Asuhan Keluarga Hipertensi di Mataram
Asuhan Keluarga Hipertensi di Mataram
DISUSUN:
REZMA RAHAYU ARYANTI
NIM: 079 STYC 17
Perubahan struktur
Penyumbatan
pembuluh darah
Vasokonstriksi
Mk: Resiko
ketidakefektifan
Gangguan sirkulasi Otak Suplai O2 ke otak perfusi jaringan ke
menurun otak
Ginjal
Retina
Pembuluh darah
Vasokontriksi
pembuluh darah Spasme
Ginjal arteriol Sitemik
Koroner
1.2.4 Patofisiologi
Manurut Amin Huda kusuma (2015), hipertensi dapat disebabkan menjadi
dua golongan yaitu hipertensi primer (esensial) dan hupertensi sekunder. Pada
hipertensi primer faktor yang mempengaruhinya yaitu genetik, lingkungan,
hiperaktivitas saraf simpatis dan sistem renin, dsn faktor yang meningkatkan
resiko hipertensi primer ini seperti: obesistas, merokok dan alkohol. Sedangkan
hipertensi sekunder penyebabnya yaitu: penggunaan estrogen, penyakit ginjal,
sindrom cushing dan hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.
Menurut Nuraif, Amin Huda & Hardi Kusuma (2015) Faktor predisposisi
(utama) terjadinya hipertensi yakni usia, jenis kelamin, merokok, stres, kurang
olahraga, genetik, alkohol konsentrasi garam, dan obesitas.
Hipertensi dapat terjadi karena ada kerusakan vaskuler (peredaran pembuluh
darah) sehingga terjadi perubahan struktur dari peredaran pembuluh darah, dan
penyumbatan pembuluh darah terjadi karena terjadinya vasokonstriksi
(kontraksi dinding otot) hingga menyumbat pembuluh darah sehingga
gangguan sirkulasi di otak, ginjal, retina, dan pembuluh darah terganggu.
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak dipusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut kebawah ke korda spinalis dan
keluar dari kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan
abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk implus yang
bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini,
neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut
saraf paska ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya
norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti
kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah
terhadap rangsang vasokontriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitive
terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal
tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh
darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Medulla adrenal mengsekresi
epinefrin yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mengsekresi
kortisol dan dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon
vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan
penurunan aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin
merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian di ubah menajdi II,
suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron
oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh
tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor
tersebut cenderung pencetus keadaan hipertensi.
Perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh darah perifer
bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada lanjut usia.
Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat,
dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada
gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah.
Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam
mengakomodasi volume darah yang di pompa oleh jantung (volume sekuncup),
mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer
(Brunner & Suddarth, 2005).
1. Hipertensi dapat terjadi karena ada kerusakan kerusakan vaskuler
(peredaran pembuluh darah) sehingga terjadi perubahan struktur dari
peredaran pembuluh darah, dan penyumbatan pembuluh darah terjadi
karena terjadinya vasokonstriksi (kontraksi dinding otot) hingga
menyumbat pembuluh darah sehingga gangguan sirkulasi di otak terjadi
dan membuat suplai O2 ke otak menurun sehingga muncul Masalah
keperawatan “Resiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan ke Otak”
2. Hipertensi dapat terjadi karena ada kerusakan kerusakan vaskuler
(peredaran pembuluh darah) sehingga terjadi perubahan struktur dari
peredaran pembuluh darah, dan penyumbatan pembuluh darah terjadi
karena terjadinya vasokonstriksi (kontraksi dinding otot) hingga
menyumbat pembuluh darah sehingga gangguan sirkulasi di ginjal terjadi
karena vasokonstriksi pembuluh darah (kontrasi dinding otot hingga
menyumbat pembuluh darah) sehingga terjadi blood flow (aliran darah
menurun) sehingga terjadi respon RRA (Renin-Angiotensin-Aldosteron)
dan yang merangsang adalah Aldosteron dan menyebabkan retensi natrium
darah dan menyebabkan edema sehingga muncul masalah keperawatan
“Kelebihan Volume Cairan”
3. Hipertensi dapat terjadi karena ada kerusakan kerusakan vaskuler
(peredaran pembuluh darah) sehingga terjadi perubahan struktur dari
peredaran pembuluh darah, dan penyumbatan pembuluh darah terjadi
karena terjadinya vasokonstriksi (kontraksi dinding otot) hingga
menyumbat pembuluh darah sehingga gangguan sirkulasi di retina.
