0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
239 tayangan37 halaman

Asuhan Keluarga Hipertensi di Mataram

1. Asuhan keperawatan keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita hipertensi di lingkungan Rabantala, Kelurahan Mpunda. 2. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah diatas 140/90 mmHg yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi organ. 3. Tugas keluarga pada tahap dewasa awal adalah memperluas lingkaran keluarga, memperbarui hubungan suami istri, dan membantu orang tua
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
239 tayangan37 halaman

Asuhan Keluarga Hipertensi di Mataram

1. Asuhan keperawatan keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita hipertensi di lingkungan Rabantala, Kelurahan Mpunda. 2. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah diatas 140/90 mmHg yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi organ. 3. Tugas keluarga pada tahap dewasa awal adalah memperluas lingkaran keluarga, memperbarui hubungan suami istri, dan membantu orang tua
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN SALAH SATU ANGGOTA

KELUARGA MENDERITA HIPERTENSI DI LINGKUNGAN RABANTALA


KELURAHAN MPUNDA

DISUSUN:
REZMA RAHAYU ARYANTI
NIM: 079 STYC 17

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT SEKOLAH


TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM PRODI JENJANG S1
KEPERAWATAN TAHUN AKADEMIK
2020
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN SALAH SATU ANGGOTA
KELUARGA MENDERITA HIPERTENSI DI LINGKUNGAN RABANTALA
KELURAHAN MPUNDA
17 MEI 2020
1.1 Konsep dasar keperawatan keluarga tahap ke 6
1.1.1 Pengertian keluarga
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Keluarga didefinsikan
dengan istilah kekerabatan dimana invidu bersatu dalam suatu ikatan
perkawinan dengan menjadi orang tua. Dalam arti luas anggota keluarga
merupakan mereka yang memiliki hubungan personal dan timbal balik dalam
menjalankan kewajiban dan memberi dukungan yang disebabkan oleh
kelahiran,adopsi,maupun perkawinan (Stuart,2014).
1.1.2 Pengertian keperawatan keluarga
Perawatan keluarga yang komprehensip merupakan suatu proses yang rumit,
sehingga memerlukan suatu pendekatan yang logis dan sistematis untuk
bekerja dengan keluarga dan anggota keluarga. Pendekatan ini disebut proses
keperawatan. (Effendy, Nasrul. 2017)
1.1.3 Tahap perkembang keluarga dewasa awal
Menurut Fiedman (2010) Merupakan tahap perkembangan keluarga yang ke
[Link] tahap kehidupan keluarga ini ditandai oleh anak pertama
meninggalkan rumah dan berakhir dengan “rumah kosong” atau ketika anak
terakhir meninggalkan [Link] ini dapat singkat atau agak panjang,
tergantung beberapa banyak anak ada didalam rumah atau beberapa banyak
anak yang belum menikah dan masih tinggal dirumah. Akan tetapi ,trend yang
meluas dikalangan dewasa muda yang umumnya menunda perkawinan, hidup
terpisah dan mandiri dalam tatanan hidup mereka sendiri.
Fase ini ditandai oleh tahun-tahun puncak perpisahan dari dan oleh anak-
anak untuk kehidupan dewasa yang [Link], karena mereka
membicarakan anak mereka yang pergi, melepaskan 20 tahun peran sebagai
orang tua dan kembali pada pasangan perkawinan mereka yang [Link]-
tugas perkembangan menjadi penting ketika keluarga tersebut berubah dari
sebuah rumah tangga yang dengan anak-anak kesebuah rumah tangga yang
hanya terdiri dari sepasang suami dan istri. Tujuan utama keluarga adalah
pengorganisasian keluarga menjadi sebuah unit yang tetap berjalan sementara
melepaskan anak-anak yang dewasa kedalam kehidupan mereka sendiri
(Duvall,1977). Selama tahap ini pasangan tersebut mengambil peran sebagai
kakek dan nenek, perubahan lainnya dalam peran maupun citra diri mereka.
a. Tugas-tugas perkembangan keluarga pada tahap dewasa awal
adalah sebagai berikut (Friedman, 2010).
1. Memperluas lingkaran keluarga terhadap anak dewasa muda,
termasuk memasukan anggota keluarga baru yang berasal dari
pernikahan anak-anaknya.
Ketika anak laki-laki atau perempuan yang dilepas atau
menikah, tugas keluarga adalah memperluas siklus keluarga dengan
memasukan anggota keluarga baru lewat perkawinan dan menerima
nilai-nilai dan gaya kehidupan dari pasangan tersebut.

2. Melanjutkan untuk memperbarui dan menyesuaikan kembali


hubungan perkawinan.
Dengan emptynest (keluarnya anak dari rumah), orang tua
memiliki lebih banyak waktu untuk aktivitas dan hubungan
[Link] tidak tumbuh saling berjauhan dari satu sama lain
dimana mereka tidak dapat dimana mereka tidak dapat
melembagakan dan membentuk kembali peran suami-istri yang
pernah mereka lakukan.
3. Membantu orang tua suami dan istri yang sudah menua dan sakit.
Perawatan orang tua yang lanjut usia dan atau tidak mandiri
bukanlah fungsi yang diharapkan dari keluarga. Aktivitas tersebut
dapat dilakukan dalam berbagai bentuk mulai dari menelpon secara
rutin hingga bantuan financial, transportasi, dan mengunjungi serta
merawat orang tua mereka dirumah.
b. Masalah-masalah kesehatan munurut Friedman (2010) pada tahap
perkembangan keluarga dewasa awal adalah :
1. Komunikasi isu antar orang tua dan anak dewasa muda.
2. Masalah transisi peran bagi suami dan istri.
3. Kedaruratan masalah kesehatan kronik.
4. Perencanaan keluarga bagi anak dewasa muda.
5. Perhatian terhadap menopause.
6. Efek yang berkaitan dengan mimum alcohol, merokok, dan praktek
diet yang buruk yang telah berlangsung dalam jangka panjang.
1.2 Konsep dasar penyakit
1.2.1 Definisi
Hipertensi adalah sebagai peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140
mmHg atau tekanan diastoliknya sedikit 90 mmHg. Hipertensi tidak hanya
beresiko tinggi menderita penyakit jantung, tetapi juga beresiko menderita
penyakit lain seperti penyakit saraf, ginjal dan pembuluh darah dan makin
tinggi tekanan darah, maka makin besar resikonya (Amin Huda Nuraif & Hardi
Kusuma, 2015).
1.2.2 Etiologi
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi dua
golongan besar yaitu: (Amin Huda Nuraif & Hardi Kusuma, 2015)
1. Hipertensi primer (esensial)
Disebut juga hipertensi idiopatik karena tidak diketahui
penyebabnya. Faktor yang mempengaruhinya yaitu: genetik, lingkungan,
hiperaktifitas, saraf simpatis sistem renin. Angiotensin dan peningkatan Na
+ Ca intraseluler. Faktor-faktor yang meningkatkan resiko: obesitas,
merokok, alkohol dan polistemia.
2. Hipertensi sekunder
Penyebab yaitu: penggunaan estrogen, penyakit ginjal, sindrom
cushing dan hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.
Hipertensi berdasarkan usia lanjut dibedakan atas:
1. Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg
dan/ atau tekanan diastoliknya sama atau lebih besar dari 90 mmHg
2. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160
mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya
perubahan-perubahan pada:
1. Elastisitas dinding aurta menurun
2. Katub jantung menebal dan menjadi kaku
3. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun
menyebabkan menurunya konteraksi dan volumenya.
4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena kurangnya
efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
5. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer
Klasifikasi Hipertensi menurut WHO
Katagori Sistol (mmHg) Diastol (mmHg)
Optimal < 120 < 80
Normal < 130 < 85
Tingkat 1 (hipertensi ringan) 140-159 90-99
Sub grup : perbatasan 140-149 90-95
Tingkat 2 (Hipertensi sedang) 160-179 100-109
Tingkat 3 (hipertensi Berat) > 180 > 110
Hipertensi sistol terisolasi > 140 < 90
Sub grup : perbatasan 140-149 < 90

