0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan41 halaman

Mekanisme Koping dan Penerimaan Diri DM Tipe 2

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang, tujuan, dan manfaat studi literatur mengenai hubungan antara mekanisme koping dengan penerimaan diri pada pasien diabetes melitus tipe 2. Secara khusus, dokumen tersebut meninjau konsep dasar mekanisme koping dan penerimaan diri, faktor-faktor yang mempengaruhi mekanisme koping, serta jenis-jenis mekanisme koping.

Diunggah oleh

wiwi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan41 halaman

Mekanisme Koping dan Penerimaan Diri DM Tipe 2

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang, tujuan, dan manfaat studi literatur mengenai hubungan antara mekanisme koping dengan penerimaan diri pada pasien diabetes melitus tipe 2. Secara khusus, dokumen tersebut meninjau konsep dasar mekanisme koping dan penerimaan diri, faktor-faktor yang mempengaruhi mekanisme koping, serta jenis-jenis mekanisme koping.

Diunggah oleh

wiwi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mekanisme koping adalah respon individu yang akan dilakukan terhadap

situasi yang mengancam dirinya baik secara fisik maupun psikologis. Jika

individu tidak mampu dalam menggunakan mekanisme koping maka individu

akan mengalami berbagai penyakit fisik atau mental. Mekanisme koping yang

baik dapat menumbuhkan atau meningkatkan penerimaan diri terhadap

penyakitnya (Firmansyah, 2019).

Penerimaan diri merupakan kemampuan untuk mengesampingkan kekurangan

dan kesalahan, rasa malu yang merusak dan kecemasan yang ekstrim. Individu

yang mampu menerima diri memahami betul kelebihan dan kelemahan dalam

dirinya juga mampu menerima sifat manusiawi dengan segala kekurangan dan

kelebihan yang dimilikinya. (Sofiyah, 2016).

Penelitian dari Husna (2011) Mengenai Mekanisme Koping Pada Pasien DM

Tipe 2 dengan Gangren Diabetik di Poli Klinik Endokrin Rumah Sakit Umum

Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh di peroleh bahwa sebanyak

23 responden dalam kategori mekanisme koping adaktif dan 9 orang dalam

kategori maladaktif dari 32 sampel , dengan menggunakan metode penelitian

Deskriptif Eksploratif.

Penilitian Yan dkk (2017) mengenai Hubungan Penerimaan Diri Dan Tingkat

Stres Pada Penderita Diabetes Melitus di peroleh 77 responden, sebagian besar

1
2

responden adalah perempuan dengan rentan usia 45-60 tahun mempunyai kategori

kurang baik. Penerimaan diri pada lansia ditemukan adanya penerimaan diri yang

kurang baik, hal ini ditemukan karena adanya respon penderita yang mengatakan

kurang percaya diri. Data dikumpulkan melalui proses wawancara dengan

menggunakan kuesioner Berge’s Self-acceptence dan menggunakan uji

Spearman’s Rank test.

Dari uraian diatas, penulis tertarik untuk mengidentifikasi rekomendasi

Studi Literatur Hubungan Mekanisme Koping Dengan Penerimaan Diri Pada

Pasien Diabetes Melitus Tipe 2.

B. Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini

“Bagaimanakah Rekomendasi Penelitian Mengenai Hubungan Mekanisme

Koping Dengan Penerimaan Diri Pasien Diabetes Melitus Tipe 2”?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk mengidentifikasi rekomendasi

Hubungan Mekanisme Koping Dengan Self-Care Management Pasien Diabetes

Melitus Tipe 2.

D. Manfaat Penelitian

a. Terhadap institusi

Diharapkan dapat memberikan referensi tentang manfaat mekanisme

koping terhadap penerimaan diri pada pasien diabetes melitus, khususnya

mahasiswa [Link] Poltekes Kemenkes Makassar.


3

b. Terhadap Peneliti

Diharapkan dapat mengembangkan kemempuan peneliti dalam membuat

penelitian sehingga dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat selama

perkuliahan dan sebagai acuan peneliti selanjutnya.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Mekanisme Koping

1. Pengertian Mekanisme Koping

Mekanisme koping adalah upaya yang digunakan untuk mengatasi

stressor yang dapat mengakibatkan kecemasan. Mekanisme koping dapat

dikatakan efektif apabila didukung oleh kekuatan lain serta adanya dalam diri

kepercayaan bahwa mekanisme koping yang digunakan dapat membntu untuk

mengatasi kecemasan. (Asmadi)

2. Penggolongan Mekanisme Koping

Menurut Stuart & Sundeen (1995) mengklasifikasikan mekanisme koping

berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi 2 yaitu :

a. Mekanisme koping adaptif.

Merupakan ekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi,

pertumbuhan, belajar dan mencapai tujuan. Contoh memecahkan masalah

secara efektif, berbicara dengan orang lain, aktifitas konstruktif dan tehnik

relaksasi. Koping adaptif menurut Carver et al (1989) yaitu: koping aktif,

penggunaan pertolongan, penyusunan positif, pengalihan diri,

perencanaan, penerimaan, koping agama dan humor.

b. Mekanisme koping maladaptif.

Mekanisme koping ini merupakan mekanisme koping kebalikan dari

mekanisme koping adaptif atau mekanisme koping yang menghambat

4
5

fungsi integrase, memecah pertumbhan, menurunkan otonomi dan

cenderung menguasai lingkungan. Koping maladaptif menurut Carver et

al (1989) yaitu: penolakan, penggunaan zat, penggunaan dukungan

emosional, ketidakberdayaan, pelepasan dan menyalahkan diri sendiri.

3. Faktor Yang Mempengaruhi Mekanisme Koping

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi mekanisme koping menurut

Lazarus, yaitu :

a. Kesehatan fisik

Faktor ini merupakan faktor yang penting karena dalam usaha

mengatasi stress individu dituntut untuk dapat mengerahkan tenaga yang

ukup besar.

b. Keyakinan atau pandangan positif

Hal ini juga menjadi sangat penting, seperti keyakinan akan nasip yang

akan mengarahkan individu pada penilaian ketidakberdayaan sehingga

akan menurunkan kemampuan strategi koping tipe problem solfing

pocuset coping.

c. Keterampilan memecahkan masalah

Meliputi kemampuan seseorang untuk mencari informasi,

mengidentifikasi masalah untuk memperoleh alternative tindakan,

kemudian mempertimbangkan alternative tersebut sehubungan dengan

hasil yang ingn dicapai sehingga dapat melaksanakan rencana suatu

tindakan yang tepat.


