0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
205 tayangan22 halaman

Sistem Petroleum dan Batuan Induk

Dokumen tersebut merangkum konsep sistem petroleum dan komponennya, termasuk batuan induk, migrasi, reservoir, perangkap, dan batuan penutup. Batuan induk harus kaya karbon organik dan memiliki kerogen yang tepat untuk menghasilkan hidrokarbon. Migrasi terjadi ketika hidrokarbon berpindah dari batuan induk ke reservoir akibat tekanan dan akumulasi di perangkap.

Diunggah oleh

Abdul Muqtadir
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
205 tayangan22 halaman

Sistem Petroleum dan Batuan Induk

Dokumen tersebut merangkum konsep sistem petroleum dan komponennya, termasuk batuan induk, migrasi, reservoir, perangkap, dan batuan penutup. Batuan induk harus kaya karbon organik dan memiliki kerogen yang tepat untuk menghasilkan hidrokarbon. Migrasi terjadi ketika hidrokarbon berpindah dari batuan induk ke reservoir akibat tekanan dan akumulasi di perangkap.

Diunggah oleh

Abdul Muqtadir
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

NAMA : ABDUL MUQTADIR

NIM : 171410002
KELAS : PRD 2A

PETROLEUM SYSTEM
Petroleum System adalah konsep yang menyatukan elemen berbeda dan proses geologi
minyak bumi. Aplikasi praktis dari sistem minyak bumi dapat digunakan dalam eksplorasi,
evaluasi sumber daya, dan penelitian. Sebuah sistem petroleum meliputi lapisan batuan induk
aktif dan semua minyak dan akumulasi gas.

Petroleum System

Didalam Petroleum System terdapat komponen komponen penting yang harus ada.
Komponen komponen tersebut adalah:
1. Source Rock
2. Migrasi
3. Reservoir Rock
4. Trap
5. Cap Rock

1. Soure Rock (Batuan Induk)


Ada beberapa pengertian dari batuan induk ataupun sorce rock yaitu sebagai berikut :
1. Batuan induk (Source rocks) adalah batuan sedimen berbutir halus yang memiliki
kapabilitas sebagai sumber hidrokarbon (Waples, 1985)
2. Pengertian batuan induk adalah batuan sedimen yang sedang, akan, atau telah
menghasilkan hidrokarbon (Tissot and Welte, 1984 vide Peter and Cassa, 1994).
3. Source rock adalah batuan karbonat yang berasal dari zat-zat organic yang terendapkan
oleh batuan sedimen. Sehingga tidak terjadi siklus carbon seperti selayaknya. Justru karbonat
terendapkan dan menjadi batu
Jadi, dapat kita simpulkan bahwa batuan induk itu adalah batuan sedimen yang bisa
menghasilkan hidrokarbon. Pada bukti yang terdapat pada data-data geokimia, hidrokarbon
berasal dari material organik yang terkubur dalam batuan sedimen yang disebut batuan induk.
Untuk mengetahui dan memperkirakan distribusi dan jenis dari batuan induk dalam ruang dan
waktu, sangat penting untuk mengetahui sumber biologis dari petroleum. Lapisan batuan induk
(source beds) terbentuk ketika sebagian kecil dari karbon organik yang bersikulasi dalam siklus
karbon di bumi tekubur dalam lingkungan sedimentasi dimana oksidasi terhalang untuk dapat
berlangsung.
Pematangan Batuan Induk
Source rock kaya akan kandungan unsur atom karbon (C) yang didapat dari cangkang –
cangkang fosil yang terendapkan di batuan itu. Karbon inilah yang akan menjadi unsur utama
dalam rantai penyusun ikatan kimia hidrokarbon. Hidrokarbon membentuk salah satu elemen
penting dari sebuah kerja sistem petroleum. Hidrokarbon adalah batuan sedimen yang kaya
akan kandungan material organik yang mungkin telah tersimpan dalam berbagai lingkungan
termasuk laut air dalam, lakustrin, dan delta bahan organik tersebut misalnya ganggang. Jadi
ganggang ini bisa saja ganggang air tawar, maupun ganggang air laut. Tentu saja batuan yang
mengandung karbon ini bisa batuan hasil pengendapan di danau, di delta, maupun di dasar laut.
Batuan yang mengandung banyak karbonnya ini yang disebut Source Rock (batuan induk)
yang kaya mengandung unsur karbon (high TOC-Total Organic Karbon).

