0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
123 tayangan25 halaman

Penatalaksanaan CTS di RS Bhayangkara

Laporan ini membahas penatalaksanaan fisioterapi pada kasus Carpal Tunnel Syndrome di RS Bhayangkara TK III Banjarmasin. Laporan ini mencakup anatomi, biomekanika, patologi, dan status klinis pasien CTS.

Diunggah oleh

Aditya Dirgantara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
123 tayangan25 halaman

Penatalaksanaan CTS di RS Bhayangkara

Laporan ini membahas penatalaksanaan fisioterapi pada kasus Carpal Tunnel Syndrome di RS Bhayangkara TK III Banjarmasin. Laporan ini mencakup anatomi, biomekanika, patologi, dan status klinis pasien CTS.

Diunggah oleh

Aditya Dirgantara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL)

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS CARPAL


TUNNEL SYNDROME DI RS BHAYANGKARA TK III
BANJARMASIN

Oleh :

DENDA ANISA PURKAN EFT10170068


RIZKY KURRATUL’AIN EFT10170083

PROGRAM STUDI D III FISIOTERAPI


POLITEKNIK UNGGULAN KALIMANTAN
BANJARMASIN
2020
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL)

DI RS BHAYANGKARA TK III BANJARMASIN


(Tanggal 2-28 Februari 2020)

Disetujui Oleh

Clinical Instructor (CI)

NIP.

Clinical Teacher (CT) I Clinical Teacher (CT) II

Tri Wahyu Wulandari, Yulisha Eva Oktaviani,


[Link]., [Link] [Link]
NIK.1120216031 NIK. 1120917054

DIII Fisioterapi | 2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang
telah melimpahkan nikmat, rahmat, dan karunia-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan laporan praktik belajar lapangan (PBL) ini.
Adapun tujuan dari pembuatan laporan ini adalah untuk memenuhi tugas praktik
belajar lapangan (PBL) yang berjudul “Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus
Carpal Tunnel Syndrome di RS Bhayangkara Tk III Banjarmasin”.
Kami sadar bahwa terselesaikannya laporan praktik kerja lapangan (PKL)
ini tidak lepas dari pihak-pihak yang membantu dan memberikan dukungan
kepada penulisan. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Tri Wahyu Wulandari, [Link]., [Link] selaku clinical teacher I
2. Yulisha Eva Oktaviani, [Link] selaku clinical teacher II
3. selaku clinical instructor

Kami menyadari bahwa laporan ini jauh dari kata baik dan sempurna,
sehingga kami mohon maaf jika terdapat kekurangan dalam laporan ini. Kami
mohon saran dan kritik kepada para pembaca yang bersifat membangun, agar
makalah ini dapat lebih sempurna. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat
dan berguna bagi pembaca.

Banjarmasin, 22 Maret 2020

Penulis

DIII Fisioterapi | 3
DAFTAR ISI

COVER.............................................................................................................

LEMBAR PERSETUJUAN............................................................................. i

KATA PENGANTAR...................................................................................... ii

DAFTAR ISI.................................................................................................... iii

BAB I ANATOMI & FISIOLOGI................................................................... 1

A. Tulang Penyusun Wrist Joint........................................................... 1

B. Otot Wrist Joint................................................................................ 3

C. Ligament Wrist Joint........................................................................ 4

D. Nervus Medianus.............................................................................. 4

BAB II BIOMEKANIK.................................................................................... 6

A. Biomekanik Wrist Joint.................................................................... 6

BAB III PATOLOGI........................................................................................ 7

A. Definisi............................................................................................. 7

B. Epidemiologi.................................................................................... 7

C. Etiologi............................................................................................. 7

D. Patofisiologi..................................................................................... 8

E. Manifestasi Klinis............................................................................ 9

BAB IV STATUS KLINIS............................................................................... 10

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 20

DOKUMENTASI............................................................................................. 21

DIII Fisioterapi | 4
BAB I

ANATOMI & FISIOLOGI

A. Tulang Penyusun Wrist Joint

Tulang penyusun wrist joint yaitu ada dua deretan. Deretan pertama

yaitu dari tulang Radius dan Ulnar. Deretan yang kedua terdiri atas

delapan tulang carpalia yang tersusun dalam dua deretan. Tulang carpal

deretan proximal antara scapoideum, lunatum, triquetrum dan pisiforme.

