BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mekanisme koping adalah respon individu yang akan dilakukan terhadap
situasi yang mengancam dirinya baik secara fisik maupun psikologis. Jika
individu tidak mampu dalam menggunakan mekanisme koping maka individu
akan mengalami berbagai penyakit fisik atau mental. Mekanisme koping yang
baik dapat menumbuhkan atau meningkatkan penerimaan diri terhadap
penyakitnya (Firmansyah, 2019).
Penerimaan diri merupakan kemampuan untuk mengesampingkan kekurangan
dan kesalahan, rasa malu yang merusak dan kecemasan yang ekstrim. Individu
yang mampu menerima diri memahami betul kelebihan dan kelemahan dalam
dirinya juga mampu menerima sifat manusiawi dengan segala kekurangan dan
kelebihan yang dimilikinya. (Sofiyah, 2016).
Penelitian dari Husna (2011) Mengenai Mekanisme Koping Pada Pasien DM
Tipe 2 dengan Gangren Diabetik di Poli Klinik Endokrin Rumah Sakit Umum
Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh di peroleh bahwa sebanyak
23 responden dalam kategori mekanisme koping adaktif dan 9 orang dalam
kategori maladaktif dari 32 sampel , dengan menggunakan metode penelitian
Deskriptif Eksploratif.
Penilitian Yan dkk (2017) mengenai Hubungan Penerimaan Diri Dan Tingkat
Stres Pada Penderita Diabetes Melitus di peroleh 77 responden, sebagian besar
1
2
responden adalah perempuan dengan rentan usia 45-60 tahun mempunyai kategori
kurang baik. Penerimaan diri pada lansia ditemukan adanya penerimaan diri yang
kurang baik, hal ini ditemukan karena adanya respon penderita yang mengatakan
kurang percaya diri. Data dikumpulkan melalui proses wawancara dengan
menggunakan kuesioner Berge’s Self-acceptence dan menggunakan uji
Spearman’s Rank test.
Dari uraian diatas, penulis tertarik untuk mengidentifikasi rekomendasi
Studi Literatur Hubungan Mekanisme Koping Dengan Penerimaan Diri Pada
Pasien Diabetes Melitus Tipe 2.
B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini
“Bagaimanakah Rekomendasi Penelitian Mengenai Hubungan Mekanisme
Koping Dengan Penerimaan Diri Pasien Diabetes Melitus Tipe 2”?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk mengidentifikasi rekomendasi
Hubungan Mekanisme Koping Dengan Self-Care Management Pasien Diabetes
Melitus Tipe 2.
D. Manfaat Penelitian
a. Terhadap institusi
Diharapkan dapat memberikan referensi tentang manfaat mekanisme
koping terhadap penerimaan diri pada pasien diabetes melitus, khususnya
mahasiswa [Link] Poltekes Kemenkes Makassar.
3
b. Terhadap Peneliti
Diharapkan dapat mengembangkan kemempuan peneliti dalam membuat
penelitian sehingga dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat selama
perkuliahan dan sebagai acuan peneliti selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Mekanisme Koping
1. Pengertian Mekanisme Koping
Mekanisme koping adalah upaya yang digunakan untuk mengatasi
stressor yang dapat mengakibatkan kecemasan. Mekanisme koping dapat
dikatakan efektif apabila didukung oleh kekuatan lain serta adanya dalam diri
kepercayaan bahwa mekanisme koping yang digunakan dapat membntu untuk
mengatasi kecemasan. (Asmadi)
2. Penggolongan Mekanisme Koping
Menurut Stuart & Sundeen (1995) mengklasifikasikan mekanisme koping
berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Mekanisme koping adaptif.
Merupakan ekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi,
pertumbuhan, belajar dan mencapai tujuan. Contoh memecahkan masalah
secara efektif, berbicara dengan orang lain, aktifitas konstruktif dan tehnik
relaksasi. Koping adaptif menurut Carver et al (1989) yaitu: koping aktif,
penggunaan pertolongan, penyusunan positif, pengalihan diri,
perencanaan, penerimaan, koping agama dan humor.
b. Mekanisme koping maladaptif.
Mekanisme koping ini merupakan mekanisme koping kebalikan dari
mekanisme koping adaptif atau mekanisme koping yang menghambat
4
5
fungsi integrase, memecah pertumbhan, menurunkan otonomi dan
cenderung menguasai lingkungan. Koping maladaptif menurut Carver et
al (1989) yaitu: penolakan, penggunaan zat, penggunaan dukungan
emosional, ketidakberdayaan, pelepasan dan menyalahkan diri sendiri.
3. Faktor Yang Mempengaruhi Mekanisme Koping
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi mekanisme koping menurut
Lazarus, yaitu :
a. Kesehatan fisik
Faktor ini merupakan faktor yang penting karena dalam usaha
mengatasi stress individu dituntut untuk dapat mengerahkan tenaga yang
ukup besar.
b. Keyakinan atau pandangan positif
Hal ini juga menjadi sangat penting, seperti keyakinan akan nasip yang
akan mengarahkan individu pada penilaian ketidakberdayaan sehingga
akan menurunkan kemampuan strategi koping tipe problem solfing
pocuset coping.
c. Keterampilan memecahkan masalah
Meliputi kemampuan seseorang untuk mencari informasi,
mengidentifikasi masalah untuk memperoleh alternative tindakan,
kemudian mempertimbangkan alternative tersebut sehubungan dengan
hasil yang ingn dicapai sehingga dapat melaksanakan rencana suatu
tindakan yang tepat.
6
d. Keterampilan sosial
Kemampuan untuk berkomunikasi dan bertingkahlaku dengan cara-
cara yang sesuai dengan niali-niali sosial yang berlaku dimasyarakat.
e. Dukungan sosial
Meliputi pemenuhuan kebutuhan informasi dan emosional yang
diberikan oleh orang terdekat.
f. Materi
Dukungan ini antara lain berupa barang, uang, dan layanan yang dapat
dibeli.
Faktor mekanisme koping menurut stuart (2013), yaitu :
a. Faktor Predisposisi
Faktor ini menjadi sumber stress yang dapat mempengaruhi tipe dari
individu yang menghadapi stress baik secara biologis, psikologi, dan
sosiokultural.
b. Faktor Presipitasi
Faktor ini memerlukan banyak energy besar dalam menghadapi stress
atau tekanan hidup. Faktor yang sering terjadi pada presipitasi yaitu
kejadian yang menekan dan ketegangan hidup.