Pematangan source rock (batuan induk) ini karena adanya proses pemanasan dan juga
diketahui semakin dalam batuan induk akan semakin panas dan akhirnya menghasilkan minyak.
Proses pemasakan ini tergantung suhunya dan karena suhu ini tergantung dari besarnya gradien
geothermalnya maka setiap daerah tidak sama tingkat kematangannya. Daerah yang dingin
adalah daerah yang gradien geothermalnya rendah, sedangkan daerah yang panas memiliki
gradien geothermal tinggi. Berikut adalah grafik pematangan batuan induk (source rock):
Dalam gambar diatas ini terlihat bahwa minyak terbentuk pada suhu antara 50-180 derajat
Celsius. Tetapi puncak atau kematangan terbagus akan tercapai bila suhunya mencapai 100
derajat Celsius. Ketika suhu terus bertambah karena cekungan itu semakin turun dalam yang
juga diikuti penambahan batuan penimbun, maka suhu tinggi ini akan memasak karbon yang
ada menjadi gas.
Jenis dan Syarat Sebagai Batuan Induk (Source Rock)
Dalam geologi minyak bumi, batu mengacu pada batuan sumber dari mana hidrokarbon telah
dihasilkan atau mampu dihasilkan. Mereka membentuk salah satu elemen penting dari sebuah
kerja sistem petroleum . Mereka adalah organik sedimen yang kaya yang mungkin telah
disimpan dalam berbagai lingkungan termasuk laut air dalam, lakustrin dan delta . serpih
minyak dapat dianggap sebagai source rock organik kaya tapi belum matang dari mana minyak
sedikit atau tidak telah dihasilkan dan dikeluarkan. Batuan induk (source rock) diklasifikasikan
dari jenis kerogen bahwa mereka mengandung, yang pada gilirannya mengatur jenis
hidrokarbon yang akan dihasilkan :

a) Tipe I batuan sumber terbentuk dari alga masih diendapkan di bawah anoksik kondisi di
dalam danau : mereka cenderung menghasilkan minyak mentah lilin ketika diberikan stres
termal selama penguburan yang mendalam.
b) Tipe II sumber batuan terbentuk dari plankton laut dan bakteri tetap dipertahankan dalam
kondisi anoxic di lingkungan laut: mereka menghasilkan baik minyak dan gas ketika termal
retak selama penguburan dalam.
c) Tipe III batuan sumber terbentuk dari bahan tanaman darat yang telah diurai oleh bakteri
dan jamur dalam kondisi oxic atau sub-oxic: mereka cenderung menghasilkan sebagian besar
gas dengan minyak ringan terkait ketika termal retak selama penguburan dalam. Kebanyakan
serpih bara dan hitam legam umumnya Tipe 3 batuan sumber.

Semua batuan induk tersebut berpotensial memproduksi minyak dan gas kecuali tipe III yang
khusus memproduksi gas.

Adapun syarat-syarat sebagai batuan induk yaitu:

a. Mengandung kadar organik yang tinggi


b. Mempunyai jenis kerogen yang berpotensi menghasilkan hidrokarbon dan telah mencapai
kematangan tertentu sehingga dapat menghasilkan hidrokarbon.

Faktor Terbentuknya Source Rock


Untuk menjadi source rock ada 3 faktor yang mempengaruhi, yaitu :
1. TOC ( total organic karbon ) merupakan kuantitas dari karbon organic yang terendapkan
dalam batuan tersebut. Semakin tinggi nilai OC maka akan semakin baik source rock tersebut
dan kemungkinan terbentuknya hidrokarbon akan semakin tinggi. TOC yang dapat
menghasilkan adalah di atas 1 % .
2. Kerogen merupakan kualitas dari carbon organic yang terendapkan dala batuan tersebut.
Komposisi kerogen juga dipengaruhi proses pematangan termal (katagenesis dan metagenesis)
yang mengubah kerogen tersebut.
Keunikan molekul kerogen :
- Struktur Jaringan (patchwork structures): Kombinasi random dari banyak fragmen
molekul kecil.
- Karakter kimia dan fisika kerogen dipengaruhi oleh tipe molekul biogenik dan
transformasi diagenetik molekul organik tersebut.
Kerogen akan menentukan hidrokarbon yang akan di bentuk. Kerogen ada beberapa tipe,
diantaranya :
a. Kerogen tipe I
- Terbentuk di perairan dangkal
- Berasal dari algae yang bersipat lipid
- H/C > 1.5 dan O/C < 0,1
- Menghasikan minyak
b. Kerogen tipe II
- Terbentuk di marine sedimen
- Berasal dari algae dan protozo
- H/C antara 1,2 – 1,5 dan O/C antara 0,1-0,3
- Menghasilkan minyak dan gas
c. Kerogen tipe III
- Terbentuk di daratan
- Berasal dari tumbuhan daratan
- H/C < 1,0 dan O/C > 0,3
- Menghasilkan gas
d. Kerogen tipe IV
- Telah mengalami oksidasi sebelum terendapkan , sehingga kandungan karbon telah terurai
sebelum terendapkan
- Tidak menghasilkan hidrokarbon