Sedangkan bagian distal terdiri atas tulang trapesium, trapesoideum,

capitatum dan hamatum (A.K, et al, 2016).

a. Tulang

scapoideum

Tulang ini

berbentuk perahu

dengan dataran

yang proximal

konveksi bersendi dengan tulang radius. Yulang ini memiliki dataran

sendi yaitu ke arah ulnar bersendi dengan tulang hamatum, ke arah

distal bersendi dengan tulang tulang trapesium, capitatum, dan

trapesoideum dan pada permukaaan volar memiliki tonjolan yang

disebut tuberositas scapoideum (Yolanda, et al, 2017).

b. Tulang Lunatum

DIII Fisioterapi | 5
Tulang ini memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu kearah

radial dengan tulang Scapoideum, ke arah ulnar dengan Triquetrum, ke

arah distal dengan tulang capitatum. Tulang ini memiliki dataran

proximal yang konvek yang bersendi dengan tulang radius, dan

berbentuk kecil, seperti bulan sabit (Yolanda, et al, 2017).

c. Tulang Triquetrum

Memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu ke arah proximal

dengan tulang radius, ke arah radial dengan tulang Lunatum, ke arah

ulnar dan polar berhubungan dengan tulang pisiforme yang melekat

pada permukaan polar tulang triquetrum dan arah distal dengan tulang

hamatum (Yolanda, et al, 2017).

d. Tulang Pisiforme

Tulang yang berbentuk kecil,agak bulat seperti biji kacang ini

melekat di dataran polar pada tulang triquetrum (Yolanda, et al, 2017).

e. Tulang Trapesium

Tulang ini memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu ke arah

polar dengan trapesoideum dan terdapat tonjolan tulang yang disebut

tuberositas osis trapesium, ke arah proximal dengan tulang scapoideum,

ke arah distal dengan tulang metacarpal satu dan dua (Yolanda, et al,

2017).

f. Tulang Trapezoideum

Tulang ini ke arah radial mempunyai hubungan dengan tulang

trapesium ke arah ulnar dengan tulang capitatum, ke arah distal dengan

DIII Fisioterapi | 6
tulang metacarpal dua, dan ke arah proximal berhubungan dengan

tulang scapoideum (Yolanda, et al, 2017).

g. Tulang Capitatum

Memiliki bangunan bangunan bulat dan panjang sebagai

caputnya. Mempunyai hubungan dengan tulang lain yaitu kearah radial

berhubungan dengan tulang trapesoideum, ke arah proximal dengan

tulang scapoideum dan lunatum. Ke arah ulnar dengan tulang hamatum

dan ke arah distal dengan tulang metacarpal dua, tiga, dan empat

(Yolanda, et al, 2017).

h. Tulang Hamatum

Memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu ke arah proximal

dengan tulang triquetrum ke arah radial dengan tulang capitatum ke

arah distal dengan tulang metacarpal empat dan lima. Dan ke arah polar

memliki bangunan seperti lidah yang disebut hamalus ossis hamati.

Pada os scapoideum dan os trapesium yang masing-masing memiliki

tonjolan tulang pada bagian colarnya membentuk eminentia carpi radialis.

Di sebelah ulnanya terdapat eminentia carpi ulnaris yang dibentuk oleh os

pisiforme dan hamalum ossis hamati (Yolanda, et al, 2017).

B. Otot Wrist Joint

Otot merupakan stabilitas aktif dan penggerak tulang pembentuk

sentral. Otot pergelangan tangan secara umum dibagi menjadi dua

kelompok besar yaitu otot fleksor dan ekstensor yang masing-masing

terbagi dua bagian superfisialis dan profunda.