4. Tipe Mekanisme Koping
a. Mekanisme pertahanan ego.
Adapun mekanisme pertahanan ego menurut Sunaryo (2015) sebagai
berikut :
7
1) Denial merupakan penolakan terhadap sesuatu yang tidak
menyenangkan.
2) Fantasia atau khayalan merpakan suatu proses yang menggambarkan
objek atau peristiwa terkait dengan peneampilan.
3) Identifikasi merupakan suatu cara yang digunakan untuk menghadapi
orang lain dengan membuat dirinya menjadi orang lain sehingga ia
bersifat seperti orang tersebut.
4) Introyeksi merupakan bentuk pertahanan diri dengan menyamakan
sifat pribadi orang lain kedalam pribadinya.
5) Kompensasi merupakan bentuk yang digunakan individu dengan yang
tidak memperoleh kepuasan di bidangnya tapi memperoleh kepuasan
dibidang tertentu.
6) Displacement atau mengisar merupakan pemindahan tingkah laku ke
tingkah laku yang lain atau ke objek yang lain.
7) Menarik diri atau Regresi merupakan tingkah laku seseorang yang
apabila mendapatkan masalah ia menarik diri dari lingkungannya.
8) Negativisme merupakan perilaku seseorang yang selalu bertentangan
dengan orang lain dengan tingkah laku yang tidak terpuji.
9) Proyeksi merupakan pengalihan pikiran atau impuls pada seseorang
kepada orang lain terutama keinginan, perasaan, emosional dan
motifasi yang tidak dapat ditoleransi.
8
10) Resionalisasi merupakan suatu proses yang tampak logis dan dapat
diterima untuk membenarkan perilaku,perasaan dan motif yang tidak
dapat diterima.
11) Konversi merupakan mekanisme pertahanan diri dengan cara
mengalihkan masalah ke organ tubuh atau gejala fisik.
12) Represi merupakan pengesampingan secar tidk sadar tentang pikiran
atau ingatan yang tidak menyenangkan dari kesadaran seseorang.
13) Supresi merupakan suatu proses yang digolongkan sebagai mekanisme
pertahanan tetapi sebetulnya merupakan analog represi yang disadari.
14) Sublimasi merupakan bisa diartikan sebagai dengan mengganti
keinginan atau tujuan yang terhambat dengan cara dapat diterima oleh
masyarakat.
15) Sikap mengkritik orang lain, mekanisme pertahanan ego ini adalah
bentuk perilaku pertahanan diri untuk menyerang orang lain dengan
berbagai kritikan.
16) Overkompensasi merupakan tingkah laku seseorang yang gagal
mencapai tujuannya.
B. Konsep Dasar Penerimaan Diri
1. Pengertian Penerimaan Diri
Penerimaan diri merupakan kemampuan untuk mengesampingkan
kekurangan dan kesalahan, rasa malu yang merusak dan kecemasan yang
ekstrim. Individu yang mampu menerima diri memahami betul kelebihan dan
9
kelemahan dalam dirinya juga mampu menerima sifat manusiawi dengan
segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. (Sofia, 2016)
2. Tujuan Penerimaan Diri
Tujuan dari penerimaan diri yaitu memperkecil terjadinya stress yang
dialami dan menyadari bahwa masih memiliki kelebihan yang ada dalam diri
karena dengan adanya penerimaan diri penderita mampu berusaha belajar
untuk menerima segala ketidaknyamanan dan rasa sakit yang
dialami(Adailton et al, 2018).
Selain itu, tujuan penerimaan diri yaitu meningkatkan kemampuan dan
kepercayaan diri sendiri dan mampu mengembangkan kemampuan strategi
pemecahan masalah sehingga dapat menyebaban perubahan dalam diri
individu maupun lingkungan sosial penderita (Schmitt et al,2018).
3. Aspek-Aspek Penerimaan Diri
Menurut Berger dalam Denmark (1973), aspek-aspek yang
mencerminkan penerimaan diri atara lain yaitu :
a. Perilaku didasarkan pada standar nilai dirinya sendiri (internal) bukan dari
orang lain (eksternal).
b. Memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu menghadapi cobaan.
c. Mampu menerima tanggung jawab atas perilakunya dan mampu menerima
konsekuensi.
d. Menenerima segala kritikan maupun pujian.
10
e. Tidak mencoba untuk menyangkal atau menyimpangkan perasaan,
keterbatasan atau kemampuan yang ada dalam dirinya.
f. Tidak memiliki pikiran negative bahwa orang akan menolak dirinya.
g. Mampu menganggap dirinya berharga.
h. Tidak merasa malu terhadap keadaan dirinya.
4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Diri
Adapun faktor yang mempengaruhi diri seseorang, yaitu :
a. Usia
Individu yang memiliki usia yang lebih tua sering mengalami
pengalaman yang dapat mendorong untuk penggunaan penerimaan diri
ketika mereka berada diluar kendali (Shallcross et al, 2013)
b. Jenis Kelamin
Pada perempuan yang memiliki penerimaan diri yang baik karena
perempuan lebih terbuka dalam mengidentifikasi diri dengan orang lain,
kondisi ini menjadikan keluarga memberikan dukungan kepada
kondisinya sehingga individu lebih menerima kondisinya (Mathew et al,
2012).
c. Status Menikah
Mampu menerima dirinya dikarenakan memiliki orang yang dapat
dipercaya sebagai tempat berbagi jika ada masalah dan dapat memberikan
dukungan ketika dalam situasi stress (Okwaraji et al, 2017).
d. Pendidikan
11
Semakin tinggi pendidikan yang dimiliki maka semakin bagus
penerimaan diri yang dimiliki (Vasile, 2013).
e. Pemahaman Diri
persepsi mengenai dirnya sendiri secara realistis yang ditandai dengan
keaslian atau apa adanya, semakin seseorang memahami dirinya maka
semakin baik dalam penerimaan diri (Hurlock, 2011)
f. Harapan Yang Realistis
hal in akan muncul apabila individu membuat sendiri harapannya yang
disesuakian dengan pemahaman mengenai kemampuan dirinya bukan
harapan yang dibuat oleh orang lain (Hurlock, 2011).
g. Tidak Ada Hambatan Dari Luar
jika lingkungan sekitar individu tidak memberikan kesempatan untuk
mengekspresikan dirinya maka penerimaan diri individu akan sulit dicapai
begitupun sebaliknya (Hurlock, 2011).