3. Maturity atau pematangan adalah proses perubahan zat-zat organic menjadi hidrokarbon.
Proses pematangan di akibatkan kenaikan suhu di dalam permukaan bumi. Dimana maturity di
bagi 3 yaitu antara lain:
a. Immature adalah sourcerock yang belum mengalami perubahan menjadi hidrokarbon.
b. Mature adalah source rock yang sedang mengalami perubahan menjadi hidrokarbon.
c. Overmature adalah source rock yang telah mengalami pematangan menjadi hidrokarbon.
2. Migrasi
Migrasi adalah proses dari minyak dan gas bumi menjauh dari source rock. Proses ini
menempuh jarak yang jauh dan waktu yang sangat lama, mungkin beberapa kilometer selama
jutaan tahun. Migrasi ini disebabkan oleh penguburan, pemadatan, dan peningkatan volume dan
pemisahan dari konsituen source rock. Harus ada ruang (porositas) dalam batuan untuk
memungkinkan pergerakan. Selain itu harus ada permeabilitas dalam batuan untuk
memungkinkan adanya aliran.

Migrasi didefinisikan sebagai pergerakan minyak dan gas di bawah permukaan. Migrasi
primer merupakan sebutan untuk tahapan dari proses migrasi, berupa ekspulsi hidrokarbon
dari source rock(batuan sumber) yang berbutir halus dan berpermeabelitas rendah ke carrier
bed yang memiliki permeabelitas lebih tinggi. Akumulasi merupakan pengumpulan dari
hidrokarbon yang telah bermigrasi dalam keadaan yang secara relatif diam dalam waktu yang
lama. Trap merupakan istilah dimana migrasi terhenti dan akumulasi terjadi.

Jika minyak bumi berasal dari bahan organik dan tersebar dalam batuan sumber, kemungkinan
bentuk fisik minyakbumi yang terbentuk adalah berupa tetes-tetes kecil. Karena itu untuk
terjadinya suatu akumulasi diperlukan pengkonsentrasian, antara lain keluarnya tetes-tetes
tersebut dari reservoir dan kemudian bergerak ke perangkap. Koesoemadinata (1980)
menyatakan ada beberapa faktor tertentu sebagai sumber tenaga untuk terjadinya migrasi
minyakbumi baik primer maupun sekunder, yaitu kompaksi, tegangan permukaan, gravitasi
pelampungan (buoyancy), tekanan hidrostatik, tekanan gas, sedimentasi, dan gradien
hidrodinamik.

Syarat Fisika Untuk Migrasi

Ada dua syarat fisika untuk minyak bermigrasi, diantaranya yaitu:


1. Perbedaan tetes dengan fasa kontinu: kapilaritas/tegangan permukaan menghalang –
halangi bergeraknya tetes.
2. Kapilaritas tetes dalam pori/kontriksi: dalam keadaan statis pada tiap tonjolan terdapat
keseimbangan tekanan sebelah – menyebelah selaput pemisah fasa.
Jika mulai masuk dalam kontriksi maka terjadilah keadaan seperti Gambar 1.
A B
Gambar 1. Diagram lubang pori memperlihatkan hubungan kapilaritas
A. Tetes minyak dalam keadaan tidak bergerak
B. Tetes minyak dalam keadaan ditekan untuk bergerak

Sumber Tenaga Untuk Migrasi

Selain gradien hidrodinamik dan daya pelampungan, masih ada beberapa sumber tenaga lain
untuk menggerakkan migrasi. Harus dibedakan antara mekanismenya sendiri dengan suber
penggerak.
Berbagai jenis sumber penggerak yang mungkin ialah:
a. Kompaksi
b. Tegangan permukaan
c. Gravitasi pelampungan
d. Tekanan hidrostatik
e. Tekanan gas
f. Sedimentasi
g. Gradien hidrodinamik

