0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
56 tayangan118 halaman

Rancangan Pengupasan Tanah Penutup P1B5

Skripsi ini membahas rancangan teknis pengupasan lapisan tanah penutup pada tambang batubara Pit 1 Blok 5 milik PT. Dewa Ruci Mandiri. Tujuannya adalah menghitung volume tanah penutup, merancang desain tambang dan jalan angkut, menghitung kebutuhan alat, serta membuat jadwal produksi. Metode litelatur dan observasi digunakan. Hasilnya adalah volume tanah penutup 275.900 BCM, desain 10 m tinggi dan 5 m lebar

Diunggah oleh

robby simanjuntak
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
56 tayangan118 halaman

Rancangan Pengupasan Tanah Penutup P1B5

Skripsi ini membahas rancangan teknis pengupasan lapisan tanah penutup pada tambang batubara Pit 1 Blok 5 milik PT. Dewa Ruci Mandiri. Tujuannya adalah menghitung volume tanah penutup, merancang desain tambang dan jalan angkut, menghitung kebutuhan alat, serta membuat jadwal produksi. Metode litelatur dan observasi digunakan. Hasilnya adalah volume tanah penutup 275.900 BCM, desain 10 m tinggi dan 5 m lebar

Diunggah oleh

robby simanjuntak
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RANCANGAN TEKNIS PENGUPASAN LAPISAN TANAH

PENUTUP TAMBANG BATUBARA PIT 1 BLOK 5


[Link] RUCI MANDIRI, TANJUNGPALAS
UTARA, KABUPATEN BULUNGAN,
PROVINSI KALIMANTAN UTARA

SKRIPSI

Oleh :
ROBBY TAKESHI SIMANJUNTAK
112150025

PROGRAM STUDI SARJANA TEKNIK PERTAMBANGAN


JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2020

i
RANCANGAN TEKNIS PENGUPASAN LAPISAN TANAH
PENUTUP TAMBANG BATUBARA PIT 1 BLOK 5
[Link] RUCI MANDIRI, TANJUNGPALAS
UTARA, KABUPATEN BULUNGAN,
PROVINSI KALIMANTAN UTARA

SKRIPSI
Disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik
Dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

Oleh :

ROBBY TAKESHI SIMANJUNTAK


112150025

PROGRAM STUDI SARJANA TEKNIK PERTAMBANGAN


JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2020

ii
RINGKASAN

Penelitian ini dilakukan pada Pit 1 Blok 5 (P1B5), PT. Dewa Ruci Mandiri
([Link]). PT. DRM belum memiliki data jumlah volume tanah penutup yang
ada pada area P1B5, maka perlu dilakukan permodelan cadangan untuk
menghitung jumlah volume tanah penutup yang harus dikupas dengan batasan
stripping ratio 6. Kemudian untuk melakukan kegiatan pengupasan lapisan tanah
penutup pada P1B5 dibutuhkan perencanaan yang sesuai dengan kondisi lokasi
P1B5. Perencanaan yang dimaksud pada penelitian ini berupa desain pengupasan
lapisan tanah penutup pada P1B5, perhitungan kebutuhan alat muat dan angkut
untuk mendukung kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup, penjadwalan
produksi lapisan tanah penutup, dan peta rencana kemajuan pengupasan lapisan
tanah penutup pada P1B5.
Tujuan penelitian ini adalah menghitung jumlah volume tanah penutup
pada P1B5, merancang desain pit dan dimensi jalan angkut yang sesuai dengan
kondisi lokasi P1B5, menghitung kebutuhan alat muat dan angkut pada P1B5 dan
membuat penjadwalan produksi lapisan tanah penutup pada P1B5.
Metodologi penelitian meliputi studi Pustaka untuk mencari referensi
pustaka yang mendukung secara langsung dan berkaitan dengan rancangan teknis
penambangan. Untuk menentukan batasan masalah pada penelitian, dilakukan
observasi dilapangan. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini berupa data
primer dan data sekunder. Data primer berupa peta topografi dan cycle time alat
yang digunakan. Data sekunder berupa peta geologi regional, peta kemajuan
tambang akhir P1B4, stratigrafi regional Tarakan dan sebatik, data hasil pemboran
P1B5, data curah hujan, dan data target produksi bulanan pada PT. DRM. Data
yang terkumpul kemudian diolah untuk membuat suatu rancangan teknis
pengupasan lapisan tanah penutup.
Hasil penelitian meliputi volume tanah penutup yang harus dibongkar
pada P1B5 sebesar 275.900 BCM. Geometri jenjang yang digunakan adalah tinggi
jenjang 10 m dan lebar jenjang 5 m dengan kemiringan 65 0. Alat muat yang
digunakan adalah Excavator Backhoe Komatsu PC-400 sebanyak 3 unit dan alat
angkut Nissan CWB450HD sebanyak 15 unit. Penjadwalan produksi terhambat
oleh berkurangnya jam kerja karena adanya bulan puasa, maka diperlukan jam
kerja tambahan berupa lembur untuk memenuhi target produksi bulanan. Pada
periode satu untuk jam kerja normal didapatkan 112.471 BCM dan dari jam
lembur didapatkan tambahan produksi overburden sebesar 46.353 BCM.
Kemudian pada periode dua sisa volume lapisan tanah penutup yang harus
dibongkar adalah 114.604 BCM, dan hasil penjadwalan produksi didapatkan
87.501 BCM pada jam kerja normal dan tambahan 35.327 BCM dari jam
lembur.

iii
ABSTRACT

The research had done at Pit 1 Block 5 (P1B5), PT. Dewa Ruci Mandiri
( [Link]). PT. DRM does not have data on the amount of overburden volume in
the P1B5 area, it is necessary to make reserve model to calculate the amount of
overburden volume that must be strip with a stripping ratio 6. overburden removal
activity on P1B5 need plan that suit with the conditions of P1B5 location. The
planning referred to in this study is in the form of overburden stripping design in
P1B5, calculation of loading and hauling equipment needs to support overburden
stripping activities, scheduling of overburden production, and maps of overburden
stripping progress in P1B5.
The purpose of this study is to calculate the amount of overburden volume
in P1B5, make pit designs and haul road dimensions that suit with P1B5 site
conditions, calculate load and hauling equipment requirements in P1B5 and make
scheduling of overburden production in P1B5.
Research methodologies include Literature study to find references that
support directly and relate to the mining technical design. To determine the limits
of the problem in research, field observations were made. The data needed in this
study are primary data and secondary data. Primary data are topographic maps and
cycle time of the loading and hauling equipment. Secondary data are regional
geological maps, P1B4 mine out map, Tarakan and Sebatik regional stratigraphy,
P1B5 drilling results data, rainfall data, and monthly production target data at PT.
DRM. The collected data is then processed to create a plan of overburden
removal.
The results of the study are the volume of overburden that must be
dismantled at 275,900 BCM. Level geometry used is a height of 10 m and a width
of 5 m with a slope of 65o. The equipment used is the Komatsu PC-400 Backhoe
Excavator of 3 units and the Nissan CWB450HD of 15 units. Production
scheduling is hampered by reduced working hours due to the fasting month,
additional work hours in the form of overtime are needed to meet monthly
production targets. In the first period for normal working hours obtained 112,471
BCM and from overtime hours obtained an additional overburden production of
46,353 BCM. Then in the period of two remaining volumes of overburden that
must be dismantled is 114,604 BCM, and the results of production scheduling
obtained 87,501 BCM during normal working hours and an additional 35,327
BCM from overtime hours

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga
Penyusunan Skripsi dengan judul “Rancangan Teknis Pengupasan Lapisan Tanah
Penutup pada Tambang Batubara Pit 1 Blok 5 [Link] Ruci Mandiri,Provinsi
Kalimantan Utara,Kabupaten Bulungan,Tanjung Palas Utara”, dapat diselesaikan.
Tujuan penulisan ini untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Sarjana di
Program Studi S-1 Teknik Pertambangan, Universitas Pembangunan Nasional
“Veteran” Yogyakarta
Skripsi ini disusun berdasarkan penelitian yang dilakukan di lokasi
tambang [Link] Ruci Mandiri,Provinsi Kalimantan Utara,Kabupaten
Bulungan,Tanjung Palas Utara pada 19 Maret 2019 sampai dengan bulan 8 Mei
2019.
Atas selesainya penyusunan skripsi ini, diucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak Dr. Mohamad Irhas Effendi, M. S., Rektor Universitas Pembangunan
Nasional “Veteran” Yogyakarta.
2. Bapak Dr. Ir. Sutarto Hartosuwarno, M.T., Dekan Fakultas Teknologi Mineral.
3. Bapak Dr. Ir. Eddy Winarno, [Link], MT., Ketua Jurusan Teknik
Pertambangan.
4. Ibu Ir. Wawong Dwi Ratminah, M.T., Koordinator Program Studi Sarjana
Teknik Pertambangan
5. Bapak [Link] Sulistyana Bargawa, M.T., Dosen Pembimbing I.
6. Ibu [Link] Ernawati, ST, [Link], Dosen Pembimbing II.
7. Seluruh Staff dan Karyawan PT. Dewa Ruci Mandiri.
8. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini
Harapan Penulis, semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca dan
perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang pertambangan.

Yogyakarta, April 2020 Penulis,

v
Robby Takeshi Simanjuntak

vi
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ..................................................................................... vi
DAFTAR ISI..................................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR........................................................................................ ix
DAFTAR TABEL ............................................................................................ xi
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xii
BAB
I. PENDAHULUAN ............................................................................... 1
1.1............................................................................... Latar Belakang
.......................................................................................................1
1.2....................................................................... Perumusan Masalah
.......................................................................................................2
1.3........................................................................... Tujuan Penelitian
.......................................................................................................2
1.4............................................................................ Batasan Masalah
.......................................................................................................2
1.5.......................................................................... Metode Penelitian
.......................................................................................................3
1.6......................................................................... Manfaat Penelitian
.......................................................................................................4
1.7................................................................... Diagram alir penelitian
.......................................................................................................4

II. TINJAUAN UMUM ............................................................................ 6


2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah .................................................... 6
2.2. Iklim dan Curah Hujan .................................................................. 7
2.3. Keadaan Geologi ........................................................................... 9
2.4. Kegiatan Penambangan ................................................................. 12
III. DASAR TEORI ................................................................................... 18
3.1. Konsep Permodelan Sumberdaya ................................................. 20
3.2. Rancangan Penambangan ............................................................. 21
3.3. Tahapan Penambangan.................................................................. 25
3.4. Rancangan Jalan Angkut................................................................ 26
3.5. Faktor Pengembangan.................................................................... 30
3.6. Bucket Fill Factor.......................................................................... 30

vii
3.7. Peralatan Tambang ........................................................................ 31

IV. HASIL PENELITIAN........................................................................... 37


4.1. Perhitungan Cadangan Batubara.................................................... 38
4.2. Geometri Penambangan Pit 1 Blok 5............................................. 50
4.3. Kebutuhan Alat Muat dan Angkut................................................. 53
4.4. Penjadwalan Produksi Lapisan Tanah Penutup............................. 55

5. PEMBAHASAN .................................................................................. 57
5.1.............................................. Volume Lapisan Tanah Penutup
...............................................................................................57
5.2......................................................... Rancangan Penambangan
...............................................................................................58
5.3................................................. Kebutuhan Peralatan Tambang
...............................................................................................59
5.4............................................................... Penjadwalan Produksi
...............................................................................................61

6. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................. 62


6.1.............................................................................. Kesimpulan
...............................................................................................62
6.2........................................................................................ Saran
...............................................................................................63
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 64
LAMPIRAN...................................................................................................... 66

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1.1. Diagram Alir Penelitian ……………………………………………... 5


2.1. Peta Kesampaian Daerah ....................................................................... 7
2.2. Stratigrafi Regional Lembar Tarakan dan Sebatik.................................. 10
2.3. Kegiatan Pembersihan lahan (Land Clearing) ....................................... 12
2.4. Kegiatan Pengupasan Lapisan Tanah Pucuk(Top Soil Removal)........... 12
2.5. Kegiatan Pengupasan Lapisan Tanah Penutup (Overburden Removal) 13
2.6. Alat Muat Komatsu PC400LC................................................................ 13
2.7. Alat Angkut Nissan CWB450HD .......................................................... 14
2.8. Kegiatan Pengangkutan Lapisan Tanah Penutup ................................... 14
2.9. Kegiatan Penumpahan Material Pada Area Disposal.............................. 15
2.10. Kegiatan Pembongkaran dan Pengangkutan Batubara............................ 15
2.11. Kegiatan Penggalian dan Pengangkutan Batubara.................................. 16
3.1. Hubungan antara Hasil Eksplorasi, Sumberdaya Mineral dan Cadangan Bijih
(Kode KCMI 2011).................................................................................. 24

3.2. Bagian-Bagian Jenjang............................................................................ 28


3.3. Overall Slope Angle................................................................................. 29
3.4. Skema Perancangan Kemajuan Tambang................................................ 30
3.5. Lebar Jalan Angkut pada Jalan Luus ..................................................... 31
3.6. Lebar Jalan Pada Tikungan ................................................................... 32
[Link] Melintang (Cross Slope) pada Jalan....................................... 34
[Link] Jalan Angkut Pada Tanjakan................................................... 35
[Link] Pemilihan Jalan Angkut............................................................... 36
4.1. Peta Persebaran Lubang Bor................................................................... 40
4.2. Tahapan Permodelan Sumber Daya........................................................ 44
4.3. Peta Kontur Struktur Seam 1................................................................... 45
4.4. Peta Kontur Struktur Seam 2................................................................... 46
4.5. Peta Kontur Stripping ratio..................................................................... 47

ix
4.6. Peta Persebaran Sumberdaya................................................................... 48
4.7. Dimensi Jenjang Tunggal ...................................................................... 50
4.8. Dimensi Jenjang Keseluruhan.................................................................. 51

x
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1. Angka Superelevasi yang Direkomendasikan ....................................... 35


4.1................................................................... Data Collar Hasil Pemboran
...............................................................................................................39
4.2................................................................. Data Litologi Hasil Pemboran
...............................................................................................................41
4.3................................................................ Data Kualitas Hasil Pemboran
...............................................................................................................42
4.4. Jadwal Waktu Kerja [Link] Ruci Mandiri......................................... 54
4.5. Tabel Rencana Pengupasan Lapisan Tanah Penutup............................. 56
5.1. Tabel Rencana Pengupasan Lapisan Tanah Penutup............................. 61

xi
DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN Halaman

A. SPESIFIKASI ALAT MUAT ................................................................. 67


B. SPESIFIKASI ALAT ANGKUT ........................................................... 68
C. PETA TOPOGRAFI ............................................................................... 69
D. DATA HASIL PEMBORAN.................................................................. 71
E. PERHITUNGAN VOLUME LAPISAN TANAH PENUTUP............... 76
F. PERHITUNGAN DIMENSI JALAN ANGKUT.................................... 78
G. WAKTU EDAR ALAT MUAT.............................................................. 81
H. WAKTU EDAR ALAT ANGKUT......................................................... 83
I. FAKTOR PENGISIAN BUCKET.......................................................... 86
J. PERHITUNGAN WAKTU KERJA DAN EFISIENSI KERJA............. 89
K. FAKTOR AVAILABILITY....................................................................... 91
L. PRODUKSI ALAT MUAT .................................................................... 92
M. PRODUKSI ALAT ANGKUT................................................................ 93
N. PERHITUNGAN FAKTOR KESERASIAN KERJA ALAT MUAT DAN
ALAT ANGKUT..................................................................................... 94
O. PENJADWALAN PRODUKSI............................................................... 96
P. KEMAJUAN TAMBANG...................................................................... 101

xii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perancangan tambang meliputi perancangan batas akhir penambangan


(ultimate pit limit), tahapan penambangan (Push back),urutan penambangan
tahunan atau bulanan, penjadwalan produksi, dan perencanan waste dump
(Bargawa, 2018). Batas pit akhir menentukan blok mana yang harus ditambang
dan mana yang harus dibiarkan (Dagladen,2001).
Perencanaan jangka pendek adalah dasar untuk jadwal produksi tambang
operasional. Perencanaan jangka pendek bertujuan membuat rencana tambang
jangka panjang layak secara operasional (Osanloo dan Rahmanpour, 2016).
Perencanaan jangka pendek juga dilakukan untuk mengontrol tingkat produksi
yang dibutuhkan dalam periode tertentu, dan memaksimalkan kemampuan alat
yang tersedia (Blom,2018) Tujuan utama perencanaan tambang adalah
memaksimalkan nilai bisnis sesuai dengan tujuan strategis perusahaan
pertambangan
Penelitian ini membahas tentang rancangan teknis pengupasan lapisan
tanah penutup batubara. Kegiatan perancangan ini meliputi desain penambangan
akhir, penjadwalan produksi dan juga pemilihan alat yang digunakan. Permodelan
sumberdaya dibutuhkan sebagai acuan menentukan batas penambangan yang
sesuai dengan kriteria yang diinginkan perusahaan. Setelah menentukan desain
akhir pit dapat diketahui umur tambang dan kebutuhan alat yang akan digunakan
dalam kegiatan penambangan.
Penelitian ini dilakukan [Link] Ruci Mandiri ([Link]) . [Link]
merupakan perusahaan yang bergerak di industri pertambangan. [Link] pada
proyek ini berkerja sebagai subkontraktor di bidang pengupasan lapisan tanah
penutup dengan target produksi 150.000 Bank Cubic Meters ( BCM) per bulan.
Kegiatan penambangan pada Pit 1 Blok 4 sudah mendekati elevasi Pit bottom dan

1
kegiatan penambangan akan dilanjutkan ke lokasi Pit 1 Blok 5 (P1B5). Lokasi
P1B belum memiliki informasi tentang cadangan yang ada di area tersebut.
Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui jumlah cadangan yang ada
pada area P1B5 sehingga dapat rancang desain pit dan aspek pendukung kegiatan
pengupasan lapisan tanah penutup pada P1B5. Untuk mengontrol kegiatan
pengupasan pada P1B5 agar sesuai dengan rencana pengupasan, maka diperlukan
penjadwalan produksi dan kebutuhan alat berat yang akan digunakan pada
kegiatan pengupasan pada P1B5

1.2. Rumusan Masalah

Untuk melakukan kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup di P1B5


dibutuhkan rancangan teknis pengupasan lapisan tanah penutup agar kegiatan
pengupasan dapat berjalan dengan efektif, efisien dan dapat memenuhi target
produksi yang ditentukan. Kegiatan Pengupasan lapisan tanah penutup pada P1B5
berlangsung mulai bulan April 2019 dimana banyak waktu kerja yang berkurang
dikarenakan bulan puasa, sehingga dibutuhkan penjadwala yang sesuai agar target
produksi dapat terpenuhi.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:


1. Menghitung Volume tanah penutup pada Pit 1 Blok 5.
2. Merancang desain pit dan dimensi jalan angkut yang sesuai dengan
kondisi lokasi penambangan pada P1B5
3. Menghitung kebutuhan alat muat dan angkut pada P1B5.
4. Membuat penjadwalan produksi kegiatan penambangan pada P1B5
1.4. Batasan Masalah

Batasan masalah dari penelitian ini adalah:


1. Penelitian dibatasi pada rancangan teknis pengupasan lapisan penutup
pada P1B5 site Panca Agung di PT. Dewa Ruci Mandiri
2. Geometri jenjang penambangan dibuat berdasarkan rekomendasi
geoteknik dari perusahaan.

2
3. Rancangan teknis pengupasan lapisan tanah penutup dibuat dengan
Batasan Striping ratio 6 berdasarkan rekomendasi perusahaan.
4. Penelitian ini hanya membahas masalah penjadwalan produksi lapisan
tanah penutup tanpa membahas masalah produksi batubara.
5. Penentuan kebutuhan alat muat dan alat angkut disesuaikan dengan alat
yang dimiliki perusahaan.

1.5. Metode Penelitian

Metode yang diterapkan dalam penelitian, teori dengan data dari lapangan
digabungkan dan dianalisis, sehingga didapat suatu pendekatan untuk
penyelesaian masalah. Adapun urutan pekerjaan penelitian yaitu:
1. Studi Pustaka.
Studi pustaka dilakukan pada tahap awal dengan mencari berbagai macam
referensi pustaka yang mendukung secara langsung dan berkaitan dengan
rancangan teknis penambangan.
2. Orientasi di lapangan.
Melakukan pengamatan langsung di lapangan rona awal penambangannya,
Pengamatan dilakukan untuk mengetahui batas-batas penambangan,
menentukan area atau batas-batas kajian masalah yang akan diteliti,
menentukan masalah pokok yang terjadi dilapangan yang ditekankan pada
rancangan teknis pengupasan lapisan tanah penutup, sehingga bisa dijadikan
referensi bagi perusahaan.

