Makalah Resusitasi Jantung Paru
Makalah Resusitasi Jantung Paru
Oleh :
HELEN FANIA MP
NIS:19181005
i
KATA PENGANTAR
Penulis
ii
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI..................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
A Pengertian Resusitasi Jantung Paru .............................................3
B Teknik Resusitasi Jantung Paru (Kompresi) ...............................7
C Resusitasi Jantung Paru pada Bayi, Anak dan Dewasa................8
A Kesimpulan..................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Resusitasi jantung paru (RJP) adalah metode untuk mengembalikan
fungsi pernapasan dan sirkulasi pada pasien yang mengalami henti napas dan
henti jantung yang tidak diharapkan mati pada saat itu. Metode ini merupakan
kombinasi pernapasan buatan dan bantuan sirkulasi yang bertujuan
mencukupi kebutuhan oksigen otak dan substrat lain sementara jantung dan
paru tidak berfungsi. Keberhasilan RJP dimungkinkan oleh adanya interval
waktu antara mati klinis dan mati biologis, yaitu sekitar 4 – 6 menit. Dalam
waktu tersebut mulai terjadi kerusakan sel-sel otak rang kemudian diikuti
organ-organ tubuh lain. Dengan demikian pemeliharaan perfusi serebral
merupakan tujuan utama pada RJP.
1
menekankan bahwa penolong harus berfokus memberikan kompresi sekuat
dan secepat mungkin, 100 kali kompresi dada per menit, dengan kedalaman
kompresi sekitar 5-5,5 cm. Dan, sangat penting untuk tidak bersandar pada
dada ketika melakukan kompresi dada pada korban. Penolong tidak perlu
takut dan ragu untuk melakukan kompresi dada yang dalam karena risiko
ketidakberhasilan justru terjadi ketika kompresi dada yang dilakukan kurang
dalam.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Resusitasi Jantung Paru (RJP)?
2. Bagaimanakah Teknik Resusitasi Jantung Paru (Kompresi)?
3. Bagaimanakah Resusitasi Jantung Paru Pada Bayi, Anak dan Dewasa?
C. Tujuan
1. Dapat mengetahui tentang RJP
2. Dapat mengetahui tentang Teknik Resusitasi Jantung Paru (Kompresi)
3. Dapat mengetahui mengenai tentang Resusitasi Jantung Paru Pada Bayi,
Anak dan Dewasa
2
BAB II
PEMBAHASAN
1. Mati Klinis
Tidak ditemukan adanya pernapasan dan denyut nadi, bersifat
reversibel, penderita punya kesempatan waktu 4-6 menit untuk dilakukan
resusitasi tanpa kerusakan otak.
2. Mati Biologis
Biasanya terjadi dalam waktu 8-10 menit dari henti jantung, dimulai
dengan kematian sel otak, bersifat irreversibel. (kecuali berada di suhu
yang ekstrim dingin, pernah dilaporkan melakukan resusitasi selama 1
jam/ lebih dan berhasil).
Catatan:
3
Pada korban yang sudah tidak ada refleks mata dan terjadi kerusakan
batang otak tidak perlu dilakukan RJP.
4
dibalikkan. Bila dalam keadaan trauma, pembalikan dilakukan dengan
”Log Roll”
4. Posisi Penolong
Korban di lantai, penolong berlutut di sisi kanan korban .
5. Pemeriksaan Pernafasan
Yang pertama harus selalu dipastikan adalah airway dalam
keadaan baik.
a. Tidak terlihat gerakan otot napas
b. Tidak ada aliran udara via hidung
Dapat dilakukan dengan menggunakan teknik lihat, dengan dan
rasa, bila korban bernapas, korban tidak memerlukan RJP.
6. Pemeriksaan Sirkulasi
a. Pada orang dewasa tidak ada denyut nadi carotis
b. Pada bayi dan anak kecil tidak ada denyut nadi brachialis
c. Tidak ada tanda-tanda sirkulasi
d. Bila ada pulsasi dan korban pernapas, napas buatan dapat
dihentikan. Tetapi bila ada pulsasi dan korban tidak bernapas,
napas buatan diteruskan. Dan bila tidak ada pulsasi, dilakukan RJP.
