BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Defenisi Kesmavet
Kesehatan Masyarakat Veteriner merupakan rantai penghubung antara kesehatan Hewan
dan produk Hewan, kesehatan manusia, serta kesehatan lingkungan. Kesehatan Masyarakat
Veteriner, sebagai salah satu unsur dari kesehatan Hewan dalam arti luas, adalah segala urusan
kesehatan Hewan dan produk Hewan yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi
kesehatan manusia (PP 95/2012). Menurut WHO (1946) Kesmavet adalah suatu bidang
penerapan kemampuan professional, pengetahuan dan sumber daya kedokteran hewan dalam
bidang kesehatan masyarakat untuk melindungi dan memperbaiki kesehatan manusia. Pada
tahun 1999, WHO membuat definisi kesmavet yang baru yaitu kontribusi terhadap
kesejahteraan fisik, mental dan sosial melalui pemahaman dan penerapan ilmu kedokteran
hewan.
Di Indonesia Kesmavet didefinisikan sebagai segala urusan yang berhubungan dengan
hewan dan bahan-bahan yang berasal dari hewan yang secara langsung atau tidak langsung
mempengaruhi kesehatan manusia (PP 11/1983). Pembinaan dan pengawasan kesmavet telah
diatur dalam Undang-Undang No. 6 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Peternakan dan
Kesehatan Hewan serta dalam Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1983 tentang Kesehatan
Masyarakat Veteriner dengan ruang lingkup pengawasan antara lain meliputi: 1) pengawasan
kesehatan pangan asal hewan (daging, susu dan telur serta hasil olahannya) dan produk hewan
lainnya (kulit, bulu, tulang dan lain-lain), 2) persyaratan higiene–sanitasi sarana produksi pangan
asal hewan, 3) pengawasan zoonosis, dan 4) persyaratan kesehatan personil yang menangani
pangan asal hewan. Dengan dibentuknya Direktorat Kesmavet, sasaran pembinaan dan
pengawasan bidang Kesmavet di Indonesia difokuskan kepada: 1) pengediaan pangan asal
hewan yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH), 2) pengawasan pemasukan pangan asal
hewan dan produk hewan lainnya dari luar negeri, 3) pengendalian kesehatan lingkungan
produksi pangan asal hewan sebagai upaya pengendalian penyakit zoonosa, cemaran mikroba,
residu dan kontaminan lainnya pada pangan asal hewan, 4) peningkatan daya saing pangan asal
hewan dan produk hewan lainnya di pasar domestik maupun pasar internasional, dan 5)
kesejahteraan hewan.
Visi Direktorat Kesmavet adalah terwujudnya masyarakat yang sehat dan produktif melalui
perlindungan dan jaminan keamanan produk hewan yang Aman, Sehat, Utuh dan “Halal”
(ASUH) dan Berdaya Saing. Dalam upaya mewujudkan visi tersebut di atas, diterapkan misi
yang harus diemban oleh Direktorat Kesmavet, meliputi:
a. Menyediakan produk pangan hewani yang ASUH dan produk hewan yang sehat dan
berkualitas melalui pengawasan hygiene dan sanitasi serta pengendalian residu dan
cemaran mikroba;
b. Melindungi sumber daya hewan dan masyarakat konsumen di dalam negeri melalui
pengawasan peredaran dan analisa resiko terhadap pemasukan produk pangan hewani;
c. Melindungi dan meningkatkan kualitas sumber daya hewani melalui pengawasan
pemasukan produk hewan non pangan;
d. Membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam kesejahteraan hewan
2.2 Pengawasan Kesehatan Masyarakat Veteriner
Untuk mencegah dan mengurangi risiko terganggunya keselamatan dan kesehatan
manusia dari produk hewan yang mengandung residu, cemaran, dan unsur berbahaya lainnya,
maka perlu dilakukan pengawasan terhadap hewan dan produk hewan mulai dari tempat
budidaya, produksi, pengolahan, pengumpulan dan penjualan, serta pengangkutan.
