah statusnya menjadi sebuah Badan Layanan Umum Daerah dengan status
penuh dengan Surat Keputusan bupati Nomor : 188/11/404.212/2011. Sumber
Daya Manusia (SDM) yang dimiliki RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi
sebanyak 536 orang dengan 365 orang berstatus PNS dan 171 orang berstatus
kontak. Sampai akhir 2014 memiliki kapasitas tempat tidur sebanyak 211.

E. Evaluasi Penggunaan Obat


1. Tepat Obat
32

Ketepatan memilih obat dengan mempertimbangkan: ketepatan kelas


terapi dan jenis obat yang sesuai dengan efek terapi yang diperlukan; manfaat dan
keamanan obat yang sudah terbukti, baik efek samping maupun adanya
kontraindikasi; jenis obat yang paling mudah didapat, sedikit mungkin jumlah
jenis obat yan diapakai (Kemenkes 2011).
2. Tepat Dosis
Dikatakan tepat dosis apabila jumlah obat yang diberikan pada pasien,
dimana dosis berada dalam range dosis terapi yang direkomendasikan serta
disesuaikan dengan usia dan kondisi pasien (Kemenkes 2011).
3. Tepat Rute
Rute pemberian atau cara pemberian obat harus tepat dan sesuai. Misalnya
obat antasida seharusnya dikunyah dahulu baru ditelan. Demikian pula antibiotik
tidak boleh dicampur dengan susu, karena akan membentuk ikatan, sehingga tidak
dapat diabsorbsi dan menurunkan efektivitasnya (Depkes 2008).
4. Tepat Frekuensi
Waktu pemberian obat seharusnya dibuat sederhana agar mudah ditaati
oleh pasien. Makin sering frekuensi pemberian obat per hari (misalnya 4 kali
sehari), semakin rendah tingkat ketaatan minum obat. Obat yang harus diminum 3
kali sehari harus diartikan bahwa obat tersebut harus diminum dengan interval
setiap 8 jam (Depkes 2008).
Resep rasional mewujudkan pengobatan yang rasional. Tujuan evaluasi
penggunaan obat rasional adalah untuk menjamin pasien mendapatkan
pengobatan yang sesuai dengan kebutuhanya, untuk periode yang adekuat dengan
harga terjangkau (Kemenkes 2011).
33

F. Kerangka Pikir Penelitian

Data Rekam Medik pasien gastroenteritis akut yang


masuk dalam kriteria Inklusi

1. Tepat Obat
2. Tepat Dosis
3. Tepat Rute
4. Tepat Frekuensi

Indikator sesuai pedoman Panduan Praktik Klinis (PPK) tata


laksana kasus penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Ngawi,
World Gastroenterology Organisation practice guideline:
Acute diarrhea (2012) dan Panduan Praktik Klinis (PPK)
bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (2014)
di Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi
Tahun 2017.

Sesuai Tidak Sesuai

Evaluasi
Gambar 2. Skema kerangka penelian
G. Landasan Teori
Gastroenteritis Akut yang disebebkan oleh bakteri, pengobatannya
dibutuhkan antibiotik yang cenderung mempercepat penyelesaian klinis diare,
mencegah perkembangan penyakit, dan mengurangi keparahan gejala.
Penggunaan tidak tepat terhadap antibiotik dapat mengakibatkan pengobatan
menjadi kurang efektif, efek samping meningkat, meluasnya resistensi dan
tingginya biaya pengobatan, maka diperlukan penggunaan antibiotik yang rasional
(Depkes 2011).
Gastroenteritis ditandai dengan peradangan saluran gastrointestinal yang
melibatkan lambung dan usus kecil, yang disebabkan oleh bakteri atau virus,
sehingga mengakibatkan diare, muntah dan kram perut. Antibiotika ialah suatu
bahan kimia yang dikeluarkan oleh jasad renik atau hasil sintesis atau semisintetis
yang mempunyai struktur yang sama dan zat ini dapat merintangi atau
memusnahkan jasad renik lainnya (Tan & Rahardja 2007).
Antibiotik merupakan obat yang sangat penting dan dipakai untuk
memberantas berbagai penyakit infeksi, misalnya radang paru-paru, tipus, luka-
luka yang berat dan sebagainya. Pemakaian antibiotik ini harus di bawah
pengawasan seorang dokter, karena obat ini dapat menimbulkan kerja Antibiotik
yang mempunyai kegiatan sempit (narrow spectrum) (Tan & Rahardja 2007).
Penatalaksanaan terapi gastroenteritis akut terdiri dari terapi rehidrasi oral,
probiotik, simtomatik, dan antibiotik. Antibiotik merupakan obat yang paling
banyak digunakan pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotik yang
diberikan untuk terapi gastroenteritis akut yaitu Azitromisin, Ciprofloxacin,
Doxycycline, Pevmecillinam, Ceftriaxon, dan Metronidazole (WGO 2012).
Alasan kenapa penelitian ini dilakukan adalah banyak kasus ketidaktepatan
dalam pengobatan dengan antibiotik, hal ini dapat dilihat dari peneliti terdahulu,
seperti yang di teliti oleh Berdasarkan penelitian Rachmawati (2014) yang
berjudul “Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Gastroenteritis Di Instalasi
Rawat Inap Rumah Sakit X Periode Januari-Juni 2013” menunjukkan bahwa
antibiotik yang paling sering digunakan pada pasien gastroenteritis adalah

34
35

Ceftriaxone (41,07%), Cotrimoxazole (30,36%), Metronidazole (25%),


Cefotaxime (10,71%), Ampicillin (3,57%), Ceftazidime (3,57%), dan
Ciprofloxacin (3,57%). Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik diketahui tepat
indikasi 7,14%, tepat obat 7,14%, dan tepat dosis 84,85%.
Gastroenteritis akut menempati peringkat ke-9 dari data 10 besar penyakit
rawat inap di Rumah Sakit dr. Soeroto Kabupaten Ngawi periode Bulan Januari
sampai Juni 2017 dengan jumlah kasus sebanyak 106 pasien, maka peneliti
merasa perlunya pembahasan lebih lanjut mengenai pengaruh kerasionalan
antibiotik terhadap banyaknya kasus Gastroenteritis Akut yang terjadi. Dengan
menggunakan metode deskriptif, maka hasil dari analisa penggunaan antibiotik
pada pasien gastroenteritis akut dapat diketahui, baik meliputi banyaknya
golongan dan jenis antibiotik yang digunakan, rasionalitas penggunaan antibiotik
meliputi tepat obat, tepat dosis, tepat rute, dan tepat frekuensi di Instalasi Rawat
Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi tahun 2017.

H. Keterangan Empirik
Berdasarkan landasan teori penggunaan antibiotik pada pasien
gastroenteritis akut, maka dapat diambil keterangan empirik sebagai berikut:
1. Jenis antibiotik yang digunakan untuk pengobatan Gastroenteritis Akut di
Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi tahun 2017 adalah
seftriakson, sefotaksim, ciprofloksasin, metronidazole, levofloksasin dan
tetrasiklin.
2. Antibiotik yang paling banyak digunakan pada pasien gastroenteritis akut di
Instalasi Rawat Inap Rumah Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soeroto
Kabupaten Ngawi selama Tahun 2017 adalah golongan sefalosporin generasi
ketiga.
3. Penggunaan antibiotik pada penyakit gastroenteritis akut di RSUD dr. Soeroto
Ngawi dalam bentuk persentase sesuai dengan pedoman terapi Panduan
Praktik Klinis (PPK) tata laksana kasus penyakit dalam RSUD dr. Soeroto
Ngawi, World Gastroenterology Organisation practice guideline: Acute
diarrhea (2012) dan Panduan Praktik Klinis (PPK) bagi Dokter di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Primer (2014) di Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Soeroto
36

Kabupaten Ngawi Tahun 2017 memenuhi keriteria tepat obat, tepat dosis,
tepat rute dan tepat frekuensi.
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi penelitian adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek dan
subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian diambil suatu data lalu ditarik
kesimpulanya (Sugiyono 2014).
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah data rekam medik
pasien rawat inap yang terdiagnosa gastroenteritis akut yang mendapat pelayanan
pengobatan antibiotik di RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi Tahun 2017.
2. Sampel
Sampel penelitian ini yaitu seluruh antibiotik pada data rekam medik yang
digunakan oleh pasien gastroenteritis akut di Instalasi Rawat Inap RSUD dr.
Soeroto Kabupaten Ngawi. Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap
mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo 2010).
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu
populasi target yang terjangkau dan akan diteliti (Nursalam 2003). Yang termasuk
ke dalam kriteria inklusi sebagai sampel pada penelitian ini antara lain adalah :
a. Data rekam medik pasien gastroenteritis akut yang memiliki data seperti
nomor rekam medis, jenis kelamin, usia, berat badan, jenis pasien, nama
antibiotik, rute pemberian, dosis, frekuensi, lama perawatan, hasil
laboratorium dan penunjang.
b. Data rekam medik pasien gastroenteritis akut yang mendapatkan terapi
antibiotik.
c. Data rekam medik pasien gastroenteritis akut yang termasuk peserta JKN
(Jaminan Kesehatan Nasional) seperti BPJS, PBI dan KIS.
37

d. Data rekam medik pasien gastroenteritis akut yang tidak memiliki penyakit
penyerta dan komplikasi.
e. Data rekam medik pasien gastroenteritis akut yang keluar dari rumah sakit
dalam keadaan sembuh.
Kriteria eksklusi adalah kriteria atau ciri-ciri anggota populasi yang tidak
bisa dijadikan sebagai sampel penelitian (Notoatmodjo 2010).
a. Data rekam medik dari pasien yang pulang paksa, meninggal dunia, dirujuk
ke rumah sakit lain.
b. Data rekam medik yang rusak atau tidak lengkap atau tidak terbaca.

B. Variabel Penelitian
1. Klasifikasi Variabel Utama
Variabel bebas pada penelitian ini adalah terapi antibiotika yang diberikan
pada pasien penderita Gastroenteritis akut di instalasi rawat inap RSUD dr.
Soeroto Kabupaten Ngawi tahun 2017.
Variabel tergantung pada penelitian ini adalah kesesuaian penggunaan
antibiotik dengan pedoman terapi Panduan Praktik Klinis (PPK) tata laksana
kasus penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Ngawi, World Gastroenterology
Organisation practice guideline: Acute diarrhea (2012), dan Panduan Praktik
Klinis (PPK) bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (2014)
berdasarkan kriteria tepat obat, tepat dosis tepat rute dan tepat frekuensi.
Variabel kendali pada penelitian ini adalah usia pasien, jenis antibiotika,
dosis antibiotika, rute pemberian antibiotika, dan frekuensi pemberian antibiotik
berdasarkan pedoman terapi Panduan Praktik Klinis (PPK) tata laksana kasus
penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Ngawi, World Gastroenterology Organisation
practice guideline: Acute diarrhea (2012) dan Panduan Praktik Klinis (PPK) bagi
Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (2014).
2. Definisi Operasional Variabel Penelitian
1. Metode deskriptif adalah metode analisis untuk menganalisis data yang
telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat
kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
38

2. Pasien adalah pasien yang menjalani rawat inap di RSUD dr. Soeroto
Kabupaten Ngawi.
3. Tepat rute adalah ketepatan jalur pemberian obat khususnya antibiotik
pada kasus gaetroenteritis akut di RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi.
4. Tepat frekuensi adalah ketepatan jangka waktu pemberian obat untuk
pasien supaya memberikan efek yang maksimal selama pengobatan di
RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi.
5. Tepat dosis adalah ketepatan cara pemberian dan ukuran dosis pada
pengobatan berdasarkan standar terapi di RSUD dr. Soeroto Kabupaten
Ngawi.
6. Tepat obat adalah ketepatan mempertimbangkan kemanjuran, keamanan,
kecocokan bagi pasien gastroenteritis akut sesuai standar terapi di RSUD
dr. Soeroto Kabupaten Ngawi.

C. Alat dan Bahan


1. Alat
Alat yang digunakan berupa lembar pengumpulan data, alat tulis untuk
menulis data secara langsung, pedoman pengobatan (guideline) gastroenteritis
akut seperti pedoman terapi Panduan Praktik Klinis (PPK) tata laksana kasus
penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Ngawi, World Gastroenterology Organisation
practice guideline: Acute diarrhea (2012) dan Panduan Praktik Klinis (PPK) bagi
Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (2014), serta laptop untuk
mengolah data.
2. Bahan
Bahan yang digunakan yaitu data rekam medik pasien yang berisi identitas
pasien (nama, umur, usia, berat badan dan jenis kelamin), dan antibiotik yang
digunakan, rute pemberian, dosis, frekuensi, lama perawatan, hasil lab dan
penunjang. Bahan yang dipergunakan adalah data sekunder dari catatan medis
pasien rawat inap yaitu Medical Record dari Unit Penunjang Rekam Medik
RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi dengan sejumlah sampel pasien
gastroenteritis akut dengan pengobatan antibiotik pada Tahun 2017.
39

D. Jalannya Penelitian
1. Skema jalannya penelitian
Pengajuan Judul Proposal Kepada Dosen Pembimbing
Skripsi Universitas Setia Budi Surakarta

Pengurusan Administrasi

Pengajuan Proposal Pengajuan Ijin

Rumah Sakit Umum Daerah dr.