C. Henti Napas
Pernapasan buatan diberikan dengan cara :
1. Mouth to Mouth Ventilation
Cara langsung sudah tidak dianjurkan karena bahaya infeksi
(terutama hepatitis, HIV) karena itu harus memakai ”barrier device”
(alat perantara). Dengan cara ini akan dicapai konsentrasi oksigen
hanya 18 %.
a. Tangan kiri penolong menutup hidung korban dengan cara
memijitnya dengan jari telunjuk dan ibu jari, tangan kanan
penolong menarik dagu korban ke atas.
b. Penolong menarik napas dalam-dalam, kemudian letakkan mulut
penolong ke atas mulut korban sampai menutupi seluruh mulut
5
korban secara pelan-pelan sambil memperhatikan adanya gerakan
dada korban sebagai akibat dari tiupan napas penolong. Gerakan
ini menunjukkan bahwa udara yang ditiupkan oleh penolong itu
masuk ke dalam paru-paru korban.
c. Setelah itu angkat mulut penolong dan lepaskan jari penolong dari
hidung korban. Hal ini memberikan kesempatan pada dada korban
kembali ke posisi semula.
2. Mouth to Stoma
Dapat dilakukan dengan membuat Krikotiroidektomi yang
kemudian dihembuskan udara melalui jalan yang telah dibuat melalui
prosedur Krikotiroidektomi tadi.
3. Mouth to Mask ventilation
Pada cara ini, udara ditiupkan ke dalam mulut penderita dengan
bantuan face mask.
4. Bag Valve Mask Ventilation ( Ambu Bag)
Dipakai alat yang ada bag dan mask dengan di antaranya ada
katup. Untuk mendapatkan penutupan masker yang baik, maka
sebaiknya masker dipegang satu petugas sedangkan petugas yang lain
memompa.
5. Flow restricted Oxygen Powered Ventilation (FROP)
Pada ambulans dikenal sebagai “ OXY – Viva “. Alat ini secara
otomatis akan memberikan oksigen sesuai ukuran aliran (flow) yang
diinginkan.
Bantuan jalan napas dilakukan dengan sebelumnya
mengevaluasi jalan napas korban apakah terdapat sumbatan atau tidak.
Jika terdapat sumbatan maka hendaknya dibebaskan terlebih dahulu.
D. Henti Jantung
RJP dapat dilakukan oleh satu orang penolong atau dua orang penolong.
Lokasi titik tumpu kompresi.
1. 1/3 distal sternum atau 2 jari proksimal Proc. Xiphoideus
6
2. Jari tengah tangan kanan diletakkan di Proc. Xiphoideus, sedangkan
jari telunjuk mengikuti
3. Tempatkan tumit tangan di atas jari telunjuk tersebut
4. Tumit tangan satunya diletakkan di atas tangan yang sudah berada
tepat di titik pijat jantung
5. Jari-jari tangan dapat dirangkum, namun tidak boleh menyinggung
dada korban
7
6. Setelah empat siklus pijat napas, evaluasi sirkulasi untuk menyelamatkan
nyawa sampai korban dapat dibawa atau tunjangan hidup Ian jutan sudah
tersedia. Di sini termasuk langkah- langkah ABC dari RKP :
A (Airway) : Jalan nafas terbuka.
B (Breathing) : Pernapasan, pernapasan buatan RKP.
C (Circulation) : Sirkulasi, sirkulasi buatan.
Indikasi tunjangan hidup dasar terjadi karena :
1. Henti napas.
2. Henti jantung, yang dapat terjadi karena :
a. Kolaps kardiovaskular
b. Fibrilasi ventrikel atau
c. Asistole ventrikel.
3. Pernapasan buatan
Membuka jalan napas dan pemulihan pernapasan adalah dasar
pemapasan [Link] mengetahui adanya sumbatan jalan napas dan
apne
8
kecil, jepit hidungnya, tutupi mulutnya, dan berikan hembusan seperti
pada bayi.
c. Peredaran Darah (Circulation = C)
Pemeriksaan Denyut:
Pada bayi, untuk menentukan ada atau tidaknya denyut nadi adalah
dengan meraba bagian dalam dari lengan atas pad a bagian tengah
antara siku dan bahu. Pemeriksaan denyut pada anak keeiL sarna
dengan orang dewasa.