A. Pengawas Kesmavet
1. Persyaratan
Pengawas kesmavet yang ditunjuk harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Dokter Hewan yang telah diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pusat dan/atau
instansi pada Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota;
b. memiliki masa kerja paling kurang 1 (satu) tahun;
c. telah mengikuti pelatihan pengawas kesmavet yang dibuktikan dengan sertifikat
kelulusan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang; dan
d. ditunjuk dan ditugaskan untuk melakukan pengawasan kesmavet.
2. Tugas, Kewajiban, dan Wewenang
a. Tugas
Pengawas Kesmavet mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap penerapan cara yang
baik di unit usaha produk hewan dengan uraian sebagai berikut :
1) Tugas pengawas kesmavet di tempat budidaya hewan perah dan pemerahan susu
meliputi pengawasan terhadap:
a. kebersihan kandang, peralatan, dan lingkungannya;
b. kesehatan dan kebersihan hewan terutama ambing;
c. kesehatan dan kebersihan personel;
d. pemisahan hewan baru dari hewan lama dan hewan sakit dari hewan sehat;
e. pencegahan bersarangnya hewan pengganggu;
f. pemberian obat hewan di bawah pengawasan dokter hewan;
g. pemberian pakan yang aman dan sesuai dengan kebutuhan fisiologis hewan;
h. pelaksanaan pengujian kesehatan, keamanan, dan keaslian susu;
i. kebersihan sarana pemerahan dan penyimpanan susu;
j. penerapan cara pemerahan dan penanganan susu yang baik; dan
k. pemeriksaan label produk susu.
2) Tugas pengawas kesmavet petelur dan produksi telur konsumsi, meliputi :
a. kebersihan kandang, peralatan, dan lingkungannya;
b. kesehatan unggas;
c. kesehatan dan kebersihan personel;
d. pencegahan tercemarnya telur oleh bahaya biologis, kimiawi, dan fisik;
e. pemisahan unggas baru dari unggas lama dan unggas sakit dari unggas sehat;
f. pencegahan bersarangnya hewan pengganggu;
g. pemberian obat Hewan di bawah Pengawasan Dokter Hewan;
h. pemberian pakan yang aman dan sesuai dengan kebutuhan fisiologis Hewan;
i. pelaksanaan pengujian kesehatan dan keamanan telur;
j. kebersihan sarana penanganan dan penyimpanan telur;
k. penerapan penanganan telur yang baik; dan
l. pemeriksaan label produk telur.
3) Tugas pengawas kesmavet di Rumah Potong Hewan Ruminansia/Unggas/Babi (RPH)
pengawasan terhadap:
a. pemeriksaan sertifikat veteriner;
b. pemeriksaan kesehatan hewan potong sebelum dipotong;
c. penjaminan kebersihan sarana, prasarana, peralatan, dan lingkungannya;
d. penjaminan kecukupan air bersih;
e. penjaminan kesehatan dan kebersihan personel
f. pengurangan penderitaan hewan potong ketika dipotong;
g. penjaminan penyembelihan yang halal bagi yang dipersyaratkan dan bersih;
h. pemeriksaan sertifikat halal bagi yang dipersyaratkan;
i. pemeriksaan kesehatan jeroan dan karkas setelah hewan potong dipotong;
j. pencegahan tercemarnya karkas, daging, dan jeroan dari bahaya biologis,
k. kimiawi, dan fisik;
l. pelaksanaan pengujian kesehatan dan keamanan jeroan dan karkas;
m. penerapan penanganan karkas dan jeroan yang baik;
n. pemeriksaan stempel karkas, label pada je surat keterangan kesehatan daging
4) Tugas pengawas kesmavet di tempat pengolahan/pasca panen pangan asal hewan,
meliputi:
a. kebersihan sarana, prasarana, peralatan, dan lingkungannya;
b. pencegahan bersarangnya hewan pengganggu;
c. kesehatan dan kebersihan personel;
d. pencegahan tercemarnya pangan asal hewan oleh bahaya biologis, kimiawi, dan fisik;
e. pelaksanaan pengujian kesehatan, keamanan, dan keaslian produk
f. pengolahan/pasca panen pangan asal hewan;
g. penerapan cara produksi produk pengolahan/pasca panen pangan asal hewan yang baik;
h. pemeriksaan label produk pengolahan/pasca panen pangan asal hewan; dan
i. pemeriksaan sertifikat veteriner dan sertifikat halal bagi yang dipersyaratkan.