3. Pengambilan Data.
Pengambilan data digolongkan menjadi dua jenis, yaitu:
a. Data Primer.
Berikut ini adalah data-data primer yang diambil langsung dari lokasi
penelitian:
i. Peta Topografi
ii. Cycle time alat gali muat Komatsu PC-400 dan alat angkut Nissan
CWB 450HD yang digunakan dalam kegiatan pengupasan lapisan
tanah penutup
b. Data sekunder.

3
Berikut ini adalah data sekunder yang didapat dari perusahaan dan referensi
terkait lainnya:
i. Peta geologi.
ii. Peta kemajuan tambang akhir P1B4
iii. Stratigrafi Regional Tarakan dan Sebatik
iv. Data hasil pemboran
v. Curah hujan.
vi. Data target produksi.

4. Pengolahan Data.
1. Membuat kontur topografi wilayah penelitian
2. Mengidentifikasi data bor
3. Melakukan pemodelan geologi lapisan batubara
4. Melakukan penghitungan cadangan batubara
5. Membuat desai pit penambangan pada P1B5
6. Membuat penjadwalan produksi bulanan lapisan tanah penutup pada
P1B5 dengan target produksi 150.000/ bulan
5. Analisis Data.
a. Membuat rancangan kemajuan tambang setiap bulannya penambangan
berdasarkan hasil pengolahan data dan menganalisis apakah sesuai atau
tidak dengan parameter target produksi.
b. Membuat penjadwalan pembongkaran lapisan tanah penutup

1.6. Manfaat Penelitian

a. Mengembangkan ilmu di bidang pertambangan khususnya mengenai


perencanaan tambang bagi penulis dan pembaca
b. Menjadi bahan pertimbangan bagi perusahaan dalam melaksanakan
kegiatan pertambangan

4
1.7. Diagram Alir Penelitian

Diagram alir penelitian dibuat agar pelaksanaan penelitian dapat dilakukan dengan
sistematis. Tahapan proses yang akan dilakukan dalam penelitian ini digambarkan
dalam diagram alir pada gambar 1.1

Pengambilan Data

Data Sekunder
Data Primer
1. Data curah hujan
1. Peta Topografi 2. Data jam kerja
2. Data Produktifitas alat 3. Data Bor
4. Data Target Produksi

Pengolahan Data

Pembuatan Peta Identifikasi Perhitungan Perhitungan


Topografi P1B5 data bor jam kerja produktifitas
alat

Jumlah sumberdaya P1B5 Kebutuhan alat mekanis

Desain Penambangan P1B5 Penjadwalan Produksi OB/ bulan

Peta Kemajuan penambangan P1B5

Rancangan teknis pengupasan lapisan


tanah penutup

TIDAK
Target produksi 150.000
BCM/Bulan

YA

Rancangan Teknis Sistem


Pengupasan Lapisan Tanah
Penutup P1B5

5
Gambar 1.1
Diagram Alir Penelitian.

6
BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah

Provinsi Kalimantan Utara memiliki luas 75.467,70 km2, terletak pada posisi
antara 114° 035’ 22” – 118° 003’ 00” Bujur Timur dan antara 10° 21’ 36” – 40°
24’ 55” Lintang Utara. Secara administratif Provinsi Kalimantan Utara
berbatasan dengan Negara Malaysia tepatnya dengan Negara bagian Sabah dan
Serawak, Malaysia. Batas daerah daratan terdapat sekitar 1.038 km garis
perbatsan antara Provinsi Kalimantan Utara dengan Negara Malaysia.
Data resmi dari pemerintah Provinsi Kalimantan Utara menyebutkan,
potensi mineral dan energi yang sudah terdeteksi di Kaltara antara lain batu
gamping sebanyak 654 ribu ton di Malinau dan 25 ribu ton di Nunukan, Sirtu 2,50
juta ton di Nunukan, dan pasir kuarsa sebanyak 1 milyar ton di Nunukan.
Terdapat pula potensi minyak dan gas yang terletak di beberapa blok di Kaltara.
Terdapat 9 titik ladang minyak yang mengandung 764 juta barel minyak dan 1,4
triliun cubic feet gas. Potensi gas Kaltara tersebar di Kabupaten Bulungan, Tana
Tidung, dan Nunukan.
Lokasi penelitian berada di Kecamatan Tanjung Palas Utara, Kabupaten
Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara dan dapat ditempuh melalui jalur udara dari
Kota Yogyakarta menuju Kota Tarakan (kota terbesar di Kalimantan Utara)
ditempuh dengan menggunakan pesawat terbang dengan transit di Kota
Balikpapan, rute Yogyakarta - Balikpapan waktu tempuhnya selama 1 jam 45
menit sedangkan Balikpapan - Tarakan waktu tempuhnya selama 1 jam. Setelah
itu untuk mencapai lokasi dapat ditempuh menggunakan speed boat melalui
sungai, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam (Gambar 2.1).

7
Gambar 2.1
Peta Kesampaian Daerah

2.2. Iklim dan Curah Hujan

Lokasi penelitian terletak di daerah beriklim tropis yang mempunyai dua


musim setiap tahunnya, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Berdasarkan
data curah hujan, yang diperoleh dari tahun 2009 sampai tahun 2018, curah
hujan pada lokasi penambangan paling rendah adalah 170,54 mm/bulan dan
paling tinggi adalah 272,94 mm/bulan dan untuk curah hujan tertinggi terdapat
pada bulan Agustus. Hari hujan paling rendah adalah 13,7 hari/bulan dan paling
tinggi adalah 18,80 hari/bulan. Data curah hujan dapat dilihat pada tabel 1.1 dan
data hari hujan di tabel 1.2

8
Tabel 1.1
Data Curah Hujan Bulanan Tahun 2009 - 2018

Bula Curah Hujan (mm) Rata -


n 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 rata
244, 289,
346,6 308,4 144,8 222,0 569,0 17,5 71,0 52,7
Jan 8 1 226,59
398,
92,2 162,8 208,6 166,2 116,5 73,6 30,5 67,5 368,2
Feb 5 168,46
159, 195,
101,7 171,0 275,3 222,0 163,0 45,0 55,5 316,8
Mar 6 5 170,54
326, 332,
402,1 25,1 119,8 238,0 299,3 33,5 78,0 255,1
Apr 0 5 210,94
308, 168,
328,9 299,6 218,6 131,0 277,6 45,0 82,0 147,5
Mei 8 0 200,7
154, 203,
255,5 242,6 171,5 205,5 283,0 60,0 71,0 116,9
Jun 4 0 176,34
225, 398,
225,6 252,8 97,5 415,0 402,8 65,0 83,0 80,5
Jul 6 5 224,63
376, 483,
361,2 261,5 290,2 276,0 447,1 76,0 51,0 107,3
Agt 1 0 272,94
337, 271,
249,1 177,8 168,4 155,0 289,6 71,0 47,5 236,7
Sep 8 0 200,39
291, 235,
295,7 218,6 417,9 152,0 230,8 79,8 33,0 213,5
Okt 2 5 216,8
384, 382,
160,4 171,5 162,7 316,0 257,5 77,5 32,0 273,2
Nov 5 0 221,73
130, 272,
263,1 122,6 304,0 455,0 348,1 90,5 54,0 189,79
Des 0 5 222,96
Total 2513,02
Rata - rata per bulan 209,42

Tabel 1.2
Data Hari Hujan Bulanan Tahun 2009 - 2018
Hari Hujan (hari) Rata -
Bulan
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 rata
Jan 20 18 14 13 21 13 21 13 16 13 16,2
Feb 12 14 18 14 15 13 14 13 13 24 15
Mar 17 11 22 22 14 17 19 14 20 23 17,9
Apr 23 15 3 8 18 20 17 15 20 16 15,5
Mei 17 11 17 21 23 14 17 19 21 13 17,3
Jun 14 14 14 14 10 14 20 20 15 17 15,2
Jul 16 16 14 11 17 1 10 20 22 10 13,7
Agt 9 14 13 19 20 22 14 22 17 8 15,8
Sep 15 20 12 14 17 15 19 21 19 16 16,8
Okt 18 10 21 22 16 11 16 22 17 23 17,6
Nov 18 13 14 14 22 24 22 17 25 15 18,4
Des 18 20 14 15 21 21 15 22 22 20 18,8
Rata - rata 16,52

9
2.3. Keadaan Geologi

Keadaan geologi daerah bulungan termasuk ke dalam sub cekungan


Tidung yang merupakan bagian dari cekungan Tarakan yang terbentuk pada
zaman tersier.(Amirudin dan Hidayat, 1995). Adapun keadaan geologi daerah
tersebut:

2.3.1 Fisiografi
Keadaan topografi wilayah kegiatan dan sekitarnya merupakan perbukitan
rendah dengan ketinggian 30 - 90 meter diatas permukaan air laut, serta lembah,
sungai dan rawa. Morfologi di daerah ini dipengaruhi oleh struktur lipatan dan
patahan. Jenis litologi dan kondisi kekerasan batuannya ditinjau dari bentuk relief
dan ronanya terbagi atas satuan morfologi perbukitan bergelombang sedang dan
satuan morfologi sungai dan rawa.
a. Satuan Morfologi Perbukitan Bergelombang Sedang
Morfologi ini terletak pada ketinggian antara 30-90 meter dari permukaan
laut dan kemiringan lereng berkisar antara 18% - 47%. Batuan dasar berupa
satuan batupasir dan batulempung pasiran, dengan bagian atasnya tertutup atau
bercampur dengan tufa klastik.
b. Satuan Morfologi Lembah Sungai dan Rawa
Satuan morfologi lembah sungai dan rawa, daerahnya relatif datar dan
membentuk cekungan di beberapa tempat yang memiliki elevasi yang berkisar
antara 0.5-3.5 meter dari permukaan laut. Kemiringan lereng berkisar antara 2%
- 22%. Susunan litologinya terdiri dari sisipan-sisipan batulempung tufaan dan
batulanau. Cekungan ini berupa rawa genangan dan rawa permanen. Rawa
genangan terjadi pada musim penghujan sedangkan rawa permanen tetap berair
sepanjang tahun, hal ini disebabkan oleh elevasinya yang rendah, setara dengan
permukaan laut, rawa permanen juga dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
Kondisi alami daerah studi merupakan daerah rawa yang cukup luas,
namun terdapat beberapa kondisi alami yang berupa bukit. Daerah tangkapan
hujan pada daerah studi terbagi atas empat wilayah. Aliran air tentunya akan
berpusat menuju daerah rawa. Semakin tinggi permukaan air rawa maka variasi
daerah tangkapan hujan akan berkurang. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan

10
kemiringan topografi karena kenaikan permukaan air. Dikarenakan topografi yang
relatif datar, sehingga arah aliran air lebih cenderung didominasi oleh air tanah.
2.3.2 Stratigrafi
Wilayah lokasi penelitian berada di daerah Tanjung Palas Utara,
Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara secara geologis termasuk dalam
cekungan Tarakan. Menurut Samuel dan Achmad (1984), cekungan Tarakan
terbagi menjadi 4 subcekungan yaitu: di bagian utara terdiri dari sub-cekungan
Tidung dan sub-cekungan Tarakan Utara. Di bagian selatan cekungan ini terbagi
atas cekungan Berau dan subcekungan Muara.
Daerah rencana tambang termasuk dalam sub-cekungan Tidung yang
secara stratigrafi merupakan bagian dari stratigrafi Simenggaris Sesayap.
Formasi-formasi yang menyusun stratigrafi Simenggaris Sesayap adalah formasi
Sembakung, formasi Naintupo/Jelai, Formasi Meliat, Formasi Tabul, Formasi
Sajau (Bunyu) / Sinjin (Tarakan). Sedangkan formasi-formasi pembawa batubara
pada sub-cekungan ini adalah:
1. Formasi Meliat, tersusun atas litologi batulempung dan batulanau dengan
sisipan-sisipan tipis batubara, batupasir dan batugamping. Formasi ini
berumur Miosen Awal-Miosen Tengah dan diperkirakan diendapkan pada
lingkungan pro delta hingga laut.
2. Formasi Tabul, tersusun oleh litologi batulempung, batulanau dan
batupasir dengan sisipan-sisipan batubara. Formasi ini berumur Miosen
Tengah sampai Miosen Akhir dan diendapkan secara selaras di atas
Formasi Meliat. Lingkungan pengendapan formasi ini adalah rawa.
3. Formasi Tarakan, tersusun dari pengulangan batupasir–batulempung dan
batubara. Bagian bawah formasi ini mengandung batubara dengan
ketebalan 0.5-1 meter dengan penebalan ke arah atas (berkisar 3-5 meter).
Formasi ini berumur Pliosen dan diendapkan pada lingkungan
pengendapan dataran delta bawah-dataran delta atas.
4. Formasi Bunyu, tersusun oleh litologi perulangan batubara, batulempung
dan batupasir. Formasi ini berumur Pliosen-Plistosen, dengan ketebalan
lapisan batubara dari 5-20 meter. Formasi ini diendapkan pada lingkungan
delta.

11
Berikut adalah gambar lapisan stratigrafi pada Tarakan dan sebatik berdasrkan
pemetaan geologi tahun 1995 dapat dilihat pada gambar 2.2.

Gambar 2.2
Stratigrafi Regional Lembar Tarakan dan Sebatik
(Amirudin H dan Satrianas D , 1995)

12
2.3.3 Struktur Geologi
Berdasarkan pemetaan geologi yang dilakukan oleh Amirudin H dan
Satrianas D (1995) diketahui bahwa pola struktur geologi regional di daerah ini
mempunyai arah Barat Laut-Tenggara. Struktur geologi yang berkembang pada
daerah ini adalah sesar mendatar dan lipatan berupa sinklin serta antiklin.
Struktur geologi pada daerah rencana tambang tergolong rumit akibat
adanya lipatan dan sesar mendatar yang disusul oleh intrusi batuan beku. Endapan
batubara pada dasarnya terbagi menjadi dua oleh suatu struktur geologi,
diperkirakan berupa patahan dan terletak di bagian Barat dari endapan. Struktur
geologi di bagian Timur dari patahan ini berupa antiklin dan sinklin yang
mempunyai arah [Link] – Tenggara, dengan kemiringan batubara pada arah
Utara dan Selatan. Di bagian Barat patahan jurus pelapisan batubara berarah Utara
dan Selatan dengan kemiringan ke arah Barat dengan sudut yang besar.
Secara keseluruhan diinterpretasikan terdapat 5 patahan yang memotong
lapisan batubara berdasarkan hasil pemetaan singkapan dan interpretasi
penampang geologi. Struktur sinklin dan antiklin yang berkembang pada daerah
rencana tambang menyebabkan adanya perbedaan yang mencolok pada
kemiringan lapisan batubara yang dijumpai. Lapisan batubara yang dekat dengan
sumbu lipatan tersebut mempunyai kemiringan yang relatif lebih besar dari
lapisan batubara yang terletak lebih jauh dari sumbu lipatan.

2.4. Kegiatan Penambangan

1. Pembersihan Lahan (Land Clearing)


Land clearing adalah kegiatan awal dalam proses penambangan dimana
land clearing bertujuan untuk membersihkan tumbuh-tumbuhan maupun
pepohonan dari area yang akan ditambang sehingga kegiatan penambangan
dapat dilakukan dengan mudah tanpa harus terganggu dengan adanya gangguan
tumbuhan yang ada di daerah penambangan. Vegetasi pada area penambangan
PT. Dewa Ruci Mandiri mayoritas berupa pepohonan dengan ukuran relative
kecil, maka kegiatan land clearing pada PT. Dewa Ruci Mandiri menggunakan
bulldozer Komatsu D85ESS. Kegiatan pembersihan lahan dapat dilihat pada
Gambar 2.3.

13
Gambar 2.3
Kegiatan Pembersihan Lahan (Land Clearing)

2. Pengupasan Tanah Pucuk (Top Soil Removal)


Setelah kegiatan land clearing dilakukan maka kegiatan selanjutnya
pengupasan dan pemindahan tanah pucuk (topsoil). Pengupasan tanah pucuk
dilakukan dengan excavator Komatsu PC400LC, kemudian diangkut dengan
menggunakan dump truck Nissan CWB450HD ke disposal area. Kegiatan
pengupasan tanah pucuk dapat dilihat pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4
Kegiatan Pengupasan Tanah Pucuk (Top Soil Removal)
3. Pengupasan Lapisan Penutup (Overburden Removal)

14
Material overburden merupakan material yang berada di bawah lapisan
top soil, serta umumnya berada di lapisan atas batubara. Material overburden ini
harus dibongkar atau diberai terlebih dahulu sebelum dapat dipindahkan. Kegiatan
penggalian overburden dilakukan secara langsung atau free digging menggunakan
excavator Komatsu PC400LC (lihat Gambar 2.6). Kegiatan pengupasan lapisan
penutup dapat dilihat pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5
Kegiatan Pengupasan Lapisan Penutup (Overburden Removal)

Gambar 2.6
Alat Muat Komatsu PC400LC

15
4. Pemuatan Lapisan Penutup
Setelah proses penggalian material overburden, kemudian material
tersebut dimuat ke dump truck Nissan CWB450HD (lihat Gambar 2.7). Kegiatan
pemuatan lapisan penutup dapat dilihat pada Gambar 2.8.

Gambar 2.7
Alat Angkut Nissan CWB450HD

Gambar 2.8
Kegiatan Pemuatan Lapisan Penutup
5. Pengangkutan Lapisan Penutup
Lapisan penutup yang telah dimuat ke dalam dump truck kemudian
dilakukan pengangkutannya menuju disposal area (lihat Gambar 2.9) untuk
kemudian ditumpahkan ke disposal area (lihat Gambar 2.10).

16
Gambar 2.9
Kegiatan Pengangkutan Lapisan Penutup

Gambar 2.10
Penumpahan Material pada Area Disposal

6. Penggalian dan Pengangkutan Batubara


Setelah kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup, kemudian
dilakukan penggalian batubara dengan alat excavator Komatsu PC200
kemudian diangkut dengan alat angkut dump truck Nissan CWE ke tempat
penyimpanan sementara (ROM-stockpile). Kegiatan penggalian dan
pengangkutan batubara dapat dilihat pada Gambar 2.11.

17
Gambar 2.11
Kegiatan Penggalian dan Pengangkutan Batubara

18
BAB III
DASAR TEORI

3.1. Pemodelan Sumberdaya

Permodelan cadangan merupakan suatu pekerjaan yang penting dalam


evaluasi suatu proyek pertambangan minerba (mineral dan batubara). Seluruh
keputusan teknis sangat bergantung pada pekerjaan tersebut, (Bargawa,2018).
Permodelan cadangan ini pernting karena menghasilkan :
1. Taksiran jumlah sumberdaya batubara (tonnase)
2. Perkiraan bentuk tiga dimensi sumberdaya batubara, jumlah cadangan
dengan kaitannya dengan perhitungan umur tambang
3. Batas-batas kegiatan penambangan yang dibuat berdasarkan taksiran
sumberdaya
4. Hasil perhitungan stripping ratio.
Pada umunya pemodelan sumberdaya mempunyai batas-batas koordinat, misal
kearah utara dan kearah timur. Perubah (variable) yang diperlukan untuk
pemodelan yaitu topografi daerah penelitian, informasi geologi, ketebalan dan
kualitas endapan, jenis batuan, berat jenis, tonase tiap unit, (Bargawa,2018).
Tahap pemodelan sumberdaya mineral meliputi:
1) Pemasukan dan pengecekan data
2) Pemodelan topografi dan geologi
3) Konstruksi model geologi
4) Dimensi model geologi

3.2.1. Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan


Berdasarkan Standar Nasional Indonesia sumberdaya adalah bagian dari
endapan batu bara yang diharapkan dapat dimanfaatkan. Sumber daya ini dapat
meningkat menjadi cadangan apabila setelah dilakukan kajian kelayakan
dinyatakan layak. Sedangkan cadangan adalah bagian dari sumber daya batu bara

19
yang telah diketahui dimensi, sebaran kuantitas, dan kualitasnya, yang pada saat
pengkajian kelayakan dinyatakan Iayak untuk ditambang.
Kelas sumberdaya dan cadangan batubara menurut klasifikasi Standar
Nasional Indonesia (SNI) 13-6011-1999 adalah sebagai berikut :
1. Sumber Daya Batubara Hipotetik (Hypothetical Coal Resource)
Sumber daya batubara adalah jumlah batubara di daerah penyelidikan
atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang
memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap penyelidikan survei
tinjau.
2. Sumber Daya Batubara Tereka (Inferred Coal Resource)
Sumber daya batubara tereka adalah jumlah batubara di daerah
penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan
data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap penyelidikan
prospeksi.
3. Sumber Daya Batubara Tertunjuk (Indicated Coal Resource)
Sumber daya batubara tertunjuk adalah jumlah batubara di daerah
penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan
data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi
pendahuluan.
4. Sumber Daya Batubara Terukur (Measured Coal Resource)
Sumber daya batubara terukur adalah jumlah batubara di
daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung
berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap
eksplorasi rinci.
5. Cadangan Batubara Terkira (Probable Coal Reserve)
Cadangan batubara terkira adalah sumber daya batubara tertunjuk dan
sebagian sumber daya batubara terukur, tetapi berdasarkan kajian kelayakan
semua faktor yang terkait telah terpenuhi sehingga hasil kajiannya dinyatakan
layak.
6. Cadangan Batubara Terbukti (Proved Coal Reserve)

20
Cadangan batubara terbukti adalah sumber daya batubara terukur yang
berdasarkan kajian kelayakan semua faktor yang terkait telah terpenuhi sehingga
hasil

3.2.2. Keyakinan Geologi


Kode KCMI (2011) menetapkan kerangka untuk pengklasifikasian estimasi
tonase dan kadar/kualitas untuk merefleksikan perbedaan tingkat keyakinan
geologi dan derajat perbedaan dari evaluasi keteknisan dan keekonomisan.
kajiannya dinyatakan layak.

