0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan20 halaman

Birokrasi dan Mobilitas Sosial di Sekolah

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian sekolah sebagai suatu birokrasi dan sarana mobilitas sosial. Sekolah didefinisikan sebagai lembaga pendidikan formal tempat proses pembelajaran berlangsung, sedangkan birokrasi adalah sistem organisasi pemerintahan berbasis aturan yang efisien. Dokumen juga menjelaskan bahwa mobilitas sosial memungkinkan perpindahan status sosial, dan sekolah dapat mendukung mobilit

Diunggah oleh

Sindy Septiani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan20 halaman

Birokrasi dan Mobilitas Sosial di Sekolah

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian sekolah sebagai suatu birokrasi dan sarana mobilitas sosial. Sekolah didefinisikan sebagai lembaga pendidikan formal tempat proses pembelajaran berlangsung, sedangkan birokrasi adalah sistem organisasi pemerintahan berbasis aturan yang efisien. Dokumen juga menjelaskan bahwa mobilitas sosial memungkinkan perpindahan status sosial, dan sekolah dapat mendukung mobilit

Diunggah oleh

Sindy Septiani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan berbgai negara di belahan dunia, birokrasi berkembang
sebagai wadah utama dalam penyelenggaraan negara diberbagai bidang
kehidupan bangsa dan dalam hubungan antar bangsa. Birokrasi bertugas
menerjemahkan berbagai keputusan politik ke dalam berbagai kebijakan
publik, dan berfungsi melakukan pengelolaan atas pelaksanaan berbagai
kebijakan tersebut secara operasional, efektif dan efisien. Sebab itu disadari
bahwa birokrasi merupakan faktor penentu keberhasilan keseluruhan agenda
pemerintahan. Birokrasi memegang peranan penting dalam perumusan
pelaksanaan dan pengawasan berbagai kebijakan publik, termasuk evaluasi
kinerjanya. Birokrasi adalah melaksanakan kebijakan dan mana yang terbaik.
Begitu juga dengan birokrasi harus dilaksanakan dengan baik dan dapat
menuju kesejahteraan yang merata.
Dalam masyarakat manapun bisa ditemui berbagai golongan masyarakat
yang pada praktiknya terdapat perbedaan tingkat antara golongan satu dengan
golongan yang lain. Adanya golongan yang berlapis-lapis ini mengakibatkan
terjadinya stratifikasi sosial baik itu secara ketat ataupun lebih bersifat terbuka.
Masyarakat yang menganut pelapisan sosial secara ketat tidak memungkinkan
adanya kenaikan tingkat bagi para warganya secara mudah. Sebaliknya, dalam
masyarakat yang menganut pelapisan sosial yang bersifat terbuka, warga yang
bersangkutan bisa dengan leluasa naik atau bahkan turun dart tingkat satu ke
tingkat lainnya atas dasar faktor-faktor tertentu.
Mobilitas sosial dapat diartikan sebagai suatu gerak perpindahan dari
suatu kelas sosial ke kelas sosial yang lainnya. Masyarakat dengan sistem
stratifikasi terbuka memilki tingkat mobilitas yang tinggi dibanding masyarakat
dengan sistem stratifikasi sosial yang tertutup. Dalam dunia modern seperti
sekarang ini, banyak negara mengupayakan peningkatan mobilitas sosial dalam
masyarakatnya, karma mereka yakin bahwa hal tersebut akan membuat orang
melakukan jenis pekerjaan yang, Paling cocok bagi diri mereka. Apabila
tingkat mobilitas tinggi. meskipun latar belakang sosial individu berbeda,
maka mereka tetap dapat merasa mempunyai hak yang sama dalam mencapai
kedudukan sosial yang lebih tinggi.

B. Tujuan
1. Mengetahui pengertian sekolah
2. Mengetahui tentang birokrasi dan mobilitas sosial
3. Mengetahui tentang sekolah sebagai suatu birokrasi dan sarana mobilitas
sekolah

