0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
82 tayangan2 halaman

Dialog Persahabatan dan Nilai Moral

Dialog antara Asri dan ayahnya mengenai pekerjaan ayah yang dianggap memalukan oleh Asri. Ayah berusaha membela pekerjaannya sebagai sumber nafkah keluarga. Pada akhirnya Asri mulai memahami pandangan ayahnya. Kemudian terjadi insiden nyontek antara teman-teman di sekolah. Budika menolak memberi contekan karena berdosa. Akhirnya mereka semua ketahuan guru dan dihukum bersama-s

Diunggah oleh

bita_shofi8537
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
82 tayangan2 halaman

Dialog Persahabatan dan Nilai Moral

Dialog antara Asri dan ayahnya mengenai pekerjaan ayah yang dianggap memalukan oleh Asri. Ayah berusaha membela pekerjaannya sebagai sumber nafkah keluarga. Pada akhirnya Asri mulai memahami pandangan ayahnya. Kemudian terjadi insiden nyontek antara teman-teman di sekolah. Budika menolak memberi contekan karena berdosa. Akhirnya mereka semua ketahuan guru dan dihukum bersama-s

Diunggah oleh

bita_shofi8537
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Dialog antara Asri dan Ayahnya mengenai profesi pekerjaan ayahnya yang dianggap oleh Asri ”sangat

memalukan”.
Asri : Apapun alasannya, aku nggak mau tahu.
Ayah : Meskipun kita harus tidak makan?
Asri : Kalau begitu aku besok akan berhenti sekolah.
Ayah : Mengapa?
Asri : Untuk cari makan sendiri.
Ayah : Bukan begitu As
Asri : Pokoknya aku tidak mau, pilih aku berhenti sekolah atau bapak cari pekerjaan lain.
Ayah : Kamu tahu aku tidak punya keahlian apa-apa. Sejak ibumu masih hidup aku sudah menjalani pekerjaan
ini. 20 tahun As!
Asri : Hasilnya … hanya begini-begini saja
Ayah : Bagi saya kamu dapat sekolah dan jadi anak yang sholekah itu sudah cukup.
Asri : Enak si Shanti. Ayahnya pejabat dan dihormati di mana-mana. Dia dengan Bangga dapat menunjukkan
foto ayahnya yang sedang meresmikan sebuah bendungan.
Ayah : Terserah pendapatmu, biarlah ayah dengan pendirian ayah sendiri. Bagi Ayah, yang penting pekerjaan
itu halal dan dapat digunakan sebagai alat beribadah. Aku mau sembahyang dulu. kamu juga belum
sembahyang kan? (Ayah Asri masuk. Asri melemparkan tasnya dengan kesal lalu masuk mengikuti ayahnya)

Di halaman sekolah yang sudah mulai sepi. Dani dan Kiki kaget dan bengong
Hendi : Hey … kamu berdua! Saya akan ngasih pelajaran!
Dani : Ada apa Hen …?
Hendi : Alaaah, pura-pura tidak tahu. Mentang-mentang kalian dapat ngerjain
soal ulangan, kalian sombong, sedikit pun kalian tidak ngasih tahu!
Kiki : Kapan kamu minta jawaban? Saya lihat kamu dapat ngerjakan!
Hendi : Ah …, alasan!
Dani : Lantas, sekarang mau apa?
Hendi : Eh …, kamu nantang?!
Kiki : Alaaah …, kamu beraninya kalau ada bantuan!
Hendi : Tutup mulutmu, (sambil tangannya memberi isyarat kepada temannya
agar Dani mulai dikerjain oleh gerombolannya). Hendi dan
gerombolannya mengeroyok
Dani : Sebentar … se … bentar (sambil menahan pukulan).
Dari belakang terdengar suara yang ternyata Pak guru Geografi akan melerai
perkelahian itu.
Pak Guru: Heee …, berhenti. Heh, sudah hentikan! (berteriak).

Ibani:      “Din, Saya minta jawaban soal nomor  5 dan 6!”


Andinia:         “A dan C”
Kensita:         “kalau soal nomor 10,11 dan 15 jawabannya apa Ban?
Ibani:      “10 A, 11 D, nomor 15 Saya belum”
Aldi:          “Whuss, jangan kencang-kencang nanti gurunya dengar”
Kensita:         “soalnya sulit sekali, masih banyak yang belum Saya kerjakan”
Mereka berempat saling contek-Nyontek seperti pelajar lainnya. Tapi tidak dengan Budika, ia terlihat
rileks dan mengerjakan soal ujian sendiri tanpa Nyontek.
Ibani:      “Bud,kamu sudah selesai?”
Budika:        “Belum, tinggal 3 soal lagi”
Ibani:      “Saya minta jawaban nomor 15 sampai 20 Bud!”
Budika:        “Tidak Bisa Ban,”
Ibani:      “Kenapa? Kita sahabat bud, kita harus kerjasama”
Andinia:         “Iya Bud, kita harus kerja sama”
Aldi:          “Iya, kamu kan yang paling pintar disini bud”
Budika:        “tapi bukan kerjasama seperti ini teman-teman”
Kensita:         “Kenapa memang Bud? Hanya 5 soal saja!”
Budika:        “Nyontek atau pun memberi contek adalah hal buruk, yang dosa nya sama. Saya tidak mau
mencotek karena dosa, begitu pula member contek ke kalian. Saya minta maaf”
Kensita:         “Tapi saat ini, sangat mendesak Bud”
Andinia:         “Iya Bud, bantu kami”
Budika:        “tetap tidak bisa”
Aldi:          “Ya sudahlah, biarkan. Urus saja dirimu sendiri Bud, dan kami urus diri kami sendiri.”
(marah dan kesal)
Ibani:      “biarkan, kita lihat di buku saja”
Ibani lalu mengeluarkan buku dari kolong bangkunya secara diam-diam, kemudian melihat rumus dan
jawaban di dalamnya. Lalu Kensita menanyakan hasilnya.
Kensita:         “Bagaimana Ban? Ada tidak?
Ibani:      “ada, kalian dengar ya. 15 A, 16 D, 17 D, 18 B, 19 A, 20 C”
Kareana suara Ibani yang agak terdengar keras, Guru pun mendengarnya dan menghampiri mereka
berempat.
Guru:      “Kalian ini, Nyontek terus. Keluar kalian”
Mereka berempat di hukum di lapangan untuk menghormati tiang bendera.
Ibani:      “Saya tidak menyangka akan seperti ini”
Andinia:         “Saya juga tidak menyangka, akan dihukum”
Kensita:         “Seharusnya kita belajar ya”
Aldi:          “Iya, Budika benar”
Ibani:      “Disaat seperti ini, baru kita menyadarinya yah!”
Kensita:         “Saya menyesal!”
Aldi, Andinia&Ibani:   “Saya juga” bersama
Setelah itu Budika keluar dari kelas dan menghampiri mereka. Kemudian Budika ikut berdiri hormat
seperti yang lain.
Andinia:         “kenapa bud? Kamu di hukum juga?”
Budika:        “Tidak, Saya ingin menjalani hukuman kalian juga.
Kita sahabat kan? Saya ingin kita bersama”
Kensita:         “Saya berharap ini menjadi pelajaran kita semua”
Andinia:         “dan tidak kita ulangi lagi”
Aldi:          “Kita sahabat sejati”

Kemduian mereka semua menjalani hukuman dengan penuh senyuman dan tawa. Ternayata
persahabatan dapat membenamkan segala keburukan.

Anda mungkin juga menyukai