Soeroto Kabupaten Ngawi

Pelaksanaan Penelitian:
1. Pelacakan nomor kartu rekam medik dengan
diagnosa dan kriteria yang sesuai
2. Pengambilan data dari rekam medik penelitian

Analisis Data

Pembahasan

Kesimpulan

Gambar 3. Jalannya Penelitian


2. Tahap pengambilan data
Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data yang diperoleh
dari rekam medik pasien rawat inap yang didiagnosa Gastroenteritis Akut yang
berisi informasi tentang nomor rekam medik, jenis kelamin, umur pasien, berat
badan, jenis antibiotik, rute, dosis, frekuensi pemberian obat, lama perawatan,
hasil laboratorium dan penunjang. Pengambilan data dilakukan secara manual
dengan cara memeriksa data yang diperoleh dari rekam medik, data yang
diperoleh kemudian dihitung jumlahnya dan dipersentasekan dalam bentuk tabel.
Pengambilan sampel menggunakan metode non probability sampling yaitu
teknik pengambilan sampel dengan tidak memberi peluang atau kesempatan sama
bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sugiyono
2004). Teknik yang digunakan untuk sampel ini adalah purposive Sampling yaitu
pengambilan sampel secara purposive didasarkan pada suatu pertimbangan
tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi
yang sudah diketahui sebelumnya (Notoatmodjo 2010).
3. Tahap pengolahan dan analisis data
Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan
deskriptif, yaitu menggambarkan kesesuaian penggunaan antibiotik dengan
pedoman terapi Panduan Praktik Klinis (PPK) tata laksana kasus penyakit dalam
RSUD dr. Soeroto Ngawi, World Gastroenterology Organisation practice
guideline: Acute diarrhea (2012) dan Panduan Praktik Klinis (PPK) bagi Dokter
di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (2014), Data yang diperoleh
dikelompokan berdasarkan jenis kelamin, usia, waktu, diagnosis, jenis anibiotik,
dosis antibiotik, rute pemberian antibiotik dan frekuensi pemberian antibiotik,
kemudian data yang diperoleh dibuat rekapitulasi dalam sebuah tabel dan
dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui pola penggunaan obat antibiotik
yang meliputi jenis, dosis, rute dan frekuensi pemberian antibiotik pada pasien
Gastroenteritis Akut, setelah itu data dicari persentase berdasarkan kriteria untuk

40
41

menggambarkan pola penggunaan antibiotik pada pasien Gastroenteritis Akut di


instalasi rawat inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi.
4. Waktu dan Tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rekam Medik RSUD dr. Soeroto
Kabupaten Ngawi. Waktu penelitian dilakukan mulai bulan Februari 2018.

E. Analisis Hasil
Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui pola
penggunaan obat antibiotik yang meliputi jenis antibiotik, dosis antibiotik, rute
pemberian antibiotik, frekuensi pemberian antibiotik pada pasien Gastroenteritis
Akut. Kesesuaian pemberian antibiotik berdasarkan pedoman terapi Panduan
Praktik Klinis (PPK) tata laksana kasus penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Ngawi,
World Gastroenterology Organisation practice guideline: Acute diarrhea (2012)
dan Panduan Praktik Klinis (PPK) bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer (2014). Untuk mendapatkan ketepatan penggunaan antibiotik. Hasil
penelitian ini dinyatakan dalam persentase tepat obat, tepat dosis, tepat rute dan
tepat frekuensi.
42

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pengambilan Data
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengambilan data
yang dilakukan secara retrospektif. Proses pengumpulan data dimulai dengan
melakukan penelusuran data rekam medik pasien gastroenteritis akut di instalasi
rawat inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi tahun 2017. Pengambilan data
rekam medik berdasarkan diagnosis gastroenteritis akut didapat populasi kasus
sebanyak 133 pasien, kemudian dari total populasi didapat 74 pasien yang sesuai
dengan kriteria inklusi dan eksklusi sebagai sampel yang digunakan dalam
penelitian ini.
Jumlah sampel yang didapat sedikit hal ini dikarenakan banyak pasien
komplikasi dan pasien yang tidak menerima terapi antibiotik. Terdapat 59 pasien
lainya masuk dalam kriteria eksklusi diantaranya adalah pasien gastroenteritis
akut dengan penyakit penyerta, pasien yang tidak menerima antibiotik, pasien
pulang paksa, pasien yang pindah perawatan ke rumah sakit lain, pasien
meninggal saat menjalani rawat inap dan data rekam medik yang tidak lengkap
atau rusak atau tidak terbaca.
Data yang diambil dari rekam medik pasien rawat inap meliputi pasien
yang menggunakan asuransi kesehatan yang diselenggarakan pemerintah seperti
BPJS, KIS dan PBI, kemudian dari gambaran tersebut dapat dievaluasi
kesesuaianya dengan pedoman terapi Panduan Praktik Klinis (PPK) tata laksana
kasus penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Ngawi, World Gastroenterology
Organisation practice guideline: Acute diarrhea (2012) dan Panduan Praktik
Klinis (PPK) bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (2014). Data
tersebut meliputi nomor rekam medik, jenis kelamin, usia, berat badan, tanggal
masuk dan tanggal keluar pasien (lama perawatan), nama antibiotik, rute
pemberian, dosis, frekuensi pemberian.
43

B. Demografi Pasien
1. Distribusi pasien berdasarkan umur dan jenis kelamin
Data yang digunakan pada penelitian ini adalah rekam medis pasien
dengan diagnosis utama gastroenteritis akut yaitu sebanyak 133 kasus yang masuk
dalam kriteria inklusi. Karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin dan usia
dapat dilihat pada Tabel 10, menunjukkan distribusi jenis kelamin dan usia pada
pasien gastroenteritis akut di instalasi rawat inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten
Ngawi tahun 2017.
Tabel 10. Distribusi jenis kelamin dan usia pasien gastroenteritis akut di Instalasi Rawat
Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi Tahun 2017
Jenis Kelompok Usia (Thn) Total
Persentase
Kelamin 0-5 5-11 12-25 26-45 46-65 >65 Pasien
Laki-laki 12 3 3 3 8 7 36 48,65%
Perempuan 6 1 6 5 12 8 38 51,35%
Total 18 4 9 8 20 15 74 100%
Persentase 24,32% 5,40% 12,16% 10,81% 27,04% 20,27% 100%
Sumber : Data sekunder yang sudah diolah (2018)

Berdasarkan tabel 10, dapat diketahui bahwa pasien terdiagnosis


gastroenteritis akut di Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi
tahun 2017 lebih banyak pasien berjenis kelamin perempuan daripada laki-laki.
Sebanyak 38 kasus (51,35%) adalah berjenis kelamin perempuan dan dengan 36
kasus (48,65%) berjenis kelamin laki-laki.
Menurut Suraatmaja (2007) laki-laki dan perempuan mempunyai faktor
resiko yang sama terhadap penyakitnya gastroenteritis akut. Hal tersebut tidak
selalu terjadi pada setiap rumah sakit, sebab di Kabupaten Ngawi selain dilihat
dari segi umur dan jenis kelamin bisa dilihat dari faktor utama yang berkaitan
dengan perilaku masyarakat, lingkungan dan pelayanan kesehatan.
Menurut Badan Pusat Statistik (2010), Kabupaten Ngawi yang terdiri dari
19 Kecamatan pada sensus penduduk tahun 2010 memiliki total jumlah penduduk
817.765 jiwa, yang terdiri dari 398.567 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan
419.198 jiwa berjenis kelamin perempuan, oleh karena itu jumlah kasus
gastroenteritis akut didominasi oleh pasien perempuan yang berbanding lurus
dengan data jenis kelamin pada jumlah penduduk yang ada.
44

Pada tabel 10 menunjukkan bahwa usia pasien yang paling banyak


terdiagnosa gastroenteritis akut pada usia 46 – 65 tahun, yaitu sebanyak 20 kasus
(27,03%) termasuk dalam masa lansia, terdiri dari masa lansia awal 46 – 55 tahun
dan masa lansia akhir 56 – 65 tahun (Depkes RI 2009).
Pada usia lansia fungsi fisiologis mengalami penurunan akibat proses
degeneratif (penuaan) sehingga penyakit tidak menular banyak muncul pada usia
lanjut. Selain itu masalah degeneratif menurunkan daya tahan tubuh sehingga
rentan terkena infeksi penyakit menular seperti diare, tuberkulosis, pneumonia dan
hepatitis (Kemenkes 2013)
Pada urutan kedua paling banyak pada usia 0 – 5 tahun sebanyak 18 kasus
(24,32%). Menurut Kemenkes (2011), pasien gastroenteritis akut tersebar di
semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada anak balita (1-
4 tahun), karena pada usia tersebut keadaan organ fisiologisnya juga masih belum
terbentuk sempurna jadi mudah terserang infeksi. Sedangkan menurut jenis
kelamin prevalensi laki-laki dan perempuan hampir sama.
2. Distribusi Pasien Berdasarkan Gejala atau Keluhan Pasien
Gastroenteritis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi atau
peradangan pada saluran pencernaan. Hal ini ditandai dengan mual, muntah, diare
dan kram perut. Gejala lain termasuk demam, sakit kepala, darah atau nanah
dalam feses, kehilangan nafsu makan, kembung, lesu dan nyeri tubuh
(Anonim 2010).
Gejala atau keluhan penyakit yang banyak dialami oleh pasien
gastroenteritis akut di Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi
tahun 2017 adalah diare cair berlebih, mual muntah, demam, lemas atau lesu, serta
nyeri perut, sedangkan tidak sedikit terdapat lendir dan darah serta kenaikan
leukosit dan dehidrasi.
Data katakteristik gejala klinik atau keluhan pasien yang dapat digunakan
untuk mendukung dan menarik penyebab infeksi patogen yang dialami oleh
pasien gastroenteritis akut.
45

Tabel 11. Distribusi gejala/keluhan penyakit gastroenteritis akut di Instalasi Rawat Inap
RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi Tahun 2017
Gejala dan Keluhan Jumlah Pasien Persentase (%)
DI 70 94,59%
MM 61 82,43%
L 46 62,16%
LL 33 44,59%
DE 29 39,19%
NP 23 31,08%
L/D 12 16,22%
Sumber : Data sekunder yang sudah diolah (2018)
Keterangan : DI = diare, MM= mual,muntah, DE= demam, LL= lemah lesu, NP= nyeri Perut,
L/D=lendir darah, L=Leukosit

Berdasarkan tabel 11, gejala atau keluhan yang terjadi pada pasien
gastrienteritis akut sebagai berikut gejala atau keluhan diare yang dialami oleh
pasien gastroenteritis berjumlah 70 kasus (94,59%), hal tersebut dikarenakan
keadaan diare timbul pada pasien gastroenteritis akibat gangguan osmotik yang
dialami pasien saat terjadinya infeksi oleh bakteri, respon inflamasi mukosa, dan
gangguan motilitas usus akibat hiperperistaltik pada usus sehingga memberikan
manifestasi diare pada semua pasien dengan diagnosis gastroenteritis.
Gejala atau keluhan muntah berjumlah 61 kasus (82,43%), hal tersebut
terjadi karena muntah dan mual dapat disebabkan oleh dehidrasi yang dialami
oleh pasien, dan iritasi usus atau gastritis karena infeksi yang disebabkan oleh
toksin bakteri. Menurut Monica (2016) muntah merupakan gejala dari
gastroenteritis dengan keterlibatan bagian proksimal intestinal respons dari
inflamasi khususnya dari neurotoksin yang diproduksi oleh agen infeksi sehingga
muntah yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tubuh pasien kehilangan
banyak cairan dan elektrolit dengan garam-garamnya, terutama natrium, kalium,
dan nutrisi sehingga mengakibatkan pasien mengalami lemas ataupun lesu.
Terdapat 46 kasus (62,16%) yang memiliki kadar leukosit di atas normal.
Leukosit paling sedikit 4.000-10.000(10^3/uL). Berfungsi untuk melindungi
tubuh dari infeksi, karena itu, jumlah leukosit tersebut berubah-ubah dari waktu ke
waktu, sesuai dengan jumlah benda asing yang di hadapi dalam batas-batas yang
masih dapat ditoleransi tubuh tanpa menimbulkan gangguan fungsi (Sadikin
2002).
46

Lemah lesu berhubungan dengan terjadinya dehidrasi, muntah dan


berkurangnya nafsu makan sebagai gejala pada kasus gastroenteritis akut. Gejala
lemah lesu berjumlah 33 kasus (44,59%).
Demam adalah keadaan dimana suhu tubuh pasien naik lebih dari 38,5oC.
Gejala demam yang dialami oleh pasien berjumlah 29 kasus (39,19%) hal tersebut
karena secara umum demam berhubungan dengan patogen yang mengadakan
invasi ke dalam sel epitel usus, dan penurunan volume cairan tubuh atau dehidrasi
yang terjadi secara akut juga dapat merangsang hipotalamus dalam meningkatkan
suhu tubuh.
Diagnosis gastroenteritis akut dengan gejala nyeri perut berjumlah 23
kasus (31,08%), nyeri abdomen atau nyeri perut dapat dicetuskan akibat perasaan
mules, sering mual atau muntah dan keinginan untuk melakukan BAB, hal ini
terjadi karena iritasi lokal serabut saraf intestinal akibat respon inflamasi yang
dialami oleh pasien sehingga pasien mengalami manifestasi atau gejala nyeri
perut.
Lendir dan darah sebagai gejala gastroenteritis akut sebanyak 12 kasus
(16,22%). Lendir dan darah menunjukkan terjadinya diare inflamasi. Diare
inflamasi disebabkan invasi bakteri dan sitotoksin di kolon dengan manifestasi
sindroma disentri dengan diare yang disertai lendir dan darah (Ciesla 2003).
3. Distribusi Pasien Berdasarkan Lama Rawat
Lama perawatan atau LOS (Lenght of Stay) adalah lama pasien tinggal di
rumah sakit untuk mendapatkan perawatan untuk penyakit yang diderita sampai
dengan pasien tersebut keluar dari rumah sakit. Lama perawatan pasien dapat
berbeda-beda sesuai dengan karakteristik dan tingkat keparahan penyakit yang
diderita. Penelitian yang dilakukan tentang LOS (lenght Of Stay) ditemukan lama
perawatan di bawah 3 hari (1-2 hari) sampai dengan lebih dari 7 hari. Lama
perawatan dapat menandakan tingkat keseriusan penyakit yang diderita pasien,
semakin lama perawatan maka menunjukan ke parahan yang tinggi pada kondisi
pasien. Gambaran pasien gastroenteritis akut berdasarkan lama rawat inap di
RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi tahun 2017 terdistribusi dalam tabel 12.
47

Tabel 12. Diskripsi lama perawatan pasien gastroenteritis akut di Instalasi Rawat Inap
RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi Tahun 2017
Lama perawatan (hari) Jumlah pasien Persentase (%)
1-3 36 48,65%
4-6 32 43,25%
7-9 4 5,40%
10-12 1 1,35%
13-15 1 1,35%
Total pasien 74 100%
Sumber : Data sekunder yang sudah diolah (2018)
Berdasarkan tabel 12, menunjukkan bahwa lama perawatan terbanyak
adalah 1-3 hari dengan persentase 48,65% dan lama perawatan 4-6 hari dengan
persentase 43,24%. Hal tersebut sesuai dengan WGO yang menyebutkan bahwa
lama perawatan pasien yang terdiagnosa gastroenteritis akut adalah 3-5 hari dan
bersifat mendadak, berlangsung cepat, dan berakhir dalam waktu kurang dari 7
hari. Hal ini disebabkan karena kebanyakan penyebab gastroenteritis akut adalah
infeksi pada usus yang umumnya dapat sembuh dengan sendirinya (self limited)
sehingga masa pemulihannya relatif singkat.

