0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
83 tayangan15 halaman

Isolasi Minyak Atsiri Cengkeh dengan Destilasi

Laporan praktikum ini membahas isolasi minyak atsiri dari bunga cengkeh dengan metode destilasi. Tujuannya adalah mengetahui hasil rendemen, tekstur, dan volume minyak atsiri yang diperoleh. Prosesnya meliputi ekstraksi bunga cengkeh dengan pelarut untuk memisahkan minyak atsiri, kemudian dilanjutkan dengan destilasi untuk menghasilkan minyak atsiri murni.

Diunggah oleh

Suci Rahmadini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
83 tayangan15 halaman

Isolasi Minyak Atsiri Cengkeh dengan Destilasi

Laporan praktikum ini membahas isolasi minyak atsiri dari bunga cengkeh dengan metode destilasi. Tujuannya adalah mengetahui hasil rendemen, tekstur, dan volume minyak atsiri yang diperoleh. Prosesnya meliputi ekstraksi bunga cengkeh dengan pelarut untuk memisahkan minyak atsiri, kemudian dilanjutkan dengan destilasi untuk menghasilkan minyak atsiri murni.

Diunggah oleh

Suci Rahmadini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK SEPARASI

PERCOBAAN 4

ISOLASI MINYAK ATSIRI DARI SIMPLISIA BUNGA CENGKEH (Syzigium


aromaticum L.) DENGAN METODE DESTILASI

Disusun oleh

Nama : Suci Resty Rahmadini

NIM : 1800017101

Prodi : Biologi

Gol/Kel :3/5

LABORATORIUM BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI TERAPAN

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

YOGYAKARTA

2020
PERCOBAAN 4

DESTILASI

A. Tujuan
Tujuan diadakannya praktikum teknik separasi destilasi yaitu :
1. Mengetahui hasil rendemen dari minyak atsiri bunga cengkeh
2. Mengetahui tekstur dan warna minyak atsiri bunga cengkeh
3. Mengetahui volume minyak yang diambil dalam destilasi minyak atsiri
bunga cengkeh

B. Tinjauan Pustaka
1. Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan
sifat tertentu, terutama kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling
larut yang berbeda. Pada umumnya ekstraksi dilakukan dengan
menggunakan pelarut yang didasarkan pada kelarutan komponen
terhadap komponen lain dalam campuran, biasanya air dan yang lainnya
pelarut organik. Bahan yang akan diekstrak biasanya berupa bahan
kering yang telah dihancurkan, biasanya berbentuk bubuk atau simplisia
(Sembiring, 2007).
Tujuan ekstraksi bahan alam adalah untuk menarik komponen kimia
yang terdapat pada bahan alam. Bahan-bahan aktif seperti senyawa
antimikroba dan antioksidan yang terdapat pada tumbuhan pada
umumnya diekstrak dengan pelarut. Pada proses ekstraksi dengan
pelarut, jumlah dan jenis senyawa yang masuk kedalam cairan pelarut
sangat ditentukan oleh jenis pelarut yang digunakan dan meliputi dua
fase yaitu fase pembilasan dan fase ekstraksi. Pada fase pembilasan,
pelarut membilas komponen-komponen isi sel yang telah pecah pada
proses penghancuran sebelumnya. Pada fase ekstraksi, mula-mula
terjadi pembengkakan dinding sel dan pelonggaran kerangka selulosa
dinding sel sehingga pori-pori dinding sel menjadi melebar yang
menyebabkan pelarut dapat dengan mudah masuk kedalam sel. Bahan
isi sel kemudian terlarut ke dalam pelarut sesuai dengan tingkat
kelarutannya lalu berdifusi keluar akibat adanya gaya yang ditimbulkan
karena perbedaan konsentrasi bahan terlarut yang terdapat di dalam dan
di luar sel. Ekstraksi secara umum dapat digolongkan menjadi dua yaitu
ekstraksi padat cair dan ekstraksi cair-cair. Pada ekstraksi cair-cair,
senyawa yang dipisahkan terdapat dalam campuran yang berupa cairan,
sedangkan ekstraksi padat-cair adalah suatu metode pemisahan senyawa
dari campuran yang berupa padatan (Voigt, 1995).