Penyebab Minyak Bermigrasi


Ada empat sebab kenapa minyak bermigrasi, diantaranya yaitu:
1) Pengkuburan - sebagai batuan yang terkubur jauh di dalam bumi, maka tekanan pun akan
besar karena tekanan batuan diatasnya yang kompak sehingga menghasilkan kekuatan
mendorong dan meremas yang besar untuk mendesak air, minyak dan gas bumi sehingga keluar
dari source rock.
2) Kenaikan Volume - Pematangan cairan atau gas dari padat, menyebabkan peningkatan
volume yang signifikan yang menyebabkan rekahan dari source rock. Hidrokarbon yang
dihasilkan akan berpindah keatas melalui rekahan yang ada.
3) Pemadatan - pemadatan dari dasar source rock oleh beban batuan diatasnya memberikan
tekanan yang menyebabkan mereka akan bergerak, dan mencari jalur yang termudah yaitu
(melalui dasar yang paling berpori atau rekahan dan patahan yang ada) berpindah ke tempat
yang memiliki tekanan lebih rendah yaitu berada di tempat yang lebih dangkal dari sebelumnya.
4) Pemisahan - Gravitasi pemisahan gas, minyak dan air mengambil tempat dalam batuan
reservoir yang biasanya airnya jenuh. Akibatnya, minyak bumi akan selalu mencoba naik
sampai mereka terjebak atau lolos ke permukaan bumi (rembesan minyak). Yang perlu
diketahui air, minyak dan gas hanya akan bermigrasi melalui zona yang cukup permeabel
dimana ruang antara partikel batuan saling berhubungan dan cukup besar sehingga
memungkinkan gerakan fluida ke jalur trap.
Mekanisme Migrasi
Ada beberapa mekanisme migrasi yang telah diajukan, namun masih belum ada yang
memuaskan. Beberapa mekanisme tersebut ialah:
1. Dengan Pertolongan Air
Air membawa minyak untuk bergerak:
a) Sebagai Droplet, yaitu tetes – tetes kecil yang dibawa arus air.
b) Sebagai Micelle, adanya gugusan hidroxil atau karboxil pada ujung suatu molekul yang
bertindak hidrofil sedangkan ujung lainnya hidrofob, dapat melarutkan hidrokarbon. Hal ini
dapat dipersamakan dengan sabun/deterjen. Partikel semacam itu, dimana suatu tetes kecil
dikelilingi oleh ujung – ujung yang hidrofil disebut micelle. Karena air dan minyak larut (1
fasa), maka tak ada lagi tegangan permukaan dan kapilaritas tak berlaku lagi, dan minyak
sebagai tetes – tetes kecil dalam bentuk emulsi atau koloid dapat mengalir ke luar pada waktu
kompaksi/migrasi primer.
c) Pelarutan zat induk minyak (non hidrokarbon) dalam air
Hunt (1980) mengusulkan kemungkinan bahwa migrasi terjadi bukan dalam bentuk
hidrokarbon/minyak bumi yang jelas mengalami kesulitan, tetapi dalam bentuk zat induknya
(proto-petrolium), seperti keton asam dan ester yang mudah larut dalam air. Keberatan terhadap
teori ini adalah bahwa kadar persenyawaan organik ini dalam batuan induk sangat rendah sekali,
selain zat tersebut mempunyai afinitas untuk di absorbsi pada permukaan mineral. Masalah lain
adalah bagaimana dia akan dalam perangkap. Mungkin begitu zat tersebut menanggalkan
gugusan hidroksilnya dan menjadi hidrokarbon, begitu zat itu terjebak sebagai akumulasi.
2. Tanpa Pertolongan Air
Gelembung atau tetes minyak bergerak relatif terhadap air yang boleh dikatakan statis.
a) Gerakan kapilaris
Adanya perbedaan tegangan permukaan antara air dengan minyak, menyebabkan air masuk
ke pori – pori halus, sedangkan minyak pori – pori yang kasar. Hal ini dapat dibayangkan pada
bidang antar lapisan batuan penyalur dan batuan induk, atau tetes – tetes minyak keluar dari
serpih seperti kulit manusia yang sedang berkeringat. Proses ini disebut pula imbibisi. Cara
migrasi semacam ini dapat terjadi pada migrasi primer dimana kompaksi telah berhenti.
b) Pelarutan dalam gas dan ekspansi gas
Minyak dapat larut dalam gas, terutama pada temperatur dan tekanan tinggi. Gas diketahui
dapat bermigrasi lebih leluasa melalui batuan berhubung dengan tegangan permukaannya yang
kecil. Menurut Sokolov (1964), difusi molekul gas melalui batuan serpih sangat besar.
Koefisien difusi metan = 10-4 sampai 10-9 cm/sekon. Karena adanya suatu pembebasan tekanan
(pressure realese) di sesuatu tempat, maka gas berexpansi dan membawa minyak bumi sebagai
larutan. Ada pula kemungkinan, minyak bumi yang bergerak membentuk suatu selaput pada
gelombung – gelembung gas. Juga gas campur minyak mempertinggi mobilitas minyak
(memperkecil tegangan permukaan). Teori pelarutan dalam gas kembali diusulkan sebagai
mekanisme utama untuk migrasi primer oleh Neglia (1979). Dia berpendapat dari cekungan
sedimen selama zat organiknya mengandung hidrogen. Suatu proses pelarutan hidrokarbon cair
terjadi dalam gas bertekanan tinggi dan mengekstraksi minyak bumi dari batuan induk. Gas
merembas melalui rekahan – rekahan mikro dalam batuan induk.
Mekanisme ini dapat terjadi pada migrasi primer maupun sekunder.
c) Teori pelampungan (buoyancy)
Karena perbedaan berat jenis minyak bumi dan air, maka suatu gumpalan minyak akan selalu
melambung mencari tempat yang tinggi. Hal ini hanya dapat terjadi jika suatu fasa menerus
yang cukup besar dapat terbentuk sehingga tekanan ke atas yang terjadi dapat mengarungi Pc.
Adanya suatu sentakan (triggering action) memungkinkan terbentuknya suatu gumpalan dari
tetes – tetes minyak yang tersebar disana – sini. Gumpalan kemudian bergerak ke atas mengikuti
kemiringan penyekat batuan reservoir, dan tetes – tetes minyak yang ada di jalannya akan ikut
tertarik dan membuat gumpalan tersebut suatu fasa menerus yang lebih besar dan mempercepat
lagi gerakan.
Mekanisme ini hanya mungkinterjadi dalam lapisan penyalur dalam taraf migrasi sekunder.
Cara bermigrasi ini sangat berkaitan dengan teori akumulasi Gussow.
d) Teori gerakkan hidrolik
Gerakan hidrolik terjadi terutama karena adanya air yang terperas ke luar oleh kompaksi,
ataupun karena gradien hidrodinamik. Sebetulnya teori ini sangat berkaitan dengan teori
akumulasi King Hubbert. Dalam hal ini air yang bergerak, mendorong suatu gumpalan minyal
untuk bergerak dalam arah yang sama. Jelas pula disini bahwa suatu fasa menerus yang cukup
besar harus tercapai dulu sebelum tekanan kapiler dapat diimbangi/diarungi. Arah gerakan ini
tidak selalu ke atas kemiringan (undip), tetapi dapat juga menuruni kemiringan.
e) Teori pengaliran minyak bumi melalui matrik zat organik/kerogen
Masalah kapilaritas sebagai pengahalang utama untuk migrasi adalah disebabkan bahwa
batuan pada umumnya dan batuan induk bersifat nidrofil atau aleofobe, tidak dibasahi minyak.
Hal ini tidak jadi masalah jika migrasi terjadi melalui jaringan kerogen yang bersifat kontinu
dalam batuan.