6

d. Keterampilan sosial

Kemampuan untuk berkomunikasi dan bertingkahlaku dengan cara-

cara yang sesuai dengan niali-niali sosial yang berlaku dimasyarakat.

e. Dukungan sosial

Meliputi pemenuhuan kebutuhan informasi dan emosional yang

diberikan oleh orang terdekat.

f. Materi

Dukungan ini antara lain berupa barang, uang, dan layanan yang dapat

dibeli.

Faktor mekanisme koping menurut stuart (2013), yaitu :

a. Faktor Predisposisi

Faktor ini menjadi sumber stress yang dapat mempengaruhi tipe dari

individu yang menghadapi stress baik secara biologis, psikologi, dan

sosiokultural.

b. Faktor Presipitasi

Faktor ini memerlukan banyak energy besar dalam menghadapi stress

atau tekanan hidup. Faktor yang sering terjadi pada presipitasi yaitu

kejadian yang menekan dan ketegangan hidup.

4. Tipe Mekanisme Koping

a. Mekanisme pertahanan ego.

Adapun mekanisme pertahanan ego menurut Sunaryo (2015) sebagai

berikut :
7

1) Denial merupakan penolakan terhadap sesuatu yang tidak

menyenangkan.

2) Fantasia atau khayalan merpakan suatu proses yang menggambarkan

objek atau peristiwa terkait dengan peneampilan.

3) Identifikasi merupakan suatu cara yang digunakan untuk menghadapi

orang lain dengan membuat dirinya menjadi orang lain sehingga ia

bersifat seperti orang tersebut.

4) Introyeksi merupakan bentuk pertahanan diri dengan menyamakan

sifat pribadi orang lain kedalam pribadinya.

5) Kompensasi merupakan bentuk yang digunakan individu dengan yang

tidak memperoleh kepuasan di bidangnya tapi memperoleh kepuasan

dibidang tertentu.

6) Displacement atau mengisar merupakan pemindahan tingkah laku ke

tingkah laku yang lain atau ke objek yang lain.

7) Menarik diri atau Regresi merupakan tingkah laku seseorang yang

apabila mendapatkan masalah ia menarik diri dari lingkungannya.

8) Negativisme merupakan perilaku seseorang yang selalu bertentangan

dengan orang lain dengan tingkah laku yang tidak terpuji.

9) Proyeksi merupakan pengalihan pikiran atau impuls pada seseorang

kepada orang lain terutama keinginan, perasaan, emosional dan

motifasi yang tidak dapat ditoleransi.


8

10) Resionalisasi merupakan suatu proses yang tampak logis dan dapat

diterima untuk membenarkan perilaku,perasaan dan motif yang tidak

dapat diterima.

11) Konversi merupakan mekanisme pertahanan diri dengan cara

mengalihkan masalah ke organ tubuh atau gejala fisik.

12) Represi merupakan pengesampingan secar tidk sadar tentang pikiran

atau ingatan yang tidak menyenangkan dari kesadaran seseorang.

13) Supresi merupakan suatu proses yang digolongkan sebagai mekanisme

pertahanan tetapi sebetulnya merupakan analog represi yang disadari.

14) Sublimasi merupakan bisa diartikan sebagai dengan mengganti

keinginan atau tujuan yang terhambat dengan cara dapat diterima oleh

masyarakat.

15) Sikap mengkritik orang lain, mekanisme pertahanan ego ini adalah

bentuk perilaku pertahanan diri untuk menyerang orang lain dengan

berbagai kritikan.

16) Overkompensasi merupakan tingkah laku seseorang yang gagal

mencapai tujuannya.

B. Konsep Dasar Penerimaan Diri

1. Pengertian Penerimaan Diri

Penerimaan diri merupakan kemampuan untuk mengesampingkan

kekurangan dan kesalahan, rasa malu yang merusak dan kecemasan yang

ekstrim. Individu yang mampu menerima diri memahami betul kelebihan dan
9

kelemahan dalam dirinya juga mampu menerima sifat manusiawi dengan

segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. (Sofia, 2016)

2. Tujuan Penerimaan Diri

Tujuan dari penerimaan diri yaitu memperkecil terjadinya stress yang

dialami dan menyadari bahwa masih memiliki kelebihan yang ada dalam diri

karena dengan adanya penerimaan diri penderita mampu berusaha belajar

untuk menerima segala ketidaknyamanan dan rasa sakit yang

dialami(Adailton et al, 2018).

Selain itu, tujuan penerimaan diri yaitu meningkatkan kemampuan dan

kepercayaan diri sendiri dan mampu mengembangkan kemampuan strategi

pemecahan masalah sehingga dapat menyebaban perubahan dalam diri

individu maupun lingkungan sosial penderita (Schmitt et al,2018).

3. Aspek-Aspek Penerimaan Diri

Menurut Berger dalam Denmark (1973), aspek-aspek yang

mencerminkan penerimaan diri atara lain yaitu :

a. Perilaku didasarkan pada standar nilai dirinya sendiri (internal) bukan dari

orang lain (eksternal).

b. Memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu menghadapi cobaan.

c. Mampu menerima tanggung jawab atas perilakunya dan mampu menerima

konsekuensi.

d. Menenerima segala kritikan maupun pujian.


10

e. Tidak mencoba untuk menyangkal atau menyimpangkan perasaan,

keterbatasan atau kemampuan yang ada dalam dirinya.

f. Tidak memiliki pikiran negative bahwa orang akan menolak dirinya.

g. Mampu menganggap dirinya berharga.

h. Tidak merasa malu terhadap keadaan dirinya.