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Sekolah
Sekolah adalah sistem interaksi sosial suatu organisasi keseluruhan
terdiri atas interaksi pribadi terkait bersama dalam suatu hubungan organic
(Wayne dalam buku Soebagio Atmodiwiro, 2000:37). Sedangkan berdasarkan
undang-undang no 2 tahun 1989 sekolah adalah satuan pendidikan yang
berjenjang dan berkesinambungan untuk menyelenggarakan kegiatan belajar
mengajar. Menurut Daryanto (1997:544), sekolah adalah bangunan atau
lembaga untuk belajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran.
Pengertian sekolah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan
memberi pelajaran;waktu atau perte-muan ketika murid-murid di beri
pelajaran; usaha menuntut kepandaian; belajar di sekolah. Sekolah merupakan
salah satu instansi manusia terpenting, tempat proses belajar-mengajar
berlangsung. Sekolah menambah pengetahuan anak didik tentang dunia, serta
membantu anak didik menyesuaikan diri dengan derap kemajuan dan
perubahan cepat yang terjadi dalam kehidupan modern. Sekolah juga
membantu manusia dalam menikmati seni dan mengembangkan minat serta
bakat lain yang membuat waktu senggang lebih berharga. (Ensiklopedi
Nasional Indonesia Jilid 14, 1990:471). Sekolah terbagi kedalam dua jenis,
yaitu sekolah formal dan informal. Pendidikan formal adalah jenis pendidikan
dengan sistem sekolah, sedangkan pendidikan informal adalah pendidikan yang
umumnya dilakukan diluar sekolah, seperti sekolah musik atau tari.
Dari definisi tersebut bahwa sekolah adalah suatu lembaga atau
organisasi yang diberi wewenang untuk menyelenggarakan kegiatan
pembelajaran. Sebagai suatu organisasi sekolah memiliki persyaratan tertentu.
Sekolah adalah suatu lembaga atau tempat untuk belajar seperti
membaca,menulis dan belajar untuk berperilaku yang baik. Sekolah juga
merupakan bagian integral dari suatu masyarakat yang berhadapan dengan
kondisi nyata yang terdapat dalam masyarakat pada masa sekarang. Sekolah
juga merupakan lingkungan kedua tempat anak-anak berlatih dan
menumbuhkan kepribadiannya. (Zanti Arbi dalam buku Made Pidarta,
1997:171).
Sekolah sebagai institusi (lembaga) pendidikan merupakan wadah tempat
proses pendidikan dilakukan, memiliki sistem yang komplek dan dinamis.
Dalam kaitannya, sekolah adalah tempat yang bukan hanya sekedar tempat
berkumpul guru dan murid, melainkan berada pada suatu tatanan yang rumit
dan saling berkaitan. Oleh karena itu sekolah dipandang suatu organisasi yang
membutuhkan pengelolaan lebih dari itu. Kegiatan lain organisasi sekolah
adalah mengelola sumber daya manusia (SDM) yang diharapkan menghasilkan
lulusan yang berkualitas sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat serta
pada gilirannya lulusan sekolah diharapkan dapat memberikan kontribusi
kepada pembangunan bangsa.