DIII Fisioterapi | 7
Otot fleksor superficialis yaitu otot fleksor carpi ulnaris, fleksor

carpi radialis, fleksor digitorum sublimes dan palmaris longus. Otot

fleksor carpi radialis dan fleksor carpi ulnaris berfungsi fleksi di

pergelanagan tangan, dan otot ekstensi ekstensor carpi radialis longus

brevis dan ekstensor carpi ulnaris berfungsi ekstensi pergelangan tangan.

Pada gerakan ulnar deviasi dilakukan oleh [Link] carpi ulnaris dan

fleksor carpi ulnaris. Sedangkan gerakan radial deviasi dilakukan oleh

m,ekstensor carpi radialis, fleksor carpi radialis, ekstensor pollicis brevis

dan abduktor pollicis longus (Yolanda, et al, 2017).

C. Ligament Wrist Joint

Ligamen colateral capri ulnar yang membentang dari procesus

styloideus ulna menuju ke tulang triquetrum ligamen colateral carpi

radialis yang membentang dari prossesus stiloideus radii menuju tulang

scapoideum dan ligamen intercarpal yang terdiri dari ligamen interlaveum

collare dan dorsale, ligamen interseum dan ligamen carpiarquetrum

(Yolanda, et al, 2017).

D. Nervus Medianus

Nervus medianus dipercabangkan dari pleksus brachialis dengan dua

buah kaput. Kedua kaput tersebut berasal dari fasikulus lateral dan

fasikulus medial. Kedua kaput tersebut bersatu pada bawah otot pektoralis

minor, jadi serabutserabut dari dalam trunkus berasal dari tiga segmen

servical yang bawah dan dari segmen thorakal pertama medulla spinalis

didalam lengan atas bagian bawah n. brakialis ini bercabang menjadi 3.

Nervus medianus ini berjalan sepanjang arteri brachialis dan lewat sisi

DIII Fisioterapi | 8
palmar lengan bawah dimana serabut ini menuju telapak tangan dengan

melewati terowongan carpal berbentuk silinder yang ditutupi oleh ligamen

carpi trasversum dan membentang dari tulang scapoideum sampai tulang

hamatum disebelah medial kirakira 3 cm kedalam palmar. Otot-otot lengan

bawah yang disarafi oleh nervus medianus antara lain: m. pronator teres,

m. Flexor carpi radialis, m. Palmaris longus, m. flexor digitorum

provundus, [Link] pollicis longus dan pronator quadratus. Nervus

medianus mensarafi otot-otot fleksor lengan bawah dan otot-otot fleksor

pergelangan tangan sehingga apabila ada lesi yang mengenai nervus

medianus akan menyebabkan terjadinya penurunan sensoris pada bagian

volar lengan bawah, daerah palmar tangan jari 1, 2, 3 dan setengah jari ke-

4 (Yolanda, et al, 2017).

DIII Fisioterapi | 9
BAB II

BIOMEKANIK

A. Biomekanik Wrist Joint

Wrist joint memiliki banyak articulation yang terdiri dari delapan ossa

carpal, distal radius, ulna carpal, dan metacarpal. Struktur pada

radiocarpal joint merupakan ovoid joint yang mana os radius konkaf ke

distal dengan sedikit serong ke palmar 150 yang bersendi dengan carpus

dengan bentuk konvek. Sehingga rolling dan sliding berlawanan arah

karena konvek bergerak terhadap konkaf. Gerak arthrokinematik wrist

meliputi traksi dan translasi. Traksi ossa carpal ke arah distal searah axis

os radii (serong 50), sedangkan gerak translasi selalu berlawanan arah,

palmar flexion translation ke dorsal dan saat dorsal flexion translation ke

palmar, saat ulnar deviation terjadi translation ke radial dan sebaliknya

saat radial deviation translation ke ulnar. Sedangkan pada os ulna tidak

langsung bersendi dengan carpus tetapi melalui diskus. Wrist joint

termasuk jenis sendi synovial yangmana sendi dapat bergerak maksimal

atau maximal lose packed position (MLPP) pada posisi palmar fleksi 50

dan ulnar deviasi 50. Sedangkan sendi akan mengunci maksimal atau

close packed position (CPP) yaitu dorsal flexion penuh. Pola kapsuler

yang terjadi pada wrist joint yaitu ekstensi lebih terbatas dari fleksi

(ekstensi>fleksi) (Kartikasari, 2017).