Jenis – Jenis Migrasi


1. Migrasi Primer
Migrasi primer yaitu perpindahan hidrokarbon dari source rock ke karier bed. Migrasi primer
berjalan lambat karena minyak bumi harus cukup untuk keluar dari batuan induk yang memiliki
permeabilitas matrik yang rendah. Migrasi primer berakhir ketika hidrokarbon telah mencapai
“permeable conduit” atau “carrier bed” untuk terjadinya migrasi sekunder.
Gambar 1. Migrasi Primer
Saat ini, ada tiga mekanisme migrasi primer yang membawa perhatian serius bagi kebanyakan
ahli geokimia petroleum, yaitu difusi, ekspulsi fasa minyak, dan pelarutan dalam gas.

Difusi sebagai mekanisme aktif dalam migrasi hidrokarbon, terjadi secara terbatas pada
batuan sumber yang tipis atau pada tepian unit batuan sumber yang tebal. Pengkonsentrasian
diperlukan untuk memungkinkan terjadinya migrasi primer, dimana difusi dapat menyebabkan
akumulasi hidrokarbon dalam ukuran yang cukup besar.
Ekspulsi hidrokarbon dalam kaitannya dengan migrasi primer terjadi dalam fasa hidrofobik.
Ini terjadi pada umumnya sebagai hasil perekahan mikro selama pergerakan hidrokarbon.
Ketika tekanan dalam batuan sudah melebihi kekuatannya menahan tekanan, perekahan mikro
terjadi, terutama pada bidang lemah dari batuan tersebut, seperti bidang perlapisan. Sehingga
batuan yang terlaminasi mungkin menghasilkan hidrokarbon dengan tingkat efisiensi yang
lebih tinggi daripada batuan yang masif.
Momper (1789) dalam Rondeel (2001) menyatakan bahwa dalam banyak kasus tidak ada
perekahan mikro atau ekspulsi yang terjadi sebelum jumlah bitumen yang dihasilkan batuan
sumber mencapai batas ambang tertentu.
Mills (1923) dan Sokolov (1964) dalam Koesoemadinata (1980) sehubungan dengan
pelarutan minyakbumi dalam gas dan ekspansi gas, menyatakan bahwa minyak dapat larut
dalam gas, terutama pada temperatur dan tekanan tinggi. Gas diketahui dapat bermigrasi
dengan lebih leluasa melalui batuan bergubung tegangan permukaannya yang kecil. Karena
suatu pembebasan tekanan, maka gas berekspansi dan membawa minyakbumi terlarut. Rondeel
(2001) menyatakan bahwa mekanisme pelarutan ini hanya terjadi bergantung pada keberadaan
gas yang dipengaruhi oleh tingkat katagenesis dan kapabilitas batuan sumber untuk
menghasilkan gas.
Jarak dari migrasi primer hidrokarbon pendek. Migrasi primer terjadi dengan lambat dan sulit,
dikarenakan batuan sumber yang memiliki permeabelitas yang rendah. Migrasi primer akan
terhenti ketika hidrokarbon mencapai tingkat permeabelitas yang memungkinkan terjadinya
migrasi sekunder. Migrasi primer dapat terjadi baik secara lateral, ke atas dan ke bawah
bergantung pada karakteristik carrier bed yang ada di dekat batuan sumber.
2. Migrasi Sekunder
Migrasi sekunder yaitu perpindahan hidrokarbon dari carier bed ke jebakan atau trap. Problem
yang sering dihadapi adalah pore throat lebih kecil dibanding oil stringers, karenanya oil
stringrs akan tertahan. untuk dapat bergerak, maka “bouyancy” >>>“capillary-entry pressure
(setelah akumulasi tercapai). Jika capillary-entry pressur >>> buoyancy, maka migrasi
sekunder .Akan terhenti hingga capillary-entry presure tereduksi dan Buoyant force meningkat.