B. Birokrasi dan Mobilitas Sosial


1. Birokrasi
Secara epistimologis birokrasi berasal dari kata “bureau” yang berarti
meja atau kantor dan kata “kratia” (cratein) yang berarti pemerintah. Pada
mulanya, istilah ini digunakan untuk menunjuk pada suatu sistematika
kegiatan kerja yang diatur atau diperintah oleh suatu kantor melalui
kegiatan-kegiatan administrasi. Sebagaimana yang ada di dalam masyarakat
modern sekarang dimana begitu banyak urusan yang terus menerus dan
cenderung tetap, hanya organisasi birokrasi yang mampu menjawabnya.
Beberapa sebutan atau istilah birokrasi sendiri diterjemahkan sebagai
pemerintah yang anggota-anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat.
Menurut Sedarmayanti (2009: 67) birokrasi merupakan sistem
penyelenggaraan pemerintahan yang dijalankan pegawai negeri berdasarkan
peraturan perundang-undangan. Birokrasi adalah struktur organisasi
digambarkan dengan hierarki yang pejabatnya di angkat atau di tunjuk, garis
tanggung jawab dan kewenangannya diatur oleh peraturan yang diketahui
(termasuk sebelumnya), dan justifikasi setiap keputusan membutuhkan
referensi untuk mengetahui kebijakan yang pengesahannya ditentukan oleh
pemberi mandat di luar struktur organisasi itu sendiri. Lebih rinci lagi
birokrasi dijabarkan sebagai organisasi yang memiliki jenjang, setiap
jenjang diduduki oleh pejabat yang ditunjuk/diangkat, disertai aturan
tentanng kewenangan dan tanggung jawabnya, dan setiap kebijakan yang
dibuat harus diketahui oleh pemberi mandat.
Birokrasi merupakan rasional efisiensi organisasi yang setiap
anggotanya hanya bertanggung jawab pada tugas yang dipegangnya dan dia
mampu (kompeten) untuk melakukannya ( Bahar, 1989:103). Istilah
birokrasi pertama kali dikemukakan oleh Martin Albrow untuk memberikan
atribut terhadap istilah yang dipergunakan oleh seorang phsyiocrat Perancis
Vincent de Gourney yang untuk pertama kalinya memakai istilah birokrasi
dalam menguraikan sistem Pemerintahan Prusia di tahun 1745 (Thoha,
2003: 920). Birokrasi menurut Max Weber (1947: 328) merupakan suatu
organisasi besar yang memiliki otoritas legal rasional, legitimasi, ada
pembagian kerja dan bersifat [Link] Ronald B. Covin dalam
Bahar (1989:103) disebutkan bahwa birokrasi itu merupakan istilah yang
pegorative (tidak disukai atau buruk) dan terlintas kesan sebagai suatu yang
tidak efisien atau organisasi yang tidak praktis. Hal ini diperkuat oleh
Jeanne H. Ballantina dalam Bahar (1989:103) antara lain bahwa : 1) tidak
responsif terhadap perubahan yang cepat, 2) tidak menimbulkan kreativitas,
dan 3) hanya terpusat pada kekuasaan sosial yang dipegangnya dan sering
berada/dilakukan oleh pemimpin yang zalim. Dari kedua pendapat tersebut
di atas, memberikan gambaran bahwa birokrasi merupakan hal yang negatif,
sebab dengan birokrasi maka pelayanan organisasi tidak cepat, harus
mengikuti ketentuan yang baku dan kepemimpinannya terpusat atau
dikendalikan oleh seorang pemimpin. Hal-hal tersebut tidak seluruhnya
benar sebab dengan birokrasi maka kepemimpinan terkontrol, dan apabila
ada kesalahan menjadi tanggung jawab seorang pemimpin.
Menurut Rodman B. Webb dalam Bahar (1989:104)ciri-ciri birokrasi
sebagai berikut:
1. Separate organization, artinya secara structural birokrasi itu merupakan
suatu organisasi yang terpisah dan mempunyai banyak staf yang bekerja
full time. Pola kehidupan organisasi staf terpisah dari kehidupan pribadi.
2. Orderly and Stable Hierarchies, artinya bahwa cirri dasar birokrasi itu
adalah lingkaran organisasi yang teratur dan rapi (orderly hierarchical
organization) baik dari segi bentuk maupun dari segi pembagian
kerjanya.
3. Fix Yurisdiction, artinya bahwa birokrasi itu mempunyai peraturan yang
mengatur tata cara pelaksanaan birokrasi tersebut baik kedalam maupun
keluar.
4. Status Competence, artinya bahwa status individu terdapat dalam
birokrasi, umpamanya para anggota(pegawai) birokrasi harus memahami
dan melaksanakan peraturan atau cara kerja birokrasi, menjaga rahasia
birokrasi dan lain-lain
5. Formal Communication, artinya bahwa birokrasi mempunyai jalur
komunikasi formal baik kedalam maupun keluar.
6. Objectivity and Rationality, artinya bahwa birokrasi itu diharapkan
membuat prosedur yang tertulis, Otoritas yang jelas, peraturanyang
terpola. Idealnya birokrasi itu adalah lambing dari rasional organisasi
sosial.
Dengan memperhatikan ciri-ciri Webb tersebut menunjukkan bahwa
birokrasi adalah melayani fungsi yang vital (pokok) kebutuhan masyarakat.

Birokrasi berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli


adalah suatu sistem kontrol dalam organisasi yang dirancang berdasarkan
aturan-aturan yang rasional dan sistematis, dan bertujuan untuk
mengkoordinasi dan mengarahkan aktivitas-aktivitas kerja individu dalam
rangka penyelesaian tugas-tugas administrasi berskala besar. Pengertian
birokrasi juga dapat dilihat dengan jenis atau karakteristik dari birokrasi itu
sendiri, namun para pakar ilmu sosial masing-masing memiliki definisi yang
berbeda-beda.

Konsep dasar birokrasi tidak bisa lepas dari konsep yang digagas Max
Weber sosiolog ternama asal Jerman dalam karyanya ”The Theory of
Economy and Social Organization” yang dikenal melalui ideal-type (tipe
ideal) birokrasi modern. Model ini yang sering di adopsi dalam berbagai
rujukan birokrasi berbagai negara, termasuk di Indonesia. Konsepsi
birokrasi yang dikemukakan Max Weber tersebut dilihat dari legitimasi
kekuasaan yang ada, yang kemudian dibagi ke dalam tiga kategori (1947:
57), yaitu :