5) Tugas pengawas kesmavet dalam tempat produksi produk hewan non-pangan,
meliputi :
a. kebersihan sarana, prasarana, peralatan, dan lingkungannya;
b. pencegahan bersarangnya hewan pengganggu;
c. kesehatan dan kebersihan personel;
d. pencegahan tercemarnya produk hewan non bahaya biologis, kimiawi, dan fisik; dan
e. pemeriksaan sertifikat veteriner dan label produk hewan non-pangan.
6) Tugas pengawas kesmavet di hewan (gudang/ruang beku dan gudang dingin/kering),
dan tempat penjualan (pasar tradisional, pasar swalayan, toko, dan kios), meliputi:
a. kebersihan sarana, prasarana, peralatan, dan lingkungannya;
b. pencegahan bersarangnya hewan pengganggu;
c. kesehatan dan kebersihan personel;
d. pencegahan tercemarnya produk hewan oleh bahaya biologis, kimiawi, dan fisik yang
berasal dari petugas, alat, dan proses produksi;
e. pemisahan produk hewan yang halal dari produk hewan atau produk lain yang tidak
halal;
f. suhu ruang tempat penampungan/pengumpulan, dan penyimpanan produk hewan yang
dapat menghambat perkembangbiakan mikroorganisme;
g. pemisahan produk hewan de produk hewan;
h. pemeriksaan label produk hewan; dan
i. pemeriksaan sertifikat veteriner dan sertifikat halal bagi yang dipersyaratkan.
7) Tugas pengawas kesmavet saat pengangkutan produk hewan:
a. kebersihan alat angkut;
b. pencegahan tercemarnya biologis, kimiawi, dan fisik;
c. pemisahan produk hewan yang halal dari produk hewan atau produk lain
d. yang tidak halal;
e. suhu ruang alat angkut produk hewan yang dapat menghambat
f. perkembangbiakan mikroorganisme;
g. pemeriksaan sertifikat veteriner dan label produk.
b. Kewajiban
Kewajiban yang harus dipenuhi pengawas kesmavet, yaitu:
menyusun rencana program kerja tahunan pengawasan unit usaha produk hewan secara
rinci
melakukan penilaian terhadap unit usaha produk hewan sesuai rencana program
pengawasan kesmavet
menyusun dan menyerahkan laporan hasil pengawasan kesmavet sesuai dengan jadwal
dan ketentuan melakukan tindak lanjut kesmavet.
c. Wewenang
Dalam melaksanakan tugasnya pengawas kesmavet mempunyai wewenang sebagai
berikut:
memasuki setiap unit usaha produk hewan
menunda atau menghentikan proses produksi;
mengambil contoh dan memeriksa produk hewan yang dicurigai membawa atau
mengandung bahaya biologis, kimiawi, dan/atau fisik;
memeriksa dokumen atau catatan terkait dengan proses produksi;
menunda atau menghentikan alat angkut produk hewan yang dicurigai membawa atau
mengandung bahaya biologis, kimiawi, dan/atau fisik;
memberikan saran perbaikan penyimpangan yang ditemukan di unit usaha produk hewan;
dan
mengusulkan sanksi/teguran.
2.3 Pangan Asal Hewan yang ASUH
Kebijakan pemerintah dalam penyediaan pangan asal hewan di Indonesia didasarkan atas
pangan yang aman, sehat, utuh dan halal atau dikenal dengan ASUH. Hal tersebut sejalan dengan
keamanan (safety) dan kelayakan (suitability) pangan untuk dikonsumsi manusia yang ditetapkan
oleh Codex Alimentarius (Lukman, 2008).