1.2.3 Patway Faktor predisposisi usia, jenis kelamin,


merokok, stress, kurang olahraga, genetik,
alkohol, konsentrasi, garam dan obesitas
Kerusakan vaskuler Hipertensi
pembuluh darah

Perubahan struktur

Penyumbatan
pembuluh darah

Vasokonstriksi
Mk: Resiko
ketidakefektifan
Gangguan sirkulasi Otak Suplai O2 ke otak perfusi jaringan ke
menurun otak

Ginjal
Retina
Pembuluh darah

Vasokontriksi
pembuluh darah Spasme
Ginjal arteriol Sitemik
Koroner

Blood flow darah


menurun Iskemia Vasokonsttiksi
Mk: Resiko
Cedera miokard

Respon RAA MK: penurunan Afterload


curah jantung meningkat
Mk: Nyeri
akut
Merangsang
aldosteron
Fatigue
Mk. Kelebihan Volume
Edema Caran
Retensi Na
Mk: Intoleransi
Aktivitas

(Amin Huda Nuraif & Hardi Kusuma, 2015).

1.2.4 Patofisiologi
Manurut Amin Huda kusuma (2015), hipertensi dapat disebabkan menjadi
dua golongan yaitu hipertensi primer (esensial) dan hupertensi sekunder. Pada
hipertensi primer faktor yang mempengaruhinya yaitu genetik, lingkungan,
hiperaktivitas saraf simpatis dan sistem renin, dsn faktor yang meningkatkan
resiko hipertensi primer ini seperti: obesistas, merokok dan alkohol. Sedangkan
hipertensi sekunder penyebabnya yaitu: penggunaan estrogen, penyakit ginjal,
sindrom cushing dan hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.
Menurut Nuraif, Amin Huda & Hardi Kusuma (2015) Faktor predisposisi
(utama) terjadinya hipertensi yakni usia, jenis kelamin, merokok, stres, kurang
olahraga, genetik, alkohol konsentrasi garam, dan obesitas.
Hipertensi dapat terjadi karena ada kerusakan vaskuler (peredaran pembuluh
darah) sehingga terjadi perubahan struktur dari peredaran pembuluh darah, dan
penyumbatan pembuluh darah terjadi karena terjadinya vasokonstriksi
(kontraksi dinding otot) hingga menyumbat pembuluh darah sehingga
gangguan sirkulasi di otak, ginjal, retina, dan pembuluh darah terganggu.
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak dipusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut kebawah ke korda spinalis dan
keluar dari kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan
abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk implus yang
bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini,
neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut
saraf paska ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya
norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti
kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah
terhadap rangsang vasokontriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitive
terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal
tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh
darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Medulla adrenal mengsekresi
epinefrin yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mengsekresi
kortisol dan dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon
vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan
penurunan aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin
merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian di ubah menajdi II,
suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron
oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh
tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor
tersebut cenderung pencetus keadaan hipertensi.
Perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh darah perifer
bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada lanjut usia.
Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat,
dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada
gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah.
Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam
mengakomodasi volume darah yang di pompa oleh jantung (volume sekuncup),
mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer
(Brunner & Suddarth, 2005).
1. Hipertensi dapat terjadi karena ada kerusakan kerusakan vaskuler
(peredaran pembuluh darah) sehingga terjadi perubahan struktur dari
peredaran pembuluh darah, dan penyumbatan pembuluh darah terjadi
karena terjadinya vasokonstriksi (kontraksi dinding otot) hingga
menyumbat pembuluh darah sehingga gangguan sirkulasi di otak terjadi
dan membuat suplai O2 ke otak menurun sehingga muncul Masalah
keperawatan “Resiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan ke Otak”
2. Hipertensi dapat terjadi karena ada kerusakan kerusakan vaskuler
(peredaran pembuluh darah) sehingga terjadi perubahan struktur dari
peredaran pembuluh darah, dan penyumbatan pembuluh darah terjadi
karena terjadinya vasokonstriksi (kontraksi dinding otot) hingga
menyumbat pembuluh darah sehingga gangguan sirkulasi di ginjal terjadi
karena vasokonstriksi pembuluh darah (kontrasi dinding otot hingga
menyumbat pembuluh darah) sehingga terjadi blood flow (aliran darah
menurun) sehingga terjadi respon RRA (Renin-Angiotensin-Aldosteron)
dan yang merangsang adalah Aldosteron dan menyebabkan retensi natrium
darah dan menyebabkan edema sehingga muncul masalah keperawatan
“Kelebihan Volume Cairan”
3. Hipertensi dapat terjadi karena ada kerusakan kerusakan vaskuler
(peredaran pembuluh darah) sehingga terjadi perubahan struktur dari
peredaran pembuluh darah, dan penyumbatan pembuluh darah terjadi
karena terjadinya vasokonstriksi (kontraksi dinding otot) hingga
menyumbat pembuluh darah sehingga gangguan sirkulasi di retina.
Kelainan pada pembuluh darah ini menyebabkan kelinan pada retina yaitu
retinopati hipertensi dengan arteri yang besarnya tidak teratur, episudat
pada retina, udema retina dan perdarahan retina. Spasme (penyempitan)
pembuluh darah dapat berupa: pembuluh darah (terutama arteri retina)
yang berwarna lebih pucat, kapiler pembuluh yang menjadi lebih kecil atau
irreguler (karena spasme lokal), dan percabangan arteriol yang tajam
sehingga muncul masalah keperawatan “Resiko Cedera”
4. Hipertensi dapat terjadi karena ada kerusakan kerusakan vaskuler
(peredaran pembuluh darah) sehingga terjadi perubahan struktur dari
peredaran pembuluh darah, dan penyumbatan pembuluh darah terjadi
karena terjadinya vasokonstriksi (kontraksi dinding otot) hingga
menyumbat pembuluh darah sehingga gangguan sirkulasi pada pembuluh
darah yang mengalirkan O2 mengalami penurunan dan terjadilah PJK
(Penyakit jantung Koroner) dimana kondisi pembuluh darah jantung
tersumbat oleh lemak dan menyebabkan terjadinya iskemia miokard
(kondisi yang terjadi ketika aliran darah berhenti pada sebagian jantung,
menyebabkan kerusakan pada otot jantung, jika salah satu arteri ini
tersumbat secara tiba-tiba sebagian jantung menjadi kekurangan oksigen
sehingga muncul masalah keperawatan “Nyeri akut”.
5. Gangguan peredaran darah sitemik terjadi karena gangguan sirkulasi
sehingga menyebabkan terganggunya peredarahan darah sistemik
(peredaran darah besar) ini mengalami kontraksi dinding otot hingga
menyumbat pembuluh darah sehingga aliran darah keseluruh tubuh
terganggu, sedangkan Afterload meningkat (tekanan dimana jantung harus
bekerja untuk mengeluarkan darah selama sistol, dengan kata lain beban
akhir dari jantung untuk di edarkan ke seluruh tubuh) dan tentu orang yang
mengalami gangguan ini akan cepat merasa lelah (Fatigue) sehingga
muncul masalah keperawatan “Intoleransi Aktivitas”
1.2.5 Menifestasi klinis
Menurut Amin Huda Nuraif & Hardi Kusuma, 2015 Tanda dan gejala
pada hipertensi dapat dibedakan menjadi:
1. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang sepsifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter
yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah
terdiagnosa jika tekanan arteri tidak teratur.
2. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi
meliputi nyeri kepala, kaku kuduk dan kelelahan. Dalam kenyataan ini
merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari
pertolongan medis.
Beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu: meengeluh sakit
kepala, pusing, lemas kelelahan, sesak nafas, gelisah, mual, muntah,
epistaksis dan kesadaran menurun.
1.2.6 Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Nonfarmakologi
Penatalaksanaan nonfarmakologis dengan modifikasi gaya hidup
sangat penting dalam mencegah tekanan darah tinggi dan merupakan bagian
yang tidak dapat dipisahkan dalam mengobati tekanan darah tinggi
(Ridwanamiruddin, 2007). Penatalaksanaan hipertensi dengan
nonfarmakologis terdiri dari berbagai macam cara modifikasi gaya hidup
untuk menurunkan tekanan darah yaitu:
a. Mempertahankan berat badan ideal
Mempertahankan berat badan ideal sesuai body mass index (BMI)
dengan rentang 18,5-24,9 kg/m2 (Kaplan, 2006). BMI dapat diketahui
dengan membagi berat badan anda yang telah di kuadratkan dalam
satuan diet rendah kolesterol namun kaya dengan serat dan protein
([Link]), dan jika berhasil menurunkan berat badan 2,5-5 kg
maka tekanan darah diastolik dapat diturunkan sebanyak 5 mmHg
(Radmarssy, 2007).
b. Kurangi asupan natrium (sodium)
Mengurangi asupan natrium dapat dilakukan dengan cara diet rendah
garam yaitu tidak lebih dari 100 mmol/hari (kira-kira 6 gr NaCL atau
2,4 gr garam/hari)b(Kaplan, 2006). Jumlah yang lain dengan
mengurangi asupan garam sampai kurang dari 2300 mg (1 sendok teh)
setiap hari. Pengaturan konsumsi garam menjadi ½ sendok teh/hari,
dapat menurunkan tekanan sistolik sebanyak 5 mmHg dan tekanan
diastolik sekitar 2,5 mmHg (Radmarssy, 2007).
c. Batasi konsumsi alkohol
Radmarssy (2007) mengatakan bahwa mengkonsumsi alkohol harus
dibatasi karena konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan
tekanan darah. Para peminum berat mempunyai resikomengalami
hipertensi empat kali lebih besar dari pada mereka yang tidak minum
minuman beralkohol.
d. Makan K dan Ca yang cukup dari diet
Pertahankan asupan diet pottasium (>90 mmol (3500 mg)/hari)
dengan cara konsumsi tinggi buah dan sayur dan diet rendah lemak
dengan cara mengurangi asupan lemak jenuh dan lemak total (Kaplan,
2006). Kalium dapat menurunkan tekanan darah dengan meningkatkan
jumlah natrium yang terbuang bersama air kencing. Dengan setidaknya
mengonsumsi buah-buahan sebanyak 3-5 kali dalam sehari, seseorang
bisa mencapai asupan potassium yang cukup (Radmarssy, 2007).
e. Menghindari merokok
Merokok memang tidak berhubungan secara langsung dengan
timbulnya hipertensi, tetapi merokok dapat meningkatkan risiko
komplikasi pada pasien hipertensi seperti penyakit jantung dan stroke,
maka perlu dihindari mengkonsumsi tembakau (rokok) karena dapat
memperberat hipertensi (Dalimartha, 2008).
Nikotin dalam tembakau membuat jantung bekerja lebih keras karena
menyempitkan pembuluh darah dan meningkatkan frekuensi denyut
jantung serta tekanan darah (Sheps, 2005). Maka pada penderita
hipertensi dianjurkan untuk menghentikan kebiasaan merokok
([Link]).
f. Penurunan stress
Stress memang tidak menyebabkan hipertensi yang menetap namun
jika episode stress sering terjadi dapat menyebabkan kenaikan
sementara yang sangat tinggi (Sheps, 2005). Menghindari stress dengan
menciptakan suasana yang menyenangkan bagi penderita hipertensi dan
memperkenalkan berbagai macam metode relaksasi seperti yoga atau
meditasi yang dapat mengontrol sistem saraf yang akhirnya dapat
menurunkan tekanan darah ([Link]).
g. Terapi masase (pijat)
Menurut Dhalimartha (2008), pada prinsipnya pijat yang dilakukan
pada penderita hipertensi adalah untuk memperlancar aliran energi
dalam tubuh sehingga gangguan hipertensi dan komplikasinya dapat
diminimalisir, ketika semua jalur energi terbuka dan aliran energi tidak
lagi terhalang oleh ketegangan otot dan hambatan lain maka risiko
hipertensi dapat ditekan.
2. Pengobatan Farmakologi
a. Diuretik (Hidroklorotiazid)
Mengeluarkan cairan tubuh sehingga volume cairan ditubuh
berkurang yang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih
ringan.
b. Penghambatan Simpatetik (Metildopa, Klonidin, dan Reserpin):
Menghambat aktivitas saraf simpatis.
c. Betabloker (Metoprolol, Propanolol dan Atenolol)
1) Menurunkan daya pompa jantung.
2) Tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui mengidap
gangguan pernapasan seperti asam bronkial.
3) Pada penderita diabetes melitus: dapat menutupi gejala
hipoglikemia.
d. Vasodilator (Prasosin, Hidralasin)
Bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot pembuluh
darah.
e. ACE inhibitor (Captopril)
1) Menghambat pembentukan zat Angiotensin II.
2) Efek samping: batuk kering, pusing, sakit kepala dan lemas.
f. Penghambat Reseptor Angiotensin II (Valsartan)
Menghalangi penempelan zat Angiotensin II pada reseptor sehingga
memperingan daya pompa jantung.
g. Antagonis kalsium (Diltiasem dan Verapamil)
Menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas).
1.2.7 Komplikasi
Menurut Padila, 2013 Tekanan darah tinggi apabila tidak diobati dan
ditanggulangi, maka dalam jangka panjang akan menyebabkan kerusakan arteri
didalam tubuh organ yang mendapat suplai darah dari arteri tersebut.
Komplikasi hipertensi dapat terjadi pada organ-organ sebagai berikut:
1. Jantung
Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan terjadinya gagal jantung
dan penyakit jantung koroner. Pada penderita hipertensi, beban kerja
jantung akan meningkat, otot jantung akan mengendor dan berkurang
elastisitasnya, yang disebut dekompensasi. Akibatnya, jantung tidak mampu
lagi memompa sehingga banyak cairan tertahan diparu maupun jaringan
tubuh lain yang dapat menyebabkan sesak nafas atau oedema. Kondisi ini
disebut gagal jantung.
2. Otak
Komplikasi hipertensi pada otak, menimbulkan resiko stroke,
apabila tidak diobati risiko terkena stroke 7 kali lebih besar.
3. Ginjal
Tekanan darah tinggi juga menyebabkan kerusakan ginjal, tekanan
darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan system penyaringan di dalam
ginjal akibatnya lambat laun ginjal tidak mampu membuang zat-zat yang
tidak dibutuhkan tubuh yang masuk melalui aliran darah dan terjadi
penumpukan di dalam tubuh.
4. Mata
Pada mata hipertensi dapat mengakibatkan terjadinya retinopati
hipertensi dan dapat menimbulkan kebutaan (Yahya, 2005).
1.2.8 Pemeriksaan penunjang
1. Riwayat dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh
2. Pemeriksaan retina
3. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kerusakan organ seperti ginjal
dan jantung
4. EKG untuk mengetahui hipertropi ventrikel kiri
5. Urinalisasi untuk mengetahui protein dalam urin, darah, glukosa.
6. Pemeriksaan: renogram, pielogram intravena arteriogram renal,
pemeriksaan fungsi ginjal terpisah dan penentuan kadar urin
7. Foto dada dan CT scan.
1.3 Konsep dasar asuhan keperawatan keluarga
1. Pengkajian
a. Data umum
1) Nama kepala keluarga, umur, alamat, dan telepon jika ada, pekerjaan
dan pendidikan kepala keluarga, komposisi keluarga, yang terdiri atas
nama atau inisial, jenis elamin, tanggal lahir atau umur, hubungan
dengan kepala keluarga, status imunisasi dari masing-masing anggota
keluarga, dan genongram (genogram keluarga dalam tiga generasi)
2) Tipe keluarga, menjelaskan jenis tipe keluarga beserta kendala atau
masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut.
3) Suku bangsa, mengkaji asal suku bangsa keluarga tersebut, serta
mengidentifikasi budaya suku bangsa terkait dengan kesehatan