1. Rational-legal authority (Otoritas Legal Rasional) yaitu otoritas dimana


legitimasi yang didasarkan pada keyakinan akan alat hukum yang
diciptakan secara rasional dan juga pada kewenangan seseorang yang
melaksanakan tata hukum sesuai prosedur. Weber yakin bahwa otoritas
ini dapat diandalkan karena ini merupakan bentuk otoritas yang paling
memuaskan dari segi teknis.
2. Traditonal authotiy (Otoritas Tradisional) yaitu otoritas dimana sebuah
legitimasi yang bertumpu pada kepercayaan dan rasa hormat pada tradisi
dan masing-masing pengemban tradisi. Menurut weber otoritas ini
merupakan sarana ketidaksetaraan yang diciptakan dan dipelihara karena
jika tidak ada yang menentang otoritas ini maka pemimpin atau
kelompok pemimpin akan tetap dominan.
3. Charismatic type (Otoritas Kharismatik) yaitu otoritas dimana legitimasi
dilandaskan kepada charisma yang dimiliki oleh seorang pemimpin
sehingga ia dihormati dan dikagumi oleh pengikutnya.

Birokrasi merupakan sebuah organisasi dalam pemerintahan yang


merupakan rantai administrasi untuk mendukung pencapaian tujuan
pemerintahan itu sendiri, yaitu pelayanan kepada masyarakat. Organisasi
yang baik, efektif, efisien serta sesuai dengan kebutuhan, harus didasarkan
pada asas-asas yang diterapkan dalam organisasi tersebut dengan kata lain
birokrasi yang baik harus didasarkan pada asas-asas yang diterapkan.
Berikut ini merupakan asas-asas kepemerintahan yang baik menurut
Sedarmayanti (2009: 277), yaitu :
1. Mengikutsertakan semua masyarakat;
2. Transparan dan bertanggung jawab;
3. Efektif dan adil;
4. Menjamin adanya supremasi hukum;
5. Menjamin prioritas-prioritas politik, sosial dan ekonomi berdasarkan
pada konsensus masyarakat;
6. Memerhatikan kepentingan mereka yang paling miskin dan lemah dalam
proses pengambilan keputusan, termasuk menyangkut alokasi sumber
daya pembangunan.

2. Mobilitas Sosial
Masyarakat modern semakin membuka peluang bagi terjadinya
mobilitas social dibandingkan masyarakat zaman dulu. Pada masyarakat
yang kuno dan masih tradisional, mobilitas sosial sangat sulit dilakukan
karena stratifikasi sosialnya tertutup dan kaku. Dalam system kasta,
misalnya, tak ada mobilitas sosial. Dalam sistem tersebut, bila seorang lahir
dari kasta yang paling rendah, untuk selamanya ia tetap berada pada kasta
yang rendah. Dia tidak mungkin dapat pindah kekasta yang lebih tinggi
meskipun ia memiliki kemampuan atau keahlian karena yang menjadi
criteria stratifikasi adalah keturunan. Dengan demikian, tidak terjadi gerak
social dari strata satu ke strata lain yang lebih tinggi.
Mobilitas sosial ada hubungannya dengan perubahan suatu
masyarakat. Perubahan itu dapat berarti perkembangan maju atau mundur
suatu masyarakat. Secara umum mobiltias itu perputaran dari positif menjadi
negatif atau sebaliknya. Menurut Robert G. Burgess dalam Bahar (1989:36)
mobilitas sosial itu mengacu pada turun naiknya perkembangan kelas sosial
seseorang. Mobilitas menurut Ivan Reid dalam Bahar (1989:36) ada 3 (tiga)
macam yaitu:
1. Horizontal socialmobility
Perubahan yang terjadi hanyalah waktu dan tempat. Akan tetapi jenis
pekerjaannya sama dengan sebelumnya. Seperti pindah kerja ke tempat
yang lain dengan jenis pekerjaan yang sama.
2. Intragenerational socialmobility
Perubahan yang dramatis yaitu perubahan yang terjadi secara dramatis,
mungkin karier seseorang itu menanjak atau mungkin saja jatuh.
3. Intergenerirational socialmobility
Perubahan yang terjadi karenasesuatu seperti karier seseorang anak
meningkat karena orang tuanya memegang tampuk pimpinan di
dalamnya
Menurut P.A. Sorokin (1928), tipe-tipe mobilitas yang prinsipil ada
2 macam, yaitu gerak social yang horizontal dan vertical. Mobilitas social
horizontal dibedakan menjadi dua :
1. Mobilitas social antar wilayah/geografis. Gerak social ini adalah
perpindahan individu atau kelompok dari satu kedaerah lain, seperti
transmigrasi, urbanisasi, dan migrasi
2. Mobilitas antargenerasi. Secara umum, mobilitas antargenerasi berarti
mobilitas dua generasi atau lebih, misalnya generasi ayah-ibu, generasi
anak, generasi cucu, dan seterusnya. Mobilitas ini ditandai dengan
perkembangan taraf hidup, baik naik atau turun dalam suatu
[Link] bukan pada perkembangan keturunan itu sendiri,
melainkan pada perpindahan status social suatu generasi kegenerasi
lainnya, contoh : pak parjo adalah seorang tukang becak. Ia hanya
menamatkan pendidikannya hingga sekolah dasar, tetapi ia berhasil
mendidik anaknya menjadi seorang pengacara. Contoh ini menunjukan
telah terjadi mobilitas vertical antargenerasi
1) Mobilitas vertical
Gerak social vertical merupakan perpindahan individu atau objek
social dari suatu kedudukan social kedudukan lainnya, yang tidak
sederajat. Gerak social vertical meliputi, (a) social climbing, dari
status yang rendah kestatus yang tinggi, dimana status yang tinggi itu
telah ada sebelumnya dan membentuk kelompok atas status yang baru,
karena status yang lebih atas belum ada (promosi), misalnya
kelompok konlomerat, eksekutif, supereksekutif, dan seterusnya, (b)
social sinking dari kelompok yang tinggi/atas turun ke rendah, dan
derajat kelompoknya turun.
Gerak social vertical yang naik mempunyai dua bentuk utama, yaitu :
a) Masuknya individu-individu yang mempunyai kedudukan rendah
kedalam kedudukan yang lebih tinggi, dimana kedudukan tersebut
telah ada. Misalnya, seorang yang bekerja dikantor A dan diangkat
menjadi penjabat dikantor A
b) Pembentukan suatu kelompok baru, yang kemudian ditempatkan
pada derjat yang lebih tinggi dari kedudukan individu-individu
pembentukan kelompok tersebut. Misalnya, dengan dibentuknya
sebuah organisasi, member kesempaan kepada seseorang untuk
menjadi ketua umum, bertanda yang bersangkutan naik status.
Gerak social vertical yang turun mempunyai dua bentuk utama, yaitu :
a) Turunnya kedudukan individu kekedudukan yang lebih rendah
derajatnya. Misalnya, seorang penjabat dipecat karena korupsi
b) Turunnya derajat sekelompok individu yang dapat beerupa
disintegrasi kelompok sebagai kesatuan