Gambar 2. Migrasi Sekunder


Ketika hidrokarbon berhasil keluar dari batuan sumber dan mengalami migrasi sekunder,
pergerakan dari hidrokarbon akan dipengaruhi oleh gaya pelampungan (bouyancy). Teori
pelampungan (dalam Koesoemadinata, 1980) menerangkan mekanisme pergerakan minyak
bumi karena adanya perbedaan berat jenis minyakbumi dan air. Suatu gumpalan minyak dalam
air akan selalu melambung mencari tempat yang lebih tinggi. Gumpalan ini kemudian bergerak
ke atas mengikuti kemiringan penyekat batuan reservoir.
Berlawanan dari gaya pelampungan adalah tekanan kapilaritas (Rondeel, 2001). Semakin
besar pori dari suatu batuan, semakin kecil tekanan kapilaritasnya, dan semakin kecil pori dari
suatu batuan, semakin besar tekanan kapilaritasnya. Gaya pelampungan bekerja untuk
mengerakan hidrokarbon, tetapi tekanan kapilaritas melawan gaya pelampungan tersebut.
Sehingga apabila gaya pelampungan yang bekerja lebih kecil dari pada tekanan kapilaritas,
maka migrasi dari hidrokarbon tidak akan terjadi. Aliran hidrodinamik yang merupakan gaya
ketiga yang mengerakan hidrokarbon dapat mengubah pergerakan dari hidrokarbon, tetapi hal
ini kurang memperngaruhi dasar bahwa gaya pelampungan dan tekanan kapilaritas merupakan
faktor utama yang menentukan pergerakan dari hidrokarbon.
Migrasi sekunder terjadi pada arah yang dipengaruhi oleh gaya pelampungan yang paling
besar. Pergerakan ini awalnya menuju ke arah atas, dan lalu mengikuti kemiringan carrier bed-
apabila hidrokarbon menemui lapisan dengan permeabelitas kurang di atas carrier bed.
Keberadaan struktur dan perubahan fasies mungkin menyebabkan tekanan kapilaritas lebih
dominan daripada gaya pelampungan, sehingga arah migrasi mungkin akan berubah, dan atau
terhenti.
3. Migrasi Tersier
Migrasi tersier terjadi jika ada kebocoran (leakage) pada cap rocks yang menutupi reservoir.
Cap rocks dengan pori-pori yang lebih kecil dari batuan dibawahnya, mampu menahan
pergerakan naik dari minyak bumi. Pengisian yang progresif menyebabkan akumulasi
meningkat, dapat menyebabkan bouyancy >>> capillary-entry pressure Fractures dan faults
dapat menyebabkan kebocoran.
3. Reservoir
Batuan reservoar, batuan di bawah permukaan Bumi sebagai tempat terakumulasinya
hidrokarbon. Batuan reservoar adalah batuan yang memiliki porositas dan permeabilitas yang
tinggi. Porositas batuan reservoar dapat diartikan sebagai kapasitas penyimpanan hidrokarbon
pada batuan reservoar, dan permeabilitas dapat diartikan sebagai kapasitas produksi
hidrokarbon pada batuan reservoar.

Penampang sederhana reservoar hidrokarbon.