Sumberdaya mineral terukur dapat dikonversi menjadi cadangan bijih


terbukti ataupun cadangan bijih terkira. sumberdaya mineral terukur menjadi
cadangan bijih terkira karena adanya ketidakpastian terhadap beberapa atau semua
faktor pengubah yang dipakai sebagai pertimbangan pada saat mengkonversi
sumberdaya mineral menjadi cadangan bijih. Hubungan tersebut diperlihatkan
oleh garis panah putus-putus pada Gambar 3.1. Meskipun arah garis panah putus-
putus mengandung komponen vertikal, tidak berarti ada penurunan dalam level
pengetahuan atau keyakinan geologi. Pada situasi demikian faktor pengubah harus
diterangkan secara jelas

Gambar 3.1.
Hubungan antara Hasil Eksplorasi, Sumberdaya Mineral dan Cadangan Bijih
(Kode KCMI 2011)

21
3.2. Rancangan Penambangan

Rancangan (design) adalah penentuan persyaratan, spesifikasi dan kriteria


teknik yang rinci dan pasti untuk mencapai tujuan dan sasaran kegiatan serta
urutan teknis pelaksanaan. Dalam industri pertambangan juga dikenal dengan
rancangan penambangan (mine design) yang mencakup kegiatan-kegiatan seperti
penentuan geometri jenjang dan tahapan penambangan (push back) yang ada pada
perencanaan tambang, tetapi data dan informasi sudah terinci.
Rancangan tambang meliputi perencanaan batas akhir penambangan
(ultimate pit limit),tahapan penambangan (push back),urutan penambangan
tahunan, bulanan atau mingguan, serta penjadwalan produksi. Istilah perancangan
tambang biasanya dimaksudkan sebagai proses perencanaan tambang yang
berkaitan dengan masalah geometrik, (Bargawa ,2018).
3.2.1. Pedoman Pengelolaan Teknis Pertambangan Menurut Keputusan
Menteri ESDM No. 1827 K Tahun 2018
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor: 1827
K/30/MEM/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan
yang baik, pada lampiran II menerangkan bahwa:
1) Perencanaan Tambang paling kurang terdiri atas:
a) Pengoptimalan tambang/batas akhir penambangan yang digambarkan
dalam bentuk model endapan dengan memasukkan geometri dan dimensi
lereng atau bukaan tambang dengan mempertimbangkan break even
stripping ratio (BESR) /Incremental Margin atau break even cut off
grade/dollar index sesuai dengan karakteristik endapan dengan
pengambilan data untuk modifying factor paling kurang 5 (lima) tahun.
b) Sistem dan metode penambangan yang sesuai dengan kondisi spasial dan
geoteknik, endapan, pertimbangan lingkungan tambang, dan teknologi
penambangan.
c) Desain penambangan yang menggambarkan geometri dan dimensi bukaan
tambang, geometri dan dimensi, serta kapasitas timbunan berdasarkan
kajian daya dukung dasar timbunan, desain jalan tambang, dan stripping
ratio atau cut off grade.

22
d) Rencana produksi dan umur tambang yang diuraikan pertahun dalam
bentuk tabel.
e) Tahapan penambangan dan penimbunan batuan penutup dimulai tahapan
land clearing sampai pengangkutan komoditas tambang ke stockpile.
f) Kemajuan tambang per tahun sampai akhir umur tambang yang mencakup
peta rencana kemajuan tambang yang menggambarkan elevasi bukaan
tambang, elevasi timbunan batuan penutup, geometri dan dimensi bukaan
tambang, geometri dan dimensi timbunan, desain jalan tambang, posisi
fasilitas penampungan dan pengelolaan air tambang (sump dan settling
pond), dan saluran penyaliran dengan skala yang dapat dicetak dalam
ukuran paling kurang kertas A3.
g) Kebutuhan peralatan utama dan peralatan pendukung penambangan
sampai akhir umur tambang yang meliputi kebutuhan pertahun (jumlah,
jenis, dan kapasitas peralatan), kesesuaian pemilihan alat penambangan
dengan tingkat produksi, kesesuaian alat penambangan dengan tipe
endapan dan daya dukung tanah, unjuk kerja peralatan, dan jam kerja
efektif;
h) Rencana sarana dan prasarana pertambangan.
i) Perencanaan kegiatan pemberaian batuan yang meliputi pemilihan metode
pemberaian batuan berdasarkan sifat fisik dan mekanik batuan dan analisis
struktur geologi massa batuan serta sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku; dan/atau
j) Dalam hal menentukan metode pemberaian batuan mempertimbangkan
paling kurang:
i. Metode gali bebas (free digging) untuk batuan yang memiliki nilai
uniaxial compressive strength (UCS) kurang dari 1,5 MPa dengan
geological strength index (GSI) kurang dari 50 (lima puluh) atau
kecepatan seismik massa batuan kurang dari 450 (empat ratus lima
puluh) m/s.
ii. Metode garu (ripping) untuk batuan yang memiliki nilai UCS 1,5 - 40
MPa dengan GSI 50 - 70 atau kecepatan seismik massa batuan antara
450 – 1650 m/s.

23
[Link] pengeboran dan peledakan (drilling and blasting) untuk
batuan yang memiliki nilai UCS lebih dari 40 MPa dengan GSI lebih
dari 70 atau kecepatan seismik masa batuan lebih dari 1650 m/s; serta
mempertimbangkan reaktivitas batuan, batuan panas (hot rock/hot
ground), bahaya kelistrikan, ground reactivity, jumlah dan spesifikasi
peralatan, geometri dan dimensi pola peledakan, jenis bahan peledak,
fragmentasi hasil peledakan, rencana pemantauan efek peledakan yang
paling kurang terdiri atas ground vibration, air blast, fly rock, dan
fumes.
k) Kajian daya dukung dasar timbunan daya dukung tanah, hidrologi,
hidrogeologi, struktur geologi, litologi, dan rekomendasi untuk tindak lanjut
terhadap hasil kajian.
l) Rekomendasi untuk tindak lanjut terhadap hasil kajian tersebut meliputi daya
dukung dasar timbunan (ground bearing capacity) berupa tekanan maksimum
yang dapat diaplikasikan ke dasar timbunan.
m) Peta rencana kemajuan tambang dilengkapi dengan tabel yang berisi:
i. Tahun kemajuan tambang.
ii. Lokasi, luas, dan elevasi blok.
iii. Peralatan penambangan yang terdiri atas unit, jumlah, dan kapasitas.
iv. Jarak angkut.
v. Jumlah overburden, komoditas, dan stripping ratio.
n) Rencana kemajuan tambang dapat dilengkapi simulasi yang menggambarkan
kondisi sebenarnya sampai akhir umur tambang.
o) Rencana Stockpile dilengkapi dengan kajian daya dukung dasar timbunan,
kapasitas, perencanaan penyaliran, jenis, dan ketebalan material bedding.
p) Rencana fasilitas penampungan dan pengelolaan air tambang
mempertimbangkan sifat fisik dan kimia dari material di dasar dan dinding
fasilitas penampungan, debit air tambang, dan laju pengendapan sedimen.
q) Rencana bangunan sarana dan prasarana pertambangan lokasinya
mempertimbangkan daya dukung (ground bearing capacity) berupa tekanan
maksimum yang dapat diaplikasikan ke dasar bangunan serta daya dukung
batas (ultimate bearing capacity) berupa tekanan minimum yang

24
menyebabkan keruntuhan geser (shear failure) pada tanah pendukung secara
cepat kebawah.
r) Rencana pelabuhan mencakup lokasi, stockpile, metode dan peralatan
pemuatan dan pembongkaran, dan fasilitas penunjang pelabuhan, dan sistem
pengelolan air permukaan.

3.2.2. Geometri Jenjang


Geometri jenjang (lihat Gambar 3.2) memiliki tinggi jenjang (H) yang
merupakan beda tinggi antara jenjang bagian atas dan jenjang bagian bawah.
Bagian-bagian jenjang yaitu lebar jenjang (Bench Width), sudut lereng, crest, toe,
dan juga bank width. Aspek Geoteknik sangat penting sebagai acuan dalam
penentuan geometri jenjang (Hustrulid, 2013).

Gambar 3.2.
Bagian-Bagian Jenjang( Hustrulid dan Kuchta, 2013)

[Link] slope angle


Merupakan sudut kemiringan dari keseluruhan jenjang yang dibuat pada front
(muka kerja) penambangan. Kemiringan ini diukur dari crest paling atas sampai
dengan toe paling akhir dari front penambangan (Gambar 3.3). Penetuan Overal

25
Slope Angel juga didasari oleh faktor geoteknik dan optimasi batas akhir
penambangan.

Gambar 3.3.
Overall Slope Angle (Hustrulid, 2013)

3.3. Tahapan Penambangan

Tahapan penambangan merupakan bentuk-bentuk penambangan yang


menunjukan bagaimana suatu area akan ditambang dari titik awal masuk hingga
bentuk akhir pit. Pentahapan penambangan disebut juga dengan nama sequence,
push back, phase, slice dan stage. Tujuan umum dari pentahapan penambangan
adalah untuk menyerderhanakan seluruh volume yang ada dalam pit ke dalam
unit-unit perancangan yang lebih kecil sehingga mudah penanganan (Bargawa,
2018).
Adanya pentahapan penambangan akan memudahkan perancangan tambang
yang rumit menjadi lebih sederhana. Parameter waktu dapat mulai diperhitungkan
dalam perancangan, karena waktu merupakan parameter yang sangat berpengaruh.
Tahapan-tahapan penambangan yang dirancang secara baik akan
memberikan akses ke semua daerah kerja dan menyediakan ruang kerja yang
cukup untuk operasi peralatan kerja tambang secara efisien. Salah satunya adalah
dalam pembuatan awal jenjang sampai akhir penambangan, sehingga dapat
diketahui kemajuan penambangannya (Gambar 3.4).

26
Gambar 3.4
Skema Perancangan Kemajuan Tambang (Hustrulid ,2013)

3.4. Rancangan Jalan Angkut

3.4.1. Lebar Jalan Angkut


1. Lebar Jalan Angkut pada Jalan Lurus
Penentuan lebar jalan angkut minimum untuk jalan lurus (Gambar 3.5)
didasarkan pada Rule of Thumb yang dikemukakan AASHTO Manual Rural high-
way Design adalah :
Lmin = n . Wt + ( n + 1 )(0,5 . Wt) ……………………………..….. (3.1)
Keterangan:
Lmin = Lebar jalan angkut minimum (m).
n = Jumlah jalur.
Wt = Lebar alat angkut total (m).
Nilai 0,5 pada rumus diatas menunjukan bahwa ukuran aman kedua
kendaraan berpapasan adalah sebesar 0,5 Wt, yaitu setengah lebar terbesar dari
alat angkut yang bersimpangan. Ukuran 0,5 Wt juga digunakan untuk jarak dari
tepi kanan atau kiri jalan kealat angkut yang melintasi secara berlawanan.

27
Gambar 3.5
Lebar Jalan Angkut pada Jalan Lurus (Hustroulid dan Kuchta, 2013)

2. Lebar Jalan Angkut pada Tikungan


Lebar jalan angkut pada tikungan selalu lebih besar dari pada lebar jalan pada
jalan lurus (Gambar 3.6). Untuk jalur ganda, lebar minimal pada tikungan
dihitung berdasarkan pada:

a. Lebar jejak ban alat angkut


b. Lebar juntai atau tonjolan (overhang) alat angkut bagian depan dan
belakang pada saat membelok.
c. Jarak antara alat angkut pada saat bersimpangan
d. Jarak (space) alat angkut dengan tepi jalan
Berpedoman pada Rule of Thumb yang dikemukakan AASHTO Manual Rural
high-way Design, lebar jalan angkut pada tikungan dapat dihitung menggunakan
rumus:

W = n (U + Fa + Fb + Z) + C ………………...………………………… (3.2)
C = Z = ½ (U + Fa + Fb ) ………………..…………...……………..… (3.3)

Keterangan :
W = Lebar jalan angkut pada tikungan (m).
n = Jumlah jalur
U = Jarak jejak roda kendaraan (m).
Fa = Lebar juntai depan (m).
Fb = Lebar juntai belakang (m).
C = jarak antara dua alat angkut (m).
Z = jarak dari sisi luar alat angkut ketepi jalan (m).

28
Gambar 3.6
Lebar Jalan Angkut pada Tikungan (Kaufman,1997)
3. Superevelasi

Superelevasi merupakan kemiringan jalan pada tikungan yang terbentuk oleh


batas antara tepi jalan terluar dengan tepi jalan terdalam karena perbedaan
kemiringan. Bagian tikungan jalan diberi superelevasi dengan cara meninggikan
jalan pada sisi luar tikungan. Tujuan dibuat superelevasi pada daerah tikungan
jalan angkut yaitu untuk menghindari atau mencegah kendaraan tergelincir keluar
jalan atau terguling.
Besarnya sudut superelevasi untuk beberapa radius tikungan dengan berbagai
variasi kecepatan alat angkut dapat bermacam-macam, untuk itu penentuan
superelevasi selain dengan menggunakan rumus juga dapat dilakukan dengan
penggunaan tabel seperti ditunjukan dalam Tabel 3.1, terdapat angka
superelevasi yang sama untuk kecepatan dan radius yang berbeda. Hal ini
disebabkan oleh nilai koefisien gesek yang berbeda untuk kombinasi kecepatan
dan radius tikungan, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa untuk melintasi
tikungan dengan radius tikungan dan kecepatan yang berbeda, maka gaya
sentrifugal yang dialami oleh alat angkut juga akan berbeda. Dalam perencanaan
tambang, AASHTO menganjurkan pemakaian beberapa nilai superelevasi yaitu
0,02;0, 04; 0,06; 0,08; 0,010 dan 0,012.

29
Tabel 3.1
Angka Superelevasi yang Direkomendasikan, (m/m) (Tannant, 2001)
Kecepatan (km/jam)
Radius
Tikungan 16 24 32 40 48 >56
(m)
Angka rekomendasi Superelevasi (m/m)
15 0,04 0,04        
30 0,04 0,04 0,04      
46 0,04 0,04 0,04 0,05    
76 0,04 0,04 0,04 0,04 0,05  
91 0,04 0,04 0,04 0,04 0,05 0,06
183 0,04 0,04 0,04 0,04 0,04 0,05
305 0,04 0,04 0,04 0,04 0,04 0,04

3.5.2. Kemiringan Jalan


a. Kemiringan Melintang (Cross Slope).
Cross slope adalah perbedaan ketinggian antara tepi jalan dengan garis
tengah jalan yang harus dipertimbangkan dalam membuat desain jalan angkut.
Cross slope dibuat untuk mengatasi tergenangnya air di badan jalan pada saat
hujan maka badan jalan perlu dibuat miring lebih rendah kearah luar, sehingga
badan jalan tidak ada genangan air. Nilai kemiringan badan jalan (Gambar 3.7)
atau yang disebut cross slope tersebut adalah 20 – 40 mm/ m atau 1/4-1/2 inch/
feets dari tepi jalan ke tengah jalan. (Kaufman,1977)

Gambar 3.7
Kemiringan melintang (Cross Slope ) pada jalan ( Bargawa, 2018)

30
b. Kemiringan Jalan Angkut (Grade).
Kemiringan jalan angkut (grade) merupakan suatu faktor penting yang
harus diamati secara detail dalam kegiatan kajian terhadap kondisi jalan tambang.
Hal ini dikarenakan kemiringan jalan angkut berhubungan langsung dengan
kemampuan alat angkut, baik dalam pengereman maupun dalam mengatasi
tanjakan. Kemiringan jalan angkut (Gambar 3.8) biasanya dinyatakan dalam
persen (%). Kemiringan (α) 1% berarti jalan tersebut naik atau turun 1 m pada
jarak mendatar sejauh 100 m. Kemiringan (grade) dapat dihitung dengan
menggunakan rumus:

Keterangan:
Δh : Beda tinggi antara dua titik yang diukur α : Sudut Kemiringan Jalan
Δx : Jarak antara dua titik yang diukur A-B-C-D : Jarak antara Titik A-B-C-D yang diukur

Keteranga n:
Δh : Beda tinggi antara dua titik yang diukur α : Sud ut Kemirin gan Jalan
Δx : Jarak antara dua titik yan g diukur A-B-C-D : Jarak antara Titik A-B-C-D yang diuk ur

Gambar 3.8.
Kemiringan Jalan Angkut Pada Tanjakan (Bargawa, 2018)
∆h
Grade/(α)o = Arc Tg (3.4)
∆x
Keterangan :
Δh = Beda tinggi antara dua titik yang diukur.
Δx = Jarak antara dua titik yang diukur.

3.5. Faktor Pengembangan

Material yang sudah dibongkar menjadi hanc ur dan volumenya


meningkat. Faktor pengembangan material diartikan sebagai rasio antara volume
(m3) dengan berat yang sama dari material sebelum dan sesudah
peledakan/penggalian
Faktor pengembangan biasanya anatara 0,6 - 0,9 tergantung sifat dari
material (kekompakan,kadar air), fragmentasi (bentuk, ukuran dan penyusun
material), dan sebagainya (Gupta, dkk, 2015)

31
s=volume material before digging ¿ ¿

3.6. Bucket Fill Factor

Bucket fill factor menunjukan seberapa baik ketersediaan ruangan pada bucket
yang [Link] fill factor adalah persentase kapasitas bucket yang terisi
material. Secara matematis di nyatakan dengan
volume of material∈the bucket
Bucket −Fill Factor=
bucket capacity
Bucket fill factor bergantung pada ukuran bucket dan bentuk,kemampugaruan
material,fragmentasi(ukuran partikel,bentuk dan distribusi material pada
bucket),angle of repose material didalam bucket,kemampuan operator
dansebagainya. Misra mengarakan bahwa bucket fill factor untuk dragline adalah
0.9 - 1.1 untuk kondisi material easy digging, 0,8 - 0,9 untuk kondisi material
medium digging, 0,65 - 0,75 untuk kondisi material medium-hard digging dan 0,4
-0,65 untuk kondisi material very hard digging. dalam prakteknya bucket fill
factor biasanya antara 0,4 - 1,2 dalam prakteknya ( Gupta, 2015).

3.7. Peralatan Tambang

Dalam perancangan penambangan batubara berkaitan erat dengan


penggunaan alat-alat mekanis. Oleh karena itu diperlukan rencana pemilihan
peralatan tambang (Gambar 3.9).