C. Sekolah Sebagai Suatu Birokrasi dan Sarana Mobilitas Sekolah


1. Sekolah Sebagai Suatu Birokrasi
Di sekolah adalah merupakan organisasi yang memiliki suatu tujuan
yang ingin dicapai dalam rangka proses pencapaian tujuan melibatkan
semua anggota yang berada dalam unit sekolah tersebut, berkaitan dengan
anggota anggota yang ada diharapkan semua mampu melaksanakan apa
yang menjadi tanggung jawabnya, sebab di dalam suatu organisasi adalah
masing-masing anggota telah memiliki tugas dan wewenang sesuai dengan
bidangnya masing-masing, misalnya antara guru dan kepala sekolah
bertugas memandu organisasi sekolah, pustakawan mengelola perpustakaan,
tata usaha bertanggung jawab tentang ketatausahaan.
Sekolah sebagai suatu birokrasi karena sekolah merupakan organisasi
yang unik. Hal ini seperti pendapat Cristopher J. Hurn dalam Bahar
(1989:104) disebutkan :”Schools are distinctive because they expected to
transmit values, ideals, and shared knowledge; faster cognitive and
emotional growth; and sort and select students into groups by grades or
performance on examination.
Dari pendapat tersebut ditafsirkan oleh Jeanne H. Ballantina dalam
Bahar (1989:104-105) bahwa sekolah itu adalah istimewa atau mempunyai
kekhususan sebab dia diharapkan untuk dapat mentransmisikan nilainilai,
ide-ide, dan menyebarluaskan pengetahuan dengan cara membantu
pertumbuhan atau perkembangan kognitif dan emosi, mengelompokkan
atau menyeleksi siswa-siswa pada beberapa kategori antara lain bidang
studi, jabatan, kepintaran dan sebagainya, dengan konsekuensi masa depan
yang cerah. Secara organisasi, sekolah terdiri atas periode-periode, dan
murid-murid dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan tingkatan
dan prestasi. Tentu saja birokrasi lain mempunyai struktur dan tujuan yang
berbeda. Birokrasi yang berbentuk organisasi menjadi terkenal di Eropa
Barat dan Amerika Serikat pada saat revolusi industri, karena organisasi
efisien dan rasional lengkap dengan tujuan dengan hasil yang efektif.
Menurut Max Weber dalam Bahar (1989:105-108) ciri organisasi dengan
tipe ideal yaitu:
1. Devision of LabortSecuritment, and promotionpolicies
Guru maupun petugas administrasi mempunyai tugas masing-masing
baik di sekolah maupun di rumah, karena masing-masing telah
mengerjakan secara rutin pekerjaannya, maka dia ahli dalam bidangnya.
Di membuat jadwal dan pekerjaannya dengan rapi dan padat.
Seandainya konsekuen dan bertanggung jawab dengan tugas yang
dilakukan tentu mendatangkan hasil yang baik. Guru-guru akan
memegang kelas yang telah ditentukan kepala sekolah dia akan
bertanggung jawab mengenai pengajaran, kemajuan dan disiplin kelas
dia memberikan tugas kepada murid selama jam pelajaran, memberikan
bimbingan, menghadiri rapat dan masih ada tugas-tugas lainnya. Dengan
memberikan gambaran tugas tersebut menunjukkan bahwa penempatan
seseorang pada jabatan/pekerjaan harus jelas tentang tugas yang harus
diembannya dan sebelum melaksanakan tugas perlu diadakan penataran
(pra-jabatan) baik mengenai ketrampilan maupun sikapnya. Sikap akan
mempengaruhi keefektivan pekerjaan guru walaupun melakukan tugas di
kelas, namun persyaratan sikap haruslah cocok dengan peraturan dan
ketentuan negara.