2. Resusitasi jantung paru pada bayi ( < 1 tahun)
a. 2 – 3 jari atau kedua ibu jari
b. Titik kompresi pada garis yang menghubungkan kedua papilla
mammae
c. Kompresi ritmik 5 pijatan / 3 detik atau kurang lebih 100 kali per
menit
d. Rasio pijat : napas 15 : 2
e. Setelah tiga siklus pijat napas, evaluasi sirkulasi
3. Resusitasi Jantung paru pada anak-anak ( 1-8 tahun)
a. Satu telapak tangan
b. Titik kompresi pada satu jari di atas Proc. Xiphoideus
c. Kompresi ritmik 5 pijatan / 3 detik atau kurang lebih 100 kali per
menit
d. Rasio pijat : napas 30 : 2
e. Setelah tiga siklus pijat napas, evaluasi sirkulasi
9
Bila tindakan ini tidak menolong, maka rahang bawah ditarik ke
depan. Caranya ialah,
Tarik mendibula ke depan dengan ibu jari sambil,
Mendorong kepala ke belakang dan kemudian,
Buka rahang bawah untuk memudahkan bernafas melalui mulut atau
hidung.
Penarikan rahang bawah paling baik dilakukan bila penolong berada
pada bagian puncak kepala korban. Bila korban tidak mau bernafas
spontan, penolong harus pindah ke samping korban untuk segera
melakukan pernafasan buatan mulut ke mulut atau mulut ke hidung. (5,
6, 7)
Breathing (Pernafasan)
Dalam melakukan pernafasa mulut ke mulut penolong menggunakan
satu tangan di belakang leher korban sebagai ganjalan agar kepala tetap
tertarik ke belakang, tangan yang lain menutup hidung korban (dengan ibu
jari dan telunjuk) sambil turut menekan dahi korban ke belakang.
Penolong menghirup nafas dalam kemudian meniupkan udara ke dalam
mulut korban dengan kuat. Ekspirasi korban adalah secara pasif, sambil
diperhatikan gerakan dada waktu mengecil. Siklus ini diulang satu kali
tiap lima detik selama pernafasan masih belum adekuat.
Pernafasan yang adekuat dinilai tiap kali tiupan oleh penolong, yaitu
perhatikan :
gerakan dada waktu membesar dan mengecil
merasakan tahanan waktu meniup dan isi paru korban waktu
mengembang
dengan suara dan rasakan udara yang keluar waktu ekspirasi.
Tiupan pertama ialah 4 kali tiupan cepat, penuh, tanpa menunggu paru
korban mengecil sampai batas habis. (5)
10
Circulation (Sirkulasi buatan)
Sering disebut juga dengan Kompresi Jantung Luar (KJL). Henti
jantung (cardiac arrest) ialah hentinya jantung dan peredaran darah secara
tiba-tiba, pada seseorang yang tadinya tidak apa-apa; merupakan keadaan
darurat yang paling gawat.
Sebab-sebab henti jantung :
Afiksi dan hipoksi
Serangan jantung
Syok listrik
Obat-obatan
Reaksi sensitifitas
Kateterasi jantung
Anestesi. (5)
Untuk mencegah mati biologi (serebral death), pertolongan harus
diberikan dalam 3 atau 4 menit setelah hilangnya sirkulasi. Bila terjadi
henti jantung yang tidak terduga, maka langkah-langkah ABC dari
tunjangan hidup dasar harus segera dilakukan, termasuk pernafasan dan
sirkulasi buatan.
Henti jantung diketahui dari :
Hilangnya denyut nadi pada arteri besar
Korban tidak sadar
Korban tampak seperti mati
Hilangnya gerakan bernafas atau megap-megap.
Pada henti jantung yang tidak diketahui, penolong pertama-tama
membuka jalan nafas dengan menarik kepala ke belakang. Bila korban
tidak bernafas, segera tiup paru korban 3-5 kali lalu raba denyut a. carotis.
Perabaan a. carotis lebih dianjurkan karena : (5)
1. Penolong sudah berada di daerah kepala korban untuk melakukan
pernafasan buatan
2. Daerah leher biasanya terbuka, tidak perlu melepas pakaian korban
11
3. Arteri karotis adalah sentral dan kadang-kadang masih berdenyut
sekalipun daerah perifer lainnya tidak teraba lagi.