h. Sikap Sosial Yang Positif
Individu yang memiliki sikap yang positif maka ia akan lebih mampu
menerima dirinya. Kondisi utama yang mampu menghasilkan evaluasi
yang positif yaitu tidak ada prasangka buruk terhadap seseorang, ada
penghargaan terhadap kemampuan sosialnya dan mampu mengikuti tradisi
satu kelompok sosial (Hurlock, 2011).
i. Tidak Ada Stress Yang Berat
12
Tidak memiliki tekanan yang bert mampu membuat seseorang bekerja
secara optimal dan lebih beriorentasi serta akan merasa lebih tenang dan
bahagia (Hurlock, 2011).
j. Pengaruh Keberhasilan
Faktor keberhasilan akan menghasilkan pnerimaan diri yang positif,
sedangkan pengalaman yang gagal dapat menyebabkan penolakan diri
pada individu (Hurlock, 2011).
k. Perspektif Diri Yang Luas
Individu yang bisa melihat dirinya seperti perspektif orang lain
memandang dirinya membuat individu tersebut menerima dirinya dengan
baik. Suatu perspektif diri yang baik memudahkan individu dalam
penerimaan diri (Hurlock, 2011).
l. Konsep Diri Yang Stabil
Konsep diri yang baik akan menghasilkan penerimaan diri yang baik
pula namun sebaliknya apabila memiliki konsep diri yang buruk maka
terjadi penolakan penarimaan diri (Hurlock, 2011).
C. Konsep Dasar Diabetes Melitus
1. Defenisi Dibetes Melitus
Diabetes mellitus adalah penyakit gangguan metabolise karbohidrat, yang
disebabkan oleh adanya kekurangan insulin yang absolut (tidak ada atau
sedikit sekali produksi insulin dalam tubuh) atau kekurangan relative (masih
13
cukup ada insulin, tetapi tidak dapat bekerja dengan baik oleh adanya
penurunan kepekaan sel terhadap insulin. (Rudijanto, 2014)
Menurut American Diabetes Association (ADA) diabetes mellitus
merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula
dalam darah (hiperglikemia) sebagai akibat kekurangan insulin, gangguan
aktivitas insulin atau keduanya. (Damayanti, 2015)
Seseorang dikatakan menderita dabetes mellitus jika memiliki kadar gula
darah puasa >126 mg/dl dan pada tes gula darah sewaktu >200 mg/dl. Kadar
gula darah sepanang hari bervarasi dimana akan meningkat setelah makan dan
akan kembai normal dalam waktu 2 jam. (Perkeni, 2015)
2. Klasifikasi Diabetes Melitus
Klasifikasi Diabetes Melitus menurut ADA (2014) dan Perkeni (2015) ada
4, yaitu :
1) Diabetes Melitus Tipe 1 atau insulin-dependent diabetes ddisebabkan
karena kerusakan pada sel β pankreas, pada tipe ini biasanya
menyebabkan defisiensi insulin absolut. Diabetes Melitus tipe 1 ini
ditandai dengan penyakit autoimun dimana sistem kekebalan tubuh
diserang yang berdampak pada kerusakan sel di pankreas. Kerusakan yang
terjadi pada sel β dapat terjadi pada anak-anak maupun setelah dewasa.
2) Diabetes Melitus Tipe 2 disebabkan karena resistensi insulin, jumlah
reseptor insulin pada permukaan sel berkurang, meskipun jumlah insulin
tidak berkurang. Hal ini disebabkan karena glukosa tidak masuk ke dalam
14
sel, walaupun insulin dapat diproduksi tetapi tidak mempunyai reseptor
untuk mengantarnya kedalam sel. Kondisi seperti ini diakibatkan karena
gaya hidup yang tidak baik, obesitas, pola makan dan faktor keturunan.
3) Diabetes Melitus Tipe lain disebabkan Karena penyebab dari penyakit
lain, misalnya cacat genetic pada fugsi sel β, cacat genetic pada kerja
insulin, penyakit eksokrin pankreas sepert fibrosis kistik serta dampak
penyakit dan obat-obatan kimia seperti dalam pengobatan HIV/AIDS atau
setelah transplantasi organ.
4) Diabetes Melitus Kehamilan atau Gestasional, tingginya kadar glukosa
dalam darah yang hanya terjadi pada masa kehamilan dan akan kembali
nrmal setelah melahirkan.
3. Faktor Resiko Diabetes Melitus
Menurut Sudoyo (2006) dalam (Damayanti, 2015) faktor-faktor resiko
terjadinya diabetes mellitus yaitu :
1) Faktor Keturunan (Genetik)
Riwayat keluarga dengan diabetes mellitus mempubyai peluang besar
menderita diabetes mellitus sebesar 15% dan memiliki resiko intoleransi
glukosa yaitu ketidakmampuan dalam melakukan metabolisme secara
normal sebesar 30% (LeMone & Burke, 2008). Faktor keturunan dapat
langsung mempengruhi sel β dan mengubah kemampuannya untuk
mengenal dan menyebarkan rangsangan sekretoris insulin. Keadaan ini
15
meningkatkan kerentanan individu terhadap faktor lingkungan yang dapat
mengubah integritas dan fungsi sel β pankreas.
2) Faktor Obesitas
Obesitas atau kegemukan merupakan kelebihan berat badan >20% dari
berat ideal ata BMI (Body Mass Index). Kegemukan dapat menyebabkan
kurangnya reseptor insulin yang dapat bekerja di dalam sel pada otot
skeletal dan jaringan lemak. Hal ini biasa kita kenal dengan resistensi
insulin perifer. Kegemukan juga merusak kemampuan sel β untuk melepas
insulin saat terjadi peningkatan glukosa dalam darah (Smeltzer, 2008).
Soegondo (2007) menyatakan obesitas dapat menyebabkan respon sel β
pankreas terhadap peningkatan glukosa dalam darah berkurang. Selain itu
reseptor insulin pada sel diseluruh tubuh termasuk di otot berkurang
jumlahnya dan kurang sensitif.