4) Agama, mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan
yang dapat memengaruhi kesehatan.
5) Status sosial ekonomi keluarga, ditentukan oleh pendapatan, baik kepala
keluarga maupun anggota keluarga maupun anggota keluarga lainnya.
6) Aktivitas rekreasi keluarga dan waktu luang, rekreasi keluarga tidak
hanya dilihat kapan keluarga pergi bersama-sama untuk mengunjung
tempat rekreasi, namun menonton TV dan mendengarkan radio juga
merupakn aktivitas rekreasi.
b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
1) Tahap perkembangan keluarga saat ini, ditentukan oleh anak tertua dari
keluarga inti.
2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi, menjelaskan
bagaimana tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga
serta kendalanya.
3) Riwayat keluarga inti, menjelaskan riwayat kesehatan pada keluarga
inti, meliputi: riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-
masing, anggota, dan sumber pelayanan yang digunakan keluarga
seperti perceraian, kematian, dan keluarga yang hilang.
4) Riwayat keluarga sebelumnya, keluarga asal keduanya orang tua
(seperti apa kehidupan keluarga asalnya) hubungan masa silam dan saat
dengan orang tua dari kedua orang tua.
c. Pengkajian lingkungan
1) Karakteristik rumah
Gambaran tipe tempat tinggal, gambaran kondisi rumah, kamar mandi,
dapur, kamar tidur, kenersihan dan sanitasi rumah, pengaturan privasi
dan perasaan secara keseluruhan dengan pengaturan atau penataan
rumah mereka
2) Karakteristik lingkungan dan komunitas tempat tinggal
Tipe lingkungan tempat tinggal komunitas kota atau desa, tipe tempat
tinggal, keadaan tempat tinggal dan jalan raya, sanitasi jalan dan rumah,
fasilitas-fasilitas ekonomi dan transportasi.
3) Mobilitas geografis keluarga
Ditentukan apakah keluarga tiggal di daerah ini atau apakah sering
mempunyai kebiasaan berpindah-pindah tempat tinggal.
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Menjelaskan waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul serta
perkumpulan keluarga yang ada.
5) Sistem pendukung keluarga
Jumlah anggota keluarga yang sehat, sumber dukungan dari anggota
keluarga dan jaminan pemeliharaan kesehtan yang dimiliki keluarga.
d. Struktur keluarga
1) Pola-pola komunikasi keluarga, menjelaskan mengenai cara
berkomunikasi antar anggota keluarga
2) Struktur kekuatan keluarga, kemampuan anggota keluarga untuk
mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk merubah perilaku
3) Struktur peran, menjelaskan peran dari masing-masing anggota keluarga
baik formal/informal
4) Struktur nilai atau norma keluarga, menjelaskan mengenai nilai dan
norma yang dianut keluarga yang berhubungan dengan kesehatan
e. Fungsi keluarga
1) Fungsi afektif, kaji gambaran diri keluarga, perasaan yang dimiliki
2) Fungsi sosialisasi, kaji bagaimana interkasi keluarga, sejauh mana
anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya dan prilaku
3) Fungsi perawatan kesehatan, kaji kemampuan keluarga dalam mengenal
masalah kesehatannya dan memelihara kesehatannya.
4) Fungsi reproduksi, kaji jumlah anak, bagaimana keluarga merencanakan
jumlah anggota keluarga
5) Fungsi ekonomi, kaji sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan
sandang, pangan dan papan.
f. Stress dan koping keluarga
1) Stressor jangka pendek dan panjang
a) Jangka pendek: penyelesaian stressor yang dialami < ± 6 bulan
b) Jangka panjang: penyelesaian stressor yang dialami > ± 6 bulan
2) Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/ stressor, kaji sejauh
mana keluarga berespon terhadap situasi
3) Strategi koping yang digunakan, bagaimana strategi koping yang
digunakan keluarga bila menghadapi permaslahan
4) Strategi adaptasi disfungsional, dijelaskan mengenai strategi adaptasi
disfungsional yang digunakan keluarga dalam menghadapi masalah
g. Pengkajian focus Keluarga dengan anak dewasa (mulai melepas ) atau
dengan tahap 6 perkembangan keluarga
1) Bagaimana karakteristik pasangan anaknya ?
2) Bagaimana hubungan anak terhadap orang tua dan mertua setelah
menikah ?
3) Apakah anak yang telah menikah tinggal bersama atau lepas dari
orangtua ?
4) Bagaimana hubungan antara anak yang telah menikah dengan saudara
kandungnya?
5) Bagaimana perasaan orangtua setelah anak menikah ?
6) Bagaimana orangtua membentuk jaringan dengan anak ?
7) Bagaimana pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga yang dilaksanakan ?
a. Pelaksanaan fungsi keluarga
1. Fungsi afektif : apakah orang tua mempersiapkan anaknya agar
bisa bersosialisasi berhubungan baik dengan orang lain ?
2. Fungsi sosialisa : apakah anak sudah mampu bersosialisasi
dengan lingkungan diluar rumahnya sebelum meninggalkan
rumah ?
3. Fungsi ekonomi : apakah orang tua memenuhi semua
kebutuhan keluarganya ?
4. Fungsi perawatan : apakah orang tua mempertahankan agar
anggota keluarganya tidak sakit, dan merawat anggota keluarga
jika ada yang sakit ?
5. Fungsi pendidikan :apakah keluarga telah bertanggungjawab
terhadap pendidikan anaknya ?
b. Pelaksanaan tugas keluarga dibidang kesehatan
1. Apakah Keluarga mampu untuk mengenal masalah kesehatan
keluarga seperti mengetahui tanda dan gejala penyakit
2. Apakah Keluarga bisa memutuskan tindakan kesehatan yang
tepat untuk keluarganya
3. Apakah Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang sakit
c. Tugas perkembangan keluarga yang telah tercapai
1. Apakah Keluarga sudah memperluas jaringan keluarga dari
keluarga inti menjadi keluarga besar
2. Apakah Keluarga mampu mempertahankan keintiman
pasangan
3. Apakah Keluarga mampu membantu anak untuk mandiri
sebagai keluarga baru di masyarakat
4. Apakah Keluarga telah melakukan penataan kembali peran
orang tua dan kegiatan dirumah
2. Diagnosa
Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis mengenai individu,
keluarga, atau masyarakat yang diperoleh melalui suatu proses pengumpulan
data dan analisa data secara cermat, memberikan dasar untuk menetapkan
tindakan-tindakan dimana perawat bertanggung jawab untuk melaksanakannya
(Harmoko, hal 86; 2012)
Tipologi dari diagnosa keperawatan (Harmoko, hal 86; 2012)
1) Diagnosis aktual: Masalah keperawatan yang sedang dialami oleh keluarga
dan memerlukan bantuan perawat dengan cepat.
Contoh : Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur pada Ny. W
keluarga Tn.S yang b/d ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan
yang nyaman untuk istirahat tidur.
2) Diagnosis resiko tinggi: masalah keperawatan yang belum terjadi tetapi
tanda untuk menjadi masalah keperawatan aktual dapat terjadi dengan cepat
apabila tidak segera mendapat bantuan atau di tangani.
Contoh : Resiko tinggi gangguan perkembangan balita khususnya pada
An.A yang b/d ketidakmampuan keluarga melakukan stimulasi pada balita.
3) Diagnosis potensial: suatu keadaan sejahtera ketika keluarga telah mampu
memenuhi kebutuhan kesehatannya dan mempunyai sumber penunjang
kesehatan yang memungkinkan dapat ditingkatkan.
Contoh : Potensial peningkatan kesejahteraan khususnya Ny.S yang sedang
hamil pada keluarga Tn.B.
Skoring dilakukan apabila rumusan diagnosis keperawatan lebih dari satu,
proses scoring mengguanakan skala dirumuskan oleh Bailon & Maglaya
( 1978 ).
No. Kriteria Skor Bobot
1. Sifat Masalah :
- Tidak Atau Kurang Sehat 3 1
- Ancaman Kesehatan 2
- Krisis Atau Keadaan Sejahtera 1
2. Kemungkinan Masalah Dapat Di
Ubah
- Dengan Mudah 2 2
- Hanya Sebagian 1
- Tidak Dapat 0
3. Potensi Maslah Dpat Di Cegah
- Tinggi 3 1
- Cukup 2
- Rendah 1
4. Menonjolnya Masalah
- Masalah berat harus segera 2 1
ditangani
- Ada masalah tetapi tidak perlu 1
segera ditangani
- Masalah tidak dirasakan 0