C. Rute Pemberian Antibiotik yang diterima Pasien Gastroenteritis Akut


Rute pemberian antibiotik secara oral seharusnya menjadi pilihan pertama
untuk terapi infeksi. Pada infeksi sedang sampai dengan berat dapat di
pertimbangkan menggunakan antibiotik parenteral
Tabel 13. Rute Pemberian antibiotik pada pasien gastroenteritis akut di Instalasi Rawat
Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi Tahun 2017
NO Rute Pemberian Jumlah peresepan Persentase (%)
1 Oral 28 36,36%
2 Parenteral 49 63,64%
Total 77 100%
Sumber : Data sekunder yang sudah diolah (2018).

Berdasarkan tabel 13, diketahui bahwa rute pemberian antibiotik terbanyak


adalah secara parenteral dengan jumlah sebanyak 49 peresepan (63,64%) dan
jumlah sebanyak 28 peresepan (36,36%) untuk penggunaan secara oral.
Penggunaan obat lebih banyak secara parenteral karena pada umumnya
pasien gastroenteritis akut yang datang ke rumah sakit dalam keadaan darurat
sehingga perlu segera mendapatkan pertolongan maupun terapi yang cepat. Obat-
48

obat parenteral dapat memberikan efek terapi yang cepat, karena obat
didistribusikan secara langsung tanpa melalui proses absorbsi terlebih dahulu,
sedangkan terapi oral biasanya digunakan sebagai terapi pengganti atau apabila
kondisi pasien sudah mulai membaik (Monica 2016).

D. Gambaran Penggunaan Antibiotik


Tabel 14. Antibiotik yang digunakan pada pasien gastroenteritis akut di Instalasi Rawat
Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi Tahun 2017
Jumlah Persentase terhadap jumlah
Jenis antibiotik Golongan antibiotik
peresepan pasien (n=74) (%)
Ceftriaxon Sefalosporin 26 35,13%
Ciprofloxacin Fluoroquinolon 21 28,38%
Cefotaxim Sefalosporin 15 20,27%
Metronidazole Nitroimidazole 9 12,16%
Tetracycline Aminoglikosida 3 4,05%
Levofloxacin Fluoroquinolon 3 4,05%
Jumlah antibiotik 77 100%
Sumber : Data sekunder yang sudah diolah (2018).

Berdasarkan tabel 14, pemberian antibiotik pada pasien gastroenteritis akut


yang paling banyak diresepkan atau diberikan pada pasien gastroenteritis akut di
Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi tahun 2017 adalah
antibiotik golongan Sefalosporin yakni Seftriakson sebanyak 26 peresepan
(35,13%). Seftriakson sangat stabil terhadap hidrolisis beta laktamase yang
menimbulkan resistensi antibiotik, sehingga resistensi lebih rendah. Seftriakson
adalah antibiotik golongan Sefalosporin generasi ketiga yang mempunyai
spektrum lebih luas, khususnya terhadap bakteri Gram negatif dan sangat stabil
terhadap hidrolisis beta laktamase dibandingkan generasi pertama dan kedua, dari
segi biaya Seftriakson masih lebih murah dari golongan Sefalosporin yang lain.
Selain seftriakson golongan sefalosporin generasi ketiga terdapat Sefotaksim yang
berada di urutan ke tiga dengan jumlah 15 peresepan (20,27%). Pemberian
Sefotaksim lebih banyak digunakan karena mempunyai kelebihan dari segi biaya
lebih murah dari Seftriakson. Sefotaksim juga termasuk golongan daftar obat yang
ada dalam Formularium JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).
Urutan kedua antibiotik yang dipakai di RSUD dr. Soeroto Kabupaten
Ngawi tahun 2017 adalah golongan Fluoroquinolon yakni Siprofloksasin yaitu
49

sebanyak 21 peresepan (28,38%). Menurut BPOM (2008), antibiotik


Siprofloksasin aktif terhadap bakteri gram negatif termasuk Salmonella, Shigella,
Neiseria, dan Pseudomonas, juga aktif terhadap bakteri Gram positif. Sebagian
besar bakteri anaerob tidak sensitif teradap antibiotik ini. Sedangkan menurut
WHO (2010) disebutkan bahwa antibiotik golongan Kuinolon jenis Siprofloksasin
sangat sensitive terhadap bakteri Shigella. Selain Siprofloksasin golongan
kuinolon lainnya juga terdapat Levofloksasin sebanyak 3 peresepan (4,05%).
Urutan keempat antimikroba yang paling banyak digunakan di RSUD dr.
Soeroto Kabupaten Ngawi tahun 2017 adalah Metronidazol sebanyak 9 peresepan
(12,16%). Menurut WGO (2012) dan WHO 2010, antibiotik Metronidazol
merupakan antibiotik pilihan utama untuk mengobati Amoebiasis dan Giardiasis.
Metronidazole memiliki mekanisme kerja dengan cara mengganggu sintesis DNA,
rantai transpot elektron dan protein pada organisme yang rentan.
Urutan terakhir antibiotik yang dipakai di RSUD dr. Soeroto Kabupaten
Ngawi tahun 2017 adalah golongan aminoglikosida yakni Tetrasiklin yaitu
sebanyak 3 peresepan (4,05%). Tetrasiklin memiliki cara kerja menghambat atau
menginhibisi sintesis protein pada bakteri dengan cara mengganggu fungsi
subunit 30S ribosom. Tetrasiklin juga termasuk obat yang ada pada Panduan
Praktek klinis (PPK) tata laksana kasus penyakit dalam RSUD dr. Soeroto
Kabupaten Ngawi tahun 2017.

E. Kesesuaian Daftar Antibiotik yang digunakan dengan Daftar Obat


Esensial Nasional (DOEN) dan Formularium Nasional (FORNAS)
Fornas adalah bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Oleh
karena itu, perlu disusun suatu daftar obat yang digunakan sebagai acuan nasional
penggunaan obat dalam pelayanan kesehatan SJSN untuk menjamin aksesibilitas
keterjangkauan dan penggunaan obat secara nasional. Kesesuaian penggunaan
antibiotik yang digunakan untuk pasien gastroenteritis akut di instalasi rawat inap
RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi tahun 2017 dapat dilihat dari pada tabel 15.
Tabel 15, menunjukan bahwa penggunaan antibiotik untuk gastroenteritis
akut di RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi telah sesuai dengan daftar nama obat
50

yang ada di Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan Formularium Nasional
(FORNAS).
Tabel 15. Kesesuaian antibiotik yang digunakan dengan Daftar Obat Esensial Nasional
(DOEN) dan Formularium Nasional (FORNAS)
Jumlah Persentase Kesesuaian DOEN Kesesuaian FORNAS
Nama Antibiotik
Antibiotik n = 74 (%) Sesuai Tidak Sesuai Tidak
Seftriakson 26 35,13%  -  -
Ciprofloksasin 21 28,38%  -  -
Sefotaksim 15 20,27%  -  -
Metronidazole 9 12,16%  -  -
Tetrasiklin 3 4,05%  -  -
Levofloksasin 3 4,05%  -  -
Jumlah Antibiotik 77 100%
Sumber : Data sekunder yang sudah diolah (2018).

Penggunaan antibiotik yang diberikan kepada pasien gastroenteritis akut


yang dilihat di bagian filling pada buku rekam medik tersebut dapat ditarik
kesimpulan bahwa pada tabel 15 penggunaan obat antibiotik seluruhnya telah
masuk dalam daftar nama obat antimikroba jenis obat generik yang ada di Daftar
Obat Esensial Nasional dan Formularium Nasional yang dikaitkan dengan
pembiayaan meliputi pasien peserta JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) yang
seluruhnya masuk dalam kriteria sesuai dengan persentasi (100%) yang ada di
RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi tahun 2017.

F. Evaluasi Penggunaan Obat


Penggunaan obat yang tepat merupakan hal penting untuk meningkatkan
kualitas kesehatan atau kualitas pengobatan pasien. Evaluasi penggunaan obat
antibiotik pada penelitian ini dilakukan dengan membandingkan data penggunaan
obat pada pasien gastroenteritis akut dengan pedoman terapi Panduan Praktik
Klinis (PPK) tata laksana kasus penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Ngawi, World
Gastroenterology Organisation practice guideline: Acute diarrhea (2012) dan
Panduan Praktik Klinis (PPK) bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer (2014). Parameter yang dievaluasi meliputi tepat obat, tepat dosis, tepat
rute, dan tepat frekuensi.
1. Tepat Obat
Tepat obat adalah pemilihan obat yang harus mempunyai efek terapi sesuai
dengan penyakitnya dengan mempertimbangkan kemanjuran, keamanan,
51

kecocokan bagi pasien, serta ada dalam daftar pengobatan yang telah
direkomendasikan, daftar obat yang direkomendasikan disini telah masuk dalam
daftar Formularium Nasional (FORNAS) dan Daftar Obat Esensial Nasional
(DOEN). Kemudian pada panelitian kali ini peneliti menggunakan Guideline yang
digunakan untuk mengevaluasi ketepatan pemberian obat antibiotik bagi pasien
gastroenteritis akut dengan Panduan Praktik Klinis (PPK) tata laksana kasus
penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Ngawi, World Gastroenterology Organisation
practice guideline: Acute diarrhea (2012) dan Panduan Praktik Klinis (PPK) bagi
Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (2014).
Tabel 16. Data evaluasi tepat obat pasien gastroenteritis akut Rawat Inap RSUD dr.
Soeroto Kabupaten Ngawi tahun 2017
Jenis Indikasi Antibiotik Jumlah Antibiotik Pedoman
Hasil
Pemberian bakteri Terapi Kasus Standart Terapi
Antibiotik Shigella Seftriakson 24 Ceftriaxon WGO 2012 +
Tunggal dysentry Siprofloksasin 20 Ciprofloxacin PPK RSUD
Giardiasis & Metronidazole Metronidazole dr. Soeroto
8 Tepat
Amoebiasis 2017 + PPK
Obat
Vibrio Tetrasiklin Tetrasiklin Dokter
Cholera 3 FasYanKes
2014
Shigella Sefotaksim 14 Cefotaxim Katzung
dysentry Levofloksasin Levofloxacin 2010,
FORNAS,
2 DOEN,
FSIPD,
PIONAS
Antibiotik Seftriakson + Tepat
1
Kombinasi Siprofloksasin Obat
Sefotaksim +
1
Levofloksasin
Seftriakson + Tepat
1
Metronidazole Obat
Total kasus 74
Sumber : Data sekunder yang sudah diolah (2018).
52

Berdasarkan hasil data sekunder yang telah diolah menunjukkan bahwa 55


peresepan (74,32%) yang terdiri dari penggunan antibiotik tunggal Seftriakson
golongan sefalosporin generasi tiga sebanyak 24 peresepan, Ciprofloksasin
golongan kuinolon sebanyak 20 peresepan, Metrinidazole golongan
nitroimidazole sebanyak 8 peresepan dan Tetrasiklin golongan aminoglikosida
sebanyak 3 peresepan. Ketepatan obat tersebut karena telah sesuai dengan obat
pilihan utama yang terdapat pada pedoman terapi Panduan Praktik Klinis (PPK)
tata laksana kasus penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Ngawi, World
Gastroenterology Organisation practice guideline: Acute diarrhea (2012) dan
Panduan Praktik Klinis (PPK) bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer (2014).
Pada penelitian ini pemberian Seftriakson sebagai antibiotik yang paling
banyak digunakan pada kasus gastroenteritis akut sudah sesuai dengan acuan
WGO (2012) sehingga dikatakan tepat obat. Seftriakson adalah antibiotik
golongan Sefalosporin generasi ketiga yang mempunyai khasiat bakterisid dan
bekerja dengan menghambat sintesis mukopeptida pada dinding sel bakteri.
memiliki aktivitas spektrum yang lebih luas terhadap organisme Gram positif dan
negatif.
Siprofloksasin dinyatakan tepat obat karena juga sesuai dengan Panduan
Praktik Klinis (PPK) tata laksana kasus penyakit dalam RSUD dr. Soeroto
Kabupaten Ngawi 2017. Antibiotik ini derivatkuinolon yang memiliki mekanisme
kerja untuk menghambat aktivitas DNA girase bakteri, bersifat bakterisida dengan
spektrum luas terhadap bakteri gram positif dan gram negatif.
Obat yang sesuai dengan Panduan Praktik Klinis (PPK) tata laksana kasus
penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi 2017 lainnya adalah
Metronodazole dan Tetrasiklin. Metronidazol adalah salah satu antiprotozoa
berspektrum luas yang efektif untuk melawan banyak protozoa bahkan juga
terhadap bakteri patogen anaerob. Metronidazol yang direkomendasikan untuk
Amoebiasis pada anak sebesar 10 mg/kgBB 3x sehari selama 5 hari dan dewasa
sebesar 750 mg 3x sehari selama 5 hari (atau 10 hari pada kasus berat). Sedangkan
dosis Metronidazol yang direkomendasikan untuk giardiasis pada anak sebesar 5
53

