SOP Pemasangan Water Seal Drainage (WSD)
July 04, 2017
Definisi / Pengertian Water Seal Drainage (WSD)
WSD adalah merupakan suatu tindakan invasive yang dilakukan untuk mengeluarkan
udara, cairan baik darah atau pus dari rongga pleura ataupun rongga thorax
(mediastinum) dengan menggunakan selang penghubung dari rongga ke botol WSD.
Tujuan dari Tindakan Pemasangan WSD
- Mengeluarkan cairan atau darah, udara dari rongga pleura dan rongga thorak
- Mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura
- Mengembangkan kembali paru yang kolaps
- Mencegah refluks drainage kembali ke dalam rongga dada
- Mengembalikan fungsi paru yaitu “mechanis of breathing”
Tipe atau Sistem WSDA. WSD dengan sistem satu botol
1. Sistem yang paling sederhana dan sering digunakan pada pasien simple
pneumothoraks.
2. Terdiri dari botol dengan penutup segel yang mempunyai 2 lubang selang yaitu 1
untuk ventilasi dan 1 lagi masuk ke dalam botol.
3. Air steril dimasukan ke dalam botol sampai ujung selang terendam 2cm untuk
mencegah masuknya udara ke dalam tabung yang bisa menyebabkan kolaps
paru.
4. Selang untuk ventilasi dalam botol dibiarkan terbuka untuk memfasilitasi udara
dari rongga pleura keluar.
5. Drainage tergantung dari mekanisme pernafasan dan gravitasi.
6. Undulasi (gelembung udara) pada selang cairan mengikuti irama pernafasan
yaitu saat :
Inspirasi akan meningkat
Ekpirasi menurun
B. WSD dengan Sistem 2 Botol
1. Digunakan 2 botol ; 1 botol mengumpulkan cairan drainage dan botol ke-2 botol
water seal.
2. Botol 1 dihubungkan dengan selang drainage yang awalnya kosong dan hampa
udara, selang pendek pada botol 1 dihubungkan dengan selang di botol 2 yang
berisi water seal.
3. Cairan drainase dari rongga pleura masuk ke botol 1 dan udara dari rongga
pleura masuk ke water seal botol 2.
4. Prinsip kerjasama dengan sistem 1 botol yaitu udara dan cairan mengalir dari
rongga pleura ke botol WSD dan udara dipompakan keluar melalui selang masuk
ke WSD Bisasanya digunakan untuk mengatasi adanya cairan dan udara pada
rongga dan pada efusi pleura.
C. WSD dengan Sistem 3 Botol
1. Sama dengan sistem 2 botol,hanya ditambah 1 botol untuk mengontrol jumlah
hisapan yang digunakan.
2. Paling aman untuk mengatur jumlah hisapan.
3. Yang terpenting adalah kedalaman selang di bawah air pada botol ke-3.
4. Jumlah hisapan tergantung pada kedalaman ujung selang yang tertanam dalam
air botol WSD.
5. Drainage tergantung gravitasi dan jumlah hisapan yang ditambahkan.
6. Botol ke-3 mempunyai 3 selang :
Tube pendek diatas batas air dihubungkan dengan tube pada botol ke dua
Tube pendek lain dihubungkan dengan suction
Tube di tengah yang panjang sampai di batas permukaan air dan terbuka ke
atmosfer
Jenis Pemasangan atau Lokasi Penempatan Selang WSD
1. Pleuren Tube:
Adalah digunakan untuk mengeluarkan cairan / udara dari rongga pleura, untuk
mengembalikan tekanan negative intra pleura, memungkinkan terjadinya ekspansi paru
setelah adanya cairan transudat (infeksi) dan eksudat (trauma).
1. Area pemasangan tube pada pleura yaitu pada: Bagian apex paru (apical),
Interolateral interkosta ke 1-2.
2. Fungsi : untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura
3. Bagian basal: Postero lateral interkosta ke 8-9
4. Fungsi : untuk mengeluarkan cairan (darah, pus) dari rongga pleura
2. Mediastinal Tube :
Adalah digunakan untuk mengalirkan cairan dari rongga mediatinum setelah operasi
jantung atau operasi lain di mediastinum.