2. Destilasi
Destilasi adalah proses yang digunakan untuk memisahkan
campuran fluida berdasarkan titik didih yang diikuti oleh kondensasi.
Data yang diperlukan dalam penyelesaian persoalan distilasi adalah data
kesetimbangan antara fase liquid dan fase gas. Bentuk dan sumber data
kesetimbangan antara fase liquid dan fase gas diantaranya dapat
digambarkan dalam bentuk kurva kesetimbangan atau diperoleh dengan
cara eksperimen. Dua fase dikatakan berada dalam kesetimbangan jika
temperatur, tekanan, dan potensial kimia dari masing-masing komponen
yang terlibat di kedua fase bernilai sama (Ni Ketut, 2007).
Proses destilasi merupakan salah satu cara untuk memisahkan
komponen dalam larutan yang berbentuk cair atau gas dengan
mendasarkan pada perbedaan titik didih komponen yang ada di
dalamnya. Dasar dari pemisahan dengan destilasi adalah jika suatu
campuran komponen diuapkan maka komposisi pada fase uap akan
berbeda dengan fase cairnya. Komponen yang memiliki titik didih lebih
rendah maka akan didapatkan komposisi yang cenderung lebih besar
pada fase uapnya, uap ini diembunkan dan dididihkan kembali secara
bertingkat–tingkat maka akan diperoleh komposisi yang semakin murni
pada salah satu komponen. Beberapa campuran komponen, untuk
komposisi, suhu dan tekanan tertentu tidak memenuhi kecenderungan
tersebut, artinya jika campuran tersebut dididihkan maka komposisi fase
uapnya akan memiliki komposisi yang sama dengan fase cairnya,
keadaan ini disebut kondisi azeotrop, sehingga campuran pada kondisi
ini tidak dapat dipisahkan dengan cara destilasi biasa (Abassato, 2007).
Alat terdiri atas labu destilasi, still head dan kondensor dengan satu
adaptor yang menghubungkan ujung kondensor dengan labu penampung
destilat. Ukuran alat gelas yang digunakan ditentukan oleh ukuran
volume cairan yang akan didestilasi. Adapun fungsi masing-masing alat
yaitu labu alas bulat sebagai wadah untuk penyimpanan sampel yang
akan didestilasi. Kondensor atau pendingin yang berguna untuk
mendinginkan uap destilat yang melewati kondensor sehingga menjadi
cair. Kondensor atau pendingin yang digunakan menggunakan
pendingin air dimana air yang masuk berasal dari bawah dan keluar di
atas, karena jika airnya berasal (masuk) dari atas maka air dalam
pendingin atau kondensor tidak akan memenuhi isi pendingin sehingga
tidak dapat digunakan untuk mendinginkan uap yang mengalir lewat
kondensor tersebut. Oleh karena itu pendingin atau kondensor air
masuknya harus dari bawah sehingga pendingin atau kondensor akan
terisi dengan air maka dapat digunakan untuk mendinginkan komponen
zat yang melewati kondensor tersebut dari berwujud uap menjadi
berwujud cair. Termometer digunakan untuk mengamati suhu dalam
proses destuilasi sehingga suhu dapat dikontrol sesuai dengan suhu yang
diinginkan untuk memperoleh destilat murni. Erlenmeyer sebagai
wadah untuk menampung destilat yang diperoleh dari proses destilasi.
Pipa penghubung (adaptor) untuk menghubungkan antara kondensor
dan wadah penampung destilat (erlenmeyer) sehingga cairan destilat
yang mudah menguap akan tertampung dalam erlenmeyer dan tidak
akan menguap keluar selama proses destilasi berlangsung. Pemanas
berguna untuk memanaskan sampel yang terdapat pada labu alas bulat
(Zenta, 2006). Menurut Rusli (2013) Penggunaan batu didih pada proses
destilasi dimaksudkan untuk mempercepat proses pendidihan sampel
dengan menahan tekanan atau menekan gelembung panas pada sampel
serta menyebarkan panas yang ada ke seluruh bagian sampel.
Sedangkan statif dan klem berguna untuk menyangga bagian-bagian
dari peralatan destilasi sederhana sehingga tidak jatuh atau goyang.
Prinsip destilasi adalah memisahkan zat-zat melalui perbedaan titik
didih. Proses destilasi ini menggunakan labu destilasi sebagai destilator,
kompor listrik sebagai pemanas dan erlenmeyer sebagai tempat hasil
destilasi atau destilat. Cairan yang diembunkan kembali disebut destilat.
Penempatan posisi yang salah dapat menyebabkan uap cairan misalnya
etanol akan menempel pada termometer dan tidak melewati kondensor
untuk melalui proses pengembunan, tetapi akan kembali pada labu
destilasi yang berisi campuran cairan. Akibatnya, jumlah destilat yang
diperoleh tidak maksimal. Tujuan destilasi adalah pemurnian zat cair
pada titik didihnya, dan memisahkan cairan tersebut dari zat padat yang
terlarut atau dari zat cair lainnya yang mempunyai perbedaan titik didih
cairan murni. Kelebihan dari destilasi yaitu bahan dan alat yang
digunakan sederhana dan alat dan bahan mudah di dapat sedangkan
kekurangan dari proses destilasi adalah membutuhkan waktu yang lama
untuk memperoleh hasilnya, proses destilasi hanya menghasilkan hasil
ekstrak yang sedikit, dan tidak cocok untuk pengambilan minyak atsiri
yang tidak tahan oleh uap air panas (Ari, 2008).