4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Diri

Adapun faktor yang mempengaruhi diri seseorang, yaitu :

a. Usia

Individu yang memiliki usia yang lebih tua sering mengalami

pengalaman yang dapat mendorong untuk penggunaan penerimaan diri

ketika mereka berada diluar kendali (Shallcross et al, 2013)

b. Jenis Kelamin

Pada perempuan yang memiliki penerimaan diri yang baik karena

perempuan lebih terbuka dalam mengidentifikasi diri dengan orang lain,

kondisi ini menjadikan keluarga memberikan dukungan kepada

kondisinya sehingga individu lebih menerima kondisinya (Mathew et al,

2012).

c. Status Menikah

Mampu menerima dirinya dikarenakan memiliki orang yang dapat

dipercaya sebagai tempat berbagi jika ada masalah dan dapat memberikan

dukungan ketika dalam situasi stress (Okwaraji et al, 2017).

d. Pendidikan
11

Semakin tinggi pendidikan yang dimiliki maka semakin bagus

penerimaan diri yang dimiliki (Vasile, 2013).

e. Pemahaman Diri

persepsi mengenai dirnya sendiri secara realistis yang ditandai dengan

keaslian atau apa adanya, semakin seseorang memahami dirinya maka

semakin baik dalam penerimaan diri (Hurlock, 2011)

f. Harapan Yang Realistis

hal in akan muncul apabila individu membuat sendiri harapannya yang

disesuakian dengan pemahaman mengenai kemampuan dirinya bukan

harapan yang dibuat oleh orang lain (Hurlock, 2011).

g. Tidak Ada Hambatan Dari Luar

jika lingkungan sekitar individu tidak memberikan kesempatan untuk

mengekspresikan dirinya maka penerimaan diri individu akan sulit dicapai

begitupun sebaliknya (Hurlock, 2011).

h. Sikap Sosial Yang Positif

Individu yang memiliki sikap yang positif maka ia akan lebih mampu

menerima dirinya. Kondisi utama yang mampu menghasilkan evaluasi

yang positif yaitu tidak ada prasangka buruk terhadap seseorang, ada

penghargaan terhadap kemampuan sosialnya dan mampu mengikuti tradisi

satu kelompok sosial (Hurlock, 2011).

i. Tidak Ada Stress Yang Berat


12

Tidak memiliki tekanan yang bert mampu membuat seseorang bekerja

secara optimal dan lebih beriorentasi serta akan merasa lebih tenang dan

bahagia (Hurlock, 2011).

j. Pengaruh Keberhasilan

Faktor keberhasilan akan menghasilkan pnerimaan diri yang positif,

sedangkan pengalaman yang gagal dapat menyebabkan penolakan diri

pada individu (Hurlock, 2011).

k. Perspektif Diri Yang Luas

Individu yang bisa melihat dirinya seperti perspektif orang lain

memandang dirinya membuat individu tersebut menerima dirinya dengan

baik. Suatu perspektif diri yang baik memudahkan individu dalam

penerimaan diri (Hurlock, 2011).

l. Konsep Diri Yang Stabil

Konsep diri yang baik akan menghasilkan penerimaan diri yang baik

pula namun sebaliknya apabila memiliki konsep diri yang buruk maka

terjadi penolakan penarimaan diri (Hurlock, 2011).

C. Konsep Dasar Diabetes Melitus

1. Defenisi Dibetes Melitus

Diabetes mellitus adalah penyakit gangguan metabolise karbohidrat, yang

disebabkan oleh adanya kekurangan insulin yang absolut (tidak ada atau

sedikit sekali produksi insulin dalam tubuh) atau kekurangan relative (masih
13

cukup ada insulin, tetapi tidak dapat bekerja dengan baik oleh adanya

penurunan kepekaan sel terhadap insulin. (Rudijanto, 2014)

Menurut American Diabetes Association (ADA) diabetes mellitus

merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula

dalam darah (hiperglikemia) sebagai akibat kekurangan insulin, gangguan

aktivitas insulin atau keduanya. (Damayanti, 2015)

Seseorang dikatakan menderita dabetes mellitus jika memiliki kadar gula

darah puasa >126 mg/dl dan pada tes gula darah sewaktu >200 mg/dl. Kadar

gula darah sepanang hari bervarasi dimana akan meningkat setelah makan dan

akan kembai normal dalam waktu 2 jam. (Perkeni, 2015)

2. Klasifikasi Diabetes Melitus

Klasifikasi Diabetes Melitus menurut ADA (2014) dan Perkeni (2015) ada

4, yaitu :

1) Diabetes Melitus Tipe 1 atau insulin-dependent diabetes ddisebabkan

karena kerusakan pada sel β pankreas, pada tipe ini biasanya

menyebabkan defisiensi insulin absolut. Diabetes Melitus tipe 1 ini

ditandai dengan penyakit autoimun dimana sistem kekebalan tubuh

diserang yang berdampak pada kerusakan sel di pankreas. Kerusakan yang

terjadi pada sel β dapat terjadi pada anak-anak maupun setelah dewasa.

2) Diabetes Melitus Tipe 2 disebabkan karena resistensi insulin, jumlah

reseptor insulin pada permukaan sel berkurang, meskipun jumlah insulin

tidak berkurang. Hal ini disebabkan karena glukosa tidak masuk ke dalam
14

sel, walaupun insulin dapat diproduksi tetapi tidak mempunyai reseptor

untuk mengantarnya kedalam sel. Kondisi seperti ini diakibatkan karena

gaya hidup yang tidak baik, obesitas, pola makan dan faktor keturunan.

3) Diabetes Melitus Tipe lain disebabkan Karena penyebab dari penyakit

lain, misalnya cacat genetic pada fugsi sel β, cacat genetic pada kerja

insulin, penyakit eksokrin pankreas sepert fibrosis kistik serta dampak

penyakit dan obat-obatan kimia seperti dalam pengobatan HIV/AIDS atau

setelah transplantasi organ.

4) Diabetes Melitus Kehamilan atau Gestasional, tingginya kadar glukosa

dalam darah yang hanya terjadi pada masa kehamilan dan akan kembali

nrmal setelah melahirkan.

3. Faktor Resiko Diabetes Melitus

Menurut Sudoyo (2006) dalam (Damayanti, 2015) faktor-faktor resiko

terjadinya diabetes mellitus yaitu :

1) Faktor Keturunan (Genetik)

Riwayat keluarga dengan diabetes mellitus mempubyai peluang besar

menderita diabetes mellitus sebesar 15% dan memiliki resiko intoleransi

glukosa yaitu ketidakmampuan dalam melakukan metabolisme secara

normal sebesar 30% (LeMone & Burke, 2008). Faktor keturunan dapat

langsung mempengruhi sel β dan mengubah kemampuannya untuk

mengenal dan menyebarkan rangsangan sekretoris insulin. Keadaan ini


15

meningkatkan kerentanan individu terhadap faktor lingkungan yang dapat

mengubah integritas dan fungsi sel β pankreas.

2) Faktor Obesitas

Obesitas atau kegemukan merupakan kelebihan berat badan >20% dari

berat ideal ata BMI (Body Mass Index). Kegemukan dapat menyebabkan

kurangnya reseptor insulin yang dapat bekerja di dalam sel pada otot

skeletal dan jaringan lemak. Hal ini biasa kita kenal dengan resistensi

insulin perifer. Kegemukan juga merusak kemampuan sel β untuk melepas

insulin saat terjadi peningkatan glukosa dalam darah (Smeltzer, 2008).