Aman berarti tidak mengandung penyakit dan residu, serta unsur lain yang dapat
menyebabkan penyakit dan mengganggu kesehatan manusia. Sehat berarti mengandung zat-zat
yang berguna dan seimbang bagi kesehatan dan pertumbuhan tubuh. Utuh berarti tidak dicampur
dengan bagian lain dari hewan tersebut atau dipalsukan dengan bagian dari hewan lain. Halal
berarti disembelih dan ditangani sesuai dengan syariat agama Islam (Lukman, 2008).
2.4 Tantangan dan Peluang Produk Peternakan Di Era Globalisasi
Sejalan dengan perkembangan isu global dan meningkatnya pertumbuhan ekonomi
nasional, peningkatan pendapatan, perubahan pola konsumsi serta meningkatnya pendidikan dan
kesadaran konsumen akan mutu, maka meningkat pula tuntutan konsumen untuk memperoleh
produk pangan hewani yang aman dan sehat. Dalam era pasar bebas yang ditandai dengan
kemudahan akses pasar bagi produk impor, maka produk peternakan Indonesia akan menghadapi
tantangan yang cukup berat. Hanya dengan daya saing yang tangguh menyangkut jaminan
keamanan maupun kualitas serta harga yang bersaing maka produk domestik akan mampu
bertahan. Di lain pihak, untuk dapat bersaing di pasar global dituntut adanya efisiensi dan
produktifitas yang tinggi selain adanya jaminan mutu yang baik.
Secara tradisional atau konvensional sistem pengawasan produk akhir melalui
pengambilan dan pengujian contoh produk (end product testing) dinilai masih belum memadai
terutama dalam kaitannya dengan upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya
pencemaran mengingat pencemaran dapat terjadi di setiap mata rantai pengadaan pangan sejak
produksi bahan baku, penyiapan, pengolahan, penanganan, penyimpanan, pengangkutan,
pemasaran hingga penyiapan di tangan konsumen. Untuk mengantisipasi kemungkinan
pencemaran tersebut diperlukan suatu sistem pengawasan keamanan dan mutu produk pangan
hewani, sejak pra produksi hingga siap dihidangkan kepada konsumen (safe from farm to table
consept), yang memenuhi prinsipprinsip dasar pengawasan yaitu:
1) tindakan pencegahan dini (preventive measures),
2) pengawasan proses produksi mulai tahap awal sampai distribusi produk akhir (in-process
inspection),
3) dokumentasi prosedur dan hasil pengawasan dengan baik dan benar (record keeping), dan
4) pengujian laboratorium (laboratory testing).
Pada tahun 1993 Codex Almentarius Commission (CAC) dari Badan Dunia FAO/WHO
telah menetapkan sistem Hazard Analisis Critical Control Point (HACCP) sebagai suatu metode
standar untuk pengawasan keamanan pangan (food safety management tool). Amerika Serikat
bahkan telah memformulasikan HACCP sebagai suatu peraturan baru mulai tahun 1995 yang
berarti setahun setelah diundangkan akan mulai berlaku secara penuh dengan segala konsekuensi
hukum bagi yang melanggarnya. Negara-Negara Uni Eropa bahkan beberapa negara berkembang
di ASEAN telah pula mensyaratkan penerapan HACCP inti untuk keamanan produk domestik
maupun impor.
Di Indonesia penerapan sistem HACCP khususnya di industri peternakan masih bersifat
sukarela/belum wajib (voluntary) mengingat beragamnya permasalahan yang ada baik dari aspek
sarana-prasarana, aspek kesisteman, dan aspek SDM. Namun untuk memberi jaminan dan
perlindungan kepada masyarakat bahwa pangan asal hewan yang dibeli/dikonsumsi berasal dari
sarana usaha yang telah memenuhi persyaratan hygienesanitasi atau yang biasa dikenal dengan
Good Hygienic Practice (GHP), maka pemerintah mengeluarkan Nomor Kontrol veteriner
(NKV) yang bersifat wajib. Penerapan praktek hygiene-sanitasi merupakan pondasi yang mutlak
dimiliki suatu unit usaha apabila akan menerapkan sistem HACCP. Beragamnya permasalahan
dapat dijabarkan sebagai berikut:
Aspek sarana prasarana
Masih terbatasnya sarana pelayanan yang memenuhi persyaratan hygiene-sanitasi (RPH,
RPU, TPH, TPS, dan lain-lain).