Bila teraba kembali denyut nadi, teruskan ventilasi. Bila denyut nadi
hilang atau diragukan, maka ini adalah indikasi untuk memulai sirkulasi
buatan dengan kompresi jantung luar. Kompresi jantung luar harus disertai
dengan pernafasan buatan. ( 5, 7)
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan ABC RJP
tersebut adalah,
1. RJP jangan berhenti lebih dari 5 detik dengan alasan apapun
2. Tidak perlu memindahkan penderita ke tempat yang lebih baik, kecuali
bila ia sudah stabil
3. Jangan menekan prosesus xifoideus pada ujung tulang dada, karena
dapat berakibat robeknya hati
4. Diantara tiap kompresi, tangan harus melepas tekanan tetapi melekat
pada sternum, jari-jari jangan menekan iga korban
5. Hindarkan gerakan yang menyentak. Kompresi harus lembut, teratur
dan tidak terputus
6. Perhatikan komplikasi yang mungkin karena RJP. (5)
7. ABC RJP dilakukan pada korban yang mengalami henti jantung dapat
memberi kemungkinan beberapa hasil,
1. Korban menjadi sadar kembali
2. Korban dinyatakan mati, ini dapat disebabkan karena pertolongan
RJP yang terlambat diberikan atau pertolongan tak terlambat tetapi
tidak betul pelaksanaannya.
3. Korban belum dinyatakan mati dan belum timbul denyut jantung
spontan. Dalam hal ini perlu diberi pertolongan lebih lanjut yaitu
bantuan hidup lanjut (BHL). (4)
12
B. Bantuan Hidup Lanjut
Drugs
Setelah penilaian terhadap hasil bantuan hidup dasar, dapat
diteruskan dengan bantuan hidup lanjut (korban dinyatakan belum mati
dan belum timbul denyut jantung spontan), maka bantuan hidup lanjut
dapat diberikan berupa obat-obatan. Obat-obatan tersebut dibagi dalam 2
golongan yaitu,
1. Penting, yaitu :
Adrenalin
Natrium bikarbonat
Sulfat Atropin
Lidokain
2. Berguna, yaitu :
Isoproterenol
Propanolol
Kortikosteroid. (5)
Natrium bikarbonat
Penting untuk melawan metabolik asidosis, diberikan iv dengan
dosis awal : 1 mEq/kgBB, baik berupa bolus ataupun dalam infus setelah
selama periode 10 menit. Dapat juga diberikan intrakardial, begitu
sirkulasi spontan yang efektif tercapai, pemberian harus dihentikan karena
bisa terjadi metabolik alkalosis, takhiaritmia dan hiperosmolalitas. Bila
belum ada sirkulasi yang efektif maka ulangi lagi pemberian dengan dosis
yang sama.
Adrenalin
Mekanisme kerja merangsang reseptor alfa dan beta, dosis yang
diberikan 0,5 – 1 mg iv diulang setelh 5 menit sesuai kebutuhan dan yang
perlu diperhatikan dapat meningkatkan pemakaian O2 myocard,
takiaritmi, fibrilasi ventrikel.
13
Lidokain
Meninggikan ambang fibrilasi dan mempunyai efek antiaritmia
dengan cara meningkatkan ambang stimulasi listrik dari ventrikel selama
diastole. Pada dosis terapeutik biasa, tidak ada perubahan bermakna dari
kontraktilitas miokard, tekanan arteri sistemik, atau periode refrakter
absolut. Obat ini terutama efektif menekan iritabilitas sehingga mencegah
kembalinya fibrilasi ventrikel setelah defibrilasi yang berhasil, juga efektif
mengontrol denyut ventrikel prematur yang mutlti fokal dan episode
takhikardi ventrikel. Dosis 50-100 mg diberikan iv sebagai bolus, pelan-
pelan dan bisa diulang bila perlu. Dapat dilanjutkan dengan infus kontinu
1-3 [Link], biasanya tidak lebih dari 4 [Link], berupa lidocaine 500
ml dextrose 5 % larutan (1 mg/ml).
Sulfat Artopin
Mengurangi tonus vagus memudahkan konduksi atrioventrikuler dan
mempercepat denyut jantung pada keadaan sinus bradikardi. Paling
berguna dalam mencegah “arrest” pada keadaan sinus bradikardi sekunder
karena infark miokard, terutama bila ada hipotensi. Dosis yang dianjurkan
½ mg, diberikan iv. Sebagai bolus dan diulang dalam interval 5 menit
sampai tercapai denyut nadi > 60 /menit, dosis total tidak boleh melebihi 2
mg kecuali pada blok atrioventrikuler derajat 3 yang membutuhkan dosis
lebih besar.