Soegondo (2007) menyatakan obesitas dapat menyebabkan respon sel β

pankreas terhadap peningkatan glukosa dalam darah berkurang. Selain itu

reseptor insulin pada sel diseluruh tubuh termasuk di otot berkurang

jumlahnya dan kurang sensitif.

3) Faktor Usia

Faktor usia yang beresiko menderita diabetes mellitus yaitu usia diatas

30 tahun. Hal ini dikarenakan adanya perubahan anatomi, fisiologi dan

biokimia. Perubahan dimulai dari tingkat sel yang kemudian berlanjut

pada tingkat jaringan dan akhirnya pada tingkat organ yang dapat

mempengaruhi homeostatis. Setelah seseorang mencapai umur 30 tahun,

maka kadar glukosa dalam darah naik1-2 mg% tiap tahun saat puasa dan

akan naik 6-13% pada saat 2 jam setelah makan. Menurut ketua Indonesin

Diabetes Association, Soegondo, menyebutkan bahwa diabetes mellitus


16

tipe 2 biasanya ditemukan pada orang dewasa usia 40 tahun ke atas, akan

tetapi pada tahun 2009 ditemukan penderita diabetes mellitus termuda

pada usia 20 tahun.

4) Faktor Tekanan Darah

Tekanan darah tinggi (Hipertensi) yang beresiko menderita diabetes

mellitus yaitu pada tekanan >140/90 mmHg. Hipertensi yang tidak

dikelola dengan baik akan mempercepat kerusakan pada gnjal dan

kelainan kardiovaskuler. Sebaliknya apabila hipertensi dapat dikontrol

maka akan memproteksi terhadap komplikasi mikro dan makrovaskuler

yang disertai pengelolaan hiperglikemia yang terkontrol.

5) Faktor Aktivitas Fisik

Menurut ketua Indonesin Diabetes Association, Soegondo bahwa DM

selain faktor genetik, juga bisa dipicu oleh lingkungan yang menyebabkan

perubahan gaya hidup tidak sehat, seperti makan berlebihan yang banyak

mengndung lemak dan kurang serat, kurang aktivitas fisik dan stress.

Aktivitas fisik berdampak terhadap aksi insulin pada orang yang beresiko

diabetes mellitus. Suyono dalam soegondo (2007) menjelaskan bahwa

kurangnya aktivitas merupakan salah satu faktor yang ikut berperan yang

menyebabkan resistens insulin pada diabetes mellitus tipe 2. Sedangkan

Stevenson dan Lohmsn dalam Kriska (2007) menyatakan bahwa individu

yang memiliki aktifitas fisik yang baik memiliki insuin dan glukosa yang

lebih baik dibandingkan individu yang tidak memiliki aktivitas.


17

6) Faktor Kadar Kolestrol

Kadar abnormal lipid darah erat kaitannya dengan obesitas dan

diabetes melitus. Salah satu mekanisme yang diduga menjadi predisposisi

diabetes tipe 2 adalah terjadinya pelepasan asam-asam lemak bebas secara

cepat yang berasal dari suatu lemak visceral yang membesar. Proses ini

tejadinya dikarenakan srkulasi tinkat dari asam-asam lemak bebas di hati,

sehingga kemampuan untuk mengikat dan mengekstrak insulin dari darah

berkurang. Hal ini dapat mengakibatkan hiperinsulinemia. Akibat lainnya

adalah peningkatan glukoneogenesis dimana glukosa darah meningkat.

7) Faktor Stress

Menurut Potter & Perry (2005) mengatakan stress adalah situasi

dimana tuntutan non-spesifik mengharuskan individu untuk berespon atau

melakukan tindakan. Penderita yang mengalami stress dapat merubah pola

makan, latihan, penggunaan obat yang biasanya dipatuhi dan dapat

menyebabkan terjadinya hiperglikemia. (Smeltzer & Bare, 2002)

8) Faktor Riwayat Diabetes Gestasional

Seorang wanita yang mempunyai riwayat diabetes gestasional atau

melahirkan bayi dengan berat bada lahir 4 kg mempunyai resiko untuk

menderita diabetes mellitus tipe 2. Diabetes mellitus tipe ini terjadi ketika

ibu hamil gagal mempertahankan euglekemia (kadar glukosa darah

normal). Faktor resiko pada diabetes gestasional yaitu riwayat keluarga,

obesitas dan glikosuria. Diabetes mellitus tipe ini sering dijumpai pada 2-
18

5% populasi ibu hamil. Biasanya kadar gula darah akan kembali normal

setelah melahirkan, namun resiko ibu untuk mendapatkan diabetes

mellitus tipe 2 dikemudian hari cukup besar. (Smeltzer,et al, 2008)

4. Patofisiologi Diabetes Melitus

Pada Diabetes Melitus dimana didapatkan bahwa jumlah insulin yang

kurang atau keadaan dimana kualitas insulinnya tidak baik (resistensi insulin),

meskipun terdapat insulin, tetapi karena terjadi kelainan didalam sel itu

sendiri, maka pintu masuk ke sel tetap tidak dapat terbuka dikarenakan tidak

ada reseptor untuk meneruskannya kedalam sel sehingga glukosa tdak dapat

masuk kedalam sel untuk dibakar (dimetabolisme). Akibatnya terjadi

penumpukan glukosa didalam darah (hiperglikemia). (Suryono, 2015)

Sebagian besar gambaran patologis dari diabetes mellitus dapat

dihubungkan dengan salah satu efek utama akibat kurangnya insulin.

Berkurangnya pemakaian glukosa dalam sel tubuh dapat mengakibatkan

naiknya konsentrasi glukosa darah yaitu 300-1200 mg/dl. Peningkatan

mobilisasi lemak pada daerah penyimpanan lemak dapat menyebabkan

terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai dengan endapan

kolestrol pada dinding pembuluh darah. (Wijaya &Putri, 2013)

Peningkatan kadar glukosa dalam darah menyebabkan perpindahan cairan

dari ekstra vaskuler ke intra veskuler dan terjadi dehidrasi pada sel.