3. Minyak Atsiri
Minyak atsiri yang dikenal dengan nama minyak terbang (volatile
oil) atau minyak eteris (essential oil) adalah minyak yang dihasilkan
dari tanaman dan mempunyai sifat mudah menguap pada suhu kamar
tanpa mengalami dekomposisi. Minyak atsiri merupakan salah satu hasil
proses metabolisme dalam tanaman, yang terbentuk karena reaksi
berbagai senyawa kimia dan air. Sifat dari minyak atsiri yang lain
adalah mempunyai rasa getir (pungent taste), berbau wangi sesuai
dengan bau tanaman penghasilnya, yang diambil dari bagian-bagian
tanaman seperti daun, buah, biji, bunga, rimpang, kulit kayu, bahkan
seluruh bagian tanaman. Minyak atsiri mudah larut dalam pelarut
organik seperti alkohol, eter, petroleum, benzene, dan tidak larut dalam
air (Abassato, 2007).

4. Cengkeh
Menurut Suwarto, dkk. (2014), klasifikasi ilmiah cengkeh adalah
sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Marga : Syzygium
Spesies : Syzygium aromaticum L.

Thomas (2007), menyatakan bahwa cengkeh termasuk jenis


tumbuhan perdu yang memiliki batang pohon besar dan berkayu keras.
Cengkeh mampu bertahan hidup puluhan bahkan sampai ratusan tahun,
tingginya dapat mencapai 20-30 meter dan cabang-cabangnya cukup
lebat. Tanaman cengkeh mengandung rendemen minyak atsiri dengan
jumlah cukup besar, baik dalam bunga (10–20%), tangkai (5–10%)
maupun daun (1–4%). Minyak atsiri dari bunga cengkeh memiliki
kualitas terbaik karena hasil rendemennnya tinggi dan mengandung
eugenol mencapai 80–90%. Kandungan minyak atsiri bunga cengkeh
didominasi oleh eugenol dengan komposisi eugenol (81,20%), trans-β-
kariofilen (3,92%), α-humulene (0,45%), eugenol asetat (12,43%),
kariofilen oksida (0,25%) dan trimetoksi asetofenon (0,53%) (Prianto,
dkk. 2013).
C. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum destilasi yaitu blender,
gelas ukur, timbangan analitik/semi kasar, mangkuk kecil, erlenmeyer, labu
destilasi, steel head, thermometer, kondensor, labu didih, aerator, batu
didih,

D. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum destilasi yaitu
cengkeh, tissue, kertas saring, vaseline gel.