Macam material yang Keadaan topografi


akan ditangani

Jam Penentuan Ukuran, Jenis, Sasaran


Kerja Kombinasi, dan Jumlah Tiap Produksi
Unit Alat

Analisis Elevasi tempat


geoteknik kerja
Gambar 3.16

32
Diagram Pemilihan Peralatan Tambang (Indonesianto, 2014)

3.7.1. Pemilihan Alat


Agar peralatan yang akan digunakan sesuai dengan kondisi peralatan tersebut
bekerja, faktor yang harus dipertimbangkan yaitu: (Indonesianto ,2014)
a. Macam material yang akan ditangani
b. Penyebaran endapan bahan galian
c. Keadaan topografi
d. Elevasi tempat kerja
e. Analisis geoteknik
f. Sasaran produksi
g. Jam kerja

3.7.2. Ketersedian Alat


Salah satu hal yang mempengaruhi dari alat dalam operasi penambangan
adalah masalah ketersediaan alat. Ketersediaan alat merupakan faktor yang
menunjukan kondisi alat yang digunakan dalam melakukan pekerjaan dengan
memperhatikan kehilangan waktu selama waktu kerja dari alat yang tersedia.
Untuk itu perlu memperhatikan beberapa faktor yaitu :
1. Ketersediaan Fisik atau Physical Availability (PA)
Ketersediaan fisik merupakan catatan operasional dari alat dan menunjukan apa
yang sudah dilakukan selama waktu-waktu yang sudah lampau. Kestersediaan
fisik merupakan suatu perbandingan waktu kerja yang tersedia dengan waktu
kerja yang telah dijadwalkan. Di mana waktu kerja tersedia mencangkup waktu
kerja alat (working hours) dan standby hours. Kemudian waktu kerja yang telah
terjadwalkan mencangkup working hours, repair hours dan standby hours.
Persamaan yang dipakai yaitu :
PA = (W+S)/(W+R+S) ×100% (%)……………………..………… (3.5)

Keterangan :
PA = Physical availability (%)
W = Working hours
R = Repair hours
S = Standby hours

33
Standby hours merupakan waktu di mana saat siap dipakai (tidak rusak), tetapi
karena suatu hal tidak dipergunakan ketika operasi penambangan sedang
berlangsung. Contoh dari standby hours adalah ketika hujan, ada pengeringan
jalan, atau ketika semua fleet sudah terpenuhi.
2. Used Availability (UA)
Menunjukan berapa persen waktu yang digunakan oleh suatu alat untuk
beroperasi pada saat dapat digunakan. Persamaan yang digunakan yaitu:
UA=W/(W+S) ×100% (%)………………..……………….……… (3.6)
Keterangan :
UA = Used availability (%)
W = Working hours
S = Standby hours
3. Mechanical Availability (MA)
Menunjukan berapa persen kesiapan alat dari waktu yang hilang dikarenakan
kerusakan atau gangguan. Persamaan yang digunakan yaitu:
MA=W/(W+R) ×100% (%)………………..……………….……… (3.7)
Keterangan :
MA = Mechanical availability (%)
W = Working hours
R = Repaired hours

3.7.3. Perancangan Kebutuhan Alat Muat dan Alat Angkut


Alat muat yang digunakan adalah Backhoe yang digunakan untuk
memuat material tambang kedalam alat angkut. Sedangkan untuk alat angkutnya
menggunakan dump truck. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam perancangan
jumlah alat muat dan alat angkut antara lain :

1. Waktu Edar
Waktu edar (cycle time) merupakan waktu yang diperlukan suatu alat untuk
melakukan suatu daur kerja. Semakin kecil waktu edar alat,
maka produksinya akan semakin tinggi.
a. Waktu edar alat muat
Rumus waktu edar alat muat adalah:

34
Ctm = t1 + t2 + t3 + t4 .................................................................. (3.8)
Keterangan:
t1 = Waktu untuk menggali (detik).
t2 = Waktu untuk berputar dengan muatan (detik).
t3 = Waktu menumpahkan muatan ke dalam bak alat angkut (detik).
t4 = Waktu berputar tanpa muatan (detik).
b. Waktu edar alat angkut
Rumus waktu edar alat angkut adalah:
Cta = t1 + t2 + t3 + t4 + t5 + t6......................................................(3.9)
Keterangan:
t1 = Waktu untuk mengambil posisi siap untuk dimuati (spooting) (detik).
t2 = Waktu diisi muatan (detik).
t3 = Waktu mengangkut muatan (detik).
t4 = Waktu mengambil posisi untuk menumpahkan (detik).
t5 = Waktu menumpahkan (detik).
t6 = Waktu kembali kosong (detik).

2. Produktivitas Alat Muat dan Alat Angkut


Produktivitas alat angkut dan alat muat dilakukan untuk mengetahui kapasitas
alat muat dan alat angkut dalam suatu operasi penambangan. Hasil yang diperoleh
dapat digunakan untuk membuat suatu rencana produksi penambangan.
a. Produksi Alat Muat (Pm)
Produksi alat muat dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

3.600
Pm = ( ) x Cb x Ff x PA x UA x Sf….................................(3.10)
Ctm
Keterangan :
Pm = Produksi alat muat (BCM/jam).
Ctm = Waktu edar alat muat (detik).
Cb = Kapasitas bucket (m3).
Ff = Fill factor (%).
PA = Kondisi Ketersedian Fisik (Physical availability) (%).

35
UA = Kondisi Pemakaian Ketersediaan (Use of availability) (%).
Sf = Swell factor.

b. Produksi Alat Angkut (Pa)


Produksi alat angkut dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
3.600
Pa = ( ) x n x Ca x Ff x PA x UA x Sf............................... (3.11)
Cta
Keterangan :
Pa = Produksi Alat Angkut (BCM/jam).
Cta = Waktu edar Alat Angkut (detik).
Ca = Kapasitas bucket (m3).
n = Banyaknya pengisian mangkok ke dalam bak Alat Angkut.
Ff = Fill factor (%).
PA = Kondisi Ketersedian Fisik (Physical availability) (%).
UA = Kondisi Pemakaian Ketersediaan (Use of availability) (%).
Sf = Swell factor.
Produksi alat gali muat dan alat angkut dapat dilihat dari kemampuan alat
tersebut ketika dipakai untuk melakukan suatu pekerjaan.

3.7.4. Jumlah Kebutuhan Alat


Cara mendapatkan estimasi jumlah alat yang diperlukan, maka harus
diketahui terlebih dahulu target produksi dan produksi alat sehingga dapat
dirumuskan :
Tp
N= ................................................................................................. (3.12)
P
Keterangan :
N = Jumlah alat (unit).
Tp = Target produksi (ton/jam).
P = Produktivitas alat (ton/jam).
Cara mendapatkan estimasi jumlah alat cadangan yang diperlukan, maka
harus diketahui terlebih dahulu jumlah alat yang bekerja sehingga dapat
dirumuskan :

36
N
Na= …................................................................................(3.13)
MA
Cd= Na – N...............................................................................................(3.14)
Keterangan :
Na = Jumlah alat yang disediakan (unit).
N = Jumlah alat yang bekerja (ton/jam).
Cd = Jumlah alat cadangan
MA = Mechanical Availability (%).

37
BAB IV
HASIL PENELITIAN

Parameter-parameter yang harus diperhatikan agar rancangan yang dibuat


sesuai yang diharapkan yaitu kondisi dan situasi daerah penambangan, keadaan
topografi dan geologi, target produksi, jam kerja efektif, metode penambangan,
dan rencana peralatan mekanis yang akan digunakan. Data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data primer berupa topografi P1B5 dan data sekunder berupa
curah hujan,peta geologi,data bor,peta topografi akhir P1B4
Setiap area penambangan tentunya mempunyai kondisi yang berbeda.
Kondisi ini akan berpengaruh pada cara penambangan suatu endapan bahan galian
. Penentuan teknik pengambilan komoditas bergantung pada kondisi morfologi,
kondisi topografi, kondisi geologi, kondisi iklim, dan sebagainya. Berikut adalah
kondisi daerah penelitian P1B5
1. Kondisi Morfologi dan Topografi
Kondisi Morfologi P1B5 berbentuk perbukitan dan dataran dengan vegetasi
pohon berukuran kecil sehinga pembersihan lahan P1B5 cukup dengan
menggunakan Bulldozer. Berdasarkan kondisi topografi, ketinggian daerah
penelitian berada pada elevasi 63 mdpl sampai dengan 86 mdpl.
2. Kondisi Endapan
Pada P1B5 terdapat 2 seam ( Lapisan batubara) yang dinamai Seam 1 dan
Seam 2 dengan seam 2 sebagai seam key. Seam 1 memiliki ketebalan sekitar 0,6
m-1 m dan seam 2 memiliki ketebalan sekitar 1,3 m-2 m.
3. Kondisi Iklim
Berdasarkan data curah hujan tahun 2009-2019, daerah penelitian beriklim
tropis dengan dua musim dalam setahun, yaitu musim kemarau dan penghujan.
Musim kemarau terjadi pada bulan April sampai dengan bulan September, dan
musim hujan terjadi pada bulan Oktober sampai dengan bulan Maret. Meskipun
kedua musim tersebut tidak selalu datang tepat pada waktunya.

38
4.1. Perhitungan Cadangan Batubara

Permodelan cadangan merupakan suatu pekerjaan yang penting dalam


evaluasi suatu proyek pertambangan minerba (mineral dan batubara). Seluruh
keputusan teknis sangat bergantung pada pekerjaan tersebut. Dalam penelitian ini
permodelan cadangan batubara dilakukan untuk mengetahui volume lapisan tanah
penutup yang harus dibongkar pada P1B5.
Tahapan pertama permodelan adalah menyiapkan basis data komputer
yang bersih. Pengecekan data dimulai setelah semua data dimasukan kedalam
[Link] penelitian ini menggunakan software minescape, data masukan
yang diperlukan adalah peta topografi, data collar,data litologi dan data kualitas
batubara.

4.1.1. Peta Topografi


Pemetaan topografi pada PT. Dewa Ruci Mandiri akan dilakukan saat
dibutuhkan perluasan lahan sehingga banyak area pada peta topografi yang
belum memiliki data (blank topo).
Peta topografi kemudian digunakan dalam software minescape untuk membuat
model topografi. Model topografi ini diperlukan untuk membatasi ekstrapolasi
kadar (dalam batubara digunakan untuk perhitungan SR) kearah vertical. Dapat
dilihat pada Lampiran D.

4.1.2. Data Bor


Data bor pada [Link] Ruci Mandiri sangat terbatas karena keterbatasan unit
yang tersedia. Data bor dari perusahaan, terdiri dari nama lubang bor, koordinat
lubang bor, top depth (kedalaman minimum dari bahan galian) dan bottom depth
(kedalaman maksimum dari bahan galian) dan data kualitas batubara. Dalam
membuat permodelan sumberdaya, data bor masukan yang diperlukan adalah data
collar ,data lithologi,dan data kualitas batubara. Maka perlu dilakukan identifikasi
data bor agar dapat digunakan sebagai data masukan. Untuk mempermudah proses
pemasukan data bor sebagai data masukan, dilakukan perubahan nama lubang bor

39
( perubahan nama lubang bor dapat dilihat pada tabel F.2, lampiran F). Peta
persebaran lubang bor dapat dilihat pada gambar 4.1 .

a) Data Collar
Data collar yang dimaksud adalah data yang berisi informasi koordinat
(easting,northing,dan elevasi surface) dari suatu lubang bor. Data ini digunakan
untuk menunjukan posisi lubang bor pada model topografi. Data ini dapat dilihat
pada tabel 4.1.
Tabel 4.1
Data Collar Hasil Pemboran
HOLE EASTING NORTHING SURFACE DEPTH
b) NAME
BH_03 524121.69 347804.71 74.28 22.23
BH_04 524176.09 347908 74.53 45.05
BH_05 524197.99 347892.64 72.7 6.05
BH_07 524086.7 347871.63 87.46 34.05
BH_08 524152.33 347824.6 83.84 32.7
BH_09 524065.27 347811.81 84.6 17.8
BH_10 524094.89 347751.61 69.16 16
BH_12 524047.63 347803.85 83.82 1

Data Litologi
Data litologi yang dimaksud adalah data yang menunjukan hasil dari core
dari lubang bor. Data litologi terdiri dari nama lubang bor,kode bahan galian,kode
litologi,top depth dan bottom depth. Data Litologi terlampir pada tabel 4.2.

c) Data Kualitas Batubara


Data quality yang dimaksud adalah data kualitas batubara dari tiap
lapisan yang ada pada core. Data quality memberikan informasi tentang kualitas
batubara berupa relative density, index moisture, kadar debu, kadar mineral
pengotor, kadar carbon, kadar sulfur, nilai kalori. Data Quality terdapat pada tabel
4.3.

40
PETA PERSEBARAN LUBANG BOR
P1B5 SITE PANCA AGUNG [Link]
APRIL 2019

Gambar 4.1
Peta Persebaran Lubang Bor

40
Tabel 4.2
Data Litologi Hasil Pemboran

HOLE LITHOLOGI CODE BASE TOP


NAME DEPTH DEPTH
BH_03 W 2 2
BH_03 1 CO 12.5 13.55
BH_03 2 CO 20.7 21.42
BH_03 2 CO 21.65 22.23
BH_04 W 2 2
BH_04 1 CO 3.85 4.15
BH_04 1 CO 4.2 4.8
BH_04 2 CO 36.3 37.3
BH_04 2 CO 42.75 45.05
BH_05 W 2 2
BH_05 1 CO 5.8 6.05
BH_05 1 CO 6.2 6.7
BH_07 W 2 2
BH_07 1 CO 25.15 26.25
BH_07 2 CO 31.9 34.05
BH_08 W 2 2
BH_08 2 CO 31.5 32.7
BH_09 W 2 2
BH_09 1 CO 8.6 9.4
BH_09 2 CO 16.2 17.8
BH_10 W 2 2
BH_10 1 CO 15.45 16
BH12 2 CO 0 1

Keterangan
W : Waste
1 : Seam 1
2 : Seam 2
CO : Coal

41
Tabel 4.3
Data Kualitas Batubara Hasil Pemboran

HOLE LITH TOP BOTT RD IM ASH VM FC TS CV


NAM
E
BH_02 2 37.5 38.77 1.33 15.3 6.3 41.1 37.3 0.64 4854
BH_03 1 12.5 13.55 1.33 14.7 8.4 34.5 42.4 0.52 4982
BH_03 2 20.7 21.42 1.33 15.2 3.1 39 42.7 0.7 4865
BH_03 2 21.65 22.23 1.33 17.4 6.2 38 38.4 0.4 5098
BH_04 1 3.85 4.15 1.33 14.6 5.2 38 42.2 0.74 4675
BH_04 1 4.2 4.8 1.33 16.3 3.9 40.1 39.7 0.41 4997
BH_04 2 36.3 37.3 1.33 16.3 2.6 38.9 42.2 0.61 5054
BH_04 2 42.75 45.05 1.33 16.8 4.8 40 38.4 0.51 4929
BH_06 1 34.09 35.09 1.33 17.8 4.3 42.5 35.4 0.56 5173
BH_06 1 41.2 42.5 1.33 16.3 4.1 37.7 41.9 0.3 4942
BH_07 1 25.15 26.25 1.33 14.6 5.2 38 42.2 0.74 4675
BH_07 2 31.9 34.05 1.33 15.4 2.6 40.6 41.4 0.2 4999
BH_08 2 31.5 32.7 1.33 15.1 5.2 39.6 40.1 0.74 4988
BH_09 1 8.6 9.4 1.33 16.3 4.1 37.7 41.9 0.3 4942
BH_09 2 16.2 17.8 1.33 15.1 5.2 39.6 40.1 0.74 4988
BH_12 2 0 1 1.33 14.3 5.2 39.8 40.7 0.64 4910

KETERANGAN
1. HOLE NAME : Nama Lubang Bor
2. LITH : Lithologi
3. BOTT : Bottom Elevation
4. TOP : Top Elevation
5. RD (Relative Density): Berat Jenis
6. IM (Index Moisture) : Kadar Air
7. ASH : Kadar debu
8. VM : Kadar Mineral Pengotor
9. FC : Kadar Karbon
10. TS : Kadar Sulfur
11. CV : Nilai Kalori

42
4.1.3. Hasil Permodelan Cadangan
Setelah membuat basis data computer yang bersih,kemudian dapat
dilakukan permodelan cadangan batubara. Pada software minescape hasil dari
permodelan cadangan batubara adalah kontur struktur batubara, kontur Stripping
ratio batubara,dan reserve graphics.

4.1.4. Kontur Struktur Batubara


Peta kontur struktur merupakan peta yang menggambarkan kenampakan
persebaran horison (formasi bagian atas) dan atau patahan. Kemiringan horison
atau batuan digambarkan tegak lurus terhadap garis kontur dan jarak antar kontur
akan menunjukkan kemiringan dari horison yang digambarkan. Semakin rapat
jarak kontur maka kemringan horison dalam peta kontur struktur akan semakin
terjal. Peta kontur struktur adalah metode paling efektif dalam menggambarkan
bentukan tiga dimensi dari permukaan horison ke dalam bentuk dua dimensi . Peta
kontur struktur dapat dilihat gambar 4.3 dan 4.4.

4.1.5. Kontur Striping Ratio


Kontur striping ratio adalah kontur yang menyatakan batasan area dengan
striping ratio tertentu. Kontur stripping ratio di dapatkan dengan cara membuat
suatu fungsi expression pada minescape yang merumuskan semua volume
material bukan batubara dibagikan dengan tonase batubara. Peta kontur stripping
ratio terdapat pada gambar 4.5.

4.1.6. Reservegraphic
  Resgraphic adalah suatu menu dalam minescape untuk mengambarkan
nilai-nilai yang berada dalam table menjadi sebuah bentuk grafis gradual-gradasi
warna, resgraphic dapat kita lakukan untuk nilai-nilai SR dan kualitas.
Sebelum dapat membuat resgraphic,area dibagi menjadi beberapa block
dengan ukuran yang sama,dalam penelitian ini ukuran blok adalah 10m x 10 m.

43
area reserve graphic ditentukan dengan cara membuat area yang dibatasi oleh
kontur struktur dan kontur striping ratio.
Hasil dari reserve graphic adalah tonase batubara disetiap blok dan nilai
striping ratio di tiap blok dan nilai striping ratio komulatif dinyatakan dengan
warna,sehingga kita dapat menentukan batas area penambangan (Pit limit)
berdasarkan nilai stripping ratio yang dinyatakan pada peta. Peta reservegraphic
terdapat pada gambar 4.6.

4.1.7. Volume tanah penutup P1B5


Berdasarkan hasil permodelan cadangan batubara dan batasan Stripping
ratio 6, didapatkan batas area penambangan untuk P1B5 dengan luasan 1.71 Ha
mengandung batubara dengan tonase 44.800 ton dan volume tanah penutup yang
harus dibongkar sebesar 275.900 BCM. Data volume lapisan tanah penutup dapat
dilihat pada Lampiran E.

44
Data bor Peta topografi
Dari data
topografi dan data
bor, dapat dibuat
model sumberdaya
Model Sumberdaya

1. Kontur struktur
2. Kontur SR
3. Reservegraphic Model sumberdaya
digunakan sebagai dasar
pembuatan desain yang
sesuai dengan kebutuhan.
Desain Pit Dalam peneliian ini,
dibatasi pada SR 6

Tonase Batubara Volume Lapisan Tanah Penutup


44.800 Ton 275.900 BCM

Gambar 4.2
Tahapan Permodelan Cadangan P1B5.

45
PETA KONTUR STRUKTUR SEAM 1
P1B5 SITE PANCA AGUNG,
[Link]
MEI 2019

Gambar 4.3
Peta Kontur Struktur Seam 1

45
Gambar 4.4
Peta Kontur Struktur Seam 2

46
Gambar 4.5
Peta Kontur Stripping Ratio

47
Gambar 4.6
Peta Reservegraphic

48
4.2. Geometri Penambangan Pit 1 Blok 5

Pada penelitian ini geometri penambangan dibuat berdasarkan rekomendasi


geoteknik dari perusahaan. Berdasarkan rekomendasi perusahaan jenjang hanya
dibuat pada bagian highwall dan sidewall. Pada bagian lowwall tidak dibuat
jenjang.

4.2.1. Dimensi Jenjang Tunggal ( BFA)


Berdasarkan rekomendasi geoteknik tersebut maka dibuat jenjang tunggal
dengan dimensi sebagai berikut. Geometri jenjang yang direkomendasi kan adalah
:
a) Tinggi jenjang (BH) : 10 m
b) Lebar jenjang (BW) :5m
c) Kemiringan jenjang tunggal ( BFA) : 65o

10 m

5m

Gambar 4.7
Dimensi jenjang Tunggal

4.2.2. Dimensi Jenjang Keseluruhan ( OSA )


Pada bagian highwall dan sidewall dibuat 4 jenjang mulai dari elevasi
paling atas sampai pit bottom. maka dimensi jenjang keseluruhan sebagai berikut

50
40 m

Gambar 4.8
Dimensi jenjang keseluruhan

4.2.3. Jalan Tambang


Peran jalan tambang dalam suatu kegiatan penambangan sangat penting.
Pembuatan jalan tambang diperlukan untuk transportasi pengangkutan peralatan
maupun hasil penambangan sehingga proses penambangan dapat berjalan
dengan lancar. Merancang jalan angkut di dalam tambang dilakukan dengan
mempertimbangkan lokasi front penambangan, lokasi pembuangan (waste
dump) dan lokasi penimbunan (Stockpile). Jalan angkut yang berada di dalam
front penambangan akan mengikuti tahapan penambangan yang ada karena
nantinya akan berubah sesuai dengan tahapan penambangan.
1. Lebar Jalan Angkut pada Jalan Lurus
Jalan tambang dirancang untuk dua jalur pengangkutan NISSAN CWE450HD
dengan dimensi lebar jalan angkut direkomendasi adalah minimal 8,75 m (lihat Lampiran
K).

51
2. Lebar Jalan Angkut pada Tikungan
Lebar jalan minimum untuk dua jalur pada tikungan didasarkan pada lebar atau
jarak antar jejak roda kendaraan, lebar tonjolan atau juntai truk bagian depan dan bagian
belakang pada saat menikung. Diperhitungkan pula jarak antar truk pada saat
bersimpangan serta jarak sisi luar truk dari tepi jalan. Dari hasil perhitungan didapatkan
lebar jalan pada tikungan sebesar 11 m. Perhitungan lebar jalan angkut terdapat pada
Lampiran K.