Kelainan pada pembuluh darah ini menyebabkan kelinan pada retina yaitu
retinopati hipertensi dengan arteri yang besarnya tidak teratur, episudat
pada retina, udema retina dan perdarahan retina. Spasme (penyempitan)
pembuluh darah dapat berupa: pembuluh darah (terutama arteri retina)
yang berwarna lebih pucat, kapiler pembuluh yang menjadi lebih kecil atau
irreguler (karena spasme lokal), dan percabangan arteriol yang tajam
sehingga muncul masalah keperawatan “Resiko Cedera”
4. Hipertensi dapat terjadi karena ada kerusakan kerusakan vaskuler
(peredaran pembuluh darah) sehingga terjadi perubahan struktur dari
peredaran pembuluh darah, dan penyumbatan pembuluh darah terjadi
karena terjadinya vasokonstriksi (kontraksi dinding otot) hingga
menyumbat pembuluh darah sehingga gangguan sirkulasi pada pembuluh
darah yang mengalirkan O2 mengalami penurunan dan terjadilah PJK
(Penyakit jantung Koroner) dimana kondisi pembuluh darah jantung
tersumbat oleh lemak dan menyebabkan terjadinya iskemia miokard
(kondisi yang terjadi ketika aliran darah berhenti pada sebagian jantung,
menyebabkan kerusakan pada otot jantung, jika salah satu arteri ini
tersumbat secara tiba-tiba sebagian jantung menjadi kekurangan oksigen
sehingga muncul masalah keperawatan “Nyeri akut”.
5. Gangguan peredaran darah sitemik terjadi karena gangguan sirkulasi
sehingga menyebabkan terganggunya peredarahan darah sistemik
(peredaran darah besar) ini mengalami kontraksi dinding otot hingga
menyumbat pembuluh darah sehingga aliran darah keseluruh tubuh
terganggu, sedangkan Afterload meningkat (tekanan dimana jantung harus
bekerja untuk mengeluarkan darah selama sistol, dengan kata lain beban
akhir dari jantung untuk di edarkan ke seluruh tubuh) dan tentu orang yang
mengalami gangguan ini akan cepat merasa lelah (Fatigue) sehingga
muncul masalah keperawatan “Intoleransi Aktivitas”
1.2.5 Menifestasi klinis
Menurut Amin Huda Nuraif & Hardi Kusuma, 2015 Tanda dan gejala
pada hipertensi dapat dibedakan menjadi:
1. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang sepsifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter
yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah
terdiagnosa jika tekanan arteri tidak teratur.
2. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi
meliputi nyeri kepala, kaku kuduk dan kelelahan. Dalam kenyataan ini
merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari
pertolongan medis.
Beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu: meengeluh sakit
kepala, pusing, lemas kelelahan, sesak nafas, gelisah, mual, muntah,
epistaksis dan kesadaran menurun.
1.2.6 Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Nonfarmakologi
Penatalaksanaan nonfarmakologis dengan modifikasi gaya hidup
sangat penting dalam mencegah tekanan darah tinggi dan merupakan bagian
yang tidak dapat dipisahkan dalam mengobati tekanan darah tinggi
(Ridwanamiruddin, 2007). Penatalaksanaan hipertensi dengan
nonfarmakologis terdiri dari berbagai macam cara modifikasi gaya hidup
untuk menurunkan tekanan darah yaitu:
a. Mempertahankan berat badan ideal
Mempertahankan berat badan ideal sesuai body mass index (BMI)
dengan rentang 18,5-24,9 kg/m2 (Kaplan, 2006). BMI dapat diketahui
dengan membagi berat badan anda yang telah di kuadratkan dalam
satuan diet rendah kolesterol namun kaya dengan serat dan protein
([Link]), dan jika berhasil menurunkan berat badan 2,5-5 kg
maka tekanan darah diastolik dapat diturunkan sebanyak 5 mmHg
(Radmarssy, 2007).
b. Kurangi asupan natrium (sodium)
Mengurangi asupan natrium dapat dilakukan dengan cara diet rendah
garam yaitu tidak lebih dari 100 mmol/hari (kira-kira 6 gr NaCL atau
2,4 gr garam/hari)b(Kaplan, 2006). Jumlah yang lain dengan
mengurangi asupan garam sampai kurang dari 2300 mg (1 sendok teh)
setiap hari. Pengaturan konsumsi garam menjadi ½ sendok teh/hari,
dapat menurunkan tekanan sistolik sebanyak 5 mmHg dan tekanan
diastolik sekitar 2,5 mmHg (Radmarssy, 2007).