DIII Fisioterapi | 10
BAB III

PATOLOGI

A. Definisi

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah penekanan saraf medianus pada

pergelangan tangan yang menimbulkan rasa nyeri, paresthesia, numbness,

dan kelemahan sepanjang perjalan saraf medianus (Chung, et al, 2010).

Neuropati ini disebabkan oleh terperangkapnya saraf medianus pada area

carpal tunnel, yang dibatasi oleh tulang-tulang carpal dan juga transverse

carpal ligament. Di area carpal tunnel terjadi peningkatan tekanan

sehingga terjadi penurunan fungsi saraf medianus pada tingkatan tersebut.

Keluhan yang timbul berupa kesemutan pada jari jari tangan I sampai

setengah jari IV bagian telapak tangan, numbness, nyeri, dan kelemahan

otot (Ibrahim, et al, 2012).

B. Epidemiologi

Angka kejadian CTS sekitar 90% dari berbagai neuropati lainnya.

Setiap tahunnya kejadian CTS mencapai 267 dari 100.000 populasi dengan

prevalensi 9,2% pada perempuan dan 6% pada laki-laki. Di Inggris, angka

kejadinnya mencapai 6%-17% yang lebih tinggi dari pada Amerika yaitu

5%. Penderita umumnya usia 40-60 tahun, perempuan tiga kali lebih

beresiko daripada laki-laki (Ibrahim dkk., 2012).

C. Etiologi

Beberapa penyebab dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian

carpal tunnel syndrome antara lain : (Andi, 2015)

DIII Fisioterapi | 11
a. Genetik

b. Usia

c. Jenis kelamin

d. Trauma

e. Pekerjaan

f. Infeksi

g. Metabolik

h. Vaskular

i. Degeneratif: osteoartritis.

j. Inflamasi

D. Patofisiologi

Dimanapun nervus perifer berjalan melewati fibro-osseus tunnels

akan berisiko untuk terjadinya entrapment dan compression khususnya

jika soft tissue menjadi bulk (seperti pada kehamilan, myxoedema atau

rheumatoid arthritis) atau jika terdapat lokal obstruksi seperti ganglion

atau osteophytic spur.

Nerve compression mengganggu aliran darah epineural dan konduksi

axonal, menimbulkan gejala seperti numbness, paraethesia, dan muscle

weakness, Adanya ischemia terlihat adanya perbaikan setelah decompresi.

Kompresi yang lama atau berat menyebabkan segmental demyelinasi,

muscle atrophy, dan nervus fibrosis, gejala ringan kemungkinan akan

membaik setelah dekompresi.

Peripheral neurophaty berhubungan dengan gangguan secara umum

seperti diabetes atau alcoholism yang dapat membuat nervus menjadi

DIII Fisioterapi | 12
sensitif terhadap kompresi. Proximal kompresi seperti discogenic root

compression mengganggu sintesis dan transpor substansi neural, sehingga

predisposisi untuk terjadi entrapment pada bagian distal, disebut juga

double-crush syndrome (Waktu, 2015).

E. Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala klinis CTS meliputi mati rasa, kesemutan dan nyeri pada

tangan, rasa seperti tersengat listrik pada ibu jari, telunjuk dan jari tengah.

Keluhan paresthesia biasanya lebih menonjol dimalam hari. Gejala

lainnya adalah nyeri ditangan yang juga dirasakan lebih berat pada malam

hari sehingga sering membangunkan penderita dari tidurnya. Rasa nyeri

ini umumnya agak berkurang bila penderita memijat atau menggerak-

gerakkan tangannya atau dengan meletakkan tangannya pada posisi yang

tinggi. Nyeri juga akan berkurang bila penderita lebih banyak

mengistirahatkan tangannya. Apabila tidak segera ditangani dengan baik

maka jari-jari menjadi kurang terampil misalnya saat memungut benda-

benda kecil. kelemahan pada tangan juga sering dinyatakan dengan

keluhan adanya kesulitan penderita pada waktu menggenggam. Pada tahap

lanjut dapat dijumpai atrofi otot-otot thenar (oppones pollicis dan

abduktor pollicis brevis) dan otot-otot lainnya yang diinervasi oleh nervus

medianus (Fitriani, 2017).