Peningkatan volume intra vaskuler menyebabkan dieresis osmotik yang tinggi

sehingga volume dieresis akan meningkat dan frekuensi berkemih akan


19

meningkat. Disisi lain peningkatan osmolalitas sel akan merangsang

hipotalamus untuk mengsekresi ADH (Antidiuretik Hormon). Serta

penurunan transport glukosa kedalam sel menyebabkan sel kekurangan

glukosa untuk diproses melalui proses metabolisme sehingga mengakibatkan

starvasi sel yang akan merangsang pusat lapar dibagian lateral hipotalamus

sehingga timbul rasa lapar. (Rumahorbo, 2017)

Kadar glukoa yang tinggi juga dapat merusak membran kapiler nefron

pada ginjal akibat angiopati. Kerusakan nefron yang progresif akan berujung

pada glomerulosklerosis. Kerusakan ini terjadi akibat beban yang berlebihan

pada kadar gula darah sehingga membrane glomerulus kehilangan daya

filtrasinya. (Smeltzer, 2013)

Rendahnya produksi insulin oleh sel-sel tubuh dapat menimbulkan

gangguan metabolik berupa peningkatan asam lemak darah, kolestrol,

fosfolipid dan lipoprotein. Jika hal ini terjadi secara terus menerus maka akan

memicu terjadinya angiopati yang dapat menimbulkan komplikasi pada retina,

ginjal, jantung koroner dan stroke. (Smeltzer, 2013)

5. Tanda dan Gejala Diabetes Melitus

Gejala diabetes mellitus dibedakan menjadi dua (Sari, 2018) yaitu:

a. Gejala Akut

Gejala akut merupakan gejala klinis yang muncul secara tiba-tiba dan

terjadi pada masa awal penyakit. Gejalanya meliputi :


20

1) Poliuria merupakan gejala berupa lebih seringnya buang air kecil

terutama pada saat malam hari.

2) Polidsia merupakan meningkatnya jumlah air yang diminm karena

sering merasa haus.

3) Poliphagia merupakan akibat kurangnya jumlah insun atau

terganggungnya fungsi insulin maka glukosa yang dihasilkan dari

metabolism makanan tidak dapat diserap oleh sel tubuh akibatnya,

penderita akan merasa lemas, lelah dan mengantuk. Sehingga otak

memberikan respon dengan mengartikan adanya rasa lapar sehingga

penderita diabetes akan lebih banyak makan.

b. Gejala Kronik

Gejala kronk umunya akan dirasakan setelah beberapa bulan atau tahun

mengidap diabetes. Adapun gejalanya yaitu :

1) Penurunan berat badan tanpa disengaja, disebabkan oleh sel yang

kekurangan cairan tubuh dan tidak menerima energy sehingga ukuran

sel akan mengecil akibatnya seluruh jaringan terutama otot mengalami

penyusutan dan berat badan turun secara drastis.

2) Kesemutan, disebabkan oleh rusaknya pembuluh darah akibat

tinggnya gula darah sehingga bagian tubuh yang mengalami

kesemutan kurang mndapatkan supley darah.

3) Luka yang sulit sembuh, ketika gula darah sudah melebihi 200 mg/dm,

daya tahan tubuh penderita diabetes akan berkurang.


21

4) Penglihatan kabur, pembuluh darah pada mata akan menebal sehingga

penglihatan menjadi kurang jelas dan dapat menyebabkan kebutaan.

6. Komplikasi Diabetes Mellitus

Menurut Rumahorbo (2017) mengklasifikasikan komplikasi diabetes

mellitus menjadi 2 bagian yaitu kmplikasi akut dan komplikasi kronik :

a. Komplikasi Akut

Ada 3 koplikasi akut pada diabetes mellitus yang penting dan

berhubungan dengan keseimbangan kadar glukosa darah jangka pendek

yaitu hiperglikemia, diabetes ketoasidosis dan sindrom hiperglikemia

hiperosmolar non ketotik.

b. Komplikasi Kronik

Kompplikasi kronik dapat menyerang semua sistem tubuh. Kerusakan

organ tubuh isebabkan oleh menurunnya sirkulasi darah keorgan akibat

kerusakan pada pembuluh darah. Kategori komplikasi kronk yaitu

makrovaskuler dan mikrovaskuler yang dapat menyebabkan reinopati,

nefropati dan neuropati diabetikum.

7. Penatalaksanaan Diabetes Melitus

Menurut perkeni (2015) 4 pilar pengelolaan diabetes mellitus yaitu :

1) Edukasi

Pemberian edukasi pada penderita diabetes mellitus dimaksudkan

untuk memberi informasi tentang gaya hidup yang perluh diperbaiki

seperti pola makan dan pola latihan fisik serta penderita dapat merawat
22

diri sendiri untuk menghindari penurunan atau kenaikan kadar glukosa

darah yang mendadak. (Rumahorbo, 2017)

2) Terapi Gizi

Terapi gizi berguna untuk menyeimbangkan intake kalori yang masuk

dan dibutuhkan oleh tubuh, sehingga dapat membantu menyeimbangkan

kadar glukosa dalam darah. (Rumahorbo, 2017)

3) Latihan Fisk

Latihan fisik dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi

faktor resiko kardiovaskuler serta dapat mengubah kadar lemak darah.

(Rumahorbo, 2017)

4) Farmakologi

Penggunaan obat hipoglikemik merupakan upaya terakhir yang

dilakukan setelah upaya yang lainnya tidak berhasil membantu untuk

menyeimbangkan kadar glukosa darah penderita diabetes mellitus.


23

D. Kerangka Pikir
Faktor Penyebab
Diabetes Melitus:
Diabetes Melitus 1. Genetik Mekanisme Koping
2. Obesitas
3. Usia
4. Tekanan Darah
5. Aktivitas Fisik
6. Kadar Kolestrol
7. Riwayat Diabetes
Gestasional
8. Stress

Mekanisme koping Mekanisme koping mal-


adaptif: adaktif:

Penerimaan Diri

POSITIF NEGATIF
24

F. Hipotesis Penelitian

Ho : Ada hubungan antara mekanisme koping dengan penerimaan diri pada

paenderita Diabetes Melitus di wilayah kerja puskesman minasaupa

kota Makassar dimana semakin bagus mekansme koping seseorang

makan penerimaan diri pasien semakin baik.

Ha : Tidak ada hubungan antara mekanisme koping pada penerimaan diri pada

penderita Diabetes Mellitus.

Ket : - Bila hasil uji statistic lebih kecil dari α = 0,05 maka Ho diterima.

Sedangkan α = 0,05 lebih besar maka Ho ditolak selanjutnya Ha diterima.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur dengan

mencari referensi teori yang relefan dengan kasus atau permasalahan yang

ditemukan .

B. Sumber Dan Teknik Pengumpulan Data

Sumber penelitian ini adalah data sekunder dengan pengumpulan data

dilakukan dengan melalui studi pustaka dengan cara melakukan

penelusuran hasil publikasi ilmiah dengan rentang tahun 2015-2020

dengan menggunakan database Google Scholar. Hasil penelusuran

kemudian dianalisis dan disimpulkan.