c. Batasi konsumsi alkohol
Radmarssy (2007) mengatakan bahwa mengkonsumsi alkohol harus
dibatasi karena konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan
tekanan darah. Para peminum berat mempunyai resikomengalami
hipertensi empat kali lebih besar dari pada mereka yang tidak minum
minuman beralkohol.
d. Makan K dan Ca yang cukup dari diet
Pertahankan asupan diet pottasium (>90 mmol (3500 mg)/hari)
dengan cara konsumsi tinggi buah dan sayur dan diet rendah lemak
dengan cara mengurangi asupan lemak jenuh dan lemak total (Kaplan,
2006). Kalium dapat menurunkan tekanan darah dengan meningkatkan
jumlah natrium yang terbuang bersama air kencing. Dengan setidaknya
mengonsumsi buah-buahan sebanyak 3-5 kali dalam sehari, seseorang
bisa mencapai asupan potassium yang cukup (Radmarssy, 2007).
e. Menghindari merokok
Merokok memang tidak berhubungan secara langsung dengan
timbulnya hipertensi, tetapi merokok dapat meningkatkan risiko
komplikasi pada pasien hipertensi seperti penyakit jantung dan stroke,
maka perlu dihindari mengkonsumsi tembakau (rokok) karena dapat
memperberat hipertensi (Dalimartha, 2008).
Nikotin dalam tembakau membuat jantung bekerja lebih keras karena
menyempitkan pembuluh darah dan meningkatkan frekuensi denyut
jantung serta tekanan darah (Sheps, 2005). Maka pada penderita
hipertensi dianjurkan untuk menghentikan kebiasaan merokok
([Link]).
f. Penurunan stress
Stress memang tidak menyebabkan hipertensi yang menetap namun
jika episode stress sering terjadi dapat menyebabkan kenaikan
sementara yang sangat tinggi (Sheps, 2005). Menghindari stress dengan
menciptakan suasana yang menyenangkan bagi penderita hipertensi dan
memperkenalkan berbagai macam metode relaksasi seperti yoga atau
meditasi yang dapat mengontrol sistem saraf yang akhirnya dapat
menurunkan tekanan darah ([Link]).
g. Terapi masase (pijat)
Menurut Dhalimartha (2008), pada prinsipnya pijat yang dilakukan
pada penderita hipertensi adalah untuk memperlancar aliran energi
dalam tubuh sehingga gangguan hipertensi dan komplikasinya dapat
diminimalisir, ketika semua jalur energi terbuka dan aliran energi tidak
lagi terhalang oleh ketegangan otot dan hambatan lain maka risiko
hipertensi dapat ditekan.
2. Pengobatan Farmakologi
a. Diuretik (Hidroklorotiazid)
Mengeluarkan cairan tubuh sehingga volume cairan ditubuh
berkurang yang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih
ringan.
b. Penghambatan Simpatetik (Metildopa, Klonidin, dan Reserpin):
Menghambat aktivitas saraf simpatis.
c. Betabloker (Metoprolol, Propanolol dan Atenolol)
1) Menurunkan daya pompa jantung.
2) Tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui mengidap
gangguan pernapasan seperti asam bronkial.
3) Pada penderita diabetes melitus: dapat menutupi gejala
hipoglikemia.
d. Vasodilator (Prasosin, Hidralasin)
Bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot pembuluh
darah.
e. ACE inhibitor (Captopril)
1) Menghambat pembentukan zat Angiotensin II.
2) Efek samping: batuk kering, pusing, sakit kepala dan lemas.
f. Penghambat Reseptor Angiotensin II (Valsartan)
Menghalangi penempelan zat Angiotensin II pada reseptor sehingga
memperingan daya pompa jantung.
g. Antagonis kalsium (Diltiasem dan Verapamil)
Menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas).
1.2.7 Komplikasi
Menurut Padila, 2013 Tekanan darah tinggi apabila tidak diobati dan
ditanggulangi, maka dalam jangka panjang akan menyebabkan kerusakan arteri
didalam tubuh organ yang mendapat suplai darah dari arteri tersebut.