3) Faktor Usia
Faktor usia yang beresiko menderita diabetes mellitus yaitu usia diatas
30 tahun. Hal ini dikarenakan adanya perubahan anatomi, fisiologi dan
biokimia. Perubahan dimulai dari tingkat sel yang kemudian berlanjut
pada tingkat jaringan dan akhirnya pada tingkat organ yang dapat
mempengaruhi homeostatis. Setelah seseorang mencapai umur 30 tahun,
maka kadar glukosa dalam darah naik1-2 mg% tiap tahun saat puasa dan
akan naik 6-13% pada saat 2 jam setelah makan. Menurut ketua Indonesin
Diabetes Association, Soegondo, menyebutkan bahwa diabetes mellitus
16
tipe 2 biasanya ditemukan pada orang dewasa usia 40 tahun ke atas, akan
tetapi pada tahun 2009 ditemukan penderita diabetes mellitus termuda
pada usia 20 tahun.
4) Faktor Tekanan Darah
Tekanan darah tinggi (Hipertensi) yang beresiko menderita diabetes
mellitus yaitu pada tekanan >140/90 mmHg. Hipertensi yang tidak
dikelola dengan baik akan mempercepat kerusakan pada gnjal dan
kelainan kardiovaskuler. Sebaliknya apabila hipertensi dapat dikontrol
maka akan memproteksi terhadap komplikasi mikro dan makrovaskuler
yang disertai pengelolaan hiperglikemia yang terkontrol.
5) Faktor Aktivitas Fisik
Menurut ketua Indonesin Diabetes Association, Soegondo bahwa DM
selain faktor genetik, juga bisa dipicu oleh lingkungan yang menyebabkan
perubahan gaya hidup tidak sehat, seperti makan berlebihan yang banyak
mengndung lemak dan kurang serat, kurang aktivitas fisik dan stress.
Aktivitas fisik berdampak terhadap aksi insulin pada orang yang beresiko
diabetes mellitus. Suyono dalam soegondo (2007) menjelaskan bahwa
kurangnya aktivitas merupakan salah satu faktor yang ikut berperan yang
menyebabkan resistens insulin pada diabetes mellitus tipe 2. Sedangkan
Stevenson dan Lohmsn dalam Kriska (2007) menyatakan bahwa individu
yang memiliki aktifitas fisik yang baik memiliki insuin dan glukosa yang
lebih baik dibandingkan individu yang tidak memiliki aktivitas.
17
6) Faktor Kadar Kolestrol
Kadar abnormal lipid darah erat kaitannya dengan obesitas dan
diabetes melitus. Salah satu mekanisme yang diduga menjadi predisposisi
diabetes tipe 2 adalah terjadinya pelepasan asam-asam lemak bebas secara
cepat yang berasal dari suatu lemak visceral yang membesar. Proses ini
tejadinya dikarenakan srkulasi tinkat dari asam-asam lemak bebas di hati,
sehingga kemampuan untuk mengikat dan mengekstrak insulin dari darah
berkurang. Hal ini dapat mengakibatkan hiperinsulinemia. Akibat lainnya
adalah peningkatan glukoneogenesis dimana glukosa darah meningkat.
7) Faktor Stress
Menurut Potter & Perry (2005) mengatakan stress adalah situasi
dimana tuntutan non-spesifik mengharuskan individu untuk berespon atau
melakukan tindakan. Penderita yang mengalami stress dapat merubah pola
makan, latihan, penggunaan obat yang biasanya dipatuhi dan dapat
menyebabkan terjadinya hiperglikemia. (Smeltzer & Bare, 2002)
8) Faktor Riwayat Diabetes Gestasional
Seorang wanita yang mempunyai riwayat diabetes gestasional atau
melahirkan bayi dengan berat bada lahir 4 kg mempunyai resiko untuk
menderita diabetes mellitus tipe 2. Diabetes mellitus tipe ini terjadi ketika
ibu hamil gagal mempertahankan euglekemia (kadar glukosa darah
normal). Faktor resiko pada diabetes gestasional yaitu riwayat keluarga,
obesitas dan glikosuria. Diabetes mellitus tipe ini sering dijumpai pada 2-
18
5% populasi ibu hamil. Biasanya kadar gula darah akan kembali normal
setelah melahirkan, namun resiko ibu untuk mendapatkan diabetes
mellitus tipe 2 dikemudian hari cukup besar. (Smeltzer,et al, 2008)
4. Patofisiologi Diabetes Melitus
Pada Diabetes Melitus dimana didapatkan bahwa jumlah insulin yang
kurang atau keadaan dimana kualitas insulinnya tidak baik (resistensi insulin),
meskipun terdapat insulin, tetapi karena terjadi kelainan didalam sel itu
sendiri, maka pintu masuk ke sel tetap tidak dapat terbuka dikarenakan tidak
ada reseptor untuk meneruskannya kedalam sel sehingga glukosa tdak dapat
masuk kedalam sel untuk dibakar (dimetabolisme). Akibatnya terjadi
penumpukan glukosa didalam darah (hiperglikemia). (Suryono, 2015)
Sebagian besar gambaran patologis dari diabetes mellitus dapat
dihubungkan dengan salah satu efek utama akibat kurangnya insulin.
Berkurangnya pemakaian glukosa dalam sel tubuh dapat mengakibatkan
naiknya konsentrasi glukosa darah yaitu 300-1200 mg/dl. Peningkatan
mobilisasi lemak pada daerah penyimpanan lemak dapat menyebabkan
terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai dengan endapan
kolestrol pada dinding pembuluh darah. (Wijaya &Putri, 2013)
Peningkatan kadar glukosa dalam darah menyebabkan perpindahan cairan
dari ekstra vaskuler ke intra veskuler dan terjadi dehidrasi pada sel.
Peningkatan volume intra vaskuler menyebabkan dieresis osmotik yang tinggi
sehingga volume dieresis akan meningkat dan frekuensi berkemih akan
19
meningkat. Disisi lain peningkatan osmolalitas sel akan merangsang
hipotalamus untuk mengsekresi ADH (Antidiuretik Hormon). Serta
penurunan transport glukosa kedalam sel menyebabkan sel kekurangan
glukosa untuk diproses melalui proses metabolisme sehingga mengakibatkan
starvasi sel yang akan merangsang pusat lapar dibagian lateral hipotalamus
sehingga timbul rasa lapar. (Rumahorbo, 2017)
Kadar glukoa yang tinggi juga dapat merusak membran kapiler nefron
pada ginjal akibat angiopati. Kerusakan nefron yang progresif akan berujung
pada glomerulosklerosis. Kerusakan ini terjadi akibat beban yang berlebihan
pada kadar gula darah sehingga membrane glomerulus kehilangan daya
filtrasinya. (Smeltzer, 2013)
Rendahnya produksi insulin oleh sel-sel tubuh dapat menimbulkan
gangguan metabolik berupa peningkatan asam lemak darah, kolestrol,
fosfolipid dan lipoprotein. Jika hal ini terjadi secara terus menerus maka akan
memicu terjadinya angiopati yang dapat menimbulkan komplikasi pada retina,
ginjal, jantung koroner dan stroke. (Smeltzer, 2013)
5. Tanda dan Gejala Diabetes Melitus
Gejala diabetes mellitus dibedakan menjadi dua (Sari, 2018) yaitu:
a. Gejala Akut
Gejala akut merupakan gejala klinis yang muncul secara tiba-tiba dan
terjadi pada masa awal penyakit. Gejalanya meliputi :
20
1) Poliuria merupakan gejala berupa lebih seringnya buang air kecil
terutama pada saat malam hari.