E. Cara Kerja
1. Sebanyak 30 gram bahan simplisia cengkeh ditimbang menggunakan
timbangan semi kasar
2. Bahan simplisia cengkeh kemudian dihaluskan menggunakan blender
sampai tingkat kehalusan sedang
3. Cengkeh yang sudah diblender kemudian dimasukkan ke dalam labu
alas bulat
4. Aquades ditambahkan sebanyak 360 ml ke dalam labu alas bulat yang
berisi cengkeh
5. Labu alas bulat diletakkan di atas penangas air dan pipa t
disambungkan, setiap sambungan diolesi vaseline terlebih dahulu
6. Bagian atas pipa t dapat diberi thermometer atau ditutup dengan plastik
yang dikencangkan dengan karet
7. Kondensor disambungkan dengan pipa t dan diolesi vaseline terlebih
dahulu
8. Pipa penghubung disambungkan ke kondensor dan erlenmeyer ditaruh
dibawah pipa sebagai tempat penampungan
9. Lubang bagian bawah kondensor sebagai tempat masuk air sedangkan
lubang atas sebagai tempat keluar air
10. Proses destilasi dari pemanasan sampel dalam labu alas bulat sampai
hasil penguapan tertampung pada erlenmeyer
11. Hasil dari destilasi ini adalah minyak atsiri yang terkandung dalam
bahan simplisia cengkeh

F. Hasil dan Pembahasan


Destilasi adalah suatu metode pemisahan Hukum Raoult
berdasarkan perbedaan titik didih. Untuk membahas destilasi perlu
dipelajari proses kesetimbangan fasa uap-cair; kesetimbangan ini tergantung
pada tekanan uap larutan (Armid, 2009). Proses destilasi diawali dengan
pemanasan, sehingga zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan
menguap. Uap tersebut bergerak menuju kondensor yaitu pendingin proses
pendinginan terjadi karena kita mengalirkan air kedalam dinding (bagian
luar kondensor), sehingga uap yang dihasilkan akan kembali cair. Proses ini
berjalan terus menerus dan akhirnya dapat memisahkan seluruh senyawa-
senyawa yang ada dalam campura nhomogen tersebut ( Syukri, 2007).
Prinsip destilasi adalah penguapan cairan dan pengembunan kembali
uap tersebut pada suhu titik didih. Titik didih suatu cairan adalah suhu
dimana tekanan uapnya sama dengan tekanan atmosfer. Cairan yang
diembunkan kembali disebut destilat. Tujuan destilasi adalah pemurnian zat
cair pada titik didihnya, dan memisahkan cairan tersebut dari zat padat yang
terlarut atau dari zat cair lainnya yang mempunyai perbedaan titik didih
cairan murni (Sahidin, 2008). Kelebihan metode-metode destilasi tersebut
yaitu rendahnya biaya produksi, tetapi penggunaan suhu tinggi dan adanya
air dapat menyebabkan kerusakan minyak cengkeh karena panas yang
tinggi dan terjadinya reaksi hidrolisis dengan air, sehingga dapat
menurunkan kualitas minyak cengkeh. Penelitian sebelumnya terkait
destilasi minyak cengkeh telah dilakukan beberapa peneliti (Nuryoto et al.
2011). Kekurangan metode distilasi dapat diatasi dengan metode ekstraksi
yang menggunakan pelarut. Suhu ekstraksi dapat dilakukan pada suhu
ruang dan tidak melibatkan air dalam proses pengambilan minyaknya.
Beberapa jenis pelarut yang sering digunakan yaitu etanol, heksana,
benzena, aseton, metanol dan iso propil alkohol (Guenther 1987).
No Nama Berat Volume Aroma Rende
Bahan Awal (gr) minyak men
yang (%)
terambil
(gr)