mg/kg 3x sehari selama 5 hari, dan dewasa sebesar 250 mg 3x sehari selama 5
hari (WGO 2012).
Tetrasiklin yang merupakan golongan aminoglikosida adalah antibiotik
bakteriostatik berspektrum luas yang menghambat sintesis protein. Tetrasiklin
bekerja aktif terhadap banyak bakteri Gram positif dan gram negatif, termasuk
bakteri anaerob, riketsia, klamidia, mikoplasma, dan bentuk L, dan terhadap
beberapa protozoa, misalnya amoeba.
Terdapat 16 kasus (21,62%) yang terdiri dari penggunaan Sefotaksim
sebanyak 14 peresepan dan Levofloksasin sebanyak 2 peresepan sesuai dengan
Katzung 2010, Formularium Nasional, Daftar Obat Esensial Nasional,
Formularium Spesialistik Ilmu Penyakit Dalam dan Pusat Informasi Obat
Nasional. Penggunaan Sefotaksim termasuk tepat obat, karena sefotaksim
merupakan golongan sefalosporin generasi ketiga yang memiliki aktivitas sama
dengan Seftriakson yang termasuk obat yang tercantum dalam pedoman terapi
rumah sakit. Levofloksasin juga termasuk tepat obat, karena levofloksasin
merupakan antibiotik golongan Kuinolon yang memiliki aktivitas sama dengan
Ciprofloksasin yang termasuk obat yang tercantum dalam pedoman terapi rumah
sakit.
Terapi antibiotik kombinasi yang digunakan antara lain kombinasi
Seftriakson dengan Metronidazol yaitu sebanyak 1 peresepan pada nomer sampel
21. Seftriakson dan Metronidazole, kombinasi ini memiliki efek yang sinergis
karena Seftriakson akan bekerja merusak dinding sel bakteri dan Metronidazole
masuk ke dalam Amoeba untuk menghambat sintesis asam nukleat. Kombinasi ini
biasanya digunakan untuk profilaksis infeksi bakteri dan non bakteri.
Terapi antibiotik kombinasi lainnya yang digunakan pada nomer sampel 4
antara Seftriakson dengan Siprofloksasin dan nomer sampel 10 antara Sefotaksim
dengan Levofloksasin. Kedua kasus ini merupakan kombinasi antara golongan
Sefalosporin generasi ketiga dengan golongan Fluoroquinolon yang memiliki efek
sinergis karena keduanya termasuk antibiotik bakterisida yang akan meningkatkan
aktivitas antimokribanya.
2. Tepat Dosis
54

Tepat dosis adalah pemberian dosis terapi yang sesuai dengan pasien. Pada
peneitian ini, dosis yang diberikan pada pasien dibandingan dengan berdasarkan
Panduan Praktik Klinis (PPK) tata laksana kasus penyakit dalam RSUD dr.
Soeroto Ngawi, World Gastroenterology Organisation practice guideline: Acute
diarrhea (2012) dan Panduan Praktik Klinis (PPK) bagi Dokter di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Primer (2014).
Tabel 17. Data evaluasi ketepatan dosis pemberian antibiotik pada pasien gastroenteritis
akut di Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi tahun 2017.
Usia BB Dosis
NO Antibiotik Dosis Ket.
(Thn) (Kg) Yang Dianjurkan S TS
1 1, 2 bulan 6,5 Cefotaxim 3x400mg 325mg – 1,3g tiap 6 – 12 jam 
2 3 13 Ceftriaxon 2x350mg 650mg – 1,3g per hari 
3 11 bulan 9 Cefotaxim 3x600mg 450mg – 1,8g tiap 6 – 12 jam 
5 9 35 Ceftriaxon 2x800mg 1,75 – 3,5g per hari  UD
7 2 9 Cefotaxim 3x100mg 450mg – 1,8g tiap 6 – 12 jam  UD
11 6 20 Ceftriaxon 2x500mg 1 – 2g per hari 
13 6 17 Cefotaxim 3x600mg 850mg – 3,4g tiap 6 – 12 jam 
16 1 7 Ceftriaxon 2x200mg /vial 350 – 700mg per hari 
17 2 11,6 Cefotaxim 3x350mg 580mg – 2,32g tiap 6 – 12 jam 
28 5 bulan 6,9 Cefotaxim 3x250mg /vial 345mg – 1,38g tiap 6 – 12 jam 
30 6 18 Ceftriaxon 2x500mg /vial 900mg – 1,8g per hari 
31 3, 11 bulan 21 Cefotaxim 3x500mg /vial 1,05g – 4,2g tiap 6 – 12 jam 
39 11 45 Ceftriaxon 2x1g /vial 2,25 – 4,5g per hari  UD
52 3 10,5 Ceftriaxon 2x300mg /vial 525mg – 1,05g per hari 
55 3 bulan 4,5 Cefotaxim 3x200mg /vial 225 – 900mg tiap 6 – 12 jam 
57 1 9,8 Ceftriaxon 2x250mg 475 – 980mg per hari 
60 1 12,5 Ceftriaxon 2x400mg /vial 625mg – 1,25g per hari 
61 4 17 Cefotaxim 3x600mg /vial 850mg – 3,4g tiap 6 – 12 jam 
62 3,4 bulan 12 Ceftriaxon 2x300mg /vial 600mg – 1,2g per hari 
65 5 18,5 Ceftriaxon 2x500mg 925mg – 1,85g per hari 
69 10 bulan 8,9 Ceftriaxon 2x250mg 425 – 890mg per hari 
70 1 11,2 Cefotaxim 3x400mg 560mg – 2,24g tiap 6 – 12 jam 
71 10 bulan 7,9 Ceftriaxon 2x200mg /vial 390 – 790mg per hari 
Sumber : Data sekunder yang telah diolah (2018).
Keterangan : UD : Under Dose (Dosis terlalu kecil)
OD : Over Dose (Dosis terlalu Besar)

Berdasarkan tabel 17 menunjukkan perhitungan dosis hanya terhadap


pasien gastroenteritis akut dengan usia 12 tahun kebawah yang menurut kategori
umur Depkes RI (2009) termasuk masa kanak-kanak. Usia 12 tahun ke atas tidak
dilakukan perhitungan dosis karena dosis yang diberikan sudah sesuai dengan
dosis yang tercantum pada pedoman terapi (Lampiran 10). Pemberian antibiotik
yang tepat dosis sebanyak 71 resep ( %) dan 3 resep tidak tepat dosis
(3,89%) dengan total 77 (100%) peresepan. Penelitian ini, pemakaian antibiotik
Seftriakson memiliki 2 kasus tidak tepat dosis yang tergolong dosis terlalu kecil
55

dan Sefotaksim sebanyak 1 kasus tidak tepat dosis yang tergolong dosis terlalu
kecil.
Pada sampel nomer 5, dinyatakan Under Dose (dosis terlalu kecil) karena
dosis Seftriakson yang tertera di pedoman terapi WGO 2012 untuk anak 9 tahun
dengan berat badan 35kg yaitu 50 – 100mg/kgBB/hari, didapatkan hasil
perhitungan dosis yang dianjurkan 1,75g – 3,5g per hari. Dosis yang diresepkan
yaitu 2 x 800mg = 1,6g/hari lebih kecil dari dosis terkecil yang dianjurkan
(1,75g/hari). keadaan tersebut kemungkinan disesuaikan dengan kondisi pasien
dan pertimbangan dokter, sehingga pengobatan tersebut dianggap sudah rasional.
Pada sampel nomer 7, dinyatakan juga dosis terlalu kecil karena dosis
Sefotaksim yang tertera di PIONAS dan Katzung 2010 untuk anak yaitu 50 –
200mg/kgBB tiap 6 – 12 jam per hari. Pasien dengan umur 2 tahun ini memiliki
berat badan 9kg, didapatkan perhitungan dosis yang di anjurkan 450mg – 1,8g
tiap 6 - 12 per hari. Dosis yang diresepkan yaitu 3 x 100mg = 300mg/hari lebih
kecil dari dosis terkecil yang dianjurkan (450mg/hari). Keadaan tersebut
kemungkinan disesuaikan dengan kondisi pasien dan pertimbangan dokter,
sehingga pengobatan tersebut dianggap sudah rasional.
Pada sampel nomer 39, dinyatakan juga dosis terlalu kecil karena dosis
Seftriakson yang digunakan untuk anak 11 tahun dengan berat badan 45kg
menggunakan perhitungan dosis anak di bawah 12 tahun yaitu 50 –
100mg/kgBB/hari sesuai dengan pedoman terapi WGO 2012. Didapatkan
perhitungan dosis yang dianjurkan 2,25g – 4,5g per hari. Sedangkan dosis yang
diresepkan 2 x 1g = 2g/hari lebih kecil dari dosis terkecil yang dianjurkan
(2,25g/hari). Keadaan tersebut tidak bisa dinyatakan tidak tepat dosis atau dosis
terlalu kecil, karena yang tertera di dalam WGO 2012 untuk penggunaan dosis
dewasa pasien gastroenteritis akut yaitu 2 – 4g per hari. Perhitungan dosis yang
didapat terlalu kecil mungkin karena berpedoman pada berat badan pasien yang
terlalu besar untuk anak seusianya dan mungkin usia 11 yang hampir 12 tahun
tersebut sudah tidak menggunakan perhitungan dosis yang berdasarkan berat
badan pasien atau dengan memberikan dosis yang dianjurkan untuk dewasa.
56

Pemberian dosis ini kemungkinan disesuaikan dengan kondisi pasien dan


pertimbangan dokter, sehingga pengobatan tersebut dianggap sudah rasional.
Secara garis besar, pemberian antibiotik pada pasien gastroenteritis akut
memiliki dosis terapi yang sudah sesuai dengan Panduan Praktik Klinis (PPK)
tata laksana kasus penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Ngawi, World
Gastroenterology Organisation practice guideline: Acute diarrhea (2012),
Panduan Praktik Klinis (PPK) bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer (2014) Katzung 2010 dan Pusat Informasi Obat Nasional. Hanya saja pada
kasus tertentu pemberian antibiotik yang tidak sesuai dengan acuan, membuat
evaluasi dosis pada pemberian antibiotik menjadi tidak tepat.
Pemberian dosis yang kurang dari dosis standar, dapat menyebabkan tidak
tercapainya efek terapi. Dosis yang tidak tepat menyebabkan kegagalan terapi atau
menimbulkan efek berbahaya. Kesalahan dosis sering terjadi pada pasien anak-
anak, lanjut usia atau pada orang obesitas. Kekurangan atau kelebihan frekuensi
atau dosis keduanya sangat berbahaya. Masalah yang sering terjadi pada
pemberian dosis antibiotik dapat menimbulkan toksisitas dan resistensi.
Pemberian dosis harus diperhitungkan khususnya pada pasien pediatri dilihat pada
belum sepenuhnya perkembangan organ tubuh dan pasien geriatri yang
mengalami penurunan fungsi tubuh (Priyanto 2009).
3. Tepat Rute
Tepat rute adalah obat yang diberikan harus sesuai dengan rute yang
diprogramkan dan dipastikan rute tersebut aman sesuai dengan kondisi pasien.
Selalu melakukan konsultasi kepada yang meresepkan apabila tidak ada petunjuk
rute pemberian obat. Rute pemberian obat dinyatakan tepat 100% sesuai dengan
bentuk sedian lazim antibiotik yang digunakan pada pasien gastroenteritis akut
yang memiliki sediaan oral dan parenteral yang digunakan sesuai dengan kedaan
umum pasien yang telah terdiagnosa gastroenteritis akut.
Menurut Tabel 13, paling banyak digunakan adalah antibiotik yang
diberikan melalui rute parenteral sebanyak 49 peresepan (63,64%). Beberapa
keuntungan pemberian antibiotik secara parenteral, yaitu distribusi obat dalam
tubuh lebih mudah sehingga dalam keadaan kritis absorbsi obat lebih cepat, dapat
57

diberikan apabila penderita dalam keadaan tidak dapat bekerjasama dengan baik
atau tidak sadar, tidak melalui first pass effect dan kadar obat di dalam darah
hasilnya lebih bisa diramalkan.
4. Tepat Frekuensi
Pada penelitian ini ketepatan frekuensi dinyatakan tepat 100%, karena
pemberian obat pada pasien gastroenteritis akut di RSUD dr. Soeroto Kabupaten
Ngawi tahun 2017 menunjukkan adanya penjadwalan yang tertulis secara rinci di
lembar rekam medik pasien. Tepat frekuensi adalah obat yang diberikan harus
sesuai dengan program pemberian, waktu dan jadwal pemberian. Mengetahui
jadwal pemberian obat dalam setiap kali pemberian obat yang diberikan setiap 8
jam atau obat yang diberikan tiga kali dalam satu hari. Sebagai contoh, obat yang
harus diberikan setiap 6 jam harus diberikan sesuai waktunya dalam empat dosis
terbagi, misalnya pukul 12 malam, 6 pagi, 12 siang dan 6 sore.