DIII Fisioterapi | 13
BAB IV

STATUS KLINIS

A. Pemeriksaan Fisioterapi

1. Ananmesis

a. Anamnesis umum

1) Identitas Pasien

Nama : Ny. M

Umur : 58 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Jl. Ratu Zalecha

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Tanggal pemeriksaan : 2 maret – 6 maret 2020

b. Anamnesis khusus

1) Keluhan Utama

Pasien mengeluhkan nyeri pada pergelangan tangan kanan

dan kiri serta mati rasa dan kesemutan dari ibu jari sampai kejari

tengah tangan kanan dan kiri.

2) Riwayat penyakit sekarang

Pasien merasakan keluhan nyeri pada pergelangan tangan

kanan dan kiri serta mati rasa dan kesemutan dari ibu jari sampai

kejari tengah tangan kanan dan kirinya sudah sejak 3 bulan lalu.

Pertama kali pasien merasakan keluhan sesaat setelah pasien

DIII Fisioterapi | 14
selesai melaksanakan acara pernikahan putrid pasien, dan pasien

beranggapan bahwa keluhan yang dirasakan pada tangan kiri

dan kanan pasien itu dikarenakan selama acara pasien terlalu

lelah dan banyak bekerja dengan menggunakan tangan seperti

memotong bahan masakan. Lalu salah satu keluarga pasien

menyarankan untuk memeriksakan tangannya ke fisioterapi.

3) Riwayat penyakit dahulu

Tidak ada.

4) Riwayat penyakit penyerta

Tidakada.

5) Riwayat penyakit keluarga

Tidak ada.

6) Medika mentosa

Tidak ada.

c. Anamnesis Sistem

Muskuloskeletal : Nyeri gerak pergelangan tangan.


Nervorum : Nyeri menjalar dari pergelangan tangan sampai kejari-jari
2.
serta kesemutan dan mati rasa pada ibu jari sampai kejari

tengah tangan kanan dan kiri.


Kardiovaskular : Tidak ada
Respirasi : Tidak ada
Integumentum : Tidak ada
Gastrointestinal : Tidak ada
Urinaria : Tidak ada

Pemeriksaan fisik

a. Atropometri

DIII Fisioterapi | 15
1) Tinggi Badan : 151 cm

2) Berat Badan : 50 kg

3) IMT : 25,60 ( Normal )

b. Vital Sign

1) Tekanan Darah : 120/90 mmHg ( Normal )

2) Denyut Nadi : 82 x/menit ( normal )

3) Pernafasan : 17 x/menit ( normal )

4) Temperature : 36,2 oC ( normal )

3. Inspeksi

a. Inspeksi Statis

1. Tidak nampak adanya oedema atau perubahan warna kulit,

2. Tidak nampak adanya atropi otot.

b. Inspeksi Dinamis

Saat diminta menggerakkan pergelangan tangan kanan dan kiri

keatas dan kebawah pasien mengeluhkan ada rasa pegal dan nyeri.

4. Palpasi

a. Suhu : Normal

b. Kontur Kulit : Normal

c. Spasme : tidak ada

d. Tenderness : tidak ada

e. Oedem : tidak ada

5. PFGD
No Regio Gerakan Aktif Pasif (TIMT)
Dextra Sinistra Dextra Sinistra dextra sinistra
1. Wirst Fleksi Tidak nyeri Tidak Tidak Tidak Tidak ada Tidak ada
MCP nyeri nyeri, nyeri, weakness weakness