3. Super elevasi.
Superelevasi adalah kemiringan melintang permukaan pada lengkung
horizontal. Superelevasi bertujuan untuk memperoleh komponen berat kendaraan
mekanis untuk mengimbangi gaya sentrifugal. Nilai superelevasi pada tikungan
ialah 0,04 m/m dan lebar jalan angkut pada tikungan dengan asumsi kecepatan
kendaraan pada saat melintas pada tikungan sebesar 25 km/jam, maka didapat
beda tinggi antara tepi jalan bagian luar dengan tepi jalan bagian dalam sebesar
0,44 m . Lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran K
4. Kemiringan Permukaan Jalan Angkut (Cross Slope)
Untuk mengatasi terjadi genangan air pada jalan angkut lurus saat hujan, maka
dilakukan pembuatan cross slope dengan cara membuat bagian tengah jalan lebih tinggi
dari bagian tepi jalan. Besarnya kemiringan jalan dipengaruhi oleh lebar badan jalan,
dimana besarnya 1/4 sampai ½ inchi per feet lebar jalan angkut (20-40 mm/m). Harga
Cross Slope yang diambil adalah 20 mm/m berdasarkan buku Hustrulid, 2013 karena
material permukaan jalan yang dipakai adalah tanah Lempung. Maka, kemiringan
melintang adalah :
P = ½ x 9 m (lebar jalan angkut)
= 4,5 m
Sehingga beda tinggi dibuat :
Q = 4.5 m X 40 mm/m
= 180 mm
= 0,18 m
5. Kemiringan (Grade) Jalan
Kemiringan jalan yang digunakan pada [Link] agar dapat dilalui alat
angkut dengan baik adalah 8%

52
4.3. Kebutuhan alat angkut dan alat muat

4.3.1. Waktu Edar (Cycle Time)


Pengamatan waktu edar alat gali-muat dilakukan pada saat alat muat
berproduksi melayani alat angkut pada front penambangan, waktu yang diperoleh
merupakan waktu edar rata-rata alat dalam melakukan kerja. Waktu edar alat muat
adalah waktu edar rata-rata yang ditempuh oleh alat muat mulai dari waktu untuk
menggali (digging time), waktu berputar dengan muatan (swing load), waktu
menumpahkan muatan ke vessel truck (dumping time), dan waktu berputar tanpa
muatan (swing empty). Waktu edar alat muat untuk overburden dengan jenis alat
muat Komatsu PC400LC adalah 16,84 detik (Lampiran L).
Sedangkan pengamatan waktu edar (cycle time) alat angkut meliputi waktu
mengatur posisi untuk diisi, waktu diisi muatan, waktu travel isi, waktu dumping
material, dan waktu kembali travel kosong. Waktu edar dari alat angkut dengan
jenis alat angkut Nissan CWB450HD adalah; 280,98 detik. (Lampiran M).

4.3.2. Faktor Isian Mangkuk (Bucket Fill Factor)


Faktor pengisian (fill factor) merupakan suatu faktor yang
menunjukkan besarnya kapasitas nyata dengan kapasitas baku dari mangkuk
(bucket) alat muat. Besarnya faktor pengisian untuk alat muat Komatsu
PC400LC adalah 80,84% (Lampiran N).

4.3.3. Efisiensi Kerja


Waktu kerja efektif adalah waktu kerja sesungguhnya untuk melakukan
kegiatan penambangan, karena pada nyatanya tidak semua waktu kerja yang
sudah disediakan oleh perusahaan benar - benar digunakan secara optimal oleh
para operator dan alat yang digunakan untuk beroperasi. Hal ini disebabkan oleh
karena adanya hambatan–hambatan yang berpotensi mengurangi waktu kerja
yang tersedia. Maka harus dilakukan optimasi terhadap waktu kerja efektif
tersebut.
Waktu kerja di PT. Dewa Ruci Mandiri menggunakan sistem long shift. Waktu
kerja dimulai dari pukul 07.00 sampai dengan pukul 18.00 dengan waktu istirahat
1 jam pada pukul 12.00 – 13.00. Waktu kerja efektif yang digunakan alat muat

53
dari total jam kerja yang disediakan adalah 374,48 menit/hari sedangkan alat
angkut 379,28 menit/hari. Dari waktu kerja efektif yang digunakan, dapat
dihitung efisiensi kerja alat muat adalah 63,30% dan alat angkut 64,28%. Lebih
Lengkap terlampir pada Lampiran B.
Tabel 4.4
Jadwal Waktu Kerja PT. Dewa Ruci Mandiri
Selain hari jum’at Hari jum’at

Kegiatan Waktu Waktu kerja Waktu Waktu kerja


(jam) (jam) jam (jam)

07.00 - 07.00 -
Kerja produktif 5 5
12.00 12.00
12.00 - 12.00 -
Istirahat 1 1.5
13.00 13.30
13.00 - 13.30-
Kerja produktif 5 4.5
18.00 18.00
11 11

4.3.3. Ketersediaan Alat ( Factor Availability)


Ketersediaan alat digunakan untuk menghitung kemampuan alat berat
yang digunakan untuk kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup pada P1B5.
Ketersediaan alat yang dihitung adalah Mechanical Availability sebesar 83,59 %
untuk alat muat dan 86.51% untuk alat angkut. Physical Availability sebesar
87,08% untuk alat muat dan 89,46%. Used of Availability alat yang digunakan
sebesar 75,74% untuk alat muat dan 76,39% untuk alat angkut. Efective
Utilization alat muat sebesar 65,95% dan alat angkut sebesar 68,34%. Perhitungan
ketersediaan alat dapat dilihat pada lampiran P.

4.3.4. Produksi Alat Muat dan Alat Angkut


Kemampuan produksi alat muat dan alat angkut pada kegiatan
penambangan ini dapat diketahui dengan melakukan perhitungan dari masing-
masing rangkaian kerja yang telah ditetapkan. Data kemampuan produksi alat
muat dan alat angkut dalam kegiatan pembongkaran, pemuatan dan pengangkutan

54
saat ini diperoleh dari pengamatan seperti waktu edar alat, kapasitas bucket alat
muat dan kapasitas bak alat angkut, bucket fill factor dan efisiensi kerja.
a) Produksi Alat Muat
Kegiatan pembongkaran dan pemuatan overburden dilakukan dengan
menggunakan alat muat Komatsu PC400LC. Produksi alat muat aktual Komatsu
PC400LC sebesar 251,16 BCM/jam. Perhitungan produktifitas alat muat dapat
dilihat pada Lampiran Q.
b) Produksi Alat Angkut
Kegiatan pengangkutan material overburden dilakukan dengan
menggunakan alat angkut Nissan CWB450HD. Produksi alat angkut Nissan
CWB450HD ( 5 Unit ) sebesar 229,28 BCM/jam. Pada Lampiran R dapat dilihat
perhitungan Produktifitas alat angkut.

4.3.5. Keserasian Kerja (Match Factor)


Match factor merupakan keserasian kerja antara alat muat dengan alat
angkut. Nilai keserasian kerja setiap rangkaian kerja peralatan mekanis yang
digunakan ditentukan berdasarkan data waktu edar dan jumlah peralatan
mekanis yang digunakan dalam setiap rangkaian kerja tersebut.
Berdasarkan data hasil pengamatan waktu edar dan jumlah alat yang
digunakan, maka besarnya harga faktor keserasian kerja alat muat dan alat
angkut adalah 0,89 dengan waktu edar backhoe Komatsu PC400LC sebesar
16,84 detik dan banyak curah 3 kali, serta waktu edar dump truck Komatsu
HD785-7 sebesar 280,98 detik. Perhitungan rinci dapat dilihat pada Lampiran
R.

4.4. Penjadwalan produksi lapisan tanah penutup

Penjadwalan produksi untuk pembongkaran lapisan tanah penutup pada


P1B5 dijadwalkan dimulai tanggal 15 mei 2019 dengan target produksi 150.000
BCM. Dengan kapasitas alat angkut yang tersedia, maka kegiatan pembongkaran
dikerjakan oleh 3 alat muat dan setiap alat muat dilayani 5 unit alat angkut.
Berdasarkan kapasitas produksi alat muat dan alat angkut, kegiatan
penambangan belum mencapai target produksi 150.000 BCM/bulan.

55
Penyebabnya adalah banyaknya hari libur yang menghambat kegiatan
penambangan pada P1B5. Dapat dilihat pada Lampiran B, maka untuk memenuhi
target produksi lapisan tanah penutup perlu ditambahkan jam kerja atau lembur.

Tabel 4.5
Rencana Pengupasan Lapisan Tanah Penutup P1B5
Periode Pengupasan Volume Lapisan Yang Dikupas
(Bcm)
15 April2019 - 15 Mei 2019 112.741
16 Mei 2019 – 16 Juni 2019 114.604

56
BAB V
PEMBAHASAN

Perancangan tambang pada awal penambangan akan berpengaruh secara


keseluruhan pada proses penambangan. Perancangan yang baik dalam suatu
kegiatan penambangan harus memperhatikan tahapan kelanjutan dari kegiatan
yang akan dilakukan, baik dalam perencanaan jangka pendek maupun jangka
panjang. Desain pushback penambangan mengacu pada sasaran produksi dan
rekomendasi geoteknik, sehingga hasil perancangan yang dilakukan dapat
mendekati sasaran produksi dan keamanan jenjang kerja yang direncanakan.

Penelitian ini dilakukan pada Pit 1 Blok 5 (P1B5) site Panca Agung, PT.
Dewa Ruci Mandiri ([Link]). Penelitian ini membahas tentang rancangan
teknis pengupasan lapisan tanah penutup yang meliputi menghitung volume
lapisan tanah penutup dan tonase batubara yang tersedia, merancang desain pit
penambangan P1B5 sesuai dengan batasan rekomendasi geoteknik dan Stripping
ratio yang di tentukan, merancang geometri jalan angkut yang sesuai dengan alat
yang tersedia, menentukan kebutuhan alat muat dan alat angkut yang dibutuhkan,
membuat penjadwalan produksi lapisan tanah penutup sesuai dengan target
produksi yang sudah di tentukan oleh [Link]

5.1. Volume Lapisan Tanah Penutup

Jumlah material yang akan di bongkar sangat perting untuk diketahui


dalam membuat suatu rancangan penambangan. Berdasarkan informasi jumlah
material, kita dapat mengetahui umur tambang tersebut, dan juga dapat
menjadwalkan kegiatan penambangan pada area tersebut.

Pada penelitan ini, material yang diamati adalah lapisan tanah penutup
batubara. Maka untuk mengetahui volume lapisan tanah penutup batu bara
diperlukan permodelan cadangan yang dibuat dengan menggunakan software

57
minescape. Permodelan cadangan menggunakan minescape membutuhkan data
masukan peta topografi, data bor. Data bor yang dibutuhkan untuk melakukan
permodelan cadangan menggunakan minescape terdiri atas 3 data yaitu data
survey,data litologi dan data kualitas batubara. Maka perlu dilakukan
identifikasi data bor untuk membuat basis data yang sesuai dengan data yang
dibutuhkan perangkat lunak Minescape.
Hasil dari permodelan cadangan adalah terdapat 2 seam batubara yaitu
seam 1 dengan ketebalan 0,6 m-1 m, seam 2 dengan ketebalan 1,3 m-2,3 m.
maka pada P1B5 dengan batasan SR 6 maka didapatkan cadangan batubara pada
P1B5 adalah 44.800 ton dan volume tanah penutup 275.900 BCM. Dari volume
lapisan tanah penutup pada P1B5 kita dapat mengetahui umur tambangnya.
Dengan jumlah volume 275.900 BCM dan target produksi 150.000 BCM/bulan
maka P1B5 akan selesai di tambang selama 2 bulan. Maka diperlukan area blok
baru untuk perluasan penambangan agar kegiatan penambangan dapat dilakukan
di blok selanjutnya. Perhitungan volume lapisan tanah penutup dapat diihat pada
Lampiran J

5.2. Rancangan Penambangan

Sistem penambangan yang digunakan yaitu sistem tambang terbuka


dengan metode Strip mine. Keadaan topografi daerah penelitian adalah berbentuk
bukit landai dengan elevasi tertinggi 86 mdpl dan kemiringan lereng 20º - 40
º.Cadangan batubara di daerah penelitian tertutup top soil dan overburden berupa
claystone
Metode penambangan batubara dengan metode Strip mine tersebut
digunakan atas dasar sebagai berikut :
a. perlapisan batubara relative mendatar
b. kemiringan relative mendatar,kedalaman bahan galian relatif kecil

5.2.1. Rancangan Geometri Jenjang


Rancangan geometri jenjang dibuat berdasarkan pada rekomendasi
geoteknik. Tinggi dan sudut lereng yang diterapkan harus disesuaikan dengan
jenis lapisan batuan yang ada pada daerah penelitian. Perusahaan menetapkan
geometri jenjang yang digunakan adalah tinggi jenjang 10 m, lebar jenjang 5 m,

58
kemiringan jenjang tunggal 65o, dan kemiringan jenjang keseluruhan yang terdiri
dari 4 jenjang adalah 50o

5.2.2. Rancangan Jalan Tambang


Peranan jalan tambang dalam suatu kegiatan penambangan sangat penting,
sehingga desain jalan tambang sangat menunjang kegiatan penambangan serta
untuk mempermudah kegiatan penambangan dalam hal kegiatan pengangkutan
material hasil penambangan.. Lebar jalan tambang minimum diperoleh dari lebar
alat angkut yang digunakan dan jumlah jalur yang akan digunakan. Perhitungan
geometri jalan angkut menggunakan pedoman ukuran dumptruck type Nissan
CWB450 yang memliki lebar 2,5 meter.
Jalan tambang yang direncanakan akan menggunakan dua jalur.
Berdasarkan perhitungan lebar jalan tambang pada jalan lurus adalah 8,75 m.
Sedangkan lebar jalan tambang pada tikungan 15,6 m. Lebar jalan tambang pada
tingkungan selalu lebih besar dibandingkan lebar jalan lurus. Dengan lebar jalan
minimum di peroleh besaran nilai cross slope yang digunakan adalah sebesar 175
mm dan nilai superelevasi yang digunakan merupakan harga maksimum yaitu 4%
atau 40 mm/m didapatkan hasil 0,62 m. Kemiringan jalan didasarkan oleh
kemampuan alat untuk menanjak serta peraturan yang berlaku. Kemiringan jalan
tambang yang digunakan sebesar 8%. Pada Lampiran K dapat dilihat perhitungan
geometri jalan angkut yang digunakan.

[Link] Peralatan Tambang

Untuk dapat menghitung produktifitas alat muat dan alat angkut yang akan
digunakan, dibutuhkan data waktu edar, faktor isian, swell faktor, dan efisiensi
kerja.
Waktu edar alat muat adalah total waktu yang dibutuhkan alat muat untuk
memuat lapisan tanah penutup mulai dari menggali, berputar dengan muatan,
menumpahkan muatan ke vessel truck, dan berputar kembali tanpa muatan. Waktu
edar alat muat Komatsu PC400LC adalah 16,84 detik. Perhitungan waktu edar
alat muat dapat dilihat pada Lampiran L. Sedangkan waktu edar alat angkut
adalah waktu total alat angkut mulai dari mengatur posisi untuk diisi oleh alat

59
muat, waktu diisi muatan, waktu membawa muatan, waktu untuk menumpahkan
muatan dan waktu kembali tanpa muatan. Waktu edar alat angkut Nissan
CWB450HD adalah 280,98 detik (Lampiran M).
Faktor pengisian dari alat muat Komatsu PC-400 adalah sebesar 80,84 %,
Swell Factor material tanah penutup di lokasi penelitian adalah 80%.
Berdasarkan pengamatan, rata rata total waktu bekerja yang tersedia
adalah 587,14 menit per hari, hambatan untuk alat muat bekerja adalah 200 menit/
hari, untuk alat angkut adalah 186 menit perhari, sehingga dapat di hitung waktu
kerja efektif alat muat adala 387,14 menit perhari sedangkan alat angkut 400,14
menit perhari. Dari total waktu yang tersedia untuk bekerja, terdapat waktu
perbaikan alat, waktu stand by yang dapat digunakan untuk menghitung
ketersediaan alat. Waktu perbaikan alat untuk alat muat adalah 76 menit
sedangkan waktu perbaikan untuk alat angkut adalah 62,53 menit, waktu stand by
alat muat adalah 124 menit dan alat angkut 124 menit. Dari waktu perbaikan alat
dapat dihitung mechanical availability (MA) alat muat sebesar 83,59 % dan alat
angkut sebesar 85,65 %. Dari waktu standby dapat dihitung physical availability
(PA) alat muat sebesar 87,08 % dan untuk alat angkut 89,46 %. Used of
availability (UA) dari alat muat sebesar 76,74 % dan alat angkut sebesar 76,39 %.
Nilai PA dan UA dapat digunakan untuk menghitung faktor yang menunjukan
waktu alat benar benar dipakai bekerja dari total waktu kerja yang tersedia atau
Effective utilization ( EU). Nilai EU untuk alat angkut sebesa 65,95 % dan alat
angkut sebesar 68,34 %. Perhitungan MA,PA,UA, dan EU dapat dilihat pada
lampiran P.
Setelah menghitung faktor ketersediaan alat ( MA, PA, UA dan EU ),
produktifitas alat muat dan angkut dapat dihitung. Produktifitas alat muat adalah
251,16 BCM/ jam dan alat angkut 45,85 BCM/ jam. Berdasarkan kapasitas
produksi alat muat dan alat angkut maka untuk setiap 1 unit alat muat Excavator
Komatsu PC-400 dipasangkan 5 unit alat angkut Nissan CWB450 dengan faktor
keserasian 0,89.

60
[Link] Produksi

Pada penelitian ini penjadwalan produksi yang di lakukan hanya untuk


kegiatan perngupasan lapisan tanah penutup. Penjadwalan produksi yang
direncanakan setiap bulan dengan sasaran produksi 150.000 BCM/bulan.
Kegiatan penambangan pada P1B5 dimulai tanggal 15 April 2019, maka kegiatan
pertambangan terhambat oleh adanya bulan puasa. Banyaknya hari libur yang
menghambat kegiatan pertambangan pada P1B5 akan menyebabkan target
produksi bulanan tidak tercapai. Maka perlu adanya penambahan jam kerja berupa
lembur untuk mencapai target produksi yang telah ditentukan.

1. Periode 1 (15 April -15 Mei)


Bulan puasa 2019 dimulai tanggal 5 Mei 2019 - 4 Juni 2019, maka untuk
penambangan pada periode terjadi pengurangan jam kerja yaitu saat bulan puasa
normal shift selesai satu jam lebih awal untuk buka puasan. Dan hasil yang
didapatkan adalah 112.741 BCM. Karena masih jauh dari target produksi bulanan,
maka dibutuhkan overtime untuk memenuhi target 150.000 BCM/bulan. Dari
overtime didapatkan tambahan produksi sebesar 46.353 BCM. Setelah adanya
penambahan lembur, target produksi periode pertama dapat terpenuhi

2. Periode 2 (16 Mei -16 Juni)


Pada periode 2 terdapat libur lebaran, perusahaan menetapkan hari libur cuti
bersama dari H-3 sampai H+3 lebaran. Sehingga kegiatan operasional berhenti
selama 7 hari. Sisa volume tanah penutup yang perlu dibongkar adalah 114.604
BCM. Hasil dari penjadwala produksi adalah 87.051 BCM ditambah dengan
35.237 BCM sampai akhir periode ke-2.