C. Kriteria Literatur

1. Kriteria inklusi

a. Artikel yang dipublikasikan pada periode 2010-2020

b. Dipublikasikan pada jurnal terakreditasi misalnya Sinta, Scopus,

Doaj

c. Jumlah populasi dan sampel representatif

2. Kriteria Ekslusi

a. Artikel literatur review.

b. Artikel Biasa

25
D. Variabel Penelitian

1. Variabel Independen

Merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab

timbulnya variabel dependent. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel

independent adalah mekansme koping.

2. Variabel Dependent

Merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel independent.

Varabel dependent dalam penelitian ini adalah penerimaan diri.

E. Metode Pengumpulan Data

Pengambilan data dilakukan melalui studi pustaka dengan cara

melakukan penelusuran hasil publikasi ilmiah dengan rentang tahun 2010-

2020 dengan menggunakan database Google Scholar. Hasil penelusuran

kemuadian dianalisis dan disimpulkan.

26
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

Berdasarkan hasil pencarian literatur dari 22 artikel yang didapatkan,

terdapat 7 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian-penelitian

tersebut mengidentifikasi mekanisme koping dengan penerimaan diri pada

pasien Diabetes Melitus. Berdasarkan beberapa hasil penelitian dapat

disimpulkan bahwa salah satu upaya untuk dapat mengatasi dan mencegah

komplikasi penyakit Diabetes Melitus tipe 2 yaitu pasien harus memiliki

koping yang adaptif.

27
SINTESIS GRID

No Peneliti Tujuan Desain Respond Pengump Hasil


. (tahun) Penelitian Penelitia en ulan Data Penelitian
dan Judul n
1. Kasmaria Untuk Jenis Sebanya Pengump Berdasarkan
, dkk mengetahui penelitian k 40 ulan data hasil analisis
Tahun pengaruh ini adalah respond dilakukan didapatkan
2018. penyuluhan analisis en dengan bahwa ada
Pengaruh manajemen kuantitati menggun perbedaan
Penyuluh stress f dengan akan antara
an terhadap quasi kuesioner kelompok
Manajem mekanisme eksperim yang kontrol dan
en Stres koping en, sebelumn kelompok
Terhadap pasien dengan ya intervensi
Mekanis diabetes Teknik dilakukan terhadap
me mellitus.. sampling penyuluh mekanisme
Koping yang an koping pasien
Pasien digunaka mengenai setelah
Diabetes n ialah manejem dilakukan
Melitus purposive en stress. intervensi
Di sampling berupa
Puskesm dengan penyuluhan
as jumlah mengenai
Mangasa responde manajemen
Kota n stress, p =
Makassar sebanyak 0,006
. 40 orang (p<0,05).
yaitu 20
orang
pada
kelompo
k kontrol
dan 20
orang
pada
kelompo
k
intervensi
.
29

2. Putra, Untuk Deskripti Sebanya Pengump Hasil


dkk mengidentif f dengan k 70 ulan data penelitian
Tahun ikasi pendekat respond menggun didapatkan
2017 tingkat an cross en akan sebagian besar
Tingkat stress dan sectional. pengukur (67%) klien
Stress mekanisme an diabetes
Dan koping variabel melitus
Mekanis pada pasien stress menderita
me diabetes menggun diabetes
Koping mellitus. akan The melitus tipe 2
Pada Depressi dan hampir
Klien on setengahnya
Diabetes Anxiety (33%) tipe 1.
Melitus Stress Hampir
Di Scale 42 setengahnya
Wilayah (DASS) mengalami
Kerja dan stress sedang
Puskesm Pengukur (49%), stress
as Pacar an ringan (37%),
Keling variabel dan sebagian
Surabaya mekanis kecil (14,2%)
. me tidak
koping mengalami
menggun stress, dan
akan alat seluruhnya
ukur (100%)
Suryani memiliki
dan mekanisme
Widyasih koping
(2008) adaptif.
yang
terdiri 25
pernyataa
n
30

3. Asafitri, Untuk Deskripti Sebanya Untuk Hasil


dkk mengetahui f korelasi k 61 mekasis penelitian ini
Tahun hubungan dengan orang me menunjukkan
2019. mekanisme menggun dengan koping mekanisme
Hubunga koping akan teknik diukur koping pasa
n dengan pendekat accident menggun penderita
Mekanis kualitas an cross al akan The diabetes
me hidup pada sectional. samplin Brief melitus tipe 2
Koping penderita g. COPE, kategori
Dengan diabetes untuk adaptif 39
Kualitas melitus tipe kualitas orang
Hidup 2 di RS hidup (63,9%),
Pada Roemani diukur kualitas hidup
Penderita Semarang. menggun pada penderita
Diabetes akan diabetes
Melitus WHOQO melitus tipe 2
Tipe 2 Di L-BREF. kategori baik
Rs 35 orang
Roemani (57,4%). Ada
Semaran hubungan
g. yang
signifikan
antara
mekanisme
koping
dengan
kualitas hidup
pada penderita
diabetes
melitus tipe 2
di RS
Roemani
Semarang,
hasil uji
didapatkan p-
value sebesar
0,006 < (α =
0,05).
31

4. Yan, dkk Untuk Jenis Sebanya Data Hasil


Tahun mengetahui penelitian k 77 dikumpul penelitian
2017. keterkaitan adalah respond kan menunjukkan
Hubunga hubungan kuantitati en. melalui terlihat
n antara f dengan proses adanya
Penerima penerimaan desain wawanca hubungan
an Diri diri dengan crossecti ra dengan yang
Dan tingkat onal. menggun signifikan
Tingkat stress pada akan antara
Stres lansia kuesioner penerimaan
Pada penderita Berger’s diri dengan
Penderita diabetes self- tingkat stres
Diabetes mellitus di acceptenc pada lansia
Mellitus. Kota Jambi. e dan penderita
dianalisis diabetes
menggun mellitus di
akan uji Kota Jambi.
Spearma Penerimaan
n’s Rank diri yang
test. negatif
mempengaruh
i tingkat stres
yang dialami
penderita
selama sakit.