Keterangan :
Proses skoring dilakukan untuk diagnose keperawatan dengan ketntuan :
- Tentukan skornya sesuai dengan kriteria yang telah dibuat
- Skor dibagi dengan skor tertinggi dan dikalikan dengan bobot

Skor
Angka tertinggi x
Bobot
- Jumlah skor untuk setiap kriteria, skor tertinggi adalah 5 sama dengan
jumlah keseluruhan dari bobot
- Kriteria yang dapat mempengaruhi penentuan prioritas maslah :
a. Sifat Masalah
Sifat masalah dapat dikelompokkan kedalam tidak atau kurang sehat
diberikan bobot yang lebih tinggi karena masalah tersebut
memerlukan tindakan yang segera dan biasa masalahnya dirasakan
atau disadari oleh keluarga. Krisis atau keadaan sejahtera diberikan
yang paling sedikit atau rendah karena factor-faktor kebudayaan
biasanya dapat memberikan dukungan bagi keluarga untuk mengatasi
masalahnya dengan baik.
b. Kemungkinan masalah dapat dicegah
Adalah kemungkinan berhasilnya mengurangi atau mencegha masalah
jika ada tindkaan . factor- factor yang perlu diperhatikan dalam
menentukan skor kemungkinan masalah dapat dicegah :
- Pengetahuan dan teknologi serta tindkaan yang dapat dilakukan
untuk menangani masalah
- Sumber-sumber yang ada pada keluarga baik dalam bentuk fisik,
keuangan atau tenaga
- Sumber-sumber dari keperawatan : dalam bentuk pengetahuan,
keterampilan dan waktu.
- Sumber-sumber di masyarakat misalnya : dalam bentuk fasilitas
kesehatan, organisasi masyarakat, dukungan social masyarakat.
c. Potensi masalah dapat dicegah
Adalah sifat dan beratnya maslah yang akan timbul yang dapat
dikurangi atau dicegah. Factor-faktor yang perlu diperhatikan adalah :
- Kepelikan dari masalah
- Lamanya masalah
- Adanya kelompok tinggi resiko atau kelompok yang peka atau rawan
d. Menonjolnya maslah
Merupakan cara keluarga melihat dan menilai masalah tentang
beratnya masalah serta mendesaknya masalah untuk diatasi. Hal yang
perlu diperhatikan dalam memberikan skor pada kriteria ini adalah
perawat perlu menilai persepsi atau bagaimana keluarga tersebut
melihat masalah. Dalam hal ini jika keluarga menyadari masalah dan
merasa perlu untuk menangani segera maka harus diberikan skor
tertinggi.
3. Perencanaan
Rencana keperawatan keluarga merupakan kumpulan tindakan yang
direncanakan perawat untuk dilaksanakan dalam menyelesaikan atau mengatasi
masalah kesehatan/masalah keperawatan yang telah di identifikasi (Harmoko, hal
93; 2012).
Langkah-langkah mengembangkan rencana asuhan keperawatan keluarga
(Harmoko, hal 94; 2012)
a. Menentukan sasaran atau goal
b. Menentukan tujuan dan objek
c. Menentukan pendekatan dan tindakan keperawatan yang akan dilakukan
d. Menentukan kriteria dan standar kriteria.
4. Implementasi
Pelaksanaan merupakan salah satu tahap dari proses keperawatan
keluarga dimana perawat mendapatkan kesempatan untuk membangkitkan minat
keluarga dalam mengadakan perbaikan ke arah perilaku hidup sehat (Harmoko,
hal 97; 2012). Tindakan keperawatan keluarga mencakup hal-hal di bawah ini
(Harmoko, hal 98; 2012)
a. Menstimulasi kesehatan atau penerimaan keluarga mengenai kebutuhan
kesehatan dengan cara memberikan informasi kesehatan, mengidentifikasi
kebutuhan, dan harapan tentang kesehatan, serta mendorong sikap emosi
yang sehat terhadap masalah
b. Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat dengan
cara mengidentifikasi konsekuensi untuk tidak melakukn tindakan,
mengidentifikasi sumber-sumber yang dimiliki keluarga, dan mendiskusikan
konsekuensi setiap tindakan
c. Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga yang sakit
dengan cara mendemonstrasikan cara perawatan, menggunakan alat dan
fasilitas yang ada di rumah, dan mengawasi keluarga melakukan perawatan
d. Membantu keluaga untuk menemukan cara membuat lingkungan menjadi
sehat dengan menemukan sumber-sumber yang dapat digunakan keluarga
dan melakukan perubahan lingkungan keluarga seoptimal mungkin
e. Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan cara
mengenalkan fasilitas kesehatan yang ada dilingkungan keluarga cara
menggunakan fasilitas tersebut.
5. Evaluasi
Sesuai dengan rencana tindakan yang telah diberikan, tahap penilaian
diberikan untuk melihat keberhasilannya. Bila tidak/ belum berhasil, maka perlu
disusun rencana baru yang sesuai (Harmoko, hal 100; 2012)
DAFTAR PUSTAKA
Nuraif, A. H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis
Dan NANDA (Nort American Nursing Diagnosa Association) NIC_NOC.
Jogjakarta: Percetakan Medication Publishing Jogjakarta.
PPNI. 2017. Standar Diagnosa Keperawtan Indonesia : Definisi dan Indikator
Dianostik. Edisi I. Jakarta :DPP PPNI.
PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawtan Indonesia : Definisi dan Tindakan
Keperawatan. Edisi I. Jakarta :DPP PPNI.
PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawtan Indonesia : Definisi dan Kriteria Hasil. Edisi I.
Jakarta :DPP PPNI.
Wilkinson.M.J, Arhen.R. (2013). Buku Saku Diagnosis Keperawatan : Diagnosis NANDA
, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC. Edisi [Link] : EGC
Nuraif, Amin Huda & Hardi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc Jilid 2. Medication Jogja: Jogjakarta.
M. Wilkinson Judith. 2016. Diagnosa Keperawatan Diagnosa NANDA_I Intervensi NIC
Hasil NOC Edisi 10. EGC: Jakarta.
Padila. 2013. Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam. Nuha Medika: Yogyakarta.
Pokjo Tim SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia Definis dan
Indikator Diagnostik Edisi I. Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Indonesia:
Jakarta.
Fridman Marilyn M,[Link] Ajar Keperawatan [Link]:EGC
Friedman,M.M et [Link] Ajar Keperawatan Keluarga Riset,Teori, dan [Link]
[Link]: EGC.
Harnilawati . (2013). Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga. Sulawesi Selatan:
Pustaka As Salam.