Batuan reservoar pada umumnya berupa batuan sedimen (batupasir). Selain itu juga, batuan
karbonat juga dapat menjadi batuan reservoar apabila memiliki rongga porositas yang besar.
Namun, pada beberapa kasus tertentu, fraktur/celah retakan pada batuan serpih, batuan beku
atau metamorfik dapat menjadi suatu reservoar. Lebih detail lagi, batuan reservoar dapat
diklasifikasikan menjadi :
a. Batuan Reservoar Fragmental
• Kongklomerat
• Batu pasir
• Batu lanau
• Batu gamping fragmental
b. Batuan Reservoar Kimiawi
• Batuan karbonat (dolomit)
• Batuan karbonat (terumbu)
• Batuan Reservoar Silika
• Batuan evaporat (anhydrit dan gypsum)
c. Batuan Reservoar Lainnya
• Batuan Beku
• Batuan Metamorf
• Batuan Piroklastik
Syarat Agar Bisa Menjadi Batuan Reservoir
1. Pertama tentunya memiliki pori (porositas dan permeabilitasnya bagus)
2. Adanya lapisan penutup (Cap Rock) supaya tidak terjadi migrasi
3. Adanya perangkap, sehingga dapat menjadi tempat terakumulasinya minyak bumi

4. Trap
Dalam Sistem Perminyakan, memiliki konsep dasar berupa distribusi hidrokarbon didalam
kerak bumi dari batuan sumber (source rock) ke batuan reservoar. Salah satu elemen dari Sistem
Perminyakan ini adalah adanya batuan reservoar, dalam batuan reservoar ini, terdapat beberapa
faktor penting diantaranya adalah adanya perangkap minyak bumi.
Perangkap minyak bumi sendiri merupakan tempat terkumpulnya minyak bumi yang berupa
perangkap dan mempunyai bentuk konkav ke bawah sehingga minyak dan gas bumi dapat
terjebak di dalamnya. Sebetulnya perangkap adalah bentuk lapisan penyekat. Lapisan penyekat
itu dibentuk sedemikian rupa sehingga minyak tidak dapat bermigrasi kemana-mana lagi.
Bentuk ini akan menahan tetes-tetes minyak dalam perjalanannya sepanjang garis – garis gaya.
Perangkap minyak bumi ini sendiri terbagi menjadi Perangkap Stratigrafi, Perangkap
Struktural, Perangkap Kombinasi Stratigrafi-Struktur dan perangkap hidrodinamik.
1. Perangkap Stratigrafi
Jenis perangkap stratigrafi dipengaruhi oleh variasi perlapisan secara vertikal dan lateral,
perubahan facies batuan dan ketidakselarasan dan variasi lateral dalam litologi pada suatu
lapisan reservoar dalam perpindahan minyak bumi. Prinsip dalam perangkap stratigrafi adalah
minyak dan gas bumi terperangkap dalam perjalanan ke atas kemudian terhalang dari segala
arah terutama dari bagian atas dan pinggir, hal ini dikarenakan batuan reservoar telah
menghilang atau berubah fasies menjadi batu lain sehingga merupakan penghalang
permeabilitas. Dan jebakan stratigrafi tidak berasosiasi dengan ketidakselarasan seperti
Channels, Barrier Bar, dan Reef, namun berasosiasi dengan ketidakselarasan seperti Onlap
Pinchouts, dan Truncations.

Pada perangkap stratigrafi ini, berasal dari lapisan reservoar tersebut, atau ketika terjadi
perubahan permeabilitas pada lapisan reservoar itu sendiri. Pada salah satu tipe jebakan
stratigrafi, pada horizontal, lapisan impermeabel memotong lapisan yang bengkok pada batuan
yang memiliki kandungan minyak. Terkadang terpotong pada lapisan yang tidak dapat
ditembus, atau Pinches, pada formasi yang memiliki kandungan minyak. Pada perangkap
stratigrafi yang lain berupa Lens-shaped. Pada perangkap ini, lapisan yang tidak dapat ditembus
ini mengelilingi batuan yang memiliki kandungan hidrokarbon. Pada tipe yang lain, terjadi
perubahan permeabilitas dan porositas pada reservoar itu sendiri. Pada reservoar yang telah
mencapai puncaknya yang tidak sarang dan impermeabel, yang dimana pada bagian bawahnya
sarang dan permeabel serta terdapat hidrokarbon.