Terbatasnya sarana laboratorium untuk melakukan pengujian mutu produk peternakan
Sarana-sarana yang dihasilkan oleh industri dalam negeri belum memenuhi tuntutan
kualitas yang diharapkan, misalnya sarana RPH
Aspek kesisteman
Banyaknya peraturan perundangan yang dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan
dinamika perkembangan saat ini dan saat mendatang sehingga merupakan masalah yang
sangat mendesak dalam rangka meningkatkan pengawasan dan pembinaan kesmavet
Masih lemahnya standarisasi mutu produk peternakan, termasuk juga lemahnya
pengaturan mengenai masalah residu, kontaminan, bahan tambahan makanan dan obat
hewan, serta pengaturan labelisasi dan kemasan produk pangan asaal hewan
Masih lemahnya mekanisme koordinasi yang tercipta antara beberapa instansi terkait
seperti Departemen Pertanian, departemen Kesehatan, Departemen Koperasi, departemen
Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Agama, Badan POM, dan lain-lain
Masih terjadinya tumpang tindih kewenangan antar beberapa intansi, baik di tingkat pusat
dan daerah
Aspek sumber daya manusia
Terbatasnya jumlah tenaga dokter hewan (pengawasan kesmavet) dan profesi penunjang
lainnya yang telah mendapat pendidikan cukup dalam perencanaan dan pelaksanaan
program kesmavet
Beragamnya tingkat social-ekonomi sebagian besar masyarakat konsumen berpengaruh
terhadap kesadaran dan perhatian dalam mendapatkan produk pangan asal hewan yang
ASUH
Sebagian besar produsen pangan asal hewan di Indonesia tergolong dalam skala usaha
kecil, termasuk usaha rumah tangga, hingga skala usaha menengah dengan tingkat
kesadaran dan komitmen yang rendah untuk menghasilkan produk yang aman dan
berkualitas tinggi.
2.5 Sistem Kesehatan Masyarakat Veteriner
Untuk dapat meletakkan landasan yang kokoh dalam penanganan kesmavet perlu
dilakukan pendekatan pembinaan secara kesisteman yaitu pembinaan yang komprehensif yang
menyatukan berbagai bagian (komponen kesmavet) untuk saling berhubungan secara teratur dan
sinergitik. Sistem pembinaan tersebut disebut dengan Sistem Kesehatan Masyarakat Veteriner
(SISKESMAVET) yang merupakan salah satu komponen Sistem Kesehatan Hewan nasional
(SISKESWANNAS). SISKESMAVET yaitu sistem pembinaan kesehatan hewan melalui
pendekatan kesehatan hewan berdimensi baru, dimana wawasan kesehatan hewan dirubah dan
dikembangkan menjadi kesehatan hewan yang harus dipandang sebagai bagian dari kesehatan
masyarakat (public health), bagian dari penyediaan pangan asal ternak (food of animal origin)
dan bagian dari pembangunan pertanian (agricultural development). Untuk mewujudkan
wawasan tersebut, pendekatan kesehatan hewan dirubah dari pendekatan penyakit hewan (animal
disease approach) menjadi pendekatan kesehatan hewan secara utuh (animal health approach).
Sistem Kesmavet Nasional akan dikembangkan menjadi 4 (empat) sub–sistem yaitu:
1) Pengawasan Keamanan pangan Asal Hewan,
2) Surveilans, Pencegahan dan Pengawasan Zoonosis,
3) Pengamanan Lingkungan Produksi Pangan Asal Hewan, dan
4) Pembinaan Kesejahteraan Hewan.