Tabel 5.1
Rencana Pengupasan Lapisan Tanah Penutup P1B5
Volume Lapisan yang Dikupas
Periode Penambangan
Jam Kerja Normal Lembur
15 April 2019-15 Mei 2019 112.741 46.353
16 Mei 2019 – 16 Juni 2019 114.604 35.237

61
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan dari pembahasan pada bab V dapat diambil kesimpulan dan


saran sebagai berikut:
[Link]

1. Berdasarkan permodelan cadangan batubara, didapatkan jumlah cadangan


batubara pada Pit 1 Blok 5 dengan batasan stripping ratio 6 sebesar
44.800 ton batubara dan volume tanah penutup yang harus dibongkar
sebesar 275.900 BCM.
2. Geometri penambangan pada P1B5 yang digunakan sesuai dengan
rekomendasi geoteknik dari perusahaan. Pada P1B5 dengan luas area 1,71
ha dibuat jenjang pada highwall dan side wall dengan tinggi jenjang
tunggal sebesai 10 m,dan lebar jenjang sebesar 5 m dan kemiringan 65o.
Pada P1B5 dibuat jenjang sampai pit bottom sebanyak 4 jenjang. Maka
didapatkan kemiringan jenjang keseluruhan (overall slope angle) sebesar
500. Untuk mendukung kegitan penambangan maka dibuat jalan angkut
menuju disposal dengan lebar jalan angkut ditentukan berdasarkan dimensi
dump truck DT Nissan CWB Type 450 HDN dengan lebar 2,5 meter, lebar
minimum pada jalan lurus yaitu 8,75 meter dan pada tikungan lebar jalan
minimum sebesar 11 m. nilai cros slope yang digunakan adalah 40 mm/m
dari lebar jalan angkut pada jalan lurus dan didapat beda tinggi sebesar
0,175 m. Kemiringan jalan angkut menggunakan grade sebesar 8%
sehingga didapatkan jarak jalan miring yaitu 80 m setiap kenaikan elevasi
10 m.
3. Kebutuhan alat muat untuk kegiatan penambangan yaitu 3 (tiga) unit
Excavator Backhoe Komatsu PC-400. Sedangkan kebutuhan alat angkut
untuk kegiatan penambangan yaitu sebanyak 15 Nissan CWB450HD

62
4. Penjadwalan produksi dengan jam kerja normal tidak dapat memenuhi
target produksi bulanan sebesar 150.000 BCM. Ini diakibatkan oleh
pengurangan jam kerja saat bulan puasa sehingga produksi perhari
berkurang. Maka dibutuhkan pernambahan jam kerja berupa lembur.
Setelah penambahan jam kerja maka target produksi dapat terpenuhi. Pada
periode satu untuk jam kerja normal didapatkan 112.471 BCM dan dari
jam lembur didapatkan tambahan produksi overburden sebesar 46.353
BCM. Kemudian pada periode dua sisa volume lapisan tanah penutup
yang harus dibongkar adalah 114.604 BCM, dan hasil penjadwalan
produksi didapatkan 87.501 BCM pada jam kerja normal dan tambahan
35.327 BCM dari jam lembur

6.2. Saran

Dalam rangka optimalisasi pelaksanaan kemajuan penggalian yang telah


dibuat, maka perlu dilakukan:
1. Agar terpenuhinya target produksi sebesar 150.000 ton/tahun ,perlu
dilakukan pengawasan pada saat pelaksanaan kegiatan penambangan,
sehingga penambangan sesuai dengan desain/rancangan.
2. Dimensi pit sangat memengaruhi kemampuan produksi dari alat gerak, jika
pit terlalu sempit maka alat berat sulit bergerak dengan leluasa sehingga
menghambat produksi.

63
DAFTAR PUSTAKA

1. Achmad, Z., dan Samuel, L, 1984. Stratigraphy and Depositional Cycles in


the N.E. Kalimantan Basin, Proceedings of Indonesian Petroleum Association
13th Annual Convention, Vol. 1,.Jakarta.
2. Amirudin, H. S., dan Satrianas D, 1995, Peta Geologi Lembar Tarakan dan
Sebatik, Kalimantan, Bandung, Indonesia, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi.
3. Bargawa ,W.S. 2018, Perencanaan Tambang. Yogyakarta: Program Studi
Teknik Pertambangan, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”
Yogyakarta.
4. Basuki M., Iriawan S. A., Sari A. S., Pemodelan Perhitungan Cadangan
Batubara Dengan Perangkat Lunak Pada PT. Mitra Abadi Mahakam
Provinsi Kalimantan Selatan, Surabaya, Indonesia, Institut Teknologi Adit
Tama Surabaya.
5. Blom , M. 2018, Short- Term Planning for Open Pit Mines .Parkville,
Australia :The University of Melbourne.
6. Chioronis, Nicholas P, 1987, Coal Age Operating Handbook of Coal Surface
Mining and Reclamation, Vol. 2, Mc Graw-Hill, Inc, New York,.
7. Degladen ,K. 2001, Open Pit Optimization – Strategies for Improving
Economics of Mining Project Through Mine Planning, Colorado, USA,
Colorado School of Mine.
8. Gupta S., Mohammadi M., Rai P., 2015, Performance Measurement of Mining
Equipment, International Journal of Emerging Technology and Advanced
Engineering.
9. Harisson R. M., Hester R. M., 2018, Coal in 21st Century : Energy Needs,
Chemicals and Enviromental Control, Royal of Chemistry, UK.
10. Hustrulid W, dan Kuchta M. 2013. Open Pit Mine Planning & Design
Volume 3, A.A. Balkema/Rotterdam/Brookfield.
11. Indonesianto ,Yanto. 2014. Pemindahan Tanah [Link]:
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.

64
12. Kaufman, W and Ault, J.C, 1977, Design of Mine Surface Haulage. Amerika:
United States Department of The Interior, Bureau of Mine, United States of
America.

13. Osanloo M, dan Rahmanpour M, 2016, Resilient Decision Making in Open


Pit Short-term Production Planning in Presence of Geologic Uncertainty,
Tehran, Iran, International Journal of Engineering.
14. Morales, N, Parra A ,Pennard N, dkk, 2017, Open pit mine planning
considering geomechanical fundamentals, Satiago, Chille, Interational
Journal of Mining, Reclamation, and Enviroment.
15. Tannant, Dwayne D. And Bruce Regensburg, 2001. Guidelines for Mine Haul
Road Design, Scool of Engineering University of British Columbia.

16. Supratman O, 2018, Penambangan Modul 1: Penambangan Terbuka, Ppg


Dalam Jabatan Kementerian Riset, Teknologi Dan Pendidikan Tinggi.

17. ________.[Link] Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral


Republik Indonesia Nomor 1827 K/30/MEM tentang Pedoman Pengelolaan
Teknis Pertambangan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik
Indonesia.
18. ________.2015. Komatsu PC400/LC-8MO .Japan :Komatsu.
19. ________.2006. NISSAN CWE450HDN. Japan : Nissan.

20. ________.[Link] 13-6011-1999. Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan


Batubara. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.

21. ________.[Link] Kode-KCMI 13-4726-2011. Klasifikasi Sumberdaya


Mineral dan Cadangan. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.

65
LAMPIRAN

66
LAMPIRAN A
SPESIFIKASI ALAT MUAT

Spesifikasi Excavator Komatsu PC 400-LC

1. Merk dan Model : Komatsu SAA6D125E-5


2. Engine Output : 345 HP / 257 kW at 1.900 rpm
3. Kapasitas Bucket : 2,87 m3
4. Berat : 47 ton

Gambar B.1
Dimensi Komatsu PC 400-LC

67
LAMPIRAN B
SPESIFIKASI ALAT ANGKUT

Spesifikasi Dump Truck Nissan CWB450HD

5. Merk dan Model : Nissan Diesel Motor, PF6TA Diesel Engine


6. Engine Output : 235 kW at 1.200 rpm
7. Bore x Stroke : 133 x 150 mm

Gambar C.1
Dimensi Nissan CWB450HD

68
LAMPIRAN C
PETA TOPOGRAFI

69
PETA TOPOGRAFI P1B5
SITE PANCA AGUNG
[Link]
APRIL 2019

70
LAMPIRAN D
Data Hasil Pemboran

71
Tabel F.1
Data Hasil Pemboran

Drillhole name Top Depth Bot Depth Thick Strata name


A1_INFILL 25.00 25.60 0.60 COAL
A2_INFILL 28.50 29.06 0.56 COAL
A2_INFILL 37.50 38.77 1.27 COAL
B1 12.50 13.55 1.05 COAL
B1 20.70 21.42 0.72 COAL
B1 21.65 22.23 0.58 COAL
B1 25.55 25.90 0.35 COAL
RIG01_D008R 3.85 4.15 0.30 COAL
RIG01_D008R 4.20 4.80 0.60 COAL
RIG01_D008R 36.30 37.30 1.00 COAL
RIG01_D008R 42.75 45.05 2.30 COAL
RIG01_D009 5.80 6.05 0.25 COAL
RIG01_D009 6.20 6.70 0.50 COAL
RIG01_D010 34.09 35.09 1.00 COAL
RIG01_D010 41.20 42.50 1.30 COAL
RIG01_D011 29.50 29.50 0.00 COAL
RIG01_EXT_04 25.15 26.25 1.10 COAL
RIG01_EXT_04 31.90 34.05 2.15 COAL
RIG01_EXT_05 31.50 32.70 1.20 COAL
RIG01_EXT_06 8.60 9.40 0.80 COAL
RIG01_EXT_06 16.20 17.80 1.60 COAL
RIG01_EXT_07 15.45 16.00 0.55 COAL
RIG2_EOR02 0.65 0.95 0.30 COAL
RIG2_EOR02 7.25 9.05 1.80 COAL
RIG2_EOR02 12.60 13.30 0.70 COAL
RIG2_EOR02 13.55 13.65 0.10 COAL
RIG2_EOR02 21.60 22.00 0.40 COAL
TESTPIT 0.00 1.00 1.00 COAL

72
Tabel F.2
Nama Basis Data Lubang bor

DRILL HOLE BASIS


NAME NAME
A1_INFILL BH_01
A2_INFILL BH_02
B1 BH_03
RIG01_D008R BH_04
RIG01_D009 BH_05
RIG01_D010 BH_06
RIG01_EXT_04 BH_07
RIG01_EXT_05 BH_08
RIG01_EXT_06 BH_09
RIG01_EXT_07 BH_10
RIG2_EOR02 BH_11
TESTPIT BH_12

Tabel F.3
Data Collar Hasil Pemboran
HOLE EASTING NORTHING SURFACE DEPTH
NAME
BH_03 524121.69 347804.71 74.28 22.23
BH_04 524176.09 347908 74.53 45.05
BH_05 524197.99 347892.64 72.7 6.05
BH_07 524086.7 347871.63 87.46 34.05
BH_08 524152.33 347824.6 83.84 32.7
BH_09 524065.27 347811.81 84.6 17.8
BH_10 524094.89 347751.61 69.16 16
BH_12 524047.63 347803.85 83.82 1

73
Tabel F.5
Data Kualitas Batubara Hasil Pemboran

HOLE LITH TOP BOTT RD IM ASH VM FC TS CV


NAM
E
BH_02 2 37.5 38.77 1.3 15.3 6.3 41. 37. 0.64 4854
3 1 3
BH_03 1 12.5 13.55 1.3 14.7 8.4 34. 42. 0.52 4982
3 5 4
BH_03 2 20.7 21.42 1.3 15.2 3.1 39 42. 0.7 4865
3 7
BH_03 2 21.65 22.23 1.3 17.4 6.2 38 38. 0.4 5098
3 4
BH_04 1 3.85 4.15 1.3 14.6 5.2 38 42. 0.74 4675
3 2
BH_04 1 4.2 4.8 1.3 16.3 3.9 40. 39. 0.41 4997
3 1 7
BH_04 2 36.3 37.3 1.3 16.3 2.6 38. 42. 0.61 5054
3 9 2
BH_04 2 42.75 45.05 1.3 16.8 4.8 40 38. 0.51 4929
3 4
BH_06 1 34.09 35.09 1.3 17.8 4.3 42. 35. 0.56 5173
3 5 4
BH_06 1 41.2 42.5 1.3 16.3 4.1 37. 41. 0.3 4942
3 7 9
BH_07 1 25.15 26.25 1.3 14.6 5.2 38 42. 0.74 4675
3 2
BH_07 2 31.9 34.05 1.3 15.4 2.6 40. 41. 0.2 4999
3 6 4
BH_08 2 31.5 32.7 1.3 15.1 5.2 39. 40. 0.74 4988
3 6 1
BH_09 1 8.6 9.4 1.3 16.3 4.1 37. 41. 0.3 4942
3 7 9
BH_09 2 16.2 17.8 1.3 15.1 5.2 39. 40. 0.74 4988
3 6 1
BH_12 2 0 1 1.3 14.3 5.2 39. 40. 0.64 4910
3 8 7

KETERANGAN
12. HOLE NAME : Nama Lubang Bor
13. LITH : Lithologi
14. BOTT : Bottom Elevation
15. TOP : Top Elevation
16. RD (Relative Density): Berat Jenis

74
17. IM (Index Moisture) : Kadar Air
18. ASH : Kadar debu
19. VM : Kadar Mineral Pengotor
20. FC : Kadar Karbon
21. TS : Kadar Sulfur
22. CV : Nilai Kalori

75
Tabel F.4
Data Litologi Hasil Pemboran
HOLE LITHOLOGI CODE BASE TOP
NAME DEPTH DEPTH
BH_03 W 2 2
BH_03 1 CO 12.5 13.55
BH_03 2 CO 20.7 21.42
BH_03 2 CO 21.65 22.23
BH_04 W 2 2
BH_04 1 CO 3.85 4.15
BH_04 1 CO 4.2 4.8
BH_04 2 CO 36.3 37.3
BH_04 2 CO 42.75 45.05
BH_05 W 2 2
BH_05 1 CO 5.8 6.05
BH_05 1 CO 6.2 6.7
BH_07 W 2 2
BH_07 1 CO 25.15 26.25
BH_07 2 CO 31.9 34.05
BH_08 W 2 2
BH_08 2 CO 31.5 32.7
BH_09 W 2 2
BH_09 1 CO 8.6 9.4
BH_09 2 CO 16.2 17.8
BH_10 W 2 2
BH_10 1 CO 15.45 16
BH12 2 CO 0 1

Keterangan
W : Waste
1 : Seam 1
2 : Seam 2
CO : Coal

76
LAMPIRAN E
PERHITUNGAN VOLUME LAPISAN TANAH PENUTUP

Perhitungan volume lapisan tanah penutup dilakukan tiap blok tiap elevasi dengan
pertimbangan kemajuan tambang dari selatan ke utara. Perhitungan volume
lapisan tanah penutup dihitung berdasarkan hasil komputasi dari software
minescape. Data yang disajikan dari hasil komputasi minicape adalah jumlah
volume waste, tonase batubara dan elevasi dari setiap blok. Pada lampiran ini
akan dilampirkan contoh perhitungan lapisan tanah penutup pada blok 2

Tabel J.1
Data Res_Solid Blok 2

SOLIDNAME SEAM BURDEN TOTALVOLUME MASS TRUEVERTTHK


ELEVATION
SOL_B02S04 1 TOPO_ORIG 0.011037413 0.01655612 80
SOL_B02S04 2 1 0.033932596 0.050898895 70
SOL_B02S04 2 TOPO_ORIG 0.332259432 0.498389148 70
SOL_B02S04 2 UNDERBURDEN 0.000995641 0.001493461 70
SOL_B02S04 UNASSIGNED
TOPO_ORIG 0.002664781 0.003997171 70
SOL_B02S05 1 TOPO_ORIG 0.601519598 0.902279397 70
SOL_B02S05 2 1 0.789732353 1.18459853 70
SOL_B02S05 2 TOPO_ORIG 0.007431496 0.011147245 70
SOL_B02S05 2 UNDERBURDEN 0.003491711 0.005237567 70
SOL_B02S06 1 TOPO_ORIG 2.009082534 3.0136238 70
SOL_B02S06 2 1 0.860255205 1.290382808 70
SOL_B02S06 2 UNDERBURDEN 0.004455118 0.006682677 60
SOL_B02S07 1 TOPO_ORIG 3.410743183 5.116114774 70
SOL_B02S07 2 1 0.911216828 1.366825242 60
SOL_B02S07 2 UNDERBURDEN 0.004062734 0.006094102 60
SOL_B02S08 1 TOPO_ORIG 4.438967417 6.658451125 70
SOL_B02S08 2 1 0.955928145 1.433892217 60
SOL_B02S08 2 UNDERBURDEN 0.003933805 0.005900707 60
SOL_B02S09 1 TOPO_ORIG 5.078562883 7.617844324 70
SOL_B02S09 2 1 0.98186537 1.472798054 60
SOL_B02S09 2 UNDERBURDEN 0.004166356 0.006249534 50
SOL_B02S10 1 TOPO_ORIG 5.347245166 8.020867748 60
SOL_B02S10 2 1 0.984664024 1.476996036 50
SOL_B02S10 2 UNDERBURDEN 0.003685477 0.005528215 50
SOL_B02S11 1 TOPO_ORIG 4.41714488 6.62571732 60
SOL_B02S11 2 1 0.918421249 1.377631874 50
SOL_B02S11 2 TOPO_ORIG 1.342426778 2.013640166 70
SOL_B02S11 2 UNDERBURDEN 0.003654697 0.005482046 50
SOL_B02S12 2 TOPO_ORIG 6.525752691 9.788629037 60

77
Dari data Res_Solid yang diperoleh dari komputasi minescape, maka dapat
dihitung jumlah volume lapisan tanah penutup pada blok 2 untuk tiap strip dan
tiap elevasi

Tabel J.2
Hasil Perhitungan Volume Tanah Penutup pada Blok 2
ELEVASI S04 S05 S06 S07 S08 S09 S10 S11 S12 Total
80 0.011037 0 0 0 0 0 0 0 0 0.011037
70 0.369852 1.402175159 2.869337739 3.410743183 4.438967 0 0 0 0 12.49108
60 0.004455118 0.915279562 0.959862 5.078563 5.347245 4.417145 0 16.72255
50 0 0 0 0 0 0.986032 0.98835 2.264503 6.525753 10.76464
40 0 0 0 0 0 0 0 0 0.003161 0.003161
subtotal 0.38089 1.402175159 2.873792857 4.326022745 5.398829 6.064595 6.335595 6.681648 6.528914 39.99246

Tabel J.3
Volume waste tiap blok

TOTAL VOLUME WASTE TIAP BLOK


NAMA BLOK VOLUME WASTE (BCM)
BLOK 2 39.99246081
BLOK 3 18.20032978
BLOK 4 18.75208607
BLOK 5 13.35805246
BLOK 6 16.99001088
BLOK 7 18.45335984
BLOK 8 15.76375084
BLOK 9 15.20128054
BLOK 10 15.51145257
BLOK 11 16.54195914
BLOK 12 16.79787896
BLOK 13 15.97351661
BLOK 14 14.53219732
BLOK 15 13.32125335
BLOK 16 12.08624506
BLOK 17 13.852866
SUBTOTAL 275.3287002

78
LAMPIRAN F
PERHITUNGAN GEOMETRI JALAN ANGKUT

Salah satu sarana terpenting dalam kegiatan operasi penambangan adalah


keberadaan dan kondisi jalan tambang. Dikatakan penting karena jalan tambang
yang dimaksud di sini adalah jalan yang menghubungkan antara lokasi
penambangan dengan crusher. Melihat fungsi penting dari jalan tambang, maka
secara umum jalan tambang harus memenuhi syarat-syarat seperti, jalan harus
mampu menahan berat alat angkut dan muatan yang melaluinya dan kemiringan
jalan tidak banyak mempengaruhi produktivitas alat mekanis dan tidak
membahayakan.

Dengan terpenuhinya syarat dari jalan angkut diharapkan mobilitas jalan


angkut dan keselamatan alat mekanis akan terjamin, sehingga kerusakan atau
kecelakaan dapat diminimalisasi. Di dalam perhitungan jalan angkut ada beberapa
geometri yang perlu diperhatikan, salah satunya adalah lebar jalan angkut yang
berpengaruh terhadap keleluasaan alat angkut dalam beroperasi. Semua
perhitungan geometri jalan tambang dilakukan berdasarkan dimensi alaat angkut
yang dianggap paling besar yang digunakan, yaitu dump truck CWB450HD. Lebar
jalan angkut minimum yang diperlukan dapat dihitung dengan menggunakan
persamaaan berikut ini :
1. Lebar jalan angkut minimum pada jalan lurus
Lm = n. Wt + ( n + 1 ) ( 0,5 x Wt )
Dimana :
Lm = Lebar minimum jalan angkut lurus, m
n = Jumlah jalur yang digunakan
Wt = Lebar alat angkut, m
Alat angkut yang digunakan adalah dump truck CWB450HD yang mempunyai
lebar 1,945 m.
maka lebar jalan angkut sebesar : Lm= ( 2 x 1,945 ) + (2+1)(0,5 X 1,945)
= 8,75 meter

79
Jadi lebar jalan angkut pada jalan lurus sebesar 17,766 meter » 18 meter

2. Lebar jalan angkut minimum pada belokan


Lt = 2 ( U + Fa + Fb + Z ) + C
( U + Fa+ Fb)
C = Z = 2
Dimana :
Lt = Lebar jalan angkut minimum pada belokan , m
U = Lebar alat angkut dari pusat roda kanan dan kiri, m
Fa = Lebar yang besarnya adalah sin a x lebar juntai depan (Ad), m
Fb = Lebar yang besarnya adalah sin a x lebar juntai belakang (Ab), m
Z = Lebar bagian tepi jalan, m
C = Jarak antara dua truck saat bersimpangan, m
Diketahui :
Fa = 2,1 x sin 31o meter = 1,08 meter
Fb = 2,8 x sin 31o meter = 1,44 meter
U = 1,945 meter
Maka :
C = Z = 0,5 ( 3,3 + 1,08 + 1,44 ) = 1,51 meter
Lt = { 2 ( 1,945 + 1,08 + 1,44 + 2,23 ) + 2,23 } meter
= 15,6 meter
Jadi lebar jalan pada tikungan adalah 11 meter.