R, Lenny, dan Jhonson [Link] [Link] : Nuha Medika


[Link] Keperawatan [Link] : Pustaka Belajar
Bailon,S.G. & Maglaya. 2017. Perawatan Kesehatan Keluarga : Suatu Pendekatan Proses
(terjemahan ). Jakarta : PusdIknakes.
LAPORAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN SALAH SATU ANGGOTA
KELUARGA MENDERITA HIPERTENSI DI LINGKUNGAN RABANTALA
KELURAHAN MATAKANDO
(17 MEI 2020)
A. PENGKAJIAN (tanggal : 17 Mei 2020)
I. Data Umum
1. Kepala Keluarga KK : Tn. R
2. Alamat dan Telepon : Rabantala, KEL: Matakando, KOTA BIMA
3. Pekerjaan KK : petani
4. Pendidikan KK : SMA
5. Komposisi Keluarga :

Status Imunisasi Ket.


Hub Kel. KK

Pendidikan
Jenis Kel.

Campak
Nam
Umur

No Hepatiti
BC Polio DPT
a
s
G
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3
1 Tn. L ba 50 S Sehat
R pa th M
k n A
2 Ny. P Ib 49 S HT
H u th M
n A
3 Nn. P A 22 S1 Sehat
A na th
k n
4 An. L an 16 S Sehat
R ak th M
n A
Genogram :
6. Tipe Keluarga : Nuclear Family
7. Suku Bangsa :
a. Asal suku Tn. R dan Ny. H adalah mbojo atau bima
b. Budaya Yang berhubungan dengan Kesehatan : Tidak ada
8. Agama : islam
9. Status sosial ekonomi keluarga :
a. Anggota yang keluarga yang mencari nafkah : Tn. R
Penghasilan Tn.R : Rp. 3.500.000,00
b. Upaya lain : tidak ada
c. Harta benda yang dimiliki ( perabotan transportasi, dll ) : motor 2 buah, dan
perabotan rumah tangga lengkap
d. Kebutuhan yang dikeluarkan tiap bulan : kebutuhan yang di keluarkan
keluarga dalam setiap bulannya sekitar Rp. 2 .000.000,00 – 3.000.000,00
10. Aktivitas rekreasi keluarga
Tn. R mengatakan bahwa mereka jarang pergi berrekreasi
II. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
1. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Keluarga Tn. R dan Ny.H berada pada tahap perkembangan keluarga anak usia
dewasa awal
2. Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Saat ini keluarga Tn. R dan Ny. H sebagai keluarga yang dalam tahap dengan
perkembangan anak dewasa awal.. Menurut Tn. H saat ini dia dengan istrinya
berusaha untuk lebih  membina hubungan dengan keluarga keluarganya, teman
dan masyarakat sekitar. Menurut Tn.R  pula bahwa dirinya dan istrinya saat ini
hanya berfokus mencari uang untuk membiayai kuliah maupun sekolah anak-
anaknya . Saat ini keluarga Tn. R dan Ny. H tinggal dirumah sendiri.
3. Riwayat kesehatan keluarga inti
Menurut bapak R riwayat masing-masing keluarga yaitu ibu H memiliki riwayat
penyakit tekanan darah tinggi. Sedangkan bapak R sendiri tidak memiliki riwayat
penyakit apapun sebelumnya. Nn.A dan An.R juga dalam keadaan sehat dan
tidak pernah mengalami sakit serius
4. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya
a. Riwayat kesehatan keluarga dari bapak R
Ayah dari bapak R sudah meninggal 8 tahun yang lalu karena menderita
sesak nafas. Ibu dari bapak R Masih sehat dan sekarang tinggal bersama
adik perempuan bapak R
b. Riwayat kesehatan keluarga dari ibu H
Ayah dari ibu H masih sehat dan tidak menderita penyakit serius dan ibu
dari ibu H mengidap penyakit kolesterol.
III. Data lingkungan
1. Karakteristik rumah
a. Luas rumah : 6 x 8 meter
b. Type rumah : permanen
c. Kepemilikan : pribadi
d. Jumlah dan ratio kamar/ruangan : 3 buah kamar tidur, ruang tamu 1 buah, 1
ruang makan, dapur 1 buah, 2 kamar mandi
e. Ventilasi/jendela : Ada 14 ventilasi yang terdapat di dalam rumah
f. Pemanfaatan ruangan ruangan di gunakan sebagaimana fungsi dari ruangan
tersebut
g. Septic tank : ada, letak dibelakang rumah berjarak 10 meter dari rumah
h. Sumber air minum : air gallon
i. Kamar Mandi/ WC : memiliki 2 buah kamar mandi
j. Sampah limbah RT : dibuang ditempat pembuangan sampah sejauh 1 km
k. Kebersihan lingkungan : keadaan kebersihan lingkungan selalu terjaga
karena setiap bulannya masyarakat selalu mengadakan gotong royong untuk
membersihkan lingkungan