2. Hierarchical System ofAutority


Jenjang atau tingkatan kepemimpinan sekolah dapat digambarkan
sebagai berikut: Bagan : Jenjang Kepemimpinan Sekolah Masing-
masing tingkatan ini mempunyai tugas dan tanggung jawab yang
berbeda, dengan sendirinya mempunyai jalur komunikasi yang berbeda
pula. Contoh guru di kelas ada yang menggunakan komunikasi dua
arah, ada yang menggunakan satu arah seperti direktur dan bawahannya.
Sebagian tanggung jawab seseorang dalam jenjang kepemimpinan
mempunyai hubungan timbal balik. Guru dalam memanggil murid
dengan nama panggilan sehari-hari misalnya; Alek, Ronald atau Pur, itu
berbeda kalau memanggil dengan kata ganti kamu, anda, engkau.
Dengan menggunakan nama panggilan maka anak akan merasa lebih
dekat dengan guru, apabila anak merasa asing maka mempengaruhi
kelancaran komunikasi dengan demikian hirarkhi kepemimpinan tidak
berjalan dengan lancar.

3. Formalized and Effectively Neutral RoleRelationship


Apabila seseorang memegang posisi tertentu dalam organisasi birokrasi.
Jikalau terjadi pengabaian terhadap satu peranan maka akan
menimbulkan masalah dalam suatu organisasi. Lain halnya di sekolah
organisasi sekolah terdiri dari beberapa unsur yang formal manusia
(bukan benda), maka kelakuan yang formal (terlihat pada prosedur
tertentu) akan sulit mencapai hasil. Oleh karenanya hubungan yang
terjadi di sekolah harus netral, artinya terjadinya saling pengertian antara
guru dan murid, saling memahami, berinteraksi dan lain-lain.

4. Relatioality of the TotalOrganization


Kecenderunganadministrasiorganisasiadalahuntukmencobadanmencarial
at yang paling efisien dalam rangka menghasilkan suatu fungsi. Begitu
juga halnya dengan sekolah yaitu berusaha untuk mencapai tingkat
efisiensi yang sedemikian rupa.

5. Position BelongOrganization
Ada kepala sekolah yang akan pensiun, dia seorang kepala sekolah yang
dikenal atau populer. Teman-teman dan murid menyenanginya, sebentar
lagi akan diganti dengan yang lebih muda, tentu kepala yang baru
akan membawa suasana pula. Apakah kepala sekolah yang baru ini akan
menjadi populer? Tentu belum tentu karena masing-masing orang
mempunyai keunikan tersendiri dalam memimpin. Hal ini dipengaruhi
seseorang dalam suatu organisasi.