2) Polidsia merupakan meningkatnya jumlah air yang diminm karena
sering merasa haus.
3) Poliphagia merupakan akibat kurangnya jumlah insun atau
terganggungnya fungsi insulin maka glukosa yang dihasilkan dari
metabolism makanan tidak dapat diserap oleh sel tubuh akibatnya,
penderita akan merasa lemas, lelah dan mengantuk. Sehingga otak
memberikan respon dengan mengartikan adanya rasa lapar sehingga
penderita diabetes akan lebih banyak makan.
b. Gejala Kronik
Gejala kronk umunya akan dirasakan setelah beberapa bulan atau tahun
mengidap diabetes. Adapun gejalanya yaitu :
1) Penurunan berat badan tanpa disengaja, disebabkan oleh sel yang
kekurangan cairan tubuh dan tidak menerima energy sehingga ukuran
sel akan mengecil akibatnya seluruh jaringan terutama otot mengalami
penyusutan dan berat badan turun secara drastis.
2) Kesemutan, disebabkan oleh rusaknya pembuluh darah akibat
tinggnya gula darah sehingga bagian tubuh yang mengalami
kesemutan kurang mndapatkan supley darah.
3) Luka yang sulit sembuh, ketika gula darah sudah melebihi 200 mg/dm,
daya tahan tubuh penderita diabetes akan berkurang.
21
4) Penglihatan kabur, pembuluh darah pada mata akan menebal sehingga
penglihatan menjadi kurang jelas dan dapat menyebabkan kebutaan.
6. Komplikasi Diabetes Mellitus
Menurut Rumahorbo (2017) mengklasifikasikan komplikasi diabetes
mellitus menjadi 2 bagian yaitu kmplikasi akut dan komplikasi kronik :
a. Komplikasi Akut
Ada 3 koplikasi akut pada diabetes mellitus yang penting dan
berhubungan dengan keseimbangan kadar glukosa darah jangka pendek
yaitu hiperglikemia, diabetes ketoasidosis dan sindrom hiperglikemia
hiperosmolar non ketotik.
b. Komplikasi Kronik
Kompplikasi kronik dapat menyerang semua sistem tubuh. Kerusakan
organ tubuh isebabkan oleh menurunnya sirkulasi darah keorgan akibat
kerusakan pada pembuluh darah. Kategori komplikasi kronk yaitu
makrovaskuler dan mikrovaskuler yang dapat menyebabkan reinopati,
nefropati dan neuropati diabetikum.
7. Penatalaksanaan Diabetes Melitus
Menurut perkeni (2015) 4 pilar pengelolaan diabetes mellitus yaitu :
1) Edukasi
Pemberian edukasi pada penderita diabetes mellitus dimaksudkan
untuk memberi informasi tentang gaya hidup yang perluh diperbaiki
seperti pola makan dan pola latihan fisik serta penderita dapat merawat
22
diri sendiri untuk menghindari penurunan atau kenaikan kadar glukosa
darah yang mendadak. (Rumahorbo, 2017)
2) Terapi Gizi
Terapi gizi berguna untuk menyeimbangkan intake kalori yang masuk
dan dibutuhkan oleh tubuh, sehingga dapat membantu menyeimbangkan
kadar glukosa dalam darah. (Rumahorbo, 2017)
3) Latihan Fisk
Latihan fisik dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi
faktor resiko kardiovaskuler serta dapat mengubah kadar lemak darah.
(Rumahorbo, 2017)
4) Farmakologi
Penggunaan obat hipoglikemik merupakan upaya terakhir yang
dilakukan setelah upaya yang lainnya tidak berhasil membantu untuk
menyeimbangkan kadar glukosa darah penderita diabetes mellitus.
23
D. Kerangka Pikir
Faktor Penyebab
Diabetes Melitus:
Diabetes Melitus 1. Genetik Mekanisme Koping
2. Obesitas
3. Usia
4. Tekanan Darah
5. Aktivitas Fisik
6. Kadar Kolestrol
7. Riwayat Diabetes
Gestasional
8. Stress
Mekanisme koping Mekanisme koping mal-
adaptif: adaktif:
Penerimaan Diri
POSITIF NEGATIF
24
F. Hipotesis Penelitian
Ho : Ada hubungan antara mekanisme koping dengan penerimaan diri pada
paenderita Diabetes Melitus di wilayah kerja puskesman minasaupa
kota Makassar dimana semakin bagus mekansme koping seseorang
makan penerimaan diri pasien semakin baik.
Ha : Tidak ada hubungan antara mekanisme koping pada penerimaan diri pada
penderita Diabetes Mellitus.
Ket : - Bila hasil uji statistic lebih kecil dari α = 0,05 maka Ho diterima.
Sedangkan α = 0,05 lebih besar maka Ho ditolak selanjutnya Ha diterima.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur dengan
mencari referensi teori yang relefan dengan kasus atau permasalahan yang
ditemukan .
B. Sumber Dan Teknik Pengumpulan Data
Sumber penelitian ini adalah data sekunder dengan pengumpulan data
dilakukan dengan melalui studi pustaka dengan cara melakukan
penelusuran hasil publikasi ilmiah dengan rentang tahun 2015-2020
dengan menggunakan database Google Scholar. Hasil penelusuran
kemudian dianalisis dan disimpulkan.