2. Karakteristik tetangga dan komunitasnya


Tetangga sebelah kanan dan kiri rumah Tn.R selalu akrab dengan keluarga
Tn.R. karena Tn.R dan keluarga adalah keluarga yang sangat terbuka dengan
tetangganya.
3. Mobilitas geografis keluarga (lama keluarga tinggal di dusun atau pindahan)
Keluarga ini tidak pernah pindah sejak menikah. Keluarga Tn.H menetap dikota
bima. Keluarga ini merupakan penduduk asli kota bima
4. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Keluarga Tn. R kadang mengikuti kegiatan sosialisasi dilingkungan sekitar.
Seperti kerja bakti sosial, membersihkan masjid dan gotong royong lainnya
5. Sistem pendukung keluarga
Keluarga Tn.R selalu berusaha untuk meningkatkan kesehatan keluarganya.
IV. Struktur keluarga
1. Struktur peran
Peran kepala keluarga mencari nafkah, tugas istri merawat anak. Model
penyanyang dianut lebih dominan dari ibu.
2. Nilai dan norma kleuarga
Nilai dan norma yang berlaku di keluarga menyesuaikan dengan nilai agama
yang dianut, keluarga ini menganut agama islam, dan norma yang berlaku
dilingkukngan. Norma keluarga seperti selalu taat dan menghormati orang tua
3. Pola komunikasi keluarga
Pola komunikasi keluarga dilakukan dilakukan secara terbuka, bahasa yang
dipakai setiap hari adalah bahasa bima dan Indonesia.
4. Struktur kekuasaan keluarga (siapa pengambil keputusan)
Pengendali keluarga adalah Tn.R sebagai kepala keluarga keputusan diambil
oleh kepala keluarga.
V. Fungsi keluarga
1. Fungsi afektif
Keluarga mengajarkan harus saling menyanyangi dan saling membantu. Sikap
saling menghormati antar anggota keluarga masih tetap diajarkan. Tn. R selalu
berusaha untuk kesehatan keluarganya.
2. Fungsi sosialisasil
Interaksi antara anggota keluarga selalu dilakukan. Karena setiap anggota
keluarga tetap berada dirumah
3. Fungsi pemenuhan (perawatan/pemeliharaan) kesehatan
a. Mengenal masalah kesehatan
Keluarga mengenal masalah kesehatan dari ibu H yang mengalami
hipertensi, ibu H jarang mengeluh sakit kepala dan nyeri pada leher bagian
belakang namun Ibu H dan keluarga mengatakan bahwa mereka tidak
mengetahui tanda dan gejala dari penyakit tersebut. Dan ia belum
mengetahui cara mengatur pola hidup yang baik
b. Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan
Tn.R selalu menjadi pengambil keputusan dalam keluarganya, ibu H jarang
mengkhawatirkan kondisi kesehatannya sehingga ibu H pun jarang
mengecek kesehatannya di puskesmas
c. Kemampuan merawat anggota keluarga yang sakit
Keluarga akan saling merawat apabila ada anggota keluaraga yang sakit
dengan semampunya dan membawanya ke pelayanan kesehatan terdekat
d. Kemampuan keluarga memelihara/memodifikasi lingkungan rumah yang
kuat
Keluarga beranggapan bahwa dengan membersihkan rumah seperti menyapu
dan mengepel rumah saja sudah bersih dan sehat. Kamar mandi dibersihkan
3x seminggu, dan bak mandi selalu dibersihkan tiap hari, jendela rumah
selalu dibuka pada pagi hari agar udara segar masuk kedalam rumah.
e. Kemampuan menggunakan fasilitas pelayanan kesehat
Keluarga selalu membawa anggota keluarganya ke pelayanan kesehatan
terdekat apabila ada yang mengeluh sakit sakit
4. Fungsi reproduksi
Keluarga mengatakan tidak ingin memiliki anak lagi karena menurut keluarga 2
anak saja sudah cukup. Ny. M menggunakan alat kontrasepsi IUD
5. Fungsi ekonomi
Keluarga cukup memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
VI. Stres dan koping keluarga
1. Stressor jangka panjang dan pendek
Keluarga mengatakan tidak memiliki stress yang berkepanjangan dan tidak ada
yang terlalu memikirkan hal hal lainnya. Mereka selalu berdoa agar keluarga
selalu sehat dan hidup selalu tercukupi
2. Kemampuan keluaraga berespon terhadap stressor
Keluarga mengatakan hanya lebih banyak menjaga diri dan tetap berdoa
kepada Allah SWT
3. Strategi koping yang digunakan
Jika ada masalah keluarga, keluarga menyelesaikannya dengan bermusyawarah
dan memberikan dukungan
4. Strategi adaptasi disfungsional
Tn.R mengatakan apabila ada salah satu anggota keluarga melakukan
kesalahan maka ia langsung menasehatinya.
VII. Pengkajian focus Keluarga dengan anak dewasa (mulai melepas ) atau
dengan tahap 6 perkembangan keluarga
1. Bagaimana karakteristik pasangan anaknya ?
Jawaban : ibu H mengatakan bahwa anaknya belum menikah dan menjadi
mahasiswi dan masih tinggal bersama dengan mereka
2. Bagaimana hubungan anak terhadap orang tua dan mertua setelah menikah ? -
3. Apakah anak yang telah menikah tinggal bersama atau lepas dari orangtua ?-
4. Bagaimana hubungan antara anak yang telah menikah dengan saudara
kandungnya? -
5. Bagaimana perasaan orangtua setelah anak menikah ?-
6. Bagaimana orangtua membentuk jaringan dengan anak ?-
7. Bagaimana pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga yang dilaksanakan ?-
a. Pelaksanaan fungsi keluarga
1) Fungsi afektif : Tn. R dan Ny. H mempersiapkan anaknya agar bisa
bersosialisasi berhubungan baik dengan orang lain
2) Fungsi sosialisa : anak dari Tn. R dan Ny. H sudah mampu
bersosialisasi dengan lingkungan diluar rumahnya sebelum
meninggalkan rumah
3) Fungsi ekonomi : Tn. R dan Ny. H memenuhi semua kebutuhan
keluarganya
4) Fungsi perawatan : Tn. R dan Ny. H mempertahankan agar anggota
keluarganya tidak sakit, dan merawat anggota keluarga jika ada yang
sakit
5) Fungsi pendidikan : Tn. R dan Ny. H telah bertanggungjawab terhadap
pendidikan anaknya
b. Pelaksanaan tugas keluarga dibidang kesehatan
1) Keluarga Tn. R belum mampu untuk mengenal masalah kesehatan
keluarga seperti mengetahui tanda dan gejala penyakit
2) Tn. R bisa memutuskan tindakan kesehatan yang tepat untuk
keluarganya
3) Keluarag Tn. R mampu merawat anggota keluarga yang sakit
c. Tugas perkembangan keluarga yang telah tercapai
Keluarga Tn.R sedang mempersiapkan anak mereka untuk memenuhi tugas
perkembangan keluraga
VIII. Pemeriksaan kesehatan tiap individu anggota keluarga (menggunakan
table)
No Aspek Tn.R Ny. H Nn.A An.R
1 TTV TD: 110/70 mmHg TD: 140/70 mmHg TD: 120/80 mmHg TD: 110/80
N: 72x/menit N: 74x/menit N: 72x/menit mmHg
S: 36oc S: 36,7oc S: 36,5oc N: 78x/menit
RR: 20x/menit RR: 22x/menit RR: 22x/menit S: 36,5oc
RR: 22x/menit