Komplikasi hipertensi dapat terjadi pada organ-organ sebagai berikut:
1. Jantung
Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan terjadinya gagal jantung
dan penyakit jantung koroner. Pada penderita hipertensi, beban kerja
jantung akan meningkat, otot jantung akan mengendor dan berkurang
elastisitasnya, yang disebut dekompensasi. Akibatnya, jantung tidak mampu
lagi memompa sehingga banyak cairan tertahan diparu maupun jaringan
tubuh lain yang dapat menyebabkan sesak nafas atau oedema. Kondisi ini
disebut gagal jantung.
2. Otak
Komplikasi hipertensi pada otak, menimbulkan resiko stroke,
apabila tidak diobati risiko terkena stroke 7 kali lebih besar.
3. Ginjal
Tekanan darah tinggi juga menyebabkan kerusakan ginjal, tekanan
darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan system penyaringan di dalam
ginjal akibatnya lambat laun ginjal tidak mampu membuang zat-zat yang
tidak dibutuhkan tubuh yang masuk melalui aliran darah dan terjadi
penumpukan di dalam tubuh.
4. Mata
Pada mata hipertensi dapat mengakibatkan terjadinya retinopati
hipertensi dan dapat menimbulkan kebutaan (Yahya, 2005).
1.2.8 Pemeriksaan penunjang
1. Riwayat dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh
2. Pemeriksaan retina
3. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kerusakan organ seperti ginjal
dan jantung
4. EKG untuk mengetahui hipertropi ventrikel kiri
5. Urinalisasi untuk mengetahui protein dalam urin, darah, glukosa.
6. Pemeriksaan: renogram, pielogram intravena arteriogram renal,
pemeriksaan fungsi ginjal terpisah dan penentuan kadar urin
7. Foto dada dan CT scan.
1.3 Konsep dasar asuhan keperawatan keluarga
1. Pengkajian
a. Data umum
1) Nama kepala keluarga, umur, alamat, dan telepon jika ada, pekerjaan
dan pendidikan kepala keluarga, komposisi keluarga, yang terdiri atas
nama atau inisial, jenis elamin, tanggal lahir atau umur, hubungan
dengan kepala keluarga, status imunisasi dari masing-masing anggota
keluarga, dan genongram (genogram keluarga dalam tiga generasi)
2) Tipe keluarga, menjelaskan jenis tipe keluarga beserta kendala atau
masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut.
3) Suku bangsa, mengkaji asal suku bangsa keluarga tersebut, serta
mengidentifikasi budaya suku bangsa terkait dengan kesehatan
4) Agama, mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan
yang dapat memengaruhi kesehatan.
5) Status sosial ekonomi keluarga, ditentukan oleh pendapatan, baik kepala
keluarga maupun anggota keluarga maupun anggota keluarga lainnya.
6) Aktivitas rekreasi keluarga dan waktu luang, rekreasi keluarga tidak
hanya dilihat kapan keluarga pergi bersama-sama untuk mengunjung
tempat rekreasi, namun menonton TV dan mendengarkan radio juga
merupakn aktivitas rekreasi.
b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
1) Tahap perkembangan keluarga saat ini, ditentukan oleh anak tertua dari
keluarga inti.
2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi, menjelaskan
bagaimana tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga
serta kendalanya.
3) Riwayat keluarga inti, menjelaskan riwayat kesehatan pada keluarga
inti, meliputi: riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-
masing, anggota, dan sumber pelayanan yang digunakan keluarga
seperti perceraian, kematian, dan keluarga yang hilang.
4) Riwayat keluarga sebelumnya, keluarga asal keduanya orang tua
(seperti apa kehidupan keluarga asalnya) hubungan masa silam dan saat
dengan orang tua dari kedua orang tua.
c. Pengkajian lingkungan
1) Karakteristik rumah
Gambaran tipe tempat tinggal, gambaran kondisi rumah, kamar mandi,
dapur, kamar tidur, kenersihan dan sanitasi rumah, pengaturan privasi
dan perasaan secara keseluruhan dengan pengaturan atau penataan
rumah mereka
2) Karakteristik lingkungan dan komunitas tempat tinggal
Tipe lingkungan tempat tinggal komunitas kota atau desa, tipe tempat
tinggal, keadaan tempat tinggal dan jalan raya, sanitasi jalan dan rumah,
fasilitas-fasilitas ekonomi dan transportasi.