Isoproterenol
Merupakan obat pilihan untuk pengobatan segera (bradikardi hebat
karena complete heart block). Ia diberikan dalam infus dengan jumlah 2
sampai 20 mg/menit (1-10 ml larutan dari 1 mg dalam 500 ml dectrose 5
%), dan diatur untuk meninggikan denyut jantung sampai kira-kira 60
kali/menit. Juga berguna untuk sinus bradikardi berat yang tidak berhasil
diatasi dengan Atropine.
14
Propranolol
Suatu beta adrenergic blocker yang efek anti aritmianya terbukti
berguna untuk kasus-kasus takhikardi ventrikel yang berulang atau
fibrilasi ventrikel berulang dimana ritme jantung tidak dapat diatasi
dengan Lidocaine. Dosis umumnya adalah 1 mg iv, dapat diulang sampai
total 3 mg, dengan pengawasan yang ketat.
Kortikosteroid
Sekarang lebih disukai kortikosteroid sintetis (5 mg/kgBB methyl
prednisolon sodium succinate atau 1 mg/kgBB dexamethasone fosfat)
untuk pengobatan syok kardiogenik atau shock lung akibat henti jantung.
Bila ada kecurigaan edema otak setelah henti jantung, 60-100 mg methyl
prednisolon sodium succinate tiap 6 jam akan menguntungkan. Bila ada
komplikasi paru seperti pneumonia post aspirasi, maka digunakan
dexamethason fosfat 4-8 mg tiap 6 jam.
EKG
Diagnosis elektrokardiografis untuk mengetahui adanya fibrilasi
ventrikel dan monitoring.
1. Fibrillation Treatment
Tindakan defibrilasi untuk mengatasi fibrilasi ventrikel.
Elektroda dipasang sebelah kiri putting susu kiri dan di sebelah kanan
sternum atas.
2. Keputusan untuk mengakhiri resusitasi
Keputusan untuk memulai dan mengakhiri usaha resusitasi
adalah masalah medis, tergantung pada pertimbangan penafsiran status
serebral dan kardiovaskuler penderita. Kriteria terbaik adanya sirkulasi
serebral dan adekuat adalah reaksi pupil, tingkat kesadaran, gerakan
dan pernafasan spontan dan refleks. Keadaan tidak sadar yang dalam
tanpa pernafasan spontan dan pupil tetap dilatasi 15-30 menit, biasanya
menandakan kematian serebral dan usaha-usaha resusitasi selanjutnya
biasanya sia-sia. Kematian jantung sangat memungkinkan terjadi bila
15
tidak ada aktivitas elektrokardiografi ventrikuler secara berturut-turut
selama 10 menit atau lebih sesudah RJP yang tepat termasuk terapi
obat. (5)
16
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Resusitasi mengandung arti harfiah “Menghidupkan kembali” tentunya
dimaksudkan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah suatu
episode henti jantung berlanjut menjadi kematian biologis. Resusitasi jantung
paru terdiri atas 2 komponen utama yakni : bantuan hidup dasar / BHD dan
Bantuan hidup lanjut / BHL Usaha Bantuan Hidup Dasar bertujuan dengan
cepat mempertahankan pasok oksigen ke otak, jantung dan alat-alat vital
lainnya sambil menunggu pengobatan lanjutan. Bantuan hidup lanjut dengan
pemberian obat-obatan untuk memperpanjang hidup Resusitasi dilakukan
pada : infark jantung “kecil” yang mengakibatkan “kematian listrik”, serangan
Adams-Stokes, Hipoksia akut, keracunan dan kelebihan dosis obat-obatan,
sengatan listrik, refleks vagal, serta kecelakaan lain yang masih memberikan
peluang untuk hidup. Resusitasi tidak dilakukan pada : kematian normal
stadium terminal suatu yang tak dapat disembuhkan.
17
DAFTAR PUSTAKA
Alkatri J, dkk, Resusitasi Jantung Paru, dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, Editor Soeparman, Jilid I, ed. Ke-2, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, hal :
281, 1987.
Kardiologi, Editor Lyli Ismudiat R, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, hal : 106, 1998.
Mustafa I, dkk, Bantuan Hidup Dasar, RS Jantung Harapan Kita, Jakarta, 1996.
Sjamsuhidajat R, Jong Wd, Resusitasi, dalam Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi
Revisi, EGC, Jakarta, hal : 124-119, 1997.
18