C. Kriteria Literatur
1. Kriteria inklusi
a. Artikel yang dipublikasikan pada periode 2010-2020
b. Dipublikasikan pada jurnal terakreditasi misalnya Sinta, Scopus,
Doaj
c. Jumlah populasi dan sampel representatif
2. Kriteria Ekslusi
a. Artikel literatur review.
b. Artikel Biasa
25
D. Variabel Penelitian
1. Variabel Independen
Merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab
timbulnya variabel dependent. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel
independent adalah mekansme koping.
2. Variabel Dependent
Merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel independent.
Varabel dependent dalam penelitian ini adalah penerimaan diri.
E. Metode Pengumpulan Data
Pengambilan data dilakukan melalui studi pustaka dengan cara
melakukan penelusuran hasil publikasi ilmiah dengan rentang tahun 2010-
2020 dengan menggunakan database Google Scholar. Hasil penelusuran
kemuadian dianalisis dan disimpulkan.
26
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
Berdasarkan hasil pencarian literatur dari 22 artikel yang didapatkan,
terdapat 7 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian-penelitian
tersebut mengidentifikasi mekanisme koping dengan penerimaan diri pada
pasien Diabetes Melitus. Berdasarkan beberapa hasil penelitian dapat
disimpulkan bahwa salah satu upaya untuk dapat mengatasi dan mencegah
komplikasi penyakit Diabetes Melitus tipe 2 yaitu pasien harus memiliki
koping yang adaptif.
27
SINTESIS GRID
No Peneliti Tujuan Desain Respond Pengump Hasil
. (tahun) Penelitian Penelitia en ulan Data Penelitian
dan Judul n
1. Kasmaria Untuk Jenis Sebanya Pengump Berdasarkan
, dkk mengetahui penelitian k 40 ulan data hasil analisis
Tahun pengaruh ini adalah respond dilakukan didapatkan
2018. penyuluhan analisis en dengan bahwa ada
Pengaruh manajemen kuantitati menggun perbedaan
Penyuluh stress f dengan akan antara
an terhadap quasi kuesioner kelompok
Manajem mekanisme eksperim yang kontrol dan
en Stres koping en, sebelumn kelompok
Terhadap pasien dengan ya intervensi
Mekanis diabetes Teknik dilakukan terhadap
me mellitus.. sampling penyuluh mekanisme
Koping yang an koping pasien
Pasien digunaka mengenai setelah
Diabetes n ialah manejem dilakukan
Melitus purposive en stress. intervensi
Di sampling berupa
Puskesm dengan penyuluhan
as jumlah mengenai
Mangasa responde manajemen
Kota n stress, p =
Makassar sebanyak 0,006
. 40 orang (p<0,05).
yaitu 20
orang
pada
kelompo
k kontrol
dan 20
orang
pada
kelompo
k
intervensi
.
29
2. Putra, Untuk Deskripti Sebanya Pengump Hasil
dkk mengidentif f dengan k 70 ulan data penelitian
Tahun ikasi pendekat respond menggun didapatkan
2017 tingkat an cross en akan sebagian besar
Tingkat stress dan sectional. pengukur (67%) klien
Stress mekanisme an diabetes
Dan koping variabel melitus
Mekanis pada pasien stress menderita
me diabetes menggun diabetes
Koping mellitus. akan The melitus tipe 2
Pada Depressi dan hampir
Klien on setengahnya
Diabetes Anxiety (33%) tipe 1.
Melitus Stress Hampir
Di Scale 42 setengahnya
Wilayah (DASS) mengalami
Kerja dan stress sedang
Puskesm Pengukur (49%), stress
as Pacar an ringan (37%),
Keling variabel dan sebagian
Surabaya mekanis kecil (14,2%)
. me tidak
koping mengalami
menggun stress, dan
akan alat seluruhnya
ukur (100%)
Suryani memiliki
dan mekanisme
Widyasih koping
(2008) adaptif.
yang
terdiri 25
pernyataa
n
30
3. Asafitri, Untuk Deskripti Sebanya Untuk Hasil
dkk mengetahui f korelasi k 61 mekasis penelitian ini
Tahun hubungan dengan orang me menunjukkan
2019. mekanisme menggun dengan koping mekanisme
Hubunga koping akan teknik diukur koping pasa
n dengan pendekat accident menggun penderita
Mekanis kualitas an cross al akan The diabetes
me hidup pada sectional. samplin Brief melitus tipe 2
Koping penderita g. COPE, kategori
Dengan diabetes untuk adaptif 39
Kualitas melitus tipe kualitas orang
Hidup 2 di RS hidup (63,9%),
Pada Roemani diukur kualitas hidup
Penderita Semarang. menggun pada penderita
Diabetes akan diabetes
Melitus WHOQO melitus tipe 2
Tipe 2 Di L-BREF. kategori baik
Rs 35 orang
Roemani (57,4%). Ada
Semaran hubungan
g. yang
signifikan
antara
mekanisme
koping
dengan
kualitas hidup
pada penderita
diabetes
melitus tipe 2
di RS
Roemani
Semarang,
hasil uji
didapatkan p-
value sebesar
0,006 < (α =
0,05).
31
4. Yan, dkk Untuk Jenis Sebanya Data Hasil
Tahun mengetahui penelitian k 77 dikumpul penelitian
2017. keterkaitan adalah respond kan menunjukkan
Hubunga hubungan kuantitati en. melalui terlihat
n antara f dengan proses adanya
Penerima penerimaan desain wawanca hubungan
an Diri diri dengan crossecti ra dengan yang
Dan tingkat onal. menggun signifikan
Tingkat stress pada akan antara
Stres lansia kuesioner penerimaan
Pada penderita Berger’s diri dengan
Penderita diabetes self- tingkat stres
Diabetes mellitus di acceptenc pada lansia
Mellitus. Kota Jambi. e dan penderita
dianalisis diabetes
menggun mellitus di
akan uji Kota Jambi.
Spearma Penerimaan
n’s Rank diri yang
test. negatif
mempengaruh
i tingkat stres
yang dialami
penderita
selama sakit.
5. Su’udi Untuk Deskripti Respond Data Hasil uji Chi-
dkk menganalis f korelatif en demograf square
32
Tahun a hubungan dengan sebanay i usia, diperoleh
2017 mekanisme pendekat ak 63 jenis nilai, p =
Mekanis koping an cross orang kelamin, 0,001, maka
me dengan sectional menggu tinggat dapat
Koping penurunan nakan pendidika disimpulkan
Dalam kadar teknik n, ada hubungan
Menurun glukosa non pemeriks antara
kan darah probabil aan mekanisme
Kadar pasien ity glukosa koping pasien
Glukosa diabetes samplin darah, diabetes
Darah melitus. g kuesioner melitus
Pasien dengan dan dengan
Diabetes pendeka lembar penurunan
Melitus tan observasi kadar glukosa
di purposiv darah.