G. Keterbatasan Penelitian
Terapi antibiotik yang diberikan, hanya beberapa antibiotik saja yang
merupakan drug of choice maupun pilihan alternatif dari Panduan Praktik Klinis
(PPK) tata laksana kasus penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Ngawi, World
Gastroenterology Organisation practice guideline: Acute diarrhea (2012) dan
Panduan Praktik Klinis (PPK) bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer (2014) seperti, Seftriakson, Siprofloksasin, Metronidazole dan Tetrasiklin.
Ada beberapa antibiotik seperti Sefotaksim dan Levofloksasin yang tidak
tercantum di pedoman terapi tersebut, hanya ada di Formularium Nasional (2015),
Formularium Spesialistik Ilmu Penyakit Dalam (2010), Daftar Obat Esensial
Nasional (2017), Pusat Informasi Obat Nasional (2008) dan Katzung (2010).
Kendala yang ada dalam penelitian ini adalah belum adanya pemeriksaan
feses lengkap untuk dilakukan pemeriksaan kultur bakteri yang menginfeksi
pasien gastroenteritis akut. Dengan adanya kultur bakteri dapat dilakukan analisis
lebih spesifik terhadap kesesuaian penggunaan antibiotik yang digunakan untuk
terapi gastroenteritis akut di RSUD dr. Soeroto Kabupaten Ngawi.
58

Kendala yang lain dari penelitian ini karena dilakukan secara deskriptif
yang datanya diambil secara retrospektif. Artinya peneliti mengambil data yang
sudah tersedia. Kelemahan penelitian retrospektif adalah tidak diketahui keadaan
pasien yang sebenarnya. Masalah dalam penelitian data retrospektif adalah ketika
seseorang mengalami masalah dalam pengobatan, misalnya pada peresepan tidak
dapat mengetahui adanya riwayat alergi yang sedang berlangsung, dan apakah
sama kondisi pasien dengan terapi yang diresepkan, atau adakah ketidakpatuhan
cara minum obat.
Kemudian kendala saat melakukan penelitian ini ketika setelah menelusuri
buku rekam medik dimana kendala sulitannya membaca tulisan atau resep yang
ada di buku dan rekam medik tersebut dan tidak lengkapnya data diri pasien
terkait gejala dan hasil laboratorium.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Jenis antibiotik yang digunakan untuk pasien gastroenteritis akut adalah
Seftriakson, Siprofloksasin, Sefotaksim, Metronidazole, Tetrasiklin dan
Levofloksasin.
2. Golongan antibiotik yang paling banyak digunakan adalah Sefalosporin
generasi ketiga yang terdiri dari Seftriakson sebanyak 26 peresepan (33,77%)
dan Sefotaksim sebanyak 15 peresepan (19,48%). Paling banyak kedua
terdapat golongan Fluoroquinolon yang terdiri dari Siprofloksasin sebanyak
21 peresepan (28,38%) dan Levofloksasin sebanyak 3 peresepan (4,05%).
Selanjutnya golongan Nitroimidazole terdapat 9 peresepan (12,16%)
menggunakan antibiotik Metronidazole. Dan terakhir golongan
Aminoglikosida yaitu Tetrasiklin terdapat 3 peresepan (4,05%). Rute
pemberian diberikan secara parenteral dan secara peroral.
3. Antibiotik yang digunakan oleh pasien gastroenteritis akut sudah sesuai
dengan Formularium Nasional (2016) Daftar Obat Esensial Nasional (2017),
Panduan Praktik Klinis (PPK) tata laksana kasus penyakit dalam RSUD dr.
Soeroto Ngawi, World Gastroenterology Organisation practice guideline:
Acute diarrhea (2012) dan Panduan Praktik Klinis (PPK) bagi Dokter di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (2014), didapatkan tepat obat sebanyak
100%, tepat dosis sebanyak 92,21%, tepat rute sebanyak 100%, dan tepat
frekuensi sebanyak 100%.

B. Saran
1. Saran bagi Rumah Sakit.
a. Meningkatkan pelayanan medis kepada pasien penyakit gastroenteritis
akut rawat inap sesuai standar yang telah ditetapkan.

59
60

b. Perlu adanya data laboratorium yang sebagai penunjang pemilihan terapi


antibiotik dan perlu kelengkapan penulisan yang terdapat pada buku
rekam medis.
c. Perlu adanya keterkaitan seputar data di Instalasi Mikrobiologi dilakukan
test feses untuk mengetahui mikroorganisme dan ditulis pada buku
rekaman medik sehingga pada penelitian retrospektif dapat mengetahui
mikroorganisme medik secara langsung melalui dokumen rekaman
medik.
2. Saran bagi peneliti.
a. Penelitian ini dapat dilanjutkan tentang evaluasi penggunaan obat dengan
metode lain misalnya secara prospektif sehingga dapat diketahui keadaan
pasien yang sebenarnya.
b. Peneliti lain dapat mengembangkan penelitian ini dengan guideline yang
terbaru dan lebih banyak parameter evaluasi.
DAFTAR PUSTAKA

AMRIN - Study Group. (2005). Penggunaan Antibiotik di RS Dr Soetomo


Surabaya dan RSUP dr. Kariadi Semarang.

Behman, R.E, Kliegman, R.M & Jenson, H.B. 2004. Nelson Textbook of
Pediatrics. 17th ed. Philadelphia: W.B Saunders.

Beuke, C.C 2011. A Study on the Relationship Between Between Improved Patient
and Compliance With Antibiotic Use. South African Society of Clinical
Pharmacy. [Link]
Diunduh pada 28 November 2017.

[BPOM] Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2008. Pusat Informasi Obat
Nasional, Republik Indonesia, Jakarta

Ciesla WP, Guerrant RL. 2003. Infectious Diarrhea, In : Wilson WR., Drew WL.,
Henry NK., et al editors, Current Diagnosis and Treatment in Infectious
Disease, Lange Meducal Books, New York, 225-68.

[Depkes] Departemen Kesehatan RI, 2004, Keputusan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia Nomor 1197/Menkes/SK/X/2004, tentang Standar
Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, Jakarta.

[Depkes] Departemen Kesehatan RI. 2008. Informatorium Obat Nasional


Indonesia. Jakarta. Hlm 414-416.

[Depkes] Departemen Kesehatan RI. 2008. Modul 1 Materi Pelatihan


Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Memilih Obat bagi Tenaga
Kesehatan, 6-7, Direktoran Bina Penggunaan Obat Rasional, Jakarta.

[Depkes] Departemen Kesehatan RI. 2009. Undang-Undang Kesehatan Republik


Indonesia Nomer 44 Tentang Rumah Sakit, Jakarta.

[Depkes] Departemen Kesehatan RI. 2017. Daftar Obat Esensial Nasional.


Jakarta.

Dipiro et al. 2008. Pharmacotherapy: A Phatophysiologyc Approach Edisi ke 7.


USA: The [Link]-Hill Companies Inc.

Devrajani, B. R., Syed, Z. A. S., Samiullah, S., Shamsuddin, S. & Salman, E.,
2009, Hypocalemia in Acute Gastroenteritis (A Case-Control Study at
Departement of International Medicine), Departmen of Medicine,
Liaquante University of Medical and Health Sciences Jamshoro, Pakistan.

61
62

Dinarello, C. A., Porat, R., 2012. Fever and Hyperthermia. Dalam : Longo, D. L.,
Fauci, A. S., Kasper, D. L., Hauser, S. L., Jameson, J. L., Loscalzo, J.
(eds). 2012. 38 Universitas Sumatera Utara Harrison’s Principles of
Internal Medicinie. 18𝑡𝑡ℎ ed. USA : The Mc Graw-Hill Companies,Inc.

Edwin, cit. Putri. 2006. Inappropriate Antibiotic Use in the Philippines. Phil J
Microbial Infect.

Farthing M, Salam MA, Lindberg G, Dite P, Khalif I, Salazar-Lindo E, et al.


Acute diarrhea in adults and children: A global perspective. World
Gastroenterology Organisation Global Guidelines. J Clin Gastroenterol.
2013; 47(1): 12-20.

Febiana, T. 2012. Kajian rasionalitas penggunaan antibiotik di Bangsal Anak


RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Agustus-Desember 2011. Skripsi.
Program Pendidikan Sarjana Kedokteran, Fakultas Kedokteran,
Universitas Diponegoro, Semarang.

Goodman & Gilman. 2007. Dasar Farmakologi Terapi/ editor, Joel G. Hardman,
Lee E. LImbird ; konsultan editor, Alfred Goodman Gilman ; alih bahasa
Sekolah Farmasi ITB ; editor edisi Bahasa Indonesia, Amalia hanif [et al].
Ed. 10- EGC. Jakarta.

Hadi, S. 2002. Dalam: Gastroenterologi. Edisi 7. Penerbit PT. Alumni halaman


39. Bandung.

Hasler, W. L., 2012. Nausea, Vomiting, and Indigestion. Dalam : Longo, D. L.,
Fauci, A. S., Kasper, D. L., Hauser, S. L., Jameson, J. L., Loscalzo, J.
(eds). 2012. Harrison’s Principles of Internal Medicinie. 18𝑡𝑡ℎ ed. USA :
The Mc Graw-Hill Companies,Inc.

[IDI] Ikatan Dokter Indonesia. 2014. Panduan Praktik Klinis (PPK) bagi Dokter
di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer, edisi revisi Tahun 2014. Ikatan
Dokter Indonesia. Hlm : 113-120. Jakarta.

Katzung, B.G. 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik, Vol 2 Edisi 12. Penerjemah
dan editor: Bagian Farmakologi FK UNAIR. Penerbit Salemba Medika.
Surabaya.

Katzung, G., Betram. 2007. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi X, EGC.
Jakarta.

Katzung, B.G. 2010. Farmakologi Dasar dan Klinik, Edisi 10. Penerjemah dan
editor Bagian Farmakologi FK UNAIR. Penerbit Salemba Medika.
Surabaya
[Kemenkes] Kementrian Kesehatan RI. 2010. Formularium Spesialistik Ilmu
Penyakit Dalam. Hlm : 217-226. Jakarta.
63

[Kemenkes] Kementrian Kesehatan RI. 2011. Buletin Jendela Data dan Informasi
Kesehatan: Situasi diare di Indonesia, Vol. 2. 1,6. Kementrian Kesehatan
RI. Jakarta.

[Kemenkes] Kementrian Kesehatan RI. 2011. Pedoman Umum Penggunaan


antibiotik. 4-5. Kementrian Kesehtan RI. Jakarta.
[Kemenkes] Kementrian Kesehatan RI. 2015. Formularium Nasional. Hlm : 12-
15. Jakarta.
[Kemenkes] Kementrian Kesehatan RI. 2017. Daftar Obat Esensial Nasional.
Hlm : 7-11. Jakarta.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2011, Pedoman Umum Penggunaan


Antibiotik, dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 2406/Menkes/Per/XII/2011, Menteri Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.

Muttaqin, Arif & Sari, Kurmala. 2011. Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi


Asuhan Keperawatan Medikal bedah. Jakarta : Salemba medika.

Mufidah, W.U. 2013. Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Penyakit


Gastroenteritis Pasien Rawat Inap Rumah Sakit “X” Tahun 2013. Skripsi.
Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Nursalam. 2003. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan:


Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta.
Salemba Medika.

Parashar, U. D., Gibson, C. J., Bresse, J. S. & Glass, R. I. 2013. Rotavirus and
Severe Childhood Diarrhea. Emerg. Infect. Dis. 12, 304-306.

Prewitt, E. M., 2005. Fever : Facts, Fiction, Pathophysiology. Critical Care


Nurse. Ohio : Summa Health System.

Pratiwi, Dina Agustin, 2011, Evaluasi Penggunaan Obat pada Anak yang
Menderita Diare Akut di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Daerah
Sukoharjo Tahun 2009 , Skripsi, UMS, Surakarta.

Prayitno A., Juwono, R., 2003, Terapi Antibiotik, dalam Aslam, M., Tan, C.K.,
Prayitno, A., Farmasi Klinis, 321-328, PT Elex Media Komputindo
Gramedia, Jakarta.

Priyanto, 2009, Farmakoterapi dan Terminologi Medis, edisi 2, hal 143-155


Leskonfi, Depok
64

Rachmawati Y. 2014. Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien


Gastroenteritis di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit “X” Periode Januari
– Juni 2013 [Skripsi], Surakarta: Fakultas Farmasi, Universitas
Muhammadiyah Surakarta.

Sadikin, M. 2002. Biokimia Darah. Jakarta : Wydia Medika.

Sugiyono, 2014. Metode Penelitian Bisnis, Bandung : Alfabeta Bandung. Hlm


115-120, 124.

Siregar, J.P.c, Amalia, L. 2003. Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan. EGC
Jakarta.

Suraatmaja S. [Link] Selekta Gastroenterologi Anak, 1-5, 11-12. Sagung


Seto. Jakarta.

Simadibrata M, Daldiyono. 2010. Diare akut. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi
I, Simadibrata M, Setiati S, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Jakarta: Interna Publishing;. p.548-56.

Suharyono. 2008. Diare Akut Klinik dan Laboratorik. 1-3, 6, 18-19, 23. Rineka
Cipta. Jakarta.

Soebagyo, 2008. Diare Akut Klinik. Surakarta : Universitas Sebelas Maret Press.

Shulman ST, Phair JP, Sommers HM. 2001. Dasar Biologi dan Klinis Penyakit
Infeksi. Ed ke-4. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Tan, TH dan Rahardja, K. (2007). Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan


Efek-Efek Sampingnya. Edisi ke VI. Jakarta: PT Elex Media Komputindo:
hal. 193.

[UNSRI]. Universitas Sriwijaya. [Link] Pengajar Departemen Farmakologi


Fakultas Kedokteran. Kumpulan Kuliah Farmakologi, Ed.2: Buku
Kedokteran EGC. Jakarta.

[WGO] World Gastroenterology Organization. 2008. World Gastroenterology


Global Guidelines Practice Guideline: Acute Diarrhea. World
Gastroenterology Orgamization.

[WGO] World Gastroenterology Organization. 2012. World Gastroenterology


Global Guidelines Practice Guideline: Acute Diarrhea in Adults and
Childre. World Gastroenterology Organization.

[WGO] World Gastroenterology Organization uropean. 2014 Alfredo Guarino


(Coordinator),Shai Ashkenazi,Dominique Gendrel, Andrea Lo Vecchio,
Raanan Shamir, andHania Szajewska. European Society for Pediatric
Gastroenterology,Hepatology, and Nutrition/European Society for
65

Pediatric Infectious Diseases Evidence-Based Guidelines for the


Management of Acute Gastroenteritis in Children in Europe: Update 2014.

Widya, 2012. Evaluasi Penggunaan Antibiotik Untuk Penyakit Diare Pada Pasien
Pediatri Rawat Inap Di RSUD “X” Tahun 2011. [skripsi]. Universitas
Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.

Wingate D, Phillips SP, Lewis SJ, et al : Guidelines for adults on self-medication


for the treatment of acute diarrhea, Aliment Pharmacol Ther, 2001:
15;771-82.

[WHO] World Health Organization. 2012. Promoting Rational Use of Medicines


: Core Components. Geneva: World Health Organization.