Tugas Sistem Kesmavet Nasional meliputi:
Meningkatkan peran kesmavet dalam pengawasan keamanan pangan nasional terutama
dalam melindungi kesehatan dan ketentraman bathin masyarakat konsumen melalui
penyediaan produk pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH)
Mendorong produk domestik agar dapat memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif
sehingga mampu bersaing di pasar bebas
Mencegah terjadinya penyalahgunaan hak, baik dalam hal penyediaan, pengolahan,
penyimpanan, pengangkutan dan peredaran pangan asal hewan
Melindungi sumberdaya hewani dan masyarakat konsumen melalui pengawasan
pemasukan produk hewan dari luar negeri yang berpotensi sebagai media pembawa
penyakit hewan menular utama
2.6 Pengawasan Kesmavet dalam Industri Pangan Asal Hewan
Sistem perlindungan dan pengawasan adalah segala langkah dan kegiatan yang
diselenggarakan pemerintah untuk melindungi dan mengamankan negara serta bangsanya dari
anacaman dan gangguan penyakit hewan menular (zoonosis). Pengawasan veteriner dimulai dari
hewan ternak yang dipelihara agar tetap sehat dan dipelihara dilingkungan yang bebas adri
penyakit hewan menular, selanjutnya jika hewan tersebut dipotong,maka harus dilakuakan
menurut kaidah kesmavet yaitu pemeriksaan secara antemortem dan posmortem (Baraniah,
2014).
Pengawasan mutu rnerupakan program atau kegiatan yang terpisahkan dengan
dunia industri; yaitu dunia usaha yang meliputi proses produksi, pengolahan dan pemasaran
produk sehingga dapat mernenunl kebutuhan pasar yaitu masyarakat konsumen umum dengan
haeil industri yang bermutu. Pengawasan mutu pangan dilakukan dalam seluruh tata waktu
produksi pengadaan dan konsumsi, yaitu dan saat produk direncanakan, diproduksi,
pengiriman, distribusi dan konsurnsi (Bambang, 2004).
Produk hewan merupakan salah satu bahan pangan yang berperan penting bagi
kehidupan manusia karena mengandung protein hewani yang berguna untuk pemenuhan gizi
masyarakat. Produk hewan memiliki nilai gizi yang tinggi terutama kandungan protein, asam
amino, lemak laktosa, mineral, dan vitamin. Namun walaupun demikian produk hewan juga
bersifat mudah rusak dan busuk terutama di daerah tropis dan lembab seperti Indonesia
menyebabkan mikroorganisme mudah berkembang biak. Selain itu pangan asal hewan juga
berpotensi bahaya karena merupakan salah satu media pembawa bibit penyakit zoonosis. Dimana
zoonosis merupakan penyakit yang ditularkan dari hewan kepada manusia bisa melalui pangan
bisa juga melalui kontak fisik (Adriani,2020).
Pengendalian zoonosis juga tidak dapat dipisahkan dari pengawasan keamanan pangan
(food safety), khususnya pangan yang berasal dari hewan mengingat Zoonosis dapat
ditularkan ke manusia melalui makanan(food borne disease) (Moerad,2010).Untuk
memenuhi kebutuhan perlu diselenggarakan suatu sistem pangan yang memberikan
pelindungan, baik bagi pihak yang memproduksi maupun yang mengonsumsi. (Asrika,2017).
Pengawasan Kesmavet dalam industri pangan asal hewan bertujuan untuk memberikan
perlindungan kepada konsumen dari ancaman bahaya biologis, kimia, fisik dan produk yang
tidak halal melalui penerapan jaminan keamanan pangan asal hewan baik bagi produk yang
berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Sasaran dari pengawan pangan asal hewan ini
adalah seluruh produk pangan asal hewan (daging/susu/telur serta hasil olahannya) yang beredar
di Indonesia adalah ASUH serta meningkatkan daya saing produk dalam negeri baik di pasar
domestik maupun pasar internasional. Arah dari sub sistem ini adalah mengamankan produk
pangan asal hewan dengan piranti Rumah Pomotongan Hewan/Unggas (RPH/RPU), Balai
Pengujian Mutu Produk Peternakan (BPMPP), Balai Pengujian dan Pemeriksaan Veteriner
(BPPV), laboratorium Kesmavet, Petugas Pengawas Kesmavet dan Petugas Pengambil Contoh.