Poliklinik e
Penyakit samplin
Dalam g
RSUD
Dr. R.
Koesma
Tuban
6. Anggeria Untuk Metode Sebanya Pengump Nilai
, dkk mengetahui penelitian k 20 ulan data signifikansi p
Tahun efektivitas kuantitati respond menggun value = 0,00
2019. perawatan f dengan en. akan (p value <
Efektivita ulkus desain kuesioner 0,05) maka
33
s diabetikum quasi dan H0 ditolak.
Perawata terhadap experime observasi Hal ini berarti
n Ulkus penerimaan ntal . ada perbedaan
Diabetiku diri pasien melalui Kuesione penerimaan
m Diabetes pendekat r diri pasien
Terhadap Melitus an one penerima Diabetes
Penerima Tipe II group an diri Melitus tipe II
an Diri pretest pasien sebelum dan
Pasien posttest menggun setelah
Diabetes design akan perawatan
Melitus Diabetes ulkus
Tipe Ii Acceptan diabetikum
ce Scale
(DAS)
7. Silalahi, Untuk survey Sebanya Data Hasil
dkk mengetahui analitik k 16 primer penelitian
Tahun hubungan dengan respond yang menunjukkan
2018. Body desain en. diperoleh ada hubungan
Hubunga Image cross secara yang
34
n Body Dengan sectional. langsung signifikan
Image Self- dengan antara body
Dengan Acceptan melakuka image dengan
Self- (Penerimaa n self-
Acceptan n Diri) Pada wawanca acceptance
ce Pasien ra (penerimaan
(Penerim Ulkus terpimpin diri) pada
aan Diri) Diabetikum . Data pasien ulkus
Pada sekunder diabetikum di
Pasien diperoleh Rumah Sakit
Ulkus dari TK II Putri
Diabetiku rekam Hijau Medan
m Di medis.
Rumah
Sakit Tk
Ii Putri
Hijau
Kota
Medan
B. PEMBAHASAN
Diabetes mellitus merupakan suatu penyakit kronik yang disebabkan karena
pankreas tidak menghasilkan insulin atau pankreas menghasilkan insulin tetapi
tubuh tidak bisa menggunakan secara efektif dan bisa juga dikarenakan tidak ada
35
reseptor untuk membawanya ke dalam sel. Penderita diabetes mellitus yang sudah
lama menderita dapat membuat mental atau mengakibatkan stress pada penderita
diabetes mellitus. Salah satu cara yang yang digunakan untuk mengelolah stress
tersebut adalah dengan mekanisme koping.
Mekanisme koping adalah penentuan dari gaya seseorang dalam memecahkan
suatu masalah berdasarkan tuntutan yang dihadapi (Rahmawati, 2016). Seseorang
yang memiliki mekanisme koping baik maka penerimaan diri seseorang itu baik
pula. Salah satu upaya yang dilakukan untuk manajemen stress tersebut yaitu
dengan memberikan penyuluhan tentang managemen stress terhadap mekanisme
koping pada penderita diabete mellitus.
Dalam (Kasmaria, 2018) kelompok di bagi menjadi 2 kelompok dimana
kelompok pertama sebanyak 20 responden yaitu kelompok control dan kelompok
yang ke dua sebn\ayak 20 responden yaitu kelompok intervensi. Hasil penelitian
“Pengaruh Penyuluhan Manajemen Stres Terhadap Mekanisme Koping Pasien
Diabetes Melitus Di Puskesmas Mangasa Kota Makassar” didapatkan bahwa ada
perbedaan antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi terhadap mekanisme
koping setelah dilakukan intervensi penyuluhan managemen stress pada penderita
diabetes mellitus dengan nilai p = 0,006 (p<0,05).
Dalam (Putra dkk, 2017) tentang “Tingkat Stress Dan Mekanisme Koping
Pada Klien Diabetes Melitus Di Wilayah Kerja Puskesmas Pacar Keling
Surabaya” dijelaskan bahwa berbagai faktor yang dapat memicu tingkat stress dan
bagaimana mekanisme koping pada penderita diabetes mellitus. Di dapatkan hasil
36
63% penderita diabetes mellitus tipe 2 dan 33% mengalami diabetes mellitus tipe
2, dengan penderita yang mengalami stress sedang (49%), stress ringan (37%),
dan sebagian kecil (14,2%) tidak mengalami stress, dan seluruhnya (100%)
memiliki mekanisme koping adaptif.
Sedangkan dalam (Asafitri dkk, 2019) mengenai “Hubungan Mekanisme
Koping Dengan Kualitas Hidup Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rs
Roemani Semarang” didapatkan hasil yang menunjukan bahwa mekanisme
koping pada penderita diabetes mellitus dalam kategori adaptif sebanyak 39 orang
(63,9%) dari 61 responden, sedangkan responden yang memiliki kualitas hidup
baik sebanyak 35 orang (57,4%) dari 61 responden. Maka didapatkan ada
hubungan yang signifikan antara mekanisme koping dengan kualitas hidup pada
penderita diabetes melitus tipe 2 di RS Roemani Semarang dengan p value 0,006
< (α = 0,05).