1. Bunga 30 1,76 Cengkeh 5,87%


Cengkeh
(Syzygium
aromaticum
)

Tabel 1. Hasil Destilasi Minyak Atsiri dari Bunga Cengkeh (Syzygium


aromaticum)

Rendemen = Berat akhir/berat awal x 100%

1,76/30 x 100% = 5,87%

Praktikum destilasi minyak atsiri dari bunga cengkeh ini bertujuan


untuk menyaring minyak atsiri yang terkandung dalam bunga cengkeh
menggunakan alat-alat destilasi dengan pelarutnya adalah air. Destilasi
menggunakan labu alas bulat untuk tempat setelah cengkeh di blender.
Cengkeh di blender tidak terlalu halus karena permukaan bahan yang
digunakan bisa terkena larutan yang akan digunakan, fungsi lainnya agar
minyak atsiri yang ingin diambil bisa didapat. Sambungan pada pipa t
diolesi vaselin gel disebabkan agar
memudahkan pemasangan dan
pelepasan alat destilasi dan uap yang
didalam tidak keluar dan uap yang diluar
tidak bisa masuk. Alat destilasi ada yang
sudah dilengkapi oleh thermometer ada
yang tidak. Pemasangan thermometer
ada alat destilasi ini bertujuan untuk mengetahui suhu pada waktu proses
destilasi. Ditutupnya pipa t menggunakan plastik bertujuan untuk menahan
uap air (pelarut) supaya tidak keluar beserta minyak atsirinya. Hasil dari
tabel 1, menunjukkan dari 30
gram cengkeh mengandung minyak
atsiri sebesar 1,76 gram, dengan hasil
rendemen 5,87%. Aroma yang
terdapat pada minyak atsiri adalah
cengkeh.

Gambar 1. Penimbangan simplisia cengkeh 30 gram


Gambar 2. Rangkaian alat destilasi

Gambar 3. Hasil dari destilasi simplisia cengkeh, yaitu minyak atsiri

Rangkaian alat pada destilasi dirangkai sedemikian rupa agar


menjadi alat yang dapat digunakan dalam proses destilasi. Cengkeh yang
dibuat untuk menghasilkan minyak atsiri sebelumnya harus ditimbang
terlebih dahulu sebesar 30 gram. Penimbangan ini tidak harus ditentukan
beratnya, jadi disesuaikan dengan
labu alas bulat yang digunakan,
pebandingan pelarutnya disesuaikan
dengan beratnya (1:12). Hasil akhir dari
destilasi simplisia cengkeh ini
adalah mendapatkan minyak
atsiri sebesar 1,76 gram dengan
warna kuning kecoklatan dengan
tekstur kental. Rendemen destilasi
cengkeh ini menghasilkan 5,87%. Semakin lama rendemen minyak atsiri
pada simplisia cengkeh maka semakin banyak pula rendemen yang
dihasilkan.
Rendemen minyak atsiri dipengaruhi oleh beberapa faktor, faktor
utama yang mempengaruhi rendemen sebagian besar berasal dari proses
penyiapan sampel (ukuran sampel dan kondisi sampel) serta teknik
ekstraksinya (waktu destilasi serta jenis destilasi yang digunakan).
Faktor utama kedua adalah lama waktu destilasi, semakin lama waktu yang
digunakan untuk destilasi maka akan menghasilkan rendemen minyak
atsiri yang lebih besar, dan faktor utama ketiga adalah kondisi sampel.
Sampel daun dengan kondisi basah atau kadar air yang besar maka akan
menurunkan rendemen atsiri yang dihasilkan karena terlalu banyak
mengandung air sehingga ekstraksi minyak atsiri kurang optimal
(Utomo & Mujiburohman, 2018).
Pelarut yang digunakan dalam destilasi simplisia cengkeh ini adalah
air (aquades). karena air memiliki sifat kepolaran yang berbeda dengan
minyak atsiri sehingga minyak atsiri sehingga akan mudah dipisahkan dari
destilat. Air dan minyak atsiri tidak saling melarutkan, selain itu titik didih
air lebih kecil dari minyak atsiri sehingga uap air akan mendorong minyak
cengkeh untuk lepas dari pori-pori cengkeh dan menghasilkan destilat.
Pelarut polar yang biasa digunakan untuk ekstraksi flavonoid adalah
metanol, aseton, butanol, etanol, air dan isopropanol (Syukri, 2007).
Karakter minyak atsiri yang dihasilkan adalah berwarna kuning
kecoklatan bertekstur kental dengan berbau wangi yaitu aroma cengkeh.
Minyak atsiri sifatnya mudah menguap. Menurut Guenther 1987, minyak
atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya rendah sebagaimana
minyak lainnya, sebagian besar minyak atsiri tidak larut dalam air dan
pelarut polar lainnya. Minyak atsiri sebagian besar termasuk dalam
golongan senyawa organik terpena dan terpenoid.

G. Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum destilasi minyak atsiri cengkeh yaitu :


1. Hasil rendemen dari minyak atsiri bunga cengkeh adalah 5,87%
2. Tekstur dan warna minyak atsiri bunga cengkeh adalah kental dengan
berwarna kuning kecoklatan
3. Volume minyak yang diambil dalam destilasi minyak atsiri bunga
cengkeh 1,76 gram

DAFTAR PUSTAKA

Abbassato, Tony Irwanto & Eko Aris Budiarto. (2007).Efisiensi Kolom Sieve
Tray pada Destilasi yang Mengandung Tiga Komponen (Aceton-Alkohol-
Air). Jurnal Nasional.

Ari A, Andian. (2008). Bahan Ajar Kimia Dasar. Universitas Negeri


Yogyakarta.

Armid. 2009. Penuntun Praktikum Metode Pemisahan Kimia. Kendari. Unhalu.

Guenther, E. (1987) . Minyak Atsiri jilid I (Terjemahan). Jakarta : UI Press


Ni Ketut Sari. 2007. “Pemisahan Sistem Biner Etanol-Air Dan Sistem Terner
ABE Dengan Distilasi Batch Sederhana”. Jurnal INDUS-TRI Jurnal Ilmiah
Sains dan Teknologi . Fakultas Teknik Industri ITS Surabaya.

Nuryoto, Jayanudin, dan R. Hartono. (2011). Karakterisasi Minyak Atsiri dari


Limbah Daun Cengkeh. Prosiding Seminar Nasional, Teknik Kimia
“Kejuangan” Pengembangan Teknologi Kimia untuk Pengolahan Sumber
Daya Alam Indonesia. Yogyakarta.

Prianto H et al. 2013. Isolasi dan karakterisasi dari minyak bunga cengkeh
(Syzigium aromaticum) kering hasil distilasi uap. Kimia Student Journal.

Rusli, 2013. Pemisahan Kimia Untuk Universitas. Bandung. Erlangga.

Sahidin. 2008. Penuntun Praktikum Kimia Organik I. Kendari. Unhalu.

Sembiring B. 2007. Teknologi Penyiapan Simplisia Terstandar Tanaman Obat.


Warta Puslitbangbun Vol 13 No 12 Agutus 2007.
[Link] (diakses 2 Juni 2020).

Suwarto, dkk, 2014. Top 15 Tanaman Perkebunan. Jakarta. : Penebar Swadaya.

Syukri.2007. Kimia Dasar 2 . Bandung : Penerbit ITB.

Thomas, A.N.S. 2007. Tanaman Obat Tradisional. Yogyakarta: Kanisus.

Utomo, D., Mujiburohman, M., 2018. Pengaruh Kondisi Daun Dan Waktu
Penyulingan Terhadap Rendemen Minyak Kayu Putih. J. Teknol. Bahan
Alam 2.

Voigt, R., 1995, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Diterjemahkan oleh


Soendani N. S., UGM Press, Yogyakarta.

Zenta, Firdaus dan H.A.S Kumanireng . 2006. Teknik Laboratorium Kimia


Organik. Makassar: UNHAS

Anda mungkin juga menyukai