Kebijakan yang ditempuh meliputi:
1. Pemberian Nomor Kontrol Veteriner (NKV) sarana produksi pangan asal hewan (RPH,
RPU, usaha pengimpor, pengumpul/penampung dan pengedar produk asal hewan serta
hasil olahannya). NKV merupakan registrasi kelayakan usaha dengan dasar penilaian
telah dipenuhinya persyaratan teknis yang berdasarkan kepada penerapan cara
berproduksi yang baik (Good manufacturing Practices (GMP)/Good Hygienic Practices
(GHP) dan standar prosedur operasi sanitasi (sanitation Standar Operating Procedures
(SSOP)
NKV merupakan sertifikasi dipenuhinya persyaratan teknis Kesmavet dalam aspek
hygiene-sanitasi sarana dan cara berproduksi yang baik (GHP) pada unit usaha produk
pangan asal hewan. GHP merupakan salah satu persyaratan dasar (pre-requisite) dalam
penerapan system HACCP, sehingga unit usaha yang telah mendapatkan NKV akan lebih
mudah dalam menerapkan sistem HACCP.
NKV diterbitkan oleh instansi yang berwenang dalam bidang Kesehatan masyarakat
Veteriner yaitu Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal
Peternakan, Departemen Pertanian. Tujuan pemerintah mewajibkan NKV sebagai unit
usaha pangan asal hewan adalah:
a. Memberikan jaminan dan perlindungan kepada masyarakat bahwa pangan asal
hewan yang dibeli/dikonsumsi berasal dari sarana usaha yang telah memenuhi
persyaratan kesehatan masyarakat veteriner yang diawasi pemerintah
b. Terlaksananya tertib hukum dan tertib administrasi dalam pengelolaan usaha
pemotongan hewan/unggas, usaha peingimpor/pengedar dan industri pengolahan
produk pangan asal hewan
c. Mempermudah dan memperlancar pelaksanaan sistem pengawasan unit usaha di
bidang produk pangan asal hewan
2. Penerapan labelisasi produk peternakan baik produk lokal maupun produk ekspor impor
yang beredar. Labelisasi merupakan tanda bahwa keamanan dan kesehatan suatu produk
telah diperiksa oleh petugas pengawas kesmavet berwenang setempat sebelum produk
diedarkan kepada konsumen dan produk berasal dari unti sarana produksi yang telah
memenuhi persyaratan kesmavet dan dicerminkan melalui NKV yang tercantum pada
label.
3. Penerapan Sistem Jaminan Keamanan Pangan Asal Hewan berdasarkan sistem HACCP.
Dalam upaya menerapkan sistem jaminan keamanan pangan, akan selalu dipedomani
prinsip-prinsip manajemen mutu secara terpadu sejak dari praproduksi, produksi hingga
pascaproduksi. Sistem tersebut baru dapat diterapkan bila suatu sarana produksi telah
memenuhi persyaratan dasar (NKV) dengan nilai baik.
4. Pengembangan sistem jaringan kerja pengawasan kesmavet. Pengawas kesmavet adalah
dokter hewan yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan kesehatan masyarakat
veteriner. Pengawasan kesmavet dapat terdiri dari Dokter Hewan berwenang, Dokter
Hewan Pengawas Kesmavet, atau Dokter Hewan Sawsta di unit sarana produksi pangan
asal hewan yang bekerja di bawah supervisi Dokter Hewan Berwenang di unit sarana
produksi tersebut.