Zein U, Khalid Huda Sagala, Josia Ginting, 2004. Diare Akut disebabkan
Bakteri. Fakultas Kedokteran Divisi Penyakit Tropik Dan Infeksi Bagian
Ilmu Penyakit Dalam Universitas Sumatra Utara hal 1,10-13.

LAMPIRAN
66

L
A
M
P
I
R
A
N
67

Lampiran 1. Surat ijin pengambilan data


68

Lampiran 2. Kelaikan Etik


69

Lampiran 3. Surat rekomendasi untuk melihat PPK


70

Lampiran 4. Surat rekomendasi selesai penelitian


71

Lampiran 5. Surat keterangan selesai penelitian


72

Lampiran 6. Perhitungan persentase penelitian


 Persentase Jenis Kelamin :

Laki laki :

Perempuan :

 Persentase Menurut Usia

0–5 Tahun :

5 - 11 Tahun :

12 - 25 Tahun :

26 - 45 Tahun :

46 - 65 Tahun :

>65 Tahun :

 Persentase Gejala atau Keluhan

Diare :

Mual Muntah :

Leukosit :

Lemah Lesu :

Demam :

Nyeri Perut :

Lendir Darah :
73

 Persentase Lama Perawatan

log LOS = 1 + 3,3 log (jumlah pasien)


= 1 + 3,3 log (74)
= 7,17 === 7

Selisih LOS =

= 1,86 === 2
LOS 1-3 hari :

LOS 4-6 hari :

LOS 7-9 hari :

LOS 10-12 hari :

LOS 13-15 hari :

 Persentase Rute Pemberian Antibiotik

Oral :

Peroral :

 Persentase Pemberian Antibiotik

1. Seftriakson :

2. Siprofloksasin :

3. Sefotaksim :

4. Metronidazole :

5. Tetrasiklin :

6. Levofloksasin :
74

 Persentase Evaluasi Ketepatan

 Tepat Obat :

 Tepat Dosis :

 Tepat Rute :

 Tepat Frekuensi :
Lampiran 7. Data pasien gastroenteritis akut di instalasi Rawat Inap RSUD dr. Soeroto Ngawi Tahun 2017
Tgl. Tgl. Lama Jenis Usia Berat Jenis Diagnosa Diagnosa Keadaan
No No. RM
Masuk Keluar Dirawat Kelamin (Thn) Badan (Kg) Pasien Utama Lain Keluar RS
1 213461 12/01/17 18/01/17 6 L 1, 2 bulan 6,5 bpjs GEA Dehidrasi sedang Sembuh
2 250634 13/01/17 16/01/17 3 L 3 13 bpjs GEA Dehidrasi sedang Sembuh
3 250763 15/01/17 18/01/17 3 L 11 bulan 9 bpjs GEA Dehidrasi sedang Sembuh
4 247199 17/01/17 21/01/17 4 L 56 - bpjs GEA - Sembuh
5 049100 17/01/17 22/01/17 5 L 9 35 askes GEA Demam Sembuh
6 229433 22/01/17 26/01/17 4 L 79 - pbi GEA Dispepsia Sembuh
7 252386 02/02/17 07/02/17 5 P 2 9 bpjs GEA - Sembuh
8 109848 08/02/17 11/02/17 3 P 17 - bpjs GEA Dehidrasi sedang, vomithing Sembuh
9 252286 01/02/17 14/02/17 13 P 71 - kis GEA Syok sepsis Sembuh
10 241885 08/02/17 14/02/17 6 P 61 - bpjs GEA Dehidrasi sedang, vomithing Sembuh
11 253075 11/02/17 14/02/17 3 L 6 20 bpjs GEA Dehidrasi sedang, vomithing Sembuh
12 247076 11/02/17 19/02/17 8 L 13 - bpjs GEA Demam Sembuh
13 207837 23/02/17 28/02/17 5 L 6 17 bpjs GEA Dehirasi ringan sedang Sembuh
14 188000 26/02/17 04/03/17 9 P 42 - bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang Sembuh
15 260790 10/03/17 13/03/17 3 L 36 - bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang sembuh
16 256122 21/03/17 25/03/17 4 L 1 7 bpjs GEA Obs. Febris, vomithing Sembuh
17 191531 23/03/17 25/03/17 2 P 2 11,6 bpjs GEA - Sembuh
18 257022 29/03/17 03/04/17 5 L 50 - pbi GEA Obs. Vomithing, dehidrasi, Sembuh
hemoroid
19 257686 04/04/17 08/04/17 4 P 73 - bpjs GEA Dehidrasi sedang, vomithing Sembuh
20 258750 18/04/17 20/04/17 2 L 48 - bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang Sembuh
21 258459 12/04/17 22/04/17 10 L 62 - kis GEA Dehidrasi ringan, anemia Sembuh
22 228238 20/04/17 23/04/17 3 L 12 - bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang Sembuh
23 259250 22/04/17 24/04/17 2 P 20 - kis GEA Dispepsia Sembuh
24 239581 25/04/17 29/04/17 4 P 49 - bpjs GEA - Sembuh
25 238436 08/05/17 10/05/17 2 P 50 - bpjs GEA Dehidrasi sedang, hipertensi Sembuh
26 069169 07/05/17 11/05/17 4 P 18 - bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang Sembuh
27 260673 11/05/17 15/05/17 4 P 26 - kis GEA Dehidrasi sedang, vomithing Sembuh
28 247855 11/05/17 16/05/17 5 L 5 bulan 6,9 bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang Sembuh
29 235517 16/05/17 17/05/17 1 L 48 - bpjs GEA Dehidrasi sedang, hepatitis B Sembuh
30 210745 13/05/17 18/05/17 5 L 6 18 bpjs GEA Demam, dehidrasi sedang Sembuh
31 259839 17/05/17 19/05/17 2 L 3, 21 bpjs GEA Dehidrasi sedang, demam Sembuh

75
Tgl. Tgl. Lama Jenis Usia Berat Jenis Diagnosa Diagnosa Keadaan
No No. RM
Masuk Keluar Dirawat Kelamin (Thn) Badan (Kg) Pasien Utama Lain Keluar RS
11 bulan
32 261353 17/05/17 22/05/17 5 L 50 - bpjs GEA Dehidrasi sedang, skizoprenia Sembuh
residual
33 055736 29/05/17 31/05/17 2 P 47 - bpjs GEA Dehidrasi sedang, kolik abdomen Sembuh
34 239912 01/06/17 05/06/17 4 P 53 - kis GEA Dehidrasi ringan sedang, muntah Sembuh
35 262774 06/06/17 08/06/17 2 P 51 - bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang Sembuh
36 262718 07/06/17 09/06/17 2 L 61 - bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang Sembuh
37 075349 20/06/17 21/06/17 1 P 87 - bpjs GEA Penurunan kebutuhan serat Sembuh
38 264329 30/06/17 03/07/17 4 P 51 - bpjs GEA Dehidrasi ringan, dispepsia Sembuh
39 159738 01/07/17 03/07/17 2 P 11 45 bpjs GEA Obs. Febris, dehidrasi ringan Sembuh

40 082814 03/07/17 05/07/17 2 L 43 - bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang Sembuh


41 067403 29/07/17 31/07/17 2 P 76 - bpjs GEA Dispepsia Sembuh
42 267890 17/08/17 20/08/17 3 P 52 - bpjs GEA Dehidrasi sedang, syok Sembuh
hipofolemik
43 269027 02/09/17 06/09/17 4 P 14 - bpjs GEA Dehidrasi, dispepsia, obs febris H- Sembuh
2
44 040559 10/09/17 12/09/17 2 P 28 - bpjs GEA Hemoroid Sembuh
45 089598 19/09/17 20/09/17 2 P 36 - bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang Sembuh
46 074060 21/09/17 24/09/17 3 L 78 - bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang Sembuh
47 270422 22/09/17 25/09/17 3 P 24 - bpjs GEA Dehidrasi, obs febris, dispepsia Sembuh
48 191385 29/09/17 02/10/17 4 P 57 - bpjs GEA Vomithing, diabetes melitus Sembuh
49 218009 02/10/17 04/10/17 2 P 69 - bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang, dysentri Sembuh
50 291041 19/10/17 23/10/17 4 L 85 - bpjs GEA Dehidrasi sedang, Vomithimg Sembuh
51 290787 28/10/17 01/11/17 4 P 22 - bpjs GEA Dispepsia syndrome, dehidrasi Sembuh
52 218880 03/11/17 07/11/17 4 P 3 10,5 bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang, diabetes Sembuh
53 213419 07/11/17 09/11/17 2 P 42 - bpjs GEA Dehidrasi, demam, pusing Sembuh
54 193555 08/11/17 11/11/17 3 P 42 - bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang Sembuh
55 265770 11/11/17 14/11/17 5 L 3 bulan 4,5 bpjs GEA Obs. febris H3, demam Sembuh
56 292931 14/11/17 16/11/17 2 P 56 - bpjs GEA Vertigo, dehidrasi ringan Sembuh
57 293019 16/11/17 20/11/17 4 L 1 9,8 bpjs GEA Obs. Febris, dehidrasi ringan Sembah
58 293553 25/11/17 28/11/17 3 L 67 - bpjs GEA Dehidrasi ringan, kiloc abdomen Sembuh
59 293545 25/11/17 29/11/17 4 P 77 - bpjs GEA Dehidrasi ringan, dispepsia Sembuh
60 293622 27/11/17 29/11/17 2 L 1 12,5 bpjs GEA Demam, dehidrasi ringan Sembuh

76
Tgl. Tgl. Lama Jenis Usia Berat Jenis Diagnosa Diagnosa Keadaan
No No. RM
Masuk Keluar Dirawat Kelamin (Thn) Badan (Kg) Pasien Utama Lain Keluar RS
61 170733 01/12/17 03/12/17 2 L 4 17 bpjs GEA Obs. Febris, vomithing, dehidrasi Sembuh
62 294052 01/12/17 05/12/17 4 P 3, 12 bpjs GEA Demam, obs. Febris H2 Sembuh
4 bulan
63 132961 06/12/17 08/12/17 2 P 51 - bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang Sembuh
64 294428 06/12/17 12/12/17 6 P 87 - bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang, Sembuh
hipokalemia
65 234649 11/12/17 12/12/17 1 P 5 18,5 bpjs GEA Dehidrasi ringan, obs. febris Sembuh
66 187275 07/12/17 13/12/17 7 P 69 - bpjs GEA Obs. Febris, dehidrasi ringan, Sembuh
diabetes
67 085928 11/12/17 13/12/17 2 L 69 - bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang Sembuh
68 215722 07/12/17 15/12/17 9 L 77 - bpjs GEA Dehidrasi ringan, sakit kepala Sembuh
(pusing)
69 294936 13/12/17 15/12/17 2 L 10 bulan 8,9 bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang, demam Sembuh
70 244589 14/12/17 16/12/17 2 P 1 11,2 bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang Sembuh
71 295009 15/12/17 18/12/17 4 L 10 bulan 7,9 bpjs GEA Obs. Febris H-3, demam Sembuh
72 042994 15/12/17 20/12/17 5 L 68 - bpjs GEA Obs. Febris H2, demam, dehidrasi Sembuh
73 044668 24/12/17 28/12/17 4 L 51 - bpjs GEA Dehidrasi ringan, vomithing Sembuh
74 043144 27/12/17 30/12/17 4 P 62 - bpjs GEA Dehidrasi ringan sedang Sembuh

Keterangan :
GEA : Gastroenteritis Akut
L : Laki-laki
P : Perempuan
BPJS : Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
KIS : Kartu Indonesia Sehat
PBI : Penerima Bantuan Iuran

77
Lampiran 8. Data penggunaan antibiotik pasien gastroenteritis akut di instalasi Rawat Inap RSUD dr. Soeroto Ngawi Tahun
2017
No. Rute Evaluasi Ketepatan
No Antibiotik Dosis Frekuensi Subjektif Objektif
RM P.o. Inj. TO TD TR TF
1 213461 Cefotaxim * 400mg /8 jam DI >10x, DE + WBC : 12,0 RBC : 5,95    
Hb : 13,9 HCT : 43,9
PLT : 450 Sh : 38,2
2 250634 Ceftriaxone * 350mg /12 jam DI 2x, MM 3x, berlendir Sh : 36,5 WBC : 9,2    
PLT : 312 RBC : 4,75
Hb : 12,9 HCT : 42,7
3 250763 Cefotaxim * 600mg /8 jam DI 3x, MM 5x, bab coklat WBC : 6,0 Hb : 5,6   
kehitaman, kejang, obs. PLT : 75 RBC : 4,30
Febris H-4 HCT : 47,9 Sh : 36,7
4 247199 Ceftriaxon * 1 vial /12 jam DI 10x, MM +, Nyeri perut WBC : 14,5 RBC : 5,17   
Ciprofloxacin * 500mg /12 jam Hb : 16,2 HCT : 48,3   
PLT : 231 Sh : 37,3
5 049100 Ceftriaxon * 800mg /12 jam DI 3 hari, DE +, pusing WBC : 10,3 RBC : 4,8  X  
Hb : 14,3 HCT : 44,6
PLT : 367 Sh : 39,8
6 229433 Levofloxacin * 500mg /24 jam DI +, LL + WBC : 16,0 RBC : 5,15   
Hb : 14,8 HCT : 44,5
PLT : 297 Sh : 36,6
7 252386 Cefotaxim * 100mg /8 jam DI +, MM +, nyeri perut WBC : 11,6 RBC : 3,64 X  
Hb : 10,0 HCT : 29,4
PLT : 262 Sh : 38,1
8 109848 Metronidazole * 500mg /12 jam DI + >5x, MM > 3x WBC : 11,5 RBC : 4,41    
Hb : 13,2 HCT : 37,7
PLT : 366 Sh : 36,8
9 252286 Ceftriaxon * 1g /1 amp /12 jam DI +, DE +, nyeri perut Sh : 37,2 Hb : 12,3    
WBC : 8,60 RBC : 4,90
HCT : 41,8 PLT : 276
10 241885 Cefotaxim * 1g /1 amp /12 jam LL +, DI +, MM +, WBC : 25,1 RBC : 4,09   
Levofloxacin * 500mg /8 jam dehidrasi ringan sedang Hb : 10,5 HCT : 31,7   
PLT : 473 Sh : 38,9
11 253075 Ceftriaxon * 500mg /12 jam DI 5x, MM +, DE+ Sh : 37,9 Hb : 11,4    