Pada bagian yang lain menerangkan bahwa minyak bumi terperangkap pada reservoar itu
sendiri yang Cut Off up-dip, dan mencegah migrasi lanjutan, sehingga tidak adanya pengatur
struktur yang dibutuhkan. Variasi ukuran dan bentuk perangkap yang demikian mahabesar,
untuk memperpanjang pantulan lingkungan pembatas pada batuan reservoar terendapkan.
2. Perangkap Struktural
Perangkap struktural ini merupakan jebakan tipe struktural yang banyak dipengaruhi oleh
kejadian deformasi perlapisan dengan terbentuknya struktur lipatan dan patahan yang
merupakan respon dari kejadian tektonik dan merupakan perangkap yang paling asli dan
perangkap yang paling penting, pada bagian ini berbagai unsur perangkap yang membentuk
lapisan penyekat dan lapisan reservoar sehingga dapat menangkap minyak, disebabkan oleh
gejala tektonik atau struktur seperti pelipatan dan patahan
a) Perangkap Patahan
Perangkap patahan merupakan patahan yang terhenti pada lapisan batuan. Perangkap ini
terjadi bersama dalam sebuah formasi dalam bagian patahan yang bergerak, kemudian gerakan
pada formasi ini berhenti dan pada saat yang bersamaan minyak bumi mengalami migrasi dan
terperangkap pada daerah patahan tersebut, lalu sering kali pada formasi yang impermeabel
yang pada satu sisinya berhadapan dengan pergerakan patahan yang bersifat sarang dan formasi
yang permeabel pada sisi yang lain. Kemudian, minyak bumi bermigrasi pada formasi yang
sarang dan permeabel. Minyak dan gas disini sudah terperangkap karena lapisan tidak dapat
ditembus pada daerah perangkap patahan ini.

b) Perangkap Antiklin
Jebakan struktural selanjutnya yaitu jebakan antiklin, jebakan yang antiklinnya melipat ke
atas pada lapisan batuan, yang memiliki bentuk menyerupai kubah pada bangunan. Minyak dan
gas bumi bermigrasi pada lipatan yang sarang dan pada lapisan yang permeabel, serta naik pada
puncak lipatan. Disini, minyak dan gas sudah terjebak karena lapisan yang diatasnya merupakan
batuan impermeabel
.
c) Perangkap Struktur Lainnya
Perangkap struktur yang lain adalah Tilted fault blocks in an extensional regime, marupakan
jebakan yang bearasal dari Seal yang berada diatas Mudstone dan memotong patahan yang
sejajar Mudstone. Kemudian, Rollover anticline on thrust, adalah jebakan yang minyak bumi
berada pada Hanging Wall dan Footwall. Lalu, Seal yang posisinya lateral pada diapir dan
menutup rapat jebakan yang berada diatasnya.

3. Perangkap Kombinasi
Perangkap yang selanjutnya adalah perangkap kombinasi antara struktural dan stratigrafi.
Dimana pada perangkap jenis ini merupakan faktor bersama dalam membatasi bergeraknya atau
menjebak minyak bumi. Dan, pada jenis perangkap ini, terdapat leboh dari satu jenis perangkap
yang membenuk reservoar. Sebagai contohnya antiklin patahan, terbentuk ketika patahan
memotong tegak lurus pada antiklin. Dan, pada perangkap ini kedua perangkapnya tidak saling
mengendalikan perangkap itu sendiri.

4. Perangkap Hidrodinamik
Perangkap yang terakhir adalah perangkap hidrodinamik. Perangkap ini sangat jarang karena
dipengaruhi oleh pergerakan air. Pergerakan air ini yang mampu merubah ukuran pada
akumulasi minyak bumi atau dimana jebakan minyak bumi yang pada lokasi tersebut dapat
menyebabkan perpindahan. Kemudian perangkap ini digambarkan pergerakan air yang
biasanya dari iar hujan, masuk kedalam reservoar formasi, dan minyak bumi bermigrasi ke
reservoar dan bertemu untuk migrasi ke atas menuju permukaan melalui permukaan air.
Kemudian tergantung pada keseimbangan berat jenis minyak, dan dapat menemukan sendiri,
dan tidak dapat bergerak ke reservoar permukaan karena tidak ada jebakan minyak yang
konvensional.
5. Cap Rock
Batuan penutup (cap rock) merupakan batuan yang memiliki porositas dan permeabilitas yang
rendah, sehingga mampu menghambat hidrokarbon dalam reservoar untuk
berpindah/bermigrasi. Dengan adanya batuan penutup, maka hidrokarbon akan tetap berada
dalam batuan reservoar.
Batuan penutup memiliki efektivitas yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti
litologi, ductility (mudah diubah), ketebalan, kemenerusan secara lateral, dan kedalaman
lapisan batuan penutup. Pada umumnya, litologi yang efektif untuk menjadi batuan petutup
adalah batuan klastik berbutir halus, dan batuan evaporit. Pada daerah yang mendapat pengaruh
proses tektonik kuat, ductilitty menjadi penting, dimana garam (salt) dan anhidit, dan serpih
kaya organik (organic-rich shale) bisa begitu ductile.
Dari prinsip fisika, efektivitas batuan penutup juga dipengaruhi oleh tekanan kapiler pori
batuan penutup dan gaya apung (buoyancy) dari akumulasi hidrokarbon di bawahnya. Suatu
batuan penutup akan efektif apabila tekanan kapiler lebih besar dari gaya apung tersebut.

Anda mungkin juga menyukai