2.7 Landasan Hukum
Landasan hukum yang menjadi dasar dalam penyelenggaraan pengawasan kesmavet
yang berkaitan dengan penyediaan produk pangan asal hewan yang ASUH adalah:
1) Undang-Undang Nomor 6/1965 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan
Kesehatan Hewan
2) Undang-Undang Nomor 16/1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan
3) Undang-Undang Nomor 7/1996 tentang Pangan
4) Undang-Undang Nomor 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen
5) Undang-Undang Nomor 22/1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner
6) Peraturan Pemerintah Nomor 22/1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner
Peraturan di Bidang Usaha Pemotongan Hewan/Unggas:
1) Keputusan Menteri Pertanian No. 555/1986 tentang Syarat-syarat Rumah Pemotongan
Hewan dan Usaha Pemotongan Hewan
2) Keputusan Menteri Pertanian No. 555/1987 tentang Syarat-syarat Rumah Pemotongan
Unggas dan Usaha Pemotongan Unggas
3) Keputusan Menteri Pertanian No. 295/1989 tentang Pemotongan Babi dan Penanganan
Daging Babi serta Hasil Ikutannya
4) Keputusan Menteri Pertanian No. 413/1992 tentang Pemotongan Hewan Potong dan
Penanganan Daging serta Hasil Ikutannya
5) Keputusan Menteri Pertanian No. 306/1994 tentang Pemotongan Unggas dan Penanganan
Daging Unggas serta Hasil Ikutannya
6) Keputusan Direktur Jenderal Peternakan No. 254/1995 tentang Pedoman Pemberian
Nomor kontrol Veteriner (NKV) Rumah Pemotongan Hewan/ Unggas (RPH/RPU) dan
Tempat Pemrosesan Daging (TPD)
Peraturan di Bidang Usaha Pembinaan Persusuan Dalam Negeri:
Keputuan Direktur Jenderal Peternakan No.17/1983 tanteng Syarat-syarat, Tata Cara
Pengawasan dan Pemeriksaan Kualitas Susu Produksi Dalam Negeri.
Peraturan di Bidang Pengawasan Cemaran Mikroba dan Residu Dalam Bahan Pangan
Asal Hewan:
1) Keputusan Menteri Pertanian No. 110/1993 tentang Penunjukan Laboratorium Pengujian
Cemaran Mikroba dan Residu di dalam Bahan Makanan Asal Hewan
2) SNI 01–6366–2000 tentang Batas Maksimum Cemaran Mikroba pada Produk Pangan
Asal Hewan
Peraturan di Bidang Sistem Mutu:
1) SNI 01–4852–1998 tentang Sistem Analisa Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis
(HACCP) serta Pedoman Penerapannya
2) Keputusan Menteri Pertanian Nomor 303/Kpts/OT.210/4/94 tentang Standarisasi,
Sertifikasi dan Akreditasi di lingkungan Departemen Pertanian
a. Pedoman BSN 1004–1999, tentang Panduan Penyusunan Rencana Sistem Analisa
Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis (HACCP)
b. Pedoman Mutu No. 5 Revisi I–2000, tentang Pedoman Umum Penyusunan Rencana
Kerja Jaminan Mutu (RKJM) berdasarkan HACCP.
DAFTAR PUSTAKA
Adriani, A. (2020). Pengawasan produk hewan khususnya daging sapi potong oleh dinas
pertanian kota padang (Doctoral Dissertation, Universitas Andalas).
Asrika, D. (2017). Perlindungan hukum konsumen terhadap makanan dan minuman yang tidak
bersertifikat halal (Doctoral Dissertation, Universitas Lampung).
Bambang.(2004). Pengawasan mutu hasil Ternak. Undip Press,Semarang.
Baraniah,M.A.(2014). Importasi hewan dan produknya. Penebar Swadaya,Jakarta.
Lukman, D.W. (2008). Menjaga pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh, hala. Artikel.
[Link] Diakses
tanggal 3 Juni 2020.
Moerad, B.(2010). Otoritas veteriner di indonesia. Indonesian journal of veterinary science and
medicine, 2(1):49-53.
Ma’aruf, S. (2018). Pedoman Pengawasan Kesehatan Masyarakat Veteriner. Direktorat
Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan
Kementrian Pertanian Indonesia.
Pemerintah Indonesia. (2012). Tentang kesehatan masyarakat veteriner dan kesejahteraan
hewan, dalam [Link] Diakses pada tanggal 14 April 2020.
Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2019 tentang Ketentuan
Ekspor dan Impor Hewan dan Produk Hewan.
[Link] Diakses
pada tanggal 16 April 2020.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan Ketentuan Pokok
Peternakan dan Kesehatan Hewan. [Link] Diakses
pada 16 April 2020.
Wuryaningsih, E. (2005). Kebijakan pemerintah dalam pengamanan pangan asal hewan.
Lokakarya Nasional Keamanan Pangan Produk Peternakan, 14(1): 9-13.