DIII Fisioterapi | 16
Full Full
ROM, ROM,
elastic elastic
end feel end feel
Ekstensi Tidak nyeri Tidak Tidak nyeri, Tidak ada Tidak ada
MCP nyeri nyeri, full weakness weakness
full ROM,
ROM, hard
hard end feel
end feel
Palmar nyeri nyeri nyeri, nyeri, Tidak ada Tidak ada
fleksi full Full weakness weakness
ROM, ROM,
elastic elastic
end feel end feel
Dorso Tidak nyeri Tidak Tidak Tidak Tidak ada Tidak ada
fleksi nyeri nyeri, nyeri, weakness weakness
Full full
ROM, ROM,
hard hard
end feel end feel

Ulnar Tidak nyeri Tidak Tidak Tidak Tidak ada Tidak ada
deviasi nyeri nyeri, nyeri weakness weakness
full full
ROM, ROM,
elastic elastic
end feel end feel

Radial Tidak nyeri Tidak Tidak Tidak Tidak ada Tidak ada
deviasi nyeri nyeri, nyeri, weakness weakness
full Full
ROM, ROM,
elastic elastic

DIII Fisioterapi | 17
end feel end feel

6. Pemeriksaan Spesifik

a. Test spesifik

a) Tinnel Test , untuk mengetahui adanyaindikasicarpal tunnel

syndrome.

Hasil : (+)

Ip: terdapat nyeri menjalar dan rasa kesemutan dari pergelangan

tangan sampai jari-jari.

b) Phalentesr, untuk mengetahui adanya indikasicarpal tunnel

syndrome.

Hasil : (+)

IP : terdapat nyeri menjalar dari pergelangan tangan sampai jari-

jari.

c) Finklestain’s test , untuk mengetahui indikasi de quervain

syndrome.

Hasil : (-)

IP : Pasien tidak merasakan nyeri.

b. MMT

Wrist joint :

1) Flexor MCP :5

2) Extensor MCP :5

3) Palmar flexi :5

4) Dorso flexi :5

DIII Fisioterapi | 18
5) Ulnar deviasi :5

6) Radial deviasi :5

c. Sensoris

1) Tajam tumpul (-)

2) Panas dingin (-)

3) Kasar halus (+)

4) Tekanan dalam ringan (+)

Ip : pasien mengalami penurunan sensasi.

d. Nyeri

NRS :

1) Diam : 0/10

2) Gerak : 8/10 (palmar flexi)

3) Tekan : 0/10 (tidak ada nyeri tekan)

B. Diagnosa Fisioterapi

Gangguan aktivitas fungsional wirst akibat nyeri menjalar dan kesemutan

pada tangan dextra dan sinistra et causa Carpal Tunnel Syndrome sejak 3

bulan yang lalu.

C. Problematika FT

1. Impairment

a. Nyeri gerak saat palmar fleksi dextra dan sinistra,

b. Kesemutan dan mati rasa dari wirst joint sampai ke phalang 1,2 dan

3 dextra dan sinistra.

DIII Fisioterapi | 19
2. Funtional Limitation

a. Pasien mengalami nyeri gerak saat palmar fleksi dextra dan

sinistra,

b. Pasien merasakan kesemutan dan mati rasa dari wirst joint sampai

ke phalang 1,2 dan3 dextra dan sinistra.

3. Disability

Kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu,

mengepel, mencuci danmemasak.

4. Handicap

Kesulitan dalam melakukan pekerjaan rumah tangga.

D. Program rencana tindakan fisioterapi

1. Tujuan Jangka Pendek

a. Mengurangi nyeri

b. Mengurangi kesemutandanmati rasa

2. Tujuan Jangka Panjang

Mengembalikan gerak fungsional wirst joint dextra dan sinistra

kekeadaan normal.