3. Superelevasi
Dalam hal ini bertujuan untuk memperoleh komponen berat kendaraan guna
mengimbangi gaya sentrifugal dan untuk mencegah atau menghindari kendaraan
tergelincir keluar jalur atau terguling. Besarnya superelevasi dapat dihitung
dengan rumus:
V2
e +f =
127 x R
252
e +0,179=
127 x 25

e +0,179=0,1968

80
e=0,1968−0,179
m
e=0,02
m

1. Nilai S-uperelevasi = 0,02 m/m


2. Lebar Jalan pada tikungan = 11 meter
3. Beda Tinggi = 0,04 m/m x 11 m
= 0,44 m
4. Cross Slope
Angka Cross Slope pada jalan angkut dinyatakan dalam perbandingan jarak
vertikal dan horizontal dengan satuan mm/m. Pada kontruksi jalan angkut
tambang terbuka besarnya Cross Slope yang dianjurkan mempunyai ketebalan
antara ¼ sampai ½ inch untuk setiap feet jarak horinzontal atau sekitar 20 mm
sampai 40 mm untuk tiap meter. Untuk mengetahui beda tinggi dapat digunakan
rumus berikut:

Q = P x Cross Slope
Q = Beda Tinggi
P = Beda ketinggian Poros jalan
P = ½ x wt
P = ½ x 9 meter
P = 4,5 meter
Sehingga beda tinggi yang dibuat :
Q = 4,5 m x 40 mm/m (harga untuk jalan angkut) (Hustrulid, 2013)
= 180 mm
= 0,18 m

81
LAMPIRAN G
WAKTU EDAR ALAT MUAT

Waktu edar (cycle time) alat muat dapat dirumuskan sebagai berikut :
CTm = Tm1 + Tm2 + Tm3 + Tm4
Keterangan :
CTm = Waktu edar alat muat, detik
Tm1 = Waktu menggali, detik
Tm2 = Waktu berputar dengan bucket terisi muatan, detik
Tm3 = Waktu menumpahkan muatan, detik
Tm4 = Waktu berputar dengan bucket kosong, detik
Dari perhitungan data pengamatan di lapangan diperoleh data rata-rata
waktu edar alat muat Komatsu PC400LC adalah sebagai berikut :

a. Fleet 3
- Waktu rata-rata menggali : 6,48 detik
- Waktu rata-rata berputar isi : 3,74 detik
- Waktu rata-rata menumpahkan : 3,02 detik
- Waktu rata-rata berputar kosong : 3,60 detik +
Total Waktu Edar ( Cycle Time) : 16,84 detik

Tabel L.1
Waktu edar alat muat Komatsu PC400LC

No Tm1 Tm2 Tm3 Tm4


1 8.98 3.77 2.84 3.56
2 8.56 4.51 3.04 2.17
3 5.16 2.87 2.16 3.84
4 5.78 3.97 3.03 3.37
5 5.61 3.74 3.08 4.97
6 6.17 3.32 3.2 4.18

82
Lanjutan tabel L.1

7 5.79 2.6 2.5 4.11


8 7.80 3.98 3.36 2.54
9 5.22 2.9 1.73 3.21
10 9.02 4.08 3.41 3.67
11 7.75 4.12 3.78 3.22
12 6.33 3.57 3.01 3.32
13 5.79 3.91 3.55 3.76
14 6.33 3.21 2.17 3.03
15 5.79 2.93 3.14 3
16 6.11 3.41 3.03 3.22
17 5.49 3.51 3.23 2.94
18 5.37 3.34 2.91 3.12
19 5.91 3.88 3.11 3.43
20 6.23 4.17 3.83 3.99
21 6.12 4.43 3.45 4.23
22 7.23 4.13 2.78 3.98
23 5.94 4.76 3.51 3.73
24 6.66 4.64 2.83 4.25
25 6.29 3.77 3.57 3.81
26 5.12 4.17 2.96 3.57
27 5.49 3.84 2.23 3.96
28 8.01 2.89 3.28 3.9
29 7.83 4.02 2.42 3.73
30 6.47 3.78 3.36 4.29

83
LAMPIRAN H
WAKTU EDAR ALAT ANGKUT

Waktu edar (cycle time) alat muat dapat dirumuskan sebagai berikut :
CTa = Ta1 + Ta2 + Ta3 + Ta4 + Ta5 + Ta6
Keterangan :
CTa = Waktu edar alat angkut, detik
Ta1 = Waktu ambil posisi untuk dimuati, detik
Ta2 = Waktu diisi muatan, detik
Ta3 = Waktu mengangkut muatan, detik
Ta4 = Waktu ambil posisi menumpahkan, detik
Ta5 = Waktu pengosongan muatan, detik
Ta6 = Waktu kembali kosong, detik
Dari perhitungan data pengamatan di lapangan diperoleh data rata-rata
waktu edar alat angkut Nissan CWB450HD adalah sebagai berikut :
a. Fleet 3
- Waktu rata-rata mengambil posisi dimuati : 37,09 detik
- Waktu rata-rata diisi muatan : 62,67 detik
- Waktu rata-rata mengangkut muatan : 74,83 detik
- Waktu rata-rata ambil posisi menumpahkan : 16,35 detik
- Waktu rata-rata pengosongan muatan : 19,86 detik
- Waktu rata-rata kembali kosong : 70,18 detik +
Total waktu edar ( Cycle Time) : 280,98 detik

Tabel M.1
Waktu edar alat angkut Nissan CWB450HD pada fleet 3
No Ta1 Ta2 Ta3 Ta4 Ta5 Ta6
1 46.11 56.61 77.01 15.23 18.93 70.39
2 36.05 72.3 75.55 13.22 17.39 72.69
3 34.23 57.88 72.97 16.19 23.19 68.26

84
Lanjutan tabel M.1

4 25.96 52.52 74.83 15.33 18.93 65.66


5 26.33 79.17 76.12 18.33 24.09 72.3
6 40.63 51.39 70.87 14.82 24.81 68.23
7 50.68 59.22 65.21 17.42 23.98 63.2
8 45.52 44.78 70.19 18.77 18.79 68.8
9 27.13 68.52 74.19 15.07 16.09 63.4
10 29.3 49.62 77.25 12.59 18.54 69.87
11 33.28 76.45 75.81 13.97 17.64 76.86
12 47.95 60.39 78.11 29.5 16.65 70.44
13 35.07 73.68 77.12 13.97 25.21 70.22
14 28.59 53.45 76.76 14.56 17.89 69.78
15 36.23 58.09 73.36 14.3 15.87 69.7
16 38.43 54.45 75.44 15.59 16.33 73.54
17 39.39 65.77 74.58 13.65 17.32 71.64
18 42.32 59.99 73.98 18.19 25.42 67.56
19 30.42 63.33 76.6 15.88 24.51 74.58
20 42.88 67.85 75.34 17.86 18.77 72.68
21 32.65 68.98 73.9 16.69 21.2 67.83
22 43.33 71.2 72.24 15.56 19.94 69.04
23 42.89 60.27 74.98 15.69 16.17 71.43
24 39.12 58.54 75.57 17.03 24.02 64.47
25 28.97 66.12 75.43 16.44 19.08 69.33
26 31.59 63.76 79.1 14.98 18.75 73.72
27 44.4 64.7 72.57 18.2 17.53 70.88
28 43.78 69.43 77.31 16.66 16.98 74.98
29 32.33 72.87 74.5 16.35 23.79 68.2
30 37.09 58.79 78.02 18.4 18.1 75.76

85
LAMPIRAN I
FAKTOR PENGISIAN BUCKET

Faktor pengisian mangkuk (bucket fill factor) adalah perbandingan antara


kapasitas nyata muat dengan kapasitas baku alat muat yang dinyatakan dalam
persen. Semakin besar faktor pengisian maka semakin besar pula kemampuan
nyata dari alat tersebut. Untuk menghitung faktor pengisian digunakan persamaan
sebagai berikut :
Vn
BFF = x 100%
Vd
Keterangan :
BBF = Faktor pengisian, (%)
Vb = Kapasitas nyata alat muat, (m³)
Vd = Kapasitas teoritis alat muat, (m³)
Berdasarkan data dari perusahaan didapatkan :
Vn
BFF = x 100%
Vd
2,32 m3
= x 100%
2,87 m3
= 80,84%

86
LAMPIRAN J
PERHITUNGAN WAKTU KERJA DAN EFISIENSI KERJA

O.1 Perhitungan Waktu Kerja Efektif


Waktu kerja efektif adalah banyaknya waktu tersedia dikurangi jumlah
waktu hambatan – hambatan, baik hambatan yang dapat dihindari maupun
hambatan yang tidak dapat dihindari.

Tabel O.1
Durasi Perawatan dan Perbaikan

PERAWATAN DAN PERBAIKAN(Menit)


Tanggal
ALAT MUAT ALAT ANGKUT
1 540 0
2 0 60
3 0 0
4 0 287
5 0 0
6 0 0
7 0 55
8 0 180
9 0 0
10 0 0
11 0 0
12 0 493
13 0 212
14 0 0
15 0 0
16 0 0
17 0 0
18 600 62
19 0 120
20 600 0
21 540 0
22 0 124
23 0 0
24 0 0
25 0 0
26 Tabel O.2
0 0
27
Waktu Kerja0 Efektif 103
28 0 0
29 0 0
31 0 180
Rata-rata 76.00 62.53

87
Tabel O.2
Waktu kerja efektif

Dari data pengamatan pada Tabel O.1 dapat diperoleh :


a. Waktu kerja efektif alat muat (backhoe)
Webackhoe = 587,14 menit/hari – 200 menit/hari
= 387,14 menit/hari
b. Waktu kerja efektif alat angkut (dump truck)
Wedump truck = 587,14 menit/hari – 186 menit/hari
= 400,14 menit/hari

O.2 Efisiensi Kerja

88
Efisiensi kerja adalah penilaian terhadap pelaksanaan suatu pekerjaan atau
merupakan perhitungan perbandingan antara waktu yang dapat dipakai untuk
bekerja (waktu kerja efektif), dengan waktu kerja yang tersedia.
Dari data-data efisiensi tersebut kita dapat menghitung efisiensi kerja dari
masing-masing alat dalam satu hari. Nilai efisiensi ini didapat dari perhitungan
efisiensi kerja. Perhitungan efisiensi kerja adalah sebagai berikut :
a. Efisiensi kerja alat muat (backhoe)
387,14 menit / hari
EKbackhoe = x 100%
587,14 menit / hari
= 65,90%
b. Efisiensi kerja alat angkut (dump truck)
400,14 menit /hari
EKdump truck = x 100%
587.14 menit /hari
= 68,32%

89
LAMPIRAN K
FAKTOR AVAILABILITY

Faktor yang sangat penting dalam melakukan penjadwalan suatu alat ialah
faktor availability dari setiap unit alat. Dengan mempertimbangkan faktor
availability maka bisa bijaksana untuk menjadwalkan alat. Mesin yang lebih tua,
yang memerlukan waktu perbaikan lebih lama, harus dijadwalkan lebih sedikit
dalam pekerjaan.

P.1 Mechanical Availability


Faktor yang menunjukan kesiapan suatu alat dari waktu yang hilang
dikarenakan kerusakan atau gangguan alat.
W
MA = x 100%
W +R
Keterangan :
MA = Mechanical availability, (%)
W = Working hours, (menit)
R = Repair hours, (menit)
a. Alat Muat
387.14
MA = x 100%
387.14+76
= 83,59%
b. Alat Angkut
373.14
MA = x 100%
373.14+62,53
= 85,65%

90
P.2 Physical Availability
Faktor yang menunjukan kesiapan suatu alat untuk dipakai dari waktu
kerja totalnya.
W +S
PA = x 100%
T
Keterangan :
PA = Physical availability, (%)
W = Working hours, (menit)
S = Standby hours, (menit)
T = Total Hours, (menit)
a. Alat Muat
387.14+124
PA = x 100%
587,14
= 87,08%
b. Alat Angkut
401.14+124
PA = x 100%
587.14
= 89,46%
P.3 Used of Availability
Faktor yang menunjukan waktu alat benar - benar dipakai dari waktu
kesiapan alat.
W
UA = x 100%
W +S
Keterangan :
UA = Used of availability, (%)
W = Working hours, (menit)
S = Standby hours, (menit)
a. Alat Muat
387,14
UA = x 100%
387,14+124
= 75.74%
b. Alat Angkut

91
401,14
UA = x 100%
401,14+124
= 76.39%

P.4 Effective Utilization


Faktor yang menunjukan waktu alat benar – benar dipakai dari waktu kerja
totalnya.
W
EU = x 100%
T
Keterangan :
EU = Effective utilization, (%)
W = Working hours, (menit)
T = Total hours, (menit)
a. Alat Muat
387,14
EU = x 100%
587,14
= 65,95%
b. Alat Angkut
401,14
EU = x 100%
587,14

= 68,34%

92
LAMPIRAN L
PRODUKSI ALAT MUAT

Produksi alat muat adalah besarnya produksi yang dapat dicapai dengan
kenyataan kerja alat muat berdasarkan kondisi yang dicapai saat ini dalam satu
jam. Produksi alat muat dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
3600
Ptm = CTm x Cam x BFF x EK x SF

Keterangan :
Ptm = Kemampuan produksi alat muat, (BCM/jam)
CTm = Waktu edar alat muat, (detik)
Cam = Kapasitas bucket, (m3)
BFF = Bucket fill factor, (%)
EK = Efisiensi kerja, (%)
SF = Swell factor
Dari pengamatan dan pengukuran di lapangan didapatkan produksi alat
muat (excavator) adalah sebagai berikut :
Kapasitas bucket = 2,87 m3
Bucket fill factor = 80,84%
Efisiensi kerja = 63,30%
Swell factor = 0,80
Ctm = 16,84 detik
3600
Ptm = x 2,87 x 80,84% x 63,30% x 0,80
16,84
= 251,16 BCM/jam

93
LAMPIRAN M
PRODUKSI ALAT ANGKUT

Produksi alat angkut adalah besarnya produksi yang dapat dicapai dengan
kenyataan kerja alat angkut berdasarkan kondisi yang dicapai saat ini dalam satu
jam. Produksi alat angkut dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
3600
Pta = Na x CTa x Ca x EK x SF

Keterangan :
Pta = Kemampuan produksi alat angkut, (BCM/jam)
CTa = Waktu edar alat angkut, (detik)
Na = Jumlah alat angkut, (unit)
Ca = Kapasitas bak alat angkut, (m3)
= n x Cam x BFF
n = Jumlah pengisian bucket ke alat angkut
Cam = Kapasitas bucket, (m3)
BFF = Bucket fill factor, (%)
EK = Efisiensi kerja, (%)
SF = Swell factor
Dari pengamatan dan pengukuran di lapangan didapatkan produksi alat
angkut (dump truck) adalah sebagai berikut :
Na = 5 unit
n =3
Kapasitas bucket = 2,87 m3
Bucket fill factor = 80,84%
Efisiensi kerja = 64,28%
Swell factor = 0,80

94
Cta = 280,98 detik
3600
Pta =5x x 3 x 2,87 x 80,84% x 68,32% x 0,80
280,98
= 243,31BCM / jam

LAMPIRAN N
PERHITUNGAN FAKTOR KESERASIAN KERJA ALAT
MUAT DAN ALAT ANGKUT (MATCH FACTOR)

Nilai Faktor keserasian kerja (Match Factor) dari rangkaian alat muat dan
alat angkut dapat diketahui menggunakan persamaan sebagai berikut :
CTm x Na x n
MF =
Cta x Nm
Keterangan :
MF = Match Factor
CTm = Waktu edar alat muat, (detik)
CTa = Waktu edar alat angkut, (detik)
Nm = Jumlah alat muat, (unit)
Na = Jumlah alat angkut, (unit)
n = Jumlah pengisian bucket alat muat ke alat angkut
Keserasian kerja backhoe Komatsu PC400LC dengan dump truck Nissan
CWB450HD adalah :
Na = 5 unit
Nm = 1 unit
n =3
0
Cta = 280,98 detik
Ctm = 16,84 detik
16,84 x 5 x 3
MF = = 0,89
280,98 x 1

95
Karena MF < 1, maka :
- Produksi alat angkut lebih kecil daripada produksi alat muat
- Terdapat waktu tunggu alat muat terhadap alat angkut
- Waktu tunggu alat angkut (Wta) = 0
- Waktu tunggu alat muat (Wtm)
CTa x Nm
Wtm = −CTm
Na x n
- Faktor kerja alat angkut (Fka) = 100%
- Faktor kerja alat muat (Fkm) = MF x 100%

96
LAMPIRAN O
PENJADWALAN PRODUKSI

97
MONTHLY PLAN PERIODE 1

APRIL MAY
PERIOD : APRIL-MEI 2019
:

UNIT M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T
WORKING HOURS SCHEDULE
Date 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
CALENDER DAYS days 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
Public Holiday days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
New Year days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Independent day days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Idhul Fitri days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Idhul Adha days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Natal days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Others days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
AVAILABLE DAYS days 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
hours 11 11 11 11 10 11 11 11 11 11 11 10 11 11 11 11 11 11 10 11 11 11 11 11 11 10 11 11 11 11 11 11
OPERATIONAL DELAYS hours 2.83 2.33 2.33 2.33 3.83 2.33 2.33 2.83 2.33 2.33 2.33 3.83 2.33 2.33 2.83 2.33 2.33 2.33 3.83 2.33 2.33 2.83 2.33 2.33 2.33 3.83 2.33 2.33 2.83 2.33 2.33 2.33
min 170 140 140 140 230 140 140 170 140 140 140 230 140 140 170 140 140 140 230 140 140 170 140 140 140 230 140 140 170 140 140 140
Daily Over Shift 15 min/day 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15
Safety talk 30 min/week 30 0 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 0 0 30 0 0 0
Pre start check 15 min/day 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15
Greasing 10 min/day 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Refueling 10 min/day 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Rest & Meal 75 min/day 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
Traveling 0 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Relocating 10 min/day 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Jum'at praying 90 min/week 0 0 0 0 90 0 0 0 0 0 0 90 0 0 0 0 0 0 90 0 0 0 0 0 0 90 0 0 0 0 0 0
Breakfast/Sahur 0 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Buka Puasa 0 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Waiting Survey 5 min/day 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
RAIN DELAYS hours 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32
min 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90
Rain & Slippery 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90
TOTAL DELAYS hours 4.15 3.65 3.65 3.65 5.15 3.65 3.65 4.15 3.65 3.65 3.65 5.15 3.65 3.65 4.15 3.65 3.65 3.65 5.15 3.65 3.65 4.15 3.65 3.65 3.65 5.15 3.65 3.65 4.15 3.65 3.65 3.65
WORK HOURS hours 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35
Work hours/shift hours/shift 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35
AVAILABILITY of EQUIPMENT Average
Physical Availability, PA (%)
Excavator komatsu
yyy PC xxx 0%
Excavator komatsu
yyy PC xxx 0%
Excavator komatsu
yyy PC xxx 0%
Excavator komatsu
EX 13PC 400 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85%
Excavator komatsu
EX 14PC 400 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85%
Excavator komatsu
EX 15PC 400 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90%
Excavator komatsu
EX 3301
PC 300 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75%
Dump Truck NISSAN CWB450 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85%
Use of Availability, UA (%)
Excavator komatsu
yyy PC xxx 0%
Excavator komatsu
yyy PC xxx 0%
Excavator komatsu
yyy PC xxx 0%
Excavator komatsu
EX 13PC 400 57% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61%
Excavator komatsu
EX 14PC 400 57% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61%
Excavator komatsu
EX 15PC 400 60% 58% 63% 63% 63% 43% 63% 63% 58% 63% 63% 63% 43% 63% 63% 58% 63% 63% 63% 43% 63% 63% 58% 63% 63% 63% 43% 63% 63% 58% 63% 63% 63%
Excavator komatsu
EX 3301
PC 300 51% 50% 56% 56% 56% 31% 56% 56% 50% 56% 56% 56% 31% 56% 56% 50% 56% 56% 56% 31% 56% 56% 50% 56% 56% 56% 31% 56% 56% 50% 56% 56% 56%
Dump Truck NISSAN CWB450 57% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61%
EFFECTIVE WORK HOURS of EQUIPMENT Unit
Excavator komatsu
yyy PC xxx hrs - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu
yyy PC xxx hrs - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu
yyy PC xxx hrs - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu
EX 13PC 400 hrs 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7
Excavator komatsu
EX 14PC 400 hrs 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7
Excavator komatsu
EX 15PC 400 hrs 5.8 6.3 6.3 6.3 3.9 6.3 6.3 5.8 6.3 6.3 6.3 3.9 6.3 6.3 5.8 6.3 6.3 6.3 3.9 6.3 6.3 5.8 6.3 6.3 6.3 3.9 6.3 6.3 5.8 6.3 6.3 6.3
Excavator komatsu
EX 3301
PC 300 hrs 4.1 4.6 4.6 4.6 2.4 4.6 4.6 4.1 4.6 4.6 4.6 2.4 4.6 4.6 4.1 4.6 4.6 4.6 2.4 4.6 4.6 4.1 4.6 4.6 4.6 2.4 4.6 4.6 4.1 4.6 4.6 4.6
Dump Truck NISSAN CWB450 hrs 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7
REPAIR HOURS of EQUIPMENT Unit
Excavator komatsu
yyy PC xxx hrs - - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu
yyy PC xxx hrs - - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu
yyy PC xxx hrs - - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu
EX 13PC 400 hrs 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7
Excavator komatsu
EX 14PC 400 hrs 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7
Excavator komatsu
EX 15PC 400 hrs 1.1 1.1 1.1 1.1 1.0 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.0 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.0 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.0 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1
Excavator komatsu
EX 3301
PC 300 hrs 2.8 2.8 2.8 2.8 2.5 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.5 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.5 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.5 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8
Dump Truck NISSAN CWB450 hrs 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7
STANDBY HOURS of EQUIPMENT Unit
Excavator komatsu
yyy PC xxx hrs - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu
yyy PC xxx hrs - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu
yyy PC xxx hrs - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu
EX 13PC 400 hrs 4.15 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6
Excavator komatsu
EX 14PC 400 hrs 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6
Excavator komatsu
EX 15PC 400 hrs 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6
Excavator komatsu
EX 3301
PC 300 hrs 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6
Dump Truck NISSAN CWB450 hrs 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6
Productivity M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T
PRODUCTION CAPACITY - FLEET (WASTE) Distance (M)
(bcm/hrs) 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 24 25 26 26 27 28 29 29 30 1 2 3 4 5 5 6 7 8 9 10 11 12
Fleet yyy - - - - - - - - - - - -
Fleet yyy - - - - - - - - - - - -
Fleet yyy - - - - - - - - - - - -
Fleet EX 13 NISSAN CWB450 x 5 400 220 1,144 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,144 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,144 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,144 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,144 1,254 1,254 1,254