3) Mobilitas geografis keluarga
Ditentukan apakah keluarga tiggal di daerah ini atau apakah sering
mempunyai kebiasaan berpindah-pindah tempat tinggal.
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Menjelaskan waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul serta
perkumpulan keluarga yang ada.
5) Sistem pendukung keluarga
Jumlah anggota keluarga yang sehat, sumber dukungan dari anggota
keluarga dan jaminan pemeliharaan kesehtan yang dimiliki keluarga.
d. Struktur keluarga
1) Pola-pola komunikasi keluarga, menjelaskan mengenai cara
berkomunikasi antar anggota keluarga
2) Struktur kekuatan keluarga, kemampuan anggota keluarga untuk
mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk merubah perilaku
3) Struktur peran, menjelaskan peran dari masing-masing anggota keluarga
baik formal/informal
4) Struktur nilai atau norma keluarga, menjelaskan mengenai nilai dan
norma yang dianut keluarga yang berhubungan dengan kesehatan
e. Fungsi keluarga
1) Fungsi afektif, kaji gambaran diri keluarga, perasaan yang dimiliki
2) Fungsi sosialisasi, kaji bagaimana interkasi keluarga, sejauh mana
anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya dan prilaku
3) Fungsi perawatan kesehatan, kaji kemampuan keluarga dalam mengenal
masalah kesehatannya dan memelihara kesehatannya.
4) Fungsi reproduksi, kaji jumlah anak, bagaimana keluarga merencanakan
jumlah anggota keluarga
5) Fungsi ekonomi, kaji sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan
sandang, pangan dan papan.
f. Stress dan koping keluarga
1) Stressor jangka pendek dan panjang
a) Jangka pendek: penyelesaian stressor yang dialami < ± 6 bulan
b) Jangka panjang: penyelesaian stressor yang dialami > ± 6 bulan
2) Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/ stressor, kaji sejauh
mana keluarga berespon terhadap situasi
3) Strategi koping yang digunakan, bagaimana strategi koping yang
digunakan keluarga bila menghadapi permaslahan
4) Strategi adaptasi disfungsional, dijelaskan mengenai strategi adaptasi
disfungsional yang digunakan keluarga dalam menghadapi masalah
g. Pengkajian focus Keluarga dengan anak dewasa (mulai melepas ) atau
dengan tahap 6 perkembangan keluarga
1) Bagaimana karakteristik pasangan anaknya ?
2) Bagaimana hubungan anak terhadap orang tua dan mertua setelah
menikah ?
3) Apakah anak yang telah menikah tinggal bersama atau lepas dari
orangtua ?
4) Bagaimana hubungan antara anak yang telah menikah dengan saudara
kandungnya?
5) Bagaimana perasaan orangtua setelah anak menikah ?
6) Bagaimana orangtua membentuk jaringan dengan anak ?
7) Bagaimana pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga yang dilaksanakan ?
a. Pelaksanaan fungsi keluarga
1. Fungsi afektif : apakah orang tua mempersiapkan anaknya agar
bisa bersosialisasi berhubungan baik dengan orang lain ?
2. Fungsi sosialisa : apakah anak sudah mampu bersosialisasi
dengan lingkungan diluar rumahnya sebelum meninggalkan
rumah ?
3. Fungsi ekonomi : apakah orang tua memenuhi semua
kebutuhan keluarganya ?
4. Fungsi perawatan : apakah orang tua mempertahankan agar
anggota keluarganya tidak sakit, dan merawat anggota keluarga
jika ada yang sakit ?
5. Fungsi pendidikan :apakah keluarga telah bertanggungjawab
terhadap pendidikan anaknya ?
b. Pelaksanaan tugas keluarga dibidang kesehatan
1. Apakah Keluarga mampu untuk mengenal masalah kesehatan
keluarga seperti mengetahui tanda dan gejala penyakit
2. Apakah Keluarga bisa memutuskan tindakan kesehatan yang
tepat untuk keluarganya
3. Apakah Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang sakit
c. Tugas perkembangan keluarga yang telah tercapai
1. Apakah Keluarga sudah memperluas jaringan keluarga dari
keluarga inti menjadi keluarga besar
2. Apakah Keluarga mampu mempertahankan keintiman
pasangan
3. Apakah Keluarga mampu membantu anak untuk mandiri
sebagai keluarga baru di masyarakat
4. Apakah Keluarga telah melakukan penataan kembali peran
orang tua dan kegiatan dirumah
2. Diagnosa
Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis mengenai individu,
keluarga, atau masyarakat yang diperoleh melalui suatu proses pengumpulan
data dan analisa data secara cermat, memberikan dasar untuk menetapkan
tindakan-tindakan dimana perawat bertanggung jawab untuk melaksanakannya
(Harmoko, hal 86; 2012)
Tipologi dari diagnosa keperawatan (Harmoko, hal 86; 2012)
1) Diagnosis aktual: Masalah keperawatan yang sedang dialami oleh keluarga
dan memerlukan bantuan perawat dengan cepat.