78
WBC : 10,3 RBC : 4,9
No. Rute Evaluasi Ketepatan
No Antibiotik Dosis Frekuensi Subjektif Objektif
RM P.o. Inj. TO TD TR TF
HCT : 48,6 PLT : 288
12 247046 Cefotaxim * 1,5gr /12 jam DI +, DE +, pusing, nyeri Sh : 36,6 Hb : 12,3   
perut WBC : 7,60 RBC : 4,76
HCT : 43,8 PLT : 276
13 207837 Cefotaxim * 600mg /8 jam DI +,LL +, Batuk WBC : 20,5 RBC : 3,90   
Hb : 11,4 HCT : 35,7
PLT : 303 Sh : 36,0
14 188000 Ceftriaxon * 1g / vial /8 jam DI > 5x, MM +, LL +, BAB WBC : 8,4 RBC : 4,35    
cair sudah 4 hari Hb : 12,1 HCT : 37,4
PLT : 130 Sh :38,0
15 260790 Ciprofloxacin * 400mg /12 jam DI 5x, MM 5x, LL + WBC : 13,61 RBC : 5,15    
Hb : 15,9 HCT : 48,0
PLT : 246 Sh : 36,7
16 256122 Ceftriaxon * 200mg /iv /12 jam DI +, MM +, diare 3 hari WBC : 10,36 RBC : 5,21    
Hb : 12,4 HCT : 39,2
PLT : 449 Sh : 37,6
17 191531 Cefotaxim * 350mg /8 jam DI +, DE +, diare ada WBC : 14,11 RBC : 4,64   
ampas, lendir, darah Hb : 13,7 HCT : 41,4
PLT : 373 Sh : 39,0
18 257022 Cefotaxim * 1g / vial /8 jam DI +, MM +, perut kembung WBC : 4,90 RBC : 4,92   
Hb : 16,0 HCT : 46,3
PLT : 263 Sh : 36,0
19 257686 Ciprofloxacin * 500mg /12 jam DI 3x, MM +, LL +, pusing, WBC : 16,36 RBC : 4,10    
nyeri perut Hb : 14,2 HCT : 41,2
PLT : 271 Sh : 36,0
20 258750 Ciprofloxacin * 500mg /12 jam DI 5x, MM + terdapat WBC : 4,84 RBC : 5,59    
bercak darah Hb : 15,7 HCT : 48,8
PLT : 188 Sh : 36,5
21 258459 Ceftriaxon * 1g / vial /12 jam BAB lembek warna hitam WBC : 9,27 RBC : 3,84    
Metronidazole * 500mg /8 jam kecoklatan, batuk + Hb : 9,1 HCT : 28,7    
PLT : 636 Sh : 36,8
22 228238 Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam DI > 6x, ada ampas, sudah 3 WBC : 8,19 RBC : 5,82    
hari Hb : 15,6 HCT : 47,0
PLT : 231 Sh : 36,6
  

79
23 259250 Cefotaxim * 1g /vial /8 jam DI 3x, MM 8x, LL + Sh : 36 Hb : 12,4
No. Rute Evaluasi Ketepatan
No Antibiotik Dosis Frekuensi Subjektif Objektif
RM P.o. Inj. TO TD TR TF
WBC : 10,7 RBC : 4,20
HCT : 43,4 PLT : 218
24 239581 Ciprofloxacin * 200mg /vial /12 jam DI 5x sehari, sudah 4 hari WBC : 5,4 RBC : 4,07    
Hb : 9,6 HCT : 32,1
PLT : 285 Sh : 37,4
25 238436 Ciprofloxacin * 500mg /12 jam DI >10x, MM >4x, LL + WBC : 7,93 RBC : 3,76    
Hb : 11,6 HCT : 33,7
PLT : 431 Sh : 36,5
26 069159 Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam DI + berlendir, MM >4x, WBC : 15,42 RBC : 4,55    
nyeri perut, pusing Hb : 15,2 HCT : 44,5
PLT : 255 Sh : 37,8
27 260673 Tetrasiklin * 500mg /8 jam DI 10x, MM > 3x, LL +, WBC : 7,73 RBC : 5,02    
nafsu makan turun Hb : 16,3 HCT : 47,6
PLT : 284 Sh : 36,8
28 247855 Cefotaxim * 250mg /vial /8 jam DI 5x sehari, berlendir, LL WBC : 14,65 RBC : 4,47   
+, batuk Hb : 14,3 HCT : 42,7
PLT : 561 Sh : 39,2
29 235517 Ciprofloxacin * 200mg /vial /12 jam DI +, 6x sehari, LL +, nafsu WBC : 20,07 RBC : 5,60    
makan turun, MM +, Hb : 18,7 HCT : 54,1
HBsAg + PLT : 245 Sh : 36,5
30 210745 Ceftriaxon * 500mg /vial /12 jam DI +, MM +, DE +, nyeri WBC : 6,35 RBC : 4,01    
perut Hb : 11,7 HCT : 34,7
PLT : 201 Sh : 39,0
31 259839 Cefotaxim * 500mg /vial /8 jam MM +, LL +, nyeri perut, WBC : 15,8 RBC : 5,51   
akral hangat, DE + naik Hb : 12,0 HCT : 37,8
turun PLT : 287 Sh : 37,9
32 261353 Tetrasiklin * 500mg /8 jam DI 2x sehari, MM +, nafsu WBC : 13,32 RBC : 3,95    
makan turun Hb : 11,0 HCT : 30,9
PLT : 235 Sh : 36,9
33 055736 Ciprofloxacin * 200mg /vial /12 jam DI 4x sehari berdarah WBC : 11,50 RBC : 4,53    
berlendir, DE +, LL + Hb : 8,9 HCT : 31,3
PLT : 322 Sh : 38,4
34 239912 Ciprofloxacin * 200mg /vial /12 jam DI + >10x sehari, DE +, WBC : 18,80 RBC : 5,12    
MM >10x sehari Hb : 11,9 HCT : 35,1

80
PLT : 431 Sh : 39,0
No. Rute Evaluasi Ketepatan
No Antibiotik Dosis Frekuensi Subjektif Objektif
RM P.o. Inj. TO TD TR TF
35 262774 Ciprofloxacin * 500mg /12 jam DI 10x sehari, MM +, nyeri WBC : 14,34 RBC : 4,95    
perut, kepala pusing Hb : 15,2 HCT : 45,6
PLT : 426 Sh : 38,8
36 262718 Tetrasiklin syr. * 500mg /C /8 jam DI 7x sehari berlendir ada WBC : 6,69 RBC : 4,80    
darah, MM + Hb : 16,0 HCT : 46,4
PLT : 242 Sh : 36
37 075349 Ciprofloxacin * 500mg /12 jam DI 10x sehari sejak WBC : 13,57 RBC : 4,35    
seminggu Hb : 13,4 HCT : 40,8
PLT : 204 Sh : 36,6
38 264329 Ciprofloxacin * 500mg /8 jam DI >10x sehari, MM +, WBC : 19,51 RBC : 4,73    
nyeri perut bagian atas Hb : 14,1 HCT : 43,8
PLT : 306 Sh : 36,8
39 159738 Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam DI +. DE +, LL + Sh : 38,9 Hb : 13,32  X  
WBC : 9,7 RBC : 4,57
HCT : 42,6 PLT : 257
40 082814 Ciprofloxacin * 500mg /12 jam DI +, MM +, sejak 3 hari, WBC : 12,35 RBC : 6,38    
nyeri perut Hb : 20,2 HCT : 60,7
PLT : 379 Sh : 36
41 067403 Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam DI 10x sehari, warna WBC : 15,78 RBC : 4,12    
kuning, ampas, nyeri perut Hb : 11,8 HCT : 33,7
PLT : 311 Sh : 37
42 267890 Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam DI sehari 12x, MM 4x, WBC : 19,34 RBC : 4,27    
nyeri leher, pusing Hb : 13,3 HCT : 39,3
PLT : 227 Sh : 35,6
43 269027 Cefotaxim * 1g /vial /8 jam DI >5x, nyeri perut, MM + WBC : 5,64 RBC : 4,75   
Hb : 11,4 HCT : 35,7
PLT : 186 Sh : 38
44 040559 Ciprofloxacin * 200mg /vial /12 jam DI +, campur darah, LL +, WBC : 10,83 RBC : 5,00    
nyeri perut Hb : 15,2 HCT : 46,4
PLT : 263 Sh : 36,7
45 089598 Ciprofloxacin * 500mg /12 jam DI + 10x ampas lendir, MM WBC : 12,76 RBC : 4,67    
cair Hb : 13,7 HCT : 42,1
PLT : 361 Sh : 36,0
46 074060 Metronidazole * 500mg /vial /8 jam DI 10x sehari, LL +, nyeri WBC : 12,90 RBC : 4,64    

81
perut Hb : 13,9 HCT : 44,7
No. Rute Evaluasi Ketepatan
No Antibiotik Dosis Frekuensi Subjektif Objektif
RM P.o. Inj. TO TD TR TF
PLT : 223 Sh : 36,5
47 270422 Metronidazole * 500mg /vial /8 jam DI +, MM +, LL +, DE +, WBC : 8,86 RBC: 4,16    
nyeri perut Hb : 12,6 HCT : 38,6
PLT : 200 Sh : 39,8
48 191385 Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam DI 9x, nyeri perut, MM +, WBC : 7,07 RBC : 5,15    
LL + Hb : 15,6 HCT : 48,8
PLT : 193 Sh : 36,8
49 218009 Cirpofloxacin * 500mg /12 jam DI 10x sehari, LL +, MM + WBC : 9,87 RBC : 4,51    
Hb : 13,0 HCT : 40,5
PLT : 301 Sh : 39,0
50 291041 Ciprofloxacin * 200mg /vial /12 jam DI 3 hari, MM 4x, DE WBC : 16,55 RBC : 4,71    
sehari, sesah makan Hb : 14,4 HCT : 44,1
PLT : 188 Sh : 39,0
51 290787 Ciprofloxacin * 500mg /12 jam DI 10x, nyeri ulu hati, MM WBC : 16,4 RBC : 4,96    
+, ma/mi sedikit Hb : 13,4 HCT : 43,1
PLT : 326 Sh : 37,0
52 218880 Ceftriaxon * 300mg /vial /12 jam DI 5x sehari, DE +, MM +, WBC : 16,25 RBC : 3,56    
LL + Hb : 7,6 HCT : 26,2
PLT : 201 Sh : 36,6
53 213419 Ciprofloxacin * 200mg /vial /12 jam DI 6x, MM +, pusing, LL +, WBC : 10,01 RBC : 5,99    
DE + Hb : 17,6 HCT : 54,5
PLT : 219 Sh : 36,0
54 193555 Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam DI 2 hari, LL +, MM +, WBC : 5,73 RBC : 4,60    
pusing Hb : 12,6 HCT : 39,0
PLT : 264 Sh : 36,1
55 265770 Cefotaxim * 200mg /vial /8 jam DE +, DI 3x sehari, LL + WBC : 21,62 RBC : 3,73   
Hb : 10,4 HCT : 32,3
PLT : 520 Sh : 38,9
56 292931 Metronidazole * 500mg /8 jam DE + 3 hari, DI cucian WBC : 6,28 RBC : 5,33    
beras, MM + Hb : 19,9 HCT : 46,9
PLT : 206 Sh : 36,7
57 293019 Ceftriaxon * 250mg /12 jam DI +, DE +, diare 2x encer WBC : 10,24 RBC : 5,17    
Hb : 13,10 HCT : 41,5
PLT : 329 Sh : 39,0
   

82
58 293553 Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam DI 3x sehari, MM +, LL +, WBC : 9,84 RBC : 5,56
No. Rute Evaluasi Ketepatan
No Antibiotik Dosis Frekuensi Subjektif Objektif
RM P.o. Inj. TO TD TR TF
nyeri perut Hb : 16,5 HCT : 51,7
PLT : 324 Sh ; 36,8
59 293545 Metronidazole * 500mg /vial /8 jam DI + berlendir darah, perut WBC : 26,67 RBC : 4,03    
kembung, MM +, LL + Hb : 11,9 HCT : 39,0
PLT : 478 Sh : 36,0
60 293622 Ceftriaxon * 400mg /vial /12 jam DI 3 hari, >6x sehari, MM WBC : 19,40 RBC : 4,97    
+, DE + Hb : 13,3 HCT : 41,5
PLT : 376 Sh : 36,0
61 170733 Cefotaxim * 600mg /vial /8 jam MM +, DE +, nyeri perut WBC : 12,76 RBC : 4,75   
Hb : 13,10 HCT : 40,6
PLT : 274 Sh : 36,7
62 294052 Ceftriaxon * 300mg /vial /12 jam DE +, MM +, pilek, batuk WBC : 10,12 RBC : 3,99    
Hb : 11,4 HCT : 35,7
PLT : 277 Sh : 39,4
63 132961 Metronidazole * 500mg /8 jam DI 10x sehari ada ampas, WBC : 13,15 RBC : 5,32    
MM +, LL + Hb : 15,9 HCT : 48,7
PLT : 245 Sh : 36,0
64 294428 Metronidazole * 500mg /8 jam DI + 3x sehari, ada lendir, WBC : 7,63 RBC : 3,52    
ada darah, MM +, DE + Hb : 10,8 HCT : 34,0
PLT : 173 Sh : 38,0
65 234649 Ceftriaxon * 500mg /12 jam DI 1x sehari, DE H-3, MM WBC : 4,99 RBC : 4,33    
+, nafsu makan menurun Hb : 12,1 HCT : 37,6
PLT : 200 Sh : 38,7
66 187275 Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam DI >10x, MM +, sakit perut, WBC : 12,69 RBC : 4,71    
LL + Hb : 13,3 HCT : 42,4
PLT : 129 Sh : 39,0
67 085928 Levofloxacin * 500mg /24 jam DI 5x sehari, LL +, MM +, WBC : 6,44 RBC : 5,29   
sesak Hb : 16,10 HCT : 50,0
PLT : 118 Sh : 36,0
68 215722 Ciprofloxacin * 500mg /12 jam DI +, sakit kepala (pusing), WBC : 13,36 RBC : 3,02    
LL +, DE + Hb : 8,2 HCT : 49,7
PLT : 296 Sh : 38,2
69 294936 Ceftriaxon * 250mg /12 jam DE H6, DI >4x, MM +, LL WBC : 9,76 RBC : 4,98    
+ Hb : 11,5 HCT : 36,3