2. Sekolah Sebagai Sarana Mobilitas Sosial


Sekolah sebagai mobilitas sosial, diduga bahwa bertambah tingginya taraf
pendidikan makin besarnya kemungkinan mobilitas bagi anak-anak golongan
rendah dan menengah. Ternyata ini tidak selalu benar bila pendidikan itu hanya
terbatas pada pendidikan tingkat menengah. Jadi, walaupun kewajiban belajar
ditingkatkan sampai SMTA masih menjadi pertanyaan apakah mobilitas sosial
dengan sendirinya akan meningkat. Mungkin sekali tidak akan terjadi lagi
perluasan mobilitas sosial. Seperti yang dikemukakan di atas ijazah SMA tidak
lagi memberikan mobilitas yang lebih besar kepada seseorang akan tetapi
pendidikan tinggi masih dapat memberikan mobilitas itu walaupun dengan
bertambahnya lulusan perguruan tinggi makin berkurang jaminan ijazah untuk
meningkat dalam status sosial (Nasution: 40)
Pendidikan tinggi masih sangat selektif, tidak semua orang tua mampu
membiayai studi anakanya di perguruan tinggi. Dengan menggunakan
komputer untuk menilai tes seleksi masuk menjadi obyektif artinya tidak lagi
dipengaruhi kedudukan orang tua atau orang yang memberikan rekomendasi.
Cara itu membuka kesempatan yang lebih luas bagi anak-anak golongan
rendah dan menengah untuk memasuki perguruan tinggi atas dasar prestasinya
dalam tes masuk itu. Biaya yang cukup banyak tentu selalu merupakan
hambatan bagi golongan rendah untuk menyekolahkan anaknya pada tingkat
universitas. Siswa-siswa dari pemerintah dan kesempatan untuk mengadakan
pinjaman dari bank untuk studi dapat memperluas kesempatan belajar bagi
mereka yang berbakat akan tetapi ekonomi lemah (Danandjaja: 58).
Pendidikan menurut perbedaan sosial pada umumnya di Negara demokrasi
orang sukar menerima adanya golongan-golongan sosial dalam masyarakat.
menurut undang-undang semua warga Negara sama, sama hak dan kewajiban,
sama perlakuan di hadapan undang-undang. Dalam kenyataan tak dapat
disangkal adanya perbedaan sosial itu tampak dari sikap rakyat biasa terhadap
pembesar, orang miskin terhadap orang kaya, pembantu terhadap majikan,
pengawai terhadap atasan. Perbedaan itu nyata dalam symbol-simbol status
seperti mobil mewah, rumah, perabotan luks, dan lainlain. Suka atau tak suka
perbedaan sosial terdapat di mana-mana sepanjang masa, walaupun sering
perbedaan tidak selalu mencolok (Nawawi, 1995: 25). Pendidikan bertujuan
untuk membekali sertiap anak agar masing-masing dapat maju dalam hidupnya
mencapai tingkat yang setinggi-tingginya. Akan tetapi sekolah sendiri tidak
mampu meniadakan batas-batas tingkatan sosial itu, oleh sebab banyak daya-
daya di luar sekolah yang memelihara atau mempertajamnya (Durkhen, ttt:
578).
Pendidikan selalu merupakan bagian dari sistem sosial, dan jika demikian
halnya timbul pertanyaan apakah sekolah harus mempertimbangkan perbedaan
itu dalam kurikulumnya artinya memberikan pendidikan bagi setiap golongan
sosial yang sesuai dengan kebutuhan golongan masing-masing sehingga dapat
hidup bahagia menurut golongan masing-masing. Berhubungan dengan itu juga
dipilih guru-guru, yang sesuai dengan golongan sosial murid yang
bersangkutan. Pendirian ini didasarkan atas anggapan bahwa sekolah
bagaimanapun juga tak dapat mengubah struktur sosial dank arena ini
menerimanya saja sebagai kenyataan serta menyesuaikan diri dengan
kenyataan itu agar kurikulum relevan (Durkhen: 579).
Tentu segera timbul keberatan terhadap pendirian yang demikian karena
dianggap bertentangan dengan prinsip demokrasi dengan mengadakan
diskriminasi dalam pendidikan. Cara demikian akan memperkuat penggolo-
ngan sosial dan menghambat mobilitas sosial yang diharapkan dari pendidikan.
Harapan ini tidak mudah diwujudkan oleh bab banyak daya-daya lain di luar
sekolah yang menimbulkan stratifikasi sosial yang jauh lebih kuat daripada
pendidikan paranormal. Jika benar-benardiinginkan agar sekolah mengubah
struktur sosial maka diperlukan pengetahuan yang fundamental tentang fungsi
yang dapat kita jalankan sekolah dlam masyarakat serta hakikat pengalaman
yang harus diberikan kepada anak-anak. Dalam hal ini pengetahuan kita belum
memadai. Kita juga belum mengetahui guru-guru yang bagaimana di perlukan,
kurikulum dan metode mengajar yang bagaimana paling serasi untuk
mengurangi stratifikasi sosial (Nasution, 43).
Pada saat ini sekolah-sekolah meneruskan cita-cita untuk menyebar luaskan
ideal dan norma-norma kesamaan dan mobilitas secara verbal di samping
adanya daya-daya stratifikasi yang berlangsung terus dalam masyarakat. ini
berarti bahwa usaha untuk mengajarkan kesamaan dan mobilitas akan
menghadapi kesulitan dalam dunia kenyataan.
Terdapat hubungan antara pendidikan dengan mobilitas sosial. Hal ini
seperti pendapat Robert G. Burgess dalam Bahar (1989:37) bahwa sistem
pendidikanlah yang menjadi mekanisme mobilitas sosial. Pendapat Ivan Reid
dalam Bahar (1989:37) menyatakan bahwa pendidikan itu memainkan peranan
yang penting dalam mobilitas sosial sekalipun tidak tertuju pada penempatan
pekerjaantertentu.
Berkaitan dengan peranan pendidikan dalam mobilitas sosial, kita
mengakui bahwa kualifikasi pendidikan harus dihubungkan secara langsung
dengan jenis pekerjaan. Dengan demikian pendidikan ikut menentukan status
sosial.
Menurut Bahar (1989:37) ada beberapa hal dalam melihat hubungan antara
sekolah dengan mobilitas sosial yaitu:
1. Kesempatan pendidikan.
Kesempatan pendidikan ini banyak ditentukan oleh faktor-faktor tertentu
antara lain kedudukan atau status sosial masyarakat. Kalangan masyarakat
bawah menginginkan terjadinya perubahan atau mobilitas sosial melalui
pendidikan