IX. Harapan keluarga


Keluarga berharap penyakit yang di alami Ny. H bisa sembuh dan tidak ada lagi
keluarga yang sakit lagi

B. DIAGNOSIS KEPERAWATAN KELUARGA

I. Analisis dan sintesis data

No Data Masalah Penyebab


1 Subjektif : Kurangnya pengetahuan Ketidakmampuan
1. ibu H jarang pada keluarga Tn.R keluaraga dalam
mengeluh sakit kehususnya pada Ny. H mengenal masalah
kepala dan nyeri tentang penyakitnya kesehatan
pada leher bagian
belakang namun Ibu
H dan keluarga
mengatakan bahwa
mereka tidak
mengetahui tanda
dan gejala dari
penyakit tersebut.
Dan ia belum
mengetahui cara
mengatur pola hidup
yang baik
2. Keluarga Tn. R
belum mampu untuk
mengenal masalah
kesehatan keluarga
seperti mengetahui
tanda dan gejala
penyakit
Objektif :
TD: 140/70 mmHg
N: 74x/menit
S: 36,7oc
RR: 22x/menit

II. Perumusan diagnosis keperawatan


No Diagnosa Keperawatan (PES)
1 Kurangnya pengetahuan pada keluarga Tn.R kehususnya pada Ny. H tentang
penyakitnya b/d Ketidakmampuan keluaraga dalam mengenal masalah
kesehatan

III. Penulaian (Skoring) Diagnosa Keperawatan


Kurangnya pengetahuan pada keluarga Tn.R kehususnya pada Ny. H tentang
penyakitnya b/d Ketidakmampuan keluaraga dalam mengenal masalah kesehatan
No Kriteria Skor Bobot Nilai
1 Sifat masalah 2 1 2/3 x 1 = 2/3
kesehatan
- Ancama Kesehatan
2 Kemungkinan Masalah 1 2 2/1 x 2 = 1
Dapat Diubah
- Sebagian
3 Potensi masalah untuk 3 1 3/3 x 1 = 1
dicegah
- Tinggi
4 Menonjolnya masalah 2 1 2/3 x 1 = 1
- Masalah berat tapi
harus ditangani
Total 3,6

C. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


Kurangnya pengetahuan pada keluarga Tn.R kehususnya pada Ny. H tentang
penyakitnya b/d Ketidakmampuan keluaraga dalam mengenal masalah kesehatan
N Tujuan Evaluasi Rencana
O
Umum Khusu Kriteria Standar Intervensi
1 Setelah Keluarga Verbal 1. Keluarga 1. Kaji pengetahuan
Dilakukan dapat mampu keluarga tentang tanda
kunjungan menyebutkan menyebutkan dan gejala penyakit
keluarga tandda dan tanda dan Hipertensi
diharapkan gejala, gejala 2. Jelaskan kepada
keluarga penyebab Hipertensi keluarga tentang
mampu dan 2. Keluarga penyakit Hipertensi
mengenal pencegahan mampu 3. Jelaskan kepada
masalah dari mengetahui keluarga tentang
tentang Hipertensi bagaimana bagaimana upaya
hipertensi cara pola pencegahan Hipertensi
terutama hidup yang Yaitu dengan cara:
pencegahanya baik dari a. Edukasi Kesehatan
penyakit 1) Identifikasi kesiapan
Hipertensi dan kemampuan keluarga
menerima informasi
2) Jelaskan factor resiko
yang dapat mempengaruhi
kesehatan seperti: tidak
mengatur pola hidup yang
baik, mengatur pola
makan terutama
mengkonsumsi makanan
rendah garam, dan rajin
berolahraga
3) Biasakan berolahraga
setiap 15-30 menit/hari.
4) Kurangi aktifitas berat
dan stress yang
berkepanjangan

D. IMPLEMENTASI

Tanggal & Diagnosa Keperawatan Implementasi


waktu
18-05-2020 Kurangnya pengetahuan pada keluarga 1. MengKaji pengetahuan
10.00 WITA Tn.R kehususnya pada Ny. H tentang keluarga tentang tanda
penyakitnya b/d Ketidakmampuan dan gejala penyakit
keluaraga dalam mengenal masalah Hipertensi
kesehatan 2. MenJelaskan kepada
keluarga tentang
penyakit Hipertensi
3. MenJelaskan kepada
keluarga tentang
bagaimana upaya
pencegahan Hipertensi
Yaitu dengan cara:
Edukasi Kesehatan
1) MengIdentifikasi
kesiapan dan
kemampuan
keluarga menerima
informasi
2) Menjelaskan factor
resiko yang dapat
mempengaruhi
kesehatan seperti:
tidak mengatur pola
hidup yang baik,
mengatur pola
makan terutama
mengkonsumsi
makanan rendah
garam, dan rajin
berolahraga\
3) memBiasakan
berolahraga setiap
15-30 menit/hari.
4) Mengkurangi
aktifitas berat dan
stress yang
berkepanjangan

E. EVALUASI

Tanggal & Diagnosa


EVALUASI
waktu Keperawatan
18-05-2020 Kurangnya S:
12.00 wita pengetahuan 1. ibu H jarang mengeluh sakit kepala dan nyeri pada
pada keluarga leher bagian belakang namun Ibu H dan keluarga
Tn.R kehususnya mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui tanda
pada Ny. H dan gejala dari penyakit tersebut. Dan ia belum
tentang mengetahui cara mengatur pola hidup yang baik
penyakitnya b/d 2. Keluarga Tn. R belum mampu untuk mengenal
Ketidakmampuan masalah kesehatan keluarga seperti mengetahui
keluaraga dalam tanda dan gejala penyakit
mengenal O:
masalah TD: 140/70 mmHg
kesehatan N: 74x/menit
S: 36,7oc
RR: 22x/menit
A : masalah belum teratasi
P : intervensi dilanjutkan

Anda mungkin juga menyukai