Kurangnya percaya diri, merasa berbeda dengan orang lain, dan mudah
sensitive karena orang mengkritik tentang dirinya merupakan faktor yang dapat
memicu penerimaan diri pada pasien kurang baik. Jika hal tersebut tidak diatasi
secepatnya, maka pasien cenderung tidak mandiri dalam pemeliharaan status
kesehatannya. Dapat kita lihat dalam penelitian “Hubungan Penerimaan Diri Dan
Tingkat Stres Pada Penderita Diabetes Mellitus” menjelaskan tentang penerimaan
diri yang kurang baik disebabkan karena penilaian diri yang selalu negative
sehingga dapat memicu timbulnya stress. Hasil penelitian ini menunjukkan
37
adanya hubungan yang signifikan antara penerimaan diri terhadap tingkat stress
dengan (P-value=0,002). (Yan, dkk 2017)
Dalam (Anggeria, dkk 2019), ada 3 poin besar yang dijelaskan yaitu
Penerimaan Diri Pasien Diabetes Melitus Tipe II Sebelum Perawatan Ulkus
Diabetiku, Penerimaan Diri Pasien Diabetes Melitus Tipe II Setelah Perawatan
Ulkus Diabetikum dan Efektivitas Perawatan Ulkus Diabetikum Terhadap
Penerimaan Diri Pasien Diabetes Melitus Tipe II. Penerimaan diri pada pasien
yang sebelum melakukan perawatan sebagian besar penerimaan dirinya kurang
baik dikarenakan kecemasan untuk sembuh pada pasien. Berbeda dengan pasien
yang sudah mengalami perawatan, pasien sudah mampu menerima penyakitnya
sehingga memiliki motivasi untuk sembuh. Semakin sedikit tingkat
ketidaknyamanan terhadap suatu penyakit maka penilaian negative terhadap diri
semakin sedikit. Dibuktikan dalam penelitian ini menunjukkan adanya nilai
signifikan, artinya ada perbedaan penerimaan diri pasien Diabetes Melitus tipe II
sebelum dan setelah perawatan ulkus diabetikum. Dilihat dari pasien sudah dapat
menerima penyakitnya dengan nilai signifikan p value = 0,00.
Selain stress yang dapat memicu penerimaan diri kurang baik, gangguan citra
tubuh juga merupakan salah satu yang dapat menyebabkan penerimaan diri pada
pasien kurang baik (body image). Body image yang negative menyebabkan
penerimaan diri negative pula. Hasil penelitian “Hubungan Body Image Dengan
Self-Acceptance (Penerimaan Diri) Pada Pasien Ulkus Diabetikum Di Rumah
Sakit Tk Ii Putri Hijau Kota Medan” menunjukkan bahwa 16 responden dan yang
38
mengalami penerimaan diri positif sebanyak 11 orang dengan 5 responden yang
memiliki body image negative dengan penerimaan diri negative sebanyak 3. Hasil
perhitungan didapatkan p value = 0,018, maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Artinya ada hubungan yang sangat signifikan (kuat) antara body image dengan
self-acceptance (penerimaan diri) pada pasien ulkus diabetikum di Rumah Sakit
TK II Putri Hijau Medan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari berbagai penelitian tentang mekanisme koping dan penerimaan diri
pada penderita diabetes mellitus, didapatkan bahwa memiliki mekanisme
39
koping yang baik maka penerimaan diri juga baik, begitupun sebaliknyajika
mekanisme koping negative maka penerimaan diri juga negative.
B. Saran
1. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan pada tatanan yang berbeda dengan
memodifikasi dari keterbatasan yang ada dari penelitian ini.
2. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan mampu memperhatikan dan
meminimalkan faktor-faktor yang dapat memicu mekanisme koping dan
penerimaan diri.
3. Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai datadasar untuk
acuan dan pedoman dalam melakukan penelitian selanjutnya, misalnya
dengan menambahkan variable dan dengan menggunakan desain penelitian
yang lain seperti penelitian eksperimen, ataupun penelitian kualitatif.
Daftar Pustaka
Adailton et al. (2018). Diagnosis of Diabetes Melitus And Living with a Chronic
Condition: Participatory [Link] Public Health 18:699.
Asafitri, R. N., Aini, F., & Gali, Y. (2019). Hubungan Mekanisme Koping Dengan
Kualitas Hidup Pada penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Di RS Roemani
Semarang. Jurnal Of Holistics And Healt Sciences , Vol.1, No.1, Page 45-
51.
Asmadi. (2008). Teknik Prosedur Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan.
40
Damayanti, S. (2015) Diabetes Melitus Dan Penatalaksanaan Keperawatan. Yogyakarta:
Nuha Medika.
Denmark, Kenneth L. 1973. Self Acceptance and Leader Effectiveness. Journal of Extension.
Carver, C.S., [Link]., dan J.K. Weintraub. 1989. Assesing Coping Strategies: A
Theoretically Based Approach. Journal of Personality and Social Psychology.
56(2): 267-83. DOI:10.1037//0022-3514.56.2.267.
Firmansyah, M. R. (2019). Mekanisme Koping Dan Efikasi Diri Dengan Manajemen
Perawata Diri Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Multi Science Kesehatan ,
Vol.11, Page 9-18.
Hurlock, Elizabeth B. 2011. Psiklogi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga.
Husna, c. (2011). Mekanisme Koping Pada Pasien DM Tipe II Dengan Gangren
Diabetik Endokrin RSUDZA Banda Aceh. Idea rsing Jurnal , Vol.3,
No.1, Page 42-49.
Lazarus, R. (1993). From Psychological Stress to The Emotion: A History of
Changing [Link] Review of Psychology.
Nursalam. (2016). Metedeologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Okwaraji et al. 2017. Life satisfaction, self esteem and mental health in a sample of
diabetic out-patients attending a Nigerian tertiary health institution. The
Journal of Medical Research Vol 3(2).
Rudijanto, Ahmad. (2014). Keterangan Ringkas Tentang Diabetes Melitus (Kencng
Manis). Malang: Danar Wijaya.
Sari, R. N. (2018). Diabetes Melitus. Yogyakarta: Nuha Medika.
Shallcross et al. 2013. Getting better with age: The relationship between
age,acceptance, and negative affect. Journal Pers Soc Psychol Vol 104
(4): 734-749.
Smeltzer, Susanne dan Bare, Brenda. (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah. Jakarta: EGC>
Sofiyah. (2016). Hubungan Antara Penerimaan Diri Dengan Depresi Pada Penderita
Diabetes Melitus (Tipe II). Vol.18, No.2, Page 119-127.
41
Struart, & Sundeen. (1995). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta:EGC.
Stuart, G. (2013). Principles And Practice Of Psychiatric Nursing 10th
[Link] Inc.
Sunaryo. (2015). Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.
Utami, Puji, Astuti. (2016). Gambaran Mekanisme Koping Stress Pada Pasien Diabetes
Melitus.
PERKENI. (2015). Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia.
PERKENI, Jakarta.
Wijaya, Saferi Andra & Putri, Meriza Yessie. (2013). KMB2 Keperawatan Medikl Bedah
(keperawatan Dewasa). Yogyakarta: Nuha Medika
Yan, L. S., Marisdayana, R., & OR, I. R. (2017, Oktober). Hubunga Penerimaan Diri
Dan Tingkat Stres Pada Penderita Diabetes Melitus. Jurnal Endurance ,
Page 312-322.