2. Mendapatkan pekerjaan
Kualifikasi pendidikan ada hubungannya dengan jenis pekerjaan, akan
tetapi tidak semua orang yang berkualifikasi tinggi dalam pendidikan
mendapatkan yang cocok dengan pekerjaannya. Sebab dalam kenyataan
ada rintangan misalnya ketersediaan lapangan pekerjaan. Kesempatan
pekerjaan antara satu daerah dengan daerah lain berbeda-beda karena
mobiltias sosial dipengaruhi adanya pendidikan, maka pendidikan
menghasilkan kualifikasi yang lebih banyak, paling tidak sesuai dengan
lapangan pekerjaan.
Jadi secara singkat hubungan dengan mobilitas sosial dipengaruhi
kesempatan memperoleh pendidikan dan kesempatan memperoleh
pekerjaan sesuai dengan kualifikasi pendidikannya. Sehingga apabila ingin
mobilitas sosial semakin baik atau maju maka kesempatan memperoleh
pendidikan semakin baik, dan hasil pendidikan sesuai dengan kebutuhan
lapangan pekerjaan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sekolah adalah suatu lembaga atau organisasi yang diberi wewenang
untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran serta suatu lembaga atau
tempat untuk belajar seperti membaca,menulis dan belajar untuk berperilaku
yang baik. Birokrasi adalah suatu sistem kontrol dalam organisasi yang
dirancang berdasarkan aturan-aturan yang rasional dan sistematis, dan
bertujuan untuk mengkoordinasi dan mengarahkan aktivitas-aktivitas kerja
individu dalam rangka penyelesaian tugas-tugas administrasi berskala besar.
Mobilitas sosial ada hubungannya dengan perubahan suatu masyarakat.
Perubahan itu dapat berarti perkembangan maju atau mundur suatu masyarakat.

Berkaitan dengan peranan pendidikan dalam mobilitas sosial, kita


mengakui bahwa kualifikasi pendidikan harus dihubungkan secara langsung
dengan jenis pekerjaan. Dengan demikian pendidikan ikut menentukan status
sosial. Menurut Bahar (1989:37) ada beberapa hal dalam melihat hubungan
antara sekolah dengan mobilitas sosial yaitu: Kesempatan pendidikan,
Mendapatkan pekerjaan

B. Saran
Sekolah adalah suatu lembaga atau organisasi yang diberi wewenang
untuk menyelenggarakan kegiatan pendidikan yang memiliki peran dalam
birokrasi serta mobilitas di masyarakat sehingga kualitas sekolah harus terus di
perbaiki baik itu tenaga pengajar, sarana prasarana sekolah, dan tentunya biaya
pendidikan agar untuk memperbaiki kualitas pendidikan kita. Dalam hal ini
pemerintah diharapkan berperan aktif dalam perbaikan kualitas sekolah
sehingga tujuan sekolah sebagai birokrasi dan mobilitas sosial dapat tercapai.
DAFTAR PUSTAKA

Bayu, H. 2011. Pengertian Sekolah. Diakses melalui:


[Link]

Ngadisah. Modul 1: Pengertian dan Teori-teori Klasik Birokrasi.

Seknum, m. Y. 2015. Pendidikan Sebagai Media Mobilitas Sosial. Auladuna.


2(1).

Tanto, T. A. (2011). Sekolah Sebagai Suatu Birokrasi dan Sarana Mobilitas


Sosial. scribd . Diakses melalui:
[Link]

Anda mungkin juga menyukai