98
MONTHLY PLAN PERIODE 1 PERIODE 2

APRIL MAY MAY JUNE


PERIOD : APRIL-MEI 2019
:

UNIT M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W
WORKING HOURS SCHEDULE
Date 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 21 22 23 24 25 26 27 27 28 29 30 31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
CALENDER DAYS days 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
Public Holiday days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
New Year days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Independent day days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Idhul Fitri days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Idhul Adha days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Natal days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Others days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
AVAILABLE DAYS days 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
hours 11 1 11 11 10 11 11 11 11 11 1 10 11 11 1 11 11 11 10 11 1 11 11 11 1 10 11 11 11 11 1 11 10 11 11 11 11 11 11 10 11 11 11 11 11 11 10 11 11 11 11 11 11 10 11 11 11 11 11
OPERATIONAL DELAYS hours 2.83 2.33 2.33 2.33 3.83 2.3 2.33 2.83 2.33 2.3 2.33 3.83 2.33 2.33 2.83 2.33 2.33 2.3 3.83 2.3 2.33 2.83 2.33 2.3 2.33 3.83 2.33 2.3 2.83 2.3 2.33 2.33 3.83 2.33 2.33 2.83 2.33 2.33 2.33 3.83 2.33 2.33 2.83 2.33 2.33 2.33 3.83 2.33 2.33 2.83 2.33 2.33 2.33 3.83 2.33 2.33 2.83 2.33 2.33
min 170 140 140 140 230 140 140 170 140 140 140 230 140 140 170 140 140 140 230 140 140 170 140 140 140 230 140 140 170 140 140 140 230 140 140 170 140 140 140 230 140 140 170 140 140 140 230 140 140 170 140 140 140 230 140 140 170 140 140
Daily Over Shift 15 min/day 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15
Safety talk 30 min/week 30 0 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 0 0 30 0 0
Pre start check 15 min/day 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15
Greasing 10 min/day 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Refueling 10 min/day 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Rest & Meal 75 min/day 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
Traveling 0 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Relocating 10 min/day 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Jum'at praying 90 min/week 0 0 0 0 90 0 0 0 0 0 0 90 0 0 0 0 0 0 90 0 0 0 0 0 0 90 0 0 0 0 0 0 90 0 0 0 0 0 0 90 0 0 0 0 0 0 90 0 0 0 0 0 0 90 0 0 0 0 0
Breakfast/Sahur 0 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Buka Puasa 0 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Waiting Survey 5 min/day 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
RAIN DELAYS hours 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32 1.32
min 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90
Rain & Slippery 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90 78.90
TOTAL DELAYShours 4.15 3.65 3.65 3.65 5.15 3.65 3.65 4.15 3.65 3.65 3.65 5.15 3.65 3.65 4.15 3.65 3.65 3.65 5.15 3.65 3.65 4.15 3.65 3.65 3.65 5.15 3.65 3.65 4.15 3.65 3.65 3.65 5.15 3.65 3.65 4.15 3.65 3.65 3.65 5.15 3.65 3.65 4.15 3.65 3.65 3.65 5.15 3.65 3.65 4.15 3.65 3.65 3.65 5.15 3.65 3.65 4.15 3.65 3.65
WORK HOURS hours 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35
Work hours/shift hours/shift 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35 7.35 4.85 7.35 7.35 6.85 7.35 7.35
AVAILABILITY of EQUIPMENT Average
Physical Availability, PA (%)
Excavator komatyyysu PC xxx 0%
Excavator komatyyysu PC xxx 0%
Excavator komatyyysu PC xxx 0%
Excavator komatEXsu13PC 400 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85%
Excavator komatEXsu14PC 400 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85%
Excavator komatEXsu15PC 400 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90%
Excavator komatEXsu330PC1300 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75%
Dump Truck NISSAN CWB450 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85%
Use of Availability, UA (%)

EID MUBARAK
Excavator komatyyysu PC xxx 0%
Excavator komatyyysu PC xxx 0%
Excavator komatyyysu PC xxx 0%
Excavator komatEXsu13PC 400 57% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61%
Excavator komatEXsu14PC 400 57% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61%
Excavator komatEXsu15PC 400 60% 58% 63% 63% 63% 43% 63% 63% 58% 63% 63% 63% 43% 63% 63% 58% 63% 63% 63% 43% 63% 63% 58% 63% 63% 63% 43% 63% 63% 58% 63% 63% 63% 43% 63% 63% 58% 63% 63% 63% 43% 63% 63% 58% 63% 63% 63% 43% 63% 63% 58% 63% 63% 63% 43% 63% 63% 58% 63% 63%
Excavator komatEXsu330PC1300 51% 50% 56% 56% 56% 31% 56% 56% 50% 56% 56% 56% 31% 56% 56% 50% 56% 56% 56% 31% 56% 56% 50% 56% 56% 56% 31% 56% 56% 50% 56% 56% 56% 31% 56% 56% 50% 56% 56% 56% 31% 56% 56% 50% 56% 56% 56% 31% 56% 56% 50% 56% 56% 56% 31% 56% 56% 50% 56% 56%
Dump Truck NISSAN CWB450 57% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61% 61% 39% 61% 61% 56% 61% 61%
EFFECTIVE WORK HOURS of EQUIPMENT Unit
Excavator komatyyysu PC xxx hrs - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatyyysu PC xxx hrs - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatyyysu PC xxx hrs - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatEXsu13PC 400 hrs 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7
Excavator komatEXsu14PC 400 hrs 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7
Excavator komatEXsu15PC 400 hrs 5.8 6.3 6.3 6.3 3.9 6.3 6.3 5.8 6.3 6.3 6.3 3.9 6.3 6.3 5.8 6.3 6.3 6.3 3.9 6.3 6.3 5.8 6.3 6.3 6.3 3.9 6.3 6.3 5.8 6.3 6.3 6.3 3.9 6.3 6.3 5.8 6.3 6.3 6.3 3.9 6.3 6.3 5.8 6.3 6.3 6.3 3.9 6.3 6.3 5.8 6.3 6.3 6.3 3.9 6.3 6.3 5.8 6.3 6.3
Excavator komatEXsu330PC1300 hrs 4.1 4.6 4.6 4.6 2.4 4.6 4.6 4.1 4.6 4.6 4.6 2.4 4.6 4.6 4.1 4.6 4.6 4.6 2.4 4.6 4.6 4.1 4.6 4.6 4.6 2.4 4.6 4.6 4.1 4.6 4.6 4.6 2.4 4.6 4.6 4.1 4.6 4.6 4.6 2.4 4.6 4.6 4.1 4.6 4.6 4.6 2.4 4.6 4.6 4.1 4.6 4.6 4.6 2.4 4.6 4.6 4.1 4.6 4.6
Dump Truck NISSAN CWB450 hrs 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7 5.7 3.4 5.7 5.7 5.2 5.7 5.7
REPAIR HOURS of EQUIPMENT Unit
Excavator komatyyysu PC xxx hrs - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatyyysu PC xxx hrs - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatyyysu PC xxx hrs - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatEXsu13PC 400 hrs 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7
Excavator komatEXsu14PC 400 hrs 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7
Excavator komatEXsu15PC 400 hrs 1.1 1.1 1.1 1.1 1.0 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.0 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.0 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.0 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.0 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.0 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.0 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1
Excavator komatEXsu330PC1300 hrs 2.8 2.8 2.8 2.8 2.5 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.5 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.5 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.5 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.5 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.5 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.5 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8 2.8
Dump Truck NISSAN CWB450 hrs 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.5 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7 1.7
STANDBY HOURS of EQUIPMENT Unit
Excavator komatyyysu PC xxx hrs - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatyyysu PC xxx hrs - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatyyysu PC xxx hrs - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatEXsu13PC 400 hrs 4.15 3.6 3.63.6 5.1 3.6 3.6 4.1
3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6
3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6
Excavator komatEXsu14PC 400 hrs 4.1 3.6 3.63.6 5.1 3.6 3.6 4.1
3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6
3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6
Excavator komatEXsu15PC 400 hrs 4.1 3.6 3.63.6 5.1 3.6 3.6 4.1
3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6
3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6
Excavator komatEXsu330PC1300 hrs 4.1 3.6 3.63.6 5.1 3.6 3.6 4.1
3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6
3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6
Dump Truck NISSAN CWB450 hrs 4.1 3.6 3.63.6 5.1 3.6 3.6 4.1
3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6
3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6 3.6 5.1 3.6 3.6 4.1 3.6 3.6
Productivity M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W
PRODUCTION CAPACITY - FLEET (WASTE)Distance (M)
(bcm/hrs) 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 24 25 26 26 27 28 29 29 30 1 2 3 4 5 5 6 7 8 9 10 1 12 13 14 15 16 17 18 18 19 20 21 22 23 24 24 25 26 27 28 29 30 30 1 2 3 4 5 6
Fleet yyy - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Fleet yyy - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Fleet yyy - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Fleet EX 13 NISSAN CWB450 x 5 400 2 0 1,144 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,14 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,144 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,14 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,144 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,144 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,144 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,144 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,144 1,254 1,254
Fleet EX 14 NISSAN CWB450 x 5 400 2 0 1,144 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,14 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,144 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,14 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,144 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,144 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,144 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,144 1,254 1,254 1,254 737 1,254 1,254 1,144 1,254 1,254
Fleet EX 15 NISSAN CWB450 x 5 400 2 0 1,265 1,375 1,375 1,375 847 1,375 1,375 1,265 1,375 1,375 1,375 847 1,375 1,375 1,265 1,375 1,375 1,375 847 1,375 1,375 1,265 1,375 1,375 1,375 847 1,375 1,375 1,265 1,375 1,375 1,375 847 1,375 1,375 1,265 1,375 1,375 1,375 847 1,375 1,375 1,265 1,375 1,375 1,375 847 1,375 1,375 1,265 1,375 1,375 1,375 847 1,375 1,375 1,265 1,375 1,375
Total 3,554 3,884 3,884 3,884 2,32 3,8 4 3,884 3,554 3,884 3,884 3,884 2,322 3,884 3,884 3,554 3,884 3,884 3,884 2,32 3,884 3,884 3,554 3,8 4 3,884 3,884 2,322 3,884 3,884 3,554 3,884 3,884 3,8 4 2,322 3,884 3,884 3,554 3,884 3,884 3,884 2,322 3,884 3,884 3,554 3,884 3,884 3,884 2,322 3,884 3,884 3,554 3,884 3,884 3,884 2,322 3,884 3,884 3,554 3,884 3,884
TOTAL WASTE/PERIODE 1 6,393 97,303

99
PERIODE 1

MEI
PERIOD : May-19
DIVISION :
APRIL
UNIT M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W
WORKING HOURS SCHEDULE
Date 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
CALENDER DAYS days 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
Public Holiday days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
New Year days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Independent day days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Idhul Fitri days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Idhul Adha days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Natal days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Others days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
AVAILABLE DAYS days 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
hours 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5
OPERATIONAL DELAYS hours 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67
min 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Daily Over Shift 15 min/day 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15
Safety talk 30 min/week 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Pre start check 15 min/day 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15
Greasing 10 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Refueling 10 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Rest & Meal 75 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Traveling 0 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Relocating 10 min/day 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Jum'at praying 90 min/week 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Breakfast/Sahur 0 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Buka Puasa 0 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Waiting Survey 5 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
RAIN DELAYS hours 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
min 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Rain & Slippery 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
TOTAL DELAYS hours 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67
WORK HOURS hours 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83
Work hours/shift hours/shift 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83
AVAILABILITY of EQUIPMENT Average
Physical Availability, PA (%)
Excavator komatsu PC xxx yyy 0%
Excavator komatsu PC xxx yyy 0%
Excavator komatsu PC xxx yyy 0%
Excavator komatsu PC 400 EX 13 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85%
Excavator komatsu PC 400 EX 14 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85%
Excavator komatsu PC 400 EX 15 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90%
Excavator komatsu PC 300 EX 3301 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75%
Dump Truck NISSAN CWB450 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85%
Use of Availability, UA (%)
Excavator komatsu PC xxx yyy 0%
Excavator komatsu PC xxx yyy 0%
Excavator komatsu PC xxx yyy 0%
Excavator komatsu PC 400 EX 13 57% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78%
Excavator komatsu PC 400 EX 14 57% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78%
Excavator komatsu PC 400 EX 15 59% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79%
Excavator komatsu PC 300 EX 3301 51% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75%
Dump Truck NISSAN CWB450 57% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78%
EFFECTIVE WORK HOURS of EQUIPMENT Unit
Excavator komatsu PC xxx yyy hrs - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu PC xxx yyy hrs - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu PC xxx yyy hrs - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu PC 400 EX 13 hrs 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3
Excavator komatsu PC 400 EX 14 hrs 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3
Excavator komatsu PC 400 EX 15 hrs 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5
Excavator komatsu PC 300 EX 3301 hrs 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0
Dump Truck NISSAN CWB450 hrs 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3
REPAIR HOURS of EQUIPMENT Unit
Excavator komatsu PC xxx yyy hrs
Excavator komatsu PC xxx yyy hrs
Excavator komatsu PC xxx yyy hrs - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu PC 400 EX 13 hrs 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5
Excavator komatsu PC 400 EX 14 hrs 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5
Excavator komatsu PC 400 EX 15 hrs 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4
Excavator komatsu PC 300 EX 3301 hrs 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9
Dump Truck NISSAN CWB450 hrs 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5
STANDBY HOURS of EQUIPMENT Unit
Excavator komatsu PC xxx yyy hrs - - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu PC xxx yyy hrs - - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu PC xxx yyy hrs - - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu PC 400 EX 13 hrs 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7
Excavator komatsu PC 400 EX 14 hrs 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7
Excavator komatsu PC 400 EX 15 hrs 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7

Dump Truck NISSAN CWB450 hrs 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7
Productivity S M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T
PRODUCTION CAPACITY - FLEET (WASTE) Distance (M)
(bcm/hrs) 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Fleet yyy - - - - - - - - - - - - -
Fleet yyy - - - - - - - - - - - - -
Fleet yyy - - - - - - - - - - - - -
Fleet EX 13 NISSAN CWB450 x 5 200 220 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508
Fleet EX 14 NISSAN CWB450 x 5 400 220 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508
Fleet EX 15 NISSAN CWB450 x 5 600 220 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546
Total 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562

100
MONTHLY PLAN PERIODE 2

MEI JUNE
PERIOD : MEI-JUNE 2019
:

UNIT T F S S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S M T W T F S S
WORKING HOURS SCHEDULE
Date 16 17 18 19 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
CALENDER DAYS days 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
Public Holiday days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
New Year days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Independent day days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Idhul Fitri days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Idhul Adha days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Natal days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Others days 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
AVAILABLE DAYS days 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
hours 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5
OPERATIONAL DELAYS hours 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67
min 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40
Daily Over Shift 15 min/day 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15
Safety talk 30 min/week 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Pre start check 15 min/day 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15
Greasing 10 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Refueling 10 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Rest & Meal 75 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Traveling 0 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Relocating 10 min/day 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Jum'at praying 90 min/week 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Breakfast/Sahur 0 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Buka Puasa 0 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Waiting Survey 5 min/day 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
RAIN DELAYS hours 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
min 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Rain & Slippery 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
TOTAL DELAYS hours 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67 0.67
WORK HOURS hours 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83
Work hours/shift hours/shift 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83 2.83
AVAILABILITY of EQUIPMENT Average
Physical Availability, PA (%)
Excavator komatsu PC xxx yyy 0%
Excavator komatsu PC xxx yyy 0%
Excavator komatsu PC xxx yyy 0%
Excavator komatsu PC 400 EX 13 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85%
Excavator komatsu PC 400 EX 14 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85%
Excavator komatsu PC 400 EX 15 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90% 90%
Excavator komatsu PC 300 EX 3301 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75%
Dump Truck NISSAN CWB450 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85%
Use of Availability, UA (%)
Excavator komatsu PC xxx yyy 0%
Excavator komatsu PC xxx yyy
Excavator komatsu PC xxx yyy
0%
0%
EID MUBARAK
Excavator komatsu PC 400 EX 13 57% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78%
Excavator komatsu PC 400 EX 14 57% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78%
Excavator komatsu PC 400 EX 15 59% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79% 79%
Excavator komatsu PC 300 EX 3301 51% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75%
Dump Truck NISSAN CWB450 57% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78% 78%
EFFECTIVE WORK HOURS of EQUIPMENT Unit
Excavator komatsu PC xxx yyy hrs - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu PC xxx yyy hrs - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu PC xxx yyy hrs - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu PC 400 EX 13 hrs 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3
Excavator komatsu PC 400 EX 14 hrs 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3
Excavator komatsu PC 400 EX 15 hrs 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5
Excavator komatsu PC 300 EX 3301 hrs 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0
Dump Truck NISSAN CWB450 hrs 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3 2.3
REPAIR HOURS of EQUIPMENT Unit
Excavator komatsu PC xxx yyy hrs
Excavator komatsu PC xxx yyy hrs
Excavator komatsu PC xxx yyy hrs - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Excavator komatsu PC 400 EX 13 hrs 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5
Excavator komatsu PC 400 EX 14 hrs 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5
Excavator komatsu PC 400 EX 15 hrs 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4
Excavator komatsu PC 300 EX 3301 hrs 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9
Dump Truck NISSAN CWB450 hrs 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5
STANDBY HOURS of EQUIPMENT Unit
Excavator komatsu PC xxx yyy hrs - - - - - - - - -
Excavator komatsu PC xxx yyy hrs - - - - - - - - -
Excavator komatsu PC xxx yyy hrs - - - - - - - - -
Excavator komatsu PC 400 EX 13 hrs 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7
Excavator komatsu PC 400 EX 14 hrs 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7
Excavator komatsu PC 400 EX 15 hrs 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7

Dump Truck NISSAN CWB450 hrs 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7
Productivity W T F S T F S T W T F S S M T W T F S F S M T W T F S
PRODUCTION CAPACITY - FLEET (WASTE) Distance (M)
(bcm/hrs) 16 17 18 19 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 1 2 3 4 5 6 7
Fleet yyy - - - - - - - - - - - - -
Fleet yyy - - - - - - - - - - - - -
Fleet yyy - - - - - - - - - - - - -
Fleet EX 13 NISSAN CWB450 x 5 200 220 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508
Fleet EX 14 NISSAN CWB450 x 5 400 220 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508 508
Fleet EX 15 NISSAN CWB450 x 5 600 220 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546 546
Total 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562 1,562
TOTAL WASTE / PERIOD 42167

101
LAMPIRAN P
KEMAJUAN TAMBANG

102
PETA RANCANGAN PENAMBANGAN
P1B5 SITE PANCA AGUNG,
[Link],PERIODE 1
MEI 2019

103
104
PETA RANCANGAN PENAMBANGAN
P1B5 SITE PANCA AGUNG,
[Link], PERIODE 2
MEI 2019

105

Anda mungkin juga menyukai