Indikasi Pemasangan WSD
1. Pneumothoraks :
Spontan > 20% oleh karena rupture bleb
Luka tusuk tembus
Kerusakan selang dada pada sistem drainase
2. Hemopthorak:
Robekan pleura/trauma
Kelebihan antikoagulan
Pasca bedah thorak (Thorakotomy)
3. Efusi pleura: penumpukan cairan non fisiologis yang berlebih
4. Emfisema: ketidak elastisan paru karena penyakit obstruktif.
Komplikasi Pemasangan WSD
• Komplikasi primer : perdarahan, edema paru, tension pneumothoraks, atrial aritmia
• Komplikasi sekunder : infeksi
Persiapan Tindakan WSD
a. Pengkajian Pasien
- Memeriksa kembali instruksi dokter
- Mengecek inform consent
- Mengkaji status pasien; TTV dan status pernafasan
b. Persiapan Pasien
1. Siapkan pasien
2. Memberi penjelasan kepada pasien mencakup :
Tujuan tindakan
Posisi tubuh saat tindakan dan selama terpasang WSD: Posisi klien dapat duduk
atau berbaring
Upaya-upaya untuk mengurangi rangsangan nyeri seperti nafas dalam, distraksi
Latihan rentang sendi (ROM) pada sendi bahu sisi yang terkena
c. Persiapan alat
Sistem drainage tertutup
Motor suction
Slang penghubung steril
Botol berwarna putih/bening dengan kapasitas 2 liter, bistury/silet, trokart, cairan
antiseptic, benang catgut dan jarumnya, duk bolong, sarung tangan, spuit 10cc
dan 50cc, kassa.
NACl 0,9%, konektor, set balutan, obat anestesi (lidokain, xylokain), masker
d. Pelaksanaan
Prosedur ini dilakukan oleh dokter. Perawat membantu agar prosedur dapat
dilaksanakan dengan
baik , dan perawat memberikan dukungan moril pada pasien.
Cara Pemasangan WSD (Oleh Dokter Spesialis Pulmonologi) :
1. Tentukan tempat pemasangan, biasanya pada sela iga ke IV dan V, di linea
aksillaris anterior dan media.
2. Lakukan analgesia / anestesia pada tempat yang telah ditentukan.
3. Buat insisi kulit dan sub kutis searah dengan pinggir iga, perdalam sampai
muskulus interkostalis.
4. Masukkan Kelly klemp melalui pleura parietalis kemudian dilebarkan.
5. Masukkan jari melalui lubang tersebut untuk memastikan sudah sampai rongga
pleura / menyentuh paru.
6. Masukkan selang ( chest tube ) melalui lubang yang telah dibuat dengan
menggunakan Kelly forceps.
7. Selang ( Chest tube ) yang telah terpasang, difiksasi dengan jahitan ke dinding
dada.
8. Selang ( chest tube ) disambung ke WSD yang telah disiapkan.
9. Foto X- rays dada untuk menilai posisi selang yang telah dimasukkan.
10. Tindakan perawatan pasca pemasangan WSD.
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Selama Pemasangan WSD :
1. Perhatikan undulasi pada selang WSD, bila undulasi tidak ada, berbagai kondisi
dapat terjadi antara lain :
Motor suction tidak berjalan
Selang tersumbat
Selang terlipat
Paru-paru telah mengembang
Oleh karena itu, yakinkan apa yang menjadi penyebab, segera periksa kondisi
sistem drainage,
2. Amati tanda-tanda kesulitan bernafas.
3. Cek ruang control suction untuk mengetahui jumlah cairan yang keluar.
4. Cek batas cairan seal dari botol WSD, pertahankan dan tentukan batas yang telah
ditetapkan serta pastikan ujung pipa berada 2cm di bawah air.
5. Catat jumlah cairan yg keluar dari botol WSD tiap jam untuk mengetahui jumlah
cairan yg keluar.
6. Observasi pernafasan, nadi setiap 15 menit pada 1 jam pertama.
7. Perhatikan balutan pada insisi, apakah ada perdarahan.
8. Anjurkan pasien memilih posisi yg nyaman dengan memperhatikan jangan sampai
selang terlipat.
9. Anjurkan pasien untuk memegang slang apabila akan merubah posisi.
10. Beri tanda pada batas cairan setiap hari, catat tanggal dan waktu.
11. Ganti botol WSD setiap 3 hari dan bila sudah penuh. Catat jumlah cairan yang
dibuang.
12. Lakukan pemijatan pada slang untuk melancarkan aliran.
13. Observasi dengan ketat tanda-tanda kesulitan bernafas, sianosis, emphysema
subkutan.
14. Anjurkan pasien untuk menarik nafas dalam dan bimbing cara batuk efektif.
15. Botol WSD harus selalu lebih rendah dari tubuh.
16. Yakinkan bahwa selang tidak kaku dan menggantung di atas WSD.
17. Latih dan anjurkan klien untuk secara rutin 2-3 kali sehari melakukan latihan gerak
pada persendian bahu daerah pemasangan WSD.