E. Intervensi fisioterapi

No Problem Modalitas Dosis


.
1. Mengurangi nyeri Elektroterapi F : 3 kali seminggu
I : 20-30 mA
T : TENS
T : 10 menit
Elektroterapi F : 3 kali seminggu

DIII Fisioterapi | 20
I : 3 MHz, 1,2 w/cm2
T : Ultrasound
T : 10 menit
2. Kesemutan dan mati Manual terapi F : 3 kali seminggu
rasa I : 8 kali repatisi
T : Mobilisasi
terowongan carpal
T : 5 menit
Manual neuro F : 3 kali seminggu
I : 5 kali repatisi
T : Monas
T : 5menit

F. Prognosis

Qou ad vitam : Bonam

Qou ad sanam : Bonam

Qou ad fungsionam : Bonam

Qou ad cosmeticam : Bonam

G. Home program

1. Pasien dianjurkan untuk melakukan gerakan active exercise pada

pergelangan tangan dan jari-jari.

2. Pasien dianjurkan untuk melakukan latihan penguatan dengan bentuk

kontraksi isometric untuk mencegah kelemahan otot.

H. Edukasi

Pasien jangan melakukan aktivitas yang berat menggunakan tangan seperti

mengangkat barang berat, aktivitas atau pekerjaan yang berlebihan.

I. Evaluasi Terapi

DIII Fisioterapi | 21
Setelah melakukan 1 kali terapi hasil evaluasi fisioterapi sebagai

berikut :

1. Evaluasi nyeri

Tanggal Problem Alat Hasil Keterangan


Pre Post
ukur
2 Maret Nyeri NRS Nyeri diam : 0/10 Nyeri diam : 0/10 Ada
2020 Nyeri gerak : 8/10 Nyeri gerak : 7/10 penurunan
Nyeri tekan : 0/10 Nyeri tekan : 0/10 nyeri

4 Nyeri NRS Nyeri diam : 0/10 Nyeri diam : 0/10 Ada


Maret20 Nyeri gerak : 7 /10 Nyeri gerak : 5/10 penurunan
20 Nyeri tekan : 0/10 Nyeri tekan : 0/10 nyeri

6 Maret Nyeri NRS Nyeri diam : 0/10 Nyeri diam : 0/10 Ada
2020 Nyeri gerak : 6/10 Nyeri gerak : 4/10 penurunan
Nyeri tekan : 0/10 Nyeri tekan : 0/10 nyeri

2. Evaluasi Sensoris

Hasil
Tanggal Problem Alatu kur Keterangan
Pre Post
Tidak mampu Sedikit mampu
Kasar-halus
Ganggu merasakan merasakan Ada
2 Maret
an Tekanan peningkatan
2020 Tidak mampu Sedikit mampu
Sensoris dalam- sensibilitas
merasakan merasakan
ringan
4 Maret Ganggu Sedikit mampu Mampu Ada
Kasar-halus
2020 an merasakan membedakan peningkatan
Tekanan Sedikit mampu Mampu
Sensoris sensibilitas
dalam- merasakan membedakan

DIII Fisioterapi | 22
ringan
Mampu Sangat mampu
Kasar-halus
Ganggu merasakan membedakan Ada
6 Maret
an Tekanan peningkatan
2020 Mampu Sangat mampu
Sensoris dalam- sensibilitas
merasakan membedakan
ringan

DIII Fisioterapi | 23
DAFTAR PUSTAKA

A.K, Y., Yurizal, F., Risydianto, Nanda, M., Widyaningsih, Rahman, …


Hidayatul. (n.d.). 2017 Carpal Tunnel Syndrome.

Andi, D. (2015). Carpal Tunnel Syndrome. 6–26.

Chung, K. C., Ono, S., & Kevin, P. J. C. (2010). Optimal management of carpal
tunnel syndrome. 255–261. [Link]

Fitriani, R. (2017). Penatalaksanaan fisioterapi pada kondisi carpal tunnel


syndrome (cts).

I, W. (2015). Carpal tunnel syndrome.

Ibrahim, I., Khan, W. S., Goddard, N., & Smitham, P. (2012). Carpal Tunnel
Syndrome : A Review of the Recent Literature Carpal Tunnel Syndrome : A
Review of the Recent Literature. (February).
[Link]

Kartikasari, D. (2017). Carpal Tunnel Syndrome.

DIII Fisioterapi | 24
DOKUMENTASI

DIII Fisioterapi | 25

Anda mungkin juga menyukai