5. Su’udi Untuk Deskripti Respond Data Hasil uji Chi-


dkk menganalis f korelatif en demograf square
32

Tahun a hubungan dengan sebanay i usia, diperoleh


2017 mekanisme pendekat ak 63 jenis nilai, p =
Mekanis koping an cross orang kelamin, 0,001, maka
me dengan sectional menggu tinggat dapat
Koping penurunan nakan pendidika disimpulkan
Dalam kadar teknik n, ada hubungan
Menurun glukosa non pemeriks antara
kan darah probabil aan mekanisme
Kadar pasien ity glukosa koping pasien
Glukosa diabetes samplin darah, diabetes
Darah melitus. g kuesioner melitus
Pasien dengan dan dengan
Diabetes pendeka lembar penurunan
Melitus tan observasi kadar glukosa
di purposiv darah.
Poliklinik e
Penyakit samplin
Dalam g
RSUD
Dr. R.
Koesma
Tuban

6. Anggeria Untuk Metode Sebanya Pengump Nilai


, dkk mengetahui penelitian k 20 ulan data signifikansi p
Tahun efektivitas kuantitati respond menggun value = 0,00
2019. perawatan f dengan en. akan (p value <
Efektivita ulkus desain kuesioner 0,05) maka
33

s diabetikum quasi dan H0 ditolak.


Perawata terhadap experime observasi Hal ini berarti
n Ulkus penerimaan ntal . ada perbedaan
Diabetiku diri pasien melalui Kuesione penerimaan
m Diabetes pendekat r diri pasien
Terhadap Melitus an one penerima Diabetes
Penerima Tipe II group an diri Melitus tipe II
an Diri pretest pasien sebelum dan
Pasien posttest menggun setelah
Diabetes design akan perawatan
Melitus Diabetes ulkus
Tipe Ii Acceptan diabetikum
ce Scale
(DAS)

7. Silalahi, Untuk survey Sebanya Data Hasil


dkk mengetahui analitik k 16 primer penelitian
Tahun hubungan dengan respond yang menunjukkan
2018. Body desain en. diperoleh ada hubungan
Hubunga Image cross secara yang
34

n Body Dengan sectional. langsung signifikan


Image Self- dengan antara body
Dengan Acceptan melakuka image dengan
Self- (Penerimaa n self-
Acceptan n Diri) Pada wawanca acceptance
ce Pasien ra (penerimaan
(Penerim Ulkus terpimpin diri) pada
aan Diri) Diabetikum . Data pasien ulkus
Pada sekunder diabetikum di
Pasien diperoleh Rumah Sakit
Ulkus dari TK II Putri
Diabetiku rekam Hijau Medan
m Di medis.
Rumah
Sakit Tk
Ii Putri
Hijau
Kota
Medan

B. PEMBAHASAN

Diabetes mellitus merupakan suatu penyakit kronik yang disebabkan karena

pankreas tidak menghasilkan insulin atau pankreas menghasilkan insulin tetapi

tubuh tidak bisa menggunakan secara efektif dan bisa juga dikarenakan tidak ada
35

reseptor untuk membawanya ke dalam sel. Penderita diabetes mellitus yang sudah

lama menderita dapat membuat mental atau mengakibatkan stress pada penderita

diabetes mellitus. Salah satu cara yang yang digunakan untuk mengelolah stress

tersebut adalah dengan mekanisme koping.

Mekanisme koping adalah penentuan dari gaya seseorang dalam memecahkan

suatu masalah berdasarkan tuntutan yang dihadapi (Rahmawati, 2016). Seseorang

yang memiliki mekanisme koping baik maka penerimaan diri seseorang itu baik

pula. Salah satu upaya yang dilakukan untuk manajemen stress tersebut yaitu

dengan memberikan penyuluhan tentang managemen stress terhadap mekanisme

koping pada penderita diabete mellitus.

Dalam (Kasmaria, 2018) kelompok di bagi menjadi 2 kelompok dimana

kelompok pertama sebanyak 20 responden yaitu kelompok control dan kelompok

yang ke dua sebn\ayak 20 responden yaitu kelompok intervensi. Hasil penelitian

“Pengaruh Penyuluhan Manajemen Stres Terhadap Mekanisme Koping Pasien

Diabetes Melitus Di Puskesmas Mangasa Kota Makassar” didapatkan bahwa ada

perbedaan antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi terhadap mekanisme

koping setelah dilakukan intervensi penyuluhan managemen stress pada penderita

diabetes mellitus dengan nilai p = 0,006 (p<0,05).

Dalam (Putra dkk, 2017) tentang “Tingkat Stress Dan Mekanisme Koping

Pada Klien Diabetes Melitus Di Wilayah Kerja Puskesmas Pacar Keling

Surabaya” dijelaskan bahwa berbagai faktor yang dapat memicu tingkat stress dan

bagaimana mekanisme koping pada penderita diabetes mellitus. Di dapatkan hasil


36

63% penderita diabetes mellitus tipe 2 dan 33% mengalami diabetes mellitus tipe

2, dengan penderita yang mengalami stress sedang (49%), stress ringan (37%),

dan sebagian kecil (14,2%) tidak mengalami stress, dan seluruhnya (100%)

memiliki mekanisme koping adaptif.

Sedangkan dalam (Asafitri dkk, 2019) mengenai “Hubungan Mekanisme

Koping Dengan Kualitas Hidup Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rs

Roemani Semarang” didapatkan hasil yang menunjukan bahwa mekanisme

koping pada penderita diabetes mellitus dalam kategori adaptif sebanyak 39 orang

(63,9%) dari 61 responden, sedangkan responden yang memiliki kualitas hidup

baik sebanyak 35 orang (57,4%) dari 61 responden. Maka didapatkan ada

hubungan yang signifikan antara mekanisme koping dengan kualitas hidup pada

penderita diabetes melitus tipe 2 di RS Roemani Semarang dengan p value 0,006

< (α = 0,05).