Contoh : Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur pada Ny. W
keluarga Tn.S yang b/d ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan
yang nyaman untuk istirahat tidur.
2) Diagnosis resiko tinggi: masalah keperawatan yang belum terjadi tetapi
tanda untuk menjadi masalah keperawatan aktual dapat terjadi dengan cepat
apabila tidak segera mendapat bantuan atau di tangani.
Contoh : Resiko tinggi gangguan perkembangan balita khususnya pada
An.A yang b/d ketidakmampuan keluarga melakukan stimulasi pada balita.
3) Diagnosis potensial: suatu keadaan sejahtera ketika keluarga telah mampu
memenuhi kebutuhan kesehatannya dan mempunyai sumber penunjang
kesehatan yang memungkinkan dapat ditingkatkan.
Contoh : Potensial peningkatan kesejahteraan khususnya Ny.S yang sedang
hamil pada keluarga Tn.B.
Skoring dilakukan apabila rumusan diagnosis keperawatan lebih dari satu,
proses scoring mengguanakan skala dirumuskan oleh Bailon & Maglaya
( 1978 ).
No. Kriteria Skor Bobot
1. Sifat Masalah :
- Tidak Atau Kurang Sehat 3 1
- Ancaman Kesehatan 2
- Krisis Atau Keadaan Sejahtera 1
2. Kemungkinan Masalah Dapat Di
Ubah
- Dengan Mudah 2 2
- Hanya Sebagian 1
- Tidak Dapat 0
3. Potensi Maslah Dpat Di Cegah
- Tinggi 3 1
- Cukup 2
- Rendah 1
4. Menonjolnya Masalah
- Masalah berat harus segera 2 1
ditangani
- Ada masalah tetapi tidak perlu 1
segera ditangani
- Masalah tidak dirasakan 0
Keterangan :
Proses skoring dilakukan untuk diagnose keperawatan dengan ketntuan :
- Tentukan skornya sesuai dengan kriteria yang telah dibuat
- Skor dibagi dengan skor tertinggi dan dikalikan dengan bobot
Skor
Angka tertinggi x
Bobot
- Jumlah skor untuk setiap kriteria, skor tertinggi adalah 5 sama dengan
jumlah keseluruhan dari bobot
- Kriteria yang dapat mempengaruhi penentuan prioritas maslah :
a. Sifat Masalah
Sifat masalah dapat dikelompokkan kedalam tidak atau kurang sehat
diberikan bobot yang lebih tinggi karena masalah tersebut
memerlukan tindakan yang segera dan biasa masalahnya dirasakan
atau disadari oleh keluarga. Krisis atau keadaan sejahtera diberikan
yang paling sedikit atau rendah karena factor-faktor kebudayaan
biasanya dapat memberikan dukungan bagi keluarga untuk mengatasi
masalahnya dengan baik.
b. Kemungkinan masalah dapat dicegah
Adalah kemungkinan berhasilnya mengurangi atau mencegha masalah
jika ada tindkaan . factor- factor yang perlu diperhatikan dalam
menentukan skor kemungkinan masalah dapat dicegah :
- Pengetahuan dan teknologi serta tindkaan yang dapat dilakukan
untuk menangani masalah
- Sumber-sumber yang ada pada keluarga baik dalam bentuk fisik,
keuangan atau tenaga
- Sumber-sumber dari keperawatan : dalam bentuk pengetahuan,
keterampilan dan waktu.