83
PLT : 310 Sh : 36,4
No. Rute Evaluasi Ketepatan
No Antibiotik Dosis Frekuensi Subjektif Objektif
RM P.o. Inj. TO TD TR TF
70 244589 Cefotaxim * 400mg /8 jam DI >5x sehari tanpa ampas, WBC : 11,26 RBC : 5,15   
MM 3x, DE + Hb : 13,6 HCT : 42,8
PLT : 339 Sh : 36,8
71 295009 Ceftriaxon * 200mg /vial /12 jam DI >10x ada ampas, DE + 3 WBC : 8,90 RBC : 4,32    
hari Hb : 13,8 HCT : 37,8
PLT : 579 Sh : 38,0
72 042994 Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam DI + sering, DE +, LL +, WBC : 21,26 RBC : 3,99    
panas dingin Hb : 13,6 HCT : 41,9
PLT : 260 Sh : 39,7
73 044668 Metronidazole * 500mg /8 jam DI +, LL +, MM, diare ada WBC : 11,71 RBC : 6,16    
ampas Hb : 16,8 HCT : 54,3
PLT : 338 Sh : 36,0
74 043144 Ciprofloxacin * 200mg /vial /12 jam DI > 15x sehari, LL +, maag WBC : 17,98 RBC : 4,80    
(gangguan pencernaan Hb : 14,3 HCT : 44,2
PLT : 309 Sh : 37,0

Keterangan :
DI : Diare TO : Tepat Obat WBC : Leukosit 4,00-10,00 (10^3/uL) Hb : Hemoglobin 11,0-16,0 (g/dL)
DE : Demam TD : Tepat Dosis RBC : Eritrosit 3,50-5,50 (10^6/uL) Sh : Suhu tubuh 36,1-37,2 (oC)
MM : Mual muntah TR : Tepat Rute HCT : Hematokrit 37,0-54,0 (%)
LL : Lemah lesu TF : Tepat Frekuensi PLT : Trombosit 100-300 (10^3/uL)

84
Lampiran 9. Data Perhitungan Dosis Pasien Gastroenteristik Akut RSUD dr. Soeroto Ngawi Tahun 2017
Usia BB Rute Acuan Dosis
NO No. RM Antibiotik Dosis Frekuensi Ket.
(Thn) (Kg) O P Guideline Yang Dianjurkan S TS
1 213461 1, 2 6,5 Cefotaxim * 400mg /8 jam PIONAS + FSIPD #) 325mg – 1,3g tiap 6 – 12 jam 
bulan + Katzung 2010
2 250634 3 13 Ceftriaxon * 350mg /12 jam WGO 2012 #) 650mg – 1,3g per hari 
3 250763 11 9 Cefotaxim * 600mg /8 jam PIONAS + FSIPD #) 450mg – 1,8g tiap 6 – 12 jam 
bulan + Katzung 2010
4 247199 56 - Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam WGO 2012 2 - 4g per hari 
Ciprofloxacin * 500mg /12 jam PPK RSUD 500mg tiap 12 jam 
5 049100 9 35 Ceftriaxon * 800mg /12 jam WGO 2012 #) 1,75 – 3,5g per hari  UD
6 229433 79 - Levofloxacin * 500mg /24 jam PIONAS + FSIPD 250 – 750mg per hari 
7 252386 2 9 Cefotaxim * 100mg /8 jam PIONAS + FSIPD #) 450mg – 1,8g tiap 6 – 12 jam  UD
+ Katzung 2010
8 109848 17 - Metronidazole * 500mg /12 jam PPK RSUD 500mg tiap 6 - 12 jam 
9 252286 71 - Ceftriaxon * 1g /1 amp /12 jam WGO 2012 2 – 4g per hari 
10 241885 61 - Cefotaxim * 1g /1 amp /12 jam PIONAS + FSIPD 2 – 12g per hari tiap 4 – 12 jam 
Levofloxacin * 500mg /8 jam + Katzung 2010 250 – 750mg per hari 
11 253075 6 20 Ceftriaxon * 500mg /12 jam WGO 2012 #) 1 – 2g per hari 
12 247076 13 - Cefotaxim * 1,5gr /12 jam PIONAS + FSIPD 2 – 12g per hari tiap 4 – 12 jam 
+ Katzung 2010
13 207837 6 17 Cefotaxim * 600mg /8 jam PIONAS + FSIPD #) 850mg – 3,4g tiap 6 – 12 jam 
+ Katzung 2010
14 188000 42 - Ceftriaxon * 1g / vial /8 jam WGO 2012 2 – 4g per hari 
15 260790 36 - Ciprofloxacin * 400mg /12 jam PPK RSUD i.v. 200 - 400mg tiap 12 jam 
16 256122 1 7 Ceftriaxon * 200mg /iv /12 jam WGO 2012 #) 350 – 700mg per hari 
17 191531 2 11,6 Cefotaxim * 350mg /8 jam PIONAS + FSIPD #) 580mg – 2,32g tiap 6 – 12 jam 
+ Katzung 2010
18 257022 50 - Cefotaxim * 1g / vial /8 jam PIONAS + FSIPD 2 – 12g per hari tiap 4 – 12 jam 
+ Katzung 2010
19 257686 73 - Ciprofloxacin * 500mg /12 jam PPK RSUD 500mg tiap 12 jam 
20 258750 48 - Ciprofloxacin * 500mg /12 jam PPK RSUD 500mg tiap 12 jam 
21 258459 62 - Ceftriaxon * 1g / vial /12 jam WGO 2012 2 - 4g per hari 
Metronidazole * 500mg /8 jam PPK RSUD 500mg tiap 6 - 12 jam 
2 – 4g per hari 

85
22 228238 12 - Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam WGO 2012
Usia BB Rute Acuan Dosis
NO No. RM Antibiotik Dosis Frekuensi Ket.
(Thn) (Kg) O P Guideline Yang Dianjurkan S TS
23 259250 20 - Cefotaxim * 1g /vial /8 jam PIONAS + FSIPD 2 – 12g per hari tiap 4 – 12 jam 
+ Katzung 2010
24 239581 49 - Ciprofloxacin * 200mg /12 jam PPK RSUD i.v. 200 - 400mg tiap 12 jam 
/vial
25 238436 50 - Ciprofloxacin * 500mg /12 jam PPK RSUD 500mg tiap 12 jam 
26 069169 18 - Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam WGO 2012 2 - 4g per hari 
27 260673 26 - Tetrasiklin * 500mg /8 jam PPK RSUD 500mg tiap 6 - 12 jam 
28 247855 5 bulan 6,9 Cefotaxim * 250mg /8 jam PIONAS + FSIPD #) 345mg – 1,38g tiap 6 – 12 jam 
/vial + Katzung 2010
29 235517 48 - Ciprofloxacin * 200mg /12 jam PPK RSUD i.v. 200 - 400mg tiap 12 jam 
/vial
30 210745 6 18 Ceftriaxon * 500mg /12 jam WGO 2012 #) 900mg – 1,8g per hari 
/vial
31 259839 3, 21 Cefotaxim * 500mg /8 jam PIONAS + FSIPD #) 1,05g – 4,2g tiap 6 – 12 jam 
11 /vial + Katzung 2010
bulan
32 261353 50 - Tetrasiklin * 500mg /8 jam PPK RSUD 500mg tiap 6 - 12 jam 
33 055736 47 - Ciprofloxacin * 200mg /12 jam PPK RSUD i.v. 200 - 400mg tiap 12 jam 
/vial
34 239912 53 - Ciprofloxacin * 200mg /12 jam PPK RSUD i.v. 200 - 400mg tiap 12 jam 
/vial
35 262774 51 - Ciprofloxacin * 500mg /12 jam PPK RSUD 500mg tiap 12 jam 
36 262718 61 - Tetrasiklin syr. * 500mg /C /8 jam PPK RSUD 500mg tiap 6 - 12 jam 
37 075349 87 - Ciprofloxacin * 500mg /12 jam PPK RSUD 500mg tiap 12 jam 
38 264329 51 - Ciprofloxacin * 500mg /8 jam PPK RSUD 500mg tiap 12 jam 
39 159738 11 45 Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam WGO 2012 #) 2,25 – 4,5g per hari  UD

40 082814 43 - Ciprofloxacin * 500mg /12 jam PPK RSUD 500mg tiap 12 jam 
41 067403 76 - Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam WGO 2012 2 - 4g per hari 
42 267890 52 - Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam WGO 2012 2 - 4g per hari 
43 269027 14 - Cefotaxim * 1g /vial /8 jam PIONAS + FSIPD 2 – 12g per hari tiap 4 – 12 jam 
+ Katzung 2010
44 040559 28 - Ciprofloxacin * 200mg /12 jam PPK RSUD i.v. 200 - 400mg tiap 12 jam 
/vial

86
45 089598 36 - Ciprofloxacin * 500mg /12 jam PPK RSUD 500mg tiap 12 jam 
Usia BB Rute Acuan Dosis
NO No. RM Antibiotik Dosis Frekuensi Ket.
(Thn) (Kg) O P Guideline Yang Dianjurkan S TS
46 074060 78 - Metronidazole * 500mg /8 jam PPK RSUD 500mg tiap 6 - 12 jam 
/vial
47 270422 24 - Metronidazole * 500mg /8 jam PPK RSUD 500mg tiap 6 - 12 jam 
/vial
48 191385 57 - Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam WGO 2012 2 - 4g per hari 
49 218009 69 - Ciprofloxacin * 500mg /12 jam PPK RSUD 500mg tiap 12 jam 
50 291041 85 - Ciprofloxacin * 200mg /12 jam PPK RSUD i.v. 200 - 400mg tiap 12 jam 
/vial
51 290787 22 - Ciprofloxacin * 500mg /12 jam PPK RSUD 500mg tiap 12 jam 
52 218880 3 10,5 Ceftriaxon * 300mg /12 jam WGO 2012 #) 525mg – 1,05g per hari 
/vial
53 213419 42 - Ciprofloxacin * 200mg /12 jam PPK RSUD i.v. 200 - 400mg tiap 12 jam 
/vial
54 193555 42 - Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam WGO 2012 2 - 4g per hari 
55 265770 3 bulan 4,5 Cefotaxim * 200mg /8 jam PIONAS + FSIPD #) 225 – 900mg tiap 6 – 12 jam 
/vial + Katzung 2010
56 292931 56 - Metronidazole * 500mg /8 jam PPK RSUD 500mg tiap 6 - 12 jam 
57 293019 1 9,8 Ceftriaxon * 250mg /12 jam WGO 2012 #) 475 – 980mg per hari 
58 293553 67 - Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam WGO 2012 2 - 4g per hari 
59 293545 77 - Metronidazole * 500mg /8 jam PPK RSUD 500mg tiap 6 - 12 jam 
/vial
60 293622 1 12,5 Ceftriaxon * 400mg /12 jam WGO 2012 #) 625mg – 1,25g per hari 
/vial
61 170733 4 17 Cefotaxim * 600mg /8 jam PIONAS + FSIPD #) 850mg – 3,4g tiap 6 – 12 jam 
/vial + Katzung 2010
62 294052 3, 12 Ceftriaxon * 300mg /12 jam WGO 2012 #) 600mg – 1,2g per hari 
4 bulan /vial
63 132961 51 - Metronidazole * 500mg /8 jam PPK RSUD 500mg tiap 6 - 12 jam 
64 294428 87 - Metronidazole * 500mg /8 jam PPK RSUD 500mg tiap 6 - 12 jam 
65 234649 5 18,5 Ceftriaxon * 500mg /12 jam WGO 2012 #) 925mg – 1,85g per hari 
66 187275 69 - Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam WGO 2012 2 - 4g per hari 
67 085928 69 - Levofloxacin * 500mg /24 jam PIONAS + FSIPD 250 – 750mg per hari 
68 215722 77 - Ciprofloxacin * 500mg /12 jam PPK RSUD 500mg tiap12 jam 
69 294936 10 8,9 Ceftriaxon * 250mg /12 jam WGO2012 #) 425 – 890mg per hari 

87
bulan
Usia BB Rute Acuan Dosis
NO No. RM Antibiotik Dosis Frekuensi Ket.
(Thn) (Kg) O P Guideline Yang Dianjurkan S TS
70 244589 1 11,2 Cefotaxim * 400mg /8 jam PIONAS + FSIPD #) 560mg – 2,24g tiap 6 – 12 jam 
+ Katzung 2010
71 295009 10 7,9 Ceftriaxon * 200mg /12 jam WGO 2012 #) 390 – 790mg per hari 
bulan /vial
72 042994 68 - Ceftriaxon * 1g /vial /12 jam WGO 2012 2 - 4g per hari 
73 044668 51 - Metronidazole * 500mg /8 jam PPK RSUD 500mg tiap 6 - 12 jam 
74 043144 62 - Ciprofloxacin * 200mg /12 jam PPK RSUD i.v. 200 - 400mg per 12 jam 
/vial

Keterangan :
S : Sesuai O : Rute Oral
TS : tidak sesuai P : Rute Parenteral
UD : Under dose (Dosis terlalu kecil) BB : Berat badan pasien
OD : Over dose (Dosis terlalu besar)

88
89

Anda mungkin juga menyukai