Kurangnya percaya diri, merasa berbeda dengan orang lain, dan mudah

sensitive karena orang mengkritik tentang dirinya merupakan faktor yang dapat

memicu penerimaan diri pada pasien kurang baik. Jika hal tersebut tidak diatasi

secepatnya, maka pasien cenderung tidak mandiri dalam pemeliharaan status

kesehatannya. Dapat kita lihat dalam penelitian “Hubungan Penerimaan Diri Dan

Tingkat Stres Pada Penderita Diabetes Mellitus” menjelaskan tentang penerimaan

diri yang kurang baik disebabkan karena penilaian diri yang selalu negative

sehingga dapat memicu timbulnya stress. Hasil penelitian ini menunjukkan


37

adanya hubungan yang signifikan antara penerimaan diri terhadap tingkat stress

dengan (P-value=0,002). (Yan, dkk 2017)

Dalam (Anggeria, dkk 2019), ada 3 poin besar yang dijelaskan yaitu

Penerimaan Diri Pasien Diabetes Melitus Tipe II Sebelum Perawatan Ulkus

Diabetiku, Penerimaan Diri Pasien Diabetes Melitus Tipe II Setelah Perawatan

Ulkus Diabetikum dan Efektivitas Perawatan Ulkus Diabetikum Terhadap

Penerimaan Diri Pasien Diabetes Melitus Tipe II. Penerimaan diri pada pasien

yang sebelum melakukan perawatan sebagian besar penerimaan dirinya kurang

baik dikarenakan kecemasan untuk sembuh pada pasien. Berbeda dengan pasien

yang sudah mengalami perawatan, pasien sudah mampu menerima penyakitnya

sehingga memiliki motivasi untuk sembuh. Semakin sedikit tingkat

ketidaknyamanan terhadap suatu penyakit maka penilaian negative terhadap diri

semakin sedikit. Dibuktikan dalam penelitian ini menunjukkan adanya nilai

signifikan, artinya ada perbedaan penerimaan diri pasien Diabetes Melitus tipe II

sebelum dan setelah perawatan ulkus diabetikum. Dilihat dari pasien sudah dapat

menerima penyakitnya dengan nilai signifikan p value = 0,00.

Selain stress yang dapat memicu penerimaan diri kurang baik, gangguan citra

tubuh juga merupakan salah satu yang dapat menyebabkan penerimaan diri pada

pasien kurang baik (body image). Body image yang negative menyebabkan

penerimaan diri negative pula. Hasil penelitian “Hubungan Body Image Dengan

Self-Acceptance (Penerimaan Diri) Pada Pasien Ulkus Diabetikum Di Rumah

Sakit Tk Ii Putri Hijau Kota Medan” menunjukkan bahwa 16 responden dan yang
38

mengalami penerimaan diri positif sebanyak 11 orang dengan 5 responden yang

memiliki body image negative dengan penerimaan diri negative sebanyak 3. Hasil

perhitungan didapatkan p value = 0,018, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Artinya ada hubungan yang sangat signifikan (kuat) antara body image dengan

self-acceptance (penerimaan diri) pada pasien ulkus diabetikum di Rumah Sakit

TK II Putri Hijau Medan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari berbagai penelitian tentang mekanisme koping dan penerimaan diri

pada penderita diabetes mellitus, didapatkan bahwa memiliki mekanisme


39

koping yang baik maka penerimaan diri juga baik, begitupun sebaliknyajika

mekanisme koping negative maka penerimaan diri juga negative.

B. Saran

1. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan pada tatanan yang berbeda dengan

memodifikasi dari keterbatasan yang ada dari penelitian ini.

2. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan mampu memperhatikan dan

meminimalkan faktor-faktor yang dapat memicu mekanisme koping dan

penerimaan diri.

3. Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai datadasar untuk

acuan dan pedoman dalam melakukan penelitian selanjutnya, misalnya

dengan menambahkan variable dan dengan menggunakan desain penelitian

yang lain seperti penelitian eksperimen, ataupun penelitian kualitatif.

Daftar Pustaka

Adailton et al. (2018). Diagnosis of Diabetes Melitus And Living with a Chronic
Condition: Participatory [Link] Public Health 18:699.

Asafitri, R. N., Aini, F., & Gali, Y. (2019). Hubungan Mekanisme Koping Dengan
Kualitas Hidup Pada penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Di RS Roemani
Semarang. Jurnal Of Holistics And Healt Sciences , Vol.1, No.1, Page 45-
51.

Asmadi. (2008). Teknik Prosedur Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan.


40

Damayanti, S. (2015) Diabetes Melitus Dan Penatalaksanaan Keperawatan. Yogyakarta:


Nuha Medika.

Denmark, Kenneth L. 1973. Self Acceptance and Leader Effectiveness. Journal of Extension.

Carver, C.S., [Link]., dan J.K. Weintraub. 1989. Assesing Coping Strategies: A
Theoretically Based Approach. Journal of Personality and Social Psychology.
56(2): 267-83. DOI:10.1037//0022-3514.56.2.267.

Firmansyah, M. R. (2019). Mekanisme Koping Dan Efikasi Diri Dengan Manajemen


Perawata Diri Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Multi Science Kesehatan ,
Vol.11, Page 9-18.

Hurlock, Elizabeth B. 2011. Psiklogi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang


Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga.

Husna, c. (2011). Mekanisme Koping Pada Pasien DM Tipe II Dengan Gangren


Diabetik Endokrin RSUDZA Banda Aceh. Idea rsing Jurnal , Vol.3,
No.1, Page 42-49.

Lazarus, R. (1993). From Psychological Stress to The Emotion: A History of


Changing [Link] Review of Psychology.

Nursalam. (2016). Metedeologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Okwaraji et al. 2017. Life satisfaction, self esteem and mental health in a sample of
diabetic out-patients attending a Nigerian tertiary health institution. The
Journal of Medical Research Vol 3(2).

Rudijanto, Ahmad. (2014). Keterangan Ringkas Tentang Diabetes Melitus (Kencng


Manis). Malang: Danar Wijaya.

Sari, R. N. (2018). Diabetes Melitus. Yogyakarta: Nuha Medika.

Shallcross et al. 2013. Getting better with age: The relationship between
age,acceptance, and negative affect. Journal Pers Soc Psychol Vol 104
(4): 734-749.

Smeltzer, Susanne dan Bare, Brenda. (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah. Jakarta: EGC>

Sofiyah. (2016). Hubungan Antara Penerimaan Diri Dengan Depresi Pada Penderita
Diabetes Melitus (Tipe II). Vol.18, No.2, Page 119-127.
41

Struart, & Sundeen. (1995). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta:EGC.

Stuart, G. (2013). Principles And Practice Of Psychiatric Nursing 10th


[Link] Inc.

Sunaryo. (2015). Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.

Utami, Puji, Astuti. (2016). Gambaran Mekanisme Koping Stress Pada Pasien Diabetes
Melitus.

PERKENI. (2015). Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia.


PERKENI, Jakarta.

Wijaya, Saferi Andra & Putri, Meriza Yessie. (2013). KMB2 Keperawatan Medikl Bedah
(keperawatan Dewasa). Yogyakarta: Nuha Medika

Yan, L. S., Marisdayana, R., & OR, I. R. (2017, Oktober). Hubunga Penerimaan Diri
Dan Tingkat Stres Pada Penderita Diabetes Melitus. Jurnal Endurance ,
Page 312-322.

Anda mungkin juga menyukai