- Sumber-sumber di masyarakat misalnya : dalam bentuk fasilitas
kesehatan, organisasi masyarakat, dukungan social masyarakat.
c. Potensi masalah dapat dicegah
Adalah sifat dan beratnya maslah yang akan timbul yang dapat
dikurangi atau dicegah. Factor-faktor yang perlu diperhatikan adalah :
- Kepelikan dari masalah
- Lamanya masalah
- Adanya kelompok tinggi resiko atau kelompok yang peka atau rawan
d. Menonjolnya maslah
Merupakan cara keluarga melihat dan menilai masalah tentang
beratnya masalah serta mendesaknya masalah untuk diatasi. Hal yang
perlu diperhatikan dalam memberikan skor pada kriteria ini adalah
perawat perlu menilai persepsi atau bagaimana keluarga tersebut
melihat masalah. Dalam hal ini jika keluarga menyadari masalah dan
merasa perlu untuk menangani segera maka harus diberikan skor
tertinggi.
3. Perencanaan
Rencana keperawatan keluarga merupakan kumpulan tindakan yang
direncanakan perawat untuk dilaksanakan dalam menyelesaikan atau mengatasi
masalah kesehatan/masalah keperawatan yang telah di identifikasi (Harmoko, hal
93; 2012).
Langkah-langkah mengembangkan rencana asuhan keperawatan keluarga
(Harmoko, hal 94; 2012)
a. Menentukan sasaran atau goal
b. Menentukan tujuan dan objek
c. Menentukan pendekatan dan tindakan keperawatan yang akan dilakukan
d. Menentukan kriteria dan standar kriteria.
4. Implementasi
Pelaksanaan merupakan salah satu tahap dari proses keperawatan
keluarga dimana perawat mendapatkan kesempatan untuk membangkitkan minat
keluarga dalam mengadakan perbaikan ke arah perilaku hidup sehat (Harmoko,
hal 97; 2012). Tindakan keperawatan keluarga mencakup hal-hal di bawah ini
(Harmoko, hal 98; 2012)
a. Menstimulasi kesehatan atau penerimaan keluarga mengenai kebutuhan
kesehatan dengan cara memberikan informasi kesehatan, mengidentifikasi
kebutuhan, dan harapan tentang kesehatan, serta mendorong sikap emosi
yang sehat terhadap masalah
b. Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat dengan
cara mengidentifikasi konsekuensi untuk tidak melakukn tindakan,
mengidentifikasi sumber-sumber yang dimiliki keluarga, dan mendiskusikan
konsekuensi setiap tindakan
c. Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga yang sakit
dengan cara mendemonstrasikan cara perawatan, menggunakan alat dan
fasilitas yang ada di rumah, dan mengawasi keluarga melakukan perawatan
d. Membantu keluaga untuk menemukan cara membuat lingkungan menjadi
sehat dengan menemukan sumber-sumber yang dapat digunakan keluarga
dan melakukan perubahan lingkungan keluarga seoptimal mungkin
e. Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan cara
mengenalkan fasilitas kesehatan yang ada dilingkungan keluarga cara
menggunakan fasilitas tersebut.
5. Evaluasi
Sesuai dengan rencana tindakan yang telah diberikan, tahap penilaian
diberikan untuk melihat keberhasilannya. Bila tidak/ belum berhasil, maka perlu
disusun rencana baru yang sesuai (Harmoko, hal 100; 2012)
DAFTAR PUSTAKA
Nuraif, A. H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis
Dan NANDA (Nort American Nursing Diagnosa Association) NIC_NOC.
Jogjakarta: Percetakan Medication Publishing Jogjakarta.
PPNI. 2017. Standar Diagnosa Keperawtan Indonesia : Definisi dan Indikator
Dianostik. Edisi I. Jakarta :DPP PPNI.
PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawtan Indonesia : Definisi dan Tindakan
Keperawatan. Edisi I. Jakarta :DPP PPNI.
PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawtan Indonesia : Definisi dan Kriteria Hasil. Edisi I.
Jakarta :DPP PPNI.
Wilkinson.M.J, Arhen.R. (2013). Buku Saku Diagnosis Keperawatan : Diagnosis NANDA
, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC. Edisi [Link] : EGC
Nuraif, Amin Huda & Hardi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc Jilid 2. Medication Jogja: Jogjakarta.
M. Wilkinson Judith. 2016. Diagnosa Keperawatan Diagnosa NANDA_I Intervensi NIC
Hasil NOC Edisi 10. EGC: Jakarta.
Padila. 2013. Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam. Nuha Medika: Yogyakarta.
Pokjo Tim SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia Definis dan
Indikator Diagnostik Edisi I. Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Indonesia:
Jakarta.
Fridman Marilyn M,[Link] Ajar Keperawatan [Link]:EGC
Friedman,M.M et [Link] Ajar Keperawatan Keluarga Riset,Teori, dan [Link]
[Link]: EGC.
Harnilawati . (2013). Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga. Sulawesi Selatan:
Pustaka As Salam.
Pendidikan
Jenis Kel.
Campak
Nam
Umur
No Hepatiti
BC Polio DPT
a
s
G
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3
1 Tn. L ba 50 S Sehat
R pa th M
k n A
2 Ny. P Ib 49 S HT
H u th M
n A
3 Nn. P A 22 S1 Sehat
A na th
k n
4 An. L an 16 S Sehat
R ak th M
n A
Genogram :
6. Tipe Keluarga : Nuclear Family
7. Suku Bangsa :
a. Asal suku Tn. R dan Ny. H adalah mbojo atau bima
b. Budaya Yang berhubungan dengan Kesehatan : Tidak ada
8. Agama : islam
9. Status sosial ekonomi keluarga :
a. Anggota yang keluarga yang mencari nafkah : Tn. R
Penghasilan Tn.R : Rp. 3.500.000,00
b. Upaya lain : tidak ada
c. Harta benda yang dimiliki ( perabotan transportasi, dll ) : motor 2 buah, dan
perabotan rumah tangga lengkap
d. Kebutuhan yang dikeluarkan tiap bulan : kebutuhan yang di keluarkan
keluarga dalam setiap bulannya sekitar Rp. 2 .000.000,00 – 3.000.000,00
10. Aktivitas rekreasi keluarga
Tn. R mengatakan bahwa mereka jarang pergi berrekreasi
II. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
1. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Keluarga Tn. R dan Ny.H berada pada tahap perkembangan keluarga anak usia
dewasa awal
2. Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Saat ini keluarga Tn. R dan Ny. H sebagai keluarga yang dalam tahap dengan
perkembangan anak dewasa awal.. Menurut Tn. H saat ini dia dengan istrinya
berusaha untuk lebih membina hubungan dengan keluarga keluarganya, teman
dan masyarakat sekitar. Menurut Tn.R pula bahwa dirinya dan istrinya saat ini
hanya berfokus mencari uang untuk membiayai kuliah maupun sekolah anak-
anaknya . Saat ini keluarga Tn. R dan Ny. H tinggal dirumah sendiri.
3. Riwayat kesehatan keluarga inti
Menurut bapak R riwayat masing-masing keluarga yaitu ibu H memiliki riwayat
penyakit tekanan darah tinggi. Sedangkan bapak R sendiri tidak memiliki riwayat
penyakit apapun sebelumnya. Nn.A dan An.R juga dalam keadaan sehat dan
tidak pernah mengalami sakit serius
4. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya
a. Riwayat kesehatan keluarga dari bapak R
Ayah dari bapak R sudah meninggal 8 tahun yang lalu karena menderita
sesak nafas. Ibu dari bapak R Masih sehat dan sekarang tinggal bersama
adik perempuan bapak R
b. Riwayat kesehatan keluarga dari ibu H
Ayah dari ibu H masih sehat dan tidak menderita penyakit serius dan ibu
dari ibu H mengidap penyakit kolesterol.
III. Data lingkungan
1. Karakteristik rumah
a. Luas rumah : 6 x 8 meter
b. Type rumah : permanen
c. Kepemilikan : pribadi
d. Jumlah dan ratio kamar/ruangan : 3 buah kamar tidur, ruang tamu 1 buah, 1
ruang makan, dapur 1 buah, 2 kamar mandi
e. Ventilasi/jendela : Ada 14 ventilasi yang terdapat di dalam rumah
f. Pemanfaatan ruangan ruangan di gunakan sebagaimana fungsi dari ruangan
tersebut
g. Septic tank : ada, letak dibelakang rumah berjarak 10 meter dari rumah
h. Sumber air minum : air gallon
i. Kamar Mandi/ WC : memiliki 2 buah kamar mandi
j. Sampah limbah RT : dibuang ditempat pembuangan sampah sejauh 1 km
k. Kebersihan lingkungan : keadaan kebersihan lingkungan selalu terjaga
karena setiap bulannya masyarakat selalu mengadakan gotong royong untuk
membersihkan lingkungan
D. IMPLEMENTASI
E. EVALUASI